Anda di halaman 1dari 14

Laporan Kasus

Melengkapi Tugas Dokter Internsip


Wahana RSUD Dr. H. Yuliddin Away Tapaktuan

Oleh
dr. Sari Yanti

Pendamping:
dr. Irnalita, MARS
dr. Cut Dewi Kartika

Program Internsip Dokter Indonesia Kementrian Kesehatan RI, Wahana


Kabupaten Aceh Selatan
2018-2019
BAB I
PENDAHULUAN

I.1 Latar Belakang


Fraktur adalah terputusnya kontinuitas jaringan tulang, tulang rawan sendi,
tulang rawan epifisis baik bersifat total ataupun parsial yang umumnya disebabkan
oleh tekanan yang berlebihan. Tanpa tulang tubuh tidak akan tegak berdiri. Fungsi
tulang dapat diklasifikasikan sebagai aspek mekanikal maupun aspek fisiologikal.
Dari aspek mekanikal, tulang membina rangka tubuh badan dan memberikan
sokongan yang kokoh terhadap tubuh. Sedangkan dari dari aspek fisiologikal tulang
melindungi organ-organ dalam seperti jantung, paru-paru dan lainnya. Tulang juga
menghasilkan sel darah merah, sel darah putih dan plasma. Selain itu tulang sebagai
tempat penyimpanan kalsium, fosfat, dan garam magnesium. Namun karena tulang
bersifat relatif rapuh, pada keadaan tertentu tulang dapat mengalami patah, sehingga
menyebabkan gangguan fungsi tulang terutama pada pergerakan. Klavikula
merupakan salah satu tulang yang sering mengalami fraktur apabila terjadi cedera
pada bahu karena letaknya yang superfisial. Pada tulang ini bisa terjadi banyak proses
patologik sama seperti pada tulang yang lainnya yaitu bisa ada kelainan congenital,
trauma (fraktur), inflamasi, neoplasia, kelainan metabolik tulang dan yang lainnya.
Fraktur klavikula bisa disebabkan oleh benturan ataupun kompressi yang berkekuatan
rendah sampai yang berkekuatan tinggi yang bisa menyebabkan terjadinya fraktur
tertutup ataupun multiple trauma (Trurnble TE, et al, 2006).
Klavikula adalah tulang yang paling pertama mengalami pertumbuhan pada
masa fetus, terbentuk melalui 2 pusat ossifikasi atau pertulangan primer yaitu medial
dan lateral klavikula, dimana terjadi saat minggu ke-5 dan ke-6 masa intrauterin.
Kemudian ossifikasi sekunder pada epifise medial klavikula berlangsung pada usia 18
tahun sampai 20 tahun. Dan epifise terakhir bersatu pada usia 25 tahun sampai 26
tahun (Housner JA, Kuhn JE, 2003).
BAB I
LAPORAN KASUS

1. Identitas Pasien
Nama : Darwati
Jenis Kelamin : Perempuan
Umur : 50 tahun
Alamat : Gunung Kerambil
Pekerjaan : Ibu Rumah Tangga
Agama : Islam
Tanggal masuk : 23 Mei 2018
Tanggal pemeriksaan : 24 Mei 2018

2. Anamnesis
2.1 Keluhan Utama
Nyeri bahu kanan
2.2 Keluhan Tambahan
Luka lecet di lengan
2.3 Riwayat Penyakit Sekarang
Pasien datang ke IGD RSUDYA dibawa oleh keluarga dengan keluhan nyeri
bahu kanan setelah mengalami kecelakaan lalu lintas. Nyeri bahu kanan dirasaakan ±
1 jam sebelum masuk rumah sakit. Nyeri yang dirasakan terus menerus. Pasien
mengatakan sebelumnya ditabrak oleh sepeda motor lalu pasien terjatuh dengan
posisi bahu kanan dibawah sambil menopang seluruh badan. Selain itu pasien juga
mengeluh sedik luka lecet di bagian lengan kanan. Pasien tidak mengeluh mual,
muntah, pusing. Pasien tidak mengalami gangguan BAK maupun gangguan BAB

2.2 Riwayat Penyakit Dahulu


Pasien menderita hipertensi 10 tahun yang lalu

2.3 Riwayat Penyakit Keluarga


Adik kandung pasien seorang laki – laki juga mengalami hipertensi

2.4 Riwayat Pengobatan


Pasien tidak berobat hipertensi secara rutin
Vital sign
Tekanan darah : 150/90 mmHg
Heart rate : 80 kali/menit
Respiratory rate : 18 kali/menit
Temperatur : 36,70C

3. Pemeriksaan Fisik
Kepala

Mata : Konjungtiva palpebra inferior pucat (-/-), pupil isokor


3mm/3mm, sklera ikterik (-/-)
Telinga : dalam batas normal, serumen (+), cairan purulen (-)
Hidung : Konka nasi inferior dalam batas normal
Mulut : Swelling (-), stomatitis (-), leukoplakia (-),
Leher : TVJ ±2 cmH2O, pembesaran KGB (-)

Thorax :
 Paru-paru :
Inspeksi : Simetris, tidak ada retraksi
Palpasi : Fremitus raba normal
Perkusi : Sonor (+/+)
Auskultasi : Vesikuler (+/+), ronkhi (-/-), wheezing (-/-)
 Jantung :
Inspeksi : Ictus cordis tidak tampak
Palpasi : Ictus cordis teraba pada ICS IV MCLS
Perkusi : Batas jantung dalam batas normal
Auskultasi : BJ I> BJ II, reguler, bising (-)
Abdomen :
Inspeksi : Simetris
Palpasi : Nyeri tekan (-), soepel (+), organomegali (-)
Perkusi : Timpani (+)
Auskultasi : Peristaltik dalam batas normal
Ekstremitas
Superior : Edema (-), sianosis (-)
Inferior : Edema (-), sianosis (-)
Genetalia
Inspeksi : Tidak ada kelainan
Status Lokalis : a/r bahu kanan
Look : deformitas (+), bengkak (+)
Feel : nyeri tekan (+), pulsasi bag distal trauma (+)
Move : passive movement (ROM terbatas)

4. Pemeriksaan Laboratorium
Jenis pemeriksaan Hasil Satuan
Hematologi
- Hemoglobin 12,7 g/dl
- Hematokrit 38,0 %
- Eritrosit 4,51 106/mm3
- Leukosit 9,1 103/mm3
- Trombosit 322 103/mm3

Hitung jenis
- Eosinofil 3 %
- Basofil 0 %
- Netrofil segmen 36 %
- Limfosit 55 %
- Monosit 6 %

Elektrolit
- Natrium 143 mmol/L
- Kalium 4,4 mmol/L
- Klorida 103 mmol/L

Diabetes
- Gula darah sewaktu 104 mg/dl
- kreatinin 0,60
- ureum 16
5. Foto Thoraks

6. Diagnosis
- Fraktur Klavikula Dextra

7. Terapi
-inj cefotiam/12 jam
-inj antalgin/8jam
-Inj ranitidin/12 jam
-Amlodipin 1x10 mg

8. Prognosis
- Quo ad vitam : Dubia ad bonam
- Quo ad functionam : Dubia ad bonam
- Quo ad sanactionam : Dubia ad bonam
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

DEFINISI
Fraktur adalah hilangnya kontuinitas tulang, tulang rawan sendi dan tulang
rawan epifise yang bersifat total maupun parsial. Untuk mengetahui mengapa dan
bagaimana tulang mengalami kepatahan, harus diketahui keadaan fisik tulang dan
keadaaan trauma yang dapat menyebabkan tulang patah. Kebanyakan fraktur terjadi
karena kegagalan tulang menahan tekanan terutama tekanan membengkok, memutar
dan tarikan. Fraktur klavikula adalah kerusakan dari tulang klavikula (biasanya
disebut dengan tulang selangka). Tulang tersebut menghubungkan sternum ke bahu.
Dalam anatomi manusia, klavikula atau tulang leher diklasifikasikan sebagai
tulang panjang yang membentuk bagian dari sabuk bahu (pectoral korset). Ini
menerima namanya dari bahasa Latin clavicula ( "kunci kecil") karena tulang
berputar sepanjang sumbu seperti kunci ketika bahu diculik. Pada beberapa orang,
terutama wanita yang mungkin memiliki lebih sedikit lemak di daerah ini, lokasi
tulang terlihat jelas karena menciptakan tonjolan di kulit. Klavikula adalah
melengkung ganda pendek yang menghubungkan tulang lengan (ekstremitas atas) ke
tubuh, yang terletak tepat di atas tulang rusuk pertama. Karena berfungsi sebagai
penyangga untuk menjaga posisi skapula sehingga lengan dapat tergantung bebas.
Medial, itu artikulasi dengan manubrium sternum (tulang dada) pada sendi
sternoklavikularis. Pada akhirnya lateral artikulasi dengan akromion skapula (tulang
belikat) di acromioclavicular bersama. Bulat ini memiliki ujung medial dan lateral
rata akhir.
Dari piramida sternalis sekitar akhir, masing-masing kurva lateral klavikula
dan anterior untuk kira-kira setengah panjangnya. Ini kemudian membentuk kurva
yang halus posterior untuk mengartikulasikan dengan proses skapula (akromion).
Flat, akhir acromial klavikula adalah lebih luas daripada sternalis akhir. Pada akhir
acromial memiliki permukaan kasar yang lebih rendah terkemuka beruang garis dan
tuberkel. Fitur permukaan ini situs pelekatan otot-otot dan ligamen dari bahu.

EPIDEMIOLOGI
Pada orang dewasa insiden fraktur klavikula sekitar 40 kasus dari 100.000
orang, dengan perbandingan laki-laki perempuan adalah 2 : 1. Fraktur pada
midklavikula yang paling sering terjadi yaitu sekitar 85% dari semua fraktur
klavikula, sementara fraktur bagian distal sekitar 10% dan bagian proximal sekitar
5% (Hahn B, 2007).
Sekitar 2% sampai 5% dari semua jenis fraktur merupakan fraktur klavikula.
Menurut American Academy of Orthopaedic Surgeon, frekuensi fraktur klavikula
sekitar 1 kasus dari 1000 orang dalam satu tahun. Fraktur klavikula juga merupakan
kasus trauma pada kasus obstetrik dengan prevalensi 1 kasus dari 213 kasus kelahiran
anak yang hidup (Trurnble TE, et al, 2006)k

ETIOLOGI
a. Trauma langsung : trauma bahu  hantaman langsung ke bahu atau adanya
tekanan yang keras ke bahu akibat jatuh atau terkena pukulan benda keras.
Contoh : kecelakaan lalu lintas.
b. Trauma tidak langsung : outstreched hand  akibat jatuh dengan posisi
lengan terputar/tertarik keluar dimana trauma dilanjutkan dari pergelangan
tangan sampai klavikula.

ANATOMI
Klavikula merupakan tulang yang berbentuk huruf S, bagian medial
melengkung lebih besar dan menuju ke anterior. Lengkungan bagian lateral lebih
kecil dan menghadap ke posterior. Ujung medial klavikula disebut extremitas
sternalis, membentuk persendian dengan sternum, dan ujung lateral disebut
extremitas acromialis, membentuk persendian dengan acromion (Hahn B, 2007).
Facies superior klavikula agak halus, dan pada facies inferior di bagian medial
terdapat tuberositas costalis. Disebelah lateral tuberositas tersebut terdapat sulcus
subklavius, tempat melekatnya m. Subklavius, dan disebelah lateralnya lagi terdapat
tuberositas coracoidea, tempat melekat lig. Coracoclaviculalis. Pada facies medialis
klavikula terdapat foramen nutricium, yang dilalui oleh pembuluh darah (Hahn B,
2007).

Gambar 1. Anatomi Clavicula


KLASIFIKASI
Lokasi patah tulang pada clavicula diklasifikasikan menurut Dr. FL Allman
tahun 1967 dan dimodifikasi oleh Neer pada tahun 1968, yang membagi patah tulang
klavikula menjadi 3 kelompok:
1. Kelompok 1 : patah tulang pada sepertiga tengah tulang klavikula (insidensi
kejadian 75-80%)  pada daerah ini tulang lemah dan tipis serta umumnya
terjadi pada pasien yang muda.
2. Kelompok 2 : patah tulang klavikula pada sepertiga distal (15-25%).
Terbagi menjadi 3 tipe berdasarkan lokasi ligament coracoclavicular yakni
(yakni, conoid dan trapezoid).
a. Tipe 1 : Patah tulang secara umum pada daerah distal tanpa adanya
perpindahan tulang maupun ganguan ligament coracoclevicular.
b. Tipe 2A : Fraktur tidak stabil dan terjadi perpindahan tulang, dan
ligament coracoclavicular masih melekat pada fragmen.
c. Tipe 2B : Terjadi ganguan ligament. Salah satunya terkoyak ataupun
kedua-duanya.
d. Tipe 3 : Patah tulang yang pada bagian distal klavikula yang melibatkan
AC joint.
e. Tipe 4 : Ligament tetap utuk melekat pata perioteum, sedangkan fragmen
proksimal berpindah keatas.
f. Tipe 5 : Patah tulang kalvikula terpecah menjadi beberapa fragmen.
3. Kelompok 3 : patah tulang clavicula pada sepertiga proksimal (5%)  pada
kejadian ini biasanya berhubungan dengan cidera neurovaskuler.

Gambar 2. Klasifikasi Fraktur Clavicula


PATOFISIOLOGI
Pada daerah tengah tulang klavikula tidak di perkuat oleh otot ataupun
ligament-ligament seperti pada daerah distal dan proksimal klavikula. Klavikula
bagian tengah juga merupakan transition point antara bagian lateral dan bagian
medial. Hal ini yang menjelaskan kenapa pada daerah ini paling sering terjadi fraktur
dibandingkan daerah distal ataupun proksimal. Karena posisinya yang teletak
dibawah kulit (subcutan) maka tulang ini sangat rawan sekali untuk patah (Hahn B,
2007).

DIAGNOSIS
a. Gejala Klinis
Diagnosis dari fraktur klavikula biasanya didasari dari mekanisme
kecelakaan dan lokasi adanya ekimosis, deformitas, ataupun krepitasi. Pasien
biasanya mengeluh nyeri setelah terjadinya kecelakaan tersebut dan sulit
untuk mengangkat lengan atau bahu. Fraktur pada bagian tengah klavikula,
pada inspeksi bahu biasanya asimetris, agak jatuh kebawah, lebih kedepan
ataupun lebih ke posterior (Trurnble TE, et al, 2006).
b. Pemeriksaan Radiologi  Foto Polos
- Mid klavikula  proyeksi standar anteroposterior (AP).
- Medial klavikula dan Sternoclavicula Joint  proyeksi standar PA,
lateral, oblique.
- Lateral klavikula dan Acromioclavicula Joint  proyeksi standar AP.

III.7 PENATALAKSANAAN
Penatalaksanaan pada fraktur klavikula ada dua pilihan yaitu dengan tindakan
bedah atau operative treatment dan tindakan non bedah atau nonoperative treatment
(Trurnble TE, et al, 2006).
Tujuan untuk menempatkan ujung-ujung dari patah tulang supaya satu sama
lain saling berdekatan dan untuk menjaga agar mereka tetap menempel sebagaimana
mestinya sehingga tidak terjadi deformitas dan proses penyembuhan tulang yang
mengalami fraktur lebih cepat.
Proses penyembuhan pada fraktur klavikula memerlukan waktu yang cukup
lama. Penanganan nonoperative dilakukan dengan pemasangan arm sling selama 6
minggu. Selama masa ini pasien harus membatasi pergerakan bahu, siku dan tangan.
Setelah sembuh, tulang yang mengalami fraktur biasanya kuat dan kembali berfungsi.
Pada beberapa patah tulang, dilakukan pembidaian untuk membatasi pergerakan. atau
mobilisasi pada tulang untuk mempercepat penyembuhan. Patah tulang lainnya harus
benar-benar tidak boleh digerakkan (immobilisasi) (Trurnble TE, et al, 2006).
Imobilisasi bisa dilakukan melalui :
a. Pembidaian : benda keras yang ditempatkan di daerah sekeliling tulang.
b. Pemasangan gips : merupakan bahan kuat yang dibungkuskan di sekitar
tulang yang patah Modifikasi spika bahu (gips clavicula) atau balutan
berbentuk angka delapan atau strap klavikula dapat digunakan untuk
mereduksi fraktur ini, menarik bahu ke belakang, dan mempertahankan dalam
posisi ini. Bila dipergunakan strap klavikula, ketiak harus diberi bantalan yang
memadai untuk mencegah cedera kompresi terhadap pleksus brakhialis dan
arteri aksilaris. Peredaran darah dan saraf kedua lengan harus dipantau.

Gambar 3. Pemasangan Gips


c. Penarikan (traksi) : menggunakan beban untuk menahan sebuah anggota,
gerak pada tempatnya.
d. Fiksasi internal : dilakukan pembedahan untuk menempatkan piringan
(plate) atau batang logam pada pecahan-pecahan tulang atau sering disebut
open reduction with internal fixation (ORIF).
e. Fiksasi eksternal : Immobilisasi lengan atau tungkai menyebabkan otot
menjadi lemah dan menciut. Karena itu sebagian besar penderita perlu
menjalani terapi fisik.
KOMPLIKASI
a. Komplikasi akut :
- Cedera pembuluh darah dan saraf : vena dan arteri subclavia serta pleksus
brachialis.
- Pneumouthorax
- Haemothorax
b. Komplikasi lambat :
- Malunion : proses penyembuhan tulang berjalan normal terjadi dalam waktu
semestinya, namun tidak dengan bentuk aslinya atau abnormal.
- Non union : kegagalan penyambungan tulang setelah 4 sampai 6 bulan.

PROGNOSIS
Prognosis jangka pendek dan panjang sedikit banyak bergantung pada berat
ringannya trauma yang dialami, bagaimana penanganan yang tepat dan usia
penderita. Pada anak prognosis sangat baik karena proses penyembuhan sangat cepat,
sementara pada orang dewasa prognosis tergantung dari penanganan, jika penanganan
baik maka komplikasi dapat diminimalisir. Fraktur klavikula disertai multiple trauma
memberi prognosis yang lebih buruk daripada pognosis fraktur clavicula murni
(Trurnble TE, et al, 2006).
BAB IV
PEMBAHASAN

Pembahasan Kasus
Berdasarkan uraian laporan kasus di atas, didapatkan seorang pasien
perempuan berumur 50 tahun mengeluh nyeri pada bahu kanannya pada tanggal 23
Mei 2018 karena mengalami kecelakaan lalu lintas pada hari yang sama.
Hasil pemeriksaan fisik didapatkan tekanan darah 150/90, nadi 80x/mnt, suhu
36,5C, dan RR 18x/mnt. Pada pemeriksaan bahu kanan didapatkan nyeri pada bahu
kanan (+), deformitas (+), dan ROM terbatas. Kemudian dilanjutkan dengan
pemeriksaan radiologis dengan proyeksi anteroposterior (AP) ditemukan adanya
fraktur klavikula dextra. Diagnosis akhirnya adalah close fraktur klavikula dextra.
Komplikasi akut yang paling dikhawatirkan dari pasien ini adalah adanya sindrom
costoclaviculer akibat cedera/terjepitnya pembuluh darah arteri dan vena subclavia
serta pleksus brachialis yang menimbulkan gejala berupa brachialgia nocturna yaitu
nyeri terutama bila mengangkat benda berat dan waktu istirahat pada malam hari.
Gejala lainnya berupa gringgingan, parastesia, hipotrofi otot lengan, dan mati rasa
local. Tapi pada kasus ini, sindrom costoclaviculer tidak terjadi.
Penanganan pada pasien ini yaitu penanganan operatif berupa open reduction
internal fixation (ORIF) dilanjutkan dengan penanganan non operatif berupa
pemakaian arm slag. Tujuan penagangan ini adalah terjadinya imobilisasi pada daerah
fracture agar terjadi pertautan (union) pada daerah clavicula dan penyembuhan tulang
yang mengalami fraktur lebih cepat.
Prognosis bergantung pada berat ringannya trauma yang dialami, bagaimana
penanganan yang tepat dan usia penderita. Pada pasien ini karena trauma yang terjadi
ringan tanpa komplikasi, penanganan yang dilakukan cepat dan tepat berupa
pemasangan ORIF dan pemakaian arm slag,maaka prognosisnya adalah dubia et
bonam.
DAFTAR PUSTAKA

A Graham Appley, 1995, Buku Ajar Ortopedi dan Fraktur Sistem Appley
Edisi 7, Widya Medika, Jakarta.
Chairuddin Rasjad, 2007, Pengantar Ilmu Bedah Ortopedi, Yarsif
Watampone, Jakarta.
Trurnble TE, Budoff JE, Cornwall R, editors. Hand, Elbow and Shoulder:
Core Knowledge in orthopaedics. I” ed. Philadelphia: Mosby Elsevier; 2006. p.623-7.
Hahn B. Clavicle, Fractures and Dislocations. In: Bruno MA, Coombs BD,
Pope TL, Krasny RM, Chew FS, editors [online]. 2007 [cited 2018 Mei 29] .
Available from: URL:http://www.emedicine.com.