Anda di halaman 1dari 19

ASIYAH: TEGAR DI SISI FIR'AUN

Allah memberikan perumpamaan bahwa orang


yang beriman diteguhkan hatinya sebagaimana
dialami Asiyah yang mendapat perlindungan
meskipun ia berada di dalam rumah tangga
penghulu orang kafir, yaitu rumah Fir'aun yang
dikenal sebagai seorang tiran yang sewenang-
wenang. Kekuasaan dan keangkuhan Fir'aun sama
sekali tidak membahayakan aqidah istrinya sendiri,
Asiyah, yang beriman kepada Allah Ta'ala dan
risalah Musa.
Ini menunjukkan bahwa meski kita berada di rumah
orang kafir sekelas Fir'aun sekalipun, jika ada iman
yang menjadi benteng dalam diri kita, yakinlah
bahwa Allah Ta'ala akan memberikan keselamatan.
Di tengah-tengah kebencian Fir'aun terhadap risalah
Nabi Musa dan di puncak keangkuhannya yang
mengaku sebagai tuhan, Fir'aun ternyata tidak
mampu menaklukkan hati istrinya sendiri.
Bahkan dengan tegar dan kuat, Asiyah berdoa
kepada Allah, "Ya Rabb-ku bangunkanlah untukku
sebuah rumah di sisi-Mu dalam surga dan
selamatkanlah aku dari Fir'aun dan perbuatannya,
dan selamatkan aku dari kaum yang zhalim." (QS. at-
Tahrim [66])
Terkait doa Asiyah di atas, Abul Aliyah berkomenter
dari sudut sebab turunnya ayat tersebut, bahwa
Fir'aun mengetahui keimanan istrinya, lalu dia keluar
di hadapan khalayak ramai seraya berkata, "Apakah
yang kalian ketahui tentang Asiyah binti Muzahim?"
Mereka memujinya. Maka Fir'aun berkata kepada
mereka, "Sesungguhnya dia menyembah Tuhan
selain aku. Mereka bertanya kepadanya [jika
demikian] bunuhlah dia. Kemudian dibuatkan
untuknya tiang. Setelah itu tangan dan kakinya diikat.
Maka Asiyah pun berdoa dengan doa ini: Ya
tuhanku, bangunkanlah untukku sebuah rumah di
sisi-Mu dalam surga. Hal itu bersamaan dengan
kehadiran Fir'aun di tempat penyiksaan. Maka
Asiyah tertawa ketika melihat rumahnya di surga.
Fir'aun berkomentar, "Apakah kalian tidak( merasa
heran dengan kegilaannya. Kita menyiksanya,
namun dia tertawa. Setelah itu keluarlah ruhnya dari
jasadnya."

Salman al-Farisi berkata sebagaimana


diriwayatkan Usman al-Hindi, "Awalnya dia disiksa
dengan panasnya terik matahari. Ketika sinar
matahari menyengatnya, para malaikat melindungi
defigan sayap-sayapnya. Dikatakan bahwasanya
kedua tangan dan kakinya ditancapkan di bawah
panas sinar matahari, sedangkan punggungnya
dikenakan rantai yang melingkar. Lalu Allah Ta'ala
memperlihatkan kepadanya tempatnya di surga.
Dikatakan pula bahwa tempatnya terbuat dari
mutiara. Tatkala ia berkata, "Selamatkanlah aku."
Lalu Allah menyelamatkannya dengan sebaik-baik
penyelamatan. Dia mengangkat ruhnya ke surga. Di
sana dia makan, minum dan bersenang-senang."
Inilah sosok wanita beriman. Dia hidup di bawah
kekuasan suaminya adalah manusia paling kafir
kepada Allah, Tuhan sekalian alam. Ketika itu Fir'aun
telah mengakui dirinya sebagai tuhan serta dzat yang
patut disembah sebagai sekutu Allah. Namun Asiyah
tidak tunduk pada keadaan yang demikian,
bahkan dia menyerahkan segalanya kepada Allah,
baik ketika susah maupun senang. Dia memohon
kepada Allah dengan berdoa supaya dirinya
diselamatkan dari Fir'aun dan perbuatannya, baik
kekufuran, kezhaliman dan kecongkakannya.
Sebagaimana dia memohon keselamatan dari
kaum yang zhalim, yakni orang-orang Qibthi
penduduk Mesir. Respon terhadap
permohonannya tidaklah terlambat. Allah telah
mengangkatnya ke tempat yang tinggi. Baginya
telah dibangun istana di surga.
FATIMAH ADALAH SEORANG ISTRI DAN IBU DARI
ANAK-ANAK YANG SANGAT DERMAWAN.

FATIMAH BINTI MUHAMMAD

Fatimah, semoga Allah meridhainya, adalah


putri yang dilahirkan dari pernikahan Rasullulah
dengan Khadijah, semoga Allah meridhainya.
Fatimah adalah wanita mulia sebagaimana
disebutkan dalam hadist Rasulallah, bersama
ibunya, Khadijah binti Khuwailid, serta Maryam binti
Imran dan Asiyah istri Fir’aun. Fatimah besar di
rumah kenabian dibawah asuhan Rasulullah dan
Khadijah. Dalam sorot matanya terpancar cahaya
kenabian, lidahnya hanya membicarakan kalimat-
kalimat Allah yang diperoleh dan dihafalnya
langsung dari Rasulullah.
Di saat sejumlah pemuda-pemuda mulai
berdatangan melamar Ftimah, Rasulullah sudah
mulai membicarakan pernikahan anaknya.
Mendengar hal itu, dua sahabat yakni Abu Bakar
dan Umar bin Al-Khatthab mendorong Ali Bin Abi
Thalib agar melamar Fatimah. Ali pun
memberanikan diri meski pada awalnya dia malu-
malu karena tidak ada yang bisa dibawa untuk
melamar. Saat itu Fatimah masih berumur 18
tahun sedangkan Ali lebih tua empat tahun. Ali pun
datang membawa baju perangnya.
Fatimah lahir di kota Makkah, ketika orang-
orang Quraisy sedang sibuk merenovasi Ka’bah,
sekitar lima tahun sebelum Muhammad diangkat
sebagai rasul. Berbahagialah kedua oang tua
Fatimah, ia adalah putri bungsu, karena itulah
Khadijah tidak menyusukannnya pada orang lain,
tetapi menyusui sendiri.
Fatimah tumbuh di keluarga yang suci.
Pribadinya dibentuk oleh kedua orang tuanya. Dari
sanalah ia memperoleh curahan air jernih dari mata
air kenabian. Ia berinteraksi langsung dengan
risalah kenabian ayahnya. Muhammad Rasulullah
adalah pemimpin bagi umat manusia, dan rahmat
bagi alam semesta. Sedangkan ibunya, Khadijah
binti Khuwailid adalah pemimpin bagi wanita
sedunia, sepanjang zaman, dan putri Nabi paling
utama. Suaminya, Ali bin Abi Thalib, adalah
pemimpin di dunia dan akhirat, serta Amirul
Mu’minim keempat, setelah Abu Bakar Ash-Shiddiq,
Umar Bin Al-Khattab, dan Utsman bin Affan. Kedua
putranya, Al-Hasan dan Al-Husain adalah pemimpin
para pemuda hli surga, dua orang penyejuk hati
bagi Rasulullah. Adapun pamannya, Hamzam bin
Abdul Muththalib adalah pemimpin para syuhada’,
dan singa Allah dan Rasul-Nya. Dan, pamannya
yang terakhir, adalah pemimpin Bani Hasyim. Orang
yang selalu melindungi para tetangga,
mencurahkan segenap harta dan menolong orang
yang butuh, dialah Al-Abbad bin Abdul Muththalib.
Sepupunya juga demikian, seorang pemimpin,
syuhada’ agung, dan tokoh para Mujahidin, dia
adalah Ja’far bin Ali Thalib.
Fatimah yang mendapat julukan “az-Zahra”
bermakna “Sinar mentari yang terang”. menurut
riwayat yang disampaikan, bahwa Ibnu Hibban
yang petama memberi gelar itu. Adapun latar
belakang penamaan itu karena dia tidak pernah
haid, kecuali setelah melahirkan, dan nifas selama
satu jam, agar dia tidak meninggalkan shalat. Selain
itu, Fatimah adalah orang yang paling mirip dengan
Nabi dan diantara beliau, “azharul-laun” warna kulit
bercahaya.
Az-Zahra adalah seorang putri yang sangat
setia dan mendukung penuh dakwah ayahnya.
Lihatlah, ketika Uqbah mendengar dari pemuka
Quraisy mengatakan “Siapa yang mau mengambil
isi perut unta ini dan melemparkannya ke punggung
Muhammad saat dia sedang sujud?” Ternyata
Uqbah yang bersedia merealisasikan keinginan
busuk itu, ia menyahut, “saya!”
Segera Uqbah mengambil isi perut unta itu dan
membawanya lalu melemparkan ke punggung
Rasullulah yang sedang sujud. Melihat keadaan
seperti itu, kumpulan Quraisy berlagak bodoh. Nabi
Muhammad, tetap dalam sujudnya hingga
sampailah berita ini kepada Fatimah, dan ia pun
bergegas mengambil seluruh kotoran yang berisi
jeroan bertengger di punggung ayahnya. Lalu
membersihkan tubuh pakaian ayahnya yang
terkena kotoran, lalu Fatimah dengan berani
menghardik para gerombolan teroris itu. Nabi
Muhammad lalu berdoa kepada Allah agar
menghukum orang-orang yang selalu menjadi
musuh, salah satunya, Uqbah bin Abi Mui’th yang
baru saja melemparinya kotoran.
Doa beliau pun terkabul. Dalam perang Badar.
Uqbah menjadi tawanan pasukan Islam. Tatkala
Nabi Muhammad memerintahkan sahabat untuk
melakukan eksekusi pada Uqbah, ia lalu berkata,
“Lantas siapa yang mengurus anak-anakku, wahai
Muhammad?” “Neraka sudah menantimu,” jawab
Nabi Muhammad. “Apakah Engkau tetap
membunuhku padahal aku orang Quraisy?” “ya”,
jawab Nabi Muhammad.
Rasulullah lalu menoleh kepada para sahabat
dan berkata, “apakah kalian tahu apa yang telah
dilakukannya kepadaku? Dia mendatangiku saat
aku sujud di belakang Maqam Ibrahim. Dia
menginjak tengkukku dan tidak menghentikannya
hingga aku mengira mataku hendak copot. Di lain
waktu, ia juga datang dengan membawa jeroan
unta. Ia melemparkannya ke atas kepalaku, dikala
aku sedang sujud. Hingga datanglah Fatimah, ia
membersihkan kepalaku”
Begitulah akhir cerita dari Uqbah, ia
mendapatkan siksa di dunai dan akhirat akibat
perlakuannya pada Rasul akhir zaman, dan kini
begitu banyak Uqbah yang datang silih berganti,
mencela ajaran Nabi Muhammad, serta
melecehkan ajaran beliau.
Fatimah merasakan masa-masa pahit yang
dialami umat Islam di Makkah. Ketika diboikot
selama tiga tahun, iapun merasakannya. Akan
tetapi semua itu semakin membuat keimanan dan
keislamannya bertambah. Ia semakin dekat
dengan ayahnya, dan turut merasakan beban-
beban dakwah hingga Allah Taalla memberi izin
pada Nabi Muhammad dan kaum muslimin pindah
ke kota Madinah.
Fatimah termasuk dalam rombongan kaum
wanita muhajirat bahkan mereka rela
mendahulukan kaum muhajirin ketika mereka
sendiri sedang membutuhkannya.
Pada tahun kedua Hijriah, Ali bin Abi Thalib
menikahi Fatimah binti Muhammad, dan ini
berlangsung seusai peristiwa perang Badar. Saat itu
Ali mendatangi Nabi Muhammad, namun ia malu
untuk mengutarakan isi hatinya. Dia hanya diam,
hingga Nabi Muhammad yang berbicara duluan.
“sepertinya kamu datang hendak melamar
Fatimah?” “Iya,” jawab Ali. “Apakah kamu punya
sesuatu untuk mas kawin?” tanya Nabi Muhammad.
“sungguh aku tidak memiliki apa-apa wahai
Rasulullah.” “Bagaimana dengan baju besi yang
pernah kuberikan padamu?” tanya Nabi
Muhammad. “Iya, Aku memilikinya baju besi itu
buatan orang Hutham, harganya 400 dirham.”
jawab Ali. “Aku menikahkanmu dengan Fatimah.
Utuslah seseorang untuk mengantar baju besi
tersebut kepada Fatimah. Dengan begitu, ia sudah
menjadi istrimu,” kata Nabi Muhammad.
Rasulullah menemui putrinya, beliau berkata
padanya, ”Sesungguhnya Ali menyebut namamu.”
Fatimah diam. Maka Rasulullah menikahkannya.
Saat itu, umurnya 18 tahun, dan Ali lebih tua 4 tahun
daripadanya.
Dimalam pernikahan putrinya, sebagaimana
ditulis Ibn Khatsir dalam “Al-Bidayah wa An-
Nihayah” Rasulullah meminta air untuk berwudhu,
kemudian menyisakannya untuk Ali, dan berdoa,
”ya Allah berkahilah keduanya. Berkahilah
keturunan mereka berdua.” Bani Abdul Muthalib
dan para sahabatpun merayakan momen
bersejarah yang membahagiakan itu. Waktu itu
Hamzah menyembelih beberapa ekor unta
milikinya untuk menjamu para undangan.
Pasangan pengantin baru itu pindah rumah
yang lumayan jauh dari rumah Rasulullah. Tempat
yang tidak ada perabotan, sedang alas tidurnya
hanya dari kulit kambing, satu tempat minum, dua
buah tempayan, dan satu alat penggiling tepung.
Namun, tak lama setelah itu, Rasulullah datang
menemui putrinya, dan berkata, ”aku ingin kamu
tinggal denganku." Fatimah menjawab, “Kalau
begitu katakan pada Haritsah bin Nu’man agar
menyisihkan sebagian rumahnya lagi.” Rasulullah
menjawab, ”Aku sungguh malu padanya. Ia telah
banyak memberikan rumahnya kepada kita.”
ketika berita ini sampai pada Haritsah, dia langsung
menemui Nabi Muhammad dan mengatakan, “Aku
mendengar bahwa Engkau ingin Fatimah tinggal
denganmu. Rumah-rumahku adalah rumah Bani
an-Najjar yang paling dekat dengan rumahmu.
Sesungguhnya, diri dan hartaku semuanya adalah
milik Allah dan Rasull-Nya.“ Nabi Muhammad
menjawab, “engkau benar-benar tulus. Semoga
Allah selalu memberkahimu.” maka, Nabi
Muhammad menyuruh mereka berdua, yakin Ali
dan Fatimah pindah ke salah satu rumah Haritsah
dan tinggal disana.
Dalam kondisi serba kekurangan dan hidup
dalam kesederhanaan, Fatimah mengerjakan
sendiri segenap keperluan rumah tangganya. Ini
karena suaminya, Ali, belum sanggup
mempekerjakan pembantu untuk membantunya
mengurus pekerjaan-pekerjaan rumah tangga.
Pada waktu umat Islam mendapatkan sejumlah
kemenangan besar dalam peperangan, dan
banyak tawanan yang dijadikan budak, Ali bin Abi
Thalib pun datang menemui istrinya. Ia mengeluh, "Aku
benar-benar telah merasa lelah mengambil air dari
sumur, hingga merasa sakit. Allah telah memberi
ayahmu banyak budak, pergilah menemui beliau,
dan mintalah seorang pembantu." Fatimah
menjawab, "Demikian pula aku, selalu membuat
adonan tepung hingga membekas di tanganku."
Maka, Fatimah pun menemui ayahnya, tetapi dia
tidak kuasa meminta pembantu kepadanya, karena
merasa tidak enak dan malu. Ia pun melapor pada
suaminya, "Aku malu untuk meminta pada beliau.
Karena itu aku pulang." Lalu, kedua pengantin baru
itu menemui Rasulullah meskipun malu-malu,
dengan berjalan maju-mundur, dan ketika bertemu,
mereka mengutarakan keadaan dan keinginan
mereka. Rasul menjawab, “demi Allah, aku tidak
akan memenuhi permintaan kalian itu. Karena aku
tidak bisa meninggalkan para ahli suffah dalam
keadaan lapar. Aku akan menjual budak-budak itu
dan hasilnya akan kuinfakkan buat mereka." (HR. al-
Bukhari)

Akhirnya, mereka berdua pulang dengan


perasaan hampa. Ketika mereka hendak tidur,
ternyata selimut yang ada tidak cukup.
Jika kalian hendak berbaring di tempat tidur,
bacalah tasbih, tahmid, takbir, masing-masing 33
kali." (HR. al-Enichari) Akhirnya, Ali dan Fatimah
sangat puas dengan pesan dari Nabi itu, dan
mereka pun tidak pernah meninggalkan petuah
itu hingga akhir hayat mereka. Fatimah adalah
seorang istri dan ibu dari anak-anak yang sangat
dermawan. Ketika Rasulullah menemui putrinya,
dan melihatnya sedang melepas kalung emas dari
lehernya, Fatimah mengatakan pada ayahnya,
kalau kalung itu adalah pemberian suaminya.
Rasulullah langsung menegurnya, "Wahai Fatimah,
apakah engkau senang jika orang-orang
mengatakan, dia adalah Fatimah putri
Muhammad, di tang annya ada kalung dari api
neraka, lalu is pulang. "Mendengar hal itu, Fatimah
pun menggunakan kalung tersebut untuk
memerdekakan seorang budak. Mengetahui hal
itu, Nabi A berujar, "Segala puji bagi Allah yang
telah menyelamatkan Fatimah dari api neraka."
(HR. al-Baihaqi) Di lain waktu Rasulullah
memberikan wejangan pada putrinya, sabdanya,
"Wahai Fatimah binti Muhammad, mintalah
padaku apapun yang kamu inginkan dari hartaku,
akan tetapi aku tidak bisa menyelamatkanmu
sedikitpun dari siksa Allah.” (HR. Al- Bukhari dan
Muslim) Jika demikian, bagaimanamungkin ia
akan cenderung kepada dunia. Tak diragukan
lagi, Fatimah adalah orang yang zuhud, wara’,
dan cinta kepada Allah yang tiada taranya.
Kezuhudan Fatimah tidak bisa dibandingkan
dengan semua wanita pada zamannya.
Kecintaan akan kebenaran benar-benar murni
dan penuh berkah. Ia berusaha semampunya
mengimbangi ayahnya. Aisyah meriwayatkan
perihal kezuhudan Fatimah, kayanya, “aku belum
pernah melihat ada orang yang lebih baik
sikapnya daripada Fatimah, kecuali ayahnya.”
Suatu ketika Nabi pernah ditanya, “Siapakah
orang yang paling engkau sayangi?” “Fatimah”,
jawab beliau. (HR. At-Tarmidzi) Imam adz-Dzahabi
berkomentar, “Perempuan yang paling disayangi
Rasulullah adalah Fatimah, dan laki-laki yang
paling disayangi adalah Ali.”
Tidak ada yang menandingi kedudukan
Fatimah di hati Nabi, demikian pula rasa cinta
ayah terhadap putrinya. Imam Al- Bukhari
meriwayatkan dari Aisyah, semoga Allah
meridhainya, ia berkata, “Aku tidak melihat
seorangpun yang menyerupai Nabi, baik ucapan,
gaya bicara, maupun cara duduknya kecuali
Fatimah, apabila Nabi melihatnya, beliau
langsung menyambutnya. Beliau berdiri dan
menciumnya, Kemudian, menggandeng
tangannya dan menyuruh duduk ditempat duduk
beliau. Demikian pula sebaliknya, bila ia melihat
Nabi, ia langsung menyambutnya, ia langsung
berdiri dan mencium tangan ayahnya.
Rasulullah sangat peduli pada putrinya,
termasuk soal kebahagiaan rumah tangganya.
Suatu ketika, menantunya, Ali berhasrat
melakukan poligami dengan melamar putri Abu
Jahal, maka Fatimah pun datang menemui
Rasulullah dan mengadu.
"Kaummu mengira bahwa engkau tidak ikut
marah apabila putrimu marah. All ingin menikahi
putri Abu Jahal." Mendengar itu, Nabi berdiri dan
berkata, "Sungguh Fatimah adalah bagian dariku.
Aku tak suka apabila dia disakiti. Demi Allah, putri
utusan Allah dan putra musuh Allah tidak akan bisa
berkumpul pada satu suami." (HR. al-Bukhari dan
Muslim)
Karena mengindahkan perasaan Fatimah, Ali
pun urung meminang putri Abu Jahal. Ia segera
menemui istrinya dan meminta maaf, dan
hilanglah masalah yang menyedihkan bagi
Fatimah, dan kebahagiaan pun kembali meliputi
mereka berdua. Dalam sebuah riwayat, Ali
berkata, "Aku bertanya kepada Rasulullah”, di
antara kami berdua, siapakah yang lebih engkau
cintai; aku atau Fatimah?" "Fatimah lebih aku
cintai daripada kamu dan, kamu lebih mulia
bagiku daripada dia."
Kebahagiaan mereka kian sempurna
manakala Fatimah mengandung, dan pada bulan
Sya'ban tahun ketiga Hijriah, Fatimah melahirkan
bayinya yang pertama. Seseorang datang
kepada Nabi memberi kabar tentang berita
gembira tersebut. Rasulullah senang, dan kaum
muslimin pun bersukacita dengan kelahiran cucu
sang Rasul. Pada hari ketujuh kelahiran cucunya,
Rasulullah menyembelih kambing sebagai aqiqah,
ia mencukur rambut si bayi, dan memberinya
nama, Hasan. Di tahun berikutnya, di bulan yang
sama, lahirlah Husain, cucu Nabi Muhammad
yang kedua. Beliau memperlakukannya sama
seperti cucunya yang pertama, menyembelih
kambing di hari ketujuh, mencukur rambutnya dan
menamainya. Terhadap cucunya, Nabi bersabda,
"Keduanya adalah we-wangian surga yang
kudapat di dunia." (HR. al-Bukhari) Hadits lain, dari
Imam at-Tirmidzi menyebutkan, Nabi A bersabda,
"Keduanya adalah pemimpin pemuda ahli surga."
(HR. at-Tirmidzi, al-Hakim, Ahmad dll) Bahkan
keutamaan Hasan dan Husain tiada batasnya.
Selanjutnya Fatimah melahirkan dua anak lagi,
semuanya perempuan. Tahun kelima Hijriyah, dia
melahirkan Zainab, dan tahun ketujuh is
melahirkan Ummu Kaltsum. Zainab kelak menikah
dengan Ja'far bin Abi Thalib dan Ummu Kaltsum
menikah dengan Umar bin al-Khaththab. Keluarga
Nabi Muhammad yang terdiri dari istri-istri, anak,
menantu, dan cucunya lazim juga disebut Ahlul
Bait. Maha benar Allah dengan segala firman-Nya,
"Sesungguhnya Allah bermaksud hendak
menghilangkan dosa dari kamu, hai Ahlul Bait, dan
membersihkan kamu sebersih-bersihnya." (QS. al-
Ahzab [33]: 33) Demikian pula Ummu Salamah,
semoga Allah meridhainya, meriwayatkan, bahwa
Rasulullah pernah menyatukan Hasan, Husain, Ali,
dan Fatimah dalam satu pakaian. Kemudian
berdoa, "Ya Allah, mereka adalah keluargaku dan
orang-orang terdekatku. Jauhkan mereka dari
dosa dan bersihkan mereka sebersih-bersihnya!")
Tentang keistimewaan Ahlul Bait, Nabi
Muhammad bersabda, "Tidak seorang pun yang
membenci kami, Ahlul Bait, melainkan Allah akan
memasukkannya ke neraka." (HR. Ibnu Hibban)
Pun, Imam Ahmad meriwayatkan dari Abu
Hurairah, Nabi Muhammad memandang Ali,
Fatimah, al-Hasan dan al-Husain, lalu beliau
bersabda, "Aku nyatakan perang terhadap orang
yang tidak berdamai dengan kalian." (HR. at-
Tirmidzi) Kedudukan Fatimah, semoga Allah
meridhainya, sebagai pemimpin kaum wanita
tertuang dalam sebuah riwayat yang
menceritakan, bahwa suatu hari Nabi Muhammad
mengunjungi putrinya yang sedang tidak punya
apa-apa untuk dimakan. Beliau bertanya,
"Bagaimana kondisimu wahai putriku?" Fatimah
menjawab, "Makin parah karena aku tidak memiliki
makanan untuk dimakan." Nabi bertanya lagi,
"Putriku, apakah kamu tidak suka jika kamu
menjadi pemimpin kaum wanita seluruh dunia?"
"Ayah, lantas bagaimana dengan Maryam binti
Imran?" Tanya Fatimah. Beliau menjawab, "Dia
adalah pemimpin kaum wanita di dunianya dan
kamu adalah pemimpin kaum wanita di duniamu.
Sungguh, aku telah menikahkanmu dengan
seorang pemimpin dunia akhirat." Hudzaifah juga
meriwayatkan, bahwa Rasulullah bersabda,
"Malaikat turun dan memberiku kabar gembira
bahwa Fatimah adalah pemimpin wanita surga."
(HR. at-Tirmidzi) Wanita mulia ini, sebagaimana
disebutkan oleh Urwah bin Zubair, wafat enam
bulan setelah Rasulullah lebih dahulu menghadap
Allah. Kala itu, umur Fatimah 29 tahun. Ini juga
menjadi bagian dari mukjizat Nabi Muhammad,
bahwa beliau pernah menyatakan, bahwa
"Fatimah adalah anggota keluarga beliau yang
pertama menyusulnya." Al-Abbas memimpin
shalat jenazahnya, sumber lain mengatakan Abu
Bakar. Tentang kepergian Fatimah, Ali melukiskan
kesedihannya dalam bait syair:
Setiap ada pertemuan sepasang kekasih pasti
ada perpisahan Hanya sedikit yang tidak
dipisahkan oleh kematian
Setelah kehilangan Muhammad, aku
kehilangan Fatimah Bukti bahwa tak ada kisah
kasih yang abadi.
Sebagai catatan, kedudukan Ahlul Bait
sebagai manusia-manusia mulia dalam
pandangan kaum muslimin, khususnya
Ahlussunnah wal Jamaah sudah tidak
terbantahkan. Hanya saja, kita memandang
bahwa selain Nabi Muhammad, semuanya tidak
ada yang ma’shum, atau terbebas dari kesalahan.
Dan itu adalah pandangan yang proporsional.
Hal ini berbeda dengan pandangan golongan
Syiah yang beranggapan, bahwa Ahlul Bait,
terutama Ali bin Abi Thalib, Fatimah az-Zahra,
Hasan dan Husain serta keturunanya adalah
Padahal tidak ada satu nash pun baik Al-Qur'an
maupun hadits menerangkan hal itu.
Karena itulah, kaum muslimin diminta lebih
bijak menyikapi masalah ini, dan kembali kepada
ajaran Islam yang benar. Menghormati dan
memuliakan Ahlul Bait berdasarkan ajaran
Rasulullah, bukan melampaui batas nalar. Bahkan
golongan Syiah Imamiyah tidak hanya ghuluw
(bersikap berlebih-lebihan) terhadap Ahlul Bait,
tetapi mencela dan melecehkan sahabat-
sahabat Nabi A yang lain, seperti Abu Bakar as-
Shiddiq, Umar bin Khaththab, Ustman bin Affan,
bahkan termasuk sebagian Ahlul Bait, seperti
Aisyah binti Abu Bakar, istri Rasulullah, semoga
Allah meridhai mereka semua.