Anda di halaman 1dari 184

KPHL Unit XII Dempo dibentuk berdasarkan Peraturan Walikota

Pagar Alam No: 41 Tahun 2014 tentang Pembentukan Unit Pelaksana


Teknis Dinas Kesatuan Pengelolaan Hutan Lindung (UPTD-KPHL) Unit XII
Dempo Dinas Kehutanan dan Perkebunan Kota Pagar Alam. Wilayah KPHL
Unit XII Dempo memiliki luas 26.064,72 Ha atau mencapai lebih 40% dari
luas Kota Pagar Alam. KPHL Unit XII Dempo terdiri atas dua kelompok hutan
yaitu Kelompok Hutan Lindung Bukit Dingin dengan luas 2.280,36 Ha, dan
Kelompok Hutan Lindung Bukit Jambul Gunung Patah dengan luas
23.784,36 Ha. Wilayah kelola KPHL Unit XII Dempo terbagi atas 2 (dua)
blok, yaitu blok inti seluas 10.878,38 Ha dengan 39 petak, dan blok
pemanfaatan dengan luas 15.186,34 Ha yang terdiri atas 56 petak.

Sebagai KPH yang hanya memiliki kelompok hutan dengan fungsi


lindung, serta potensi yang dimiliki oleh KPHL Unit XII Dempo maka rencana
pengembangan KPHL Unit XII Dempo bertumpu pada sektor jasa, yaitu
wisata. Konsep pengembangan wisata yang dikembangkan adalah
ekowisata, suatu pengembangan wisata yang berbasis pada kelesatarian
alam dan pemberdayaan masyarakat. Sehingga visi KPHL Unit XII Dempo
dapat dirumuskan sebagai “KPHL UNIT XII DEMPO MENJADI DAERAH
TUJUAN UTAMA EKOWISATA DI PROVINSI SUMATERA SELATAN
TAHUN 2025”.
Ringkasan Eksekutif

Untuk mencapai visi yang dicita-citakan, maka ditetapkan rumusan


misi KPHL Unit XII Dempo, sebagai berikut: 1) Meningkatan kualitas
sumberdaya manusia pengelola; 2) Menginventarisasi dan mengoptimalkan
pemanfaatan sumberdaya alam; 3) Merencanakan dan mengembangkan
potensi ekowisata; dan 4) Mengoptimalkan peran stakeholder dan
kerjasama dengan pihak ketiga.

Untuk mewujudkan visi dan misi KPHL Unit XII Dempo, disusun
berbagai kegiatan meliputi inventarisasi hutan berkala, pemanfaatan hutan
di wilayah tertentu, pemberdayaan masyarakat, pembinaan dan
pemantauan terhadap wilayah berizin, rehabilitasi dan reklamasi,
perlindungan dan konservasi alam, kordinasi dan sinkronisasi, rencana
penyediaan dan kapasitas SDM, pendanaan, sarana dan prasarana,
rasionalisasi wilayah kelola, review rencana pengelolaan, serta
pengembangan investasi. Untuk menjamin tercapainya target yang
diinginkan, maka dilaksanakan pembinaan, pengawasan dan pengendalian.
Selain itu dilakukan juga pemantauan evaluasi dan pelaporan yang akan
menjadi instrumen penting untuk mengkoordinasikan, menyempurnakan
dan menyesuaikan kembali kegiatan-kegiatan yang telah direncanakan.

Rencana Pengelolaan Hutan Jangka Panjang KPHL Unit XII Dempo 2016-2025
Sasaran utama penyusunan Rencana Pengelolaan Jangka Panjang
10 tahun KPHL Unit XII Dempo adalah mewujudkan rencana pengelolaan
periode tahun 2016-2025, yang pencapaiannya dilaksanakan oleh KPHL Unit
XII Dempo sebagai pemegang kewenangan pengelolaan, bersama para
pihak pemangku kepentingan yang terkait dan bersinergi didalam
pengelolaan. Rencana Pengelolaan Jangka Panjang KPHL III Unit XII
Dempo disusun secara sistematis yang bertujuan untuk memberikan arah
yang tepat didalam pelaksanaan pengelolaan KPHL Unit XII Dempo dalam
kurun waktu 10 (sepuluh puluh) tahun. Sehingga dengan rencana
pengelolaan tersebut KPHL Unit XII Dempo memiliki kerangka kerja yang
terpadu dan komprehensif didalam pelaksanaan pengelolaan yang lebih
efektif, efisien dan bermanfaat menuju kelestarian pemanfaatan hutan

Kelestarian hutan hanya akan tercapai apabila penyusunan rencana


pengelolaan jangka panjang dilakukan secara benar. Pengurusan hutan
menurut UU Nomor 41 Tahun 1999, pasal 10 ayat 2 terdiri dari : a)
perencanaan kehutanan; b) pengelolaan hutan; c) penelitian dan
pengembangan, pendidikan dan latihan, serta penyuluhan kehutanan, dan
d) pengawasan. Untuk mewujudkan pengelolaan hutan lestari (PHL) maka
Pemerintah membuat suatu kebijakan yaitu membagi habis seluruh
kawasan hutan di Indonesia ke dalam sejumlah Kesatuan Pengelolaan
Hutan (KPH). KPH tersebut dapat berbentuk Kesatuan Pengelolaan Hutan
Kata Pengantar

Konservasi (KPHK), Kesatuan Pengelolaan Hutan Lindung (KPHL) maupun


Kesatuan Pengelolaan Hutan Produksi (KPHP). Penetapan wilayah KPH
merupakan kewenangan Menteri Kehutanan, namun dapat dievaluasi untuk
kepentingan efisiensi dan efektifitas, serta karena adanya perubahan tata
ruang.

Kami sangat menyadari dokumen rencana pengelolaan KPHL


Dempo masih memerlukan beberapa masukan kongkrit dari semua pihak
untuk lebih menyempurnakan dokumen rencana pengelolaan ini. Ucapan
terima kasih kami ucapkan kepada semua pihak yang telah membantu
penyusunan dokumen ini.

Pagar Alam, April 2016


Kepala KPHL Unit XII Dempo

HETTY DIAN YUVITA, S.HUT


NIP.19750228 200903 2 005

Rencana Pengelolaan Hutan Jangka Panjang KPHL Unit XII Dempo 2016-2025
1.1 Latar Belakang ........................................................... I – 1
1.2 Tujuan ....................................................................... I – 3
1.3 Sasaran ..................................................................... I – 4
1.4 Ruang Lingkup ........................................................... I – 4
1.5 Batasan Pengertian ..................................................... I – 5

2.1 Risalah Kawasan ......................................................... II – 1


2.1.1 Letak Geografis .............................................. II – 1
2.1.2 Luas ............................................................... II – 2
2.1.3 Aksesibilitas .................................................... II – 3
2.1.4 Batas-batas .................................................... II – 4
2.1.5 Kondisi Biofisik dan Pembagian Blok ................. II – 5
2.1.5.1 Biofisik ............................................... II – 5
2.1.5.2 Pembagian Blok ................................... II – 16
2.1.6 Sejarah Wilayah KPHL Unit XII Dempo ............. II – 17
2.2 Potensi Wilayah KPHL Unit XII Dempo ......................... II – 23
2.2.1 Penutupan Lahan ............................................ II – 23
Daftar Isi

2.2.2 Potensi Kayu dan Non Kayu ............................. II – 27


2.2.2.1 Potensi Kayu ....................................... II – 27
2.2.2.2 Potensi Non Kayu ................................ II – 33
2.2.3 Potensi Tumbuhan dan Satwa Liar ................... II – 33
2.2.3.1 Tumbuhan yang Dilindungi .................. II – 33
2.2.3.2 Satwa Liar .......................................... II – 34
2.2.4 Potensi Jasa Lingkungan ................................. II – 35
2.2.5 Potensi Wisata Alam ....................................... II – 38
2.3 Kondisi Sosial Ekonomi Budaya .................................... II – 41
2.3.1 Kondisi Kependudukan .................................... II – 41
2.3.2 Kondisi Ekonomi ............................................. II – 43
2.3.3 Kondisi Sosial Budaya ...................................... II – 44
2.4 Izin Pemanfaatan Hutan dan Penggunaan Kawasan
Hutan ...................................................................... II – 45
2.4.1 Pemanfaatan Hutan ........................................ II – 45
2.4.2 Penggunaan Kawasan Hutan ........................... II – 45
2.5 Kondisi KPHL dalam Tata Ruang dan Pembangunan
Daerah ................................................................ II – 46
2.5.1 Perspektif Tata Ruang ............................... II – 46
2.5.2 Perspektif Pembangunan Daerah ............... II – 48
2.6 Isu Strategis, Kendala dan Permasalahan ..................... II – 50
2.6.1 Isu Strategis ............................................. II – 50
2.6.2 Kendala dan Permasalahan ........................ II – 51

3.1 Visi Pengelolaan KPHL Dempo ..................................... III – 3


3.2 Misi Pengelolaan KPHL Dempo ..................................... III – 5
3.3 Tujuan Pengelolaan KPHL Dempo ................................ III – 7

4.1 Analisa Data dan Informasi ......................................... IV – 1


4.2 Proyeksi Kondisi Wilayah ............................................. IV – 4

5.1 Inventarisasi dan Penataan Hutan Berkala ................... V–1


5.2 Pemanfaatan Hutan Pada Wilayah Tertentu .................. V–3
5.3 Pemberdayaan Masyarakat .......................................... V–8
5.4 Pembinaan dan Pemantauan Areal Pemanfaatan dan
Pengunaan Kawasan Hutan ......................................... V–9
5.5 Penyelenggaraan Rehabilitasi di Areal diluar Ijin ........... V – 14

Rencana Pengelolaan Hutan Jangka Panjang KPHL Unit XII Dempo 2016-2025
Daftar Isi

5.6 Pembinaan dan Pemantauan Pelaksanaan Rehabilitasi


dan Reklamasi pada Areal Berijin ................................. V – 16
5.7 Perlindungan Hutan dan Konservasi Alam .................... V – 17
5.8 Penyelenggaraan Koordinasi dan Sinkronisasi antar
Pemegang Ijin ............................................................ V – 20
5.9 Koordinasi dan Sinergi dengan Instansi dan
Stakeholder Terkait ..................................................... V – 21
5.10 Penyediaan dan Peningkatan Kapasitas Sumber Daya
Manusia (SDM) ........................................................... V – 22
5.11 Penyediaan Pendanaan ............................................... V – 23
5.12 Penyediaan Sarana dan Prasarana ............................... V – 23
5.13 Pengembangan Database ............................................ V – 30
5.14 Rasionalisasi Wilayah Kelola ........................................ V – 31
5.15 Review Rencana Pengelolaan ...................................... V – 32
5.16 Pengembangan Invenstasi .......................................... V – 32

6.1 Pembinaan ................................................................. VI – 2


6.2 Pengawasan ............................................................... VI – 3
6.3 Pengendalian .............................................................. VI – 4

7.1 Pemantauan ............................................................... VII – 1


7.2 Evaluasi ..................................................................... VII – 2
7.3 Pelaporan ................................................................... VII – 2

Rencana Pengelolaan Hutan Jangka Panjang KPHL Unit XII Dempo 2016-2025
Tabel 2.1 Wilayah administrasi KPHL Unit XII Dempo ...... II – 1
Tabel 2.2 Luas kelas lereng yang terdapat di KPHL
Unit XII Dempo .............................................. II – 6
Tabel 2.3 Jenis batuan di KPHL Unit XII Dempo ............... II – 7
Tabel 2.4 Jenis tanah yang terdapat di KPHL Unit
XII Dempo ..................................................... II – 11
Tabel 2.5 Daerah aliran sungai di wilayah KPHL Unit
XII Dempo ..................................................... II – 13
Tabel 2.6 Pambagian blok di KPHL Unit XII Dempo .......... II – 16
Tabel 2.7 Sejarah penunjukkan kawasan hutan KPHL
Unit XII Dempo .............................................. II – 18
Tabel 2.8 Tutupan lahan pada KPHL Unit XII Dempo
berdasarkan kelompok hutan ........................... II – 25
Tabel 2.9 Tipe penggunaan kawasan di KPHL Unit XII
Dempo ........................................................... II – 26
Tabel 2.10 Rekapitulasi jumlah batang, bidang dasar dan
volume tegakan berdiri (/ha) untuk seluruh
kelas penutupan dan fungsi kawasan hutan ..... II – 29
Tabel 2.11 Rekapitulasi jumlah batang, bidang dasar dan
volume tegakan berdiri (/ha) untuk seluruh
kelas penutupan areal tidak berhutan dan
fungsi kawasan hutan ..................................... II – 32
Tabel 2.12 Tabel jenis satwa dilindungi di KPHL
Unit XII Dempo .............................................. II – 34
Tabel 2.13 Desa yang terdapat dalam wilayah KPHL
Unit XII Dempo .............................................. II – 41
Tabel 2.14 Jenis lapangan usaha di Kota Pagar Alam ......... II – 43
Daftar Tabel

Tabel 2.15 Daftar izin penggunaan kawasan hutan di


KPHL Unit XII Dempo ...................................... II – 45
Tabel 2.16 Luas arahan RKTN pada kawasan hutan KPHL
Unit XII Dempo .............................................. II – 48
Tabel 3.1 Visi dan misi RPJMD dan Renstra Kota
Pagar Alam tahun 2013-2018 .......................... III – 2
Tabel 3.2 Tabel korelasi hubungan antara Visi, Misi, dan
Tujuan KPHL Unit XII Dempo .......................... III – 8
Tabel 4.1 Analisis SWOT Pengembangan KPHL Unit XII
Dempo ........................................................... IV – 3
Tabel 4.2 Proyeksi Kondisi KPHL Unit XII Dempo Sepuluh
Tahun yang Akan Datang ................................ IV – 6
Tabel 4.3 Parapihak yang terlibat dalam pembangunan
KPHL Unit XII Dempo ...................................... IV – 11
Tabel 5.1 Kelas perusahaan yang akan direncanakan di
KPHL Unit XII Dempo ...................................... V–4
Tabel 5.2 Garis besar rencana pengembangan ekowisata
di KPHL Unit XII Dempo .................................. V–6
Tabel 5.3 Tingkat kekritisan lahan di KPHL Unit XII
Dempo ........................................................... V – 15

Tabel 5.4 Rencana penyelesaian pembangunan sarana


dan prasarana ekowisata ................................. V – 24
Tabel 5.4 Rencana Kegiatan Pengelolaan KPHL Unit
XII Dempo ..................................................... V – 31

Rencana Pengelolaan Hutan Jangka Panjang KPHL Unit XII Dempo 2016-2025
Gambar 2.1 Peta wilayah KPHL Unit XII Dempo .................. II – 2
Gambar 2.2 Peta jalur transportasi di Kota Pagar Alam ........ II – 3
Gambar 2.3 Peta aksesibilitas KPHL Unit XII Dempo ............ II – 4
Gambar 2.4 Peta kelerengan KPHL Unit XII Dempo ............. II – 6
Gambar 2.5 Sebaran geologi dalam kawasan hutan
KPHL Unit XII Dempo ...................................... II – 8
Gambar 2.6 Sebaran jenis tanah dalam wilayah KPHL
Unit XII Dempo .............................................. II – 10
Gambar 2.7 Peta DAS KPHL Unit XII Dempo ....................... II – 13
Gambar 2.8 Peta iklim KPHL Unit XII Dempo ...................... II – 15
Gambar 2.9 Pembagian kelompok hutan KPHL Unit XII
Dempo ........................................................... II – 17
Gambar 2.10 Kelompok hutan lindung Bukit Dingin ............... II – 18
Gambar 2.11 Kelompok hutan Bukit Jambul Gunung Patah .... II – 20
Gambar 2.12 Peta tutupan lahan wilayah KPHL Unit XII
Dempo ........................................................... II – 23
Gambar 2.13 Sebaran penggunaan lahan di wilayah KPHL Unit XII
Dempo ........................................................... II – 26
Gambar 2.14 Ilustrasi udara yang segar dan sejuk dapat
memberikan sense of place bagi pengunjung ... II – 39
Gambar 2.15 Tugu Rimau menjadi salah satu ikon daerah
tujuan wisata di ketinggian ±1.800 m dpl ......... II – 40
Gambar 2.16 Peta ijin pemanfaatan kawasan di KPHL Unit
XII Dempo ..................................................... II – 46
Gambar 2.17 Kawasan hutan KPHL Unit XII Dempo dalam
RTRW Kota Pagar Alam ................................... II – 47
Daftar Gambar

Gambar 2.18 Peta Rencana Kehutanan Tingkat Nasional


KPHL Unit XII Dempo ...................................... II – 48
Gambar 4.1 Tiga prinsip kelestarian di KPH ......................... IV – 4
Gambar 5.1 Peta wilayah tertentu KPHL Unit XII Dempo ..... V–3
Gambar 5.2 Sebaran tingkat kekritisan lahan di
KPHL Unit XII Dempo ...................................... V – 14
Gambar 5.3 Peta tingkat kerawasan kebakaran hutan
dan lahan di sekitar kawasan hutan
KPHL Unit XII Dempo ...................................... V – 19

Rencana Pengelolaan Hutan Jangka Panjang KPHL Unit XII Dempo 2016-2025
Lampiran 1 Peta Tata Hutan KPHL Unit XII Dempo ............. L–1
Lampiran 2 Peta Wilayah KPHL Unit XII Dempo ................. L–2
Lampiran 3 Peta Batas Kawasan Hutan KPHL Unit XII
Dempo ............................................................ L–3
Lampiran 4 Peta Rencana Kehutanan Tingkat Nasional
KPHL Unit XII Dempo ...................................... L–4
Lampiran 5 Peta Indikatif Penundaan Pemberian Izin Baru
KPHL Unit XII Dempo ...................................... L–5
Lampiran 6 Peta Kerawanan Kebakaran Lahan dan Hutan
Disekitar Wilayah KPHL Unit XII Dempo ........... L–6
Lampiran 7 Peta Izin Pinjam Pakai Irigasi Lematang dan
Supreme Energy di KPHL Unit XII Dempo ......... L–7
Lampiran 8 Peta Aksesibiltas KPHL Unit XII Dempo ............ L–8
Lampiran 9 Peta Daerah Aliran Sungai KPHL Unit XII
Dempo ........................................................... L–9
Lampiran 10 Peta Kekritisan Lahan KPHL Unit XII Dempo ..... L – 10
Lampiran 11 Peta Iklim KPHL Unit XII Dempo ...................... L – 11
Lampiran 12 Peta Geologi KPHL Unit XII Dempo .................. L – 12
Lampiran 13 Peta Kemiringan Lereng KPHL Unit XII Dempo . L – 13
Lampiran 14 Peta Sebaran Potensi KPHL Unit XII Dempo ..... L – 14
Lampiran 15 Peta Penutupan Lahan KPHL Unit XII Dempo ... L – 15
Lampiran 16 Penggunaan Lahan KPHL Unit XII Dempo ......... L – 16
Lampiran 17 Peta Tanah KPHL Unit XII Dempo .................... L – 17
Sebagai negara yang memiliki hutan terluas ketiga di dunia setelah
Brasil dan Zaire, Indonesia juga sekaligus merupakan negara dengan laju
deforestasi tertinggi di dunia. Situs mongabay.co.id mengutip dari analisis
BAPPENAS di tahun 2010 terkait permasalahan mendasar pada sektor
kehutanan Indonesia menunjukan bahwa tata kelola yang buruk,
ketidakjelasan hak tenurial, serta lemahnya kapasitas dalam manajemen
hutan (termasuk penegakan hukum) menjadi permasalahan mendasar
pengelolaan hutan di Indonesia.

Pola pengelolaan hutan setelah masa kemerdekaan cenderung


memberikan peluang besar untuk mengeksploitasi sumberdaya hutan
dalam bentuk Hak Pengusahaan Hutan (HPH) dan Hak Pemungutan Hasil
Hutan (HPHH), yang tertuang dalam UU No 5 Tahun 1967. Kemudian diikuti
dengan PP No. 21 Tahun 1970 yunto PP No. 18 Tahun 1975 yang menjadi
dasar dalam kebijakan pemberian konsensi eksploitasi sumberdaya hutan.
Peraturan ini memberikan legalitas bagi pemerintah melalui pemilik modal
untuk mengeksploitasi sumberdaya hutan secara besar-besaran terutama
hutan yang berada di Kalimatan, Sumatera, Papua, Sulawesi dan Maluku.
Seiring dengan eksloitasi hutan yang berlebihan memunculkan konflik
antara masyarakat lokal dengan pemegang HPH, masyarakat lokal dengan
pendatang, dan hingga masyarakat lokal dengan pemerintah.
Pendahuluan

Permasalahan yang muncul pada masa lalu disebabkan belum


adanya pengelolaan pada tingkat tapak. Undang-undang Nomor 41 Tahun
1999 tentang Kehutanan telah mengamanatkan adanya wilayah
pengelolaan hutan yang terdiri dari wilayah pengelolaan hutan tingkat
provinsi, tingkat kabupaten/kota dan tingkat unit pengelolaan. Unit
pengelolaan hutan yang berada pada tingkat tapak diharapkan dapat
menjadi solusi terhadap berbagai permasalahan dalam pengelolaan hutan
yang telah terjadi. Hal tersebut dilakukan dengan berorientasi pada
perencanaan secara spasial/kewilayahan dengan memperhatikan situasi
sosial ekonomi masyarakat lokal serta menyatukan arah kebijakan
Pemerintah, Pemerintah Provinsi dan Pemerintah Kebupaten/Kota.

UU No 41 Tahun 1999 mengamanatkan pengelolaan unit terkecil di


tingkat tapak yang dikenal dengan Kesatuan Pengelolaan Hutan (KPH).
Keberadaan KPH sebagai unit terkecil pada tingkat tapak diharapkan dapat
menjadi peluang bagi resolusi konflik yang selama ini cenderung berpihak
bagi kepentingan pemodal besar dan mengabaikan masyarakat lokal,
sehingga KPH berperan dalam perbaikan tata kelola hutan yang menjamin
kepastian dan juga keadilan bagi masyarakat lokal.

Pembentukan KPH semakin mendapat tempat sejak terbitnya PP No


6 Tahun 2007 jo PP No 3 Tahun 2008. Harapan besar dengan hadirnya KPH
di tingkat tapak adalah terwujudnya kelestarian hutan, peningkatan
kesejahteraan masyarakat sekitar, serta dapat mengakomodir kepentingan
dan tuntutan dari pemerintah setempat. Berdasarkan PP No 6 Tahun 2007,
KPH meliputi: KPH konservasi (KPHK), KPH lindung (KPHL), dan KPH
produksi (KPHP). KPHL Unit XII Dempo merupakan salah satu KPH yang
baru dibentuk di Provinsi Sumatera Selatan yang berperan sebagai unit
pengelolaan terkecil pada tingkat tapak sektor kehutanan.

Secara administratif KPHL Unit XII Dempo terletak di wilayah


administratif Kota Pagar Alam, yang berada dalam 5 kecamatan yakni

Rencana Pengelolaan Hutan Jangka Panjang KPHL Unit XII Dempo 2016-2025
Pendahuluan

Kecamatan Dempo Selatan, Dempo Utara, Dempo Tengah, Pagar Alam


Utara, dan Pagar Alam Selatan. Sedangkan secara geografis KPHL Unit XII
Dempo terletak pada 040 04’ ‐ 040 15’ LS dan 1030 15’ – 1030 22’ BT.

Sebagai organisasi tingkat tapak, KPHL Unit XII Dempo perlu


menyusun perencanaan pengelolaan wilayah KPH yang memperhatikan
kondisi-kondisi nyata di lapangan, merekam permasalahan dan kearifan
lokal yang disusun dalam bentuk kuantifikasi dan formulasi, strategi dan
program kerja, serta struktur organisasi dan aspek finansial untuk
menyiapkan kondisi pemungkin pengelolaan hutan agar dapat dimonitor,
dilaporkan dan diverifikasi dalam suatu basis unit-unit kelestarian yang
permanen. Dengan adanya rencana pengelolaan jangka panjang yang
mantap maka akan memudahkan penyusunan rencana pengelolaan jangka
pendek yang lebih terukur.

Maksud dari penyusunan rencana pengelolaan hutan jangka


panjang KPHL Unit XII Dempo adalah sebagai acuan kerangka operasional
penyelenggaraan pengelolaan hutan, sedangkan tujuannya adalah:

1. Merumuskan strategi pengelolaan hutan yang rasional, efektif dan


efisien untuk menjawab isu permasalahan yang ada pada KPHL Unit
XII Dempo dalam rangka pencapaian visi dan misi yang telah
ditetapkan.
2. Menyediakan dokumen Rencana Pengelolaan Jangka Panjang yang
memberikan arah pengelolaan hutan pada periode waktu 2016-
2026 yang menjamin terselenggaranya pengelolaan hutan yang
memberikan manfaat sosial, ekonomi, dan ekologi yang
berkelanjutan melalui pengelolaan kawasan dan seluruh potensinya
secara komprehensif.

Rencana Pengelolaan Hutan Jangka Panjang KPHL Unit XII Dempo 2016-2025
Pendahuluan

3. Menjadi acuan bagi rencana pengelolaan jangka pendek, rencana


bisnis dan rencana-rencana teknis pemanfaatan, penggunaan,
rehabilitasi dan perlindungan kawasan hutan KPHL Unit XII Dempo
di tingkat tapak.

Sasaran yang akan dicapai dalam penyusunan RPHJP ini adalah


tersusunnya suatu kerangka formal pengelolaan hutan untuk 10 (sepuluh)
tahun ke depan yang menjadi acuan bagi penyusunan rencana pengelolaan
jangka pendek (1 tahun). Rencana Pengelolaan hutan ini akan menjadi
arahan dan kerangka kerja yang terpadu serta komprehensif dalam
pelaksanaan pengelolaan KPHL Unit XII Dempo yang lebih efektif, efisien
dan bermanfaat.

Ruang lingkup penyusunan rencana pengelolaan hutan jangka


panjang meliputi aspek ekologi, ekonomi dan sosial budaya, yang datanya
diperoleh dari data informasi hasil inventarisasi hutan dan penataan hutan
serta sumber data lainnya, baik data primer ataupun data sekunder. Unsur-
unsur materi yang disusun mengacu pada Peraturan Direktur Jenderal
Planologi Kehutanan Nomor: P.5/VII-WP3H/2012 tentang Tata Hutan dan
Penyusunan Rencana Pengelolaan Hutan pada Kesatuan Pengelolaan Hutan
Lindung (KPHL) dan Kesatuan Pengelolaan Hutan Produksi (KPHP) yang
meliputi:

1) Pendahuluan;
2) Deskripsi kawasan yang didalamnya terdapat informasi risalah
wilayah KPH, potensi wilayah KPH, data informasi sosial budaya,
serta data informasi perijinan yang telah ada;
3) Visi dan misi dalam pengelolaan hutan;

Rencana Pengelolaan Hutan Jangka Panjang KPHL Unit XII Dempo 2016-2025
Pendahuluan

4) Analisis dan proyeksi, yang memuat analisis data dan informasi


yang saat ini tersedia baik primer maupun sekunder serta proyeksi
kondisi wilayah KPH di masa yang akan datang;
5) Rencana kegiatan, yang memuat rencana kegiatan strategi selama
jangka waktu pengelolaan antara lain: inventarisasi berkala wilayah
kelola serta penataan hutannya, pemanfaatan hutan pada wilayah
tertentu, pemberdayaan masyarakat, pembinaan dan pemantauan
(controlling) pada areal KPHL yang telah ada ijin pemanfaatan
maupun penggunaan kawasan hutan, penyelenggaraan rehabilitasi
pada areal di luar ijin, pembinaan dan pemantauan (controlling)
pelaksanaan rehabilitasi dan reklamasi pada areal yang sudah ada
ijin pemanfaatan dan penggunaan kawasan hutannya,
penyelenggaraan perlindungan hutan dan konservasi alam,
penyelenggaraan koordinasi dan sinkronisasi antar pemegang ijin,
koordinasi dan sinergi dengan Instansi dan stakeholder terkait,
Penyediaan dan peningkatan kapasitas SDM, Penyediaan
pendanaan, Pengembangan database, Rasionalisasi wilayah kelola,
Review Rencana Pengelolaan (minimal 5 tahun sekali), dan
Pengembangan investasi;
6) Pembinaan, pengawasan dan pengendalian;
7) Pemantauan, evaluasi dan pelaporan.

Untuk lebih memahami dokumen Rencana Pengelolaan Hutan


Jangka Panjang (RPHJP), maka terdapat beberapa batasan pengertian,
yaitu sebagai berikut.

 Kawasan Hutan adalah Wilayah tertentu yang ditetapkan oleh


pemerintah untuk dipertahankan keberadaannya sebagai hutan
tetap.

Rencana Pengelolaan Hutan Jangka Panjang KPHL Unit XII Dempo 2016-2025
Pendahuluan

 Hutan adalah kesatuan ekosistem berupa hamparan lahan berisi


sumberdaya alam hayati yang didominasi pepohonan dalam
persekutuan alam dan lingkungannya, yang satu dengan lainnya
tidak dapat dipisahkan.
 Hutan lindung adalah kawasan hutan yang mempunyai fungsi
pokok sebagai perlindungan sistem penyangga kehidupan untuk
mengatur tata air, mencegah banjir, mengendalikan erosi,
mencegah intrusi air laut, dan memelihara kesuburan tanah.
 Pengelolaan Hutan adalah kegiatan yang meliputi tata hutan dan
penyusunan rencana pengelolaan hutan, pemanfaatan
hutan,penggunaan kawasan hutan, rehabilitasi dan reklamasi hutan
serta perlindungan hutan dan konservasi alam.
 Tata hutan adalah kegiatan rancang bangun unit pengelolaan
hutan, mencakup kegiatan pengelompokan sumber daya hutan
sesuai tipe ekosistem dan potensi yang terkandung di dalamnya
agar memperoleh manfaat yang sebesar-besarnya bagi masyarakat
secara lestari.
 Inventarisasi hutan pada wilayah KPHL dan KPHP adalah rangkaian
kegiatan pengumpulan data untuk mengetahui keadaan dan
potensi sumberdaya hutan dan lingkungannya secara lengkap.
 Rencana Pengelolaan Hutan adalah rencana pada kesatuan
pengelolaan hutan yang memuat semua aspek pengelolaan hutan
dalam kurun jangka panjang dan pendek, disusun berdasarkan hasil
tata hutan dan rencana kehutanan, dan memperhatikan aspirasi,
peran serta dan nilai budaya masyarakat serta kondisi lingkungan
dalam rangka pengelolaan kawasan hutan yang lebih intensif untuk
memperoleh manfaat yang lebih optimal dan lestari.
 Rencana Pengelolaan Hutan Jangka Panjang adalah Rencana
pengelolaan hutan pada tingkat strategis berjangka waktu 10
(sepuluh) tahun atau selama jangka benah pembangunan KPHL
dan KPHP.

Rencana Pengelolaan Hutan Jangka Panjang KPHL Unit XII Dempo 2016-2025
Pendahuluan

 Rencana Pengelolaan Hutan Jangka Pendek adalah Rencana


Pengelolaan Hutan berjangka waktu satu tahun pada tingkat
kegiatan operasional berbasis petak dan/atau blok.
 Pemanfaatan hutan adalah kegiatan memanfaatkan kawasan
hutan, memanfaatkan jasa lingkungan, memanfaatkan hasil hutan
kayu dan bukan kayu serta memungut hasil hutan kayu dan bukan
kayu secara optimal dan adil untuk kesejahteraan masyarakat
dengan tetap menjaga kelestariannya.
 Hasil Hutan Bukan Kayu adalah manfaat dan hasil yang dapat
deperoleh dari kawasan hutan berupa hasil ikutan dan hasil
sampingan.
 Pemanfaatan kawasan adalah kegiatan memanfaatkan ruang
tumbuh sehingga diperoleh manfaat lingkungan, manfaat sosial dan
manfaat ekonomi secara optimal dengan tidak mengurangi fungsi
utamanya.
 Jasa Lingkungan adalah produk sumberdaya alam hayati dan
ekosistimnya yang berupa manfaat langsung dan tidak langsung
yang meliputi jasa wisata alam, jasa perlindungan tata air,
kesuburan tanah, pengendalian erosi dan banjir, keindahan dan
keunikan alam, penyerapan dan penyimpanan karbon.
 Pemanfaatan jasa lingkungan adalah kegiatan untuk memanfaatkan
potensi jasa lingkungan dengan tidak merusak lingkungan dan
mengurangi fungsi utamanya.
 Pemungutan hasil hutan kayu dan/atau bukan kayu adalah kegiatan
untuk mengambil hasil hutan baik berupa kayu dan/atau bukan
kayu dengan batasan waktu, luas dan/atau volume tertentu.
 Penggunaan kawasan hutan merupakan penggunaan untuk
kepentingan pembangunan di luar kehutanan tanpa mengubah
status dan fungsi pokok kawasan hutan.
 Wilayah tertentu antara lain adalah wilayah hutan yang situasi dan
kondisinya belum menarik bagi pihak ketiga untuk mengembangkan

Rencana Pengelolaan Hutan Jangka Panjang KPHL Unit XII Dempo 2016-2025
Pendahuluan

pemanfaatannya berada di luar areal ijin pemanfaatan dan


penggunaan kawasan hutan.
 Perlindungan hutan adalah usaha untuk mencegah dan membatasi
kerusakan hutan, kawasan hutan dan hasil hutan yang disebabkan
oleh perbuatan manusia, ternak, kebakaran daya-daya alam,
penyakit, hama, mempertahankan dan menjaga hak-hak negara,
masyarakat dan perorangan atas hutan, kawasan hutan, hasil
hutan, investasi serta perangkat yang berhubungan dengan
pengelolaan hutan.
 Kesatuan Pengelolaan Hutan selanjutnya disebut KPH adalah
wilayah pengelolaan hutan sesuai fungsi pokok dan peruntukannya
yang dapat dikelola secara efisien dan lestari.
 Resort Pengelolaan Hutan adalah kawasan hutan dalam wilayah
KPHL yang merupakan bagian dari wilayah KPHL yang dipimpin oleh
Kepala Resort KPHP dan bertanggung jawab Kepada Kepala KPHL.
 Blok Pemanfaatan pada Hutan Lindung adalah blok yang
difungsikan sebagai areal yang direncanakan untuk pemanfaatan
terbatas sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan
pemanfaatan hutan pada kawasan hutan yang berfungsi HL.
 Blok Perlindungan pada Hutan Produksi adalah blok yang
difungsikan sebagai perlindungan tata air dan perlindungan lainnya
serta direncanakan untuk tidak dimanfaatkan.
 Blok Pemanfaatan kawasan, jasa lingkungan dan HHBK pada Hutan
Produksi adalah merupakan blok yang telah ada ijin pemanfaatan
kawasan, jasa lingkungan dan HHBK dan yang akan difungsikan
sebagai areal yang direncanakan untuk pemanfaatan kawasan, jasa
lingkungan dan HHBK sesuai dengan potensi kawasan yang telah
dihasilkan dari proses inventarisasi.
 Petak adalah unit terkecil lahan hutan yang lokasi geografisnya
bersifat permanen, sebagai basis pemberian perlakuan

Rencana Pengelolaan Hutan Jangka Panjang KPHL Unit XII Dempo 2016-2025
Pendahuluan

pengelolaan, dan menjadi satuan administrasi dari setiap kegiatan


pengelolaan yang diterapkan atasnya.
 Anak petak adalah bagian dari petak yang bersifat temporer, yang
oleh sebab yang tertentu memperoleh perlakuan silvikultur atau
kegiatan pengelolaan yang khusus.
 Ijin Pinjam Pakai Kawasan Hutan yang selanjutnya disebut IPPKH
adalah izin yang diberikan untuk menggunakan kawasan hutan bagi
kepentingan pembangunan di luar kegiatan kehutanan tanpa
mengubah fungsi dan peruntukan kawasan hutan.
 Reklamasi hutan adalah usaha memperbaiki atau memulihkan
kembali hutan atau lahan dan vegetasi dalam kawasan hutan yang
rusak sebagai akibat penggunaan kawasan hutan agar dapat
berfungsi secara optimal sesuai dengan peruntukannya.
 Reboisasi adalah upaya penanaman jenis pohon hutan pada
kawasan hutan rusak berupa lahan kosong, alang-alang atau semak
belukar untuk mengembalikan fungsi hutan.
 Rehabilitasi Hutan dan lahan adalah upaya untuk memulihkan,
mempertahankan dan meningkatkan fungsi hutan dan lahan
sehingga daya dukung, produktifitas dan perannya dalam
mendukung sistem penyangga kehidupan tetap terjaga.

Rencana Pengelolaan Hutan Jangka Panjang KPHL Unit XII Dempo 2016-2025
KPHL Unit XII Dempo terletak antara 040 04’ ‐ 040 15’ LS dan 1030
15’ – 1030 22’ BT. Sedangkan secara administratif berada pada wilayah
pemerintahan Kota Pagar Alam, yang berada dalam 5 kecamatan yakni Kec.
Dempo Selatan, Dempo Utara, Pagar Alam Utara, Dempo Tengah, dan
Pagar Alam Selatan.

Tabel 2.1 Wilayah administrasi KPHL Unit XII Dempo

Kelompok hutan Kecamatan

Bukit Dingin Dempo Utara


Pagar Alam Utara
Pagar Alam Selatan
Bukit Jambul Gunung Patah Dempo Selatan
Dempo Tengah
Dempo Utara
Deskripsi Kawasan

Gambar 2.1 Peta wilayah KPHL Unit XII Dempo.

Mengutip dari Pagar Alam dalam Angka 2015, Kota Pagar Alam
memiliki ketinggian terendah 694 mdpl di Kecamatan Pagar Alam Selatan
serta dengan ketinggian 2.700 mdpl yang merupakan titik tertinggi pada
Kecamatan Dempo Selatan. Sehingga wilayah hutannya termasuk kedalam
tiga subzona hutan pegunungan (van Steenis 2006), yaitu 1) submontana
(sub-pegunungan atau disebut juga hutan pegunungan bawah), antara
ketinggian 1.000 – 1.500 m dpl; 2) montana (hutan pegunungan atas)
antara 1.500 – 2.400 m; 3) subalpin, di atas ketinggian 2.400 m.

Berdasarkan SK Menhut No. 866/Menhut-II/2014 dan hasil overlay


batas administrasi Kota Pagar Alam yang bersumber dari Bappeda Propinsi
Sumatera Selatan, KPHL Unit XII memiliki luas 26.064,72 hektar atau lebih
40% dari luas Kota Pagar Alam merupakan hutan lindung.

Rencana Pengelolaan Hutan Jangka Panjang KPHL Unit XII Dempo 2016-2025
Deskripsi Kawasan

Pada umumnya untuk menuju kawasan hutan KPHL Unit XII Dempo
dapat dicapai dengan mudah melalui jalur darat. Tersedia sarana jalan yang
telah mengalami perkerasan dari pusat kota Pagar Alam menuju kelompok
hutan Bukit Dingin maupun Bukit Jambul Gunung Patah dengan waktu
tempuh ± 1 jam.

Gambar 2.2 Peta jalur transportasi di Kota Pagar Alam.

Sedangkan akses dalam kawasan KPHL Unit XII Dempo dapat


dikelompokkan kedalam akses rendah, sedang, dan tinggi. Akses rendah
merupakan daerah yang tidak terdapat jalan setapak maupun sungai, akses
sedang merupakan daerah yang hanya bisa diakses melaului jalur darat
(jalan setapak) atau sungai, dan akses tinggi merupakan daerah yang hanya
yang dapat diakses melalui jalur darat maupun jalur perairan.

Rencana Pengelolaan Hutan Jangka Panjang KPHL Unit XII Dempo 2016-2025
Deskripsi Kawasan

Gambar 2.3 Peta aksesibilitas KPHL Unit XII Dempo.

Kawasan KPHL Unit XII Dempo terletak pada wilayah administrasi


Kota Pagar Alam yang terdiri atas dua kelompok hutan yaitu HL Bukit Dingin
dan HL Bukit Jambul Gunung Patah. Kelompok HL Bukit Dingin terletak di
bagian paling utara Kota Pagar Alam, dan berada pada kaki hingga puncak
Gunung Dempo. Batas HL Bukit Dingin adalah sebagai berikut:

- Utara : HL Bukit Dingin (Kab. Lahat),


- Selatan : Kec. Dempo Utara,
- Barat : Kab. Lahat,
- Timur : Kec. Pagar Alam Selatan & Pagar Alam Utara.

Sedangkan kelompok HL Bukit Jambul Gunung Patah, berada di


bagian Selatan Kota Pagar Alam dengan batas-batas sebagai berikut:

- Utara : Kec. Dempo Utara & Dempo Tengah,

Rencana Pengelolaan Hutan Jangka Panjang KPHL Unit XII Dempo 2016-2025
Deskripsi Kawasan

- Selatan : Propinsi Bengkulu,


- Barat : Kab. Lahat,
- Timur : Kab. Lahat dan Kab. Muara Enim.

Dalam mempermudah pengelolaan KPH, diperlukan pembagian


blok dengan memperhatikan karakteritik biofisik lapangan, kondisi ekonomi
masyarakat sekitar, potensi sumberdaya alam, dan keberadaan hak-hak
atau ijin usaha pemanfaatan dan penggunaaan kawasan hutan sesuai
Permunhut No P.6/Menhut-II/2010 tentang Norma, Standar, Prosedur dan
Kriteria Pengelolaan Hutan pada KPHL dan KPHP.

Kota Pagar Alam terletak pada ketinggian 400 hingga 3.400 mdpl,
sehingga wilayah hutannya termasuk kedalam tiga subzona hutan
pegunungan (van Steenis 2006), yaitu 1) submontana (sub-pegunungan
atau disebut juga hutan pegunungan bawah), antara ketinggian 1.000 –
1.500 m dpl; 2) montana (hutan pegunungan atas) antara 1.000 – 2.400
m; 3) subalpin dengan ketinggian diatas 2.400 m.

Lokasi KPHL Unit XII Dempo yang berada di wilayah pegunungan


dengan topografi yang bergelombang. Sedangkan pengelompokkan untuk
kelas lereng dapat dikelompokkan menjadi tiga kelas, yaitu landai, agak
curam, dan sangat curam. Kelompok hutan Bukit Dingin terletak dibagian
timur Gunung Dempo, sehingga hanya memiliki kelas lereng sangat curam
yang berada pada puncak bukit Gunung Dempo, dan kelas lereng agak
curam yang berada pada bagian bawah atau di kaki Gunung Dempo.
Sedangkan Bukit Jambul Gunung Patah yang merupakan daerah
pegunungan memiliki kelas lereng yang tidak hanya sangat curam, agak

Rencana Pengelolaan Hutan Jangka Panjang KPHL Unit XII Dempo 2016-2025
Deskripsi Kawasan

curam, namun juga terdapat sebagian kecil wilayah hutan KPHL Unit XII
Dempo yang tergolong pada kelas lereng landai.

Tabel 2.2 Luas kelas lereng yang terdapat di KPHL Unit XII Dempo

Luas
Klasifikasi Kemiringan Lereng
Ha %
Datar 0-8% 0,02 0,00
Landai 8 - 15 % 1.198,63 4,60
Agak Curam 15 - 25 % 14.771,41 56,67
Curam 25 - 45 % 0 0,00
Sangat Curam > 45 % 10.094,66 38,73
Total 26.064,72 100,00
Sumber: Hasil analisis tim BPKH Wilayah II Palembang, 2015

Gambar 2.4 Peta kelerengan KPHL Unit XII Dempo.

Rencana Pengelolaan Hutan Jangka Panjang KPHL Unit XII Dempo 2016-2025
Deskripsi Kawasan

Wilayah KPHL Unit XII Dempo yang berada di daerah pegunungan


dengan Gunung Dempo sebagai gunung api aktif, mempengaruhi jenis
geologi dan tanah bagi daerah sekitarnya.

Kelompok hutan Bukit Dingin yang berada pada lereng sebelah


timur Gunung Dempo hanya memiliki satu kelompok geologi yaitu dari
breksi, lava dan tuff, andesit sampai bas. Sedangkan pada Bukit Jambul
Gunung Patah didominasi dari kelompok breksi, lava dan tuff, andesit
sampai bas, dan hanya sebagian kecil kelompok tuff, breksi dan lava, riolit
dan dasit. Masing-masing kelompok geologi ini merupakan produk dari
aktifitas gunung api pada masa lalu yang juga mempengaruhi kesuburan
tanah. Luas masing-masing kelompok batuan yang tersebar di KPHL Unit
XII Dempo disajikan dalam tabel Tabel berikut.

Tabel 2.3 Jenis batuan di KPHL Unit XII Dempo

Luas
Litologi
Ha %
Breksi, lava dan tuf, andesit sampai bas 24333,28 93,36
Tuf, breksi dan lava, riolit, dasit dan 1731,43 6,64
Total 26064,71 100,00
Sumber: Hasil analisis tim BPKH Wilayah II Palembang, 2015

Rencana Pengelolaan Hutan Jangka Panjang KPHL Unit XII Dempo 2016-2025
Deskripsi Kawasan

Gambar 2.5 Sebaran geologi dalam kawasan hutan KPHL Unit XII
Dempo.

Karakteristik masing-masing jenis batuan tersebut dapat diuraikan


sebagai berikut. Breksi adalah batuan sedimen yang tersusun dari fragmen-
fragmen (pecahan-pecahan) batuan yang ujungnya (bersudut) runcing dan
telah tersementasi (terekat) oleh material-material batuan yang lebih halus
(biasanya mengandung kalsium karbonat dan silikat). Andesit adalah
batuan yang berasal dari lelehan lava gunung merapi yang meletus, batu
Andesit terbentuk (membeku) ketika temperatur lava yang meleleh turun
antara 900 sampai dengan 1,100 derajat Celsius. Merupakan jenis batuan
beku luar. Massa Jenis berkisar 2,8 – 3 gram/cm3 dengan warna agak gelap
(abu-abu tua). Batuan aluvium adalah batuan sedimen yang dibentuk atau
diendapkan oleh sungai-sungai.

Tuf adalah batuan gunung api yang terbentuk dari suatu campuran
fragmen fragmen mineral batuan gunung api dalam matrik debu gunung
api. Tuff terbentuk dari kombinasi debu, batuan dan fragmen mineral

Rencana Pengelolaan Hutan Jangka Panjang KPHL Unit XII Dempo 2016-2025
Deskripsi Kawasan

(piroklastik atau tephra) yang dilemparkan ke udara dan kemudian jatuh


kepermukaan bumi sebagai suatu endapan campuran. Kebanyakan dari
fragmen batuan cenderung merupakan batuan gunung api yang
terkonsolidasi dari hasil erupsi gunung api. Kadangkala material erupsi yang
masih panas mencapai permukaan bumi dan kemudian membeku
menjadi “welded tuff”.

Andesit adalah batuan yang berasal dari lelehan lava gunung


merapi yang meletus, batu Andesit terbentuk (membeku) ketika temperatur
lava yang meleleh turun antara 900 sampai dengan 1,100 derajat Celsius.
Merupakan jenis batuan beku luar. Massa Jenis berkisar 2,8 – 3 gram/cm3
dengan warna agak gelap (abu-abu tua). Batuan aluvium adalah batuan
sedimen yang dibentuk atau diendapkan oleh sungai-sungai.

Riolit adalah batu mirip dalam komposisi granit, yaitu dengan


komposisi mineral berupa kuarsa dan ortoklas dengan mineral lain.
Terdapat sebagai instrusi hypabisal maupun plutonik, holokristalin, fanerik
kasar dengan mineral dapat dikenal dengan mata biasa. bisa dijumpai
dengan tekstur porfiritik namun pada ummnya bertekstur grafik, yaitu
pertumbuhan bersama antara kuarsa dan ortoklas.

Dasit merupakan batuan beku yang termasuk dalam jenis vulkanik,


karena dasit dalam proses pembentukannya mengalami pendinginan
magma yang cepat. Proses terbentuknya dasit pada suhu sekitar 900˚C –
1200˚C. (Bishop & Hamilton, 1999). Kandungan silika yang terdapat pada
dasit berkisar diantara 52% – 66%. Dalam proses pembentukannya dasit
adalah batuan ekstrusif felsik yang menengah dalam komposisi antara
andesit dan riolit (Dietrich, 1924). Dalam pembentukannya sering
ditemukan bergabung dengan andesit, dan membentuk aliran lava, serta
tanggul (Suharwanto, 2014).

Rencana Pengelolaan Hutan Jangka Panjang KPHL Unit XII Dempo 2016-2025
Deskripsi Kawasan

Berdasarkan Peta Tanah tahun 1967 dari Pusat Penelitian Tanah


Bogor dan analisis dari BPKH Wilayah II, jenis tanah yang terdapat di
kawasan hutan KPHL Unit XII Dempo didominasi oleh jenis andosol coklat
dan regosol, latosol coklat dan regosol coklat kekuningan, serta dari
berbagai jenis. Jenis-jenis tanah ini merupakan jenis tanah yang subur, kaya
akan unsur hara dan mineral.

Gambar 2.6 Sebaran jenis tanah dalam wilayah KPHl Unit XII Dempo.

Rencana Pengelolaan Hutan Jangka Panjang KPHL Unit XII Dempo 2016-2025
Deskripsi Kawasan

Tabel 2.4 Jenis tanah yang terdapat di KPHL Unit XII Dempo

Luas
Jenis Tanah
Areal Persen
Podosolik Merah Kuning & Podsolik 179,78 0,69
Podosolik Merah Kuning & Podsolik Coklat Kuning 2.100,58 8,06
Latosol Coklat & Regosol Coklat Kekuningan 3.138,79 12,04
Andosol Coklat & Regosol 20.478,41 78,57
Litosol & Latosol Coklat Kekuningan 167,15 0,64
Total 26.064,72 100,00
Sumber: Hasil analisis tim BPKH Wilayah II Palembang, 2015

Karakteristik dari masing-masing jenis tanah tersebut dapat


diuraikan sebagai berikut. Podsolik merupakan tanah yang berasal dari tuff
masam atau endapan tertier dan akan lebih berkembang karena dipacu oleh
curah hujan dan temperatur tanah yang tinggi sehingga proses hancuran
iklim menjadi lebih cepat. Daerah yang memiliki jenis tanah podsolik
biasanya memiliki topografi berombak sampai rata. Tanah-tanah podsolik
bertekstur pasir dengan pasir kuarsa. Tanah Podsolik (Merah Kuning–Coklat
Kekuningan) setaradenganAcrisol (FAO/Unesco) atauUltisol (USDA). Tanah
ini dicirikan oleh: (1) adanya horizon B-argilik yang berkejenuhan-basa
kurang dari 50% (NH4OAc) sekurang-kurangnya pada beberapabagian
horizon B di dalam penampang 125 cm dari permukaan, dan (2) tanpa
horizon albik (horizon eluvial berwarna pucat) yang berbatasan langsung
dengan horizon argilik atau fragipan (padas gembur). Horizon argilik
(argillic=liat putih) adalah horizon iluvial (akumulasi) dengan penimbunan
liat silikat berlempeng lapisan yang berbeda nyata jika dibanding horizon
eluviasi (tercuci) di atasnya, sebagian besar hingga>20%.

Podsolik Merah Kuning merupakan tanah yang secara fisis dicirikan:


(1) sangat tercuci, (2) lapisan atas berwarna abu-abu muda – kekuningan
dan lapisan bawah merah atau kuning, (3) terjadi akumulasi liat sehingga
bertekstur relatif berat, dan (4) berstruktur gumpal, berpermeabilitas dan

Rencana Pengelolaan Hutan Jangka Panjang KPHL Unit XII Dempo 2016-2025
Deskripsi Kawasan

berstabilitas agregat rendah; (5) horizon eluviasi tidak selalu jelas dan
berbahan-induk yang kadang kala berkaratan kuning, merah atau abu-abu;
(6) berbahan-induk batuanendapan bersilika, napal, batu pasir dan batu
liat; (7) dijumpai pada ketinggian 50 – 250 m dpl beriklim tropika basah
dengan curah hujan 2.500–3.500 mm/tahun; sedangkan secara biologis
dan kimiawi ditandai dengan berbahan-organik, kejenuhan basa dan pH
(4,2 – 4,8) rendah.

Andosol biasanya terdapat pada lahan yang bergelombang,


konsistensi gembur, permeabilitas baik, dan suhu rendah sehingga
mengakibatkan proses pelapukan terhambat. Tingkat kesuburan sedang
sampai rendah, ketersediaan unsur hara rendah.

Litosol adalah jenis tanah yang berkembang dari batuan induk batu
pasir breksi dan batuan diorit terdapat pada satuan bentuk lahan
perbukitan. Sifat fisik laptosol yaitu solum tanah sedang-dalam, tekstur
geluh berlempung, struktur gumpal, konsistensi dalam keadaan lembab
teguh, dan dalam keadaan basah lekat, permeabilitas agak lambat, warna
cokelat sampai cokelat kemerahan.

Regosol merupakan jenis tanah yang tersebar pada punggungan-


punggungan daerah antar sungai. Di lapangan tanah ini biasanya ditempati
sebagai daerah pemukiman, dikarenakan mempunyai sifat drainase yang
baik, permeabilitas cepat dan stabil.

Rencana Pengelolaan Hutan Jangka Panjang KPHL Unit XII Dempo 2016-2025
Deskripsi Kawasan

Gambar 2.7 Peta DAS KPHL Unit XII Dempo

Wilayah KPHL Unit XII Dempo termasuk kedalam Daerah Aliran


Sungai (DAS) Musi, dan terbagi atas Sub DAS Musi Hulu dan Sub Das
Lematang. Kelompok hutan Bukit Dingin terbagi atas sub DAS Musi Hulu
pada bagian utara dan sub Das Lematang pada bagian selatan, sedangkan
pada kelompok hutan Bukit Jambul Gunung Patah didominasi sepenuhnya
oleh sub DAS Lematang.

Tabel 2.5 Daerah aliran sungai di wilayah KPHL Unit XII Dempo

Luas
DAS SUB DAS
Hektar Persen
Musi Sub DAS Musi Hulu 973,12 3,73
Musi Sub DAS Lematang 25.091,60 96,27
Total 26.064,72 100,00
Sumber: hasil analisis tim BPKH Wilayah II Palembang, 2015

Rencana Pengelolaan Hutan Jangka Panjang KPHL Unit XII Dempo 2016-2025
Deskripsi Kawasan

Kawasan Hutan KPHL Unit XII Dempo yang berada di daerah


pegunungan merupakan hulu bagi sungai-sungai di Provinsi Sumatera
Selatan. Terdapat beberapa anak sungai yang bersumber dari kelompok
hutan Bukit Jambul Gunung Patah, yaitu Aek Jernih, Aek Selangis Cawang
Kanan, dan Aek Merah yang akan mengalir ke Sungai Air Lematang. Selain
itu terdapat juga Anak Sungai Aek Katkanan Aek dan Endi Kat Tengah yang
akan mengalir pada Sungai Aek Banir. Sedangkan pada kelompok hutan
Bukit Dingin tidak terdapat adanya aliran sungai maupun anak sungai yang
mengalir.

Berdasarkan Peta Iklim yang telah di analisis oleh BPKH Unit II


Palembang, KPHL Unit XII Dempo termasuk kedalam iklim tipe B (basah)
berdasarkan klasifikasi Schmidht dan Ferguson. Mengutip dari situs
pagaralamkota.go.id suhu udara minimum di Kota Pagar Alam adalah 190 C
sedangkan suhu maksimum adalah 300 C dengan jumlah hujan terbanyak
terjadi pada Bulan Februari yaitu 25 hari dan rata-rata suhu udara tertinggi
terjadi pada Bulan September dan Oktober.

Seperti umumnya wilayah tropis, kawasan hutan KPHL Unit XII


Dempo yang terletak di Kota Pagar Alam memiliki 2 (dua) musim yaitu
musim kemarau dan musim hujan. Dikutip dari Monografi Pagar Alam tahun
2013, musim hujan rata-rata setiap tahun berkisar antara bulan Oktober
hingga bulan Maret sedangkan musim kemarau berkisar bulan April hingga
September, penyimpangan kedua musim tersebut terjadi setiap 5 tahun
sekali dimana musim hujan berkisar antara 2.000 – 3.000 mm dengan
kelembaban udara berkisar antara 75% - 89%.

Rencana Pengelolaan Hutan Jangka Panjang KPHL Unit XII Dempo 2016-2025
Deskripsi Kawasan

Gambar 2.8 Peta iklim KPHL Unit XII Dempo.

Sedangkan pengelompokkan berdasarkan ketinggian, Junghuhn


mengklasifikasikan iklim sebagai berikut:

1) Daerah panas/tropis; Ketinggian tempat antara 0 – 600 m dari


permukaan laut. Suhu 26,3° – 22°C. Tanamannya seperti padi,
jagung, kopi, tembakau, tebu, karet, kelapa, dan cokelat.
2) Daerah sedang; Ketinggian tempat 600 – 1500 m dari permukaan
laut. Suhu 22° -17,1°C. Tanamannya seperti padi, tembakau, teh,
kopi, cokelat, kina, dan sayur-sayuran.
3) Daerah sejuk; Ketinggian tempat 1500 – 2500 m dari permukaan
laut. Suhu 17,1° – 11,1°C. Tanamannya seperti teh, kopi, kina, dan
sayur-sayuran.
4) Daerah dingin; Ketinggian tempat lebih dari 2500 m dari permukaan
laut. Suhu 11,1° – 6,2°C. Tanamannya tidak ada tanaman budidaya
kecuali sejenis lumut.

Rencana Pengelolaan Hutan Jangka Panjang KPHL Unit XII Dempo 2016-2025
Deskripsi Kawasan

Klasifikasi menurut Junghun ini merupakan pegangan dalam


menentukan tanaman budidaya yang diusahakan di suatu daerah. Sehingga
dengan ketinggian Kota Pagar Alam, maka Kota Pagar Alam termasuk
kedalam daerah iklim sedang hingga dingin. Hal ini juga terlihat dari jenis
tanaman dominan yang di olah oleh masyarakat yaitu tanaman kopi, serta
adanya perkebunan teh.

KPHL Unit XII Dempo terdiri atas 2 (dua) kelompok hutan dengan
3 (tiga) resort. Resort I merupakan Kelompok Hutan Bukit Dingin, Resort II
dan Resort berada pada kelompok hutn Bukit Jambul Gunung Patah.

Berdasarkan hasil analisis data dan informasi, wilayah KPHL Unit XII
Dempo telah dirancang dalam blok dan petak. Terdapat 2 blok yang terdiri
dari blok inti seluas 10.878,38 Ha dengan 39 petak dan blok pemanfaatan
seluas 15.186,34 Ha dengan 56 petak. Rincian untuk masing-masing blok
pada setiap kelompok hutan disajikan dalam tabel berikut.

Tabel 2.6 Pembagian blok di KPHL Unit XII Dempo

Blok Inti Blok Pemanfaatan Luas


Kelompok
Jumlah Jumlah Total
Hutan Luas (Ha) Luas (Ha)
Petak Petak (Ha)

Bukit Dingin 0 0 2.280,36 10 2.280,36


Bukit Jambul
Gunung 10.878,38 39 12.905,98 46 23.784,36
Patah
Total 10.878,38 39 15.186,34 56 26.064,72
Sumber: Hasil analisis tim BPKH Wilayah II Palembang, 2015.

Sedangkan sebaran blok inti dan blok pemanfaatan pada KPHL Unit
XII Dempo disajikan pada gambar berikut.

Rencana Pengelolaan Hutan Jangka Panjang KPHL Unit XII Dempo 2016-2025
Deskripsi Kawasan

Gambar 2.9 Pembagian kelompok hutan KPHL Unit XII Dempo.

Berdasarkan Keputusan Menteri Kehutanan Republik Indonesia


Nomor SK.76/Menhut-II/2010 tanggal 10 Pebruari 2010 tentang Penetapan
Wilayah Kesatuan Pengelolaan Hutan Lindung (KPHL) dan Kesatuan
Pengelolaan Hutan Produksi (KPHP) Provinsi Sumatera Selatan, seluruh
kawasan HL dan HP ditetapkan menjadi wilayah KPH yang terbagi atas 24
Unit KPH terdiri dari 14 unit KPH Produksi seluas 2,059,461 ha dan 10 unit
KPH Lindung seluas 498,941 ha.

KPHL Unit XII Dempo terdiri atas dua kelompok hutan yang
merupakan bagian dari kelompok hutan Bukit Dingin dan Kelompok Hutan
Bukit Jambul Gunung Patah. Penetapan kawasan hutan KPHL Unit XII
Dempo dimulai sejak Tata Guna Hutan Kesepakatan (TGHK) pada tahun
1986, hingga SK 866. Sejarah penunjukkan kawasan disarikan pada tabel
berikut.

Rencana Pengelolaan Hutan Jangka Panjang KPHL Unit XII Dempo 2016-2025
Deskripsi Kawasan

Tabel 2.7 Sejarah penunjukkan kawasan hutan KPHL Unit XII Dempo

Nama Luas
Fungsi
Kelompok Hutan TGHK SK. 76 SK. 822 SK. 866
HL Bukit Jambul Gn. Patah 18.874,93 22.510,00 23.301,47 23.748,36
Bukit Nanti dan Mekakau
HL Bukit Dingin 1.466,64 1.844,00 2.280,36 2.280,36

Total 20.341,57 20.341,57 25.581,83 26.064,72

Gambar 2.10 Kelompok hutan lindung Bukit Dingin.

Nama Kawasan : HL Bukit Dingin


Kabupaten/ Kota : Empat Lawang, Lahat dan Pagar Alam
Provinsi : Sumatera Selatan
Tahun Tata Batas : 1995 dan 1997
Rencana Penetapan Luas : 64.001,98 ha
Panjang/Keliling : 237.729,20 meter
 Batas hasil tata batas: 145.795,50 m
 Batas virtual (SK.822): 13.646,37 m
 Batas virtual (batas provinsi):
78.287,33 meter
Keterangan :

Rencana Pengelolaan Hutan Jangka Panjang KPHL Unit XII Dempo 2016-2025
Deskripsi Kawasan

1. Dasar Penunjukan Kawasan Hutan Nomor :

- Keputusan Menteri Kehutanan 410/Kpts-II/1986 tanggal 29


Desember 1986 tentang Tata Guna Hutan Kesepakatan.

- Keputusan Menteri Kehutanan dan Perkebunan No. 76/Kpts-


II/2001 tanggal 15 Maret 2001 tentang Penunjukan Kawasan
Hutan dan Perairan Propinsi Sumatera Selatan.

- Keputusan Menteri Kehutanan No. SK.822/Menhut-II/2013


tanggal 19 November 2013 tentang Perubahan Peruntukan
Kawasan Hutan Menjadi Bukan Kawasan Hutan Seluas + 210.559
(Dua Ratus Sepuluh Ribu Lima Ratus Lima Puluh Sembilan)
Hektar, Perubahan Fungsi Kawasan Hutan Seluas + 44.229
(Empat Puluh Empat Ribu Dua Ratus Dua Puluh Sembilan) Hektar
dan Perubahan Bukan Kawasan Hutan Menjadi Kawasan Hutan.

2. Riwayat Batas Kawasan Hutan:

- Batas luar Kawasan HL Bukit Dingin (batas A-B) ditata batas


tahun 1995 sesuai BATB tanggal 27 Februari 1995.

- Batas luar Kawasan HL Bukit Dingin (batas B-C) ditata batas


tahun 1997 sesuai BATB tanggal 27 September 1997 disahkan
tanggal 16 Oktober 2001.

- Batas luar Kawasan HL Bukit Dingin (batas C-D) menggunakan


batas virtual dari Peta Perubahan Peruntukan Kawasan Hutan,
Perubahan Fungsi Kawasan Hutan dan Perubahan Bukan
Kawasan Hutan Menjadi Kawasan Hutan di Provinsi Sumatera
Selatan Skala 1:250.000 (lampiran SK Menhut No.
SK.822/Menhut-II/2013 tanggal 19 November 2013).

- Batas Kawasan HL Bukit Dingin (batas D-A) menggunakan batas


virtual/ bats Provinsi Sumatera Selatan dengan Provinsi Bengkulu
sesuai Peta Rencana Pemanfaatan Ruang Provinsi Sumatera
Selatan Tahun 2005-2019 (Perda No. 14 tahun 2006 tanggal 18
Desember 2006).

Rencana Pengelolaan Hutan Jangka Panjang KPHL Unit XII Dempo 2016-2025
Deskripsi Kawasan

Gambar 2.11 Kelompok hutan Bukit Jambul Gunung Patah.

Nama Kawasan : HL Bukit Jambul Gunung Patah, HL Bukit


Jambul Asahan, HL Bukit Nanti, HL
Mekakau, HPT Bukit Nanti dan HP Air
Tebangka
Kabupaten/ Kota : Lahat, Muara Enim, Ogan Komering Ulu,
Ogan Komering Ulu Selatan dan Pagar alam
Provinsi : Sumatera Selatan
Tahun Tata Batas : 1997, 2003, 2010, 1998, 2005
Rencana Penetapan : 310.520,42 ha
Luas  HL Bukit Jambul Gunung Patah, HL
Bukit Jambul Asahan, HL Bukit Nanti
dan HL Mekakau : 283.642,78 ha
 HPT Bukit Nanti: 2.436,26 ha
 HP Air Tebangka: 24.441,38 ha

Panjang/Keliling : 1. Batas Luas : 944.060,53 meter


- Batas hasil tata batas: 769.740,26 m
- Batas hasil tata batas/ batas
provinsi: 95.273,04 m
- Batas virtual (batas provinsi):
70.639,10 m

Rencana Pengelolaan Hutan Jangka Panjang KPHL Unit XII Dempo 2016-2025
Deskripsi Kawasan

- Batas hasil pelacakan batas provinsi:


8.408,13 m
2. Batas Fungsi : 944.060,53 m
- Batas HL – HPT : 13.764,51 m
- Batas HL – HP : 27.093,11 m
3. Batas Enclave : 24.263,04 m
Keterangan:

1. Dasar Penunjukan Kawasan Hutan Nomor :

- Keputusan Menteri Kehutanan 410/Kpts-II/1986 tanggal 29


Desember 1986 tentang Tata Guna Hutan Kesepakatan.

- Keputusan Menteri Kehutanan dan Perkebunan No. 76/Kpts-


II/2001 tanggal 15 Maret 2001 tentang Penunjukan Kawasan
Hutan dan Perairan Propinsi Sumatera Selatan.

- Keputusan Menteri Kehutanan No. SK.822/Menhut-II/2013


tanggal 19 November 2013 tentang Perubahan Peruntukan
Kawasan Hutan Menjadi Bukan Kawasan Hutan Seluas + 210.559
(Dua Ratus Sepuluh Ribu Lima Ratus Lima Puluh Sembilan)
Hektar, Perubahan Fungsi Kawasan Hutan Seluas + 44.229
(Empat Puluh Empat Ribu Dua Ratus Dua Puluh Sembilan) Hektar
dan Perubahan Bukan Kawasan Hutan Menjadi Kawasan Hutan.

2. Riwayat Batas Kawasan Hutan :

- Batas luar Kawasan HL Bukit Jambul Gunung Patah (batas 1-2)


ditata batas tahun 1997 sesuai BATB tanggal 2 Agustus 1997
disahkan tanggal 7 November 2001.

- Batas luar Kawasan HL Bukit Jambul Gunung Patah (batas 2-3)


ditata batas tahun 2003 (Buku BATB belum ditemukan).

- Batas luar Kawasan HL Bukit Jambul Asahan (batas 3-4) ditata


batas tahun 2010 (Masih dalam peroses pembahasan PTB).

- Batas luar Kawasan HL Bukit Nanti (batas 4-5-6) ditata batas


tahun 1998 sesuai BATB tanggal 2 Maret 1999.

Rencana Pengelolaan Hutan Jangka Panjang KPHL Unit XII Dempo 2016-2025
Deskripsi Kawasan

- Batas fungsi HL Bukit Nanti dan HPT Bukit Nanti (batas 4-5)
ditata batas tahun 2012 (Masih dalam peroses pembahasan
PTB).

- Batas luar HP Air Tebangka (batas 6-7) ditata batas tahun 1998
sesuai BATB tanggal 2 Maret 1999 disahkan tanggal 20 Februari
2010.

- Batas fungsi HL Bukit Nanti dan HP Air Tebangka (batas 6-7)


ditata batas tahun 1998 sesuai BATB tanggal 2 Maret 1999
disahkan tanggal 7 Februari 2003.

- Batas luar Kawasan HL Bukit Nanti (batas 7-8) ditata batas tahun
1998 sesuai BATB tanggal 2 Maret 1999.

- Batas luar Kawasan HL Bukit Nanti dan HL Mekakau (batas 8-9)


ditata batas tahun 2005 (Dokumen BATB belum ditemukan).

- Batas luar Kawasan HL Mekakau (batas 9-10) ditata batas tahun


1998 sesuai BATB tanggal 2 Maret 1999.

- Batas fungsi TN Bukit barisan Selatan - HL Mekakau (Batas


Provinsi Sumsel – Lampung) (batas 10-11) ditata batas tahun
2013 (Masih dalam peroses pembahasan PTB).

- Batas fungsi TN Bukit barisan Selatan - HL Mekakau (Batas


Provinsi Sumsel – Bengkulu) (batas 11-12) ditata batas tahun
2013 (Masih dalam peroses pembahasan PTB).

- Batas fungsi HL Mekakau – HPT (Batas Provinsi Sumsel –


Bengkulu) (batas 12-13) ditata batas tahun 2013 (Masih dalam
peroses pembahasan PTB).

- Batas 13-14 Batas provinsi Sumsel – Bengkulu sesuai Peta


Rencana Pemanfaatan Ruang Provinsi Sumatera Selatan Tanhun
2005-2019 (Perda No. 14 tahun 2006 tanggal 18 Desember
2006).

Rencana Pengelolaan Hutan Jangka Panjang KPHL Unit XII Dempo 2016-2025
Deskripsi Kawasan

- Batas 14-1 Batas provinsi Sumsel – Bengkulu sesuai Peta Hasil


Pelacakan Batas Provinsi Sumsel – Bengkulu Skala 1:25.000.

KPHL Unit XII Dempo didominasi oleh kawasan berhutan yang


mencapai lebih dari 70% atau seluas 18.544,14 Ha, yaitu berupa hutan
lahan kering primer dan hutan lahan kering sekunder. Sedangkan kawasan
non hutan mencakup sekitar 30% dari total luas wilayah atau seluas
7.520,58 Ha, yang terdiri atas pertanian lahan kering campur semak, semak
belukar, dan lahan terbuka. Sebaran penutupan lahan di kawasan hutan
KPHL Unit XII Dempo dapat dilihat pada gambar berikut.

Gambar 2.12 Peta tutupan lahan wilayah KPHL Unit XII Dempo

Rencana Pengelolaan Hutan Jangka Panjang KPHL Unit XII Dempo 2016-2025
Deskripsi Kawasan

Masing-masing definisi untuk klasifikasi tersebut adalah sebagai


berikut:

- Hutan lahan kering primer merupakan hutan alam atau hutan


yang tumbuh dan berkembang secara alami, stabil dan belum
pernah mengalami gangguan eksploitasi oleh manusia, yang lantai
hutannya tidak pernah terendam air baik secara periodik atau
sepanjang tahun.
- Hutan lahan kering sekunder merupakan hutan yang tumbuh
secara alami sesudah terjadinya kerusakan/perubahan pada
tumbuhan hutan yang pertama. Hutan yang telah mengalami
gangguan eksplotasi oleh manusia, biasanya ditandai dengan
adanya jaringan jalan ataupun jaringan sistem eksploitasi lainnya.
- Pertanian lahan kering campur semak adalah aktivitas
pertanian lahan kering dan kebun yang berselang-seling dengan
semak belukar dan hutan bekas tebangan. Sering muncul pada
areal perladangan berpindah. dan rotasi tanam lahan karst.
- Semak belukar adalah hutan lahan kering yang telah tumbuh
kembali (mengalami suksesi) namun belum/tidak optimal, atau
lahan kering dengan liputan pohon jarang (alami) atau lahan kering
dengan dominasi vegetasi rendah (alami). Kenampakan ini
biasanya tidak menunjukkan lagi adanya bekas/bercak tebangan.
- Lahan terbuka adalah lahan terbuka tanpa vegetasi (singkapan
batuan puncak gunung, puncak bersalju, kawah vulkan, gosong
pasir, pasir pantai, endapan sungai). dan lahan terbuka bekas
kebakaran. Kenampakan lahan terbuka untuk pertambangan
dikelaskan pertambangan. Sedangkan lahan terbuka bekas
pembersihan lahan (land clearing) di masukkan kelas lahan
terbuka. Lahan terbuka dalam kerangka rotasi tanam
sawah/tambak tetap dikelaskan sawah/tambak.

Rencana Pengelolaan Hutan Jangka Panjang KPHL Unit XII Dempo 2016-2025
Deskripsi Kawasan

Pada kelompok hutan Bukit Dingin dan kelompok hutan Bukit


Jambul Gunung Patah terdapat klasifikasi penutupan lahan untuk hutan
lahan kering primer, hutan lahan kering sekunder, dan pertanian lahan
kering campur semak. Luas untuk masing-masing kelas penutupan lahan
secara terinci disajikan pada tabel berikut.

Tabel 2.8 Tutupan lahan pada KPHL Unit XII Dempo berdasarkan
kelompok hutan

Luas (Ha)
Kelompok Hutan
Penutupan Lahan
Bukit Bukit Total %
Dingin Jambul
Belukar 9,78 273,41 283,19 1,09
Danau 0,00 2,66 2,66 0,01
Hutan Lahan Kering Primer 795,42 10.638,91 11.434,33 43,87
Hutan Lahan Kering Sekunder 514,14 6.595,68 7.109,81 27,28
Lahan Terbuka 39,02 0,00 39,02 0,15
Pemukiman 6,04 0,00 6,04 0,02
Perkebunan Teh PTPN VII 313,53 0,00 313,53 1,20
Perkebunan Sawit dan Kopi 129,99 0,00 129,99 0,50
Pertanian Lahan Kering 73,83 0,00 73,83 0,28
Pertanian Lahan Kering Campur Semak 398,62 6.273,70 6.672,32 25,60
Jumlah 2.280,36 23.784,36 26.064,72 100

Sedangkan berdasarkan peta penggunaan lahan dari BPKH Wilayah


II Palembang terdapat 10 tipe penggunaan kawasan seperti disajikan pada
Tabel 2.9. Hutan lahan kering primer merupakan tipe penggunaan lahan
terluas yang mencapai lebih dari 43%, yang diikuti dengan hutan lahan
kering sekunder dengan luas lebih dari 27%. Sedangkan sebaran
penggunaan lahan disajikan pada Gambar 2.13.

Rencana Pengelolaan Hutan Jangka Panjang KPHL Unit XII Dempo 2016-2025
Deskripsi Kawasan

Tabel 2.9 Tipe penggunaan kawasan di KPHL Unit XII Dempo

Luas
No Tipe Penggunaan Lahan
Hektar Persen
1 Belukar 283,19 1,09
2 Danau 2,66 0,01
3 Hutan Lahan Kering Primer 11.434,33 43,87
4 Hutan Lahan Kering Sekunder 7.109,81 27,28
5 Lahan Terbuka 39,02 0,15
6 Pemukiman 6,04 0,02
7 Perkebunan Sawit dan Kopi 129,99 0,50
8 Perkebunan Teh PTPN VII 313,53 1,20
9 Pertanian Lahan Kering 73,83 0,28
10 Pertanian Lahan Kering Campur Semak 6.672,32 25,60
Jumlah 26.064,72 100

Gambar 2.13 Sebaran penggunaan lahan di wilayah KPHL Unit XII


Dempo.

Rencana Pengelolaan Hutan Jangka Panjang KPHL Unit XII Dempo 2016-2025
Deskripsi Kawasan

Lokasi KPHL Unit XII Dempo berada di wilayah pegunungan dengan


topografi yang bergelombang. Berdasarkan ketinggian, KPHL Unit XII
Dempo berada pada tiga kategori subzona hutan pegunungan (van Steenis
2006), yaitu: 1) submontana (sub-pegunungan atau disebut juga hutan
pegunungan bawah), antara ketinggian 1.000 – 1.500 m dpl; 2) montana
(hutan pegunungan atas) antara 1.000 – 2.400 m; 3) subalpin dengan
ketinggian diatas 2.400 m.

Survey oleh tim BPKH Wilayah II Palembang dilakukan berdsarkan


penutupan lahan, yaitu: kawasan berhutan dan tidak berhutan.

Keadaan vegetasi hutan di wilayah KPHL Unit XII Dempo di


Kawasan Hutan Lindung Bukit Dingin dan Hutan Lindung Bukit Jambul
Gunung Patah untuk seluruh populasi adalah sebagai berikut:

Semai (seedling) yaitu tumbuhan mulai berkecambah sampai


anakan setinggi ≤ 1.5 meter. Hasil dari perhitungan dan analisa data
diketahui bahwa untuk tingkat semai ditemukan sebanyak 71 jenis dengan
didominasi oleh jenis medang (Litsea sp) dengan nilai INP =12,61% ,
pasang (Querqus spp) dengan nilai INP = 11,34%, ciru (Schima spp)
dengan nilai INP = 11,26% diikuti oleh jenis blimbingan dengan nilai INP =
11,26%, balam (Palaquium confertum HJL) dengan nilai INP = 7,70% dan
asam (Mangifera spp) dengan nilai INP = 7,14%.

Rencana Pengelolaan Hutan Jangka Panjang KPHL Unit XII Dempo 2016-2025
Deskripsi Kawasan

Pancang (Sapling) yaitu permudaan yang tingginya lebih dari 1,5


meter sampai anakan berdiameter kurang dari 5 cm. Hasil dari perhitungan
dan analisa data diketahui bahwa untuk tingkat pancang ditemukan
sebanyak 76 jenis dengan didominasi oleh jenis medang (Litsea sp) dengan
nilai INP =17,35% , pasang (Querqus spp) dengan nilai INP = 12,82%, ciru
(Schima spp) dengan nilai INP = 11,53% diikuti oleh jenis surian (Toona
Sureni Merr) dengan nilai INP = 7,41%, balam (Palaquium confertum HJL)
dengan nilai INP = 7,07% dan rempelas dengan nilai INP = 6,96%.

Tiang (pole) yaitu pohon muda yang berdiameter 5 cm sampai


kurang dari 20 cm. Hasil dari perhitungan dan analisa data diketahui bahwa
untuk tingkat tiang ditemukan sebanyak 92 jenis dengan didominasi oleh
jenis jenis medang (Litsea sp) dengan nilai INP =28,12% , pasang (Querqus
spp) dengan nilai INP = 25,73%, ciru (Schima spp) dengan nilai INP =
16,16% diikuti oleh jenis surian (Toona Sureni Merr) dengan nilai INP =
12,16%, rempelas dengan nilai INP = 10,10% dan blimbingan dengan nilai
INP = 8,75%.

Pohon (trees) yaitu pohon dengan diameter 20 cm keatas. Hasil


dari perhitungan dan analisa data diketahui bahwa untuk tingkat pohon
ditemukan sebanyak 80 jenis dengan didominasi oleh jenis ciru (Schima
spp) dengan nilai INP = 38,12%, medang (Litsea sp) dengan nilai INP
=27,88% , pasang (Querqus spp) dengan nilai INP = 22,92% diikuti oleh
jenis balam (Palaquium confertum HJL) dengan nilai INP = 13,29%,
sarangan (Castanopsis argentea A.DC) dengan nilai INP = 13,24% dan
surian (Toona Sureni Merr) dengan nilai INP = 9,92%.

Rencana Pengelolaan Hutan Jangka Panjang KPHL Unit XII Dempo 2016-2025
Deskripsi Kawasan

Sedangkan untuk volume tegakan dapat di wilayah KPHL Unit XII


Dempo di Kawasan Hutan Lindung Bukit Dingin dan Hutan Lindung Bukit
Jambul Gunung Patah untuk seluruh populasi disajikan pada tabel berikut.

Tabel 2.10 Rekapitulasi jumlah batang, bidang dasar dan volume tegakan
berdiri (/ha) untuk seluruh kelas penutupan dan fungsi
kawasan hutan
Kelas Diameter (cm)

No. Kelompok Jenis 20 - 29,9 30 - 39,9 40 - 49,9 ≥ 50 Jumlah

N B V N B V N B V N B V N B V

1 Komersiil Satu 7 0,38 2,72 8 0,78 6,92 7 1,02 10,08 5 1,47 17,08 27 3,66 36,81
2 Komersiil Dua (KRC) 13 0,68 4,41 12 1,13 9,95 7 1,04 9,60 10 3,41 37,13 42 6,26 61,09
3 Kayu Indah Satu 0 0,00 0,00 0 0,00 0,00 0 0,00 0,00 0 0,00 0,00 0 0,00 0,00
4 Kayu Indah Dua 7 0,36 2,10 5 0,50 3,86 4 0,53 4,96 3 0,96 10,17 19 2,35 21,10
5 Lain-Lain 10 0,51 3,62 8 0,80 6,67 7 1,11 10,48 5 1,45 15,73 30 3,88 36,51

Jumlah 38 1,94 12,86 34 3,21 27,41 25 3,70 35,13 22 7,30 80,11 118 16,14 155,51
Keterangan: N=Jumlah batang /Ha, B=Luas Bidang Dasar (m /Ha), V=Volume Pohon
2

(m3/Ha)

Dari data tabel di atas diketahui bahwa volume tegakan untuk


seluruh strata penutupan lahan dan Kawasan Hutan rata-rata per hektar
untuk seluruh kelas diameter dan seluruh kelompok jenis adalah 118 batang
dengan volume 155,51 m3.

Untuk kelompok jenis komersiil satu rata-rata per hektar untuk


seluruh jenis dan seluruh kelas diameter adalah 27 batang dengan volume
36,81 m3 . Jenis pohon untuk kelompok jenis komersiil satu antara lain:
asam (Mangifera spp), balam (Palaquium confertum HJL), durian (Durio
spp), jelutung (Dyera costulata Hook f), kedondong (Santiria spp), meranti
(Shorea, spp), merawan (Hopea spp), merbau (Instia spp), mersawa
(Anisoptera marginata Korth) dan pulai (Alstonia spp).

Untuk kelompok jenis komersiil dua (Kayu Rimba Campuran) rata-


rata per hektar untuk seluruh jenis dan seluruh kelas diameter adalah 42
batang dengan volume 61,09 m3. Jenis pohon untuk kelompok jenis
komersiil dua antara lain: bambang (Madhuca aspera H.J.Lam), bayur

Rencana Pengelolaan Hutan Jangka Panjang KPHL Unit XII Dempo 2016-2025
Deskripsi Kawasan

(Pterospermum spp), bedarah (Myristica spp), ciru (Schima spp), gelam


(Melaleuca leucadendron L Vormier), jambon (Anthocephalus spp), jambu-
jambu (Syzygium spp), Labu (Endospermum malaccense M. Arg), kelat
(Syzygium spp), kembang (Schapium macropodum J.B), ketapang
(Terminalia sumatrana Miq), mampat (Cratoxylon aff formosum DYER),
marak (Macaranga spp), merunggang (Cratoxylum spp), rengas (Gluta
Renghas LINN), sarangan (Castanopsis argentea A.DC), sentul (Sandoricum
spp), surian (Toona Sureni Merr) dan Terap (Artocarpus elasticus Reinw).

Untuk kelompok jenis kayu indah satu tidak ditemukan kayunya.

Untuk kelompok jenis kayu indah dua rata-rata per hektar seluruh
jenis dan seluruh kelas diameter adalah 19 batang dengan volume 21,10
m3. Jenis pohon untuk kelompok jenis kayu indah dua antara lain: jaranan
(Michelia spp), jati mas (Peronema canescens Jack), k. putih (Melaleuca
leucadendron L Vormier), kandis (Garcinia dioica BL), kantil (Michelia spp),
keladi (Gonystylus bancanus Kurz), pasang (Quercus spp), sawoan
(Manilkara spp).

Sedangkan untuk kelompok jenis lain-lain rata-rata per hektar


untuk seluruh kelas diameter adalah 30 batang dengan volume 36,51 m 3.
Jenis pohon untuk kelompok jenis lain-lain ini antara lain: bayang air
(Pipturus incanus WEED), cemara (Casuarina sumatrana), duku (Lancium
domesticum), k. aro (Ficus sp) kemenyan (Styrax benzoin Dryand), kemiri
(Aleurites moluccana WILL), langsepan (Aglia acida), manggis hutan
(Mammea americana LINN) dan lain sebagainya.

Pada areal tidak berhutan KPHL Unit XII Dempo, penutupan


vegetasi terdiri dari belukar, perkebunan (kebun teh, kebun kopi), pertanian
lahan kering campur semak dan pertanian lahan kering seperti cabe, kubis,
sawi dan brokoli. Pada areal tidak berhutan berupa belukar dan pertanian

Rencana Pengelolaan Hutan Jangka Panjang KPHL Unit XII Dempo 2016-2025
Deskripsi Kawasan

lahan kering campur semak masih dijumpai adanya vegetasi untuk tingkat
tumbuh semai, pancang, tiang dan pohon. Dominasi untuk masing-masing
tingkat tumbuh adalah sebagai berikut:

Semai (seedling) yaitu tumbuhan mulai berkecambah sampai


anakan setinggi ≤ 1.5 meter. Hasil dari perhitungan dan analisa data
diketahui bahwa untuk tingkat semai ditemukan sebanyak 11 jenis dengan
didominasi oleh jenis kerinyu dengan nilai INP =61,07%, ciru (Schima spp)
dengan nilai INP = 19,52% dan bedi dengan nilai INP = 18,27%.

Pancang (Sapling) yaitu permudaan yang tingginya lebih dari 1,5


meter sampai anakan berdiameter kurang dari 5 cm. Hasil dari perhitungan
dan analisa data diketahui bahwa untuk tingkat pancang ditemukan
sebanyak 13 jenis dengan didominasi oleh jenis ciru (Schima spp) dengan
nilai INP = 41,21%, semantung dengan nilai INP = 31,82% dan kerinyu
dengan nilai INP = 26,97%.

Tiang (pole) yaitu pohon muda yang berdiameter 5 cm sampai


kurang dari 20 cm. Hasil dari perhitungan dan analisa data diketahui bahwa
untuk tingkat tiang ditemukan sebanyak 21 jenis dengan didominasi oleh
jenis ciru (Schima spp) dengan nilai INP = 44,92%, semantung dengan nilai
INP = 39,68%, balik angin (Mallotus barbatus) dengan nilai INP = 35,61%
diikuti oleh jenis kaliandra (Calliandra calothyrsus) dengan nilai INP =
26,04%, segani dengan nilai INP = 24,00% dan juhai dengan nilai INP =
23,26%.

Rencana Pengelolaan Hutan Jangka Panjang KPHL Unit XII Dempo 2016-2025
Deskripsi Kawasan

Pohon (trees) yaitu pohon dengan diameter 20 cm keatas. Hasil


dari perhitungan dan analisa data diketahui bahwa untuk tingkat pohon
ditemukan sebanyak 13 jenis dengan didominasi oleh balik angin (Mallotus
barbatus) dengan nilai INP = 47,96%, kerinyu dengan nilai INP = 43,07%
dan kaliandra (Calliandra calothyrsus) dengan nilai INP = 37,51%. Volume
tegakan di wilayah KPHL Unit XII Dempo pada areal tidak berhutan disajikan
pada tabel 2.11.

Tabel 2.11 Rekapitulasi jumlah batang, bidang dasar dan volume tegakan
berdiri (/ha) untuk seluruh kelas penutupan areal tidak
berhutan dan fungsi kawasan hutan
Kelas Diameter (cm)

No. Kelompok Jenis 20 - 29,9 30 - 39,9 40 - 49,9 ≥ 50 Jumlah

N B V N B V N B V N B V N B V

1 Komersiil Satu 0 0,00 0,00 0 0,00 0,00 0 0,00 0,00 0 0,00 0,00 0 0,00 0,00

2 Komersiil Dua (KRC) 13 0,55 3,13 0 0,00 0,00 0 0,00 0,00 0 0,00 0,00 13 0,55 3,13

3 Kayu Indah Satu 0 0,00 0,00 0 0,00 0,00 0 0,00 0,00 0 0,00 0,00 0 0,00 0,00

4 Kayu Indah Dua 0 0,00 0,00 0 0,00 0,00 0 0,00 0,00 0 0,00 0,00 0 0,00 0,00

5 Lain-Lain 52 2,04 11,49 2 0,18 1,34 0 0,00 0,00 0 0,00 0,00 54 2,21 12,83

Jumlah 65 2,59 14,62 2 0,18 1,34 0 0,00 0,00 0 0,00 0,00 67 2,76 15,96

Keterangan: N= Jumlah batang /Ha, B= Luas Bidang Dasar (m /Ha), V= Volume 2

Pohon (m3/Ha)

Dari data tabel di atas diketahui bahwa massa tegakan untuk


seluruh strata penutupan lahan areal tidak berhutan dan Kawasan Hutan
rata-rata per hektar untuk seluruh kelas diameter dan seluruh kelompok
jenis adalah 67 batang dengan volume 15,96 m3.

Untuk kelompok jenis komersiil satu, kayu indah satu dan kayu
indah dua tidak ditemukan pohonnya pada areal tidak berhutan.

Untuk kelompok jenis komersiil dua (Kayu Rimba Campuran) rata-


rata per hektar untuk seluruh jenis dan seluruh kelas diameter adalah 13

Rencana Pengelolaan Hutan Jangka Panjang KPHL Unit XII Dempo 2016-2025
Deskripsi Kawasan

batang dengan volume 3,13 m3. Jenis pohon untuk kelompok jenis komersiil
dua antara lain : bambang (Madhuca aspera H.J.Lam), ciru (Schima spp),
jambu-jambu (Syzygium), Medang (Listsea sp), Pasang (Quercus spp) dan
Sengon (Paraserianthes falcataria).

Sedangkan untuk kelompok jenis lain-lain rata-rata per hektar


untuk seluruh kelas diameter adalah 54 batang dengan volume 12,53 m 3.
Jenis pohon untuk kelompok jenis lain-lain ini antara lain : balik angin
(Mallotus barbatus), bayang air (Pipturus incanus), bekatak, kaliandra
(Calliandra calothyrsus), k. afrika (Maesopsis eminii), kerinyu, segani dan
semantung

Potensi kayu non kayu yang terdapat dalam wilayah KPHL Unit XII
Dempo didominasi oleh rotan. Jenis rotan yang ditemui antara lain Rotan
Jernang, Rotan Getah, Rotan Sego, dan berbagai jenis rotan lainnya.
Potensi Non Kayu berupa rotan ini ditemui pada kawasan berhutan. Potensi
non kayu perlu diidentifikasi dan diinventariasi lebih lanjut.

KPHL Unit XII Dempo memiliki keanekaragaman hayati yang tinggi,


terdapat banyak jenis flora yang berada dalam wilayah kawasan hutan, hal
ini dapat terlihat dari hasil inventarisasi biogeofisik oleh tim survey BPKH
Wilayah II Palembang serta dari hasil bbp inventarisasi oleh labaga lain.
Namun, dari daftar jenis yang berhsil terhimpun, KPHL Unit XII Dempo
hanya memiliki 2 jenis yang dilindungi mengacu pada PP RI Nomor 7 Tahun
1999 tentang Pengawetan Jenis Tumbuhan dan Satwa. Dua jenis tersebut
adalah Meranti (Shorea spp) dan Palem raja/Indonesia (Caryota sp.). LIPI
pada tahun 2010 telah melakukan inventarisasi pada kawasan hutan

Rencana Pengelolaan Hutan Jangka Panjang KPHL Unit XII Dempo 2016-2025
Deskripsi Kawasan

lindung, juga ditemukan beberapa jenis anggrek yang dilindungi seperti


Dendrobium sp., Trichotosia sp., Pholidota sp. Dan lain sebagainya.

Berdasarkan hasil pengamatan dan informasi dari masyarakat


setempat bahwa di lokasi KPHL Unit XII Dempo khususnya di kawasan
Hutan Lindung Bukit Dingin terdapat fauna (satwa) seperti harimau,
beruang, kijang, siamang, simpai, beruk, kambing hutan, rusa, trenggiling,
landak, kukang, babi, musang, ayam hutan, kucing mas dan ular. Untuk
jenis burung yang terdapat dilokasi antara lain: punai, pergam, hijau
kancing, enggang, rangkong, elang dan burung hantu.

Berdasarkan informasi yang di dapat dari Dinas Kehutanan dan


Perkebunan Kota Pagar alam, kawasan KPHL unit XII Dempo juga memiliki
potensi fauna (satwa) yang cukup tinggi. Jenis satwa yang terdapat di
kawasan ini tergolong ke dalam kelompok Amphibia, Reptilia, Aves dan
Mamalia. Perlindungan satwa berpedoman pada PP No 7 Tahun 199 tentang
Pengawetan Jenis Tumbuhan dan Satwa, serta CITES (Convention on
International Trade in Endangered Species of Wild Fauna and Flora) atau
konvensi perdagangan internasional tumbuhan dan satwa liar terancam.
Jenis-jenis satwa yang dilindungi disajikan dalam tabel berikut.

Tabel 2.12 Tabel jenis satwa dilindungi di KPHL Unit XII Dempo

Jenis Perlindungan
No
Lokal Ilmiah PP1 CITES2
1 Ular kobra Naja sumatrana II
2 Elang Aquila chrysaetos? v
3 Kijang Muntiacus muntjak v
4 Beruang madu Hearctos malayanus v I
5 harimau Panthera tigris v I
6 rusa Cervus unicolor v
7 kambing hutan Capricornis sumatrensis v I

Rencana Pengelolaan Hutan Jangka Panjang KPHL Unit XII Dempo 2016-2025
Deskripsi Kawasan

Jenis Perlindungan
No
Lokal Ilmiah PP1 CITES2
8 kancil Tragulus javanicus v
9 Trenggiling Manis javanica v II
10 Landak Hystrix brachyura v
11 Monyet Macaca sp v
12 Rangkong Bucerotidae v I
13 Kucing Emas Felis temmincki v
Sumber: Dinas Kehutanan Pagar Alam, 2015
Keterangan: 1
PP Nomor 7 Tahun 1999 Tentang Pengawetan Jenis Tumbuhan Dan
Satwa;
2
Apendiks I: spesies tumbuhan dan satwa liar yang dilarang dalam segala
bentuk perdagangan internasional; Apendiks II: spesies yang tidak
terancam kepunahan, tapi mungkin terancam punah bila perdagangan
terus berlanjut tanpa adanya pengaturan; Apendiks III: spesies
tumbuhan dan satwa liar yang dilindungi di negara tertentu dalam batas-
batas kawasan habitatnya, dan suatu saat peringkatnya bisa dinaikkan
kedalam Apendiks II dan Apendiks I.

Berdasarkan Peraturan Pemerintah No. 6 Tahun 2007 sebagaimana


telah dirubah melalui PP No. 3 Tahun 2008 tentang Tata Hutan dan
Penyusunan Rencana Pengelolaan Hutan, serta Pemanfaatan Hutan,
pemanfaatan jasa lingkungan didefenisikan sebagai kegiatan untuk
memanfaatkan potensi jasa lingkungan dengan tidak merusak lingkungan
dan mengurangi fungsi utamanya. Secara khusus, PP No. 6 Tahun 2007 Jo
PP No. 3 Tahun 2008 mengatur pemanfaatan jasa lingkungan pada
kawasan hutan lindung dan hutan produksi, sedangkan pada kawasan
hutan konservasi diatur pada peraturan lainnya. Jenis-jenis pemanfaatan
jasa lingkungan yang dapat dilakukan pada kawasan hutan lindung dan
kawasan hutan produksi yaitu:

1) pemanfaatan jasa aliran air;


2) pemanfaatan air;
3) wisata alam;

Rencana Pengelolaan Hutan Jangka Panjang KPHL Unit XII Dempo 2016-2025
Deskripsi Kawasan

4) perlindungan keanekaragaman hayati;


5) penyelamatan dan perlindungan lingkungan; atau
6) penyerapan dan/atau penyimpanan karbon.

Dengan demikian, jenis-jenis pemanfaatan jasa lingkungan diatas


secara tidak langsung dapat diasumsikan sebagai produk-produk jasa
lingkungan dari kawasan hutan.

KPHL Unit XII Dempo memiliki hampir 70% kawasan yang


berhutan, sehingga dapat dipastikan kawasan KPHL Unit XII Dempo
memiliki potensi jasa lingkungan yang besar yang dapat memberikan
manfaat signifikan bagi masyarakat sekitar. Jasa lingkungan yang diduga
dimiliki oleh KPHL Unit XII Dempo adalah sebagai berikut:

1. Hidrologis, keberadaan hutan menjadi sangat penting terlebih


berhubungan dengan fungsi hidrologis. Hutan mampu menahan air
yang jatuh ke bumi sehingga menhindari terjadinya aliran
permukaan yang dapat menyebabkan terkikisnya lapisan tanah
yang dapat menyebabkan erosi maupun banjir. Hutan menahan air
hujan yang jatuh dan mengalirkan melalui aliran batang untuk
disimpan kedalam bumi, sehingga keberlanjutan air tetap tersedia
meski di musim kemarau. Dalam KPHL unit XII Dempo, saat ini
sedang dibangun bendungan dan irigasi yang diperuntukkan untuk
mengairi area persawahan masyarakat dibawahnya.
2. Simpanan dan serapan karbon, ekosistim hutan yang
didominasi oleh pohon merupakan sistim alami untuk mencegah
terjadinya peningkatan kosentrasi karbon di atmosfir. Pohon
mampu menyimpan karbon dalam jumlah yang besar pada tiap
strukturnya seperti batang, akar, cabang serta daun dan akan
meningkat seiring dengan pertambahan pertumbuhan dari pohon
tersebut. Kemampuan pepohonan ini memungkinkan hutan KPHL
Unit XII Dempo diikutsertakan dalam program REDD (Reducing

Rencana Pengelolaan Hutan Jangka Panjang KPHL Unit XII Dempo 2016-2025
Deskripsi Kawasan

Emissions from Deforestation and Degradation in developing


countries) yang merupakan salah satu skema untuk memberi
insentif terhadap upaya perlindungan atau pelestarian hutan.
Pemberian kompensasi ini terkait dengan pengurangan pelepasan
karbon (carbon release reduction), penyimpanan karbon (carbon
storage) dan penyerapan karbon (carbon sequestration).
3. Wisata alam, kawasan hutan yang terjaga dapat dimanfaatkan
untuk pengembangan wisata alam. Hutan menyediakan udara yang
sejuk dengan kualitas udara yang lebih bersih dibandingkan daerah
perkotaan. Lingkungan hidup kota mempunyai kemungkinan yang
sangat tinggi untuk tercemar, baik oleh kendaraan bermotor
maupun industri. Petugas lalu lintas sering bertindak galak serta
pengemudi dan pemakai jalan lainnya sering mempunyai
temperamen yang tinggi diakibatkan oleh cemaran timbal dan
karbon-monoksida (Soemarwoto 1985). Oleh sebab itu gejala stress
(tekanan psikologis) dan tindakan ugal-ugalan sangat mudah
ditemukan pada anggota masyarakat yang tinggal dan berusaha di
kota atau mereka yang hanya bekerja untuk memenuhi
keperluannya saja di kota. Ditunjuang dengan kemampuan
pepohonan dalam menyegarkan udara, pepohonan yang hijau
secara psikologis dapat memberikan efek relaksasi/rekreasi yang
dapat menyegarkan kembali pikiran dan badan bagi yang
menikmatinya.
4. Perlindungan keanekaragaman hayati; hutan sebagai
ekosistem, tidak hanya terdiri atas komunitas tumbuhan dan hewan
semata tetapi juga meliputi keseluruhan interaksinya dengan faktor
tempat tumbuh dan lingkungan (Odum, 1988). Pembentukan dan
perkembangan hutan terjadi melalui proses suksesi. Dalam proses
suksesi terjadi perubahan dan pergantian antar penyusun hutan
dan perubahan lingkungan yang terlibat. Dalam proses yang

Rencana Pengelolaan Hutan Jangka Panjang KPHL Unit XII Dempo 2016-2025
Deskripsi Kawasan

panjang, menurunnya komunitas dan keanekaragaman maka


makhluk hidup di dalamnya juga semakin berkurang.

Namun demikian, hingga saat ini belum adanya inventarisasi detil


tentang nilai potensi jasa lingkungan yang tersimpan di KPHL Unit XII
Dempo. Sehingga disarankan adanya inventarisasi untuk mengetahui nilai
potensi jasa lingkungan yang terdapat, agar dapat dikelola dengan baik.

Menurut Peraturan Pemerintah No. 6 Tahun 2007 Jo PP No. 3 Tahun


2008 tentang Tata Hutan dan Penyusunan Rencana Pengelolaan Hutan,
serta Pemanfaatan Hutan, wisata alam merupakan bagian dari pemanfaatan
jasa lingkungan baik pada kawasan hutan lindung maupun pada hutan
produksi. Potensi wisata alam yang ditemui di KPHL Unit XII Dempo antara
lain:

1. Iklim dan lanskap

Ditunjang dengan letak geografis, kawasan hutan KPHL Unit XII


Dempo memberikan manfaat jasa lingkungan yang berbeda dari
kawasan hutan lainnya di Provinsi Sumatera Selatan. Dengan
lanskap yang bergelombang dan menawarkan keindahan alam yang
unik, ditunjang dengan suasana lingkungan yang segar, udara yang
sejuk khas pegunungan memberikan suasana ‘sense of place’ yang
khas untuk dikembangkan sebagai objek wisata alam yang
potensial. Beberapa titik di KPHL Unit XII Dempo berada pada
ketinggian yang mampu memberikan view lanskap yang khas.
Walaupun view ini berada diluar wilayah KPHL Unit XII Dempo
namun menjadi potensi yang dapat dimanfaatkan oleh KPHL Unit
XII Dempo untuk mendukung program pengembangan ekowisata.
Pemanfaatan potensi yang dikenal dengan ‘borrowing lansdscape’

Rencana Pengelolaan Hutan Jangka Panjang KPHL Unit XII Dempo 2016-2025
Deskripsi Kawasan

ini dapat dimanfaatkan untuk pengembangan ecolodge, yaitu suatu


penginapan yang berbasis pada alam.

Gambar 2.14 Ilustrasi udara yang segar dan sejuk dapat memberikan
sense of place bagi pengunjung.

2. Tugu Rimau dan Pendakian Gunung Dempo

Tugu Rimau merupakan titik awal dalam pendakian Gunung


Dempo, yang juga merupakan ujung dari jalan yang dapat
ditempuh oleh kendaraan bermotor. Pada lokasi ini terdapat tugu
yang berwujud harimau sumatera yang berpakaian adat setempat
dan sedang membawa obor. Yang mana harimau sumatera ini
diyakini banyak terdapat di hutan wilayah Gunung Dempo. Patung
rimau menjadi salah satu lokasi wisata sejak dilaksanakanya Pekan
Olahraga Nasional (PON) pada tahun 2004 di Sumatera Selatan.
Ketinggian lokasi Tugu Rimau berada pada ±1.800 m dpl, sehingga
memberikan panorama lanskap Kota Pagar Alam secara
menyeluruh. Gunung Dempo juga menjadi salah satu tujuan

Rencana Pengelolaan Hutan Jangka Panjang KPHL Unit XII Dempo 2016-2025
Deskripsi Kawasan

pendakian favorit, terutama pada hari-hari besar seperti


kemerdekaan Indonesia maupun pada tahun baru.

Gambar 2.15 Tugu Rimau menjadi salah satu ikon daerah tujuan wisata
di ketinggian ±1.800 m dpl.

3. Danau Merah

Danau merah terletak di Kecamatan Dempo Tengah, dengan


kondisi lingkungan sekitar yang masih asri dan belum dimanfaatkan
untuk kegiatan wisata. Hal ini mengingat belum adanya akses jalan
menuju Danau Merah.

Pengembangan potensi wisata alam yang dimiliki oleh KPHL Unit


XII Dempo hendaknya berbasis pada pelestarian alam, peningkatan
ekonomi masyarakat sekitar, pendidikan dan interpretasi. Konsep ini juga
dikenal dengan istilah ekowisata. Namun, dalam hal ini, potensi wisata yang
dimiliki oleh KPHL Unit XII Dempo tetap memerlukan inventarisasi dan
kajian lebih detil agar dapat dimanfaatkan secara optimal agar sesuai
dengan aturan yang berlaku.

Rencana Pengelolaan Hutan Jangka Panjang KPHL Unit XII Dempo 2016-2025
Deskripsi Kawasan

Mayoritas masyarakat desa berprofesi sebagai petani dan buruh


tani. sehingga terbentuk interaksi yang kuat antara masyarakat desa sekitar
hutan dengan kawasan hutan. Interaksi ini dapat menjadi sebuah ancaman
bagi keberadaan hutan. Namun dengan pengelolaan yang tepat keberadaan
desa-desa disekitar dan didalam kawasan hutan dapat menjadi suatu
potensi dalam menjaga keutuhan dan menjaga keamanan wilayah hutan.
Pembagian blok pemanfaatan merupakan usaha untuk dapat merangkul
masyarakat desa disekitar kawasan hutan untuk turut serta menjaga
kawasan hutan KPHL Unit XII Dempo.

Wilayah KPHL unit XII Dempo terletak dalam 5 kecamatan dan 40


Kelurahan yang berdekatan. Kelurahan yang tersebar di Kecamatan Dempo
Selatan 5 Kelurahan, Kecamatan Dempo Utara 7 Kelurahan, Kecamatan
Dempo Tengah 5 Kelurahan, Kecamatan pagar Alam Utara 10 Kelurahan
dan Kecamatan Pagar Alam Selatan 8 Kelurahan. Data kependudukan tiap
kelurahan disajikan pada tabel berikut.

Tabel 2.13 Desa yang terdapat dalam wilayah KPHL Unit XII Dempo
Jumlah Penduduk (Jiwa) Kepadatan
Kecamatan/ Luas
No Penduduk
Kelurahan (km2) Laki-laki Perempuan Total (Jiwa/km2)
1 Dempo Selatan 236,95 6.391 5.433 11.824 49,90
1.1 Penjalang 47,29 1.270 1.111 2.381 50,35
1.2 Lubuk Buntak 34,40 897 781 1.678 48,78
1.3 Perahu Dipo 38,50 1.606 1.249 2.855 74,16
1.4 Kance Diwe 59,51 1.112 995 2.107 35,41
1.5 Atung Bungsu 57,25 1.506 1.297 2.803 48,96
2 Dempo Utara 123,98 10.561 9.834 20.395 164,50
2.1 Burung Dinang 17,00 941 893 1.834 107,88
2.2 Muara Siban 12,80 1.479 1.366 2.845 222,27

Rencana Pengelolaan Hutan Jangka Panjang KPHL Unit XII Dempo 2016-2025
Deskripsi Kawasan

Jumlah Penduduk (Jiwa) Kepadatan


Kecamatan/ Luas
No Penduduk
Kelurahan (km2) Laki-laki Perempuan Total (Jiwa/km2)
2.3 Reba Tinggi 16,78 1.066 958 2.024 120,62
2.4 Jangkar Mas 11,60 1.086 990 2.076 178,97
2.5 Pagar Wangi 17,55 1.745 1.678 3.423 195,04
2.6 Bumi Agung 12,50 1.738 1.578 3.316 265,28
2.7 Agung Lawangan 35,75 2.506 2.371 4.877 136,42
3 Dempo Tengah 173,09 6.692 6.127 12.819 74,06
3.1 Candi Java 48,03 1.091 963 2.054 42,76
3.2 Jokoh 46,04 1.303 1.180 2.483 53,93
3.3 Pelang Kenidai 28,02 1.305 1.227 2.532 90,36
3.4 Padang Temu 25,00 1.228 1.186 2.414 96,56
3.5 Karang Dalo 26,00 1.765 1.571 3.336 128,31
4 Pagar Alam Utara 54,55 20.416 19.751 40.167 736,33
4.1 Dempo Makmur 7,43 1.510 1.467 2.977 400,67
4.2 Bangun Rejo 7,20 3.209 3.083 6.292 873,89
4.3 Curup Jare 7,80 758 746 1.504 192,82
4.4 Pagar Alam 3,40 4.193 4.076 8.269 2.432,06
4.5 Sukorejo 4,00 3.136 3.035 6.171 1.542,75
4.6 Bangun Jaya 2,69 967 976 1.943 722,30
4.7 Beringin Jaya 4,40 2.283 2.211 4.494 1.021,36
4.8 Alun Dua 5,50 1.510 1.364 2.874 522,55
4.9 Kuripan Babas 6,05 1.055 1.064 2.119 350,25
4.10 Selibar 6,08 1.795 1.729 3.524 579,61
5 Pagar Alam Selatan 63,20 24.009 23.395 47.404 750,06
5.1 Tanjung Agung 8,88 1.143 1.192 2.335 262,95
5.2 Ulu Rurah 11,19 1.945 1.879 3.824 341,73
5.3 Tumbak Ulas 7,51 3.749 3.635 7.384 983,22
5.4 Besemah Serasah 0,73 3.755 3.678 7.433 10.182,19
5.5 Tebat Giri Indah 1,25 3.474 3.370 6.844 5.475,20
5.6 Sidorejo 0,59 4.039 3.905 7.944 13.464,41
5.7 Nendagung 10,05 4.831 4.705 9.536 948,86
5.8 Gunung Dempo 23,00 1.073 1.031 2.104 91,48
Sumber: Data BPS 2015 yang telah diolah

Rencana Pengelolaan Hutan Jangka Panjang KPHL Unit XII Dempo 2016-2025
Deskripsi Kawasan

Mayoritas masyarakat yang berada di sekitar kawasan KPHL Unit


XII Dempo berprofesi sebagai petani dan buruh. Sebagian kecil lainnya
berprofesi sebagai pedagang, penyedia jasa, dan pegawai. Jenis unggulan
dan primadona adalah adalah kopi, pala, coklat, dll. Namun untuk Desa
Agung lawangan dusun kerinjing mata pencaharian utama adalah sebagai
petani sayuran.

Secara umum, tingkat kesejahteraan masyarakat sekitar kawasan


KPHL belum makmur, sehingga membutuhkan perhatian serius agar
masyarakat sekitar tidak menjadi ancaman, namun dapat menjadi mitra
bersama dalam pengelolaan hutan.

Lapangan usaha yang paling dominan di Kota Pagar Alam adalah


sektor pertanian, Perkebunan, Kehutanan, Perburuan, dan Perikanan,
dengan sebaran pekerja sebesar 37,89 %, diikuti oleh sektor Perdagangan,
Rumah Makan, dan Jasa Akomodasi (9,85 %), dan sektor Jasa
Kemasyarakatan, Sosial, dan Perorangan (18,47 %), selebihnya tersebar
pada sektor industri dan lainnya (Kota Pagar Alam dalam Angka, 2015).

Tabel 2.14 Jenis lapangan usaha di Kota Pagar Alam


Penduduk Bekerja
No Jenis Lapangan Usaha
Laki-laki Perempuan Jumlah Persentase
1. Pertanian, Perkebunan,
Kehutanan, Perburuan, dan 15611 8062 23673 37,89
Perikanan
2. Pertambangan dan Penggalian 93 0 93 0,15
3. Industri Pengolahan 969 332 1301 2,08
4. Listri, Gas, dan Air Minum 292 0 292 0,47
5. Konstruksi 4551 0 4551 7,28
6. Perdagangan, Rumah Makan,
6313 9420 15733 25,18
dan Jasa Akomodasi
7. Transportasi, Pergudangan,
4546 0 4546 7,28
dan Komunikasi

Rencana Pengelolaan Hutan Jangka Panjang KPHL Unit XII Dempo 2016-2025
Deskripsi Kawasan

Penduduk Bekerja
No Jenis Lapangan Usaha
Laki-laki Perempuan Jumlah Persentase
8. Lembaga Keuangan, Real
Estate, Usaha Persewaan, dan 377 375 752 1,20
Jasa Perusahaan
9. Jasa Kemasyarakatan, Sosial,
5473 6068 11541 18,47
dan Perorangan
Jumlah 38225 24257 62482 100
Sumber: Kota Pagar Alam dalam Angka 2015

Masyarakat Kota Pagar Alam dikenal sebagai Besemah yang


merupakan salah satu kelompok masyarakat tradisional yang kaya dengan
nilai-nilai adat, tradisi, dan budaya yang sangat khas. Masyarakat di tanah
Pasemah (Besemah) sedari dulu sudah mempunyai tatanan dan aturan-
aturan masyarakat yang bernama “Lampik Empat, Merdike Duwe” yakni,
perwujudan demokrasi murni yang muncul, berkembang, dan diterapkan
sepenuhnya, oleh semua komponen masyarakat setempat.

Berdasarkan survey oleh Tim dari BPKH II Wilayah Palembang di


beberapa desa contoh dan hasil wawancara dengan pengelola kawasan,
diketahui bahwa desa-desa yang berada di sekitar kawasan hutan adalah
desa-desa yang tergolong masih baru yang merupakan perkembangan dari
pemukiman/desa yang berada jauh dari kawasan hutan serta dari
transmigrasi. Sehingga desa-desa yang berada di sekitar kawasan hutan
merupakan masyarakat majemuk baik dari segi suku maupun sosial dan
budayanya.

Berbeda halnya dengan masyarakat Besemah yang merupakan


masyarakat asli Kota Pagar Alam, masyarakat diskitar hutan yang terdiri
atas berbagai suku dan ras, sehingga tidak ada lembaga adat maupun
norma-norma adat yang mengatur hubungan masyarakat dengan
masyarakat maupun hubungan masyarakat dengan hutan (lingkungan).

Rencana Pengelolaan Hutan Jangka Panjang KPHL Unit XII Dempo 2016-2025
Deskripsi Kawasan

Norma yang berlaku di masyarakat sekitar hutan adalah norma atau etika
yang berlaku secara umum, serta mengikuti aturan negara.

KPHL Unit XII Dempo merupakan kawasan hutan yang memiliki


fungsi utama perlindungan. Hingga saat ini belum terdapat adanya izin
pemanfaatan kawasan hutan di KPHL Unit XII Dempo.

Kawasan hutan KPHL Unit XII Dempo yang digunakan untuk


aktivitas luar kehutanan berupa pembangunan bendungan dan saluran
irigasi Lematang yang berada dan melewati kawasan Hutan Bukit jambul
Gunung Patah. Pembangunan irigasi ini akan dibangun di lahan seluas 19,4
Ha yang akan mengairi hingga 6.000 Ha lahan sawah. Untuk memudahkan
pengerjaan pembangunan bendungan irigasi, akan dibangun jalan baru
dengan panjang 4,5 km. Terdapat juga Ijin Pinjam Pakai Suprem Energy
dengan luas 10 Ha. Berikut adalah tabel daftar izin penggunaan kawasan di
kawasan hutan KPHL Unit XII Dempo.

Tabel 2.15 Daftar izin penggunaan kawasan hutan di KPHL Unit XII
Dempo
No Izin Pemegang Luas
Legalitas Lokasi Dana
Penggunaan Izin (Ha)
1. Bendungan Dinas PU S.192/MenLHK-II/2015 Lematang 19,47 APBN
dan Irigasi Kota Pagar Alam 4 Mei 2015
2. Ijin Pinjam Supreme Energy 1/1/IPPKH- Dempo 10 Swasta
Pakai Panas PB/PMA/2015 Selatan
Bumi 19 Maret 2015

Rencana Pengelolaan Hutan Jangka Panjang KPHL Unit XII Dempo 2016-2025
Deskripsi Kawasan

Gambar 2.16 Peta ijin penggunaan kawasan di KPHL Unit XII Dempo.

Keberadaan KPHL Unit XII Dempo telah sesuai dengan Rencana


Tata Ruang Kota Pagar Alam tahun 2012-2032. Terdapat dua kelompok
hutan yaitu kelompok hutan Bukit Dingin dan kelompok hutan Bukit Jambul
Gunung Patah. Kelompok hutan Bukit Dingin terletak di Gunung Dempo.
yang dimulai dari kaki hingga puncak Gunung Dempo. Kelompok ini berada
pada wilayah Kecamatan Dempo Utara, Pagar Alam Utara, dan Pagar Alam
Selatan. Sedangkan kelompok hutan Bukit Jambul Gunung Patah
menempati wilayah administratif Kecamatan Dempo Selatan. Dempo
Tengah. dan Dempo Utara.

Rencana Pengelolaan Hutan Jangka Panjang KPHL Unit XII Dempo 2016-2025
Deskripsi Kawasan

Gambar 2.17 Kawasan hutan KPHL Unit XII Dempo dalam RTRW Kota
Pagar Alam.

Sedangkan menurut Rencana Kehutanan Tingkat Nasional (RKTN).


arahan kawasan hutan KPHL Unit XII Dempo terbagi atas dua kelompok.
yaitu: arahan hutan alam dan gambut serta rehabilitasi. Tabel 2.16
menyajikan rekapitulasi luas arahan RKTN pada kawasan hutan KPHL Unit
XII Dempo.

Tabel 2.16 Luas arahan RKTN pada kawasan hutan KPHL unit XII Dempo

Luas
Kelompok Hutan Arahan RKTN
Ha Persen
Bukit Dingin HA dan Gambut 1.252.54 4.90
Rehabilitasi 1.027.82 4.02
Bukit Jambul Gunung Patah HA dan Gambut 16.839.67 65.83
Rehabilitasi 6.461.77 25.26

Rencana Pengelolaan Hutan Jangka Panjang KPHL Unit XII Dempo 2016-2025
Deskripsi Kawasan

Gambar 2.18 Peta Rencana Kehutanan Tingkat Nasional KPHL Unit XII
Dempo.

Posisi areal KPHL Unit XII Dempo dalam perspektif perencanaan


pembangunan daerah dapat dilihat dari visi, misi, tujuan, sasaran, dan
kegiatan yang terkait dengan sektor kehutanan yang ada didalam dokumen
perencanaan daerah. Berdasarkan RTRW Pagar Alam, kawasan hutan KPHL
Unit XII Dempo termasuk kedalam pengembangan kawasan lindung, yang
memberikan perlindungan kawasan dibawahnya bertujuan untuk
memperbaiki dan menjaga iklim mikro, meresapkan air, menciptakan
keseimbangan dan keserasian lingkungan fisik kawasan, dan mendukung
pelestarian keanekaragaman hayati Indonesia.

Kawasan Lindung adalah kawasan yang memberikan perlindungan


kawasan bawahnya, yang meliputi: (a) kawasan hutan lindung (b) kawasan

Rencana Pengelolaan Hutan Jangka Panjang KPHL Unit XII Dempo 2016-2025
Deskripsi Kawasan

resapan air. Penetapan Kawasan hutan lindung menurut RTRW Kota Pagar
Alam 2012 – 2032 adalah:

- Sebagai kawasan yang memberikan perlindungan kawasan


bawahnya, dengan spesifikasi jenis adalah Hutan Lindung ±
28,740 ha dan kawasan resapan air yang juga termasuk
bagian dari hutan lindung tersebut.
- Kawasan perlindungan setempat, dengan spesifikasi jenis
adalah sempadan sungai.

Sedangkan untuk kawasan resapan air, telah ditetapkan pada


kelompok hutan lindung Bukit Dingin dan kelompok hutan lindung Bukit
Jambul Gunung Patah yang termasuk kedalam wilayah pengelolaan KPHL
Unit XII Dempo. Selain itu, Kota Pagar Alam yang merupakan atap Propinsi
Sumatera Selatan, khususnya Gunung Dempo yang berada di kelompok
hutan Bukit Dingin Dempo beserta Perkebunan Teh (yang berada di luar
kawasan hutan), telah dibidik sebagai kawasan pengembangan daerah
tujuan wisata alam dengan mengedepankan lanskap pegunungan yang
masih alami. Bentuk kegiatan yang akan ditawarkan adalah Rekreasi Alam,
Berkemah, Wisata Pendidikan, Hiking dan Lintas Alam, Penelitian Cagar
Budaya.

KPHL Unit XII Dempo yang merupakan KPH lindung yang terdiri
atas dua kelompok hutan yang merupakan hutan lindung. Undang-undang
No 41 tahun 199 tentang Kehutanan menyebutkan bahwa, hutan lindung
adalah kawasan hutan yang mempunyai fungsi pokok sebagai perlindungan
sistem penyangga kehidupan untuk mengatur tata air, mencegah banjir,
mengendalikan erosi, mencegah intrusi air laut, dan memelihara kesuburan
tanah. Sehingga dalam pemanfaatan jasa lingkungan baik air, maupun
wisata memerlukan pendekatan khusus. Dalam hal ini, perlu dilakukan
kajian lebih detil terutama untuk perencanaan dan pengembangan objek
wisata yang berada dalam kawasan KPHL.

Rencana Pengelolaan Hutan Jangka Panjang KPHL Unit XII Dempo 2016-2025
Deskripsi Kawasan

Isu strategis adalah kondisi atau hal yang harus diperhatikan atau
dikedepankan dalam perencanaan pembangunan karena dampaknya yang
signifikan bagi entitas (daerah/masyarakat) di masa mendatang. Isu
strategis juga diartikan sebagai suatu kondisi/kejadian penting/keadaan
yang apabila tidak diantisipasi, akan menimbulkan kerugian yang lebih
besar atau sebaliknya akan menghilangkan peluang apabila tidak
diamnfaatkan.

Permasalahan umum sektor kehutanan terkait dengan masyarakat


sekitar adalah penguasaan lahan. Hal yang sama juga terjadi di wilayah
KPHL Unit XII Dempo. Dari hasil analisis citra oleh tim BPKH Wilayah II
Palembang menunjukkan bahwa telah terjadi perubahan tutupan lahan dari
kawasan berhutan menjadi lahan pertanian lebih dari 24%, serta hampir
5% kawasan hutan telah menjadi semak belukar.

Potensi wisata yang begitu besar, tidak diimbangi dengan


kemampuan daerah untuk mengelola dan mengembangkan potensi
tersebut. Keterbatasan tersebut tidak hanya pada keterbatasan sumber
dana tetapi juga keterbatasan sumberdaya manusia pengelolanya. KPHL
saat ini hanya memiliki lima orang sumberdaya manusia pengelola. Sarana
dan prasarana yang dimiliki oleh KPHL Unit XII Dempo juga masih belum
tersedia, bagitu juga halnya dengan kendaraan yang dipergunakan untuk
pemantauan.

Potensi wisata yang terdapat dalam kawasan KPHL Unit XII Dempo
saat ini berada dalam pengelolaan instasi lain, namun sebagai pemilik lahan
KPHL Unit XII Dempo tidak mendapatkan kompensasi dalam
pengembangan objek wisata tersebut. Selain itu potensi wisata yang dimiliki

Rencana Pengelolaan Hutan Jangka Panjang KPHL Unit XII Dempo 2016-2025
Deskripsi Kawasan

oleh KPHL Unit XII Dempo juga belum ada keterlibatan investor swasta yang
secara profesional mampu bekerjasama dengan pengelola untuk
memanfaatkan secara optimal sumberdaya pariwisata di wilayah KPHL Unit
XII Dempo.

Beberapa kendala dalam pengelolaan KPHL Unit XII Dempo, antara


lain:

1. Keterbatasan Kuantitas dan Kualitas SDM yang dimiliki oleh


KPHL Unit XII Dempo hingga saat ini hanya Kepala KPH beserta
tiga orang Kepala Resort.
2. Keterbatasan Sarana dan Prasarana untuk mendukung
kelancaran kegiatan KPHL Unit XII Dempo belum tersedia.
Kantor KPHL Unit XII Dempo saat ini masih menumpang di Dinas
Kehutanan dan Perkebunan Kota Pagar Alam, serta sarana dan
prasarana lain seperti kendaraan, peralatan kerja kantor,
maupun alat survey belum tersedia.

Beberapa permasalahan dalam pengelolaan KPHL Unit XII Dempo,


antara lain:

1. Data dan informasi biofisik dan sosial budaya serta Spatial


(keruangan) terkait dengan sumberdaya alam hutan di
wilayah KPHL Unit XII Dempo masih belum lengkap dan belum
sinkron pada berbagai tingkat pemerintahan (pusat, provinsi
dan kabupaten).
2. Rendahnya keterlibatan masyarakat dalam pengelolaan
sumberdaya alam hutan, serta belum optimalnya
pemanfaatan Hasil Hutan Bukan Kayu (HHBK), pemanfaatan
jasa lingkungan dan pengembangan wisata alam.

Rencana Pengelolaan Hutan Jangka Panjang KPHL Unit XII Dempo 2016-2025
Deskripsi Kawasan

3. Belum profesionalnya pengelolaan objek wisata yang berada


dalam kawasan KPHL Unit XII Dempo, antara Dinas Pariwisata
sebagai pengelola dengan KPHL sebagai pemilik kawasan.

Rencana Pengelolaan Hutan Jangka Panjang KPHL Unit XII Dempo 2016-2025
Visi dan Misi adalah landasan pennyelenggaraan program sebuah
instansi atau lembaga. Ada banyak definisi “visi” dan “misi” dari berbagai
ahli, namun secara umum visi merupakan cita-cita atau impian suatu
instansi atau perusahaan ingin dicapai di masa yang akan datang. Atau
dapat dikatakan visi merupakan pernyataan want to be dari instansi.
Sedangkan misi dapat digambarkan sebagai suatu usaha, kegiatan,
tindakan yang strategis yang harus dilaksanakan guna merealisasikan
tercapainya visi.

Visi dan misi pengelolaan KPHL Unit XII Dempo dirumuskan dengan
memperhatikan potensi yang dimiliki oleh kawasan dengan tetap
memperhatikan visi Kota Pagar Alam yang tertuang pada Rencana
Pembangunan Daerah Jangka Menengah Daerah (RPJMD) 2013-2018 serta
visi Dinas Kehutan dan Perkebunan Kota Pagar Alam yang tertuang dalam
Rencana Strategis (Renstra) 2013-2018. Masing-masing visi dan misi dari
dokumen yang terkait dirangkum pada Tabel 3.1.
Visi dan Misi Pengelolaan Hutan

Tabel 3.1 Visi dan misi RPJMD dan Renstra Kota Pagar Alam tahun 2013-
2018

Dokumen Visi Misi

Rencana Terwujudnya 1. Mengembangkan kualitas SDM melalui


Pengelolaan Keseimbangan kesehatan yang adil merata, pendidikan
Jangka Masyarakat Pagar yang terjangkau dan bermutu, menuju
Menengah Alam Yang akhlaq mulia yang dilandasi iman dan
Daerah (RPJMD) Sehat,Cerdas, taqwa
Kota Pagar Alam Berahlaq Mulia, 2. Memperkuat tata kelola pemerintahan
2013-2018 dan Didukung yang baik dan bersih dalam pelayanan
Oleh Ekonomi publik menuju masyarakat aman, damai
Kerakyatan Yang dan demokratis
Tangguh Dalam
3. Memperkuat ekonomi kerakyatan
Lingkungan Yang
dengan basis sumber daya alam,
Alami (SECERAH
agrobisnis dan kelestarian lingkungan
ALAM)
hidup serta menjaga keberlanjutan dan
kelestarian sumberdaya alam untuk
menopang pembangunan yang
berkelanjutan
4. Mengembangkan kepariwisataan Kota
Pagar Alam berbasis wisata alam wisata
budaya yang bercirikan nilai dan
kearifan lokal
5. Mengembangkan infrastruktur dalam
rangka layanan dasar dan daya saing
daerah
Rencana Strategi Terwujudnya 1. Mengoptimalkan pemanfaatan potensi
(Renstra) Dinas Kawasan Hutan sumber daya alam dan sumber daya
Kehutanan dan yang Lestari dan manusia dalam pembangunan
Perkebunan Kota Petani kehutanan dan perkebunan
Pagar Alam Perkebunan yang 2. Meningkatkan partisipasi masyarakat
2013-2018 Sejahtera dalam pembangunan kehutanan dan
perkebunan
3. Meningkatkan pembangunan kehutanan
dan perkebunan yang berbudaya
agribisnis dan agroindustri

Rencana Pengelolaan Hutan Jangka Panjang KPHL Unit XII Dempo


Visi dan Misi Pengelolaan Hutan

Memperhatikan visi pembangunan Kota Pagar Alam dan Dinas


Kehutanan dan Perkebunan, fungsi kawasan hutan sebagai hutan lindung
serta potensi yang dimiliki oleh kawasan maka visi pengelolaan KPHL Unit
XII Dempo adalah:

Rumusan visi KPHL Unit XII Dempo diatas menekankan pada kata
kunci “ekowisata”. Pemahaman istilah ekowisata menjadi penting, dimana
TIES (2015) sebagai suatu masyarakat ekowisata internasional
mendefinisikan ekowisata sebagai perjalanan yang bertanggung jawab ke
daerah-daerah alami yang melindungi lingkungan, meningkatkan
kesejahteraan penduduk setempat, dengan melibatkan pendidikan dan
interpretasi. Pendidikan bukan hanya bagi karyawan namun juga bagi
wisatawan.

Ekowisata menyatukan konservasi, masyarakat, dan perjalanan


yang bertanggungjawab. Ini berarti bahwa pihak yang melaksanakan, yang
terlibat dalam dan pemasaran kegiatan ekowisata harus melaksanakan
prinsip-prinsip ekowisata (TIES 2015), yaitu:

- Meminimalkan dampak fisik, sosial, tingkah laku, dan psikologis.


- Membangun kesadaran dan menghargai lingkungan dan budaya.
- Memberikan pengalaman positif bagi pengunjung dan tuan rumah.
- Memberikan sumbangan langsung bagi konservasi.
- Menghasilkan keuntungan secara finansial bagi masyarakat lokal
dan industri rumahan.

Rencana Pengelolaan Hutan Jangka Panjang KPHL Unit XII Dempo


Visi dan Misi Pengelolaan Hutan

- Memberikan pengalaman yang berkesan bagi pengunjung yang


akan membantu meningkatkan kepekaan pada politik, lingkungan,
dan iklim sosial.
- Mendesain, membangun dan mengelola fasilitas yang memberikan
dampak minim.
- Menghargai hak dan kepercayaan masyarakat pribumi

Pengembangan ekowisata menjadi pilihan yang dimunculkan dalam


visi KPHL Unit XII Dempo. Selain kesesuaian dengan visi pembangunan Kota
Pagar Alam dan Dinas Kehutanan dan Perkebunan, pemilihan kata kunci
“ekowisata” juga didasarkan pada pertimbangan:

1. Kelompok hutan KPHL Unit XII Dempo sepenuhnya merupakan


kategori Hutan Lindung, yang mana pemanfaatan kawasan hutan
hanya terbatas pada pemanfaatan jasa lingkungan dan hasil hutan
bukan kayu.
2. Potensi KPHL Unit XII Dempo dan Kota Pagar Alam memiliki lanskap
yang unik di Propinsi Sumatera Selatan dengan topografi yang
berbukit, udara yang sejuk dan segar, hamparan perkebunan teh,
serta kekayaan sejarah yang tinggi. Dengan karakteristik lanskap
yang unik KPHL Unit XII Dempo memanfaatkan lanskap sekitar atau
diluar wilayah KPH (borrowing landscape) dalam pembangunan.
3. Luas wilayah KPHL Unit XII Dempo mencapai 40% dari luas Kota
Pagar Alam. Dalam hal ini, KPHL Unit XII Dempo dituntut dapat
menjadi penyumbang dalam pembangunan Kota Pagar Alam serta
dapat meningkatkan kesejahteraan masyarakat dengan tetap
menjaga kelestarian hutan. KPHL Unit XII Dempo juga diharapakan
dapat merubah pola interaksi masyarakat sekitar dengan hutan dari
sektor pertanian ke sektor jasa.

Dari penjelasan diatas, maka penjabaran visi KPHL Unit XII Dempo
dapat dijelaskan sebagai berikut:

Rencana Pengelolaan Hutan Jangka Panjang KPHL Unit XII Dempo


Visi dan Misi Pengelolaan Hutan

1. KPHL Unit XII Dempo menekankan pada pemanfaatan jasa


lingkungan terutama pada sektor ekowisata,
2. Berdasarkan pada prinsip pengembangan ekowisata, bahwa KPHL
Unit XII Dempo melibatkan masyarakat sebagai subjek dalam
pembangunan ekowisata yang akan memberikan sumbangan
finansial secara langsung bagi peningkatan kesejahateraan
masyarakat,
3. Pengembangan ekowisata dengan memperhatikan kelestarian
lingkungan sekitar, dengan demikian kawasan hutan KPHL Unit XII
Dempo tetap lestari sehingga fungsi lindung tetap terjaga,
4. Usaha pengembangan ekowisata memberikan pendidikan bagi
wisatawan terhadap alam, ekosistem, keunikan biologi, dan
kehidupan sosial di dalam dan sekitar KPHL Unit XII Dempo.

Untuk mencapai visi yang dicita-citakan, maka ditetapkan rumusan


misi KPHL Unit XII Dempo, sebagai berikut:

1. Meningkatan kualitas sumberdaya manusia pengelola

Usaha untuk meningkatkan kualitas sumberdaya manusia menjadi


hal utama, SDM yang handal dapat memberikan sumbang saran kreatif
dalam setiap program yang dilaksanakan oleh KPHL Unit XII Dempo. Selain
itu pemahaman yang dimiliki oleh SDM KPHL Unit XII Dempo dapat tetap
menjaga visi berjalan dengan baik.

2. Menginventarisasi dan mengoptimalkan pemanfaatan sumberdaya


alam

Potensi kawasan hutan KPHL Unit XII Dempo masih belum terdata
sepenuhnya, sehingga diperlukan pendataan detil untuk dapat
dimanfaatkan secara optimal. Inventarisasi dan optimalisasi pemanfaatan

Rencana Pengelolaan Hutan Jangka Panjang KPHL Unit XII Dempo


Visi dan Misi Pengelolaan Hutan

sumberdaya alam tidak hanya terbatas pada jasa lingkungan namun juga
pada sektor potensi hasil hutan bukan kayu.

3. Merencanakan dan mengembangkan potensi ekowisata

Berdasarkan hasil dari inventarisasi maka dapat disusun


perencanaan dan pengembangan ekowisata di KPHL Unit XII Dempo.
Semua potensi yang dimiliki oleh kawasan hutan KPHL Unit XII Dempo
diarahkan untuk pengembangan ekowisata sehingga para pengunjung
dapat merasakan (sense of place) saat berada/mengunjungi KPHL Unit XII
Dempo yang tidak didapatkan saat mengunjungi objek ekowisata di tempat
lain. Tidak hanya potensi pemandangan lanskap KPHL Unit XII Dempo,
namun juga pemandangan di luar kawasan akan dimanfaatkan sebagai
borrowing landscape bagi pengembangan ekowisata dalam kawasan.
Budaya masyarakat sekitar hingga aktifitas keseharian warga dalam
pemanfaatan dan pengolahan hasil hutan bukan kayu juga menjadi bagian
yang tidak terpisahkan dalam pengembangan kegiatan ekowisata.

4. Mengoptimalkan peran stakeholder dan kerjasama dengan pihak


ketiga

Peran stakeholder menjadi salah satu unsur vital dalam


pembangunan ekowisata di KPHL Unit XII Dempo. Terjalinnya hubungan
kerja yang baik antara instansi yang terlibat baik di daerah maupun pusat
sangat dibutuhkan untuk menyatukan persepsi dan tata hubungan kerja.

Modal yang besar dibutuhkan untuk membangun sarana dan


prasarana yang ramah lingkungan, jalan setapak hingga ecolodge.
Pembangunan sarana dan prasarana ini harus sesuai dengan kaidah alam,
dengan tetap memperhatikan lingkungan sekitar dan menghargai budaya
setempat.

Rencana Pengelolaan Hutan Jangka Panjang KPHL Unit XII Dempo


Visi dan Misi Pengelolaan Hutan

Masyarakat menjadi salah satu perhatian penting dalam


pembangunan dan pengembangan ekowisata di KPHL Unit XII Dempo yang
terlibat sebagai subjek, hal ini mengisyaratkan bahwa setiap program yang
dilakukan melibatkan masyarakat, baik sebagai guide, interpreter, penjaga,
hingga pedagang sekitar. Pengembagan ekowisata akan merangsang
tumbuhnya sektor lainnya (multiplier effects), seperti pada sektor
pertanian, perikanan/perternakan, jasa (penginapan), hingga perdagangan.
Pelibatan masyarakat dan dampak langsung yang diterima oleh masyarakat
dari keberadaan KPHL Unit XII Dempo akan membawa masyarakat merasa
memiliki dan menjaga kawasan hutan agar tetap lestari.

Pengelolaan KPHL Unit XII Dempo mempunyai tujuan dalam


pencapaian visi dan misi yaitu sebagai berikut:

1) Peningkatan kapasitas SDM pengelola KPHLL Unit XII Dempo,


sehingga terwujudnya tata kelola KPHL Unit XII secara
optimal, transparan, adil dan bertanggung jawab.
2) Terdatanya potensi kawasan hutan KPHL Unit XII Dempo
secara detil dan lengkap untuk pemanfaatan sumberdaya
alam dengan tepat dan berkelanjutan.
3) Peningkatan pendapatan dan kesejahteraan masyarakat
melalui usaha untuk mengalihkan pendapatan masyarakat
dari sektor pertanian ke sektor jasa.
4) Terjalinnya hubungan yang sinergis antara stakeholder, serta
kerjasama dengan pihak ketiga untuk menyukseskan program
pengembangan ekowisata, dan menumbuhkan usaha-usaha
pendukung.

Rencana Pengelolaan Hutan Jangka Panjang KPHL Unit XII Dempo


Visi dan Misi Pengelolaan Hutan

Tabel 3.2 Korelasi hubungan antara Visi, Misi, dan Tujuan KPHL Unit XII
Dempo

Visi Misi Tujuan

DEMPO 1 Meningkatan 1.1 Meningkatan kapasitas SDM


MENJADI kualitas pengelola KPHL Unit XII Dempo
DAERAH sumberdaya
1.2 Mewujudkan tata kelola KPHL
TUJUAN manusia pengelola
Unit XII secara optimal,
EKOWISATA
transparan, adil dan
DI
bertanggung jawab
PROVINSI
SUMATERA 2 Menginventarisasi 2.1 Mendata potensi kawasan
SELATAN dan hutan KPHL Unit XII Dempo
TAHUN mengoptimalkan sacara detil dan lengkap
2025 pemanfaatan
2.2 Memanfaatkan sumberdaya
sumberdaya alam
alam dengan tepat dan
berkelanjutan
3 Merencanakan dan 3.1 Meningkatkan pendapatan dan
mengembangkan kesejahteraan masyarakat
potensi ekowisata
3.2 Usaha untuk mengalihkan
pendapatan masyarakat dari
sektor pertanian ke sektor jasa
4 Mengoptimalkan 4.1 Menciptakan hubungan yang
peran stakeholder sinergis antara stakeholder
dan kerjasama
4.2 Melakukan kerjasama dengan
dengan pihak
pihak ketiga untuk
ketiga
menyukseskan program
pengembangan ekowisata,
serta menumbuhkan usaha-
usaha pendukung.

Rencana Pengelolaan Hutan Jangka Panjang KPHL Unit XII Dempo


Berdasarkan uraian pada bab-bab sebelumnya maka dapat ditarik
kesimpulan bahwa KPHL Unit XII Dempo merupakan bagian ekosistem
penting Kota Pagar Alam. Kawasan hutan lindung ini menjadi penyangga
kehidupan bagi Kota agar Alam, yang memegang peranan sebagai penyedia
berbagai jasa lingkungan, seperti air, dan wisata. Namun, dibalik peluang
yang dimiliki, KPHL Unit XII Dempo yang memiliki luas lebih dari 40% dari
luas wilayah Kota Pagar Alam, menempatkan KPHL Unit XII Dempo berada
pada posisi rentan terhadap berbagai tekanan terutama dari masyarakat.
Kebutuhan lahan untuk pemukiman dipastikan akan meningkat, mengingat
bahwa perkembangan manusia mengikuti deret ukur, sedangkan luas lahan
adalah tetap. Selain untuk pemukiman, tekanan akan kebutuhan lahan juga
dipastikan semakin meningkat karena mayoritas masyarakat Kota Pagar
Alam khususnya yang berada di sekitar hutan lindung menggantungkan
hidup pada kegiatan pertanian.

Berbagai peluang dan tantangan di atas menuntut KPHL Unit XII


Dempo dapat berperan aktif dalam pembangunan Kota Pagar Alam dengan
memanfaatkan potensi kawasan yang dimiliki. Dengan mempertahankan
hutan agar tetap lestari, KPHL Unit XII Dempo dituntut untuk dapat
mensejahterakan masyarakat sekitar hutan, serta dapat memberikan PAD
bagi Kota Pagar Alam. KPHL Unit XII Dempo juga dituntut untuk dapat
Analisa dan Proyeksi

menjadi leading sector dalam menyediakan lapangan pekerjaan alternatif di


sektor jasa bagi masyarakat Kota Pagar Alam khususnya yang bermukim di
sekitar hutan.

Untuk mengatasi permasalahan dan tindakan yang akan dilakukan


KPHL Unit XII Dempo, perlu menentukan langkah-langkah strategis melalui
Analisis Lingkungan Internal (ALI) dan Analisis Lingkungan Eksternal (ALE),
yang lebih dikenal dengan Analisis SWOT (Strength, Weakness,
Opportunity, Threats). Berdasarkan analisis lingkungan internal dan
ekternal tersebut, diperoleh langkah-langkah strategi yang dirumuskan
sesuai analisis SWOT dapat diuraikan sebagai berikut (Rangkuti 2000):

 Strategi SO: Strategi menggunakan kekuatan dengan


memanfaatkan peluang
 Strategi ST: Strategi memanfaatkan kekuatan untuk mengatasi
ancaman
 Strategi WO: Strategi meminimalkan kelemahan untuk
memanfaatkan peluang
 Strategi WT: Strategi meminimalkan kelemahan dan menghindari
ancaman

Berdasarkan hasil identifikasi lingkungan internal dan eksternal


yang telah dikumpulkan, kegiatan-kegiatan strategis dapat dirumuskan
sebagaimana tercantum pada Tabel 4.1.

Rencana Pengelolaan Hutan Jangka Panjang KPHL Unit XII Dempo 2016-2025
Analisa dan Proyeksi

Tabel 4.1 Analisis SWOT Pengembangan KPHL Unit XII Dempo


Analisis Kekuatan (S) Kelemahan (W)
Lingkungan
1) Kelembagaan jelas 1) Kuantitas dan kualitas SDM minim
Internal
2) Potensi lanskap alam yang unik di 2) Sarana Prasarana belum memadai
Propinsi Sumatera Selatan 3) Sistem pendaanaan belum ada
3) Potensi jasa lingkungan (Hidrologi, 4) Pengelolaan objek wisata dalam kawasan
Analisis Biodiversity, Karbon, View belum profesional antara KPHL (Dinas
Lingkungan Lanskap) Kehutanan dan Perkebunan) dan Dinas
Eksternal 4) Potensi HHBK Pariwisata
5) Potensi KPH belum terdata dengan detil
Peluang (O) Strategi S-0 Strategi W-O
1) Trend perkembangan 1) Pengembangan wisata berbasis 1) Peningkatan kualitas SDM melalui
wisata alternatif yang alam dan pendidikan pelatihan dan penambahan SDM, untuk
berbasis alam 2) Pemanfaatan dan pengembangan menangkap peluang pengembangan
2) Pengembangan jasa potensi HHBK untuk ekowisata dan jasa lingkungan
lingkungan yang mensejahterakan masyarakat 2) Membangun komunikasi serta membuat
didukung kebijakan 3) Pengembangan jasa lingkungan MOU dengan Dinas Pariwisata dalam
pemerintah untuk mensejahterakan pengelolaan objek wisata yang berada
3) Dukungan dari masyarakat serta dalam kawasan hutan
parapihak mempertahankan hutan lestari 3) Menggaet investor dalam pembangunan
dan pengembangan program KPHL Unit
XII Dempo
4) Kerjasama dengan Perguruan
Tinggi/Peneliti/LSM menggali potensi
KPHL Dempo dengan lebih detil
Ancaman (T) Strategi S-T Strategi W-T
1) Ketergantungan 1) Penetapan KPHL Unit XII Dempo 1) Dengan merekrut masyarakat lokal
masyarakat terhadap dapat memberikan ketegasan sebagai tenaga pengelola KPH serta
alam yang tinggi untuk batas hutan dan pengelolaan peningkatan kualitas SDM dapat
menunjang kehidupan hutan bersama masyarakat mengurangi resiko konflik sekaligus
melalui kegiatan 2) Pengembangan ekowisata akan meningkatkan pengakuan tata batas
pertanian merangsang tumbuhnya sektor kawasan oleh masyarakat
2) Tidak ada pengakuan lain serta dapat memberikan 2) Pelibatan masyarakat dalam program dan
tata batas dan diversifikasi lapangan pekerjaan kegiatan pengembangan wisata, dapat
penguasaan lahan oleh bagi masyarakat sekitar. mengurangi ketergantungan masyarakat
masyarakat 3) Pengembangan ekowisata akan terhadap lahan untuk pertanian
3) Rendahnya pendidikan merangsang tumbuhnya sektor 3) Dengan peningkatan sarana, parasarana
dan taraf hidup lain serta dapat memberikan dan operasional KPH, dapat dilakukan
masyarakat di sekitar diversifikasi lapangan pekerjaan patroli dan operasi rutin untuk mencegah
KPH bagi masyarakat sekitar berbagai ancaman

Rencana Pengelolaan Hutan Jangka Panjang KPHL Unit XII Dempo 2016-2025
Analisa dan Proyeksi

Pengelolaan hutan secara lestari dalam konteks KPH adalah dapat


menjamin keberlangsungan ekologi, ekonomi dan sosial, yang diharapkan
dapat meminimalisasi masalah degradasi dan deforestasi hutan, masalah
lingkungan dan sosial di KPH. Penerapan prinsip-prinsip kelestarian dalam
pembangunan KPH ini terutama dalam konteks operasionalisasinya yang
dapat berimplikasi pada terjaganya ekosistem hutan secara optimal. Prinsip-
prinsip kelestarian pembangunan KPH tersebut meliputi kelestarian ekologi,
kelestarian ekonomi dan kelestarian sosial.

Gambar 4.1 Tiga prinsip kelestarian di KPH

Prinsip kelestarian ekologi dalam pembangunan KPH berkaitan


dengan kegiatan pengelolaan hutan di KPH yang tetap memperhatikan
kelestarian fungsi lingkungan guna mendukung keberlanjutan ekosistem
hutan sehingga dapat mengoptimalkan manfaat sosial ekonomi masyarakat
sekitar hutan. Hutan yang lestari mampu memberikan fungsi sistem
penyangga kehidupan antara lain merupakan pengatur tata air, menjaga
kesuburan tanah, mencegah erosi, menjaga keseimbangan iklim mikro,

Rencana Pengelolaan Hutan Jangka Panjang KPHL Unit XII Dempo 2016-2025
Analisa dan Proyeksi

penghasil udara bersih, menjaga siklus makanan serta sebagai tempat


pengawetan keanekaragaman hayati dan ekosistemnya.

Prinsip kelestarian ekonomi dalam pembangunan KPH berkaitan


dengan keberlanjutan usaha kehutanan di KPH, namun tetap
memperhatikan kelestarian ekologi dan sosial. Kawasan hutan merupakan
produsen barang dan jasa baik yang terukur seperti hasil hutan non kayu,
maupun yang tidak terukur seperti jasa lingkungan (hidrologis,
kenaekaragaman hayati, simpanan dan serapan karbon, keindahan
lanskap).

Prinsip kelestarian fungsi sosial dalam pembangunan KPH berkaitan


dengan terjaminnya keberlangsungan manfaat sosial sumber daya hutan
bagi para pemanfaat hutan dengan melibatkan partisipasi aktif para
pemanfaat dalam pengelolaan hutan. Kawasan hutan sebagai sumber
penghidupan dan lapangan kerja serta kesempatan berusaha bagi sebagian
masyarakat terutama yang hidup di dalam dan sekitar hutan, serta untuk
kepentingan pendidikan dan penelitian demi pengembangan ilmu
pengetahuan dan teknologi.

Berdasarkan hasil analisis SWOT diatas, strategi yang muncul dari


tiap kuadran dapat dikelompokkan sebagai berikut:

1. Pemantapan Kelembagaan KPHL Unit XI Dempo


2. Pemanfaatan dan pengembangan potensi KPHL
3. Optimalisasi peran stakeholder dan meningkatkan partisipasi
masyarakat dalam kegiatan pengelolaan hutan

Rencana Pengelolaan Hutan Jangka Panjang KPHL Unit XII Dempo 2016-2025
Analisa dan Proyeksi

Sebagai KPH Lindung, pemanfaatan potensi yang dimiliki oleh KPHL


Unit XII Dempo terbatas pada pemanfaatan HHBK dan Jasa Lingkungan.
Hal ini untuk menjaga terjaganya fungsi ekologi, fungsi ekonomi, dan fungsi
sosial.

Tabel 4.2 Proyeksi Kondisi KPHL Unit XII Dempo Sepuluh Tahun yang
Akan Datang

Kelompok Proyeksi 10 Tahun Capaian


No Kondisi Saat Ini
Strategi Akan Datang Kelestarian

1 Pemantapan a Kuantitas dan kualitas Tersedianya SDM yang Ekologi,


Kelembagaan SDM minim memadai dari tenaga Ekonomi,
KPHL Unit XI ahli maupun masyarakat Sosial
Dempo lokal
b Tidak tersedia sarana Sarana prasaranan Ekologi
prasana dalam tersedia dalam jumlah
pengelolaan yang cukup
c Tata batas yang belum Batas wilayah KPH telah Ekologi
jelas tertata secara utuh
d Belum ada sosialisasi Masyarakat memahami Ekologi
tata batas pada dan mengakui batas KPH
masyarakat
e Belum adanya Dokumen perencanaan Ekologi,
dokumen perencanaan telah tersedia Ekonomi,
yang memadai Sosial
2 Pemanfaatan a KPHL Unit XII Dempo KPHL Unit XII Dempo Ekologi,
dan belum melakukan telah menjadi tujuan Ekonomi,
pengembangan pengelolaan ekowisata ekowisata di Propinsi Sosial
potensi KPHL Sumatera Selatan
b Beberapa objek wisata Pengelolaan objek Ekologi,
di KPHL Unit XII wisata di KPHL Unit Ekonomi,
Dempo telah dikenal Dempo dilakukan secara Sosial
namun dikelola oleh profesional sehingga
pihak lain memberikan kontribusi
bagi kesejahteraan
masyarakat dan
terjaganya kelestarian
hutan
c Tidak tersedia data Tersedia data potensi Ekologi,
kuantitatif potensi HHBK dan jasa Ekonomi,
HHBK dan potensi jasa lingkungan (stok karbon, Sosial
lingkungan yang hidrologis,
dimiliki KPHL keanekaragaman hayati,

Rencana Pengelolaan Hutan Jangka Panjang KPHL Unit XII Dempo 2016-2025
Analisa dan Proyeksi

Kelompok Proyeksi 10 Tahun Capaian


No Kondisi Saat Ini
Strategi Akan Datang Kelestarian
keindahan lanskap) yang
dimiliki oleh kawasan,
serta ditemukan potensi
unggulan

d Potensi HHBK dan jasa Telah termanfaatkan Ekologi,


lingkungan belum potensi HHBK dan jasa Ekonomi,
dikelola dengan baik lingkungan dengan Sosial
optimal
e Dokumen perencanaan Tersusun dokumen Ekologi,
belum tersedia perencanaan dan Ekonomi,
pengembangan potensi Sosial
KPHL Unit XII Dempo
f Hampir 30 % wilayah Penutupan vegetasi Ekologi
KPHL adalah kawasan hutan meningkat
pertanian dan semak
belukar
3 Kerjasama a Partisipasi stakeholder Meningkatnya partisipasi Sosial,
parapihak dan masih rendah dari stakeholder Ekonomi,
meningkatkan Ekologi
partisipasi
b Belum ada investor KPHL Unit XII Dempo Sosial,
masyarakat
yang terlibat dalam menjadi tujuan potensial Ekonomi,
dalam kegiatan
pembangunan KPHL bagi investor untuk Ekologi
pengelolaan
Unit XII Dempo menanam modal
hutan
c Pelibatan masyarakat Masyarakat terlibat aktif Ekologi,
dalam pengelolaan sebagai subjek dalam Ekonomi,
hutan belum optimal pengelolaan hutan lestari Sosial
dan program ekowisata
d Kelembagaan Kelembagaan kelompok Sosial
kelompok belum petani berjalan baik dan
berjalan dengan baik dievaluasi secara
periodik

Pemantapan kelembagaan merupakan hal utama yang harus


dilakukan oleh KPHL Unit XII Dempo, karena disini lah mesin KPH yang
sesungguhnya bekerja. Pada tataran aspek legal, KPHL Unit XII Dempo

Rencana Pengelolaan Hutan Jangka Panjang KPHL Unit XII Dempo 2016-2025
Analisa dan Proyeksi

dibentuk berdasarkan Keputusan Menteri Kehutanan Nomor SK.


76/Menhut-II/2010 tentang Penetapan Wilayah Kesatuan Pengelolaan
Hutan Lindung (KPHL) dan Kesatuan Pengelolaan HUtan Produksi (KPHP)
Provinsi Sumatera Selatan, dengan Pembentukan Unit Pelaksana Teknis
Dinas Kesatuan Pengelolaan Hutan Lindung (UPTD-KPHL) Unit XII Dempo
mengacu pada Peraturan Walikota Pagar Alam No 41 tahun 2014.

Namun, berdasarkan tinjauan saat ini, kondisi SDM KPHL Unit XII
Dempo hanya memiliki 5 (lima) personel yaitu, Kepala KPH, Kepala SubBag
TU, serta 3 (tiga) kepala resort. Kuantitas SDM yang dimiliki sangat tidak
memadai untuk mengelola KPHL yang seluas lebih dari 26 ribu hektar,
dibutuhkan banyak personel untuk melakukan monitoring serta berbagai
kegiatan lainnya dalam pengelolaan hutan. Penyediaan sejumlah SDM yang
handal menjadi faktor kunci akan keberhasilan pengelolaan hutan yang
lestari menuju masyarakat yang sejahtera.

Selain itu, KPHL unit XII Dempo belum tersedia sarana dan
prasarana dalam menunjang kegiatan pengelolaannya, tata batas yang
belum jelas dan belum optimalnya sosialisasi kepada masyarakat sekitar,
serta belum tersedianya dokumen perencanaan yang memadai, menjadikan
kondisi KPHL Unit XII Dempo ini belum dapat berjalan dengan optimal.

Pada 10 (sepuluh) tahun kedepan diharapkan semua permasalahan


kelembagaan diatas telah teratasi. Sasaran dari kemantapan kelembagaan
adalah dapat dipenuhinya ketiga fungsi hutan, terutama fungsi ekologi.

Secara kelembagaan, KPHL Unit XII Dempo masih baru. Data-data


potensi yang dimiliki oleh kawasan belum tersedia dengan lengkap dan
detil. Ketiadaan data ini menyebabkan terhambatnya dalam merencanakan
program kegiatan dengan tepat.

Rencana Pengelolaan Hutan Jangka Panjang KPHL Unit XII Dempo 2016-2025
Analisa dan Proyeksi

Secara umum kondisi saat ini pada KPHL Unit XII Dempo adalah
tidak tersedianya data kuantitatif potensi HHBK dan potensi jasa
lingkungan. Mengingat keberadaan KPH Lindung tidak dapat memanfaatkan
potensi kayu, sehingga pemanfaatan potensi HHBK dan jasa lingkungan
yang terdapat dalam kawasan merupakan satu-satunya hal yang dapat
dilakukan dalam pembangunan KPHL Unit XII Dempo. Diharapkan dari
tahun ketahun telah tersedia data potensi HHBK dan jasa lingkungan yang
detil serta 10 (sepuluh) tahun kedepan telah terlaksananya program
pemanfaatan potensi HHBK dan jasa lingkungan.

KPHL Unit XII Dempo yang secara administratif berada dalam Kota
Pagar Alam yang dikenal sebagai atap Provinsi Sumatera Selatan. Selain
menawarkan udara yang sejuk, juga memiliki objek wisata yang
diunggulkan oleh Pemerintah Administrasi Kota Pagar Alam, yaitu objek
wisata Tugu Rimau dan Pendakian Gunung Dempo. Tugu Rimau merupakan
titik tertinggi di Kota Pagar Alam yang dapat dicapai oleh kendaraan
bermotor, sehingga akses menuju objek wisata ini tergolong mudah.
Keberadaan objek wisata Tugu Rimau memanfaatkan panorama Kota Pagar
Alam serta panorama Perkebunan Teh, konsep wisata ini lebih dikenal
sebagai borrowing landscape, sehingga eksistensi objek wisata Tugu Rimau
sangat dipengaruhi oleh lanskap Kota Pagar Alam dan Perkebunan Teh.
Keberadaan objek wisata ini belum mampu memberikan manfaat bagi
pemilik kawasan yaitu KPHL Unit XII Dempo, sehingga diharapkan dalam
10 (sepuluh tahun) kedepan telah adanya bentuk pengelolaan yang
profesional yang mampu memberikan manfaat tidak hanya bagi KPHL Unit
XII Dempo, namun juga bagi masyarakat sekitar.

Pengembangan KPHL Unit XII Dempo sebagai daerah tujuan


ekowisata tidak hanya bertumpu pada objek fisik semata, namun kunjungan
wisatawan ke KPHL Unit XII Dempo hendaklah memberikan
kesan/pengalaman bagi pengunjung. Keseharian masyarakat sekitar hutan

Rencana Pengelolaan Hutan Jangka Panjang KPHL Unit XII Dempo 2016-2025
Analisa dan Proyeksi

beserta interaksinya dengan alam menjadi perhatian bagi KPHL Unit XII
Dempo untuk dikelola sebagai potensi ekowisata.

Pengembangan sektor pariwisata (ekowisata) dan HHBK pada


kawasan hutan KPHL Unit XII Dempo diharapkan juga dapat menjadi
sumber PAD tertinggi bagi Kota Pagar Alam. Untuk itu diperlukan adanya
perencanaan yang matang dalam pengelolaan hutan untuk kegiatan
ekowisata dan pemanfaatan HHBK.

Untuk menjaga kawasan hutan tetap lestari yang dapat


memberikan fungsi lindung, tutupan lahan berhutan diharapkan dapat
meningkat tiap tahun seiring dengan pergeseran mata pencaharian
masyarakat sekitar dari bertani ke sektor jasa, yaitu pemanfaatan dan
pengolahan HHBK serta pengembangan wisata.

Sasaran utama dari strategi Pemanfaatan dan Pengembangan


Potensi KPHL Unit XII Dempo adalah tercapainya kelestarian ekonomi yang
juga diikuti dengan semakin meningkatnya taraf hidup masyarakat sekitar.
Dengan demikian diharapkan kelestarian ekologi dan sosial juga meningkat.
Hal ini dapat dicapai mengingat makin berkurangnya interaksi masyarakat
dangan kawasan berupa pemanfaatan lahan untuk pertanian, namun
pemanfaatan kawasan hutan difokuskan pada sebagai pemanfaatan jasa
serta untuk kepentingan pendidikan dan penelitian demi pengembangan
ilmu pengetahuan dan teknologi.

Untuk mencapai pengelolaan yang optimal sesuai dengan hasil yang


diharapkan, pengembangan KPHL Unit XII Dempo tidak terlepas dari
partisipasi banyak pihak yang terkait. Bentuk keterkaitan tersebut dapat
saja karena fungsi, struktur, maupun kesamaan kepentingan dan tujuan.

Rencana Pengelolaan Hutan Jangka Panjang KPHL Unit XII Dempo 2016-2025
Analisa dan Proyeksi

Dukungan dari berbagai para pihak akan memudahkan pencapaian target


dan mempercepat penyelesaian masalah dan kendala yang dihadapi.

Sebagai KPH yang baru berjalan, partisipasi parapihak sudah


dipastikan masih rendah, selain itu pelibatan masyarakat juga belum
optimal dalam pengelolaan hutan. Sehingga dukungan dan keterlibatan dari
para pihak menjadi salah satu prioritas penting dalam pengelolaan KPHL
Unit XII Dempo. Diproyeksikan adanya koordinasi dan/atau kerjasama
dengan masing-masing maupun secara bersamaan dengan stakeholders
minimal 1 kali dalam setiap tahun atau 10 kali dalam periode 2016–2025.
Secara umum parapihak yang terlibat dengan tata kelola KPHL Unit XII
Dempo disajikan pada tabel berikut.

Tabel 4.3 Parapihak yang terlibat dalam pembangunan KPHL Unit XII
Dempo

No Parapihak
1. Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan
2. Kementerian Kehutanan dan Lingkungan Hidup (BPKH Wil II,
BKSDA, BPPHP, BPTH, BLK, BPDAS MUSI)
3. Dinas Kehutanan Provinsi Sumatera Selatan
4. Dinas Kehutanan dan Perkebunan Kota Pagar Alam
5. Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kota Pagar Alam
6. Badan Lingkungan Hidup Provinsi Sumatera Selatan
7. Badan Lingkungan Hidup Kota Pagar Alam
8. Dinas Perdagangan dan Perindustrian Provinsi Sumatera Selatan
9. Dinas Perdagangan dan Perindustrian Kota Pagar Alam
10. Dinas Perhubungan Provinsi Sumatera Selatan
11. Dinas Perhubungan Kota Pagar Alam
12. Badan Kepegawaian dan Diklat Provinsi Sumatera Selatan
13. Badan Kepegawaian dan Diklat Kota Pagar Alam
14. Pemerintahan Kecamatan Sekitar KPHL Unit XII Dempo
15. Pemerintahan Desa Sekitar KPHL Unit XII Dempo
16. Kepolisian Kota Pagar Alam

Rencana Pengelolaan Hutan Jangka Panjang KPHL Unit XII Dempo 2016-2025
Analisa dan Proyeksi

No Parapihak
17. TNI Kota Pagar Alam
18. Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) Lokal, Nasional, Internasional

Rencana Pengelolaan Hutan Jangka Panjang KPHL Unit XII Dempo 2016-2025
Kegiatan inventarisasi adalah kegiatan pengumpulan informasi
berupa data mengenai potensi, karakteristik, bentang alam, kondisi sosial
ekonomi, serta informasi lainnya untuk tujuan tertentu. Dalam konteks
pembangunan KPHL Unit XII Dempo, inventarisasi ditujukan untuk
mendapatkan data dan informasi yang berkaitan dengan potensi
sumberdaya hutan. Inventarisasi potensi umumnya dilakukan melalui
tahapan kegiatan eksplorasi dan survei lapangan.

Kegiatan inventarisasi menjadi sangat penting untuk dilakukan


terutama untuk mengetahui potensi jasa lingkungan, mengingat visi KPHL
Unit XII Dempo adalah “Menjadi Daerah Tujuan Ekowisata Di Provinsi
Sumatera Selatan”. Pengembangan ekowisata di KPHL Unit XII Dempo tidak
hanya pada pemanfaatan view lanskap, namun semua kegiatan dalam
pengelolaan KPHL Unit XII Dempo dapat menjadi objek bagi
pengembangan ekowisata, baik itu kegiatan pemanfaatan dan pengolahan
HHBK hingga kegiatan reboisasi lahan kritis dalam wilayah KPHL Unit XII
Dempo.
Rencana Kegiatan

Rencana kegiatan inventarisasi dilakukan secara berkala mencakup


penataan hutan dan inventarisasi sumber daya hutan. Kegiatan
inventarisasi di KPHL Unit XII Dempo dilakukan pada tahuan 2016 dan 2021
yang diarahkan untuk hal-hal sebagai berikut :

1) Inventarisasi potensi jasa lingkungan


2) Inventarisasi potensi non-kayu
3) Inventarisasi potensi satwa
4) Inventarisasi potensi kayu
5) Inventarisasi sosial budaya

Kegiatan tata hutan bertujuan untuk mengetahui batas defenitif


kawasan hutan agar memperoleh kepastian hukum wilayah kelola. Kegiatan
ini direncanakan akan dilaksanakan dari tahun 2016 hingga tahun 2018,
sedangkan pemeliharaan batas direncanakan dilakukan setiap dua tahun
sekali. Hal yang sangat penting untuk dilakukan adalah sosalisasi pada
masyarakat desa sekitar hutan sehingga batas-batas kawasan hutan
diketahui jelas dan tidak menimbulkan persepsi yang berbeda terutama bagi
para pihak yang terkait langsung dengan kawasan hutan. Secara umum,
kegiatan tata hutan dikelompokkan menjadi 4 (empat) kelompok besar,
yaitu:

1) Tata batas luar


2) Penataan blok dan petak
3) Rekonstruksi dan pemeliharaan batas
4) Sosialisasi batas kawasan hutan

Rencana Pengelolaan Hutan Jangka Panjang KPHL Unit XII Dempo 2016-2025
Rencana Kegiatan

Wilayah tertentu merupakan wilayah hutan yang situasi dan


kondisinya belum menarik bagi pihak ketiga untuk mengembangkan
pemanfaatannya. Wilayah ini berada di luar areal izin pemanfaatan dan
penggunaan kawasan hutan dengan luas areal 24.221,25 Ha yang meliputi
Blok HL Pemanfaatan pada kelompok hutan Bukit Dingin dan kelompok
hutan Bukit Jambul Gunung Patah.

Gambar 5.1 Peta wilayah tertentu KPHL Unit XII Dempo.

Dalam mengoperasionalkan wilayah tertentu, KPH akan mengacu


pada Peraturan Menteri Kehutanan RI nomor: P.47/MenhutII/2013 tentang
pedoman kriteria dan standar pemanfaatan hutan di wilayah tertentu pada
KPHL dan KPHP. Kegiatan pemanfaatan hutan pada wilayah tertentu di
kawasan KPHL Unit XII Dempo difokuskan pada:

a. Pemanfaatan potensi ekowisata

Rencana Pengelolaan Hutan Jangka Panjang KPHL Unit XII Dempo 2016-2025
Rencana Kegiatan

b. Pemanfaatan HHBK
c. Penanaman Tanaman Jenis MPTS di Blok Pemanfatan

Pemanfaatan hutan oleh Pengelola KPHL Unit XII Dempo dilakukan


secara sendiri maupun bekerjasama dengan pihak lain. Apabila dirasakan
telah cukup memiliki kemampuan baik dari sisi sumber daya maupun
sumber dana maka pengelola dapat melakukannya secara mandiri. Namun
apabila belum memungkinkan untuk melakukannya sendiri maka dapat
bekerja sama dengan pihak lain dalam skema yang dimungkinkan oleh
peraturan perundangan yang berlaku.

Tabel berikut merupakan kelas perusahaan yang akan


direncanakan di KPHL Unit XII Dempo pada blok pemanfaatan.

Tabel 5.1 Kelas perusahaan yang akan direncanakan di KPHL Unit XII
Dempo

Blok Tata Hutan Kelas Hutan Kelas Perusahaan

Blok Inti Perlindungan kawasan


Blok Pemanfaatan Jasa 1) Pemanfaatan air dan alirannya
Lingkungan
2) Pemanfaatan potensi simpanan
dan serapan karbon
3) Wisata alam
Pengembangan 1) Usaha rotan
HHBK
2) Usaha pengembangan madu alam
3) Usaha pengembangan kemiri
4) Usaha pengembangan pala
5) Usaha pengembangan petai
6) Usaha pengembangan jengkol
7) Usaha pengembangan aren
8) Pengolahan kopi

Mengingat visi dari KPHL Unit XII Dempo adalah menjadi daerah
tujuan ekowisata sehingga semua program kegiatan yang direncanakan di

Rencana Pengelolaan Hutan Jangka Panjang KPHL Unit XII Dempo 2016-2025
Rencana Kegiatan

KPHL Unit XII Dempo diperlakukan sebagai potensi bagi pengembangan


ekowisata untuk dijual kepada calon pengunjung.

Merupakan upaya pendayagunaan potensi obyek ekowisata dengan


tetap memperhatikan prinsip keseimbangan antara kepentingan
pemanfaatan dan pelestarian alam. Objek wisata yang terdapat dalam
kawasan KPHL Unit XII Dempo dan cukup dikenal hingga saat ini adalah
Tugu Rimau dan Pendakian ke Gunung Dempo.

Potensi KPHL Unit XII Dempo cukup besar untuk dikembangkan


sebagai daerah tujuan ekowisata. Potensi internal kawasan masih banyak
yang belum terdata, sehingga dibutuhkan inventarisasi detil tentang potensi
ekowisata yang terdapat dalam kawasan hutan KPHL Unit XII Dempo serta
diperlukan analisis pasar untuk menentukan target ekowisatawan. Bukan
hanya potensi internal namun KPHL Unit XII Dempo dapat memanfaatkan
potensi eksternal berupa pemandangan Perkebunan Teh dan Kota Pagar
Alam yang terdapat di luar kawasan yang dikenal dengan istilah borrowing
landscape.

Dengan visi “Menjadi Daerah Tujuan Ekowisata Di Provinsi


Sumatera Selatan”, segala bentuk kegiatan yang dilakukan pada kawasan
KPHL Unit XII Dempo diarahkan dan dikemas sedemikian rupa untuk dijual
sebagai objek dan daya tarik ekowisata.

Berdasarkan potensi dan program kegiatan di KPHL Unit XII Dempo,


maka pengembangan ekowisata secara garis besar dikelompokkan menjadi
tiga 1) Wisata Desa dan Budaya, 2) Wisata Alam, dan 3) Wisata Pendidikan.
Beberapa atraksi wisata sudah ada dan dikenal oleh masyarakat Kota Pagar
Alam maupun Propinsi Sumatera Selatan, namun terdapat beberapa atraksi

Rencana Pengelolaan Hutan Jangka Panjang KPHL Unit XII Dempo 2016-2025
Rencana Kegiatan

yang harus dibangun dan diciptakan. Berikut adalah tabel rencana


pengembangan ekowisata di KPHL Unit XII Dempo.

Tabel 5.2 Garis besar rencana pengembangan ekowisata di KPHL Unit


XII Dempo

No Ekowisata Atraksi Ekowisata Sifat Aktivitas Ekowisata


1 Wisata Desa - Pengolahan HHBK Penahan Melihat dan mengolah HHBK
dan Budaya
- Kehidupan Penahan Mengamati dan terlibat aktif
masyarakat sekitar dalam kehidupan sehari-hari
masyarakat dan interaksi
dengan hutan
2 Wisata Alam - Gunung Dempo Penarik Pendakian dan panorama
dan Tugu Rimau alam Kota Pagar Alam
(borrowing landscape)
- Bumi perkemahan Penahan Camping
- Suasana alami KPHL Penahan Jelajah KPH (sepeda santai)
Unit XII Dempo
- Canopy Trail Penarik Menikmati KPHL Dempo dari
ketinggian
3 Wisata - Outbond Penarik Permainan di alam terbuka
Pendidikan - Jasa Lingkungan Penahan Pengunjung belajar dan
melihat langsung tentang
manfaat tangible dan
intangible dari hutan
- Rehabilitasi & Penahan Terlibat langsung dalam
reboisasi kegiatan rehabilitasi dan
reboisasi
- Burung-burung dan Penarik & Birdwatching dan
satwa liar Penahan pengamatan satwa

Objek dan daya tarik wisata dapat dikelompokkan menjadi dua,


yaitu objek penarik dan objek penahan. Objek penarik merupakan objek
yang dapat membuat pengunjung untuk datang ke KPHL Unit XII Dempo.
sifat objek penarik adalah sementara, dimana setelah pengunjung datang
dan menikmati objek akan segera terasa bosan. Objek penarik berupa objek
yang tidak terdapat di daerah lain di Sumatera Selatan, seperti Gunung
Dempo yang berupa objek alami. Sedangkan objek penarik yang bersifat

Rencana Pengelolaan Hutan Jangka Panjang KPHL Unit XII Dempo 2016-2025
Rencana Kegiatan

manmade dapat berupa canopy trail yang akan direncanakan untuk


dibangun.

Objek penahan merupakan objek yang dapat menjadi penahan bagi


pengunjung untuk tinggal di KPHL Unit XII Dempo. Objek penahan
seringkali dilupakan dan diabaikan dalam perencanaan ekowisata, sehingga
pengunjung malas untuk tinggal berlama-lama yang berakibat pada tidak
optimalnya pendapatan pengelola dan tidak tersebarnya aliran finansial
pada masyarakat sekitar.

Ditunjang dengan letak geografis dan topografi, KPHL Unit XII


Dempo memiliki objek penahan yang dapat membuat pengunjung untuk
betah berlama-lama, yaitu berupa suasana iklim yang sejuk. Objek penahan
juga dapat dioptimalkan dengan keramahtamahan dari pengelola kawasan,
pelayanan, dan masyarakat sekitar.

Dalam hal manfaat finansial yang diterima oleh pengelola dan


masyarakat sekitar, keberadaan objek penahan memberikan manfaat
finansial yang lebih banyak bagi masyarakat sekitar dibandingkan objek
penarik. Objek penarik hanya bersifat sementara, setelah wisatawan
mengunjungi objek penarik tersebut, rasa penasaran wisatawan akan
terpenuhi, dan akan membuat wisatawan untuk segera meninggalkan KPHL
Unit XII Dempo. Wisatawan tidak akan membuang waktu lebih lama yang
berimplikasi pada tidak adanya penerimaan yang lebih bagi pengelola dan
masyakarat sekitar. Oleh karena itu dibutuhkan objek penahan yang dapat
membuat wisatawan untuk bertahan lebih lama di KPHL Unit XII Dempo.
Makin lama wisatawan berada di KPHL Unit XII Dempo, makin banyak
sumberdaya yang digunakan untuk memenuhi kebutuhan hidup wisatawan
tersebut, semakin banyak pengeluaran yang dikeluarkan, dan semakin
banyak penerimaan yang akan diterima oleh pengelola maupun masyarakat
sekitar.

Rencana Pengelolaan Hutan Jangka Panjang KPHL Unit XII Dempo 2016-2025
Rencana Kegiatan

Sebagai KPH Lindung, KPHL Unit XII Dempo tidak diperkenankan


salam memanfaatkan potensi kayu yang dimilikinya. Namun, potensi Hasil
Hutan Bukan Kayu (HHBK) perlu mendapat perhatian untuk dikelola bagi
peningkatan kesejahteraan masyarakat. Berdasarkan informasi dari
masyarakat sekitar, bahwa terdapat sejumlah HHBK yang terdapat dalam
kawasan hutan, yaitu: rotan, aren, pinang, petai dan lain sebagainya.
Pemanfaatan HHBK oleh masyarakat sekitar belum dilakukan dengan
optimal, sehingga diperlukan suatu program yang dapat mengakomodir
dalam pemanfaatan dan pengolahan HHBK oleh masyarakat desa sekitar
hutan.

Melihat kondisi masyarakat disekitar kawasan hutan, dibutuhkan


strategi agar program pemanfaatan dan pengolahan HHBK dapat berhasil.
Strategi yang diusulkan adalah dengan memfokuskan pada satu desa atau
kelompok untuk program pemanfaatan dan pengolahan HHBK ini.
Kesuksesan desa atau kelompok yang di tunjuk akan dapat menentukan
keberhasilan pemanfaatan dan pengolahan secara menyeluruh. Kesuksesan
desa atau kelompok tersebut dipastikan akan dapat menjadi daya tarik bagi
masyarakat desa lain untuk mengikuti jejak desa tersebut, hal ini berlaku
sebaliknya. Namun, masih diperlukan inventarisasi detil untuk mengetahui
potensi HHBK yang terdapat dalam kawasan hutan, serta diperlukan juga
mengetahui persepsi dan preferensi masyarakat serta pasar terhadap
program pemanfaatan dan pengolahan HHBK.

Kegiatan ini bertujuan untuk mengembalikan fungsi hutan agar


lebih baik dengan harapan agar dapat meningkatan penghasilan dan
pemberdayaan masyarakat disekitar hutan. Penanaman jenis MPTS (Multi

Rencana Pengelolaan Hutan Jangka Panjang KPHL Unit XII Dempo 2016-2025
Rencana Kegiatan

Purpose Trees Species) antara lain durian, petai, karet, kemiri, rambutan,
mangga, atau sesuai dengan keinginan masyarakat sekitar.

Sebagian besar masyarakat yang tinggal di sekitar kawasan hutan


masih tergantung pada sumber daya alam di dalam kawasan KPHL Unit XII
Dempo. Terjadi interaksi yang sangat intensif antara masyarakat dengan
hutan. Diperlukan usaha untuk membimbing masyarakat agar dapat
mengusahakan pemanfaatan sumber daya alam yang berkelanjutan melalui
peningkatan kapasitas kelembagaan masyarakat.

Sementara itu pengembangan usaha alternatif perlu dikembangkan


untuk membatasi pengambilan sumber daya alam Beberapa program yang
dapat dilakukan adalah penanaman dan pengayaan species jenis rotan,
kayu bakar, tanaman kayu yang menghasilkan buah, aren dan lain-lain.
Demikian juga dengan rotan pernah menjadi primadona pendapatan bagi
masyarakat setempat. Sejak ekspor rotan mentah dilarang, komoditi ini
kehilangan peran dalam ekonomi masyarakat setempat padahal
keberadaan rotan tetap potensial di hutan Pagar Alam.

Dengan memperhatikan visi KPHL Unit XII Dempo “Menjadi Daerah


Tujuan Ekowisata Di Provinsi Sumatera Selatan” serta rumusan misi
terutama yang tertuang dalam butir keempat, maka dibutuhkan suatu
usaha untuk dapat mengalihkan sumber penghidupan masyarakat yang
bertumpu pada sektor pemanfaatan lahan untuk kegiatan
pertanian/perkebunan ke sektor jasa. Dalam hal ini masyarakat perlu
mendapatkan pelatihan dan pembimbingan untuk dapat terlibat dalam
sektor jasa yang akan mendukung visi KPHL Unit XII Dempo. Guna
mendukung program pemberdayaan ini, dibutuhkan kegiatan yang
mencakup:

Rencana Pengelolaan Hutan Jangka Panjang KPHL Unit XII Dempo 2016-2025
Rencana Kegiatan

1) Kerjasama dengan masyarakat sekitar dalam pengelolaan


potensi wisata yang terdapat dalam kawasan hutan.
2) Kerjasama dengan masyarakat sekitar dalam pengelolaan
hutan dan pemungutan HHBK.
3) Pembangunan Kebun Bibit Rakyat dan hutan
kemasyarakatan.
4) Pelatihan yang terkait dengan kegiatan-kegiatan KPHL Unit
XII Dempo.

Kegiatan pembinaan dan pemantauan pemanfaatan dan


penggunaan kawasan hutan pada areal yang berizin bertujuan agar
pelaksanaan pemanfaatan dan pengunaan kawasan hutan di wilayah berizin
sesuai dengan perencanaan dan peraturan yang berlaku.

Di KPHL Unit XII Dempo saat ini tidak terdapat ijin pemanfaatan
hutan, namun untuk kegiatan diluar aktivitas kehutanan telah mendapatkan
ijin berupa pembangunan bendungan dan saluran irigasi Lematang yang
berada dan melewati kawasan Hutan Bukit jambul Gunung Patah.
Pembangunan irigasi ini dibangun dibangun di lahan seluas 19,4 Ha yang
akan mengairi hingga 6.000 Ha lahan sawah. Dalam memudahkan
pengerjaan pembangunan bendungan irigasi, akan dibangun juga jalan
baru dengan panjang 4,5 km. Selain itu terdapat juga ijin pinjam pakai
panas bumi oleh PT Supreme Energy seluas 10 Ha di Kecamatan Dempo
Selatan.

Rencana Pengelolaan Hutan Jangka Panjang KPHL Unit XII Dempo 2016-2025
Rencana Kegiatan

Terhadap penggunaan kawasan hutan perlu dilakukan pembinaan


dan pemantauan yang diarahkan pada penyelenggaraan kewajiban ijin
pinjam pakai kawasan hutan seperti yang tertuang dalam Peraturan Menteri
Kehutanan Republik Indonesia Nomor: P.16/Menhut-Ii/2014 Tentang
Pedoman Pinjam Pakai Kawasan Hutan Pasal 30 ayat (1), yaitu: Pemegang
izin pinjam pakai kawasan hutan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 25
ayat (6), wajib:

a. melaksanakan reboisasi pada lahan kompensasi bagi pemegang izin


pinjam pakai kawasan hutan dengan kewajiban menyediakan lahan
kompensasi;
b. melaksanakan reklamasi dan revegetasi pada kawasan hutan yang
sudah tidak dipergunakan tanpa menunggu selesainya jangka waktu
izin pinjam pakai kawasan hutan;
c. memenuhi kewajiban keuangan sesuai peraturan perundang-
undangan, meliputi:
1. membayar Penerimaan Negara Bukan Pajak Penggunaan Kawasan
Hutan bagi pemegang pinjam pakai kawasan hutan dengan
kompensasi membayar Penerimaan Negara Bukan Pajak
Penggunaan Kawasan Hutan dan penanaman dalam rangka
reboisasi daerah aliran sungai;
2. membayar penggantian nilai tegakan, Provisi Sumber Daya Hutan
(PSDH), Dana Reboisasi (DR);
3. membayar ganti rugi nilai tegakan kepada pemerintah apabila areal
yang dimohon merupakan areal reboisasi;
4. mengganti biaya investasi pengelolaan/pemanfaatan hutan kepada
pengelola/pemegang izin pemanfaatan hutan apabila kawasan
hutan yang diberikan izin pinjam pakai kawasan hutan berada pada
areal yang telah dibebani izin pemanfaatan hutan/pengelolaan;

Rencana Pengelolaan Hutan Jangka Panjang KPHL Unit XII Dempo 2016-2025
Rencana Kegiatan

d. melakukan penanaman dalam rangka rehabilitasi daerah aliran sungai


sesuai ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 6 ayat (2) huruf
b, dan dilaksanakan sebelum jangka waktu izin pinjam pakai kawasan
hutan berakhir;
e. melakukan pemberdayaan masyarakat sekitar areal izin pinjam pakai
kawasan hutan;
f. melakukan pemeliharaan batas areal pinjam pakai kawasan hutan;
g. melaksanakan perlindungan hutan sesuai dengan ketentuan peraturan
perundang-undangan;
h. mengamankan kawasan hutan konservasi dan hutan lindung dalam hal
areal pinjam pakai kawasan hutan berbatasan dengan kawasan hutan
konservasi dan hutan lindung, dan berkoordinasi dengan:
1. Kepala Balai Besar/Kepala Unit Pelaksana Teknis (UPT) yang
membidangi urusan kawasan hutan konservasi, untuk kawasan
hutan konservasi;
2. Kepala Dinas Kabupaten/Kota yang membidangi urusan kehutanan.
3. Kepala Kesatuan Pengelolaan Hutan (KPH) dalam hal sudah
terbentuk KPH di wilayah tersebut;
i. memberikan kemudahan bagi aparat kehutanan baik pusat maupun
daerah pada saat melakukan monitoring dan evaluasi di lapangan;
j. mengkoordinasikan kegiatan kepada instansi kehutanan setempat
dan/atau kepada pemegang izin pemanfaatan hutan atau pengelola
hutan;
k. memiliki Policy Advisor Bidang Kehutanan untuk pertambangan operasi
produksi;
l. menyerahkan rencana kerja pemenuhan kewajiban sebagaimana
dimaksud pada huruf a sampai dengan huruf h, selambat-lambatnya
100 (seratus) hari kerja setelah ditetapkan keputusan izin pinjam pakai
kawasan hutan; dan

Rencana Pengelolaan Hutan Jangka Panjang KPHL Unit XII Dempo 2016-2025
Rencana Kegiatan

m. membuat laporan secara berkala setiap 6 (enam) bulan sekali kepada


Menteri mengenai penggunaan kawasan hutan yang dipinjam pakai,
dengan tembusan:
1. Direktur Jenderal Planologi Kehutanan;
2. Direktur Jenderal Bina Usaha Kehutanan;
3. Direktur Jenderal Perlindungan Hutan dan Konservasi Alam;
4. Direktur Jenderal Bina Pengelolaan Daerah Aliran Sungai dan
Perhutanan Sosial;
5. Kepala Dinas Provinsi dan Kabupaten/Kota yang membidangi
kehutanan;
6. Direktur Utama Perum Perhutani, apabila berada dalam wilayah
kerjanya;
7. Kepala Balai Pemantapan Kawasan Hutan; dan
8. Kepala Balai Pengelolaan Daerah Aliran Sungai;

Pemantauan penggunaan kawasan hutan oleh para pemegang


IPPKH dilaksanakan secara periodik. Pemantauan ditujukan untuk
mengendalikan pemenuhan kewajiban yang tercantum pada persetujuan
prinsip penggunaan kawasan hutan, dispensasi penggunaan kawasan
hutan, perjanjian pinjam pakai kawasan hutan dan izin pinjam pakai
kawasan hutan yang diterbitkan oleh Menteri KLHK. Dengan demikian
penggunaan kawasan hutan dilakukan secara efektif untuk mencapai
sasaran-sasaran yang ditetapkan dengan meminimalkan dampak negatif
yang diakibatkan oleh kegiatan penggunaan kawasan.

Pelaksanaan pemantauan penggunaan kawasan dilaksanakan baik


melalui analisis terhadap laporan penggunaan kawasan hutan dan data
pendukung lainnya atau melalui pemeriksaan lapangan. Monitoring
dilaksanakan oleh tim terpadu, terdiri dari KPHL Unit XII Dempo, Dinas

Rencana Pengelolaan Hutan Jangka Panjang KPHL Unit XII Dempo 2016-2025
Rencana Kegiatan

Kehutanan Kabupaten, Dinas Pertambangan Kabupaten, Dinas Lingkungan


Hidup Kabupaten dengan Ketua Kepala Dinas Kehutanan Kabupaten.

Untuk menjamin kelestarian kawasan KPHL Unit XII Dempo, maka


diperlukan upaya rehabilitasi. Rehabilitasi ini dimaksudkan untuk
mengembalikan fungsi ekologi hutan agar dapat optimal kembali. Kegiatan
rehabilitasi terdiri atas penyusunan Rencana Rehabilitasi Hutan dan Lahan
dan pelaksanaan rehabilitasinya. Sebaran tingkat kekritisan lahan di KPHL
Unit XII Dempo disajikan pada gambar berikut.

Gambar 5.2 Sebaran tingkat kekritisan lahan di KPHL Unit XII Dempo

Sebaran tingkat kekritisan lahan diatas merupakan Hasil overlay


dari 4 (empat) parameter dengan bobot tertentu, berdasarkan Peraturan
Direktur Jenderal Bina Pengelolaan Daerah Aliran Sungai dan Perhutanan

Rencana Pengelolaan Hutan Jangka Panjang KPHL Unit XII Dempo 2016-2025
Rencana Kegiatan

Sosial Nomor: P.4/V-SET/2013 tentang Petunjuk Teknis Penyusunan Data


Spasial Lahan Kritis. Parameter-paremeter pembentuk kekritisan lahan
adalah: 1) liputan lahan (bobot 50%); 2) kemiringan lereng (bobot 20%);
3) erosi (bobot 20%); dan manjemen (bobot 10%). Sedangkan untuk luas
masing-masing tingkat kekritisan lahan disajikan pada tabel berikut.

Tabel 5.3 Tingkat kekritisan lahan di KPHL Unit XII Dempo

Luas
Tingkat Kekritisan
Hektar Persen
Tidak Kritis 0,00 0,00
Potensial Kritis 1.034,33 3,97
Agak Kritis 21.438,27 82,25
Kritis 2.955,44 11,34
Sangat Kritis 636,68 2,44
Total 26.064,72 100

Tabel diatas menyajikan informasi bahwa lebih dari 82% tingkat


kekritisan lahan di KPHL Unit XII Dempo termasuk kedalam kategori agak
kritis. Namun apabila di perhatikan seksama, antara Peta Kekritisan Lahan
dengan Peta Tutupan Lahan pada Bab 2, maka kategori agak kritis terdapat
pada tutupan lahan berhutan.

Pada Bab 2, Sub Bab 2.2.1 Penutupan Lahan, dijelaskan bahwa


Kondisi tutupan (liputan) lahan KPHL Unit XII Dempo berupa kawasan hutan
yang mencapai lebih dari 70%, yang terbagi atas 44% merupakan hutan
lahan kering primer dan 27% merupakan hutan lahan kering sekunder.
Sedangkan lahan terbuka hanya sekitar 0,15% yang dominan berada pada
puncak Gunung Dempo.

Kegiatan rehabilitasi hutan di KPHL Unit XII Dempo adalah dengan


mempertimbangkan masing-masing parameter pembentuk tingkat
kekritisan lahan, sehingga dapat ditentukan penyelenggaraan rehabilitasi
yang tepat untuk masing-masing petak. Sebagai contoh, pada kawasan

Rencana Pengelolaan Hutan Jangka Panjang KPHL Unit XII Dempo 2016-2025
Rencana Kegiatan

hutan kering primer dengan tingkat kekritisan lahan agak kritis tidak
diperlukan tindakan rehabilitasi melalui reboisasi, namun rehabilitasi dapat
dilakukan sebatas pemeliharaan/manajemen.

Secara umum KPHL Unit XII Dempo akan menyelenggarakan


rehabilitasi melalui kegiatan reboisasi, penghijauan, pemeliharaan,
pengayaan tanaman, atau penerapan teknik konservasi tanah secara
vegetatif dan sipil teknis pada lahan kritis dan tidak produktif.

Kegiatan ini bertujuan agar pelaksanaan rehabilitasi dan reklamasi


hutan di wilayah izin lahan sesuai dengan perencanaan dan peraturan yang
berlaku.

Pembinaan dalam areal IPPKH dilaksanakan pada seluruh aspek


kegiatan rehabilitasi, reklamasi dan revegetasi yang diarahkan untuk
keberhasilan penanaman sehingga mampu memperbaiki dan memulihkan
vegetasi yang rusak. Reklamasi hutan merupakan tindakan untuk
memperbaiki atau memulihkan kembali lahan dan vegetasi hutan yang
rusak agar dapat berfungsi secara optimal sesuai dengan peruntukannya.

Pelaksanaan pemantauan secara terpadu oleh tim dari berbagai


instansi kehutanan daerah di areal IPPKH direncanakan minimal 1 (satu)
kali dalam satu tahun, dilaksanakan melalui analisis terhadap laporan

Rencana Pengelolaan Hutan Jangka Panjang KPHL Unit XII Dempo 2016-2025
Rencana Kegiatan

realisasi kegiatan penanaman dan data pendukung lainnya dan atau melalui
pengamatan dan pemeriksaan langsung di lokasi masing-masing.

Penyelenggaraan perlindungan hutan bertujuan untuk menjaga


hutan, hasil hutan, kawasan hutan dan lingkungannya agar fungsi lindung,
fungsi konservasi dan fungsi produksi tercapai secara optimal dan lestari.
Selain itu Kegiatan perlindungan dan konservasi alam juga ditujukan untuk
mencegah kerusakan dan mengamankan kawasan hutan dan hasil hutan
dari berbagai gangguan manusia, alam, hama penyakit, dan kebakaran.
Prinsip-prinsip perlindungan hutan meliputi mencegah dan membatasi
kerusakan hutan, kawasan hutan dan hasil hutan dan mempertahankan dan
menjaga hak-hak negara, masyarakat, dan perorangan atas hutan,
kawasan hutan, hasil hutan, investasi serta perangkat yang berhubungan
dengan pengelolaan hutan.

Penyelenggaraan perlindungan hutan dan konservasi alam


diarahkan untuk:

1) Melaksanakan sosialisasi dan penyuluhan perlindungan hutan


terhadap masyarakat.
2) Deliniasi dan ground check areal perlindungan setempat/sempadan
sungai.
3) Melaksanakan inventarisasi survey sosial/permasalahan kawasan
hutan.
4) Perlindungan dan pengawetan flora dan fauna.
5) Melaksanakan pengamanan kawasan dan sumberdaya hutan secara
partisipatif bersama masyarakat.
6) Melaksanakan pencegahan dan penanggulangan kebakaran hutan.
7) Pembentukan mitra pengamanan dan kebakaran hutan.

Rencana Pengelolaan Hutan Jangka Panjang KPHL Unit XII Dempo 2016-2025
Rencana Kegiatan

Kebakaran hutan di Indonesia pada tahun 2015 telah memberikan


dampak kerugian yang sangat besar. Secara garis besar dampak kebakaran
hutan dan lahan dapat dikelompokkan kedalam: 1) dampak terhadap bio-
fisik; 2) dampak terhadap sosial-ekonomi; dan 3) dampak terhadap
lingkungan.

Kerusakan kebakaran hutan yang sudah pasti terjadi adalah


gangguan luka-luka bakar pda pangkal batang pohon sampai dengan
hancurnya pepohonan secara keseluruhan berikut vegetasi lainnya, serta
menurunnya kesuburan fungsi tanah. Dengan hancurnya vegetasi, yang
paling dikwatirkan adalah hilangnya plasma nutfah (sumberdaya genetik
pembawa sifat keturunan) seiring hancurnya vegetasi tersebut. Kondisi ini
akan berdampak pada menurunnya pedapatan masyarakat dan negara dari
sektor kehutanan, pertanian, perindustrian, perdagangan, jasa wisata, dan
lainnya terkait dengan pemanfaatan sumberdaya alam dan lingkungannya.

Dampak terhadap lingkungan yang paling dirasakan oleh kebakaran


hutan adalah berupa akumulasi asap yang besar. Dampak berupa asap ini
tidak hanya dirasakan oleh masyarakat disekitar hutan yang terbakar, tapi
juga hingga ke negeri tetangga. Selain dapat menyebabkan gangguan pada
pernafasan, pada tingkat tertentu asap dari kebakaran hutan dapat
terperangkap di bawah suatu lapisan udara ingin atmosfir di atas wilayah
Indonesia maupun negara tetangga sehingga menyebabkan penurunan
fvisibilitas (daya tembus pandang) sehingga mengganggu kelancaran
transportasi darat, laut, dan udara.

Sumatera Selatan merupakan salah satu provinsi dengan tingkat


kebakaran hutan yang cukup tinggi yang memberikan dampak signifikan.
Pada tahun 2015, kawasan hutan dalam wilayah KPHL Unit XII Dempo juga
memberi kontribusi dalam memberikan dampak negatif.

Rencana Pengelolaan Hutan Jangka Panjang KPHL Unit XII Dempo 2016-2025
Rencana Kegiatan

Berdasarkan Peta Kerawanan Kebakaran Lahan dan Hutan yang


diterbitkan oleh UPTD Kebakaran Provinsi Sumatera Selatan tahun 2014,
kawasan hutan KPHL Unit XII Dempo hampir berada pada kondisi tidak
rawan, hanya sebagian kecil saja wilayah KPHL Unit XII Dempo yang
memiliki tingkat kerawanan rendah.

Gambar 5.3 Peta tingkat kerawanan kebakaran hutan dan lahan di


sekitar kawasan hutan KPHL Unit XII Dempo.

Kebakaran hutan terjadi karena kombinasi unsur panas, bahan


bakar, dan udara/oksigen. Ketiga unsur ini digambarkan sebagai bentuk
segitiga api. Pada prinsipnya, pengendalian kebakaran hutan adalah
menghilangkan salah satu unsur atau lebih dari unsur tersebut.

Melihat dari Peta Tingkat Kerawanan Kebakaran Hutan dan Lahan


Provinsi Sumatera Selatan diatas, maka dapat dipastikan bahwa kebakaran
hutan yang terjadi di KPHL Unit XII Dempo terjadi bukan karena faktor
alam, namun lebih disebabkan oleh faktor manusia. Sehingga KPHL Unit XII

Rencana Pengelolaan Hutan Jangka Panjang KPHL Unit XII Dempo 2016-2025
Rencana Kegiatan

Dempo dalam upaya perlindungan hutan dan konservasi alam akan fokus
pada upaya pencegahan dan penanggulangan kebakaran hutan, serta
pembentukan mitra pengamanan dan kebakaran hutan.

Koordinasi dan sinkronisasi anar pemegang ijin diperlukan agar


kegiatan pengelolaan hutan di kawasan KPHL Unit XII Dempo dapat
berjalan efektif dan lancar. Koordinasi ditunjukkan untuk saling bertukar
informasi dan data serta pengalaman antar pemilik izin pemanfaatan
maupun penggunaan kawasan hutan. Sinkronisasi lebih diupayakan untuk
menyerasikan dan mengintegrasikan semua kegiatan di dalam kawasan
yang dikelola oleh masing-masing pemilik izin agar tidak saling tumpang
tindih dan saling klaim. Fasilitasi kegiatan ini dapat diperankan oleh
pengelola KPHL Unit XII Dempo. Kegiatan koordinasi dan sinkronisasi
diarahkan pada:

1. Pelaksanaan koordinasi kegiatan antar pemegang izin dalam hal


rehabilitasi hutan dan rehabilitasi pada Daerah Aliran Sungai,
sebagaimana kewajiban perusahaan yang tercantum dalam
peraturan Menteri Kehutanan RI No. P.63/Menhut-II/2011
2. Melakukan kordinasi dalam hal penanganan konflik tenurial dengan
masyarakat
3. Pelaksanaan koordinasi dalam kegiatan mengimplementasikan CSR
berupa bantuan peningkatan kapasitas dan kualitas SDM,
peningkatan kesejahteraan masyarakat, ataupun bantuan dalam
bentuk pembangunan fisik.
4. Melakukan kordinasi dalam hal sosialisasi dan pelaksanaan program
kepada masyarakat.

Rencana Pengelolaan Hutan Jangka Panjang KPHL Unit XII Dempo 2016-2025
Rencana Kegiatan

Dalam upaya mengelola hutan di kawasan KPHL Unit XII Dempo


agar lebih berdaya guna dan memiliki dampak yang meluas maka
diperlukan adanya koordinasi dan sinergi dengan stakeholder yang memiliki
keterkaitan dengan kegiatan pada tingkat tapak. Koordinasi lebih ditujukan
untuk saling berukar informasi dan data serta pengalaman antara Pengelola
KPHL Unit XII Dempo dengan stakeholders. Sinergi lebih diupayakan untuk
menyerasikan dan mengintegrasikan semua kegiatan di dalam kawasan
KPHL Unit XII Dempo agar sejalan dengan berbagai tujuan dan kepentingan
pembangunan yang lebih besar. Kegiatan koordinasi dan sinergi diarahkan
pada:

1) Pelaksanaan koordinasi Pengelola KPHL Unit XII Dempo dengan


instansi maupun pihak yang terkait pada tingkat provinsi,
kabupaten, dan kecamatan.
2) Pelaksanaan sinergi kegiatan di tingkat tapak antara Pengelola
KPHL Unit XII Dempo dengan instansi maupun pihak yang terkait
pada tingkat provinsi, kabupaten, dan kecamatan.
3) Pembentukan forum komunikasi dan kolaborasi pengelolaan hutan
para pihak.

Dalam rangka koordinasi dan sinergi dengan instansi dan


stakrholder terkait perlu dilakukan hal-hal sebagai berikut:

1. Melakukan identifikasi dan inventarisasi stakeholder yang


melakukan kegiatan dalam wilayah KPHL Unit XII Dempo.
2. Melakukan integrasi program dan kegiatan dengan ijin penggunaan
kawasan hutan.
3. Melakukan integrasi kegiatan dengan LSM dan program-program
lain yang ada di wilayah KPHL Unit XII Dempo.

Rencana Pengelolaan Hutan Jangka Panjang KPHL Unit XII Dempo 2016-2025
Rencana Kegiatan

4. Melakukan pengembangan program bersama, baik program dari


pemerintah pusat, pemerintah provinsi maupun kabupaten.
5. Monitoring dan evaluasi dan pembelajaran bersama.
6. Membangun jaringan kerja dengan stakeholder yang terkait.

Pengelolaan KPHL Dempo memerlukan Sumber Daya Manusia


(SDM) yang cukup dan mempunyai kapasitas dalam pengelolaan KPHL agar
dapat berfungsi dengan baik sebagai institusi pengelola kawasan hutan.
SDM yang dibutuhkan terdiri dari tenaga managerial, tenaga teknis, tenaga
non teknis dan tenaga pendukung.

Berkenaan dengan pemenuhan kebutuhan Sumber Daya Manusia


(SDM) maka perlu dilakukan kajian/analisis kesesuaian antara beban kerja
dan jumlah Sumber Daya Manusia (SDM) yang dibutuhkan. Dan secara
simultan dilakukan penambahan personil untuk memenuhi kebutuhan
tersebut.

Selain pemenuhan kebutuhan jumlah Sumber Daya Manusia (SDM),


pengembangan Sumber Daya Manusia (SDM) juga perlu dilakukan baik
struktural maupun fungsional. Pendidikan dan latihan struktural tentunya
telah baku ditetapkan oleh Badan Diklat Daerah. Pendidikan teknis
fungsional untuk tenaga lapangan perlu dirancang untuk dapat difasilitasi
agar penyelenggaraan pengelolaan hutan semakin berkualitas sesuai
dengan visi yang dirumuskan oleh KPHL Unit XII Dempo. Berbagai
pendidikan dan latihan ini yang dibutuhkan diantaranya Diklat perencanaan
hutan untuk kegiatan ekowisata, diklat pelayanan wisata, diklat polisi
kehutanan, Diklat Pengolahan Hasil Hutan Non Kayu, Diklat Resolusi Dan
Manjemen Konflik, Diklat GIS Dan Perpetaan serta lainnya.

Rencana Pengelolaan Hutan Jangka Panjang KPHL Unit XII Dempo 2016-2025
Rencana Kegiatan

Kegiatan ini bertujuan untuk penyediaan dana anggaran untuk


menunjang operasional kegiatan KPH dalam menjalankan tugas pokok dan
fungsi KPH agar dapat bejalan secara maksimal. Pengelolaan KPHl Unit XII
Dempo sesuai visi dan misi yang telah dicanangkan, diperlukan dukungan
pendanaan yang kuat. Sumber pendanaan dapat berasal dari KPHL Unit XII
sendiri maupun dari pihak lain. Adapun dukungan dana lainnya
dimungkinkan untuk diperoleh dengan menjalin kerjasama dan kemitraan
dengan berbagai pihak, para pemegang ijin usaha yang di dalam wilayah
KPHL Unit XII Dempo, APBN, APBD Provinsi, APBD Kabupaten/Kota, mitra
lembaga donor, dana dari swadaya masyarakat dan sumber lain yang sah
dan tidak mengikat.

Dalam kegiatan pengelolaan, sarana dan prasarana berfungsi untuk


menunjang kelancaran kegiatan. Agar pengelolaan berjalan lebih efektif dan
efisien maka dukungan sarana dan prasarana yang memadai disesuaikan
dengan jenis dan jumlah kebutuhan yang diperlukan. Sarana dan prasarana
yang dibutuhkan oleh KPHL Unit XII Dempo yang paling pokok adalah
kantor, sarana mobilisasi KPHL dan kantor resort. Kantor KPHL perlu
dilengkapi dengan sarana komunikasi, peralatan survey, base camp dan
sarana pengamanan dan perlindungan hutan. Demikian juga dengan kantor
resort perlu perlengkapan yang sama.

Kelengkapan sarana dan prasarana yang diperlukan diperoleh


dengan pengadaan baru maupun pemeliharaan yang telah ada. Sarana
prasarana diperoleh dari pengusulan dalam setiap tahun anggaran
kegiatan. Berbagai sarana parasana tersebut diarahkan pada :

Rencana Pengelolaan Hutan Jangka Panjang KPHL Unit XII Dempo 2016-2025
Rencana Kegiatan

1) Pengadaan dan pembangunan sarana kantor, rumah dinas, mess, pos


jaga, dan basecamp berupa tanah dan gedung kantor resort.
2) Pengadaan prasarana perlengkapan kantor KPHL dan Resort.
3) Pengadaan sarana transportasi berupa kendaraan roda 4 dan roda 2.
4) Pengadaan sarana komunikasi.
5) Pengadaan alat perlengkapan kerja di kantor dan lapangan.
6) Penyediaan sarana penunjang dan pelayanan pengelolaan ekowisata.

Rencana pengelolaan KPHL Unit XII Dempo sebagai daerah tujuan


ekowisata tidak terlepas dari penyediaan sarana dan prasarana yang akan
menunjang dalam percepatan KPHL menuju cita-cita yang ditetapkan.
Pembangunan sarana dan prasarana ini pada blok pemanfaatan. Tabel
berikut menyajikan saarana dan prasarana pembangunan ekowisata yang
akan dibangun serta dengan rencana penyelesaian.

Tabel 5.4 Rencana penyelesaian pembangunan sarana dan prasarana


ekowisata
Target Pelaksanaan
No Sarana dan Prasarana
2016

2017

2018

2019

2020

2021

2022

2023

2024

2025
1. Pembangunan
Pusat Informasi Pengunjung
2. Jalan setapak pendakian
Gunung Dempo
3. Pembangunan Flying Fox
4. Jalur jelajah KPH Dempo
5. Jalur Birdwatching dan/atau
pengamatan satwa
6. Pembangunan Outbond
7. Pembangunan Bumi Perkemahan
8. Pembuatan Canopy trail
9. Pembangunan Ecolodge
10. Pengembangan Homestay

Rencana Pengelolaan Hutan Jangka Panjang KPHL Unit XII Dempo 2016-2025
Rencana Kegiatan

Keterangan: Sarana dan prasarana ekowisata adalah bersifat umum, sedangkan sarana
dan prasarana yang lebih detil akan dibahas pada Rencana Pengelolaan
Jangka Pendek sesuai dengan program pada tahun berjalan.

Pusat informasi pengunjung adalah hal yang vital dalam


pengembangan suatu daerah sebagai tujuan wisata. Disinilah jantung bagi
pengembangan ekowisata di KPHL Unit XII Dempo. Façade bangunan akan
dibangun sedemikian rupa dengan mengikuti bangunan lokal yang juga
dapat menjadi icon tersendiri. Lokasi pembangunan akan ditentukan setelah
survey.

Jalan setapak masih memerlukan perbaikan terutama pada titik-titik


yang cukup membahayakan bagi pendaki. Pembangunan dilakukan sealami
mungkin tanpa elemen perkerasan.

Pembangunan Flying Fox direncanakan akan dibangun di kelompok


hutan Bukit Dingin. Lokasi ini dipandang cukup strategis mengingat adanya
kemiringan lahan yang cukup untuk syarat pembangunan flying fox. Pada
ketinggian ini, udara dingin yang menerpa kulit wisatawan saat
menggunakan flying fox dapat memberikan sensasi tersendiri yang berbeda
dengan bagi wisatawan.

Jalur ini dirancang melewati tempat-tempat yang masih terjaga


keasriannya serta menyanjikan keindahan panorama alam KPHL Unit XII
Dempo maupun keindahan Kota Pagar Alam. Shelter dibangun pada setiap
kelipatan 500 meter akan sesuai dengan kondisi alam. Jalur ini

Rencana Pengelolaan Hutan Jangka Panjang KPHL Unit XII Dempo 2016-2025
Rencana Kegiatan

direncanakan akan digunakan oleh pejalan kaki maupun sepeda. Lokasi


jalur jelajah KPH masih memerlukan kajian.

Jalur ini menghubungkan titik-titik dimana terdapat banyak


satwa/burung sering dapat terlihat atau terdengaar suaranya. Jalur ini
dibangun sealami mungkin hanya berupa jalan setapak. Jalur ini dibangun
setelah dilakukan servey mendetil tentang potensi satwa di KPHL Unit XII
Dempo.

Outbond dirancang untuk kegiatan permainan alam atau yang


dapat mendekatkan diri pada alam. Pembangunan dilakukan dengan
memperhatikan dan tidak merusak lanskap (bentang alam) serta
menyesuaikan dengan karakter permainan yang disajikan. Lokasi
pembangunan memerlukan survey.

Bumi perkemahan yang akan dibangun di KPHL Unit XII Dempo


bukan berada pada satu lahan terbuka yang luas seperti kebanyakan bumi
perkemahan. Bumi perkemahan dapat dilakukan di antara pohon-pohon
namun memiliki sumberdaya bagi para pengunjung, terutama air bersih.
Atraksi utama yang disuguhkan di bumi perkemahan adalah keindahan
lanskap KPHL Unit XII Dempo maupun Kota Pagar Alam. Lokasi
pembangunan akan ditetapkan setelah dilakukan survey detil.

Canopy trail menjadi pilihan bagi KPHL Unit XII Dempo untuk
menjadi atraksi penarik bagi pengembangan ekowisata di KPHL Unit XII
Dempo. Mengingat canopy trail hanya terdapat di beberapa tempat di

Rencana Pengelolaan Hutan Jangka Panjang KPHL Unit XII Dempo 2016-2025
Rencana Kegiatan

Indonesia, sehingga diduga keberadaan canopy trail di KPHL Unit XII


Dempo dapat menjadi salah satu icon wisata setelah Gunung Dempo.
Canopy trail di bangun dengan memperhatikan kondisi pohon sebagai tiang
hidup diantara trail, dan lokasi pemangunan masih memerlukan survey.

Ecolodge merupakan suatu fasilitas penginapan/akomodasi yang


berada di kawasan yang terpelihara dan di lindungi yang di rencanakan
sebagai penunjang Industri ekowisata. Hitesh Mehta dalam presentasinya
tentang “Ecotourism Planning and Ecolodge” di IPB menjabarkan bahwa
Ecolodge harus memenuhi setidaknya 3 persyaratan global, yaitu:

1) Perlindungan/pelestarian terhadap budaya dan lingkungan


sekitar,
2) Manfaat positif yang dapat di berikan kepada komunitas local
yang ada di sekitarnya (ekonomi, social, dan budaya),
3) Sebagai sumber informasi, bukan hanya bagi pendatang
(tourist) tapi juga masyarakat lokal.

Selanjutnya Mehta menjabarkan dari 3 persyaratan tersebut dapat


dirincikan lagi menjadi 10 persyaratan kelayakan Ecolodge sebagai
penginapan yang berwawasan ekologi, antara lain:

 Membantu dalam hal konservasi (perlindungan & pelestarian)


terhadap flora dan Fauna,
 Berusaha untuk dapat bekerja sama dengan masyrakat lokal,
 Memberikan penerjemahan yang sangat relevan tentang
betapa pentingnya alam dan lingkungan serta budaya lokal
kepada pengelola sendiri (karyawan) dan para pendatang
(tourist),
 Mengerti dan memahami manfaat dari air dan sumbernya
serta mengatur dalam penggunaannya,

Rencana Pengelolaan Hutan Jangka Panjang KPHL Unit XII Dempo 2016-2025
Rencana Kegiatan

 Memberikan penanganan yang sangat hati-hati terhadap


pembuangan (pengelolaan) limbah padat, limbah cair, dan
sampah,
 Menjadikan Energi konvensional sebagai energi yang pasif dan
menyediakan pernecanaan terhadap energi alternative yang
ramah lingkungan,
 Mengggunkan konsep disain Arsitektur Tradisional
(vernacular), baik dalam segi bentuk, penggunaan bahan,
yang bisa saja di kombinasikan dengan segi modern asal tidak
mengurangi nilai-nilai yang lingkungan,
 Meminmalkan pengaruh-pengaruh negative terhadap
lingkungan selama dalam proses pembangunan,
 Mewujudkan bentuk fisik yang jelas dan mengandung arti
yang spesifik dan dapat juga menerapkan nilai-nilai budaya
lokal,
 Memberikan kontribusi dalam pelestarian budaya lokal,
pengembangan, promosi, penddikan dan penelitian terhadap
budaya lokal itu sendiri.

Keberadaan ecolodge menjadi sangat penting dalam hal menunjang


pembangunan ekowisata di KPHL Unit XII Dempo sebagai daerah tujuan
wisata utama di Propinsi Sumatera Selatan. Keberadaan ecolodge bisa
menjadi objek penarik bagi pengunjung, walau lebih banyak berfungsi
sebagai objek penahan. Sebagai objek penarik, ecolodge haruslah dapat
mencerminkan façade bangunan yang khas serta sebagai icon
pembangunan dan pengelolaan yang ramah lingkungan. Façade bangunan
menampilkan arsitektur yang khas yang dapat mewakili arsitektur lokal dan
mencerminkan nilai-nilai luhur yang hidup dalam tatanan sosial masyarakat.

Selain itu ecolodge haruslah dapat menjadi icon pembangunan dan


pengelolaan hijau. Proses pembangunan ecolodge haruslah menghormati
dan menjaga kaidah-kaidah alam, dengan tidak menggunakan alat-alat

Rencana Pengelolaan Hutan Jangka Panjang KPHL Unit XII Dempo 2016-2025
Rencana Kegiatan

berat yang dapat merusak lingkungan sekitar, namun menggunakan tenaga


manusia. Sedapat mungkin keberadaan pohon-pohon besar tetap dijaga.
Dalam pengelolaan ecolodge juga mendapatkan perhatian terutama dalam
pemanfaatan sumberdaya dan pengolahan limbah.

Sebagai objek penahan, ecolodge harus dapat menghadirkan


kenyamanan bagi pengunjung. KPHL Unit XVII Dempo, seperti halnya Kota
Pagar Alam, menawarkan udara pegunungan yang sejuk yang dapat
memberikan suasana relaksasi bagi pengunjung. Namun, juga dibutuhkan
keramahan dari pengelola dalam melayani kebutuhan pengunjung.

Mengingat visi “KPHL Unit XII Dempo Menjadi Daerah Tujuan


Utama Ekowisata Di Provinsi Sumatera Selatan Tahun 2025”, keberadaan
ecolodge menjadi signifikan untuk mendukung rumusan visi tersebut.
Pembangunan ecolodge tetap dengan memperhatikan aturan yang berlaku
dalam pembangunan di wilayah hutan lindung yaitu mengacu pada
Peraturan Menteri Kehutanan No: P.22/Menhut-II/2012 tentang Pedoman
Kegiatan Usaha Pemanfaatan Jasa Lingkungan Wisata Alam Pada Hutan
Lndung. Ecolodge akan direncanakan selesai pada 2023.

Homestay dikembangkan sebagai wujud partisipasi masyarakat


dalam pengelolaan hutan di KPHL Unit XII Dempo. Homestay adalah salah
satu bentuk penggunaan rumah masyarakat untuk penginapan bagi para
wisatawan. Homestay menjadi menarik bagi pengunjung, karena
pengunjung dapat belajar aktivitas sehari-hari masyarakat.

Dalam hal ini, KPHL Unit XII Dempo akan melakukan inventarisasi
dan perencanaan, serta pembinaan kepada masyarakat agar dapat terlibat
dalam pengelolaan hutan untuk kegiatan wisata.

Rencana Pengelolaan Hutan Jangka Panjang KPHL Unit XII Dempo 2016-2025
Rencana Kegiatan

Demi kelangsungan kegiatan KPHL Unit XII Dempo dalam jangka


panjang diperlukan adanya database (data-data dasar) mengenai kawasan,
ijin pemegang usaha, kegiatan-kegiatan KPHL Unit XII Dempo dari awal
terbentuknya hingga rencana pengembangan ke depan. Data base yang
lengkap dan tidak kadaluwarsa sangat berguna untuk pengambilan
keputusan dalam pengelolaan KPHL Unit XII Dempo. Selain itu data base
juga bermanfaat bagi pihak luar yang membutuhkan informasi tentang
KPHL Unit XII Dempo seperti misalnya para peneliti dari universitas atau
lembaga penelitian, LSM, instansi pemerintah dan individu.

Mengingat pentingnya database, maka dalam kelembagaan KPHL


Unit XII Dempo diperlukan unit khusus yang mengelola database yang
bertanggung jawab dalam pengumpulan, penyimpanan, pengolahan dan
penyajian data ke dalam informasi yang siap digunakan. Data dan informasi
dapat dikumpulkan dari unit-unit pengelola di lapangan dan juga dari luar.
Tentu saja tidak setiap data dapat begitu saja diberikan untuk pihak luar.
Dalam pemberian atau pertukaran data dan informasi khususnya dengan
pihak luar harus diikat oleh standar operasional prosedur.

Data yang dikumpulkan dapat berupa analog atau manual (peta,


dokumen, laporan, data penelitian dan lain-lain), juga dapat berupa data
digital (dokumen-dokumen, data GIS dan data digital lainnya). Unit yang
secara khusus mengelola data base ini merupakan division support system
atau pendukung sistem organisasi KPHL Unit XII Dempo yang diperlukan
untuk pengambilan keputusan dari tingkat KPH hingga hingga unit terkecil.
Beberapa kegiatan pendukung dalam membangun program ini antara lain:

1) Pelatihan SDM pengelola database.


2) Penyiapan perangkat database.
3) Penyusunan dan pengelolaan database.

Rencana Pengelolaan Hutan Jangka Panjang KPHL Unit XII Dempo 2016-2025
Rencana Kegiatan

4) Penyusunan sistem managemen pusat informasi KPHL.


5) Pembuatan website KPHL Unit XII Dempo.

Rasionalisasi wilayah kelola bertujuan untuk memperbaiki strategi


dan pengembangan wilayah kelola sesuai dengan kondisi terkini. Kegiatan
Rasionalisasi wilayah kelola difokuskan pada: 1) Penyesuaian wilayah kelola
terhadap perubahan kawasan hutan, dan 2) penataan batas. Pelaksanaan
dapat dilakukan setiap 5 tahun sekali atau bersifat tentatif sesuai dengan
situasi yang dihadapi.

Saat ini terdapat perbedaan batas wilayah antara RTRW Kota Pagar
Alam dan Provinsi Sumatera Selatan dengan wilayah KPHL Unit XII Dempo
yang berdasarkan SK.866/Menhut-II/2014. Perbedaan-perbedaan batas ini
memungkinkan peluang adanya konflik kepentingan dan tumpang tindih
status baik di tingkat lapangan maupun dalam skala perencanaan serta
perpetaan.

Disadari juga bahwa pengelolaan KPHL Unit XII Dempo dimasa


yang akan datang menghadapi tantangan yang berat. Dengan luas 40%
dari luas Kota Pagar Alam, KPHL Unit XII Dempo diduga akan menghadapi
tantangan terberat berupa tekanan kebutuhan akan lahan untuk
pembangunan baik pertanian, pemukiman, bisnis, maupun untuk sektor
lainnya. Selain itu, masa perencanaan ini cukup panjang dan seringkali sulit
untuk dapat memprediksi dinamika yang terjadi baik dari sisi teknis,
kebijakan, maupun politis. Dengan perubahan-perubahan yang diduga akan
dihadapi oleh KPHL Unit XII Dempo, sehingga perlu menyesuaikan dengan
kondisi kekinian saa itu agar pengelolaan KPHL dapat sesuai dengan
peraturan yang berlaku maupun visi yang telah ditetapkan.

Rencana Pengelolaan Hutan Jangka Panjang KPHL Unit XII Dempo 2016-2025
Rencana Kegiatan

Rencana Pengelolaan KPHL Unit XII Dempo bersifat dinamis.


Rencana Pengelolaan sesuai dengan kondisi terkini maka diperlukan
kegiatan untuk meninjau kembali rencana pengelolaan yang telah
ditetapkan sebelumnya dan atau menuangkan dalan Rencana Tahunan
Pengelolaan KPHL Unit XII Dempo. Kesesuaian antara rencana dan data
serta fakta di lapangan, akan memudahkan pelaksanaan di tingkat tapak.
Hal ini untuk memperoleh rencana pengelolaan yang dapat diterapkan
dalam pengelolaan hutan yang efektif dan efisien dalam kerangka
kelestarian hasil dan kelestarian hutan dapat terwujud. Adapun review
rencana pengelolaan adalah sebagai berikut:

1) Melakukan inventarisasi peluang rencana unggulan prioritas.


2) Melakukan konsultasi publik terkait review rencana pengelolaan.
3) Melakukan pendataan ulang terhadap perubahan perkembangan
kondisi perizinan pemanfaatan dan penggunaan hutan.
4) Melakukan inventarisasi dan identifikasi permasalahan baru yang
muncul dan diperlukan kebijakan.
5) Melakukan review RPHJP KPHL.

Pengembanagan investasi bertujuan untuk percepatan


pembangunan dan optimalisasi pemanfaatan potensi kawasan hutan KPHL
Unit XII Dempo, demi mencapai peningkatan aspek sosial ekonomi dengan
tetap menjaga kelestarian hutan. Sesuai dengan cita-cita yang dirumuskan
dalam visi KPHL Unit XII Dempo, maka investasi yang dilakukan pada dan
oleh KPHL Unit XII Dempo diarahkan untuk pengembangan pada sektor
jasa yaitu pemanfaatan poensi KPHL Unit XII Dempo sebagai daerah tujuan
ekowisata di Propinsi Sumatera Selatan. Namun, tidak menutup
kemungkinan bagi investor lain untuk melakukan investasi pada bidang

Rencana Pengelolaan Hutan Jangka Panjang KPHL Unit XII Dempo 2016-2025
Rencana Kegiatan

kegiatan lain. Hal ini mengingat semua bentuk program kegiatan yang
dilakukan dalam wilayah KPHL Unit XII Dempo akan diangkat sebagai objek
dan daya tarik wisata. Pengembangan investasi diarahkan pada:

Potensi KPHL Unit XII Dempo belum teridentifikasi dengan detil,


sehingga dmasih dibutuhkan hasil inventarisasi untuk menetapkan
pemanfaatan potensi ekowisata yang ada. Namun, beberapa objek wisata
yang telah dikelola yang terdapat dalam kawasan KPH perlu mendapat
pembinaan dan pengelolaan yang profesional agar dapat sejalan dengan
rumusan visi KPHL Unit XII Dempo. Beberapa potensi objek wisata yang
telah dikelola adalah:

1. Pendakian Gunung Dempo


2. Tugu Rimau

Program pengembangan ekowisata di KPHL Unit XII Dempo tidak


hanya bertumpu pada alam semata namun juga memanfaatkan program-
program KPHL lainnya untuk dikemas sedemikian rupa sebagai objek
wisata. Program pengembangan ekowisata akan dijabarkan dengan detil
dalam Rencana Pengelolaan Hutan Jangka Pendek (RPHJPd) yang bersifat
tahunan setelah terdatanya potensi ekowisata dan program kegiatan
lainnya.

KPHL Unit XII Dempo juga diarahkan sebagai host dalam menjamu
tamu yang berkunjung tidak hanya ke KPHL Unit XII Dempo, namun juga
ke objek-objek lain yang terdapat di Kota Pagar Alam. Pembangunan
ecolodge yang layak dengan pengelolaan yang profesional diharapakan

Rencana Pengelolaan Hutan Jangka Panjang KPHL Unit XII Dempo 2016-2025
Rencana Kegiatan

sebagai salah satu sumber pemasukan bagi KPHL UnitXII Dempo, serta bagi
peningkatan kesejahteraan masyarakat. Keberadaan ecolodge di KPHL Unit
XII Dempo juga menjadi salah satu tonggak dalam usaha merubah sumber
pendapatan masyarakat dari sektor pertanian ke sektor jasa.

Keberadaan ecolodge tidak terlepas dari prinsip dan filosofi


ekowisata. Ecolodge merupakan suatu penginapan yang ramah lingkungan,
Hitesh Mehta (2004) dalam pemaparannya menyebutkan bahwa, ecolodge
adalah penginapan dengan kapasitas 5-75 kamar yang meminimalkan
dampak bagi alam yang melindungi lingkungan; melibatkan dan membantu
meningkatkan kesejahteraan masyarakat sekitar, menawarkan pada
wisatawan pengalaman aktif dan berkesan; memberikan suatu hubungan
spiritual yang erat dengan budaya dan alam, serta direncanakan, didesain,
dibangun dan dikelola dengan cara alami dan budaya setempat.

Dalam paparan Dr. Bambang Supriyanto ada Seminar Taman


Nasional Dan Jasa Lingkungan Dan Peluncuran Buku “Berwisata Alam Di
Taman Nasional” pada tanggal 5 September 2014, menulis bahwa jasa
lingkungan atau jasa ekosistem adalah hasil atau implikasi dari dinamika
bentang alam berupa jasa (yang memberikan keuntungan bagi kehidupan
manusia) yang dapat dikategorikan sebagai keindahan dan fenomena alam,
keanekaragaman hayati dan ekosistem, fungsi hidrologi, penyerapan dan
penyimpanan karbon, dan berbagai jasa lainnya.

Sedangkan dalam PP Nomor 6 Tahun 2007 tentang Tata Hutan Dan


Penyusunan Rencana Pengelolaan Hutan, serta Pemanfaatan Hutan, Pasal
25 ayat (1) menyebutkan bahwa pemanfaatan jasa lingkungan pada hutan
lindung dilakukan, antara lain, melalui kegiatan usaha : 1) pemanfaatan
jasa aliran air; 2) pemanfaatan air; 3) wisata alam; 4) perlindungan

Rencana Pengelolaan Hutan Jangka Panjang KPHL Unit XII Dempo 2016-2025
Rencana Kegiatan

keanekaragaman hayati; 5) penyelamatan dan perlindungan lingkungan;


atau 6) penyerapan dan/atau penyimpanan karbon.

KPHL Unit XII Dempo memiliki potensi hidrologi yang besar, salah
satu bentuk pemanfaaatan hodrologi adala dengan dikeluarkan ijin
penggunaan kawasan untuk pembangunan bendungan dan irigasi. Selain
itu, program KPHL yang dapat dilangsungkan adalah dengan pembangunan
pembangkit listrik mikro hidro untuk memberikan penerangan bagi warga
serta pembangunan perusahaan air mineral kemasan. Selain itu potensi
simpanan dan serapan karbon di KPHL Unit XII Dempo dapat dijual ke
negara lain atau perusahaan lain.

Pengembangan Hasil Hutan Bukan Kayu (HHBK) mempunyai


peluang yang cukup besar dan menjanjikan serta kompetitif di wilayah KPHL
Unit XII Dempo. HHBK merupakan sumber bahan pangan (alternatif),
sumber bahan obat-obatanan, penghasil serat, penghasil getah-getahan
dan benda-benda hayati, non hayati dan turunannya yang berasal dari
hutan yang dapat meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Hal tersebut
sejalan dengan kebijakan nasional dalam mengembangkan dan
meningkatkan produksi HHBK. Berdasarkan Peraturan Menteri Kehutanan
No P.35/Menhut-II/2007 telah ditetapkan jenis-jenis HHBK yang terdiri dari
9 kelompok HHBK yang terdiri dari 557 spesies tumbuhan dan hewan.

Salah satu HHBK yang pernah menjadi primadona bagi pendapatan


masyarakat setempat adalah rotan. Namun, sejak ekspor rotan mentah
dilarang, komoditi ini kehilangan peran dalam ekonomi masyarakat
setempat padahal keberadaan rotan tetap potensial di hutan Pagar Alam.
Sehingga dalam hal ini bersama dengan kegiatan pemberdayaan

Rencana Pengelolaan Hutan Jangka Panjang KPHL Unit XII Dempo 2016-2025
Rencana Kegiatan

masyarakat perlu adanya strategi dalam usaha pengolahan rotan menjadi


barang jadi.

Rencana Pengelolaan Hutan Jangka Panjang KPHL Unit XII Dempo 2016-2025
Rencana Kegiatan

Tabel 5.4 Rencana Kegiatan Pengelolaan KPHL Unit XII Dempo


Tata Waktu
Sumber
No. Fokus Kegiatan Bentuk Kegiatan Pelaksana Lokasi

2016
2017
2018
2019

2021
2022
2023
2024
2025
2020
Dana

1 Inventarisasi 1 Inventarisasi Hutan KPHL Unit XII Semua APBD,


berkala wilayah 1.a Inventarisasi potensi Dempo bekerja wilayah KPHL APBN
kelola dan jasa lingkungan berkala. sama dengan XII Dempo
penataan 1.b Inventarisasi potensi lembaga-
hutannya non-kayu berkala. lembaga
1.c Inventarisasi potensi penelitian/pendi
satwa berkala. dikan.
1.d Inventarisasi potensi
kayu berkala.
1.e Inventarisasi sosial
budaya secara berkala.
2 Tata Hutan BPKH
2.a Tata batas luar KPH
2.b Penataan blok dan KPH
petak berkala
2.c Rekonstruksi dan KPH
pemeliharaan batas
2.d Sosialisasi batas KPH, BPKH,
kawasan hutan Dishut Pov,
Kab/Kota

Rencana Pengelolaan Hutan Jangka Panjang KPHL Unit XII Dempo 2016-2025
Rencana Kegiatan

Tata Waktu
Sumber
No. Fokus Kegiatan Bentuk Kegiatan Pelaksana Lokasi

2016
2017
2018
2019

2021
2022
2023
2024
2025
2020
Dana

2 Pemanfaatan 1 Pemanfaatan kawasan KPH, Blok APBD,


Hutan pada hutan sebagai ekowisata Pemkot Pagar Pemanfaatan APBN,
Wilayah Tertentu 2 Pemanfaatan HHBK Alam, BPDAS Mitra/
3 Penanaman Tanaman Musi Donor
Jenis MPTS di Blok
Pemanfatan
3 Pemberdayaan 1 Kerjasama dengan KPH, Dishut Blok APBD,
Masyarakat masyarakat sekitar dalam Kota, Pemanfaatan APBN,
pengelolaan potensi Dishut Mitra/
wisata yang terdapat Sumsel, Donor
dalam kawasan hutan. Kemhut, BPDAS
2 Kerjasama dengan Musi,
masyarakat sekitar dalam Desa, LSM,
pengelolaan hutan dan Lembaga
pemungutan HHBK Donor
3 Pembangunan Kebun Bibit Pemegang
Rakyat dan hutan ijin IPPKH,
kemasyarakatan Bakorluh,
4 Pelatihan yang terkait BP4K dan
dengan kegiatan-kegiatan Dinas
KPHL Unit XII Dempo. Koperasi.

Rencana Pengelolaan Hutan Jangka Panjang KPHL Unit XII Dempo 2016-2025
Rencana Kegiatan

Tata Waktu
Sumber
No. Fokus Kegiatan Bentuk Kegiatan Pelaksana Lokasi

2016
2017
2018
2019

2021
2022
2023
2024
2025
2020
Dana

4 Pembinaan dan 1 Pelaksanaan pembinaan KPHl Unit XII Blok APBD,


pemantauan dan pemantauan terhadap Dempo, Dinas Pemanfaatan APBN
pada areal ijin pemegang ijin penggunaan Kehutanan Penggunaan
pemanfaatan kawasan hutan Kabupaten, Kawasan
maupun 2 Pelaksanaan Monitoring BPDAS Musi, Hutan
penggunaan dan evaluasi terhadap Dinas (IUPPKH)
kawasan hutan. pemegang ijin penggunaan Lingkungan
kawasan hutan Hidup Kota
5 Rehabilitasi pada 1 Pelaksanaan rehabilitasi KPHL Unit XII Blok APBD,
areal kerja di luar yang diperuntukkan pada Dempo, BPDAS Pemanfaatan APBN,
izin skema perdagangan Musi Mitra/
karbon. Donor
2 Pelaksanaan rehabilitasi KPHL Unit XII
yang diperuntukkan untuk Dempo, BPDAS
perlindungan satwa. Musi
3 Pelaksanaan rehabilitasi KPHL Unit XII
pada areal perlindungan Dempo, BPDAS
lokal, sempadan sungai, Musi
mata air dan danau.
4 Pelaksanaan rehabilitasi KPHL Unit XII
hutan di areal sangat kritis Dempo, BPDAS
dan kritis Musi

Rencana Pengelolaan Hutan Jangka Panjang KPHL Unit XII Dempo 2016-2025
Rencana Kegiatan

Tata Waktu
Sumber
No. Fokus Kegiatan Bentuk Kegiatan Pelaksana Lokasi

2016
2017
2018
2019

2021
2022
2023
2024
2025
2020
Dana

6 Pembinaan dan 1 Pembinaan pelaksanaan KPHL, Dishut Blok APBD,


pemantauan rehabilitasi dan reklamasi Kota Pagar Pemanfaatan APBN,
rehabilitasi dan terhadap pemegang izin Alam, dan Pemega
reklamasi di dalam pemanfaatan dan Dishut Sumsel, Penggunaan ng Ijin
areal yang berizin penggunaan kawasan KLHK, BPDAS Kawasan
hutan Musi Hutan
2 Pemantauan pelaksanaan (IUPPKH)
rehabilitasi dan reklamasi
terhadap pemegang izin
pemanfaatan dan
penggunaan kawasan
hutan
7 Rencana 1 Melaksanakan sosialisasi KPHL Unit XII Semua APBD,
penyelenggaraan dan penyuluhan Dempo, BPDAS wilayah KPHL APBN,
perlindungan perlindungan hutan Musi , Kota XII Dempo Pemega
hutan dan terhadap masyarakat. Pagar Alam ng Ijin,
konservasi alam 2 Deliniasi dan ground check bekerja sama Mitra/
areal perlindungan dengan Desa Donor
setempat/sempadan beserta
sungai. masyarakat
3 Melaksanakan sekitar
inventarisasi survey

Rencana Pengelolaan Hutan Jangka Panjang KPHL Unit XII Dempo 2016-2025
Rencana Kegiatan

Tata Waktu
Sumber
No. Fokus Kegiatan Bentuk Kegiatan Pelaksana Lokasi

2016
2017
2018
2019

2021
2022
2023
2024
2025
2020
Dana

sosial/permasalahan
kawasan hutan.
4 Perlindungan dan
pengawetan flora dan
fauna.
5 Melaksanakan
pengamanan kawasan dan
sumberdaya hutan secara
partisipatif bersama
masyarakat.
6 Melaksanakan
pencegahan dan
penanggulangan
kebakaran hutan.
7 Pembentukan mitra
pengamanan hutan
(masyarakat).
8 Rencana 1 Koordinasi rutin dengan KPHL Unit XII Wilayah APBD,
penyelenggaraan pemegang izin Dempo, Dishut IUPPKH APBN
koordinasi dan penggunaan kawasan Kota Pagar
sinkronisasi antar 2 Sosialisasi dan Alam, Dishut
pemegang izin sinkroninasi kegiatan Sumsel, BPDAS
pemegang izin Musi, KLHK

Rencana Pengelolaan Hutan Jangka Panjang KPHL Unit XII Dempo 2016-2025
Rencana Kegiatan

Tata Waktu
Sumber
No. Fokus Kegiatan Bentuk Kegiatan Pelaksana Lokasi

2016
2017
2018
2019

2021
2022
2023
2024
2025
2020
Dana

penggunaan kawasan
secara rutin
9 Koordinasi dan 1 Pelaksanaan koordinasi KPHL Unit XII Wilayah KPHL APBD,
sinergi dengan dengan instansi maupun Dempo, BPDAS Unit XII APBN,
instansi dan pihak lain yang terkait Musi Dempo Mitra/
stakeholder terkait: pada semua tingkatan. Donor
2 Pelaksanaan sinergi
kegiatan di tingkat tapak
dengan instansi maupun
pihak lain yang terkait
pada semua tingkatan
3 Pembentukan forum
komunikasi dan kolaborasi
pengelolaan hutan para
pihak
10 Rencana 1 Identifikasi dan KPHL, BKD Wilayah KPHL APBD,
penyediaan dan pengusulan kebutuhan Prov, Pusdiklat Unit XII APBN
peningkatan pegawai baik struktural, Sumsel, Dempo
kapasitas SDM non struktural, maupun Pusdiklat
fungsional. Sumsel, KLHK,
2 Identifikasi kebutuhan Dishut Prov.,
pelatihan (training need Pemprov.,
assessment). BPDAS Musi

Rencana Pengelolaan Hutan Jangka Panjang KPHL Unit XII Dempo 2016-2025
Rencana Kegiatan

Tata Waktu
Sumber
No. Fokus Kegiatan Bentuk Kegiatan Pelaksana Lokasi

2016
2017
2018
2019

2021
2022
2023
2024
2025
2020
Dana

3 Pengembangan kapasitas
personil melalui berbagai
program pendidikan,
pelatihan dan pembinaan.
11 Penyediaan 1 Penyusunan rencana KPHL Unit XII Wilayah KPHL APBD,
pendanaan: anggaran dan kegiatan Dempo, BPDAS Unit XII APBN
rutin kepada Pemprov dan Musi Dempo
Kemhut
2 Penyusunan proposal
skema sharing pendanaan
dari Pemerintah,
Pemerintah Provinsi, dan
Pemerintah Kabupaten
3 Penyusunan proposal
penjalinan kerjasama
kegiatan dengan pihak
ketiga yang tidak mengikat
dan dapat saling
menguntungkan
12 Saran dan 1 Pengadaan dan KPHL Unit XII Wilayah KPHL APBD,
Prasarana pembangunan sarana Dempo, Unit XII APBN,
kantor dan base camp Kemenhut, Dempo Investor,
berupa tanah dan gedung. KPH, Dishut NGO

Rencana Pengelolaan Hutan Jangka Panjang KPHL Unit XII Dempo 2016-2025
Rencana Kegiatan

Tata Waktu
Sumber
No. Fokus Kegiatan Bentuk Kegiatan Pelaksana Lokasi

2016
2017
2018
2019

2021
2022
2023
2024
2025
2020
Dana

2 Pengadaan prasarana Propinsi, BPDAS


perlengkapan kantor KPHL Musi
dan Resort.
3 Pengadaan sarana
transportasi berupa
kendaraan roda 4 dan 2.
4 Pengadaan sarana
komunikasi.
5 Pengadaan alat
perlengkapan kerja di
lapangan.
6 Penyediaan sarana
penunjang dan pelayanan
pengelolaan ekowisata.
6.a. Pusat Informasi
Pengunjung
6.b. Perbaikan jalan
setapak pendakian
Gunung Dempo
6.c. Pembuatan jalur
jelajah KPHL Unit XII

Rencana Pengelolaan Hutan Jangka Panjang KPHL Unit XII Dempo 2016-2025
Rencana Kegiatan

Tata Waktu
Sumber
No. Fokus Kegiatan Bentuk Kegiatan Pelaksana Lokasi

2016
2017
2018
2019

2021
2022
2023
2024
2025
2020
Dana

6.d. Pembuatan jalur


pengamatan
satwa/birdwatching
6.e. Pembangunan
Outbond
6.f. Pembangunan Bumi
Perkemahan
6.g. Pembangunan Canopy
Trail
6.h. Pembangunan
Ecolodge
6.i. Pengembangan
Homestay
13 Pengembangan 1 Pelatihan SDM pengelola KPHL Unit XII Wilayah KPHL APBD,
database: database. Dempo, BPDAS Unit XII APBN
2 Penyiapan perangkat Musi Dempo
database.
3 Penyusunan dan
pengelolaan database.
4 Penyusunan sistem
managemen pusat
informasi KPHL.

Rencana Pengelolaan Hutan Jangka Panjang KPHL Unit XII Dempo 2016-2025
Rencana Kegiatan

Tata Waktu
Sumber
No. Fokus Kegiatan Bentuk Kegiatan Pelaksana Lokasi

2016
2017
2018
2019

2021
2022
2023
2024
2025
2020
Dana

5 Pembuatan website KPHL


Unit XII Dempo.
14 Rencana 1 Penyesuaian Wilayah KPHL Unit XII Wilayah KPHL APBD,
rasionalisasi Kelola terhadap perubahan Dempo, BPDAS Unit XII APBN,
wilayah kelola kawasan hutan atau Musi Dempo Mitra/
RTRWP/K bekerjasama Donor
2 Penataan Batas Kawasan dengan pihak
yang
berkepentingan
15 Review Rencana 1 Melakukan inventarisasi KPHL Unit XII Wilayah KPHL APBD,
Pengelolaan : peluang rencana unggulan Dempo, BPDAS Unit XII APBN,
prioritas. Musi Dempo Mitra/
bekerjasama Donor
2 Melakukan konsultasi
dengan tenaga
publik terkait review
ahli atau pihak
rencana pengelolaan.
ketiga
3 Melakukan pendataan
ulang terhadap perubahan
perkembangan kondisi
perizinan pemanfaatan
dan penggunaan hutan.
4 Melakukan inventarisasi
dan identifikasi
permasalahan baru yang

Rencana Pengelolaan Hutan Jangka Panjang KPHL Unit XII Dempo 2016-2025
Rencana Kegiatan

Tata Waktu
Sumber
No. Fokus Kegiatan Bentuk Kegiatan Pelaksana Lokasi

2016
2017
2018
2019

2021
2022
2023
2024
2025
2020
Dana

muncul dan diperlukan


kebijakan.
5 Melakukan review RPHJP
KPHL.
16 Pengembangan 1 Pengembangan dan KPHL Unit XII Wilayah KPHL APBD,
investasi : pemanfaatan potensi Dempo, BPDAS Unit XII APBN,
ekowisata Musi Dempo Mitra/
2 Pembangunan ecolodge Donor
3 Pemanfaatan Jasa
lingkungan
4 Pemanfaatan dan
Pengolahan Hasil Hutan
Bukan Kayu

Rencana Pengelolaan Hutan Jangka Panjang KPHL Unit XII Dempo 2016-2025
Dalam kaitannya dengan implementasi rencana pengelolaan, tujuan
dari pembinaan, pengawasan dan pengendalian adalah untuk:

 Meningkatkan kemampuan kompetensi SDM.


 Menjaga adanya konsistensi pelaksanaan kegiatan dengan
tujuan yang ingin dicapai.
 Menjamin kesesuaian pelaksanaan rencana kegiatan dengan
peraturan perundang-undangn yang berkaitan dengan
kegiatan.

Dalam melaksanakan pembinaan, pengawasan dan pengendalian


terdapat beberapa aspek, kaidah dan prinsip yang perlu dipertimbangkan
antara lain:

1) Koordinasi
Koordinasi adalah mengarahkan kegiatan seluruh unit dengan tujuan
memberikan sumbangan yang maksimal unutk tercapainya tujuan
tertentu. Kegiatan koordinasi perlu dilakukan bertujuan agar tercipta
harmonisasi, integrasi dan sinkronisasi kegiatan.
Pembinaan, Pengawasan, dan Pengendalian

2) Sinergi
Sinergi mengandung arti melakukan kegiatan secara bersama-sama
untuk mencapai tujuan yang diingikan.
3) Integrasi
Integrasi adalah tindakan konsisten sesuai dengan nilai-nilai dan
kebijakan organisasi serta kode etik profesi, walaupun sangat sulit
untuk melakukan hal ini.
4) Sinkronisasi
Sinkronisasi mengandung arti ikut serta dalam melaksanakan
kegiatan sesuai dengan tugasnya dan kewenangan masing-masing.

Pembinaan adalah usaha tindakan dan kegiatan yang dilakukan


secara berdaya guna untuk memperoleh hasil yang baik. Pembinaan dapat
pula diartikan sebagai suatu proses yang bertujuan untuk dapat
menimbulkan perubahan, kemajuan, peningkatan, pertumbuhan, evaluasi
atau berbagai kemungkinan atas sesuatu.

Secara umum, pembinaan perlu dilakukan sebagai bagian dari


proses implementasi suatu program atau kegiatan yang telah direncanakan
dengan tujuan untuk meningkatkan kinerja sebuah organisasi atau lembaga
atau untuk meningkatkan kemampuan atau kompetensi sumberdaya
manusia (SDM) dalam organisasi atau lembaga tersebut. Sebagai tolak ukur
pembinaan dapat berupa peraturan–kebijakan atau dapat berupa norma,
standar, prosedur dan kriteria (NSPK).

Untuk pengelolaan KPHL Unit XII Dempo mempergunakan tolak


ukur NPSK yang berkaitan dengan pengelolaan hutan. Pembinaan yang
dilakukan oleh Pemerintah Provinsi Sumatera Selatan meliputi pembinaan
terhadap penyelenggaraan pengelolaan KPHL Unit XII Dempo pada skala

Rencana Pengelolaan Hutan Jangka Panjang KPHL Unit XII Dempo 2016-2025
Pembinaan, Pengawasan, dan Pengendalian

tapak. Pembinaan yang diberikan dapat berupa pemberian pedoman,


bimbingan, pelatihan, arahan, dan atau supervisi. Pembinaan dilakukan
secara berkala setiap semester (6 bulan). Namun dalam keadaan tertentu
dapat dilakukan pembinaan secara khusus.

Hasil pembinaan digunakan sebagai bahan evaluasi perbaikan


perencanaan dan pelaksanaan pengelolaan, dan/atau perbaikan terhadap
pengelolaan KPHL Unit XII Dempo pada masa yang akan datang.

Pengawasan adalah suatu kegiatan untuk memperoleh kepastian


apakah suatu pelaksanaan kegiatan dapat dilaksanakan sesuai dengan
rencana, aturan-aturan dan tujuan yang telah di tetapkan. Pengawasan
yang dilakukan oleh Pemerintah terkait dengan efektifitas pelaksanaan
Norma, Standar, Prosedur, dan Kriteria (NSPK) yang terkait dengan
pengelolaan hutan baik produksi maupun lindung. Selain itu juga mencakup
pengawasan terhadap efektifitas pelaksanaan tugas dekonsentrasi dan
tugas perbantuan, pinjaman dan hibah luar negeri sejauh terkait dengan
pengelolaan KPHL Unit XII Dempo. Pengawasan yang dilakukan oleh
Pemerintah Provinsi Sumatera Selatan melalui Dinas Kehutanan Provinsi
Sumatera Selatan meliputi pengawasan terhadap efektifitas pelaksanaan
pembinaan penyelenggaraan KPHL Unit XII Dempo yang memiliki
keterkaitan dengan kewenangan Pemerintah Provinsi.

Pembinaan yang dilakukan oleh Pemerintah Provinsi Sumatera


Selatan meliputi pengawasan terhadap efektifitas pelaksanaan pembinaan
penyelenggaraan KPHL Unit XII Dempo pada skala tapak. Pengawasan
secara formal dilakukan secara berkala setiap semester (6 bulan). Namun
dalam keadaan tertentu dapat dilakukan pengawasan secara khusus. Hasil
pengawasan digunakan sebagai bahan perbaikan perencanaan dan

Rencana Pengelolaan Hutan Jangka Panjang KPHL Unit XII Dempo 2016-2025
Pembinaan, Pengawasan, dan Pengendalian

pelaksanaan pengelolaan, dan/atau perbaikan terhadap pengelolaan KPHL


Unit XII Dempo di masa yang akan datang.

Pengendalian adalah segala usaha untuk menjamin dan


mengarahkan agar kegiatan yang sedang dilaksanakan dapat berjalan
sesuai dengan rencana yang telah ditetapkan atau hasil yang dikehendaki
serta sesuai pula dengan segala ketentuan dan kebijaksanaan yang berlaku.
Dalam pengelolaan KPHL Unit XII Dempo, pengendalian meliputi kegiatan
monitoring dan evaluasi pelaksanaan kegiatan pengelolaan KPHL Unit XII
Dempo. Kegiatan monitoring dilakukan agar hasil yang dicapai dapat
memenuhi atau sesuai dengan target yang telah ditetapkan.

Monitoring dan evaluasi secara formal dilakukan secara berkala


setiap semester (6 bulan). Namun dalam keadaan tertentu dapat dilakukan
monitoring dan evaluasi secara khusus. Hasil pengendalian digunakan
sebagai bahan evaluasi perbaikan perencanaan dan pelaksanaan
pengelolaan, dan/atau perbaikan terhadap pengelolaan KPHL Unit XII
Dempo di masa yang akan datang.

Rencana Pengelolaan Hutan Jangka Panjang KPHL Unit XII Dempo 2016-2025
Pemantauan, Evaluasi, dan Pelaporan merupakan instrumen
penting untuk mengkoordinasikan, menyempurnakan dan menyesuaikan
kembali kegiatan-kegiatan KPHL Unit XII Dempo dari perubahan-perubahan
temporal yang terjadi atau apa bila dinilai adanya kelemahan dalam
penyusunan perencanaan dan proses pekerjaan. Dengan adanya kegiatan
pemantauan, evaluasi, dan pelaporan maka setiap kendala dan inefesiensi
yang terjadi dapat segera dicarikan solusi untuk mengatasinya. Selain itu,
pelaksanaan kegiatan dapat terus berjalan sesuai dengan rencana
pencapaian target yang telah ditetapkan. Nilai penting dari kegiatan ini
adalah sebagai saran pertanggungjawaban kegiatan pengelolaan sehingga
kinerja organisasi dan progres pembangunan KPHL bisa terukur secara baik
dengan arah yang jelas.

Kegiatan pemantauan merupakan upaya monitoring dan


pembinaan organisasi pengelolaan dan operasional agar proses kegiatan
sejalan dengan rekomendasi dan perencanaan serta kebijakan organisasi
yang telah disusun dan disepakti. Kegiatan pemantauan dilakukan seiring
dengan pelaksanaan pekerjaan yang sedang dilaksanakan.
Pemantauan, Evaluasi, dan Pelaporan

Pemantauan tidak hanya pada kegiatan yang bersifat terjadwal


tetapi juga dilakukan terhadap aspek lainnya yaitu dalam lingkup kegiatan
pembinaan dan perlindungan kawasan. Kegiatan tersebut meliputi
pemantauan kerawanan dan gangguan kerusakan kawasan hutan,
terjadinya pelanggaran hukum, pemberdayaan dan partisipasi masyarakat
dalam pengelolaan hutan dan aktivitas organisasi pengelolaan mitra atau
pemegang izin yang ada. Prosedur pemantauan harus memiliki instrument
yang jelas baik dalam unsur-unsurnya, kriteria dan capaian/tolak ukur yang
disepakati dalam manajemen sehingga mempunyai baku standar dan
kriteria.

Kegiatan evaluasi merupakan tindak lanjut hasil pemantauan dan


pembinaan kegiatan. Dengan dilakukan evaluasi secara terjadwal dan
menyeluruh dimaksudkan untuk mengukur kinerja kegiatan dalam dimensi
pengelolaan. Evaluasi dapat dilakukan dalam tahapan kegiatan dengan hasil
yang dapat terukur pada tahapan tersebut dan pada saat setelah selesai
suatu kegiatan. Evaluasi melibatkan pihak perencana, pelaksana, pemantau
dan atau pihak independent dengan harapan hasil dari evaluasi bersifat
independen yang bisa di analisis secara menyeluruh menurut tahapannya.
Melibatkan pihak Independent ( konsultan ) diharapkan laporan / study
yang dilakukan dapat memberikan informasi hasil lebih obyektif,
proporsional dan adanya masukan atau upaya tindak lanjut yang lebih baik
karena dinilai oleh pihak yang berkompeten dalam hal audit.

Pelaporan kegiatan KPHL sebagai salah satu bentuk pertanggung


jawaban dan taat terhadap regulasi pengelolaan, juga merupakan
dokumentasi kegiatan. Pelaporan di tujukan kepada unit/instansi di atasnya

Rencana Pengelolaan Hutan Jangka Panjang KPHL Unit XII Dempo 2016-2025
Pemantauan, Evaluasi, dan Pelaporan

dan pejabat yang berwenang serta pihak lain yang menurut aturannya
harus mendapatkan laporan tersebut. Prosedur dan skema pelaporan
disesuikan dengan petunjuk teknis berdasarkan pada peraturan yang telah
ditetapkan. Adapun penyajian laporan ini terbagi atas 3 (tiga) katagori
yaitu;

Merupakan penyampaian pertanggungjawaban kemajuan


pekerjaan secara periode tertentu. Laporan rutin ini meliputi
laporan bulanan, triwulan dan tahunan. Laporan rutin meliputi
laporan fisik maupun keuangan (biaya dan pendapatan). Laporan
triwulan merupakan penyampain kegiatan dan
pertanggungjawaban per tiga bulan dan dibuat dalam waktu proses
pekerjaan sedangkan laporan tahunan merupakan laporan akhir per
tahun kegiatan. Laporan rutin di buat oleh unit pelaksana kegiatan
atau lembaga KPHL yang diberikan wewenang penyusunan laporan.

Merupakan penyampaian proggres report terhadap kegiatan yang


dievaluasi khusus berdasarkan pada kriteria dan kepentingan yang
bersifat mendesak, khusus dalam penyajian khusus. Pelaporan
insidentil obyeknya bisa didasarkan pada kegiatan rutin maupun
kegiatan yang bersifat tidak rutin (keproyekan). Proses pelaksanaan
dan pelaporan yang bersifat Insidentil dilakukan oleh tim auditor
khusus.

Merupakan laporan yang menurut sifat dan ketentuannya harus


dibuat berdasarkan regulasi kegiatan bersifat tunggal atau parsial.

Rencana Pengelolaan Hutan Jangka Panjang KPHL Unit XII Dempo 2016-2025
Pemantauan, Evaluasi, dan Pelaporan

Kegiatan ini ditujukan khususnya menurut sifat dan jenis ruang


lingkupnya mempunyai spesifikasi khusus antara lain kegiatan
perekayasaan, penelitian dan laporan kelembagaan sosial. Kaidah
pelaporan mempunyai aturan khusus sesuai dengan teknik dan
metode penyajiannya tidak hanya bersifat rutin, insidentil tetapi
lebih pada pendekatan teori dan metode studi yang dilakukan.

Output dan tindak lanjut laporan rutin, laporan insidentil mapun


laporan khusus tersebut merupakan dokumen pengelolaan yang erat
kaitannya dengan proses penyempurnaan dan optimalisasi organisasi untuk
memenuhi tujuan dan maksud serta sasaran pengelolaan. Tindak lanjut
yang dilakukan bisa dengan melakukan reposisi kegiatan, pembinaan
sumberdaya dan anggaran, adendum atau revisi pekerjaan dengan terlebih
dahulu melakukan penyempurnaan dokumen perencanaan dan regulasi
pemantauan, evaluasinya kembali.

Rencana Pengelolaan Hutan Jangka Panjang KPHL Unit XII Dempo 2016-2025
Rencana Pengelolaan Hutan Jangka Panjang KPHL Unit XII Dempo
merupakan pedoman dan arahan pelaksanaan pengelolaan kawasan hutan
di tingkat tapak dalam jangka panjang selama 10 tahun. Oleh karena itu,
dokumen perencanaan ini masih bersifat makro dan indikatif. Dengan
demikian masih diperlukan penjabaran lebih lanjut ke dalam rencana-
rencana yang lebih rinci dan dengan cakupan masa perencanaan yang lebih
pendek berupa rencana teknis dan rencana tahunan.

Pelaksanaan dan penjabaran lebih lanjut dari rencana pengelolaan


ini perlu dimonitor pencapaian pelaksanaannya agar tetap konsisten sesuai
dengan tujuan yang ingin dicapai. Namun disadari pula bahwa masa
perencanaan ini cukup panjang sehingga seringkali sulit untuk dapat
memprediksi dinamika yang terjadi baik dari sisi teknis, kebijakan, maupun
politis. Dalam kerangka ini maka rencana pengelolaan hutan jangka
panjang KPHL Unit XII Dempo terbuka untuk dapat direview agar dapat
sinkron dan tetap bersinergi terhadap kebijakan maupun kepentingan
banyak pihak, selama dapat memberikan dampak yang lebih baik bagi
pembanguan KPHL Unit XII Dempo.
Badan Pusat Statistik. 2015. Pagar Alam Dalam Angka. Pagar Alam: BPS
Kota Pagar Alam.

_______. 2015. Kecamatan Pagar Alam Selatan Dalam Angka. Pagar Alam:
BPS Kota Pagar Alam.

_______. 2015. Kecamatan Pagar Alam Utara Dalam Angka. Pagar Alam:
BPS Kota Pagar Alam.

_______. 2015. Kecamatan Dempo Selatan Dalam Angka. Pagar Alam: BPS
Kota Pagar Alam.

_______. 2015. Kecamatan Dempo Tengah Dalam Angka. Pagar Alam: BPS
Kota Pagar Alam.

_______. 2015. Kecamatan Dempo Utara Dalam Angka. Pagar Alam: BPS
Kota Pagar Alam.

Balai Pemantapan Kawasan Hutan Wilayah II. 2013. Laporan Hasil


Inventarisasi Hutan KPHL Unit XII Dempo. Palembang: BPKH Wil.
II.

_______. 2013. Laporan Hasil Inventarisasi Sosial Ekonomi dan Budaya


KPHL Unit XII Dempo. Palembang: BPKH Wil. II.
Daftar Pustaka

Dinas Kehutanan dan Perkebunan Kota Pagar Alam. 2013. Rencana


Strategis (Renstra) 2013-2018. Pagar Alam: Dinas Kehutanan dan
Perkebunan Kota Pagar Alam.

Pemerintah Kota Pagar Alam. 2015. Rencana Pengelolaan Rehabilitasi


Hutan dan Lahan Tahun 2015-2019. Pagar Alam: Pemerintah Kota
Pagar Alam.

Direktorat Wilayah Pengelolaan dan Penyiapan Areal Pemanfaatan Kawasan


Hutan. 2011. Peraturan Perundang-undangan Kesatuan
Pengelolaan Hutan. Kementerian Kehutanan. Jakarta.

Djajono A. & Siswanty L. 2011. Pembangunan KPH. Konsep, Peraturan


Perundangan dan Implementasi. Jakarta: Kementerian Kehutanan.

Kementerian Kehutanan. 2013. Peraturan Menteri Kehutanan No:


P.22/Menhut-II/2013 tentang Pedoman Kegiatan Usaha
Pemanfaatan Jasa Lingkungan Wisata Alam Pada Hutan Lindung.
Jakarta: Kementerian Kehutanan.

_______. 2013. Peraturan Direktur Jenderal Bina Pengelolaan Daerah Aliran


Sungai dan Perhutanan Sosial Nomor: P. 4/V-SET/2013 tentang
Petunjuk Teknis Penyusunan Data Spasial Lahan Kritis. Jakarta:
Kementerian Kehutanan.

Rencana Pengelolaan Hutan Jangka Panjang KPHL Unit XII Dempo 2016-2025
103°10'0"E 103°15'0"E 103°20'0"E
300000 310000 320000
. Pajarbulan
!
PETA AKSESIBILITAS
KESATUAN PENGELOLAAN HUTAN LINDUNG

4°0'0"S
4°0'0"S

UNIT XII DEMPO


Dempo Nenda Agung
KAB. LAHAT
#
!

KAB. EMPAT LAWANG KOTA PAGARALAM


PROVINSI SUMATERA SELATAN
KAB. LAHAT

LUAS ± 26.000 HA
Pagaralam

SKALA 1:50.000
!

Pagaralam
Petani
0 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 Cm
)
"

0 0.5 1 1.5 2 2.5 3 3.5 4 4.5 5 Km

ng

wa
Ca
Ae k
HL
KETERANGAN
Aek Baru

Bumi Agung
.
! Desa / Dusun
!
! Ibukota Kecamatan
Bumiagung

Gunung / Pegunungan
.
!
9550000

9550000
#
an g
at
Ai
rL em _
^ Objek Wisata Air Terjun

APL
,
% Objek Wisata Belerang

Batas Administrasi Kabupaten

4°5'0"S
Lubukbunta
4°5'0"S

! .
!
Jogging Track
A
Jalan
e

k
Se
l an
gi s
Be
Sungai / Anak sungai

sa
r
Batas Wilayah KPH

TINGKAT AKSESIBILITAS

Rendah Tinggi

Sedang

KOTA PAGARALAM FUNGSI KAWASAN

Megang
Kawasan Pelestarian Hutan Produksi
Prov. Sumatera Selatan HL Hutan Lindung KSA/KPA HPK
Yang Dapat Dikonversi
#

dan Konservasi Alam


Hutan Produksi
HPT Hutan Produksi Terbatas HP
Tetap

Ae
kA
ng an gat

DASAR PEMBUATAN PETA:


KAB. LAHAT

1. Permenhut No. P.46/Menhut-II/2013 Tentang Tata Cara Pengesahan Rencana Pengelolaan Hutan Jangka Panjang
KPHL dan KPHP.
2. Permenhut No. P 47/Menhut-II/2013 Tentang Pedoman, Kriteria dan Standar Pemanfaatan Hutan di Wilayah Tertentu
Pada KPHL dan KPHP
KAB. LAHAT 3. Perdirjen Planologi Kehutanan nomor P.5/VII-WP3H/2012 Tentang Petunjuk Teknis Tatahutan dan Penyusunan
Rencana Pengelolaan Hutan pada KPHL dan KPHP
9540000

9540000
n ir
k Ba
Ae

SUMBER PETA :

4°10'0"S
4°10'0"S

1. Peta RBI Provinsi Sumsel Skala 1 : 50.000 Lembar 0911-61, 0911-63, 0911-64 dan 0912-31 Tahun 2006
2. Peta Dasar Tematik Kehutanan Skala 1 : 250.000 Tahun 2005
Aek Merah

HL 3. Peta Administrasi Pemerintahan Sumsel Skala 1 : 250.000


4. Peta Kawasan Hutan dan Konservasi Perairan Prov. Sumatera Selatan Skala 1:250.000
(Lampiran Sk. 866/Menhut-II/2014 Tanggal 29 September 2014)
5. Peta Penetapan Wilayah KPHL dan KPHP Prov. Sumatera Selatan
HL (Lampiran Sk. 76/Menhut-II/2010 Tanggal 10 Februari 2010)
A
e k Si m pur K an
an
6. Hasil Analisis Digital Jalan, Petak dan Sungai
Ae

Ae k
k
S
ela

E
ng

kt

nd
en
s

i
Ca

h 103°0'0"E 103°30'0"E
w

ga
an
g
Ka

an
n

PETA PET UNJUK L OKA SI


KAB. LAHAT SKAL A 1 : 750.000
KAB. EMPAT LAWANG

°
Prov. Sum atera S elatan

4°0'0"S
4°0'0"S
Pagaralam U
)
"

KOTA PAGARALAM
KAB. LAHAT

n ih KAB. MUARA ENIM


ek Je r
A

KAB. OGAN KOMERING ULU


A e k E nd ikatkan a n

S Prov. Bengkulu
A
M
U
D
E
R
A KAB. OGAN KOMERING ULU SELATAN
H
IN

4°30'0"S
4°30'0"S
D
IA

Lokasi yang dipetakan


Ae
kM
an 103°0'0"E 103°30'0"E
a ija Patah
u
#

4°15'0"S
9530000

9530000
4°15'0"S

CATATAN :
KAB. MUARA ENIM Peta ini bukan merupakan acuan resmi mengenai garis-garis batas Kawasan Hutan dan Administrasi Pemerintahan.

Prov. Bengkulu
BALAI PEMANTAPAN KAWASAN HUTAN WILAYAH II PALEMBANG
DIREKTORAT JENDERAL PLANOLOGI KEHUTANAN DAN TATA LINGKUNGAN
KEMENTERIAN LINGKUNGAN HIDUP DAN KEHUTANAN
300000 310000 320000
103°10'0"E 103°15'0"E 103°20'0"E
103°0'0"E 103°5'0"E 103°10'0"E 103°15'0"E 103°20'0"E 103°25'0"E 103°30'0"E
280000 290000 300000 310000 320000 330000

PETA BATAS KAWASAN HUTAN


KESATUAN PENGELOLAAN HUTAN LINDUNG

3°50'0"S
3°50'0"S

Muara Pinang
UNIT XII DEMPO
KOTA PAGARALAM
!

PROVINSI SUMATERA SELATAN


LUAS ± 26.000 HA

SM
SKALA 1:100.000
Muaratimbuk
.
! GUMAI TEBING TINGGI 0 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 Cm

5 6 9 10 Km
9570000

9570000
0 1 2 3 4 7 8

U
KAB. EMPAT LAWANG

3°55'0"S
3°55'0"S

HPT Padang
GUMAI TEBING TINGGI .
!

Talangtinggi

KETERANGAN
.
! .
!

Tanjungmenang
.
!

a ni r
KAB. LAHAT ek

B
Betungan

A
Desa / Dusun
.
!
.
!

! Ibukota Kecamatan

# Gunung / Pegunungan
Sukananti Tanjungmenang
9560000

9560000
Objek Wisata Air Terjun
.
! .
!
_
^

Objek Wisata Belerang


.
!
,
%

.
!
Pajarbulan
Batas Administrasi Kabupaten

4°0'0"S
h
4°0'0"S

i
Jogging Track
Dempo

J e rn
Nenda Agung
#
!

APL
Jalan
Pagaralam
!
Petani
Pagaralam
Sungai / Anak sungai
HL BUKIT DINGIN )
"
!

Wilayah KPH Unit XII Dempo


gas in g
tun
A

C
ek

a wa n g
Prov. Sumatera Selatan
Ba
A ek

Muaratiga .
!
Lesungbatu
Kiri

! .
!
aw an g
.
!
C
ning

FUNGSI KAWASAN

Aek
a ku
eg

Aek Baru

uk
M

us
k
Ae

B Bumi Agung
Hutan Produksi
k
Kawasan Pelestarian
Ae

Ae k
Hutan Lindung KSA/KPA HPK
!
ng HL
Yang Dapat Dikonversi
Bumiagung
dan Konservasi Alam

lan

Pa
9550000

9550000
y an
ku
ata
.
!
Le

ng

g
m
A ir

a
Hutan Produksi

Ae k N
HPT Hutan Produksi Terbatas HP
Tetap

4°5'0"S
Lubukbunta Bandar
4°5'0"S

du

r ! .
!
sa
r in

Be
am u
me
ka

s
Su

Me
k

ek
Ae

HL
A

HL
s
ar

Be
g is
n

DASAR PEMBUATAN PETA:


la

KOTA PAGARALAM
k Se
Ae

1. Permenhut No. P.46/Menhut-II/2013 Tentang Tata Cara Pengesahan Rencana Pengelolaan Hutan Jangka Panjang
Megang
#

KAB. LAHAT a KPHL dan KPHP.


2. Permenhut No. P 47/Menhut-II/2013 Tentang Pedoman, Kriteria dan Standar Pemanfaatan Hutan di Wilayah Tertentu
a nn

Ae k
kM

An
n
na

Pada KPHL dan KPHP


Ae

Ka
ga

g
ng a

an

3. Perdirjen Planologi Kehutanan nomor P.5/VII-WP3H/2012 Tentang Petunjuk Teknis Tatahutan dan Penyusunan
w a
t

is C

Rencana Pengelolaan Hutan pada KPHL dan KPHP


ng
a
el
S
k
Ae

Ae

SUMBER PETA :
M
k
9540000

9540000
ra
h
e

4°10'0"S
1. Peta RBI Provinsi Sumsel Skala 1 : 50.000 Lembar 0911-61, 0911-63, 0911-64 dan 0912-31 Tahun 2006
4°10'0"S

Tanjungsakti
Tanjungsakti
2. Peta Dasar Tematik Kehutanan Skala 1 : 250.000 Tahun 2005
.
!
!

3. Peta Administrasi Pemerintahan Sumsel Skala 1 : 250.000


4. Peta Kawasan Hutan dan Konservasi Perairan Prov. Sumatera Selatan Skala 1:250.000
(Lampiran Sk. 866/Menhut-II/2014 Tanggal 29 September 2014)
i m pu r K a na n
kS
Ae

Ae
5. Peta Penetapan Wilayah KPHL dan KPHP Prov. Sumatera Selatan

kE
HL

nd
t

.(Lampiran Sk. 76/Menhut-II/2010 Tanggal 10 Februari 2010)

ik
en
A ek
BUKIT JAMBUL GN. PATAH, BUKIT NANTI DAN MEKAKAU
Bu l u

g
!

ah
ih

k Je

A
Ae
rn

ek
103°0'0"E 103°30'0"E

P
n
a na a

er
A ek E
nd i ka tk

ik
n
PETA PET UNJUK L OKA SI
KAB. LAHAT SKAL A 1 : 750.000
KAB. EMPAT LAWANG

°
Prov. Sum atera S elatan

4°0'0"S
4°0'0"S
U
KAB. MUARA ENIM
Pagaralam
)
"
Ae
kM
a n a i ja u

Patah
#
s ar
Be
ak KOTA PAGARALAM

4°15'0"S
KAB. LAHAT
9530000

9530000
4°15'0"S

n
A
Aek
S im
HL
p
KAB. MUARA ENIM
ur

BUKIT JAMBUL GN. PATAH, BUKIT NANTI DAN MEKAKAU


KAB. OGAN KOMERING ULU

S Prov. Bengkulu
A
M
U
D
E
R
A KAB. OGAN KOMERING ULU SELATAN
H
IN

4°30'0"S
4°30'0"S
D
IA

Prov. Bengkulu
Lokasi yang dipetakan

103°0'0"E 103°30'0"E

En
Pepagut

im
#

CATATAN :

4°20'0"S
4°20'0"S

Peta ini bukan merupakan acuan resmi mengenai garis-garis batas Kawasan Hutan dan Administrasi Pemerintahan.
9520000

9520000
BALAI PEMANTAPAN KAWASAN HUTAN WILAYAH II PALEMBANG
DIREKTORAT JENDERAL PLANOLOGI KEHUTANAN DAN TATA LINGKUNGAN
KAB. OGAN KOMERING ULU SELATAN KEMENTERIAN LINGKUNGAN HIDUP DAN KEHUTANAN
280000 290000 300000 310000 320000 330000
103°0'0"E 103°5'0"E 103°10'0"E 103°15'0"E 103°20'0"E 103°25'0"E 103°30'0"E
103°10'0"E 103°15'0"E 103°20'0"E
300000 310000 320000

Pajarbulan PETA DAERAH ALIRAN SUNGAI


KESATUAN PENGELOLAAN HUTAN LINDUNG
.
!

UNIT XII DEMPO

4°0'0"S
4°0'0"S

KAB. LAHAT Dempo Nenda Agung

KOTA PAGARALAM
#
!

PROVINSI SUMATERA SELATAN


KAB. EMPAT LAWANG KAB. LAHAT

LUAS ± 26.000 HA
SKALA 1:50.000
Pagaralam
!

Pagaralam 0 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 Cm
Petani )
"

0 0.5 1 1.5 2 2.5 3 3.5 4 4.5 5 Km

ng
2

wa
Ca
Ae k
KETERANGAN
HL

Desa / Dusun
Aek Baru

.
!
Bumi Agung
! ! Ibukota Kecamatan

.
!
Bumiagung # Gunung / Pegunungan
9550000

9550000
t an g
_
^ Objek Wisata Air Terjun
e ma
A ir L
,
% Objek Wisata Belerang
APL
Batas Administrasi Kabupaten

Jogging Track

4°5'0"S
Lubukbunta
4°5'0"S

! .
!

Ae
Jalan

k
Se
l an
Sungai / Anak sungai

gi s
Be
sa
r
Batas Wilayah KPH

NAMA DAS

Sub DAS Lematang

Sub DAS Musi Hulu

FUNGSI KAWASAN
KOTA PAGARALAM
Kawasan Pelestarian Hutan Produksi
HL Hutan Lindung KSA/KPA HPK
Prov. Sumatera Selatan #
Megang
dan Konservasi Alam Yang Dapat Dikonversi
Hutan Produksi
HPT Hutan Produksi Terbatas HP
Tetap

Ae
kA
n g an gat

DASAR PEMBUATAN PETA:

KAB. LAHAT
1. Permenhut No. P.46/Menhut-II/2013 Tentang Tata Cara Pengesahan Rencana Pengelolaan Hutan Jangka Panjang
KPHL dan KPHP.
2. Permenhut No. P 47/Menhut-II/2013 Tentang Pedoman, Kriteria dan Standar Pemanfaatan Hutan di Wilayah Tertentu
Pada KPHL dan KPHP
3. Perdirjen Planologi Kehutanan nomor P.5/VII-WP3H/2012 Tentang Petunjuk Teknis Tatahutan dan Penyusunan
KAB. LAHAT
Rencana Pengelolaan Hutan pada KPHL dan KPHP
9540000

9540000
n ir

SUMBER PETA :
k Ba
Ae

1. Peta RBI Provinsi Sumsel Skala 1 : 50.000 Lembar 0911-61, 0911-63, 0911-64 dan 0912-31 Tahun 2006

4°10'0"S
4°10'0"S

2. Peta Dasar Tematik Kehutanan Skala 1 : 250.000 Tahun 2005


3. Peta Administrasi Pemerintahan Sumsel Skala 1 : 250.000
Aek Merah

HL 4. Peta Kawasan Hutan dan Konservasi Perairan Prov. Sumatera Selatan Skala 1:250.000
(Lampiran Sk. 866/Menhut-II/2014 Tanggal 29 September 2014)
5. Peta Penetapan Wilayah KPHL dan KPHP Prov. Sumatera Selatan
(Lampiran Sk. 76/Menhut-II/2010 Tanggal 10 Februari 2010)
HL 6. Peta Derah Aliran Sungai BPDAS Musi Palembang
e k S i m pur K
A an an
Ae

Ae k
k
S
el

i
an

E
103°0'0"E 103°30'0"E

nd
k te
g

n
s

i
Ca

h
w

ga
an

PETA PET UNJUK L OKA SI


g
Ka

an
KAB. LAHAT SKAL A 1 : 750.000
n

KAB. EMPAT LAWANG

°
Prov. Sum atera S elatan

4°0'0"S
4°0'0"S
Pagaralam U
)
"

KOTA PAGARALAM
KAB. LAHAT

KAB. MUARA ENIM

n ih
ek Je r
A KAB. OGAN KOMERING ULU

A e k E nd ikatkan a n

S Prov. Bengkulu
A
M
U
D
E
R
A KAB. OGAN KOMERING ULU SELATAN
H
IN

4°30'0"S
4°30'0"S
D
IA

Lokasi yang dipetakan

103°0'0"E 103°30'0"E
Ae
kM
an
aija Patah
u
#

CATATAN :

4°15'0"S
9530000

9530000
4°15'0"S

Peta ini bukan merupakan acuan resmi mengenai garis-garis batas Kawasan Hutan dan Administrasi Pemerintahan.
KAB. MUARA ENIM

Prov. Bengkulu
BALAI PEMANTAPAN KAWASAN HUTAN WILAYAH II PALEMBANG
DIREKTORAT JENDERAL PLANOLOGI KEHUTANAN DAN TATA LINGKUNGAN
KEMENTERIAN LINGKUNGAN HIDUP DAN KEHUTANAN
300000 310000 320000
103°10'0"E 103°15'0"E 103°20'0"E
103°10'0"E 103°15'0"E 103°20'0"E
300000 310000 320000
Pajarbulan
PETA GEOLOGI
KESATUAN PENGELOLAAN HUTAN LINDUNG
.
!

4°0'0"S
4°0'0"S

KAB. LAHAT #
Dempo
!
Nenda Agung
UNIT XII DEMPO
KAB. EMPAT LAWANG
KOTA PAGARALAM
PROVINSI SUMATERA SELATAN
KAB. LAHAT

LUAS ± 26.000 HA
SKALA 1:50.000
Pagaralam
!

5 6 7 8 9 10 Cm
Pagaralam
Petani )
" 0 1 2 3 4
!

0 0.5 1 1.5 2 2.5 3 3.5 4 4.5 5 Km

ng

wa
Ca
Ae k
KETERANGAN
HL
Aek Baru

.
! Desa / Dusun
Bumi Agung

Ibukota Kecamatan
!
!
Bumiagung
.
! # Gunung / Pegunungan
9550000

9550000
ma
t an g _
^ Objek Wisata Air Terjun
e
A ir L

,
% Objek Wisata Belerang
APL

Batas Administrasi Kabupaten

Jogging Track

4°5'0"S
Lubukbunta
4°5'0"S

! .
!

A
e Jalan

k
Se
l an
gi s
Sungai / Anak sungai

Be
sa
r
Batas Wilayah KPH

LITOLOGI

Breksi, lava dan tuf, andesit sampai bas

Tuf, breksi dan lava, riolit dan dasit

FUNGSI KAWASAN
KOTA PAGARALAM

Kawasan Pelestarian Hutan Produksi


Megang HL Hutan Lindung KSA/KPA HPK
Prov. Sumatera Selatan #
dan Konservasi Alam Yang Dapat Dikonversi
Hutan Produksi
HPT Hutan Produksi Terbatas HP
Tetap

Ae
kA
ng an g at

DASAR PEMBUATAN PETA:


KAB. LAHAT
1. Permenhut No. P.46/Menhut-II/2013 Tentang Tata Cara Pengesahan Rencana Pengelolaan Hutan Jangka Panjang
KPHL dan KPHP.
2. Permenhut No. P 47/Menhut-II/2013 Tentang Pedoman, Kriteria dan Standar Pemanfaatan Hutan di Wilayah Tertentu
Pada KPHL dan KPHP
3. Perdirjen Planologi Kehutanan nomor P.5/VII-WP3H/2012 Tentang Petunjuk Teknis Tatahutan dan Penyusunan
KAB. LAHAT
Rencana Pengelolaan Hutan pada KPHL dan KPHP
9540000

9540000
n ir
k Ba
Ae
SUMBER PETA :

1. Peta RBI Provinsi Sumsel Skala 1 : 50.000 Lembar 0911-61, 0911-63, 0911-64 dan 0912-31 Tahun 2006

4°10'0"S
4°10'0"S

2. Peta Dasar Tematik Kehutanan Skala 1 : 250.000 Tahun 2005


3. Peta Administrasi Pemerintahan Sumsel Skala 1 : 250.000
Aek Merah

HL 4. Peta Kawasan Hutan dan Konservasi Perairan Prov. Sumatera Selatan Skala 1:250.000
(Lampiran Sk. 866/Menhut-II/2014 Tanggal 29 September 2014)
5. Peta Penetapan Wilayah KPHL dan KPHP Prov. Sumatera Selatan
(Lampiran Sk. 76/Menhut-II/2010 Tanggal 10 Februari 2010)
HL 6. Peta Geologi 1967 PUSLITANAK Bogor
e k Si m pur K an
A an
Ae

Ae k
k
S
e la

E
ng

kt

nd
en
s

103°0'0"E 103°30'0"E

i
Ca

h
w

ga
an
g

PETA PET UNJUK L OKA SI


Ka

an
n

KAB. LAHAT SKAL A 1 : 750.000


KAB. EMPAT LAWANG

°
Prov. Sum atera S elatan

4°0'0"S
4°0'0"S
Pagaralam U
)
"

KOTA PAGARALAM
KAB. LAHAT

KAB. MUARA ENIM


n ih
ek Je r
A
KAB. OGAN KOMERING ULU

A e k E nd ikatkan a n

S Prov. Bengkulu
A
M
U
D
E
R
A KAB. OGAN KOMERING ULU SELATAN
H
IN

4°30'0"S
4°30'0"S
D
IA

Lokasi yang dipetakan

Ae 103°0'0"E 103°30'0"E
kM
an
a ija Patah
u
#

CATATAN :

4°15'0"S
9530000

9530000
4°15'0"S

KAB. MUARA ENIM Peta ini bukan merupakan acuan resmi mengenai garis-garis batas Kawasan Hutan dan Administrasi Pemerintahan.

Prov. Bengkulu
BALAI PEMANTAPAN KAWASAN HUTAN WILAYAH II PALEMBANG
DIREKTORAT JENDERAL PLANOLOGI KEHUTANAN DAN TATA LINGKUNGAN
KEMENTERIAN LINGKUNGAN HIDUP DAN KEHUTANAN
300000 310000 320000
103°10'0"E 103°15'0"E 103°20'0"E
103°10'0"E 103°15'0"E 103°20'0"E
300000 310000 320000
Pajarbulan
PETA IKLIM
KESATUAN PENGELOLAAN HUTAN LINDUNG
.
!

4°0'0"S
4°0'0"S

KAB. LAHAT #
Dempo
!
Nenda Agung
UNIT XII DEMPO
KAB. EMPAT LAWANG
KOTA PAGARALAM
PROVINSI SUMATERA SELATAN
KAB. LAHAT

LUAS ± 26.000 HA
SKALA 1:50.000
Pagaralam
!

5 6 7 8 9 10 Cm
Pagaralam
Petani )
" 0 1 2 3 4
!

0 0.5 1 1.5 2 2.5 3 3.5 4 4.5 5 Km

ng

wa
Ca
Ae k
KETERANGAN
HL
Aek Baru

.
! Desa / Dusun
Bumi Agung

Ibukota Kecamatan
!
!
Bumiagung
.
! # Gunung / Pegunungan
9550000

9550000
ma
t an g _
^ Objek Wisata Air Terjun
e
A ir L

,
% Objek Wisata Belerang
APL

Batas Administrasi Kabupaten

Jogging Track

4°5'0"S
Lubukbunta
4°5'0"S

! .
!

A
e Jalan

k
Se
l an
gi s
Sungai / Anak sungai

Be
sa
r
Batas Wilayah KPH

IKLIM

Iklim Type B

FUNGSI KAWASAN
KOTA PAGARALAM

Kawasan Pelestarian Hutan Produksi


Megang HL Hutan Lindung KSA/KPA HPK
Prov. Sumatera Selatan #
dan Konservasi Alam Yang Dapat Dikonversi
Hutan Produksi
HPT Hutan Produksi Terbatas HP
Tetap

Ae
kA
n g an gat

DASAR PEMBUATAN PETA:


KAB. LAHAT
1. Permenhut No. P.46/Menhut-II/2013 Tentang Tata Cara Pengesahan Rencana Pengelolaan Hutan Jangka Panjang
KPHL dan KPHP.
2. Permenhut No. P 47/Menhut-II/2013 Tentang Pedoman, Kriteria dan Standar Pemanfaatan Hutan di Wilayah Tertentu
Pada KPHL dan KPHP
KAB. LAHAT
3. Perdirjen Planologi Kehutanan nomor P.5/VII-WP3H/2012 Tentang Petunjuk Teknis Tatahutan dan Penyusunan
Rencana Pengelolaan Hutan pada KPHL dan KPHP
9540000

9540000
n ir
k Ba
Ae
SUMBER PETA :

1. Peta RBI Provinsi Sumsel Skala 1 : 50.000 Lembar 0911-61, 0911-63, 0911-64 dan 0912-31 Tahun 2006

4°10'0"S
4°10'0"S

2. Peta Dasar Tematik Kehutanan Skala 1 : 250.000 Tahun 2005


3. Peta Administrasi Pemerintahan Sumsel Skala 1 : 250.000
Aek Merah

HL 4. Peta Kawasan Hutan dan Konservasi Perairan Prov. Sumatera Selatan Skala 1:250.000
(Lampiran Sk. 866/Menhut-II/2014 Tanggal 29 September 2014)
5. Peta Penetapan Wilayah KPHL dan KPHP Prov. Sumatera Selatan
(Lampiran Sk. 76/Menhut-II/2010 Tanggal 10 Februari 2010)
HL 6. Peta Iklim Provinsi Sumsel
e k S i m pur K a
A n an
Ae

Ae k
k
S
el

i
an

E
kt

nd
g

en
s

103°0'0"E 103°30'0"E

i
Ca

h
w

ga
an
g

PETA PET UNJUK L OKA SI


Ka

an
n

KAB. LAHAT SKAL A 1 : 750.000


KAB. EMPAT LAWANG

°
Prov. Sum atera S elatan

4°0'0"S
4°0'0"S
Pagaralam U
)
"

KOTA PAGARALAM
KAB. LAHAT

KAB. MUARA ENIM


n ih
ek Je r
A
KAB. OGAN KOMERING ULU

A e k E nd ikatkan a n

S Prov. Bengkulu
A
M
U
D
E
R
A KAB. OGAN KOMERING ULU SELATAN
H
IN

4°30'0"S
4°30'0"S
D
IA

Lokasi yang dipetakan

Ae 103°0'0"E 103°30'0"E
kM
an
aija Patah
u
#

CATATAN :

4°15'0"S
9530000

9530000
4°15'0"S

KAB. MUARA ENIM Peta ini bukan merupakan acuan resmi mengenai garis-garis batas Kawasan Hutan dan Administrasi Pemerintahan.

Prov. Bengkulu
BALAI PEMANTAPAN KAWASAN HUTAN WILAYAH II PALEMBANG
DIREKTORAT JENDERAL PLANOLOGI KEHUTANAN DAN TATA LINGKUNGAN
KEMENTERIAN LINGKUNGAN HIDUP DAN KEHUTANAN
300000 310000 320000
103°10'0"E 103°15'0"E 103°20'0"E
103°5'0"E 103°10'0"E 103°15'0"E 103°20'0"E 103°25'0"E 103°30'0"E
290000 300000 310000 320000 330000 340000
Muara Pinang

PETA IZIN PINJAM DI WILAYAH


!
103°14'0"E 103°15'0"E 103°16'0"E

KESATUAN PENGELOLAAN HUTAN LINDUNG


UNIT XII DEMPO
.
!
em

L
at a
ng

KOTA PAGAR ALAM


PROVINSI SUMATERA SELATAN
Muaratimbuk
.
!
SM
SKALA 1:100.000
9570000

9570000
0 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 Cm

0 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 Km
APL
U

4°8'0"S

4°8'0"S

3°55'0"S
3°55'0"S

KAB. LAHAT

2
KAB. EMPAT LAWANG
HPT Padang
.
!

.
!
Talangtinggi Tanjungagung Pageralam
.
! .
! .
!

Tanjungmenang
KOTA PAGARALAM
.
!
Prov. Sumatera Selatan .
!

a ni r
ek

B
Betungan

A
KETERANGAN
.
!

.
! Desa / Dusun

J er
Sukananti Tanjungmenang
9560000

9560000
n ih
Ibukota Kecamatan
.
! .
!
!

4°9'0"S

4°9'0"S
Duriandangkal

Gunung / Pegunungan
.
!
#

Pajarbulan
_
^ Objek Wisata Air Terjun
.
!

4°0'0"S
Objek Wisata Belerang
4°0'0"S

,
%
Dempo Nenda Agung
#
!

Batas Administrasi Kabupaten


APL

!
Pagaralam
Jogging Track
Pagaralam
Petani
Jalan
)
"
!
HL Je
r nih

Sungai / Anak sungai


i ng
u ngas
t

103°14'0"E 103°15'0"E 103°16'0"E Pajarbulan


Ba

Batas Wilayah KPH


A ek

Muaratiga
LesungbatuAirpuar
.
!
! .
!
ng
.
!
Caw a

IZIN PINJAM PAKAI

k
IZIN PINJAM PAKAI IRIGASI LEMATANG

Ae
PT. SUPREME ENERGY RANTAU DEDAP
Aek Baru

uk
Ae

Ca
w us
k

ang
Ae
kB Bumi Agung

Aek
Jalan Akses
!
Bendungan Blok Supreme Energy
ng
Prov. Sumatera Selatan
Bumiagung

an

Pa
9550000

9550000
ku l

y an
ata
.
!
Le

ng
m

g
A ir

a
Ae k N
Jalur Irigasi
Tahap Eksplorasi

4°5'0"S
Lubukbunta Bandar
4°5'0"S

r
FUNGSI KAWASAN
! .
!
sa
Be
am u
es

Kawasan Pelestarian Hutan Produksi


kM

Hutan Lindung
Ae

HL KSA/KPA HPK
dan Konservasi Alam Yang Dapat Dikonversi
Hutan Produksi
HPT Hutan Produksi Terbatas HP
Tetap
s
ar

Be
ng is

KOTA PAGARALAM
la
k Se
Ae

Megang
#

a DASAR PEMBUATAN PETA:


n
Ma n