Anda di halaman 1dari 27
MODUL PELATIHAN MANAJEMEN PENATALAKSANAAN KORBAN KERACUNAN MINUMAN BERALKOHOL OPLOSAN Untuk Tenaga Kesehatan Medis
MODUL PELATIHAN
MANAJEMEN
PENATALAKSANAAN
KORBAN KERACUNAN
MINUMAN BERALKOHOL
OPLOSAN
Untuk Tenaga Kesehatan Medis (Dokter dan Perawat)
di Rumah Sakit
Program Studi Kesehatan Masyarakat, Fakultas Kedokteran, Universitas
Udayana Bekerjasama dengan LIAM Charitable Fund Australia dan
Methanol Institute
Modul ini didedikasikan untuk seluruh tenaga kesehatan medis (dokter dan perawat) di Rumah Sakit dalam
Modul ini
didedikasikan untuk
seluruh tenaga
kesehatan medis
(dokter dan perawat)
di Rumah Sakit dalam
1
menangani kasus
korban keracunan
minuman beralkohol
oplosan.

MODUL PELATIHAN MANAJEMEN PENATALAKSANAAN KORBAN KERACUNAN MINUMAN BERALKOHOL OPLOSAN

Untuk Tenaga Kesehatan Medis (Dokter dan Perawat) di Rumah Sakit

2

TIM PENYUSUN

Program Studi Kesehatan Masyarakat, Fakultas Kedokteran, Univ ersitas Udayana

Putu Ayu Indrayathi IG Raka Widiana

LIAM Charitable Fund Australia Lhan i Davies Di Brown

Methanol Institute

Dom Lavigne

3

KATA PENGANTAR

Puji syukur kami panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa, karena atas berkat dan rahmat-Nya, penulis dapat menyelesaikan modul yang berjudul “Modul Pelatihan Manajemen Penatalaksanaan Korban Keracunan Minuman Beralkohol Oplosan.”

Pembuatan modul ini dalam rangka meningkatkan pengetahuan dan keterampilan tenaga medis (dokter dan perawat) di Rumah Sakit mengenai bagaimana manajemen atau tindakan penanganan pasien untuk kasus keracunan minuman beralkohol oplosan. Manfaat yang diharapkan dari modul ini adalah meningkatnya pengetahuan dan keterampilan tenaga kesehatan dalam melakukan diagnosa dan memberikan penanganan/tindakan medis terhadap pasien yang mengalami keracunan minuman beralkohol oplosan.

Akhir kata penulis mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah memberikan kontribusi dalam penyusunan modul ini. Semoga Tuhan senantiasa melimpahkan rahmat – Nya kepada kita semua.

Denpasar, 7 May 2016

Penulis

 

DAFTAR ISI

HALAMAN SUB JUDUL

1 Error! Bookmark not defined.

 

TIM P ENYUSUN

2 Error! Bookmark not defined.

KATA PENGANTAR

3 Error! Bookmark not defi ned.

DAFTAR ISI

4 Error! Bookmark not defined.

BAGIAN I PENDAHULUAN

6 Error! Bookmark not defined.

LATAR BELAKANG

6 Error! Bookmark not defined. Error! Bookmark not defined.

TUJUAN

 

6

BAGIAN II PENYELENGGARAAN PELATIHAN TENAGA PENYULUH BAHAYA MINUMAN BERAL KOHOL OPLOSAN

7

1. LATAR BELAKANG

 

7

2. TUJUAN PELATIHAN

7

3. PESERTA DAN PELATIH

8

4. METODA

8

5. MATERI PELATIHAN

8

BAGIAN III

TAHAP PELATIHAN

9

1. PERENCANAAN

 

9

2. PENGORGANISASIAN

9

3. PELAKSANA AN

9

4. TAHAP SESUDAH PELAKSANAAN

1 0

BAGIAN IV MATERI PELATIHAN

1 1

1. Materi 1 – Minuman Beralkohol dan Minuman Beralkohol Oplosan

1 1

2. Materi 2 – Intoksikasi Metanol dan Gejala

 

1 4

3. Materi 3 – Penatalaksanaan Intoksikasi Metanol

16

 

4

5

BAGIAN V PENUTUP

21

22

2

3

Lampiran 1

Lampiran 2

6

BAGIAN I PENDAHULUAN
BAGIAN I
PENDAHULUAN

1. LATAR BELAKANG Tingginya tingkat konsumsi alkohol pada masyarakat menyebabkan mereka memiliki kecenderungan untuk mengalami keracunan metanol pada minuman beralkohol oplosan. Mengingat akhir-akhir ini banyak terdapat penjual minuman alkohol yang menjual minuman beralkohol oplosan dengan menggunakan metanol sebagai pengganti etanol. Banyak kasus terkait dengan keracunan arak methanol sudah terjadi dalam beberapa tahun terakhir ini yang mengakibatkan terjadinya keracunan pada beberapa wisatawan dan penduduk setempat, bahkan terdapat beberapa kasus hingga menyebabkan kematian beberapa turis wisatawan asing.

Hal ini perlu segera untuk ditindak lanjuti, mengingat kasus keracunan minuman beralkohol oplosan yang semakin meningkat dari tahun ke tahun. Para petugas kesehatan yang berada di fasilitas kesehatan tingkat II (Rumah Sakit) perlu mengetahui dan memahami bagaimana manajemen atau tindakan penanganan pasien untuk kasus keracunan minuman beralkohol oplosan mengingat mereka merupakan gardu depan dalam sebuah pelayanan kesehatan.

2. TUJUAN Secara khusus modul ini diharapkan dapat sebagai panduan bagi pelatih yang akan

melaksanakan pelatihan manajemen penatalaksanaan korban keracunan minuman beralkohol oplosan bagi para petugas medis (dokter dan perawat) di Rumah Sakit

 
BAGIAN II PENYELENGGARAAN PELATIHAN
BAGIAN II
PENYELENGGARAAN
PELATIHAN

1.

LATAR BELAKANG

Maraknya penjual minuman beraklohol oplosan yang mengandung methanol

pada akhir-akhir ini menyebabkan meningkatnya kasus keracunan minuman beralkohol

oplosan pada masyarakat. Tidak hanya masyarakat/pendudukk setempat yang menjadi

korban, tetapi juga telah menelan korban yang merupakan wisatawan asing. Seseorang

yang mengalami keracunan minuman beraalkohol oplosan yang mengandung metanol

harus segera diberikan penanganan yang tepat dengan pemberian antidote sesuai

dengan dosis untuk mencegah terjadinya metabolisme metanol di dalam tubuh.

 

Namun, kenyataan dilapangan masih terdapat beberapa petugas kesehatan

medis yang belum mengetahui gejala keracunan, sehingga sulit bagi mereka untuk

menentukan diagnosa yang mengakibatkan keterlambatan dalam memberikan

penanganan ataupun terjadi kesalahan dalan memberikan penanganan medis kepada

pasien yang mengalami intoksikasi metanol.

 

Berdasarkan hal tersebut, maka sangat penting untuk memberikan pelatihan

kepada petugas kesehatan medis (dokter dan perawat) mengenai cara penanganan

pasien yang mengalami keracunan minuman beralkohol oplosan kesehatan agar

mereka dapat memberikan penangan dengan cepat sehingga dapat mengurangi risiko

kecacatan atau kematian pada pasien.

 

2.

TUJUAN PELATIHAN

 

Tujuan Umum:

Meningkatkan pengetahuan dan kemampuan petugas kesehatan medis dalam menentukan diagnosis dan penanganan yang tepat

Tujuan Khusus:

a. Meningkatkan

pengetahuan

petugas

mengenai

gejala

keracunan

minuman

beralkohol oplosan, sehingga memudahkan dalam menentukan diagnosa

 

7

b. Meningkatkan

kemampuan

dan

keterampilan

petugas

dalam

memberikan

penanganan/tindakan terhadap pasien yang mengalami gejala keracunan

minuman beralkohol oplosan.

 

3. PESERTA

Peserta latih adalah petugas kesehatan medis (dokter dan perawat) di Rumah Sakit

4. METODE

Pelatihan memakai pendekatan partisipatif serta praktek lapangan

 

5. WAKTU DAN TEMPAT

 

Pertemuan dapat dilakukan di aula/ruang kelas (Rumah Sakit, Dinas Kesehatan dan lain sebaginya) sedangkan waktu pertemuan/pelatihan disesuaikan dengan kesepakatan pelatih dan peserta.

6. PENGORGANISASIAN PELATIHAN

 

Satu atau dua minggu sebelum pelatihan, tim panitia pengorganisasian pelatihan telah dibentuk untuk mempersiapkan tahap-tahap logistik pelatihan

7. MATERI PELATIHAN

 

Materi I

: Minuman Beralkohol dan Minuman Beralkohol Oplosan

 

Materi II

: Intoksikasi Metanol dan Gejala

 

Materi III

: Penanganan Intoksikasi Metanol di Rumah Sakit

 
 

8

 
BAGIAN I I I TAHAP PELATIHAN
BAGIAN I I I
TAHAP PELATIHAN

1. PERENCANAAN

Pengelola program kesehatan di Provinsi, Kabupaten/Kota sebelum pelaksanaan pelatihan perlu dilakukan pertemuan untuk mempersiapkan:

 

Peserta

Waktu dan tempat

Materi pelatihan dan pelatih

Lokasi kunjungan lapangan

Media pelatihan yang akan digunakan dan lain hal yang dirasa perlu

2. PENGORGANISASIAN

Hal yang perlu dilaksanakan diantaranya, yaitu:

 

Membentuk tim panitia pelatihan

Menyiapkan mekanisme pelatihan seperti materi, jadwal dan menetapkan petugas yang bertanggung jawab pada setiap sesi

3. PELAKSANAAN

Panitia

Menyiapkan segala sesuatu yang berhubungan dengan kelancaran pelaksanaan pelatihan

Pelatih

Menyajikan materi sesuai dengan pokok bahasan dan waktu yang tersedia

Peserta

Mengikuti pelatihan

9

 

Proses Pelaksanaan

Sesaat sebelum mulai, mengumpulkan semua media belajar dan bahan yang diperlukan selama memandu pokok bahasan yang bersangkutan

Kemudian dilanjutkan dengan memberikan soal pre-test untuk mengetahui tingkat pengetahuan peserta

Dilanjutkan dengan memandu kegiatan belajar dan kunjungan lapangan

Melibatkan peserta dalam proses diskusi, melalui beberapa cara yaitu :

a. Pelatih mengajukan pertanyaan APA terlebih dahulu sehingga peserta bisa menceritakan pengalamannya, serta KAPAN hal itu terjadi?

b. Pelatih kemudian menanyakan kepada beberapa peserta lain, apakah mereka juga menemukan kejadian yang serupa?

c. Pelatih kemudian menanyakan MENGAPA hal tersebut terjadi? (apa sebabnya terjadi?)

d. Pelatih kembali meminta tanggapan kepada beberapa peserta lain, apakah mereka setuju pendapat peserta tersebut, ataukah ada yang memiliki pendapat lain?

e. Pelatih kemudian menanyakan BAGAIMANA cara mengatasi keadaan tersebut? Tindakan atau langkah apa yang segera diambil?

f. Setelah pelatihan selesai, para peserta diberikan soal post-test kembali, yang bertujuan untuk mengukur peningkatan pengetahuan peserta

4.

TAHAP SESUDAH PELAKSANAAN

 

Setelah pelatihan selesai dilaksanakan, selanjutnya perlu penyusunan rencana tindak lanjut. Tim pelatih meng umpulkan semua dokumentasi hasil pelatihan dan pencacatan yang dibuat selama pelatihan. Tim pelatih kemudian membahas rencana penulisan laporan yang merupakan tugas panitia.

10

BAGIAN I V MATERI PELATIHAN
BAGIAN I V
MATERI PELATIHAN

MMMaaattteeerrriii III ::: MMMiiinnnuuummmaaannn BBBeeerrraaalllkkkooohhhooolll dddaaannn MMMiiinnnuuummmaaannn BBBeeerrraaalllkkkooohhhooolll OOOppplllooosssaaannn

A. DEFINISI MINUMAN BERALKOHOL

Minuman beralkohol adalah minuman yang mengandung etil alkohol atau etanol (C2H5OH) yang diproses dari bahan hasil pertanian yang mengandung karbohidrat dengan cara fermentasi dan destilasi atau fermentasi tanpa destilasi.

Jenis alkohol yang dapat dikonsumsi adalah etanol, karena diperoleh atau diproses dari bahan hasil pertanian melalui fermentasi gula menjadi etanol yang merupakan salah satu reaksi organik. Jika menggunakan bahan baku pati/karbohidrat, seperti beras/ketan/tape/singkong, maka pati diubah lebih dahulu jadi gula oleh amilase untuk kemudian diubah menjadi etanol.

Dari definisi ini jelas terlihat bahwa jenis alkohol yang diizinkan dalam minuman beralkohol adalah etanol dengan batas maksimum etanol yang diizinkan adalah 55%.

B. MINUMAN BERALKOHOL TRADISIONAL

Minuman beralkohol tradisional adalah minuman beralkohol yang dibuat secara tradisional dan turun temurun yang dikemas secara sederhana dan pembuatannya dilakukan sewaktu-waktu, serta dipergunakan untuk kebutuhan adat istiadat atau upacara keagamaan.

Beberapa daerah di negara kita memiliki minuman beralkohol tradisional khas, seperti di Bali terkenal dengan Arak Bali. Arak Bali berasal dari

11

12

fermentasi beras ketan atau fermentasi dari sari kelapa dan buah-buahan lain dengan kadar alkoholnya 37 – 50%. Arak dengan mutu rendah sering digunakan dalam upacara-upacara adat sedangkan arak terbaik akan diminum.

C. MINUMAN BERALKOHOL OPLOSAN

arak terbaik akan diminum. C. MINUMAN BERALKOHOL OPLOSAN Minuman beralkohol oplosan adalah minuman beralkohol jenis

Minuman beralkohol oplosan adalah minuman beralkohol jenis vodka, anggur merah beralkohol, anggur putih beralkohol atau bir dan lainnya yang dicampur dengan berbagai bahan lainnya, di antaranya degan minuman berenergi, susu, cola atau minuman bersoda, spiritus, dan obat-obatan yang berbahaya

Pengoplosan minuman beralkohol dapat dilakukan oleh penjual

maupun konsumen. Penjual melakukannya dengan alasan untuk memperoleh keuntungan setinggi-tingginya atau dengan permintaan konsumen. Konsumen melakukan pengoplosan sendiri karena sulit mendapatkan minuman beralkohol dengan kadar alkohol ≤ 55%.

Modus yang sering digunakan dalam pengoplosan dan harus diwaspadai, antara lain:

a. Penyalahgunaan alkohol teknis atau metanol untuk minuman beralkohol

b. Penyalahgunaan Minuman Beralkohol Tradisional.

c. Penambahan Bahan-Bahan Kimia pada Minuman Beralkohol.

d. Penambahan obat penenang

Selain hal tersebut, adanya kandungan metanol dalam minuman beralkohol juga disebabkan oleh suhu yang tidak
Selain hal tersebut, adanya kandungan metanol dalam minuman beralkohol
juga disebabkan oleh suhu yang tidak tepat dalam proses pembuatannya.
Sebagian besar pembuat minuman beralkohol tradisional masih
menggunakan peralatan sederhana tanda apanya temperature control.
Untuk menghasilkan etanol dalam minuman beralkohol diperlukan
pemanasan sampai suhu 78.1 o C, sedangkan untuk metahol diperlukan
pemanasan sampai suhu 64.7 o C, seperti yang dijelaskan pada gambar di
bawah ini:
13

MMMaaattteeerrriii IIIIII ::: IIInnntttoookkksssiiikkkaaasssiii MMMeeetttaaannnooolll dddaaannn GGGeeejjjaaalllaaa

A. INTOKSIKASI METANOL

Intoksikasi adalah Kondisi yang mengikuti masuknya zat psikoaktif yang menyebabkan gangguan kesadaran, kognisi, persepsi, afek, perilaku, fungsi dan respon psikologis, bahkan sampai menyebabkan kematian.

Intoksikasi methanol terjadi melalui 2 mekanisme, yaitu :

1. Pertama : metanol tertelan, terhirup, diserap melalui kulit dapat menekan SSP seperti yang terjadi pada keracunan etanol dan mata. 2. Kedua : metanol beracun setelah mengalami metabolisme oleh enzim alkohol dehidrogenase (ADH) di hati menjadi formaldehid & asam format

B. GEJALA INTOKSIKASI

Gejala awal, pasien mengalami mabuk seperti mabuk alkohol. Efek keracunan akan terdeteksi keesokan harinya, sekitar 12 – 72 jam. Beratnya efek keracunan tergantung dari apakah sumber metanol berasal dari saluran cerna, pernafasan atu kulit, seperti yang dijelaskan pada Tabel 1 dibawah ini, sebagai berikut:

14

Tabel 1.

 

Bila, tertelan :

-

Awalnya : sakit perut, mual dan muntah.

-

Depresi SSP sehingga terlihat gejala keracunan alkohol spt sakit kepala, pusing, lemah, kesadaran menurun, kejang 12 24 jam.

-

Metabolisme asidosis : mual , muntah, nafas dalam dan cepat, tensi turun, syok – koma meninggal

 

Terhirup : iritasi selaput lendir, sakit kepala, telinga berdenging, suka tidur, kolik, sulit BAB

 

Terkena kulit : kulit kering, gatal-gatal, iritasi

Keracunan ringan bergejala seperti orang mabuk berat, yang diawali dengan rasa sakit kepala dan mual – muntah. Gejala yang lebih berat disertai dehidrasi, pusing, sakit kepala hebat, gangguan keseimbangan, dan penglihatan kabur. Gejala sangat berat dapat mengancam nyawa bisa berupa kebingungan dan tidak bisa bangun dari tempat tidur, akrena kelemahan berat. Gejala dengan katagori sedang – parah harus segera dirujuk kerumah sakit. Petunjuk penting dalam diagnosis keracunan metanol dapat dilihat pada Tabel 2 berikut:

Tabel 2.

Mata, timbul 4-24 jam setelah konsumsi methanol

Penyebabnya : menumpuknya formaldehid yg merusak fosforilasi oksidatif retina & asam format yg secara langsung merusak optic disc

Susunan Syaraf Pusat (SSP) :

timbul 6-24jam, atau lebih lama 72- 96jam bila pasien juga minum ethanol

Penglihatan menjadi kabur hingga menyebabkan BUTA

è

Walaupun segera diobati è gagal è cacat

Pada pemeriksaan: Refleks pupil lambat, dilatasi pupil, lapangan pandang menyempit

Funduskopi: odem retina/hiperemi pada optic disc

Bisa terjadi perdarahan/tidak

Kesulitan memulai gerak yg diinginkan

perdarahan/tidak Kesulitan memulai gerak yg diinginkan 15 Kerusakan: basal ganglia, putamen, nekrosis korteks è
perdarahan/tidak Kesulitan memulai gerak yg diinginkan 15 Kerusakan: basal ganglia, putamen, nekrosis korteks è
perdarahan/tidak Kesulitan memulai gerak yg diinginkan 15 Kerusakan: basal ganglia, putamen, nekrosis korteks è
perdarahan/tidak Kesulitan memulai gerak yg diinginkan 15 Kerusakan: basal ganglia, putamen, nekrosis korteks è
perdarahan/tidak Kesulitan memulai gerak yg diinginkan 15 Kerusakan: basal ganglia, putamen, nekrosis korteks è
perdarahan/tidak Kesulitan memulai gerak yg diinginkan 15 Kerusakan: basal ganglia, putamen, nekrosis korteks è

15

Kerusakan: basal ganglia, putamen, nekrosis korteks è cacat (MRI)

Lab: osmolaritas serum tinggi, Asidosis metaboik dengan anion gap tinggi akibat penumpukan asam format

Parkinson/distonik/hipokinetik

lainnya

Kesadaran menurun: apatis – koma, kejang

Kusmaul : nafas cepat & dalam

16

MMMaaattteeerrriii IIIIIIIII ::: PPPeeennnaaatttaaalllaaakkksssaaannnaaaaaannn IIInnntttoookkksssiiikkkaaasssiii MMMeeetttaaannnooolll

A. PENATALAKSANAAN INTOKSIKASI DI RUMAH SAKIT

Penatalaksanaan intoksikasi metanol terdiri dari :

1. Penatalaksanaan kegawat daruratan yang bertujuan untuk tindakan penyelamatan nyawa. Dalam kondisi ini yang terpenting adalah memahami masa kritis gejala keracunan. Dengan memahami masa kritis maka tidak aka keterlambatan dalam penanganan khususnya keracunan dengan katagori sedang dan berat.

2. Penatalaksanaan yang penting adalah menghambat metabolisme metanol dan perubahannya menjadi asam format

TAHAPAN PENATALAKSANAAN INTOKSIKASI METANOL DIMULAI DENGAN MELAKUKAN PENGKAJIAN AWAL (ANAMNESA).

METANOL DIMULAI DENGAN MELAKUKAN PENGKAJIAN AWAL (ANAMNESA). 1. Danger § Pastikan keamanan penolong, pasien dan

1. Danger

§ Pastikan keamanan penolong, pasien dan lingkungan

2. Respon

§ Setelah aman, tanyakan kepada pasien “apakah yang dia rasakan?”

§ Jangan pindahkan/mobilisasi pasien bila tidak perlu

3. Call for Help

§ Aktifkan Emergency Medical Service (EMS), Call ambulance

118

4. Primary Survey (ABCD)

§ Periksa jalan nafas pasien (Airway)

§ Periksa frekuensi pernafasan pasien (Breathing), breathing à untuk sementara baik, bila saturasi O 2 lebih dari 95%

§ Pastikan sirkulasi pasien (Cirkulation)

§ Disability (AVPU, Glasgow coma scale, tanda lateralisasi)

5. Secondary Survey

a. Head to toe examination

b. Stabilisasi ---- transportasi (melakukan rujukan ke RS), berikut ini adalah alur rujukan pasien keracunan:

Gambar 1:

berikut ini adalah alur rujukan pasien keracunan: Gambar 1: Dari gambar 1, dapat dijelaskan bila pasien

Dari gambar 1, dapat dijelaskan bila pasien keracunan metanol datang ke PPK II (Rumah Sakit), dengan gejala keracunan ringan, petugas hendaknya langsung melakukan terapi etanol dengan dosis yang tepat.

Namun, bila pasien datang dalam keadaan tidak sadarkan diri

17

atau mengalami gejala keracunan berat, maka sesuai dengan

hal diatas, yang perlu dilakukan adalah pasien dibaringkan dengan posisi trendelenberg miring ke kiri untuk melindungi jalan nafas. Jalan nafas pasien dibebaskan dan kalau perlu diberikan oksigen dengan endotracheal tube. Pasien diberikan absorben berupa arang aktif (Norit) dengan dosis 1g/kgBB (30- 100g) diberikan dengan cara dicampur air (5-10g arang dalam 100-200ml air) dan selanjutnya lakukan terapi etanol sesuai dengan dosis yang tepat. Kemudian dilanjutkan dengan melakukan hemodialisis. Selanjutnya akan akan dijelaskan pada topik berikutnya.

B. TERAPI DAN ANTIDOTE INTOKSIKASI METANOL

Pada prinsipnya penatalaksanaan intoksikasi metanol secara spesifik dapat dilakukan dengan diuresis paksa, pemberian fomepizole, etanol dan natrium bikarbonat dan asam folat, seperti yang akan dijelaskan dalam tabel 3, sebagai berikut:

Tabel 3.

Terapi suportif

Proteksi jalan nafas, Oksigen, cairan

Diuresis paksa

Methanol juga diekskresi melalui ginjal

Fomepizole

Menghentikan ADH

Etanol

Kompetitif è dimetabolisme oleh ADH

Na.bikarbonat

Koreksi terhadap asidosis

oleh ADH Na.bikarbo nat Koreksi terhadap asidosis 18 Asam folat Degradasi asam format è CO2 &
oleh ADH Na.bikarbo nat Koreksi terhadap asidosis 18 Asam folat Degradasi asam format è CO2 &
oleh ADH Na.bikarbo nat Koreksi terhadap asidosis 18 Asam folat Degradasi asam format è CO2 &
oleh ADH Na.bikarbo nat Koreksi terhadap asidosis 18 Asam folat Degradasi asam format è CO2 &
oleh ADH Na.bikarbo nat Koreksi terhadap asidosis 18 Asam folat Degradasi asam format è CO2 &
oleh ADH Na.bikarbo nat Koreksi terhadap asidosis 18 Asam folat Degradasi asam format è CO2 &

18

Asam folat

Degradasi asam format è CO2 & H2O

Hemodialisis

Eleminasi metabolit toksik, Koreksi asidosis,

(terbaik)

mencegah odem paru, odem otak, gagal ginjal

Metanol juga diekresi melalui ginjal. Obat-obat fomepizole dan etanol bekerja secara kompetitif dalam metabolisme metanol oleh enzim alcohol dehydrogenase. Fomepizole dapat diberikan dengan dosis 20 mg/ kg/ BB/ hari.

19

Natrium bikarbonat diberikan secara intravena atau melalui cairan infus, yang bertujuan untuk mengkoreksi asidosis yang terjadi dan asam folat yang diberikan untuk mempercepat degradasi asam folat menjadi air dan gas asam arang. Asam folat diberikan secara intravena atau oral dengan dosis 50 mg setiap 4-6 jam selama beberapa hari.

Sedangkan etanol (metil alkohol) bisa diberikan secara oral atau intravena. Infus etanol bisa diberikan bila pasien mengkonsumsi metanol dalam jumlah besar dan menybabkan kadar metanol dalam darah lebih 20mg/dl. Kerja etanol menghambat secara kompetitif enzim ADH sehingga metabolisme metanol menjdi asam format terhambat. Etanol memiliki afinitas 20 kali lebih besar daripada metanol sehingga menunda waktu paruh metanol hingga 40 jam. Konsentrasi etanol dalam darah hendaknya di pertahankan 100 – 150 mg /dL.

Hemodialisis adalah terapi eliminasi yang paling efektif. Hemodialisis adalah suatu usaha untuk memperbaiki kelainan biokimiawi darah yang terjadi akibat terganggunya fungsi ginjal. Berikut ini adalah gambar skema aliran hemodialisis (prinsip kerja hemodialisis), yaitu:

terganggunya fungsi ginjal. Berikut ini adalah gambar skema aliran hemodialisis (prinsip kerja hemodialisis), yaitu:

20

Metanol, formaldehid, metabolit toksiknya asam format memiliki molekul kecil dan larut dalam air, sehingga mudah lewat melalui membrane dialisr. Selain itu hemodialisis dapat mengkoreksi asidosis, mencegah edema paru, edema serebri, dan mengobati sindrom uremik bila terjadi gagal ginjal.

Secara umum hemodialisis akan memisahkan racun dari darah dan memurnikan darah kembali. Dengan beberapa kali hemodialisis, maka secara berangsur-angsur kadar racun dalam darah akan berkurang dan racun yang telah melekat pada organ vital dilepaskan kembali ke dalam darah. Secara umum indikasi hemodialisis adalah bila metabolik asidosis sedang (pH 7,2) terjadi sindroma uremik dan gagal ginjal akut, gangguan penglihatan, dan konsentrasi metanol dalam darah lebih 50 mg/dL.

21

BAGIAN I V PEN UTUP
BAGIAN I V
PEN UTUP

Salah satu upaya untuk menurunkan angka kematian akibat intoksikasi minuman beralkohol oplosan yang mengandung metanol, maka petugas kesehatan medis (dokter dan perawat) terutama yang bekerja pada fasilitas kesehatan tingkat I (Puskemas) di daerah endemik perlu dilatih untuk menangani kedaruratan intoksikasi metanol.

Modul Pelatihan Manajemen Penatalaksanaan Korban Keracunan Minuman Beralkohol Oplosan dapat dikembangkan sesuai dengan situasi dan kondisi masing-masing. Diharapkan modul ini bermanfaat untuk meningkatkan kemampuan, pengetahuan dan keterampilan petugas kesehatan.

Logo of the Hospital / Clinic / Puskesmas

Clinical Care

Guidelines

Lampiran 1.

METHANOL - ADULTERATED ALCOHOLIC BEVERAGE INTOXICATION

Document Number

Publish date:

Revision Number:

Determined by:

Page 1/2

No ICD 10

XIX SOO-T98

Definition

Poisoning caused by blending or mixing alcohol with methanol and other materials that contain methanol, like rubbing alcohol, octane booster, multipurpose cleaner, etc.

Anamnesis

Severe headaches, blurred vision, rapid breathing or dyspnea, abdominal cramps and or diarrhea, vomitting, seizure, sleepy and or disorientation after drinking adulterated alcohol. Early symptoms of alcohol hangover and followed by heavy symptoms of hangover. Drinking adulterated alcoholic beverage and blurred eyes symptoms varies from 2 to 24 hours.

Clinical Examination

Inspection, obsevation, palpation, auscultation, neurological examination, ophthalmology examination

Supporting

Lab (DL, UL , BUN, serum creatinine, blood gas analysis, electrolyte (Na,

Examination

K,Cl), funduscopy, CT-scan

Diagnosis Criteria

a. Drinking adulterated alcoholic beverage history, physical examination, sharp decline in vision, dehidration / hypotension / shock, kussmaul breathing, seizures and loss of fundus consciousness, TON (toxic optic neuropathy) indications

b. Metabolic acidosis (pH < 7,35)

c. Anion gap >11

d. Increased osmolal gap >20

c. Anion gap >11 d. Increased osmolal gap >20 22 e. Methanol serum level >50 mg/dl

22

e. Methanol serum level >50 mg/dl and or positive serum of formic acid.

Differential Diagnosis

Consultation

Hospital Treatment

Therapy/ Treatment (ICD 9 CM)

Alcohol intoxication, glycol intoxication, head injury

Ophthalmology Tropical and Infectious Diseases Division Neurology Nephrology

Outpatient, Inpatient

1. The main principle of treatment is to inhibit the metabolism of methanol and impeding toxicity, by giving ethanol or fomepizole. Because fomepizole are rare, then the ethanol therapy can be done. The minimal amount of ethanol content that can be given to the victim is 43%. Ethanol contained in vodka, gin, or whiskey.

2. Resolving metabolic acidosis by giving nabic.

Lampiran 2.

Kuesioner Tingkat Pengetahuan Petugas Kesehatan Puskesmas Tentang Manajemen Penatalaksanaan Korban Keracunan Minuman Beralkohol Oplosan

Nama :

Umur :

Jenis kelamin :

Pendidikan terakhir :

Pekerjaan :

1. Berikut merupakan pernyataan yang benar tentang methanol, kecuali :

a. Senyawa kimia yang didapatkan dari distilasi destruktif kayu

b. Methanol banyak dipakai dalam cairan pembersih

c. Methanol berbau,tidak berasa,tidak berwarna

d. Metanol merupakan senyawa kimia dengan rumus kimia C2H5OH

2. Dibawah ini adalah pernyataan yang benar tentang methanol, kecuali

a. Bukan dikonsumsi sebagai minuman, karena sifatnya yang lebih beracun dan dipakai sebagai bahan bakar seperti spiritus

b. Metanol banyak dipakai dalam cairan pembersih

c. Bisa diperoleh dari hasil fermentasi buah-buahan atau gandum dan lain- lain, dan banyak dikonsumsi sebagai minuman berakohol seperti bir, anggur (wine), brandy dan lain-lain.

d. Metanol tidak berbau, tidak berasa, tidak bewarna

3. Berikut merupakan perubahan yang terjadi dari arak ethanol menjadi arak

methanol, kecuali :

a. Arak yang dicampur dengan bahan lain

b. Arak yang terlalu lama disimpan

c. Kesalahan dalam proses pembuatan arak

d. Arak yang bahan dasarnya tidak jelas

4. Intoksikasi methanol sangat berbahaya bagi manusia, dan dapat masuk kedalam tubuh manusia dengan cara :

a. Terhirup

b. Tertelan

c. Diserap kulit

d. Semua benar

23

5.

Dibawah ini mana yang bukan merupakan gejala yang tampak pada korban

keracunan methanol?

 
 

a. Pankreastitis

b. Kesadaran menurun

c. Pengelihatan kabur hingga buta

 

d. Keram perut

6.

Pemeriksaan yang spesifik untuk dapat menentukan bahwa pasien mengalami

keracunan methanol adalah…

 
 

a. Pemeriksaan mata

b. Pemeriksaan nadi

c. Pemeriksaan asam format dalam darah

d. Pemeriksaan kimia darah

 

7. Antidot keracunan methanol yaitu femopizole dan :

 

a. Asam citrate

c. Infus

b. Etanol

d. Parapin

8. Apakah bahaya dari keracunan methanol? Kecuali :

 

a. Merusak retina mata sehingga pandangan kabur hingga buta permanen

b. Metanol dimetabolisme oleh hati dan menghasilkan asam format

c. Gangguan fungsi mitokondria pada saraf optic

d. Gangguan saluran pencernaan

 

9.

Apakah penatalaksanaan pasien dengan intoksikasi methanol yang tepat?

kecuali

 
 

a. Pemberian ethanol sesuai dosis

 

b. Pemberian asam folat/folinic acid

c. Memaksa untuk muntah

d. Melakukan tindakan hemodialisis

10. Penatalaksanaan awal pasien dengan suspek keracunan methanol adalah pemberian etanol. Apakah fungsi pemberian ethanol tersebut?

 

a. Mengahalangi metabolisme methanol didalam darah menjadi asam format

b. Untuk proses penyembuhan pasien

 

c. Mengeluarkan ion asam

d. Mengurangi rasa sakit

11. Berikut merupakan prinsip pertolongan pada keracunan. Yang tidak dilakukan pada pasien keracunan methanol yaitu? a. Cathartic atau menguras isi lambung dengan menggunakan kateter

 

lambung sebelum 3 jam

24

b. Neutralizer atau menetralkan racun dengan pemberian antidote khusus c. Mengencerkan bahan racun yang terkonsumsi
b. Neutralizer atau menetralkan racun dengan pemberian antidote khusus
c. Mengencerkan bahan racun yang terkonsumsi
d. Semua jawaban salah
12. Penatalaksanaan pasien keracunan methanol yang dapat dilakukan di
puskesmas yaitu:
a. Resusitasi, pemberian etanol
b. Hemodialisis, ,membilas isi lambung
c. Terapi bikarbonat, hemodialisis
d. Resusitasi, Hemodialisis
13.
Penatalaksanaan definitif untuk keracunan methanol yaitu :
25
a. Pemberian etanol secara oral maupun intravena
b. Hemodialisis
c. Menguras isi lambung
d. Pemberian infus
14. Apakah tujuan dilakukannya hemodialisis pada pasien dengan keracunan
methanol?
a. Untuk menggantikan fungsi ginjal yang mengalami kerusakan untuk
mengganti darah yang mengalami kerusakan akibat keracunan
b. Mengatasi gejala asidosis dengan mengeluarkan ion asam
c. Memberikan tranfusi darah pada saat hemodialisis untuk mengganti
darah yang mengalamin keracunan
d. Untuk mengeleminasi asam format
15.
Hemodialisis
dapat
dilakukan
apabila
kadar
methanol
dalam
darah
melebihi…
a. 20mg/dL
b. 40mg/dL
c. 50mg/dL
d. 70mg/dL
16. Apakah terapi suportif untuk intoksikasi methanol?
a. Menghentikan ADH
b. Proteksi jalan nafas,oksigen,cairan
c. Koreksi terhadap asidosis
d. Degradasi asam format
17. Proses metabolisme methanol menjadi asam format dilakukan dimana?
a. Lambung
b. Hati
c. Usus
d. Pankreas

18. Berikut ini adalah penatalaksanaan pasien dengan intoksikasi metanol, kecuali:

a. Kena mata : irigasi dengan air bersih /nacl 0,9%

b. Kulit : segera guyur dengan air

c. Pakaian terkontaminasi jangan dilepas

d. Pencernaan : pengosongan lambung

19. Berikut ini adalah hal penting yang dapat dilakukan untuk mengurangi kasus keracunan arak metanol, yaitu:

a. Bekerja sama dengan pihak berwajib untuk merazia penjual miras

b. Memberikan penyuluhan mengenai bahaya alcohol dan methanol

c. Melarang menjual miras di daerah Gianyar

d. Membuat perda tentang pelarangan alkohol dan minuman keras lainnya

20. Selain dilakukan hemodialisis, penatalaksanaan keracunan methanol dapat dilakukan dengan memberikan metilprednisolon atau prednisone. Adapun tujuan pemberiannya, yaitu:

a. Mengurangi edema papil saraf optik yang terjadi pada fase akut sehingga diharapkan mencegah terjadinya kebutaan

b. Menghambat terjadinya asidosis metabolic

c. Memperlambat metabolisme asam format

d. Menggantikan fungsi ginjal yang mengalami kerusakan akibat keracunan methanol

26