MAKALAH KOSMETOLOGI
FOUNDATION
Oleh:
Muthiarani Nabila
15160011
7 Farmasi 1
UNIVERSITAS DHARMA ANDALAS
PADANG
2018
PENDAHULUAN
I. LATAR BELAKANG
Penggolongan kosmetik menurut kegunaannya bagi kulit, yaitu kosmetika perawatan
kulit dan kosmetika dekoratif. Pada makalah ini yang ingin dibahas mengenai salah satu
dari bentuk kosmetik dekoratif, yaitu alas bedak atau yang biasa disebut foundation. Pada
umumnya alas bedak berbentuk cair dan krim. Tetapi ada juga alas bedak yang berbentuk
padat, gel, dan mousse. Pada tiap-tiap bentuk dari alas bedak memiliki kelebihan dan
kekurangan tersendiri. Pada alas bedakyang berbentuk cair lebih cepat merata dan
menempel di kulit wajah daripada alas bedak yang berbentuk krim. Alas bedak yang
berbentuk mousse kurang diminati karena jarang dijumpai. Tetapi pada dasarnya semua
bentuk alas bedak fungsinya sama, salah satunya adalah menstabilkan kondisi kulit
sehigga kulit terhindar dari kelebihan minyak.
Mengingat banyaknya aktivitas yang sering dilakukan diluar ruangan maka wajar
apabila dibutuhkann bahan yang dapat berguna bagi pelindung kulit wajah. Foundation
atau alas bedak merupakan riasan dasar yang penting, sebelum mengaplikasikan semua
make up pada wajah. Melalui daya covering dari alas bedak atau foundation bukan hanya
bertindak sebagai pelindung namun juga mampu menutupi kekurangan yang ada pada
wajah.
Meningkatnya penggunaan kosmetik dan didukung dengan kemajuan teknologi
membuat para industry kosmetik terus bersaing menghasilkan produk-produk yang dapat
menarik perhatian wanita. Mulai dari bentuk-bentuk sediaan dan kesesuaian jenis kulit
yang dimiliki menjadi modal utama mereka untuk memodifikasi produk sesuai
kebutuhan.
Berdasarkan hal tersebut, munculah berbagai macam bentuk sediaan alas bedak yang
beredar saat ini seperti liquid, cream, cake atau stick. Dilihat dari komposisi sebenarnya
hampir sama, hanya saja perbedaannya terdapat pada komposisi tambahan yang
disesuaikan dengan jenis kulit serta kondisi iklim penduduk. Sehingga pemilihan alas
bedak yang tepat dapat memberikan perlindungan yang tepat, hasil riasan yang akan
tampak lebih halus dan mulus dalam waktu singkat dan akhirnya mendapatkan wajah
yang sempurna.
II. RUMUSAN MASALAH
1. Apa itu foundation?
2. Bagaimana sejarah dari pemakaian foundation?
3. Apa jenis-jenis dari foundation?
4. Bagaimana formulasi dan cara pembuatan foundation?
5. Bagaimana evaluasi sediaan foundation?
III. TUJUAN
1. Untuk mengetahui Pengertian dari foundation
2. Untuk mengetahui sejarah dari foundation di dunia
3. Untuk mengetahui jenis-jenis dari foundation
4. Untuk mengetahui formulasi dan cara pembuatan foundation
5. Untuk mengetahui evaluasi sediaan foundation
TINJAUAN PUSTAKA
I. Anatomi dan Fisiologi Kulit
Kulit merupakan “selimut” yang menutupi permukaan tubuh dan memiliki fungsi utama
sebagai pelindung dari berbagai macam gangguan dan rangsangan luar. Fungsi perlindungan ini
terjadi melalui sejumlah mekanisme biologis, seperti pembentukan lapisan tanduk secara terus
menerus (keratinisasi dan pelepasan sel-sel yang telah mati), respirasi dan pengaturan suhu
tubuh, produksi sebum dan keringat, dan pembentukan pigmen melamin untuk melindungi kulit
dari bahaya sinar UV matahari,sebagai perasa dan peraba, serta pertahanan terhadap tekanan dan
infeksi dari luar. Selain itu, kulit merupakan suatu kelenjar holokrin yang besar (Montagna,
Renault, Depreunil).
Kulit memiliki fungsi melindungi bagian tubuh dari berbagai macam gangguan dan
rangsangan luar. Fungsi perlindungan ini terjadi melalui sejumlah mekanisme biologis, seperti
pembentukan lapisan tanduk secara terus menerus (keratinisasi dan pelepasan sel-sel kulit ari
yang sudah mati), respirasi dan pengaturan suhu tubuh, produksi sebum dan keringat serta
pembentukan pigmen melanin untuk melindungi kulit dari bahaya sinar ultra violet matahari.
Kulit terbagi atas 2 lapisan utama yaitu:
1. Epidermis (kulit ari), sebagai lapisan yang paling luar.
2. Dermis (korium, kutis, kulit jangat)
Dibawah dermis terdapat subkutis atau jaringan bawah kulit. Para ahli histology membagi
epidermis dari bagian terluar hingga kedalam menjadi 5 lapisan yakni:
1. Lapisan Tanduk (stratum corneum), sebagai lapisan yang paling atas.
2. Lapisan Jernih (stratum lucidum), disebut juga “lapisan barier”.
3. Lapisan berbutir-butir (stratum granulosum).
4. Lapisan Malpighi (stratum spinosum) yang selnya seperti berduri.
5. Lapisan basal (stratum germinativum) yang hanya tersusun oleh satu sel-sel basal
Struktur kulit
JENIS JENIS KULIT
Pada umumnya jenis kulit manusia dapat dikelompokkan menjadi :
1. Kulit Normal
Kulit normal cenderung mudah dirawat. Kelenjar minyak (sebaceousgland) pada
kulit normal biasanya ‘tidak bandel’, karena minyak(sebum) yang dikeluarkan seimbang,
tidak berlebihan ataupunkekurangan. Meski demikian, kulit normal tetap harus dirawat
agarsenantiasa bersih, kencang, lembut dan segar. Jika tidak segera dibersihkan, kotoran
pada kulit normal dapat menjadi jerawat. Selainitu kulit yang tidak terawat akan mudah
mengalami penuaan diniseperti keriput dan tampilannya pun tampak lelah.
Ciri-ciri kulit normal adalah kulit lembut, lembab berembun, segardan bercahaya,
halus dan mulus, tanpa jerawat, elastis, serta tidakterlihat minyak yang berlebihan juga
tidak terlihat kering.Meskipun jika dilihat sepintas tidak bermasalah, kulit normaltetap
harus dijaga dan dirawat dengan baik, karena jika tidak dirawat, kekenyalan dan
kelembaban kulit normal akan terganggu,terjadi penumpukan kulit mati dan kotoran dapat
menyebabkan timbulnya jerawat.
2. Kulit Berminyak
Kulit berminyak banyak dialami oleh wanita di daerah tropis. Karenapengaruh
hormonal, kulit berminyak biasa dijumpai pada remaja puteriusia sekitar 2 tahunan, meski
ada juga pada wanita usia 30-40 tahunyang mengalaminya. Penyebab kulit berminyak
adalah karena kelenjarminyak (sebaceous gland) sangat produktif, hingga tidak
mampumengontrol jumlah minyak (sebum) yang harus dikeluarkan.Sebaceaous gland
pada kulit berminyak yang biasanya terletak dilapisan dermis, mudah terpicu untuk
bekerja lebih aktif.
3. Kulit Kering
Kulit kering memiliki karakteristik yang cukup merepotkan bagi pemiliknya, karena
pada umumnya kulit kering menimbulkan efek yang tidak segar pada kulit, dan kulitpun
cenderung terlihat berkeriput.Kulit kering memiliki kadar minyak atau sebum yang sangat
rendah dan cenderung sensitif, sehingga terlihat parched karena kulit tidak mampu
mempertahankan kelembabannya. Ciri dari kulit kering adalah kulit terasa kaku seperti
tertarik setelah mencuci muka dan akan mereda setelah dilapisi dengan krim pelembab.
Kondisi kulit dapat menjadi lebih buruk apabila terkena angin, perubahan cuaca dari
dingin ke panas atau sebaliknya.Garis atau kerutan sekitar pipi, mata dan sekitar bibir
dapat muncul dengan mudah pada wajah yang berkulit kering.
4. Kulit Sensitif
Diagnosis kulit sensitif didasarkan atas gejala-gejala penambahan warna, dan
reaksi cepat terhadap rangsangan. Kulit sensitif biasanya lebih tipis dari jenis kulit lain
sehingga sangat peka terhadap hal-halyang bisa menimbulkan alergi (allergen).
Bentuk-bentuk reaksi pada kulit sensitif biasanya berupa bercak merah, gatal,
iritasi hingga luka yang jika tidak dirawat secara baik dan benar akan berdampak serius.
Berdasarkan sifatnya tadi, perawatan kulit sensitif ditujukan untuk melindungi kulit serta
mengurangi dan menanggulangi iritasi. Kulit sensitif memiliki ciri-ciri sebagai berikut :
mudah alergi, cepat bereaksi terhadap allergen, mudah iritasi dan terluka, tekstur kulit
tipis,pembuluh darah kapiler dan ujung saraf berada sangat dekat dengan permukaan kulit
sehingga kulit mudah terlihat kemerahan.
Faktor-faktor yang dapat menjadi allergen bagi kulit sensitif antaralain : makanan
yang pedas dan berbumbu tajam, kafein, nikotin danminuman beralkohol, niasin atau
vitamin B3, kandungan parfum danpewarna dalam kosmetika, sinar ultraviolet dan
gangguan stres.
II. Sejarah alas bedak (foundation)
Generasi awal
Seperti sebagian besar makeup yang digunakan wanita saat ini, foundation berawal di
Mesir Kuno. Mesir Kuno secara luas dianggap sebagai generasi pertama yang menciptakan dan
menggunakan foundation. Kemudian, orang-orang Yunani Kuno menggunakan serbuk putih,
yang terbuat dari kapur atau timah, dimana wanita yang berwajah putih dan pucat menjadi tren
pada masa itu. Namun, penggunaan timbal beracun pada wajah cukup sering mengakibatkan
keracunan fatal.
Abad pertengahan
Wanita berwajah pucat masih dianggap modis di abad pertengahan, karena kulit
kecokelatan dikaitkan dengan bekerja di luar rumah, seperti kulit para wanita yang berada di
kelas pekerja. Beberapa wanita bahkan akan membuat diri mereka berdarah untuk memiliki kulit
pucat, memberi arti harafiah pada istilah 'menderita demi kecantikan'.
Abad ke-17
Selama masa pemerintahan Charles II di abad ke-17, wanita menggunakan makeup lebih
gelap agar wajah tak lagi pucat sebagai efek dari terus-menerus tinggal di dalam rumah untuk
menghindari wabah mematikan pada masa itu. Wajah pucat tak lagi menjadi penampilan yang
diinginkan. Wanita juga mengenakan bedak, campuran yang sangat beracun dari timah putih dan
cuka, dan akan mengaplikasikan putih telur pada wajah untuk mendapatkan kulit yang
bercahaya.
Era Victorian
Ratu Victoria tidak menyetujui wanita memakai makeup, dan berpikir bahwa
makeup hanya cocok untuk pelacur atau wanita tak bermoral. Oleh karena itu, dalam masa
pemerintahannya, wanita hanya memakai sedikit atau tanpa makeupsama sekali. Wanita masih
melakukan banyak hal ekstrem untuk mendapatkan kulit yang putih, mulai dari menghindari
sinar matahari hingga mengonsumsi kapur atau yodium. Kulit putih dan pucat mulai kehilangan
popularitasnya di awal abad ke-20 dimana wanita mulai berhenti melakukan usaha ekstrem demi
mendapatkan kulit pucat.
Max Factor dan peluncuran Pan-cake makeup
Pada tahun 1935, Max Factor sepenuhnya merevolusi konsep dasar foundation dengan
iklan komersial pertama, 'Pan-Cake'. Awalnya dikembangkan untuk para aktris namun menjadi
begitu populer karena Pan-cake adalah foundation dan bedak dalam satu kemasan. Pan-Cake
dibuat dengan bedak, bukan basis minyak, dan diaplikasikan pada kulit dengan menggunakan
spons basah. Pan-Cake segera berkembang menjadi 'Pan Stik' pada tahun 1947, salah
satu foundation Max Factor yang masih tersedia hingga saat ini.
Tahun 90-an dan foundation stick
Setelah mencapai puncak popularitas dengan produk lipstiknya,
Bobbi Brown meluncurkan Skin Foundation Stick dalam berbagai pilihan nuansa warna dasar
kuning pada tahun 1992. Sebelumnya, foundation hanya tersedia dalam nuansa warna hangat
atau pink. Hampir 25 tahun kemudian, Skin Foundation Stick masih menjadi salah
satu foundation paling populer di dunia karena variasi warna dan coverage yang dapat
disesuaikan dengan kebutuhan kulit wajah.
Foundation saat ini
Saat ini ada ratusan foundation yang dapat Anda pilih. Meskipun banyak wanita yang
beralih ke BB Cream, opsi yang lebih ringan, foundation masih menjadi produk kecantikan
paling populer di dunia. Pilihan formula foundation pun terus berkembang,
seperti cushion foundation yang kini semakin populer.
III. Pengertian Alas bedak (Foundation)
Alas bedak (Foundation) dalam tata rias wajah menjadi dasar sebelum dibubuhi bedak.
Foundation dapat menahan bedak, hingga bedak mudah menempel pada kulit wajah, alas bedak
juga dapat memperhalus permukaan kulit dengan menutupi noda, luka bekas jerawat, noda
kebiruan (couperese) di seputar pipi. Alas bedak dapat berfungsi untuk menyamarkan warna
kulit yang pucat dan bayangan gelap di seputar mata. Alas bedak digunakan di atas pelembab
agar pigmen zat warna yang dikandungnya tidak bersentuhan langsung dengan kulit. Alas bedak
dapat digunakan untuk membuat shape atau dimensi wajah sehingga riasan wajah menjadi lebih
sempurna.
IV. Jenis- jenis Foundation
a. Liquid foundation
Liquid foundation merupakan alas bedak berbentuk cair, yang bahan dasarnya bisa
terbuat dari air ataupun minyak. Foundation berbahan dasar air cocok digunakan untuk
kulit berminyak ataupun kulit sensitif, sedangkan yang berbahan dasar minyak cocok
untuk kulit kering. Wanita biasanya menyukai karena praktis dan terasa seperti kulit
kedua.
b. Cream foundation
Cream foundation bisa berbentuk cream atau mousse. Penggunaannya cukup praktis
dan cepat dalam pengaplikasiannya. Cocok digunakan untuk kulit normal sampai kering
yang sudah mulai mengalami penuaan, karena bisa menyamarkan kerutan.
c. Powder foundation
Merupakan jenis foundation berbentuk tabur atau bedak dan sangat disukai oleh wanita
pekerja, karena pengaplikasiannya yang singkat yaitu menggunakan kuas. Cocok untuk
kulit normal hingga berminyak.
d. Stick foundation
Merupakan jenis foundation berbentuk padat yang bertahan cukup lama pada kulit.
Cocok untuk kulit normal hingga kering dan bisa digunakan untuk menutupi noda hitam
pada wajah.Setelah mengetahui beberapa jenis-jenis foundation diatas, foundation yang
cocok dan tepat dapat dipilih dan disesuiakan dengan jenis kulit, warna kulit dan macam
aktifitas sehari- hari.
Karakteristik Sediaan Alas Bedak Cair Secara Umum
a. Alas bedak harus dapat menutupi urat nadi namun juga tidak boleh terlihat jelas (terlalu
tebal).
b. Alas bedak harus lembut dan diformulasikan agar hanya meninggalkan lapisan sangat
tipis dan tidak berkilau di permukaan kulit.
c. Konsistensi dan warna alas bedak cair stabil dalam penyimpanan.
d. Alas bedak harus mengandung bahan yang mudah diserap oleh kulit.
e. Alas bedak harus mudah diaplikasikan dan mudah juga dibersihkan.
f. Alas bedak harus mengandung bahan yang lebih ringan dari bedak karena sebagai
pelindung kulit sehingga tidak menyumbat pori-pori kulit
g. Alas Bedak dapat berfungsi sebagai pelindung dari sinar UV (ultraviolet).
Alas bedak memiliki tingkatan warna, tips memilih alas bedak yang pantas digunakan :
a. Warna alas bedak harus cocok dengan warna kulit wajah. Pilih alas bedak satu tingkat
lebih gelap dari warna kulit untuk menutupi cacat / noda di wajah.
b. Jangan memilih warna jauh berbeda dari warna kulit, misalkan ingin membuat wajah
lebih putih, hal ini malah akan membuat wajah terlihat seperti topeng.
c. Jika ingin mengubah warna kulit wajah, pilih alas bedak satu tingkat lebih gelap atau
lebih terang. Untuk hasil yang lebih alami, gunakan campuran alas bedak gelap dan
terang sampai mendekati warna kulit.
d. Jika warna alas bedak satu tingkat lebih gelap, gunakan bedak dengan warna satu tingkat
lebih terang dari kulit wajah agar tampak alami.
Alas bedak yang baik adalah untuk satu kali polesan namun menghasilkan 3 manfaat:
a. Meratakan warna kulit. Warna kulit disekitar wajah sering kali tidak rata. Foundation
memegang peranan penting untuk menutupi kekurangan tersebut.
b. Menutupi kekurangan yang ada di wajah, seperti: flek, bekas jerawat dan pori-pori yang
besar. Bekas jerawat dan flek hitam atau pori-pori yang besar sangat mengganggu dalam
hal memakai make-up, terutama bagi mereka yang mempunyai pori-pori besar. Selain
menimbulkan kesan wajah yang selalu berminyak, pori-pori besar juga mengakibatkan
kulit wajah nampak tak halus. Lapisan foundation bisa menyamarkan pori-pori besar
sehingga nampak lebih kecil dan memberikan efek Matte sehingga permukaan kulit
wajah terlihat lebih halus.
c. Membuat tekstur wajah lebih halus dan bercahaya. Pilihlah warna foundation yang
mendekati warna kulit, sehingga tetap memberikan kesan natural. Hal ini menyebabkan
rona wajah jadi terlihat lebih cerah. Apabila digunakan pada kulit wajah yang terlihat
kusam dan lelah, foundation akan menutupi bayangan gelap sehingga tercipta kesan segar
dan bercahaya
V. Langkah Memilih Alas Bedak atau foundation Sesuai Jenis Kulit
Alas bedak merupakan dasar tata rias. Untuk itu, sangatlah penting memilih jenis alas
bedak yang paling sesuai dengan jenis kulit anda. alas bedak yang sesuai akan membuat
keseluruhan tampilan tata rias menjadi sempurna.
Berikut ini memilih alas bedak sesuai jenis kulit yang dikutip dari Essorment:
Kulit berminyak
Jika kulit wajah Anda sudah memproduksi minyak yang berlebih, maka pilihlah alas
bedak yang bebas minyak. Alas bedak jenis ini biasanya berbentuk stick atau bubuk,
supaya kulit tidak terlihat mengkilat.
Kulit kering
Berbanding terbalik dengan kulit berminyak, kulit kering justru membutuhkan pelembap
yang lebih banyak. Pilihlah alas bedak berbahan dasar air untuk melembapkan kulit.
Biasanya kulit kering akan sangat cocok memakai alas bedak berbentuk cair. Memakai
alas bedak berbentuk stick atau bubuk akan membuat kulit kering terlihat tidak merata
warnanya, karena tidak dapat menyatu dengan sempurna.
Kulit berjerawat
Salah memilih alas bedak hanya akan membuat jerawat di wajah tambah parah. Bagi
Anda yang berjerawat, pilihlah alas bedak yang bertuliskan “non-comedogenic” atau
mengandung salicylic acid. Alas bedak ini tak akan membuat pori-pori kulit tersumbat
serta menimbulkan jerawat baru.
Kulit dengan keriput
Banyak wanita yang berpikir bahwa memakai alas bedak tebal akan menyembunyikan
keriputnya. Padahal itu sangat salah. Memakai alas bedak terlalu tebal justru semakin
memperihatkan kerutan di wajah. Lebih baik gunakan pelembap sebelum memakai alas
bedak agar kulit lebih kenyal. Lalu gunakan alas bedak berbentuk cair agar kulit terlihat
lebih bercahaya.
VI. Formulasi dan Cara Pembuatan Sediaan
No Bahan Kadar Fungsi
1 Titanium oxide 4,00 Zat pewarna
2 Paraffin cair 12,00 Pelembut atau pelembab
3 Asam stearate 6,00 Emulgator dan pelarut
4 Besi oxide 3,00 Penyerap sinar UV
5 Tokoferol 0,05 Antioksidan
6 Metil paraben 0,10 Pengawet
7 Propil paraben 0,10 Pengawet
8 Talc 3,50 Bahan pengisi
9 Mica (mineral silikat) 2,00 Melapisi kulit agar terlihat
berkilau
10 Perfume qs Pengharum
11 Water 69,22 Pelarut
Fungsi zat aktif dan bahan tambahan yang digunakan
1. Titanium Oksida
Titanium oksida sering digunakan pada kosmetik dan makanan, industry plastik, juga
pada sediaan topikal sebagai bahan pewarna. Karena indeks biasnya yang tinggi, titanium
oksida memiliki kemampuan sebagai tabir surya sehinggadimanfaatkan sebagai bahan
pewarna putih dan penangkal cahaya.Cakupan dari cahaya yang menyebar dapat diubah
oleh variasi ukuran partikel dari serbuk titanium oksida. Sebagai contoh, titanium oksida
yang memiliki ukuran partikel sekitar 230 nm menyebarkan sinar tampak, tetapi titanium
oksidadengan ukuran partikel 60 nm menyebarkan sinar UV dan memantulkan sinal
Tampak.Titanium oksida digunakan pada sediaan kulit dan kosmetik sebagai tabir surya.
Konsentrasi yang aman tidak lebih dari 25%.
2. Parafin cair
Parafin cair encer memiliki penggunaan yang sama dengan minyak mineral. Bahan
tersebut umumnya digunakan pada formula sediaan topikal sebagai pelembut dalam
salep, juga digunakan sebagai cairan pembawa berminyak.Parafin cair encer, juga
digunakan dalam kosmetik & produk makanan tertentu.Konsentrasi yang digunakan pada
sediaan topikal emulsi adalah 1-20%.
3. Asam Stearat
Asam stearat sering digunakan pada sediaan oral dan topikal. Pada sediaan topikal, asam
stearat digunakan sebagai emulgator dan pelarut. Konsentrasi yang digunakan pada
sediaan krimdan salep adalah 1-20 %.e.
4. Besi Oksida
Besi oksida sering digunakan pada kosmetik, makanan dan sediaan farmasi lainnya
sebagai pewarna dan penyerap sinar UV. Penggunaan bersama dengan titanium oksida
dapat meningkatkan efek perlindungan terhadap sinar UV.
5. α-tokoferol
Tokoferol digunakan pada sediaan farmasi sebagai anti oksidan. Banyak senyawa organik
mudah mengalami autooksidasi bila dipaparkan keudara. Pada autooksidasi, minyak-
minyak tidak jenuh, seperti minyak nabati menimbulkan ketengikan dengan bau,
penampilan dan rasa yang tidakmenyenangkan. Dilain pihak, minyak mineral dan
hidrokarbon jenuh yang berhubungan mudah mengalami degradasi oksidatif pada
lingkungan yang langka, oleh karena itu diperlukan penambahan anti oksidan dalam
sediaan.Konsentrasi yang digunakan pada sediaan topikal adalah 0,05%.
6. Metil Paraben
Metil paraben sering digunakan sebagai pengawet antimikroba dalam kosmetik, makanan
dan sediaan farmasi lainnya. Dapat digunakan tunggal atau dikombinasikan dengan
paraben yang lain, atau dengan bahan antimikroba lainnya. Penggunaan sebagai
pengawet antimikroba paling sering digunakan untuk kosmetik. Golongan paraben efektif
pada jangkauan pH yang luas, meskipun hanya lebih efektif untuk melawan kapang dan
jamur. Metil paraben biasanya digunakan sebagai pengawet fase air. Konsentrasi yang
digunakan pada sediaan topikal adalah 0,02-0,3%.i.
7. Propil Paraben
Propil paraben sering digunakan sebagai pengawet antimikroba dalam kosmetik,
makanan dan sediaan farmasi lainnya. Dapat digunakan tunggal atau dikombinasikan
dengan paraben yang lain, atau dengan bahan antimikroba lainnya. Penggunaan sebagai
pengawet antimikroba paling sering digunakan untuk kosmetik. Golongan paraben efektif
pada jangkauan pH yang luas, meskipun hanya lebih efektif untuk melawan kapang dan
jamur.Propil paraben biasanya digunakan sebagai pengawet fase minyak. Konsentrasi
yang digunakan pada sediaan topikal adalah 0,01-0,6%.
8. Talk
Talk digunakan sebagai bahan pengisi pada sediaan alas bedak. Penggunaan talk bersama
titanium oksida dapat memberikan efek merata pada kulit wajah, sehingga dapat
menyamarkan noda-noda di wajah atau menutupi warna kulit wajah yang kurang rata.
9. Mica (mineral silikat)
Mica bersifat translusen dan memberikan kilau yang baik. Beberapa mica dengan
tambahan tertentu sering digunakan. Misalnya dilapisi dengan barium sulfat speris yang
akan berdifusi dan memberikan efek fokus yang lembut sehingga dapat menyamarkan
garis dan kerut.
10. Parfume
Minyak mawar digunakan sebagai pengaroma.
11. Water
Air digunakan sebagai pelarut dalam sediaan.
Cara pembuatan
Adapun metode pembuatan alas bedak cair sebagai berikut
1. Bahan yang larut dalam lemak dilebur menjadi satu terlebih dahulu dengan
pemanasan,
seperti paraffin cair, cetil ester, asam stearate, dan isopropyl miristat (massa 1)
2. Talkum, tokoferol, metil paraben, propil paraben, titanium oksida dan besi oksida
digerus homogen (massa 2)
3. Dalam lumpang panas dituang massa 2 lalu digerus, kemudian ditambahkan massa 1
perlahan-lahan sambil di aduk kuat sampai homogen keseluruhannya.
4. Gerus homogen sampai campuran dingin, di teteskan minyak mawar secukupnya.
5. Tuang campuran dalam wadah yang sesuai
VII. Evaluasi Sediaan
1. Uji Organoleptis
Sediaan alas bedak diamati dari bentuk warna dan bau. Warna dari foundation
disesuaikan dengan tingkatan warna kulit.
2. Uji pH
pH alas bedak harus sama dengan pH kulit yaitu sekitar 6-7
3. Uji Homogenitas
Pengujian homogenitas dilakukan untuk mengetahui apakah pada saat proses pembuatan
alas bedak cair bahan aktif obat dengan bahan dasarnya dan bahan tambahan lain yang
diperlukan tercampur secara homogen. Persyaratannya harus homogen sehingga alas
bedak cair yang dihasilkan mudah digunakan dan terdistribusi merata saat penggunaan
pada kulit.
4. Dispersi Warna
Pewarna pada alas bedak wajah haruslah terdispersi secara homogen dalam dasar bedak.
Tidak boleh ditemukan adanya lapisan warna atau ketidak bercampuran pada dispersi
alas bedak yang menyebabkan pulverisasi yang jelek atau pengeluaran warna
keseragaman pada alas bedak dapat dengan mudah diperiksa dengan menyebarkannya
pada kertas putih dan diuji dengan kaca pembesar. Jika terdapat ketidakseragaman yang
terdeteksi, proses selanjutnya untuk memperoleh pengembangan warna maksimal harus
diperoleh dalam homogenitas.
5. Uji Viskositas
Uji viskositas pada liquid foundation perlu dilakukan untuk melihan viskositas dari
sediaan liquid foundation. Jika viskositas dari liquid foundation terlalu tinggi akan
menyulitkan pada saat dituang dan menyulitkan dalam pemakaian pada wajah.
Viskositas atau kekentalan yang dikehendaki dalam sediaan liquid foundation in tidak
terlalu tinggi dan tidak terlalu rendah.
6. Uji Daya Lengket
Pengujian daya lengket foundation dilakukan untuk mengethaui kemampuan foundation
menempel pada permukaan kulit. Semakin besar daya lengket foundation semakin besar
ikatan yang terjadi dengan kulit sehingga foundation lebih tahan lama menempel di kulit.
7. Uji Iritasi
Uji iritasi penting dilakukan untuk keamanan dari pemakaian foundation.
8. Evaluasi Stabilitas
Tujuan pemeriksaan kestabilan adalah untuk menjamin bahwa setiap foundation yang
didistribusikan tetap memenuhi persyaratan yang ditetapkan meskipun sudah cukup lama
dalam penyimpanan. Pemeriksaan kestabilan digunakan sebagai dasar penentuan batas
kadaluarsa, cara-cara penyimpanan yang perlu dicantumkan dalam label.
DAFTAR PUSTAKA
Balsam, M.S. (1972). Cosmetic Science and Technology Second Edition. London: Jhon Willy
and Son, Inc.
Butler, H. (2000). Poucher’s Perfumes, Cosmetics and Soaps Tenth Edition. Netherlands:
Kluwer Academic Publishers. .
Ditjen POM. (1985). Formularium Kosmetika Indonesia. Jakarta: Departemen Kesehatan RI.
Ernest W. Flick. Cosmetics and Toiletry Formulations 2nd edition, volume 8.New York: William
Andrew Publishing
Kumar, Ashok., Mali, Rakesh Roshan., 2010, EVALUATION OF PREPARED SHAMPOO
FORMULATIONS AND TO COMPARE FORMULATED SHAMPOO WITH
MARKETED SHAMPOOS, International Journal of Pharmaceutical Sciences Review
and Research, Volume 3, Issue 1, July –August 2010; Article 025
Tranggono, R.I. dan Fatma Latifah. (2007). Buku Pegangan Ilmu Pengetahuan Kosmetik, Editor:
Joshita Djajadisastra. Jakarta: Penerbit Pustaka Utama.