Anda di halaman 1dari 3

1. jelaskan gangguan cemas menyeluruh ?

Jawab :
Orang yang tampaknya cemas cemas patologis mengenai hampir
semua hal cenderung digolongkan memiliki gangguan ansietas menyeluruh.
Revisi edisi keempat (DSM-IV-TR) mendefinisikan gangguan ansietas
menyeluruh sebagai ansietas dan kekhawatiran yang berlebihan mengenai
beberapa peristiwa atau aktivitas hampir sepanjang hari selama sedikitnya
6 bulan. Kekhawatiran ini sulit dikendalikan dan berkaitan dengan gejala
somatik seperti otot tegang, iritabilitas, sulit tidur, dan gelisah. Ansietas
tidak berfokus pada gambaran gangguan aksis I lain, tidak disebabkan
penggunaan zat atau keadaan medis umum, serta tidak hanya terjadi selama
gangguan mood atau psikiatri. Ansietas ini sulit dikendalikan, secara
subjektif menimbulkan penderitaan, dan mengakibatkan hendaya pada area
penting kehidupan seseorang.
Seperti pada kebanyakan gangguan jiwa, penyebab gangguan
ansietas menyeluruh itu tidak diketahui. Sebagaimana yang baru-baru ini
didefinisikan, gangguan ansietas menyeluruh mungkin memengaruhi suatu
kelompok orang yang heterogen. Mungkin karena suatu derajat ansietas
tertentu bersifat normal dan adaptif, membedakan ansietas normal dan
ansietas patologis serta membedakan faktor penyebab biologis dan faktor
psikologis sulit dilakukan. Faktor biologis dan faktor psikologis mungkin
bekerja bersama.
Kriteria diagnostik menurut DSM-IV-TR untuk gangguan ansietas
menyeluruh :
a. ansietas dan kekhawatiran berlebihan (perkiran yang menakutkan),
terjadi hampir setiap hari selama setidaknya 6 bulan, mengenai sejumlah
kejadian atau aktivitas (seperti bekerja atau bersekolah )
b. orang tersebut merasa sulit mengendalikan kekhawatirannya.
c. Ansietas dan kekhawatiran dikaitkan dengan tiga (atau lebih) dari
keenam gejala berikut ( denngan beberapa gejala setidaknya muncul
hampir setiap hari selama 6 bulan)
Perhatikan : hanya 1 gejala yang diperlukan pada anak-anak.
1. Gelisah atau merasa terperangkap atu terpojok.
2. Mudah merasa lelah
3. Sulit berkonsentrasi atau pikiran menjadi kosong
4. Mudah marah
5. Otot tegang
6. Gangguan tidur ( sulit tertidur atau tetap tidur, atau tidur yang
gelisah dan tidak puas)
d. Fokus dari ansietas dan kekhawatiran tidak terbatas hanya pada
gambaran gangguan aksis I misal, ansietas atau cemas bukan karena
mengalami serangan panik (seperti pada gangguan panik ), merasa malu
berada dikeramaian (seperti pada fobia sosial), merasa kotor ( seperti
pada gangguan obsesif kompulsif), jauh dari rumah atau kerabat dekat (
seperti gangguan pada ansietas perpisahan), bertambahnya berat badan
(seperti pada anoreksia nervosa), mengalami gangguan fisik berganda
(seperti pada gangguan somatisasi), atau mengalami penyakit serius
(seperti pada hipokondriasi), juga ansietas dan kekhawatiran tidak
hanya terjadi selama gangguan stres pasca trauma.
e. Ansietas, kekhwatiran, atau gejala fisis menyebabkan distres yang
secara klinis bermakna atau hendaya sosial, pekerjaan, atau area penting
fungsi lainnya.
f. Gangguan tidak disebabkan oleh efek fisiologis langsung dari suatu zat
(misal, penyalagunaan obat, obat-obatan) atau keadaan medis umum
(misal, hipertiroidisme) dan tidak terjadi hanya selama gangguan mood,
gangguan psikotik, atau gamgguan perkembangan pervasif.

Kriteria diagnostik menurut PPDGJ III :


 Penderita harus menunjukkan anxietas sebagai gejala primer yang
berlangsung hampir setiap hari untuk beberapa minggu sampai
beberapa bulan, yang tidak terbatas atau hanya menonjol pada
keadaan situasi khusus tertentu saja ( sifatnya “free floating” atau
mengambang)
 Gejala-gejala tersebut biasanya mencakup unsur-unsur berikut :
a. Kecemasan (kekhawatiran akan nasib buruk, merasa seperti
diujung tanduk, sulit konsentrasi, dsb)
b. Ketegangan motorik (gelisah, sakit kepala, gemetaran, tidak
dapat santai), dan
c. Overaktivitas otonomik (kepala terasa ringan, berkeringat,
jantung berdebar-debar, sesak napas, keluhan lambung, pusing
kepala, mulut kering, dsb)
 Pada anak-anak sering terlihat adanya kebutuhan berlebihan untuk
ditenangkan (reasurrance)serta keluhan –keluhan somatikl berulang
yang menonjol.
 Adanya gejala-gejala lain yang sifatnya sementara (untuk beberapa
hari) khususnya depresi, tidak membatalkan diagnosis utama
gangguan anxietas menyeluruh, selama hal tersebutn tidak
memenuhi kriteria lengkap dari episode depresif (F32.-), gangguan
anxietas fobik (F40.-), ganggua panik (F41.0), atau gangguan
obsesif-kompulsif (F42.-)

2. Bagaimana faktor stresor pada pasien ini ?


Jawab :
Pada pasien ini yang menjadi faktor stresor nya itu adalah dimana pasien
tersebut telah pensiun dari pekerjaan nya sebagai pegawai PNS, dan diman
pasien ini memiliki anak yang bersekolah, dan pasien tersebut merasa
selama pensiun dari pekerjaan nya tersebut pasien merasa kurang aktivitas
tidak seperti biasanya. Sehingga pasien sering memikirkan anaknya yang
masih bersekolah, sedangkan pasien telah pensiun.