Anda di halaman 1dari 29

BAB I

FORENSIK KLINIK

1.1.Pemeriksaan Selaput Dara


Selaput dara adalah selaput vestigial yang secara embriologi memisahkan
2/3 bagian atas vagina dengan 1/3 bagian bawahnya selama pertumbuhan janin
perempuan. Pada saat kelahiran, selaput dara membuka dan bergeser ke bagian
luar alat kelamin pada kebanyakan bayi perempuan. Jaringan selaput dara
biasanya mengecil pada saat kelahiran sampai tersisa beberapa milimeter saja,
dan konfigurasinya bervariasi secara bentuk, ukuran dan kelenturan pada masa
kanak-kanak, dan berubah sepanjang kehidupan dewasa. Selaput dara berbeda
ukuran dan bentuknya dari beberapa milimeter sampai beberapa sentimeter
tergantung usia, tahapan perkembangan seksual Tanner, dan status hormon.
Pada masa pubertas, estrogenisasi dari jaringan selaput dara membuat
jaringan menjadi elastis. Pada umumnya, bentuk selaput dara adalah annular
atau berbentuk cincin, dengan membran yang cukup elastis dengan ketebalan
sekitar 1 mm dengan jaringan inti ikat dan epitel skuamosa berlapis di
permukaan. Pada bagian anterior dan posterior adalah bagian yang paling
menonjol dengan memiliki lubang di tengah yang kemudian sebagai saluran
keluar untuk aliran darah menstruasi. Penampilan selaput dara pada orang
dewasa umumnya tipis dan kemudian menebal di daerah tepi.
Selaput dara dibagi menjadi tiga tipe berdasarkan bentuk dan tepi
lubangnya, yaitu:
1. Bentuk teratur dan tepi teratur utuh
Hymen dengan tipe ini dibagi menjadi tiga, yang pertama
merupakan hymen annularis dengan lubang ditengah di segmen
anterior. Selanjutnya hymen semilunaris dengan lubang berada di
segmen posterior dan berbentuk menyerupai bulan sabit. Yang
terakhir adalah hymen labiiformis dengan lubang berbentuk celah
yang berjalan dari anterior ke posterior dengan bibir selaput di kedua
sisinya.

1
2. Bentuk teratur dan tepi tidak teratur
Pada tipe ini bentuk lubang hymen bisa annular, semilunar
atau labiiformis dengan tepi yang bercelah atau defek kongenital
yang dangkalatau jika terdapat banyak celah maka tergantung sifat
celahnya.

3. Bentuk teratur dan tepi teratur atau tidak teratur


Hymen yang termasuk kedalam jenis ini adalah hymen yang atypical
karena tidak adanya lubang atau lubangnya lebih dari satu dan tidak
merupakan satu kesatuan.

1.2 Pemeriksaan Anus


Pemeriksaan anus dikerjakan untuk mengetahui tanda-tanda kekerasan seksual
yang terjadi pada korban sodomi yang pemeriksaannya dilakukan dengan cara
berikut ini :
1 Posisikan pasien dalam posisi tidur miring, posisi ini untuk pasien laki-
laki maupun perempuan
2 Gunakan handscoon

2
3 Inspeksi pada jaringan perianal dan lakukan palpasi pada kulit
disekitarnya
4 Renggangkan pantat dan lakukan inspeksi pada area anal untuk
mengetahui karakteristik kulit dan lesi serta perhatikan apakah terdapat
tanda-tanda kekerasan pada bagian ini
5 Untuk melakukan pemeriksaan pada bagian dalam anus, oleskan
lubrikan pada jari telunjuk yang telah menggunakan sarung tangan
kemudian secara perlahan masukkan kedalam lubang anus dan
perhatikan apakah terdapat nyeri tekan
6 Saat mengeluarkan tangan perhatikan apakah terdapat darah atau feses
yang menempel pada sarung tangan
1.3 Pemeriksaan Derajat Luka
Luka merupakan gangguan dan kontinuitas jaringan yang disebabkan oleh
suatu energi mekanik eksterna. Terminologi cedera digunakan sebagai sinonim
dari kata luka, bahkan dapat memberikan maksud yang lebih luas dan tidak
hanya membahas kerusakan yang diakibatkan oleh energi fisik tetapi juga
kerusakan lain yang disebabkan oleh panas, dingin, bahan kimiawi, listrik, dan
radiasi.
Dalam mendeskripsikan luka terbuka harus mencakup jumlah, lokasi,
bentuk, ukuran, dan sifat luka. Sedangkan untuk luka tertutup tidak perlu
dicantumkan dalam pendeskripsian luka. Bentuk penulisan deskripsi luka,
jumlah, lokasi, bentuk, ukuran tidak harus selalu urut tetapi penulisannya harus
selalu ditulis pada akhir kalimat.
a. Luka Lecet (Abrasi)
Luka lecet adalah luka yang superfisial, kerusakan tubuh
terbatas hanya pada lapisan kulit epidermis. Jika abrasi terjadi lebih
dalam dari lapisan epidermis pembuluh darah dapat terkena
sehingga terjadi perdarahan. Arah dari pengelupasan dapat
ditentukan dengan pemeriksaan luka. Dua tanda yang dapat
digunakan yaitu tanda yang pertama adalah arah dimana epidermis
bergulung, tanda yang kedua adalah hubungan kedalaman

3
pada luka yang menandakan ketidakteraturan benda yang
mengenainya

b. Luka Memar (Kontusio)


Kontusio terjadi karena tekanan yang besar dalam waktu
yang singkat. Penekanan ini menyebabkan kerusakan pada
pembuluh darah kecil dan dapat menimbulkan perdarahan pada
jaringan bawah kulit atau organ dibawahnya. Kontusio adalah suatu
keadaan dimana terjadi pengumpulan darah dalam jaringan yang
terjadi sewaktu orang masih hidup, dikarenakan pecahnya
pembuluh darah kapiler akibat kekerasan benda tumpul.
Luka memar dapat diklasifikasikan sebagai luka superficial,
luka memar dalam (deep), luka memar berbekas
(patterened/imprint).
1 Luka memar superfisial
Luka memar superfisial terjadi secara segera dan
disebabkan oleh akumulasi darah secara subkutan
2 Luka memar dalam
Luka memar dalam menandakan adanya akumulasi
pendarahan lebih dalam dari lapisan kulit subkutan.
Biasanya jenis luka ini memerlukan 1 sampai 2 hari
untuk dapat terlihat di permukaan kulit.
3 Luka memar berbekas

4
Luka memar berbekas disebabkan oleh penekanan
pada tubuh biasanya objek yang menekan tubuh
meninggalkan bekas pada permukaan kulit

c. Luka Robek (Laserasi)


Laserasi disebabkan oleh benda yang permukaannya runcing tetapi
tidak begitu tajam sehingga merobek kulit dan jaringan bawah kulit
dan menyebabkan kerusakan jaringan kulit dan bawah kulit. Tepi
dari laserasi irregular dan kasar, disekitarnya terdapat luka lecet
yang diakibatkan oleh bagian yang lebih rata dari benda tersebut.

d. Luka tusuk (Incisi)


Luka tusuk terjadi akibat alat yang berujung runcing dan
bermata tajam atau tumpul yang terjadi dengan suatu tekanan tegak
lurus atau miring pada permukaan tubuh.
e. Luka bacok
Luka bacok terjadi akibat benda atau alat yang berat dengan
mata tajam atau agak tumpul yang dilakukan dengan suatu ayunan
disertai tenaga yang cukup besar.

5
f. Luka iris
Luka yang disebabkan karena alat yang digunakan tepinya
tajam dan timbulnya luka oleh karena alat ditekan pada kulit
dengan kekuatan yang realif ringan yang digeserkan sepanjang
permukaan kulit.
1.4 Klasifikasi Luka
a. Luka yang tidak menimbulkan halangan untuk sementara dalam melakukan
pekerjaan sehari-hari atau luka ringan.
b. Luka yang menimbulkan halangan untuk sementara dalam melakukan
pekerjaan sehari-hari atau luka sedang.
c. Luka berat ada 7:
I. Luka yang tidak ada harapan sembuh atau menimbulkan bahaya
maut (misalnya : luka tusuk pada perut).
II. Luka yang menyababkan tidak mampu melakukan pekerjaan sehari-
hari selama seumur hidup (misalnya: pemain piano yang kehilangan
jarinya, dokter bedah tulang yang kehilangan fungsi tangannya).
III. Luka yang menyababkan kehilangan salah satu panca indra.
IV. Cacat berat misalkan kaki dan tangan putus karena amputasi.
V. Mengalami kelumpuhan.
VI. Wanita hamil yang mengalami keguguran.
VII. Tergantungnya daya pikir lebih dari 4 minggu.

6
BAB II

TEKNIK PENGAMBILAN SAMPEL

2.1 Buccal Swab


Buccal swab dapat dilakukan dengan tahapan sebagai berikut :
1. Pastikan mulut dalam keadaan kosong, lebih baik sebelum melakukan
sikat gigi pada pagi hari dan sebelum makan apapun.
2. Mencuci tangan kemudian mengenakan sarung tangan dan masker
3. Pilih kapas steril, busa, atau swab stick yang sesuai
4. Dengan hati-hati hapuslah swab stick pada bagian pipi dalam dekat gigi
bawah dan atas, kemudian secara lembut gosoklah dengan memutar
swab sepanjang bagian dalam pipi selama 5-10 detik, pastikan bahwa
seluruh swab-tip telah melakukan kontak dengan pipi.
5. Setelah menghapus swab, berhati-hati untuk tidak menyentuh ujung
swab dengan gigi, bibir, atau permukaan lain.
6. Hindari tip swab bersentuhan dengan sarung tangan atau menyentuh
permukaan apapun.
7. Tempatkan swab langsung ke tabung transportasi kering atau amplop
koleksi
8. Label tabung atau amplop dengan informasi identitas
9. Bubuhkan tanggal pengambilan sampel untuk verifikasi
10. Simpan swab pada amplop yang disediakan untuk segera dikirim ke
laboratorium atau transfer ke freezer sampai semua siap untuk
pengujian.

7
2.2 Pengambilan Darah
Darah yang diperoleh dari pembuluh darah perifer merupakan spesimen
darah pilihan untuk analisis toksikologi, karena konsentrasi senyawa dalam
darah dari jantung mungkin dapat berubah setelah kematian oleh karena
redistribusi darah dari paru-paru atau hati. Darah yang dikumpulkan kemudian
harus disimpan dalam tabung berpenutup abu-abu yang mengandung NaF
(sodium florida).6
Darah merupakan sampel paling baik untuk tes toksikologi postmortem, dan
umumnya 20 ml, atau 2 tabung vacutainer cukup untuk dilakukan tes.
Jika pada jenazah dilakukan otopsi, pengambilan darah perifer dan sentral
harus dilakukan ketika rongga tubuh terbuka. Darah perifer merupakan
spesimen pilihan dan dapat diambil dari vena femoralis, vena iliaka, yang
mudah di akses saat pemeriksaan internal, atau dari vena subsklavia di dalam
dada. Ukuran sampel dari 15-20 ml seharusnya cukup adekuat untuk
pemeriksaan toksikologi. Pengambilan darah dengan volume yang lebih besar
(> 20 mL) dapat menyebabkan pergerakan darah antar pembuluh darah dan
terjadi percampuran darah dalam pembuluh darah yang berbeda. Risiko ini lebih
besar terjadi pada vena subsklavia dibandingkan vena femoralis dan vena iliaka.

8
Jika tidak dilakukan otopsi, blind stick sampling tidak boleh dilakukan.
Prosedur pemotongan pembuluh darah dapat dilakukan. Bahkan tanpa otopsi,
vena femoralis dapat dengan mudah terekspos dan pengambilan sampel darah
perifer dapat dilakukan. Demikian juga jantung dapat dapat diekspos dan
ventrikel kiri dapat dengan mudah diidentifikasi sehingga pengambilan darah
sentral dapat dilakukan.
Darah perifer secara umum diterima sebagai spesimen yang paling akurat
untuk pemeriksaan toksikologi, karena kurang rentan terhadap perubahan
postmortem.

2.3 Vaginal Swab


Vaginal swab atau pemeriksaan apus vagina artinya mengambil sediaan
seperti lendir yang terdapat pada daerah vagina untuk diperiksa sel-sel yang
terkandung di dalamnya dengan menggunakan bantuan bawah mikroskop.
Vagina swab ialah Pemeriksaan cairan dari vagina dengan usapan, hasil usapan
lalu ditambahkan cairan fisiologis dan garam lalu ditunggu selama 4-5 menit.
Prosedur Kerja vaginal swab adalah sebagai berikut :
1 Berkomunikasilah dengan baik dengan pasien terlebih dahulu, setelah
suasana mulai kondusif, mulailah langkah-langkah pengambilan sample
2 Suruh pasien berbaring pada kursi yang telah disiapkan khusus untuk
pengambilan sample swab vagina dengan menekuk lutut hingga dekat
paha
3 Bersihkan labia mayora dengan garam fisiologis
4 Masukkan spekulum ke lubang vagina, buka spekulum hingga terlihat
serviks
5 Oleskan lidi kapas pada bagian tersebut sebanyak dua kali pengambilan
6 Kembalikan posisi spekulum pada posisi semula
7 Keluarkan perlahan
8 Rendam pada baskom yang berisi desinkfektan
9 Taruh lidi kapas tadi pada tabung reaksi
10 Tutup rapat dengan kapas berlemak yang terbungkus kertas perkamen

9
11 Bawa ke laboratorium untuk diperiksa dengan gram dan kultur.

2.4 Pengambilan Urin


Pengambilan spesimen urine dilakukan oleh penderita sendiri (kecuali
dalam keadaan yang tidak memungkinkan). Sebelum pengambilan spesimen,
penderita harus diberi penjelasan tentang tata cara pengambilan yang benar.
Spesimen urine yang ideal adalah urine pancaran tengah (midstream), di mana
aliran pertama urine dibuang dan aliran urine selanjutnya ditampung dalam
wadah yang telah disediakan. Pengumpulan urine selesai sebelum aliran urine
habis.
Aliran pertama urine berfungsi untuk menyiram sel-sel dan mikroba dari
luar uretra agar tidak mencemari spesimen urine. Sebelum dan sesudah
pengumpulan urine, pasien harus mencuci tangan dengan sabun sampai bersih
dan mengeringkannya dengan handuk, kain yang bersih atau tissue. Pasien
juga perlu membersihkan daerah genital sebelum berkemih. Wanita yang
sedang haid harus memasukkan tampon yang bersih sebelum menampung
spesimen.
Pasien yang tidak bisa berkemih sendiri perlu dibantu orang lain
(misalnya keluarga atau perawat). Orang-orang tersebut harus diberitahu dulu
mengenai cara pengumpulan sampel urin, mereka harus mencuci tangannya
sebelum dan sesudah pengumpulan sampel, menampung urine midstream
dengan baik. Untuk pasien anak-anak mungkin perlu dipengaruhi/dimotivasi
untuk mengeluarkan urine. Pada pasien bayi dipasang kantung penampung
urine pada genitalia.
A. Cara pengumpulan urine 24 jam adalah :
1. Pada hari pengumpulan, pasien harus membuang urine pagi pertama.
Catat tanggal dan waktunya. Semua urine yang dikeluarkan pada
periode selanjutnya ditampung.
2. Jika pasien ingin buang air besar, kandung kemih harus dikosongkan
terlebih dahulu untuk menghindari kehilangan air seni dan kontaminasi
feses pada sampel urin wanita.

10
3. Keesokan paginya tepat 24 jam setelah waktu yang tercatat pada wadah,
pengumpulan urine dihentikan.
4. Spesimen urine sebaiknya didinginkan selama periode pengumpulan.

B. Cara pengambilan sampel urine clean-catch pada pasien wanita :


1. Pasien harus mencuci tangannya dengan memakai sabun lalu
mengeringkannya dengan handuk, kain yang bersih atau tissue.
2. Tanggalkan pakaian dalam, lebarkan labia dengan satu tangan
3. Bersihkan labia dan vulva menggunakan kasa steril dengan arah dari
depan ke belakang
4. Bilas dengan air bersih dan keringkan dengan kasa steril yang lain.
5. Selama proses ini berlangsung, labia harus tetap terbuka dan jari tangan
jangan menyentuh daerah yang telah dibersihkan.
6. Keluarkan urine, aliran urine yang pertama dibuang. Aliran urine
selanjutnya ditampung dalam wadah steril yang telah disediakan.
Pengumpulan urine selesai sebelum aliran urine habis. Diusahakan agar
urine tidak membasahi bagian luar wadah.
7. Wadah ditutup rapat dan segera dikirim ke laboratorium.

C. Cara pengambilan urine clean-catch pada pasien pria :


1. Pasien harus mencuci tangannya dengan memakai sabun lalu
mengeringkannya dengan handuk, kain yang bersih atau tissue.
2. Jika tidak disunat, tarik preputium ke belakang. Keluarkan urine, aliran
urine yang pertama dibuang. Aliran urine selanjutnya ditampung dalam
wadah steril yang telah disediakan. Pengumpulan urine selesai sebelum
aliran urine habis. Diusahakan agar urine tidak membasahi bagian luar
wadah.
3. Wadah ditutup rapat dan segera dikirim ke laboratorium.
2.5 Pengambilan Muntahan dan Isi Lambung
1. Pengambilan sampel lambung dan isinya dilakukan dengan cara :
a. Lambung diikat pada 2 tempat :

11
- Yang berbatasan dengan kerongkongan
- Yang berbatasan dengan usus halus
b. Cara ini dimaksudkan untuk menghindari hancurnya butir-butir pil atau
tablet yang tertelan korban untuk memudahkan dilakukannya
pemeriksaan
c. Sedangkan cara lain yang bisa dilakukan adalah melakukan
pemeriksaan kelainan pada lambung oleh dokter sehingga dapat
diperkirakan jenis racun apa yang ditelan oleh korban
2. Pemeriksaan usus dan isinya
Pemeriksaan usus sangat bergun terutama jika kematian korban
terjadi beberapa jam setelah ia kemasukan racun. Dari pemeriksaan dapat
diperkirakan saat kematian korban dan dapat ditemukannya tablet yang
tidak dapat dihancurkan oleh lambung (enteric coated tablet). Cara yang
dapat dilakukan adalah mengikat usus dengan jarak 60 cm yaitu pada
perbatasan lambung-usus halus, usus halus, usus halus-usus besar, dan usus
besar poros usus. Ikatan ini bertujuan untuk mencegah tercampurnya isi
usus bagian oral dengan isi usus bagian anal.

2.6 Pemeriksaan Jaringan dan Sampel Tulang


1 Jaringan, organ dan tulang segar
a. Ambil tiap bagian dengan menggunakan pinset
b. Tempatkan setiap bagian dalam wadah yang berbeda dan beri label
c. Simpan dalam tempat pendingin dan kirim
2 Jaringan, organ dam tulang tidak segar
Tempatkan setiap bagian pada wadah yang berbeda dan berikan label
Wadah :
a. 2 buah toples yang masing-masing berukuran 2 liter untuk hati dan
usus
b. 3 buah toples yang masing-masing berukuran 1 liter untuk
lambung beserta isiny, otak dan ginjal.

12
c. 4 buah toples yang masing-masing berukuran 25 ml untuk darah
yang terdiri dari 2 buah, urine, dan empedu.

2.7 Pengambilan Sampel Gigi


Pengambilan sampel gigi dilakukan dengan cara :
1. cabut gigi yang masih utuh
2. masukkan kedalam kantong plastic dan berikan label.

2.8 Pengumpulan dan Pengemasan Barang Bukti


Barang bukti adalah bukti fisik yang secara umum disebutkan sebagai
sejumlah material baik dalam jumlah banyak atau sedikit yang dibuktikan
melalui pemeriksaan yang ilmiah dan analisis berkaitan tindak pidana telah
terjadi.
Tujuan pemeriksaan barang bukti :
a. Menegakkan diagnosis sebab kematian
b. Mengkonfirmasi temuan makroskopis
c. Memberi gambaran histomorfologi perjalanan penyakit
d. Gambaran intravitalitas
e. Menentukan umur secara histomorphologi (infark lama/baru, umur
luka, dan lain-lain)
Tujuan pemeriksaan barang bukti secara khusus untuk mengetahui :
1) Kematian mendadak
2) Aborsi
3) Hanging-chocking-throttling (asphyxia)
4) Tenggelam
5) Trauma thermik
6) Trauma listrik
7) Luka tembak
8) Keracunan

13
BAB III
PEMERIKSAAN TOKSOLOGI

Pemeriksaan toksikologi merupakan pemeriksaan tambahan yang dilakukan


khususnya dalam melakukan analisis racun baik secara kualitatif maupun
kuantitatif untuk membantu penegak hukum dan kemudian menerjemahkan hasil
analisis ke dalam suatu laporan (surat, surat keterangan ahli, atau saksi ahli),
sebagai bukti dalam tindakan kriminal (forensik) di pengadilan. Pemeriksaan
peristiwa keracunan dibagi menjadi tiga, yaitu :

3.1 Pemeriksaan TKP

Pemeriksaan TKP bertujuan untuk :


a. Menentukan korban masih hidup atau sudah meninggal
b. Mengumpulkan barang bukti yang kemudian dilakukan pemeriksaan
toksikologi, dalam mengumpulkan barang bukti ada beberapa hal yang
harus selalu diperhatikan diantaranya :
1) Dokter tetap berkoordinasi dengan penyidik, terutama bila ada
tim labfor
2) Dokter membantu mencari barang bukti misal racun, anak
peluru, dll.
3) Segala yang ditemukan di serahkan kepada penyidik
4) Dokter yang meminjam barang bukti tersebut
5) Setelah selesai melakukan pemeriksaan, TKP ditutup selama 3 x
24 jam
6) Korban di bawa ke rumah sakit dengan disertai permohonan
Visum er Repertum

3.2 Pemeriksaan Jenazah

a. Pemeriksaan Luar
Beberapa hal yang perlu diperhatikan untuk pemeriksaan luar pada
kasus keracunan diantaranya :

14
1) Pakaian : pada pakaian dapat ditemukan bercak-bercak yang
disebabkan oleh tercecernya racun yang ditelan atau oleh
muntahan. Misalnya bercak warna coklat karena asam sulfat
atau kuning karena asam nitrat
2) Lebam mayat : warna lebam mayat yang tidak biasa juga
mempunyai makna, karena warna lebam mayat pada dasarnya
adalah manifestasi warna darah yang tampak pada kulit. Pada
korban yang keracunan CO lebam mayat berwarna Cherry Red,
korban keracunan sianida lebam mayat berwarna merah terang
dan pada korban keracunan nitrit lebam mayat berwarna coklat
kebiruan.
3) Warna kulit : pada korban yang mengalami hiperpigmentasi dan
keratosis pada telapak tangan dan kaki yang diakibatkan
keracunan arsen kronik. Kulit berwarna kelabu kebiru-biruan
akibat keracunan perak (Ag). Pada keracunan tembaga (Cu) dan
fosfor kulit akan berwarna kuning akibat hemolisis juga pada
keracunan insektisida hidrokarbon dan arsen karena terjadi
gangguan fungsi hati.
4) Bau : dari bau yang tercium dapat diperoleh petunjuk racun apa
yang dikiranya ditelan oleh korban misaln ya : minyak tanah,
karbol, alkohol
b. Pemeriksaan Dalam
1) Racun yang bersifat korosif, pada pemeriksaan lambung dapat
ditemukan lambung yang hiperemi, mengalami perlunakan,
ulserasi dan perforasi.
2) Pada urin bisa ditemukan warna kehijauan pada kasus keracunan
salisilat

15
3.3 Pemeriksaan Toksikologi

a. Pengambilan dan pengumpulan bahan


Pada saat pengambilan dan pengumpulan bahan perlu di jaga syarat
yang dikolegal dan Chain of Evidance.
1) Bahan-bahan yang diambil :
a) Stat. I : Lambung dan usus beserta isinya
b) Stat. II : Hati lebih kurang 500 gram, otak lebih kurang
500 gram, dan paru lebih kurang 250 gram.
c) Stat. III : Ginjal (diambil sebagian kanan dan kiri),
kandung kemih.
2) Bahan-bahan lain yang dapat diambil:
a) Darah sebanyak 50 – 100 ml
b) Urin sebanyak 100 ml
3) Bahan-bahan yang dapat diambil pada korban hidup :
a) Sisa makanan atau minuman
b) Obat-obatan, bahan penyebab keracunan
c) Bahan muntahan atau hasil kubahan lambung
d) Urin, darah, dan feces
4) Bahan-bahan yang dapat diambil pada kasus tertentu :
a) Korban keracunan alkohol.
Diambil darah dari vena femoralis dan urin
b) Korban yang tidak ditemukan darah.
Diambil jaringan otot dan sumsum tulang
c) Korban keracunan arsen kronis.
Diambil rambut, kuku, dan tulang.
5) Bahan yang telah diambil kemudian diletakkan di dalam wadah
yang telah ditentukan, syarat wadah tersebut :
a) Berbahan plastik atau gelas
b) Bermulut lebar
c) Dapat ditutup rapat

16
d) Bersih dari zat kimia
e) Jumlah wadah minimal 3 masing-masing wadah berisi :
 Wadah I : organ trac. Gastrointestinal
 Wadah II : organ hati, empedu, otak, ginjal, dll
 Wadah III : organ trac. Urogenitalis
6) Bahan-bahan tersebut kemudian diberikan pengawet berupa
alkohol 96% selain itu bisa juga diberikan es batu, dry ice, Na
flurida dan merkuri nitrat. Setelah bahan terendam dalam
pengawet tutup dengan paraffin kemudian ikat dan beri label dan
setelah itu di segel dengan cek dinas.
Dalam proses pengiriman perlu diperhatikan :
a) Sertakan contoh bahan pengawet lebih kurang 100 ml
dalam botol bersih, dilabel dan di segel
b) Dikirim segera setelah bahan di ambil
c) Diantar via kurir ataupun via paket
b. Syarat-syarat surat pengambilan dan pengumpulan bahan :
1) Surat permohonan pemeriksaan toksikologi
2) Surat tentang laporan peristiwa atau kejadian (secara singkat)
3) Surat tentang laporan otopsi
4) Berita acara pembungkusan dan penyegelan (cap segel dinas)
c. Isi label pengambilan dan pengumpulan bahan :
1) Identitas korban
2) Jenis dan jumlah bahan pemeriksaan
3) Bahan pengawet yang dipakai
4) Tempat dan saat pengambilan bahan, pembungkus dan
penyegelan
5) Tanda tangan dan nama terang penyegel dan dokter yang
melakukan otopsi
6) Cap stempel dinas dan segel dinas
d. Pengambilan dan pengumpulan bahan pada penggalian jenazah :
1) Bila mungkin bahan tersebut seperti diatas

17
2) Contoh tanah : bagian atas atau bawah, kiri atau kanan jenazah
3) Pembanding : contoh tanah radius 5 meter dengan kedalaman
yang sama dengan jenazah
4) Masing-masing dimasukkan dalam wadah tersendiri

18
BAB IV
LABORATORIUM FORENSIK

4.1 Pemeriksaan Cairan Mani


1) Sperma cair
- Hisap dengan semprit bersih (steril) atau pipet disposable
- Pindahkan dalam tabung steril
- Diberi label, simpan di pendingin
- Dapat pula sperma cair diserap dengan kapas bersih, keringkan di udara
- Beri label, dipak dan dikirim ke laboratorium
2) Bercak sperma pada benda yang dapat dipindah. Misal : celana, pakaian,
sprei, bantal, guling, dll.
- Bila bercak masih basah, keringkan di udara
- Bila perlu benda yang berbercak dipotong
- Masukan dalam kantong kertas
- Beri label, dipak dan dikirim ke laboratorium
3) Bercak sperma pada benda besar yang dapat dipotong. Misal : Karpet,
tempat tidur, kasur, atau perkakas lain
- Potong daerah bebercak dengan pisau atau gunting bersih
- Masukan tiap potongan dalam kantong kertas
- Hindari kontaminasi
- Beri label, dipak dan dikirim ke laboratorium
4) Bercak sperma pada benda yang tidak dapat dipindah dan permukaan tidak
menyerap. Misal : lantai, logam, kayu, dll
- Bercak dikerok dengan alat yang bersih
- Letakan kerokan pada kertas bersih dan lipatlah
- Masukan dalam kantong kertas
- Beri label, dipak kemudian kirim ke laboratorium
5) Barang bukti sperma pada tubuh korban kejahatan seksual
- Korban biasanya diperiksa di rumah sakit
- Barang bukti dapat ditemukan di mulut, vagina dan anus korban

19
- Tiap item ditempatkan pada wadah tersendiri, beri label
- Dipak dan kirim ke laboratorium

4.2 Pemeriksaan Bercak Darah


1) Sampel darah cair
a. Darah dari seseorang
 Diambil dengan semprit oleh petugas yang berpengalaman
 Siapkan 2 tabung dengan EDTA. Dapat dipakai antikoagulan
lain, tetapi perlu diingat bahwa heparin dapat mempengaruhi
aktifitas enzim retriksi tertentu.
 Isi tiap tabung dengan ± 5 ml darah.
 Tiap tabung ditutup dan diberi label.
 Simpan di pendingin
b. Darah cair di TKP
 Hisap dengan semprit bersih (steril) atau pipet disposibel
 Pindahkan dalam tabung steril
 Darah beku dapat diambil dengan spatel yang bersih
 Dapat dipakai kain katun bersih untuk menyerap darah.
 Sampel darah cair diberi antikoagulan
 Diberi label, simpan di pendingin
 Dipak dan dikirim ke laboratorium
c. Darah cair dalam air atau salju, es.
 Segera mungkin diambil untuk menghindari pengenceran lanjut
 Dalam jumlah cukup di masukan dalam tempat bersih (botol)
 Hindari kontaminasi
 Simpan di pendingin, bila mungkin di bekukan.
 Beri label
2) Bercak darah basah
a. Di pakaian
 Pakaian dengan noda darah diletakan dalam permukaan bersih,
keringkan di udara.

20
 Jangan letakan pada tempat tertutup, kedap udara atau tas plastik.
Akan menyebabkan bahan pemeriksaan menjadi basah dan
timbul bakteri yang dapat merusak barang bukti.
 Setelah kering masukan dalam kantong kertas (amplop)
 Beri label dan segera kirim ke laboratorium pemeriksaan DNA
b. Benda dengan bercak darah basah
 Benda kecil biarkan kering di udara, kumpulkan.
 Pada benda besar yang tidak dapat dipindahkan, maka hisap
bercak tersebut dengan kain katun bersih kemudian keringkan di
udara.
 Masukan dalam kantong kertas.
 Beri label dan segeraa kirim ke laboratorium
3) Bercak darah kering
a) Pada benda yang dapat dipindahkan, misal : senjata, kain, sprei
 Kumpulkan benda tersebut
 Tiap item masukan dalam kantong kertas
 Beri label dan segera kirim ke laboratorium
b) Pada benda yang padat dengan permukaan tidak menyerap dan tidak
dapat dipindahkan, misal : lantai
 Bercak dikerok dengan alat bersih
 Masukan dalam kantong kertas
 Beri label, dipak kemudian kirim ke laboratorium
c) Bercak darah kering pada benda besar yang tidak dapat dipindahkan
atau dipotong serta tidak dapat dikerok.
 Bercak dapat dilarutkan dengan kapas bersih yang telah dibasahi
dengan cairan salin steril atau air steril yang digosokan pada area
bercak.
 Kapas dikeringkan di udara
 Setelah kering masukan dalam kantong kertas
 Beri label, dipak dan dikirim ke laboratorium

21
4.3 Histopatologi Forensik
Cara Pengambilan Sampel untuk Pemeriksaan Histopatologi
1. Jaringan yang akan diambil dipotong terutama pada daerah yang dicurigai
dengan ukuran lebih 3 x 2 x 0,5 cm. Tebal jaringan sebaiknya tidak lebih
dari 0,5 cm agar bahan pengawet dapat masuk kedalam jaringan sehingga
tidak mengalami pembusukan.
2. Apabila mengirim jaringan yang utuh, seperti jantung dan uterus sebaiknya
jaringan tersebut dibelah dan diiris agak tipis, sehingga pengawet dapat
meresap ke dalam jaringan dengan merata. Agar mudah dipotong
menggunakan mikrotom untuk mendapatkan irisan jaringan yang sangat
tipis (sesuai yang diharapkan).

4.4 Fotografi Forensik


Fotografi forensik (Forensic imaging/crime scene photography) adalah
suatu proses seni yang menghasilkan bentuk reproduksi dari tempat kejadian
perkara atau tempat kejadian kecelakaan secara akurat untuk kepentingan
penyelidikan hingga pengadilan. Fotografi forensik juga termasuk ke dalam
bagian dari upaya pengumpulan barang bukti seperti tubuh manusia, tempat-
tempat dan setiap benda yang terkait suatu kejahatan dalam bentuk foto yang
dapat digunakan oleh penyidik saat melakukan penyelidikan atau penyidikan.
Syarat fotografi forensik adalah sebagai berikut :
1. Menggunakan metode empat sudut
2. Semua barang bukti harus di foto close-up, pertama dengan tanpa skala
kemudian dengan skala, mengisi seluruh frame foto
3. Foto dari sudut pandang mata untuk mewakili tampilan normal
4. Memotret semua bukti di tempat sebelum direposisi atau dibersihkan

4.5 Tes Getah Paru


Tes getah paru dilakukan dengan cara sebagai berikut :
1. Paru-paru diletakkan diatas meja kemudian permukaan paru-paru
dibersihkan satu kali dengan pisau posisi tegak lurus

22
2. Kemudian di iris sampai alveoli yang paling dekat dengan pleura (sub
pleura) dan di tutup
3. Objek glass ditempelkan pada alveoli dan ditutup dengan gelas penutup
4. Dilihat dibawah mikroskop akan didapatkan lumpur, pasir, telur cacing,
diatome, alga, dll.
Hasilnya :
1. Tes getah paru (+) : korban sempat atau pernah bernafas dalam air
2. Tes getah paru (-) : korban meninggal terlebih dahulu baru masuk kedalam
air atau tidak sempat bernafas dalam air, airnya jernih sama dengan air
minum, spasme laring, vagal reflex.

4.6 Pengambilan Gas CO2 dari Sumur


Cara mengambil gas CO2 dari dalam sumur :
a. Ambil beberapa botol bersih dengan kapasitas 1 liter yang telah kosong,
contohnya botol bir kemudian ikat leher dan bagian alas botol masing-
masing dengan tali yang cukup panjang
b. Isi botol dengan air sampai penuh kemudian turunkan ke dalam sumur yang
mengandung gas CO2 dengan posisi tegak (alas botol di bawah dan leher
botol berada di atas), jaga air di dalam botol agar tidak sampai tumpah
c. Setelah sampai di kedalaman pada tempat yang sesuai dengan korban
ditemukan meninggal, botol tersebut dibalik agar semua air di dalam botol
tumpah. Hali ini dilakukan dengan cara menarik tali yang mengikat alas
botol dan mengulur tali yang mengikat leher botol
d. Dengan keluarnya seluruh air dari dalam botol dan botol dalam kondisi
kosong maka botol akan vaccum sehingga gas CO2 akan masuk ke dalam
botol
e. Setelah botol terisi oleh gas CO2 maka botol diangkat ke atas dengan cara
botol dibalik kembali seperti posisi semula agar gas CO2 dapat terbawa
terus sampai botol sampai di atas
f. Setelah sampai diatas botol segera ditutup rapat kemudian diberikan label
dan disegel untuk dilakukan pemeriksaan

23
Tes CO2 ada dua yaitu :
1. Kualitatif : dilakukan dengan pemberian larutan Ca(OH)2 yang jernih dan
baru dibuat atau larutan Ba(OH)2 pada botol yang berisi udara saat
dilakukan pengambilan dari tempat sampel. Apabila terdapat endapan
putih kapur dari CaCO3 atau BaCO3 berarti gas CO2 positif.
2. Kuantitatif :
- Grafimetri melakukan penimbangan terhadap endapan yang terjadi
- Volumetri dilakukan dengan menitrasi kelebihan larutan basa CaOH2
atau BaOH2 dengan konsentrasi tertentu
- Chromatografi gas (kualitatif dan kuantitatif)
Hasil :
a. Keracunan gas CO2 : darah berwarna hitam
b. Keracunan gas CO dan HCN (kluwek, pete, gaplek) : cherry red

4.7 Alkali Dilution Test


Tujuan: mengetahui kadar CO dalam darah secara semikuantitatif.
Cara pemeriksaan:
1. Ambil 2 tabung reaksi.
2. Masukkan 1-2 tetes darah korban ke dalam tabung pertama dan 1-2 tetes
darah normal ke dalam tabung kedua (sebagai kontrol negatif).
3. Tambahkan 10 ml air ke dalam masing-masing tabung hingga warna merah
dapat diamati dengan jelas. Darah pada tabung yang mengandung CO akan
tampak merah jernih sedang darah kontrol berwarna merah keruh.
4. Tambahkan 5 tetes larutan NaOH 10-20% pada masing-masing tabung
kemudian dikocok.
Hasil :
1. Darah kontrol akan segera berubah warnanya menjadi merah hijau
kecoklatan karena terbentuk hematin alkali.
2. Sedangkan darah yang mengandung COHb tidak berubah segera
(tergantung konsentrasi COHb) karena lebih resisten terhadap alkali.

24
3. COHb dengan kadar saturasi 20% akan memberi warna merah muda selama
beberapa detik kemudian menjadi coklat kehijauan setelah 1 menit.
4. Sebagai kontrol jangan digunakan darah fetus karena darah fetus juga
bersifat resisten terhadap alkali.

4.8 Tes Apung Paru

25
4.9 Emboli Udara Vena
Emboli udara vena biasanya terjadi karena vena teriris biasanya yang teriris
vena jugularis di leher sehingga udara masuk ke dalam pembuluh darah vena
kemudian menuju ke jantung kanan menuju percabangan arteri pulmonale
kemudian menuju ke paru-paru dan menyebabkan sesak.
Korban meninggal karena kapiler paru buntu oleh udara sehingga terjadi
asfiksia, dimana jumlah udara yang dapat menyebabkan kematian antara 100-
150 cc.
Otopsi yang dilakukan adalah
1. Membuka kulit dinding thorax kemudian memotong sternum pada
processus Xypoideus setinggi ICS II dibawah costa II agar vena brachialis
cab vena clavicula tidak ikut terpotong
2. Ambil dan gunting pericard dengan posisi Y terbalik kemudian isi dengan
air sampai menggenang
3. Lakukan tusukan pada atrium kanan, ventrikel kanan dan arteri pulmonalis
4. Ditemukan adanya gelembung udara
5. Penyebab emboli udara vena :
g. Luka pada pembuluh balik leher, terutama vena jugularis
h. Abortus provocatus criminalis dengan cara penyemprotan

4.10 Emboli Udara Arteri


1. Otopsi yang dilakukan sama dengan emboli udara vena yang membedakan
hanya tusukan dilakukan pada atrium kiri, ventrikel kiri dan aorta
2. Terjadi bila ada luka tembus paru-paru yang menyebabkan emboli pada
vena pulmonalis menuju ke atrium kiri dan ventrikel kiri kemudian ke aorta
3. Korban meninggal karena udara membuntu di otak, ginjal, dan jantung
sampai terjadi asfiksia
4. Penyebab yang sering terjadi adalah :
i. Luka tusuk atau tembus di paru-paru
j. Artifisial pneumothorax
k. Pneumonectomy

26
4.11 Emboli Lemak
Contoh kasus yang dapat menyebabkan sesorang terkena emboli lemak adalah
: apabila terdapat seseorang yang dipukuli terus menerus dan orang tersebut
menjadi sesak kemudian mati serta kasus sesorang yang hendak dioperasi
karena patah tulang paha yang berakhir meninggal akibat sesak.
Dari kasus diatas penyebab terjadinya kematian adalah karena adanya emboli
lemak setelah dilakukan pemeriksaan pada paru-paru, ec. Fraktur tulang
panjang.
1 Lemak terpecah dan terlepas karena terkena pukulan pada kulit seluruh
punggung dan karena patahnya tulang panjang sehingga cairan lemak
masuk ke dalam pembulu darah vena yang robek dan masuk ke dalam
vena cava superior kemudian masuk ke atrium kanan dan masuk ke
ventirkel kanan setelah itu masuk ke arteri pulmonale dan membuntu
di paru-paru (alveoli)
2 Korban meninggal karena kapiler buntu dan terjadi asfiksia.
3 Dilakukan tes emboli lemak dengan organ yang diambil adalah paru-
paru. Jaringan paru-paru diambil dan dikeraskan dengan uap zat asam
arang cair (frozzensetion) dan kemudian dengan mikrotom dipotong 20
mikron dan di cat dengan warna Sudan III kemudian dikirim ke
laboratorium
4 Pengiriman ke laboratorium PA atau pengawetan dilakukan dengan
cara paru-paru diberi gas CO kemudian difiksasi menggunakan dry ice
agar tidak membusuk. Jangan mengirim menggunakan alcohol atau
formalin karena lemak akan larut.
4.12 Pneumothorax
Pneumothorax merupakan adanya udara dalam rongga thorax.
Otopsi yang dilakukan :
a. Membuka kulit dinding thorax dengan potongan huruf ‘I’ atau dengan
potongan huruf ‘Y’

27
b. Setelah costa terlihat, tarik potongan costa kemudian tarik potongan
kulit hingga membentuk kantong
c. Isikan air sampai tergenang
d. Lakukan tusukan pada paru-paru yang berada diantara ICS2
e. Ditemukan hasil positif bila hasil test tersebut ditemukan gelembung
udara
f. Pada gas pembusukan ditemukan sedikit gelembung udara

28
DAFTAR PUSTAKA

Satyo, A. C. 2006. Aspek medikolegal luka pada forensic klinik. Majalah


Kedokteran Nusantara, vol. 39, no. 4, pp. 430 -433

Vincent J. D. dan Dominick, D. 2001. Blunt Trauma Wounds. Forensic


Pathology Second Edition, Chapter 4, pp 1 -26

Idries, A. M. 2008. Sistematik Pemeriksaan Ilmu Kedokteran Forensik


Khusus pada korban perlukaan. Penerapan Ilmu Kedokteran

Forensik dalam proses penyidikan, Bab 7, hal 133-143. Jakarta: Sagung


Seto

Shkrum, M. J. dan Ramsay, D. A. 2007. Blunt Trauma. Forensic


Pathology of Trauma, Chapter 8, pp. 405-518

29