Anda di halaman 1dari 6

Jurnal Akademi Keperawatan Husada Karya Jaya, Volume 2, Nomor 2, September 2016 ISSN

2442-501X

GAMBARAN PENGETAHUAN PERAWAT TENTANG INFEKSI SALURAN


KEMIH PASCA PEMASANGAN KATETER DI LANTAI 5 BLOK B RSUD KOJA
JAKARTA UTARA
Leo Rulino, S.Kep., Ners*, Fahmi Al Jana**
*Dosen Akademi Keperawatan Husada Karya Jaya, Jakarta
**Mahasiswa Akademi Keperawatan Husada Karya Jaya, Jakarta

Abstrak
Infeksi saluran kemih adalah inflamasi akut pada mukosa kandung kemih akibat infeksi. Sekitar 90%
penyebab terjadinya infeksi saluran kemih (ISK) adalah E.coli (Sukandar, 2008), dan sekitar 10% terjadi
karena ISK dengan pemasangan kateter (Heather, M. And Hannie, G. 2006). Tujuan penelitian untuk
mengetahui Gambaran Pengetahuan Perawat berdasarkan karekteristik pendidikan menunjukan bahwa
dari 30 responden, dengan lama kerja 0-1 tahun dengan pendidikan D3 yang memiliki pengetahuan
sangat baik sebanyak 2 orang (28,6%), pengetahuan baik sebanyak 4 orang (57,1%), dan yang memiliki
pengetahuan cukup 1 orang (14,3%). Dengan lama kerja 1-5 tahun dengan pendidikan D3 yang
memiliki pengetahuan sangat baik ada 12 orang (80,0%), dan yang memilliki pengetahuan baik
sebanyak 3 orang (20,0%), dengan lama kerja 1-5 tahun dengan pendidikan S1 memiliki pengetahuan
sangat baik sebanyak 3 orang (100,0%). Dengan lama kerja 5-≥10 tahun dengan tingkat pendidikan S1
yang memiliki pengetahuan sangat baik sebanyak 5 orang (80,0%), dang yang memiliki pengetahuan
baik 1 orang (20,0%).

Kata kunci : Pengetahuan, perawat, ISK, dan Pemasangan kateter

Latar Belakang
Infeksi saluran kemih kebanyakan terjadi Faktor-faktor yang dapat mempengaruhi
pada pemasangan kateter urine/folley kateter. terjadinya infeksi saluran kemih dirumah sakit
Sekitar 40% infeksi nosokomial di RS adalah adalah prosedur pemasangan, lama pemasangan
ISK dan 80% ISK terjadi setelah pemasangan dan kualitas perawatan kateter. Kualitas
kateter. Menurut penelitian Heather, infeksi perawatan kateter sangat mempengaruhi
saluran kemih (ISK) paling banyak dikarenakan terjadinya infeksi saluran kemih (Kasmad,
adanya pemasangan indewelling kateter, yaitu 2008).
sekitar 40% dari seluruh angka ISK. Dan WHO mengemukakan bahwa ISK dapat
menurut Revees (2008) menegaskan bahwa dicegah dalam pemasangan kateter dengan
penyebab paling sering infeksi saluran kemih menggunakan teknik steril dan berhati-hati
ialah dimasuknya suatu alat kedalam saluran dalam melakukan pemasangan kateter
kemih, misalnya pemasangan kateterisasi (Schaffer, 2008). Perawatan kateter urine
(Kasmad., cit Sumaryono, 2009, Brunner & menetap/indwelling harus diperhatikan agar
Suddarth, 2008, Darmadi, 2008, Kasmad, 2009, dapat mencegah terjadinya infeksi saluran
Potter & Perry 2012). kemih (Sepalanita, 2012).
Kateter urin adalah penyebab yang paling Menurut penelitian penting meminum air
sering dari bakteriuria. Resiko bakteriuria pada 2-3 liter setiap hari bertujuan untuk
kateter diperkirakan 5% sampai 10% perhari. mempertahankan kandung kemih terbilas dan
Kemudian diketahui pasien akan mengalami menghilangkan sedimen yang melekat pada
bakteriuria setelah penggunaan kateter selama kateter. Meminum banyak air akan membuat
10 hari (Smeltzer & Bare, 2009). Sekitar 90% sering buang air kecil dan ini akan membantu
penyebab terjadinya ISK adalah E.coli untuk mengurangi konsentrasi bakteri dalam
(Sukandar, 2008). Dan infeksi saluran kemih kandung kemih, bakteri akan keluar bersama
dapat menyebabkan kerusakan ginjal (Afsah, urin (Schaffer, 2009).
2008). Teknik pemasangan kateter yang baik
(sesuai prosedur) dapat mengurangi ISK.
Perawatan kateter diawali dengan persiapan alat

38
Jurnal Akademi Keperawatan Husada Karya Jaya, Volume 2, Nomor 2, September 2016 ISSN
2442-501X

yang diperlukan, pada perawatan kateter Pada penelitian ini sampel yang
dilakukan prinsip steril, setelah mempersiapkan ditetapkan adalah semua perawat di Lantai 5
alat maka pasien dijelaskan tentang prosedur blok B RSUD Koja Jakarta Utara, sebanyak 30
yang akan dilaksanakan, kemudian atur posisi Responden.
pasien setelah itu bersihkan daerah perineal dan
lakukan pengkajian untuk menentukan adanya Hasil Penelitian
infeksi. Setelah daerah perineal dibersihkan Tabel 1 Distribusi Frekuensi Karakteristik Perawat
maka kateter yang terpasang dibersihkan Berdasarkan Pendidikan
dengan cara membersihkan bagian pipa luar
kateter, setelah kateter dibersihkan oleskan Pendidikan Frekuensi Persentase
salep antibiotik dengan sepanjang 2,5 cm. D3 22 73,3%
Tahap terakhir yaitu lepaskan sarung tangan dan S1 8 26,7%
catat laporan kondisi jaringan perineal, waktu Total 30 100 %
prosedur dilakukan, dan respon pasien
(Schaffer, 2008). Tabel 2. Distribusi Frekuensi Karakteristik Perawat
Perawat berperan penting dalam Berdasarkan Lama Kerja.
melakukan perawatan kateter, untuk itu
diharapkan perawat memiliki pengetahuan yang Lama Kerja Frekuensi Persentase
memadai tentang pelaksanaan perawatan 0 – 1 tahun 7 23,4%
kateter. Dalam undang-undang kesehatan 1 – 5 tahun 18 60%
perawat harus memiliki kemampuan yang 5 - ≥ 10 tahun 5 16,6%
berkembang yang didapatkan dari pendidikan Total 30 100 %
dan pelatihan yang berkelanjutan (Ali, 2010).
Oleh karena itu peneliti tertarik untuk meneliti Tabel 3 Distribusi Frekuensi Pengetahuan Tentang
penelitian mengenai Gambaran Pengetahuan Penyebab Infeksi Saluran Kemih Pasca Pemasangan
Perawat Tentang Infeksi Saluran Kemih Pasca Kateter
Pemasangan Kateter di Lantai 5 Blok B RSUD
Koja Jakarta Utara. Pengetahuan Frekuensi Persentase
Tujuan penelitian ini adalah Untuk Sangat Baik 7 23,3%
mengetahui pengetahuan perawat tentang Baik 17 56,7%
infeksi saluran kemih pasca pemasangan kateter Cukup 5 16,7%
di lantai 5 blok B RSUD Koja Jakarta Utara, Kurang 1 3,3%
sehingga diharapkan dapat menambah masukan Total 30 100 %
bagi profesi kesehatan khususnya keperawatan
agar lebih meningkatkan mutu pelayanan Tabel 4 Distribusi Frekuensi Pengetahuan Tentang
terhadap program pelayanan kesehatan Tanda dan Gejala Infeksi Saluran Kemih Pasca
khususnya tentang infeksi saluran kemih pasca Pemasangan Kateter
pemasangan kateter.
Pengetahuan Frekuensi Persentase
Metode Penelitian Sangat Baik 1 3,3%
Penelitian ini bersifat deskriptif Baik 11 36,7%
kuantitatif dengan menggunakan rancangan Cukup 14 46,7%
penelitian cross sectional. Desain ini Kurang 4 13,3%
digunakan untuk meneliti suatu kejadian pada Total 30 100 %
waktu yang bersamaan (sekali waktu).
Sehingga variabel dependen dan variabel Tabel 5 Distribusi Frekuensi Pengetahuan Tentang
independen diteliti secara bersamaan Pencegahan Infeksi Saluran Kemih Pasca
(Notoatmodjo, 2012). Pemasangan Kateter
Teknik sampling yang digunakan adalah
Total Sampling, teknik pengambilan ini paling Pengetahuan Frekuensi Persentase
sederhana dimana seluruh populasi diambil Sangat Baik 28 93,3%
sebagai sampel dan jumlah subjek telah Baik 2 6,7%
terindentifikasi (Hidayat, 2013). Cukup 0 0%

39
Jurnal Akademi Keperawatan Husada Karya Jaya, Volume 2, Nomor 2, September 2016 ISSN
2442-501X

Kurang 0 0% pengalaman kerja turut mempengaruhi


Total 30 100 % pengetahuan seseorang. hal ini didukung
oleh pendapat Sukmadinata dalam Upadani
Tabel 6 Distribusi Frekuensi Pengetahuan Perawat (2011) yang mengatakan bahwa
di Lantai 5 Blok B Berdasarkan Pendidikan pengalaman merupakan salah satu faktor
eksternal yang mempengaruhi pengetahuan
Tingkat pengetahuan seseorang. seorang perawat yang baru
Pendi Tot bekerja dapat dipastikan baru saja lulus dari
Sangat Kurang pendidikannya, hal ini mempengaruhi
dikan Baik Cukup al
baik pengetahuannya karena ingatannya tentang
f % f % f % f % infeksi saluran kemih yang diperoleh di
D3 14 63 7 31 1 4 0 0 22 institusi pendidikan masih baik. hal ini
S1 7 87 1 12 0 0 0 0 8 tidak berarti bahwa perawat yang telah
Total 21 70 8 26 1 3 0 0 30 lama bekerja memiliki pengetahuan yang
kurang karena keterpaparan akan informasi
Pembahasan juga turut mempengaruhi pengetahuan
1. Karakteristik responden berdasarkan seseorang.
pendidikan dari 30 responden, di Lt. 5 Blok
B RSUD Koja Jakarta Utara, yaitu 22 orang Kesimpulan
(73,3%) berpendidikan D3, dan 8 orang Berdasarkan hasil penelitian yang saya
(26,7%) berpendidikan S1. teliti menunjukan bahwa dari 30 responden,
2. Karakteristik responden berdasarkan lama dengan lama kerja 0-1 tahun dengan
kerja dari 30 responden, di Lt. 5 Blok B pendidikan D3 yang memiliki pengetahuan
RSUD Koja Jakarta Utara, yaitu 7 orang sangat baik sebanyak 2 orang (28,6%),
(23,4%) dengan lama kerja selama 0–1 pengetahuan baik sebanyak 4 orang (57,1%),
tahun, 18 orang (60%) dengan lama kerja dan yang memiliki pengetahuan cukup 1 orang
selama 1–5 tahun, dan 5 orang (16,6%) (14,3%). Dengan lama kerja 1-5 tahun dengan
dengan lama kerja selama 5 - ≥10 tahun . pendidikan D3 yang memiliki pengetahuan
3. Pengetahuan perawat tentang infeksi sangat baik ada 12 orang (80,0%), dan yang
saluran kemih pasca pemasangan kateter di memilliki pengetahuan baik sebanyak 3 orang
Lt. 5 Blok B RSUD Koja Jakarta Utara dari (20,0%), dengan lama kerja 1-5 tahun dengan
30 responden, 21 orang (70,0%) memiliki pendidikan S1 memiliki pengetahuan sangat
pengetahuan sangat baik, 8 orang (26,7%) baik sebanyak 3 orang (100,0%). Dengan lama
memiliki pengetahuan baik, dan 1 orang kerja 5-≥10 tahun dengan tingkat pendidikan
(3,3%) memiliki pengetahuan cukup. S1 yang memiliki pengetahuan sangat baik
Sehingga pengetahuan tertinggi di Lt. 5 sebanyak 5 orang (80,0%), dang yang
Blok B RSUD Koja Jakarta Utara adalah memiliki pengetahuan baik 1 orang (20,0%).
baik sebanyak 21 orang (70,0%).
Responden yang termasuk dalam kategori Sumber
pengetahuan cukup rata – rata Afsah, Muhammad jaffar. (2008) Pengetahuan
berpendidikan D3, mungkin hal ini yang Perawat Tentang Infeksi Saluran Kemih
menyebabkan kurangnya pengetahuan a Pemasangan Kateter.
perawat. Sesuai dengan teori yang
menyatakan “dengan pendidikan tinggi, Brunner & Suddarth. 2008. Buku Ajar
maka seseorang akan cenderung Keperawatan Medikal Bedah. EGC :
mendapatkan informasi, dan semakin Jakarta.
rendah pendidikan maka seseorang akan
semakin sulit dalam mengambil keputusan” Baradero, M dan Dayrit, M. 2009. Asuhan
(Notoadmojo, 2011). Responden yang Keperawatan Pasien Gangguan Sistem
memiliki pengetahuan cukup paling banyak Reproduksi & Seksualitas. Jakarta: EGC
pada lama kerja selama 1 – 5 tahun, dari
hasil ini dapat dilihat bahwa lama waktu
bekerja dalam hal ini berhubungan dengan

40
Jurnal Akademi Keperawatan Husada Karya Jaya, Volume 2, Nomor 2, September 2016 ISSN
2442-501X

Gould & Brooker. Guideline for prevention of Smeltzer S. C. & Bare B. G. (2009).
catheter-associated urinary tract Keperawatan medikal bedah (vols:2-3)
infections 2009. (Agung waluyo, penerjemah). Jakarta:
EGC.
Haryono, Rudi 2012 Keperawatan Medikal
Bedah : Sistem Perkemihan. Rapha Sukandar, E.Y., Andrajati, R., Sigit, J.I dan
Publishing : Yogyakarta. Kusnandar.,2008. Pengetahuan infeksi
saluran kemih, Jakarta.
Heather, M. And Hannie,
G. 2006. Pengendalian Infeksi Sukmadinata dalam Budiman.
Nosokomial Di Rumah Sakit. Jakarta. (2011). Penelitian Kesehatan. Buku
Pertama. Bandung: Refika Aditama.
Healthcare Infection Control
practices Advisory Committe, 2009. Siagian, Sondang P. 2008. Manajemen Sumber
Daya Manusia. Jakarta: Bumi Aksara
Hastono, Sutanto. (2007).
Analisa Data Kesehatan. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 38
Jakarta: Universitas Tahun 2014 Tentang Keperawat.
Indonesia
WHO. 2011. Medicines: Rational Use of
Kasmad. 2009. Perawatan Kateter Dengan Medicines.http://www.who.int/en/.
Kejadian Infeksi Nosokomial Sluran
Kemih. (ejournal.unip.ac.id/index.php).

Mubarak, Wahid Iqbal. 2012. Buku Ajar


Kebutuhan Dasar Manusia Teori dan
Aplikasi dalam Praktek. Jakarta : Buku
Kedokteran EGC.
Notoatmodjo S. 2010. Metodologi penelitian
kesehatan edisi Revisi. Jakarta: Penerbit
Rineka Cipta.

Nursalam. 2009. Konsep dan penerapan


metodologi penelitian keperawatan.
Jakarta.

Rajabnia-Chenari M., Gooran S, Fazeli F.,


Dashipour A., 2012, Antibiotic resistance
pattern in urinary tract infections in
Imam-Ali hospital, Zahedan (2010-
2011), Zahedan Journal of Research in
Medical Science, Zahedan.

Schaffer, S. Graf (2009). Pencagahan Infeksi


dan Praktek yang Aman; Seri pedoman
praktis. Dublin Ohio : EGC (2005)

KESIMPULAN

Infeksi saluran kemih terjadi ketika ada bakteri pada organ saluran kencing.
Bakteri penyebab infeki saluran kencing dapat memengaruhi ginjal.
Bakteri yang disebut ESCHERICHIA COLI (E.COLI) yang ditemukan pada usus,
menyebabkan infeksi pada ginjal .
Sekitar 10% terjadi karena ISK dengan pemasangan kateter. Karena
dimasukkannya suatu alat ke dalam saluran kemih. Resiko bakteriuria pada kateter

41
Jurnal Akademi Keperawatan Husada Karya Jaya, Volume 2, Nomor 2, September 2016 ISSN
2442-501X

diperkirakan 5% sampai 10% perhari. Factor yang dapat memengaruhi terjadinya ISK di
RS adalah prosedur pemasangannya. Lama pemasangan dan kualitas perawatan kateter,
sangat memengaruhi terjadinya ISK. WHO mengemukakan bahwa ISK dapat dicegah
dalam pemasangan kateter dengan menggunakan tekhnik steril dan berhati-hati dalam
melakukan pemasangan kateter. Terkhnik pemasangan kateter yang baik (sesuai
prosedur) dan dilakukan prinsip steril dapat mengurangi ISK.
Maka dari itu, pengetahuan dari perawat terhadap prosedur suatu penyakit sangat
penting untuk mencegah terjadinya penyakit nasokomial di RS. khususnya tentang
infeksi saluran kemih pasca pemasangan kateter.

KESIMPULAN

WHO mengemukakan bahwa ISK dapat dicegah dalam pemasangan kateter dengan
menggunakan teknik steril dan berhati-hati dalam melakukan pemasangan kateter
(Schaffer, 2008).
Sesuai apa yang dikemukakan oleh WHO teknik pemasangan kateter yang baik atau
sesuai dengan prosedur dapat mengurangi resiko ISK. Perawat berperan penting dalam
melakukan tindakan perawatan kateter.
Perawatan kateter di mulai dengan mempersiapkan alat yang akan diperlukan , setelah
mepersiapkan alat selanjutnya jelaskan prosedur yang akan dilaksanakan pada pasien dan
keluaga. Kemudian atur posisi pasien dengan nyaman. Bersihkan area perineal dan lakukan

42
Jurnal Akademi Keperawatan Husada Karya Jaya, Volume 2, Nomor 2, September 2016 ISSN
2442-501X

pengkajian untuk menentukan adanya infeksi. Setelah daerah perinela dibersihkan maka kateter
yang takan dipasang dibersihkan dengan cara membersihkan bagian pipa luar kateter, dan
oleskan salep antibiotik. Terakhir lepas sarung tangan dan catat laporan kondisi jaringan parineal
pada saat prosedur dilakukan.
Faktor yang dapat menimbulkan infeksi di RS yaitu prosedur atau cara pemasangan kateter yang
tidak sesuai dengan SOP.

43