Anda di halaman 1dari 16

Soal !

1. Syok anafiletik definisi dengan penanganannya ?

2. Px dengan DBD dengan syok ?

3. Px dengan BTCLS airway –circulation (definisi ) ?

4. GCS dengan tingkat kesadaran ?

5. Asuhan keperawatan ? definisi dan urutannya ?

6. Rumus insulin dan rumus tetesan cairan ?

Jawaban….

1. Definisi :

Syok anafilaktik adalah suatu respons hipersensitivitas yang diperantarai oleh

Immunoglobulin E (hipersensitivitas tipe I) yang ditandai dengan curah jantung dan

tekanan arteri yang menurun hebat. Hal ini disebabkan oleh adanya suatu reaksi antigen-

antibodi yang timbul segera setelah suatu antigen yang sensitif masuk dalam sirkulasi.

Syok anafilaktik merupakan salah satu manifestasi klinis dari anafilaksis yang merupakan

syok distributif, ditandai oleh adanya hipotensi yang nyata akibat vasodilatasi mendadak

pada pembuluh darah dan disertai kolaps pada sirkulasi darah yang dapat menyebabkan

terjadinya kematian. Syok anafilaktik merupakan kasus kegawatan, tetapi terlalu sempit

untuk menggambarkan anafilaksis secara keseluruhan, karena anafilaksis yang berat dapat

terjadi tanpa adanya hipotensi, seperti pada anafilaksis dengan gejala utama obstruksi

saluran napas.
Penanganan :

Kalau terjadi komplikasi syok anafilaktik setelah kemasukan alergi baik peroral maupun

parenteral, maka tindakan pertama yang paling penting dilakukan adalah mengidentifikasi

dan menghentikan kontak dengan alergi yang diduga menyebabkan reaksi anafilaksis.

Segera baringkan penderita pada alas yang keras. Kaki diangkat lebih tinggi dari kepala

untuk meningkatkan aliran darah balik vena, dalam usaha memperbaiki curah jantung dan

menaikkan tekanan darah.

Tindakan selanjutnya adalah penilaian airway, breathing, dan circulation dari tahapan

resusitasi jantung paru untuk memberikan kebutuhan bantuan hidup dasar. Airway,

penilaian jalan napas. Jalan napas harus dijaga tetap bebas agar tidak ada sumbatan sama

sekali. Untuk penderita yang tidak sadar, posisi kepala dan leher diatur agar lidah tidak

jatuh ke belakang menutupi jalan napas, yaitu dengan melakukan triple airway manuver

yaitu ekstensi kepala, tarik mandibula ke depan, dan buka mulut. Penderita dengan

sumbatan jalan napas total, harus segera ditolong dengan lebih aktif, melalui intubasi

endotrakea, krikotirotomi, atau trakeotomi. Breathing support, segera memberikan bantuan

napas buatan bila tidak ada tanda-tanda bernapas spontan, baik melalui mulut ke mulut atau

mulut ke hidung. Pada syok anafilaktik yang disertai udem laring, dapat mengakibatkan

terjadinya obstruksi jalan napas total atau parsial. Penderita yang mengalami sumbatan

jalan napas parsial, selain ditolong dengan obat-obatan, juga harus diberikan bantuan napas

dan oksigen 5-10 liter /menit. Circulation support, yaitu bila tidak teraba nadi pada arteri

besar (a. karotis atau a. femoralis), segera lakukan kompresi jantung luar.
2. Px DBD dengan syok

a. Terapi cairan dengan pemasangan dobel infus

b. jika mengalami sesak nafas lakukan pemasangan oksigen

c. observasi akral dan tingkat kesadaran

d. observasi TTV

e. observasi trombosit

3. BTCLS (Basic Trauma Cardiac Life Support)

Pelatihan yang di tujukan kepada perawat dan tenaga paramedic untuk meningkatkan

pengetahuan dan keterampilan dalam menangani penderita gawat darurat karena trauma.

A. Airway = membebaskan jalan nafas untuk menjamin pertukaran udara secara normal

Pengkajian : di lakukan bersama – sama dengan breathing menggunakan teknik look,

listen, fell yang dilakukan dalam satu gerakan dalam waktu yang singkat.

Tindakan :

a. Tanpa alat membuka jalan nafas dengan metode :

 Head tilt (dorong kepala ke belakang)

 Chin lift manufer (angkat bahu)

 Jaw thrust manufer (tolak rahang)

Membersihkan jalan nafas

 Finger swap (sapuan jari) dilakukan bila jalan nafas tersumbat

karena adanya benda asing dalam rongga mulut belakang atau

hipofaring (gumpalan darah, muntah dan benda asing lainnya) dan

hembusan nafas hilang.


 Abdominal thrust (gentakan abdomen)

 Chest thrust (pijatan dada)

 Back blow (tepukan pada punggung)

b. Dengan alat

 Pemasangan pipa (tabe)

Dipasang jalan nafas buatan (pipa orofaring, pipa

nasofaring) pipa orofaring digunakan untuk mempertahankan jalan

nafas dan menahan pangkal lidah agar tidak jatuh kebelakang

 Pemasangan benda cair (suction)

Bila terdapat sumbatan jalan nafas karena benda cair maka

dilakukan suction

 Krikotirotomi

Bila pemasangan pipa endotraken tidak memungkinkan

dilakukan maka dipilih tindakan krikotiritimi dengan jarum

B. Breathing : memperbaiki fungsi ventilasi dengan cara membersikan pernafasan buatan

untuk menjamin kebutuhan oksigen dan pengeluaran karbondioksida

 Memberikan pernafasan buatan dari mulut ke mulut atau dari

mulut kehidung sebanyak 2kali tiupan dengan diselingi dengan

ekshalasi

 Ambubag : pada alat tersebut dapat pula ditambahkan oksigen

 Memberikan bantuan nafas dan terapi oksigen dengan

menggunakan masker, pipa bersayab, ventilator


C. Circulation : mengembalikan fungsi sirkulasi darah

 Eksternal chest comprestion (pijat jantung) Untuk

menggandakan sirkulasi sistemi dan paru. Eksternal chest

comprestion menekan sternum kebawah sehingga jantung

tertekan antara sternum dan ferterbra menimbulkan heart pump

mekanisme.

4. GCS dengan tingkat kesadaran

A. Eye (respon membuka mata) :

(4) : spontan

(3) : dengan rangsang suara (suruh pasien membuka mata).

(2) : dengan rangsang nyeri (berikan rangsangan nyeri, misalnya menekan kuku

jari)

(1) : tidak ada respon

B. Verbal (respon verbal) :

(5) : orientasi baik

(4) : bingung, berbicara mengacau (sering bertanya berulang-ulang),

disorientasi tempat dan waktu.

(3) : kata-kata tidak jelas

(2) : suara tanpa arti (mengerang)

(1) : tidak ada respon


C. Motorik (Gerakan) :

(6) : mengikuti perintah

(5) : melokalisir nyeri (menjangkau & menjauhkan stimulus saat

diberi rangsang nyeri)

(4) : withdraws (menghindar/menarik extremitas atau tubuh menjauhi

stimulus saat diberi rangsang nyeri)

(3) : flexi abnormal (tangan satu atau keduanya posisi kaku diatas dada & kaki

extensi saat diberi rangsangnyeri).

(2) : extensi abnormal (tangan satu atau keduanya extensi di sisi tubuh, dengan

jari mengepal & kaki extensi saatdiberi rangsang nyeri).

(1) : tidak ada respon

Tingkat kesadaran adalah ukuran dari kesadaran dan respon seseorang terhadap rangsangan

darilingkungan, tingkat kesadaran dibedakan menjadi :

a. Compos Mentis(conscious)

yaitu kesadaran normal, sadar sepenuhnya, dapat menjawabsemua pertanyaan tentang keadaan sekelilingnya.

b. Apatis

yaitu keadaan kesadaran yang segan untuk berhubungan dengan sekitarnya,sikapnya acuh tak acuh.

c. Delirium

yaitu gelisah, disorientasi (orang, tempat, waktu), memberontak, berteriak-teriak, berhalusinasi, kadang

berhayal

d. Somnolen

yaitu kesadaran menurun, respon psikomotor yanglambat, mudah tertidur, namun kesadaran dapat pulih bila

dirangsang (mudah dibangunkan) tetapi jatuh tertidur lagi, mampu memberi jawaban verbal.
e. Stupor( soporo koma )

yaitu keadaan seperti tertidur lelap, tetapi ada respon terhadapnyeri.

f. Coma( comatose )

yaitu tidak bisa dibangunkan, tidak ada respon terhadap rangsanganapapun (tidak ada respon kornea

maupun reflek muntah, mungkin juga tidak ada responpupil terhadap cahaya).

5. Asuhan keperawatan merupakan proses atau rangkaian kegiatan pada praktik keperawatan

yang diberikan secara langsung kepada klien /pasien di berbagai tatanan pelayanan

kesehatan.

a. Pengkajian adalah upaya mengumpulkan data secara lengkap dan sistematis untuk

dikaji dan dianalisis sehingga masalah kesehatan dan keperawatan yang di hadapi

pasien baik fisik, mental, sosial maupun spiritual dapat ditentukan.tahap ini mencakup

tiga kegiatan,yaitu pengumpulan data,analisis data,dan penentuan masalah kesehatan

serta keperawatan.

b. Analisa data adalah kemampuan dalam mengembangkan kemampuan berpikir rasional

sesuai dengan latar belakang ilmu pengetahuan.

c. Perumusan masalah Setelah analisa data dilakukan, dapat dirumuskan beberapa

masalah kesehatan. Masalah kesehatan tersebut ada yang dapat diintervensi dengan

asuhan keperawatan (masalah keperawatan)

d. Diagnosa keperawatan adalah suatu pernyataan yang menjelaskan respon manusia

(status kesehatan atau resiko perubahan pola) dari individu atau kelompok dimana

perawat secara akontabilitas dapat mengidentifikasi dan memberikan intervensi secara

pasti untuk menjaga status kesehatan menurunkan, membatasi, mencegah dan merubah
e. Rencana keperawatan Semua tindakan yang dilakukan oleh perawat untuk membantu

klien beralih dari status kesehatan saat ini kestatus kesehatan yang di uraikan dalam

hasil yang di harapkan

f. Implementasi keperawatan Merupakan inisiatif dari rencana tindakan untuk mencapai

tujuan yang spesifik.

g. Evaluasi Perencanaan evaluasi memuat criteria keberhasilan proses dan keberhasilan

tindakan keperawatan. Keberhasilan proses dapat dilihat dengan jalan membandingkan

antara proses dengan pedoman/rencana proses tersebut

6. Rumus insulin dan rumus tetesan cairan

Dosis pemberian insulin tergantung pada kadar gula darah, yaitu :

Gula darah < 60 mg % = 0 unit

Gula darah < 200 mg % = 5 - 8 unit

Gula darah 200– 250 mg% = 10 – 12 unit

Gula darah 250 - 300 mg% = 15 – 16 unit

Gula darah 300 – 350 mg% = 20 unit

Gula darah > 350 mg% = 20 – 24 unit

Rumus pemberian cairan :

MACRO = 1 cc = 20 tts/mnt

々Tetes Infus Macrotts/mnt = jmlh cairan X 20 / lama infus X 60

々Lama Infus Macrolama infus = (jmlh cairan X 20) / (tts/mnt X 60)

MICRO = 1 cc = 60 tts/mnt

々Tetes Infus Microtts/mnt = (jmlh cairan X 60) / (lama Infus X 60)


々Lama Infus Microlama infus = (jmlh cairan X 60) / (tts/mnt X 60)

ASUHAN KEPERAWATAN PADA PX NY,K DENGAN VERTIGO

I. Pengkajian

A. Identitas

Nama pasien : Ny. K

Umur : 63 tahun (03-06-1958)

Jenis kelamin : Perempuan

Alamat : Panjer – pungging

Agama : Islam

No. Register :13 68 06

Tgl MRS :06-02-2018

Diagnose : Vertigo

B. Riwayat sakit dan kesehatan

1. Keluhan Utama

Px mengatakan mbilyur

2. Riwayat penyakit saat ini

Pasien datang dengan keluhan pusing mbliyur sejak 1 hari, mual (+),

muntah (-)

3. Riwayat penyakit dahulu

Px mengatakan memiliki riwayat penyakit vertigo, hipertensi

4. Riwayat penyakit keluarga

Px mengatakan tidak ada riwayat penyakit vertigo, hipertensi


C. Pola fungsi keshatan

1. Pola nutisi/metabolic

Saat MRS

Makan : Px mengatakan makan 1 porsi tidak habis

Minum : px mengatakan 1 hari minum kurang lebih 3-4 gelas kecil

2. Pola istirahat tidur

Saat MRS

Pasien mengatakan tidur kurang lebih 7-8 jam

D. Pemerisksaan fisik

Keadaan umu : lemah

Kesadaran : composmetis

GCS : 4 5 6

Tanda- tanda vital :

TD : 150 mmHg RR: 20x/menit

Nadi : 80x/menit suhu :36 oc

Kekuatan : 5 5

5 5

E. Permeriksaan penunjang

HB: 13,9 g/dl L 13,4-17,7

Leko: 8,4 x 109/1 L4,3-10,3 (ribu/ul) P 4,3-11,3

Trombosit : 301x 109/1 150-350


F. Terapi obat

Inf. Pz 14tpm

Inj. Ondansentron 3x4

Inj. Ranitidine 2x1

Po (+) unalium 2x10

a. Analisa data

Nama :Ny.K

RM:13 68 06

DATA ETIOLOGI MASALAH

KEPERAWATAN

DS: Px mengatakan menifestasikan dari Perubahan pola aktivitas

mbliyur vertigo akibat kurang

DO: darah

Keadaan umum : cukup

TD: 140/80mmHg menurunkan aliran

Suhu :366 OC darah ke cerebrum dan

Nadi : 80x/menit cerebellum

penurunan suplai O2

dan nutrisi ken euro di

otak
merangsang pusat

reseptor keseimbangan

dan koordinasi gerak di

cerebellum

sensasi pusing

berkunang kunang

ketidak seimbangan

dalam pergerakan

ketidak mampuan

beraktifitas secara

mandiri

DS: pasien mengatakan Manifestasi dari vertigo Gangguan rasa nyaman :

sedikit pusing akibat kurang darah nyeri kepala

DO:

Keadaan umum : cukup


Penurunan suplai O2
TD: 140/80mmHg dan nutrisi ke otak

Suhu :366 OC

Nadi : 80x/menit Proses metabolism di


otak terganggu
Merangsang reseptor
nyeri di susunan saraf
pusat

Nyeri dipersepsikan

Gangguan rasa nyaman


nyeri

b. Diagnose keperawatan

1.Perubahan pola aktifitas berhubungan dengan ketidak seimabangan

pergerakakn akibat vertigo

2.Gangguan rasan nyaman nyeri berhubungan dengan penurunan suplai darah

ke otak

II.Perencanaan

No DIAGNOSA TUJUAN-KRITERIA INTERVENSI RASIONAL

KEPERAWATAN HASIL

1 Gangguan rasa nyaman 1. Setelah dilakukan 3. Kaji tingkat nyeri 1. Mengetahui

nyeri berhubungan tindakan klien sejauh mana

dengan penurunan keperawatan 2x24 4. Anjurkan untuk nyeri

suplai darah ke otak jam nyeri istirahat adekuat mengganggu

DS: pasien mengatakan berkurang dengan 5. Ajarkan teknik aktivitas klien

sedikit pusing Kriteria Hasil : relaksasi nafas 2. Memberi

1. Pasien sudah tidak dalam perasaan

nyeri kepala
DO: 2. TTD di batas 6. Kolaborasi nyaman pada

Keadaan umum : cukup normal 110/80- perberian obat klien

TD: 140/80mmHg 130/80 mmhg analgesik 3. Menenangkan

Suhu :366 OC pasien, salah

Nadi : 80x/menit satu teknik

mengurangi rasa

nyeri

4. Obat analgesic

dapat

mengurangi

nyeri yang

diharapkan

mempercepat

penyembuhan

klien

III.Implementasi dan Evaluasi

DX TGL/JAM TINDAKAN EVALUASI PARAF

1 18-02/2018 1. mengukur tanda-tanda vital S : pasien mengatakan pusing

06.00 2. menganjurkan untuk istirahat yang adekuat sedikt berkurang

3. mengkaji tingkat nyeri klien O :Keadaan umum : cukup

4. mengajarkan teknik nafas dalam TD: 140/80mmHg


5.kolaborasi dengan tim medis : Suhu :366 OC

Inj. Ondansentron 3x4 Nadi : 80x/menit

Inj. Ranitidine 2x1 A : masalah teratasi sebagian

P : intervensi di lanjutkan

kolaborasi dengan tim medis :

Inj. Ondansentron 3x4

Inj. Ranitidine 2x1


ASUHAN KEPERAWATAN PADA PX NY,K DENGAN

VERTIGO

NAMA : SETIA WULANDARI


RUANG BUAH