100% menganggap dokumen ini bermanfaat (2 suara)
1K tayangan20 halaman

Sejarah Paskibra SMPN 7 Pemulutan

Teks tersebut merangkum sejarah terbentuknya Paskibraka sebagai pasukan pengibar bendera pusaka Indonesia pada peringatan HUT Kemerdekaan. Paskibraka awalnya dicetuskan oleh Mayor Husein Mutahar pada 1946 untuk mengibarkan bendera di Yogyakarta dan berkembang menjadi tradisi pengibaran bendera nasional setiap tanggal 17 Agustus oleh pelajar Indonesia. Teks tersebut juga menjelaskan arti lambang Pask

Diunggah oleh

Diat Net
Hak Cipta
© © All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
100% menganggap dokumen ini bermanfaat (2 suara)
1K tayangan20 halaman

Sejarah Paskibra SMPN 7 Pemulutan

Teks tersebut merangkum sejarah terbentuknya Paskibraka sebagai pasukan pengibar bendera pusaka Indonesia pada peringatan HUT Kemerdekaan. Paskibraka awalnya dicetuskan oleh Mayor Husein Mutahar pada 1946 untuk mengibarkan bendera di Yogyakarta dan berkembang menjadi tradisi pengibaran bendera nasional setiap tanggal 17 Agustus oleh pelajar Indonesia. Teks tersebut juga menjelaskan arti lambang Pask

Diunggah oleh

Diat Net
Hak Cipta
© © All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

SEJARAH PASKIBRA

SMP NEGERI 7 PEMULUTAN

NAMA : KOMARUDIN

KELAS : VIII. 3

ANGKATAN : VIII

ALAMAT : PEGAYUT

i
KATA PENGANTAR

Segala puji bagi Tuhan yang telah menolong hamba-Nya

menyelesaikan makalah ini dengan penuh kemudahan. Tanpa

pertolongan Dia mungkin penyusun tidak akan sanggup

menyelesaikan dengan baik.

Makalah ini disusun agar pembaca dapat memperluas ilmu

tentang PASKIBRA (Pasukan Pengibar Bendera),yang kami sajikan

berdasarkan pengamatan dari berbagai sumber. Makalah ini di

susun oleh penyusun dengan berbagai rintangan. Baik itu yang

datang dari diri penyusun maupun yang datang dari luar. Namun

dengan penuh kesabaran dan terutama pertolongan dari Tuhan

akhirnya makalah ini dapat terselesaikan.

Semoga makalah ini dapat memberikan wawasan yang

lebih luas kepada pembaca.Walaupun makalah ini memiliki

kelebihan dan kekurangan. Penyusun mohon untuk saran dan

kritiknya. Terima kasih.

Pemulutan, 24 Mei 2019

Penulis

i
DAFTAR ISI

1. Judul .........................................................................................................

2. Kata Pengantar ......................................................................................

3. Daftar Isi ...................................................................................................

4. Bab 1 Sejarah Paskibraka ......................................................................

5. Bab 2 Sejarah terbentuknya Paskibra SMPN 7 Pemulutan...............

6. Bab 3 Kisah Perjalanan saya dalam mengikuti Paskibra SMP

Negeri 7 Pemulutan ...............................................................................

7. Bab 4 Materi-materi SMP Negeri 7 Pemulutan ...................................

ii
BAB I

SEJARAH PASKIBRAKA INA

A. Sejarah Paskibra

Gagasan Paskibraka lahir pada tahun 1946, pada saat ibukota

Indonesia dipindahkan ke Yogyakarta. Memperingati HUT

Proklamasi Kemerdekaan RI yang ke-1, Presiden Soekarno

memerintahkan salah satu ajudannya, Mayor (Laut) Husein

Mutahar, untuk menyiapkan pengibaran bendera pusaka di

halaman Istana Gedung Agung Yogyakarta. Pada saat itulah, di

benak Mutahar terlintas suatu gagasan bahwa sebaiknya

pengibaran bendera pusaka dilakukan oleh para pemuda dari

seluruh penjuru Tanah Air, karena mereka adalah generasi penerus

perjuangan bangsa yang bertugas.

Tetapi, karena gagasan itu tidak mungkin terlaksana, maka

Mutahar hanya bisa menghadirkan lima orang pemuda (3 putra

dan 2 putri) yang berasal dari berbagai daerah dan kebetulan

sedang berada di Yogyakarta. Lima orang tersebut

melambangkan Pancasila. Sejak itu, sampai tahun 1949,

pengibaran bendera di Yogyakarta tetap dilaksanakan dengan

cara yang sama.

1
Ketika Ibukota dikembalikan ke Jakarta pada tahun 1950, Mutahar

tidak lagi menangani pengibaran bendera pusaka. Pengibaran

bendera pusaka pada setiap 17 Agustus di Istana Merdeka

dilaksanakan oleh Rumah Tangga Kepresidenan sampai tahun

1966. Selama periode itu, para pengibar bendera diambil dari para

pelajar dan mahasiswa yang ada di Jakarta.

Tahun 1967, Husein Mutahar dipanggil presiden saat itu, Soeharto,

untuk menangani lagi masalah pengibaran bendera pusaka.

Dengan ide dasar dari pelaksanaan tahun 1946 di Yogyakarta, dia

kemudian mengembangkan lagi formasi pengibaran menjadi 3

kelompok yang dinamai sesuai jumlah anggotanya, yaitu:

 Pasukan 17 / pengiring (pemandu),

 Pasukan 8 / pembawa bendera (inti),

 Pasukan 45/pengawal.

Jumlah tersebut merupakan simbol dari tanggal Proklamasi

Kemerdekaan RI, 17 Agustus 1945 (17-8-45). Pada waktu itu dengan

situasi kondisi yang ada, Mutahar hanya melibatkan putra daerah

yang ada di Jakarta dan menjadi anggota Pandu/Pramuka untuk

melaksanakan tugas pengibaran bendera pusaka. Rencana

semula, untuk kelompok 45 (pengawal) akan terdiri dari para

mahasiswa AKABRI (Generasi Muda ABRI) namun tidak dapat

dilaksanakan. Usul lain menggunakan anggota pasukan khusus

2
ABRI (seperti RPKAD, PGT, KKO, dan Brimob) juga tidak mudah.

Akhirnya diambil dari Pasukan Pengawal Presiden (PASWALPRES)

yang mudah dihubungi karena mereka bertugas di lingkungan

Istana Kepresidenan Jakarta.

Mulai tanggal 17 Agustus 1968, petugas pengibar bendera

pusaka adalah para pemuda utusan provinsi. Tetapi karena belum

seluruh provinsi mengirimkan utusan sehingga masih harus

ditambah oleh eks-anggota pasukan tahun 1967.

Pada tanggal 5 Agustus 1969, di Istana Negara Jakarta

berlangsung upacara penyerahan duplikat Bendera Pusaka Merah

Putih dan reproduksi Naskah Proklamasi oleh Suharto kepada

Gubernur/Kepala Daerah Tingkat I seluruh Indonesia. Bendera

duplikat (yang terdiri dari 6 carik kain) mulai dikibarkan

menggantikan Bendera Pusaka pada peringatan Hari Ulang Tahun

Proklamasi Kemerdekaan RI tanggal 17 Agustus 1969 di Istana

Merdeka Jakarta, sedangkan Bendera Pusaka bertugas mengantar

dan menjemput bendera duplikat yang dikibar/diturunkan. Mulai

tahun 1969 itu, anggota pengibar bendera pusaka adalah para

remaja siswa SLTA se-tanah air Indonesia yang merupakan utusan

dari seluruh provinsi di Indonesia, dan tiap provinsi diwakili oleh

sepasang remaja putra dan putri.

3
Istilah yang digunakan dari tahun 1967 sampai tahun 1972

masih Pasukan Pengerek Bendera Pusaka. Baru pada tahun 1973,

Idik Sulaeman melontarkan suatu nama untuk Pengibar Bendera

Pusaka dengan sebutan Paskibraka. PAS berasal dari PASukan, KIB

berasal dari KIBar mengandung pengertian pengibar, RA berarti

bendeRA dan KA berarti PusaKA. Mulai saat itu, anggota pengibar

bendera pusaka disebut Paskibraka.

B. Lambang Purna Paskibraka

Seorang Paskibraka sedang bertugas.

Dalam organisasi Paskibraka, ada dua lambang, yaitu lambang

Paskibraka/Paskibra yaitu bergambarkan dua pemuda/pemudi

paskibraka menengok kekanan dengan seragam PDU adalah

lambang aktif anggota paskibra/paskibraka yang sedang

bertugas, dan ada lambang kedua yaitu lambang Purna

Paskibraka Indonesia yang berlambangkan daun dan bunga

teratai. Penjelasan lambangnya sebagai berikut:

 tiga helai daun yang tumbuh ke atas: artinya paskibraka

harus belajar, bekerja, dan berbakti

 tiga helai daun yang tumbuh mendatar/samping: artinya

seorang pakibra harus aktif, disiplin, dan bergembira

4
Artinya adalah bahwa setiap anggota paskibraka memiliki

jiwa yang sangat mulia. dan mengapa Lambang Anggota

Paskibraka dilambangkan dengan Bunga Teratai. Karena Bunga

Teratai tumbuh di lumpur dan berkembang diatas air yang

bermakna bahwa anggota Paskibraka adalah pemuda dan

pemudi yang tumbuh dari (Orang Biasa) tanah air yang sedang

bermekar/berkembang dan membangun.

C. Makna Purna Paskibraka Indonesia (PPI), Paskibra, Paskibraka

dan Purna Paskibraka

Purna Paskibraka Indonesia, atau disingkat PPI, merupakan

organisasi yang beranggotakan mereka yang pernah bertugas

sebagai anggota Paskibraka pada peringatan Hari Kemerdekaan

Republik Indonesia, baik di tingkat kabupaten/kota, provinsi atau

nasional.

Paskibra merupakan pasukan pengibar bendera yang tidak

bertugas sebagai pengibar bendera pusaka di tingkat kota,

provinsi, dan nasional, namun hanya bertugas di sekolah. Paskibra

merupakan anggota yang mengikuti ekstra kurikuler Paskibra di

sekolah tetapi tidak diutus untuk menjadi Paskibraka, anggota

Paskibra yang telah mengikuti seleksi Paskibraka tetapi tidak lolos,

5
dan/atau anggota yang mengikuti perlombaan baris-berbaris

paskibra yang tidak diutus menjadi Paskibraka.

Paskibraka merupakan pasukan pengibar bendera pusaka

yang di mana anggotanya melakukan tugas pengibaran dan/atau

penurunan bendera duplikat pusaka merah putih di tingkat kota,

provinsi, dan nasional.

Purna Paskibraka adalah sebutan bagi anggota Paskibraka yang

telah mengikuti pelatihan Pandu Ibu-Indonesia Berpancasila dan

selesai menjalankan tugas pengibaran bendera pusaka.

D. Latihan Dan Persiapan Paskibraka Sebelum 17 Agustus (Hut-RI)

Paskibraka diawali dengan seleksi dari tingkat Kota/Kabupaten

pada bulan Maret dan April. Yang berhasil lolos akan dikirim ke

seleksi tingkat Provinsi pada bulan Mei. Dari seleksi tingkat provinsi

akan dikirim dua pasang putra dan putri ke seleksi tingkat nasional

pada bulan Juni. Seleksi tingkat nasional akan menetapkan satu

pasangan putra dan putri terbaik dari setiap provinsi untuk mewakili

provinsi yang bersangkutan menjadi Anggota Paskibraka Nasional

yang bertugas mengibarkan bendera di Istana Merdeka.

Anggota Paskibraka tingkat Nasional biasanya memasuki

asrama Pelatihan pada minggu terakhir bulan Juli. Selama tiga

minggu mereka akan menjalani latihan baris berbaris dan formasi

6
pengibaran bendera di Pusat Pelatihan Paskibraka Cibubur. Setelah

melaksanakan gladi kotor dan gladi bersih pada tanggal 14 dan 15

Agustus, mereka akan mengikuti upacara Pangukuhan pada

tanggal 16 Agustus. Keesokan harinya, tanggal 17 Agustus,

anggota Paskibraka melaksanakan tugas utama pengibaran

bendera pusaka pada pagi hari dan penurunan bendera pada

sore hari.

Selain mengikuti latihan fisik baris berbaris, anggota Paskibraka

juga mengikuti latihan mental spiritual dan kepemimpinan yang

disebut Latihan Pandu Ibu-Indonesia Berpancasila. Latihan ini

bermaksud mempersiapkan anggota Paskibraka menjadi putra-

putri Indonesia terbaik yang akan menjadi generasi penerus dan

calon-calon pemimpin pada masa depan. Pelatihan ganda seperti

itu sudah ditradisikan sejak tahun 1968, namun untuk lebih

menyeragamkan pelatihan tersebut ke tingkat provinsi dan

kabupaten/kota, pemerintah telah mengeluarkan pedoman

berupa Peraturan Menteri Pemuda dan Olahraga (Permenpora)

No. 065 Tahun 2015.

7
E. Pembentukan Formasi Pasukan

Formasi Pasukan Pengibar Bendera Pusaka. Paling depan

adalah pasukan 17, dibelakangnya adalah pasukan 8, dan paling

belakang adalah pasukan 45 beranggotakan TNI/POLRI

Pada dasarnya Paskibraka terdiri dari 3 tingkatan, yaitu tingkat

Kota/Kabupaten, Provinsi, dan Nasional. Untuk tingkat

Kota/Kabupaten yaitu melaksanakan tugas di Kota asal Paskibraka

tersebut dengan inspektur upacara yaitu Wali Kota/setara.

Pembentukan Tingkat Provinsi yaitu diseleksi dari kota-kota pada

provinsi tersebut dan akan diutus ke ibukota provinsi dari kota-kota

di provinsi daerah asal, Paskibraka pada tingkat ini melaksanakan

tugas di ibukota Provinsi dengan inspektur upacara yaitu

Gubernur/setara. Dan yang akhir yaitu tingkat Nasional yaitu

Paskibraka yang diseleksi dari seluruh provinsi di Indonesia yang

tiap-tiap provinsi akan mengutus satu putra dan satu putri terbaik

dan tingkat ini melaksanakan tugas di Istana Merdeka Jakarta,

dengan inspektur upacara yaitu Presiden Republik Indonesia.

Paskibraka dibagi menjadi dua tim tugas yaitu pasukan yang

melakukan tugas pagi sebagai pengibar bendera dan tugas sore

sebagai pasukan penurunan bendera.

Formasi khusus Paskibraka yaitu:

8
1. Kelompok 17 berposisi di paling depan sebagai

pemandu/pengiring dengan dipimpin oleh suatu Komandan

Kelompok (Danpok). Kelompok 17 Ini seluruhnya merupakan

anggota Paskibraka.

2. Kelompok 8 berposisi di belakang kelompok 17 sebagai

pasukan inti dan pembawa bendera. Di kelompok ini

terdapat 4 anggota TNI atau POLRI sebagai pengawal dan 2

putri Paskibraka sebagai pembawa bendera (sekarang

hanya satu pembawa bendera), 3 putra Paskibraka

pengibar/penurun bendera, dan 3 putri Paskibraka di saf

belakang sebagai pelengkap/pagar.

3. Pasukan 45 berposisi di belakang kelompok 8 sebagai

pasukan pengawal/pengaman dan merupakan anggota

dari TNI atau POLRI dengan senjata lengkap. Untuk tingkat

nasional (di istana negara), pasukan 45 terdiri dari anggota

paspampres.

4. Pasukan yang melakukan pengibaran/penurunan bendera

dipimpin oleh Komandan Pasukan (Danpas) yang posisinya di

sebelah kanan Komandan Kelompok (Danpok) 17. Danpas

merupakan perwira TNI atau POLRI minimal berpangkat

letnan atau inspektur hingga kapten atau ajun komisaris polisi

(AKP).

9
F. Makna Merah Putih

Prosesi Pengibaran Sang Saka Merah Putih oleh Paskibraka

saat HUT RI 17 Agustus. Bendera Negara Republik Indonesia, yang

secara singkat disebut Bendera Negara, adalah Sang Saka Merah

Putih (bendera asli jahitan tangan ibu Fatmawati), Sang Merah

Putih, Merah Putih, atau kadang disebut Sang Dwiwarna (dua

warna). Bendera Negara Sang Merah Putih berbentuk empat

persegi panjang dengan ukuran lebar 2/3 (dua-pertiga) dari

panjang serta bagian atas berwarna merah dan bagian bawah

berwarna putih yang kedua bagiannya berukuran sama.

Makna merah putih

Warna merah-putih bendera negara diambil dari warna panji

atau pataka Kerajaan Majapahit yang berpusat di Jawa Timur

pada abad ke-13.[1] Akan tetapi ada pendapat bahwa pemuliaan

terhadap warna merah dan putih dapat ditelusuri akar asal-

mulanya dari mitologi bangsa Austronesia mengenai Bunda Bumi

dan Bapak Langit; keduanya dilambangkan dengan warna merah

(tanah) dan putih (langit). Karena hal inilah maka warna merah

dan putih kerap muncul dalam lambang-lambang Austronesia —

dari Tahiti, Indonesia, sampai Madagaskar. Merah dan putih

kemudian digunakan untuk melambangkan dualisme alam yang

saling berpasangan.[2] Catatan paling awal yang menyebut

10
penggunaan bendera merah putih dapat ditemukan dalam

Pararaton; menurut sumber ini disebutkan balatentara

Jayakatwang dari Gelang-gelang mengibarkan panji berwarna

merah dan putih saat menyerang Singhasari. Hal ini berarti sebelum

masa Majapahit pun warna merah dan putih telah digunakan

sebagai panji kerajaan, mungkin sejak masa Kerajaan Kediri.

Pembuatan panji merah putih pun sudah dimungkinkan dalam

teknik pewarnaan tekstil di Indonesia purba. Warna putih adalah

warna alami kapuk atau kapas katun yang ditenun menjadi

selembar kain, sementara zat pewarna merah alami diperoleh dari

daun pohon jati, bunga belimbing wuluh (Averrhoa bilimbi), atau

dari kulit buah manggis.

Sebenarnya tidak hanya kerajaan Majapahit saja yang

memakai bendera merah putih sebagai lambang kebesaran.

Sebelum Majapahit, kerajaan Kediri telah memakai panji-panji

merah putih. Selain itu, bendera perang Sisingamangaraja IX dari

tanah Batak pun memakai warna merah putih sebagai warna

benderanya , bergambar pedang kembar warna putih dengan

dasar merah menyala dan putih. Warna merah dan putih ini adalah

bendera perang Sisingamangaraja XII. Dua pedang kembar

melambangkan piso gaja dompak, pusaka raja-raja

Sisingamangaraja I-XII.[3] Ketika terjadi perang di Aceh, pejuang –

11
pejuang Aceh telah menggunakan bendera perang berupa

umbul-umbul dengan warna merah dan putih, di bagian belakang

diaplikasikan gambar pedang, bulan sabit, matahari, dan bintang

serta beberapa ayat suci Al Quran.[4] Di zaman kerajaan Bugis

Bone,Sulawesi Selatan sebelum Arung Palakka, bendera Merah

Putih, adalah simbol kekuasaan dan kebesaran kerajaan

Bone.Bendera Bone itu dikenal dengan nama Woromporang.[5]

Panji kerajaan Badung yang berpusat di Puri Pamecutan juga

mengandung warna merah dan putih, panji mereka berwarna

merah, putih, dan hitam[6] yang mungkin juga berasal dari warna

Majapahit.

Pada waktu perang Jawa (1825-1830 M) Pangeran

Diponegoro memakai panji-panji berwarna merah putih dalam

perjuangannya melawan Belanda. Kemudian, warna-warna yang

dihidupkan kembali oleh para mahasiswa dan kemudian nasionalis

di awal abad 20 sebagai ekspresi nasionalisme terhadap Belanda.

Bendera merah putih digunakan untuk pertama kalinya di Jawa

pada tahun 1928. Di bawah pemerintahan kolonialisme, bendera

itu dilarang digunakan. Bendera ini resmi dijadikan sebagai

bendera nasional Indonesia pada tanggal 17 Agustus 1945, ketika

kemerdekaan diumumkan dan resmi digunakan sejak saat itu pula.

12
BAB 4

MATERI-MATERI SMP NEGERI 7 PEMULUTAN

A. JANJI PASKIBRAKA
Kami putra putri bangsa Indonesia yang dilatih untuk berdisiplin,
berani, tegas dan bertanggung jawabm bersama berjuang dan
mempertahankan negara, mengharumkan nama bangsa, serta
mengibarkan bendera merah putih, merasa bersyukur telah
menjadi anggota Paskibra dan berjanji :
1. Percaya dan takwa kepada Tuhan YME
2. Menjaga nama baik Paskibra baik perkataan maupun
tingkah laku
3. Disiplin dalam latihan dan waktu
4. Rela meninggalkan kepentingan pribadi demi Paskibra
5. Tidak mengeluh dalam waktu latihan
6. Mentaati peraturan yang ada didalam Paskibra
7. Saling menghormati sesama anggota Paskibra

B. PASAL PASKIBRA
1. Senior tidak pernah salah
2. Jika senior salah kembali ke Pasal 1
3. Kepatuhan kepada senior

C. BERSATU DALAM PASKIBRA


Hari ini kami bersama-sama bersatu dalam Paskibra tetap jaya
untuk selamanya yang kudapat bukan iri dan dengki bukan
bersifat sombong sok jagoan dan juga sok hebat.

13
Maaf bukan Paskibra bila bersifat seperti itu tetapi kami
belajarbijak dan bukan sok hebat. Semoga Tuhan melindungi
kami dalam Pelantikan Paskibra dimalam hari ini. Mudah-
mudahan Paskibra tetap jaya bersatu. Selamanya salam
Paskibra bersatu selamanya.

D. LARANGAN DALAM PASKIBRA

No Larangan Paskibra Poin

Dilarang adanya permusuhan


1 30
sesama anggota Paskibra

Tidak boleh melakukan hal yang


2 30
memalukan nama Paskibra

3 Dilarang tidak mengikuti apel 25

Bagi laki-laki tidak boleh rambut


4 25
panjang

Bagi perempuan tidak boleh


5 25
memakai seragam terbuka

6 Dilarang memakai aksesoris 15

Dilarang membawa senjata tajam,


7 merokok, dan minuman keras, dan 50
obat’’an larang

8 Dilarang pacaran dalam Paskibra 50

Dilarang untuk mengubah


9 membantak perintah keputusan 15
senior

Saat upacara tidak boleh


10 berbicara bercanda dan gerak- 20
gerak

14
Saat bendera merah putih baik
11 15
diwajibkan hormat

Bagi perempuan kaos kaki


panjang minimal diatas dengkul
12 20
dan memakai jilbab memakai
lejing

Dilarang membawa HP, Senjata


13 30
tajam

Bagi perempuan diwajibkan


14 membawa alat shalat begitupun 30
laki-laki

15 Tidak boleh merokok 50

16 Bagi laki-laki baju dimasukkan 15

17 Terlambat masuk latihan 2x apel 20

18 Dilarang tidak membawa buku 15

19 Tidak memakai atribut lengkap 20

15
20 Tidak boleh berkuku panjang 10

21 Tidak boleh membawa make up 20

E. LAMBANG PASKIBRA
Lambang dari organisasi Paskibraka adalah bunga teratai :
1. Tiga helai daun yang tumbuh keatas artinya paskibraka
harus belajar, bekerja, dan berbakti.
2. Tiga helai daun yang tumbuh mendatar / samping artinya
seorang adalah bahwa setiap anggota Paskibra memiliki
jiwa yang sangat mulia, dan mengapa lambang paskibra
dilambangkan sebagai bunga teratao, karena bunga
teratai tumbuh di lumpur dan berkembang diatas air yang
bermakna bahwa setiap anggota paskibra adalah pemuda
dan pemudi yang tumbuh dari orang biasa ditanah air yang
bermekaran berkembang dan membangun.

F. UKURAN BENDERA DAN TIANG BENDERA


1. Ukuran bendera maksimal panjang 3 m dan lebar 2 m
2. Ukuran bendera minimal panjang 2 m lebar 1 m.
3. Ukuran tiang bendera maksimal 17 m minimal 7 m
4. Bendera merah putih terbuat dari kain sutra yang ditenun
Rakyat Sulawesi dan dijahit. Dijahit oleh Ibu Fatmawati (Istri
Soekarno)
5. Bendera merah putih pertama kali dikibarkan pada tanggal
17

16
G. SEJARAH BURUNG GARUDA
Garuda Pancasila adalah lambang negara Indonesia yang
digambarkan dengan seksor burung garuda yang menoleh ke
kanan dan memegang pita tertuliskan ‘’Bhineka Tunggal Ika’’.
Lambang negara ini dirancang oleh Sultan Hamid II dan
diresmikan pada tanggal 11 Februari 1950 saat berlangsungnya
sidang Kabinet Indonesia Serikat Garuda Pancasila sebagai
lambang negara diatur Pengamayi di dalam Peraturan
Pemerintah Bo, 43/1958 PPNo.43/1958 disebut terdiri dan isi pasal
dalam Pasar.

H. PASKIBRA
Jam datang ke SMP Negeri 7 Pemulutan : 13.30 WIB
Jam Apel dilapangan : 13.45 WIB
Jam Sholat Ashar : 15. 45 WIB
Jam Pulang ke rumah : 17.00 WIB

17

Anda mungkin juga menyukai