Anda di halaman 1dari 40

HOMILETIKA

(Declaring The Kingdom)

Disusun oleh:
Stefanus Suheru, M.Si.Teol.

SEKOLAH TINGGI TEOLOGI KINGDOM


Jl. Antasura – Nangka Utara, Kom. Lembah Pujian Blok A I Denpasar - Bali
2019
Homiletika (Declaring The Kingdom) 2019 Stefanus Suheru, M.Si.Teol.

DAFTAR ISI

No Pokok Bahasan Halaman


Daftar Isi 2
01 Pengertian & Hakekat Homiletika 3
02 Kedudukan Homiletika Dalam Teologi 3
03 Teologi Pemberitaan Firman 4
04 Ibadah Jemaat dan Khotbah 7
05 Khotbah yang Baik 8
06 Kepribadian Pengkhotbah 9
07 Khotbah dan Nats 11
08 Persiapan-persiapan Dasar Untuk Berkhotbah 13
09 Pembagian Khotbah 14
10 Macam-macam Khotbah 20
11 Menulis Khotbah 27
12 Teknik Menyampaikan Khotbah 34
13 Perlunya Berlatih Berkhotbah 37
14 Bagaimana Kita Berlatih Berkhotbah 37
15 Beberapa Hal Bagi Pengkhotbah Untuk Meningkatkan Khotbahnya 37
16 Evaluasi Praktek Khotbah 39
Daftar Pustaka 40

2
Homiletika (Declaring The Kingdom) 2019 Stefanus Suheru, M.Si.Teol.

Homiletika

1. Pengertian & Hakekat Homiletika

Istilah Homiletika berasal dari kata Yunani “Homilein”, yang mempunyai arti dasar
“bercakap-cakap” (dalam Perjanjian Baru, istilah ini dipakai sebanyak empat kali: Lukas
24:14-15, Kisah Para Rasul 20:11, 24:26). Dari istilah inilah timbul kata sifat homiletika,
yang dapat diartikan sebagai ilmu (seni) berbicara di hadapan orang banyak supaya
pokok bahasan yang disampaikan dapat disajikan dengan cara yang jelas dan
berkuasa.

Dalam perkembangan berikutnya, ilmu ini kemudian dihubungkan dengan khotbah


gerejawi. Dengan demikian, secara sederhana dapatlah diberikan definisi dari Homiletika,
sebagai berikut. Homiletika adalah Ilmu pengetahuan dan kecakapan dalam
menguraikan khotbah berdasarkan Firman Allah (Alkitab).

Ke dalam Homiletika ini kemudian dimasukkan juga tentang:


a. Kepribadian seorang pengkhotbah.
b. Persiapan menyusun khotbah.
c. Penyajian khotbah.

2. Kedudukan Homiletika Dalam Teologi

Secara umum Teologi dibagi ke dalam empat rumpun sebagaimana terbaca dari tabel
berikut.

BIBLIKA SISTIMATIKA HISTORIKA PRAKTIKA


Pengetahuan PL Dogmatika SGU PAK
Pengetahuan PB Etika SGA PWG
Bahasa Ibrani SGI Kateketika
Bahasa Yunani Oikumeneka Liturgika
Hermeneutika Missiologi Homiletika
Tafsir PL Agama Suku Musik Gerejawi
Tafsir PB Hindu & Buddha Pastoralia
Teologi PL Islamologi Manajemen Gereja
Teologi PB

Teologi Biblika bertugas menggali arti dan makna yang benar serta kebenaran-kebenaran
yang ada di dalam Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru sebagai pegangan iman.Teologi
Sistimatika bertugas menemukan, merumuskan dan mempertahankan dasar iman sambil
menyelidiki cara dan pengalaman iman, dalam berpikir dan bertindak terhadap obyek
yang bersifat dogmatis.Teologi Historika bertugas mengikuti dan menyelidiki
perkembangan pengajaran dan sejarahnya, gereja dan sejarahnya. Teologi Praktika
bertugas memikirkan dan melancarkan cara penyampaian iman dalam usaha pemberitaan

3
Homiletika (Declaring The Kingdom) 2019 Stefanus Suheru, M.Si.Teol.

agar relevan dan mengena. Pendeknya, teologi ini bertugas untuk memikirkan
bagaimana ketiga rumpun teologi tersebut (Biblika, Sistimatika, Historika) dapat
memaknai hidup manusia.

Dari pembacaan tabel tersebut di atas, jelaslah posisi Homiletika (ilmu berkhotbah) ada
di bawah rumpun (disiplin) teologi praktika.

3. Teologi Pemberitaan Firman

Dasar-dasar teologis dalam Alkitab, yang berhubungan dengan berkhotbah (dan


mengajar):

a. Perjanjian Lama
Ada enam kata Perjanjian Lama yang berkaitan dengan pemberitaan (khotbah).

(1) dm;l' (LAMAD)


Kata ini umumnya digunakan untuk mengajar yang awalnya mengacu pada
menarik atau mendorong lembu. Ini dilakukan dengan gagasan disiplin dan
hukuman. Kemudian kata ini digunakan dalam arti mengajar (lihat Ezra 7:10;
Yeremia 32:33). Dari kata ini, maka fokus khotbah adalah menghalau atau
melecut ke dalam aktivitas yang benar.

(2) hr'y" (YARA)


Kata ini secara harfiah berarti melemparkan atau menaburkan. Itu bisa
dengan mudah diterapkan pada gerakan penabur benih yang akan menanam
tanaman baru. Kata ini juga diterapkan pada proses pengajaran (lihat Yesaya
30:20-21). Dari kata ini fokus khotbah adalah menaburkan benih ke dalam
ladang pikiran umat Tuhan bagi tujuan menghasilkan buah.

(3) !yBi (BIN)


Kata ini berarti memisahkan atau membedakan. Kata ini paling sering
diterjemahkan pemahaman yang diberlakukan untuk konsep mengajar karena
peran guru untuk membantu orang-orang membedakan antara ide-ide dan
konsep-konsep sehingga mereka dapat memiliki pemahaman Alkitab (lihat
Nehemia 8:8; Ayub 6:24; Daniel 11:33). Dari kata ini fokus khotbah adalah
membantu orang memahami apa yang Allah sedang komunikasikan kepada
mereka melalui firman-Nya

(4) lk;f' (SAKAL)


Kata ini berarti menjadi bijaksana. Kata ini sering diterjemahkan melihat,
lihatlah atau memandang dan menggambarkan proses di mana seseorang
dimampukan untuk melihat diri sendiri apa yang belum pernah masuk ke
dalam ladang kesadaran fisik atau intelektual (lihat 2 Tawarikh 30:22;
Mazmur 32:8; Amsal 21:11). Dari kata ini fokus khotbah adalah membantu

4
Homiletika (Declaring The Kingdom) 2019 Stefanus Suheru, M.Si.Teol.

orang melihat segala sesuatu dengan jelas, yang belum mereka lihat
sebelumnya.

(5) rhz (ZAHAR)


Kata ini secara harfiah berarti bersinar. Kata ini paling sering diterjemahkan
memperingatkan. Gagasan yang digambarkan adalah senter yang menerangi
jalur berbahaya. Penerangan membantu untuk memberikan perhatian dan
kehati-hatian dalam mengambil langkah-langkah yang diperlukan (lihat
Keluaran 18:20; Mazmur 19:12; Yehezkiel 3:17-21). Dari kata ini fokus
khotbah adalah memperingatkan orang-orang tentang penghakiman Allah.

(6) !n:v' (SHANAN)


Kata ini berasal dari kata yang berarti titik. Kata ini membawa gagasan
membawa sesuatu ke titik yang tajam. Sehingga kata ini dapat diterjemahkan
tusukan, mempertajam, mengasah atau mengajar. Pengajaran dan berkhotbah
melibatkan membentuk dan mengasah orang (lihat Ulangan 6:6-7). Dari kata
ini fokus khotbah adalah mempertajam orang dengan pengingat berulang
sehingga mereka dapat mencapai target seperti anak panah di tangan Tuhan.

b. Perjanjian Baru
Ada tiga kata dalam Perjanjian Baru yang berhubungan dengan khotbah.

(1) khru,ssw (KERUSSO)


Kata ini merupakan bentuk kata kerja dari kata benda kerux yang berarti
pemberita. Dalam budaya Alkitab pemberita menunjuk kepada pejabat resmi
yang berwenang, yang diutus dengan pesan penting untuk disampaikan
kepada orang-orang yang dituju. Sang pemberita harus menjadi orang yang
bertanggung jawab, yang setia mengirimkan pesan sebagaimana telah
diberikan. Bentuk kerja kata ini berarti memberitakan sebagai pemberita.
Sebagai pengkhotbah, kita telah dipercayakan dengan proklamasi suci atau
kerugma yang harus kita kabarkan atas nama Raja segala raja (lihat Matius
4:17, 10:7, 24:14, Markus 16:20, Kisah Para Rasul 8:5, 28:30-31).

Dengan demikian, khotbah adalah memproklamirkan suatu peristiwa dari


Kerajaan Allah yang sedang berlangsung.

(2) euvaggeli,zw (EUANGGELIZO)


Kata ini secara harfiah berarti mengumumkan kabar baik atau memberitakan
Injil. Selalu ada hubungannya dengan membawa kabar baik bagi mereka yang
tidak menyadarinya. Orang yang membawa berita tersebut disebut sebagai
penginjil. Lihat Lukas 4:18a, 4:43, 9:6, Kisah Para Rasul 8:4, Wahyu 14;6).

Berkhotbah menekankan aktivitas pemberita, sedangkan Kabar Baik


menekankan sifat mulia dari pesan yang diproklamirkan (Ern Baxter).

5
Homiletika (Declaring The Kingdom) 2019 Stefanus Suheru, M.Si.Teol.

Dengan demikian, khotbah adalah memberitakan kabar kesukaan tentang


Kristus yang melepaskan manusia dari dosanya dengan jalan tersalib di
Golgota (bersifat menawarkan keselamatan).

(3) dida,skw (DIDASKO)


Ini adalah kata yang paling umum dalam Perjanjian Baru untuk proses
mengajar. Ini menunjuk jauh lebih banyak daripada kata lain untuk
komunikasi dan relasi spiritual dengan apa yang sering kita sebut berkhotbah.
Lihat Matius 4:23, 5:2, 7:29, 9:35, 11:1, 13:54, 28:19-20.

Dengan demikian, khotbah adalah mengajarkan kebenaran Firman Allah di


dalam rumah ibadah (berbeda dengan kerusso, yang dilaksanakan di luar
tempat ibadah).

Dari istilah-istilah di dalam Alkitab tersebut di atas, kita dapat merumuskan khotbah
sebagai berikut. Khotbah adalah Uraian yang diucapkan kepada orang banyak
tentang Firman Allah, yang dikerjakan dengan cermat dan dengan tujuan untuk
meyakinkan orang.

Dari rumusan tersebut, kita melihat adanya unsur-unsur khotbah sebagai berikut.

3.1. Uraian yang diucapkan


Berarti harus terdengar jelas, memakai kata-kata yang tepat, dan mudah dimengerti.
Bandingkan dengan Nehemia 8:9.

3.2. Kepada orang banyak


Berarti ditujukan kepada alam pikiran banyak orang, yang berbeda latar
belakangnya. Bandingkan dengan Nehemia 8:3-4, 1 Korintus 14:9.

3.3. Tentang Firman Allah


Hal ini berarti khotbah bukanlah pembicaraan politik, ilmiah, ekonomi, sosial, dan
sebagainya. Khotbah berisi Firman Allah yang menerangkan jalan keselamatan
manusia (Kisah Para Rasul 20:24).

Mengenai hal ini perlu diperhatikan ciri-ciri dari sebuah khotbah:

a. Kabar Sukacita (Lukas 2:10). Khotbah bukanlah untuk mengintimidasi. Oleh


karena itu, jangan berkhotbah dengan marah atau sedih.
b. Khotbah adalah untuk jemaat, maka pengkhotbah harus berusaha menemukan
hal-hal baru, sehingga khotbahnya tidak menjemukan (Matius 13:52).
c. Khotbah harus memiliki kaitan dengan kehidupan sehari-hari. Firman Allah
adalah berita untuk manusia yang bergumul dengan kehidupan sehari-hari yang
penuh suka dan duka. Khotbah harus dapat memberikan petunjuk kepada jemaat
dalam menghadapi berbagai problema kehidupan. Khotbah yang tidak realistis
kurang mengena.

6
Homiletika (Declaring The Kingdom) 2019 Stefanus Suheru, M.Si.Teol.

3.4. Yang dikerjakan dengan cermat dan seksama


Ini mencakup:

a. Hermeneutika: menyelidiki ayat-ayat, menemukan maknanya, menafsirkannya


dan menghayati kebenarannya.
b. Retorika: seni berbicara dengan mempergunakan istilah-istilah yang tepat dan
menarik.
c. Tata Bahasa: pemilihan dan penggunaan kata-kata yang tepat, susunan kalimat
yang baik dan benar.
d. Logika: jalur-jalur pemikiran yang jelas dan logis (masuk akal).

3.5. Dengan tujuan untuk meyakinkan orang


Ini berarti di dalam sebuah khotbah harus:

a. Mengandung ajakan (bukan sekedar pengetahuan).


b. Untuk itu, khotbah harus menyentuh kepribadian para pendengarnya:
1. Pikiran hingga mengerti, Mazmur 119:130.
2. Perasaan hingga tergugah (terharu, senang, bersyukur, …), Kisah Para
Rasul 2:38.
3. Kemauan hingga mengambil keputusan untuk langkah kehidupan
selanjutnya. Bacalah Kisah Para Rasul 8:35-37, 17:14, 18:4.

4. Ibadah Jemaat dan Khotbah

Khotbah adalah suatu unsur yang esensial dalam ibadah jemaat, dengan mengingat:

4.1. Dalam khotbah terdapatlah komunikasi yang nyata antara Allah dengan umat-Nya
secara keseluruhan.

4.2. Tujuan khotbah terarah kepada kemajuan iman dan buah iman dari para
pendengarnya.

4.3. Khotbah adalah suatu bentuk yang telah ditentukan oleh Allah sendiri (Roma
10:6-17, yang disusun oleh rasul Paulus secara terbalik - Hasilnya dikemukakan
terlebih dahulu, baru kemudian melihat ke belakang untuk menemukan sebab-
sebabnya).

a. Seseorang mengakui Kristus sebagai Tuhannya. Mengapa?


b. Karena ia telah diselamatkan. Bagaimana?
c. Dengan berseru kepada Tuhan. Mengapa?
d. Karena ia mempercayai beritanya. Bagaimana?
e. Ia sudah mendengar Firman Kebenaran itu. Bagaimana?
f. Ada orang yang memberitakannya. Apa yang menyebabkan si pemberita itu
membawakan berita itu?
g. Karena ia diutus oleh Allah.

7
Homiletika (Declaring The Kingdom) 2019 Stefanus Suheru, M.Si.Teol.

4.4. Ditinjau dari sudut para pendengarnya, maka pastikanlah bahwa waktu yang telah
disediakan oleh mereka, tidak terbuang secara sia-sia. Misalnya jumlah yang hadir
dalam khotbah anda adalah 100 orang, dan lamanya anda berkhotbah 45 menit.
Maka anda mendapatkan bahwa jemaat yang hadir tersebut, telah menyediakan
waktu 4.500 menit (75 jam) untuk mendapatkan makanan rohani.
Ini baru satu kali khotbah dengan 100 jemaat yang hadir. Nah, bila lebih??!

5. Khotbah yang baik

Khotbah yang baik adalah khotbah yang berhasil, mendatangkan transformasi atau
perubahan/pembaharuan di pihak para pendengarnya. Untuk tercapainya khotbah yang
baik, diperlukan syarat-syarat tertentu, yakni:

5.1. Disampaikan dengan kuasa Roh Kudus (Kisah Para Rasul 4:31, 1 Korintus 2:4-5,
2 Korintus 3:6, 2 Korintus 4:3-4, 1 Tesalonika 1:15). Roh Kudus-lah yang dapat
menyadarkan orang (Yohanes 16:8), memimpin orang kepada kebenaran (Yohanes
16:13), dan memberi hikmat untuk mengenal kehendak Allah secara benar (Efesus
1:17).

Kita dapat melihat peranan Roh Kudus:

a. Terhadap Pengkhotbah:

1. Mengarahkan perhatian si pengkhotbah kepada Kristus dan karya


penyelamatan-Nya (Yohanes 14:26).
2. Memimpin kepada kebenaran (Yohanes 16:13-14), menjelaskan
Firman, menciptakan iman, menguatkan, dan memberi keberanian.

b. Terhadap Para Pendengar:

Bekerja untuk memimpin, menguduskan, dan mengaruniakan iman. Tanpa


Roh Kudus, para pendengar tidak akan mengerti Firman yang diberitakan itu.

5.2. Alkitabiah (Kisah Para Rasul 20:27)


Untuk itu, si pengkhotbah harus mahir dalam Alkitab.

5.3. Disajikan dengan kuat


Lima puluh prosen keberhasilan khotbah terletak pada penyajiannya yang baik.
Khotbah yang baik dapat dirusakkan oleh penyajian yang lemah. Sebaliknya,
khotbah yang lemah dapat tertolong oleh penyajian yang kuat. Lihat Kisah Para
Rasul 2:38.

5.4. Menarik
Isinya berbobot, relevan dengan kebutuhan para pendengar, sistimatis, logis,
contoh-contohnya tepat, dan penerapannya jitu.

8
Homiletika (Declaring The Kingdom) 2019 Stefanus Suheru, M.Si.Teol.

5.5. Terarah kepada kemauan para pendengar


Khotbah yang baik akan menggugah kemauan (Lukas 11:28).

5.6. Dapat dimengerti oleh berbagai golongan pendengar


Batu ujiannya adalah pendengar yang paling sederhana.

6. Kepribadian Pengkhotbah

Berkhotbah adalah suatu pekerjaan yang mulia dan terhormat (1 Timotius 5:17, Ibrani
13:7). Oleh karena itu, untuk menjadi seorang pengkhotbah yang baik, dituntut
persyaratan-persyaratan sebagai berikut:

6.1. Harus sudah dilahirkan kembali:

a. Matius 15:14 - jangan menjadi orang buta menuntun orang buta.


b. 1 Korintus 2:14 - orang duniawi tidak akan mengerti
c. 1 Korintus 4:13 - percaya, maka berkata-kata.
d. 2 Petrus 2:17 - Jangan menjadi mata air yang kering.

6.2. Haruslah seorang yang mengasihi Tuhan


Inilah yang menggerakkan hati dan menjadi pendorong utama dalam pelayanan,
sehingga khotbah itu berharga (Yohanes 21:15-19, 2 Korintus 5:14-15).

6.3. Harus mengasihi jiwa-jiwa


Ini sesuai dengan sifat pelayanan Yesus sendiri (Matius 14:14, 15:32, 20:34,
Markus 1:41, 5:19, Lukas 7:13, Kisah Para Rasul 20:20,21,28,31).

6.4. Terpanggil
Pada dasarnya setiap orang yang telah diselamatkan wajib bersaksi
(memberitakan Injil). Namun untuk menjadi seorang pengkhotbah
professional, kita harus terpanggil oleh Allah (Kisah Para Rasul 13:2-3), yang
kemudian disahkan oleh majelis/pengurus gereja (1 Timotius 1:18, 4:14).
Hasilnya akan timbul kepercayaan orang banyak untuk mendengarkan
pemberitaannya.

6.5. Mahir Alkitab


Seorang pengkhotbah harus bersedia menjadi pelajar abadi dalam
mempelajari Alkitab, mengingat isi Alkitab-lah yang menjadi pokok
pemberitaannya (Mazmur 119:97-100, Matius 13:52, Lukas 24:27, Kisah Para
Rasul 20:27, 1 Timotius 4:16, 2 Timotius 3:15).

6.6. Kehidupan doa


Pelayanan rohani tanpa doa, tiada memiliki kuasa dan tidak akan menghasilkan
sesuatu. Seseorang yang akan berbicara tentang Allah, harus berbicara banyak
kepada Allah tentang manusia (Keluaran 34:34, Lukas 4:42, Efesus 1:16-19).

9
Homiletika (Declaring The Kingdom) 2019 Stefanus Suheru, M.Si.Teol.

6.7. Bersih hidupnya


Seorang penghotbah harus memiliki kehidupan yang selaras dengan apa yang
dikhotbahkannya. Pemberitaannya harus ditopang dengan kehidupan yang baik (1
Timotius 3:6-7, Titus 2:10). Pengkhotbah adalah khotbahnya!
Bila tidak demikian, maka ia akan menjadi cemoohan maupun hujatan terhadap
Allah dan Firman-Nya, 2 Samuel 12:14, Roma 2:21-24, 1 Timotius 6:1, Titus 2:5.

6.8. Berwatak
Memiliki kepribadian yang kuat, yang berakar pada kebenaran, dan tidak menjadi
Plagiator (menjadi sosok orang lain yang sedang terkenal/populer).

6.9. Terdidik
Seorang pengkhotbah seharusnya memiliki pendidikan yang memadai, apalagi
mengingat perkembangan jaman di mana orang harus terus belajar sepanjang
hidupnya. Hal ini penting sekali agar si pengkhotbah tetap dapat get in touch
dengan perkembangan dunia post-modern yang kian kompleks, sehingga khotbah-
khotbahnya tidak menjadi kering, melainkan tetap up to date.

Kristus sendiri mendidik para murid-Nya selama kurang lebih 3 tahun, sebelum
Ia mengutus mereka untuk keluar mengajar, Markus 3:14, Kisah Para Rasul 4:13.
Dengan demikian, metode improvisasi atau pun semboyan Let The Holy Spirit
Teaches Us tidaklah tepat untuk diterapkan secara umum. Sebab bila
demikian, dapat mendatangkan kemalasan. Lihatlah kepada Kristus! Ia belajar
tentang Firman Allah, bukan sekedar menerima saja dari Bapa-Nya.

6.10. Harus memelihara kesehatan tubuhnya

Berkhotbah merupakan suatu pekerjaan yang memerlukan banyak tenaga dan


pikiran. Perhatikanlah data-data berikut di bawah ini!

No. Aktivitas Tenaga yang dibutuhkan


1 Berdiri 75 kalori
2 Sedikit gerakan tubuh 25 kalori
3 Mengeluarkan suara biasa 100 kalori
4 Mimik dan sedikit emosi 25 kalori
Jumlah tenaga yang dibutuhkan 225 kalori/jam

Bila ia melakukan banyak gerakan, berkhotbah dengan semangat, maka :

No. Aktivitas Tenaga yang dibutuhkan


1 Berdiri 75 kalori
2 Sedikit gerakan tubuh 100 kalori
3 Mengeluarkan suara biasa 200 kalori
4 Mimik dan sedikit emosi 75 kalori
Jumlah tenaga yang dibutuhkan 450 kalori/jam

10
Homiletika (Declaring The Kingdom) 2019 Stefanus Suheru, M.Si.Teol.

Oleh karena itu, seorang pengkhotbah harus memelihara kesehatan tubuhnya (3


Yohanes 1:2) dengan cara:

a. Menjaga makan: - teratur jam makannya,


- makanan yang bergizi tinggi dengan menu yang seimbang.

b. Istirahat/tidur yang teratur: 6 sampai 8 jam sehari.

c. Mengendalikan nafsu dan kesehatan pada umumnya: - olah raga,


- menjaga kebersihan
lingkungan
d. Minum air putih sedikitnya 5 - 8 gelas sehari atau 30 cc per kilo berat badan
kita.

Perlu kita camkan betul, bahwa memelihara tubuh dengan baik tidak identik
dengan memanjakannya!!! Rasul Paulus menekankan bahwa kita wajib
mempersembahkan tubuh kita sebagai kurban yang kudus di hadapan Allah
(Roma 12:1-2, 1 Korintus 9:27).

Demikianlah 10 syarat umum bagi seorang pengkhotbah. Semuanya memang tidak


mudah, namun selaku orang beriman, kita harus mempunyai suatu patokan yang harus
kita capai, sementara itu Roh Kudus akan menolong kita (Zakaria 4:6, 2 Korintus 3:5-
6, Filipi 4:13).

7. Khotbah dan Nats

Kita telah mengetahui bahwa untuk sebuah khotbah biasanya dipakai bagian-bagian
tertentu dari Alkitab. Hal ini sesuai dengan pengertian bahwa khotbah itu terikat pada
Alkitab. Kebiasaan untuk mendasarkan khotbah atas bagian-bagian Alkitab juga sudah
ada di dalam Sinagoge Yahudi (Lukas 4:16-22, Kisah Para Rasul 13:15).

Cara tersebut kemudian diambil-alih oleh gereja purba. Dari seorang penulis, Yustinus
Martyr, kita mengetahui bahwa dalam ibadah-ibadah biasa diadakan pembacaan
kenang-kenangan dari para rasul dan kitab para nabi. Juga para bapa gereja yang lain
seperti Origenes dan Chrysostomos serta Augustinus menekankan bahwa khotbah
harus sepenuhnya berdasarkan Alkitab !

Lalu, timbul masalah: Alkitab terdiri atas 1.189 pasal, 31.000 ayat. Bagaimana
caranya kita memilih nats untuk khotbah kita???

Dalam hal ini ada dua pandangan.

7.1. Gereja menyerahkan pilihan nats kepada si pengkhotbah. Artinya, pengkhotbah


harus memilih di antara 1.189 pasal, 31.000 ayat itu, mana bagian yang akan
dikhotbahkannya. Kelemahan cara ini adalah si pengkhotbah menolak bagian-

11
Homiletika (Declaring The Kingdom) 2019 Stefanus Suheru, M.Si.Teol.

bagian yang kurang disukainya atau dipahaminya.


Bila hal ini terjadi, maka para pendengar dirugikan. Mereka hanya mendengar
pemberitaan Alkitab yang tidak lengkap dan subyektivitas pengkhotbah mewarnai
khotbah-khotbahnya.

7.2. Gereja menentukan pemilihan nats, dan pengkhotbah tinggal mengikutinya saja.
Hal ini banyak dilakukan oleh gereja-gereja yang bercorak Protestan (misalnya
HKBP dan GPIB). Sistim ini berasal dari Sinagoge, dengan maksud agar jemaat
dapat mendengar Alkitab diberitakan secara sistimatis dan menyeluruh.
Kelemahan cara ini adalah terlalu mengikat bagi para pengkhotbah, sebab seakan-
akan mereka itu tidak mempunyai kebebasan apa-apa dalam pelayanannya. Juga
sangat diragukan apakah dengan cara ini seluruh Alkitab dapat diberitakan, sebab
pada prakteknya yang diberitakan adalah pilihan-pilihan pada bagian tertentu.

Pemecahan masalah ini: yang baik untuk dipakai adalah cara pertama, dengan
kesadaran penuh akan adanya bahaya subyektivisme. Oleh karena itu, untuk
mengantisipasi bahaya tersebut, haruslah ditaati asas-asas khusus sebagai berikut.

a. Adakanlah pembacaan Alkitab dengan teliti dan teratur


Jangan membaca hanya bagian-bagian yang disukai saja. Seluruh Alkitab perlu
dipahami dengan baik, sebab dari sinilah akan muncul ide-ide untuk khotbah.

b. Sediakanlah selalu buku/kertas catatan


Bila dalam pembacaan itu ada ilham-ilham tertentu, segeralah catat dalam
buku/kertas itu. Mungkin nats/ilham itu tidak dipakai dalam seminggu mendatang,
namun bila lain waktu diperlukan, kita sudah siap sedia.

c. Bacalah buku-buku yang berfaedah


Maksudnya agar pengkhotbah dapat memperoleh inspirasi daripadanya. Buku-buku
itu misalnya: biografi para hamba Tuhan, buku-buku tafsir, majalah-majalah
Kristen, jurnal teologi, buku-buku khotbah, dan buku-buku ilustrasi.

d. Mencari pimpinan Roh Kudus di dalam doa


Hanya dengan pimpinan-Nyalah, pengkhotbah dapat memilih nats khotbah yang
sesuai dengan kehendak Allah sendiri.

Dengan ditaatinya prinsip-prinsip tersebut di atas, pengalaman rohani si pengkhotbah


diperkaya, sehingga tidak akan pernah berkata, “Saya tidak siap, kurang waktu, dan
kehabisan bahan”.

Masih ada satu hal lagi, nats yang bagaimanakah yang harus dipilih, yang panjang atau
pendek? Dalam sejarah gereja dapat kita ketahui bahwa panjang-pendeknya nats itu
berubah-ubah. Gereja Purba menyenangi nats yang panjang, misalnya Origenes suka
memilih satu perikop atau bahkan satu pasal. Kemudian gereja pada abad XVII dan
XVIII ada kecenderungan ke arah nats yang pendek, satu atau dua ayat, bahkan ada
yang memilih sebagian saja dari satu ayat. Lalu, pada abad XIX, orang mulai

12
Homiletika (Declaring The Kingdom) 2019 Stefanus Suheru, M.Si.Teol.

menyukai lagi teks-teks yang panjang. Masa sekarang ini, kita lihat bahwa pada
umumnya orang lebih menyenangi nats-nats yang pendek.

Solusi: sebenarnya panjang-pendeknya nats tidaklah merupakan soal yang serius,


sebab hal ini bergantung kepada bentuk khotbahnya dan juga kebiasaan si
pengkhotbah. Hanya saja, pemakaian nats yang panjang (satu pasal) bila tidak
diuraikan secara menarik, akan terasa sangat membosankan.

Apakah sebenarnya faedah pemakaian nats di dalam sebuah khotbah?

a. Menimbulkan kepercayaan di dalam hati jemaat, sebab nats tersebut berasal dari
Alkitab, bukan pidato karangan manusia.
b. Memberikan kewibawaan dan keberanian kepada si pengkhotbah, sebab di
belakang dia adalah Tuhan sendiri yang bersabda.
c. Mencegah agar uraian tidak menyeleweng atau menyimpang ke mana-mana.

8. Persiapan-persiapan Dasar Untuk Berkhotbah

8.1. Naik ke atas Dewan Musyawarah Ilahi (Yeremia 23:21-24)


Ini berarti khotbah-khotbah kita:

a. Berdasarkan wahyu ilahi, bukan berdasarkan emosi, pikiran manusia, maupun


filsafat si pengkhotbah.
b. Tidak akan pernah kehabisan stok, sebab kita datang kepada Allah yang tidak
pernah kehabisan pesan bagi umat-Nya.
c. Tanpa itu, pelayanan khotbah kita bagaikan menggali kolam sendiri
(bandingkan dengan Yeremia 2:13):
 meninggalkan Tuhan, Sumber Air Hidup,
 menggali kolam sendiri - kolam yang bocor,
 suatu kejahatan di hadapan Tuhan,
 Gejala: kering, mudah tersinggung, ketidakpuasan, perselisihan, dan iri
hati.
d. Untuk mengantisipasinya, peliharalah kehidupan saat teduh bersama Allah
secara teratur (bandingkan dengan Kidung Agung 7:12-13, Markus 1:35).

8.2. Menyusun Garis Besar (Kerangka/Outline) Khotbah


Khotbah yang baik adalah khotbah yang tersusun secara teratur, sehingga para
pendengarnya mudah mengikuti alur pemikiran khotbah tersebut. Bagi si
pengkhotbah sendiri pun mudah menguraikannya.

Dengan demikian, dapatlah dicatat di sini keuntungan-keuntungan yang diperoleh


dengan membuat outline khotbah, yaitu:

a. Menolong pengkhotbah dalam mengembangkan ide/pikirannya.


b. Menjaga pengkhotbah untuk tidak menyimpang dari jalur pemberitaannya.

13
Homiletika (Declaring The Kingdom) 2019 Stefanus Suheru, M.Si.Teol.

c. Menjaga bagian-bagian dari khotbah dalam proporsi yang benar, sehingga


tidak hanya satu bagian saja yang ditekankan atau diuraikan.

Secara sederhana, setiap outline khotbah mencakup segi:


 Apa atau siapa,
 Mengapa,
 Bagaimana,
 Apa akibatnya (hasilnya).

9. Pembagian Khotbah

Pada umumnya sebuah khotbah dapat dibagi dalam empat bagian, yaitu:

9.1. Tema

Tema adalah intisari dari suatu khotbah. Dapat juga dikatakan bahwa tema
adalah khotbah yang diperas, sedangkan khotbah adalah tema yang diperluas.

Tema itu memang tidak mutlak perlu, namun baik juga bila tema dapat dibuat,
mengingat keuntungan-keuntungannya sebagai berikut.

a. Merupakan suatu daya tarik bagi para pendengar, mengenai berita apa yang
hendak disampaikan dengan tema tersebut.
b. Memasok para pendengar pada pokok pikiran itu, sehingga mereka
mengetahui apa yang akan mereka terima dari khotbah itu.
c. Mencegah pengkhotbah melantur ke sana ke mari.

Syarat-syarat Tema yang baik:

(1) Sebaiknya singkat, menarik, dan mudah diingat.


(2) Harus selaras dengan isi khotbah.

Contoh-contoh Tema Khotbah:


 Beku di dalam Perapian
 Agama Bukan Candu
 Berapakah Harga Manusia?
 Tiket ke Surga
 Orang Saleh di Tempat Salah
 Sikap Hidup Berkemenangan
 Rahasia Hidup yang Berhasil

9.2. Pendahuluan

Sebagaimana halnya sebuah rumah tampak janggal bila tidak berpintu, demikian
pula halnya dengan sebuah khotbah tanpa pendahuluan. Setiap khotbah harus ada

14
Homiletika (Declaring The Kingdom) 2019 Stefanus Suheru, M.Si.Teol.

bagian pendahuluannya.

Bagian Pendahuluan mempunyai arti yang sangat penting karena berfungsi:

a. Membangkitkan minat para pendengar


Ingatlah, tidak semua orang yang datang ke gereja dengan hati yang siap.
Seringkali pikiran mereka masih menerawang jauh dari gereja. Melalui
pendahuluan yang menarik, perhatian mereka dapat diikat.

b. Menghantar para pendengar masuk ke dalam Isi Khotbah


Pendahuluan berfungsi sebagai pembimbing untuk lebih mengenal tema
khotbah. Berkenaan dengan hal ini, maka sebuah pendahuluan jangan terlalu
panjang, bertele-tele, atau terlalu pendek. Pendahuluan harus menarik sifatnya.
Jangan biarkan tamu anda terlalu lama berdiri di muka pintu !

Syarat-syarat Pendahuluan yang baik:

 Jangan menyimpang dari pokok khotbah


 Singkat, maksimal 10% dari keseluruhan waktu khotbah
 Hanya terdiri atas satu ide/pikiran saja
 Tidak perlu menyampaikan maaf apapun juga dalam pendahuluan
 Jangan mendeskreditkan para pendengar dalam pendahuluan.
Misalnya: “Saya akan berkhotbah hari ini khusus bagi kaum muda”,
padahal kita berkhotbah dalam kebaktian umum, sehingga jemaat yang lebih
tua akan merasa disingkirkan.

Sumber-sumber Untuk Membuat Pendahuluan:

(1) Dari Nats Itu Sendiri


Misalnya:
o Mazmur 23 (jelaskan sifat hidup seorang gembala pada zaman itu)
o Yohanes 8:12 (uraikan fungsi terang dalam hidup manusia)

(2) Dari Konteks Ayat Tersebut


Misalnya:
o Matius 6:9-13 (uraian arti & peranan khotbah di bukit)
o Yohanes 3:16 (jelaskan latar belakang tokoh Nikodemus)

(3) Dari Latar Belakang Nats


Misalnya:
o 1 Raja-raja 19 (uraikan gunung Karmel secara geografis)
o Yesaya 6 (sejarah sekitar waktu itu, 2 Tawarikh 26)

(4) Dari Situasi Setempat


Misalnya:
o Natal (suasana di seputar Natal)

15
Homiletika (Declaring The Kingdom) 2019 Stefanus Suheru, M.Si.Teol.

o Kematian (pertanyaan yang menggelitik: “Orang beriman dan tidak


beriman akan mati. Apa bedanya?”).
o Pernikahan (fase-fase penting dalam kehidupan manusia)

(5) Dari Bacaan-bacaan (Koran, Majalah, Buku, dan sebagainya)


Misalnya:
o Kejahatan yang meningkat (tanda akhir jaman?)
o Proyek angkasa luar (sepandai-pandainya tupai melompat, …..).

(6) Dari Kutipan, Kata-kata Mutiara, Puisi, atau Peribahasa


Misalnya:
 Life is struggle (1 Samuel 1:1-2).
 Sorrow looks back, worry looks around, but faith looks up.
So be strong and courage your heart, all ye that hope in The Lord.
 Allah mungkin tidak selalu memberi kita jawaban, tetapi Dia senantiasa
memberi kita kasih karunia.
 Sajak dari seorang gadis berusia 19 tahun, yang pekerjaannya sebagai
seorang asisten rumah tangga: TUHAN dari Poci & Panci

Tuhan dari setiap poci dan panci,


Aku tidak punya cukup waktu, bukan pula seorang ahli,
Untuk menjadi anak-Mu dengan mengerjakan yang suci-suci,
Tapi jadikanlah aku anak-Mu melalui makanan yang kusaji,
Jadikanlah aku anak-Mu melalui piring-piring yang kucuci,
Hangatilah dapur ini dengan kasih-Mu,
Terangilah dapur ini dengan sinar-Mu,
Sama seperti ketika Dikau menyajikan makanan di tepi danau,
Atau ketika Perjamuan Malam,
Dan terimalah pekerjaanku yang sehari-hari ini,
Yang kukerjakan bagi Dikau Sendiri.

(7) Dari Benda-benda Sekitar Kita (Objective Lessons)


Tuhan Yesus di dalam memproklamirkan Kerajaan Allah mempergunakan
Objective Lessons yang ada di sekitar-Nya, seperti: bunga bakung, burung di
udara, domba, merpati, ular, srigala, ragi, pelita, gantang, dan sebagainya.

Misalnya: ARLOJI

o Permukaannya jelas terlihat - 2 Korintus 3:3, Kolose 3:17.


o Terdiri atas bagian-bagian yang kecil, semuanya penting. Hilang satu,
tidak berfungsi - 1 Korintus 12:12.
o Harus aktif (tepat waktu) sehingga berguna - Yohanes 9:4.
o Harus ada tenaga penggeraknya - Yohanes 6:31-3.5
o Jaminan/garansi yang dimilikinya: waterproof, stainless steel - Kisah
Para Rasul 7:55-60, 2 Korintus 11:22-31, Galatia 5:22-23.

16
Homiletika (Declaring The Kingdom) 2019 Stefanus Suheru, M.Si.Teol.

(8) Dari Pengalaman Hidup Kita Sehari-hari


Misalnya:
o Melewati sebuah rumah yang sedang dibangun; melihat batu-batu bata
yang sedang disusun dengan dilapisi semen, muncul ide dari 1 Petrus
2:5.
o Menyaksikan kecelakaan lalu lintas dan ada yang tewas, mengingatkan
kita betapa fananya hidup manusia di dunia (Amsal 27:1, Amos 4:12).

(9) Dengan Pertanyaan Yang Menggelitik


Misalnya:
o Sejuta tahun mendatang, di manakah anda berada?
o Pernahkah anda perhatikan kelopak dan tangkai bunga Mawar?

9.3. Isi (Tubuh) Khotbah

Inilah bagian terpenting dari sebuah khotbah. Di sinilah isi keseluruhan khotbah
itu dituangkan. Isi Khotbah memakan 80% dari keseluruhan waktu khotbah.
Gagal menguraikan bagian ini, berarti juga merusak seluruh khotbah.

Pikiran manusia tidak menyukai keruwetan, melainkan menyenangi alur pemikiran


yang runtut dan teratur (1 Korintus 14:33,40). Oleh karena itu, pedoman dalam
melakukan pembagian isi (tubuh) khotbah harus diperhatikan.

a. Tiap bagian harus merupakan perkembangan dari bagian sebelumnya, namun


tetap berada dalam kesatuan pikiran dan tema.
b. Bagian-bagian jangan terlalu banyak, sebab dapat membosankan,
membingungkan, dan akhirnya mudah dilupakan.
c. Jumlah bagian-bagian jangan dipaksakan. Bila memang hanya ada 3 bagian,
jangan diulur menjadi 5 bagian.
d. Bagian yang negatif harus didahulukan, bagian yang positif menyusul,
sehingga makin lama makin memuncak (mencapai klimaks). Bandingkan
dengan Mazmur 1.

Dalam Isi/Tubuh Khotbah ini mencakup:

 Eksegese Homiletis yaitu menafsir/menyelidiki nats yang akan dikhotbahkan.


Perlu diingat bahwa nats yang kita hadapi adalah berita yang telah diberikan
kepada para hamba Tuhan pada masa lampau. Oleh karena itu, perlu sekali
dicari makna/arti yang sebenarnya untuk masa kini dan di sini. Inilah
pekerjaan Eksegese Homiletis!

Untuk melakukan tugas tersebut, diperlukan beberapa perlengkapan,


sebagai berikut:
a. Mempelajari bahasa asli Alkitab (Ibrani & Yunani), sehingga dapat
menafsir langsung dari naskah aslinya. Hal ini penting mengingat
bahwa dalam bahasa asli itu ada kata-kata tertentu yang khas, yang

17
Homiletika (Declaring The Kingdom) 2019 Stefanus Suheru, M.Si.Teol.

dapat memberikan arti yang lebih tepat dan indah. Misalnya: Biblia
Hebraica Stuttgartensia (BHS), The Greek New Testament (GNT).

b. Mempelajari buku-buku tafsir dan buku-buku komentar yang ada.


Misalnya: Sejarah Kerajaan Allah (2 jilid), Menggali Isi Alkitab (4
jilid), Commentary On The Whole Bible (6 volume).

c. Konkordansi Alkitab: untuk menghimpun ayat-ayat yang paralel atau


sejajar. Misalnya: Exhaustive Concordance of The Bible (Strong) dan
Analytical Concordance To The Bible (Young).

d. Kamus Alkitab: sangat berguna untuk mencari data-data sejarah,


geografi, adat-istiadat, arti nama, tempat, dan orang. Misalnya:
Ensiklopedia Alkitab Praktis dan Unger’s Bible Dictionary.

e. Atlas Alkitab: di samping memuat peta Alkitab, juga memuat informasi


tentang tempat, kota, suku, daerah lingkungan dan sebagainya.

f. Membandingkan terjemahan-terjemahan yang ada, seperti: Terjemahan


Lama, Terjemahan Baru, Bahasa Indonesia Sehari-hari, Today English
Version, Revised Standard Version, King James Version, dan
sebagainya.

g. Buku Penuntun Alkitab: membantu memahami isi dan susunan tiap


kitab dalam Alkitab secara menyeluruh. Misalnya: Pengantar Kepada
Perjanjian Lama dan Pembimbing Ke Dalam Perjanjian Baru.

Tugas Eksegese Homiletis ini tidak berhenti hanya pada penafsiran yang
baik saja, melainkan juga sesuai dengan namanya “Homiletis”, maka hasil
dari penafsiran ayat-ayat tersebut harus dituangkan/diarahkan sedemikian
rupa, sehingga ada penerapannya untuk keadaan jaman sekarang ini
(relevansinya untuk kehidupan saat sekarang ini).

 Ilustrasi: cerita yang dapat memperjelas berita Firman Allah. Cerita ini
biasanya bersifat sederhana dan popular. Ada yang berpendapat bahwa
ilustrasi ini bagaikan sebuah jendela yang membiarkan sinar masuk ke dalam
kamar yang gelap.

Syarat-syarat Ilustrasi:

o Bersifat sederhana sehingga mudah dimengerti.


o Tidak terlampau panjang, sehingga mengaburkan Firman Tuhan.
o Harus betul-betul bersangkut paut dengan Firman yang sedang
disampaikan, bukan sekedar tambahan.

18
Homiletika (Declaring The Kingdom) 2019 Stefanus Suheru, M.Si.Teol.

o Harus berfungsi melayani khotbah, bukan menjadi bagian utama dalam


khotbah, sehingga perhatian para pendengar tertuju kepada ilustrasi,
bukan Firman Tuhan.
o Jangan dipakai berulang-ulang, sehingga menjemukan para pendengar
(menjadi tawar dan kehilangan artinya).
o Jangan terlalu banyak menggunakan ilustrasi dalam sebuah khotbah
(cukup 2 - 3 ilustrasi saja).
o Jangan dipaksakan memakai ilustrasi, bila dirasakan tidak perlu (sebab
uraian sudah cukup jelas).
o Jangan berdusta, bila ilustrasi itu bukan pengalaman sendiri.
Katakanlah terus terang.
o Jangan memberikan ilustrasi yang tidak enak didengar atau menyindir
atau mencela golongan tertentu.

Sumber-sumber Ilustrasi:

a. Dari Alkitab
b. Dari pengalaman hidup pribadi
c. Dari peristiwa alam
d. Dari buku-buku sejarah
e. Dari warta berita
f. Dari ilmu pengetahuan
g. Dari buku-buku ilustrasi.

9.4. Kesimpulan

Bagian akhir dari sebuah khotbah adalah kesimpulan, yang juga merupakan bagian
yang sangat penting. Para pakar pidato Yunani kuno menyebutnya, suatu
bantingan terakhir yang menentukan dalam pergulatan. Mengapa? Sebab ini
adalah detik-detik terakhir di mana pengkhotbah harus berhenti berbicara tepat
pada waktunya.

Apakah sebenarnya kesimpulan itu? Dalam bahasa Indonesia, kata itu berasal dari
akar kata simpul, yaitu bila kita mengikatkan dua ujung tali menjadi satu ikatan,
maksudnya agar kedua ujung tali tersebut jangan sampai terurai lagi. Dengan
demikian, kesimpulan adalah ikatan dari segala bagian khotbah yang telah
diuraikan, dengan maksud agar para pendengar dapat benar-benar mengerti
tujuan/sasaran khotbah itu, lalu para pendengar diajak untuk menanggapi
Firman Allah yang telah diberitakan itu.

Syarat-syarat Kesimpulan:

(a) Kesimpulan bukanlah mengulangi isi khotbah, melainkan pengenaan


yang jitu dari khotbah.
(b) Jangan bertele-tele; waktunya jangan terlalu lama (maksimal 10% dari
seluruh waktu khotbah). Klimaks harus dicapai dahulu, setelah itu

19
Homiletika (Declaring The Kingdom) 2019 Stefanus Suheru, M.Si.Teol.

STOP BERBICARA. Lebih baik meninggalkan para pendengar dalam


keadaan longing daripada loathing.
(c) Kesimpulan harus sesuai dengan isi khotbah, jangan menyimpang
artinya dengan membuat gagasan baru.
(d) Kesimpulan mengandung ajakan untuk mengambil keputusan atau
melaksanakan Firman Allah itu.
(e) Jangan memasukkan humor dalam kesimpulan. Hal ini akan
membuyarkan keseriusan yang dibutuhkan dalam bagian ini.

Bentuk-bentuk Kesimpulan:

(1) Pertanyaan yang menantang


(2) Nyanyian yang sesuai
(3) Ayat yang tepat (ini yang terbaik)
(4) Kutipan ucapan dari seorang tokoh yang terkenal
(5) Cerita pendek yang cocok.

Tiga Catatan Penting Tentang Kesimpulan:

a. Siapkan kesimpulan dengan seksama. Gagal dalam kesimpulan berarti


gagal total dalam menyajikan khotbah yang baik.
b. Setelah memberikan kesimpulan, perlu sekali pengkhotbah
memberikan saat teduh agar para pendengar dapat merenungkan serta
meresapi khotbah yang baru saja mereka nikmati.
c. Bentuk saat teduh dapat berupa: hening, permainan organ/piano/key-
board, menyanyi solo, atau vocal group.

10. Macam-macam Khotbah

Pada dasarnya, khotbah dapat diklarifikasi ke dalam dua bagian besar, yaitu
berdasarkan isinya dan berdasarkan bentuknya.

10.1. Khotbah Berdasarkan Isi

Berdasarkan isinya, khotbah dapat dibagi menjadi tujuh (7) macam, yaitu:

10.1.1. Khotbah Kesaksian Pribadi


Yaitu khotbah yang menceritakan pengalaman pribadi mengenai keselamatan
yang telah dialaminya (Mazmur 107:1-2, Markus 5:19, Kisah Para Rasul 22:26)
Misalnya: kesaksian Eku M. Hidayat danYusuf Roni.

Keuntungannya:
a. Menarik, apalagi bila disampaikan dengan rendah hati dan serius.
b. Seringkali dipakai Tuhan untuk memenangkan jiwa.
c. Kesaksian tidak dapat dibantah.

20
Homiletika (Declaring The Kingdom) 2019 Stefanus Suheru, M.Si.Teol.

Bahayanya:
a. Membuat kesaksian melebihi Firman Allah (iman berdasarkan pengalaman
pribadi orang lain).
b. Hanya bertumpu pada pengalaman masa lalu saja.

10.1.2. Khotbah Peristiwa (Nyata atau Perumpamaan)


Yaitu khotbah berdasarkan suatu peristiwa yang pernah terjadi di dalam Alkitab.
Sementara kisah dibeberkan, makna rohaninya dikemukakan dan diterapkan.
Misalnya: Kejadian 4:1-16, Yeremia 24:1-10, Lukas 17:11-19.

Keuntungannya:
a. Menarik, sebab pada dasarnya setiap orang senang mendengar cerita.
b. Membuat para pendengar mengenal banyak kisah Alkitab.
c. Kisah-kisah itu memang mengandung banyak pelajaran yang bervariasi
(Roma 15:4, 1 Korintus 10:11).
d. Menyediakan bahan yang cukup banyak.

Bahayanya:
a. Mengrohanikan secara berlebihan bagian-bagian kisah itu (alegoris).
b. Penyajian kisah bisa keluar dari batas-batas yang tidak dijamin oleh Alkitab,
untuk mendramalisirnya.

10.1.3. Khotbah Biografi


Yaitu khotbah yang menyajikan kehidupan seorang tokoh Alkitab (Character
Study) dan menarik pelajaran daripadanya. Misalnya: Biografi Daud (Kisah
Para Rasul 13:22).

Keuntungannya:
a. Studi terbaik bagi manusia adalah manusia.
b. Memikat.
c. Memberi dorongan rohani.
d. Memberi keteladanan (1 Korintus 11:1).
e. Menjadi cermin.

Bahayanya: Mengkultus-individukan seseorang.

10.1.4. Khotbah Doktrin


Yaitu menyampaikan ajaran-ajaran pokok yang menjadi dasar kepercayaan
Kristen. Misalnya: khotbah tentang Kedatangan Kristus Kedua Kali
(Eskatologi).

Keuntungannya:
Memberikan pengetahuan tentang doktrin-doktrin Alkitab kepada para
pendengar, dengan tujuan untuk menguatkan mereka.

21
Homiletika (Declaring The Kingdom) 2019 Stefanus Suheru, M.Si.Teol.

Bahayanya:
Kering, sebab kurang/sedikit penerapan.

10.1.5. Khotbah Penginjilan


Yaitu khotbah yang ditujukan kepada orang-orang yang belum percaya, dengan
maksud membawa mereka kepada Kristus. Misalnya: Yohanes 1:29.

Pedoman Membuat Khotbah Penginjilan:


a. Jangan menggunakan banyak ayat.
b. Jangan menafsirkan ayat per ayat.
c. Uraikan nats yang telah dipilih dengan jelas.
d. Bila pendengar sedikit, bisa diadakan dialog.
e. Sertai dengan kesaksian atau ilustrasi.
f. Jangan menyinggung perasaan mereka (dengan membandingkan Kekristenan
dengan kepercayaan mereka).
g. Hindari pokok-pokok yang bisa menimbulkan perdebatan
Misalnya: Trinitas dan Anak Allah.

10.1.6. Khotbah Etika


Yaitu khotbah yang mengajarkan perilaku sebagai seorang Kristen di dalam
pelbagai bidang kehidupan. Misalnya: Berpacaran dan Memilih Jodoh.

Keuntungannya:
Khotbah Etika ini menarik, sebab bersifat praktis, menyangkut kehidupan sehari-
hari.

Bahayanya:
a. Bisa terjerumus ke dalam moralisme; membanggakan moral yang tinggi, lalu
berpuas diri.
b. Yang lemah bisa dilanda putus asa.

Alkitab memang banyak berisi ajaran etika, namun ini didahului oleh doktrin.
Misalnya Roma 1-11 berisi doktrin, lalu disusul pasal 12-15 yang berisi etika.

10.1.7. Khotbah Insidental (Situasional)


Yaitu khotbah yang disampaikan berdasarkan keadaan-keadaan tertentu yang
sedang berlangsung. Khotbah Insidental ini terdiri atas:

a. Khotbah Berdasarkan Tahun Gerejawi: Natal, Old & New,


Jum’at Agung, Paskah, Kenaikan Isa Almasih, dan Pentakosta.

b. Ibadah Peristiwa Khusus: Pertunangan, Pernikahan,


Kematian, Pentahbisan Gedung Gereja, Pentahbisan Hamba
Tuhan, Ibadah Ucapan Syukur, Ibadah Ulang Tahun, Ibadah
Perjamuan Kudus, dan Ibadah Baptisan Air.

22
Homiletika (Declaring The Kingdom) 2019 Stefanus Suheru, M.Si.Teol.

10.2. Khotbah Berdasarkan Bentuk


Berdasarkan bentuknya, khotbah dapat dibagi menjadi tiga (3) macam, yakni:

10.2.1. Khotbah Topikal (Khotbah Sintetis)

Yang dimaksudkan dengan Khotbah Topikal adalah menguraikan beberapa


ayat Alkitab yang berkisar pada suatu topik/pokok masalah tertentu
(eksposisi tema/topik).

Persiapan yang diperlukan adalah:


a. Mencari sebuah topik yang tepat.
b. Menghimpun ayat-ayat yang paralel/sejajar.
c. Konkordansi Alkitab sangat dibutuhkan.

Keuntungan Khotbah Topikal:


(1) Jemaat bisa mengenal berbagai topik di dalam Alkitab.
(2) Memberi kesan Alkitab sebagai suatu kesatuan.
(3) Memungkinkan khotbah berangkai selama beberapa minggu.

Kelemahan Khotbah Topikal:


Jumlah topik terbatas, sehingga pengkhotbah bisa kehabisan bahan.

Contoh Outline Khotbah Topikal:

Tema: Sahabat yang terbaik


Nats : Yohanes 11:1-6, 39-44

1. Yesus, Sahabat yang penuh kasih, ayat 3-5


a. Ia mengasihi Lazarus, Maria, dan Marta
b. Sekalipun demikian, Ia mengijinkan malapetaka menimpa mereka, ayat 3.

2. Yesus, Sahabat yang penuh pengertian, ayat 21-36


a. Ia memahami kesengsaraan mereka, ayat 21-26, 32.
b. Ia ikut ambil bagian dalam kesedihan mereka, ayat 33-36.
c. Sungguh, Yesus, Sabahat yang penuh pengertian.

3. Yesus, Sahabat yang penuh kuasa, ayat 37-44


a. Ia mengerjakan hal-hal yang ajaib, ayat 37
b. Ia mengadakan mujizat, ayat 38-44.

10.2.2. Khotbah Tekstual (Khotbah Analitis)

Yang dimaksudkan dengan Khotbah Tekstual adalah khotbah yang berkisar


pada ayat atau ayat-ayat (nats) tertentu. Tema ditentukan, kemudian ayat
diuraikan (eksposisi satu ayat atau ayat-ayat tertentu).

23
Homiletika (Declaring The Kingdom) 2019 Stefanus Suheru, M.Si.Teol.

Persiapan yang diperlukan adalah:


a. Mencari ayat-ayat yang pendek.
b. Di dalam ayat yang pendek tersebut mengandung pernyataan yang jelas dan
pengertian yang utuh/lengkap/sempurna.

Keuntungan Khotbah Tekstual:


(1) Kata-kata asli Alkitab sering mendapat sorotan.
(2) Ayat-ayat ini lebih mudah diingat karena singkat/pendek.

Kelemahan Khotbah Tekstual:


Keutuhan Alkitab kurang tampak. Ayat-ayat yang diambil dari sana sini,
berkesan Alkitab kurang utuh.

Khotbah Tekstual ini ada empat (4) macam, yaitu:

(a) Menguraikan Kata Lepas Kata Dari Satu Ayat


Contoh: Yohanes 3:16 - Allah (Siapakah Dia)
- Mengasihi (Apa artinya)
- Dunia (Apa maksudnya)
- Anak yang tunggal (Bagaimana maknanya).

(b) Menguraikan Sebagian Saja Dari Satu Ayat


Contoh: Lukas 4:16 (menurut kebiasan-Nya).

(c) Menguraikan Beberapa Ayat


Bila demikian, ada baiknya kita membuat lebih dahulu bagan dari
ayat-ayat tersebut. Misalnya: 1 Tesalonika 1:9b-10a.

Berbalik daripada berhala -- Sikap Terhadap Masa Lalu


Mengabdi kepada Tuhan -- Sikap Terhadap Masa Kini
Menantikan Kedatangan-Nya -- Sikap Terhadap Masa Depan

(d) Menguraikan Ayat Emas


Yang dimaksudkan di sini adalah menguraikan satu ayat penuh,
biasanya dilatar-belakangi dengan pembacaan yang diambil dari
perikop yang sama atau bahkan diambil dari bagian lain.

Misalnya : Mazmur 37:5 --- Pembacaan: 1 Samuel 16:10-13.


Ibrani 11:24-25 - Pembacaan: Keluaran 2.
Dalam hal ini, fungsi dari pembacaan adalah memberikan penjelasan
lebih lanjut dari ayat emas.

24
Homiletika (Declaring The Kingdom) 2019 Stefanus Suheru, M.Si.Teol.

10.2.3. Khotbah Ekspositori (Khotbah Analitis-Sintetis)

Webster’s Ninth New Collegiate Dictionary mengatakan bahwa suatu eksposisi


adalah “a discourse to convey information or explain what is difficult to
understand”.

Selanjutnya, Mayhue juga mengatakan bahwa ekspositori adalah menjelaskan


Alkitab dengan membukakan teks kepada pandangan publik, untuk
memaparkan maknanya, menjelaskan apa yang sulit untuk dimengerti dan
membuat aplikasi yang tepat.

Haddon W. Robinson, seorang pakar khotbah ekspositori mengatakan khotbah


ekspositori adalah mengkomunikasikan suatu konsep alkitabiah, yang diperoleh
dari dan disampaikan melalui penyelidikan historis, gramatikal, dan
kesusastraan suatu teks di dalam konteksnya, di mana Roh Kudus pertama-tama
menerapkannya kepada kepribadian dan pengalaman pengkhotbah, kemudian
melalui pengkhotbah, menerapkannya kepada para pendengar.

Dengan demikian, dapat dikatakan bahwa khotbah ekspositori adalah khotbah


yang menguraikan secara rinci Alkitab sebagai wadah kebenaran yang
diungkapkan secara koheren dan terkoordinasi.

Ada pun langkah-langkah dalam Proses Menyusun Khotbah Ekspositori adalah


sebagai berikut:
1. Mempelajari Teks.
Dengan mempelajari detail teks, kita memperoleh daging
teks tersebut.

2. Membuat Kerangka Teks.


Dalam menyusun kerangka teks, kita mendapat gambaran
rangka penyusun teks. Daging dan rangka membentuk bahan
mentah teks.

3. Pernyataan Pokok Teks


Dari rangka itu, kita melihat pernyataan pokok teks, jantung,
pokok dari khotbah itu.

4. Jembatan Tujuan
Dari jantung teks kita mengembangkan tujuan bagi jemaat.
Tujuan khotbah ini adalah otak yang melaluinya pada
akhirnya khotbah dirancang dan disampaikan.

5. Pernyataan Pokok Khotbah


Otak akan memberi arah dan bentuk bagi jantung khotbah.

25
Homiletika (Declaring The Kingdom) 2019 Stefanus Suheru, M.Si.Teol.

6. Membuat Kerangka Khotbah


Dalam tahap ini khotbah membentuk citra dan kerangkanya
sendiri. Kerangka pesan akan terlihat.

7. Menyampaikan Khotbah
Pada akhirnya, kita akan mengisi detail-detail daging
sewaktu kita selesai menyusun khotbah yang unik dan
istimewa bagi jemaat secara khusus.

Contoh Kerangka Khotbah Ekspositori

PERTOLONGAN DARI ATAS


(Mazmur 124:1-8)

Pendahuluan:

Mazmur 124 berisi perenungan berbagai pengalaman hidup bangsa Israel masa lalu.
Hidup yang telah dilalui selalu dibayang-bayangi dengan bahaya. Namun mereka
menyadari bahwa Allah berkarya secara terus menerus sepanjang sejarah hidup
mereka.

Pernyataan: Pertolongan Dari Atas adalah prinsip iman, yang memberi pengharapan,
semangat hidup, dan jaminan bagi umat Allah.

 GAMBARAN SANG PENOLONG

o Dia adalah Pencipta langit dan bumi (ayat 8)


Sebagai Pencipta, Allah adalah Pengada, Pemilik, dan Pengatur segala
sesuatu.

o Dia adalah Penguasa mutlak atas alam semesta.


Mazmur 121:1 – segala kekuatan dan kekuasaan tunduk kepada-Nya

 BENTUK-BENTUK PERTOLONGAN

o Keberpihakan (ayat 1-2)


Dalam situasi-situasi khusus, Allah menolong dengan cara memihak atau
berdiri di pihak umat-Nya.
 Tatkala Israel menghadapi perlawanan dan ancaman, Allah tampil
memihak mereka (Keluaran 14:13-14)
 Ketika Israel mengalami penindasan, Allah bertindak keras membela
mereka (Keluaran 14:30-31).
 Ketika wabah maut merenggut nyawa ribuan orang, Allah
menyelamatkan umat-Nya (Mazmur 91:5-8).

26
Homiletika (Declaring The Kingdom) 2019 Stefanus Suheru, M.Si.Teol.

Mengapa Allah berpihak? Allah sebagai Penguasa mutlak, bebas


menentukan apa yang Dia akan lakukan. Dan apa pun yang
dilakukannya selalu benar (Roma 9:13).

o Perlakuan Secara Khusus (ayat 4-6)


Allah selalu memperlakukan umat-Nya berbeda dari semua.
 Allah mengangkat mereka saat jatuh (Mazmur 37:23-24)
 Allah mencukupi supaya tidak mengemis (Mazmur 121:5-8)
 Allah menjaga dengan setia (Mazmur 121:5-8)
 Allah mengampuni dan tidak menghukum (Mazmur 32:5, 103:3)

 PERTOLONGAN BERSYARAT

Pertolongan dari Tuhan – memang berdasarkan kehendak-Nya, tetapi bukan tanpa


syarat. Alkitab menunjukkan syarat-syarat yang harus dipenuhi untuk menerima
pertolongan dari atas:

 Takut akan Tuhan (Mazmur 128:1-6) – suami yang takut akan Tuhan,
keluarganya diberkati.
 Tulus hati (Mazmur 24:4-5) – orang yang tulus akan menerima berkat dan
pembelaan.
 Setia seumur hidup (Mazmur 27:4-5) – orang yang setia akan dilindungi
dari bahaya-bahaya maut.

Kesimpulan:

Kita hanya mengharapkan pertolongan dari Tuhan. Pertolongan dari Tuhan menuntut
sikap: takut akan Tuhan, tulus hati, dan setia sampai akhir. Amin.

11. Menulis Naskah Khotbah

Apakah naskah khotbah itu? Naskah khotbah adalah menulis khotbah kita kata demi kata
Mengapa kita perlu membuat naskah khotbah?

A. Membuat naskah khotbah akan memaksa kita untuk memilih kata yang terbaik.

9 Selain Pengkhotbah berhikmat, ia mengajarkan juga kepada umat itu


pengetahuan. Ia menimbang, menguji dan menyusun banyak amsal.
10 Pengkhotbah berusaha mendapat kata-kata yang menyenangkan dan
menulis kata-kata kebenaran secara jujur.
11 Kata-kata orang berhikmat seperti kusa dan kumpulan-kumpulannya
seperti paku-paku yang tertancap, diberikan oleh satu gembala.
12 Lagipula, anakku, waspadalah! Membuat banyak buku tak akan ada akhirnya,
dan banyak belajar melelahkan badan (Pengkhotbah 12:9-12).

27
Homiletika (Declaring The Kingdom) 2019 Stefanus Suheru, M.Si.Teol.

B. Kata-kata tidak datang begitu saja bagi kebanyakan dari kita.


Naskah Khotbah menjaga kita supaya tidak terlihat buruk.

C. Kita dapat memakai khotbah kita di lain waktu.


Naskah Khotbah dapat kita arsipkan untuk dipergunakan pada kesempatan dan
waktu yang lain.

D. Hal tersebut menolong anda untuk membatasi waktu anda.


Sebuah naskah menjaga anda dari kebiasaan melewati waktu yang diberikan.
Menulis naskah khotbah menjaga kita dari menggigit lebih daripada apa yang
dapat kita kunyah.

E. Hal tersebut menolong anda berkhotbah lebih baik.

Contoh Naskah Khotbah

BERANI LAKSANA KSATRIA


Oleh Stefanus Suheru

PENDAHULUAN : Hidup adalah Sebuah Perjuangan

Entah kapan dan siapa yang memulai mengucapkan kata-kata tersebut, yang jelas semua
dari kita tidak hanya seringkali mendengar, tidak hanya sering kali membaca, namun
sengaja atau tidak, mengerti atau tidak, menyadari atau tidak, kita sendiri telah
mengalami dan merasakan bahwa memang Hidup adalah perjuangan.

Berbagai macam perjuangan telah kita jalani antara lain perjuangan dalam mengatasi
setiap kelemahan dan kesulitan yang selalu hadir di tengah kehidupan ini dan perjuangan
dalam merealisasikan cita-cita yang didambakan.

Untuk bisa tampil sebagai pemenang dan sukses di setiap perjuangan ini, sudah tentu kita
harus memiliki berbagai macam faktor sebagai kekuatan yang dapat diandalkan. Di
antara sekian banyak faktor sebagai penunjang, ada satu faktor yang mutlak kita miliki
yaitu KEBERANIAN!

 Berani yang bagaimana?


 Baca: 1 Korintus 16:13 c.

Perintah Bersikaplah sebagai laki-laki dalam nats tersebut di atas ditulis dalam bahasa
Yunani hanya dengan satu kata saja, yaitu andrizesthe. Kata ini berasal dari kata
andrizomai. Di dalam beberapa Kamus Yunani, kata andrizomai diartikan:

a. Memperlihatkan keberanian
b. Menjadi berani
c. Menunjukkan dirinya sebagai Ksatria

28
Homiletika (Declaring The Kingdom) 2019 Stefanus Suheru, M.Si.Teol.

Dengan demikian, kata andrizesthe dapat diterjemahkan: Hendaklah kalian bersikap


berani laksana KSATRIA!

Sikap berani yang bagaimanakah, yang semestinya ada pada diri seorang KSATRIA?

1. Berani Menghadapi Tantangan Pantang Mundur, 1 Korintus 16:8-9

Dalam pelayanannya di Efesus, rasul Paulus menghadapi TANTANGAN.


Namun, tanggapan Paulus terhadap TANTANGAN/banyak penentangnya luar
biasa.

Ia melihat TANTANGAN itu sebagai kesempatan yang banyak baginya untuk


melakukan pekerjaan yang besar dan penting (dalam bahasa Yunani dipakai
kata megale dan energes, yang berarti great and effective; BESAR &
EFEKTIF).

Pada umumnya orang cenderung memilih yang mudah. Mudah berarti tidak
memerlukan banyak tenaga atau pikiran untuk mengerjakannya. Mudah berarti
tidak berat, tidak sukar, tidak ada tantangan, dan tidak melelahkan, dan tidak
beresiko. Hal ini bisa kita lihat, misalnya di sekolah para murid lebih menyukai
mendapat soal-soal yang mudah daripada soal-soal yang sulit. Begitu pula di
tempat kerja seseorang lebih suka memilih tugas yang mudah daripada tugas yang
menantang.

Memang kemudahan terasa begitu menyenangkan. Itulah sebabnya didambakan


oleh setiap orang. Kemudahan terasa sebagai berkat. Namun dalam jangka
panjang, apakah kemudahan itu berkat ataukah malapetaka?

Para Penulis Perjanjian Lama bersaksi bahwa meskipun Allah mengasihi umat
pilihan-Nya, namun Allah tidak memberikan kemudahan kepada umat-Nya.
Sebaliknya, Allah bahkan membawa umat-Nya berjalan melalui
kesukaran/tantangan. Hal ini tampak mencolok pada peristiwa keluarnya mereka
dari Mesir. Umat menempuh perjalanan dari delta Nil ke Kanaan yang berjarak
sekitar 250 Km (Solo – Tegal: 265 Km). Secara wajar perjalanan itu dapat
ditempuh dalam beberapa minggu saja. Namun Allah membawa umat-Nya ke
jalur yang lebih jauh dan lebih sulit, sehingga akibatnya perjalanan mereka
memakan waktu 40 tahun. Selama 40 tahun itu umat Allah bukan menghadapi
kemudahan melainkan justru tantangan. Umat mengira bahwa mereka tidak
dikasihi Allah ! Tetapi sebenarnya justru karena Allah mengasihi umat-Nya maka
Ia membawa mereka berjalan melalui berbagai tantangan, dengan maksud agar
dengan tantangan itu umat-Nya bertumbuh menjadi umat Allah yang tangguh!

Kemudahan membuat orang menjadi rapuh, namun kesulitan/tantangan


membuat orang menjadi tangguh.

29
Homiletika (Declaring The Kingdom) 2019 Stefanus Suheru, M.Si.Teol.

Kesulitan-kesulitan/TANTANGAN adalah gejala wajar dari sebuah


kehidupan yang bermakna. Siapa yang ingin berada di puncak bukit, dia harus
menaiki lereng bukit. Siapa yang ingin berada di puncak gunung, maka dia harus
menaiki lereng gunung. Siapa yang yang ingin berada di puncak kehidupan, maka
dia harus mau mendaki lereng-lereng kehidupan. Tanpa mendaki, kita akan tetap
berada di bawah.

Seberapa besar hidup yang Anda inginkan, akan sama halnya dengan
seberapa besar resiko dan tantangan yang berani anda ambil dalam
kehidupan.

Dan keberanian yang sebenarnya adalah bagaikan layang-layang: sentakan


angin yang menentangnya bukannya melemparkannya ke bawah, bahkan justru
sebaliknya menaikkannya. Oleh karena itu, jangan takut terhadap
tantangan/krisis/kesulitan yang menghadang kita!!!

2. Berani Menghadapi Kritikan Tanpa Tawar Hati, 2 Korintus 10:9-11.

Paulus, seorang rasul yang dipakai oleh Allah secara luar biasa, tidak terlepas dari
kritikan. Paulus dikiritik sebagai seorang rasul yang plin-plan, tidak konsisten,
dan munafik.

Kehidupan orang-orang beriman digambarkan oleh Tuhan Yesus laksana kota


yang terletak di atas bukit (Matius 5:14). Itu berarti tidak ada seorang Kristen pun,
yang tidak pernah menghadapi sorotan dan kritikan.

Hal serupa juga dialami oleh Nehemia. Ia mempunyai satu tugas untuk
membangun tembok Yerusalem. Di dalam proses melaksanakan tugas itu,
Nehemia dipimpin oleh Allah untuk menetapkan beberapa pekerja yang
menangani beberapa jenis pekerjaan di dalam proyek itu (Nehemia 3). Sebelum
pembangunan tembok itu mencapai separuhnya, para pekerja yang menangani
pembangunan tembok tersebut dihujani dengan kata-kata pedas, kasar, dan
kritikan-kritikan tajam (Nehemia 4:3). Tanggapan Nehemia – 4:6!

Setiap orang Kristen harus belajar mengembangkan kemampuan untuk dapat


menilai dan mempertimbangkan kritikan-kritikan yang dilontarkan kepadanya.

1. Kritik membangun sangat berguna dan penyelamat hidup dari lembah


kelemahan juga kekurangan kita sebagai manusia yang tidak
sempurna. Dengan adanya kritikan membangun kita bisa segera
memperbaiki kekurangan dan kelemahan kita sehingga kualitas hidup
akan lebih bernilai serta penuh makna. Begitu banyak keuntungan kita
mendapat kritik membangun selain kita dapat ilmu dan wawasan yang
luas juga bisa belajar dari kesalahan dan bisa lebih memahami hidup
dari berbagai sisi. KELEMAHAN YANG DISADARI ADALAH SUATU
KEKUATAN.

30
Homiletika (Declaring The Kingdom) 2019 Stefanus Suheru, M.Si.Teol.

2. Untuk kritik yang berbau iri, dengki dan sejenisnya sebaiknya kita
pun tidak perlu merasa down, juga tidak perlu mendendam terhadap
yang mengkritik  Biarlah anjing menggonggong, kafilah tetap berlalu.

3. Sebagai penghiburan bagi kita, bahwa kritikan-kritikan tersebut dapat


menunjukkan bahwa kita adalah VIP (Very Important Person).

Jadi, janganlah tawar hati karena kritikan-kritikan yang dilontarkan kepada kita!

3. Berani Menghadapi Kegagalan Tanpa Putus Asa, 2 Korintus 12 : 7 – 10

Di dalam kehidupan pribadinya, rasul Paulus pernah mengalami kegagalan.


Sebagai seorang rasul Tuhan, ia banyak melakukan tanda-tanda dan mujizat-
mujizat yang besar. Namun, ketika ia berdoa memohon kepada Tuhan agar duri
dalam dagingnya disingkirkan dari hidupnya, Tuhan tidak mengabulkannya (2
Korintus 12:7-9). Dan rasul Paulus tidak menjadi frustrasi. Sebaliknya, ia berkata,
“Sebab itu terlebih suka aku bermegah atas kelemahanku, supaya kuasa
Kristus turun menaungi aku” (2 Korintus 12:9)  rasul terbesar – 13 Kitab (kl.
50%).

Kegagalan ditakuti oleh banyak orang. Biasanya, orang yang mengalami


kegagalan pasti merasa kecewa dan menjadi takut untuk memulai sesuatu yang
baru. Seorang Kristen yang dewasa tidak akan frustrasi ketika menghadapi
kegagalan. Kita menyadari bahwa di dalam kehidupan ini tidak semua berjalan
sesuai dengan harapan-harapan kita. Kita mengetahui apa artinya ketika target
yang tidak tercapai, cita-cita yang tak terealisir, impian kita menjadi
berantakan dan rencana-rencana kita berubah. Setiap orang Kristen yang
dewasa harus berani menghadapi kegagalan di dalam hidupnya.

Sejarah membuktikan bahwa semua orang yang telah meraih sukses adalah
mereka yang pernah gagal. Bila semua orang yang berhasil itu pernah mengalami
kegagalan, lalu apa yang menjadikan mereka berhasil? Kuncinya adalah berani
menghadapi kegagalan sebagai suatu proses untuk meraih keberhasilan yang lebih
besar. Kegagalan tidak berarti Tuhan mengabaikan kita, melainkan berarti Tuhan
memiliki sesuatu yang lebih baik.

Thomas Alfa Edison (1847 - 1931) adalah salah seorang ilmuwan Amerika dan
salah seorang penemu terbesar sepanjang masa.

Masa kecilnya sangat suram. Suatu hari, seorang bocah berusia 4 tahun, agak tuli
dan bodoh di sekolah, pulang ke rumahnya membawa secarik kertas dari gurunya.
ibunya membaca kertas tersebut, ”Tommy, anak ibu, sangat bodoh. kami
minta ibu untuk mengeluarkannya dari sekolah”.

31
Homiletika (Declaring The Kingdom) 2019 Stefanus Suheru, M.Si.Teol.

Sang ibu terhenyak membaca surat ini, namun ia segera membuat tekad yang
teguh, ”Anak saya Tommy, bukan anak bodoh. Saya sendiri yang akan mendidik
dan mengajar dia.”

Tommy bertumbuh menjadi Thomas Alva Edison, salah satu penemu terbesar di
dunia. Dia hanya bersekolah sekitar 3 bulan, dan secara fisik agak tuli, namun itu
semua ternyata bukan penghalang untuk terus maju.

Selama karirnya Edison telah mendapatkan hak paten untuk lebih dari 1.000
penemuan. Salah satu penemuannya adalah lampu pijar listrik. Setelah
melakukan hampir 1.000 kali eksperimen di laboratoriumnya dan lebih dari satu
tahun bekerja secara terus-menerus, Edison akhirnya berhasil mengembangkan
serat kawat pijar dari Carbon yang memiliki daya tahan tinggi sehingga menyala
secara terus menerus selama lebih dari 40 Jam! Luar biasa!!! Kegagalannya yang
hampir 1.000 kali di dalam melakukan eksperimennya itu tidak membuatnya
kehilangan tujuannya, yaitu membuat lampu pijar listrik. Sejarah mencatat
namanya sebagai penemu lampu listrik.

Pecinta makanan cepat saji, pasti mengenal Colonel Harland Sanders. Karena
racikan bumbunya, produk Kentucky Fried Chicken (KFC) menjadi dikenal.
Tak heran jika dokumen berisi racikan bumbunya, berstatus rahasia negara.

Dokumen tersebut berisi resep bumbu campuran yang digunakan untuk


menggoreng ayam. Bahan didapat dari bumbu dan rempah-rempah.
Perusahaan ini bahkan menyewa kepolisian dan pihak keamanan swasta untuk
mengawal dokumen. Bahkan disediakan mobil khusus bersenjata untuk
memindahkannya.

Dia memulainya di usia 66 tahun. Pensiunan angkatan darat Amerika ini tidak
memiliki uang sepeser pun kecuali dari tunjangan sosial hari tuanya sebesar $105,
yang semakin menipis. Dia memiliki keahlian dalam memasak dan menawarkan
gagasan menjual ayam goreng dengan resep khususnya kepada 1.009 restoran di
negaranya. Namun semua restoran itu menolaknya.

Akhirnya resepnya dipakai sendiri untuk memasak bagi orang-orang yang


bepergian, yang singgah di bengkelnya. Kolonel Sanders belum punya restoran
pada saat itu. Ia menyajikan makanannya di ruang makan di bengkel tersebut.
Karena semakin banyak orang yang datang ke tempatnya untuk makan, akhirnya
ia pindah ke seberang jalan dekat penginapan dan restoran bisa menampung 142
orang.

KFC berkembang pesat. Kini, lebih dari satu miliar ayam goreng hasil resep
Kolonel ini dinikmati setiap tahunnya, bukan hanya di Amerika Utara, bahkan
tersedia hampir di 80 negara di seluruh dunia. Tapi Kolonel Sanders tidak lagi
bisa menyaksikannya. Pada 1980, di usia 90 tahun, ia terserang leukemia. Ia

32
Homiletika (Declaring The Kingdom) 2019 Stefanus Suheru, M.Si.Teol.

meninggal seusai melakukan perjalanan 250.000 mil dalam satu tahun


kunjungannya ke restoran KFC di seluruh dunia.

Sosok Kolonel Sanders, bahkan kini menjadi simbol dari semangat


kewirausahaan. Kegigihannya dalam mengembangkan resep menjadi ikon utama
dalam pemasaran produk KFC.

“Impian meraih sukses tidak harus di masa kecil. Impian bisa juga di saat
usia senja.” - Kolonel Sanders, pendiri KFC.

Jangan mudah menyerah! Lihatlah dulunya Colonel Sanders ini bukanlah siapa-
siapa, dan lihatlah apa yang sudah dia hasilkan sekarang ini.

Bukankah ini contoh bagaimana kegagalan yang pedih dan memilukan dapat
diolah menjadi kemenangan??!!! Kekalahan hanyalah sikap berpikir saja!

Jika kita gagal, itulah bukan akhir dari segala sesuatu. Ada dalam
Alkitab,”TUHAN menetapkan langkah-langkah orang yang hidupnya berkenan
kepada-Nya; apabila ia jatuh, tidaklah sampai tergeletak, sebab TUHAN
menopang tangannya” (Mazmur 37:23-24).

Orang baik pun bisa gagal. Ada dalam Alkitab,”Kemalangan orang benar
banyak, tetapi TUHAN melepaskan dia dari semuanya itu” (Mazmur 34:20).
Janganlah kegagalan membuat anda putus asa. Ada dalam Alkitab,”Bukankah
telah Kuperintahkan kepadamu: kuatkan dan teguhkanlah hatimu? Janganlah
kecut dan tawar hati, sebab TUHAN, Allahmu, menyertai engkau, ke mana pun
engkau pergi” (Yosua 1:9).

Anda dapat berhasil di saat berikut. Ada dalam Alkitab,”Segala perkara dapat
kutanggung di dalam Dia yang memberi kekuatan kepadaku” (Filipi 4:13).

Hanya orang yang mempunyai keberanian yang sejati, yang mampu


menanggung beban dari pengalaman yang seburuk-buruknya yang bisa
dialaminya dengan bijaksana. Baginya, kegagalan adalah keberhasilan yang
tertunda!!!

PENUTUP

• Ukuran hidup kita ditentukan oleh tingkat keberanian kita – ukuran hidup
kita berbanding lurus dengan tingkat keberanian kita.

• Beranilah Untuk Hidup Agar Hidup Lebih Berarti!!

Inilah cara orang-orang percaya harus hidup. Berani bersikap seperti laki-laki sejati,
jangan seperti anak-anak. Bersikaplah sebagai Ksatria! Hiduplah seperti manusia Allah
yang berani secara terus-menerus setiap hari.

33
Homiletika (Declaring The Kingdom) 2019 Stefanus Suheru, M.Si.Teol.

Bersama dengan Kristus, tidak ada alasan bagi kita untuk takut.
Ketakutan hanya akan merampok, memukul dan melumpuhkan kita !
Amin.

APA YANG KITA LAKUKAN DENGAN NASKAH KHOTBAH?

Ada empat pilihan:

• Bawalah ke mimbar
• Kurangi menjadi satu halaman kerangka khotbah
• Hafalkan lalu berbicaralah kata-demi-kata
• Berkhotbahlah dengan persiapan namun tanpa catatan

12. Teknik Menyampaikan Khotbah

Sesudah memikirkan signifikansi dan aspek khotbah, sekarang kita akan memikirkan
teknik berkhotbah. Khotbah yang terpenting bukan transfer data akademis yang kita
dapatkan di sekolah/seminari teologi dan bukan teknik berkhotbah yang bagus, tetapi
khotbah yang terpenting adalah khotbah yang memberitakan Firman Allah. Konsep ini
benar, tetapi ada tendensi lain di balik konsep ini yaitu tidak mementingkan teknik
khotbah. Ada beberapa pengkhotbah yang karena terlalu mementingkan berita di dalam
Firman Allah, lalu tidak memperhatikan teknik berkhotbah. Saya menyetujui bahwa
teknik berkhotbah itu adalah hal sekunder, namun tidak berarti teknik berkhotbah tidak
perlu sama sekali. Teknik khotbah tetap perlu sebagai implikasi signifikansi dan aspek
khotbah yang telah kita pelajari di atas.

Khotbah yang baik tetap memperhatikan teknik berkhotbah. Apa arti teknik berkhotbah?
Teknik berkhotbah berarti cara yang digunakan oleh si pengkhotbah di dalam
menyampaikan khotbah. Cara yang dipakai si pengkhotbah ini beraneka ragam, ada yang
terlalu akademis, di sisi lain ada yang tidak karuan. Supaya kita tidak terjebak ke dalam
kedua ekstrim ini, kita perlu memperhatikan keterampilan sebagai berikut.

 Keterampilan Berbicara

Keterampilan ini merupakan hal yang mutlak diperlukan oleh seorang


pengkhotbah. Jika seorang ingin belajar berkhotbah, maka ia tidak boleh putus
asa dalam meningkatkan keterampilan berbicara. Keterampilan dapat diperoleh
dengan memintanya kepada Tuhan, kemudian melatih diri (ora et labora).

Tatkala Musa dipanggil oleh Allah, ia berkata, “Ah, Tuhan, aku ini tidak
pandai bicara, dahulu pun tidak dan sejak Engkau berfirman kepada hamba-
Mu pun tidak, sebab aku berat mulut dan berat lidah. Tetapi Tuhan berfirman
kepadanya: Siapakah yang membuat lidah manusia, siapakah yang membuat

34
Homiletika (Declaring The Kingdom) 2019 Stefanus Suheru, M.Si.Teol.

orang bisu atau tuli, membuat orang melihat atau buta; bukankah Aku, yakni
Tuhan? (Keluaran 4:10-11).

Tuhan memanggil orang untuk memberitakan Firman-Nya dan karena itu


sebagai konsekuensinya, Ia pun akan memperlengkapi orang tersebut. Allah
dapat memberikan karunia khusus untuk berbicara, namun dalam banyak hal,
Ia juga senang jika manusia mempersembahkan yang terbaik bagi Allah
dengan melatih diri untuk memperoleh keterampilan berbicara dan Ia
memberkati dan memperlengkapinya.

Keterampilan yang harus dimiliki oleh seorang pengkhotbah meliputi segi-segi


teknik yang harus dikuasai oleh seorang pengkhotbah, sehingga dapat
menghasilkan bunyi atau suara yang baik. Ingatlah prinsip ini: “Setiap orang
bisa berbicara tetapi seorang pengkhotbah harus berbicara lebih baik dan
lebih indah”. Segi-segi tersebut menyangkut:

 Volume suara. Volume suara harus wajar. Volume suara yang terlalu kecil
atau lemah menyatakan rasa malu atau takut. Volume suara yang terlalu
keras menyatakan rasa tegang, gugup dan gelisah. Karena itu setiap kali
mulai berbicara, adalah penting untuk mendengar suara sendiri, apakah
suaranya cukup, perlu dipertahankan atau ditingkatkan atau direndahkan
sesuai kebutuhan disertai kontrol terus-menerus agar tetap stabil.

 Sifat suara. Setiap orang mempunyai sifat suara/warna suara yang khas.
Jadi tidak perlu menirukan orang lain.

 Irama suara. Irama suara harus bervariasi agar lebih enak didengar, lebih
mudah dipahami dan tidak membosankan. Irama suara meliputi: kapan
harus bicara keras dan kapan harus bicara pelan, kapan dengan kalimat
panjang dan kapan dengan kalimat pendek, kapan cepat dan kapan lambat,
kapan turun dan kapan naik, kapan harus diam sejenak dan kapan
dipenggal, dan sebagainya.

 Panjang pendeknya kalimat. Panjang pendeknya kalimat harus melihat


kebutuhan. Hal ini berkaitan dengan tempo bicara. Bagi orang yang
cenderung bicara lambat, lebih baik menggunakan kalimat yang pendek,
singkat dan ekspresif sehingga bicara terasa lebih cepat. Bagi orang yang
cenderung bicara cepat, sebaiknya menggunakan kalimat yang panjang
sehingga pendengar dapat mengikuti dengan baik dan memahami maksud
kalimat tersebut.

 Diam sejenak dan pemenggalan kalimat . Diam sejenak adalah


perhentian sejenak (jeda) yang menjembatani peralihan dari tahap yang
satu ke tahap yang lain. Diam sejenak dan pemenggalan kalimat yang
benar, penting sekali untuk menekankan gagasan-gagasan yang perlu.

35
Homiletika (Declaring The Kingdom) 2019 Stefanus Suheru, M.Si.Teol.

 Keterampilan Olah Vokal

Pengaturan pernafasan dalam berbicara sangat penting. Oleh karena itu perlu
latihan pernafasan agar mampu bernafas lebih panjang dan kemudian mampu
berbicara dengan lebih baik.

 Keterampilan Olah Tubuh

Untuk memperoleh sikap tubuh yang baik dalam penampilan tidaklah mudah.
Keseluruhan sikap tubuh seperti: tatapan mata, ekspresi wajah dan gerakan-
gerakan tubuh yang lain merupakan suatu bahasa tanpa kata. Oleh sebab itu,
apabila setiap gerakan digabungkan dengan kata-kata secara keseluruhan akan
sangat bermanfaat bagi para pendengar. Namun demikian harus sesuai dengan
berita yang dibawakan.

Hal-hal yang perlu diperhatikan:

1. Pandangan Mata

Pandanglah semua orang secara seimbang, sehingga interaksi berjalan dengan


hangat dan baik. Hindarilah tatapan liar, tatapan yang hanya terfokus pada
satu arah, tatapan ke atas, atau muka menunduk. Pandanglah semua orang
secara merata. Apabila ada orang terlihat, atau sedang berjalan di luar jendela,
jangan sekali-sekali kita meliriknya, karena akan mengganggu konsentrasi,
baik bagi pengkhotbah maupun bagi pendengar.

2. Ekspresi Wajah

Ekspresi wajah (mimik) sangat dibutuhkan untuk membahasakan maksud dari


kata-kata khotbah yang disampaikan. Jika ingin membawa suasana sukacita,
bersukacitalah. Sebaliknya jika ingin menunjukkan kesedihan tunjukkanlah
muka yang sedih atau prihatin. Misalnya, percuma jika jemaat diajak
bersukacita padahal muka pengkhotbah sedang cemberut. Hindarilah mimik
yang tegang dan dingin, tetapi jangan mengobral tawa dan sebagainya yang
bisa menimbulkan kesan murahan (Bandingkan dengan 2 Timotius 1:7).

Sebab Allah memberikan kepada kita bukan roh ketakutan, melainkan roh
yang membangkitkan kekuatan, kasih dan ketertiban.

36
Homiletika (Declaring The Kingdom) 2019 Stefanus Suheru, M.Si.Teol.

13. Perlunya Berlatih Berkhotbah

Mengapa kita perlu berlatih berkhotbah?

Latihan membuat kita:

A. Mengetahui khotbah dengan baik


B. Mengkomunikasikan khotbah dengan baik
C. Menyeleksi materi untuk menjaga waktu kita

14. Bagaimana Kita Berlatih Berkhotbah

RABU KAMIS JUM’AT SABTU MINGGU


Naskah Bacakan 2 kali Khotbah Khotbah tanpa Khotbah 1-3
Khotbah dengan suara dengan melihat melihat teks kali atau lebih
selesai keras sekejap atau melihat
Kerangka
khotbah
4 hari 3 hari 2 hari 1 hari Siap Tampil
sebelumnya sebelumnya sebelumnya sebelumnya

Rangkuman:
 Hanya ada satu cara untuk menggabungkan ketepatan bahasa dengan kecepatan
penyampaian, yaitu dengan menuliskan khotbah kita dalam studi kita, tetapi
hindari untuk membacanya di atas mimbar.

 Proses keseluruhan dari persiapan khotbah, dari awal hingga akhir, secara
mengagumkan dirangkum oleh pengkhotbah Amerika berkulit hitam yang
mengatakan, ‘Pertama, saya membaca seluruhnya, kemudian saya berpikir
dengan jelas, lalu saya berdoa dengan bersemangat, akhirnya saya
berkhotbah’.

15. Beberapa Hal Bagi Pengkhotbah Untuk Meningkatkan


Khotbahnya

1. Banyak membaca/mendengarkan khotbah-khotbah dari para pengkhotbah terkenal


(bila berbesar hati, juga dari berbagai aliran). Semua ini akan memperkaya
metode khotbah kita.
2. Memperhatikan cara-cara mereka menyelidiki, menyampaikan, struktur, bahasa
dan lain-lain. Setelah itu evaluasilah; perhatikan kelebihan dan kekurangan
mereka.
3. Banyak membaca dan mendengar riwayat orang-orang terkenal, bagaimana cara
mereka meningkatkan kemampuan mereka dan sikap mereka ketika berkhotbah
dan setelah berkhotbah.

37
Homiletika (Declaring The Kingdom) 2019 Stefanus Suheru, M.Si.Teol.

4. Banyak membaca buku Psikologi Kristen dan Psikologi pada umumnya yang
dipandang dari sudut iman Kristen. Hal ini akan menolong untuk mengetahui
pergumulan manusia dan karakter serta kebutuhan manusia. Pengetahuan ini akan
menolong pengkhotbah untuk dapat berkhotbah yang menjawab kebutuhan
pendengar.
5. Mintalah seorang teman untuk memberitahukan kelemahan kita. Tidak ada orang
yang sempurna karena itu evaluasi sangatlah penting peranannya.
6. Bersyukurlah karena di dalam Alkitab banyak sekali ajaran dan contoh kebenaran.
Oleh karena itu, mintalah pada Tuhan untuk mempunyai hati yang tidak cepat
puas setelah menyelesaikan satu penggalian/khotbah yang baik (Keluaran 4:10-
11).
7. Catatlah peristiwa-peristiwa yang menarik dan mengesankan, apakah itu peristiwa
yang lucu atau yang menyedihkan atau yang mendatangkan semangat. Catatlah
kata-kata yang menarik yang mungkin kita temukan. Semua catatan ini akan
sangat membantu kita dalam mempersiapkan khotbah.
8. Harus diingat, berkhotbah adalah pelayanan yang Tuhan berikan kepada seorang
hamba Tuhan (pengkhotbah) sepanjang umur, sehingga harus memacu diri untuk
selalu meningkatkan mutu khotbah (Inovatif).

38
Homiletika (Declaring The Kingdom) 2019 Stefanus Suheru, M.Si.Teol.

16. EVALUASI PRAKTEK KHOTBAH

Nama Mahasiswa :
Program : S-1 Teologi/S-1 PAK/S-2 Teologi/Pendengar
Nats :
Tema Khotbah :

Kriteria Penilaian

No Unsur-unsur Khotbah Nilai Prosentasi


1. Pendahuluan
2. Isi Khotbah Nilai Rata-rata :
a. Tafsir
b. Penerapan Prosentasi = 70 % x
c. Illustrasi ( bila ada ) =
d. Pembuktian Gagasan Pokok
e. Wawasan Khotbah
3. Kesimpulan
4. Sistimatika
5. Bahasa
6. Penampilan/Penyajian Nilai Rata-rata :
a. Sikap
b. Suara Prosentasi = 30 % x
c. Ekspresi =
NILAI AKHIR + =

Catatan :

[1] Penilaian setiap bagian ditulis dengan angka dari 30 - 100.


[2] Nilai Akhir adalah jumlah nilai dari point 1 - 5 yang diambil 70% dan point 6
yang diambil 30%.
[3] Penilai dapat memberikan komentar untuk penilaiannya di balik lembaran ini.

Denpasar, ...........................................
Penilai,

( ………………………………………. )

39
Homiletika (Declaring The Kingdom) 2019 Stefanus Suheru, M.Si.Teol.

DAFTAR PUSTAKA

1. Abineno, J.L. Ch. Pemberitaan Firman Pada Hari-hari Raya Gerejani. Jakarta: BPK
Gunung Mulia, 1985.
2. -----, Jemaat, Ujud, Peraturan, Susunan. Pelayanan dan Pelayan-pelayannya.
Jakarta: BPK Gunung Mulia,1981.
3. Andreas. Sabda dalam Kata. Bandung. Yayasan Kalam Hidup, 2000.
4. Anggraito, Noor. Menyiapkan Khotbah Ekspositori Secara Praktis. Yogyakarta:
Yayasan Andi, 2001.
5. Braga, James. Cara Mempersiapkan Khotbah, Malang: Yayasan Penerbit Gandum
Mas, 1996.
6. de Jong, S. Khotbah, Persiapan, Isi dan Bentuk. Jakarta: BPK Gunung Mulia, 1989.
7. Evans, William. Cara mempersiapkan Khotbah, Jakarta: BPK Gunung Mulia, 1998.
8. Ginting, E. P. Khotbah dan Pengkhotbah Jakarta: BPK Gunung Mulia, 1998.
9. Gollwitzer, Helmut. Khotbah Masa Kini. Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2003.
10. Gulleson, J. Bagaimana Berkhotbah. Surabaya: Yakin, 2004.
11. Kinlaw, F. Dennis. Berkhotbah Dalam Roh. Malang: Gandum Mas, 1997.
12. Koller, W. Charles. Khotbah Ekspositori Tanpa Catatan. Bandung: Kalam Hidup,
1997.
13. Lane, D. J.V. Beritakanlah Firman. Jakarta: Bina Kasih, 1981.
14. Lee, D.W. Khotbah Ekspositori Yang Membangunkan Pendengar. Bandung:
Lembaga Literatur Baptis, 2002.
15. Pouw, P.H. Homiletika. Bandung:Yayasan Kalam Hidup , 1994.
16. Robinson, Haddon. Cara Berkhotbah Yang Baik. Yogyakarta: Penerbit Yayasan Andi
2002.
17. Rothlisberger, H. Homiletika, Jakarta: BPK Gunung Mulia, 1997.
18. Sutanto, Hasan. Homiletik: Prinsip dan Metode Berkhotbah. Jakarta: BPK Gunung
Mulia, 2004.

40