Anda di halaman 1dari 8

KEMENTERIAN RISET, TEKNOLOGI, DAN PENDIDIKAN TINGGI

POLITEKNIK NEGERI MEDAN


JURUSAN TEKNIK SIPIL
Jl. Almamater No. 1 Kampus USU 20155, Indonesia
Tel. (061)8210371, 8211235, 8215951, 8210436, Fax. (061)8215845
http://www.polmed.ac.id email: sipil_polmed@yahoo.co.id
Telepon Jurusan Teknik Sipil : (061)8225153

PEMERIKSAAN INDEKS KEPIPIHAN DAN KELONJONGAN


(flakiness and elongation index)

A. TUJUAN
Tujuan dari pengujian ini adalah unutuk menentukan persentase indeks kepipihan
dan kelonjongan suatu agregat dan dapat menyimpulkan besarnya nilai indeks kepipihan
dan kelonjongan dari hasil pengujian yang mengacu pada standar yang dipakai untuk
perkerasan jalan.

B. TEORI DASAR
Bentuk butiran agregat adalah ukuran normal dari sebuah agregat dimana ukuran
nomimal ini bergantung pada besar ukuran agregat dominan pada suatu gradasi tertentu.
Pengujian ini bertujuan untuk menguji keseragaman agregat pada suatu konstruksi, agar
memperluas perencanaan dan pelaksanaan pekerjaan pada konstruksi tersebut.
Ada 3 macam bentuk agregat dengan pengertian, sebagai berikut
1. Butiran agregat berbentuk lonjong\
Bahan agregat yang memiliki rasio panjang terhadap lebar lebih besar dari nilai
yang ditentukan dalam spesifikasi.
2. Butiran agregat berbentuk pipih
Bahan agregat yang memiliki rasio lebar terhadap besar lebih besar dari nilai
yang ditentukan dalam spesifikasi.
3. Butiran agregat berbentuk pipih dan lonjong
Bahan agregat yang memiliki rasio panjang terhadap tebal besar dari nilai yang
ditentukan dalam spesifikasi.
KEMENTERIAN RISET, TEKNOLOGI, DAN PENDIDIKAN TINGGI
POLITEKNIK NEGERI MEDAN
JURUSAN TEKNIK SIPIL
Jl. Almamater No. 1 Kampus USU 20155, Indonesia
Tel. (061)8210371, 8211235, 8215951, 8210436, Fax. (061)8215845
http://www.polmed.ac.id email: sipil_polmed@yahoo.co.id
Telepon Jurusan Teknik Sipil : (061)8225153

Pada batuan alam maupun hasil crushing plant terdapat fraksi-fraksi agregat yang
memilii berbagai macam bentuk. British Standard Institution (BSI) membagai bentuk-
bentuk agregat menjadi 6 kategori yaitu :

1. Butir Pipih (Elongated)


Dikatakan seperti ini apabila panjangnya melebihi dua sumbu pokok.
Butir ini juga dikatakan panjang apabila panjangnya lebih besar 3 kali lebarnya.
2. Butir Pipih (Flacky)
Dikatakan pipih apabila tebalnya jauh lebih kecil dari 2 dimensi lainnya
dan biasanya tebal agregat kurang dari 1/3 tebal ukuran agrerat rata-rata
kepipihan berpengaruh buruk kepada daya tahan atau keawetan beton aspal karena
agregat ini cenderung berkedudukan pada bidang rata, sehingga terdapat rongga
udara dibawahnya.
3. Butir Bulat (Rounded)
Dikatakan bulat apabila rasio permukaan volume kecil, agregat bulat
mempunyai rongga udara minimum 33 %. Hal ini berarti butir pipih mempunyai
rasio luas permukaan volume kecil. Butir bulat ini biasanya berbentuk bulat penuh
atau telur, termasuk jenis ini adalah kerikil, kerikil yang berasal dari sungai atau
pantai.
4. Butir Bersudut (Angular)
Dikatakan butir bersudut apabila permukaan agregat bersudut agak tajam.
Ikatan antara butiran bersudut ini sangat baik, sehingga mempunyai daya lekat
yang lebih baik pula dan butiran bersudut ini mempunyai rongga berkisaran 30 –
40 %. Butiran bersudut biasa diperoleh dari batu pecah.

5. Butir Tidak Beraturan (Irregular)


Dikatakan butir tidak beraturan karena benuk alaminya memang tidak
beraturan sebagian terjadi karena pengerasan dan mempunyai sisi atau tepi yang
KEMENTERIAN RISET, TEKNOLOGI, DAN PENDIDIKAN TINGGI
POLITEKNIK NEGERI MEDAN
JURUSAN TEKNIK SIPIL
Jl. Almamater No. 1 Kampus USU 20155, Indonesia
Tel. (061)8210371, 8211235, 8215951, 8210436, Fax. (061)8215845
http://www.polmed.ac.id email: sipil_polmed@yahoo.co.id
Telepon Jurusan Teknik Sipil : (061)8225153

berat. Yang termasuk jenis ini adalah kerikil sungai, kerikil darat yang berasal dari
lahar gunung berapi.
6. Butir Lonjong dan Pipih (Flacky and Elongated)
Dikatakan seperti ini karena jenis ini mempunyai panjang yang jauh lebih besar
dari semua tebalnya, sedangkan lebarnya jauh lebih besar dari tebalnya.
Umumnya butiran ini berjumlah kecil dari 15 % saja, karena akan berpengaruh
terhadap daya tahan atas keawetan beton aspal.
BSI menentukan ika perbandingan antara rata-rata diameter dengan diameter
terpanjang kurang dari 0,55 maka bentuk agregat tersebut lonjong, sedangkan jika
perbandingan antara diameter terpendek dengan rata-rata diameter kurang dari 0,60
maka bentuk agregat termasuk pipih.
Collist (1985) berpendapat bahawa agregat berbentuk pipih jika agregat tersebut lebih
tipis minimal 60% dari diameter rata-rata. Sedangkan agregat berbentuk lonjong jika
ukuran terpanjangnya lebih panjang minimal 180% diameter rata-rata. Diameter rata-
rata dihitung berdasarkan ukuran saringan, misalnya untuk agregat yang lolos saringan
14,0 mm dan tertahan di saringan 10,0 mm (14 – 10 mm), maka diameter rata-ratanya
adalah 11,25 mm.

C. REFRENSI
1. Diktat Mata Kuliah Lab. Perkerasan
2. Standar Bina Marga Spesifikasi Umum 2010 Revisi 3 Ketentuan Agregat Kasar

D. PERALATAN
1. Alat pengukuran kepipihan dan kelonjongan
Alat kepipihan dan kelonjongan sesuai yang sesuai dengan standar yang
akan dipakai pada penmeriksaan.
KEMENTERIAN RISET, TEKNOLOGI, DAN PENDIDIKAN TINGGI
POLITEKNIK NEGERI MEDAN
JURUSAN TEKNIK SIPIL
Jl. Almamater No. 1 Kampus USU 20155, Indonesia
Tel. (061)8210371, 8211235, 8215951, 8210436, Fax. (061)8215845
http://www.polmed.ac.id email: sipil_polmed@yahoo.co.id
Telepon Jurusan Teknik Sipil : (061)8225153

Gambar 1.1 Alat pengukuran kepipihan dan kelonjongan.


2. Saringan Agregat
Saringan yang akan digunakan pada saat persiapan bahan adalah saringan
diameter 37,5 mm dan 12,5 mm, kemudian pada saat pemeriksaan dipakai
saringan mulai dari saringan dengan diameter terbesar adalah saringan diameter
25 mm, 19 mm, 12,5 mm dan PAN

Gambar 1.2 Saringan 37.5, 25, 19, 12.5,

3. Timbangan dengan Ketelitian 0,1 gram.


Pada pengujian ini timbangan yang digunkan adalah timbangan digital
dengan ketelitian 0,1 gram.
4. Talam (PAN) Tempat Agregat
Talam digunakan sebgai tempat agregat setelah diayak yang kemudian akan
ditimbang.

E. BAHAN
Bahan yang digunakan adalah agregat yang telah disiapkan kemudian disaring untuk
sampel pemeriksaan. Sampel yang digunakan adalah agregat yang lolos saringan 37,5
mm dan tertahan saringan 12,5 mm dengan berat sampel ±5000 gr.
KEMENTERIAN RISET, TEKNOLOGI, DAN PENDIDIKAN TINGGI
POLITEKNIK NEGERI MEDAN
JURUSAN TEKNIK SIPIL
Jl. Almamater No. 1 Kampus USU 20155, Indonesia
Tel. (061)8210371, 8211235, 8215951, 8210436, Fax. (061)8215845
http://www.polmed.ac.id email: sipil_polmed@yahoo.co.id
Telepon Jurusan Teknik Sipil : (061)8225153

Gambar 1.3 Berat agregat 500 gr.


F. PROSEDUR PELAKSANAAN
1. Adapun prosedur pengujian kepipihan dan kelonjongan agregat adalah
a. Lakukan kembali penyaringan terhadap ± 5000 gr (M1) agregat dalam urutan
saringan diameter 25 mm, 19 mm, dan 12,5 mm, lihat gambar 2.9 kemudian
timbang berat tertahan masing-masing saringan.

Gambar 1.4 Melakukan penyarigan agregat.


b. Timbang berat agregat setiap saringan yang tertahan

Gambar 1.5 Pisahkan setiap saringan. Gambar 1.6 Berat tertahan ukuran25 mm.

Gambar 1.7 Berat tertahan ukuran 25 mm. Gambar 1.8 berat tertahan ukuran 12,5 mm.
KEMENTERIAN RISET, TEKNOLOGI, DAN PENDIDIKAN TINGGI
POLITEKNIK NEGERI MEDAN
JURUSAN TEKNIK SIPIL
Jl. Almamater No. 1 Kampus USU 20155, Indonesia
Tel. (061)8210371, 8211235, 8215951, 8210436, Fax. (061)8215845
http://www.polmed.ac.id email: sipil_polmed@yahoo.co.id
Telepon Jurusan Teknik Sipil : (061)8225153

c. Pengukuran kepipihan dan kelonjongan dilakukan per fraksi (saringan) dan hanya
fraksi (saringan) yang memiliki persentase berat tertahan lebih besar atau sama
dengan 5%. Jumlah berat total setiap fraksi (saringan) yang memiliki persentase
berat lebih besar atau sama dengan 5% dinyatakan sebgai (M2F)
2. Uji kepipihan (flakines)
a. Setelah agregat setiap fraksi (saringan) yang telah memenuhi syarat ditimbang
(M2F), kemudian lewatkan dengan tangan setiap butir agregat pada lubang alat
penguji kepipihan sesuai dengan ukurannya.

Gambar 1.9 Agregat dilewatkan menggunakan alat kepipihan.

b. Pisahkan agregat yang lewat dengan yang tertahan pada alat kepipihan sesuai
dengan ukuran lubangnya, kemudian timbang berat agregat yang lewat masing-
masing fraksi (saringan).

Gambar 1.10 Berat lolos ukuran12,5 mm. Gambar 1.11 berat tertahan ukuran 12,5 mm.

Gambar 1.12 Berat lolos ukuran 19 mm. Gambar 1.13 berat tertahan ukuran 19 mm.
KEMENTERIAN RISET, TEKNOLOGI, DAN PENDIDIKAN TINGGI
POLITEKNIK NEGERI MEDAN
JURUSAN TEKNIK SIPIL
Jl. Almamater No. 1 Kampus USU 20155, Indonesia
Tel. (061)8210371, 8211235, 8215951, 8210436, Fax. (061)8215845
http://www.polmed.ac.id email: sipil_polmed@yahoo.co.id
Telepon Jurusan Teknik Sipil : (061)8225153

c. Lakukan hal yang sama untuk fraksi (saringan) lainnya yang memiliki persentase
berat tertahan lebih atau sama dengan 5%.
d. Untuk indeks kepipihan total jumlah agregat yang lewat dari setiap fraksi
(saringan) dinyatakan sebagai (M3F).
3. Uji kelonjongan (engolation)
a. Pengujian kelonjongan hampir sama dengan pengujian kepipihan. Setelah agregat
setiap fraksi (saringan) yang telah memenuhi syarat ditimbang (M2E), kemudian
lewatkan dengan tangan setiap butir agregat pada alat penguji kelonjongan sesuai
dengan ukurannya.

Gambar 1.14 Agregat dilewatkan menggunakan alat kelonjongan


b. Pisahkan agregat yang lewat dengan yang tertahan pada alat kelonjongan sesuai
dengan ukuran lubangnya, kemudian timbang berat agregat yang tertahan masing-
masing fraksi (saringan).

Gambar 1.15 Berat tertahan ukuran 12,5 Gambar 1.16 Berat lolos ukuran 12,5
KEMENTERIAN RISET, TEKNOLOGI, DAN PENDIDIKAN TINGGI
POLITEKNIK NEGERI MEDAN
JURUSAN TEKNIK SIPIL
Jl. Almamater No. 1 Kampus USU 20155, Indonesia
Tel. (061)8210371, 8211235, 8215951, 8210436, Fax. (061)8215845
http://www.polmed.ac.id email: sipil_polmed@yahoo.co.id
Telepon Jurusan Teknik Sipil : (061)8225153

c. Lakukan hal yang sama untuk fraksi (saringan) lainnya yang memiliki persentase
berat tertahan lebih atau sama dengan 5%.
d. Untuk indeks kelonjongan total jumlah agregat yang tertahan dari setiap fraksi
(saringan) dinyatakan sebagai (M3E).
G. ANALISA PERHITUNGAN
1. Kepipihan (Flakiness)
a. Berat total sampel agregat (M1) = 5000 gram
b. Berat total agregat tertahan diatas 5% (M2F ) = 5000,3 gram
c. Berat total agregat lolos alat kepipihan (M3F) = 319,5 gram
𝑀1𝐹
d. Indeks Kepipihan (FI) = 𝑥 100%
M2F
319,5
Indeks Kepipihan (FI) = 𝑥 100%
5000,3

= 6,39%
2. Kelonjongan (Elongation)
a. Berat total sampel agregat (M1) = 5000 gram
b. Berat total agregat tertahan diatas 5% (M2E ) = 5000,3 gram
c. Berat total agregat lolos alat kepipihan (M3E) = 4994,2 gram
𝑀1𝐸
d. Indeks Kepipihan (FI) = 𝑥 100%
M2E
4994,2
Indeks Kepipihan (FI) = 𝑥 100%
5000,3

= 99,88%