Anda di halaman 1dari 14

Jurnal Gizi dan Pangan, November 2007 2(3): 13 - 25

PERSEPSI, KONSUMSI DAN PREFERENSI MINUMAN BERENERGI


(Perception, Consumption and Preferences of Energy Drink)

Ratika Putriastuti1, Lilik Kustiyah2, dan Faisal Anwar2


1
Alumni Program Studi Gizi Masyarakat dan Sumberdaya Keluarga, Fakultas Pertanian (FAPERTA) IPB
2
Staf Pengajar Departemen Gizi Masyarakat, Fakultas Ekologi Manusia (FEMA), IPB
Telp: 0251-8628304/8621258; Fax: 0251-8625846/8622276

ABSTRACT

The aims of this research were to study perception, consumption and preferences of
energy drink and also to analyze relationship between content of energy and caffeine in
energy drink. This research used cross sectional study design and conducted in Solo
(Terminal Tirtonadi, Terminal Kartasuro and Palur). The respondent (36 persons) was
chosen by convenience sampling. Method used to analyze energy content was bomb
calorimeter, while caffeine obstetrical analysis used spectrophotometer. The respondent
consumed Extra Joss (44.4%), Hemaviton Jreng (19.4%), Kuku Bima Energy (13.9%),
Kratingdaeng (8.3%), M-150 (5.6%), Hemaviton Energy drink (5.6%) and the rest Fit Up
tablet. Reason of consumption is for stamina. The most important attributes selected by
respondent were energy adding and activity supporter benefits. Time of working with
consumptions (frequency and sum of consumptions) have significant relationship (p<0.05).
Energy content (Kal/g) of Extra Joss was 4 278, Hemaviton Jreng 2 599, and Kuku Bima
Energy 2 720, then caffeine content (mg/kg) of samples was 8 778, 7 688 dan 9 252,
respectively.
Keywords: Perception, Consumption, Preferences, Energy Drink

PENDAHULUAN (berasal dari tumbuhan atau bukan tumbuhan)


yang mempunyai nilai gizi dan atau efek fisio-
Latar Belakang logis dalam jumlah konsentrasi serta dalam
bentuk konsentrat, metabolit, konstituen, eks-
Pangan merupakan kebutuhan utama
trak atau kombinasi dari bahan-bahan sebe-
manusia yang terdiri dari makanan dan minum-
lumnya (BPOM, 1996). Beberapa suplemen
an. Pangan berfungsi sebagai sumber zat tena-
makanan berperan dalam menyuplai energi
ga (energi), zat pengatur dan zat pembangun
dan menjadi salah satu alternatif apabila dari
bagi tubuh. Sekarang masyarakat lebih memi-
konsumsi pangan tidak mencukupi. Hal ini da-
lih kepraktisan dalam mengkonsumsi pangan.
pat dilihat dengan banyaknya orang yang lebih
Hal ini menyebabkan terjadinya perubahan po-
suka mengambil cara cepat untuk memperoleh
la konsumsi sehingga menjadi trend baru sei-
energi dengan minuman berenergi (energy
ring berubahnya gaya hidup masyarakat.
drink). Bahkan, banyak yang mengonsumsi
Pada dasarnya setiap orang memerlukan minuman berenergi setiap hari karena berang-
suplai energi yang cukup untuk dapat melaku- gapan minuman berenergi sebagai sumber
kan aktivitas sehari-hari. Energi ini dapat di- tenaga tambahan yang siap untuk digunakan
peroleh dari makanan atau suplemen. Sumber tubuh untuk melakukan aktivitas dan mengon-
makanan penghasil energi adalah karbohidrat, sumsi multivitamin untuk memperlancar proses
protein dan lemak. Energi tersebut digunakan metabolisme tubuh.
untuk metabolisme basal (mendukung proses
Minuman berenergi termasuk ke dalam
metabolisme dasar tubuh) serta untuk aktivitas
minuman suplemen yang didefinisikan sebagai
fisik (Gaman & Sherrington 1990). Selain itu,
minuman yang mengandung vitamin, mineral
tubuh juga memerlukan protein sebagai zat
serta stimulan seperti kafein, guarana, taurin,
pembangun dan juga vitamin dan mineral
variasi bentuk ginseng, maltodextrin, carni-
sebagai zat pengatur.
tine, creatine, dan ginkgo biloba (Wikipedia,
Suplemen memiliki batasan istilah yaitu 2006). Pada produk ini ditambahkan zat-zat
produk yang digunakan untuk melengkapi ke- tertentu yang dapat meningkatkan energi tu-
butuhan zat gizi makanan, mengandung satu buh. Sumber lainnya yang juga mempengaruhi
atau lebih bahan-bahan sebagai berikut yaitu: kecepatan reaksi adalah kandungan zat stimu-
vitamin, mineral, asam amino atau bahan lain lan seperti kafein dan taurin. Kedua zat ini

13
Jurnal Gizi dan Pangan, November 2007 2(3): 13 - 25

berfungsi untuk memperlancar metabolisme Penelitian dilakukan di Terminal Bis Solo Jawa
tubuh (Marlinda, 2001). Tengah yaitu Terminal Tirtonadi, Kartasura,
serta Palur. Pemilihan tempat/lokasi peneliti-
Pangsa pasar produk minuman berenergi
an dilakukan secara purposive dengan pertim-
sangat luas dan hal ini dapat dilihat dari per-
bangan terdapat kemudahan akses untuk men-
tumbuhan yang spektakuler sejak tahun 1997
dapatkan responden supir bis malam. Pengam-
yang meliputi orang muda, pelajar, orang-
bilan data dilakukan pada bulan Mei 2007.
orang yang sedang bepergian serta orang yang
Analisis kandungan energi dilakukan di Labora-
sedang berolahraga (Wikipedia 2006). Salah
torium Nutrisi, Fakultas Peternakan, IPB. Ana-
satunya adalah supir bis malam yang melaku-
lisis kandungan kafein dilakukan di Balai Besar
kan aktivitas bepergian jauh sehingga membu-
Industri Agro (BBIA) Bogor. Kedua analisis ter-
tuhkan asupan energi yang lebih.
sebut dilakukan pada bulan Juli 2007.
Menurut Sudarisman (1997), rata-rata
produksi minuman suplemen 93.2 juta li- Cara Pengambilan Contoh
ter/tahun yang terdiri dari dua produsen susu
Contoh penelitian ini adalah supir bis
dengan kapasitas 24.2 juta liter/tahun, 14
malam dengan pertimbangan bahwa contoh
produsen minuman berenergi dengan kapasitas
tersebut merupakan konsumen tetap minuman
produksi 10.4 juta liter/tahun dan tujuh pro-
berenergi yang mengonsumsi minuman ber-
dusen minuman isotonik dengan kapasitas pro-
energi secara rutin, memiliki pekerjaan yang
duksi 10.4 juta liter/tahun. Bahkan volume
berat serta mau diwawancarai. Teknik pena-
produksi salah satu minuman berenergi dapat
rikan contoh dilakukan dengan cara conveni-
mencapai rata-rata 70 juta bungkus/bulan
ence sampling. Contoh yang digunakan dalam
(Hidayat, 2002).
penelitian ini sejumlah 36 orang.
Kemajuan industri minuman berenergi
Pemilihan sampel yang dianalisis kan-
ini tentunya tidak lepas dari peranan iklan se-
dungan energi dan kafein berdasarkan kon-
bagai media promosi kepada masyarakat.
sumsi merek minuman berenergi responden
Bahkan iklan–iklan ini sangat gencar di berba-
yang paling banyak, yaitu Extra Joss Serbuk,
gai media atau event tertentu seringkali
Hemaviton Jreng dan Kuku Bima Energy.
mengemukakan klaim-klaim produk tersebut.
Tidak sedikit masyarakat yang percaya terha-
Metode Analisis Kandungan Kafein
dap klaim-klaim serta memiliki persepsi dan
preferensi tersendiri mengenai produk terse- Analisis yang dilakukan pada penelitian
but. Ketelitian dalam memilih dan informasi ini ada 2 jenis yaitu analisis kandungan energi
yang cukup tentang produk yang akan kita kon- dan analisis kandungan kafein. Metode yang
sumsi menjadi demikian penting. Berkaitan digunakan untuk menganalisis kandungan ener-
dengan hal tersebut, penulis tertarik untuk gi yaitu menggunakan bomb calorimeter se-
mengkaji lebih lanjut mengenai persepsi, kon- dangkan analisis kandungan kafein mengguna-
sumsi dan preferensi minuman berenergi khu- kan spektrofotometer.
susnya pada supir bis malam.
Jenis dan Cara Pengumpulan
Tujuan
Data yang dikumpulkan berupa data
Tujuan dari penelitian ini adalah meng- primer yang meliputi karakteristik contoh,
identifikasi persepsi dan preferensi contoh ter- persepsi contoh (manfaat yang dirasakan serta
hadap minuman berenergi, mengidentifikasi efek dari konsumsi minuman berenergi), kebia-
kebiasaan konsumsi minuman berenergi con- saan konsumsi minuman berenergi (frekuensi,
toh, menganalisis hubungan antara karakteris- jumlah, jenis, tempat pembelian, waktu kon-
tik contoh dengan persepsi, konsumsi dan pre- sumsi, alasan pembelian), serta preferensi
ferensi, dan menganalisis kandungan energi contoh terhadap minuman berenergi. Data pri-
dan kafein pada minuman berenergi. mer diperoleh dari wawancara dengan contoh
dengan alat bantu kuesioner. Data primer lain-
nya adalah hasil analisis laboratorium tentang
METODE PENELITIAN kandungan energi dan kandungan kafein pada
minuman berenergi.
Desain, Tempat dan Waktu
Pengolahan dan Analisis Data
Penelitian mengenai Persepsi, Konsumsi
dan Preferensi Minuman Berenergi ini menggu- Data diolah secara deskriptif dan infe-
nakan desain penelitian Cross Sectional Study. rensia dengan menggunakan perangkat lunak

14
Jurnal Gizi dan Pangan, November 2007 2(3): 13 - 25

Microsoft Excel 2003 dan SPSS 11.5 for Cair, Lipovitan dan lainnya. Tabel 2 menunjuk-
Windows. kan merek minuman berenergi yang dikonsum-
si contoh. Merek terbanyak yang dikonsumsi
Data primer meliputi karakteristik con-
adalah Extra Joss sebesar 44.4% (16 contoh),
toh, persepsi, kebiasaan konsumsi, dan pre-
19.4% mengonsumsi merek Hemaviton Jreng
ferensi ditabulasi dan diinterpretasikan secara
dan 13.9% mengonsumsi merek Kuku Bima
deskriptif dengan tabel frekuensi dan tabulasi
Energy. Menurut Koentjaraningrat (1986) apa-
silang serta untuk mengetahui hubungan antar
bila perilaku konsumsi dilakukan berulang-
variabel dilakukan Uji Chi-Square. Data yang
ulang maka akan menjadi kebiasaan makan
diolah secara deskriptif meliputi karakteristik
(Khumaidi, 1994).
contoh, konsumsi minuman berenergi, persepsi
contoh dan preferensi contoh. Data primer
Tabel 1. Sebaran Contoh berdasarkan Karak-
lainnya adalah hasil analisis laboratorium yang
teristik contoh
diinterpretasikan secara deskriptif.
Pengkategorian frekuensi konsumsi dan Karakteristik contoh n %
jumlah konsumsi dibagi berdasarkan interval
selang (Slamet, 1993). Data persepsi diolah se- Usia
cara deskriptif dan diberi skor. Selanjutnya 24-30 tahun 9 25
dikategorikan menjadi persepsi baik jika jum- 31-37 tahun 12 33.3
lah skor persepsi lebih dari dua dan persepsi 38-44 tahun 10 27.8
buruk jika jumlah skor persepsi kurang dari 44-50 tahun 5 13.9
atau sama dengan dua dengan menggunakan Total 36 100
perhitungan interval selang. Rata-rata ± sd 36.5 ± 6.5
Data mengenai preferensi diukur dengan Pendidikan
Skala Likert. Skala Likert tersebut meliputi Tidak sekolah 1 2.8
Sangat Penting (skor 5), Penting (skor 4), Biasa SD/sederajat 3 8.3
(skor 3), Tidak Penting (skor 2) dan Sangat SMP/sederajat 19 52.8
Tidak Penting (skor 1). Selanjutnya skor dari SMA/sederajat 13 36.1
setiap atribut dijumlahkan kemudian dikatego- Perguruan tinggi/Akademi 0 0
rikan berdasarkan perhitungan standar deviasi.
Total 36 100
Pendapatan per bulan
HASIL DAN PEMBAHASAN < 680 000 4 11.1
680 001- 800 000 16 44.4
Karakteristik Contoh 800 001- 920 000 11 30.6
> 920 001 5 13.9
Hasil penelitian menunjukkan bahwa
persentase terbesar umur contoh (33.3%) ber- Total 36 100
ada pada kategori 31-37 tahun. Lebih dari Rata-rata ± sd 815 555.6 ± 122 334.8
separuh contoh (52.8%) memiliki tingkat pen- Jam kerja per hari
didikan SMP. Rata-rata pendapatan per bulan 10-13 jam 31 86.1
contoh adalah Rp 815 555.6±122 334.8 dengan >13 jam 5 13.9
persentase terbesar (44.4%) berada pada ting- Total 36 100
kat pendapatan Rp 680 001 - Rp 800 000 per Rata-rata ± sd 12.2 ± 1.6
bulan. Rata-rata lama bekerja per hari contoh
adalah 12.2 ± 1.6 jam/hari. Data tersebut se-
cara lebih lengkap disajikan pada Tabel 1. Tabel 2. Sebaran Contoh berdasarkan Merek
yang Dikonsumsi
Konsumsi Minuman Berenergi Merek yang dikonsumsi n %
Jenis dan Bentuk Minuman yang Dikonsumsi Extra Joss Serbuk 16 44.4
Hemaviton Jreng 7 19.4
Kegiatan mengonsumsi pada penelitian
Kuku Bima Energy 5 13.9
ini merupakan perilaku atau tindakan memi-
Kratingdaeng 3 8.3
num minuman berenergi. Minuman berenergi
M-150 2 5.6
yang beredar di pasaran sangat beragam.
Hemaviton Energy Drink 2 5.6
Merek yang ditawarkan mulai dari Extra Joss,
Fit Up Tablet 1 2.8
Hemaviton Jreng, Kuku Bima Energy, Krating- Total 36 100
daeng, M-150, Hemaviton Energy Drink, Fit Up
Tablet, Fit Up Cair, Sakatonik Jreng, Extra Joss

15
Jurnal Gizi dan Pangan, November 2007 2(3): 13 - 25

Kemasan merupakan salah satu alat pen- Tabel 4. Sebaran Contoh berdasarkan Banyak-
jualan paling vital dalam pemasaran karena nya uks Setiap Kali Minum
produk akan mempunyai gambaran jelas da- Banyak uks setiap
lam pikiran konsumen melalui kemasan. Sebe- n %
minum
sar 77.8% contoh mengonsumsi minuman ber-
energi dalam bentuk kemasan sachet, sebesar 1 uks 33 91.7
19.4% memilih kemasan botol dan hanya sedi- 2 uks 3 8.3
kit contoh (2.8%) mengonsumsi minuman ber- Total 36 100.0
energi dalam bentuk tablet, yaitu Fit Up Tab-
let. Hal ini disebabkan karena kemasan sachet
Rata-rata jumlah konsumsi minuman
memiliki harga yang terjangkau, lebih mudah
berenergi per minggu yaitu 9.7 uks/minggu.
didapatkan di daerah tempat kerja serta
Tabel 5 menunjukkan lebih dari separuh con-
praktis.
toh (66.7%) termasuk dalam kategori rendah
sedangkan hanya sedikit contoh (2.8%) terma-
Frekuensi Konsumsi Minuman Berenergi
suk dalam kategori tinggi dalam mengonsumsi
Rata-rata frekuensi konsumsi minuman minuman berenergi.
berenergi contoh yaitu 8.7 kali/minggu (Tabel
3). Lebih dari separuh contoh (55.6%) termasuk Tabel 5. Sebaran Contoh menurut Jumlah Kon-
dalam kategori sering (7-14 kali/minggu) sumsi/Minggu
mengonsumsi minuman berenergi, sementara
Jumlah konsumsi (uks/mgg) n %
itu terdapat 11.1% contoh yang termasuk da-
lam kategori sering. Menurut Sampoerno & Rendah (<13 uks/mggu) 24 66.7
Fardiaz (2001), minuman berenergi yang ter- Sedang (13-27 uks/mggu) 11 30.5
masuk ke dalam suplemen sebaiknya dikon- Tinggi (> 27 uks/mggu) 1 2.8
sumsi secukupnya karena tujuannya hanya un- Total 36 100.0
tuk melengkapi kebutuhan zat gizi yang belum Rata-rata ± sd 9.72 ± 8.266
mencukupi. Pada dasarnya fungsi suplemen
adalah sebagai zat tambahan untuk memper-
baiki dan meningkatkan daya tahan tubuh. Alasan Konsumsi
Tabel 6 menunjukkan bahwa sebagian
Tabel 3. Sebaran Contoh berdasarkan Frekuen- besar contoh (75.0%) mengonsumsi minuman
si Konsumsi berenergi dengan alasan sebagai penunjang
aktivitas dan stamina, sementara itu hanya
Frekuensi Konsumsi
(kali/minggu)
n % 5.6% yang beralasan karena rasanya yang enak
dan segar. Menurut Sunarti et al. (1990),
Jarang (< 7 kali/seminggu) 12 33.3
bekerja secara efektif dan produktif memerlu-
Sering (7-14 kali/minggu) 20 55.6 kan ketahanan fisik yang baik artinya perlu
Selalu (>14 kali/minggu) 4 11.1 daya yang cukup untuk melakukan berbagai
Total 36 100.0 pekerjaan. Daya (kekuatan) diperoleh dari ma-
Rata-rata ± sd 8.7 ± 6.0 kanan yang dikonsumsi. Merek minuman ber-
energi yang dipilih sebagai penunjang aktivitas
dan stamina adalah Extra Joss.
Jumlah Konsumsi
Jumlah konsumsi minuman berenergi Tabel 6. Sebaran Contoh berdasarkan Alasan
contoh terbagi dalam kategori rendah, sedang Konsumsi Minuman Berenergi
dan tinggi dihitung berdasarkan banyaknya uks
(ukuran kemasan saji) setiap kali mengonsum- Alasan konsumsi n %
si. Setiap satu ukuran kemasan saji memiliki Rasanya segar dan enak 2 5.6
berat sebesar 4 gram. Tabel 4 menunjukkan Penunjang aktivitas & stamina 27 75.0
jumlah konsumsi contoh tiap kali minum (fre- Minuman penyegar 7 19.4
kuensi minum). Hampir semua contoh (91.7%)
Total 36 100.0
mengonsumsi satu buah (uks) dalam setiap kali
minum sementara itu sedikit contoh (8.3%)
mengonsumsi langsung 2 buah (uks) minuman Situasi Mengonsumsi
berenergi dengan alasan baru terasa khasiat- Konsumen seringkali memilih suatu pro-
nya jika langsung mengkonsumsi 2 uks minum- duk karena pertimbangan dari situasi saat
an tersebut. mengonsumsi. Tabel 7 menunjukkan bahwa le-
bih dari separuh contoh (66.7%) mengonsumsi
saat bekerja karena contoh memerlukan tam-

16
Jurnal Gizi dan Pangan, November 2007 2(3): 13 - 25

bahan energi. Makin berat pekerjaan yang di- Cara Penyajian


lakukan maka proses oksidasi dalam sel akan Cara penyajian contoh berbeda-beda
makin aktif dan mengakibatkan peningkatan tergantung pilihan minuman berenergi. Tabel
energi yang dibutuhkan (Suhardjo & Kusharto 10 menunjukkan bahwa sebesar 77.8% contoh
1987). hanya menambahkan air ketika mengonsumsi
minuman berenergi. Biasanya minuman ber-
Tabel 7. Sebaran Contoh berdasarkan Situasi energi tersebut berbentuk serbuk sehingga di-
Mengkonsumsi perlukan tambahan air. Bila minuman berener-
Situasi mengonsumsi n % gi sudah dalam bentuk siap saji biasanya dalam
Akan bekerja 1 2.8 kemasan botol maka contoh bisa langsung
Sedang bekerja 24 66.7
mengonsumsinya. Berdasarkan pengamatan,
lebih dari separuh contoh menyajikan dengan
Setelah bekerja 7 19.4
ditambah air karena minuman berenergi yang
Saat akan bepergian jauh 4 11.1
dipilih berbentuk sachet (serbuk dalam kemas-
Total 36 100.0 an) dan sudah menjadi satu paket dengan air
mineral gelas. Harganya pun relatif lebih mu-
Waktu Konsumsi rah jika dibandingkan dengan minuman ber-
Minuman berenergi biasanya dikonsumsi energi yang langsung minum (kemasan botol).
apabila contoh merasakan badan kurang ber-
tenaga untuk melakukan aktivitas pekerjaan Tabel 10. Sebaran Contoh berdasarkan Cara
yaitu pada malam hari khususnya. Tabel 8 Penyajian
menunjukkan bahwa hampir separuh contoh Cara penyajian n %
(47.2%) mengonsumsi minuman berenergi pada Langsung diminum 8 22.2
waktu malam hari. Sementara itu hanya 2.8% Ditambah air saja 28 77.8
yang mengonsumsi pada pagi hari. Namun ada
Total 36 100.0
juga yang mengonsumsi pada waktu pagi, siang
dan malam sebanyak 8.3%.
Kandungan Energi dan Kafein
Tabel 8. Sebaran Contoh berdasarkan Waktu Minuman berenergi yang terpilih untuk
Konsumsi dianalisis kandungan energi dan kafein adalah
Waktu Konsumsi n % 3 merek minuman berenergi terbanyak pilihan
Pagi saja 1 2.8 contoh yaitu Ekstra Joss Serbuk (44.4% con-
Siang saja 3 8.3 toh), Hemaviton Jreng (19.4% contoh) dan
Malam saja 17 47.2 Kuku Bima Energy (13.9% contoh). Berdasarkan
Pagi dan siang 6 16.8 hasil analisis kandungan energi dengan meng-
Pagi dan malam 3 8.3 gunakan bomb kalorimeter didapatkan hasil
Siang dan malam 3 8.3
sebagai berikut (Tabel 11).
Pagi, siang, malam 3 8.3

Tabel 11. Sebaran Merek Minuman Berenergi


Sementara itu, dari segi waktu sebelum
berdasarkan Kandungan Energi
atau sesudah makan maka sebagian besar con-
Kandungan Kandungan
toh (97.2%) mengonsumsi minuman berenergi Energi Energi
Minuman Berenergi
setelah makan (Tabel 9). Kandungan energi se-
(Kal/g) (Kal/uks)
telah mengonsumsi makanan akan mengaki-
Extra Joss Serbuk 4.278 17.112
batkan asupan bertambah. Apalagi ditambah
dengan asupan minuman energi yang menyum- Hemaviton Jreng 2.599 10.396
bangkan energi juga walaupun dalam jumlah Kuku Bima Energy 2.720 10.880
sedikit. Hal ini membuat contoh memiliki
asupan energi yang lebih banyak sehingga di- Kandungan energi dari ketiga minuman
harapkan dapat bekerja lebih baik. berenergi tersebut memiliki perbedaan. Merek
Ekstra Joss Serbuk memiliki kandungan energi
Tabel 9. Sebaran Contoh berdasarkan Waktu terbesar di antara kedua merek lainnya yaitu
Konsumsi sebesar 4.278 Kal/gram. Kedua merek lainnya
memiliki kandungan energi sekitar setengah
Waktu konsumsi n % dari merek Extra Joss. Hal ini diduga karena
Sebelum makan 1 2.8 adanya perbedaan komposisi pada minuman
Sesudah makan 35 97.2 tersebut baik dalam hal jumlah maupun bahan
Total 36 100.0
penyusunnya. Kandungan energi pada ketiga

17
Jurnal Gizi dan Pangan, November 2007 2(3): 13 - 25

sampel sangat kecil. Ketiga jenis minuman jumlah kopi yang digunakan, dan lamanya
berenergi itu dalam bentuk serbuk. Pada mi- waktu pemasakan (Graham dalam Kanarek &
numan berenergi bentuk cair (kemasan botol) Kaufman, 1991).
biasanya mengandung 100 Kal per 150 ml.
Batas aman penggunaan kafein adalah
Sumber energi pada minuman berenergi 150 mg/orang/hari. Menurut BPOM, minuman
ini bersumber dari kandungan gula yang terda- berenergi yang ada di Indonesia mengandung
pat pada minuman berenergi. Namun gula yang kafein sejumlah 50 mg/botol dan hanya dibo-
digunakan pada minuman berenergi selain gula lehkan mengonsumsi sebanyak tiga botol/hari.
pasir juga digunakan pemanis buatan yaitu Kemudian label dalam botol harus mencantum-
aspartam. Aspartam termasuk ke dalam kelom- kan peringatan keras bagi penderita penyakit
pok pemanis rendah kalori dan memiliki ting- gula, darah tinggi, dan jantung. Selain itu, ba-
kat kemanisan 160 hingga 220 kali dari gula gi penderita yang mempunyai tingkat sensitivi-
(Syah & Utama, 2005). tas tinggi, seperti sensitif terhadap kafein, ha-
rus berhati-hati mengonsumsi produk ini. Jum-
Untuk analisis kandungan kafein diguna-
lah kafein yang berlebihan dapat memperbu-
kan spektrofotometer. Tabel 12 menunjukkan
ruk ketidakstabilan emosi dan gangguan
bahwa ketiga merek yang dianalisis memiliki
mental.
kandungan kafein yang tidak jauh berbeda ya-
itu berkisar antara 7688 mg/kg hingga 9252
Karakteristik Produk
mg/kg atau sekitar 30.752 mg/uks hingga
37.008 mg/uks. Hal ini disebabkan oleh jumlah Tempat Membeli
yang berbeda dari penambahan kafein pada Produk pangan seperti minuman ber-
masing-masing merek. Kandungan kafein pada energi bisa didapatkan di berbagai tempat mu-
minuman berenergi yang dianalisis termasuk lai dari pasar, toko, supermarket bahkan dari
kategori aman jika dibandingkan dengan batas pedagang asongan baik secara eceran maupun
penggunaannya. tidak. Lebih dari sepertiga contoh (77.2%)
membeli produk minuman berenergi di warung
Tabel 12. Sebaran Merek Minuman Berenergi atau toko (Tabel 13) yang berada dekat de-
berdasarkan Kandungan Kafein ngan tempat kerjanya misalnya di terminal
Kandungan Kandungan atau tempat pemberhentian sementara bis.
Minuman Berenergi Kafein Kafein
(mg/kg) (mg/uks) Tabel 13. Sebaran Contoh berdasarkan Tempat
Ekstra Joss Serbuk 8778 35.112 Membeli Minuman Berenergi
Hemaviton Jreng 7688 30.752
Tempat pembelian n %
Kuku Bima Energy 9252 37.008
Warung/toko 26 72.2
Kafein merupakan senyawa alkaloid pa- Pedagang asongan 10 27.8
hit yang ditemukan pada kopi dan teh, terma-
suk ke dalam golongan methylxantine (Groff &
Harga
Groper, 2005). Kafein dapat merangsang meta-
bolisme tubuh. Mekanisme ini akan meningkat- Harga adalah sejumlah nilai yang harus
kan tekanan darah, pengeluaran urine, dan dikeluarkan konsumen untuk mendapatkan ba-
aktivitas sistem saraf pusat. Ciri-cirinya, napas rang atau jasa. Harga pada minuman berenergi
menjadi cepat, otot menjadi kaku, dan aliran beragam mulai dari Rp 1 000 sampai Rp 3 500
darah dalam otak meningkat. Kafein dengan per kemasan. Rata-rata harga minuman ber-
mudah diserap usus dan menyebar dalam be- energi dengan kemasan sachet adalah Rp 1 000
berapa menit melalui darah ke semua organ dan Rp 3 500 untuk kemasan botol. Mayoritas
dan jaringan tubuh. Kafein dapat menolong, contoh (83.3%) menyatakan harga minuman
mencegah, atau menghilangkan kelelahan dan berenergi yang biasa dibeli termasuk kategori
meningkatkan kewaspadaan. sedang. Sementara itu, sejumlah 16.7% contoh
menyatakan pada kategori murah terhadap mi-
Sumber kafein utama adalah kopi. Kan- numan berenergi yang dikonsumsinya. Harga
dungan kafein pada kopi berbeda-beda yaitu pada penelitian ini bukan berdasarkan merek
kopi instan (40 hingga 108 mg/penyajian) dan yang dikonsumsi namun berdasarkan sejumlah
kopi saring (64 hingga 128 mg/penyajian). Kan- uang yang contoh keluarkan untuk membeli
dungan kafein bervariasi pada kopi, dipenga- minuman berenergi.
ruhi oleh spesies tanaman kopinya, tipe peng-
olahan (contohnnya kopi giling atau instan),
metode pemasakan (yaitu saring atau tetes),

18
Jurnal Gizi dan Pangan, November 2007 2(3): 13 - 25

Klaim dan Registrasi Minuman Berenergi let dan beberapa lainnya mencantumkan kla-
Kelengkapan label pangan pada minum- imnya. Perbedaan pencantuman klaim terse
an berenergi berbeda. Menurut Nielsen (1998), but memiliki tujuan atau sasaran yang berbe-
standar informasi gizi pada label pangan terdi- da. Hal ini didukung oleh fungsi iklan yang
ri atas: (1) ukuran persajian, (2) petunjuk pe- bertujuan untuk menarik perhatian konsumen
makaian, (3) jumlah zat gizi serta Angka Kecu- agar membeli atau menggunakan produk mi-
kupan Gizi masing-masing, dan (4) memiliki numan berenergi tersebut.
acuan berdasarkan %AKG pada 2000 Kalori atau Komponen utama pada minuman ber-
2500 Kalori. Selain itu, kelengkapan pada label energi adalah kafein, vitamin B dan taurin. Ka-
pangan juga meliputi nama merek, nomor fein berfungsi sebagai stimulan atau perang-
registrasi, klaim, halal, nama dan alamat pro- sang susunan saraf pusat. Vitamin B dan taurin
dusen, komponen yang digunakan, cara peng- berfungsi sebagai koenzim yang membantu
gunaan dan penyimpanan, berat bersih, kode metabolisme energi di dalam tubuh. Kombinasi
produksi, informasi komponen nilai gizi, serta antara kafein dan taurin dalam minuman ber-
tanggal dan bulan kadaluarsa. energi akan merangsang sistem saraf pusat un-
Klaim adalah pernyataan mengenai kele- tuk memicu reaksi katabolisme (reaksi untuk
bihan relatif suatu produk dibandingkan pesa- menghasilkan energi) di otot. Mekanismenya
ingnya. Menurut Peraturan Pemerintah RI No- melalui pengaktifan kerja saraf yang mengha-
mor 69 Tahun 1999 tentang Label dan Iklan silkan percepatan denyut jantung untuk me-
Pangan pernyataan (klaim) tentang manfaat mompa darah dan oksigen, serta menstimulasi
kesehatan adalah pernyataan bahwa produk peningkatan kadar gula darah. Reaksi katabo-
pangan tertentu mengandung gizi dan atau zat lisme akan lebih teraktifkan dengan penam-
non gizi tertentu yang bermanfaat jika dikon- bahan vitamin-vitamin terutama vitamin B.
sumsi atau tidak boleh dikonsumsi bagi kelom- Almatsier (2003) menyatakan bahwa tiap
pok tertentu (Peraturan Pemerintah Republik vitamin B dalam bentuk koenzim terlibat seca-
Indonesia Nomor 69 Tahun 1999). ra langsung maupun tidak langsung dalam me-
Klaim pada penelitian ini diamati lang- tabolisme energi. Beberapa koenzim merupa-
sung pada produk minuman berenergi (pada kan fasilitator dalam reaksi-reaksi pelepasan
kemasan). Berdasarkan hal tersebut maka da- energi. Dengan demikian, terlihat bahwa seti-
pat diketahui bahwa klaim-klaim yang diung- ap vitamin B saling berkaitan dalam fungsinya
kapkan pada produk minuman berenergi pada sebagai koenzim dalam metabolisme energi.
kemasan termasuk ke dalam klaim subyektif Komponen lainnya seperti royal jelly,
yaitu produsen lebih menonjolkan manfaat psi- madu, asam sitrat dan sebagainya hanya seba-
kososial yang sulit dilakukan pembuktiannya gai tambahan saja agar memiliki rasa yang
secara ilmiah. Contohnya, pada klaim minum- dapat disukai oleh konsumen. Komponen terse-
an berenergi Kuku Bima Energy disebutkan but berbeda pada setiap merek minuman ber-
“Minuman Para Juara”. Selain itu ada pula energi. Selain itu istilah yang digunakannya
klaim yang membingungkan konsumen seperti pun berbeda, hal ini dapat dilihat dengan ada-
pada merek M-150 yang menyatakan bahwa nya beberapa merek yang menggunakan baha-
“M-150 bisa!”. Klaim tersebut tidak menjelas- sa ilmiah dan terkadang menggunakan istilah
kan apa maksud serta kaitannya dengan pro- yang berbeda seperti komposisi kafein yang
duk minuman berenergi tersebut. dicantumkan dengan nama yang berbeda. Pada
Selain itu terdapat juga klaim yang me- merek Extra Joss, kafein dituliskan dengan na-
nonjolkan kandungan gizi terkait dengan mi- ma ”caffein” sedangkan pada Hemaviton Jreng
numan berenergi. Klaim ini dapat dijumpai menggunakan istilah ”1,3,7 trimethylxantine”.
pada merek Extra Joss Active dan Hemaviton Begitu juga dengan nama istilah vitamin B
Jreng. Klaim “Energi 7 Vitamin B” pada Extra kompleks yang berbeda setiap mereknya.
Joss Active menunjukkan bahwa produk terse- Pemanis buatan yang digunakan pada mi-
but mengandung energi dan berbagai macam numan berenergi adalah aspartam. Menurut
vitamin B seperti vitamin B1, vitamin B2, vita- Ramsey (2001) aspartam merupakan pemanis
min B3 dan sebagainya. Begitu pula dengan buatan dengan kalori rendah. Aspartam ini
klaim pada Hemaviton Jreng yang menyatakan memiliki tingkat kemanisan 160 hingga 220 kali
“Energi Vitamin T8”. dari gula.
Beberapa minuman berenergi ada yang
tidak mencantumkan klaim pada kemasan se-
perti Hemaviton Energy Drink dan Fit Up Tab-

19
Jurnal Gizi dan Pangan, November 2007 2(3): 13 - 25

Persepsi Contoh toh (72.2%) memiliki persepsi yang baik terha-


dap manfaat mengonsumsi minuman berener-
Persepsi adalah penafsiran yang unik ter-
gi (Tabel 15). Persepsi yang baik ini didukung
hadap suatu situasi, bukan merupakan suatu
oleh persepsi contoh yang menganggap bahwa
pencarian yang sebenarnya dari situasi terse-
setelah mengonsumsi minuman berenergi, ma-
but. Persepsi berhubungan dengan pendapat
ka akan memperoleh manfaat yang dapat men-
atau penilaian terhadap suatu stimulus
dukung aktivitasnya sebagai supir bis malam
(Langevelt dalam Hariyanto, 2001). Persepsi
yang membutuhkan tenaga serta konsentrasi
juga tidak hanya bergantung pada rangsangan
tinggi. Persepsi buruk contoh menandakan
fisik saja tetapi juga pada rangsangan sekitar
bahwa contoh hanya mendapat sedikit manfa-
(lingkungan) ataupun keadaan individu sendiri.
at dari mengonsumsi minuman berenergi.
Persepsi terhadap Manfaat
Tabel 15. Sebaran Contoh berdasarkan Katego-
Persepsi contoh terhadap minuman ber- ri Persepsi
energi berkaitan dengan manfaat yang dirasa-
kan secara langsung. Hal ini menunjukkan Persepsi n %
manfaat secara fungsional yaitu manfaat yang Persepsi buruk (≤2) 10 27.8
dirasakan konsumen secara fisiologis
Persepsi baik (>2) 26 72.2
(Sumarwan, 2003). Tabel 14 menunjukkan bah-
wa mayoritas contoh (88.9%) merasakan secara Total 36 100.0
langsung badannya terasa segar. Hal ini contoh
rasakan dengan ciri yaitu setelah mengonsumsi Persepsi Klaim terhadap Manfaat
minuman berenergi badan yang tadinya terasa
Tabel 16 menunjukkan bahwa sebagian
loyo menjadi segar dan bersemangat. Semen-
besar contoh (55.6%) percaya terhadap man-
tara itu, manfaat badan terasa berenergi dira-
faat sesuai dengan iklan atau klaim pada se-
sakan juga oleh hampir seluruh contoh (91.7%)
tiap minuman berenergi secara keseluruhan.
yang ditandai dengan semakin kuat dan penuh
Hal ini disebabkan contoh merasakan sendiri
konsentrasi untuk menjalankan pekerjaannya.
manfaatnya berdasarkan pengalaman mengon-
Tidak hanya itu, manfaat lainnya yaitu tidak
sumsi minuman berenergi. Jenis-jenis klaim
cepat lelah juga dirasakan oleh lebih dari se-
dijelaskan pada bagian karakteristik produk.
paruh contoh (58.3%) karena contoh mengang-
Kepercayaan yang baik terhadap klaim gizi me-
gap telah memiliki tenaga lebih untuk melaku-
rek yang biasa digunakan merupakan bentuk
kan pekerjaannya akibat konsumsi minuman
kepercayaan deskriptif. Menurut Sumarwan
berenergi tersebut. Manfaat lain yang dirasa-
(2003), kepercayaan atau pengetahuan konsu-
kan adalah tidak cepat mengantuk menurut
men menyangkut kepercayaan bahwa suatu
55.6% contoh. Hal ini diduga disebabkan oleh
produk memiliki berbagai atribut dan manfaat
adanya kandungan kafein pada minuman ber-
dari berbagai atribut tersebut. Kepercayaan
energi yang memberikan efek terjaga bagi
konsumen terhadap suatu produk, atribut, dan
yang mengonsumsinya (Khomsan, 2004).
manfaat produk menggambarkan persepsi kon-
sumen. Oleh karena itu, kepercayaan akan
Tabel 14. Sebaran Contoh berdasarkan Persep-
berbeda di antara konsumen. Konsumen akan
si terhadap Manfaat yang Dirasakan
memberikan kepercayaan yang tinggi karena
Keadaan Ya Tidak Biasa Total pengalamannya menggunakan secara langsung
contoh n % n % n % n % suatu produk (Kardes, 2002).
Badan terasa
32 88.9 0 0 4 11.1 36 100 Persepsi Lainnya
segar
Badan terasa
33 91.7 0 0 3 8.3 36 100 Contoh juga memiliki persepsi terhadap
berenergi waktu reaksi dan lama efek yang dirasakan
Tidak cepat setelah mengonsumsi minuman berenergi. Ma-
21 58.3 1 2.8 14 38.9 36 100
lelah
sing-masing contoh memiliki pandangan berbe-
Tidak
mengantuk
20 55.6 3 8.3 13 36.1 36 100 da-beda mengenai hal tersebut. Tabel 15 me-
Jantung
nunjukkan bahwa sebagian besar contoh
terasa 1 2.8 23 63.9 12 33.3 36 100 (55.6%) menyatakan bahwa reaksi dari awal
berdetak mengonsumsi hingga manfaat yang dirasakan
termasuk dalam kategori biasa. Sementara itu
Selanjutnya, persepsi yang dirasakan sebesar 11.1% menyatakan bahwa reaksi mi-
oleh contoh diberi skor berdasarkan manfaat- numan berenergi sangat cepat hingga dapat
nya dan didapatkan bahwa sebagian besar con- dirasakan manfaatnya secara langsung. Hal ini

20
Jurnal Gizi dan Pangan, November 2007 2(3): 13 - 25

tentunya dipengaruhi oleh faktor individu sen- energi sehingga contoh merasa bahwa tidak
diri dan metabolisme individu tersebut. Mi- bertenaga saat melakukan aktivitas (Tabel 18).
numan berenergi yang dianggap kategori sa- Jadi contoh akan terus mengonsumsi minuman
ngat cepat reaksinya adalah Kratingdaeng, berenergi.
sedangkan kategori cepat reaksinya adalah
Extra Joss Serbuk. Tabel 18. Sebaran Contoh berdasarkan Keluhan
dan Efek Bila Tidak Mengonsumsi
Tabel 16. Sebaran Contoh berdasarkan Keper- Minuman Berenergi
cayaan terhadap Manfaat dan Kece- Keluhan n %
patan Reaksi
Ya 0 0
Kepercayaan terhadap manfaat n %
Tidak 36 100.0
Percaya 20 55.6
Efek bila tidak mengonsumsi
Biasa 16 44.4
Biasa saja 15 41.7
Total 36 100.0
Persepsi terhadap reaksi
Tidak bertenaga 21 58.3
Sangat cepat (<15 menit) 4 11.1
Cepat (15-60 menit) 12 33.3 Preferensi Contoh
Biasa (>60 menit) 20 55.6 Preferensi adalah derajat kesukaan, pi-
Total 36 100.0 lihan atau sesuatu hal yang lebih disukai oleh
konsumen (Assael, 1992). Preferensi konsumen
Tabel 17 menunjukkan bahwa lebih dari juga merupakan gambaran mengenai kombina-
separuh contoh (63.9%) merasakan efek man- si barang dan jasa yang lebih disukai konsumen
faat dari minuman berenergi hanya satu hingga apabila ia memiliki kesempatan untuk mem-
dua jam saja. Sebanyak 27.8% contoh menya- perolehnya. Preferensi setiap orang berbeda-
takan efeknya tiga hingga empat jam dan se- beda berdasarkan atribut yang diutamakannya.
banyak 8.3% menyatakan efeknya lima hingga
enam jam. Menurut Siregar (2005), kafein di- Pada penelitian ini preferensi diukur de-
absorbsi secara sempurna dalam system pen- ngan melihat kepentingan dari berbagai atri-
cernaan selama 30-60 menit. Maksimum efek but pada produk minuman berenergi seperti
yang terjadi di otak akan muncul dalam waktu rasa, kandungan gizi, keamanan efek samping,
2 jam sehingga kafein tidak berefek dengan manfaat penambah energi, manfaat penunjang
langsung. Minuman berenergi yang memiliki aktivitas, kepraktisan konsumsi, harga, serta
efek lama pada penelitian ini yaitu merek kecepatan reaksi. Tabel 19 menunjukkan sepa-
Kratingdaeng dan M-150. ruh contoh (50%) memilih atribut rasa dalam
kategori biasa sedangkan sebanyak 22.2% con-
Tabel 17. Sebaran Contoh berdasarkan Persep- toh merasa sangat penting dalam pemilihan
si terhadap Lamanya Efek Minuman atribut rasa. Rasa merupakan salah satu indi-
Berenergi kator seseorang untuk mengonsumsi pangan
seperti dalam pemilihan minuman berenergi,
Persepsi terhadap
lamanya efek
n % yang memiliki rasa asam, manis, bahkan pahit
yang disebabkan zat-zat yang terkandung di
1-2 jam 23 63.9
dalamnya. Contoh menyukai rasa asam yang
3-4 jam 10 27.8 terdapat pada minuman berenergi.
5-6 jam 3 8.3
Pada atribut kandungan gizi, sebanyak
Total 36 100.0
41.7% contoh termasuk kategori biasa namun
terdapat 36.1 persen contoh yang menyatakan
Seluruh contoh (100%) mengungkapkan sangat penting untuk melihat kandungan gizi
tidak mengalami keluhan ketika mengonsum- minuman berenergi. Hal ini diasumsikan kare-
si minuman berenergi (Tabel 18). Hal ini diper- na pendidikan contoh yang rata-rata pada ting-
tegas contoh bahwa yang dirasakan hanyalah kat SMP sehingga memiliki pengetahuan yang
manfaatnya tanpa ada efek sampingnya. Ke- terbatas mengenai kandungan gizi yang ada
luhan pada penelitian ini merupakan segala pada minuman berenergi. Pada saat wawan-
penyakit atau gangguan yang terjadi pada cara pun kebanyakan contoh tidak mengerti
tubuh contoh saat mengonsumsi minuman ber- akan istilah-istilah yang terdapat pada kemas-
energi misalnya perut terasa sakit atau kepala an minuman berenergi.
pusing. Walaupun demikian sebagian contoh
(58.3%) mengalami ketergantungan atau keta- Pada atribut keamanan efek samping,
gihan apabila tidak mengonumsi minuman ber- 25% contoh menyatakan sangat penting, 38.9%

21
Jurnal Gizi dan Pangan, November 2007 2(3): 13 - 25

contoh menyatakan penting, 30.6% contoh me- Selanjutnya, preferensi dilakukan skor-
nyatakan biasa saja dan tidak ada contoh yang ing dan dibagi menjadi tiga kategori yaitu
menyatakan tidak penting serta sangat tidak kategori preferensi rendah, preferensi sedang
penting. Berdasarkan hal itu, contoh tampak- dan preferensi tinggi. Tabel 20 menunjukkan
nya sangat memperhatikan terhadap efek sam- bahwa sebanyak 72.2% contoh termasuk dalam
ping terhadap kesehatannya. Sementara itu, kategori preferensi sedang. Preferensi kategori
pada atribut manfaat penambah energi dan tinggi contoh ditunjukkan dengan banyaknya
manfaat penunjang aktivitas paling banyak pilihan contoh terhadap atribut dari minuman
contoh me milih kategori penting. Hal ini dise- berenergi yang termasuk sangat penting atau
babkan tujuan contoh yang menginginkan ada- pun penting, sedangkan kategori rendah con-
nya asupan energi yang lebih sehingga dapat toh ditunjukkan sebaliknya. Hal ini menunjuk-
menunjang aktivitas kerja terutama pada saat kan seberapa penting setiap atribut pada mi-
mengendarai bis. numan berenergi.
Kepraktisan pada saat konsumsi tidak
Tabel 20. Sebaran Contoh berdasarkan Katego-
menjadi pilihan yang penting bagi contoh.
ri Preferensi
Tabel 19 menunjukkan separuh contoh (52.7%)
memilih kategori biasa dalam kepraktisan Kategori preferensi n %
konsumsi. Hal ini diasumsikan bahwa contoh Rendah (< 26) 5 13.9
tidak terlalu memperdulikan atribut lainnya Sedang (26-33) 26 72.2
saat mengonsumsi minuman berenergi tetapi Tinggi (>33) 5 13.9
hanya ingin mendapatkan manfaatnya saja. Total 36 100.0
Bahkan terdapat contoh (11.1%) yang meng-
anggap tidak penting terhadap atribut keprak-
tisan mengonsumsi. Pemilihan Merek dan Alasannya

Pada atribut harga, lebih dari separuh Merek adalah nama penting bagi sebuah
contoh (66.7%) memilih kategori biasa karena produk atau jasa serta merupakan simbol dan
menurut contoh akan tetap membeli minuman indikator kualitas sebuah produk (Sumarwan,
berenergi berapa pun harganya. Sementara 2003). Merek-merek produk yang sudah lama
itu, hanya terdapat empat orang yang memilih dikenal konsumen telah menjadi citra bahkan
harga sebagai atribut yang sangat penting. simbol status bagi produk tersebut. Tabel 6
Engel et al. (1994) menyatakan konsumen menunjukkan contoh yang memilih merek
kerap mengungkapkan sedikit pertimbangan Extra Joss Serbuk (44.4%), Hemaviton Jreng
mengenai harga. Faktor lainnya seperti manfa- (19.4%), Kuku Bima Energy (13.9%), Krating-
at kesehatan dan rasa mungkin dianggap lebih daeng (8.3%), M-150 (5.6%), Hemaviton Energy
penting. Drink (5.6%), dan Fit Up Tablet (2.8%). Alasan
contoh memilih masing-masing minuman ber-
Atribut terakhir yaitu kecepatan reaksi energi tersebut karena lebih terasa berman-
yang dipilih sebagian contoh (58.3%) dalam ka- faat (58.3%), rasanya yang enak (16.7%) se-
tegori biasa. Hal ini sejalan dengan alasan pa- mentara sebesar 5.6% contoh beralasan karena
da saat memilih atribut lainnya dimana tujuan tidak ada efek sampingnya (Tabel 21).
mengonsumsi minuman berenergi untuk men-
dapatkan manfaatnya.

Tabel 19. Sebaran Contoh berdasarkan Preferensi Minuman Berenergi


SP P BS TP STP Total
No Atribut
% % % % % %
1 Rasa 22.2 27.8 50 0 0 100.0
2 Kandungan gizi 36.1 22.2 41.7 0 0 100.0
3 Keamanan efek samping 25 38.9 30.6 5.5 0 100.0
4 Manfaat penambah energi 30.6 61.1 8.3 0 0 100.0
5 Manfaat penunjang aktivitas 36.1 44.4 19.5 0 0 100.0
6 Kepraktisan konsumsi 5.6 30.6 52.7 11.1 0 100.0
7 Harga 11.1 22.2 66.7 0 0 100.0
8 Kecepatan reaksi 8.3 30.6 58.3 2.8 0 100.0
Keterangan: SP = Sangat Penting; P = Penting; BS = Biasa;
TP = Tidak Penting; STP = Sangat Tidak Penting

22
Jurnal Gizi dan Pangan, November 2007 2(3): 13 - 25

Tabel 21. Sebaran Contoh berdasarkan Alasan Tabel 23. Sebaran Contoh berdasarkan Lama
Pemilihan Merek Penggunaan
Alasan n % Lama penggunaan n %
Harga murah 4 11.1
> 24 bulan 11 30.6
Rasanya enak 6 16.7
Lebih terasa bermanfaat 21 58.3 12-24 bulan 14 38.8
Tidak ada efek samping 2 5.6 <12 bulan 11 30.6
Praktis dlm penyajian 3 8.3 Total 36 100.0
Total 36 100.0

Loyalitas Merek Hubungan antara Karakteristik Contoh


dengan Persepsi
Menurut Sumarwan (2003), loyalitas me-
rek adalah sikap positif seorang konsumen Umur antara 31 hingga 37 tahun memiliki
terhadap suatu merek, konsumen memiliki persepsi baik, sedangkan persepsi buruk terda-
keinginan kuat untuk membeli ulang produk pat pada golongan umur lebih dari 44 tahun.
yang sama pada saat sekarang maupun masa Hasil uji Chi-Square menunjukkan bahwa umur
datang. Mowen dan Minor (1998) diacu dalam contoh dan persepsi tidak berhubungan
Sumarwan (2003) mengemukakan ada dua pen- (p>0.05). Hal ini menunjukkan bahwa persepsi
dekatan untuk memahami loyalitas merek mengenai minuman berenergi tidak tergantung
yaitu dengan pendekatan perilaku dan pende- pada umur seseorang.
katan sikap. Hasil uji Chi-Square menunjukkan bahwa
Tabel 22 menunjukkan bahwa masing- tingkat pendidikan dan persepsi tidak berhu-
masing sebanyak 36.1% contoh menyatakan bungan (p>0.05). Hal ini diduga karena persep-
akan membeli di tempat lain dan membeli me- si yang dimaksud dalam penelitian ini adalah
rek lain apabila tidak mendapatkan minuman persepsi akan manfaat yang dirasakan secara
berenergi yang diinginkan. Sejumlah 27.8% langsung, sehingga pendidikan contoh tidak
contoh menyatakan akan menunda pembelian. berpengaruh pada persepsi terhadap minuman
Loyalitas ditunjukkan dengan pembelian kem- berenergi.
bali secara konsisten terhadap suatu produk. Responden dengan pendapatan per bulan
Pada jawaban contoh yang menunjukkan loyal- Rp 680 001 hingga Rp 800 000 (81.8%) memiliki
itas merek yaitu menunda pembelian serta persepsi yang baik. Hasil uji Chi-Square me-
membeli merek yang dikonsumsi di tempat nunjukkan bahwa pendapatan dengan persepsi
lainnya. Dengan demikian, terdapat 63.9% tidak berhubungan nyata, sedangkan hasil uji
contoh yang loyal terhadap merek minuman Chi-Square juga menunjukkan bahwa lama be-
berenergi tertentu. kerja dengan persepsi tak berhubungan nyata.
Selain itu, loyalitas terhadap minuman
berenergi dapat disebabkan karena dapat Hubungan antara Karakteristik Contoh
membantu metabolisme energi walaupun kan- dengan Konsumsi
dungan energinya kecil dan juga kandungan Menurut Darmansyah (1996) terdapat
kafein yang kecil. dua faktor yang dapat mempengaruhi kebiasa-
an konsumsi suplemen yaitu karena individu
Tabel 22. Sebaran Contoh berdasarkan Loyali- sadar dan mengetahui fungsi zat gizi yang
tas Merek dikandung suplemen bermanfaat bagi dirinya
Loyalitas merek n % dan juga karena dipengaruhi persuasi atau
Membeli merek lain 13 36.1 tindakan promosi yang mendorong sugesti
Menunda pembelian 10 27.8 konsumen untuk mengonsumsi suplemen.
Membeli di tempat lain 13 36.1
Umur contoh dengan frekuensi dan jum-
Lama Penggunaan Merek Minuman Berenergi lah konsumsi tidak berhubungan nyata berda-
sarkan hasil uji Chi-Square (p>0.05).
Lama penggunaan merek minuman ber-
energi contoh tergantung pada loyalitasnya. Menurut tingkat pendidikan, tidak terda-
Bila seseorang merasakan banyak manfaat pat hubungan antara pendidikan dengan fre-
serta cocok maka biasanya akan terus mengon- kuensi dan jumlah konsumsi (p>0.05). Pada pe-
sumsi merek tersebut. Tabel 23 menunjukkan nelitian ini, pendidikan bukan merupakan sua-
lebih dari sepertiga contoh (38.8%) mengguna- tu ukuran akan terjadinya peningkatan kon-
kan merek selama duabelas hingga dua puluh sumsi minuman berenergi karena penggunaan
empat bulan.

23
Jurnal Gizi dan Pangan, November 2007 2(3): 13 - 25

minuman berenergi dilakukan jika diperlukan selalu membuat konsumen memilih suatu pro-
oleh contoh. duk yang mempunyai preferensi lebih baik.
Namun terdapat atribut yang diutamakan lain-
Begitu pula dengan pendapatan, tidak
nya berdasarkan pilihan konsumen. Menurut
terdapat hubungan antara pendapatan dengan
Sumarwan (2003), konsumen mengonsumsi
frekuensi dan jumlah konsumsi (p>0.05). Wa-
produk pangan karena konsumen mengetahui
laupun semakin tinggi pendapatan belum tentu
manfaat produk pangan tersebut bagi kese-
konsumsinya juga semakin meningkat. Ada ke-
hatan tubuhnya. Konsumen sering kali berpikir
cenderungan contoh yang memiliki pendapatan
mengenai manfaat yang dirasakan jika meng-
yang lebih tinggi maka akan mengonsumsi
onsumsi atau membeli suatu produk, bukan
minuman berenergi secara terus menerus.
mengenai atributnya.
Lama bekerja seseorang dapat mempe-
ngaruhi kebutuhan akan energinya. Berdasar-
kan hasil uji Chi-Square terdapat hubungan an- KESIMPULAN
tara lama bekerja dengan frekuensi konsumsi
(p<0.05) dan jumlah konsumsi (p<0.05). Hal ini Usia contoh berkisar antara 24 tahun
sesuai dengan alasan yang dikemukakan res- hingga 50 tahun dengan rata-rata 36.5 tahun.
ponden bahwa untuk memenuhi kebutuhan Lebih dari separuh contoh (52.8%) memiliki
energi untuk melakukan aktivitas maka perlu tingkat pendidikan SMP. Rata-rata pendapatan
mengonsumsi minuman energi. Semua aktivitas per bulan adalah Rp 815 555,6 ± 122 344,8. Se-
fisik memerlukan energi yaitu, makin berat bagian contoh (44.4%) memiliki pendapatan
aktivitas fisiknya maka makin besar pula per bulan berkisar antara Rp 680 001 hingga Rp
kebutuhan energinya. Hal ini menunjukkan 800 000. Sebanyak 86.1% contoh memiliki jam
bahwa contoh yang memiliki jam kerja yang kerja antara 10 hingga 13 jam per hari. Selu-
banyak akan mengonsumsi minuman berenergi ruh contoh dalam keadaan sehat.
secara teratur juga.
Merek minuman berenergi yang dikon-
sumsi terbanyak secara berurutan adalah me-
Hubungan antara Karakteristik Contoh
rek Extra Joss sebanyak 44.4% contoh, merek
dengan Preferensi
Hemaviton Jreng sebanyak 19.4% contoh serta
Hubungan antara umur, tingkat pendi- merek Kuku Bima Energy sebanyak 13.9% con-
dikan, pendapatan serta lama kerja dengan toh. Lebih dari dua pertiga contoh (77.8%)
preferensi dianalisis dengan menggunakan uji mengonsumsi minuman berenergi dalam ben-
Chi-Square. Berdasarkan hasil uji Chi-Square, tuk kemasan sachet. Sebagian besar contoh
tidak terdapat hubungan antara umur, pendi- (55.56%) termasuk ke dalam kategori frekuensi
dikan, pendapatan serta lama kerja dengan sering (7-14 kali/minggu) mengonsumsi mi-
preferensi. Hal ini disebabkan rata-rata contoh numan berenergi. Rata-rata jumlah konsumsi
yang memilih atribut mengenai manfaat mi- minuman berenergi per minggu yaitu 9.72 uks/
numan berenergi merupakan persentase terbe- minggu. Sebanyak 66.67% contoh termasuk
sar dibandingkan atribut lainnya. dalam kategori rendah jumlah konsumsinya.
Mayoritas contoh (88.9%) merasakan se-
Hubungan antara Persepsi, Konsumsi dan
cara langsung badannya terasa segar. Manfaat
Preferensi
badan terasa berenergi dirasakan juga hampir
seluruh contoh (91.7%). Sebagian besar contoh
Hubungan Persepsi dengan Frekuensi dan
(72.2%) memiliki persepsi yang baik terhadap
Jumlah Konsumsi
manfaat mengonsumsi minuman berenergi.
Berdasarkan hasil uji Chi-Square, tidak
terdapat hubungan antara persepsi dengan Atribut pada minuman berenergi yang
frekuensi dan jumlah konsumsi. Walaupun de- dianggap sangat penting oleh contoh adalah
mikian, terdapat kecenderungan bahwa per- manfaat penambah energi dan manfaat pemu-
sepsi yang baik dapat meningkatkan konsumsi lih tenaga. Atribut yang dianggap biasa oleh
minuman berenergi contoh. contoh adalah atribut harga. Sebanyak 72.2%
contoh termasuk dalam preferensi kategori
Hubungan Preferensi dengan Frekuensi dan sedang.
Jumlah Konsumsi Analisis hubungan antara karakteristik
Berdasarkan hasil analisis, preferensi ti- contoh dengan persepsi dan preferensi menun-
dak berhubungan (p>0.05) dengan konsumsi jukkan tidak terdapat hubungan nyata. Semen-
minuman berenergi. Hal ini menunjukkan bah- tara itu terdapat hubungan nyata antara ka-
wa preferensi atribut-atribut tertentu tidak rakteristik contoh yaitu lama kerja dengan

24
Jurnal Gizi dan Pangan, November 2007 2(3): 13 - 25

konsumsi. Tidak terdapat hubungan yang nyata Khomsan A. 2004. Peranan Pangan dan Gizi
antara persepsi, konsumsi dan preferensi. untuk Kualitas Hidup. Gramedia Pustaka
Utama, Jakarta.
Hasil analisis kandungan energi pada
ketiga sampel secara berurutan (Ekstra Joss,
Khumaidi M. 1994. Bahan Pengajaran Gizi
Hemaviton Jeng dan Kuku Bima Energy) adalah
Masyarakat. BPK Gunung Mulia, Jakarta.
4.278 Kal/gram, 2.599 Kal/gram dan 2.720
Kal/gram. Hasil analisis kandungan kafein se-
Marlinda I. 2001. Bahaya Minuman Berenergi.
cara berurutan adalah 8778 mg/kg, 9252 mg/
http://www.intisari.net [30 November
kg dan 7688 mg/kg.
2006]

Nielsen SS. 1998. Food Analysis (2nd Edition).


DAFTAR PUSTAKA
Aspen Publication, Maryland.
Almatsier S. 2003. Prinsip-Prinsip Imu Gizi.
Peraturan Pemerintah Republik Indonesia No-
Gramedia, Jakarta.
mor 69 Tahun 1999 tentang Label dan
Iklan Pangan. http://www.unsrat.ac.id/
Assael H. 1992. Consumer Behavior and Mar-
hukum/pp/pp_69_99.htm. [22 Septem-
keting. Action, Boston.
ber 2007].
BPOM. 1996. Ketentuan pokok pengawasan
Sampoerno & Fardiaz D. 2001. Kebijakan dan
suplemen. http://www.bpom.go.id
Pengembangan Pangan Fungsional dan
Suplemen Indonesia. Dalam Nuraida L &
Darmansyah. 1996. Pendapat para pakar ter-
Hariyadi RD (Eds.), Proceeding Seminar
hadap suplemen. Majalah Warta Konsu-
Nasional Pangan Tradisional sebagai
men. Februari, hlm 9-13.
Basis Industri Pangan Fungsional dan
Engel JF, Blackwell RD, & Miniard PW. 1994.
Suplemen (hlm. 1-13). Pusat Kajian
Perilaku Konsumen. (Budiyanto FX,
Makanan Tradisional, Institut Pertanian
penerjemah), Consumer Behavior. Bina-
Bogor.
rupa Aksara, Jakarta.
Siregar. 2005. Benarkah minuman berenergi
Gaman PM & Sherington KB. 1990. Nutrition in
selalu berenergi? http://www.gizi.net [7
Practice. Dalam Gaman PM & Sherington
Agustus 2007]
KB (Eds.), The Science of Food (3rd
edition). Pergamon Press, New York.
Slamet Y. 1993. Analisis Kuantitatif untuk Data
Sosial. Dabora Publisher, Solo.
Groff JL & Gropper SS. 2005. Advanced Nutriti-
on and Human Metabolism (3rd Edition).
Suhardjo & Kusharto CM. 1987. Prinsip-Prinsip
Wadsworth Thomson, Australia.
Ilmu Gizi. Kanisius, Jakarta.
Hariyanto. 2001. Persepsi, Sikap, dan Perilaku
Sumarwan U. 2003. Perilaku Konsumen Teori
Masyarakat Terhadap Air Sungai.
dan Penerapannya dalam Pemasaran.
Disertasi Doktor. Sekolah Pasca Sarjana,
Ghalia Indonesia, Jakarta.
Institut Pertanian Bogor.
Sunarti E et al. 1990. Aktivitas kerja dan
Hidayat B. 2002. Teknik Formulasi Minuman
tingkat konsumsi energi serta zat gizi
Olahraga untuk Mempertahankan Stami-
Pegawai Negeri Sipil di lingkungan lem-
na Atlet. http://www.kompascyber.com
baga penelitian IPB. Laporan penelitian.
[13 Agustus 2007]
Fakultas Politeknik Pertanian, IPB.
Kanarek RB & Kaufman RM. 1991. Nutrition
Syah D & Utama S. 2005. Manfaat dan Bahaya
and Behavior: New prespectives. Van
Bahan Tambahan Pangan. Fakultas Tek-
Nostrand Reinhold, New York.
nologi Pertanian, IPB, Bogor
Kardes FR. 2002. Consumer Behavior and
Wikipedia. 2006. Minuman Berenergi. http://
Managerial Decision Making (2nd Edition).
wikipediafreedictionary.com [12 Desem-
Prentice-Hall of India Private Limited,
ber 2006].
New Delhi.

25
Jurnal Gizi dan Pangan, November 2007 2(3): 13 - 25

26