Anda di halaman 1dari 3

Beberapa tahun terakhir, kasus Demam Berdarah Dengue (DBD) seringkali muncul di musim

pancaroba, khususnya bulan Januari di awal tahun seperti sekarang ini. Karena itu,
masyarakat perlu mengetahui penyebab penyakit DBD, mengenali tanda dan gejalanya,
sehingga mampu mencegah dan menanggulangi dengan baik.

Pada tahun 2014, sampai pertengahan bulan Desember tercatat penderita DBD di 34
provinsi di Indonesia sebanyak 71.668 orang, dan 641 diantaranya meninggal dunia. Angka
tersebut lebih rendah dibandingkan tahun sebelumnya, yakni tahun 2013 dengan jumlah
penderita sebanyak 112.511 orang dan jumlah kasus meninggal sebanyak 871 penderita.

Jakarta, 7 Maret 2016

Data Direktorat Pengendalian Penyakit Tular Vektor dan Zoonosis Kementerian Kesehatan
menyebutkan hingga akhir Januari tahun ini, kejadian luar biasa (KLB) penyakit DBD
dilaporkan ada di 12 Kabupaten dan 3 Kota dari 11 Provinsi di Indonesia, antara lain: 1)
Provinsi Banten, yaitu Kabupaten Tangerang; 2) Provinsi Sumatera Selatan, yaitu Kota
Lubuklinggau; 3) Provinsi Bengkulu, yakni Kota Bengkulu; 4) Provinsi Bali, yaitu Kota Denpasar
dan Kabupaten Gianyar; 5) Provinsi Sulawesi Selatan, yaitu Kabupaten Bulukumba,
Pangkep, Luwu Utara, dan Wajo; 6) Provinsi Gorontalo, yaitu Kabupaten Gorontalo; serta 7)
Provinsi Papua Barat, yakni Kabupaten Kaimana; 8) Provinsi Papua, yakni Kabupaten Mappi
9) Provinsi NTT, yakni Kabupaten Sikka; 10) Provinsi Jawa Tengah, yaitu Kabupaten
Banyumas; 11) Provinsi Sulawesi Barat, yakni Kabupaten Majene. Sepanjang bulan Januari
dan Februari 2016, kasus DBD yang terjadi di wilayah tersebut tercatat sebanyak 492 orang
dengan jumlah kematian 25 orang pada bulan Januari 2016 sedangkan pada bulan
Februari tercatat sebanyak 116 orang dengan jumlah kematian 9 orang. Hasil data tersebut
menunjukan adanya penurunan KLB di Indonesia sepanjang bulan Januari-Februari 2016.

Kementerian Kesehatan RI mencatat jumlah penderita DBD di Indonesia pada bulan


Januari-Februari 2016 sebanyak 8.487 orang penderita DBD dengan jumlah kematian 108
orang. Golongan terbanyak yang mengalami DBD di Indonesia pada usia 5-14 tahun
mencapai 43,44% dan usia 15-44 tahun mencapai 33,25%.

Masyarakat diminta untuk tetap waspada terhadap penyakit DBD mengingat setiap tahun
kejadian penyakit demam berdarah dengue di Indonesia cenderung meningkat pada
pertengahan musim penghujan sekitar Januari, dan cenderung turun pada Februari hingga
ke penghujung tahun.

Perlu kita ketahui, KLB DBD dinyatakan bila: 1) Jumlah kasus baru DBD dalam periode bulan
tertentu menunjukkan kenaikan dua kali lipat atau lebih dibandingkan angka rata-rata per
bulan dalam tahun sebelumnya; 2) Timbulnya kasus DBD pada suatu daerah yang
sebelumnya belum pernah terjadi; atau 3) Angka kematian DBD dalam kurun waktu
tertentu menunjukkan kenaikan 50% atau lebih dibandingkan dengan periode sebelumnya
dalam kurun waktu yang sama.

Terjadinya KLB DBD di Indonesia berhubungan dengan berbagai faktor risiko, yaitu: 1)
Lingkungan yang masih kondusif untuk terjadinya tempat perindukan nyamuk Aedes; 2)
Pemahaman masyarakat yang masih terbatas mengenai pentingnya pemberantasan
sarang nyamuk (PSN) 3M Plus; 3) Perluasan daerah endemik akibat perubahan dan
manipulasi lingkungan yang etrjadi karena urbanisasi dan pembangunan tempat
pemukiman baru; serta 4) Meningkatnya mobilitas penduduk.
Untuk menekan terjadinya KLB DBD, perlu membudayakan kembali Pemberantasan Sarang
Nyamuk (PSN) 3M Plus secara berkelanjutan sepanjang tahun dan mewujudkan Gerakan 1
Rumah 1 Jumantik.

Berita ini disiarkan oleh Biro Komunikasi dan Pelayanan Masyarakat, Kementerian
Kesehatan RI. Untuk informasi lebih lanjut dapat menghubungi Halo Kemkes melalui
nomor hotline (kode lokal) 1500-567, SMS 081281562620, faksimili (021) 5223002, 52921669,
dan alamat email kontak[at]kemkes[dot]go[dot]id.

B. Prevalensi Kejadian Demam Berdarah

1. Prevalensi DBD di Dunia

Menurut Word Health Organization (1995) populasi di dunia diperkirakan berisiko terhadap penyakit
DBD mencapai 2,5-3 miliar terutama yang tinggal di daerah perkotaan di negara tropis dan subtropis.
Saat ini juga diperkirakan ada 50 juta infeksi dengue yang terjadi diseluruh dunia setiap tahun.
Diperkirakan untuk Asia Tenggara terdapat 100 juta kasus demam dengue (DD) dan 500.000 kasus DHF
yang memerlukan perawatan di rumah sakit, dan 90% penderitanya adalah anak-anak yang berusia
kurang dari 15 tahun.

Data dari seluruh dunia menunjukkan Asia menempati urutan pertama dalam jumlah penderita DBD
setiap tahunnya. Sementara itu, terhitung sejak tahun 1968 hingga 2009, WHO mencatat negara
Indonesia sebagai negara dengan kasus DBD tertinggi di Asia Tenggara dan tertiggi nomor dua di dunia
setelah Thailand (Depkes, 2010)

TRIBUNPONTIANAK.CO.ID,PONTIANAK - Kota Pontianak merupakan satu


dari beberapa tempat yang menjadi endemis demam berdarah.
Sepanjang tahun 2016, telah terjadi sekitar 20 kasus DBD di Kota Pontianak.
Kepala Dinas Kesehatan Kota Pontianak, dr Sidiq Handanu Widoyono MKes,
menyebutkan kalau kasus DBD yang terjadi masih bisa dikendalikan, saat
ditemui tribunpontianak.co.id, Senin (28/3/2016).
"Daerah kita memang merupakan, daerah endemik DBD jadi untuk
menghilangkan sama sekali belum bisa," ujar kadis tersebut.
Sampai saat ini tidak ada satupun daerah, yang bisa memberantas
habis kasus DBD hanya bisa menekan angka korban yang terkena DBD.
Demam berdarah biasanya menyerang anak-anak, dan orang tua harus
mengetahui ciri demam yang menyerang.

Kepala Dinas Kesehatan Kota Pontianak Sidiq Handanu mengungkapkan kasus Demam
Berdarah Dengue (DBD) hingga akhir November 2016 sebanyak 62 kasus, angka itu
sedikit lebih rendah dari tahun sebelumnya yang mencapai 80 kasus.

“Kasus ini masih terkendali. Apalagi jika melihat angka yang masih diperkenankan, 52
kasus per 100 ribu kelahiran. Dengan jumlah penduduk kota saat ini, angka 62 masih
jauh dari batasan,” ujarnya di Pontianak, Jumat (2/12).

Namun demikian, lanjut Handanu, kondisi tersebut tetap saja berbahaya, mengingat
Pontianak memang daerah endemis DBD.

“Apalagi, saat ini angka bebas jentik di Kota Pontianak masih sekitar 70 persen,
sementara batas aman demam berdarah angkanya di atas 95 persen,” tambahnya.

Peran serta masyarakat dirasa masih kurang. Sebagian malah enggan rumahnya
difogging atau turut menaburkan bubuk abate di bak penampungan air.

“Peningkatan jumlah kasus memang terjadi di akhir tahun hingga awal tahun. Ada satu
meninggal, tapi orangtuanya tidak mau dikatakan karena DBD, tapi berdasarkan gejala
klinis, anak tersebut menderita DBD. Anak ini sudah dibawa ke rumah sakit hari Sabtu,
dari rumah sakit bilang tidak apa-apa, Minggu dibawa lagi trombosit sudah rendah,”
paparnya