Anda di halaman 1dari 6

10 Cerita Lucu 17 Agustus Terbaru

Ditulis pada Sabtu, 23 Januari 2016 oleh admin


riajenaka – Kalimat lucu dan cerita lucu bisa jadi bahan bacaan untuk dengan cepat
mengembalikan mood yang sedang down. Karena biasanya, cerita lucu itu pendek dan Anda pun
tidak perlu menghabiskan waktu untuk segera menikmati manfaat sebuah cerita lucu singkat.

Kumpulan cerita lucu yang ada di artikel ini adalah cerita lucu terbaru yang dikumpulkan dari
berbagai sumber. Tentunya kami hanya memilih cerita pendek yg lucu abis, gokil, konyol yang
bisa membuat Anda ‘ngakak’ tertawa terbahak-bahak.

Kisah lucu kali ini membahas tentang event 17 Agustus. Semoga kumpulan cerita lucu 17
Agustus di bawah ini dapat membuat Anda tersenyum dan tertawa.

1. Cerita Lucu 17 Agustus: Tukang Nyontek


Pak Guru: “Pak, si Gareng anak Bapak kerjaannya nyontek.”

Pak Semar: “Gak mungkin pak Guru, wong anakku pinter kok.”

Pak Guru: “Buktinya hasil ulangan sejarah ini pak.”

Pak Semar: “Coba pak Guru buktikan.”

Pak Guru: “Ini hasil ulangan Gareng dan Petruk, anak yang disebelahnya. Coba Bapak
perhatikan. Pertanyaan pertama, siapa nama Presiden RI pertama? Si Petruk menjawab Bung
Karno, anak Bapak juga Bung Karno.”

Pak Semar: “Semua orang juga tau kalo presiden pertama kita itu bung karno. Jadi gak mungkin
dong hanya karena jawaban yang sama, terus anak saya nyontek.”

Pak Guru: “Oke. kita lanjutkan Pak Semar. Pertanyaan kedua, kapan indonesia merdeka? Si
Petruk jawab 17 Agustus 1945 dan anak Bapak juga menjawab sama. Ini Pasti karena Gareng
nyontek Petruk pak, saya yakin itu.”
Pak Semar: “Wah Pak Guru ini gak objektif ia, wong kenyataannya emang begitu kok anak saya
dituduh nyontek! Saya gak terima!”

Pak Guru: “Sabar Pak Semar, mari kita cek lagi pada pertanyaan ketiga, kapan terjadinya Perang
Paderi Coba bapak perhatikan jawaban mereka berdua. Si Petruk Jawab, ‘Mana Gue Tau?’ Dan
anak Bapak Jawabannya ‘Apalagi Gua?'”

Pak Semar: “??!!..”

2. Kisah Lucu Di Balik 17 Agustus 1945


Kita harus bersyukur merdeka Tahun ’45. Kalimat Semangat ’45 terdengar “Gagah”. Coba tahun
’69. Semangat ’69 terkesan “Menggagahi”.

Kita bersyukur lagi, merdeka tanggal 17 Agustus. Semua serba merah putih. Coba 14 Februari,
pasti serba merah jambu.

Masih terus bersyukur, proklamator Republik Indonesia bernama Ahmad Soekarno. Kalo Ahmad
Dhani, itu Republik Cinta.

Bersyukur merdeka 17/8/45. Burung Garuda jadi gagah. Coba 1/1/45, bulu sayap dan ekornya
cuma sehelai.

Bersyukur lagi warna bendera kita Merah Putih. Coba warna Ungu, lagu kebangsaan berubah jadi
Demi Waktu.

Bersyukurlah facebook belum ada di tahun 1945, coba kalo dah ada, pasti bakal ada gerakan
sejuta facebooker dukung Indonesia merdeka atau gerakan koin untuk Indonesia

Beruntunglah Google belum lahir di tahun 1945, coba kalo dah ada, tentunya Belanda akan
dengan mudah mencari “Cara Membatalkan Kemerdekaan RI” di Google search.

3. Cerita Lucu 17 Agustus: Pengalaman Perang


Saat 17 Agustus-an seorang kakek bercerita tentang pengalamannya waktu ikut perang pada
jaman doeloe.

Kakek: “Dulu Kakek ikut perang. Waktu kakek dan teman-teman mo nyerang musuh pake
pesawat, ternyata di tengah perjalanan pesawat kakek ditembaki musuh sehingga pesawat itu
hancur. Semua yang ada dipesawat itu meninggal termasuk Pilotnya.”

Cucu: “Lhoh kok, kakek sekarang masih hidup?”


Kakek: (Dengan penuh kebanggaan) “Waktu itu Kakek ketinggalan pesawat!”

4. Cerita Lucu 17 Agustus: Tidak Hafal Pancasila


Ateng mendapat tugas membacakan Teks Pancasila saat upacara Hari Kemerdekaan 17 Agustus.
Saat map dibuka ternyata bukan Teks Pancasila melainkan Teks Proklamasi. Mencoba mengatasi
situasi, Ateng mulai melafalkan butir-butir Pancasila di luar kepala.

“Satu, Ketuhanan yang Maha Esa.”

“Dua, Kemanusiaan yang Adil dan Beradab.”

“Tiga, Persatuan Indonesia.”

“Empat, (lupa).”

“dan 5 tidak ada perubahaan. 6,.”

5. Cerita Lucu Menyanyikan Lagu 17 Agustus


Hari Peringatan Kemerdekaan Indonesia sudah semakin mendekat. Pemimpin paduan suara yang
akan menyanyikan lagu Hari Merdeka (17 Agustus Tahun ’45) mulai kesal dengan kekeliruan
yang dilakukan salah satu anggota paduan suara, Om Bagong.

Pemimpin Padus: “Ok, sekali lagi. satu, tiga.”

Om Bagong: “Tujuh belas Agustus tahun empat limya.”

Pemimpin Padus: “Stop, stop, stop. Om Bagong, coba ingat ya, bukan ‘limya’, tapi ‘li-ma’. Ok!
Ok, sekali lagi.”

Om Bagong: “Tujuh belas Agustus tahun empat li-m.a”

Pemimpin Padus: “Mantap, Om. Lanjutkan.”

Om Bagong: “Itulah hari kemerdekaan kitya.”

6. Cerita Lucu 17 Agustus: Salah Lirik


Seseorang teman saya ditunjuk pada saat sesi latihan untuk menyayikan lagu 17 Agustus oleh
komandan.
Komandan: “kamu nyayikan lagu kemerdekaan.”

Prajurit: “Ya pak. Enam belas agustus tahun empat lima.”

Komandan: “Stop, Apa-apaan kamu ini menyayikan lagu kemerdekaan saja tidak bisa!

Prajurit: “Maaf komandan tadi lagunya belum selesai.”

Komandan: “Ulang lagi lagi yang baik dan benar.”

Prajurit: “Siap Komandan (dengan suara lantang) enam belas agustus tahun empat lima, besoknya
hari kemerdekaan kita.”

Sang Komandan pun hanya senyum karena telah ditipu dan baru sadar kalo hari ini tanggal 16
agustus.

7. Cerita Lucu 17 Agustus: Film Indonesia


Untuk memperingati hari kemerdekaan tanggal 17 Agustus, maka terjadilah perdebatan seru
seputar analisis, kritik, apresiasi, dan perkembangan film Indonesia sekarang ini. Ada yang
berpendapat bahwa banyaknya film yang diproduksi bukan indikator kemajuan film Indonesia.
Ada juga yang berpendapat bahwa bagaimanapun banyaknya film yang sudah diproduksi
merupakan bukti kemajuan film Indonesia.

Pokoknya seru sekali perdebatan saat itu. Namun, ada satu mahasiswa yang dari awal diskusi
hingga akhir tampak bengong saja seperti enggan terlibat dalam diskusi.

Dosen: “Ateng, dari tadi kamu kok diam saja. Apa kamu tidak suka dengan film Indonesia?”

Ateng: “Bukan, Pak.”

Dosen: “Lalu kenapa diam?”

Ateng: “Soalnya tidak ada teksnya, Pak. Kalau film barat kan ada teksnya.”

8. Cerita Lucu 17 Agustus: Pengalaman Si Kakek


Menjelang hari kemerdekaan 17 Agustus, Mono terinspirasi untuk membuat suatu cerita heroik
tentang kepahlawanan. untuk mewujudkan ide nya tersebut berangkatlah Mono ke bandung naik
kereta api untuk menggali sejarah tentang peristiwa “Bandung lautan Api”.
Didalam kereta, Mono duduk berempat, berhadap2an dua dua tiga orang lainnya adalah kakek-
kakek tua ketika kereta mulai berangkat kakek tua disebelah Mono menegurnya kepala kakek ini
bergerak-gerak terus kesamping.

Kakek 1: “Cu, kakek ini dulu pejuang, melawan belanda, leher kakek pernah dipukul oleh tentara
belanda, kena syarafnya, sehingga kepala kakek geleng2 terus nih.”

Kakek 2: (Bergerak2 terus menerus seperti melintir2) “Saya dulu juga pejuang, tangan kakek
pernah terkena pecahan granat, syarafnya kena, sekarang nih lihat, tangan kakek goyang2 terus.”

Mono: (Sambil melihat kakek ketiga) “Kakek tentu pejuang juga ya?”

Kakek 3: “Kenapa cucu menyangka begitu?”

Mono: “Itu jari kakek menjentik2 terus, tentu syarafnya kena sesuatu ketika melawan belanda ya
Kek?!”

Kakek 3: (Menjawab pelan) “Kakek ini bukan pejuang cu, kakek menjentik2kan jari ini, karena
upil kakek lengket banget nih, nggak bisa mental2 dari tadi.”

9. Cerita Lucu 17 agustus: Dasar Bego


Omas: “Kamu tau gak tanggal 17 agustus itu memperingati hari apa?”

Yati Pesek: “Gak tau.”

Omas: “Hari kemerdekaan bego! Makanya sekolah! dan kamu tau gak singkatan dari UUD itu
apa?”

Yati Pesek: “Gak tau juga.”

Omas: “Undang Undang Dasar Bego!! Makanya sekolah!”

Yati Pesek: “Iya deh! Oya kamu tau gak malam minggu kemarin aku jalan sama siapa?”

Omas: “Gak tau.”

Yati Pesek: “Sama cowok kamu Bego!! Makanya jangan sekolah mulu!”

Omas: “$$&%££##” (pingsan).


10. Cerita Lucu 17 Agustus: Lomba Panjat Pinang
Untuk memperingati 17 agustus, sebuah desa mengadakan lomba panjat pinang. Ada satu tim
yang kekurangan pemain pria sehingga mengajak seorang banci yang kebetulan menonton
perlombaan tersebut. Si banci diberikan posisi yang paling atas karena dia yang paling ringan. Di
tengah pertandingan, si banci terlihat mandeg di tiang, tidak mengambil hadiah seperti tim
lainnya. Seorang peserta yang kesal kemudian berteriak,

Peserta Lain: “Hei banci! Ngapain loe lama banget disana? Cepetan ambil hadiahnya!”

Banci: “Ihhhh, Buat eikeee hadiah ga penting cyiiinn, Yang penting gesekannya. Oh ah uh.”