Anda di halaman 1dari 37

PERAN PEMDA DALAM UPAYA PENCEGAHAN DAN PENURUNAN

PREVALENSI STUNTING TERINTEGRASI

RIMA YULIANTARI SUHARIN S.STP.,M.T.r. I.P

Direkektorat Sinkronisasi Urusan Pemerintahan Daerah III

DITJEN BINA PEMBANGUNAN DAERAH


KEMENTERIAN DALAM NEGERI
TAHUN 2019
Kerangka Penyebab Stunting
Kerangka Konseptual Penurunan Stunting Terintegrasi

Enabling Factor
Advokasi, JKN, NIK, Akta Kelahiran, Dana Desa, Dana Insentif Daerah, Keamanan dan Ketahanan Pangan
Kerangka Penanganan Stunting

Intervensi yang ditujukan kepada anak dalam


1.000 Hari Pertama Kehidupan (HPK). Kegiatan
ini umumnya dilakukan oleh sektor kesehatan.
1 Intervensi Gizi Spesifik
(berkontribusi 30%) Intervensi spesifik bersifat jangka pendek,
hasilnya dapat dicatat dalam waktu relatif
pendek.

Intervensi yang ditujukan melalui berbagai


Intervensi Gizi

2
kegiatan pembangunan diluar sektor
Sensitif
kesehatan. Sasarannya adalah masyarakat
(berkontribusi 70 %)
umum, tidak khusus untuk 1.000 HPK.
Strategi Nasional Percepatan Pencegahan Stunting
PILAR 1 PILAR 2 PILAR 3 PILAR 4 PILAR 5

Kampanye
Nasional Berfokus Konvergensi,
Mendorong
Komitmen dan pada pemahaman, Koordinasi, dan
Kebijakan Pemantauan
Visi Pimpinan perubahan Konsolidasi Program
“Nutritional dan Evaluasi
Tertinggi Negara perilaku, komitmen Nasional, Daerah,
Food Security”
politik dan dan Masyarakat
akuntabilitas

DITJEN BANGDA KEMENDAGRI


DLI 7: Predictability and results-orientation
of fiscal transfers that support convergence
Tujuan DLI 7: Insentif bagi pemerintah pusat untuk mengimplementasikan berbagai upaya perbaikan
untuk meningkatkan prediktabilitas transfer daerah, dan memperkenalkan penilaian kinerja untuk
mengukur pemerintah daerah meningkatkan pengelolaan program penurunan stunting.

No Jadwal Kegiatan Penanggung Jawab


1. September Pedoman implementasi program percepatan pencegahan stunting untuk Lead: Bappenas
2018 kabupaten/kota, mengatur:
▪ Kegiatan konvergensi yang harus dilaksanakan oleh kab/kota • Bappenas: Dit. KGM, Dit. PEPPD (Deputi Evaluasi), Dit.
▪ Proses penilaian kinerja kab/kota yang akan dilakukan pada tahun 2019 Otda (Deputi Regional), Dit. Sektor terkait
• Kemendagri: Dit. SUPD III (Ditjen Bangda),
• TNP2K

2. Desember Penyiapan pedoman pemanfaatan DAK untuk mendukung intervensi Kemenkeu


2018 multisektoral pencegahan stunting dan kegiatan konvergensi kab/kota
▪Untuk ditetapkan sebagai Perpres • Dit. Dana Perimbangan (DJPK)

3. April Pedoman pengusulan proposal DAK fisik TA 2020 Lead: Kemenkeu


2019 ▪ Menjelaskan bagaimana DAK fisik dapat dimanfaatkan untuk
• Kemenkeu: Dit. Dana Perimbangan (DJPK)
penurunan stunting
• Bappenas: Dit. Otda (Deputi Regional), Dit. KGM, Dit.
Sektor terkait, Dit. Sisdur PP
• Kemendagri: Dit. SUPD III (Ditjen Bangda)
4. Agustus Publikasi hasil penilaian kinerja kab/kota dalam melaksanakan Lead: Kemendagri
2019 program konvergensi pencegahan stunting (website) • Kemendagri: Dit. SUPD III (Ditjen Bangda)
• Bappenas: Dit. PEPPD, Dit. Otda, Dit. SPEKP

7
LANJUTAN DLI 7…………..

No Jadwal Kegiatan Penanggung Jawab


5. April Pedoman pengusulan proposal DAK fisik TA 2021 Lead: Kemenkeu
2020
▪ Menjelaskan bagaimana DAK fisik dapat dimanfaatkan • Kemenkeu: Dit. Dana Perimbangan (DJPK)
untuk penurunan stunting
• Bappenas: Dit. Otda (Deputi Regional), Dit. KGM, Dit. Sektor
terkait, Dit. Sisdur PP
• Kemendagri: Dit. SUPD III (Ditjen Bangda
6. Agustus Publikasi hasil penilaian kinerja kab/kota dalam Lead: Kemendagri
2020 melaksanakan program konvergensi pencegahan stunting • Kemendagri: Dit. SUPD III (Ditjen Bangda)
(website) • Bappenas: Dit. PEPPD, Dit. Otda, Dit. SPEKP

7. April Pedoman pengusulan proposal DAK fisik TA 2022 Lead: Kemenkeu


2021
▪ Menjelaskan bagaimana DAK fisik dapat dimanfaatkan • Kemenkeu: Dit. Dana Perimbangan (DJPK)
untuk penurunan stunting
• Bappenas: Dit. Otda (Deputi Regional), Dit. KGM, Dit. Sektor
terkait, Dit. Sisdur PP
• Kemendagri: Dit. SUPD III (Ditjen Bangda)

8 Agustus Publikasi hasil penilaian kinerja kab/kota dalam Lead: Kemendagri


2021 melaksanakan program konvergensi pencegahan stunting • Kemendagri: Dit. SUPD III (Ditjen Bangda)
(website) • Bappenas: Dit. PEPPD, Dit. Otda, Dit. SPEKP

8
8 Aksi Konvergensi/Integrasi
Penurunan Stunting Bagi Kabupaten/Kota
PERAN DITJEN BANGDA
Aksi #1 ANALISA SITUASI BERDASARKAN PILAR 3
Aksi#2 RENCANA KEGIATAN STRANAS
Aksi#3 REMBUK STUNTING 1. Ditjen Bina Bangda memiliki peran
Aksi #4 khusus dalam memperkuat
kapasitas Pemerintah Provinsi dan
PERBUP / PERWALI Pemerintah Kabupaten/Kota
TENTANG PERAN DESA
dalam mewujudkan konvergensi
Aksi #5 intervensi gizi prioritas bagi
KADER PEMBANGUNAN Rumah Tangga 1000 HPK di lokasi-
MANUSIA (KPM) lokasi prioritas
Aksi #6 MANAJEMEN DATA 2. Binwas Provinsi pada Periode
Transisi (hingga April 2019)
Aksi#7
menyasar pelaksanaan aksi terkait
PENGUKURAN & PUBLIKASI proses perencanaan dan
Aksi #8 penganggaran
REVIU KINERJA TAHUNAN (Aksi-1 hingga Aksi-4) oleh
kab/kota
Aksi 1 : Analisa Situasi
1. Analisis sebaran stunting
2. Analisis ketersedian program/kegiatan, cakupan layanan
Ruang lingkup
3. Analisis permasalahan dalam menargetkan layanan pada 1000HPK
4. Analisis kendala rumah tangga 1000HPK mengakes layanan
5. Analisis kondisi koordinasi antar institusi

1. Prioritas alokasi sumber daya dan lokasi prioritas intervensi pencegahan stunting tahun berikutnya
OUTPUT 2. Rekomendasi kebutuhan program/kegiatan baik melalui realokasi dan atau penambahan alokasi program.
3. Rekomendasi tindakan perbaikan penyampaian layanan yang perlu diprioritaskan untuk memastikan rumah tangga 1.000 HPK mengakses
layanan.
4. Rekomendasi kebutuhan kegiatan untuk penguatan koordinasi, baik koordinasi antar OPD dalam hal sinkronisasi program/kegiatan maupun
koordinasi antara kabupaten/kota dan desa dgn dukungan Kecamatan

BAPPEDA membentuk Tim Pelaksana Analisis Situasi yang melibatkan OPD-OPD yang bertanggung jawab dalam penyediaan intervensi gizi
Penanggungjawab
spesifik dan sensitif.

Data-data yang digunakan dalam analisis situasi ini, sekurang-kurangnya meliputi:


1) Data jumlah kasus dan prevalensi stunting. Idealnya data jumlah kasus dan prevalensi stunting adalah pada bayi usia di bawah dua tahun (baduta), pada satu tahun terakhir, untuk tingkat kecamatan dan desa/kelurahan.
2) Data program/kegiatan beserta lokasinya untuk setiap intervensi gizi prioritas. Program/kegiatan yang dimaksud adalah program/kegiatan untuk menyediakan intervensi gizi prioritas yang bersumber dari APBN, APBD
Provinsi, DAK, dan APBD.
3) Data sumber daya penyelenggaraan layanan, sekurang-kurangnya data jumlah dan distribusi dari:
a. sarana/prasarana pokok,
b. tenaga (SDM) inti pelaksanaan layanan, dan
c. logistik/peralatan pelaksanaan layanan.
4. Data cakupan layanan untuk setiap intervensi gizi prioritas, yang dirinci untuk tingkat Puskesmas/
Kecamatan/Desa. logistik/peralatan pelaksanaan layanan.
Aksi 2 : Rencana Kegiatan

Ruang lingkup Hasil rekomendasi dari Aksi 1

Rencana program/kegiatan untuk peningkatan cakupan dan integrasi


OUTPUT intervensi gizi pada tahun berjalan dan/atau satu tahun mendatang.

Penanggungjawab BAPPEDA (membentuk Tim pelaksana teknis antar OPD terkait)

TAHAPAN PENYUSUNAN RENCANA KEGIATAN INI SEKURANG-KURANGNYA MELIPUTI :


1. Penyusunan rancangan rencana kegiatan
a. Reviu dokumen perencanaan dan penganggaran terkait
b. Reviu hasil Musrenbang Desa dan Musrenbang Kecamatan
c. Pemetaan berbagai opsi sumber pendanaan
d. Pembahasan dan konsolidasi rancangan rencana kegiatan
2. Diskusi rancangan rencana kegiatan dengan DPRD
3. Ekspose Rancangan Rencana Kegiatan pada Rembuk Stunting Kabupaten/Kota
4. Finalisasi Rancangan Rencana Kegiatan
5. Integrasi Rencana Kegiatan ke dalam Dokumen Rencana dan Anggaran Tahunan Daerah
Aksi 3 : Rembuk Stunting
Ruang lingkup Rencana program/kegiatan dan anggaran untuk peningkatan cakupan dan
integrasi intervensi gizi pada tahun berjalan dan/atau satu tahun mendatang.

1. Komitmen penurunan stunting yang ditandatangani oleh bupati, perwakilan


DPRD, kepala desa, pimpinan OPD dan perwakilan sektor nonpemerintah dan
OUTPUT masyarakat.
2. Rencana kegiatan intervensi gizi terintegrasi penurunan stunting yang telah
disepakati oleh lintas sektor untuk dimuat dalam RKPD/Renja OPD tahun
berikutnya

Penanggungjawab Sekda, Bappeda

Peserta Rembuk Stunting tingkat kabupaten/kota adalah


1. Bupati/Wakil Bupati (Walikota/Wakil Walikota),
2. Sekretaris Daerah (Sekda), DPRD,
3. Bappeda,
4. OPD penanggung jawab layanan (terkait intervensi gizi prioritas),
5. Badan Kantor Perwakilan Kementerian Teknis,
6. unsur PKK,
7. para Camat dan Kepala Desa,
Aksi 4 : Perbup / Perwali tentang Peran/Kewewenangan Desa

Landasan hukum terkait peran desa dalam menurunan stunting


Ruang lingkup
(Peraturan Bupati/Walikota tentang peran desa)

OUTPUT 1. Menetapkan kewenangan desa dalam mendukung integrasi intervensi penurunan stunting
2. Meningkatkan alokasi penggunaan APBDes terutama penggunaan Dana Desa untuk kegiatan
yang dapat mendukung penurunan stunting
3. Menyediakan kader pembangunan manusia (KPM) untuk memfasilitasi pelaksanaan intervensi
penurunan stunting terintegrasi di tingkat desa
4. Meningkatkan kuantitas dan kualitas penyediaan layanan penurunan stunting
5. Meningkatkan peran serta masyarakat untuk memanfaatkan layanan penurunan stunting

Penanggungjawab Sekda / Dinas PMD

Peraturan Bupati/Walikota terkait peran desa dalam penurunan stunting terintegrasi dapat meliputi hal-hal berikut:
1. Kewenangan desa dalam menentukan prioritas alokasi pendanaan dalam APBDes
2. Peran kecamatan dalam mendukung pemerintah desa
3. Koordinasi pemerintah desa dengan OPD terkait dan fasilitator atau pendamping program
4. Peran kelembagaan masyarakat (Posyandu, PAUD, PKK, lainnya)
5. Dukungan untuk mobilisasi dan penyediaan insentif bagi kader pembangunan manusia
6. Dukungan untuk kampanye publik dan komunikasi perubahan perilaku di tingkat desa
Aksi 5 : Pembinaan Kader
Pembangunan Manusia (KPM)
1. Tugas KPM dalam integrasi penurunan stunting di tingkat desa
2. Sumber daya dan operasional Pembiayaan KPM
Ruang lingkup 3. Sistem insentif berbasis peningkatan kinerja KPM
4. Kinerja KPM dengan Dinas Layanan (OPD) terkait upaya penurunan
stunting

OUTPUT Mobilisasi KPM di seluruh desa berjalan dengan baik

Penanggungjawab BPMD ATAU SEBUTAN LAIN BERKOORDINASI DENGAN KEPALA DESA, KELURAHAN
DAN KECAMATAN
Tahapan yang dilakukan dalam pembinaan kader pembangunan manusia (KPM) meliputi:
1. Memahami tugas KPM
BPMD atau OPD yang bertanggung jawab terhadap urusan pemberdayaan masyarakat dan desa melakukan sosialisasi
tentang peran dan tangggung jawab KPM dalam rangka integrasi penurunan stunting tingkat desa kepada OPD terkait di
kabupaten/kota.
2. Mengidentifikasi ketersediaan sumber daya dan pembiayaan KPM
3. Mengembangkan dukungan sistem untuk mengoptimalkan kinerja KPM
4. Mensinergikan kinerja KPM dengan program OPD
Aksi 6 : Sistem Manajemen Data
Semua kegiatan mulai dari identifikasi kebutuhan data, pengumpulan data
Ruang lingkup hingga pemanfaatan data, untuk memastikan adanya informasi yang akurat
dan mutakhir

OUTPUT Data tersedia dan mudah akses untuk pengelolaan program penurunan
stunting, kebutuhan data dalam Aksi Integrasi lainnya terpenuhi

Penanggungjawab Bappeda

Apabila diperlukan, Bappeda juga dapat mendorong pengembangan dashboard sistem manajemen data terpadu di
tingkat kabupaten/kota untuk memudahkan indikator capaian dan kinerja dari setiap OPD yang terlibat dalam
program penurunan stunting.
Aksi 7 : Pengukuran dan Publikasi Stunting
• Memantau kemajuan pada tingkat individu.
Ruang lingkup • Mengembangkan program/kegiatan yang sesuai untuk peningkatan kesadaran dan partisipasi keluarga, pengasuh, dan masyarakat
untuk menjaga pertumbuhan anak balita yang optimal.
• Menyediakan upaya tindak lanjut terintegrasi dan konseling dalam rangka komunikasi perubahan perilaku
• Peningkatan efektivitas penentuan target layanan dan pengalokasian sumber daya.
• Pemecahan masalah dan memantu proses perencanaan di level desa hingga kabupaten/kota.
• Advokasi kepada unit-unit terkait di pemerintah daerah untuk integrasi program.

OUTPUT • Status gizi anak sesuai umur


• Angka prevalensi stunting di tingkat desa, kecamatan dan kabupaten/kota

Penanggungjawab Bappeda, Dinas Kesehatan

ADAPUN OPSI PLATFORM YANG DAPAT DIGUNAKAN KABUPATEN/KOTA DALAM PELAKSANAAN PENGUKURAN TERSEBUT ADALAH SEBAGAI BERIKUT:
1. Posyandu
Idealnya pemantauan pertumbuhan dan perkembangan anak pada kegiatan Posyandu dilakukan rutin setiap bulan sekali oleh tenaga kesehatan dibantu oleh KPM dan kader
Posyandu
2. Bulan Penimbangan Balita dan Pemberian Vitamin A
Kegiatan pengukuran panjang/tinggi badan dapat dilakukan bersamaan dengan bulan penimbangan balita dan pemberian Vitamin A yang dilakukan dua kali dalam setahun (bulan
Februari dan Agustus). Oleh tenaga kesehatan dibantu oleh KPM dan kader Posyandu
3. Survei gizi kabupaten/kota
Kabupaten/kota disarankan untuk menggabungkan data gizi yang berasal dari fasilitas kesehatan (Puskesmas, Rumah Sakit, posyandu) by name by address,
Aksi 8 : Reviu Kinerja Tahunan
1. Pelaksanaan 8 (delapan) Aksi Integrasi kabupaten/kota
Ruang lingkup 2. Realisasi rencana kegiatan penurunan stunting tahunan daerah.
3. Pelaksanaan anggaran program dan kegiatan intervensi stunting.

• Kinerja program/kegiatan penurunan stunting dalam hal realisasi output ( target kinerja cakupan intervensi gizi
OUTPUT spesifik dan sensitif),
• Realisasi rencana kegiatan penurunan stunting.
• Realisasi anggaran program/kegiatan penurunan stunting
• Faktor-faktor penghambat pencapaian kinerja dan identifikasi alternatif solusi.
• Perkembangan capaian outcome (angka prevalensi stunting).
• Rekomendasi perbaikan

Penanggungjawab
Sekretaris Daerah bertanggung jawab untuk memimpin dan mensupervisi proses dan hasil reviu. Bappeda bertanggung
jawab untuk mengkoordinasikan penyiapan materi reviu

Tahapan dalam melakukan reviu kinerja terdiri dari:

1. Identifikasi sumber data dan pengumpulan data kinerja program/kegiatan

2. Pelaksanaan reviu kinerja tahunan penurunan stunting terintegrasi


3. Menyusun dokumen hasil reviu kinerja tahunan.
Alokasi Khusus (DAK) untuk Intervensi Penurunan Stunting di
Desa Lokus Tahun 2019

DESA LOKUS PRIORITAS PENANGANAN STUNTING KABUPATEN/KOTA

INTERVENSI GIZI SENSITIF


INTERVENSI GIZI
SPESIFIK SEKTOR PEKERJAAN
PENDIDIKAN SOSIAL MASY PERTANIAN KEMDAGRI
KESEHATAN UMUM

DAK-FISIK DAK untuk


BOK BOK BOP-PAUD DAK FISIK
Pertanian Registrasi sipil

BO KB
Sasaran Penguatan Kapasitas Pemerintah Daerah dalam
Pelaksanaan Aksi Konvergensi/Integrasi
(a) Meningkatkan kapasitas Pemerintah Provinsi dalam melakukan pembinaan, pemantauan
dan evaluasi kepada pemerintah Kabupaten/Kota dalam penyelenggaraan Aksi Konvergensi
(b) Meningkatkan kapasitas Pemerintah Kabupaten/Kota dalam:
• Merancang, melaksanakan, memantau dan mengevaluasi implementasi Aksi Konvergensi
• Membina dan memperkuat koordinasi dengan kecamatan dan desa dalam rangka penyelarasan
pelaksanaan pelayanan intervensi gizi prioritas termasuk pemanfaatan Dana Desa
• Meningkatkan kualitas system data untuk membantu peningkatan kualitas pengelolaan sumber daya
kabupaten
(c) Memperkuat kapasitas pemerintah provinsi dalam melakukan penilaian kinerja untuk
konvergensi program di Kabupaten/Kota, dan
(d) Memfasilitasi pembelajaran praktik yang baik antar kabupaten
Peran Provinsi dalam Pencegahan Stunting
1. Menyiapkan kebijakan berkaitan dengan pencegahan stunting
2. Membentuk atau memanfaatkan tim koordinasi yang sudah ada untuk pencegahan stunting
3. Kampanye dan promosi pencegahan stunting dengan pendekatan behavior change
communication (BCC)
4. Mengalokasikan anggaran APBD Provinsi dan sumber dana lainnya yang sah untuk program
dan kegiatan pencegahan stunting kab/kota
5. Penguatan kapasitas sumberdaya provinsi dan kabupaten/kota
6. Stakeholder learning review pembelajaran antar kabupaten/kota
7. Melakukan monitoring dan evaluasi pelaksanaan 8 Aksi penurunan stunting terintegrasi di
kab/kota
8. Penilaian kinerja kab/kota dalam pencapaian aksi konvergensi pencegahan stunting
9. Menyiapkan sistem reward terhadap pencapaian kinerja kabupaten/kota dalam pencegahan
stunting
Peran Provinsi dalam Pembinaan dan Pengawasan Kinerja
Kabupaten/Kota
Ukuran keberhasilan
• Jumlah Kab/Kota yang melaksanakan seluruh aksi integrasi
• Tingkat realisasi program/kegiatan intervensi gizi terintegrasi di tingkat
kabupaten/kota
• Kenaikan cakupan intervensi gizi
• Kenaikan cakupan Rumah Tangga 1000 HPK yang mengakses intervensi gizi secara
simultan

Provinsi diharapkan mengembangkan cara-cara inovatif dalam pembinaan dan


pengawasan sehingga Kab/Kota termotivasi untuk meningkatkan kinerjanya
MONITORING PELAKSANAAN STRANAS DAN AKSI KONVERGENSI
PENCEGAHAN DAN PENURUNAN STUNTING
(ASPEK : ENABLING DAN PELAKSANAAN AKSI KONVERGENSI)
STATUS : APRIL 2019
Kabupaten/Kota prioritas
Tahun 2018-2019 160
Kab/Kota Menetapkan Tim Koordinasi
pelaksanaan Stunting melalui 49
SK/Perbub
Kab/Kota Komitmen terhadap
Percepatan Stunting melalui 38
SE/INSTRUKSI/PERBUP
Kab/Kota Mengikuti pelatihan aksi
108
konvergensi Intervensi Stunting
Jumlah Desa/Kelurahan Lokus
Kab/Kota Melaksanakan Aksi-1 47 intervensi pencegahan/penurunan 788
Analisis Situasi stunting Tahun 2020
Kab/Kota Melaksanakan Aksi-2
Rencana Kegiatan 27
Kab/Kota Melaksanakan Aksi-3
Rembuk Stunting 8
Kab/Kota Melaksanakan Aksi-4
Perbup/Perwali
6
PELAKSANAAN 8 AKSI KONVERGENSI AKAN DILAKSANAKAN PENILAIAN KINERJA

OUTLINE PEDUM PENILAIAN KINERJA PEMDA


DALAM UPAYA PENCEGAHAN DAN PENURUNAN STUNTING
Tujuan OUT LINE JUKNIS
• Definisi • memberikan informasi tentang: PENILAIAN KINERJA

• Merupakan proses penilaian 1. Aspek kinerja apa saja yang sudah baik 1. Definisi dan Tujuan
Penilaian Kinerja
kemajuan kinerja kabupaten/kota atau yang masih perlu ditingkatkan
2. Pendekatan Penilaian
dalam melakukan upaya untuk dari setiap kab/kota Kinerja
memperbaiki dan melaksanakan 3. Ruang Lingkup Penilaian
2. Perbandingan kinerja kab/kota dalam
konvergensi intervensi gizi (spesifik Kinerja
wilayah provinsi
dan sensitif) 4. Indikator Penilaian
3. Pembelajaran yang dapat Kinerja
• Upaya dimaksud dilakukan melalui
dimanfaatkan kab/kota dari kab/kota 5. Hasil Penilaian Kinerja
pelaksanaan 8 (delapan) aksi
integrasi dalam perencanaan, lain dalam wilayah provinsi (peer 6. Tahapan Pelaksanaan
penganggaran, implementasi, learning) untuk meningkatkan kualitas 7. Tindak Lanjut Hasil
dan hasil pelaksanaan 8 aksi integrasi.
Penilaian Kinerja
pemantauan, dan evaluasi
program/kegiatan
PENDEKATAN
PENILAIAN
KINERJA

• Fokus pada perbaikan


manajemen intervensi gizi
spesifik dan sensitive
• Menilai hasil antara dalam
upaya penurunan
prevalensi stunting
• Memantau kemajuan
Indeks Khusus Penanganan
Stunting mulai tahun
pertama penilaian
RUANG LINGKUP PENILAIAN
Tahun I Tahun II Tahun III
Aksi 1-4 Tahun I Aksi 5-8 Tahun I Indeks Khusus Penanganan
Aksi 1-4 Tahun II Stunting

Menilai hasil kinerja 4 aksi integrasi menilai hasil kinerja 4 aksi integrasi menilai peningkatan
yang terkait dengan perbaikan yang berkaitan dengan konvergensi/integrasi intervensi
perencanaan, penganggaran, dan pelaksanaan, pemantauan, dan gizi (spesifik dan sensitif). Kinerja
pemberian dukungan kepada desa evaluasi pada tahun pertama dan 4 ini diukur melalui skor indeks
aksi integrasi yang terkait khusus penanganan stunting
perencanaan, penganggaran, dan yang dihitung secara independen
pemberian dukungan kepada desa oleh Badan Pusat Statistik (BPS).
pada tahun kedua
PENANGGUNG JAWAB DAN
WAKTU PELAKSANAAN PENILAIAN KINERJA
❑ PENANGGUNG JAWAB:
Penilaian kinerja dilaksanakan oleh pemerintah provinsi dan hasilnya
dikonsolidasikan oleh Bangda.
❑ WAKTU PELAKSANAAN:
Pelaksanaannya setiap Juli s.d Agustus

INDIKATOR PENILAIAN KINERJA

A. Indikator Penilaian Kinerja oleh Pemerintah Provinsi


B. Indikator Penilaian oleh Sesama Pemerintah Kab/Kota
A. INDIKATOR PENILAIAN KINERJA OLEH PEMERINTAH PROVINSI
Penilaian oleh provinsi adalah untuk menyusun rapor kab/kota, peringkat
masing-masing kab/kota, dan menentukan kab/kota dengan kinerja terbaik
dalam wilayah provinsi
• Indikator penilaian kinerja pada tahun pertama dan kedua disusun
berdasarkan kinerja yang diharapkan dicapai dari setiap aksi
konvergensi/integrasi.
• Kinerja dari setiap aksi konvergensi/integrasi ini mengacu pada Pedoman
dan Petunjuk Teknis Pelaksanaan Intervensi Penurunan Stunting
Terintegrasi.
• Setiap indikator penilaian dilengkapi dengan nilai capaian kab/kota. Nilai
capaian disusun dalam kategori A (Baik), B (Cukup), C (Kurang), dan D (Tidak
Memperoleh Nilai (gagal).
Lanjutan...
• Indikator penilaian kinerja pada tahun ketiga menggunakan Indeks Khusus Penanganan Stunting
(IKPS). Indeks ini dihitung oleh BPS berdasarkan data yang didapatkan melalui survey.
• IKPS umumnya merupakan index yang menggabungkan indikator-indikator cakupan intervensi
pada Rumah Tangga 1000 HPK, seperti cakupan imunisasi lengkap, cakupan rumah tangga
dengan akses air minum dan sanitasi layak, dan cakupan rumah tangga yanhg mengalami
ketidakcukupan konsumsi pangan.
• Perkembangan indeks pada masing-masing kab/kota akan dipantau pada pelaksanaan penilaian
kinerja tahun pertama dan kedua, walaupun tidak termasuk sebagai dasar penilaian kinerja
pada tahun pertama dan kedua tersebut.
B. INDIKATOR PENILAIAN OLEH SESAMA PEMERINTAH KAB/KOTA

• Penilaian ini untuk menentukan kab/kota yang mendapat penghargaan untuk kategori
kabupaten/kota:
✓ Paling inspiratif; mampu menstimulasi gagasan untuk mengembangkan
cara/kegiatan/kebijakan yang lebih kreatif/inovatif
✓ Paling replikatif; dapat direplikasi oleh kab/kota lain, baik parsial maupun menyeluruh
✓ Paling inovatif; menunjukkan cara-cara baru (belum ada sebelumnya) atau
pembaharuan/modifikasi dari cara/praktik yang telah dilakukan sebelumnya
• Kab/kota yang menjadi peserta penilaian maupun yang menjadi peserta undangan
memberikan penilaian.
• Kabupaten/kota yang unggul pada kategori tersebut berdasarkan hasil pemilihan/dukungan
terbanyak yang disertai dengan alasan mengapa memilih
TINDAK LANJUT HASIL PENILAIAN KINERJA
Provinsi
• Gubernur menyampaikan rapor penilaian setiap kab/kota kepada
bupati/walikota masing-masing.
• Rapor penilaian diberikan dalam bentuk matriks kinerja kabupaten/kota
beserta rekomendasi perbaikan yang harus dilakukan.
• Menyusun /memperbaharui rencana pendampingan, termasuk
pemantauan tindak lanjut rekomendasi oleh kabupaten/kota.
• Melaporkan hasil penilaian kinerja kepada Ditjen Bina Bangda
Lanjutan...
Kab/Kota
• Kabupaten/kota memiliki kewajiban untuk menindaklanjuti rekomendasi yang
diberikan.
• Pelaksanaan tindak lanjut ini akan dipantau secara berkala oleh provinsi
Ditjen Bina Bangda
• Melakukan dan menyampaikan hasil verifikasi laporan pelaksanaan penilaian
kinerja yang disampaikan oleh provinsi.
• Mempublikasikan hasil penilaian kinerja.
• Memberikan penghargaan kepada provinsi berdasarkan kinerja melakukan
pembinaan kabupaten/kota
HASIL PENILAIAN
KINERJA
TAHAPAN PELAKSANAAN • Menunjuk panelis tim penilai kinerja
• Briefing dan pelatihan proses penilaian kinerja
1 Persiapan Tim Provinsi • Menentukan daerah yang dinilai dan yang diundang 4 minggu sebelum
• Menyusun jadwal pelaksanaan pelaksanaan
Mengirim surat pemberitahuan dan Paling lambat 2 minggu
2 Pengumuman Pelaksanaan undangan kepada kab/kota sebelum jadwal pelaksanaan

Memastikan data penunjang tersedia di web monitoring.


3 Verifikasi Data kab/Kota
Pemaparan oleh kabkota, verifikasi materi pemaparan dengan data
4 Pelaksanaan Penilaian penunjang pada web monitoring, umpan balik dari kabkota Hari H

Rapat tim panelis untuk penyepakatan:


5 Kesepakatan Hasil • Nilai Kab/Kota untuk setiap indikator Hari H
• Peringkat kinerja kab/kota
menetapkan peringkat kinerja setiap kabupaten/kota dan mengumumkan
Pengumuman Nilai Kinerja
6 Kab/Kota
hasil penilaian kinerja & kategori (inspiratif, replikatif, inovatif)
Hari H
kepada seluruh kabupaten/kota

Laporan Pelaksanaan kepada melaporkan proses dan hasil penilaian kinerja


7 Ditjen Bina Bangda
Awal Agustus
KEMAJUAN PELAKSANAAN AKSI KONVERGENSI
PENCEGAHAN DAN PENURUNAN STUNTING PEMERINTAH DAERAH
STATUS: APRIL 2019

34
LANJUTAN AKSI KEMAJUAN PELAKSANAAN AKSI
KONVERGENSI PEMDA…………………………

35
II. ISU-ISU YANG MEMBUTUHKAN KESEPAKATAN LINTAS KEMENTERIAN:

➢ Saat ini konvergensi masih pada aksi 1-4 yang masih menjadi domain Kemendagri sebagai sektor
utama, sementara untuk aksi 5-7 membutuhkan peran lintas sektor terutama kemenkes dan
Kemendes untuk memastikan tools penurunan prevensi di pedomani dan dilaksanakan oleh
daerah
➢ Dukungan lintas kementerian agar Kab/Kota memang siap mengikuti penilaian kinerja pada
Agustus 2019,
➢ Dukungan pembiayaan penilaian kinerja, mengantisipasi pemerintah provinsi tidak memiliki
anggaran yang cukup untuk melaksanakannya pada tahun pertama (Agustus2019)
➢ Insentif bagi kabkota dengan predikat kinerja teratas dan pemberian penghargaan terhadap
upaya Pemerintah Daerah dalam upaya konvergensi pencegahan dan penurunan stuntung.
➢ Intervensi pencegahan dan penurunan prevalensi stunting masih belum masih belum optimal
pada sasaran 1000 HPK
TERIMA KASIH

Anda mungkin juga menyukai