Anda di halaman 1dari 46

LAPORAN AKHIR PENELITIAN FUNDAMENTAL

LAPORAN AKHIR PENELITIAN FUNDAMENTAL Uji Kekuatan dan Ketahanan Dinding Pasangan Batako Styrofoam Terhadap Panas untuk

Uji Kekuatan dan Ketahanan Dinding Pasangan Batako Styrofoam Terhadap Panas untuk Pengembangan Industri Batako Ringan dan Mengurangi Pencemaran Lingkungan di Pontianak

Tahun ke-1 dari rencana 1 tahun

Ketua

:

M. Yusuf, ST, MT

(NIDN: 0020057001)

Anggota

:

Erni Yuniarti, ST, M.Si Hafzoh Batubara, ST, M.Sc

(NIDN: 0003077805) (NIDN: 0010126811)

UNIVERSITAS TANJUNGPURA PONTIANAK NOVEMBER 2013

HALAMAN PENGESAHAN
HALAMAN PENGESAHAN

ii

RINGKASAN

Memperingan bangunan (struktur atas) merupakan salah satu alternatif pilihan untuk mengatasi tanah yang mempunyai daya dukung rendah. Dinding batako umumnya merupakan komponen bangunan yang bersifat non-struktural. Penelitian ini mengembangkan batako ringan dengan campuran styrofoam. Dalam penelitian ini, pada sampel batako styrofoam dilakukan uji bakar secara individu menggunakan tungku listrik hingga suhu 900ºC. Dari Hasil uji bakar diketahui bahwa batako styrofoam membara namun tidak mengeluarkan api yang menyala. Setelah dibakar, kekuatan batako turun 47%. Dari hasil uji geser batako dalam bentuk pasangan, diperoleh bahwa dinding pasangan batako styrofoam tidak mengalami runtuh secara tiba-tiba, melainkan secara perlahan-lahan. Keruntuhan ini terjadi pada batako sedangkan siar-siar antarbatako dapat melekat dengan baik.

Kata-kata kunci: batako styrofoam, uji bakar, uji pasangan

iii

PRAKATA

Penulis memanjatkan puji dan syukur kehadirat Allah SWT karena atas limpahan karunia-Nyalah sehingga penelitian ini dapat terlaksanakan hingga tersusunnya Laporan Akhir ini.

Penulis juga mengucapkan terima kasih kepada beberapa pihak yang ikut membantu terlaksananya penelitian ini, antara lain kepada:

1)

Bapak Ir. Junaidi, M.Sc, selaku Dekan Fakultas Teknik Universitas

2)

Tanjungpura; Bapak Dr. Amrazi Zakso, M.Pd, selaku Ketua Lembaga Penelitian Universitas

3)

Tanjungpura; Bapak Ir. Dharma Sardjana, MT, selaku Ketua Laboratorium Bahan dan

4)

Konstruksi; Kepala SMK Negeri 6 Pontianak, beserta guru Kriya Keramik SMK Negeri 6

5)

Pontianak; Staf laboratorium dan adik-adik mahasiswa yang langsung maupun tidak langsung telah ikut membantu selama pelaksanaan kegiatan penelitian.

Penelitian ini telah dilaksanakan dengan usaha yang maksimal. Namun penulis menyadari bahwa dalam pelaksanaan penelitian hingga Laporan Akhir ini masih terdapat banyak kekurangan yang dikarenakan keterbatasan kemampuan penulis. Karena itu, segala saran dan kritik konstruktif dari manapun datangnya akan penulis terima dengan lapang dada. Akhir kata, penulis berharap agar hasil penelitian ini memberikan informasi yang berharga tentang batako ringan styrofoam.

Pontianak, November 2013

iv

Penulis

DAFTAR ISI

Halaman Pengesahan

ii

Ringkasan

iii

Prakata

iv

Daftar Isi

v

Daftar Tabel

vi

Daftar Gambar

vii

BAB I PENDAHULUAN

1

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

4

2.1

Styrofoam

4

2.1.1 Proses Pembuatan Polistirena atau Styrofoam

4

2.1.2 Sifat-Sifat Fisis Styrofoam

5

2.1.3 Dampak Terhadap Lingkungan

5

2.2 Beton Ringan

6

2.3 Batako Pejal

7

2.4 Dinding Pasangan

7

2.5 Konduksi dan Konduktivitas Termal

8

2.5.1 Konduktivitas Termal Non-logam

9

2.5.2 Bahan

Styrofoam

10

2.5.3 Bahan Semen dan Pasir

11

2.6 Potensi Penggunaan Bata Ringan di Pontianak dan Sekitarnya

11

2.7 Batako dalam Arsitektur

13

2.8 Penelitian Terdahulu

15

BAB III TUJUAN DAN MANFAAT PENELITIAN

16

 

3.1 Tujuan

16

3.2 Manfaat Penelitian

16

BAB IV METODE PENELITIAN

17

4.1

Bahan dan Alat

17

4.1.1 Bahan

17

4.1.2 Alat

17

4.2 Pelaksanaan

4.2.1 Pembebanan Pasangan

Uji

4.2.2 Pembakaran

Uji

4.2.2.1 Ukuran dan jumlah benda uji

4.2.2.2 Prosedur Pengujian

4.2.2.3 Hasil uji

19

19

20

20

20

20

BAB V HASIL DAN PEMBAHASAN

21

5.1 Deskripsi Sampel yang Digunakan

21

5.2 Hasil Uji Bakar

25

5.3 Hasil Uji Pasangan

29

BAB VI KESIMPULAN DAN SARAN

33

6.1 Kesimpulan

33

6.2 Saran

33

Daftar Pustaka

34

v

DAFTAR TABEL

Tabel 2.1

Physical properties of expanded polystyrene

5

Tabel 2.2

Persyaratan fisik bata beton pejal

7

Tabel 5.1

Hasil uji tekan batako styrofoam dan batako biasa

23

Tabel 5.2

Berat batako styrofoam untuk uji bakar

25

Tabel 5.3

Hasil uji pembebanan pasangan

31

vi

DAFTAR GAMBAR

Gambar 2.1

Dinding batako berpori dan batako ekspos

14

Gambar 2.2

Dinding batako berpori dilihat dari dalam ruangan

14

Gambar 2.3

Suasana interior dengan dinding batako ekspos

14

Gambar 4.1

Cetakan sampel uji bakar

17

Gambar 4.2

Cetakan batako

18

Gambar 4.3

Tungku listrik

18

Gambar 4.1

Dinding pasangan

19

Gambar 5.1

Styrofoam masih dalam bentuk lembaran

21

Gambar 5.2

Hasil parutan styroforam

21

Gambar 5.3

Batako styrofoam

22

Gambar 5.4

Sampel uji bakar

24

Gambar 5.5

Sampel uji dalam wadah keramik (tutup wadah keramik sedang dibuka)

26

Gambar 5.6

Alat pembaca suhu pada tungku

26

Gambar 5.7

Pembakaran sampel di cerobong tungku

27

Gambar 5.8

Pembakaran sampel ke dalam cerobong tungku pada suhu 900C

27

Gambar 5.9

Sampel membara ketika dikeluarkan dari dalam cerobong tungku . 28

Gambar 5.10

Hasil pembakaran sampel di dalam tungku

28

Gambar 5.11

Uji bakar langsung dengan nyala api

29

Gambar 5.12

Sampel uji pasangan

29

Gambar 5.13

Kaca untuk tumpuan jarum dial gauge

30

Gambar 5.14

Pembebanan tak langsung menggunakan dongkrak hidrolik

30

Gambar 5.15

Grafik beban versus perpindahan

31

Gambar 5.16

Kegagalan lekatan pada perletakan pasangan

32

Gambar 5.17

Pengekangan pasangan

32

vii

BAB I PENDAHULUAN

Dari sudut pandang ketekniksipilan, tanah di Pontianak tidak menguntungkan

karena sangat lunak sehingga mempunyai daya dukung yang sangat rendah. Masih

sering terjadinya kegagalan fondasi bangunan di lapangan dikarenakan belum

mampunya para praktisi (perencana maupun pelaksana) memperhitungkan

ketidakpastian tanah. Usaha yang dapat dilakukan untuk mengatasi rendahnya daya

dukung tanah di Pontianak ini adalah dengan memperkuat tanah fondasi ataupun

dengan memperingan struktur atas. Perkuatan struktur bawah (substruktur) dilakukan

berupa pemancangan tiang cerucuk sehingga tanah pendukung menjadi lebih padat di

samping mobilisasi kapasitas gesek tiang cerucuk tersebut, dan penggantian tanah

permukaan dengan tanah urug. Memperingan struktur atas (superstruktur) dilakukan

dengan memperingan komponen nonstruktural, antara lain menggunakan dinding

simpai ataupun dinding pasangan bata beton berlubang (batako) dan penutup atap

dari genteng metal atau seng gelombang, dan sebagainya. Para peneliti di lingkungan

Fakultas Teknik Universitas Tanjungpura sedang giat mengembangkan batako ringan

untuk maksud tersebut, antara lain Samsurizal dan Yusuf (2006), Yusuf dkk (2006),

Firmansyah dan Herwani (2007), Samsurizal dkk (2008).

Di lain pihak, meningkatnya kesejahteraan suatu masyarakat akan berdampak

pada meningkatnya keperluan terhadap barang-barang elektronik dan sejenisnya.

Untuk menjaga agar barang-barang tersebut sampai ke konsumen dalam keadaan

baik maka produsen biasa mengemas barang tersebut dengan menggunakan bahan

pelindung seperti styrofoam. Biasanya setelah digunakan sebagai pelindung bahan

styrofoam ini dibuang begitu saja oleh pembeli barang elektronik. Hal ini berarti

semakin meningkatnya kebutuhan barang-barang elektronik dan sejenisnya tersebut

maka akan semakin meningkat pula limbah styrofoam. Pada saat air pasang dan

banjir melanda kota Pontianak, styrofoam yang terapung di permukiman sungai

dapat mengganggu kelancaran aliran air yang melewati pintu air dan menyumbat

parit-parit dan hanyut ke jalan-jalan yang akhirnya berdampak pada pencemaran

lingkungan. Di samping itu, limbah styrofoam sangat sulit hancur/terurai walaupun

telah tertanam di dalam tanah bertahun-tahun.

1

2

Bahan pengemas styrofoam atau polystyrene juga telah menjadi salah satu pilihan yang paling popular dalam bisnis pangan. Styrofoam yang dibuat dari kopolimer styrene ini menjadi pilihan bisnis pangan karena mampu mencegah kebocoran dan tetap mempertahankan bentuknya saat dipegang. Selain itu, bahan tersebut juga mampu mempertahankan panas dan dingin tetapi tetap mempertahankan panas dan dingin tetapi tetap nyaman dipegang mempertahankan kesegaran dan keutuhan bahan yang dikemas, biaya murah, lebih aman, serta ringan.

Pada Juli 2001, Divisi Keamanan Pangan Pemerintah Jepang mengungkapkan bahwa residu Styrofoam dalam makanan sangat berbahaya. Residu itu dapat menyebabkan endocrine disrupter (EDC), yaitu suatu penyakit yang terjadi akibat adanya gangguan pada sistem endokrinologi dan reproduksi manusia akibat bahan kimia karsinogen dalam makanan. Selain itu, Beberapa lembaga dunia seperti World Health Organization, International Agency for Research on Cancer, dan EPA (Enviromental Protection Agency) telah nyata-nyata mengkategorikan styrofoam sebagai bahan karsinogen (bahan penyebab kanker).

Styrofoam juga berdampak buruk pada lingkungan. Styrofoam tidak bisa diuraikan oleh alam dan akan menumpuk begitu dan mencemari lingkungan. Bila terbawa ke laut dapat merusak ekosistem dan biota laut. Styrofoam hanya bisa didaur ulang, karena itu Styrofoam dikategorikan sebagai penghasil limbah berbahaya ke-5 terbesar di dunia. Bahkan pembuatannya saja menimbulkan bau tak sedap yang mengganggu pernapasan dan melepaskan 57 zat berbahaya ke udara. Di Indonesia, penggunaan styrofoam sebagai wadah makanan semakin menjamur. Mulai dari restoran cepat sampai para penjaja makanan di pinggir jalan,menggunakan bahan ini untuk membungkus makanan mereka. Styrofoam sangat marak digunakan. Styrofoam umumnya memiliki warna putih dan terlihat bersih. Bentuknya juga simpel dan ringan.

kesehatan

manusia maupun lingkungan, maka perlu dicari solusi atau alternatif agar penggunaan Styrofoam ini dapat dihentikan, untuk mengurangi pencemaran lingkungan dan resiko kematian pada manusia.

Mengingat

akan

dampak

negatif

yang

sangat

membahayakan

Perkembangan industri batako konvensional di Pontianak sudah menjamur. Penelitian ini merupakan usaha untuk merintis pengembangan bahan konstruksi yang

3

ringan menggunakan styrofoam sebagai bahan campuran pada pembuatan batako ringan sebagai alternatif dari penggunaan batako konvensional yang relatif lebih berat. Batako yang dibuat memiliki rongga (pori) di mana rongga tersebut adalah styrofoam. Dipilih styrofoam karena styrofoam hampir tidak mempunyai berat tetapi cukup kaku, dan sekaligus sebagai pemanfaatan barang limbah sehingga limbah styrofoam bernilai ekonomis. Penelitian sebelumnya meneliti komposisi material yang kemudian diuji secara individu. Penelitian ini merupakan lanjutan penelitian sebelumnya, yaitu pengujian terhadap panas dan pengujian dalam bentuk dinding pasangan.

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

2.1

Styrofoam

2.1.1

Proses Pembuatan Polistirena atau Styrofoam

Salah satu jenis polistirena yang cukup populer di kalangan masyarakat

produsen maupun konsumen adalah polistirena foam. Polistirena foam dikenal luas

dengan istilah styrofoam yang seringkali digunakan secara tidak tepat oleh publik

karena sebenarnya styrofoam merupakan nama dagang yang telah dipatenkan oleh

perusahaan Dow Chemical. Secara laboratorium dapat dibuat melalui dehidrogenasi

etil benzene, yaitu dengan melewatkan etilena melalui cairan benzena dengan

tekanan yang cukup dan aluminiumklorida sebagai katalisnya. Etil benzena

didehidrogenasi menjadi stirena dengan melewatkannya melalui katalis oksida aktif.

Pada suhu sekitar 600C stirena disuling dengan cara destilasi maka didapatkan

polistirena. Polistirena padat murni adalah sebuah plastik tak berwarna, keras dengan

fleksibilitas yang terbatas yang dapat dibentuk menjadi berbagai macam produk

dengan detil yang bagus. Penambahan karet pada saat polimerisasi dapat

meningkatkan fleksibilitas dan ketahanan kejut. Polistirena jenis ini dikenal dengan

nama High Impact Polystyrene (HIPS). Polistirena murni yang transparan bisa dibuat

menjadi beraneka warna melalui proses compounding. Polistirena foam yang

dihasilkan dari percampuran 90-95% polistirena dan 510% gas-gas tertentu seperti

n-butana atau n-pentana. Dahulu, blowing agent yang digunakan adalah berupa

senyawa CFC (Freon), karena golongan senyawa ini dapat merusak lapisan ozon.

Oleh karenanya, saat ini tidak dipergunakan lagi. Kini yang digunakan adalah

blowing agent yang lebih ramah lingkungan. Polistirena yang dibuat dari monomer

stirena dilakukan melalui proses polimerisasi. Polistirena foam yang dibuat dari

monomer stirena melalui polimerisasi suspensi pada tekanan-tekanan dan suhu

tertentu, selanjutnya dilakukan pemanasan untuk melunakkan resin yang ada serta

ikut menguapkan sisa-sisa blowing merupakan insulator-insulator yang baik.

Sedangkan monomer polistirena foam merupakan bahan plastik yang memiliki sifat

tertentu atau khusus dengan struktur yang tersusun dari beberapa butiran dengan

kerapatan rendah, mempunyai bobot ringan, dan terdapat di dalam ruang-ruang antar

4

5

butiran yang berisi udara minuman-minuman beralkohol atau bersifat asam juga

meningkatkan laju migrasi.

2.1.2 Sifat-Sifat Fisis Styrofoam

Styrofoam umumnya dikenal berupa busa bergelembung dan berbutir yang

sangat ringan dan cukup kaku berwarna putih yang biasa digunakan untuk mengemas

(mengepak) barang-barang elektronik. Styrofoam sebenarnya adalah nama merek

dagang foam polystyrene produk perusahaan Dow Chemical. Nama produk tersebut

sebenarnya adalah foamed polystyrene yang dibuat dengan mengkombinasikan

styrene dengan isobutylene (cairan yang mudah menguap). Beratnya 30 kali lebih

ringan daripada polystyrene biasa.

Sifat mekanik styrofoam bergantung kelasnya. Untuk “IB Styrofoam”,

densitasnya sebesar 28 kg/m 3 , kuat tekan sebesar 250 kPa, kuat tarik sebesar 450

kPa, kuat geser sebesar 200 kPa, modulus tekan/tarik sebesar 1018 MPa, modulus

geser sebesar 7 MPa. Untuk jenis yang lain disajikan pada Tabel 2.1 (BASF, 1995).

Tabel 2.1

Physical properties of expanded polystyrene

Quantity/Unit

Numerical value

Density

15

20

30

Stress (kPa)

     

- instant strain 10%

60-110

110-160

200-250

- final strain 1.5-2.0%

25-30

40-50

70-90

Flexural strength (kPa) Shear strength (kPa) Elasticity Modulus in compression (MPa)

60-300

150-390

330-570

80-130

120-170

210-260

1.6-5.2

3.4-7.0

7.7-11.3

2.1.3 Dampak Terhadap Lingkungan

Bagi lingkungan, styrofoam adalah musuh besar yang paling dihindari. Karena

sifatnya yang tidak bisa diuraikan oleh alam sama sekali dan sulit didaur ulang

karena kurangnya fasilitas daur ulang yang sesuai. Dimulai dari proses produksi yang

menghasilkan limbah sangat berbahaya. Data dari EPa (Enviromental Protection

Agency) limbah hasil pembuatan styrofoam ditetapkan sebagai limbah berbahaya ke-

5 terbesar di dunia. Bau pada proses produksinya mampu mengganggu pernapasan

dan pelepasan 57 zat berbahaya ke udara. Styrofoam yang telah diproduksi dalam

jumlah banyak itu dibiarkan menumpuk dan mencemari lingkungan dan merusak

keseimbangan kehidupan biota laut.

6

2.2 Beton Ringan

Bangunan dengan bobot massa yang ringan memiliki keamanan yang relatif baik terhadap gaya gempa (Amri, 2005). Pembuatan dan penggunaan beton ringan bertujuan untuk mengurangi bobot terutama untuk bangunan yang bertingkat tinggi. Berbeda dengan beton berat normal yang mempunyai prosedur perencanaan campuran (mix design) yang jelas, perencanaan campuran beton ringan lebih banyak dilakukan secara trial and error, karena beton ringan selalu mempunyai porositas yang tinggi yang potensial menyerap banyak air. Dewasa ini, beton ringan dengan berat 120 kg/m 3 sudah bisa diperoleh (Nawy, 2008).

Beton ringan adalah beton yang mempunyai kepadatan lebih rendah daripada beton normal. Klasifikasi kepadatan beton ringan tergantung dari penggunaan beton tersebut. Beton ringan untuk komponen struktural sesuai ASTM C 330 mempunyai kekuatan silinder pada umur 28 hari tidak kurang dari 17 MPa dan kepadatannya tidak lebih dari 1840 kg/m 3 menggunakan ASTM C 567. Biasanya beratnya berkisar antara 1400 1800 kg/m 3 (Neville dan Brooks, 1987). Beton ringan untuk komponen nonstruktural sesuai ASTM C 331 mempunyai kekuatan antara 714 MPa dan kepadatannya antara 500800 kg/m 3 . Yusuf dan Elvira (2007) mendapatkan beton ringan struktural dengan berat kurang dari 1800 kg/m 3 dan kuat tekan lebih dari 17 MPa. Ginting (2007) mendapatkan kuat tekan beton styrofoam ringan sebesar 1,59 MPa. Satyarno (2006) mendapatkan beton ringan styrofoam dengan berat 330 kg/m 3 . Di samping itu, pada kuat tekan yang sama dalam rentang 7 21 MPa, modulus elastisitas beton agregat ringan berkisar 0,5 0,75 dari nilai modulus beton agregat alamiah (Murdock dan Brook, 1979).

Klasifikasi beton ringan juga dapat dilakukan menurut cara produksi beton tersebut (Nugraha dan Antoni, 2007; Mulyono, 2004; Tjokrodimuljo, 1995), yaitu

a) Beton ringan yang terbuat dari agregat dengan specific gravity lebih rendah dari 2,6 disebut lightweight aggregate concrete.

b) Beton ringan yang dibuat dengan cara memasukkan gelembung udara ke dalam material disebut aerated, cellular, foamed atau gas concrete.

c) Beton ringan yang dibuat tanpa menggunakn agregat halus disebut no-fines concrete.

7

Mengingat styrofoam mempunyai kepadatan yang relatif ringan (1530 kg/m 3 )

sehingga fungsinya pada beton mirip dengan gelembung udara maka beton yang

dihasilkan identik dengan foamed concrete.

2.3 Batako Pejal

SNI 03-0349-1989 menyebutkan bahwa bata beton pejal adalah bata beton

yang mempunyai luas penampang pejal 75% atau lebih dari luas penampang

seluruhnya, dan mempunyai volume pejal lebih dari 75% volume seluruhnya.

Ukuran standar bata beton pejal sesuai dengan SNI 03-0349-1989 adalah panjang

lebar tebal = (390 3)mm (90 2)mm (100 2)mm.

Batako pejal yang dimaksud dalam penelitian ini adalah bata beton pejal yang

memenuhi persyaratan fisik bata beton pejal minimal Mutu IV seperti disajikan pada

Tabel 2.2. Kuat tekan bruto adalah beban tekan keseluruhan pada waktu benda uji

pecah, dibagi dengan luas ukuran nyata dari bata termasuk luas lubang serta

cekungan tepi.

Tabel 2.2

Persyaratan fisik bata beton pejal

Syarat fisik

Satuan

Tingkat mutu baja beton pejal

I

II

III

IV

Kuat tekan bruto rata-rata minimum

kg/cm 2

100

70

40

25

Kuat tekan bruto masing-masing benda uji minimum

kg/cm 2

90

65

35

21

Penyerapan air rata-rata

%

25

35

-

-

2.4 Dinding Pasangan

Dinding pasangan (masonry) merupakan konstruksi permanen tertua di dunia.

Secara historis, perencanaan dan pelaksanaannya dilakukan secara trial and error.

Bentuk dan jenis konstruksi dinding pasangan yang berhasil dibangun menjadi

contoh untuk dikembangkan. Hanya pada abad terakhir ini konstruksi dinding

pasangan dibangun secara filosofis menggunakan ilmu rekayasa dan pendekatan

yang rasional. Pemasangan dinding pasangan umumnya dilaksanakan secara

tradisional, akan tetapi penggunaannya sangat luas tidak terkecuali pada bangunan

modern.

8

Pada awalnya, dinding pasangan disusun dari bata batu atau bata tanah. Mortar sejak pertama ditemukan, telah mengalami perkembangan yang sangat dramatis. Mortar yang semula dibuat untuk menutupi celah akibat ketidakberaturan bentuk bata batu atau potongan batu pada dinding pasangan, kini telah banyak diproduksi sebagai bata beton. Bata beton atau disebut batako, kini sudah luas pemakaiannya karena cukup murah dan mudah dibentuk dan diproduksi dengan kualitas terkontrol.

Perencanaan dinding pasangan tidak dapat diperoleh secara akurat baik dalam perhitungan maupun dalam pelaksanaannya. Pemahaman menyeluruh tentang dinding pasangan menyangkut bahan, kompatibilitas, dan detailing sangat penting untuk mendapatkan sistem dinding pasangan yang baik. Kombinasi pada susunan individu batako, mortar, grouting, perkuatan, kondisi lingkungan proyek, variasi keterampilan tukang/pekerja merupakan variabel yang berpengaruh terhadap kekuatan dinding pasangan. Variabel-variabel ini dapat menyebabkan hasil akhir dinding pasangan yang tidak diharapkan dan tidak terkontrol. Untuk memperhitungkan pengaruh dari kombinasi variabel-variabel tersebut, maka faktor keamanan yang diberikan selalu lebih konservatif daripada sistem konstruksi yang lain. Secara garis besar, persyaratan batako untuk dinding pasangan terbagi ke dalam dua kategori yaitu syarat secara individu dan syarat sebagai pasangan.

Pada penelitian batako styrofoam yang telah dilakukan sebelumnya, pengujian secara individu telah dilakukan dengan berbagai variabel (Samsurizal dan Yusuf, 2006; Yusuf dkk, 2006). Karena itu, untuk mendapatkan hasil yang lebih komprehensif maka penelitian tersebut perlu dilanjutkan ke dalam model dinding pasangan. Metode pengujian mengacu pada ASTM E 564-00 dan ASTM E 2126-02a dengan model rangka seperti yang dilakukan dalam Syahruddin (2006).

2.5 Konduksi dan Konduktivitas Termal

Pada dasarnya, ada tiga cara perpindahan panas dapat terjadi. Di dalam zat cair, panas berpindah secara konveksi, yaitu pergerakan zat cair itu sendiri yang membawa panas berpindah dari satu tempat ke tempat lain. Pada zat padat, perpindahan panas terjadi dengan cara konduksi, yaitu panas berpindah tidak dengan cara berpindahnya zat, tapi perpindahan panas terjadi karena perpindahan energi di dalam zat tersebut. Cara ketiga terjadinya perpindahan panas yaitu radiasi, di mana

9

panas

elektromagnetik.

berpindah

melalui

pemancaran

atau

penyerapan

energi

gelombang

Ketika perpindahan panas terjadi secara konduksi, zat yang membawa panas tidak ikut berpindah. Perpindahan panas terjadi secara internal yang diakibatkan perbedaan suhu sehingga atom-atom dan molekul-molekul di dalam zat tersebut bergetar atau berpindah. Elektron di dalam atom juga dapat membawa dan memindahkan panas, sehingga bahan logam merupakan penghantar yang sangat baik bagi panas. Logam memiliki sangat banyak elektron-elektron yang bebas bergerak dan dapat memindahkan panas dari satu sisi logam ke sisi lainnya.

Konduktivitas termal merupakan sifat bahan yang berkaitan dengan kemampuannya dalam menghantar panas. Perpindahan panas terjadi dari bagian bahan yang bersuhu tinggi ke bagian lain yang bersuhu lebih rendah. Suhu tinggi menyebabkan atom atau molekul dalam bahan menerima energi yang lebih besar sehingga begetar lebih cepat atau bahkan bergerak/berpindah. Energi dari atom atau molekul yang bersuhu tinggi dapat berpindah kepada atom atau molekul yang bersuhu lebih rendah ketika terjadi tumbukan antaratom atau antarmolekul tersebut.

2.5.1 Konduktivitas Termal Non-logam

Bahan non-logam biasanya dianggap sebagai bahan yang memiliki sifat konduktivitas termal rendah. Tetapi, ada beberapa jenis bahan non-logam, misalnya kristalin, ternyata memiliki sifat konduktivitas termal yang sangat tinggi. Contoh bahan kristalin adalah safir (aluminium-oksida) yang memiliki konduktivitas termal melebihi bahan logam tembaga murni (RRR 500) pada suhu antara 20 K dan 100 K. Bahan safir sangat berguna untuk aplikasi pembuangan panas pada sistem elektronika yang memerlukan konduktivitas termal tinggi tapi bersifat juga sebagai isolator listrik yang baik. Demikian juga bahan kristalin lainnya seperti intan, memiliki konduktivitas 3000W/(m.°C) pada suhu 80 K, namun jarang digunakan karena harganya yang sangat mahal. Bahan non-logam dalam bentuk kristalin yang lebih murah misalnya kuarsa juga memiliki sifat konduktivitas termal yang tinggi. Dalam bahan non-logam perpindahan panas terjadi akibat getaran ikatan atom-atom yang dapat menjalar dalam rentang jarak yang jauh sehingga efektif dalam memindahkan panas. Getaran ikatan atom-atom ini bertumbukan dengan ikatan

10

atom-atom lainnya sehingga terjadi perpindahan energi panas dari satu ikatan ke ikatan di sebelahnya.

Konduksi panas pada suatu zat padat didefinisikan sebagai berikut:

 

H/A = k T L

(2.1)

dengan

H

: panas yang berpindah

L

: panjang atau tebal zat padat

A

: luas permukaan zat padat

T

: perbedaan suhu

k

: konduktivitas termal, yang nilainya tergantung bahan penghantar panas dan memiliki satuan W/(m.°C).

2.5.2 Bahan Styrofoam

Styrofoam adalah bahan non-logam yang memiliki konduktivitas termal sangat rendah yaitu antara 0,032 0,038 W/(m.°C), sehingga merupakan bahan isolator panas yang sangat baik. Styrofoam yang massa jenisnya 40 kg/m 3 memiliki konduktivitas termal k = 0,032 W/(m.°C), sedangkan yang bermassa jenis 15 kg/m 3 memiliki konduktivitas termal k = 0,038 W/(m.°C). Massa jenis styrofoam dapat diketahui dari data spesifikasi pabrik pembuatnya.

Styrofoaam adalah bahan polimer sintetis yang memiliki sifat keras namun rapuh. Bahan ini tidak kedap terhadap oksigen dan uap air, sehingga kurang baik bila digunakan untuk penghambat/penghalang oksigen dan uap air.

Styrofoam memiliki titik leleh yang rendah. Pada suhu kamar, styrofoam bersifat zat padat, namun melebur/meleleh pada suhu di atas 100°C dan menjadi padat kembali apabila didinginkan. Sifat stryrofoam yang demikian ini dapat dimanfaatkan untuk filler (pengisi) bahan lain. Pengisian styrofoam dengan bahan lain dapat dilakukan pada konstruksi bangunan dan badan pesawat udara, karena mampu meningkatkan kekuatan bahan dan menurunkan konduktivitas termal. Selain itu, proses ekstrusi lebih mudah dan menghasilkan campuran yang lebih seragam/merata.

11

2.5.3 Bahan Semen dan Pasir

Semen memiliki konduktivitas termal k = 0,29 W/(m.°C), sedangkan semen setelah dicampur pasir (mortar) memiliki k = 1,73 W/(m.°C). Pencampuran semen dengan pasir meningkatkan konduktivitas termal.

Berdasarkan konduktivitas termalnya, pasir ada tiga jenis yaitu: pasir kering, pasir lembap, dan pasir basah. Masing-masing pasir tersebut memiliki konduktivitas termal yang berbeda. Pasir kering memiliki k = 0,15 0,25 W/(m.°C), pasir lembab k = 0,25 2 W/(m.°C), sedangkan pasir basah k = 2 4 W/(m.°C). Kandungan air di dalam pasir menyebabkan peningkatan konduktivitas termal.

Sebagai contoh, perpindahan panas yang melewati dinding semen dengan ketebalan 2mm dengan perbedaan suhu antara sisi-sisi dinding semen sebesar 200°C adalah:

H /A = (0,29 W/m.°C) (200 o C) / (2 10 3 m) = 29 (kW/m 2 )

Pada dinding styrofoam:

H /A = (0,032 W/m.°C) (200 o C) / (2 10 3 m) = 3,2 (kW/m 2 )

Pada dinding tembaga:

H /A = (401 W/m.°C) (200 o C) / (2 10 3 m) = 40100 (kW/m 2 )

Dari contoh di atas dapat diketahui pada kondisi yang sama tembaga memiliki kemampuan untuk memindahkan panas yang lebih besar daripada semen dan styrofoam, yaitu sebesar 40100 kJ energi panas pada bidang seluas 1 m 2 dapat dipindahkan dalam setiap detiknya. Sedangkan styrofoam hanya mampu memindahkan 3,2 kJ energi panas setiap detiknya.

2.6 Potensi Penggunaan Bata Ringan di Pontianak dan Sekitarnya

Perkembangan pembangunan perumahan baru dan infrastruktur di Pontianak dan sekitarnya meningkat dengan pesat. Pemerintah kota Pontianak akan melakukan pembangunan untuk memacu pertumbuhan ekonomi di suatu kawasan dan untuk meningkatkan nilai aset masyarakat. Perkembangan pembangunan yang pesat, menyebabkan kebutuhan akan bahan bangunan juga meningkat.

Dinding rumah/panel perumahan di Pontianak dan sekitarnya selama ini menggunakan batako yang dibuat dari campuran semen dan pasir kasar yang dicetak padat atau dipress. Selain itu ada juga yang membuatnya dari campuran batu tras, kapur dan air. Bahkan kini juga beredar batako dari campuran semen, pasir dan

12

batubara. Dengan bahan pembuatan seperti yang telah disebutkan, batako memiliki kelemahan yaitu kekuatannya yang rendah, sehingga cenderung terjadi keretakan dinding, terutama jika bagian kosong-nya tidak diisi dengan adukan spesi. Pemakaian material batako untuk dinding juga membuat bangunan lebih hangat bahkan cenderung pengap dan panas. Berat, sehingga membebani struktur yang menopangnya.

Seiring berkembangnya teknologi terutama dalam bidang rekayasa teknik sipil dan bangunan, penemuan akan bahan-bahan bangunan yang baru terus bermunculan. Bata ringan atau sering disebut hebel atau celcon, lebih ringan dari pada bata biasa sehingga memperkecil beban struktur. Batako biasa mempunyai berat jenis sekitar 2400 kg/m 3 , maka beton dengan campuran styrofoam dapat mempunyai berat jenis hanya sekitar 600 kg/m 3 (Satyarno, 2004). Karena kuat tekannya yang relatif rendah maka sampai saat ini beton ringan styrofoam hanya dipakai untuk bagian non struktur, misalnya bata beton atau panel dinding. Semakin ringan bata beton, maka akan semakin mudah mengangkatnya, semakin cepat instalasinya, dan tidak mengeluarkan tenaga yang banyak dalam mengangkatnya. Keuntungan lain pengunaan bata beton ringan adalah karena sifatnya ringan sehingga daya redam terhadap rambatan panas maupun suara akan jauh lebih bagus, dan daya ketahanan api (firing resistance) akan lebih baik juga (Simbolon, 2009). Bata ringan ini sangat sesuai untuk perumahan di daerah tanah lunak seperti di darah Pontianak dan sekitarnya sebagian besar adalah tanah gambut.

Selain rangka atap baja ringan, bata ringan juga menjadi idola baru para pengembang perumahan dan bagi yang ingin merenovasi rumah. Permintaan terhadap bata ringan di kota besar terus meningkat. Produk ini menjadi incaran kontraktor atau pengembang perumahan. Jika dilihat dari harga bahan bangunan yang cenderung semakin tinggi, inilah yang mendorong pengusaha batu bata berinovasi berupaya mencari bahan bangunan yang lebih memiliki kualitas bagus. Kemudian terciptalah saat ini yang disebut batu bata ringan. Dari segi harga bata ringan sedikit lebih mahal dibanding batako tetapi dari segi kualitas jauh lebih bagus bata ringan. Jika dihitung biaya tenaga kerja, menggunakan bata ringan tentunya akan memangkas biaya tenaga kerja, karena pengerjaannya bisa lebih cepat. Inilah

13

yang menjadikan para pengusaha pengembang perumahan melirik batu bata ringan sebagai bahan dinding bangunan/panel.

2.7 Batako dalam Arsitektur

Dalam arsitektur, pemahaman terhadap bahan bangunan adalah sangat penting. Salah satunya adalah bahan-bahan bangunan untuk penutup dinding agar dapat memenuhi fungsi dinding. Fungsi dinding pada bangunan adalah sebagai:

Pelindung dan batas antara ruang bagian dalam dan luar bangunan

Menambah keindahan pada bangunan arsitektur

Pembentuk daerah fungsi dalam bangunan

Pada struktur bangunan tertentu berfungsi sebagai dinding pemikul beban.

Batako merupakan bahan penutup dinding yang termasuk paling mudah dan murah. Penggunaan batako dapat menekan harga bangunan karena penggunaan batako yang dimensinya lebih besar dari bata merah bisa menghemat plesteran hingga 75 persen dan mengurangi beban dinding hingga 50 persen sehingga konstruksi bangunan pun menjadi ringan. Pengerjaannya pun lebih cepat karena ukurannya lebih besar dari bata merah.

Dari segi estetika arsitektur, batako juga dapat menambah keindahan sebuah bangunan. Bentuknya yang bermacam-macam, dan dapat dipilih sesuai keinginan. Selain itu, jika kualitas batako cukup baik maka tembok yang menggunakan batako tidak perlu diplester lagi, dengan kata lain dapat diekspos.

Teknik pemasangan batako dapat menciptakan konsep dinding berpori. Membuat jarak antara batako adalah cara yang mudah. Untuk membuat dinding berlubang dapat membuatnya sendiri dibantu oleh tukang untuk mengerjakannya. Bentuk susunan batako, dapat disesuaikan dengan kreasi. Kreasi tersebut dengan catatan setiap batako terikat dengan semen. Lebih baik, jika susunan bata berlubang tersebut tidak diberi beban di atasnya maupun frame yang mengeliling pasangan batako berlubang tersebut.

14

14 Gambar 2.1 Dinding batako berpori dan batako ekspos Gambar 2.2 Dinding batako berpori dilihat dari

Gambar 2.1

Dinding batako berpori dan batako ekspos

14 Gambar 2.1 Dinding batako berpori dan batako ekspos Gambar 2.2 Dinding batako berpori dilihat dari

Gambar 2.2

Dinding batako berpori dilihat dari dalam ruangan

Gambar 2.2 Dinding batako berpori dilihat dari dalam ruangan Gambar 2.3 Suasana interior dengan dinding batako

15

2.8 Penelitian Terdahulu

Penelitian ini merupakan lanjutan dari penelitian sebelumnya. Penelitian pembuatan bata dan beton ringan dengan menggunakan bahan tambah styrofoam yang telah dilakukan:

1)

Studi Penggunaan Styrofoam sebagai Bahan Campuran untuk Pembuatan

2)

Batako Ringan Berlubang (Samsurizal dan Yusuf, 2006) Studi Penggunaan Styrofoam sebagai Bahan Campuran untuk Pembuatan

3)

Batako Ringan Pejal (Yusuf, 2006) Studi Penggunaan Styrofoam Sebagai Bahan Campuran untuk Pembuatan Beton Ringan Nonstruktural (Yusuf dan Elvira, 2007).

BAB III TUJUAN DAN MANFAAT PENELITIAN

3.1 Tujuan

Penelitian ini merupakan tahap ketiga dari rencana pengembangan material

baru yaitu batako ringan dengan styrofoam untuk dinding pasangan sebagai salah

satu bentuk rekayasa bahan konstruksi di atas tanah lunak. Tujuan penelitian tahap

ini adalah untuk mendapatkan perilaku (kekuatan) batako-styrofoam dalam model

dinding pasangan dan ketahanan batako-styrofoam individu terhadap panas.

3.2 Manfaat Penelitian

Penelitian ini mempunyai manfaat, antara lain:

a) Bagi masyarakat, diharapkan dapat memberikan kontribusi dalam menjaga

kelestarian lingkungan yang merupakan pinjaman dari anak cucu kita. Selain

itu penelitian ini akan mengakibatkan styrofoam bekas mempunyai nilai

ekonomis sehingga dapat meningkatkan penghasilan pemulung.

b) Bagi pendidikan, hasil penelitian ini akan memperkaya pemahaman kita akan

dimungkinkannya dikembangkan material baru yang sesuai dengan kebutuhan

kita di Pontianak khususnya. Hasil penelitian ini dapat dijadikan bahan ajar

untuk mata kuliah Teknologi Bahan Konstruksi pada Jurusan Teknik Sipil.

c) Bagi pengrajin/industri batako di Pontianak, penggunaan hasil penelitian ini

akan menambah variasi produksi batako.

d) Bagi praktisi di lapangan, penggunaan hasil penelitian ini akan mengurangi

biaya perkuatan fondasi bangunan karena bobot struktur atas (superstruktur)

semakin ringan.

16

BAB IV METODE PENELITIAN

4.1

Bahan dan Alat

4.1.1

Bahan

Bahan-bahan habis pakai yang diperlukan dalam penelitian ini terdiri dari:

a) styrofoam;

b) semen;

c) pasir;

d) tulangan.

4.1.2 Alat

Alat-alat yang diperlukan pada penelitian ini berupa:

a) pemarut/penghancur styrofoam;

b) seperangkat alat pengaduk batako;

c) seperangkat alat pengecoran batako: sendok semen, ember, pemadat, cetakan

sampel uji bakar, cetakan batako;

d) seperangkat alat tes tekan;

e) tungku.

Cetakan yang digunakan untuk sampel uji bakar berukuran tiga buah 50mm

50mm 40mm (Gambar 4.1). Cetakan batako yang digunakan berukuran 400mm

200mm 100mm, mempunyai tiga silinder masing-masing berukuran 50,8 mm

untuk pembentuk lubang, dan mempunyai dua buah setengah silinder berukuran 60

mm masing-masing terletak di ujung batako (Gambar 4.2).

silinder berukuran  60 mm masing-masing terletak di ujung batako (Gambar 4.2). Gambar 4.1 Cetakan sampel

Gambar 4.1

Cetakan sampel uji bakar

17

18

18 Gambar 4.2 Cetakan batako Tungku yang digunakan adalah tungku listrik merk Tecno Piro yang mampu

Gambar 4.2

Cetakan batako

Tungku yang digunakan adalah tungku listrik merk Tecno Piro yang mampu membakar hingga temperatur 1300C.

adalah tungku listrik merk Tecno Piro yang mampu membakar hingga temperatur 1300  C. Gambar 4.3

Gambar 4.3

Tungku listrik

19

4.2

Pelaksanaan

Model dinding pasangan yang diuji ditampilkan pada Gambar 4.3. Pada waktu setting up pengujian yang dipersiapkan antara lain:

a) Hydraulic jack;

b) Load cell;

c) Dial gauge;

d) Frame baja pengujian;

e) Data logger.

4.2.1 Uji Pembebanan Pasangan

Pengujian dinding bata beton pejal secara garis besar dilakukan dengan cara memberikan pembebanan horizontal menggunakan hydraulic jack. Pembebanan lateral diberikan searah sumbu kuat dinding (strong direction wall). Beban lateral tersebut diberikan pada benda uji secara statik monotonik hingga mencapai batas lelehnya (yield) yang kemudian dilanjutkan hingga mencapai runtuh (failure). Pembebanan didasarkan pada load control.

dilanjutkan hingga mencapai runtuh ( failure ). Pembebanan didasarkan pada load control . Gambar 4.1 Dinding

Gambar 4.1

Dinding pasangan

20

4.2.2 Uji Pembakaran

Uji bakar dilakukan mengikuti SNI 1740-2008.

4.2.2.1 Ukuran dan jumlah benda uji

Sesuai dengan SNI 1740-2008, ukuran dan jumlah benda uji adalah:

a) Ukuran benda uji: 50mm 40mm 40mm

b) Benda uji yang memiliki ketebalan kurang dari 50mm harus disusun atau ditumpuk serta diikat dengan kawat baja dengan diameter tidak lebih dari 0,5 mm sehingga ketebalan 50 mm.

c) Toleransi ukuran 3 mm untuk ukuran 50 mm dan 2 mm untuk ukuran 40

mm.

d) Jumlah benda uji paling sedikit 3 buah.

4.2.2.2 Prosedur Pengujian

Prosedur pengujian sebagai berikut:

1)

Simpan benda uji dalam ruangan yang berventilasi baik dengan temperatur konstan selama satu bulan atau lebih.

2)

Keringkan dalam dapur pengering dengan temperatur 35C hingga 45C selama 120 jam atau lebih.

3)

Kemudian simpan dalam desikator selama 24 jam atau lebih.

4.2.2.3 Hasil uji

Kriteria hasil uji bakar adalah sebagai berikut:

a) Bahan bangunan dikatakan tidak terbakar bilamana selama pengujian kenaikan temperatur di dalam tungku kurang atau sama dengan 50C dan tidak terjadi nyala lanjutan selama 10 detik atau lebih.

b) Bahan bangunan dikatakan mudah terbakar bilamana selama pengujian kenaikan temperatur di dalam tungku lebih dari 50C dan terjadi nyala lanjutan selama 10 detik atau lebih.

BAB V HASIL DAN PEMBAHASAN

5.1 Deskripsi Sampel yang Digunakan

Styrofoam yang digunakan untuk dicampurkan ke dalam batako adalah

styrofoam yang dibeli dalam bentuk lembaran (Gambar 5.1), kemudian dihancurkan

menjadi butiran-butiran styrofoam seperti pada Gambar 5.2.

menjadi butiran-butiran styrofoam seperti pada Gambar 5.2. Gambar 5.1 Styrofoam masih dalam bentuk lembaran Gambar 5.2

Gambar 5.1

Styrofoam masih dalam bentuk lembaran

styrofoam seperti pada Gambar 5.2. Gambar 5.1 Styrofoam masih dalam bentuk lembaran Gambar 5.2 Hasil parutan

Gambar 5.2

Hasil parutan styroforam

21

22

Bahan utama untuk pembuatan batako yang digunakan dalam penelitian ini adalah semen yang memenuhi standar SNI 15-7064-2004 dengan berat 1500 kg/m 3 , dan pasir yang umum dijual di pasaran Kota Pontianak yaitu pasir dengan modulus kehalusan butir sekitar 3 dengan berat sekitar 1860 kg/m 3 . Sedangkan styrofoam yang digunakan mempunyai berat sekitar 15 kg/m 3 . Perbandingan komposisi campuran Semen:Pasir:Styrofoam adalah 1:5:2 dengan nilai fas (faktor air semen) sebesar 0,5. Batako yang terbentuk berukuran 400mm 200mm 100mm (Gambar

5.3). Volume bruto sebesar 810 6 mm 3 . Volume tiga buah lubang dan dua buah

setengah lingkaran di kedua ujung adalah 1,72110 6 mm 3 . Jadi, volume neto batako

styrofoam sebesar 6,27910 6 mm 3 . Persentase volume lubang sebesar 21,5% < 75% dan persentase luas penampang sebesar 22,3% < 75%. Dengan demikian, batako styrofoam yang diuji dalam penelitian ini merupakan batako pejal.

75%. Dengan demikian, batako styrofoam yang diuji dalam penelitian ini merupakan batako pejal. Gambar 5.3 Batako
75%. Dengan demikian, batako styrofoam yang diuji dalam penelitian ini merupakan batako pejal. Gambar 5.3 Batako

Gambar 5.3

Batako styrofoam

23

Hasil pengukuran berat satuan dan pengujian kuat tekan batako styrofoam disajikan pada Tabel 5.1. Seperti terlihat pada tabel tersebut, batako styrofoam mempunyai berat rata-rata sebesar 5,44 kg, berat satuan rata-rata sebesar 866,46 kg/m 3 , dan kuat tekan rata-rata sebesar 0,28 MPa. Pengujian juga dilakukan terhadap tiga buah batako biasa yang berukuran 375mm 170mm 65mm dengan tiga

lubang segiempat ukuran 95mm 40mm 155mm, kedua ujungnya cekung ke

dalam berbentuk tembereng 41,667mm dan panjang talibusur 40mm. Seperti

Tabel 5.1

Hasil uji tekan batako styrofoam dan batako biasa

No.

 

Berat

Beban maksimum



kg

kg/m 3

dial

kN

MPa

 

Batako styrofoam

 

1

5,48

872,75

47

15,89

0,40

2

5,47

871,16

39

13,18

0,33

3

5,74

914,16

48

16,22

0,41

4

5,61

893,45

30

10,14

0,25

5

5,79

922,12

29

9,80

0,25

6

5,57

887,08

30

10,14

0,25

7

5,91

941,23

34

11,49

0,29

8

4,97

791,53

28

9,46

0,24

9

5,09

810,64

22

7,44

0,19

10

5,54

882,31

28

9,46

0,24

11

5,61

893,45

31

10,48

0,26

12

5,35

852,05

30

10,14

0,25

13

4,99

794,71

34

11,49

0,29

14

5,60

891,86

31

10,48

0,26

15

5,33

848,86

29

9,80

0,25

16

5,16

821,79

32

10,82

0,27

17

5,42

863,19

30

10,14

0,25

18

5,36

853,64

38

12,84

0,32

19

5,55

883,90

33

11,15

0,28

20

5,47

871,16

40

13,52

0,34

21

5,24

834,53

32

10,82

0,27

22

5,75

915,75

     

23

5,60

891,86

     

24

5,27

839,31

     

Rata-rata

5,45

868,44

33,10

11,19

0,28

 

Batako biasa

 

1 4,41

 

1886,23

13

4,39

0,18

2 4,38

 

1873,40

14

4,73

0,19

3 4,33

 

1852,01

16

5,41

0,22

Rata-rata

4,37

1870,54

14,33

4,84

0,20

24

terlihat pada Tabel 5.1, dibandingkan dengan batako berlubang biasa, batako styrofoam lebih ringan dan lebih kuat.

Tabel 5.2 memperlihatkan bahwa sampel batako styrofoam untuk uji bakar yang berukuran 50mm 50 mm 40 mm mempunyai berat satuan sebesar 1137,38

kg/m 3 , lebih besar daripada berat satuan batako styrofoam ukuran 400mm 200mm

100mm. Hal ini dikarenakan cara pemadatan yang tidak sama. Proses pemadatan

pada batako styrofoam ukuran 50mm 50 mm 40 mm sangat mudah. Ketika diuji tekan, kekuatannya juga tinggi, yaitu sebesar 0,68 MPa. Sedangkan pada batako stayrofoam ukuran 400mm 200mm 100mm, pamadatan sangat sulit karena adanya silinder pembentuk lubang.

400mm  200mm  100mm, pamadatan sangat sulit karena adanya silinder pembentuk lubang. Gambar 5.4 Sampel
400mm  200mm  100mm, pamadatan sangat sulit karena adanya silinder pembentuk lubang. Gambar 5.4 Sampel

Gambar 5.4

Sampel uji bakar

25

Tabel 5.2

Berat batako styrofoam untuk uji bakar

   

Berat

No.

gram

kg/m 3

1

105,60

1056,00

2

124,10

1241,00

3

106,20

1062,00

4

113,70

1137,00

5

121,90

1219,00

6

108,20

1082,00

7

109,20

1092,00

8

112,80

1128,00

9

113,90

1139,00

10

114,20

1142,00

11

105,80

1058,00

12

124,20

1242,00

13

117,50

1175,00

14

112,20

1122,00

15

111,90

1119,00

16

120,10

1201,00

17

108,10

1081,00

18

117,00

1170,00

19

118,50

1185,00

20

106,60

1066,00

21

116,80

1168,00

Rata-rata

113,74

1137,38

5.2 Hasil Uji Bakar

Uji bakar dilakukan menggunakan tungku listrik di Kriya Keramik SMK Negeri 6, Jalan 28 Oktober, Pontianak. Sampel uji dimasukkan ke wadah yang terbuat dari keramik (lihat Gambar 5.5) untuk mengantisipasi kalau-kalau sampel berhamburan atau meledak saat kebakaran mengingat styrofoam adalah bahan yang mudah terbakar sehingga tidak merusak elemen pemanas dalam tunggu. Sebelum tungu dipanaskan untuk pembakaran, sampel uji telah dimasukkan ke tungku. listrik. Suhu pertama yang ingin dicapai adalah 750C. Untuk mencapai suhu setinggi itu, diperlukan waktu lebih dari empat jam.

26

26 Gambar 5.5 Sampel uji dalam wadah keramik (tutup wadah keramik sedang dibuka) Hingga suhu mencapai

Gambar 5.5

Sampel uji dalam wadah keramik (tutup wadah keramik sedang dibuka)

Hingga suhu mencapai 753C, melalui lubang pengintip belum terlihat percikan api ataupun keadaan terang di dalam tungku. Kemudian suhu di dalam tungku terus dinaikkan hingga terakhir mencapai 900C (Gambar 5.6). Hingga suhu 900C ini pun tidak terlihat percikan api atau keadaan terang di dalam tungku.

 C ini pun tidak terlihat percikan api atau keadaan terang di dalam tungku. Gambar 5.6
 C ini pun tidak terlihat percikan api atau keadaan terang di dalam tungku. Gambar 5.6

Gambar 5.6

Alat pembaca suhu pada tungku

27

Bersamaan dengan pembakaran sampel di dalam tungku, juga dilakukan pembakaran sampel yang dibalut dalam kawat anyam dan diletakkan di atas cerobong tungku (Gambar 5.7). Pembakaran cara ini dilakukan sejak suhu di dalam tungku masih 750C. Pada kondisi seperti ini juga tidak terlihat percikan api pada sampel uji, kecuali styrofoamnya lenyap dan meninggalkan pori-pori pada sampel.

styrofoamnya lenyap dan meninggalkan pori-pori pada sampel. Gambar 5.7 Pembakaran sampel di cerobong tungku Untuk
styrofoamnya lenyap dan meninggalkan pori-pori pada sampel. Gambar 5.7 Pembakaran sampel di cerobong tungku Untuk

Gambar 5.7

Pembakaran sampel di cerobong tungku

Untuk mendapatkan suhu yang lebih tinggi, sampel uji yang dibalut dengan kawat anyam juga dimasukkan ke tungku melalui cerobong (Gambar 5.8). Suhu di cerobong lebih rendah daripada suhu di dalam tungku. Karena itu, suhu di dalam tungku dinaikkan hingga 900C. Pada suhu ini, seperti perlakuan pada sampel sebelumnya, sampel ini dibiarkan juga dibakar selama lebih dari 20 menit. Sama seperti sampel sebelumnya, pada sampel ini juga tidak terjadi percikan api atau api yang menjalar. Sesaat ketika dikeluarkan dari cerobong tungku, sampel membara (Gambar 5.9).

dari cerobong tungku, sampel membara (Gambar 5.9). Gambar 5.8 Pembakaran sampel ke dalam cerobong tungku pada
dari cerobong tungku, sampel membara (Gambar 5.9). Gambar 5.8 Pembakaran sampel ke dalam cerobong tungku pada
dari cerobong tungku, sampel membara (Gambar 5.9). Gambar 5.8 Pembakaran sampel ke dalam cerobong tungku pada

28

28 Gambar 5.9 Sampel membara ketika dikeluarkan dari dalam cerobong tungku Hasil pembakaran pada sampel yang

Gambar 5.9

Sampel membara ketika dikeluarkan dari dalam cerobong tungku

Hasil pembakaran pada sampel yang diletakkan langsung di dalam tungku, setelah suhu dingin, sampel menjadi sangat rapuh seperti abu (Gambar 5.10). Kuat tekan yang tersisa sebesar 0,36 MPa, atau turun 47%.

5.10). Kuat tekan yang tersisa sebesar 0,36 MPa, atau turun 47%. Gambar 5.10 Hasil pembakaran sampel
5.10). Kuat tekan yang tersisa sebesar 0,36 MPa, atau turun 47%. Gambar 5.10 Hasil pembakaran sampel

Gambar 5.10

Hasil pembakaran sampel di dalam tungku

29

Percobaan bakar langsung dengan nyala api pada batako styrofoam (Gambar 5.11) juga tidak memperlihatkan api yang menjalar pada batako. Karena tidak terjadi nyala api, baik dengan bakar langsung maupun dengan tungku listrik, maka batako styrofoam termasuk bahan yang tidak mudah terbakar.

batako styrofoam termasuk bahan yang tidak mudah terbakar. Gambar 5.11 5.3 Hasil Uji Pasangan Uji bakar

Gambar 5.11

5.3 Hasil Uji Pasangan

Uji bakar langsung dengan nyala api

Sampel pasangan yang dibuat dalam uji pasangan berukuran lebar 1215 mm dan tinggi 1045 mm (Gambar 5.12) ditempatkan di dalam rangka baja. Dial gauge ditempatkan pada pojok kiri atas yang akan membaca perpindahan horizontal. Karena permukaan batako kasar maka di ujung jarum dial gauge dialas dengan kaca agar tidak terjadi slip antara jarum dial gauge dengan batako (Gambar 5.13).

dengan kaca agar tidak terjadi slip antara jarum dial gauge dengan batako (Gambar 5.13). Gambar 5.12

Gambar 5.12

Sampel uji pasangan

30

30 Gambar 5.13 Kaca untuk tumpuan jarum dial gauge Pembebanan dilakukan dengan cara pembebanan tak langsung

Gambar 5.13

Kaca untuk tumpuan jarum dial gauge

Pembebanan dilakukan dengan cara pembebanan tak langsung menggunakan

dongkrak hidrolik (hydraulic jack) yang ditempatkan di pojok kanan atas (Gambar 5.14) dipasang secara horizontal. Tumpuan dongkrak pada pasangan telah diplester untuk mendapatkan permukaan yang rata. Tumpuan dongkrak pada rangka baja menggunakan bantalan baja. Sistem secara keseluruhan dapat dilihat pada Gambar

4.1.

Sistem secara keseluruhan dapat dilihat pada Gambar 4.1. Gambar 5.14 Pembebanan tak langsung menggunakan dongkrak

31

Tabel 5.3

Hasil uji pembebanan pasangan

P (kg)

d (mm)

0

0

25

2,63

50

5,2

100

15,04

120 100 80 60 40 20 0 0 5 10 15 20 Perpindahan (d), mm
120
100
80
60
40
20
0
0
5
10
15
20
Perpindahan (d), mm
Beban (P), kg

Gambar 5.15

Grafik beban versus perpindahan

Tabel 5.3 dan Gambar 5.15 memperlihatkan hasil uji geser pasangan dinding batako. Hasil uji tersebut memperlihatkan bahwa perilaku beban geser terhadap perpindahan hingga beban 100 kg bersifat linier. Dalam rentang beban ini, tidak terjadi kegagalan apapun pada batako ataupun pasangan, melainkan terlepasnya lekatan antara pasangan dan baja yang merupakan perletakan pasangan (Gambar 5.16). Terlepasnya lekatan ini terjadi di sepanjang perletakan pasangan. Jadi, lekatan antarbatako masih sangat kuat daripada lekatan antara batako dengan baja.

Pembebanan dilanjutkan dengan mengekang dinding pasangan agar tidak terangkat dari perletakan. Dengan kondisi terkekang ini, keruntuhan/kegagalan terjadi pada batako yang menjadi tumpuan beban. Keruntuhan tidak bersifat getas, melainkan perlahan-lahan dan hanya terjadi pada satu batako yang dikenai beban, tidak menjalar ke batako yang lain (Gambar 5.17). Keruntuhan pada batako ini terjadi pada pembebanan sebesar 150 kg.

32

32 Gambar 5.16 Kegagalan lekatan pada perletakan pasangan Gambar 5.17 Pengekangan pasangan

Gambar 5.16

Kegagalan lekatan pada perletakan pasangan

32 Gambar 5.16 Kegagalan lekatan pada perletakan pasangan Gambar 5.17 Pengekangan pasangan
32 Gambar 5.16 Kegagalan lekatan pada perletakan pasangan Gambar 5.17 Pengekangan pasangan

Gambar 5.17

Pengekangan pasangan

BAB VI KESIMPULAN DAN SARAN

6.1 Kesimpulan

Berdasarkan hasil penelitian ini dapat dikemukakan beberapa kesimpulan

sebagai berikut:

a) Batako ringan satyrofoam dapat dibuat dengan berat 866,46 kg/m 3 dengan kuat

tekan individu 0,28 MPa, lebih ringan dan lebih kuat daripada batako

konvensional. Dalam bentuk pasangan, lekatan antarbatako cukup kuat dan

tidak terjadi keruntuhan secara getas, melainkan perlahan-lahan.

b) Batako ringan styrofoam tidak mengeluarkan nyala api saat dibakar tetapi

membara. Styrofoam lenyap seketika setelah batako dibakar, dan terbentuk

pori-pori pada batako. Kuat tekan batako styrofoam turun 47% setelah dibakar.

6.2 Saran

Penelitian ini perlu dilanjutkan dengan tinjauan berupa:

a) Uji bakar dinding pasangan batako sturofoam.

b) Tambahan zat aditif untuk meningkatkan kuat tekan batako hingga mencapai

persyaratan dalam SNI 03-0349-1989

33

DAFTAR PUSTAKA

Amri, Sjafei. 2005. Teknologi Beton A-Z. Jakarta: John Hi-Tech Idetama.

ASTM C 330-89. “Standard Specification for Lightweight Aggregates for Structural Concrete”. 1996 Annual Book of ASTM Standards. Vol. 04.02 Concrete and Aggregates.

ASTM C 331-94. “Standard Specification for Lightweight Aggregates for Concrete Masonry Units”. 1996 Annual Book of ASTM Standards. Vol. 04.02 Concrete and Aggregates.

ASTM C 567-91. “Standard Test Method for Unit Weight of Structural Lightweight Concrete”. 1996 Annual Book of ASTM Standards. Vol. 04.02 Concrete and Aggregates.

ASTM E 2126 – 02a. “Standard Test Method for Cyclic (Reversed) Load Test for Shear Resistance of Walls for Buildings”. 2003 Annual Books of ASTM Standard. Vol. 405 Designation.

ASTM E 564-00. “Standard Practical for Static Load Test for Shear Resistance of Framed Walls for Buildings”. 2003 Annual Books of ASTM Standard. Vol. 405 Designation.

BASF. 1995. “Code of Practice Using Expanded Polystyrene for the Construction of Road Embankments.” Technical Information - Styropor.

Firmansyah, Willy dan Herwani. 2007. Studi Eksperimental Karakteristik Batako Serat Sabut Kelapa Dengan Variasi Panjang Serat 1, 2, san 3 cm. Skripsi. Pontianak: Jurusan Teknik Sipil Fakultas Teknik Universitas Tanjungpura.

Ginting, Arusmalem. 2007. “Kajian Balok Beton Styrofoam Ringan dengan Tulangan Menyebar”. Jurnal Teknik Sipil. Fakultas Teknik Universitas Kristen Maranatha. Vol. 3(2). Hlm. 127-140.

Herwani dan Yusuf, M. 2004. Studi Analisis Model Matematis Hubungan Tegangan Regangan pada Material Batu Bata (Clay Brick Masonry) yang Diberi Beban Tekan Secara Uniaksial. Laporan Penelitian SDPF.

Mulyono, Tri. 2004. Teknologi Beton. Yogyakarta: Andi.

Murdock, J. J. dan Brook, K. M. 1979. Bahan dan Praktek Beton. Edisi Keempat. Diterjemahkan oleh Stephanus Hindarko. Jakarta: Erlangga.

Nawy, Edward G. 2008. Concrete Construction Engineering Handbook. 2 nd . Taylor & Francis Group, LLC.

Nevile, A. M. dan Brooks, J. J. 1987. Concrete Technology. Longmen Scientific & Technical.

Nugraha, Paul dan Antoni. 2007. Teknologi Beton. Yogyakarta: Andi.

Pusat Penelitian dan Pengembangan Pemukiman. 1982. Persyaratan Umum Bahan Bangunan di Indonesia (PUBI-1982).

34

35

Samsurizal, Eddy dan Yusuf, M. 2006. “Uji Tekan Individu Batako Berlubang dengan Campuran Styrofoam.” Jurnal Teknik Sipil. Fakultas Teknik Universitas Tanjungpura. Vol. 6(1).

Samsurizal; Yusuf, M.; dan Tupa TWR. 2008. Studi Variasi Volume Sekam Padi Sebagai Bahan Campuran Pembuatan Batako Ringan. Sedang dalam penelitian.

Satyarno, I. 2004. Panel Beton Styrofoam Ringan Untuk Dinding. Yogyakarta:

Teknik Sipil FT UGM.

Satyarno, Iman. 2004. Penggunaan Semen Putih untuk Beton Styrofoam Ringan (BATAFOAM). Yogyakarta: Laboratorium Bahan Konstruksi Jurusan Teknik Sipil FT UGM.

Satyarno, Iman. 2006. “Lightweight Styrofoam Concrete for Lighter And More Ductile Wall.” Jurnal HAKI. Vol. 7(2).

Simbolon, T. 2009. Pembuatan dan Karakterisasi Batako Ringan yang Terbuat dari Styrofoam-Semen. Tesis. Medan: Sekolah Pascasarjana Universitas Sumatera Utara.

SNI 03-0349-1989. Bata Beton untuk Pasangan Dinding.

SNI 1740-2008. Cara Uji Bakar Bahan Bangunan untuk Pencegahan Bahaya Kebakaran pada Bangunan Rumah dan Gedung.

Syahruddin I. 2006. “Karakteristik Pascaelastik Dinding Pasangan Bata Beton Pejal dengan Tulangan Horisontal Akibat Beban Siklik.” Jurnal Teknik Sipil. Fakultas Teknik Universitas Tanjungpura. Vol. 6(1).

Tjokrodimuljo, Kardiyono. 1995. Teknologi Beton. Yogyakarta: NF.

Yusuf, M. dan Elvira. 2007. “Studi Penggunaan Styrofoam Sebagai Bahan Campuran untuk Pembuatan Beton Ringan.” Jurnal Teknik Sipil. Fakultas Teknik Universitas Tanjungpura. Vol. 7(2).

Yusuf, M.; Herwani; dan Handalan, Cek Putra. 2006. “Uji Tekan Individu Batako Pejal dengan Bahan Campuran Styrofoam.” Jurnal Teknik Sipil. Fakultas Teknik Universitas Tanjungpura. Vol. 6(2).

Lampiran

Dokumentasi

37

37 Gambar D.1 Tungku listrik Gambar D.2 Sampel batako untuk uji pasangan

Gambar D.1

Tungku listrik

37 Gambar D.1 Tungku listrik Gambar D.2 Sampel batako untuk uji pasangan

Gambar D.2

Sampel batako untuk uji pasangan

38

38 Gambar D.3 Uji tekan individu Gambar D.4 Uji bakar

Gambar D.3

Uji tekan individu

38 Gambar D.3 Uji tekan individu Gambar D.4 Uji bakar

Gambar D.4

Uji bakar

39

39 Gambar D.5 Hasil uji bakar Gambar D.6 Keruntuhan hasil uji pasangan

Gambar D.5

Hasil uji bakar

39 Gambar D.5 Hasil uji bakar Gambar D.6 Keruntuhan hasil uji pasangan

Gambar D.6

Keruntuhan hasil uji pasangan