Anda di halaman 1dari 33

KATA PENGANTAR

Puji syukur kami panjatkan kehadlirat Allah SWT, Tuhan Yang Maha Esa, karena
dengan rahmat dan karunia-Nya buku Pedoman Pelayanan Medis Reaksi Cepat (Code Blue)
RSIA “Fatimah” Lamongan dapat terselesaikan. Buku ini merupakan pedoman yang memuat
Susunan Organisasi dan Tata Laksana Tim Medis Reaksi Cepat (Code Blue) RSIA “Fatimah”
Lamongan dalam rangka memberikan pelayanan penanganan kegawatdaruratan bila terjadi di
lingkungan RSIA “Fatimah” Lamongan, dalam rangka mendukung visi, RSIA “Fatimah”
Lamongan yaitu ‘’Terwujudnya Rumah Sakit yang dapat memberikan pelayanan kepada
ibu dan anak yang berkuwalitas”.

Demi kesempurnaan isi buku, maka kami sangat mengharapkan masukan dan saran
perbaikan untuk pencapaian hasil yang lebih baik di tahun yang akan datang. Semoga buku
Pedoman Pelayanan Tim Medis Reaksi Cepat (Code Blue) RSIA “Fatimah” Lamongan ini
dapat bermanfaat bagi kita semua.

Lamongan, 02 Januari 2016


KETUA TIM MEDIS REAKSI CEPAT (CODE BLUE)
RSIA FATIMAH LAMONGAN

dr.Sesanti
NIK. 18251101

1
DAFTAR ISI

Kata Pengantar .................................................................................................................. 1


Daftar Isi ........................................................................................................................... 2
BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang ...................................................................................................... 3
B. Tujuan ................................................................................................................... 4
C. Ruang Lingkup ...................................................................................................... 4
D. Kebijakan .............................................................................................................. 4
BAB II STANDAR KETENAGAAN
A. Ketua Tim .............................................................................................................. 6
B. Wakil Ketua Tim ................................................................................................... 7
C. Sekretaris ............................................................................................................... 7
D. Anggota ................................................................................................................. 8
BAB III TATALAKSANA PELAYANAN
A. Kriteria Pasien ....................................................................................................... 10
B. Bantuan Hidup Dasar ............................................................................................ 11
C. Bantuan Hidup Lanjut ........................................................................................... 15
BAB IV LOGISTIK
A. Farmasi dan Alat Kesehatan .................................................................................. 18
B. Komunikasi Code Blue ......................................................................................... 23
C. Biaya ..................................................................................................................... 26
BAB V PENGENDALIAN MUTU/EVALUASI
Pengendalian Mutu/Evaluasi ..................................................................................... 27
BAB VI DOKUMENTASI
Dokumentasi .............................................................................................................. 28
BAB VII PENUTUP
Penutup....................................................................................................................... 31

2
BAB I
PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG
Keadaan gawat darurat medik merupakan peristiwa yang dapat menimpa
seseorang (untuk semua golongan umur dan jenis kelamin) atau sekelompok orang secara
tiba-tiba/sewaktu-waktu. Gawat darurat adalah suatu keadaan dimana seseorang secara
tiba-tiba dalam keadaan gawat atau akan menjadi gawat dan terancam anggota badannya
dan jiwanya (akan menjadi cacat atau mati) bila tidak mendapatkan pertolongan dengan
segera. Keadaan ini memerlukan respons intervensi segera dalam hal ini adalah Tim
pelayanan medis kedaruratan yang meliputi tindakan resusitasi dan stabilisasi yang cepat
dan tepat agar dapat meminimalkan angka kematian dan mencegah terjadinya kecacatan.
Disamping itu dibutuhkan suatu koordinasi antar unit pelayanan untuk melakukan
perawatan pasien maupun penentuan rujukan lebih lanjut. (pedoman SPGDT Menkes,
2006).
Pelayanan medis kedaruratan ini disebut dengan BLUE TEAM merupakan suatu
konsep penanganan gawat darurat intra hospital yang dapat diterapkan secara terpadu dan
terkoordinasi antar unit pelayanan dengan pengaturan dalam satu sistem dan
berkesinambungan. Konsep ini juga mengacu pada pelaksanaan Sistem Penanggulangan
Gawat Darurat Terpadu (SPGDT) yang telah dikembangkan oleh Kementerian Kesehatan
Republik Indonesia sejak tahun 2000 yang menekankan bahwa diperlukan respon cepat
untuk menyelamatkan nyawa dan mencegah kecacatan. Sistem ini menjadi penting karena
pasien gawat darurat cenderung meningkat dan dapat terjadi kapan saja, dimana saja
maupun pada siapa saja baik sehari-hari maupun pada saat bencana. Untuk
melaksanakannya diperlukan koordinasi antar berbagai sektor baik intra Rumah Sakit
maupun antar Rumah Sakit serta komponen penunjangnya yaitu sistem komunikasi,
transportasi dan sumber daya manusia terlatih (Suprijantoro, Sp.P, MARS, Direktorat
Jenderal Bina Upaya Kesehatan Kementerian Kesehatan Republik Indonesia,
disampaikan pada Rakerkesnas, Juni 2012).
Sesuai Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 44 Tahun 2009 tentang
Rumah Sakit Pasal 29 Ayat 1 bahwa rumah sakit berkewajiban memberikan pelayanan
gawat darurat kepada pasien sesuai dengan kemampuan pelayanannya serta Keputusan
Kementerian Kesehatan Republik Indonesia Nomor 106/Menkes/SK/l/2004 tentang
Sistem Penanggulangan Gawat Darurat Terpadu (SPGDT) maka rumah sakit membentuk

3
suatu tim yang segera melakukan tindakan resusitasi dan stabilisasi kondisi darurat medik
yang dinamakan Tim Medis Reaksi Cepat (Code Blue).
B. TUJUAN
1. Didapatkan kesamaan pola pikir tentang sistem penanganan kegawatdaruratan di
rumah sakit secara terpadu.
2. Diperoleh kesamaan pelayanan dalam penanganan kasus kegawatdaruratan medik
sehari-hari.
3. Memberikan pedoman baku bagi anggota Tim Medis Reaksi Cepat (Code Blue) dalam
melaksanakan kegiatan penanganan pasien gawat darurat.
4. Membangun respon petugas rumah sakit pada pelayanan kesehatan dalam keadaan
gawat darurat.
5. Mempercepat response time kegawatdaruratan medik di rumah sakit untuk
menghindari kematian dan kecacatan.

C. RUANG LINGKUP
1.1 Panduan Pelayanan Medis Reaksi Cepat (Code Blue) ini membahas pembentukan
Tim Medis Reaksi Cepat (Code Blue) dan koordinasi internal maupun eksternal Tim
Medis Reaksi Cepat (Code Blue), fungsi dan uraian tugas Tim Medis Reaksi Cepat
(Code Blue) serta manajemen Tim Medis Reaksi Cepat (Code Blue) RSIA “Fatimah”
Lamongan.
1.2 Penatalaksanaan penanganan kegawatdaruratan yang efisien, efektif, seragam dan
aman disesuaikan dengan regulasi serta standar yang berlaku di RSIA “Fatimah”
Lamongan.

D. KEBIJAKAN
1. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 36 Tahun 2009 tentang Kesehatan.
2. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 44 Tahun 2009 tentang Rumah Sakit.
3. Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 519/MENKES/PER/
III/2011 tentang Podoman Penyelenggaraan Pelayanan Anestesiologi dan Terapi
Intensif di Rumah Sakit.
4. Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 1691/MENKES/PER/2011
tentang Keselamatan Pasien Rumah Sakit.
5. Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 012 Tahun 2012 tentang
Akreditasi Rumah Sakit.

4
6. Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 106/Menkes/SK/I/2004
tentang Sistem Penanggulangan Gawat Darurat Terpadu.
7. Keputusan Direktur Nomor: 800/8848/302/2016 tentang Pembentukan Tim Medis
Reaksi Cepat (Code Blue) di lingkungan RSIA”Fatimah” Lamongan.

5
BAB II
STANDAR KETENAGAAN

Tim Medis Reaksi Cepat (Code Blue) RSIA Fatimah Lamongan dibentuk pada tanggal 02
Januari 2016 dengan susunan Tim Medis Reaksi Cepat (Code Blue) terdiri dari:
Penanggung jawab : - Direktur RSIA “Fatimah” Lamongan
- Kepala Bidang Pelayanan & Penunjang
Ketua tim : dr. Sesanti
Wakil ketua : Budijono AMd. Kep .SPsi
Sekretaris I : dr. Alif Al Amin
Sekretaris II : Lusiana Wijaya,SKep.Ns
Anggota : 1. dr. Elok Erlita Nur Farradina
2. dr. Moh Heri Eriyanto
3. May’rofi Witanti, AMdKep
4. Lis Sa’adatur R,Skep.Ns
5. Lara Kristika,AMdKep
6. Ruri Widyasetya,AMdKep
7. Purwanti,AMdKep
8. Vigati Handayani,AMdKep
9. Eriska Rizki N, AMdKep
10. Nis Utami

Agar pelaksanaan Tim Medis Reaksi Cepat (Code Blue) dapat berjalan dengan tertib dan
lancar maka disusun uraian tugas dari Tim Medis Reaksi Cepat (Code Blue) sebagai berikut:
A. Ketua Tim Medis Reaksi Cepat (Code Blue):
1) Mengembangkan program Medis Reaksi Cepat di RSIA “Fatimah” Lamongan.
2) Menyusun panduan dan prosedur terkait dengan program Tim Medis Reaksi Cepat
(Code Blue).
3) Mengaktifkan dan meningkatkan kinerja Tim Medis Reaksi Cepat (Code Blue).
4) Menentukan lokasi titik posko Tim Medis Reaksi Cepat (Code Blue) sesuai dengan
hasil kajian kebutuhan dan respon time.
5) Membuat rencana kerja serta pelaksanaan dan pengendalian kinerja Tim Medis Reaksi
cepat (Code Blue).
6) Melaksanakan komando dan pengendalian untuk pengerahan sumber daya manusia,
peralatan, logistik dalam memfasilitasi Tim Medis Reaksi Cepat (Code Blue).
6
7) Melaksanakan evaluasi melalui rapat koordinasi untuk menyusun rencana kegiatan
berikutnya.
8) Bekerjasama dengan Urusan SDM & Diklat RSIA “Fatimah” Lamongan untuk
melakukan pelatihan internal penanganan kegawat daruratan pasien di Rumah Sakit.
9) Dalam pelaksanaan tugasnya ketua bertanggung jawab kepada Direktur RSIA
“Fatimah” Lamongan.

B. Wakil Ketua
1) Membantu ketua dalam merencanakan, mengorganisasikan, melaksanakan dan
mengendalikan komando Tim Medis Reaksi Cepat (Code Blue).
2) Mengkoordinir tugas-tugas kesekretariatan, humas dan rumah tangga Tim Medis
Reaksi Cepat (Code Blue).
3) Membantu ketua dalam mengembangkan Program Medis Reaksi Cepat di RSIA
“Fatimah” Lamongan.
4) Membantu ketua menyusun panduan dan prosedur terkait dengan program Tim Medis
Reaksi Cepat (Code Blue).
5) Membantu ketua bekerjasama dengan Urusan SDM& Diklat RSIA “Fatimah”
Lamongan untuk melakukan pelatihan internal penanganan kegawat darutan pasien di
Rumah Sakit.
6) Mewakili Ketua Tim Medis Reaksi Cepat (Code Blue) apabila ketua berhalangan.
7) Wakil ketua bertanggung jawab langsung kepada Ketua Tim Medis Reaksi Cepat
(Code Blue).

C. Sekretaris
1) Menyelenggarakan administrasi umum dan pelaporan.
2) Menyediakan informasi terbaru dan data terbaru sesuai hasil laporan dan evaluasi.
3) Membuat dan menyelenggarakan agenda rapat dan evaluasi secara rutin dan berkala.
4) Membantu ketua dalam mengembangkan program Medis Reaksi Cepat di RSIA
“Fatimah” Lamongan.
5) Membantu ketua menyusun panduan dan prosedur terkait dengan program Tim Medis
Reaksi Cepat (Code Blue).
6) Membantu ketua bekerjasama dengan Urusan SDM& Diklat RSIA “Fatimah”
Lamongan untuk melakukan pelatihan internal penanganan kegawat daruratan pasien
di Rumah Sakit.
7
7) Melaksanakan tugas sebagai Tim Medis Reaksi Cepat (Code Blue).
8) Melakukan pencatatan, pelaporan insiden, analisa insiden serta mengembangkan
solusi untuk pembelajaran.
9) Sekretaris bertanggung jawab langsung kepada Ketua Tim Medis Reaksi Cepat (Code
Blue).

D. Anggota
1) Melaksanakan tugas sebagai Tim Medis Reaksi Cepat (Code Blue) yaitu melakukan
tindakan resusitasi dan stabilisasi pada seseorang atau sekelompok orang yang
mengalami kegawat kedaruratan medis.
2) Membantu ketua dalam mengembangkan Program Medis Reaksi Cepat di RSIA
“Fatimah” Lamongan.
3) Membantu ketua menyusun panduan dan prosedur terkait dengan Tim Medis Reaksi
Cepat (Code Blue).
4) Membantu ketua bekerjasama dengan Urusan& SDM Diklat RSIA “Fatimah”
Lamongan untuk melakukan pelatihan internal penanganan kegawat daruratan pasien
di Rumah Sakit.
5) Melakukan pengecekan ketersediaan alat-alat serta obat-obatan di trolley emergency.
6) Melakukan pengecekan fungsi alat-alat kesehatan yang diperlukan dalam pelaksanaan
kegawat daruratan.
7) Melakukan pengecekan tanggal kadaluarsa obat-obatan yang tersedia.
8) Melakukan pencatatan, pelaporan insiden, analisa insiden serta mengembangkan
solusi untuk pembelajaran.
9) Anggota bertanggung jawab langsung kepada Ketua Tim Medis Reaksi Cepat (Code
Blue).
Dalam melaksanakan tugasnya, Tim Medis Reaksi Cepat (Code Blue) dipimpin oleh
seorang dokter sebagai Team Leader dibantu oleh perawat pelaksana serta berkoordinasi
dengan Kepala Ruangan/Penanggung Jawab Shif atau dokter penanggung jawab pasien.
Kualifikasi dokter dan perawat tim code blue adalah sebagai berikut:
1. Dokter yang menjadi Team Leader adalah dokter yang telah mendapatkan sertifikat
ACLS/PPGD
2. Perawat yang memberikan layanan resusitasi harus telah mengikuti pelatihan Bantuan
Hidup Dasar, pelatihan Bantuan Hidup Lanjut, dan pelatihan Tim Medis Reaksi Cepat
(Code Blue). Selain itu perawat yang telah mengikuti pelatihan Bantuan Hidup Lanjut

8
harus mengikuti praktik lapangan dalam Tim Medis Reaksi Cepat (Code Blue) atau
pada unit-unit yang ditunjuk dalam lingkungan RSIA “Fatimah” Lamongan.

Apabila terjadi keadaan gawat darurat medis perawat Tim Medis Reaksi Cepat (Code
Blue) yang sedang bertugas sebagai perawat ruangan akan segera beralih tugas menjadi
anggota Tim Medis Reaksi Cepat (Code Blue). Perawat tersebut akan memberikan
tanggung jawab tugasnya kepada perawat ruangan lainnya dengan cara melapor kepada
penanggung jawab shift agar dilanjutkan tugasnya oleh perawat lain selama pelaksanaan
kegawatdaruratan. Tugas-tugas yang dapat dilakukan perawat tim code blue saat tidak ada
pemanggilan kegawatdaruratan terbagi menjadi tugas perawat pada daerah Hot Zone dan
Cold Zone. Perawat pada daerah Cold Zone berfungsi seperti biasa yaitu bekerja sesuai
dengan unit tempatnya bekerja. Sedangkan perawat pada daerah Hot Zone merupakan
perawat Free Job dan dapat melakukan pengecekan ketersediaan alat-alat serta obat-
obatan di troli emergensi, pengecekan fungsi alat kesehatan yang digunakan untuk
kegiatan pertolongan gawat darurat, pengecekan tanggal kadaluarsa obat-obat emergensi
serta merapikan catatan dan laporan kegiatan Tim Medis Reaksi Cepat (Code Blue) yang
telah dilakukan.

9
BAB III
TATA LAKSANA PELAYANAN

A. KRITERIA PASIEN
Pasien yang mengalami kegawat daruratan medis yaitu henti jantung dan henti napas
dapat segera memulai pengaktifan Tim Medis Reaksi Cepat (Code Blue) dengan kriteria
kegawatan sebagai berikut:
a. Airway: Ancaman gangguan napas
b. Breathing:
 Henti napas.
 Perubahan mendadak saturasi oksigen <90% dengan pemberian suplementasi
oksigen.
 Perubahan laju napas:
 0 – 3 bulan >60 ×/menit.
 4 – 12 bulan >50 ×/menit.
 1 – 4 tahun >40 ×/menit.
 5 – 12 tahun >30 ×/menit.
 12 tahun >30 ×/menit.
c. Circulation:
 Semua henti jantung
 Perubahan laju jantung (×/menit):
 0 – 3 bulan <100 atau >180.
 4 – 12 bulan <100 atau >180.
 1 – 4 tahun <90 atau >160.
 5 – 12 tahun <80 atau >140.
 > 12 tahun <60 atau >130.
 Perubahan mendadak pada tekanan darah sistolik (mmHg):
 0 – 3 bulan <50.
 4 – 12 bulan <60.
 1 – 4 tahun <70.
 5 – 12 tahun <80.
 >12 tahun <90.
 Perubahan mendadak produksi urin <50 cc/4 jam

10
d. Neurology :
 Penurunan kesadaran tiba-tiba (penurunan GCS >2 poin)
 Kejang berulang atau lama
e. Pasien lain yang keadaan umumnya memburuk dan mencemaskan yang tidak sesuai
kriteria di atas.

B. BANTUAN HIDUP DASAR


Kasus kegawatdaruratan medik yaitu henti jantung dan henti napas dapat terjadi
pada siapa saja, kapan saja, dan dimana saja. Henti napas adalah berhentinya pernapasan
spontan disebabkan karena gangguan jalan napas baik parsial maupun total atau karena
gangguan di pusat pernapasan. Henti jantung adalah berhentinya sirkulasi peredaran
darah karena kegagalan jantung untuk melakukan kontraksi secara efektif. Henti napas
dan henti jantung merupakan dua keadaan yang sering berkaitan sehingga
penatalaksanaannya tidak bisa dipisahkan. Serangkaian tindakan penyelamatan nyawa
yang kita kenal dengan Bantuan Hidup Dasar ini akan sangat bermanfaat jika dilakukan
sesegera mungkin dan sebaik mungkin.
Bantuan Dasar Hidup (BHD) sudah sering diperkenalkan dalam situasi
kegawatdaruratan. Bantuan Hidup Dasar umumnya tidak menggunakan obat-obatan dan
dapat dilakukan dengan baik setelah melalui pelatihan singkat. Seiring dengan
perkembangan di bidang kedokteran, maka metode BHD selalu mengalami
penyempurnaan. BHD sangat bermanfaat bagi penyelamatan kehidupan mengingat
dengan pemberian napas buatan secara sederhana BHD memberikan asupan oksigen dan
sirkulasi darah ke organ tubuh yang sangat vital seperti otak dan jantung. Ketika
American Heart Association (AHA) menetapkan pedoman resusitasi jantung yang
pertama kali. Resusitasi Jantung Paru (RJP) dimulai dari “A-B-C” yaitu membuka jalan
napas korban (Airway), memberikan bantuan napas (Breathing), dan kemudian
memberikan kompresi dinding dada (Circulation) kini dinilai kurang efektif. Panduan
AHA 2010 mengalami perubahan yang sangat mendasar yang menekankan bantuan
Hidup Dasar pada pengenalan segera pada henti jantung dan henti napas yang terjadi tiba-
tiba. Kemudian segera disusul dengan pengaktifan sistem respon gawat darurat dan
melakukan resusitasi jantung paru-paru sedini mungkin yang dalam AHA 2010 terjadi
pengaturan ulang langkah-langkah resusitasi menjadi “C-A-B” (Circulation-Airway-
Breathing) pada dewasa dan anak, sehingga setiap penolong harus memulai dari kompresi
dinding dada dengan segera membuka jalan napas dan memberikan bantuan napas. Setiap
orang dapat menjadi penolong pada korban yang tiba-tiba mengalami henti jantung dan
11
henti napas sehingga keterampilan ini bergantung pada pelatihan yang pernah dijalani
serta pengalaman dari penolong.
Perlu diingat sebelum melakukan Bantuan Hidup Dasar harus dipastikan bahwa
langkah yang dikerjakan adalah langkah yang tepat dengan melakukan pemeriksaan
terlebih dahulu yang di dalam hal ini yaitu pengetahuan untuk menilai keadaan pasien.
Sebelum memulai resusitasi jantung dan paru sebaiknya penolong mengecek respon
pasien. Pastikan pasien sadar atau tidak dengan cara menepuk atau menggoyang bahunya
dan menanyakan keadaannya. Apabila pasien tidak merespon panggilan atau pertanyaan
penolong serta tidak bernapas secara normal, maka pasien dianggap mengalami kejadian
henti jantung dan penolong segera mengecek nadi karotis dalam waktu tidak lebih dari 10
detik. Tidak terabanya pulsasi nadi karotis mengharuskan penolong untuk memutuskan
keadaan gawat daruratan pasien yaitu henti jantung. Jika terdapat kasus henti jantung
segera aktifkan Tim Medis Reaksi Cepat (Code Blue) dan mulailah melakukan kompresi
jantung.

Cara meraba nadi karotis


 Sirkulasi
Kompresi dada dilakukan dengan memberikan tekanan berkekuatan penuh
serta berirama di pertengahan bagian tulang dada. Tekanan ini untuk mengalirkan
darah dan menghantarkan oksigen ke otak dan miokardium. Hal yang diperhatikan
pada teknik ini adalah kompresi dada diberikan dengan frekuensi yang mencukupi
minimal 100 ×/menit. Untuk dewasa berikan kompresi dengan kedalaman minimal 2
inch (5 cm). Kompresi pada bayi dan anak dengan kedalaman minimal sepertiga
diameter dinding anterior posterior dada atau bayi 1,5 inci (4 cm) dan pada anak 2
inci (5 cm).

Kompresi dada pada ba

12
Kemudian berikan kesempatan dada untuk mengembang kembali secara
sempurna setelah setiap kompresi. Berikut ini adalah langkah dalam melakukan
kompresi dada:
1. Baringkan pasien pada permukaan yang datar dan keras.
2. Letakan telapak satu tangan di atas pertengahan dada pasien, antara puting atau
dua jari kaudal sudut kosta. Letakkan tangan lain di atas tangan pertama.
Posisikan siku bahu tepat di posisi segaris di atas posisi tangan.

Posisi Kompresi Dada


3. Gunakan berat badan atas anda (tidak hanya tenaga lengan) saat anda menekan
lurus ke bawah (kompresi) pada dada sejauh 2 inci (sekitar 5 cm). Tekan dengan
kuat dan dua kompresi per detik, atau sekitar 120 kompresi per menit.

Posisi tangan penolong lurus


4. Setelah 30 menit kompresi, tekuk kepala pasien ke belakang dan angkat dagu
untuk membuka jalan napas. Siapkan memberi dua napas bantuan. Pencet lubang
hidung dan berikan napas pada mulut pasien selama sedetik. Bila dada terangkat,
beri bantuan napas kedua. Bila dada tidak terangkat, ulangi menekuk kepala
pasien, lakukan manuver angkat dagu dan berikan bantuan napas. Ini adalah satu

13
siklus. Bila ada penolong lain, perintahkan orang tersebut memberikan bantuan
napas dua kali setelah anda melakukan 30 kompresi.
5. Bila pasien tidak merespon setelah 5 siklus (sekitar 2 menit) dan AED
(Authomatic External Defibrilator) tersedia dan anda sudah pelatihan, gunakan
alat tersebut dan ikuti perintahnya. Bila AED/petugas terlatih tidak tersedia
lanjutkan RJP hingga ada tanda-tanda atau hingga petugas emergensi medis
mengambil alih.

 Menjaga Potensi Jalan Napas


Dalam teknik ini diajarkan cara membuka jalan napas serta mempertahankan
jalan napas untuk membantu memperbaiki oksigenasi tubuh serta ventilasi. Dalam
praktiknya tindakan ini sebaiknya dilakukan oleh orang yang sudah menerima
pelatihan bantuan hidup dasar atau tenaga kesehatan professional dengan
menggunakan teknik angkat kepala dan angkat dagu (head tilt chin lift). Cara ini
dilakukan untuk pasien yang tidak diketahui mengalami cidera leher dengan
mengangkat dagu ke atas dan mendorong kepala/dahi ke belakang. Sedangkan untuk
penderita yang dicurigai mengalami trauma servikal, teknik ini tidak bisa dilakukan.
Teknik yang digunakan adalah menarik rahang tanpa melakukan ekstensi kepala (jaw
thrust). Berikut ini adalah teknik head tilt chin lift:
1. Letakkan pasien pada posisi punggung di permukaan rata.
2. Berlutut antara leher dan bahu pasien.
3. Buka jalan napas pasien dengan menekuk kepala, manuver angkat dagu. Letakkan
telapak tangan anda pada dahi pasien dan dengan mantap tekuk kepala ke
belakang. Kemudian tangan lain mengangkat dagu pasien ke depan untuk
membuka jalan napas.
4. Periksa pernapasan pasien dengan cara melihat gerakan dada, mendengarkan bunyi
napas pasien dan merasakan napas pasien pada pipi dan telinga anda. Napas cepat
melalui mulut tidak dianggap sebagai pernapasan normal.

Teknik head tilt chin lift Teknik jaw thrust


14
 Bantuan Napas
Pemberian bantuan napas dilakukan setelah jalan napas terlihat aman. Tujuan
primer pemberian bantuan napas adalah untuk mempertahankan oksigenasi yang
adekuat dengan tujuan sekunder untuk membuang CO2. Sesuai dengan revisi panduan
yang dikeluarkan oleh AHA 2010 yang perlu diperhatikan penolong adalah:
1. Dengan jalan napas pasien terbuka pencet hidung pasien dan tutup mulut pasien
dengan mulut anda hingga tertutup rapat. Tempelkan rapat bibir penolong
melingkari mulut pasien.
2. Siapkan untuk pemberian dua napas buatan dengan menarik napas panjang.
Tiupkan napas pertama dengan perlahan, setiap tiupan selama 1 detik, sambil
melihat pasien bergerak naik. Bila naik, berikan pernapasan kedua.
3. Kembali ke kompresi dada.
4. Berikan bantuan napas sesuai dengan kompresi dada dengan perbandingan 2 kali
bantuan napas setelah 30 kompresi.

C. BANTUAN HIDUP LANJUT


Bantuan hidup lanjut berhubungan dengan teknik yang ditunjukan untuk
memperbaiki ventilasi dan oksigenasi korban dan pada diagnosis serta terapi ganguan
irama utama selama henti jantung. Bantuan hidup dasar memerlukan peralatan khusus dan
penggunaan obat. Harus segera dimulai bila diagnosis henti jantung atau henti napas
dibuat dan harus diteruskan sampai bantuan hidup lanjut diberikan. Setelah dilakukan
ABC RJP dan belum timbul denyut jantung spontan, maka resusitasi diteruskan dengan
langkah DEF.
Drug and Fluid (Obat dan Cairan) tanpa menunggu hasil EKG dapat diberikan:
1. Adrenalin: 0,5-1,0 mg dosis untuk orang dewasa, 10 mcg/kg pada anak-anak. Cara
pemberian: iv intratrakeal lewat pipa trakeal (1 ml adrenalin diencerkan dengan 9 ml
akuades steril, bukan NaCl, berarti dalam 1 ml mengandung 100 mcg adrenalin). Jika
keduannya tidak mungkin; lakukan intrakardial (hanya oleh tenaga yang sudah
terlatih). Di ulang tiap 5 menit dengan dosis sama sampai timbul denyut spontan atau
mati jantung.
2. Natrium Bikarbonat: dosis mulai 1 mEq/kg (bila henti jantung lebih dari 2 menit)
kemudian dapat diulang tiap 10 menit dengan dosis 0,5 mEq/kg sampai timbul denyut
jantung spontan atau mati jantung. Penggunaan natrium bikarbonat tidak lagi
dianjurkan kecuali pada resusitasi yang lama, yaitu pada korban yang diberi ventilasi
buatan yang lama dan efisien, sebab kalau tidak diberikan maka akan terjadi asidosis
15
intraseluler justru bertambah dan tidak berkurang. Penjelasan untuk keanehan ini
bukanlah hal yang baru. CO2 yang tidak dihasilkan dari pemecahan bikarbonat segera
menyeberangi membran sel CO2 tidak diangkut oleh/saat respirasi.
3. EKG meliputi fibrilasi ventrikuler, asistol ventrikuler dan disorientasi elektro
mekanis.
4. Defibrilasi, tindakan defibrilasi sesegera mungkin memegang peranan kritis untuk
keberhasilan pertolongan pasien henti jantung mendadak karena irama dasar jantung
yang paling sering didapat pada kasus henti jantung adalah fibrilasi ventrikel yang
kemudian disusul perubahan irama dari fibrilasi ventrikel menjadi asistol seiring
dengan berjalannya waktu. Pelaksanaan defibrilasi bisa dilakukan dengan
menggunakan defibrilator manual atau menggunakan Authomatic External
Defibrilator (AED). Pada penderita dewasa yang mengalami fibrilasi ventrikel atau
takikardi ventrikel tanpa nadi, maka untuk terapi diberikan energi kejutan
sebesar 360 J untuk defibrilator monofasik atau 200 J untuk yang bifasik. Untuk
kejadian henti jantung di lingkungan RSIA “Fatimah” Lamongan maka pemakaian
defibrilator ini akan dilakukan oleh tim code blue RSIA “Fatimah” Lamongan.
Detail penggunaan AED dipengaruhi oleh jenis alat dan merek namun secara garis
besar sebagai berikut :
1. Hidupkan AED dengan menekan sakelar “on”.
2. Pasang bantalan elektroda pada dada penderita.
3. Jangan melakukan kontak fisik secara langsung dengan pasien saat pasien sedang
dilakukan analisis irama.
4. Tekan tombol “shock” setelah AED memerintahkan bahwa irama jantung pasien
adalah irama yang memerlukan tindakan kejut listrik.
5. Setelah kejut listrik selesai segera lakukan kompresi dada dan bantuan napas. Setelah
dilakukan 5 siklus maka dilakukan pemeriksaan ulang irama jantung menggunakan
AED.
Setelah Tim Medis Reaksi Cepat (Code Blue) tiba di lokasi kejadian dan
melakukan serangkaian tindakan penyelamatan nyawa maka team leader akan
memutuskan transportasi pasien selanjutnya. Team Leader dapat berkoordinasi dengan
dokter ruangan apabila pasien stabil dan hanya memerlukan tempat perawatan biasa. Pada
kondisi lain team leader dapat berkoordinasi dengan dokter ruangan serta DPJP utama
apabila pasien yang ditangani memerlukan tempat perawatan khusus seperti Perinatologi,
HCU, ICU/ICCU. Untuk pasien yang belum mendapat ruang perawatan (pasien yang
belum melakukan registrasi), Tim Medis Reaksi Cepat (Code Blue) dapat berkoordinasi
16
dengan perawat ruangan sehingga keluarga pasien dapat melakukan registrasi dan pasien
mendapatkan pelayanan lanjutan di RSIA “Fatimah” Lamongan. Tim Medis Reaksi Cepat
(Code Blue) terutama Team Leader dapat berkoordinasi dengan dokter ruangan serta
DPJP utama serta kepala ruangan apabila pasien membutuhkan tempat perawatan khusus
tetapi tidak tersedia di RSIA “Fatimah” Lamongan sehingga pasien perlu dirujuk ke
fasilitas kesehatan yang memiliki sarana dan prasarana yg memadai.

17
BAB IV
LOGISTIK

A. FARMASI DAN ALAT KESEHATAN


Sebagai penunjang pelayanan kegawatdaruratan medik yang dilakukan oleh Tim
Medis Reaksi Cepat (Code Blue) maka diperlukan troli emergensi atau tas emergensi.
Instalasi farmasi menyediakan perbekalan farmasi yaitu obat injeksi dan alat kesehatan
pakai habis yang disiapkan di troli atau tas emergensi dimana troli atau tas tersebut
kemudian akan disegel menggunakan segel bernomor seri yang mudah dibuka dan hanya
dapat dibuka pada saat kejadian emergensi pada saat Tim Medis Reaksi Cepat (Code
Blue) diaktifkan. Instalasi farmasi bertanggung jawab terhadap ketersediaan perbekalan
farmasi di dalam troli maupun tas emergensi sesuai daftar perbekalan farmasi emergensi
dan tidak bertanggung jawab terhadap perbekalan farmasi lain yang diletakkan didalam
troli selain oleh petugas farmasi. Di atas troli emergensi akan ditempatkan alat resusitasi
dan di sampingnya akan ditempatkan tabung oksigen yang harus dicek setiap hari oleh
Tim Medis Reaksi Cepat (Code Blue) bekerja sama dengan perawat ruangan setempat.
Sedangkan perbekalan farmasi yang sudah terpakai maka Team Leader Code Blue harus
mengisi form berita acara penggunaan perbekalan farmasi yang disertai tanda tangan saksi
yaitu dokter ruangan atau perawat ruangan dan Team Leader segera menuliskan resep
untuk mengganti perbekalan farmasi yang terpakai. Berita acara dan resep kemudian harus
segera diserahkan ke Unit Pelayanan Farmasi terkait.
Dalam mempersiapkan perbekalan farmasi, pengisian awal perbekalan farmasi
emergensi dari Unit Pelayanan Farmasi terkait ( Rawat Inap , Rawat Jalan, UGD, VK
Bersalin; Kamar Operasi-RR). Untuk menjamin mutu, keamanan dan ketersediaan
perbekalan farmasi serta mencegah terjadinya keterlambatan penanganan kondisi
emergensi maka petugas farmasi harus segera mengganti. Petugas farmasi akan mengecek
dan mencatat tanggal kadaluarsa dan mengisi perbekalan farmasi sesuai daftar perbekalan
farmasi emergensi di troli/tas emergensi. Petugas farmasi menerima laporan pembukaan
troli/tas emergensi maksimal dalam waktu 2 jam setelah pembukaan troli emergensi.
Apabila didapatkan obat yang telah kadaluarsa maka petugas farmasi juga harus segera
mengganti. Petugas farmasi kemudian mengecek dan mencocokkan sisa perbekalan
farmasi di troli emergensi dengan pengeluaran yang tertulis didalam resep dan berita
acara. Jika terdapat ketidakcocokan isi dan jumlah yang tercantum maka petugas akan
melakukan koordinasi dengan dokter atau perawat. Pengisian kembali persediaan
perbekalan farmasi dilaksanakan paling lambat 3 jam setelah laporan. Setelah pengisian
18
lengkap maka petugas farmasi harus mengunci kembali troli/tas dengan segel bernomor
seri yang baru.
Berikut adalah gambar troli emergensi serta peralatan dan obat yang sesuai dengan
standar yang telah ditentukan dalam perbekalan troli maupun tas emergensi.

Pada bagian samping dan atas troly emergensi terdapat alat:

No Nama Alat Keterangan Jumlah


Tabung Oksigen + regulator O2 +
1 Oksigen Portable 1 Unit
troli 1 m3 kubik
2 Monitor Transport 1 Unit
3 Defibrator/AED 1 Unit
4 Manual Resuscitation Kit Dewasa 1 Set
5 Manual Resuscitation Kit Anak 1 Set
6 Tensimeter Manual Raksa 1 Unit
7 Tube Exchanger 1 Unit
8 Suction Portable 1 Unit
9 Tourniquet 1 Unit
10 Senter Kecil 1 Unit

 Laci Pertama Berisi Obat Emergensi


Obat emergensi yang disiapkan sudah tertata baik dan teratur sesuai kaidah
kefarmasian yaitu urut alfabetis sesuai bentuk sediaan agar memudahkan
pengambilan saat diperlukan. Pada laci pertama ini terdapat rak wadah obat agar obat
tidak tercampur satu sama lain. Petugas farmasi menata obat emergensi di laci rak
pertama dari kiri ke kanan, dari depan ke belakang urut sesuai abjad dan
mencantumkan nama obat emergensi pada masing-masing ke wadah obat dan
penataannya disesuaikan kebijakan obat high alert dan LASA (Look A Live Sound A
Like) diberi penandaan khusus dan tidak ditempatkan berdampingan.
19
Bentuk
No Nama Obat dan Kekuatan Sediaan Jumlah
Sediaan
1 Arniodarone 150 mg/3 ml (Thyarit) Amp 2
2 Arniofillin 2,4 % inj (240 mg/10 ml) Amp 3
3 Asam Traneksamat 500 mg/5 ml Amp 3
4 Atropin Sulfat 0,25 mg/1 ml Amp 10
5 Dextrose 40 % 25 ml inj (400 mg/ml) Fls 2
6 Deksametasol 5 mg/1 ml Amp 3
7 Diazepam 10 mg/2 ml (Stesolid) Amp 2
8 Difenhidramin 10 mg/ml Amp 2
9 Digoxin inj 0,25 mg (Fargoxin) Amp 2
10 Ditiazem 5 mg/ml (Herbesser) Amp 2
11 Dobutamin 200 mg/5 ml (Dobura) Amp 2
12 Dopamin 200 mg/5 ml (Udopa) Amp 2
13 Epinefrin 1 mg/1 ml Amp 10
14 Furosemid 20 mg/2 ml Amp 5
15 Hyoscine-N-Butilbromida 20 mg/1 ml Amp 2
16 Kalsium Glukonat 10 % inj (1000 mg/10 ml) Amp 2
17 Kalium Klorida 7,46 5,25 ml inj (7,46 mg/ml) Fls 2
18 Lidokain 2 % inj (40 mg/2 ml) Amp 3
19 Magnesium Sulfat 20 % 25 ml (200 mg/ml) Fls 2
20 Magnesium Sulfat 40 % 25 ml (200 mg/ml) Fls 2
21 Metamizol 500 mg/ml (Antrain) Amp 2
22 Metilprednisolon 125 mg/2 ml Vial 2
23 Morfin 10 mg/1 ml Amp 2
24 Natrium Bikarbonat 8,4 % 25 ml (8,4 mg/ml) Fls 2
25 Norepinefrin 4 mg (Vascon) Amp 2
26 Sabutamol 2,5 mg neb (Vetolin) Neb 2
27 Vit. K 10 mg/ml Amp 2
28 Water for injection 25 ml Fls 4

 Laci kedua peralatan infuse, selang dan kateter (circulation devices)


Bentuk
No Nama Obat dan Kekuatan Sediaan Jumlah
Sediaan
1 Abbocath # 6 Biji 1
2 Abbocath # 18 Biji 3
3 Abbocath # 20 Biji 3
4 Abbocath # 22 Biji 3
5 Abbocath # 24 Biji 3
6 Alkohol 70 % Fls 1
7 Blood Set Infus Biji 1
8 Cheas Lead Biji 3
9 Disp. Syringe 1 ml Biji 2
20
Bentuk
No Nama Obat dan Kekuatan Sediaan Jumlah
Sediaan
10 Disp. Syringe 3 ml Biji 3
11 Disp. Syringe 5 ml Biji 3
12 Disp. Syringe 10 ml Biji 3
13 Disp. Syringe 20 ml Biji 2
14 Disp. Syringe 50 ml Lubang Pinggir Biji 1
15 Disp. Syringe 50 ml Lubang Tengah Biji 1
16 F. Catheter # 5 Biji 1
17 F. Cathetet # 10 Biji 1
18 F. Cathetet # 12 Biji
19 F. Cathetet # 14 Biji
20 F. Cathetet # 16 Biji
21 GD Stick Biji
22 Infus Set Makro Biji
23 Infus Set Mikro Biji
24 Kapas Meds 50 g Biji
25 Needle # 18 Biji
26 NGT # 10 Biji
27 NGT # 12 Biji
28 NGT # 14 Biji
29 NGT # 16 Biji
30 NGT # 18 Biji
31 Wing Needle 25 Biji
32 Urobag Biji

 Laci ketiga berisi alat-alat yang digunakan dalam tata laksana jalan napas dan intubasi
endotrakeal (airway devices)
Bentuk
No Nama Obat dan Kekuatan Sediaan Jumlah
Sediaan
1 ETT # 3,5 Biji 1
2 ETT # 5,0 Biji 1
3 ETT # 6,0 Biji 1
4 ETT # 6,5 Biji 1
5 ETT # 7,0 Biji 1
6 ETT # 7,5 Biji 1
7 Hypavix Biji 1
8 KY Jeli Biji 1
9 Laringoskop Anak Biji 1
10 Laringoskop Dewasa Biji 1
11 Mayo # 1 60 mm Biji 1
12 Mayo # 3 70 mm Biji 1

21
Bentuk
No Nama Obat dan Kekuatan Sediaan Jumlah
Sediaan
13 Mayo # 80 mm Biji 1
14 Mess # 11 Biji 1
15 Nasofarigeal Airways # 7 Biji 1
16 Nasofarigeal Airways # 8 Biji 1
17 Sarung Tangan Steril # 7 Biji 1
18 Suction Kateter # 6 Biji 1
19 Suction Kateter # 8 Biji 1
20 Suction Kateter # 10 Biji 1
21 Suction Kateter # 12 Biji 1
22 Suction Kateter # 14 Biji 1
23 Tongue Spatel Biji 1

 Laci keempat berisi alat-alat yang digunakan untuk bantuan pernapasan (breathing
devices)
Bentuk
No Nama Obat dan Kekuatan Sediaan Jumlah
Sediaan
1 Extention Tube Biji 1
2 Jackson Reeves Biji 1
3 Kassa Gulung Biji 1
4 Kassa Steril Biji 1
5 Masker Nebulizer Anak Biji 1
6 Masker Nebulizer Dewasa Biji 1
7 Nasal Canula Anak Biji 1
8 Nasal Canula Dewasa Biji 1
9 NRBM Anak Biji 1
10 NRBM Dewasa Biji 1
11 Stetoskop Biji 1
12 Stilet Dewasa Biji 1
13 Stilet Anak Biji 1
14 Trachea Tee Biji 1
15 Spidol Permanen Biji 1
16 Gunting Biji 1

 Laci kelima berisi cairan infus

22
Bentuk
No Nama Obat dan Kekuatan Sediaan Jumlah
Sediaan
1 Dextrosa 10 % 500 ml Fls 2
2 Dextrosa 5 % 500 ml Fls 2
3 Manitol 20 % 500 ml Fls 1
4 Natrium Klorida 0,9 % 100 ml Fls 2
5 Natrium Klorida 0,9 % 500 ml Fls 2
6 Natrium Klorida 3 % 500 ml Fls 1
7 Ringer Laktat 500 ml Fls 2

Troli emergensi diletakkan di tempat yang mudah dijangkau oleh Petugas Tim
Medis Reaksi Cepat (Code Blue) sedangkan untuk tas emergensi diletakkan pada unit
yang tidak memungkinkan menggunakan troli contohnya gedung bertingkat dan lahan
parkir. Sesuai dengan hasil rapat koordinasi serta pengamatan di lingkungan Rumah Sakit,
serta 5 buah tas emergensi yang akan diletakkan dibeberapa titik strategis di lingkungan
Rumah Sakit yaitu:
1. Ruang UGD(1 tas emeregensi)
Tas ini digunakan pada keadaan emeregensi di UGD dan dan IRJ dan kondisi code
blue
2. Ruang Kamar operasi (1 tas emergensi)
Tas ini digunakan pada keadaan emergesi di Kamar operasi dan RR
3. Ruang Kamar Bersalin (1 tas emergensi)
Tas ini digunakan pada keadaan emergensi di vk bersalin.

4. Ruang Nerstasien (1 tas emergensi)


Troli ini digunakan pada keadaan emegensi di ruang perawatan
5. Ruang neonatus (1 tas emergensi)
Troli ini digunakan pada keadaan emergensi di ruang neonatus
Penempatan tas emergensi di beberapa lokasi di lingkungan Rumah Sakit dapat
memudahkan Tim Medis Reaksi Cepat (Code Blue) dalam melakukan tugas bantuan
hidup lanjut . Titik tas emeregensi di UGD, kamar oprasi, kamar bersalin,ruang
perawatan,neonates.

B. KOMUNIKASI CODE BLUE

23
Komunikasi dalam menunjang pengaktifan Tim Medis Reaksi Cepat (Code Blue)
dalam penanganan keadaan gawat darurat di Rumah Sakit menjadi hal yang sangat
penting. Agar informasi dapat segera tersampaikan dengan baik dan lancar maka
komunikasi dilakukan dengan singkat, jelas, benar dan secara seragam maka digunakan
format pelaporan sesuai yang disusun oleh Tim Medis Reaksi Cepat (Code Blue). Karena
banyaknya unit kerja di lingkungan Rumah Sakit serta mempertimbangkan
penatalaksanaan Sistem Penanggulangan Gawat Darurat Terpadu di lingkungan Rumah
Sakit maka dipandang perlunya pembentukan call center emergensi sebagai pusat
penerimaan informasi.
Alat komunikasi yang digunakan adalah pesawat HT (Handy Talky) yang
digunakan secara intern di dalam lingkungan rumah sakit. Pesawat HT akan
menginforrmasikan panggilan emergensi maka Tim Medis Reaksi Cepat (Code Blue) dari
masing-masing bagian / semua petugas RSIA “Fatimah” Lamongan menuju ke tempat
sesuai informasi dimana ditemukan pasien/korban sesuai kriteria pemanggilan yaitu henti
nafas maupun henti Jantung, dewasa atau anak-anak.
Pada saat petugas rumah sakit mengaktifkan Code Blue dan sudah mendengarkan
suara operator maka petugas rumah sakit harus menyebutkan “Code Blue’ pada awal
pelaporan. Hal ini akan memudahkan call center dalam mencatat informasi yang
disampaikan serta waktu pelaporan. Informasi yang harus disampaikan pada saat melapor
kepada call center adalah nama pelapor dan jabatan pelapor. Selain itu, petugas harus
menyebutkan identitas pasien yaitu nama pasien, jenis kelamin, umur pasien, lokasi pasien
ditemukan serta kondisi pasien yang menyebabkan petugas mengaktifkan code blue.
Identitas pasien yang penting dilaporkan agar tidak terjadi kesalahan dalam peñata
laksanaan serta memenuhi kriteria sasaran keselamatan pasien, namun apabila korban
bukan pasien yang sedang dirawat di lingkungan rumah sakit maka petugas cukup
menyebutkan jenis kelamin dan perkiraan umur korban. Setelah selesai melapor petugas
hendaknya tidak menutup telepon dengan terburu-buru karena operator akan mengulang
informasi yang dilaporkan. Apabila informasi tersebut sudah benar petugas akan
mengatakan benar tetapi apabila informasi tersebut salah maka petugas sebaiknya
mengulang informasi dengan jelas dan singkat.
Sebagai operator call center emergency diperlukan respon yang cepat pula dalam
menerima laporan maupun dalam pengaktifan Tim Medis Reaksi Cepat (Code Blue) agar
tidak terjadi keterlambatan dalam penanganan kegawatdaruratan medik. Karena
banyaknya macam keadaan emergensi di lingkungan rumah sakit maka pada saat
menerima telepon emergensi sebaiknya mengucapkan emergency call center RSIA
24
“Fatimah” Lamongan dan operator menanyakan jenis emergensi yang akan dilaporkan.
Apabila pelapor menyebutkan jenis emergensi yaitu “code blue” maka operator segera
mengambil buku register code blue dan mencatat nama dan jabatan pelapor. Buku register
code blue hendaknya selalu berada di dekat pesawat telepon emergensi dan kemudian
operator juga mencatat identitas pasien (nama, jenis kelamin, umur), lokasi pasien
ditemukan serta kondisi pasien. Setelah mengulang informasi kepada pelapor maka
operator segera mencatat waktu pelaporan.
Tim Medis Reaksi Cepat (Code Blue) yang bertugas saat itu dengan menggunakan
radio panggil satuan pengamanan yaitu Handy Talky (HT). Handy Talky menjadi salah
satu pilihan alat aktivasi code blue karena alat ini mampu berhubungan langsung ke
semua Tim Medis Reaksi Cepat (Code Blue) yang tersebar di lingkungan rumah sakit
dengan frekuensi yang sama sehingga Tim Medis Reaksi Cepat (Code Blue) terdekat
dengan lokasi kejadian dapat segera menuju lokasi untuk melakukan resusitasi. Selain itu
HT mudah dalam penggunaannya dan informasi dapat segera tersampaikan tanpa kendala
sinyal yang signifikan sehingga koordinasi tim menjadi lebih baik dan lebih cepat. Namun
ada sedikit kekurangan dalam penggunaan alat komunikasi yang sifatnya searah ini yaitu
pengirim pesan (sender) dan penerima pesan (receiver) tidak bisa berbicara pada saat
yang bersamaan sehingga komunikasi dilakukan secara bergiliran, dan speaker pada alat
ini tidak sebaik pada alat komunikasi lainnya maka pada saat berbicara harus
menggunakan kecepatan sedang irama yang baik serta kata-kata yang jelas dan singkat.
Komunikasi pada HT dapat didengar oleh Tim Medis Reaksi Cepat (Code Blue) yang
tersebar dibeberapa lokasi maka hendaknya dalam penyampaian informasi tetap
memperhatikan sopan santun dalam berkomunikasi. Selain itu juga hendaknya
menghindari penyebutan nama dan jabatan petugas kecuali nama pasien yang mengalami
kegawatdaruratan medik. HT ini hanya dipergunakan untuk keperluan komunikasi Tim
Medis Reaksi Cepat (Code Blue) RSIA “Fatimah” Lamongan baik untuk mengaktifan tim,
klarifikasi, maupun meminta bantuan kepada Tim Medis Reaksi Cepat (Code Blue)
setempat. Orang-orang yang memegang HT pada periode waktu tertentu selain call center
emergency ditentukan sesuai mekanisme penjadwalan yang berlaku di pengaturan jaga
residen anestesi sebagai Team Leader atau jadwal jaga Tim Medis Reaksi Cepat (Code
Blue). Dalam perawatan alat komunikasi sehari-hari juga perlu diperhatikan pengisian
baterai HT secara berkala menggunakan charger yang tersedia, Baterai HT disimpan pada
wadah yang bebas lembab dan hindari suhu yang terlalu panas. Sebelum disimpan
sebaiknya baterai di-changer terlebih dahulu dan hindari charge baterai dalam kondisi HT
on dan jika terpaksa sebaiknya tidak digunakan untuk memancar.
25
Untuk memberikan panduan bagi petugas call center dan Tim Medis Reaksi Cepat
(Code Blue) dalam penyampaian maupun penerimaan informasi maka disusunlah format
khusus. Pada saat penggunaan alat ini, HT harus dalam keadaan posisi tegak dan jarak HT
dengan mulut ± 2,5 cm agar suara dapat terdengar jelas di speaker HT. Jika akan berbicara
tekanlah tombol Push to Talk (PTT) selama ± 2 detik dan segera lepas tombol setelah
selesai berbicara. Pada awal panggilan Tim sebutkan “code blue” dan tunggu jawaban
dari Tim Medis Reaksi Cepat (Code Blue) (receiver). Bila panggilan pertama tidak
langsung dijawab tunggu ± 5 detik baru panggil kembali, Hentikan pemanggilan apabila
tidak mendengar jawaban setelah dilakukan upaya pemanggilan sebanyak lebih dari 5
(lima) kali lalu gunakan alat komunikasi yang lain. Apabila receiver menjawab panggilan
informasi code blue yaitu nama pasien, umur pasien, jenis kelamin pasien, lokasi pasien
ditemukan dan kondisi pasien dapat segera dilaporkan. Setelah melapor tunggulah
jawaban dari receiver (Tim Medis Reaksi Cepat (Code Blue)) yaitu “ditindaklanjuti” dan
kemudian catatlah waktu saat petugas call center mulai mengaktifkan code blue.

C. BIAYA
Segala biaya yang dikeluarkan akibat pelaksanaan tim code blue dibebankan pada
Anggaran Pendapatan dan Belanja RSIA “Fatimah” Lamongan.

26
BAB V
PENGENDALIAN MUTU/EVALUASI

Pelaksanaan kegiatan penanggulangan dan penanganan pasien gawat darurat oleh


Tim Medis Reaksi Cepat (Code Blue) harus dapat dievaluasi dan kendali mutu agar
kesempurnaan kegiatan menjadi lebih baik. Oleh karena itu Tim Pengendali Mutu rumah sakit
diharapkan dapat turut berperan dalan hal evaluasi dan kendali mutu Tim Medis Reaksi Cepat
(Code Blue), Kegiatan evaluasi terdiri dari evaluasi internal yang berupa pertemuan rutin Tim
Medis Reaksi Cepat (Code Blue) yang membahas permasalahan pelayanan kegawatdaruratan
oleh Tim Medis Reaksi Cepat (Code Blue) termasuk komplikasi tindakan, efisiensi dan
efektifitas layanan. Audit medik dilakukan secara berkala untuk menilai kinerja keseluruhan
pelayanan Evaluasi Standar Prosedur Operasional dilakukan secara berkala sesuai kebutuhan
dan kebijakan rumah sakit. Selain itu diperlukan evaluasi eksternal yaitu mengikuti akreditasi
rumah sakit yang diselenggarakan oleh (Komite Akreditasi Rumah Sakit) KARS dengan
predikat terakreditasi.
Guna menjaga dan meningkatkan kualitas kemampuan anggota tim maka dibuatkan
suatu pendidikan dan pelatihan meliputi teori dan praktek sesuai kebutuhan tim yaitu setiap 2
tahun sekali. Pendidikan dan pelatihan ini akan bekerja sama dengan instalasi diklat. Pelatihan
kegawatdaruratan yang diperlukan adalah Bantuan Hidup Dasar dan Bantuan Hidup Lanjut.
Setelah mengikuti pelatihan maka peserta akan mendapatkan sertifikat.

27
BAB VI
DOKUMENTASI

Setelah kegiatan pertolongan pasien selesai Tim Medis Reaksi Cepat (Code Blue)
harus segera menyelesaikan dokumentasi penatalaksanaan. Lembar observesi yang digunakan
juga harus disertakan dalam rekam medis pasien. Pada saat melakukan serah terima pasien di
ruangan, Tim Medis Reaksi Cepat (Code Blue) menuliskan berita acara serah terima pasien
disertai tanda tangan petugas Tim Medis Reaksi Cepat (Code Blue) dan perawat ruangan.
Selain itu Petugas Tim Medis Reaksi Cepat (Code Blue) juga mengisi berita acara
penggunaan troli ataupun tas emergensi untuk kemudian dokter ruangan ataupun team leader
menuliskan resep obat maupun bahan habis pakai yang digunakan untuk pertolongan
kegawatdaruratan.
Sedangkan Operator Call Center juga mencatat laporan kegawatdaruratan yang
diterima pada buku registrasi serta mencatat waktu pelaporannya. Waktu untuk aktivasi Tim
Medis Reaksi Cepat (Code Blue) serta respon time Tim Medis Reaksi Cepat (Code Blue) juga
sebaiknya dicatat agar kegiatan Tim Medis Reaksi Cepat (Code Blue) mudah dievaiuasi.
Respon time yang dimaksud adalah waktu dimana Tim Medis Reaksi Cepat (Code Blue)
berhasil mencapai lokasi kejadian yang harus dilaporkan oleh Tim Medis Reaksi Cepat (Code
Blue) kepada Operator Call Center menggunakan sarana komunikasi Handy Talky.
Catatan Registrasi Code Blue
Jam
Jenis
Nama Jabatan Nama Lokasi Jam Aktivasi Respon Keter-
No Kelamin Umur Kondisi
Pelapor Pelapor Pasien Pasien Laporan Code Time angan
Pasien
Blue

28
Berita Acara Penggunaan Perbekalan Farmasi Troli Emergensi
Pada hari
Jam : Tanggal : Bulan : Tahun :
ini
Saya yang bertanda tangan di bawah ini:
Nama :
Jabatan :
Menyatakan dengan sebenarnya bahwa saya telah membuka dan menggunakan perbekalan
farmasi yang tersedia di dalam troli emergensi dengan nomor kunci ____________________
yang berada di area/ruang :
(sebutkan area/ruang penyimpanan troli)
Karena telah terjadi keadaan emergensi :
(sebutkan)
Pada pasien :
Nama
Tgl. Lahir
No. RM
Status

Dengan rincian perbekalan farmasi sebagai berikut:


Nama Nama
No Perbekalan Satuan Jumlah No Perbekalan Satuan Jumlah
Farmasi Farmasi
1
2
3
4
5
6

Demikian berita acara ini saya buat rangkap 4 (empat) untuk dipergunakan sebagaimana
mestinnya.
Mengetahu, Lamongan,
Atasan Langsung Yang Membuka

(nama terang dan tanda tangan) (nama terang dan tanda tangan)

29
Ekspedisi Serah Terima Laporan Jaga Tim Medis Reaksi Cepat (Code Blue)

Serah Terima Keterangan


No Troli/Tas
Nama TTD Nama TTD Radio HT
Emergensi

Berita Acara Logistik Code Blue

Kepada Unit Kerja :

No Nama Barang Satuan

Lamongan, .......................................
Yang menyerahkan, Yang menerima,

( ) ( )

BAB VII
30
PENUTUP

Dengan ditetapkannya Pedoman Pelayanan Medis Reaksi Cepat ( Code Blue ) ini
maka diharapkan setiap petugas yang terkait di Rumah Sakit Ibu Dan Anak “ Fatimah
“ Lamongan agar dapat melaksanakan ketentuan yang terdapat pada Panduan ini
dengan sebaik – baiknya.

Ditetapkan di : Lamongan
Pada tanggal :
DIREKTUR RSIA “FATIMAH”
LAMONGAN

dr. Artika Uthary, Sp.PA


NIK.180 070 51

31
PANDUAN CODE BLUE

RUMAH SAKIT IBU DAN ANAK “FATIMAH” LAMONGAN


SK Menkes RI Nomor : HK.0305/I/564/12
Jl. Pahlawan Selatan No.18 Lamongan, Telepon (0322) 322155

32
E-mail : rsia_fatimahlmg@yahoo.co.id/rsiafatimah@gmail.com

33

Anda mungkin juga menyukai