0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
122 tayangan35 halaman

Integrasi XBRL dalam Pelaporan Keberlanjutan

Penelitian ini bertujuan untuk mengatasi masalah penyajian laporan keuangan perusahaan dengan menggabungkan pelaporan keberlanjutan terintegrasi, kontrol kinerja secara transparan, dan real-time reporting menggunakan XBRL, untuk menyediakan informasi yang lebih relevan bagi investor dan mencapai masyarakat yang lebih berkelanjutan.

Diunggah oleh

Gerard Hsb
Hak Cipta
© © All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
122 tayangan35 halaman

Integrasi XBRL dalam Pelaporan Keberlanjutan

Penelitian ini bertujuan untuk mengatasi masalah penyajian laporan keuangan perusahaan dengan menggabungkan pelaporan keberlanjutan terintegrasi, kontrol kinerja secara transparan, dan real-time reporting menggunakan XBRL, untuk menyediakan informasi yang lebih relevan bagi investor dan mencapai masyarakat yang lebih berkelanjutan.

Diunggah oleh

Gerard Hsb
Hak Cipta
© © All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

XBRL adalah sistem yang memberikan atau menyajikan laporan keuangan dengan menggunakan

teknologi. Artinya memadukan antara teknologi informasi dengan kebutuhan bisnis.

Terdapat permasalahan utama yang masih dihadapi oleh perusahaan-perusahaan dalam penyajian
laporan keuangannya yaitu kebutuhan pengguna yang beragam terutama yang berkaitan dengan
format penyajian laporan keuangan, mengharuskan perusahaan untuk menyajikan laporan
keuangan lebih dari satu format.

Laporan keuangan yang disampaikan oleh perusahaan dapat berbasis kertas (paper-based) atau
hardcopy tetapi kalau menggunakan XBRL tersebut tidak bebasis hardcopy melainkan softcopy
(file yang dapat diunduh dari website perusahaan). Penyampaian dalam bentuk hardcopy jelas
tidak efisien dari sisi biaya dan juga memiliki keterbatasan dalam menjangkau area geografis yang
lebih luas

Oleh karena itu XBRL sudah menggunakan format standar dalam penyampaian dan pertukaran
informasi keuangan dan bisnis. Data menjadi lebih interaktif karena dapat diinput dengan cara
yang lebih cepat, mudah dan murah.

Sehingga pelaporan berbasis XBRL telah menciptakan proses bisnis yang lebih cepat, lebih baik
dan lebih murah yang dapat digunakan dari Berbagai pihak baik eksternal maupun internal dalam
pengambilan keputusan.

Abstrak

Peneliti sebelumnya (Lubin dan Esty, 2014) menggunakan pelaporan terpadu secara digital
untuk meninjau dua tren utama dari berbagai literatur: "pelaporan terintegrasi" dari bidang
keberlanjutan dan data terpadu telah ditetapkan standar digital dalam memanfaatkan pelaporan
keuangan. Tetapi masih menemukan kesenjangan dan masalah di bidang pelaporan dan
manajemen keberlanjutan tersebut seperti ????? .

Dari permasalahan tersebut maka peneliti mengusulkan konsep baru yang disebut digital
pelaporan terpadu yang dapat mengatasi masalah tersebut, peneliti menggabungkan Pelaporan
Keberlanjutan Terintegrasi Dan Kontrol Kinerja secara Transparansi Real-Time dengan
menggunakan XBRL” dimana konsep yang diusulkan peneliti adalah perubahan waktu secara
real-time dan dapat dioperasikan secara transparansi dalam pengukuran kinerja dan pelaporan
untuk manajer dan pemangku kepentingan eksternal.

Inti dari peneliti Yaitu Menggabungkan Pelaporan Keberlanjutan Terintegrasi Dan


Kontrol Kinerja secara Transparansi Real-Time dilaporan keuangan dengan menggunakan
XBRL”dimana dapat

Artikel ini bertujuan untuk memberikan deskripsi mengenai dampak extensible business
reporting language (xbrl) terhadap penyajian informasi keuangan dan bisnis, Dimana peneliti
menggabungkan pelaporan keberlanjutan terintegrasi dan kontrol kinerja secara transparansi real-
time dilaporan keuangan dengan menggunakan xbrl untuk mengatasi kendala pertukaran data
dalam penyajian dan distribusi laporan keuangan.

Hasilnya pelaporan xbrl berbasis real-time didukung oleh pelaporan terintegrasi dan
pengendalian kinerja memberikan dampak yang begitu besar dimana data dapat dibaca oleh mesin
komputer yang lebih cepat, lebih baik dan lebih murah pada laporan keuangan dan mampu
memahami dan membaca konteks dari data tersebut dari berbagai pihak baik eksternal maupun
internal yang terlibat dalam rantai pelaporan keuangan mendapatkan manfaat yang maksimal dari
xbrl.
Penelitian ini termotivasi oleh "kesenjangan kesinambungan" yang baru-baru ini dijelaskan
oleh Lubin and Esty (2014) untuk menunjukkan peningkatan hubungan antara pentingnya
keberlanjutan terhadap banyak strategi korporasi dengan kurangnya relevansi terhadap
mainstream investor.

Untuk menutup kesenjangan ini, Lubin and Esty (2014) menuntut pendekatan baru untuk
pelaporan keberlanjutan. Artikel ini bertujuan untuk berkontribusi pada penutupan kesenjangan
keberlanjutan yang diumumkan, tidak hanya untuk menyediakan lebih banyak data yang relevan
bagi investor, tapi juga untuk berkontribusi pada masyarakat yang secara keseluruhan lebih
berkelanjutan seperti yang dituntut oleh Eccles dan Armbrester (2011: 14), sebagai contoh.

Untuk berkontribusi terhadap transformasi ini, dua tren utama ditinjau dan digabungkan
secara konseptual dalam artikel ini: pelaporan terintegrasi, mengumpulkan konten mengenai
keuangan dan non-keuangan dalam satu dokumen dan laporan terintegrasi XBRL, menggunakan
sonomi data berbasis XBRL dan repositen data, seperti yang diamati dalam laporan keuangan
kepada regulator dan investor.

Laporan XBRL-integrated memiliki penyimpan data yang sama, sehingga data laporan
dapat diperoleh langsung dari sumber data umum e secara real time. Tinjauan lektur digunakan
untuk menghasilkan delapan pernyataan kecenderungan. Pada tingkat teoretis, laporan kelestarian
dimasukkan secara konseptual ke dalam kerangka kerja burrito dan Schaltegger (2010), yang
membedakan antara luar dan dalam perspektif pelaporan keberlanjutan dan akuntansi.

Mereka mengusulkan pendekatan yang disebut "twin track approach, yang berkontribusi
pada manajer internal dan pemangku kepentingan eksternal sehingga memfasilitasi manajemen
informasi kesinambungan yang lebih baik untuk tiba pada tindakan pertimbangan melalui
informasi akuntansi. Saya berpendapat bahwa XBRL khususnya dapat membantu untuk menutup
kesenjangan kelestarian ini.

Menurut Lubin and Esty (2014) terdapat permasalahan yang masih dihadapi oleh
perusahaan-perusahaan dalam penyajian laporan keuangannya yaitu

yaitu pada proses pengelolaan data dan pendistribusian informasi. Integrasi data dan
kompatibilitas sistem merupakan permasalahan yang sering dialami dalam mengelola data-data
akuntansi. Sementara itu dari sisi pendistribusiannya, kebutuhan pengguna yang beragam terutama
yang berkaitan dengan format penyajian laporan keuangan, mengharuskan perusahaan untuk
menyajikan laporan keuangan lebih dari satu format. Dampak lanjutannya adalah waktu
pemrosesan yang lebih lama dan biaya yang meningkat. Laporan keuangan yang disajikan saat ini
juga belum mendukung terciptanya kegiatan analisis dan evaluasi laporan keuangan yang
terotomasi.

Penelitian ini termotivasi oleh "kesenjangan kesinambungan yang baru-baru ini dijelaskan
oleh Lubin and Esty (2014) untuk menunjukkan peningkatan hubungan antara pentingnya
keberlanjutan terhadap banyak strategi korporasi karena kurangnya relevansi terhadap investor.

(kesenjangan informasi yang dimiliki oleh manajemen dengan informasi yang dimiliki oleh
investor mengenai harga saham perusahaan secara terus-menerus)"

Untuk menutup pemasalahan tersebut kesenjangan ini, Lubin and Esty (2014)
berkontribusi pada penutupan kesenjangan tersebut dengan cara menyediakan data yang lebih
relevan bagi investor, tapi juga berkontribusi pada "masyarakat yang lebih berkelanjutan" sebagai
contoh. Untuk berkontribusi pada transformasi ini, terdapat dua tren utama yaitu: "laporan
terpadu", mengumpulkan isi antara informasi keuangan dan non-keuangan dalam satu dokumen,
dan "laporan yang terintegrasi dengan menggunakan XBRL.

Saya berpendapat bahwa XBRL khususnya dapat membantu untuk menutup "kesenjangan
keberlanjutan" ini. XBRL adalah standar pelaporan bisnis digital dan taksonomi diperkenalkan
untuk pelaporan keuangan untuk mencapai tingkat yang lebih tinggi dimana xbrl ini memiliki
penyimpan data yang sama, sehingga data laporan dapat diperoleh langsung secara real time. Yang
digunakan untuk menghasilkan delapan pernyataan kecenderungan. Serta dapat menggunakan
pendekatan twin track yang berkontribusi pada manajer internal dan pemangku kepentingan
eksternal untuk memfasilitasi melalui informasi yang dibutuhkan agar lebih baik untuk mencapai
tindakan tersebut.

Mengalami kendala dalam pertukaran data antar sistem informasi ataupun perangkat
lunak. Output yang dihasilkan oleh satu sistem informasi belum tentu dapat digunakan oleh sistem
informasi lainnya (tidak kompatibel). Laporan keuangan yang disampaikan oleh perusahaan
dapat berbasis kertas (paper-based) atau hardcopy (prospektus ataupun laporan tahunan yang
dipublikasi kan di koran) dan softcopy (file yang dapat diunduh dari website perusahaan).
Penyampaian dalam bentuk hardcopy jelas tidak efisien dari sisi biaya dan juga memiliki
keterbatasan dalam menjangkau area geografis yang lebih luas.

Terintegrasi artinya menggabungkan; menyatukan

Pada tahap pertama, serangkaian studi kasus yang ketat perlu untuk mengeksplorasi status
quo saat ini dari praktek korporasi mengenai keberlanjutan pelaporan, implementasi XBRL, dan
pengukuran kinerja. Di sini rancangan studi kasus perbandingan tampaknya pantas. Studi kasus
seri kedua harus dilakukan untuk menganalisis kerangka peraturan keberlanjutan pelaporan
mengingat bahwa pelaporan keberlanjutan sekarang wajib dilakukan di beberapa negara, tetapi
masih sukarela di sebagian besar.

Dalam langkah berikutnya, pertanyaan penelitian dan hipotesis yang dapat diuji harus
dikembangkan berdasarkan literatur dan hasil studi kasus mengenai praktik perusahaan dan
pergeseran baselin peraturan. Gedung penelitian masa depan pada kertas konseptual, dua set studi
kasus, dan pengembangan hipotesis harus mengatasi validasi empiris.

Sebagai contoh, mengingat kemajuan dalam pembuatan wajib csr-pelaporan di uni eropa,
seorang penyimpan data standar menawarkan e seperti dalam laporan keuangan kepada pihak
berwenang e cara-cara baru untuk membuat medan permainan dengan mengatur pihak berwenang
untuk organisasi, setelah masalah material selesai. Di sini, SEC yang diterapkan untuk data
keuangan dapat dilihat sebagai patokan untuk mengembangkan kerangka kerja juga bagi data non-
keuangan.

Lebih jauh lagi, komitmen terhadap kesinambungan bisa menjadi sekedar setik latihan
kotak dalam mengelola penyimpanan data kelestarian XBRL dan kekuatan untuk berinovasi dalam
keberlanjutan dapat digunakan dengan hanya memenuhi persyaratan peraturan. mengacu pada
standar XBRL SEC, yang dapat meningkatkan pelaporan dan akuntabilitas, namun demikian
menyarankan bahwa mahasiswa bisnis masih memerlukan pelatihan integritas dan etika bisnis
sehubungan dengan skandal akuntansi. Hal yang sama berlaku untuk keberlanjutan.

XBRL muncul karena adanya integrasi antara teknologi informasi dengan kebutuhan
bisnis. Saat ini XBRL sudah menjadi format standar dalam penyampaian dan pertukaran informasi
keuangan dan bisnis. XBRL memungkinkan terjadinya ketertautan antara sistem yang berbeda-
beda dalam penyusunan laporan keuangan. XBRL menghilangkan kendala interoperabilitas
sehingga berbagai perangkat dan sistem informasi yang terlibat dalam penyusunan laporan
keuangan dapat berkomunikasi dengan baik.

Kemampuan XBRL dalam membungkus data dengan konteks dan memisahkannya dari
layer presentasi memberikan manfaat yang begitu besar. Setiap data (elemen) di dalam laporan
keuangan akan memiliki identitas khusus. Identitas ini akan membuat data menjadi lebih berdaya
guna. Data menjadi lebih interaktif karena dapat diagregasi dan diekstraksi dengan cara yang lebih
cepat, mudah dan murah. Setiap pengguna juga dapat melakukan kustomasi informasi dan
mengakses informasi keuangan sesuai dengan format yang mereka inginkan dengan lebih akurat.
Metode tinjauan dan ulasan literatur seleksi sampel

Dalam artikel ini menghasilkan tinjauan dan mengembangkan konsep-konsep baru dari penelitian
yang ada, oleh para pakar untuk memetakan bidang keberlanjutan tersebut (Lamberton, 2005;
Thomson, 2007; Aras dan Crowther, 2009) atau untuk mengembangkan konsep dan skema
klasifikasi yang baru secara sistematis (burrito dan Schaltegger, 2010).

Untuk mencapai keabsahan secara ilmiah dari pelaporan terpadu secara digital, digunakan suatu
pendekatan yang sistematis dan berdasarkan contoh sebuah tinjauan yang komprehensif. konsep
ini disusun berdasarkan penggabungan pelaporan terpadu dan laporan integral XBRL berdasarkan
laporan terintegrasi, literatur ilmiah mengenai kedua konsep ini ditinjau untuk dapat dipercaya dari
konsep tersebut. Berdasarkan kepustkaan, kesenjangan telah diidentifikasi dimana konsep yang
diusulkan tentang pelaporan terpadu secara digital bertujuan untuk memberikan solusi sehingga
Kriteria seleksi sampel dan pencarian untuk kedua bagian adalah sama

konsep pelaporan terpadu tersebar luas dalam penelitian ilmiah, 37 artikel diidentifikasi. Untuk
tinjauan kepustakaan kedua atas laporan yang terpadu, penyelidikan harus diperluas, karena
pelaporan yang diintegrasikan oleh XBRL adalah suatu konsep yang jarang dirujuk dalam literatur
ilmiah (isu XBRL dan isu keberlanjutan atau pelaporan terpadu belum tersedia). Oleh karena itu,
istilah XBRL ditambahkan pada pencarian dalam judul, abstrak, dan kata kunci. Hasilnya, bagian
kedua dari tinjauan lektur terdiri dari 63 artikel Setelah meninjau isi semua artikel yang dipilih,
dalam pernyataan-pernyataan tren yang membahas tentang keadaan maka konsep yang diusulkan
adalah pelaporan terpadu secara digital

Grafik berikut menunjukkan munculnya dan ketepatan waktu kedua konsep


tersebut. Untuk pelaporan terintegrasi, baru pada 2011, frekuensi publikasi mulai
meningkat. Dengan adanya jeda waktu dalam publikasi ilmiah, hal ini dapat dihubungkan
dengan pengenalan dewan pelaporan terpadu internasional (IIRC) pada 2011, yang
membuat laporan terintegrasi kepada korporasi dan para pakar menjadi perhatian. Untuk
XBRL, di sebelah puncak kecil pada 2004 setelah penetapan standar, frekuensi meningkat
pada 2010 dengan puncak pada 2011, yang dapat dijelaskan oleh keputusan SEC 2009 untuk
membuat XBRL sebuah bentuk pelaporan wajib untuk data keuangan yang dilaporkan
kepada authority. Minat terhadap pelaporan terpadu mencapai puncaknya pada tahun
2013, dan surat-surat yang ditujukan kepada XBRL semakin berkurang sejak pengiriman
surat perintah ke dalam makalah amerika yang menyampaikan isu XBRL dan isu
keberlanjutan atau pelaporan terpadu belum tersedia. Beberapa surat kabar bisa
disebutkan (Watson dan Monterio, 2011; KPMG, 2011, 2012; Monterio, 2013), tetapi riset
ilmiah sampai saat ini belum pernah dipublikasikan secara luas meskipun topiknya dibahas
pada konfrensi akuntansi dan informatika bisnis. Setelah meninjau isi semua artikel yang
dipilih, mereka dikelompokkan ke dalam pernyataan-pernyataan tren yang membahas
tentang keadaan seni tersebut dan juga bahwa ada ruang kosong dalam lektur. Ini dibahas
dalam bab berikutnya dengan konsep yang diusulkan pelaporan terpadu secara digital.
The acceptance and spread of non-financial reports has increased considerably in the last
decade: today almost all publicly listed corporations (and increasingly also small and medium-
sized enterprises (SMEs)) publish information on social and environmental issues (KPMG, 2011)
in their sustainability or corporate social responsibility (CSR) reports.

Penerimaan dan penyebaran laporan non-keuangan telah meningkat tajam dalam dekade
terakhir: saat ini hampir semua badan hukum yang terdaftar di publik (dan juga usahanya kecil
dan menengah (SMEs) menerbitkan informasi mengenai isu-isu sosial dan lingkungan (KPMG,
2011) dalam

Laporan non-keuangan dapat dilihat sebagai tanggapan terhadap tekanan publik dan
peningkatan perhatian media (Hooghiemstra, 2000: 56) untuk menegakkan legitimasi (Arvidsson,
2011; "Seele and Lock", 2014). Dalam pelaporan keberlanjutan, salah satu tren utama adalah
pergeseran menuju pelaporan terintegrasi yang tercermin melalui penelitian akademis dan
perusahaan yang besar tentang topik tersebut, dan pembentukan IIRC pada 2010 (IIRC, 2011;
Leuner, 2012; Tilley, 2012; Ioannou dan Serafeim, 2011; KPMG, 2012). Pelaporan yang terpadu
di sini berarti bahwa laporan dari kelestarian atau CSR yang pernah berdiri sendiri yang disatukan
ke dalam laporan tahunan, juga disebut sebagai satu laporan (Eccles dan Krzus, 2010).

Beberapa negara seperti afrika selatan, misalnya, telah mewajibkan perusahaan ini sejak
tahun 2009 untuk menerbitkan publikasi secara terpadu (Ioannou dan Serafeim, 2011). Salah satu
keuntungan ekonomi dari pelaporan terpadu adalah kesesuaian bagi investor yang menuntut data
dan informasi yang lebih komprehensif dan terorganisir mengenai isu kelestarian (Soyka, 2013;
Ioannou dan Serafeim, 2011; Churet dan Eccles, 2014).

However, in addition to investors, other stakeholder groups also benefit from the
integration of sustainability issues in the annual report: “key stakeholders, such as customers,
suppliers, employees and local communities” (Soyka, 2013: 13) are also particularly affected by
integrated reporting.

Akan tetapi, selain investor, berbagai kelompok pemangku kepentingan lain juga mendapat
manfaat dari integrasi keberlanjutan dalam laporan tahunan: "para pemangku kepentingan utama,
seperti pelanggan, pemasok, karyawan, dan masyarakat lokal" (Soyka, 2013: 13) juga sangat
terpengaruh dengan pelaporan terpadu.
Given the aspects mentioned, the increase in integrated reporting and related scholarly
research displays two characteristics. First, as corporate reporting for decades involved financial
reporting and only financial reporting, sustainability reporting is still in its infancy and many
“deficiencies in comparability, consistency, reliability, and relevance” remain (Tschopp and
Huefner, 2014: 565).

Mengingat aspek-aspek yang disebutkan di atas, peningkatan pelaporan terpadu dan riset
ilmiah yang terkait memperlihatkan dua karakteristik. Pertama, ketika pelaporan korporasi selama
beberapa dekade melibatkan pelaporan keuangan dan hanya pelaporan keuangan, pelaporan
keberlanjutan masih dalam tahap awal dan banyak "kekurangan dalam hal komparabilitas,
konsistensi, keterandalan, dan relevansi" masih tersisa (Tschopp and Huefner, 2014: 565).

In addition, integrated reporting is being developed and adopted by corporations at an


accelerating pace. Churet and Eccles surveyed 2000 companies and found that from 2011 to 2012,
integrated reporting increased by 50% (Churet and Eccles, 2014). In summary, the following trend
statement is proposed:

Beberapa negara seperti afrika selatan, misalnya, telah mewajibkan perusahaan ini sejak
tahun 2009 untuk menerbitkan publikasi secara terpadu (Ioannou dan Serafeim, 2011). Salah satu
keuntungan ekonomi dari pelaporan terpadu adalah kesesuaian bagi investor yang menuntut data
dan informasi yang lebih komprehensif dan terorganisir mengenai isu kelestarian (Soyka, 2013;
Ioannou dan Serafeim, 2011; Churet dan Eccles, 2014).

T1: Although in its infancy, integrated reporting is a major trend in the industry and is
growing quickly in the reporting world.

T1: meskipun saat masih bayi, pelaporan terpadu merupakan tren utama di industri ini dan
cepat berkembang di dunia pelaporan.

Tren 2: janji mengenai pelaporan terpadu dan kurangnya integrasi holistic

Laporan terpadu telah diperkenalkan sebagai "paradigma pelaporan baru yang holistik"
(Adams dan Simnett, 2011): dengan menyatukan pengungkapan kinerja keberlanjutan dalam
laporan tahunan, seperti yang dikemukakan oleh konsep laporan terintegrasi, keberlanjutan
bergerak dari pinggiran operasi bisnis dan pelaporan ke pusat.
Eccles dan Saltzman (2011) berpendapat bahwa keberlanjutan dapat diperoleh melalui
pelaporan terpadu dan Frias-Aceituno et al. (2013a Negara bagian bahwa laporan terintegrasi
mengurangi kebingungan di antara para pembaca laporan perusahaan dan dengan demikian
meningkatkan partisipasi pemangku kepentingan dalam manajemen bisnis.

IIRC yang menasihati pelaporan terpadu ini mengklaim bahwa ia memberikan


"komunikasi singkat tentang bagaimana strategi, tata pemerintahan, kinerja, dan peluang kerja
sebuah organisasi mengarah kepada penciptaan nilai atas jangka pendek, menengah dan panjang,"
dalam konteks lingkungan eksternal dan tujuan keseluruhannya (Soyka, 2013).

Selain logika kelestarian yang terintegrasi dari pelaporan berkelanjutan, konsep ini juga
terlihat berkontribusi terhadap kenaikan pembangunan berkelanjutan secara keseluruhan.
Pernyataan ini diperlihatkan dengan melampaui cerita (abeysebisi, 2013) dan tidak spesifik, isi
panjang (Wild and van Staden, 2013) dari isu keberlanjutan yang memberikan kontribusi kepada
"transparansi holistik" (Frias-Aceituno et al., 2013b) dan manajemen yang lebih profesional atas
keberlanjutan korporasi dengan pelaporan terintegrasi, sehingga dapat tiba dengan semua
kredibilitasnya (Kolk, 2004).

Seperti laporan terpadu dalam masa pertumbuhan, sering kali tampak seperti sekadar
centang sebuah kotak latihan menambahkan apa yang telah menjadi berdiri sendiri laporan
keberlanjutan sebagai bab tertentu dalam laporan tahunan biasa. Ini memenuhi persyaratan resmi
laporan terpadu, tetapi tetap saja jauh dari pendekatan holistik yang dimaksudkan untuk secara
konseptual adalah mengintegrasikan isu keberagaman melalui laporan yang dipadukan dengan
data keuangan dan kinerja

Tidak seperti Lubin dan Esty (2014) dan Eccles and Armbrester (2011), yang berpendapat
bahwa untuk memaksimalkan proses pengintegrasikan keberagaman dalam operasi bisnis (" hijau
sampai emas "), para pakar lainnya menunjuk kepada aspek politik, budaya, dan ekonomi yang
mempengaruhi laporan terintegrasi secara sukarela (Dragu dan Tiron-Tudor, 2013).

Strategi yang didorong oleh penunjang untuk mempromosikan pelaporan terpadu ini juga
konsisten dengan alasan keseluruhan untuk melaporkan identitas byKolk, di mana "memfasilitasi
penerapan strategi lingkungan hidup" dan "kesadaran yang lebih besar akan masalah lingkungan
yang luas di seluruh organisasi" termasuk di antara alasan-alasan utama (Kolk, 2004).
Melibatkan diri dalam laporan terpadu juga dapat dilihat sebagai indikator seriusnya suatu
keberlanjutan. Penelitian menunjukkan bahwa perusahaan tersebut secara sukarela
mengungkapkan sesuatu dengan cara yang terintegrasi juga memiliki kemungkinan besar
pengungkapan keberlanjutan eksternal yang meyakinkan (Sierra-Garcia et al, 2013). Selain itu,
laporan terpadu menambah perdebatan tentang akuntansi untuk aset yang tidak berwujud (Beattie
and Smith,2013), yang juga bertentangan dengan rasionalisasi yang semata-mata karena
kebutuhan bisnis sebagaimana diusulkan oleh para pakar strategi yang disebutkan di atas.

Secara keseluruhan, laporan yang diintegrasikan dapat menyediakan tiga manfaat jika
dikembangkan sepenuhnya: kontribusi pada bisnis serta tujuan keberlanjutan: manfaat internal dan
eksternal dan mengelola risiko peraturan (Eccles and Armbrester, 2011: 15).

Akan tetapi, aspek-aspek yang disebutkan di atas menunjukkan bahwa laporan yang
terpadu belum sepenuhnya sesuai dengan janji-janji yang berkaitan dengan konsep itu. Penulis
seperti Krzus (2011) berpendapat bahwa pelaporan yang terpadu belum dicapai melainkan suatu
tugas yang mustahil dilakukan atau tidak sekarang, kapan ? Dan Leuner (2012) bahkan
menyimpulkan bahwa laporan terpadu "diperlukan" dalam perkembangan lebih lanjut. Kritik atas
potensi pelaporan terpadu yang kurang maju ini selaras dengan saran untuk "menetapkan hukum-
hukum nasional dan mekanisme perlindungan untuk mempromosikan dan memastikan
transparansi holistik" (Frias-Aceituno et al, 2013b).

Temuan ini juga didukung ketika melihat prinsip-prinsip penuntun dari IIRC yang
tampaknya tidak bisa dipenuhi oleh laporan saat ini. Oleh karena itu, penggunaan taksonomi
standar adalah salah satu cara untuk mencapai konsistensi dan komparabilitas serta keterhubungan
informasi (Monterio, 2013: 9) dan bahkan mencapai melebihi (Soyka, 2013; Cheng et al., 2014).

Secara umum, klaim integrasi holistik dari konten laporan keuangan dan non-keuangan dan
praktik pengelolaan belum terpenuhi, mengingat bahwa pelaporan terpadu merupakan "paradigma
pelaporan baru yang holistik" (Adams dan Simnett, 2011) dalam hal ini, konsep-konsep baru
seperti "augreports" (Freundlieb dan teteberg, 2012) telah muncul untuk mengatasi kelemahan dari
status yang berlaku. Ringringkasan, pernyataan tren berikut diusulkan:
T2: janji laporan terpadu untuk menyediakan transparansi holistik lebih luas dan untuk
berkontribusi pada nilai penciptaan dengan menutup kesenjangan antara perusahaan dan investor
belum terwujud.

Trend 3 embryonic management practice”: gap in integration of sustainability management


and control in reporting

Tren 3 praktik manajemen embrionik ": kesenjangan dalam integrasi manajemen


kesinambungan dan kontrol dalam pelaporan

Bab ini membahas hubungan antara pelaporan dan praktik manajemen dalam kelestarian
perusahaan. Di sini, penekanan khusus diletakkan pada topik pengukuran dampak yang semakin
penting (Maas dan Liket, 2011). Mengingat alasan-alasan untuk melaporkan (Kolk, 2004) dan
petunjuk dari IICR (2013) sebagaimana diuraikan di atas, jelaslah bahwa pelaporan bukan sekadar
suatu hubungan masyarakat (ams) melainkan dimaksudkan untuk membantu para manajer
membuat keputusan manajemen yang terinformasi yang juga digunakan oleh para investor dalam
membuat keputusan investasi yang sudah terinformasi.

Bahkan berpendapat bahwa "pelaporan berkelanjutan yang terintegrasi lebih mengenai


manajemen dar ipada pelaporan" dan Painter-Morland (2006) telah mengidentifikasi kesenjangan
untuk isu kelestarian di perusahaan-perusahaan seperti pengembangan kode manajerial, yang
seharusnya berhubungan lebih lanjut dengan "inisiatif CSR dan praktek pelaporan korporasi.
"Kesenjangan dalam mempromosikan isu kesinambungan ini juga dapat dikonfirmasi dari
perspektif jangka panjang penciptaan sebagaimana dikemukakan oleh Churet dan Eccles (2014),
yang menemukan hubungan kuat antara pelaporan terintegrasi dan kualitas manajemen ESG.

Hubungan antara aspek komunikasi pelaporan kepada pemirsa eksternal seperti pemangku
kepentingan dan regulator dengan praktik pengelolaan internal juga dijelaskan dengan baik dalam
kerangka kerja mengenai kesinambungan akuntabilitas dan pelaporan. Burritt dan Schaltegger
(2010) berdebat mengenai baik itu luar dalam maupun luar dalam perspektif yang berinteraksi
dengan apa yang mereka sebut pendekatan jalur kembar "Sudut pandang ini juga diterapkan dalam
artikel ini untuk secara teoretis mengembangkan konsep laporan keuangan dan non - keuangan
yang didasarkan atas xo karena memungkinkan untuk diterapkan juga dari sudut pandang
manajemen.
Akan tetapi, pada saat ini, Eccles dan Armbrester (2011), hubungan antara pelaporan
terpadu dan praktik manajemen adalah "embrionik" (14), yang berkaitan dengan T1 dan bayi
pelaporan terpadu. Pada saat yang sama, status embrio e ini positif menempatkan e membuka
ruang untuk pembangunan masa depan dalam menggabungkan akuntansi, pelaporan, dan
manajemen keberlanjutan perusahaan dalam cara terintegrasi dan holistik. Ringkasnya, pernyataan
tren berikut diusulkan:

T3: kesenjangan yang masih besar dalam integrasi manajemen keberlanjutan dan kontrol
dengan pelaporan terintegrasi

Tren 4: wajib vs sukarela: status dan transformasi standar pelaporan dan kerangka kerja
hukum yang tidak jelas di dunia yang terglobalisasi

Status legal dari laporan kesinambungan adalah salah satu pertanyaan penting, seperti yang
dilaporkan di masa lalu sebagian besar terkait dengan laporan tahunan pada keuangan baik bagi
masyarakat umum, termasuk investor (Yan Peng et al., 2011; Tschopp dan Huefner, 2014), atau
regulator seperti SEC (Lester, 2007; Srivastava dan Kogan, 2010) status resmi laporan keuangan
sudah sangat ditentukan.

Regulator memerlukan informasi spesifik mengenai operasi dan kinerja bisnis (seperti
laporan 10-k untuk SEC) dan berdasarkan laporan tersebut izin untuk beroperasi diberikan.
Laporan tahunan dilihat sebagai laporan kepada investor dan pemangku kepentingan lainnya untuk
menginformasikan dengan cara yang menguntungkan tentang tahun korporasi.

Dengan keberlanjutan pelaporan dan terkait dengannya, debat tentang tanggung jawab
sosial dan lingkungan yang harus dilakukan oleh perusahaan, batas antara pelaporan wajib seperti
yang dipahami dari laporan keuangan dan laporan sukarela seperti yang dipahami dari laporan
kelestarian awal (untuk tinjauan jangka panjang, lihat Gatti dan Seele, 2014) menjadi semakin
kabur.

Status sementara dari penelitian ilmiah ini dibahas dalam debat mengenai peraturan-
peraturan berdasarkan prinsip melawan peraturan yang mengarah ke paradoks dalam peraturan
keseluruhan (hitam, 2008), terutama mengenai perbedaan dalam sistem hukum U. S dan E.U.
(Burgemeestre et al., 2009). Terutama bagi konteks eropa, peraturan berdasarkan prinsip
menimbulkan masalah sehubungan dengan interpretasi dan penegakan hukum seperti yang
dikemukakan warga kulit hitam (2008). Apa yang penting untuk pelaporan wajib juga berlaku
untuk pelaporan sukarela, dan ini akan menciptakan paradoks yang lebih parah lagi.

Petunjuk sukarela seperti yang diberikan organisasi swadaya masyarakat (LSM) tentang
prakarsa pelaporan Global (GRI) atau panduan lokal seperti Johannesburg Securities Exchange
social Responsible Investment (JSESRI) (Maubane et al., 2014) diciptakan untuk menyediakan
standarisasi, pemahaman, dan keyakinan. Selain itu, satu negara mulai membuat laporan
kelestarian secara wajib, termasuk Denmark, swedia, dan Malaysia, dan April 2014 (yang
diterapkan pada undang-undang nasional negara-negara anggota pada 2017), uni eropa juga wajib
melaporkan non-keuangan bagi lebih dari 5000 perusahaan (Howitt, 2014).

Untuk perusahaan-perusahaan yang beroperasi secara internasional dan multinasional,


pertanyaan tentang apakah perlu melaporkan informasi non-keuangan dan seberapa jauh tingkat
pemahaman tetap tidak terjawab dan para kritikus berpendapat bahwa pelaporan keberlanjutan,
sampai batas tertentu, hanya dimaksudkan untuk menyajikan persepsi yang lebih menguntungkan
tentang perusahaan kepada pemangku kepentingan publik. Fenomena ini, yang disebutkan dalam
kesusastraan sebagai "paradoks komunikasi CSR", menunjukkan bahwa dengan semakin banyak
laporan, skeptisisme dan pengawasan masyarakat meningkat (Waddock dan Goggins, 2011). Bukti
empiris dari paradoks ini telah dilaporkan oleh Cho dan Roberts (2010). Mereka menunjukkan
dengan sampel dari 100 beracun as bahwa pertunjukan lingkungan yang rendah menyediakan lebih
banyak pengungkapan dalam hal konten dan presentasi situs web.

Menanggapi kritik ini sebagai titik awal, permintaan pelaporan standar dan kerangka kerja
hukum dapat dimengerti, baik bagi perusahaan untuk menerima petunjuk tentang apa yang harus
diungkapkan dan apa yang tidak harus diungkapkan dan bagi pemangku kepentingan, khususnya
investor, untuk menilai kinerja berkelanjutan sebuah perusahaan. Yoon et al. (2011) berdebat
dengan arah yang sama ketika mendorong pengurangan "information asimetry" dengan
menyarankan pengembangan parameter non-keuangan yang terstandardisasi bagi pasar modal dan
juga parameter standar yang distandardisasi oleh pemerintah untuk pelaporan bisnis.

Diskusi mengenai sukarela versus wajib pelaporan keberlanjutan perusahaan juga telah
diambil oleh Program lingkungan hidup perserikatan bangsa-bangsa (UNEP, 2010), yang
mengembangkan sebuah matriks dengan alasan dan melawan pendekatan wajib dan sukarela.
Mengenai topik artikel ini, alasan paling penting bagi pelaporan wajib adalah perubahan budaya
perusahaan, pembanding, fakta untuk tidak pengungkapan kinerja negatif, dan standardisasi atau
perlakuan setara terhadap investor.

Akan tetapi, alasan-alasan menentang pelaporan wajib mencakup kesenjangan


pengetahuan antara regulator dan industri, kurangnya insentif bagi inovasi, dan ketidakpantasan
individu sebagai "satu ukuran tidaklah cocok bagi semua" (juga dikenal sebagai masalah
materialitas). Untuk pelaporan sukarela, UNEP justru menemukan alasan positif berikut:
fleksibilitas, kedekatan, dan minat kolektif dari industri.

Yang menentang pelaporan sukarela adalah pokok-pokok berikut: konflik kepentingan,


sanksi yang tidak memadai, bawah-penegakan, dan sumber daya yang tidak cukup. UNEP
bertujuan untuk bersikap netral dan hanya menjabarkan alasan-alasan yang tersangkut, sekalipun
riset berdasarkan hasil empiris seperti hasil empiris seperti Frias Aceituno et al. (2013a) terus
terang dalam menuntut "hukum nasional dan mekanisme perlindungan," jika tidak, transparansi
bisa terancam. Kedua, para peneliti berasumsi bahwa "para manajer harus bisa memutuskan sendiri
apa yang sesuai dalam konteks lingkungan hukumnya untuk mendapatkan keuntungan maksimum
dari keputusan mereka" (Frias-Aceituno et al., 2013a: 228).

Sebagai ringkasan, pernyataan kecenderungan berikut diusulkan: T4: batas yang sekarang
telah pudar antara sukarela dan keberlanjutan perintah keberlanjutan menciptakan konflik
kepentingan perusahaan yang mengarah kepada jerat-jeratan hijau dan kurangnya penegakan
kemajuan dalam mempromosikan keberlanjutan dan transparansi.

4. Tinjauan kepustaan pada XBRL basis laporan terintegrasi

XBRL adalah singkatan dari bahasa pelaporan bisnis yang luas dan digunakan terutama
dalam laporan keuangan. XBRL adalah bahasa Markup eXtensible (XML) yang didasarkan
standar yang diciptakan untuk mendefinisikan dan bertukar informasi bisnis, khususnya digunakan
untuk pelaporan. Laporan yang diproduksi dalam penggunaan basis data XBRL dan taksonomi
disebut 'laporan terpadu' (tidak tercampur dalam laporan terintegrasi sebagaimana dibahas dalam
bab 3, karenanya laporan itu dirujuk sebagai laporan terintegrasi x.) Mereka disebut 'terintegrasi'
karena manajemen dan laporan data diintegrasikan ke dalam satu repositori data umum di XBRL.
Maka, kesalahan migrasi data dan biaya transaksi berkurang (Burnett et al, 2006).
Selain itu, para manajer memiliki akses real time ke penyimpanan data dan tidak perlu
menunggu data untuk disebarkan dan bermigrasi. Keuntungan yang sama berlaku untuk biaya
akuisisi informasi investor (Yan Peng et al., 2011). Selain efisiensi manajemen data, XBRL juga
menawarkan keuntungan ekonomi bagi perusahaan dan juga regulator karena taksonomi digital
standar membantu mengurangi biaya dalam dua cara (Arru nada, 2011). Pertama, dengan
mengandalkan penyimpanan data yang sudah distandardisasi, perusahaan tidak perlu mendapatkan
jaminan dari akuntan eksternal karena data kinerja digunakan secara langsung untuk menghasilkan
laporan (Plumlee dan Plumlee, 2008). Dengan demikian, filers tidak perlu memperoleh jaminan
partai ketiga atas dokumen kasus XBRL (Srivastava dan Kogan, 2010).

Ini mengurangi biaya dan risiko kesalahan transferan data. Kedua, XBRL meningkatkan nilai
pengungkapan melalui reformasi administratif atas pengarsipan, pengaturan, dan pemeliharaan
sistem yang lebih andal karena poin pemasukan data dalam taksonomi didasarkan pada standar
yang sama untuk perusahaan dan regulator. Hal ini, seperti yang dikembangkan dalam sebuah
artikel penelitian oleh Alles dan Piechocki (2012), turut meningkatkan pengelolaan perusahaan
secara keseluruhan, karena data yang diberi label dapat digunakan untuk mengubah cara
pengambilan keputusan yang mempengaruhi tata kelola pemerintahan.

Trend 5: XBRL bergerak dari keuangan ke manajemen data non-keuangan

Sejauh ini, XBRL telah digunakan untuk informasi keuangan guna dilaporkan dalam
standardisasi dan cara digitalasis kepada regulator seperti SEC, komite pengawas perbankan eropa
(CEBS), pendapatan dan adat istiadat bank inggris (HMRC), dan kementrian urusan korporasi di
India (MCA), dan itu dikenal dengan nama beberapa orang (Sinnett, 2011). Akan tetapi,
sebagaimana ditunjukkan oleh Tschopp dan Huefner (2014), "beberapa saat penentu dalam evolusi
laporan keuangan masih harus dilakukan dalam pengembangan laporan CSR" (x).

Di sini, XBRL dapat memainkan peran penting dalam memfasilitasi kemajuan menuju
pelaporan keberlanjutan yang komprehensif dan ketat, meskipun keberlanjutan pelaporan
berdasarkan XBRL dapat mengambil jalur evolusi yang berbeda dari pelaporan keuangan karena
berbagai pemangku kepentingan yang terlibat. Kelemahan yang memisahkan pelaporan non-
keuangan dari laporan keuangan adalah "perbandingan, konsistensi, keandalan, dan relevansi"
(Tschopp and Huefner, 2014). Disini, XBRL dapat membawa peningkatan pelaporan
kesinambungan seperti pelaporan keuangan.
Keuntungan utama XBRL dalam laporan bisnis mempengaruhi tata kelola, transparansi,
pengelolaan data, dan efektivitas biaya dan juga menambah nilai ekonomi. Oleh karena itu, XBRL
membuka jalan untuk mengembangkan berbagai bidang aplikasi, juga untuk keberlanjutan, dan
mendapat manfaat dari peluang pengelolaan data berdasarkan sonomi XBRL yang distandardisasi.
Namun, ini lebih dari sekedar lompatan besar untuk memperpanjang cakupan pelaporan keuangan
berbasis x ke pelaporan keberlanjutan. Upaya pertama dan conceptualisasi telah diusulkan untuk
mengembangkan kelestarian metrics (Harris and Morsfield, 2012).

Bidang aplikasi pertama yang harus diterapkan pada XBRL adalah pergeseran dari
pelaporan keuangan menjadi pengukuran dan pelaporan tentang kinerja energi gedung-gedung,
yang membuka pintu bagi pelaporan mengenai keterlanjutan berbasis x. Gr€dan Kienegger (2007),
terinspirasi oleh Basel II dan laporan keuangan, menyarankan bahwa XBRL dapat digunakan
"sebagai standar untuk laporan mengenai kinerja energi bangunan" dan membahas generalisasi
XBRL serta kemungkinan untuk menerapkannya ke domain-domains lain.

Aspek lainnya telah digambarkan sebagai "laporan kelestarian interorganisasi" (Solsbach


et al., 2014), yang diharmonisasi oleh XBRL dan membawa komparabilitas dan standardisasi.
Akhirnya, GRI telah mengembangkan salah satu pajak XBRL pertama untuk kelestarian
keberlanjutan yang kemudian dilaporkan bekerja sama dengan Deloitte untuk diterapkan dalam
pedoman 4.0 yang baru (Knebel dan Seele, 2015). GRI menyatakan: "itu akan membantu investor,
auditor, dan analis untuk mengakses informasi dalam keberlanjutan, melaporkan dengan lebih
cepat, dan lebih sederhana" (GRI, 2014).

Sebagai ringkasan, pernyataan kecenderungan berikut diusulkan: T5: XBRL, sebagaimana


telah ditetapkan dalam pelaporan keuangan wajib, menawarkan kesempatan untuk
mengembangkan kelestarian yang ketat yang meningkatkan kemampuan komparabilitas dan
pengurangan biaya.

Tren 6: XBRL melaporkan hal ini memupuk keakuratan, keandalan, dan pelaporan
langsung dalam pelaporan keberlanjutan

Di samping manfaat yang dijelaskan dari pelaporan bisnis berbasis x, kriteria lain dapat
diidentifikasi yang akan membantu pengembangan keberlanjutan menjadi lebih holistik, baik
terkait dengan isi maupun aplikasi pengelolaan. Selain manfaat standardisasi, satu keuntungan
penting lainnya adalah mengurangi kesenjangan informasi.

Mengidentifikasi unsur ini sebagai menyediakan lapangan permainan tingkat bagi investor
kecil, juga bagi investor yang besar dan canggih. Ini juga merupakan salah satu alasan mengapa
SEC mengamanatkan pada tahun 2009 bahwa pernyataan keuangan harus diajukan dengan
menggunakan XBRL (Kaya, 2014). Selain manfaat biaya karena tidak memperoleh jaminan pihak
ketiga atas dokumen rahasia itu, XBRL bekerja sebagai insentif konsep untuk meningkatkan rantai
suplai laporan keuangan (pembelian, 2008) dan untuk melibatkan pemangku kepentingan utama
dalam penggunaan laporan yang berbasis xolin (Doolin dan Troshani, 2004).

Keterlibatan pemangku kepentingan dalam pelaporan keuangan internet yang terpasang


secara digital membantu difusi XBRL di inggris dengan "adalah lebih mudah bagi para pemangku
kepentingan untuk memperoleh informasi langsung ke spreadsheet, atau perangkat lunak analisis
lainnya yang dimungkinkan oleh XBRL, tanpa perlu re-kunci data untuk menghasilkan
peningkatan yang signifikan dalam arus informasi dan meningkatkan rasio antar perusahaan"
(Dunne et al, 2013: 167).

Akses terhadap informasi bagi kedua anggota perusahaan dan pemangku kepentingan ini
juga mewakili sebuah langkah maju penting sehubungan dengan transparansi data yang akan
diperoleh. Selain itu, berkat standardisasi [re] oleh perangkat lunak berdasarkan redan taksonomi,
perbandingan untuk pemangku kepentingan internal dan eksternal juga regulator ditingkatkan.
Pendekatan ini menghambat pencucian hijau dan memungkinkan adanya penilaian ketat terhadap
kelestarian kinerja dan kontrol bagi semua pihak yang terlibat. yyy

Sejak tahun 2001, Debreceny dan Gray menggambarkan efek keakuratan dan keterandalan
setelah itu melalui adopsi yang luas oleh XBRL untuk data keuangan. Oleh karena itu, baik
"komponen manusia maupun perangkat lunak dapat beroperasi dalam informasi keuangan yang
disebarluaskan di internet dengan tingkat akurasi yang tinggi dan dapat diandalkan" (Debreceny
and Gray, 2001: 47). Kriteria tambahan untuk mengorganisasi kemajuan melalui laporan XBRL
ditemukan oleh Richards dan Tower (2004), yang menunjuk pada kemungkinan teknis untuk
"pelaporan real-time", ketika pengembalian data secara langsung menerima data dari alat-alat
pengukur. Oleh karena itu, seperti ditunjukkan dalam tabel perbandingan di bawah ini, eksekutif
perusahaan serta regulator dan pemangku kepentingan eksternal (jika data diterbitkan secara
instan) dapat bereaksi dengan segera dalam membuat keputusan yang cerdas mengenai poin data
yang relevan (apakah data keuangan atau data non-keuangan).

Oleh karena itu, Cohen (2004) menandaskan potensi adanya proses komunikasi pelaporan
berdasarkan teks bahasa x, yang mengatakan bahwa XBRL lebih dari sekadar daftar item data.
Sebaliknya, itu adalah "perangkat lengkap bagi regulator atau kelompok-kelompok untuk
sepenuhnya mengkomunikasikan makna dan hubungan antara konsep-konsep pelaporan bisnis"
(Cohen, 2004: x). Mengingat masalah keberlanjutan, peran mengkomunikasikan makna kepada
berbagai kelompok dalam cara yang baku dan sebanding bahkan lebih penting karena
memungkinkan pihak pemangku kepentingan untuk terlibat tanpa melewati filter informasi (secara
teoritis). Karena potensi yang mempersatukan dari XBRL, telah dibahas sebagai suatu
kemungkinan untuk mengembangkan standar pelaporan global.

Konsep ini adalah kerjasama antara XBRL dan standar pelaporan keuangan internasional
(IFRS) untuk membangun landasan bersama bagi perusahaan-perusahaan internasional dan
menciptakan suatu platform yang akan meningkatkan keuntungan dari XBRL (Bonson et al.,
2009). Setelah perdebatan mengenai tata kelola global, hal ini khususnya menarik bagi
perusahaan-perusahaan multinasional yang menyatukan pengelolaan data mereka dalam suatu
standar data global. Dengan demikian, mengikuti Zhu dan Wu (2011), XBRL meningkatkan
kualitas data keuangan dan efisiensi rantai pasokan data dalam lingkungan bisnis jejaring. Sebagai
langkah selanjutnya, karakteristik ini dapat diperluas hingga pelaporan keberlanjutan

Ringkasnya, pernyataan tren berikut diusulkan: T6: XBRL memungkinkan pengelolaan


data yang lebih akurat dan dapat diandalkan dan sebagai tambahan membuka jalan untuk pelaporan
langsung kepada pemangku kepentingan dalam dan eksternal.

Tren 7: keputusan manajerial yang lebih cepat dan lebih baik untuk data keuangan dan non-
keuangan

Usulan terdahulu merujuk pada pemindahan XBRL kepada keberlanjutan pelaporan dan
keuntungan teknis serta kontribusinya, seperti akurasi, keterandalan, perbandingan, dan lompatan
kuantum dalam transparansi langsung dalam pelaporan bisnis. Poin terakhir memiliki konsekuensi
tambahan yang harus dibahas di sini secara terpisah. Transparansi langsung dari penyimpanan data
XBRL dan taksonomi berdampak tidak hanya bagi para pembaca laporan, namun juga pada tingkat
pengelolaan internal.

Monitor data yang disimpan secara langsung memungkinkan pengukuran kinerja dan
kontrol instan, yang sebagai balasannya memberi para manajer dan eksekutif kesempatan untuk
membuat keputusan yang lebih terinformasi tanpa menunda. Sehubungan dengan data keuangan,
hal ini juga berlaku untuk analisis yang efektif, juga relevan untuk pemegang saham. Dalam
sebuah studi tentang adopsi XBRL awal pada analisis keakuratan, Liu dan O'Farrell (2013)
melaporkan bahwa garis-garis informasi yang berbagi dalam nilai rantai dianggap sebagai isu
utama dan bahwa XBRL memainkan peran penting dalam lingkungan yang semakin jaringan yang
memanfaatkan bisnis elektronik

Bagi para manajer, XBRL juga memiliki implikasi positif dalam mengorganisir kecerdasan
bisnis, khususnya mempengaruhi standardisasi dan rasionalisasi sehubungan dengan data
keuangan (Schwalm dan Bange, 2004). Hal ini menunjukkan bahwa informasi pernyataan
keuangan yang berbasis x yang tidak hanya berpengaruh pada investor (Efendi et al., 2014), tapi
juga e mengikuti Hodge et al. (2004) pilihan para manajer e untuk melaporkan informasi yang
tersedia. Cohen (2004) menyarankan bahwa XBRL adalah kemampuan untuk disesuaikan yang
unik dan "standar yang dapat disesuaikan" yang juga menawarkan peluang baru untuk pelaporan
keberlanjutan sebagaimana dikembangkan dalam artikel ini.

Kesempatan itu antara lain ialah "kemampuan membaca dan menggunakan kembali" data
dan penghapusan label, karena semua data dikelola dalam satu penyimpanan data taksonomi. Hal
ini berkontribusi terhadap "transparansi dan aksesibilitas" data perusahaan (Bhatnagar, 2011;
Premuroso dan Bhattacharya, 2008), juga memungkinkan perubahan perspektif. Williams dan al.
(2006) menyarankan mengadopsi "perspektif manajemen informasi" yang melampaui reproduksi
dan presentasi data dan melibatkan perspektif manajemen aktif di dalam korporasi.

Bukti empiris tentang penggunaan XBRL disajikan oleh Kaya (2014). Hasil menunjukkan
bahwa inovasi sebuah perusahaan terkait erat dengan pengungkapan secara keseluruhan, termasuk
pengungkapan sukarela di XBRL. Mengingat peran positif dari XBRL on innovatiini, dapat
dipahami bahwa para penulis berharap XBRL "mengembangkan standar data global bagi
pelaporan keuangan bisnis dengan potensi untuk mengubah cara membuat keputusan" (Liu et al,
2014). Oleh karena itu, implikasi manajerial XBRL menjadi jelas dan memberikan kapasitas
tambahan untuk membuat proses keputusan manajerial.

Sebagai ringkasan, pernyataan kecenderungan berikut diusulkan: T7: XBRL menambah


nilai bagi para manajer karena itu mengarah pada keputusan yang lebih terinformasi dan lebih
cepat (berbasis data secara real-time) mengenai masalah keuangan dan non-keuangan.

Tren 8: standardisasi dan regulasi sebagai fasilitator masyarakat berkelanjutan

Tren terakhir dan mungkin yang paling kuat terkait dengan XBRL melibatkan potensinya
untuk mempromosikan masyarakat berkelanjutan melalui peluang teknis yang dapat diperoleh
oleh manajemen data berbasis x berbasis 2016 untuk data keuangan dan non-keuangan. Sejalan
dengan tren meningkatnya pembangunan keberlanjutan yang melaporkan latihan wajib bagi
perusahaan-perusahaan, seperti yang sudah dilakukan di Denmark, swedia, dan Malaysia, dan
seperti yang direncanakan di Korea (Jeong et al., 2013) dan uni eropa (Howitt, 2014), kemauan
politik terhadap kesinambungan pelaporan mencapai momentum. Ini sebagai imbalannya
mengubah inti dari laporan bisnis dalam menanggapi tuntutan peraturan dan pasar (Cohen, 2004).

Realitas politik baru ini atau komitmen sosial melalui masyarakat sipil (Kourula dan
Delalieux, 2014) juga menimbulkan pertanyaan standardisasi karena reportase status quo yang
tidak konsisten dan tidak sebanding adalah status quo sebelum GRI dan Schaltegger laporannya
(Burritt dan Schaltegger, 2010: 840). Seperti disebutkan di atas, pada 2013 ketika merilis pedoman
baru 4,0, GRI mengembangkan suatu taksonomi XBRL untuk parameter non-finansial. Ini adalah
langkah terakhir dari gerakan yang sedang berlangsung menuju standarisasi isi elektronik yang
dimulai dengan permintaan dari pengatur, dan pendaftaran semacam itu dengan cepat menjadi
kewajiban di banyak negara (Cohen, 2004).

Dari sudut pandang pemerintah, XBRL sebagai standar untuk pengajuan elektronik
membantu "meningkatkan akuntabilitas dan transparansi dalam bisnis dan informasi keuangan"
karena hal itu dapat dibaca oleh mesin dan dapat diakses, dengan demikian "meningkatkan
kemudahan penyebaran dan analisis publik" (Chen, 2012: 553). Namun, pemerintah tidak hanya
mempromosikan XBRL untuk transparansi dan alasan keberlanjutan tetapi juga biaya efisiensi:
"pertukaran informasi dari bisnis ke pemerintah adalah peluang berikutnya untuk mengurangi
pengeluaran pemerintah, sementara meningkatkan kinerja" (Bharosa et al., 2013: 9).
Oleh karena itu, promosi data yang dapat dioperasikan merupakan kekuatan penggerak
dalam mengembangkan masa depan pelaporan berbasis lunak. Mengingat kemungkinan teknis
peningkatan akurasi, ketahanan, dan transparansi langsung ini, bisa dikatakan bahwa aplikasi dan
perluasan XBRL kepada keberlanjutan, sebagaimana diinisiasi oleh panduan GRI terbaru,
merupakan kekuatan besar dalam mempromosikan keberlanjutan perusahaan. Mengingat kritik
atas kelestarian yang disebutkan di atas dan dampak keberhasilan sistem pengelolaan
keberlanjutan dan kinerja di perusahaan yang berada pada tingkat manajerial, maka jelaslah bahwa
pelaporan keberlanjutan harus mencapai tingkat keseriusan dan kredibilitas yang sama sebagai
sistem manajemen dan akuntansi yang ketat.

Oleh karena itu, standardisasi merupakan kontributor utama kepada kelestarian masyarakat
melalui kelestarian korporasi. Sebagaimana dikemukakan Debreceny et al (2010), kualitas
repositologi data XBRL sangat penting bagi keberhasilan program data interaktif (2010: 296).
Oleh karena itu, peranan sebagai pengatur tidak dapat dianggap berlebihan. Beberapa penulis juga
berpendapat bahwa difusi XBRL yang sukses berisiko tanpa komitmen peraturan yang lebih besar
untuk menciptakan alat dan membuat "tersedia untuk umum, dapat diakses, untuk menyusun
kembali data XBRL" (Dunne et al, 2013: 167). Dalam sebuah makalah yang bersejarah, Eccles
dan Armbrester menyimpulkan bahwa strategi perusahaan berkelanjutan yang lebih berkelanjutan
akan memberi kontribusi kepada masyarakat yang lebih berkelanjutan (2011: 14).

Ringringkasan, pernyataan tren berikut diusulkan: T8: XBRL for kelestarian data dan
komitmen peraturan terkait memudahkan kontribusi yang lebih baik bagi kelestarian keseluruhan
masyarakat.

5. Digitally unified reporting as a “twin-track-approach” providing a new time-ontology

5. Pelaporan digital yang terpadu sebagai "pendekatan-dua arah" memberikan waktu- baru

Based on the eight trend statements on integrated reporting and XBRL from the scholarly
literature, I propose the concept of “digitally unified reporting,” incorporating the eight trend
statements aiming at closing the sustainability gap addressed in the introduction. The concept,
however, is developed not only on the grounds of the trend statements, but also positioned
theoretically (chapter 5.1).
Berdasarkan delapan laporan tren tentang pelaporan terpadu dan XBRL dari literatur
ilmiah, saya mengusulkan konsep "pelaporan terpadu secara digital," menggunakan delapan
pernyataan tren yang bertujuan untuk menutup kesenjangan keberlanjutan yang dibahas di awal.
Akan tetapi, konsep ini dikembangkan tidak hanya berdasarkan pernyataan tren, tetapi juga secara
teoretis ditempatkan (bab 5.1).

Here I use the Burritt and Schaltegger (2010) sustainability reporting typology and position
the new concept as a “twin-track” approach (see below). In the second step, I examine the new
concept regarding the shift it represents in merging reporting with performance control. I discuss
in a second step (chapter 5.2) what I refer to as “time-ontological shift” brought about by digitally
unified reporting, as the reporting period changes from ex post to real time transparency. To
conclude, I bring together the trend statements with the theoretical positioning and discussion of
the time ontological shift by providing a definition of digitally unified reporting plus an application
context.

Di sini saya menggunakan burrito dan Schaltegger (2010) keberlanjutan melaporkan


tipologi dan memposisikan konsep baru sebagai pendekatan "twin-track" (lihat di bawah). Pada
langkah kedua, saya memeriksa konsep baru mengenai pergeseran itu mewakili penggabungan
laporan dengan pengawasan kinerja. Saya membahas di langkah kedua (bab 5.2) apa yang saya
rujuk sebagai "kesinambungan waktu" dibawa oleh pelaporan digital yang disatukan oleh
pelaporan digital, dengan perubahan periode laporan dari ex post ke real time transparansi. Untuk
menyimpulkan, saya menggabungkan pernyataan tren dengan posisi teoritis dan diskusi tentang
perubahan ontologis dengan memberikan definisi pelaporan digital terpadu ditambah konteks
aplikasi.

5.1. Digitally unified reporting: conceptual development as a twin track approach

5.1. Pelaporan digital yang terpadu: pengembangan konseptual sebagai pendekatan kembar

The rapid changes in the evolution of sustainability management and reporting have also
been discussed on a theoretical level. For the topic discussed here, the “twin track approach” of
sustainability reporting appears to be the most suitable. Following Burritt and Schaltegger (2010),
the twin track approach combines both inside-out and outside-in perspectives (also see Schaltegger
and Wagner, 2006) of sustainability reporting. This is particularly important as, in line with the
concept proposed here, the twin track approach combines a management perspective (inside-out)
with a stakeholder perspective (outside-in) based on the evidence that sustainability management
systems have a major influence on sustainability accounting and reporting (Burritt and
Schaltegger, 2010: 841).

Perubahan pesat dalam evolusi pengelolaan keberlanjutan dan pelaporan juga telah dibahas
pada tingkat teoretis. Untuk topik yang dibahas di sini, "twin track approach" dari keberlanjutan
pelaporan tampaknya yang paling cocok. Setelah Burritt dan Schaltegger (2010), pendekatan jalur
ganda menggabungkan baik keluar maupun keluar perspektif (juga lihat Schaltegger dan Wagner,
2006) laporan kelestarian. Hal ini sangat penting, sejalan dengan konsep yang diusulkan di sini,
pendekatan twin track memadukan perspektif manajemen (luar dalam) dengan perspektif
pemangku kepentingan (outside in) berdasarkan bukti bahwa sistem pengelolaan keberlanjutan
memiliki pengaruh besar pada akuntansi dan pelaporan kelestarian (Burritt dan Schaltegger, 2010:
841).

The theory of the twin track approach builds on (2010) approach for using data in ESG
contexts. This e enriched by the technical specificities of XBRL e is an important feature in
combining sustainability performance and reporting to monitor compliance with environmental
regulation, motivate continuous improvement, provide data for internal decision making, and
finally provide data for external reporting (Burritt and Schaltegger, 2010: 842).

Teori pendekatan jalur kembar dibangun pada (2010) pendekatan untuk menggunakan data
dalam konteks ESG. E ini diperkaya dengan spesifikasi teknis XBRL e adalah fitur penting dalam
menggabungkan kinerja kelestarian dan pelaporan untuk memantau kepatuhan terhadap peraturan
lingkungan, mendorong perbaikan berkelanjutan, menyediakan data untuk pengambilan keputusan
internal, dan akhirnya menyediakan data untuk laporan eksternal (Burritt dan Schaltegger, 2010:
842).

Based on the theoretical grounding of the twin track approach, I define “digitally unified
reporting” (DUR) as follows.

Berdasarkan landasan teoritis pendekatan jalur kembar, saya mendefinisikan "pelaporan


digital yang disatukan" (DUR) sebagai berikut.
DUR is a reporting and performance measurement concept that builds on a common
standardized real-time data repository in XBRL for financial as well as non-financial data. DUR
combines XBRL based integrated reports (reporting and management access the same real-time
data repository in a markup language such as XBRL) and integrated reporting (financial and
nonfinancial data integrated in a single report) to arrive at a reporting and performance
measurement format simultaneously communicating inside-out and outside-in and provides
opportunities to involve external stakeholders and regulators.

DUR adalah sebuah konsep pelaporan dan pengukuran kinerja yang membangun pada
penyimpan data standar real-time yang sama di XBRL untuk data keuangan maupun data non-
keuangan. DUR menggabungkan XBRL basis laporan terpadu (pelaporan dan manajemen akses
real-time dalam bahasa markup seperti XBRL) dan pelaporan terpadu (data keuangan dan non
keuangan yang diintegrasikan dalam satu laporan) untuk mencapai sebuah pelaporan dan data
pengukuran kinerja yang disandingkan secara simultan dalam berkomunikasi

DUR represents a time-ontological shift from ex-post reporting to Real time 24/7/365
transparency (also allowing for real-time regulatory activities).

DUR merepresentasikan pergeseran ontologis waktu dari pelaporan ex-post menjadi


transparansi real time 24/7/365 (juga memungkinkan untuk aktivitas regulasi real-time).

Based on the theoretical positioning and presentation of the technicality of digitally unified
reporting, one might ask about the difference between XBRL enriched integrated reporting and
digitally unified reporting. Here the potential for unification is of major importance because
digitally unified reporting brings about a transformation via a unification process occurring on two
levels:

Berdasarkan posisi teoritis dan penyajian teknis laporan yang disatukan secara digital,
seseorang mungkin bertanya tentang perbedaan antara XBRL memperkaya pelaporan terpadu dan
pelaporan digital yang terpadu. Di sini potensi untuk unifikasi adalah penting besar karena
pelaporan digital terpadu membawa sekitar transformasi melalui proses unifikasi terjadi pada dua
tingkat:
Unification I: Technical unification by using a common data repository for both financial
and non-financial data. This, as described in T6, allows for higher accuracy and reliability, whereas
a simply enriched XBRL-integrated report would just make use of data management.

Unifikasi I: penyatuan teknis dengan menggunakan penyimpanan data umum untuk data
keuangan dan non-keuangan. Hal ini, seperti dijelaskan dalam T6, memungkinkan keakuratan dan
keterandalan yang lebih tinggi, sedangkan hanya diperkaya laporan XBRL yang terintegrasi hanya
akan menggunakan manajemen data.

Unification II. Operational unification by merging management tasks as performance


controls with corporate reporting and accounting. Here, the common data repository allows instant
access to all relevant data points regarding financial and nonfinancial issues and thus, as described
in T7, faster and better decision-making processes are enabled.

Unifikasi II. Penyatuan operasional dengan penggabungan tugas-tugas manajemen sebagai


kontrol kinerja dengan pelaporan perusahaan dan akuntansi. Di sini, penyimpanan data bersama
memungkinkan akses cepat ke semua titik data relevan tentang masalah keuangan dan non
keuangan dan dengan demikian, seperti yang dijelaskan dalam T7, proses pengambilan keputusan
yang lebih cepat dan lebih baik dimungkinkan

Based on these considerations, the key parameters of digitally unified reporting are
presented along the four trend statements derived from the literature review. This incremental
approach is meant to increase construct validity of the concept, developing it from the state of the
art in scholarly debate. An overview of the single contribution developed in response to each of
the eight trends is presented in Table 1. Hence, the concept of digitally unified reporting and
performance control contributes to close major gaps in the literature concerning integrated
reporting. Furthermore, going back to the debate on principles vs. rule based regulation the
proposed concept would be positioned due to its digitally precise coding as a rule based approach,
as every indicator would be referenced to a specific data point in the XBRL repository. This
however opens questions on the ‘materiality’ of the data points.

Berdasarkan pertimbangan-pertimbangan ini, parameter utama pelaporan yang terpadu


secara digital disajikan bersama empat pernyataan tren yang berasal dari tinjauan literatur.
Pendekatan bertahap ini dimaksudkan untuk meningkatkan validitas konsep, mengembangkannya
dari keadaan seni dalam debat ilmiah. Ikhtisar tentang kontribusi tunggal yang dikembangkan
sebagai tanggapan terhadap masing-masing dari kedelapan tren disajikan di tabel 1. Oleh karena
itu, konsep laporan terpadu secara digital dan pengendalian kinerja turut menyebabkan jurang
pemisah yang besar dalam literatur mengenai laporan terintegrasi. Lebih lanjut, akan kembali ke
perdebatan tentang prinsip vs peraturan berdasarkan peraturan yang diusulkan konsep akan
ditempatkan karena yang digital kode-kode sebagai pendekatan berbasis aturan, karena setiap
indikator akan direferensikan ke titik data tertentu di reposital XBRL. Ini membuka pertanyaan
mengenai 'materialitas' dari titik-titik data.

The main contribution as developed in the eight criteria, however, can be seen in a time-
ontological shift. Digitally unified reporting and performance control through XBRL-based real-
time transparency allows for instant control of the standardized data. This has implications for the
following:

Akan tetapi, sumbangsih utama yang dikembangkan dalam delapan kriteria itu dapat
terlihat dalam peralihan waktu. Pelaporan dan kontrol kinerja secara digital melalui transparansi
real-time yang didasarkan pada kisi, memungkinkan kontrol instan atas data standar. Hal ini
berpengaruh pada hal-hal berikut:

a. Managers, as managers can control in real-time their sustainability and financial


performance by measuring it in a GRIinspired XBRL data taxonomy and repository. This
contributes to the claimed combination of management control, strategy, and sustainability
(Crutzen and Herzig, 2013).

A. Manajer, sebagai manajer dapat mengontrol secara real-time ketahanan dan kinerja
keuangan mereka dengan mengukur dalam taksonomi data XBRL dan reposittor yang gril. Ini
berkontribusi pada meningkatnya biaya kontrol, strategi, dan keberlanjutan (Crutzen dan Herzig,
2013).

b. Regulators, as regulators technically could monitor harmful and unsustainable corporate


performance in real time and could e provided the according legislative power e withdraw the
license to operate of a corporation that is performing in a toxic manner with regard to ESG criteria.

Regulator, sebagai regulator, secara teknis mampu memantau kinerja perusahaan yang
membahayakan dan tidak berkelanjutan secara langsung dan mampu e memberikan kekuatan
legislatif e menarik lisensi untuk mengoperasikan korporasi yang berkinerja dengan cara yang
beracun sehubungan dengan ESG kriteria.

c. Investors, as an XBRL data repository, also including sustainability data would allow
for standardized and comparable information. Sustainability reporting in an integrated manner, as
proposed in digitally unified reporting, would allow shareholders and analysts to assess
sustainability performance by interoperable databases as technically available by XBRL data
repositories.

C. Investor, sebagai penyimpan data XBRL, juga termasuk ketahanan data akan
memungkinkan standardisasi dan sebanding informasi. Keberlanjutan pelaporan dengan cara
terpadu seperti yang diusulkan dalam pelaporan digital, akan memungkinkan pemegang saham
dan analis untuk menilai kinerja daya oleh database interoperabilitas seperti yang secara teknis
tersedia oleh XBRL penyimpanan data.

d. External stakeholders, like media or NGOs that can also monitor in real-time the
sustainability performance of corporations. Here, both the time lag and the information asymmetry
could be overcome and stakeholder dialogues would take place in a more deliberative way, as
proposed by Habermasian political CSR communication (Seele and Lock, 2014).

D. Para pemangku kepentingan eksternal, seperti media atau LSM yang juga dapat
memantau langsung kinerja kelestarian perusahaan. Di sini, baik kesenjangan waktu maupun
kesenjangan informasi bisa diatasi dan para pemegang saham bisa melakukan dialokasikan dengan
cara yang lebih berpertimbangan, sebagaimana diusulkan oleh komunikasi CSR politik
Habermasian (Seele dan Lock, 2014).

Given this integration between internal performance and reporting systems and external
reporting audiences, progress toward more sustainable societies by increased levels of
transparency and thus credibility can be achieved. The major contribution here is the effect of
continuous real-time transparency. To sum up, the core features of digitally unified reporting and
performance measurement can be seen in:

Mengingat integrasi antara kinerja internal dan sistem pelaporan dan penonton laporan
eksternal, kemajuan menuju masyarakat yang lebih berkelanjutan dengan meningkatnya
transparansi dan dengan demikian kredibilitas dapat dicapai. Kontribusi utama di sini adalah efek
pengulangan transparansi yang berkesinambungan. Sebagai ringkasan, fitur inti dari pelaporan
terpadu digital dan pengukuran kinerja dapat dilihat dalam:

Dengan adanya integrasi antara kinerja internal dan sistem pelaporan ini dengan khalayak
pelaporan eksternal, kemajuan menuju masyarakat yang lebih berkelanjutan dengan meningkatnya
tingkat transparansi dan dengan demikian kredibilitas dapat dicapai. Kontribusi utama di sini
adalah efek transparansi reatime yang berkelanjutan. Singkatnya, fitur-fitur inti dari pelaporan dan
pengukuran kinerja yang disatukan secara digital dapat dilihat di:

24/7/365 transparency to regulators for financial and sustainability data

24/7/365 transparency to stakeholders for financial and sustainability data, which bridges
the credibility gap (Dando and Swift, 2003) of conventional sustainability reporting

Instant access to real-time sustainability data, allowing for real time control over
sustainability performance

Real-time control over sustainability performance, allowing for application of real-time


sustainability management systems

Standardized data entry points of XBRL, allowing for rigorous and comprehensive
standardization and assessment of sustainability performance and reporting

Standardized data points in the sustainability universe, providing a level playing field and
ending the flaws of the materiality concept of GRI

Linking the concept of digitally unified reporting to the twin track approach of reporting,
one can conclude that digitally unified reporting and performance measurement contributes to the
overall promotion of more sustainable societies and to closing the sustainability-gap, as it increases
the compliance and efficiency of sustainability reporting and performance control. This is
particularly true for deliberative actions based on accounting information and management
performance, as demanded in the twin track approach when integrating approaches like the
sustainability balanced scorecard, eco-control, or sustainability management control (Burritt and
Schaltegger, 2010: 833).
Menghubungkan konsep pelaporan terpadu secara digital ke pendekatan pelaporan kembar,
seseorang dapat menyimpulkan bahwa pelaporan terpadu secara digital dan pengukuran kinerja
berkontribusi pada kenaikan keseluruhan masyarakat yang lebih berkelanjutan dan untuk menutup
kesenjangan berkelanjutan, karena hal itu meningkatkan kepatuhan dan efisiensi keberlanjutan
serta pengendalian kinerja. Hal ini terutama untuk aksi perundingan berdasarkan kinerja akuntansi
dan manajemen, seperti yang dibutuhkan dalam pendekatan twin track ketika memadukan
pendekatan seperti kartu kesinambungan skor seimbang, eco-control, atau pengendalian
pengelolaan kesinambungan (Burritt dan Schaltegger, 2010: 833).

Therefore, XBRL-based digitally unified reporting represents one small step in the digital
evolution, but it is a leap for corporate sustainability performance measurement and reporting
because it transcends the time ontology from past performance output to Real time transparency,
as the comparison between conventional reporting and XBRL based digitally unified reporting in
the next chapter shows.

Oleh karena itu, XBRL berpadu laporan secara digital mewakili satu langkah kecil dalam
evolusi digital, tetapi itu merupakan lompatan kecil pengukuran kinerja berkelanjutan korporasi
dan pelaporan karena itu melampaui waktu yang digunakan ontology dari keluaran kinerja di masa
lalu hingga transparansi nyata, sebagai perbandingan antara pelaporan konvensional dan XBRL
berbasis laporan terpadu secara digital dalam bagian berikutnya menunjukkan.

5.2. Comparing current integrated reporting with digitally unified reporting: the time-
ontological shift

5.2. Membandingkan pelaporan terintegrasi saat ini dengan pelaporan digital yang bersatu:
perubahan waktu ontologis

Unlike conventional corporate reporting with external sustainability performance


measurement and control and management instruments, XBRL real-time data of financial and
sustainability performance allow for simultaneous management and publication of the data
produced by operations. This e if applied rigorously and comprehensively e has considerable
consequences for the way corporations are run and how they communicate to their stakeholders
and authorities.
Tidak seperti biasa yang pelaporan perusahaan konvensional dengan pengukuran kinerja
eksternal untuk kelestarian dan pengendalian dan manajemen, data real-time dari kinerja keuangan
dan keberlanjutan menyediakan manajemen dan penerbitan data yang diproduksi oleh operasi. E
ini jika diterapkan secara keras dan menyeluruh e memiliki konsekuensi yang cukup besar untuk
cara perusahaan dijalankan dan bagaimana mereka berkomunikasi kepada pemangku kepentingan
dan otoritas mereka.

To clarify this leap in the evolution from separate sustainability performance measurement,
management, and settlement-day publication of the previous corporate year, a comparison is
shown in Table 2. Whereas in conventional reporting e whether stand-alone reporting or integrated
reporting e time is subdivided according to operational steps: operations within a corporate year
(A), a period to gather and process the data from the previous year (B), and a publication date in
spring/summer of the following year (C). Digitally unified reporting knows no temporal sequences
but is constituted by a real-time flow of events (operations, production) and publication thereof.

Untuk menjelaskan perubahan ini melalui evolusi dari pengukuran kinerja, pengelolaan,
dan penerbitan hari rugiron pada tahun kerja sama sebelumnya, sebuah perbandingan ditunjukkan
di tabel 2. Sedangkan dalam laporan konvensional apakah berdiri sendiri pelaporan atau pelaporan
waktu terintegrasi dibagi dibagi menurut langkah-langkah operasional:

(A), periode untuk mengumpulkan dan memproses data dari tahun sebelumnya (B), dan
tanggal publikasi pada musim semi / musim panas tahun berikutnya (C). Pelaporan terpadu secara
digital tidak mengenal urutan temporal tetapi didasari oleh aliran peristiwa waktu nyata (operasi,
produksi) dan publikasi daripadanya

What is true for the time frame also applies for the operational level. In conventional
reporting, performance measurement, control and reporting are sequential and often produce
mistakes in the migration of data from unit to unit or to the assurance provider. However, digitally
unified reporting provides full transparency by centralizing all data within the 20,000 data entry
points of XBRL, which can be published or conveyed to authorities in real time.

Apa yang benar untuk kerangka waktu juga berlaku untuk tingkat operasional. Dalam
pelaporan konvensional, pengukuran kinerja, kontrol, dan pelaporan secara berurutan dan sering
menghasilkan kesalahan dalam migrasi data dari unit ke unit atau ke penyedia jaminan. Namun,
pelaporan terpadu secara digital menyediakan transparansi penuh dengan memusatkan semua data
dalam 20.000 titik entri data dari XBRL, yang dapat diterbitkan atau disampaikan kepada pihak
berwenang secara langsung.

This shift of data management and access also has implications for corporate departments.
Whereas in conventional reporting the responsibility lies with different units in, in digitally unified
reporting data management officers and executive members attract more responsibilities.
Therefore, CSR and corporate communication departments might lose responsibilities as the
administration of data now becomes centralized (see Table 3).

Pergeseran manajemen data dan akses ini juga memiliki implikasi untuk departemen
perusahaan. Sedangkan di konvensional pelaporan tanggung jawab terletak dengan unit yang
berbeda di, dalam pelaporan digital perwira manajemen data dan anggota eksekutif menarik lebih
banyak tanggung jawab. Oleh karena itu, departemen komunikasi CSR dan korporasi mungkin
kehilangan tanggung jawab sewaktu administrasi data sekarang menjadi terpusat (lihat tabel 3).

The comparison shows that the theoretical concept of digitally unified reporting and
performance measurement allows for a new era in the advancement of sustainable companies on
an organizational level. This shift is not founded in normative claims, but in combining
technological advancements brought about by the technological opportunities of digital data
management and the increasing political will to promote and govern sustainability issues by
mandatory sustainability reports.

Perbandingan menunjukkan bahwa konsep teoritis pelaporan terpadu digital dan


pengukuran kinerja memungkinkan era baru dalam kemajuan perusahaan berkelanjutan pada
tingkat organisasi. Pergeseran ini tidak dibuat dalam pernyataan normatif, namun dalam
menggabungkan kemajuan teknologi yang dihasilkan dari peluang teknologi dalam pengelolaan
data digital dan kemauan politik yang meningkat untuk mempromosikan dan mengatur
keberlanjutan isu melalui laporan wajib kesinambungan.

This theoretical concept, however, is far from being reality, on technical grounds as well
as on regulatory grounds, as the concept will only work if a transnational XBRL taxonomy for
sustainability issues is developed (Eccles and Armbrester, 2011: 19). Therefore, it is of vital
importance to address current limitations to develop the concept further.
Konsep teoritis ini, bagaimanapun juga, tidak nyata, pada alasan teknis maupun alasan
regulasi, karena konsep tersebut hanya akan bekerja jika suatu taxonomi transnasional untuk isu
kelestarian dikembangkan (Eccles and Armbrester, 2011: 19). Oleh karena itu, sangatlah penting
untuk menerapkan keterbatasan terkini guna mengembangkan konsep tersebut lebih jauh.

Conclusion

Mengingat potensi transformatif disertakan dalam konsep pelaporan digital terpadu,


langkah berikutnya sangat penting untuk membawa inovasi dari era digital diterapkan untuk
pelaporan keberlanjutan dan manajemen. Oleh karena itu, langkah berikutnya adalah melakukan
penelitian tersebut dan menghasilkan hasil empiris. Oleh karena itu, saya menyarankan desain
berikut untuk penelitian masa depan.

Pada tahap pertama, serangkaian studi kasus yang ketat perlu untuk mengeksplorasi status
quo saat ini dari praktek korporasi mengenai keberlanjutan pelaporan, implementasi XBRL, dan
pengukuran kinerja. Di sini rancangan studi kasus perbandingan tampaknya pantas. Studi kasus
seri kedua harus dilakukan untuk menganalisis kerangka peraturan keberlanjutan pelaporan
mengingat bahwa pelaporan keberlanjutan sekarang wajib dilakukan di beberapa negara,

Dalam langkah berikutnya, pertanyaan penelitian dan hipotesis yang dapat diuji harus
dikembangkan berdasarkan literatur dan hasil studi kasus mengenai praktik perusahaan dan
pergeseran baselin peraturan. Gedung penelitian masa depan pada kertas konseptual, dua set studi
kasus, dan pengembangan hipotesis harus mengatasi validasi empiris.

Di sini desain penelitian eksperimental disarankan karena topik yang melibatkan


transformasi masa depan, sehingga manipulasi dalam pengaturan eksperimental berbasis vignette-
tampaknya tepat untuk mengevaluasi pertukaran aktual dalam konsep yang diusulkan. Secara
keseluruhan, serangkaian lima atau enam percobaan harus memanipulasi faktor-faktor yang
berbeda mengenai proses digitalisasi dan status sah laporan untuk sampai pada validasi dan
keuntungan konsep.

Sebagai kesimpulan, pengenalan pelaporan dan data akuntansi dan standar yang lebih ketat
tidak pengganti integritas. Perusahaan yang dengan sukarela terlibat dalam promosi isu
kesinambahan dapat menjadi tidak perlu meneruskan pada posisi pertama ketika sebuah standar
secara keseluruhan diperkenalkan. Di samping integritas, pelaporan yang disatukan secara digital
juga menawarkan cara baru kesinambungan yang dimandatkan atau mengikat secara hokum

Sebagai contoh, mengingat kemajuan dalam pembuatan wajib csr-pelaporan di uni eropa,
sebuah repositori data standar menawarkan diri dalam pelaporan keuangan kepada pihak
berwenang cara baru untuk membuat medan permainan yang seimbang dengan mengatur pihak
berwenang untuk organisasi, setelah masalah material selesai. Di sini, SEC yang diterapkan untuk
data keuangan dapat dilihat sebagai patokan untuk mengembangkan kerangka kerja juga bagi data
non-keuangan.

Lebih jauh lagi, komitmen terhadap kesinambungan bisa menjadi sekedar setik latihan
kotak dalam mengelola penyimpanan data kelestarian XBRL dan kekuatan untuk berinovasi dalam
keberlanjutan dapat digunakan dengan hanya memenuhi persyaratan peraturan. Lester (2007)
mengacu pada standar XBRL SEC, yang dapat meningkatkan pelaporan dan akuntabilitas, namun
demikian menyarankan bahwa mahasiswa bisnis masih memerlukan pelatihan integritas dan etika
bisnis sehubungan dengan skandal akuntansi. Hal yang sama berlaku untuk keberlanjutan.

Anda mungkin juga menyukai