Anda di halaman 1dari 3

KLARIFIKASI RESEP TIDAK TERBACA

No. Dokumen No. Revisi : Halaman :


UPT RSD DR.H.SOEMARNO 32 /SPO-IFRS.II/RSDSS/I/2020 01 1/2 Lembar
SOSROATMODJO
Jl. Cendrawasih Tanjung Selor Kaltara

Tanggal Terbit : 11 Januari 2020 Ditetapkan Oleh :


Direktur
STANDAR
PROSEDUR
OPERASIONAL
dr. H. Surya Tan, M. Sc, Sp. S
NIP : 19660408 200012 1 007
Merupakan kegiatan yang harus dilakukan apabila petugas instalasi
PENGERTIAN farmasi menerima resep yang tidak terbaca atau tidak jelas untuk
menghubungi dokter penulis resep.

Sebagai acuan penetapan langkah-langkah untuk terwujudnya ketepatan


TUJUAN penyiapan obat oleh instalasi farmasi dan keselamatan obat bagi pasien

KEBIJAKAN SK Direktur No. 445/ 496 /RSD-III/XII/2019 Tentang “Pelayanan


Farmasi”
PROSEDUR 1. Apoteker penanggung jawab shift menerima resep kemudian
melakukan proses skrining resep.
2. Apoteker penanggung jawab shift atau TTK yang bertugas , jika
resep tidak terbaca maka diminta kepada apoteker atau TTK Senior
untuk membacanya, jika petugas kedua tidak bisa membaca maka
minta petugas ketiga untuk membacanya, jika petugas tidak bisa
membacanya maka apoteker atau TTK mencatatnya sebagai
illegible presception, pencatatan meliputi tanggal kejadian, tanggal
resep nama penulis resep beserta spesialisasinya, ruangan/ poli
klinik asal resep, Lalu petugas menelpon dokter.
3. Petugas farmasi memberikan salam dan memperkenalkan diri
kepada dokter
4. Petugas farmasi menyebutkan nama, alamat pasien, dan ruang
perawatan (untuk pasien inap) yang mendapatkan resep tersebut
5. Petugas farmasi meminta informasi untuk hal hal yang perlu
ditanyakan. Hal hal yang perlu ditanyakan ke dokter terkait resep
antara lain :
a. Ketidakjelasan tulisan dokter antara lain meliputi nama obat,
dosis obat, jumlah obat, aturan pakai
b. Adanya Drug Related Problems setelah dilakukan verifikasi
KLARIFIKASI RESEP TIDAK TERBACA

No. Dokumen No. Revisi : Halaman :


UPT RSD DR.H.SOEMARNO 32 /SPO-IFRS.II/RSDSS/I/2020 01 1/2 Lembar
SOSROATMODJO
Jl. Cendrawasih Tanjung Selor Kaltara

PROSEDUR c. resep
d. Adanya kekosongan obat di farmasi dan subtitusinya
e. Adanya penulisan obat diluar formularium Rumah Sakit
f. Adanya penggantian obat terkait dengan asuransi
6. Jika dokter keberatan, petugas apotek menjelaskan bahwa hal ini
bertujuan untuk patient safety.
7. Untuk rawat jalan, petugas farmasi menghubungi dokter, bilamana
dokter menghendaki, Petugas farmasi meminta paraf dokter pada
resep apabila dokter menghendaki terapi sesuai resep padahal ada
Drug Related Problems setelah dilakukan verifikasi resep.
8. Petugas farmasi menuliskan informasi yang disampaikan dokter di
belakang resep (untuk rawat inap) atau lembar resep (untuk rawat
jalan) disertai tanggal, jam klarifikasi dan tanda tangan petugas
klarifikasi dan buku khusus untuk obat kosong.
9. Petugas farmasi mengkonfirmasi ulang informasi yang disampaikan
dokter dengan cara membacakan ulang dan “repeat back” mengeja
perhuruf nama obat atau metode Tulbakon (Tulis Baca dan
Konfirmasi).
UNIT TERKAIT Instalasi Farmasi, Komite Medik