.
Modigliani-Miller (MM) Theory
Teori MM tanpa pajak
Teori struktur modal modern yang pertama adalah teori Modigliani dan Miller (teori MM). Mereka
berpendapat bahwa struktur modal tidak relevan atau tidak mempengaruhi nilai perusahaan. MM
mengajukan beberapa asumsi untuk membangun teori mereka (Brigham dan Houston, 2001, p.31)
yaitu:
a. tidak terdapat agency cost.
b. tidak ada pajak.
c. Investor dapat berhutang dengan tingkat suku bunga yang sama dengan perusahaan
d. Investor mempunyai informasi yang sama seperti manajemen mengenai prospek perusahaan di
masa depan
e. Tidak ada biaya kebangkrutan
f. Earning Before Interest and Taxes (EBIT) tidak dipengaruhi oleh penggunaan dari hutang.
g. Para investor adalah price-takers.
h. Jika terjadi kebangkrutan maka aset dapat dijual pada harga pasar (market value).
Dengan asumsi-asumsi tersebut, MM mengajukan dua preposisi yang dikenal sebagai preposisi MM
tanpa pajak.
Preposisi I: nilai dari perusahaan yang berhutang sama dengan nilai dari perusahaan yang tidak
berhutang. Implikasi dari preposisi I ini adalah struktur modal dari suatu perusahaan tidak relevan,
perubahan struktur modal tidak mempengaruhi nilai perusahaan dan weighted average cost of
capital (WACC) perusahaan akan tetap sama tidak dipengaruhi oleh bagaimana perusahaan
memadukan hutang dan modal untuk membiayai perusahaan
Preposisi II: biaya modal saham akan meningkat apabila perusahaan melakukan atau mencari
pinjaman dari pihak luar. Risk of the equity bergantung pada resiko dari operasional perusahaan
(business risk) dan tingkat hutang perusahaan (financial risk).
Brealey, Myers dan Marcus (1999) menyimpulkan dari teori MM tanpa pajak ini yaitu tidak
membedakan antara perusahaan berhutang atau pemegang saham berhutang pada saat kondisi
tanpa pajak dan pasar yang sempurna. Nilai perusahaan tidak bergantung pada struktur modalnya.
Dengan kata lain, manajer keuangan tidak dapat meningkatkan nilai perusahaan dengan merubah
proporsi debt dan equity yang digunakan untuk membiayai perusahaan.
Teori MM dengan pajak.
Teori MM tanpa pajak dianggap tidak realistis dan kemudian MM memasukkan faktor pajak ke
dalam teorinya. Pajak dibayarkan kepada pemerintah, yang berarti merupakan aliran kas keluar.
Hutang bisa digunakan untuk menghemat pajak, karena bunga bisa dipakai sebagai pengurang pajak.
Dalam teori MM dengan pajak ini terdapat dua preposisi yaitu:
Preposisi I: nilai dari perusahaan yang berhutang sama dengan nilai dari perusahaan yang tidak
berhutang ditambah dengan penghematan pajak karena bunga hutang. Implikasi dari preposisi I ini
adalah pembiayaan dengan hutang sangat menguntungkan dan MM menyatakan bahwa struktur
modal optimal perusahaan adalah seratus persen hutang.
Preposisi II: biaya modal saham akan meningkat dengan semakin meningkatnya hutang, tetapi
penghematan pajak akan lebih besar dibandingkan dengan penurunan nilai karena kenaikan biaya
modal saham. Implikasi dari preposisi II ini adalah penggunaan hutang yang semakin banyak akan
meningkatkan biaya modal saham. Menggunakan hutang yang lebih banyak, berarti menggunakan
modal yang lebih murah (biaya modal hutang lebih kecil dibandingkan dengan biaya modal saham),
sehingga akan menurunkan biaya modal rata-rata tertimbangnya (meski biaya modal saham
meningkat). Teori MM tersebut sangat kontroversial. Implikasi teori tersebut adalah perusahaan
sebaiknya menggunakan hutang sebanyak-banyaknya. Dalam praktiknya, tidak ada perusahaan yang
mempunyai hutang sebesar itu, karena semakin tinggi tingkat hutang suatu perusahaan, akan
semakin tinggi juga kemungkinan kebangkrutannya. Inilah yang melatarbelakangi teori MM
mengatakan agar perusahaan menggunakan hutang sebanyak-banyaknya, karena MM mengabaikan
biaya kebangkrutan.
2. Trade-off Theory
Menurut trade-off teory yang diungkapkan oleh Myers (2001), “Perusahaan akan berhutang sampai
pada tingkat hutang tertentu, dimana penghematan pajak (tax shields) dari tambahan hutang sama
dengan biaya kesulitan keuangan (financial distress)” (p.81). Biaya kesulitan keuangan (Financial
distress) adalah biaya kebangkrutan (bankruptcy costs) atau reorganization, dan biaya keagenan
(agency costs) yang meningkat akibat dari
turunnya kredibilitas suatu perusahaan. Trade-off theory dalam menentukan struktur modal yang
optimal memasukkan beberapa faktor antara lain pajak, biaya keagenan (agency costs) dan biaya
kesulitan keuangan (financial distress) tetapi tetap mempertahankan asumsi efisiensi pasar dan
symmetric information sebagai imbangan dan manfaat penggunaan hutang. Tingkat hutang yang
optimal tercapai ketika penghematan pajak (tax shields) mencapai jumlah yang maksimal terhadap
biaya kesulitan keuangan (costs of financial distress). Trade-off theory mempunyai implikasi bahwa
manajer akan berpikir dalam kerangka trade-off antara penghematan pajak dan biaya kesulitan
keuangan dalam penentuan struktur modal. Perusahaan-perusahaan dengan tingkat profitabilitas
yang tinggi tentu akan berusaha mengurangi pajaknya dengan cara meningkatkan rasio hutangnya,
sehingga tambahan hutang tersebut akan mengurangi pajak. Dalam kenyataannya jarang manajer
keuangan yang berpikir demikian. Donaldson (1961) melakukan pengamatan terhadap perilaku
struktur modal perusahaan di Amerika Serikat. Penelitian tersebut menunjukkan bahwa perusahaan-
perusahaan dengan tingkat profitabilitas yang tinggi cenderung rasio hutangnya rendah. Hal ini
berlawanan dengan pendapat trade-off theory. Trade-off theory tidak dapat menjelaskan korelasi
negatif antara tingkat profitabilitas dan rasio hutang.
3. Pecking Order Theory
Menurut Myers (1984), pecking order theory menyatakan bahwa ”Perusahaan dengan tingkat
profitabilitas yang tinggi justru tingkat hutangnya rendah, dikarenakan perusahaan yang
profitabilitasnya tinggi memiliki sumber dana internal yang berlimpah.” Dalam pecking order theory
ini tidak terdapat struktur modal yang optimal. Secara spesifik perusahaan mempunyai urut-urutan
preferensi (hierarki) dalam penggunaan dana. Menurut pecking order theory dikutip oleh Smart,
Megginson, dan Gitman (2004, p.458-459), terdapat skenario urutan (hierarki) dalam memilih
sumber pendanaan, yaitu :
a. perusahaan lebih memilih untuk menggunakan sumber dana dari dalam atau pendanaan internal
daripada pendanaan eksternal. Dana internal tersebut diperoleh dari laba ditahan yang dihasilkan
dari kegiatan operasional perusahaan.
b. Jika pendanaan eksternal diperlukan, maka perusahaan akan memilih pertama kali mulai dari
sekuritas yang paling aman, yaitu hutang yang paling rendah risikonya, turun ke hutang yang lebih
berisiko, sekuritas hybrid seperti obligasi konversi, saham preferen, dan yang terakhir saham biasa.
c. Terdapat kebijakan deviden yang konstan, yaitu perusahaan akan menetapkan jumlah
pembayaran deviden yang konstan, tidak terpengaruh seberapa besarnya perusahaan tersebut
untung atau rugi.
d. Untuk mengantisipasi kekurangan persediaan kas karena adanya kebijakan deviden yang konstan
dan fluktuasi dari tingkat keuntungan, serta kesempatan investasi, maka perusahaan akan
mengambil portofolio investasi yang lancar tersedia. Pecking order theory tidak mengindikasikan
target struktur modal. Pecking order theory menjelaskan urut-urutan pendanaan. Manajer keuangan
tidak memperhitungkan tingkat hutang yang optimal. Kebutuhan dana ditentukan oleh kebutuhan
investasi. Pecking order theory ini dapat menjelaskan mengapa perusahaan yang mempunyai tingkat
keuntungan yang tinggi justru mempunyai tingkat hutang yang kecil.
Dalam kenyataannya, terdapat perusahaan-perusahaan yang dalam menggunakan dana untuk
kebutuhan investasinya tidak sesuai seperti skenario urutan (hierarki) yang disebutkan dalam
pecking order theory. Penelitian yang dilakukan oleh Singh dan Hamid (1992) dan Singh (1995)
menyatakan bahwa “Perusahaan-perusahaan di negara berkembang lebih memilih untuk
menerbitkan ekuitas daripada berhutang dalam membiayai perusahaannya.” Hal ini berlawanan
dengan pecking order theory yang menyatakan bahwa perusahaan akan memilih untuk menerbitkan
hutang terlebih dahulu daripada menerbitkan saham pada saat membutuhkan pendanaan eksternal.
4. Equity Market Timing
Teori yang diungkapkan oleh Baker dan Wurgler (2002) ini mengemukakan bahwa “Perusahaan-
perusahaan akan menerbitkan equity pada saat market value tinggi dan akan membeli kembali
equity pada saat market value rendah” (p.1) Praktik inilah yang kemudian disebut sebagai equity
market timing.
Tujuan dari melakukan equity market timing ini adalah untuk mengeksploitasi fluktuasi sementara
yang terjadi pada cost of equity terhadap cost of other forms of capital.
Menurut Baker dan Wurgler (2002), ”Struktur modal adalah hasil kumulatif dari usaha melakukan
equity market timing di masa lalu” (p.3). Baker dan Wurgler menemukan bahwa perusahaan dengan
tingkat hutang rendah adalah perusahaan yang menerbitkan equity pada saat market value tinggi
dan perusahaan dengan tingkat hutang tinggi adalah perusahaan yang menerbitkan equity pada saat
market value rendah. Baker dan Wurgler menggunakan market-to-book ratio, yang umumnya
digunakan sebagai proxy untuk mengukur kesempatan investasi, namun dalam teorinya market-to-
book ratio juga digunakan untuk melihat apakah nilai suatu ekuitas itu overvalued atau undervalued.
Baker dan Wurgler membangun suatu model variabel yaitu external finance weighted-average
market-to-book ratio. Variabel ini adalah rata-rata tertimbang dari market-to-book ratio suatu
perusahaan di masa lampau. Variabel ini digunakan oleh Baker dan Wurgler untuk melihat usaha
dari suatu perusahaan dalam melakukan equity market timing.
Ada dua versi dari equity market timing yang mengikuti hasil penelitian Baker dan Wurgler. Yang
pertama adalah versi dinamis dari Myers dan Majluf (1984) mengenai informasi asimetris yang
mengasumsikan rasional manajer dan investor. Versi yang kedua dari equity market timing
melibatkan para investor atau manajer yang tidak rasional dan persepsi dari mispricing. Para
manajer akan menerbitkan equity saat mereka yakin bahwa cost of equity rendah dan membeli
kembali equity saat cost of equity tinggi. Market-to-book diketahui secara umum berkorelasi negatif
dengan future equity returns, dan nilai ekstrem dari market-to-book dikaitkan dengan ekpektasi-
ekspektasi yang ekstrem dari investor, sesuai dengan penelitian dari La Porta (1996), La Porta et al.
(1997), Frankel dan Lee (1998), dan Schleifer (2000). Apabila manajer mencoba untuk
mengeksploitasi terlalu jauh (ekstrem) ekspektasi-ekspektasi dari investor, net equity issues akan
berkorelasi positif dengan market-to-book. Apabila tidak terdapat struktur modal yang optimal,
manajer tidak perlu mengganti keputusan-keputusan pendanaannya pada saat perusahaan telah
dinilai dengan benar dan cost of equity terlihat normal, hal ini menunggu fluktuasi-fluktuasi
sementara yang terjadi pada market-to-book mempunyai efek yang tetap pada leverage.
Teori Akuntansi Positif (Dini Firmasari, 2016)
Teori akuntansi positif merupakan varian dari teori ekonomi positif. Teori ini berkembang seiring
dengan kebutuhan untuk menjelaskan dan memprediksi realitas praktik-praktik akuntansi yang
ada di masyarakat(Watts dan Zimmerman, 1986). Teori ini memiliki pijakan yang berbeda
dibandingkan dengan akuntansi normatif, yang lebih menjelaskan praktik-praktik akuntansi yang
seharusnya berlaku. Teori ini bertujuan menjelaskan meramalkan, dan memberi jawaban atas
praktik akuntansi. Di samping itu, teori ini juga meramalkan berbagai fenomena akuntansi dan
menggambarkan bagaimana interaksi antar variabel akuntansi dalam dunia nyata. Validitas teori
akuntansi positif dinilai atas dasar kesesuaian teori dengan fakta atau apa yang nyatanya terjadi.
MenurutWatts dan Zimmerman (1986) ada tigahipotesis dalam teori akuntansi positif:
1)Hipotesis bonus plan: jika perusahaan merencanakan bonus berdasarkan net income, maka
perusahaan tersebut akanmemilih prosedur akuntansi yang menggeser pelaporan earnings masa
datang ke periode sekarang. Dengan kata lain, dengan adanya hipotesis bonus plan ini, manager
(agent) cenderung menaikan laba sehingga menaikkan bonus yang akan dia dapat. Hal ini
membuat laporan keuangan perusahaan semakin tidak konservatif.
2)Hipotesis kovenan utang: perusahaan cenderung untuk menurunkan rasio utang atau ekuitas
dengan cara meningkatkan laba sekarang dengan menggeser dari laba-laba periode besok.
Motivasi perusahaan melakukan ini adalah untuk menghindari kedekatan terhadap kovenan utang
dan untuk mendapatkan suku bunga pinjaman yang lebih rendah, karena semakin rendah rasio
utang atau ekuitas semakin rendah risiko kebangkrutan perusahaan.
Teori Sinyal
Teori sinyal merupakan teori yang dapat menunjukkan adanya asimetri informasi
antara manajemen dengan pihak-pihakyang berkepentingan dengan informasi
dalam perusahaan tersebut. Pada teorisinyal ini merupakan asumsi dariinformasi
yang diterima oleh pihak-pihakyang berkepentingan tidak sama. Teorisinyal juga
dapat mengungkapkan laporankeuangan dari bagaimana perusahaanmemberikan
sinya-sinyal tersebut.Menurut Hendrianto (2012:63) teorisinyal dalam topikfinancial
distressmenjelaskan bahwa jika kondisi keuangandan prospek perusahaan baik,
manajermemberi sinyal denganmenyelenggarakan akuntansi liberal.
Menurut Viggo (2014) teori sinyalmenunjukkan tindakan yang diambil
olehmanajemen perusahaan untukmemberikan petunjuk kepada invesor tentang
bagaimana manajemen menilaiprospek perusahaan tersebut. Perusahaanyang
mengalami bad news dapatmenunjukkan bahwa hal tersebutmerupakan sinyal yang
buruk bagiinvestor untuk dapat menanamkanmodalnya. Sebaliknya dengan
perusahaanyang mengalami good news akanmenjadikan sinyal yang baik bagi
investoragar dapat menanamkan modalnya diperusahaan tersebut. Informasi
perusahaanyang dikeluarkan oleh perusahaan salahsatunya adalah laporan
keuangan.
Teori Keagenan
Teori keagenan menggambarkan hubungan kontraktual yang di dalamnya terdapat
principal yang berperan sebagai pemilik perusahaan dan agent yang bertindak
menjalankan aktivitas perusahaan. Ketika agent ditunjuk oleh principal untuk
mengelola perusahaan, maka saat itu terdapat pula pendelegasian wewenang dari
principal kepada agent dalam hal pengambilan keputusan perusahaan atas nama
principal, jika hal seperti ini terjadi maka agent mempunyai informasi yang lebih
banyak mengenai perusahaan yang bisa disembunyikan dari principal.
Ketidakseimbangan informasi seperti ini disebut sebagai asimetri informasi (Hidayat
dan Meiranto, 2014).
Informasi yang dikeluarkan oleh suatu perusahaan dapat dijadikan patokan oleh
para investor untuk menilai kondisi perusahaan. Informasi yang dikeluarkan seperti
laporan keuangan dapat digunakan untuk mengetahui seberapa besar aset, utang,
dan laba yang dimiliki oleh perusahaan. Perusahaan bisa mengalami kerugian
kemungkinan akibat dari kesalahan tindakan agent dalam mengelola perusahaan,
atau yang lebih buruk lagi agent secara sengaja melakukan tindakan yang hanya
mementingkan diri sendiri tanpa melihat kepentingan principal atau disebut moral
hazard. Melihat kondisi perusahaan yang terus menerus menghasilkan laba negatif,
mengindikasikan bahwa perusahaan mengalami kesulitan keuangan (Hidayat dan
Meiranto, 2014).
Teori Keagenan
Prinsip utama teori ini menyatakan adanya hubungan kerja antara pihak yang
memberi wewenang yaitu investor dengan pihak yang menerima wewenang (agensi)
yaitu manajer. Pemisahan pemilik dan manajemen di dalam literatur akuntansi
disebut dengan Agency Theory (teori keagenan). Dalam teori keagenan, hubungan
agensi muncul ketika satu orang atau lebih (principal) memperkerjakan orang lain
(agent) untuk memberikan suatu jasa dan kemudian mendelegasikan wewenang
pengambilan keputusan kepada agent tersebut. Hubungan antara principal dan
agent dapat mengarah pada kondisi ketidakseimbangan informasi (asymmetrical
information) karena agent berada pada posisi yang memiliki informasi yang lebih
banyak tentang perusahaan dibandingkan dengan principal. Oleh karena itu
diperlukan penerapan good corporate governance (GCG) untuk meminimalkan
masalah keagenan tersebut. (Ignasia Nathania, 2015)
Teori Keagenan
Teori agensi (agency theory) merupakan dasar yang digunakan perusahaan untuk
memahami corporate governance. Hal yang dibahas dalam teori ini adalah hubungan
antara prinsipal (pemilik dan pemegang saham) dan agen (manajemen). Agency
Theory memberikanpenjelasan mengenai dasar perlunya praktek pengungkapan
laporan keuangan oleh manajemen kepada pemegang saham dan investor, dimana
teori ini merupakan konsep yang menjelaskan hubungan kontraktual antara pihak
principal dan agent. (Herlambang, 2017)
Menurut (Eisenhardt, 1989) bahwa teori agensi menggunakan tiga asumsi
sifat manusia yaitu: (1) manusia pada umumnya mementingkan diri sendiri (self
interest), (2) manusia memiliki daya pikir terbatas mengenai persepsi masa
mendatang (bounded rationality), dan (3) manusia selalu menghindari resiko (risk
averse). Berdasarkan asumsi sifat dasar manusia tersebut manager sebagai manusia
akan bertindak opportunistic, yaitu kepentingan untuk mendapatkan keuntungan
dari hasil yang telah dicapai dalam mengelola tanggungjawab dari sebuah
perusahaan.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Landasan Teori
Berikut ini adalah beberapa landasan teori yang berkaitan dengan variabel
yang akan di teliti, yaitu pengaruh likuiditas, ukuran perusahaan, komite audit dan
dewan komisaris terhadap financial distress.
2.1.1 Teori Sinyal
Teori sinyal(signal theory) adalah teori yang mengungkapan bahwa pihak
perusahaan memberikan sinyal kepada pengguna laporan keuangan. Signaling
theory merupakan suatu perilaku manajemen perusahaan dalam memberi petunjuk
untuk investor terkait pandangan manajemen pada prospek perusahaan untuk masa
mendatang (Brigham dan Hosuton (2014:184)). Teori sinyal menjelaskan
manajemen perusahaan bertindak sebagai agen, memiliki dorongan untuk
memberikan informasi laporan keuangan kepada pihak eksternal (Sudana, 2014).
Informasi yang paling dinanti pihak eksternal biasanya yang berupa good news.
Disebutkan dalam kerangka teori sinyal bahwa keinginan perusahaan untuk
memberikan informasi dikarenakan terdapat asimetri informasi antara manajer
perusahaan dan pihak eksternal, hal ini disebabkan karena manajer perusahaan
lebih banyak mengetahui informasi mengenai perusahaan dan prospek yang akan
datang daripada pihak eksternal (Wolk et al,2013). Perusahaan dapat menambah
nilai perusahaan dengan mengurangi asimetri informasi tersebut. Salah satu cara
untuk mengurangi asimetri informasi adalah dengan memberikan sinyal pada pihak
eksternal, berupa informasi keuangan yang positif dan dapat dipercaya sehingga
dapat mengurangi ketidakpastian mengenai prospek perusahaan yang akan datang
dan dapat meningkatkan kredibilitas dan kesuksesan perusahaan (Wolk et al., 2013).
Pada teori sinyal ini merupakan asumsi dari informasi yang diterima oleh
pihak-pihak yang berkepentingan tidak sama. Teori sinyal juga dapat
mengungkapkan laporan keuangan dari bagaimana perusahaan memberikan sinyal-
sinyal tersebut. Menurut Hendrianto (2012:63) teori sinyal dalam topik financial
distress menjelaskan bahwa jika kondisi keuangan dan prospek perusahaan baik,
manajer memberi sinyal dengan menyelenggarakan akuntansi liberal.
Menurut Viggo (2014) teori sinyal menunjukkan tindakan yang diambil oleh
manajemen perusahaan untuk memberikan petunjuk kepada invesor tentang
bagaimana manajemen menilai prospek perusahaan tersebut. Perusahaan yang
mengalami bad news dapat menunjukkan bahwa hal tersebut merupakan sinyal
yang buruk bagi investor untuk dapat menanamkan modalnya. Sebaliknya dengan
perusahaan yang mengalami good news akan menjadikan sinyal yang baik bagi
investor agar dapat menanamkan modalnya di perusahaan tersebut. Informasi
perusahaan yang dikeluarkan oleh perusahaan salah satunya adalah laporan
keuangan.
Informasi yang dipublikasikan sebagai suatu pengumuman akan memberikan
sinyal bagi investor dalam pengambilan keputusan investasi. Jika pengumuman
tersebut mengandung nilai positif, maka diharapkan pasar akan bereaksi pada waktu
pengumuman tersebut diterima oleh pasar. Pada waktu informasi diumumkan dan
semua pelaku pasar sudah menerima informasi tersebut, pelaku pasar terlebih
dahulu menginterpretasikan dan menganalisis informasi tersebut sebagai signal baik
(good news) atau signal buruk (bad news)(Jogiyanto,2010:392).
Jika pengumuman tersebut mengandung nilai positif, maka diharapkan pasar
akan bereaksi pada waktu pengumuman tersebut diterima oleh pasar. Salah satu
jenis informasi yang dikeluarkan oleh perusahaan yang dapat menjadi signal bagi
pihak di luar perusahaan, terutama bagi pihak investor adalah laporan tahunan.
Informasi yang diungkapkan dalam laporan tahunan dapat berupa informasi
mengenai laporan keuangan dan informasi non-akuntansi yaitu informasi yang tidak
berkaitan dengan laporan keuangan salah satunya yaitu informasi mengenai
corporate governance yang diungkapkan perusahaan (Jogiyanto, 2010:392).
2.1 Teori Keagenan
Teori agensi (agency theory) adalah teori dasar yang di gunakan dalam hal
untuk lebih memahami konsep corporate governance, dampak yang dapat terjadi
dari teori agensi ini dapat memberikan pengaruh terhadap hubungan agent dengan
principal. Teori keagenan dapat terjadi karena terdapat sebuah kontrak antara
manager (agent) dengan pemilik (principal). Manager (agent) berkewajiban untuk
memberikan informasi kepada pemilik (principal). Namun terkadang, manager tidak
memberikan informasi sesuai dengan keadaan yang sebenarnya. Disinilah muncul
masalah yaitu hanya ada satu pihak saja yang akan memiliki informasi yang lebih
banyak dan lebih baik dibandingkan pihak lainnya biasanya hal ini disebut sebagai
asimetri informasi. (Hidayat dan Meiranto, 2014).
Teori keagenan (agency theory) menggambarkan mengenai praktik corporate
governance dan perilaku terhadap dilema keagenan, artinya bahwa teori tersebut
menjelaskan adanya hubungan kontrak antara principal (pemberi kontrak atau
pemegang saham) dengan agen (penerima kontrak atau Direksi). Direksi sebagai
penerima kontrak berusaha untuk memaksimalkan keuntungan pribadinya meskipun
harus merugikan pemegang saham sebagai pemberi kontrak, karena pada dasarnya
principal dan agen memiliki kepentingan masing - masing untuk memperbesar
keuntungan bagi dirinya sendiri hingga harus merelakan kepentingan dari pihak
lainnya (Tricker, 2015: 61).
Terdapat dua kendala yang muncul karena adanya asimetri informasi
tersebut, yang pertama yaitu adverse selection. Pada adverse selection, pihak yang
merasa memiliki informasi lebih sedikit dibandingkan pihak lain tidak bersedia untuk
melakukan suatu perjanjian dengan pihak lain dan apabila tetap melakukan suatu
perjanjian, pihak tersebut akan membatasi dalam kondisi yang sangat ketat dan
biaya yang sangat tinggi. Misalnya ketika manajer mencoba menyembunyikan,
menyamarkan, memanipulasi informasi yang diberikan kepada investor. Akibatnya,
investor tidak yakin terhadap kualitas perusahaan, atau membeli saham perusahaan
dengan harga sangat rendah. (dan mengakibatkan perusahaan kesulitan keuangan
(financial distress)
Permasalahan kedua yang dapat ditimbulkan adalah ketika manajer
melakukan kecurangan untuk mendapatkan keuntungan pribadinya dan berakibat
dapat merugikan pemilik biasanya dikenal sebagai moral hazard. Financial distress
dapat terjadi dikarenakan berbagai macam kesalahan dan kurang tepatnya
perusahaan dalam pengambil keputusan dan menyebabkan masalah dalam
kelemahan-kelemahan yang saling berhubungan secara langsung maupun tidak
langsung kepada manajemen serta tidak adanya atau kurangnya upaya dalam
mengawasi kondisi keuangan sehingga penggunaan uang tidak sesuai dengan
keperluan perusahaan (Brigham dan Daves, dalam Fachrudin, 2008).
Pengambilan keputusan yang biasa di ambil oleh manajer cenderung tidak
berdasarkan kepada kepentingan pemegang saham namun bertujuan untuk
memberikan keuntungan untuk dirinya sendiri. Oleh karena itu, pelaksanaan
corporate governance yang bertujuan untuk mengubah perilaku manajemen agar
dapat menciptakan nilai tambah bagi stakeholders sehingga dapat menurunkan
kemungkinan terjadinya adverse selection dan moral hazard.
Tujuan dibentuknya suatu dewan komisaris serta komite audit dalam
pelaksanaan corporate governance yaitu untuk mengatur serta mengendalikan
perusahaan agar mampu memperbaiki perilaku manajemen yang kurang baik seperti
tindakan adverse selection dan moral hazard sehingga perusahaan dapat terhindar
dari kondisi financial distress. Hal ini sesuai dengan UU Republik Indonesia No. 40
Tahun 2007 tentang Perseroan Terbatas Pasal 108 (1;2) yang menyebutkan bahwa
tugas dari dewan komisaris dan komite audit adalah untuk melakukan pengawasan
atas kebijakan pengurusan. Disamping itu perusahaan juga harus memiliki opini
yang baik dan kuat agar dapat digunakan sebagai dasar dalam melakukan
pengawasan terhadap kondisi perusahaan.
Laporan Keuangan
Pengertian Laporan Keuangan
Laporan keuangan merupakan hasil akhir dari proses pengumpulan dan
pengolahan data keuangan perusahaan dalam suatu periode akuntansi yang
memberikan gambaran tentang keadaan posisi keuangan, hasil usaha, serta
perubahan posisi keuangan suatu perusahaan atau entitas
Menurut IAI (2017:27), laporan keuangan merupakan bagian dari proses
pelaporan keuangan. Laporan keuangan merupakan sarana pengkomunikasian
informasi keuangan kepada pihak-pihak yang berkepentingan dalam perusahaan.
Laporan keuangan yang lengkap biasanya meliputi neraca, laporan laba rugi, laporan
perubahan posisi keuangan (yang dapat disajikan dalam berbagai cara seperti
misalnya sebagai laporan arus kas atau laporan arus dana), catatan-catatan dan
bagian integral dari laporan keuangan.
Menurut PSAK No.1 (2017:1.3)
laporankeuanganadalahsuatupenyajianterstrukturdariposisikeuangandankinerjakeuan
gansuatuentitas.
MenurutKasmir (2015:7) (2017:7), laporankeuanganadalahlaporan yang
menunjukkankondisikeuanganperusahaanterkiniataudalamperiodetertentu.
Kondisiperusahaanterkiniadalahkeadaankeuanganperusahaanpadatanggaltertentu
(untukneraca) danperiodetertentu (untuklaporanlabarugi).
Biasanyalaporankeuangandibuat per periode, misalnyatigabulan,
atauenambulanuntukkepentingan internal perusahaan. Sementaraitu,
untuklaporanlebihluasdanlengkapdilakukansetahunsekali
MenurutFahmi (2014:2) laporankeuanganmerupakansuatuinformasi yang
menggambarkankondisikeuangansuatuperusahaan,
danlebihjauhinformasitersebutdapatdijadikansebagaigambarankinerjakeuanganperus
ahaantersebut
MenurutMunawir (2010:56) laporankeuanganmerupakanalat yang
sangatpentinguntukmemperolehinformasisehubungandenganposisikeuangandanhasl-
hasil yang telahdicapaiolehperusahaan yang bersangkutan
Pengertian laporan keuangan menurut Wahyudiono (2014:10) adalah laporan
pertanggungjawaban manajer atau pimpinan perusahaan atas pengelolaan
perusahaan yang dipercayakan kepadanya kepada pihak-pihak luar perusahaan.
Pengertian laporan keuangan menurut Gitman (2012:44) adalah Annual
report that publicly owned corporations must provide to stockholders; it summarizes
and documents the firms financial activities during the past year.
Kasmir (2014:66)
TujuanLaporanKeuangan
MenurutPernyataanStandarAkuntansiKeuangan (PSAK) No. 1 (2017:1.3)
tujuanlaporankeuanganadalahuntukmemberikaninformasimengenaiposisikeuangan,
kinerjakeuangan, danaruskasentitas yang
bermanfaatbagisebagianbesarpengunallaporankeuangandalampembuatankeputusan
ekonomik
MenurutKasmir (2017:10-11) tujuanlaporankeuangandiantaranyaterdiridari:
1. Menyediakaninformasi yang menyangkutposisikeuangan, kinerja,
sertaperubahanposisikeuangansuatuperusahaan yang
bermanfaatbagisejumlahbesarpemakaidalampengambilankeputusan
2. Laporankeuangan yang
disusununtukmemenuhikebutuhanbersamasebagianbesarpenggunanamunt
idakmenyediakansemuainformasi yang
mungkindibutuhkankarenasecaraumummenggambarkanpengaruhkeuanga
ndarikejadian masa laludantidakdiwajibkanuntukmenyediakaninformasi
non keuangan
3. Laporankeuanganjugamenunjukkanpertanggungjawabanmanajemenatasp
enggunaansumberdaya yang dipercayakankepadamereka
UKURAN PERUSAHAAN
Ukuranperusahaandapatdiartikansuatuskaladimanaperusahaandapatdiklasifika
sikanbesarkecilnyamenurutberbagaicara, salahsatunyaadalahdenganbesarkecilnya
asset yang dimiliki. Ukuranperusahaandapatmenentukkanbesarkecilnya asset yang
dimilikiperusahaan, semakinbesar asset yang
dimilikisemakinmeningkatjugajumlahproduktifitas (ArdyansyahdanZulaikha, 2014)
Menurut Brigham & Houston (2010:4) ukuranperusahaanadalahsebagaiberikut :
“Ukuranperusahaanmerupakanukuranbesarkecilnyasebuahperusahaan yang
ditunjukanataudinilaioleh total asset, total penjualan, jumlahlaba, bebanpajakdan
lain-lain”.
Menurut Hartono (2008:14) ukuranperusahaan (firm size)
adalahsebagaiberikut :
“besarkecilnyaperusahaandapatdiukurdengan total aktiva/
besarhartaperusahaandenganmenggunakanperhitungannilailogaritma total aktiva”.
KemudianukuranperusahaanmenurutTorang (2012:93) adalah :
“Ukuranorganisasiadalahmenentukanjumlahanggota yang
berhubungandenganpemilihancarapengendaliankegiatandalamusahamencapaitujuan”
.
Menurut Butar dan Sudarsi (2012) pengertian ukuran perusahaan adalah
sebagai berikut:
“Ukuran perusahaan merupakan nilai yang menunjukkan besar/kecilnya
perusahaan.”
Ukuran perusahaan menunjukkan besarnya skala perusahaan. Ukuran
perusahaan dapat diukur oleh total aktiva (asset) perusahaan (Machfoedz:1994
dalam Widaryanti, 2009). Aktiva menurut Kieso (2011:192) adalah sebagai berikut:
“asset is a resource controlled by the as a result of past events and from
which future economic benefit are expected to flow to the entity.”
Pernyataan tersebut menjelaskan bahwa aktiva adalah sumber daya
dikendalikan oleh suatu perusahaan sebagai akibat peristiwa masa lalu dan
diharapkan akan mendapat manfaat ekonomi masa depan untuk perusahaan.
Menurut Bambang Riyanto (2008:313) pengertian ukuran perusahaan adalah
sebagai berikut:
“Besar kecilnya perusahaan dilihat dari besarnya nilai equity, nilai penjualan
atau nilai aktiva.”
Menurut Machfoedz (1994) dalam Widaryanti (2009) menyatakan
bahwa:
“Ukuran perusahaan adalah suatu skala dimana dapat diklasifikasikan besar
kecil perusahaan menurut berbagai cara (total aktiva, log size, nilai pasar saham,
dan lain-lain). Pada dasarnya ukuran perusahaan hanya terbagi dalam 3 kategori
yaitu perusahaan besar (large firm), perusahaan menengah (medium-size) dan
perusahaan kecil (small firm. Penentuan ukuran perusahaan ini didasarkan kepada
total asset
perusahaan.”
Selanjutnya ukuran perusahaan menurut Agus Sartono (2010:249)
didefinisikan sebagai berikut:
“Perusahaan besar yang sudah well estabilished akan lebih mudah
memperoleh modal di pasar modal disbanding dengan perusahaan kecil. Karena
kemudahan akses tersebut berarti perusahaan besar memiliki fleksibilitas yang lebih
besar”
2.1.1.2.Klasifikasi Ukuran Perusahaan
UU No. 20 Tahun 2008 mengklasifikasikan ukuran perusahaan ke dalam 4
kategori yaitu usaha mikro, usaha kecil, usaha menengah, dan usaha besar.
Pengklasifikasian ukuran perusahaan tersebut didasarkan pada total Asset yang
dimiliki dan total penjualan tahunan perusahaan tersebut.
UU No. 20 Tahun 2008 pasal 1 tersebut mendefinisikan usaha mikro, usaha
kecil, usaha menengah, dan usaha besar sebagai berikut:
“Dalam undang-undang ini yang dimaksud dengan:
1.Usaha mikro adalah usaha produktif milik orang perorang dan badan usaha
perorang yang memiliki kriteria usaha mikro sebagaimana diatur dalam undang-
undang ini.
2.Usaha kecil adalah usaha ekonomi produktif yang berdiri sendiri yang dilakukan
oleh orang perorang atau badan usaha yang bukan merupakan anak perusahaan
atau bukan cabang perusahaan yang dimiliki, dikuasai, atau menjadi bagian baik
langsung maupun tidak langsung dari usaha menengah atau usaha besar yang
memenuhi kriteria usaha kecil sebagaimana dimaksud dalam undang-undang ini.
3.Usaha menengah adalah usaha ekonomi produktif yang berdiri sendiri, yang
dilakukan oleh orang perorang atau badan usaha yang bukan merupakan anak
perusahaan atau cabang perusahaan yang dimiliki, dikuasai, atau menjadi bagian
baik langsung
maupun tidak langsung dengan usaha kecil atau usaha besar dengan jumlah
kekayaan bersih atau hasil penjualan tahunan sebagaimana diatur dalam undang-
undang ini.
4.Usaha besaradalah usaha ekonomi produktif yang dilakukan oleh badan usaha
dengan jumlah kekayaan bersih atau hasil penjualan tahunan lebih besar dari usaha
menengah, yang meliputi usaha nasional milik negara atau swasta, usaha patungan,
dan usaha asing yang melakukan kegiatan ekonomi di Indonesia.”
Mengacu pada undang-undang nomor 20 tahun 2008 pasal 6, kriteria usaha
kecil/ukuran perusahaan kecil dilihat dari segi keuangan dalam modal yang
dimilikinya adalah:
(1)“Kriteria Usaha Makro adalah sebagai berikut :
a) Memiliki kekayaan bersih paling banyak Rp50.000.000,-(lima puluh juta rupiah)
tidak termasuk tanah dan bangunan tempat usaha; atau
b)Memiliki hasil penjualan tahunan paling banyak Rp 300.000.000,-(tiga ratus juta
rupiah).
(2)Kriteria Usaha Kecil adalah sebagai berikut:
a)Memiliki kekayaan bersih lebih dari Rp50.000.000,-(lima puluh juta rupiah) sampai
dengan paling banyak Rp500.000.000,-(lima ratus juta rupiah) tidak termasuk tanah
dan bangunan tempat usaha; atau
b)Memiliki hasil penjualan tahunan lebih dari Rp300.000.000,-(tiga ratus juta rupiah)
sampai dengan paling banyak Rp2.500.000.000,-(dua milyar lima ratus juta rupiah).
(3)Kriteria Usaha Menengah adalah sebagai berikut:
a)Memiliki kekayaan bersih lebih dari Rp500.000.000,-(lima ratus juta rupiah)
sampai dengan paling banyak Rp10.000.000.000,-(sepuluh milyar rupiah) tidak
termasuk tanah dan bangunan tempat usaha; atau
b)Memiliki hasil penjualan tahunan lebih dari Rp2.500.000.000,-(dua milyar lima
ratus juta rupiah) sampai dengan paling banyak Rp50.000.000.000,-(lima puluh
milyar rupiah).
(4)Kriteria Usaha Besar adalah sebagai berikut:
a)Memiliki kekayaan bersih lebih dari Rp10.000.000.000,-(sepuluh milyar rupiah)
tidak termasuk tanah dan bangunan tempat usaha; atau
b)Memiliki hasil penjualan tahunan lebih dari Rp50.000.000.000,-(lima puluh milyar
rupiah).”
Dari pengungkapan kriteria pengklasifikasian ukuran perusahaan diatas dapat
disimpulkan bahwa ukuran perusahaan adalah sesuatu yang dapat mengukur atau
menentukan nilai dari besar atau kecilnya perusahaan melalui batas asset dan omset
penjualan yang dimiliki sebuah perusahaan.
2.1.1.3.Metode Pengukuran
Untuk melakukan pengukuran terhadap ukuran perusahaan Prasetyantoko
(2008:257) mengemukakan bahwa:
“Aset total dapat menggambarkan ukuran perusahaan, semakin besar asset
biasanya perusahaan tersebut semakin besar.”
Menurut Jogiyanto Hartono (2013:282) menyatakan bahwa:
“Ukuran aktiva digunakan untuk mengukur besarnya perusahaan, ukuran
aktiva tersebut diukur sebagai logaritma dari total aktiva.”
Menurut Machfoedz (1994) dalam Widaryanti (2009) menyatakan bahwa:
“Ukuran perusahaan adalah suatu skala dimana dapat diklasifikasikan besar
kecil perusahaan menurut berbagai cara (total aktiva, log size, nilai pasar saham,
dan lain-lain).”
Ukuran perusahaan = Log Total Aktiva
(Machfoedz :1994 dalam Widaryanti, 2009)
Dalam penelitian ini ukuran perusahaan diukur dengan menggunakan log
total aktiva karena untuk memudahkan penelitian disebabkan oleh jumlah total
aktiva perusahaan mencapai puluhan triliyun sedangkan variabel dependen maupun
independen menggunakan skala pengukuran rasio oleh sebab itu, ukuran
perusahaan diukur menggunakan log total aktiva (Ln_Total Aktiva).
Likuiditas
Pengertian Likuiditas
Tujuan perusahaan jangka pendek umumnya adalah mencapai laba maksimal
dan berkesinambungan, agar perusahaan bisa tetap tumbuh dan tetap beroperasi.
Tujuan jangka panjangnya adalah memaksimalkan nilai perusahaan sehingga dapat
meningkatkan keuntungan perusahaan dan para pemegang saham lainnya. Dalam
memalksimalkan nilai ini, keseimbangan antara anggaran kas dengan likuiditas
senantiasa diperhatikan.
Likuiditas merupakan kemampuan perusahaan dalam memenuhi
kewajibannya yang akan segera jatuh tempo sedang...
Menurut Syafrida Hani (2015:121), rasio likuiditas adalah kemampuan suatu
perusahaan dalam memenuhi kewajiban-kewajiban keuangan yang segera dapat
dicairkan atau yang sudah jatuh tempo. Secara spesifik likuiditas mencerminkan
ketersediaan dana yang dimiliki perusahaan guna memenuhi hutang yang akan jatuh
tempo
Menurut fahmi (2017:121) likuiditas yakni kemampuan suatu perusahaan
dalam memenuhi kewajiban jangka pendeknya secara tepat waktu. Rasio ini penting
karena kegagalan dalam membayar kewajiban dapat menyebabkan kebangkrutan
perusahaan
Menurut Munawir (2016:70) rasio likuiditas yaitu rasio yang menunjukkan
kemampuan perusahaan dalam memenuhi kewajiban jangka pendeknya, termasuk
bagian dari kewajiban jangka panjang
Pengertian Rasio Likuiditas Menurut Arief dan Edi (2016:57)“Rasio likuiditas adalah
rasio yang bertujuan untuk mengukur kemampuan perusahaan dalam memenuhi
kewajiban jangka pendeknya. Menurut periansya (2015:37) “Rasio likuiditas adalah
rasio yang digunakan untuk memenuhi kwajiban finansial jangka pendek”
Menurut Kasmir (2016:128), Rasio likuiditas adalah rasio yang menunjukkan
kemampuan perusahaan dalam membayar utang-utang jangka pendeknnya yang
jatuh tempo atau rasio untuk mengetahui kemampuan perusahaan dalam
membiayai dan memenuhi kewajiban pada saat ditagih.
Menurut Kasmir (2014:110) rasiolikuiditasmerupakanrasio yang
menggambarkankemampuanperusahaanmemenuhikewajiban (utang) jangkapendek.
Artinyaapabilaperusahaanditagih, makaakanmampuuntukmemenuhiutang
(membayar) tersebutterutamautang yang sudahjatuh tempo
Maka dari itu, rasio likuiditas merupakan kemampuan perusahaan dalam
memenuhi kewajiban jangka pendeknya perusahaan. Perusahaan yang mampu
memenuhi kewajiban keuangannya tepat pada waktunya berarti perusahaan
tersebut dalam keadaan likuid, dan perusahaan dikatakan mampu memenuhi
kewajiban keuangan tepat pada waktunya apabila perusahaan tersebut mempunyai
alat pembayaran atau aktiva lancar yang lebih besar daripada hutang lancarnya atau
hutang jangka pendek. Sebaliknya jika perusahaan tidak dapat segera memenuhi
kewajibankeuangannya pada saat ditagih, berarti perusahaan tersebut dalam
keadaan illikuid.
Tujuan dari rasio likuiditas adalah untuk melihat kemampuan perusahaan
untuk
memenuhi kewajiban jangka pendek. Semakin tinggi angka tersebut, maka akan
semakin baik. Rasio yang digunakan dalam menghitung tingkat likuiditas suatu
perusahaan dalam penelitian ini adalah :
a.Rasio Lancar (Current Ratio)
Menurut Kasmir (2016:134) (2014:111) “Rasio Lancar atau current ratio merupakan
rasio untuk mengukur kemampuan perusahaan dalam membayar kewajiban jangka
pendek atau utang yang segera jatuh tempo pada saat dirtagih secara keseluruhan.”
Dalam praktiknya seringkali dipakai bahwa rasio lancar dengan standar 200% (2:1)
yang terkadang sudah dianggap sebagai ukuran yang cukup baik atau memuaskan
bagi suatu perusahaan. Dengan kata lain, seberapa banyak aktiva lancar yang
tersedia untuk menutupi kewajiban jangka pendek yang segera jatuh Tempo.
Perhitungan rasio lancar dilakukan dengan cara membandingkan antara total
aktiva lancar dengan total utang lancar. Rumus untuk mencari rasio lancar atau
current ratio adalah sebagai berikut:
CR= (Aktiva Lancar / Hutang Lancar) x 100%
Kasmir (2014:119)
Dari hasil pengukuran rasio, apabila rasio lancar rendah, dapat dikatakan bahwa
perusahaan kurang modal untuk membayar utang. Namun, apabila hasil rasio tinggi,
belum tentu perusahaan dalam kondisi baik. Bisa saja hal ini terjadi karena kas tidak
digunakan dengan sebaik mungkin.
Likuiditas merupakan kemampuan perusahaan dalam melunasi kewajiban
jangka pendeknya yang telah jatuh tempo. Rasio likuiditas merupakan indikator
yang baik apakah perusahaan memiliki masalah dalam pengelolaan arus kas atau
tidak. Ukuran yang sering digunakan diantaranya:
2.1.3.2 Dewan Komisaris
Menurut UU Nomor 40 Tahun 2007 tentang Perseroan Terbatas, Dewan Komisaris
adalah organ dalam perusahaan yang bertugas untuk melakukan pengawasan
secara umum dan/atau khusus sesuai dengan anggaran dasar perusahaan serta
memberikan nasihat atau arahan kepada Direksi. Di dalam pasal 108 ayat (5)
menyebutkan bahwa Dewan Komisaris setidaknya terdiri atas 2 (dua) orang atau
lebih anggota. Anggota dari Dewan Komisaris ini diangkat oleh Rapat Umum
Pemegang Saham (RUPS) untuk jangka waktu tertentu dan dapat diangkat kembali.
Setiap anggota Dewan Komisaris wajib untuk beritikad baik, berhati - hati, dan
bertanggung jawab dalam menjalankan tugasnya demi kepentingan perusahaan.
Setiap anggota Dewan Komisaris ikut bertanggung jawab secara pribadi atas
kerugian perusahaan apabila terbukti bersalah atau lalai dalam menjalankan
tugasnya.
Dewan Komisaris memiliki peran penting dalam kaitannya controlling implementasi
strategi yang ditetapkan oleh Dewan Direksi. Dewan Komisaris bertanggung jawab
secara penuh untuk mengawasi dan memantau segala tindakan yang dilakukan oleh
Direksi, serta memberikan nasihat jika dipandang perlu. Komposisi dari Dewan
Direksi harus memungkinkan dalam pengambilan keputusan yang efektif, tepat dan
cepat, serta independen. Artinya bahwa Dewan Komisaris tidak diperbolehkan untuk
menekan kemampuannya dalam bertindak kritis terhadap Dewan Direksi
dikarenakan beberapa faktor yang kemungkinan dapat mengganggu kerja Dewan
Komisaris dan dapat mengurangi objektivitasnya (Triwahyuningtias, 2012)
Dewan Komisaris adalah sebuah dewan yang bertugas untuk melakukan
pengawasan dan memberikan nasihat kepada direktur Perseroan terbatas (PT)
(wikipedia.org:2017)
Komite Audit
Menurut Komite Nasional Kebijakan Governance (KNKG, 2006), Komite Audit
merupakan suatu komite yang beranggotakan oleh 1 (satu) atau lebih anggota
Dewan Komisaris dan dapat meminta kalangan luar dengan berbagai keahlian,
pengalaman, dan kualitas lain yang dibutuhkan untuk mencapai tujuan Komite Audit.
Komite Audit dibentuk oleh Dewan Komisaris bertujuan untuk membantu kinerja dan
fungsi dari Dewan Komisaris. Komite yang dibentuk oleh Dewan Komisaris antara
lain Komite Audit, Komite Kebijakan Risiko, Komite Remunerasi dan Nominasi, serta
Komite Kebijakan Corporate Governance. Namun, berdasarkan peraturan Bapepam
Nomor KEP-339/BEJ/2001, yang wajib dimiliki oleh perusahaan yang terdaftar di BEI
hanya Komite Audit.
Tugas dan tanggung jawab Komite Audit berdasarkan pada Keputusan Ketua
Bapepam dan LK Nomor KEP-643/BL/2012 antara lain:
a. Melakukan penelaahan atas informasi keuangan yang akan dikeluarkan Emiten
atau Perusahaan Publik kepada dan/atau pihak otoritas antara lain laporan
keuangan, proyeksi, dan laporan lainnya terkait dengan informasi keuangan Emiten
atau Perusahaan Publik;
b. Melakukan penelaahan atas ketaatan terhadap peraturan perundang - undangan
yang berhubungan dengan kegiatan Emiten atau Perusahaan Publik;
c. Memberikan pendapat independen dalam hal terjadi perbedaan pendapat antara
manajemen dan Akuntan atas jasa yang diberikannya;
d. emberikan rekomendasi kepada Dewan Komisaris mengenai penunjukan Akuntan
independen, ruang lingkup penugasan, dan fee;
e. Melakukan penelaahan atas pelaksanaan pemeriksaan oleh auditor internal dan
mengawasi pelaksanaan tindak lanjut oleh Direksi atas temuan auditor internal;
f. Melakukan penelaahan terhadap aktivitas pelaksanaan manajemen risiko yang
dilakukan oleh Direksi, jika Emiten atau Perusahaan Publik tidak memiliki fungsi
pemantau risiko di bawah Dewan Komisaris;
g. Menelaah pengaduan yang berkaitan dengan proses akuntansi dan pelaporan
keuangan Emiten atau Perusahaan Publik;
h. Menelaah dan memberikan saran kepada Dewan Komisaris terkait dengan adanya
potensi benturan kepentingan Emiten atau Perusahaan Publik; dan
i. Menjaga kerahasiaan dokumen, data dan informasi Emiten atau Perusahaan
Publik.
Di Indonesia, keanggotaan Komite Audit yang dimiliki oleh perusahaan sedikitnya
terdiri dari 3 (tiga) orang, diketuai oleh Komisaris Independen perusahaan dengan 2
(dua) orang eksternal independen terhadap perusahaan, serta setidaknya salah
satunya menguasai bidang akuntansi dan keuangan. Jumlah anggota Komite Audit
ini dimaksudkan agar Komite Audit dapat melakukan rapat dan bertukar pendapat
satu sama lain karena tiap anggota Komite Audit memiliki pengalaman tata kelola
perusahaan dan pengetahuan keuangan yang berbeda (Nuresa dan Hadiprajitno,
2013).
2.2.2 Likuditas dan Financial Distress
Likuiditas menunjukkan kemampuan perusahaan dalam mendanai operasional
perusahaan dan melunasi kewajiban jangka pendek perusahaan. Indikator keuangan
yang digunakan dalam rasio likuiditas penelitian ini adalah Current Ratio (CR) yang
merupakan rasio untuk mengukur kemampuan perusahaan dalam memenuhi
kewajiban finansial jangka pendeknya dengan menggunakan aktiva lancarnya. Rasio
ini dapat dirasakan langsung oleh kreditur sebagai pemberi pinjaman, dimana
kreditur dapat secara langsung memantau kegiatan operasional yang ada dalam
perusahaan. Menurut Ardiyanto (2011) dalam Agusti (2013), perusahaan setidaknya
memiliki aktiva lancar 2 (dua) kali 41
lebih besar daripada kewajiban jangka pendeknya, sehingga apabila dibutuhkan
dana untuk menutup kewajiban lancarnya sewaktu - waktu perusahaan dapat
menyediakan dana tersebut dengan cepat.
Likuiditas dengan proksi CR yang positif dapat menunjukkan bahwa kemampuan
perusahaan dalam memenuhi kewajiban finansial jangka pendeknya dengan
menggunakan aktiva lancarnya terpantau baik, sehingga perusahaan dapat
melakukan pelunasan terhadap seluruh kewajiban jangka pendeknya kepada
kreditur dengan menggunakan aktiva lancarnya. Sebaliknya, CR yang negatif
menunjukkan bahwa perusahaan tidak mampu memenuhi kewajiban finansial jangka
pendeknya dengan menggunakan aktiva lancar yang dimiliki perusahaan, sehingga
perusahaan mengalami kesulitan dalam melunasi seluruh kewajiban jangka
pendeknya yang tertagih kepada kreditur. Kondisi ini dapat memperbesar
kemungkinan perusahaan akan memunculkan hutang baru untuk dapat menutup
kewajiban lancar yang telah jatuh tempo.
Berdasarkan pada penelitian yang telah dilakukan oleh Elloumi dan Gueyié (2001);
Jiming dan Weiwei (2011); serta Ellen dan Juniarti (2013) menunjukkan bahwa CR
mempunyai pengaruh negatif dan signifikan terhadap financial distress. Oleh karena
itu hal ini menunjukkan bahwa semakin tinggi kemampuan perusahaan dalam
memenuhi kewajiban finansial jangka pendeknya, maka semakin kecil terjadinya
financial distress pada perusahaan. Hal ini dikarenakan perusahaan memiliki jumlah
aktiva lancar yang mencukupi untuk melunasi seluruh kewajiban finansial jangka
pendeknya kepada kreditur, sehingga perusahaan dikategorikan liquid. Dilihat dari
sudut pandang kreditur, perusahaan 42
yang memiliki kemampuan dalam melunasi hutang jatuh temponya dengan
menggunakan aktiva lancarnya ini dapat meningkatkan kepercayaan kreditur dan
dijadikan sebagai dasar pertimbangan untuk memberikan pinjaman kembali di masa
mendatang. Kepercayaan dari pihak kreditur disini juga mampu menjadi pemicu
suksesnya sebuah perusahaan di masa mendatang karena perusahaan tetap dapat
menjaga eksistensinya.
Berbeda halnya apabila CR dalam sebuah perusahaan diketahui rendah, dimana
jumlah aktiva lancar perusahaan tidak mencukupi untuk melunasi kewajiban finansial
jangka pendek perusahaan terhadap kreditur atau perusahaan dikategorikan sebagai
perusahaan iliquid. Akibatnya, perusahaan harus memunculkan hutang baru untuk
menutup hutang yang sudah jatuh tempo. Apabila terjadi terus menerus, maka
perusahaan akan rentan mengalami financial distress karena jumlah hutang yang
tidak ada ujungnya. Apabila ditinjau dari sudut pandang kreditur, maka ada
kekhawatiran tersendiri dari pihak kreditur mengenai kemungkinan timbulnya hutang
tak tertagih. Selain itu terjadi krisis kepercayaan kepada perusahaan, sehingga
memungkinkan pihak kreditur tidak akan memberikan pinjaman di masa mendatang.
Penelitian ini diperkuat pula oleh penelitian dari Istiantoro (2015); Shahwan (2015);
serta Yayanti dan Yanti (2015) yang menunjukkan hasil sama bahwa CR
berpengaruh signifikan negatif terhadap kondisi financial distress.
Berdasarkan argumen diatas, dapat dirumuskan hipotesis sebagai berikut:
H2: Likuiditas berpengaruh negatif terhadap financial distress
2.2.5 Ukuran Dewan Komisaris dan Financial Distress
Dewan Komisaris sebagai organ perusahaan yang menjalankan fungsi monitoring
dari implementasi kebijakan Direksi berperan penting dalam meminimalisir masalah
keagenan yang terjadi antara agen dan principal. Oleh sebab itu, Dewan Komisaris
perlu melakukan pengawasan dan pemantauan terhadap kinerja dari Dewan Direksi
secara independen agar pencapaiannya sesuai dengan kepentingan pemegang
saham dan terutama dapat selaras dengan tujuan utama dari perusahaan (Hadi,
2014).
Menurut penelitian yang dilakukan oleh Wardhani (2006) menunjukkan bahwa besar
kecilnya jumlah Dewan Komisaris akan mempengaruhi fungsi monitoring yang
dijalankan oleh perusahaan. Kecilnya jumlah Dewan Komisaris sebuah perusahaan
mengindikasikan bahwa fungsi monitoring yang dijalankan dalam perusahaan
tersebut relatif lebih lemah, dibandingkan dengan perusahaan yang tidak mengalami
tekanan keuangan. Hal ini membuktikan bahwa semakin tinggi ukuran Dewan
Komisaris sebuah perusahaan, maka semakin rendah kemungkinan terjadinya
financial distress pada perusahaan tersebut. Namun situasi yang berbeda apabila
ukuran Dewan Komisaris dalam sebuah perusahaan cenderung lebih rendah dimana
menunjukkan kurangnya pengawasan untuk Dewan Direksi, sehingga dapat memicu
terjadinya kesalahan dalam pengambilan 47
keputusan yang berujung pada terjadinya masalah perekonomian pada perusahaan.
Penelitian ini diperkuat pula oleh penelitian yang dilakukan oleh Platt dan Platt
(2012); Triwahyuningtias (2012); Brédart (2014); Hadi (2014); Manzaneque et al
(2016); serta Setiawan et al (2016) yang menunjukkan hasil sama.
Berdasarkan argumen diatas, dapat dirumuskan hipotesis sebagai berikut:
H5: Dewan Komisaris berpengaruh negatif terhadap financial distress
2.2.6 Komite Audit dan Financial Distress
Berdasarkan pada Pedoman Umum Good Corporate Governance Indonesia (KNKG,
2006), pembentukan komite audit perlu menyesuaikan antara jumlah anggota
Komite Audit dengan kompleksitas perusahaan dengan tetap memperhatikan
efektifitas pengambilan keputusan. Anggota Komite Audit yang dimiliki oleh
perusahaan sedikitnya terdiri dari 3 (tiga) orang, diketuai oleh Komisaris Independen
dan anggotanya dapat terdiri dari Komisaris dan/atau pelaku profesi dari luar
perusahaan dimana salah satu anggotanya harus mempunyai latar belakang dan
kemampuan dalam bidang akuntansi dan/atau keuangan.
Pengendalian internal perusahaan melalui keberadaan Komite Audit sebagai salah
satu dari mekanisme corporate governance kurang efektif untuk meningkatkan
pengawasan dan pengendalian masalah keagenan. Faktor kualitatif lainnya seperti
tingkat komitmen anggota Komite Audit, kualitas diskusi selama pertemuan, dan
lingkungan kerja organisasi memiliki pengaruh yang besar 48
terhadap kinerja Komite Audit sehingga dapat meningkatkan kemampuan dalam
menghindari kondisi financial distress (Niarachma, 2012).
Berdasarkan pada penelitian Li et al (2008); Lakshan dan Wijekoon (2012); serta
penelitian Platt dan Platt (2012) menyebutkan bahwa ukuran Komite Audit memiliki
pengaruh negatif terhadap financial distress. Hal ini menunjukkan bahwa semakin
tinggi ukuran Komite Audit sebuah perusahaan, maka semakin rendah kemungkinan
terjadinya financial distress pada perusahaan tersebut. Hal ini dikarenakan efektifitas
Komite Audit mengalami peningkatan pada saat jumlah dari sumber daya Komite
Auditnya lebih, sehingga Komite Audit diharapkan semakin handal dalam
menyelesaikan berbagai masalah keagenan yang mungkin dihadapi oleh
perusahaan. Selain itu, efektifitas Komite Audit diharapkan mampu meningkatkan
perolehan keuntungan perusahaan dengan penetapan kebijakan - kebijakan terbaru.
Namun apabila kondisi ukuran Komite Audit dalam sebuah perusahaan rendah, maka
dapat menunjukkan tingkat efektifitas Komite Audit juga cenderung rendah. Kondisi
ini disebabkan karena sumber daya perusahaan yang tidak memadahi untuk
menghadapi situasi menyulitkan di masa mendatang. Terlebih saat antar Komite
Audit tidak melakukan pertukaran pendapat dalam menyikapi suatu permasalahan,
sehingga pendapat Komite Audit justru menimbulkan kerugian bagi perusahaan yang
berujung pada terjadinya financial distress.
Berdasarkan argumen diatas, dapat dirumuskan hipotesis sebagai berikut:
H6: Ukuran Komite Audit berpengaruh negatif terhadap financial distress
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Landasan Teori
Berikut ini adalah beberapa landasan teori yang berkaitan dengan variabel
yang akan di teliti, yaitu pengaruh likuiditas, ukuran perusahaan, komite audit dan
dewan komisaris terhadap financial distress.
2.1.1 Teori Sinyal
Teori sinyal(signal theory) adalah teori yang mengungkapan bahwa pihak
perusahaan memberikan sinyal kepada pengguna laporan keuangan. Signaling
theory merupakan suatu perilaku manajemen perusahaan dalam memberi petunjuk
untuk investor terkait pandangan manajemen pada prospek perusahaan untuk masa
mendatang (Brigham dan Hosuton (2014:184)). Teori sinyal menjelaskan
manajemen perusahaan bertindak sebagai agen, memiliki dorongan untuk
memberikan informasi laporan keuangan kepada pihak eksternal (Sudana, 2014).
Informasi yang paling dinanti pihak eksternal biasanya yang berupa good news.
Disebutkan dalam kerangka teori sinyal bahwa keinginan perusahaan untuk
memberikan informasi dikarenakan terdapat asimetri informasi antara manajer
perusahaan dan pihak eksternal, hal ini disebabkan karena manajer perusahaan
lebih banyak mengetahui informasi mengenai perusahaan dan prospek yang akan
datang daripada pihak eksternal (Wolk et al,2013). Perusahaan dapat menambah
nilai perusahaan dengan mengurangi asimetri informasi tersebut. Salahsatu cara
untuk mengurangi asimetri informasi adalah dengan memberikan sinyal pada pihak
eksternal, berupa informasi keuangan yang positif dan dapat dipercaya sehingga
dapat mengurangi ketidakpastian mengenai prospek perusahaan yang akan datang
dan dapat meningkatkan kredibilitas dan kesuksesan perusahaan (Wolk et al., 2013).
Pada teori sinyal ini merupakan asumsi dari informasi yang diterima oleh
pihak-pihak yang berkepentingan tidak sama. Teori sinyal juga dapat
mengungkapkan laporan keuangan dari bagaimana perusahaan memberikan sinyal-
sinyal tersebut. Menurut Hendrianto (2012:63) teori sinyal dalam topik financial
distress menjelaskan bahwa jika kondisi keuangan dan prospek perusahaan baik,
manajer memberi sinyal dengan menyelenggarakan akuntansi liberal.
Menurut Viggo (2014) teori sinyal menunjukkan tindakan yang diambil oleh
manajemen perusahaan untuk memberikan petunjuk kepada invesor tentang
bagaimana manajemen menilai prospek perusahaan tersebut. Perusahaan yang
mengalami bad news dapat menunjukkan bahwa hal tersebut merupakan sinyal
yang buruk bagi investor untuk dapat menanamkan modalnya. Sebaliknya dengan
perusahaan yang mengalami good news akan menjadikan sinyal yang baik bagi
investor agar dapat menanamkan modalnya di perusahaan tersebut. Informasi
perusahaan yang dikeluarkan oleh perusahaan salah satunya adalah laporan
keuangan.
Informasi yang dipublikasikan sebagai suatu pengumuman akan memberikan
sinyal bagi investor dalam pengambilan keputusan investasi. Jika pengumuman
tersebut mengandung nilai positif, maka diharapkan pasar akan bereaksi pada waktu
pengumuman tersebut diterima oleh pasar. Pada waktu informasi diumumkan dan
semua pelaku pasar sudah menerima informasi tersebut, pelaku pasar terlebih
dahulu menginterpretasikan dan menganalisis informasi tersebut sebagai signal baik
(good news) atau signal buruk (bad news)(Jogiyanto,2010:392).
Jika pengumuman tersebut mengandung nilai positif, maka diharapkan pasar
akan bereaksi pada waktu pengumuman tersebut diterima oleh pasar. Salah satu
jenis informasi yang dikeluarkan oleh perusahaan yang dapat menjadi signal bagi
pihak di luar perusahaan, terutama bagi pihak investor adalah laporan tahunan.
Informasi yang diungkapkan dalam laporan tahunan dapat berupa informasi
mengenai laporan keuangan dan informasi non-akuntansi yaitu informasi yang tidak
berkaitan dengan laporan keuangan salah satunya yaitu informasi mengenai
corporate governance yang diungkapkan perusahaan(Jogiyanto, 2010:392).
2.1 Teori Keagenan
Teori agensi (agency theory) adalah teori dasar yang di gunakan dalam hal
untuk lebih memahami konsep corporate governance, dampak yang dapat terjadi
dari teori agensi ini dapat memberikan pengaruh terhadap hubungan agent dengan
principal. Teori keagenan dapat terjadi karena terdapat sebuah kontrak antara
manager (agent) dengan pemilik (principal). Manager (agent) berkewajiban untuk
memberikan informasi kepada pemilik (principal). Namun terkadang, manager tidak
memberikan informasi sesuai dengan keadaan yang sebenarnya. Disinilah muncul
masalah yaitu hanya ada satu pihak saja yang akan memiliki informasi yang lebih
banyak dan lebih baik dibandingkan pihak lainnya biasanya hal ini disebut sebagai
asimetri informasi. (Hidayat dan Meiranto, 2014).
Teori keagenan (agency theory) menggambarkan mengenai praktik corporate
governance dan perilaku terhadap dilema keagenan, artinya bahwa teori tersebut
menjelaskan adanya hubungan kontrak antara principal (pemberi kontrak atau
pemegang saham) dengan agen (penerima kontrak atau Direksi). Direksi sebagai
penerima kontrak berusaha untuk memaksimalkan keuntungan pribadinya meskipun
harus merugikan pemegang saham sebagai pemberi kontrak, karena pada dasarnya
principal dan agen memiliki kepentingan masing - masing untuk memperbesar
keuntungan bagi dirinya sendiri hingga harus merelakan kepentingan dari pihak
lainnya (Tricker, 2015: 61).
Terdapat dua kendala yang muncul karena adanya asimetri informasi
tersebut, yang pertama yaitu adverse selection. Pada adverse selection, pihak yang
merasa memiliki informasi lebih sedikit dibandingkan pihak lain tidak bersedia untuk
melakukan suatu perjanjian dengan pihak lain dan apabila tetap melakukan suatu
perjanjian, pihak tersebut akan membatasi dalam kondisi yang sangat ketat dan
biaya yang sangat tinggi. Misalnya ketika manajer mencoba menyembunyikan,
menyamarkan, memanipulasi informasi yang diberikan kepada investor. Akibatnya,
investor tidak yakin terhadap kualitas perusahaan, atau membeli saham perusahaan
dengan harga sangat rendah. (dan mengakibatkan perusahaan kesulitan keuangan
(financial distress)
Permasalahan kedua yang dapat ditimbulkan adalah ketika manajer
melakukan kecurangan untuk mendapatkan keuntungan pribadinya dan berakibat
dapat merugikan pemilik biasanya dikenal sebagai moral hazard. Financial distress
dapat terjadi dikarenakan berbagai macam kesalahan dan kurang tepatnya
perusahaan dalam pengambil keputusan dan menyebabkan masalah dalam
kelemahan-kelemahan yang saling berhubungan secara langsung maupun tidak
langsung kepada manajemen serta tidak adanya atau kurangnya upaya dalam
mengawasi kondisi keuangan sehingga penggunaan uang tidak sesuai dengan
keperluan perusahaan (Brigham dan Daves, dalam Fachrudin, 2008).
Pengambilan keputusan yang biasa di ambil oleh manajer cenderung tidak
berdasarkan kepada kepentingan pemegang saham namun bertujuan untuk
memberikan keuntungan untuk dirinya sendiri. Oleh karena itu, pelaksanaan
corporate governance yang bertujuan untuk mengubah perilaku manajemen agar
dapat menciptakan nilai tambah bagi stakeholders sehingga dapat menurunkan
kemungkinan terjadinya adverse selection dan moral hazard.
Tujuan dibentuknya suatu dewan komisaris serta komite audit dalam
pelaksanaan corporate governance yaitu untuk mengatur serta mengendalikan
perusahaan agar mampu memperbaiki perilaku manajemen yang kurang baik seperti
tindakan adverse selection dan moral hazard sehingga perusahaan dapat terhindar
dari kondisi financial distress. Hal ini sesuai dengan UU Republik Indonesia No. 40
Tahun 2007 tentang Perseroan Terbatas Pasal 108 (1;2) yang menyebutkan bahwa
tugas dari dewan komisaris dan komite audit adalah untuk melakukan pengawasan
atas kebijakan pengurusan. Disamping itu perusahaan juga harus memiliki opini
yang baik dan kuat agar dapat digunakan sebagai dasar dalam melakukan
pengawasan terhadap kondisi perusahaan.
Laporan Keuangan
Pengertian Laporan Keuangan
Laporan keuangan merupakan hasil akhir dari proses pengumpulan dan
pengolahan data keuangan perusahaan dalam suatu periode akuntansi yang
memberikan gambaran tentang keadaan posisi keuangan, hasil usaha, serta
perubahan posisi keuangan suatu perusahaan atau entitas. Menurut Fahmi (2014:2)
laporan keuangan merupakan suatu informasi yang menggambarkan kondisi
keuangan suatu perusahaan, dan lebih jauh informasi tersebut dapat dijadikan
sebagai gambaran kinerja keuangan perusahaan tersebut
Menurut Wahyudiono (2014:10) adalah laporan pertanggungjawaban manajer
atau pimpinan perusahaan atas pengelolaan perusahaan yang dipercayakan
kepadanya kepada pihak-pihak luar perusahaan.
Menurut Kasmir (2015:7), laporan keuangan adalah laporan yang
menunjukkan kondisi keuangan perusahaan terkini atau dalam periode tertentu.
Kondisi perusahaan terkini adalah keadaan keuangan perusahaan pada tanggal
tertentu (untuk neraca) dan periode tertentu (untuk laporan laba rugi). Biasanya
laporan keuangan dibuat per periode, misalnya tiga bulan, atau enam bulan untuk
kepentingan internal perusahaan. Sementara itu, untuk laporan lebih luas dan
lengkap dilakukan setahun sekali
Menurut Munawir (2016:2) Laporan Keuangan pada dasarnya adalah hasil
dari proses akuntansi yang dapat digunakan sebagai alat ukur berkomunikasi antara
data keuangan atau aktivitas suatu perusahaan dengan pihak-pihak yang
berkepentingan dengan data atau aktivitas perusahaan
Menurut PSAK No.1 (2017:1.3) laporan keuangan adalah suatu penyajian
terstruktur dari posisi keuangan dan kinerja keuangan suatu entitas.
Tujuan Laporan Keuangan
Menurut Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan (PSAK) No. 1 (2017:1.3)
tujuan laporan keuangan adalah untuk memberikan informasi mengenai posisi
keuangan, kinerja keuangan, dan arus kas entitas yang bermanfaat bagi sebagian
besar pengunal laporan keuangan dalam pembuatan keputusan ekonomik
Menurut Kasmir (2017:10-11) tujuan laporan keuangan diantaranya terdiri
dari:
4. Menyediakan informasi yang menyangkut posisi keuangan, kinerja, serta
perubahan posisi keuangan suatu perusahaan yang bermanfaat bagi
sejumlah besar pemakai dalam pengambilan keputusan
5. Laporan keuangan yang disusun untuk memenuhi kebutuhan bersama
sebagian besar pengguna namun tidak menyediakan semua informasi
yang mungkin dibutuhkan karena secara umum menggambarkan
pengaruh keuangan dari kejadian masa lalu dan tidak diwajibkan untuk
menyediakan informasi non keuangan
6. Laporan keuangan juga menunjukkan pertanggungjawaban manajemen
atas penggunaan sumber daya yang dipercayakan kepada mereka
Pihak pengguna laporan Keuangan
Menurut Kasmir (2015:18-23), Laporan Keuangan disusun berdasarkan
berbagai tujuan. Salah satu tujuannya yaitu untuk memenuhi kepentingan
pemilik dan manajemen perusahaan dan memberikan informasi kepada
berbagai pihak yang berkepentingan terhadap perusahaan baik pihak
internal maupun pihak eksternal. Berikut ini penjelasan masing-masing
pihak yang berkepentingan terhadap laporan keuangan:
1. Pemilik
Pemilik pada saat ini adalah mereka yang memiliki usaha tersebut.
Kepentingan bagi para pemegang saham yang merupakan pemilik
perusahaan terhadap hasil laporan keuangan yang telah dibuat
adalah untuk melihat kondisi dan posisi perusahaan saat ini, untuk
melihat perkembangan dan kemajuan perusahan dalam suatu
periode, untuk menilai kinerja manajemen atas target yang telah
ditetapkan
2. Manajemen
Dengan laporan keuangan yang dibuat, manajemen dapat menilai
dan mengevaluasi kinerja mereka dalam suatu periode, apakah
telah mencapai target atau tujuan yang telah ditetapkan atau tidak.
Manajemen juga akan melihat kemampuan mereka
mengoptimalkan sumber daya yang dimiliki perusahaan yang ada
selama ini. Untuk melihat kekuatan dan kelemahan yang dimiliki
perusahaan saat ini sehingga dapat menjadi dasar pengambilan
keputusan dimasa yang akan datang
3. Kreditor
Kepentingan pihak kreditor terhadap laporan keuangan perusahaan
adalah dalam memberi pinjaman atau pinjaman yang telah berjalan
sebelumnya. Bagi pihak kreditor, prinsip kehati-hatian dalam
menyalurkan dana (pinjaman) kepada berbagai perusahaan sangat
diperlukan
4. Pemerintah
Untuk menilai kejujuran perusahaan dalam melaporkan seluruh
keuangan perusahaan yang sesungguhnya untuk mengetahui
kewajiban perusahaan terhadap negara dan hasil laporan keuangan
yang dilaporkan. Dari laporan ini akan terlihat jumlah pajak yang
harus dibayar kepada negara secara jujur dan sebenar-benarnya
5. Investor
Bagi investor yang ingin menanamkan dananya dalam suatu usaha
sebelum memutuskan untuk membeli saham, perlu
mempertimbangkan hal secara matang. Dasar pertimbangan
investor adalah dari laporan keuangan yang disajikan oleh
perusahaan yang akan diinvestasikannya. Dalam hal ini investor
akan melihat prospek usaha ini sekarang dan masa depan. Prospek
yang dimaksud adalah keuntungan yang akan diperoleh (devident
serta perkembangan nilai saham kedepan
Dari uraian diatas, tabel 2.1.4.1 dibawah ini merupakan
ringkasan matriks penegertian laporan keuangan:
Tabel ...
Matriks pengertian Laporan Keuangan
No Sumber Pengertian
1. Fahmi (2014:2) laporan keuangan merupakan
suatu informasi yang
menggambarkan kondisi
keuangan suatu perusahaan,
dan lebih jauh informasi tersebut
dapat dijadikan sebagai
gambaran kinerja keuangan
perusahaan tersebut
Wahyudiono (2014:10) Laporan keuangan adalah
laporan pertanggungjawaban
manajer atau pimpinan
perusahaan atas pengelolaan
perusahaan yang dipercayakan
kepadanya kepada pihak-pihak
luar perusahaan.
Kasmir (2015:7) laporan keuangan adalah
laporan yang menunjukkan
kondisi keuangan perusahaan
terkini atau dalam periode
tertentu. Kondisi perusahaan
terkini adalah keadaan keuangan
perusahaan pada tanggal
tertentu (untuk neraca) dan
periode tertentu (untuk laporan
laba rugi). Biasanya laporan
keuangan dibuat per periode,
misalnya tiga bulan, atau enam
bulan untuk kepentingan internal
perusahaan. Sementara itu,
untuk laporan lebih luas dan
lengkap dilakukan setahun sekali
Munawir (2016:2) Laporan Keuangan pada
dasarnya adalah hasil dari proses
akuntansi yang dapat digunakan
sebagai alat ukur berkomunikasi
antara data keuangan atau
aktivitas suatu perusahaan
dengan pihak-pihak yang
berkepentingan dengan data
atau aktivitas perusahaan
PSAK No.1 (2017:1.3) laporan keuangan adalah suatu
penyajian terstruktur dari posisi
keuangan dan kinerja keuangan
suatu entitas.
Likuiditas
Pengertian Likuiditas
Tujuan perusahaan jangka pendek umumnya adalah mencapai laba maksimal
dan berkesinambungan, agar perusahaan bisa tetap tumbuh dan tetap beroperasi.
Tujuan jangka panjangnya adalah memaksimalkan nilai perusahaan sehingga dapat
meningkatkan keuntungan perusahaan dan para pemegang saham lainnya. Dalam
memalksimalkan nilai ini, keseimbangan antara anggaran kas dengan likuiditas
senantiasa diperhatikan. Likuiditas berhubungan dengan kemampuan perusahaan
untuk memenuhi kewajiban-kewajiban finansialnya yang berjangka pendek
Perbandingan antara aktiva lancar dengan hutang lancar yang terdapat pada
neraca perusahaan pada periode tertentu akan menggambarkan tingkat likuiditas
suatu perusahaan pada periode tertentu. Sehingga dapat membantu manajer
perusahaan dalam mengukur tingkat kemampuan perusahaan untuk membayar
hutang-hutang jangka pendeknya kepada kreditur jangka pendek
Menurut Syafrida Hani (2015:121), rasio likuiditas adalah kemampuan suatu
perusahaan dalam memenuhi kewajiban-kewajiban keuangan yang segera dapat
dicairkan atau yang sudah jatuh tempo. Secara spesifik likuiditas mencerminkan
ketersediaan dana yang dimiliki perusahaan guna memenuhi hutang yang akan jatuh
tempo
Menurut Munawir (2016:70) rasio likuiditas yaitu rasio yang menunjukkan
kemampuan perusahaan dalam memenuhi kewajiban jangka pendeknya, termasuk
bagian dari kewajiban jangka panjang
Pengertian Rasio Likuiditas Menurut Arief dan Edi (2016:57) “Rasio likuiditas adalah
rasio yang bertujuan untuk mengukur kemampuan perusahaan dalam memenuhi
kewajiban jangka pendeknya.
Menurut Kasmir (2016:128), Rasio likuiditas adalah rasio yang menunjukkan
kemampuan perusahaan dalam membayar utang-utang jangka pendeknya yang
jatuh tempo atau rasio untuk mengetahui kemampuan perusahaan dalam
membiayai dan memenuhi kewajiban pada saat ditagih.
Menurut fahmi (2017:121) likuiditas yakni kemampuan suatu perusahaan
dalam memenuhi kewajiban jangka pendeknya secara tepat waktu. Rasio ini penting
karena kegagalan dalam membayar kewajiban dapat menyebabkan kebangkrutan
perusahaan
Maka dari itu, rasio likuiditas merupakan kemampuan perusahaan dalam
memenuhi kewajiban jangka pendeknya perusahaan. Perusahaan yang mampu
memenuhi kewajiban keuangannya tepat pada waktunya berarti perusahaan
tersebut dalam keadaan likuid, dan perusahaan dikatakan mampu memenuhi
kewajiban keuangan tepat pada waktunya apabila perusahaan tersebut mempunyai
alat pembayaran atau aktiva lancar yang lebih besar daripada hutang lancarnya atau
hutang jangka pendek. Sebaliknya jika perusahaan tidak dapat segera memenuhi
kewajibankeuangannya pada saat ditagih, berarti perusahaan tersebut dalam
keadaan illikuid.
Tujuan dari rasio likuiditas adalah untuk melihat kemampuan perusahaan
untuk memenuhi kewajiban jangka pendek. Semakin tinggi angka tersebut, maka
akan semakin baik. Rasio yang digunakan dalam menghitung tingkat likuiditas suatu
perusahaan dalam penelitian ini adalah :
a. Rasio Lancar (Current Ratio)
Menurut Kasmir (2016:134) “Rasio Lancar atau current ratio merupakan rasio
untuk mengukur kemampuan perusahaan dalam membayar kewajiban jangka
pendek atau utang yang segera jatuh tempo pada saat dirtagih secara keseluruhan.
Dalam praktiknya seringkali dipakai bahwa rasio lancar dengan standar 200% (2:1)
yang terkadang sudah dianggap sebagai ukuran yang cukup baik atau memuaskan
bagi suatu perusahaan. Dengan kata lain, seberapa banyak aktiva lancar yang
tersedia untuk menutupi kewajiban jangka pendek yang segera jatuhTempo.
Perhitungan rasio lancar dilakukan dengan cara membandingkan antara total
aktiva lancar dengan total utang lancar. Aktiva lancar dapat berupa kas, bank, surat
berharga, wesel, utang jangka pendek, dan utang jangka panjang yang telah jatuh
tempo. Sedangkan hutang lancar sendiri dapat berupa utang dagang, utang wesel,
utang jangka pendek, utang jangka panjang yang telah jatu tempo.
Rumus untuk mencari rasio lancar atau current ratio adalah sebagai berikut:
𝐶𝑢𝑟𝑟𝑒𝑛𝑡 𝐴𝑠𝑠𝑒𝑡𝑠
𝐶𝑢𝑟𝑟𝑒𝑛𝑡 𝑅𝑎𝑡𝑖𝑜 = 𝑥 100%
𝐶𝑢𝑟𝑟𝑒𝑛𝑡 𝐿𝑖𝑎𝑏𝑖𝑙𝑖𝑡𝑦
Sumber: Kasmir (2014:119)
Dari uraian diatas, tabel 2.1.4.1 dibawah ini merupakan ringkasan matriks
pengertian likuiditas:
Tabel ...
Matriks pengertian Laporan Keuangan
No Sumber Pengertian
Syafrida Hani rasio likuiditas adalah kemampuan suatu perusahaan
(2015:121) dalam memenuhi kewajiban-kewajiban keuangan yang
segera dapat dicairkan atau yang sudah jatuh tempo.
Secara spesifik likuiditas mencerminkan ketersediaan
dana yang dimiliki perusahaan guna memenuhi hutang
yang akan jatuh tempo
Munawir rasio likuiditas yaitu rasio yang menunjukkan
(2016:70) kemampuan perusahaan dalam memenuhi kewajiban
jangka pendeknya, termasuk bagian dari kewajiban
jangka panjang
Arief dan Edi “Rasio likuiditas adalah rasio yang bertujuan untuk
(2016:57) mengukur kemampuan perusahaan dalam memenuhi
kewajiban jangka pendeknya
Kasmir Rasio likuiditas adalah rasio yang menunjukkan
(2016:128) kemampuan perusahaan dalam membayar utang-utang
jangka pendeknya yang jatuh tempo atau rasio untuk
mengetahui kemampuan perusahaan dalam membiayai
dan memenuhi kewajiban pada saat ditagih.
fahmi likuiditas yakni kemampuan suatu perusahaan dalam
(2017:121) memenuhi kewajiban jangka pendeknya secara tepat
waktu. Rasio ini penting karena kegagalan dalam
membayar kewajiban dapat menyebabkan kebangkrutan
perusahaan
UKURAN PERUSAHAAN
Ukuran perusahaan dapat diartikan suatu skala dimana perusahaan dapat
diklasifikasikan besar kecilnya menurut berbagai cara, salah satunya adalah dengan
besar kecilnya asset yang dimiliki. Ukuran perusahaan dapat menentukkan besar
kecilnya asset yang dimiliki perusahaan, semakin besar asset yang dimiliki semakin
meningkat juga jumlah produktifitas (Ardyansyah dan Zulaikha, 2014). Ukuran
perusahaan dapat dilihat dari total aktiva yang dimiliki. Perusahaan dengan total
aset besar menunjukkan jika perusahaan itu telah mencspai tahap kematangan
karena dalam tahap ini arus kas perusahaan suudah positif dan dianggap
mempunyai prospek masa depan yang baik. Selain itu, hal ini juga mencerminkan
bahwa perusahaan relatif lebih stabil dan lebih mampu mengasilkan laba dibanding
perusahaan dengan total aset yang kecil Rachmawati dan Triatmoko (2007) dalam
(Siti Nurhotimah, 2015)
Menurut Hartono (2008:14) ukuran perusahaan (firm size) adalah besar
kecilnya perusahaan dapat diukur dengan total aktiva atau besar harta perusahaan
dengan menggunakan perhitungan nilai logaritma total aktiva
Selanjutnya ukuran perusahaan menurut Agus Sartono (2010:249)
didefinisikan sebagai berikut, “Perusahaan besar yang sudah well estabilished akan
lebih mudah memperoleh modal di pasar modal disbanding dengan perusahaan
kecil. Karena kemudahan akses tersebut berarti perusahaan besar memiliki
fleksibilitas yang lebih besar”
Menurut Brigham & Houston (2010:4) Ukuran perusahaan merupakan ukuran
besar kecilnya sebuah perusahaan yang ditunjukan atau dinilai oleh total asset, total
penjualan, jumlah laba, beban pajak dan lain-lain. Sedangkan Ukuran perusahaan
menurut Torang (2012:93) adalah menentukan jumlah anggota yang berhubungan
dengan pemilihan cara pengendalian kegiatan dalam usaha mencapai tujuan.
Menurut Butar dan Sudarsi (2012) pengertian ukuran perusahaan merupakan
nilai yang menunjukkan besar atau kecilnya perusahaan.
Metode Pengukuran
Untuk melakukan pengukuran terhadap ukuran perusahaan Prasetyantoko
(2008:257) mengemukakan bahwa:
“Aset total dapat menggambarkan ukuran perusahaan, semakin besar asset
biasanya perusahaan tersebut semakin besar.”
Menurut Jogiyanto Hartono (2013:282) menyatakan bahwa:
“Ukuran aktiva digunakan untuk mengukur besarnya perusahaan, ukuran
aktiva tersebut diukur sebagai logaritma dari total aktiva.”
𝑈𝑘𝑢𝑟𝑎𝑛 𝑃𝑒𝑟𝑢𝑠𝑎ℎ𝑎𝑎𝑛 =
Ukuran perusahaan = Log Total Aktiva
Jogiyanto Hartono (2013)
Dalam penelitian ini ukuran perusahaan diukur dengan menggunakan log
total aktiva karena untuk memudahkan penelitian disebabkan oleh jumlah total
aktiva perusahaan mencapai puluhan triliyun sedangkan variabel dependen maupun
independen menggunakan skala pengukuran rasio oleh sebab itu, ukuran
perusahaan diukur menggunakan log total aktiva (Ln_Total Aktiva).
2.1.3.2 Dewan Komisaris
Menurut UU Nomor 40 Tahun 2007 tentang Perseroan Terbatas, Dewan
Komisaris adalah organ dalam perusahaan yang bertugas untuk melakukan
pengawasan secara umum dan/atau khusus sesuai dengan anggaran dasar
perusahaan serta memberikan nasihat atau arahan kepada Direksi. Di dalam pasal
108 ayat (5) menyebutkan bahwa Dewan Komisaris setidaknya terdiri atas 2 (dua)
orang atau lebih anggota. Anggota dari Dewan Komisaris ini diangkat oleh Rapat
Umum Pemegang Saham (RUPS) untuk jangka waktu tertentu dan dapat diangkat
kembali. Setiap anggota Dewan Komisaris wajib untuk beritikad baik, berhati - hati,
dan bertanggung jawab dalam menjalankan tugasnya demi kepentingan
perusahaan. Setiap anggota Dewan Komisaris ikut bertanggung jawab secara pribadi
atas kerugian perusahaan apabila terbukti bersalah atau lalai dalam menjalankan
tugasnya.
Dewan Komisaris memiliki peran penting dalam kaitannya controlling
implementasi strategi yang ditetapkan oleh Dewan Direksi. Dewan Komisaris
bertanggung jawab secara penuh untuk mengawasi dan memantau segala tindakan
yang dilakukan oleh Direksi, serta memberikan nasihat jika dipandang perlu.
Komposisi dari Dewan Direksi harus memungkinkan dalam pengambilan keputusan
yang efektif, tepat dan cepat, serta independen. Artinya bahwa Dewan Komisaris
tidak diperbolehkan untuk menekan kemampuannya dalam bertindak kritis terhadap
Dewan Direksi dikarenakan beberapa faktor yang kemungkinan dapat mengganggu
kerja Dewan Komisaris dan dapat mengurangi objektivitasnya (Triwahyuningtias,
2012)
Dewan Komisaris adalah sebuah dewan yang bertugas untuk melakukan
pengawasan dan memberikan nasihat kepada direktur Perseroan terbatas (PT)
(wikipedia.org:2017)
Komite Audit
Menurut Komite Nasional Kebijakan Governance (KNKG, 2006), Komite Audit
merupakan suatu komite yang beranggotakan oleh 1 (satu) atau lebih anggota
Dewan Komisaris dan dapat meminta kalangan luar dengan berbagai keahlian,
pengalaman, dan kualitas lain yang dibutuhkan untuk mencapai tujuan Komite Audit.
Komite Audit dibentuk oleh Dewan Komisaris bertujuan untuk membantu kinerja dan
fungsi dari Dewan Komisaris. Komite yang dibentuk oleh Dewan Komisaris antara
lain Komite Audit, Komite Kebijakan Risiko, Komite Remunerasi dan Nominasi, serta
Komite Kebijakan Corporate Governance. Namun, berdasarkan peraturan Bapepam
Nomor KEP-339/BEJ/2001, yang wajib dimiliki oleh perusahaan yang terdaftar di BEI
hanya Komite Audit.
Tugas dan tanggung jawab Komite Audit berdasarkan pada Keputusan Ketua
Bapepam dan LK Nomor KEP-643/BL/2012 antara lain:
a. Melakukan penelaahan atas informasi keuangan yang akan dikeluarkan Emiten
atau Perusahaan Publik kepada dan/atau pihak otoritas antara lain laporan
keuangan, proyeksi, dan laporan lainnya terkait dengan informasi keuangan Emiten
atau Perusahaan Publik;
b. Melakukan penelaahan atas ketaatan terhadap peraturan perundang - undangan
yang berhubungan dengan kegiatan Emiten atau Perusahaan Publik;
c. Memberikan pendapat independen dalam hal terjadi perbedaan pendapat antara
manajemen dan Akuntan atas jasa yang diberikannya;
d. emberikan rekomendasi kepada Dewan Komisaris mengenai penunjukan Akuntan
independen, ruang lingkup penugasan, dan fee;
e. Melakukan penelaahan atas pelaksanaan pemeriksaan oleh auditor internal dan
mengawasi pelaksanaan tindak lanjut oleh Direksi atas temuan auditor internal;
f. Melakukan penelaahan terhadap aktivitas pelaksanaan manajemen risiko yang
dilakukan oleh Direksi, jika Emiten atau Perusahaan Publik tidak memiliki fungsi
pemantau risiko di bawah Dewan Komisaris;
g. Menelaah pengaduan yang berkaitan dengan proses akuntansi dan pelaporan
keuangan Emiten atau Perusahaan Publik;
h. Menelaah dan memberikan saran kepada Dewan Komisaris terkait dengan adanya
potensi benturan kepentingan Emiten atau Perusahaan Publik; dan
i. Menjaga kerahasiaan dokumen, data dan informasi Emiten atau Perusahaan
Publik.
Di Indonesia, keanggotaan Komite Audit yang dimiliki oleh perusahaan sedikitnya
terdiri dari 3 (tiga) orang, diketuai oleh Komisaris Independen perusahaan dengan 2
(dua) orang eksternal independen terhadap perusahaan, serta setidaknya salah
satunya menguasai bidang akuntansi dan keuangan. Jumlah anggota Komite Audit
ini dimaksudkan agar Komite Audit dapat melakukan rapat dan bertukar pendapat
satu sama lain karena tiap anggota Komite Audit memiliki pengalaman tata kelola
perusahaan dan pengetahuan keuangan yang berbeda (Nuresa dan Hadiprajitno,
2013).
2.2.2 Likuditas dan Financial Distress
Likuiditas menunjukkan kemampuan perusahaan dalam mendanai operasional
perusahaan dan melunasi kewajiban jangka pendek perusahaan. Indikator keuangan
yang digunakan dalam rasio likuiditas penelitian ini adalah Current Ratio (CR) yang
merupakan rasio untuk mengukur kemampuan perusahaan dalam memenuhi
kewajiban finansial jangka pendeknya dengan menggunakan aktiva lancarnya. Rasio
ini dapat dirasakan langsung oleh kreditur sebagai pemberi pinjaman, dimana
kreditur dapat secara langsung memantau kegiatan operasional yang ada dalam
perusahaan. Menurut Ardiyanto (2011) dalam Agusti (2013), perusahaan setidaknya
memiliki aktiva lancar 2 (dua) kali 41
lebih besar daripada kewajiban jangka pendeknya, sehingga apabila dibutuhkan
dana untuk menutup kewajiban lancarnya sewaktu - waktu perusahaan dapat
menyediakan dana tersebut dengan cepat.
Likuiditas dengan proksi CR yang positif dapat menunjukkan bahwa kemampuan
perusahaan dalam memenuhi kewajiban finansial jangka pendeknya dengan
menggunakan aktiva lancarnya terpantau baik, sehingga perusahaan dapat
melakukan pelunasan terhadap seluruh kewajiban jangka pendeknya kepada
kreditur dengan menggunakan aktiva lancarnya. Sebaliknya, CR yang negatif
menunjukkan bahwa perusahaan tidak mampu memenuhi kewajiban finansial jangka
pendeknya dengan menggunakan aktiva lancar yang dimiliki perusahaan, sehingga
perusahaan mengalami kesulitan dalam melunasi seluruh kewajiban jangka
pendeknya yang tertagih kepada kreditur. Kondisi ini dapat memperbesar
kemungkinan perusahaan akan memunculkan hutang baru untuk dapat menutup
kewajiban lancar yang telah jatuh tempo.
Berdasarkan pada penelitian yang telah dilakukan oleh Elloumi dan Gueyié (2001);
Jiming dan Weiwei (2011); serta Ellen dan Juniarti (2013) menunjukkan bahwa CR
mempunyai pengaruh negatif dan signifikan terhadap financial distress. Oleh karena
itu hal ini menunjukkan bahwa semakin tinggi kemampuan perusahaan dalam
memenuhi kewajiban finansial jangka pendeknya, maka semakin kecil terjadinya
financial distress pada perusahaan. Hal ini dikarenakan perusahaan memiliki jumlah
aktiva lancar yang mencukupi untuk melunasi seluruh kewajiban finansial jangka
pendeknya kepada kreditur, sehingga perusahaan dikategorikan liquid. Dilihat dari
sudut pandang kreditur, perusahaan 42
yang memiliki kemampuan dalam melunasi hutang jatuh temponya dengan
menggunakan aktiva lancarnya ini dapat meningkatkan kepercayaan kreditur dan
dijadikan sebagai dasar pertimbangan untuk memberikan pinjaman kembali di masa
mendatang. Kepercayaan dari pihak kreditur disini juga mampu menjadi pemicu
suksesnya sebuah perusahaan di masa mendatang karena perusahaan tetap dapat
menjaga eksistensinya.
Berbeda halnya apabila CR dalam sebuah perusahaan diketahui rendah, dimana
jumlah aktiva lancar perusahaan tidak mencukupi untuk melunasi kewajiban finansial
jangka pendek perusahaan terhadap kreditur atau perusahaan dikategorikan sebagai
perusahaan iliquid. Akibatnya, perusahaan harus memunculkan hutang baru untuk
menutup hutang yang sudah jatuh tempo. Apabila terjadi terus menerus, maka
perusahaan akan rentan mengalami financial distress karena jumlah hutang yang
tidak ada ujungnya. Apabila ditinjau dari sudut pandang kreditur, maka ada
kekhawatiran tersendiri dari pihak kreditur mengenai kemungkinan timbulnya hutang
tak tertagih. Selain itu terjadi krisis kepercayaan kepada perusahaan, sehingga
memungkinkan pihak kreditur tidak akan memberikan pinjaman di masa mendatang.
Penelitian ini diperkuat pula oleh penelitian dari Istiantoro (2015); Shahwan (2015);
serta Yayanti dan Yanti (2015) yang menunjukkan hasil sama bahwa CR
berpengaruh signifikan negatif terhadap kondisi financial distress.
Berdasarkan argumen diatas, dapat dirumuskan hipotesis sebagai berikut:
H2: Likuiditas berpengaruh negatif terhadap financial distress
2.2.5 Ukuran Dewan Komisaris dan Financial Distress
Dewan Komisaris sebagai organ perusahaan yang menjalankan fungsi monitoring
dari implementasi kebijakan Direksi berperan penting dalam meminimalisir masalah
keagenan yang terjadi antara agen dan principal. Oleh sebab itu, Dewan Komisaris
perlu melakukan pengawasan dan pemantauan terhadap kinerja dari Dewan Direksi
secara independen agar pencapaiannya sesuai dengan kepentingan pemegang
saham dan terutama dapat selaras dengan tujuan utama dari perusahaan (Hadi,
2014).
Menurut penelitian yang dilakukan oleh Wardhani (2006) menunjukkan bahwa besar
kecilnya jumlah Dewan Komisaris akan mempengaruhi fungsi monitoring yang
dijalankan oleh perusahaan. Kecilnya jumlah Dewan Komisaris sebuah perusahaan
mengindikasikan bahwa fungsi monitoring yang dijalankan dalam perusahaan
tersebut relatif lebih lemah, dibandingkan dengan perusahaan yang tidak mengalami
tekanan keuangan. Hal ini membuktikan bahwa semakin tinggi ukuran Dewan
Komisaris sebuah perusahaan, maka semakin rendah kemungkinan terjadinya
financial distress pada perusahaan tersebut. Namun situasi yang berbeda apabila
ukuran Dewan Komisaris dalam sebuah perusahaan cenderung lebih rendah dimana
menunjukkan kurangnya pengawasan untuk Dewan Direksi, sehingga dapat memicu
terjadinya kesalahan dalam pengambilan 47
keputusan yang berujung pada terjadinya masalah perekonomian pada perusahaan.
Penelitian ini diperkuat pula oleh penelitian yang dilakukan oleh Platt dan Platt
(2012); Triwahyuningtias (2012); Brédart (2014); Hadi (2014); Manzaneque et al
(2016); serta Setiawan et al (2016) yang menunjukkan hasil sama.
Berdasarkan argumen diatas, dapat dirumuskan hipotesis sebagai berikut:
H5: Dewan Komisaris berpengaruh negatif terhadap financial distress
2.2.6 Komite Audit dan Financial Distress
Berdasarkan pada Pedoman Umum Good Corporate Governance Indonesia (KNKG,
2006), pembentukan komite audit perlu menyesuaikan antara jumlah anggota
Komite Audit dengan kompleksitas perusahaan dengan tetap memperhatikan
efektifitas pengambilan keputusan. Anggota Komite Audit yang dimiliki oleh
perusahaan sedikitnya terdiri dari 3 (tiga) orang, diketuai oleh Komisaris Independen
dan anggotanya dapat terdiri dari Komisaris dan/atau pelaku profesi dari luar
perusahaan dimana salah satu anggotanya harus mempunyai latar belakang dan
kemampuan dalam bidang akuntansi dan/atau keuangan.
Pengendalian internal perusahaan melalui keberadaan Komite Audit sebagai salah
satu dari mekanisme corporate governance kurang efektif untuk meningkatkan
pengawasan dan pengendalian masalah keagenan. Faktor kualitatif lainnya seperti
tingkat komitmen anggota Komite Audit, kualitas diskusi selama pertemuan, dan
lingkungan kerja organisasi memiliki pengaruh yang besar 48
terhadap kinerja Komite Audit sehingga dapat meningkatkan kemampuan dalam
menghindari kondisi financial distress (Niarachma, 2012).
Berdasarkan pada penelitian Li et al (2008); Lakshan dan Wijekoon (2012); serta
penelitian Platt dan Platt (2012) menyebutkan bahwa ukuran Komite Audit memiliki
pengaruh negatif terhadap financial distress. Hal ini menunjukkan bahwa semakin
tinggi ukuran Komite Audit sebuah perusahaan, maka semakin rendah kemungkinan
terjadinya financial distress pada perusahaan tersebut. Hal ini dikarenakan efektifitas
Komite Audit mengalami peningkatan pada saat jumlah dari sumber daya Komite
Auditnya lebih, sehingga Komite Audit diharapkan semakin handal dalam
menyelesaikan berbagai masalah keagenan yang mungkin dihadapi oleh
perusahaan. Selain itu, efektifitas Komite Audit diharapkan mampu meningkatkan
perolehan keuntungan perusahaan dengan penetapan kebijakan - kebijakan terbaru.
Namun apabila kondisi ukuran Komite Audit dalam sebuah perusahaan rendah, maka
dapat menunjukkan tingkat efektifitas Komite Audit juga cenderung rendah. Kondisi
ini disebabkan karena sumber daya perusahaan yang tidak memadahi untuk
menghadapi situasi menyulitkan di masa mendatang. Terlebih saat antar Komite
Audit tidak melakukan pertukaran pendapat dalam menyikapi suatu permasalahan,
sehingga pendapat Komite Audit justru menimbulkan kerugian bagi perusahaan yang
berujung pada terjadinya financial distress.
Berdasarkan argumen diatas, dapat dirumuskan hipotesis sebagai berikut:
H6: Ukuran Komite Audit berpengaruh negatif terhadap financial distress
Hasil Penelitian Sebelumnya
Heri Setiawan (2018)
Heri Setiawan (2018)meneliti tentang pengaruh analisis keuangan dalam
memprediksi kondisi financial distress. Penulisan ini menggunakan teknik
pengambilan sampel secara… linier berganda Sampel yang digunakan sadalah 35
perusahaan telekomuikasi yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia tahun 2010-2016.
Hasil penelitian dengan variable Rasio likuiditas memiliki nilai t sebesar 3.066 dengan
nilai t bertanda negatif dan signifikansi sebesar 0.005 < 0.05 berarti bahwa, rasio
likuiditas mempenyai pengaruh negatif dan signifikan dalam memprediksi
kemungkinan terjadinya financial distress. (2) Rasio leverage sebesar memiliki nilai t
sebesar 0.418 dengan nilai t bertanda negatif dan signifikansi 0.679 > 0.05 berarti
bahwa, rasio leverage mempunyai pengaruh negatif dan tidak signifikan dalam
memprediksi kemungkinan terjadinya financial distress. (3) Rasio aktivitas memiliki
nilai t sebesar 1.076 dengan nilai t bertanda negatif dan signifikansi sebesar 0.290 >
0.05 berarti bahwa, rasio aktivitas mempunyai pengaruh negatif dan tidak signifikan
dalam memprediksi kemungkinan terjadinya financial distress.(4) Rasio profitabilitas
memiliki nilai t sebesar 0.606 dengan nilai t bertanda negatif dengan signifikansi
sebesar 0.549 > 0.05 berarti bahwa, rasio profitabilitas mempunyai pengaruh
negatif dan tidak signifikan dalam memprediksi kemungkinan terjadinya financial
distress
Della Susilawati, Diamonalisa Sofianty, Edi Sukarmanto (2017)
Della Susilawati, Diamonalisa Sofianty, Edi Sukarmanto (2017) meneliti
tentang pengaruh profitabilitas, ukuran perusahaan dan leverage terhadap financial
distress. Penulisan ini menggunakan teknik pengambilan sampel secara purposive
sampling. Metode penelitian yang digunakan yaitu metode kuantitatif dengan
analisis data menggunakan teknik dokumentasi. Sampel yang digunakan adalah data
dari 5 perusahaan sub sector minyak dan gas bumi yang terdaftar di BEI tahun
2010-2015. Hasil penelitian variable profitabilitas dengan uji t (-5,713) ≥ t table
(1,706) dan nilai sig (0,000) < (0,05) yang menyatakan profitabilitas mempunyai
pengaruh signifikan terhadap financial distress. Ukuran perusahaan dengan uji t (-
5.063) ≥ t table (1.706) dan nilai sig (0,000) < (0,05) yang menyatakan ukuran
perusahaan mempunyai pengaruh yang signifikan terhadap financial distress.
Leverage dengan uji t (2,233) ≥ t table (1.706) dan nilai sig (0,017) < (0,05) yang
menyatakan leverage mempunyai pengaruh yang signifikan terhadap financial
distress.
Lili Wardani Harahap (2017)
Lili Wardani Harahap (2017) meneliti tentang pengaruh mekanisme
corporate governance dan firm size terhadap kondisi financial distress.
Penulisan ini menggunakan teknik pengambilan sampel secara purposive sampling
dan analisis data dengan metode regresi berganda. Sampel yang digunakan adalah
data dari 159 sampel perusahaan property dan real estate yang terdaftar di Bursa
Efek Indonesia tahun 2010-2014. Hasil penelitian Kepemilikan Institusional secara
parsial tidak berpengaruh terhadap Financial Distress. Dapat dilihat dari nilai t hitung
(1,177)< t tabel 1,9757 dan nilai sig 0,241> 0,05 dengan arah koefisien regresi
0,957. Kepemilikan Manajerial secara parsial tidak berpengaruh terhadap
Financial Distress. Dapat dilihat dari nilai t hitung 0,803 < t tabel sebesar 1,9757
dan nilai sig 0,423 > 0,05 dengan arah koefisien regresi -0,288. Ukuran Dewan
Direksi secara parsial berpengaruh negatif dan signifikan terhadap Financial Distress.
Dapat dilihat dari nilai t hitung 2,299 > t table 1,9757 dan nilai sig 0,023 < 0,05
dengan koefisien regresi -0,240. Ukuran Dewan Komisaris secara parsial tidak
berpengaruh terhadap Financial Distress. Dapat dilihat dari nilai t hitung
sebesar 0,652 lebih kecil dari t tabel sebesar 1,9757 dan nilai signifikansi yang
dihasilkan lebih besar dari tingkat signifikansi yang disyaratkan yaitu 0,515 > 0,05
dengan koefisien regresi –0,075. Ukuran Komite Audit secara berpengaruh
positif dan signifikan terhadap Financial Distress. Dapat dilihat dari nilai t
hitung sebesar 4,118 lebih besar dari t tabel sebesar 1,9757 dan nilai signifikansi
yang dihasilkan lebih kecil dari tingkat signifikansi yang disyaratkan yaitu 0,000<
0,05 dengan koefisien regresi 2,105. Firm Size tidak berpengaruh terhadap Financial
Distress. Dapat dilihat dari nilai t hitung sebesar 0,501 lebih kecil dari t tabel sebesar
1,9757 dan nilai signifikansi yang dihasilkan lebih besar dari tingkat signifikansi yang
disyaratkan yaitu 0,617 > 0,05 dengan koefisien regresi 0,052.
Huntal Rim Daniel Silalahi, dkk (2018)
Huntal Rim Daniel Silalahi, dkk (2018)meneliti tentang pengaruh rasio
keuangan dan ukuran perusahaan terhadap kondisi kesulitan keuangan (financial
distress). Penulisan ini menggunakan teknik pengambilan sampel secara purposive
sampling. Metode penelitian yang digunakan yaitu metode kuantitatif dengan
analisis data menggunakan analisis statistic deskriptif dan analisis regresi logistik.
Sampel yang digunakan adalah data dari 20 perusahaan sub sector transportasi
yang terdaftar di BEI tahun 2013-2016. Hasil penelitian variable rasio likuiditas
dengan uji parsial memiliki p-value (0,593) >(0,05) yang menyatakan likuiditas tidak
mempunyai pengaruh signifikan terhadap financial distress. Leverage dengan uji
parsial memiliki p-value (0,002) < (0,05) yang menyatakan leverage mempunyai
pengaruh signifikan dan memiliki arah negative terhadap financial distress. Rasio
aktivitas dengan uji parsial memiliki p-value (0,013) < (0,05) yang menyatakan
Rasio aktivitas mempunyai pengaruh signifikan dan memiliki arah positif terhadap
financial distress. Rasio profitabilitas dengan uji parsial memiliki p-value (0,002) <
(0,05) yang menyatakan Rasio profitabilitas mempunyai pengaruh signifikan dengan
memiliki koefisien b negatif terhadap financial distress. Ukuran perusahaan dengan
uji parsial memiliki p-value (0,000) < (0,05) yang menyatakan ukuran perusahaan
mempunyai pengaruh yang signifikan dengan memiliki koefisien b negatif terhadap
financial distress
Maya Dewi Suprobo (2017)
Maya Dewi Suprobo (2017) meneliti tentang PENGARUH LIKUIDITAS
LEVERAGE DAN PROFITABILITAS TERHADAP FINANCIAL DISTRESS. Penulisan ini
menggunakan teknik pengambilan sampel secara purposive sampling. Metode
penelitian yang digunakan yaitu metode kuantitatif dengan analisis data
menggunakan analisis regresi logistik. Sampel yang digunakan adalah data dari 110
perusahaan sub sector transportasi yang terdaftar di BEI tahun 2011-2015. Hasil
penelitian variable rasio likuiditas yang diukurCR dengan nilai β (-0,295) dengan sig
(0,425) yang mana mempengaruhi financial distress tetapi tidak secara signifikan.
Rasio leverage yang diukur DAR dengan nilai β (3,086) dengan sig (0,007) yang
menunjukkan bahwa secara signifikan berpengaruh secara positif terhadap financial
distress. Rasio profitabilitas yang diukur ROA dengan nilai β (-1,988) dengan sig
(0,229) yang mana mempengaruhi financial distress tetapi tidak secara signifikan.
Irsyad Munawar(2018)
Irsyad Munawar (2018)meneliti tentang PENGARUH GOOD CORPORATE
GOVERNANCE TERHADAP FINANCIAL DISTRESS . Penulisan ini menggunakan
teknik pengambilan sampel secara purposive sampling dan analisis data dengan
metode regresi data panel. Sampel yang digunakan adalah data dari 17 perusahaan
sub sector tekstil dan garmen yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia tahun 2012-
2016.Hasil penelitian Kepemilikan Institusional Berdasarkan uji t, variabel
kepemilikan institusional memiliki nilai probability sebesar 0.2276 sehingga besarnya
0.2276 > 0.05 maka tidak ada pengaruh signifikan kepemilikan institusional
terhadap financial distress. Kepemilikan Manajerial Berdasarkan uji t, variabel
kepemilikan manajerial memiliki nilai probability sebesar 0.1046 sehingga besarnya
0.1046 > 0.05 berarti tidak ada pengaruh signifikan kepemilikan manajerial terhadap
financial distress. Dewan Komisaris Berdasarkan uji t, variabel dewan komisaris
independen memiliki nilai probability sebesar 0.6210 sehingga besarnya 0.6210 >
0.05 maka tidak ada pengaruh signifikan dewan komisaris independen terhadap
financial distress.Komite Audit Berdasarkan uji t, variabel komite audit memiliki
probability sebesar 0.0026 sehingga nilai 0.0026 < 0.05 memiliki arti terdapat
pengaruh signifikan dewan komisaris independen terhadap financial distress
Srikalimah (2017)
Srikalimah (2017) meneliti tentang pengaruh profitabilitas, likuiditas, dan
leverage dalam memprediksi financial distress. Dengan metode purposive sampling
model analisis regresi linier. Sampel yang digunakan adalah 29 perusahaan
manufaktur yang terdaftar di BEI tahun 2009-2013. Dengan hasil penelitian
profitabilitas secara parsial uji t (3,925) > t table (2,052) dengan nilai sig (0,001) <
(0,05) yang menyatakan profitabilitas memiliki pengaruh positif namun tidak
signifikan dalam memprediksifinancial distress. Likuiditas secara parsial dengan uji t
(1,149) > t table (2,052) dengan nilai sig (0,001) < (0,05) yang menyatakan
profitabilitas memiliki pengaruh positif namun tidak signifikan dalam memprediksi
financial distress. Leverage secara parsial dengan uji t (1,613) > t table (2,052)
dengan nilai sig (0,0119) < (0,05) yang menyatakan profitabilitas memiliki pengaruh
sangat redah dan tidak signifikan dalam memprediksi financial distress.
Githa Ayu Pradewi Santoso (2018)
Githa Ayu Pradewi Santoso (2018) meneliti tentang ANALYSIS OF EFFECT
OF GOOD CORPORATE GOVERNANCE, FINANCIAL PERFORMANCE AND
FIRM SIZE ON FINANCIAL DISTRESSDengan metode purposive sampling model
analisis statistik deskriptif, uji asumsi klasik, uji regresi serta uji koefisien
determinasi. Sampel yang digunakan adalah 49 perusahaan property dan real estate
yang terdaftar di BEI tahun 2012-2016.Tidak terdapat pengaruh Kepemilikan
Manajerial terhadap Financial Distress pada Perusahaan Properti dan Real Estate
yang terdaftar di BEI tahun 2012-2016, hal ini ditunjukkan oleh distribusi t hitung
sebesar 0,831< t table 2,81876 dengan nilai signifikansi (0,415) lebih besar dari nilai
signifikansi (0,05). 2. Tidak terdapat pengaruh Kepemilikan Institusional terhadap
Financial Distress pada Perusahaan Properti dan Real Estate yang terdaftar di BEI
tahun 2012-2016, hal ini ditunjukkan oleh distribusi t hitung sebesar 0,847< t table
2,81876 dengan nilai signifikansi (0,406) lebih besar dari nilai signifikansi (0,05). 3.
Tidak terdapat pengaruh Dewan Komisaris terhadap Financial Distress pada
Perusahaan Properti dan Real Estate yang terdaftar di BEI tahun 2012-2016, hal ini
ditunjukkan oleh distribusi t hitung sebesar 0,004< t table 2,81876 dengan nilai
signifikansi (0,997) lebih besar dari nilai signifikansi (0,05). 4. Tidak terdapat
pengaruh Komite Audit terhadap Financial Distress pada Perusahaan Properti dan
Real Estate yang terdaftar di BEI tahun 2012-2016, hal ini ditunjukkan oleh distribusi
t hitung sebesar -0,049 < t table 2,81876 dengan nilai signifikansi (0,961) lebih
besar dari nilai signifikansi (0,05). 5. Tidak terdapat pengaruh Profitabilitas terhadap
Financial Distress pada Perusahaan Properti dan Real Estate yang terdaftar di BEI
tahun 2012-2016, hal ini ditunjukkan oleh distribusi t hitung sebesar 0,074< t table
2,81876 dengan nilai signifikansi (0,941) lebih besar dari nilai signifikansi (0,05). 6.
Tidak terdapat pengaruh Likuiditas terhadap Financial Distress pada Perusahaan
Properti dan Real Estate yang terdaftar di BEI tahun 20122016, hal ini ditunjukkan
oleh distribusi t hitung sebesar -0,289 < t table 2,81876 dengan nilai signifikansi
(0,775) lebih besar dari nilai signifikansi (0,05). 7. Tidak terdapat pengaruh Ukuran
Perusahaan terhadap Financial Distress pada Perusahaan Properti dan Real Estate
yang terdaftar di BEI tahun 2012-2016, hal ini ditunjukkan oleh distribusi t hitung
sebesar 1,415 < t table 2,81876 dengan nilai signifikansi (0,171) lebih besar dari
nilai signifikansi (0,05). 8. Tidak terdapat pengaruh Kepemilikan Manajerial,
Kepemilikan Institusional, Dewan Komisaris, Komite Audit, Profitabilitas, Likuiditas
dan Ukuran Perusahaan secara simultan terhadap Financial Distress pada
Perusahaan Properti dan Real Estate yang terdaftar di BEI tahun 2012-2016, hal ini
ditunjukkan pada uji f dimana diproleh nilai f hitung sebesar 0,284 < f table 2,44
Kerangka Pemikiran
Kerangka pemikiran bertujuan agar memudahkan dalam memperoleh
pemahaman tentang arah penelitian yang dilakukan, maka perlu ditentukan
kerangka karakteristik.
Menurut Sugiyono (2017:58) kerangka pemikiran merupakan uraian
sistematis tentang teori (dan bukan sekedar pendapat pakar atau penulis buku) dan
hasil-hasil penelitian yang relevan dengan variabel yang diteliti. Berapa jumlah
kelompok teori yang perlu dikemukakan ataupun dideskripsikan, akan tergantung
pada luasnya permasalahan dan secara teknik tergantung pada jumlah variabel yang
diteliti. Kerangka pemikiran teoritis merupakan langkah penting dalam proses
penelitian. Kerangka pemikiran ini dibuat dengan tujuan memudahkan dalam
memperoleh bukti mengenai pengaruh likuiditas, ukuran perusahaan, komite audit
dan dewan komisaris terhadap financial distress
Dengan mengetahui kondisi kesulitan keuangan (financial distress) sejak
sedini mungkin diharapkan perusahaan dapat melakukan tindakan-tindakan untuk
mengantisipasi kondisi yang mengarah pada kebangkrutan. Oleh karena itu
perusahaan perlu melakukan berbagai analisis laporan keuangan perusahaan untuk
mengetahui kondisi dan perkembangan finansial perusahaan di masa yang akan
datang.
Menurut Sudana (2009;261) suatu
perusahaan tidak selalu berkembang dengan
baik sebagaimana yang diharapkan. Karena
dalam prakteknya, banyak perusahaan dapat
mengalami kegagalan. Adapun faktor yang
dapat menyebabkan perusahaan mengalami
kegagalan, diantaranya adalah: faktor ekonomi,
kesalahan manajemen, bencana alam.
Perusahaan yang mengalami kegagalan dalam
operasinya, akan berdampak pada kesulitan
keuangan (financial distress). Kesulitan
keuangan yang dihadapi oleh perusahaan sangat
bervariasi antara kesulitan likuiditas hingga
kesulitan solvabilitas. Apabila prospek
perusahaan kurang baik, maka perusahaan dapat
dilikuidasi.
Platt dan Platt (2006) menyatakan financial distress didefinisikan sebagai tahap
penurunan kondisi keuangan yang terjadi sebelum terjadinya kebangkrutan ataupun
likuidasi. Financial distress dapat diprediksikan berdasarkan ketidakmampuan
perusahaan atau tidak tersedianya suatu dana untuk membayar kewajibannya yang
telah jatuh tempo.
Informasi mengenai financial distress menjadi sangat penting bagi para investor
yang hendak menanamkan modalnya. Investor tidak ingin menanamkan modalnya
pada sebuah perusahaan yang sedang mengalami financial distress. Berbagai rasio
keuangan yang ada dapat digunakan untuk memprediksi apakah sebuah perusahaan
sedang mengalami financial distress.
Likuditas menunjukkan kemampuan perusahaan untuk membayar kewajiban
finansial jangka pendek tepat pada waktunya (Sartono, 2001). Perusahaan yang
memiliki tingkat likuiditas yang tinggi mengindikasikan perusahaan memiliki sejumlah
aset lancar yang siap untuk membayar utang jangka pendeknya. Dengan demikian,
perusahaan tersebut dapat terhindari dari kondisi financial distress. (Verani Carolina.
2017)
Hubungan Likuiditas terhadap Financial Distress
Menurut Syafri (2013:301), “Likuiditas menggambarkan kemampuan
perusahaan untuk menyelesaikan kewajiban jangka pendeknya”. Apabila
perusahan mampu menyelesaikan kewajiban jangka pendeknya dengan baik maka
potensi perusahaan mengalami financial distress akan semakin kecil. Salah satu
rasio yang dipakai dalam mengukur likuiditas adalah current yang merupakan
kemampuan perusahaan memenuhi hutang jangka pendeknya dengan
menggunakan aktiva lancarnya. Dengan meningkatnya nilai likuiditas akan
berpengaruh signifikan financial distress, sehingga hubungan likuiditas terhadap
financial distress dapat dihipotesiskan sebagai berikut :
H2 = likuiditas berpengaruh signifikan secara parsial terghadap Financial
distress.
Pengaruh Current Ratio terhadap kondisi
financial distress
Menurut penelitian Kariman (2016),
Rusaly (2016), dan Widati dan Pratama
(2015) menyatakan bahwa current ratio
tidak berpengaruh terhadap financial
distress. Menurut penelitian Marwati (2011)
dan Putra (2009) bahwa current ratio
berpengaruh positif terhadap financial
distress.
H1: Diduga likuiditas berpengaruh terhadap
kondisi financial distress perusahaan
Pengaruh Ukuran Dewan Komisaris Terhadap Kesulitan Keuangan
Dewan komisaris merupakan pengawas dalam perusahan yang bertugas
mengawasi perilaku manajemen dalam pelaksanaan strategi perusahaan. Dewan
komisaris sebagai organ perusahaan juga bertugas dan bertanggung jawab secara
kolektif untuk melakukan pengawasan dan memberikan nasihat kepada direksi,
serta memastikan bahwa perusahaan melaksanaan good corporate governance.
Berdasarkan penelitian Deviacita dan Ahmad dalam penelitian Mayangsari
(2015), menyatakan bahwa semakin tinggi proporsi dewan komisaris maka akan
semakin meningkatkan pengawasan kinerja perusahaan, yang berdampak pada
rendahnya kemungkinan kondisi kesulitan keuangan.
H2 : Diduga jumlah dewan komisaris berpengaruh signifikan terhadap kesulitan
keuangan
Pengembangan Hipotesis Penulisan
Hipotesis
Hipotesis adalah dugaan sementara atau kesimpulan sementara atas masalah
yang hendak diteliti. Perumusan hipotesis dilakukan pada literatur yang telah ada.
Hipotesis yang telah dibentuk dalam penelitian ini didasarkan pada penulisan
sebelumnya, sehingga diharapkan hipotesis tersebut cukup valid untuk diuji
Menurut Sugiyono (2017) hipotesis merupakan jawaban sementara terhadap
rumusan masalah penulisan, dimana rumusan masalah penulisan telah dinyatakan
dalam bentuk kalimat pernyataan. Hipotesis dikatakan jawaban sementara karena
jawaban yang diberikan harus didasarkan pada teori-teori yang relevan, belum
didasarkan pada fakta-fakta empiris yang diperoleh melalu pengumpulan data.
Jadi hipotesis dapat dinyatakan sebagai jawaban teoritis terhadap rumusan
masalah penulisan, belum bisa di nyatakan sebagai jawaban yang empiris.
Berdasarkan identifikasi dan rumusan masalah maka hipotesis penulisan ini adalah
sebagai berikut:
Pengaruh Likuiditas terhadap Financial Distress
Menurut Fahmi (2017:121) adanya rasio likuiditas merupakan kemampuan
suatu perusahaan dalam memenuhi kewajiban jangka pendeknya secara tepat
waktu. Rasio ini penting karena kegagalan dalam membayar kewajiban dapat
menyebabkan kebangkrutan perusahaan
Hasil penelitian Heri Setiawan (2018) menyatakan likuiditas berpengaruh
negatif dan signifikan terhadap financial distress. Sedangkan hasil penelitian Maya
(2017) menyatakan likuiditas berpengaruh tetapi tidak signifikan terhadap financial
distress. Hal ini berarti jika semakin besar perbandingan aktiva lancar dengan
hutang lancar maka semakin tinggi kemampuan perusahaan menutupi kewajiban
jangka pendeknya. Jadi semakin likuid suatu perusahaan mengindikasikan
perusahaan tersebut mampu membayar kewajiban yang akan jatuh tempo dan
semakin kecil kemungkinan perusahaan mengalami financial distress. Berdasarkan
uraian diatas, hipotesis pertama dalam penulisan ini adalah:
H1: Likuiditas berpengaruh terhadap financial distress
Pengaruh ukuran perusahaan terhadap financial distress
Menurut Brigham & Houston (2010:4) Ukuran perusahaan merupakan
ukuran besar kecilnya sebuah perusahaan yang ditunjukan atau dinilai oleh total
asset, total penjualan, jumlah laba, beban pajak dan lain-lain. Lalu menurut Butar
dan Sudarsi (2012) pengertian ukuran perusahaan merupakan nilai yang
menunjukkan besar atau kecilnya perusahaan.
Hasil penelitian Della Susilawati, Diamonalisa Sofianty, Edi Sukarmanto (2017)
dan Huntal Rim Daniel Silalahi (2018) menyatakan bahwa ukuran perusahaan
berpengaruh signifikan terhadap financial distress. Hal ini berarti semakin besar nilai
total aset perusahaan, maka semakin besar ukuran perusahaan tersebut sehingga
memungkinkan terhindarnya perusahaan dari financial distress. Berdasarkan uraian
diatas, hipotesis kedua dalam penulisan ini adalah:
H2: Ukuran Perusahaan berpengaruh terhadap financial distress
Financial Distress
Pengertian Financial Distress
Salah satu aspek pentingnya analisis terhadap laporan keuangan dari sebuah perusahaan
adalah kegunannya untuk meramal kelangsungan hidup perusahaan. Prediksi kelangsungan hidup
perusahaan sangat penting bagi manajemen dan pemilik perushaan untuk mengetahui kondisi
keuangan perusahaan dan mengantisipasi kondisi yang menyebabkan kemungkinan adanya gejala
financial distress
Apabila perusahaan gagal atau tidak mampu memenuhi kewajibannya, perusahaan dapat
dikatakan sedang mengalami kesulitan keuangan (financial distress). Kebangkrutan
Menurut Ahmad Roni (2010:171) financial distress pada dasarnya sulit untuk didefinisikan
secara tepat. Hal ini disebabkan oleh bermacam-macam kejadian kejatuhan perusahaan pada saat
financial distress hampir tiada akhirnya, seperti terjadinya pengurangan deviden, penutup
perusahaan, kerugian-kerugian, pemutusan hubungan kerja, pengunduran diri direksi dan jatuhnya
harga saham
Menurut Platt dan Platt (2006:142) dalam financial distress merupakan penurunan kondisi
keuangan yang terjadi sebelum terjadinya kebangkrutan atau likuiditas. Fahmi (2017:157) juga
menjabarkan jika perusahaan mengalami masalah dalam likuiditas makan akan sangat
memungkinkan perusahaan tersebut akan mulai memasuki masa kesulitan keuangan (financial
distress), dan jika kondisi tersebut tidak cepat diatasi maka bisa mengakibatkan kebangkrutan usaha.
Untuk menghindari kebangkrutan ini diperlukan berbagai kebijakan, strategi, dan bantuan, baik dari
pihak internal maupun ekternal
Menurut Hapsari (2012) Financial Distress adalah suatu situasi dimana arus kas operasi
perusahaan tidak memadai untuk melunasi kewajiban-kewajibannya, terutama kewajiban yang
bersifat jangka pendek termasuk kewajiban likuiditas
Penyebab Financial Distress
Financial distress dapat terjadi pada semua perusahaan. Oleh karena itu, tiap perusahaan harus
mengetahui apa yang menyebabkan terjadinya kondisi financial distress.Lizal dalam Juyneo Pratama
(2016), Heri Setiawan (2018) menjelaskan ada tiga alasan utama mengapa perusahaan mengalami
financial distress, yaitu:
1. Neoclassical model. Financial distress terjadi jika alokasi sumber daya tidak tepat. Manajemen
perusahaan kurang bisa mengalokasikan sumber daya (aset) yang ada di perusahaan untuk kegiatan
operasional perusahaan sehingga memungkinkan mengalami kondisi financial distress.
2. Financial model. Financial distress ditandai dengan adanya struktur keuangan yang salah
menyebabkan batasan likuidasi. Hal ini menunjukkan bahwa, meskipun perusahaan dapat bertahan
hidup dalam jangka panjang namun, perusahaan harus banngkrut dalam jangka pendek.
3. Corporate governance model. Kondisi financial distress dapat terjadi ketika perusahaan memiliki
susunan aset yang tepat dan struktur keuangan yang baik namun dikelola dengan buruk.
Menurut Altman (2005) dalam (Rahmy, 2014) financial distress adalah suatu konsep luas yang terdiri
dari beberapa situasi dimana suatu perusahaan menghadapi masalah kesulitan keuangan. Istilah
umum untuk menggambarkan situasi tersebut adalah kegagalan, kepailitan, default, dan
kebangkrutan. Jika perusahaan memperlihatkan kondisi keuangan yang melemah, maka dapat
membuat para pemegang kepentingan seperti kreditur dan pemegang saham kehilangan
kepercayaannya. Dengan begitu para stakeholders tersebut akan mundur untuk bekerjasama dengan
perusahaan. Apabila perusahaan gagal mencari jalan keluarnya, itu sudah menjadi pertanda bahwa
perusahaan dalam situasi financial distress diambang kebnagkrutan.
Menurut Fachrudin (2008)
Mengukur Financial Distress
Financial distress dapat diukur dengan berbagai model dan metode. Salah satu bentuk pengukuran
yang sering dan banyak dipakai dalam meneliti financial distress adalah model financial distress dari
Altman.
Altman menggunakan multiple discriminate analysis (MDA). Analisis diskriminan adalalah teknik
statistik yang mengidentifikasi rasio – rasio keuangan yang dianggap paling penting dalam
mempengaruh nilai dari suatu peristiwa dan kemudian dikembangkan kedalam suatu model sehingga
lebih mudah untuk mengambil kesimpulan (Husein & Pambekti, 2014). Altman melakukan penelitian
terhadap 66 perusahaan manufaktur go public di Amerika. Altman menemukan formula yang dapat
digunakan untuk mendeteksi kebangkrutan perusahaan dengan istilah yang sangat terkenal yaitu Z-
score. Z-score adalah suatu skor yang diperoleh dari rasio – rasio keuangan seperti likuiditas,
profitabilitas, leverage dan solvency. Kemudian hasil – hasil dari rasio ini dikalikan dengan bobot
tertentu. Formula Z-score Altman (1968) adalah:
Z-score = 1.2X1 + 1.4X2 + 3.3X3 + 0.6X4 + 1.0X5
Dimana
X1 = Working Capital/Total Assets
X2 = Retained Earnings/Total Assets
X3 = Earnings Before Interest and Taxes/Total Assets
X4 = Market Value of Equity/Book Value of Total Liabilities
X5 = Sales/Total Assets
Kriteria penilaian dari nilai Z-score:
5.) Jika nilai Z-score > 2.99 maka perusahaan dianggap tidak mengalami financial distress dan
berada didalam zona aman
6.) Jika nilai Z-score berada direntang 1.81 s.d. 2.99, maka perusahaan dinyatakan dalam zona grey
area.
7.) Jika nilai Z-score < 1.81 maka perusahaan tersebut dianggap tidak aman dan diprediksi akan
mengalami kebangkrutan
Model Zmijewski
X = -4,3 - 4,5X1 + 5,7X2 – 0,004X3
Dimana :
X1 = ROA (Return on Asset)
X2 = Leverage (Debt Ratio)
X3 = Likuiditas (Current Ratio)
Dengan cut off jika skor yang diperoleh ini melebihi 0 maka perusahaan diprediksi berpotensi
mengalami kebangkrutan. Sebaliknya, jika sebuah perusahaan memiliki skor yang kurang dari 0 maka
perusahaan diprediksi tidak berpotensi untuk mengalami kebangkrutan (Wulandary dan Nur, 2014).