Anda di halaman 1dari 4

BAB 1

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Menurut American Heart Association Penyakit Jantung Bawaan (PJB) adalah


penyakit dengan kelainan pada struktur jantung atau fungsi sirkulasi jantung yang
dibawa dari lahir yang terjadi akibat adanya gangguan atau kegagalan
perkembangan struktur jantung pada fase awal perkembangan janin.

Penyakit Jantung Bawaan adalah kelainan jantung atau malformasi yang


muncul saat kelahiran, selain itu kelainan jantung kongenital merupakan kelainan
anatomi jantung yang dibawa sejak dalam kandungan sampai dengan lahir.
Kebanyakan kelainan jantung kongenital meliputi malformasi struktur di dalam
jantung maupun pembuluh darah besar, baik yang meninggalkan maupun yang
bermuara pada jantung (Nelson, 2000).

Kelainan ini merupakan kelainana bawaan tersering pada anak, sekitar 8 –


10 dari 1000 kelahiran hidup. Penyakit Jantung Bawaan ini tidak selalu memberi
gejala segera setelah bayi lahir, tidak jarang kelainan tersebut baru ditemukan
setelah pasien berumur beberapa bulan atau bahkan ditemukan setelah pasien
berumur beberapa tahun. Kelainan ini bisa saja ringan sehingga tidak terdeteksi
saat lahir. Namun pada anak tertentu, efek dari kelainan ini begitu berat sehingga
diagnosis telah dapat ditegakkan bahkan sebelum lahir. Dengan kecanggihan
teknologi kedokteran di bidang diagnosis dan terapi, banyak anak dengan kelainan
jantung kongenital dapat ditolong dan sehat sampai dewasa (Ngustiyah, 2005).

Ada 2 golongan besar PJB, yaitu non sianotik (tidak biru) dan sianotik
(biru) yang masing-masing memberikan gejala dan memerlukan penatalaksanaan
yang berbeda. Penyakit Jantung Bawaan non sianotik terdiri dari defek septum
ventrikel, defek septum atrium, duktus arteriosus persisten, stenosis pulmonal,
stenosis aorta dan koarktasio aorta. Penyakit Jantung Bawaan sianotik terdiri dari
tetralogi fallot dan transposisi arteri besar (Webb,2011).

Universitas Sumatera Utara


Kelainan jantung bawaan dapat melibatkan katup – katup yang
menghubungkan ruang – ruang jantung, lubang di antara dua atau lebih ruang
jantung, atau kesalahan penghubung antara ruang jantung dengan arteri atau vena.
Dalam diagnosa PJB, perhatian utama ditujukan terhadap gejala klinis gangguan
sistem kardiovaskular pada masa neonatus. Indikasinya seperti sianosis sentral
(kebiruan pada lidah, gusi, dan mucosa buccal bukan pada ekstremitas dan
perioral, terutama terjadi saat minum atau menangis), penurunan perfusi perifer
(tidak mau minum, pucat, dingin, dan berkeringat disertai distress nafas), dan
takipneu > 60x /menit (terjadi setelah beberapa hari atau minggu, karena takipneu
yang terjadi segera setelah lahir menunjukkan kelainan paru, bukan PJB)
(Manuaba, 2002).

Pada kebanyakan kasus penyebabnya tidak diketahui. Namun beberapa


dapat diidentifikasi misalnya:- Wanita hamil yang menderita rubella (German
Measles) saat kehamilan trimester I memiliki resiko tinggi melahirkan bayi
dengan kelainan jantung kongenital. Resiko juga meningkat jika wanita hamil
terinfeksi virus tertentu, konsumsi alkohol atau kokain selama hamil, mendapat
pengobatan yang toksik untuk janin, terpapar zat polutan tertentu. Wanita yang
telah melahirkan anak dengan kelainan jantung kongenital memiliki resiko tinggi
untuk melahirkan bayi selanjutnya dengan kelainan jantung. Kelainan jantung
bawaan dapat terjadi bersamaan dengan kelainan bawaan lainnya. Selain itu,
faktor genetik turut merupakan salah satu dari faktor resiko yang mengakibatkan
PJB. Ibu hamil yang menderita diabetes dapat mempengaruhi perkembangan
anak, tetapi diabetes saat hamil sejauh ini belum dikaitkan dengan Penyakit
Jantung Bawaan (Collen, 2005).

Menurut Maret Dimes, satu daripada 125 bayi yang lahir di United States
memiliki kelainan jantung bawaan. Bahkan, kelainan ini adalah yang paling
umum diantara semua cacat lahir. Dalam The 2nd International Pediatric
Cardiology Meeting di Cairo, Egypt, 2008 dr. Sukma Tulus Putra lebih lanjut
mengungkapkan 45,000 bayi Indonesia terlahir dengan PJB tiap tahun. Dari 220
juta penduduk Indonesia, diperhitungkan bayi yang lahir mencapai 6,600,000 dan

Universitas Sumatera Utara


48,800 diantaranya adalah penyandang PJB. Sebuah total yang sangat besar dan
tidak menutup kemungkinan jumlahnya akan terus meningkat.

Menurut Perhimpunan Dokter Spesialis Kardiovaskular Indonesia


(PERKI) sekitar 8 – 10 bayi dari 1000 kelahiran hidup dan 30% diantaranya telah
memberikan gejala pada minggu – minggu pertama kehidupan. Bila tidak
terdeteksi secara dini dan tidak ditangani dengan baik, 50% kematiannya akan
terjadi pada bulan pertama kehidupan. Di negara maju hampir semua jenis PJB
telah dideteksi dalam masa bayi bahkan pada usia kurang dari 1 bulan, sedangkan
di negara berkembang banyak yang baru terdeteksi setelah anak lebih besar,
sehingga pada beberapa jenis PJB yang berat mungkin telah meninggal sebelum
terdeteksi.

Untuk memperbaiki pelayanan di Indonesia, selain pengadaan dana dan


pusat pelayanan kardiologi anak yang adekwat, diperlukan juga kemampuan
deteksi dini PJB dan pengetahuan saat rujukan yang optimal oleh para dokter
umum yang pertama kali berhadapan dengan pasien.

1.2 Rumusan Masalah

Berdasarkan penjelasan diatas maka dapat dirumuskan permasalahan penelitian


ini adalah : bagaimana karakteristik Penyakit Jantung Bawaan pada neonatus di
unit neonatalogi RSUP Haji Adam Malik Medan Periode 2011 – 2013?

1.3 Tujuan Penelitian

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui karakteristik Penyakit Jantung Bawaan


pada neonatus di unit neonatalogi RSUP Haji Adam Malik Medan Periode 2011 –
2013.

1.4 Manfaat Penenlitian

Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat sebagai berikut :

1) Meningkatkan wawasan dan pengetahuan peneliti tentang Penyakit Jantung


Bawaan terutama pada neonatus.

Universitas Sumatera Utara


2) Meningkatkan pengetahuan tentang insidensi Penyakit Jantung Bawaan pada
neonatus berdasarkan tipe Penyakit Jantung Bawaan, suku, saat didiagnosis, jenis
kelamin, status gizi dan tanda dan gejala Penyakit Jantung Bawaan.

3) Sebagai bahan informasi dan pengetahuan kepada tenaga medis, terutama


dokter spesialis anak mengenai jumlah kejadian Penyakit Jantung Bawaan pada
neonatus di RSUP Haji Adam Malik.

4) Diharapkan dapat digunakan untuk pengembangan ilmu kesehatan khususnya


ilmu epidemiologi dan sebagai bahan informasi untuk penelitian selanjutnya.

Universitas Sumatera Utara