Anda di halaman 1dari 3

TUGAS RUTIN 4

ASSESMEN TES
Nama : Grace Febriana Panjaitan
Kelas : BK Reguler C 2018
NIM : 1183351036

1. Tes WISC merupakan tes intelegensi yang bisa digunakan untuk mengukur taraf
kecerdasan anak usia 8 – 16 tahun. Tes WISC memiliki kemampuan untuk
mendeskripsikan berbagai aspek kecerdasan anak, seperti wawasan dan minat
pengetahuan, daya konsentrasi dan daya ingat jangka pendek, berbaai kemampuan,
seperti bahasa, matematika, berpikir logis dan abstrak. WISC terdiri atas 12 subtest dan
dapat dikelompokkan menjadi dua kelompok yaitu kelompok subtest-subtest verbal dan
performance. Pemberian skor pada subtes WISC-R didasarkan atas kebenar- an jawaban
dan waktu yang diperlukan oleh subjek dalam memberi kan jawaban yang  benar
tersebut. Skor tersebut kemudian diterjemahkan ke dalam bentuk angka standar melalui
table norma sehingga akhirnya diperoleh satu angka IQ-deviasi untuk skala verbal, satu
angka IQ-deviasi untuk keseluruhan skala. Kekurangan skala Wechsler: kurangnya
pendasaran teoritis yang menyulitkan  penemuan basis interpretasi yang koheren. Selain
itu juga komposisi skala-skala ini tampak menganggap bahwa domain kemampuan yang
dipilih oleh subtesnya dalam semua tingkat umur sama.
2. Kita sering mendengar kata ‘bakat’ pada kehidupan sehari-hari, tapi ketika ada orang lain
menanyakan definisi atau pengertian bakat, kita kadang hanya bisa menjawab bahwa
bakat itu ya bakat, minat atau kesukaan dan hobby. Bakat adalah karunia atau pem berian
Allah kepada manusia. Konsep bakat muncul karena ketidakpuasan terhadap tes inte-
ligensi yang menghasilkan skor tunggal yaitu IQ. Bakat adalah bawaan, given from God,
dan bakat adalah sesuatu yang dilatih. Tujuan mengetahui bakat yang pertama adalah
untuk melakukan diagnosis, dengan mengetahui bakat seseorang maka akan dipahami
potensi yang ada pada diri seseorang. Dengan demikian dapat membantu untuk
menganalisis permasalahan yang dihadapi testee di masa kini secara lebih cermat. Tes
bakat adalah tes kemampuan khusus dise but  juga tes perbedaan individual, tes yang terpisah
(separated test). bakat menunjukkan keunggulan atau keistimewaan kemampuan khusus tadi,
maka tes bakat dapat juga disebut tes batas kemampuan (power ability test) atau disebut differential
aptitudetest
3. Validitas  Sebuah tes disebut valid apabila tes tersebut dapat tepat mengukur apa yang
hendak diukur. Contoh, untuk mengukur partisipasi siswa dalam proses belajar mengajar,
bukan diukur melalui nilai yang diperoleh pada waktu ulangan, tetapi dilihat melalui:
kehadiran, terpusatnya perhatian pada pelajaran, ketepatan menjawab pertanyaan-
pertanyaan yang diajukan oleh guru dalam arti relevan pada permasalahannya.
Reliabilitas  Sebuah tes dikatakan reliabel apabila hasil-hasil tes tersebut menunjukan
ketetapan. Jika dihubungkan dengan validitas, maka: Validitas adalah ketepatan dan
reliabilitas adalah ketetapan.
Norma Tes  Setiap survei selalu mengumpulkan data mentah dari sekumpulan orang.
Tetapi bagaimana Anda menentukan apa sebenarnya dihasilkan dari data tersebut?
Interpretasi atas skor tes seseorang memiliki arti jika dibandingkan dengan sebuah nilai
kelompok yang lebih besar, dikenal dengan nama normatif population. Norma adalah
satu set skor tes yang memberikan benchmark atas perbandingan ini. Contoh, banyak tes
IQ memiliki nilai rata-rata 100. Berdasarkan hal ini, memungkinkan untuk menentukan
apakah seseorang berada di atas atau di bawah rata-rata. Untuk membangun norma, alat
ukur tersebut harus diuji cobakan pada sampel yang sesuai dengan tujuan alat ukur
tersebut. Tidak hanya jumlah sampelnya tapi pemilihan sampel juga harus dilakukan
dengan hati-hati, termasuk gender, umur, etnis, dan geografi. Sebagai contoh, sebuah alat
ukur yang mengukur sales profile, maka sebaiknya diujicobakan ke orang-orang sales dan
bukan ke anak sekolah.
4. Tes Hasil Belajar adalah cara yang digunakan atau prosedur yang ditempuh dalam rangka
pengukuran dan penilaian di bidang pendidikan, yang memberikan tugas dan serangkaian
tugas yang diberikan oleh guru sehingga dapat dihasilkan nilai yang melambangkan
tingkat laku atau prestasi peserta didik. Dari segi bentuk soal dan kemungkinan
jawabannya tes dibagi menjadi 2 bagian yakni :
 . Tes Essay (uraian)
 Tes Objektif, bentuk tes objektif di atas mempunyai kelemahan dan kebaikannya,
akan tetapi biasanya bentuk objektif dapat menteskan semua bahan yang telah
diajarkan, sedangkan bentuk uraian agak sukar untuk mengukur semua bahan yang
sudah diajarkan, karena ruang lingkup bentuk tes tersebut sangat sempit. Untuk lebih
jelasnya perlu diterangkan dahulu kelemahan dan kebaikan tes bentuk objektif.

Ada enam tahap dalam merencanakan dan menyusun tes agar diperoleh tes yang
baik,yaitu:

 Pengembangan spesifikasi tes


 Penulisan soal
 Penelaahan soal
 Pengujian butir-butir soal secara empiris, kegiatan ini sangat penting jika soal yang
dibuat akan dibakukan.
 Penganalisisan hasil uji coba.
 Pengadministrasian soal