Anda di halaman 1dari 21

PROPOSAL KEGIATAN

“PENYULUHAN KESEHATANPADA IBU POST PARTUM ( PERAWATAN


VULVA HIGIENE DAN PAYUDARA) DI RUANG KEBIDANAN RSUD RADEN
MATTAHER JAMBI”

DISUSUN OLEH:

KELOMPOK 2

1. TOBI PITORA G1B219010


2. DIAH AYU G1B219011
3. INTAN YULYA KARDILA G1B219012
4. AURURAH FITRI IMANIZA G1B219013
5. YUZA OLSI RAHMI G1B219014
6. LINDA WATI G1B219015
7. LIONI REZKI ANANDA G1B219016
8. NUR AFRIZA G1B219017
9. WINARNI G1B219022
10. EKA DESI RAHMASARI G1B219029

PROGRAM STUDI PROFESI NERS

FAKULTAS KEDOKTERAN DAN ILMU KESEHATAN

UNIVERSITAS JAMBI

2019
KATA PENGANTAR

Puji syukur kepada Allah Subhanahuwata’ala, yang telah memberikan rahmat serta
petunjukNya sehingga penulisan proposal kegiatan yang berjudul “Penyuluhan Kesehatan
Pada Ibu Post Partum: Asupan Gizi Ibu Post Partum, Perawatan Vulva Higiene, Perawatan
Payudara Di Ruang Kebidanan RSUD Raden Mattaher Jambi”dapat terselesaikan dengan
baik.

Selanjutnya penulis menyadari bahwa penulisan proposal kegiatan penyuluhan ini


tidak lepas dari bimbingan, bantuan, serta dukungan dari berbagai pihak. Oleh karena itu
penulis mengucapkan terima kasih kepada :

1. Ibu Ns. Sri Mulyani, S.Kep., M.Kep selaku dosen pembimbing mata kuliah
Keperawatan Maternitas
2. Ibu Ns. Endah Pramukti, S.Kep selaku pembimbing lapangan stase
maternitas
3. Dan berbagai pihak yang tidak dapat penulis sebutkan satu persatu. Semoga
Allah Subhanahuwata’ala memberikan yang terbaik bagi kita semua.
Akhirnya penulis mohon maaf apabila terdapat kesalahan dalam penulisan laporan
ini, karena penulis menyadari sebagai manusia banyak kekurangan dan penulis mohon
kritik dan saran yang sifatnya membangun untuk kesempurnaan riset dikemudian
hari.Penulis berharap semoga laporan penyuluhan ini dapat bermanfaat bagi pembaca
khususnya yang membutuhkan.

Jambi, November 2019

Kelompok 2
PRE PLANNING
PENYULUHAN KESEHATAN TENTANG PERAWATAN PAYUDARA RSUD
RADEN MATTAHER JAMBI
Hari/tanggal :Kamis/ 14 November 2019

A. Latar Belakang

Post partum / puerperium adalah masa dimana tubuh menyesuaikan, baik fisik
maupun psikososial terhadap proses melahirkan yang dimulai segera setelah bersalin
sampai tubuh menyesuaikan secara sempurna dan kembali mendekati keadaan sebelum
hamil.Masa post partum adalah ± 6 minggu, dibagi dalam tiga tahap : Immediate post
partum dalam 24 jam pertama, Early post partum period (minggu pertama) dan Late post
partum period (minggu kedua sampai minggu ke enam). Potensial bahaya yang sering
terjadi adalah pada immediate dan early post partum period sedangkan perubahan secara
bertahap kebanyakan terjadi pada late post partum period.

Resiko yang terjadi pada ibu post partum adalah infeksi, Infeksi Post partum
merupakan morbiditas dan mortalitas bagi ibu pasca bersalin. (Saifuddin, 2011). Infeksi
post partum ialah infeksi yang terjadi pada traktus genitalia setelah persalinan (Rayburn
dan Carey, 2001).Secara umum suhu 38oC atau lebih yang terjadi antara hari ke 2-10 post
partum dan diukur per-oral sedikitnya 4 kali sehari disebut sebagai morbiditas puerperalis.
Kenaikan suhu tubuh yang terjadi didalam masa post partum, dianggap sebagai infeksi post
partum jika tidak ditemukan sebab- sebab ekstragenital. Infeksi post partum dapat
disebabkan oleh beberapa faktor predisposisi seperti hygiene, kelelahan, proses persalinan
bermasalah (partus lama/macet), persalinan traumatik, kurang baiknya proses pencegahan
infeksi, manipulasi yang berlebihan dan dapat berlanjut ke infeksi dalam masa post partum
(Saifuddin dkk., 2011).

Faktor karakteristik Ibu sebagai penyebab kemungkinan terjadinya infeksi post


partum diantaranya adalah kurangnya pengetahuan tentang vulva hygienedengan benar,
faktor pendidikan ibu post partum, faktor sosial-ekonomi, nilai dan kepercayaan (Saifuddin
dkk., 2011).Vulva hygiene adalah membersihkan vulva dan daerah sekitarnya pada pasien
wanita yang sedang nifas untuk mencegah terjadinya infeksi pada ibu pasca persalinan.
Selain itu yang menjadi permasalahan pada ibu post partum adalah sedikitnya
jumlah ASI yang diproduksi oleh tubuh, penurunan produksi ASI pada hari pertama
persalinan karena kurangnya rangsangan hormon prolaktin dan oksitosin yang berperan
dalam produksi dan pengeluaran ASI, salah satunya adalah dengan perawatan payudara,
perawatan payudara dapat dilakukan setelah 1-2 hari pasca melahirkan dan harus dilakukan
secara rutin dengan dilakukan perawatan payudara dapat merangsang otot-otot payudara
yang dapat membantu merangsang hormon prolaktin. banyak ibu postpartum belum tau
cara perawatan payudara pada saat nifas. ketidaklancaran ASI banyak dipengaruhi oleh
breast care yang kurang. Oleh karena itu, breast care sangat penting dilakukan bagi ibu
yang telah melahirkan utuk mencegah masalah-masalah yang timbul selama laktasi, seperti:
pembengkakan payudara, penyumbatan saluran ASI, radang payudara dan sebagainya.
Untuk mengatasi permasalahan diatas, lakukan breast care selama menyusui. Untuk
mengurangi sakit pada payudara maka lakukan pengurutan payudara secara perlahan,
kompres air hangat sebelum bayi menyusui karena panas dapat merangsang aliran ASI
kemudian kompres air dingin setelah menyusui untuk mengurangi rasa sakit dan
pembengkakan. Sehingga dengan pengurutan payudara secara perlahan, mengompres air
hangat dan air dingin pada payudara, serta membersihkan puting secara benar dan teratur
diharapkan ASI dapat keluar lancar dan proses laktasi pun berjalan lancar Ibu yang
menyusui tidak akan mengalami kesulitan dalam pemberian ASI bila sejak awal telah
mengetahui bagaimana perawatan payudara yang tepat dan benar. (Saputra, Dr Lyndon,
2014)

Berdasarkan latar belakang tersebut maka kelompok 2 tertarik melakukan


penyuluhan tentang pentingnya perawatan pada ibu post partum di ruang rawat inap
kebidanan RSUD Raden Mattaher Jambi.

B. Tujuan Instruksional

1. Tujuan Umum

Setelah mengikuti kegiatan penyuluhan tentang pentingnya perawatan post partum


pada ibu selama 30 menit, diharapkan para ibu di bangsal kebidanan dapat mengetahui,
memahami, serta melakukan perawatan payudara.
2. Tujuan Khusus

Setelah dilakukan penyuluhan, peserta diharapkan mampu:

1. Peserta dapat menjelaskan pengertian post partum


2. Peserta dapat menjelaskan perawatan post partum
3. Peserta dapat menjelaskan pengertian vulva hygien
4. Peserta dapat mengetahui cara perawatan vulva hyegene
5. Peserta dapat menjelasakan tentang asupan gizi pada ibu post partum
6. Peserta dapat menjelaskan tentang perawatan payudara
7. Peserta dapat mengetahui cara perawatan payudara

C. Hari/Tanggal, Tempat dan Waktu, dan Jumlah Peserta

Hari/tanggal : Kamis,14November2019
Tempat : Bangsal Kebidanan
Waktu : (30 menit)
Jumlah Perserta : 7-10orang

D. Metode dan Media


Metode : ceramahdan demonstrasi
Media : audio,lcd, dan leaflet

E. Tim Pelaksana
Presentator : Yuza Olsi Rahmi

Moderator : Diah Ayu Handayany

Notulen : Eka Desi Rahmasari

Fasilitator : Nur Afriza, Aururah Fitri Imaniza, Linda Wati

Konsumsi : Winarni, Tobi Pitora

Observer :Intan Yullya Kardila

Dokumentasi :Lioni Rezki Ananda

F. Tugas dan Fungsi Tim Pelaksana


a. Moderator
Uraian tugas:
1) Membuka acara penyuluhan memperkenalkan diri dan tim kepada
peserta.
2) Mengatur proses dan lama penyuluhan.
3) Memimpin jalannya penyuluhan
4) Menutup acara penyuluhan

b. Penyuluh / Presenter
Uraian tugas:
1) Menjelaskan tujuan dan manfaat penyuluhan dengan jelas dengan
bahasa yang dipahami oleh peserta
2) Memotivasi peserta untuk tetap aktif danmemperhatikan proses
penyuluhan
3) Menjawab pertanyaan peserta.
c. Notulen
Uraian tugas: Mencatat hasil dari diskusi dan Tanya jawab serta membuat
lapora hasil penyuluhan
d. Fasilitator
Uraian tugas:

1) Ikut bergabung dan duduk bersama peserta.


2) Mengevaluasi peserta tentang kejelasan materi penyuluhan.
3) Memotivasi peserta untuk bertanya materi yang belum jelas.
4) Menginterupsi penyuluhan tentang istilah/hal-hal yang dirasa
kurang jelas bagi peserta.
5) Membagikan leaflet pada peserta
e. Observer
Uraian tugas:
1) Mencatat nama dan jumlah peserta, serta menempatkan diri
sehingga memungkinkan dapat mengamankan jalannya proses
penyuluhan.
2) Mencatat pertanyaan yang diajukan peserta.
3) Mengamati perilaku verbal dan non verbalpeserta selama proses
penyuluhan.
4) Mengevaluasi hasil penyuluhan dengan rencana penyuluhan.
5) Menyampaikan evaluasi langsung kepada penyuluh yang dirasa
tidak sesuai dengan rencana penyuluhan.
6) Berkoordinasi dengan notulen dalam membuat laporan hasil
penyuluhan
G. Setting Tempat

PINTU

Proyeksi

Pembimbing Peserta

Presenter Observer

Fasilitator Notulen

Moderator
H. Susunan Kegiatan

Tahap Kegiatan Kegiatan Mahasiswa Kegiatan Audiens

Pendahuluan M o d e r a t o r :

(5menit)  Mengucapkan salam  Menjawab salam


 Menjelaskan tujuan kegiatan  Mendengarkan dan
memperhatikan
 Menyetujui kontrak
 Menjelaskan kontrak waktu
waktu
Penyampaian penyuluhan P r e s e n t a t o r :

(15 menit)  Menggali pengetahuan audiens  Mengemukakan


tentang pengertian post partum, pendapat
asupan gizi ibu post partum,
pengertian vulva higiene, cara
perawatan payudara
 Memberi reinforcement positif  Mendengarkan dan
pada audiens atas pendapat memperhatikan
audiens
 Menjelaskan materi penyuluhan
 Mengajukan pertanyaan
yang berisi tentang pengertian
post partum, kebutuhan dasar
perawatan post partum,
pengertian vulva higiene, cara
 Memperhatikan
perawatan vulva higiene,
asupan gizi post partum,
pengertian perawatan payudara,
tujuan dari perawatan payudara,
teknik perawatan payudara.
 Demonstrasi cara perawatan
payudara.
Penutup M o d e r a t o r :

 Memberikan kesempatan pada  Tanya Jawab


(10 menit) audien untuk bertanya  Mendengarkan dan
 Melakukan evaluasi memperhatikan
 Menyimpulkan materi hasil  Menjawab salam
penyuluhan
 Memberi salam penutup

I. Evaluasi

1. Evaluasi Struktur
 75 % peserta menghadiri penyuluhan
 Tempat dan alat tersedia sesuai perencanaan
 Peran dan tugas mahasiswa sesuai dengan perencanaan
2. Evaluasi Proses
 Pelaksanaan kegiatan sesuai dengan waktu yang telah direncanakan
 Peserta penyuluhan dapat mengikuti acara atau kegiatan sampai selesai
 75 % Peserta penyuluhan berperan aktif selama kegiatan berjalan
3. Evaluasi Hasil
 75 % Peserta yang mengikuti penyuluhan mengetahui tentang kebutuhan
dasar perawatan post partum
 75 % Peserta yang mengikuti mampu menyebutkan cara perawatan vulva
higiene
 75 % Peserta yang mengikuti mampu menyebutkan asupan gizi post partum
 75 % Peserta yang mengikuti mampu menyebutkan cara perawatan payudara
Lampiran

Post Partum
1. Pengertian Post Partum
Postpartum adalah masa atau waktu sejak bayi dilahirkan dan plasenta
keluar  lepas dari rahim, sampai enam minggu berikutnya, disertai dengan pulihnya
kembali organ-organ yang berkaitan dengan kandungan, yang mengalami perubahan
seperti perlukaan dan lain sebagainya berkaitan saat melahirkan
(Suherni,2009).  Pada masa postpartum ibu banyak mengalami kejadian yang
penting, Mulai dari perubahan fisik, masa laktasi maupun perubahan psikologis
menghadapi keluarga baru dengan kehadiran buah hati yang sangat membutuhkan
perhatian dan  kasih sayang. Namun kelahiran bayi juga merupakan suatu masa
kritis bagi kesehatan ibu, kemungkinan timbul masalah atau penyulit, yang bila
tidak ditangani segera dengan efektif akan dapat membahayakan kesehatan atau
mendatangkan kematian bagi ibu, sehingga masa postpartum ini sangat penting
dipantau oleh bidan.
2. Tahapan Masa Postpartum
Adapun tahapan-tahapan masa postpartum adalah :
a. Puerperium dini : Masa kepulihan, yakni saat-saat ibu dibolehkan berdiri dan
berjalan-jalan.
b. Puerperium intermedial : Masa kepulihan menyeluruh dari organ-organ genital,
kira-kira 6-8 minggu.
c. Remot puerperium : Waktu yang diperlukan untuk pulih dan  sehat sempurna
terutama apabila ibu selama hamil atau persalinan mempunyai komplikasi.
3. Kebutuhan Dasar Perawatan Postpartum
 

Nutrisi dan cairan pada masa postpartum masalah diet perlu mendapat perhatian
yang serius, karena dengan nutrisi yang baik dapat mempercepat penyembuhan ibu
dan sangat mempengaruhi susunan air susu. Diet yang diberikan harus bermutu,
bergizi tinggi, cukup kalori, tinggi protein, dan banyak mengandung cairan. Ibu
yang menyusui harus memenuhi kebutuhan akan gizi seperti mengkonsumsi
tambahan 500 kalori tiap hari, makan dengan diet berimbang untuk mendapatkan
protein, mineral, dan vitamin yang cukup, dan minum sedikitnya 3 liter air setiap
hari. Ambulasi dini (early ambulation) ialah kebijaksanaan agar secepat mungkin
bidan membimbing ibu post partum bangun dari tempat tidurnya dan membimbing
ibu secepat mungkin untuk berjalan. Sekarang tidak perlu lagi menahan ibu
postpartum telentang ditempat tidurnya selama 7-14 hari setelah melahirkan. Ibu
postpartum sudah diperbolehkan bangun dari tempat tidur dalam 24-48

jam  postpartum. Eliminasi Dalam 6 jam ibu post partum harus sudah bisa BAK
spontan. Jika dalam 8 jam postpartum belum dapat berkemih tau sekali berkemih
belum melebihi 100 cc, maka dilakukan kateterisasi. Akan tetapi, kalau ternyata
kandung kemih penuh, tidak perlu 8 jam untuk kateterisasi. Ibu postpartum
diharapkan dapat buang air besar setelah hari kedua postpartum.Bila lebih dari tiga
hari belum BAB bisaa diberikan obat laksantia.  Ambulasi secara dini dan teratur
akan membantu dalam regulasi BAB. Asupan cairan  yang adekuat dan diit tinggi
serat sangat dianjurkan.  
Personal higiene sangat penting dilakukan Pada masa post partum, seorang  ibu
sangat rentan terhadap infeksi. Oleh karena itu, kebersihan diri sangat
penting  untuk mencegah terjadinya infeksi. Kebersihan tubuh, pakaian, tempat
tidur, dan  lingkungan sangat penting untuk tetap dijaga. Ibu postpartum sangat
membutuhkan istirahat yang berkualitas untuk memulihkan kembali keadaan
fisiknya.Keluarga disarankan untuk memberikan kesempatan kepada ibu untuk
beristirahat yang cukup sebagai persiapan untuk menyusui bayinya nanti.
Secara fisik aman untuk melakukan hubungan seksual begitu darah merah
berhenti dan ibu dapat memasukkan satu atau dua jarinya kedalam vagina tanpa
rasa  nyeri. Banyaknya budaya dan agama yang melarang untuk melakukan
hubungan  seksual sampai masa waktu 40 hari atau 6 minggu setelah persalinan.
Keputusan  tersebut tergantung pada pasangan yang bersangkutan (Jannah,
2011).  Senam nifas dilakukan sejak hari pertama melahirkan setiap hari sampai
hari  kesepuluh, terdiri dari sederetan gerakan tubuh yang dilakukan untuk
mempercepat  pemulihan keadaan ibu. Senam nifas membantu memperbaiki
sirkulasi darah,  memperbaiki sikap tubuh dan punggung setelah melahirkan,
memperkuat otot panggul dan membantu ibu untuk lebih rileks dan segar pasca
melahirkan.
Berikut merupakan jabaran mengenai beberapa kebutuhan yang dibutuhkan oleh
ibu post partum, diantaranya:

A. Perawatan Vulva Higiene


4.1 Pengertian
Vulva hygiene adalah membersihkan vulva dan daerah sekitarnya pada pasien
wanita yang sedang nifas atau tidak dapat melakukannya sendiri. Pasien yang harus
istirahat di tempat tidur (misalnya, karena hipertensi, pemberian infus, sectio caesarea)
harus dimandikan setiap hari dengan pencucian daerah perineum yang dilakukan dua kali
sehari dan pada waktu sesudah selesai membuang hajat. Meskipun ibu yang akan bersalin
biasanya masih muda dan sehat, daerah daerah yang tertekan tetap memerlukan perhatian
serta perawatan protektif
Setelah ibu mampu mandi sendiri (idealnya, dua kali sehari), biasanya daerah
perineum dicuci sendiri dengan menggunakan air dalam botol atau wadah lain yang
disediakan khusus untuk keperluan tersebut. Penggantian tampon harus sering dilakukan,
sedikitnya sesudah pencucian perineum dan setiap kali sehabis ke belakang atau sehabis
menggunakan pispot. Payudara harus mendapatkan perhatian khusus pada saat mandi yang
bisa dilakukan dengan memakai spons atau shower dua kali sehari. Payudara dibasuh
dengan menggunakan alat pembasuh muka yang disediakan khusus untuk keperluan
ini.Kemudian masase payudara dilakukan dilakukan dengan perlahan – lahan dan puting
secara hati – hati ditarik keluar. Jangan menggunakan sabun untuk membersihkan puting
4.2.      Tujuan
Ada beberapa tujuan dari perawatan vulva hygiene, yaitu :
a.       Untuk mencegah infeksi
b.      Untuk penyembuhan luka jahitan perineum.
c.       Untuk kebersihan perineum, vulva juga memberikan rasa nyaman bagi klien.
4.3.      Persiapan Alat
a.       Kapas sumblimat
b.      Alas pantat
c.       Botol cebok berisi larutan desinfektan sesuai dengan kebutuhan
d.      Betadin dan kain kasa
e.       Bengkok

4.4.      Cara Ibu Nifas Melakukan Vulva Hygiene Sendiri.


Langkah-langkah yang dapat dilakukan untuk menjaga kebersihan diri Ibu nifas
adalah sebagai berikut :
1)  Membersihkan daerah kelamin dengan sabun dan air. Langkah pertama ibu
membersihkan daerah sekitar vulva terlebih dahulu dari depan ke belakang, kemudian
membersihkan daerah anus. Dan sebaiknya ibu membersihkan daerah sekitar vulva
setiap kali selesai BAK atau BAB.
2)      Mengganti pembalut atau kain pembalut 2 kali sehari, kain dapat digunakan ulang jika
telah dicuci dengan baik dan dikeringkan di bawah matahari dan disetrika.
3)      Mencuci tangan dengan sabun dan air sebelum dan sesudah membersihkan daerah
kelaminnya.
4)  Jika ibu mempunyai luka episotomi atau laserasi, sarankan kepada ibu untuk
menghindari menyentuh daerah tersebut (Saifuddin, 2002).

4.5.      Penatalaksanaan
Sebelum dilakukan vulva hygiene hendaknya perawat memberikan penjelasan
terlebih dahulu tentang hal yang akan dilakukan kepada klien.
Pelaksanaan
1)     Pintu dan jendela ditutup dan jika perlu pasanglah sampiran
2)  Alat-alat didekatkan pada pasien dan pasien diberitahu tentang hal yang akan dilakukan
3)     Perawat mencuci tangan
4)      Pakaian pasien bagian bawah dikeataskan atau dibuka.
5)      Pengalas dan dipasang dibawah bokong pasien, sikap pasien dorsal recumbent
6)      Perawat memakai sarung tangan (tangan kiri)
7)      Siram vulva dengan air cebok yang berisi larutan desinfektan
8)      Kemudian ambil kapas sublimat untuk membuka labia minora. vulva dibersihkan mulai
dari labia minora kiri, labia minora kanan, labia mayora kiri, labia mayora kanan,
vestibulum, perineum.
9)    Cara mengusap dari atas ke bawah bila masih kotor diusap lagi dengan kapas sublimat
yang baru hingga bersih.
10)  Keadaan perineum diperhatikan jahitannya, bagaimana jahitannya apakah masih basah,
apakah ada pembengkakan, iritasi dan sebagainya
11)  Jahitan perineum dikompres dengan betadin
12)  Setelah selesai pasien dirapihkan dan posisinya diatur kembali
13)  Peralatan dibereskan, dibersihkan dan dikembalikan ke tempat semula.

B. Perawatan Payudara
5.1 Definisi Perawatan Payudara

Perawatan payudara (Breast Care) adalah suatu cara merawat payudara yang
dilakukan pada saat kehamilan atau masa nifas untuk produksi ASI, selain itu untuk
kebersihan payudara dan bentuk puting susu yang masuk ke dalam atau datar. Puting
susu demikian sebenarnya bukanlah halangan bagi ibu untuk menyusui dengan baik
dengan mengetahui sejak awal, ibu mempunyai waktu untuk mengusahakan agar
puting susu lebih mudah sewaktu menyusui. Disamping itu juga sangat penting
memperhatikan kebersihan personal hygiene (Rustam, 2009). Payudara adalah
pelengkap organ reproduksi wanita dan pada masa laktasi akan mengeluarkan air susu.
Payudara mungkin akan sedikit berubah warna sebelum kehamilan, areola (area yang
mengelilingi puting susu) biasanya berwarna kemerahan, tetapi akan menjadi coklat
dan mungkin akan mengalami pembesaran selama masa kehamilan dan masa
menyusui(Manuaba, 2011).

5.2 Tujuan Perawatan Payudara

Perawatan Payudara pasca persalinan merupakan kelanjutan perawatan payudara


semasa hamil, mempunyai tujuan antara lain:
1. Untuk menjaga kebersihan payudara sehingga terhindar dari infeksi.
2. Untuk mengenyalkan puting susu, supaya tidak mudah lecet.
3. Untuk menonjolkan puting susu.
4. Menjaga bentuk buah dada tetap bagus
5. Untuk mencegah terjadinya penyumbatan
6. Untuk memperbanyak produksi ASI
7. Untuk mengetahui adanya kelainan (Notoadmojo, 2008).

5.3 Tehnik Perawatan Payudara

Beberapa Keadaan Yang Berkaitan Dengan Teknik Dan Saat PerawatanPayudara


antara lain :
1. Puting Lecet
a. Untuk mencegah rasa sakit, bersihkan puting susu dengan air hangat ketika
sedang mandi dan janganmenggunakan sabun, karena sabun bisa membuat
puting susu kering dan iritasi.
b. Pada ibu dengan puting susu yang sudah menonjol dan tanpa riwayat abortus,
perawatnnya dapat dimulai pada usia kehamilan 6 bulan atas.
c. Ibu dengan puting susu yang sudah menonjol dengan riwayat abortus,
perawatannya dapat dimulai pada usia kehamilan diatas 8 bulan.
d. Pada puting susu yang mendatar atau masuk kedalam, perawatannya harus
dilakukan lebih dini, yaitu usia kehamilan 3 bulan, kecuali bila ada riwayat
abortus dilakukan setelah usia kehamilan setelah 6 bulan.
2. Cara perawatan puting susu datar atau masuk Ke dalam Antara Lain:
a. Puting susu diberi minyak atau baby oil.
b. Letakkan kedua ibu jari diatas dan dibawah puting.
c. Pegangkan daerah areola dengan menggerakan kedua ibu jari kearah atas dan
kebawah ± 20 kali (gerakannya kearah luar)
d. Letakkan kedua ibu jari disamping kiri dan kanan puting susu
e. Pegang daerah areola dengan menggerakan kedua ibu jari kearah kiri dan
kekanan ± 20 kali( Saiffudin, 2010)
3. Penyumbatan Kelenjar Payudara
Sebelum menyusui, pijat payudara dengan lembut, mulailah dari luar kemudian
perlahan-lahan bergerak ke arah puting susu dan lebih berhati-hatilah pada area
yang mengeras. Menyusui sesering mungkin dengan jangka waktu selama
mungkin, susui bayi dengan payudara yang sakit jika ibu kuat menahannya, karena
bayi akan menyusui dengan penuh semangat pada awal sesi menyusui, sehingga
bisa mengeringkannya dengan efektif. Lanjutkan dengan mengeluarkan air susu
ibu dari payudara itu setiap kali selesai menyusui jika bayi belum benar-benar
menghabiskan isi payudara yang sakit tersebut. Tempelkan handuk halus yang
sudah dibasahi dengan air hangat pada payudara yang sakit beberapa kali dalam
sehari atau mandi dengan air hangat beberapa kali, lakukan pemijatan dengan
lembut di sekitar area yang mengalami penyumbatan kelenjar susu dan secara
perlahan-lahan turun ke arah puting susu (Prawirohardjo, 2010).
4. Pengerasan Payudara
Menyusui secara rutin sesuai dengan kebutuhan bisa membantu mengurangi
pengerasan, tetapi jika bayi sudah menyusui dengan baik dan sudah mencapai
berat badan ideal, ibu mungkin harus melakukan sesuatu untuk mengurangi
tekanan pada payudara.Sebagai contoh, merendam kain dalam air hangat dan
kemudian di tempelkan pada payudara atau mandi dengan air hangat sebelum
menyuusi bayi.Mungkin ibu juga bisa mengeluarkan sejumlah kecil ASI sebelum
menyusui, baik secara manual atau dengan menggunakan pompa payudara.Untuk
pengerasan yang parah, gunakan kompres dingin atau es kemasan ketika tidak
sedang menyusui untuk mengurangi rasa tidak nyaman dan mengurangi
pembengkakan (Manuaba, 2010).

5.4 Cara Perawatan Payudara

Agar Berhasil Ada beberapa tips perawatan payudara antara lain:


a. Pengurutan harus dilakukan secara sistematis dan teratur minimal 2 kali
sehari.
b. Merawat Puting Susu dengan menggunakan kapas yang sudah diberi baby oil
lalu di tempelkan selama 5 menit
c. Memperhatikan kebersihan sehari-hari.
d. Memakai BH yang bersih dan menyokong payudara .
e. Jangan mengoleskan krim, minyak, alcohol, atau sabun pada puting susu
(Mustika, 2011).

5.5 Teknik Dan Cara Perawatan Payudara

1. Tehnik Pengurutan Payudara


Tehknik Dan Cara pengurutan payudara di Paparkan Oleh Siti, 2012 antara lain :
a. Massase
Pijat sel-sel pembuat ASI dan saluran ASI tekan 2-4 jari ke dinding dada, buat
gerakan melingkar pada satu titik di area payudara Setelah beberapa detik
pindah ke area lain dari payudara, dapat mengikuti gerakan spiral. mengelilingi
payudarake arah puting susu ataugerakan lurus dari pangkal payudara ke arah
puting susu.
b. Stroke
1) Mengurut dari pangkal payudara sampai ke puting susu dengan jarijari atau
telapak tangan.
2) Lanjutkan mengurut dari dinding dada kearah payudara diseluruh bagian
payudara.
3) Ini akan membuat ibu lebih rileks dan merangsang pengaliran ASI (hormon
oksitosin).
c. Shake (goyang)
Dengan posisi condong kedepan, goyangkan payudara dengan lembut, biarkan
gaya tarik bumi meningkatkan stimulasi pengaliran.
2. Cara Pengurutan Payudara
Cara Pengurutan payudara di Paparkan Oleh Prawirohardjo, 2010 dapat di lakukan
dengan cara sebagai berikut :
a. Pengurutan Pertama
1. Licinkan telapak tangan dengan sedikit minyak/baby oil.
2. Kedua tangan diletakkan diantara kedua payudara ke arah atas, samping,
bawah, dan melintang sehingga tangan menyangga payudara, lakukan 30
kali selama 5 menit

b. Pengurutan kedua
1. Licinkan telapak tangan dengan minyak/baby oil.
2. Telapak tangan kiri menopang payudara kiri dan jari-jari tangan kanan
saling dirapatkan Sisi kelingking tangan kanan memegang payudara kiri
dari pangkal payudara kearah puting, demikian pula payudara kanan
lakukan 30 kali selama 5 menit (Manuaba, 2010).
c. Pengurutan ketiga
1. Licinkan telapak tangan dengan minyak
2. Telapak tangan kiri menopang payudara kiri.Jari-jari tangan kanan
dikepalkan, kemudian tulang kepalantangan kanan mengurut payudara
dari pangkal ke arah puting susulakukan 30 kali selama 5 menit.
d. Perawatan Buah Payudara pada Masa Nifas
1. Menggunakan BH yang menyokong payudara
2. Apabila puting susu lecet oleskan colostrum atau ASI yang keluar pada
sekitar puting susu setiap kali
3. selesai menyusui, menyusui tetap dilakukan dimulai dari puting susu yang
tidak lecet.
4. Apabila lecet sangat berat dapat di istirahatkan selama 24 jam ASI
dikeluarkan dan diminumkan dengan menggunakan sendok.
5. Untuk menghilangkan rasa nyeri ibu dapat minum parasetamol 1 tablet
setiap 4-6 jam.
6. Apabila payudara bengkak akibat bendungan ASI, lakukan :
pengompresan payudara menggunakan kain basah dan hangat selama 5
menit, urut payudara dari arah pangkal menuju puting susu, keluarkan
ASI sebagian dari bagian depan payudara sehingga puting susu menjadi
lunak, susukan bayi setiap 2-3 jam, apabila tidak dapat menghisap ASI
sisanya dikeluarkan dengan tangan letakkan kain dingin pada payudara
setelah menyusui.

5.6 Akibat Jika Tidak Dilakukan Perawatan Payudara

Berbagai dampak negatif dapat timbul jika tidak dilakukanperawatan payudara


sedini mungkin. Dampak tersebut meliputi :

1. Puting susu kedalam


2. ASI lama keluar
3. Produksi ASI terbatas
4. Pembengkakan pada payudara
5. Payudara meradang
6. Payudara kotor
7. Ibu belum siap menyusui
8. Kulit payudara terutama puting akan mudah lecet (Prawirohardjo, 2011).

5.7 Penatalaksanaan Perawatan Payudara

Penatalaksanaan Perawatan Payudara Menurut Rustam (2009), antara lain :


a. Cara Mengatasi Bila Puting Tenggelam
Lakukan gerakan menggunakan kedua ibu jari dengan menekan kedua sisi
puting dan setelah puting tampak menonjol keluar lakukan tarikan pada puting
menggunakan ibu jari dan telunjuk lalulanjutkan dengan gerakan memutar
puting ke satu arah.Ulangi sampai beberapa kali dan dilakukan secara rutin.
b. Jika Asi Belum Keluar
Walaupun asi belum keluar ibu harus tetap menyusui. Mulailah segera
menyusui sejak bayi barulahir, yakni dengan inisiasi menyusui dini, Dengan
teratur menyusui bayi maka hisapan bayipada saat menyusu ke ibu akan
merangsang produksi hormon oksitosin dan prolaktin yang akan membantu
kelancaran ASI. Jadi biarkan bayi terus menghisap maka akan keluar ASI.
Jangan berpikir sebaliknya yakni menunggu ASI keluar baru menyusui.
c. Penanganan puting susu lecet
Bagi ibu yang mengalami lecet pada puting susu, ibu bisa mengistirahatkan 24
jam pada payudara yang lecet dan memerah ASI secara manual dan ditampung
pada botol steril lalu di suapkan menggunakan sendok kecil .Olesi dengan krim
untuk payudara yang lecet.Bila ada madu, cukup di olesi madu pada puting
yang lecet.
d. Penanganan Pada Payudara Yang Terasa Keras Sekali Dan Nyeri, Asi Menetes
Pelan Dan Badan Terasa Demam. Pada hari ke empat masa nifas kadang
payudara terasa penuh dan keras, juga sedikit nyeri. Justru ini pertanda baik.
Berarti kelenjar air susu ibu mulai berproduksi. Tak jarang diikuti pembesaran
kelenjar di ketiak, jangan cemas ini bukan penyakit dan masih dalam batas
wajar. Dengan adanya adanya reaksi alamiah tubuh seorang ibu dalam masa
menyusui untuk meningkatkan produksi ASI,maka tubuh memerlukan cairan
lebihbanyak. Inilah pentingnya minum air putih 8 sampai dengan 10 gelas
sehari.

5.8 Cara Melakukan Perawatan Payudara

Adapun cara perawatan payudara Menurut Siti (2012), antara lain:


a. Tempelkan kapas yang sudah di beri minyak atau baby oil selama 5 menit,
kemudian putting susu di bersihkan.
b. Letakan kedua tangan di antara payudara
c. Mengurut payudara dimulai dari arah atas, kesamping lalu kearah bawah.
d. Dalam pengurutan posisi tangan kiri kearah sisi kiri, telapak tangan kearah
sisi kanan.
e. Melakukan pengurutan kebawah dan kesamping.
f. Pengurutan melintang telapak tangan mengurut kedepan kemudian kedua
tangan dilepaskan dari payudara, ulangi gerakan 20 – 30 kali.
g. Tangan kiri menopang payudara kiri 3 jari tangan kanan membuat gerakan
memutar sambil menekan mulai dari pangkal payudara sampaipada puting
susu, lakukan tahap yang sama pada payudara kanan.
h. Membersihkan payudara dengan air hangat lalu keringkan payudara dengan
handuk bersih, kemudian gunakan bra yang bersih dan menyokong.
DAFTAR PUSTAKA

1. Abdul Bari Saifuddin. 2011. Buku panduan praktis pelayanan kesehatan maternal
neonatal. Jakarta; Pt Bina pustaka Sarwono Prawirohardjo
2. Raybrun, W.F & Carey, C. 2001. Obsterti dan Ginekologi , Jakarta; Widya Medik.
3. Saputra, Dr Lyndon, 2014. Asuhan Kebidanan Masa Nifas Fisiologis dan Patologis.
Tangerang Selatan : Binarupa Aksara Publisher,
4. Almatsier, Sunita, 2001. Prinsip Dasar Ilmu Gizi. Gramedia Pustaka Utama.
Jakarta.
5. Ambarwati, Retna 2009. Asuhan Kebidanan Nifas. Mitra Cendikia Offset. Jakarta
6. Saifudin, Abdul Bari Dkk, 2010, Buku Acuan Nasional Pelayanan Kesehatan
Maternal dan Neonatal, Yayasan Bidan Pustaka Sarwono Prawirohardjo, Jakarta
7. Ambarwati, 2008. Asuhan Kebidanan Nifas. Yogyakarta: Mitra Cendikia.
8. Ibrahim, Christin S, 2013, Perawatan Keebidanan (Perawatan Nifas), Bharata Niaga
Media Jakarta
9. Pusdiknakes, 2013. Asuhan Kebidanan Post Partum. Jakarta: Pusdiknakes.
10. Saleha, 2009. Asuhan Kebidanan Pada Masa Nifas. Jakarta: Salemba Medika.
11. Suherni, 2008. Perawatan Masa Nifas. Yogyakarta: Fitramaya.
12. MB. Arisman. 2009. Gizi dalam Daur Kehidupan. EGC. Jakarta