Anda di halaman 1dari 7

2.

3 Faktor yg Meningkatkan Kerentanan Terhadap Infeksi


Pengetahuan mengenai faktor-faktor yang dapat meningkatkan kerentanan terhadap
infeksi serta dapat mengenali tanda serta gejala awal pada infeksi dapat membantu perawat
melakukan penafsiran akan kebutuhan dan care plan yang tepat untuk pasien. Adanya
penurunan sistem pertahanan tubuh pada pasien akan membuat pasien rentan akan infeksi.
Terdapat banyak faktor yang dapat mempengaruhi kerentanan diri pasien pada suatu
infeksi. Melakukan pengkajian terhadap infeksi yang diderita pasien baik yang sedang terjadi
atau pun yang berpotensi untuk terkena infeksi tersebut yang meliputi hal hal berikut:
a. Riwayat Kesehatan
Pengetahuan akan riwayat kesehatan terdahulu pasien serta pengalaman akan
suatu penyakit dapat membantu dalam pemberian suatu informasi tentang adanya
pajanan akan suatu penyakit menular ataupun status imunitas pasien sekarang.

b. Status Mekanisme Pertahanan Normal


Melakukan pemeriksaan objektif keperawatan pada pasien akan membantu
perawat mengetahui kondisi sistem pertahanan tubuh pasien terhadap infeksi. Alterasi
pada pelindung eksternal ataupun mekanis tubuh mengakibatkan adanya potensi
patogen untuk masuk kedalam tubuh dan berkembang biak. Laserasi, luka bakar,
ataupun abrasi pada kulit merupakan contoh rusaknya pelindung eksternal tubuh
sehingga mikroorganisme dalam dengan mudah memasuki tubuh. Klien dengan kulit
tipis dan lemah beresiko akan rusaknya kulit sehingga berpotensi akan adanya infeksi.
Pasien yang merupakan perokok berat kronis akan mengalami penurunan pertahanan
melawan patogen-patogen yang menyerang sistem pernafasan dikarenakan
kemampuan paru-paru untuk mengembang berkurang serta pergerakan silia juga
terganggu, sehingga pasien akan kesulitan membuang mukus pada saluran pernafasan.
Pasien yang juga mengalami operasi, penyakit ataupun suatu prosedur yang dapat
mengurangi mobilitas dan pengembangan paru-paru memiliki resiko tinggi terkena
infeksi seperti pneumonia (radang paru-paru). Pasien yang dehidrasi dan
mengeluarkan urin sedikit dapat terkena infeksi saluran kemih dikarenakan aliran
normal urin tidak dapat membersihkan mirkoorganisme yang dapat memasuki tubuh
melalui uretra.
Proses kelainan atau penyakit tertentu dapat mempengaruhi mekanisme
pertahanan tubuh dan menurunkan resistensi pasien terhadap infeksi, seperti pasien
dengan kelainan sistem imun.
c. Umur
Pasien yang sangat muda ataupun lansia sangat rentan terhadap infeksi. Pada
pasien usia yang sangat muda, sistem imunnya belum secara utuh berkembang,
sedangkan pada pasien lansia, kekuatan respon imun sudah menurun, seperti
hilangnya kapasitas fungsional pada sistem cell-mediated. Pada pasien lansia bukan
hanya rentan terhadap invasi patogen baru, tetapi juga reaktivasi virus dan bakteri
latent, seperti virus herpes zoster dan Mycobacterium.
Proses penuaan normal dapat merubah pertahanan natural tubuh, seperti
hilangnya elastisitas dan penipisan pada kulit, sehingga kulit lebih mudah rusak serta
membutuhkan waktu yang lama dalam pemulihannya, sehingga mikroorganisme
dapat mudah masuk kedalam tubuh.
d. Status Nutrisi
Pasien yang memiliki kelainan debilitasi, kesulitan untuk makan tanpa
bantuan, memiliki kelainan diet, kesulitan menelan makanan, atau adanya perubahan
pada saluran gastrointestinal yang mempengaruhi proses nutrisi sangat rentan
terhadap infeksi. Masalah kesehatan yang dikarenakan oleh konsumsi nutrisi yang
tidak mencukupi akan melemahkan mekanisme pertahanan tubuh dan keahlian tubuh
dalam proses penyembuhan. Ketika ada jaringan tubuh yang mengalami kerusakan
dan memerlukan proses penyembuhan atau restorasi, tubuh akan membutuhkan nutrisi
lebih, terutama protein. Sehingga pasien yang memiliki kerusakan jaringan tubuh
yang ekstensive seperti luka bakar atau trauma tertentu akan sangat rentan terhadap
infeksi. Oleh karena itu, pasien tersebut akan memerlukan arahan dari ahli gizi untuk
diberikan nutrisi agar nutrisi yang didapat cukup untuk memenuhi kebutuhan
tubuhnya.

e. Stress dan strategi koping


Stress fisik atau emosional akan menimbulkan respon tertentu pada tubuh.
Sehingga adanya peningkatan metabolisme yang mengakibatkan cepatnya proses
pembakaran energi pada tubuh. Stress yang berkepanjangan akan mengakibatkan
tubuh melepaskan steroid kortisol yang berlebihan secara terus menerus, sehingga bila
tidak ditangani akan mensupresi respon imun tubuh. Sehingga tubuh akan sangat
rentan pada berbagai macam infeksi. Pasien yang sedang di rawat di rumah sakit
sangat rentan akan infeksi terutama infeksi nosokomial.
f. Infeksi Nosokomial
Infeksi ini merupakan infeksi yang didapat oleh seseorang yang sebelumnya
tidak terinfeksi dikarenakan berada pada fasilitas kesehatan. Infeksi tersebut biasa
disebut juga iatrogenik atau HAIs atau Hospital-acquired infection. Rumah sakit
menjadi tempat yang sangat rentan akan terkenanya infeksi dikarenakan memiliki
populasi mikroorganisme yang tinggi. Hal ini dapat terjadi karena terekspos oleh
lingkungan yang terkontaminasi, melalui prosedur medis, ataupun pekerja kesehatan
atau perawat yang gagal melakukan standar pencegahan dan kontrol infeksi, seperti
Mencuci tangan.
Faktor-faktor yang meningkatkan kerentanan pasien akan infeksi nosokomial meliputi
 Teknik invasif seperti memasukan catheter urin atau IV serta penggunaan
tabung endotracheal dan nasogastric
 Adanya keadaan atau kondisi yang mengalterasi kemampuan tubuh melawan
mikroorganisme
 Sistem imun yang tidak bekerja dengan baik
Infeksi nosokomial yang umum terjadi biasanya pada saluran kemih, saluran
respirasi bawah, pada luka operasi, atau pada darah. Infeksi pada darah terbilang
jarang terjadi akan tetapi dapat mengakibatkan komplikasi yang sangat fatal pada
pasien (Koutoukidis, et. Al., 2008).

2.4 Tahapan Proses Infeksi


Proses patogenesis meliputi berbagai tahapan yang dimulai melalui transmisi patogen
menuju tubuh, kemudian kolonisasi pada area infeksi, setelah melakukan kolonisasi pada area
infeksi patogen akan menetap pada area kolonisasi untuk menyokong survivebilitas patogen
yang kemudian akan memulai invasi pda sistem tubuh tersebut. Setelah selamat dari sistem
imun tubuh, patogen akan mulai mengakibatkan penyakit.
1. Transmisi
Banyak pathogens, seperti V. cholerae dan B. pertussis, menginfeksi host
tanpa perlu memasuki sel-sel host. Tetapi semua virus dan banyak dari bakteri serta
protozoa merupakan patogen intraseluler. Patogen tersebut lebih memilih untuk
replikasi dan bertahan hidup dalam sitoplasma atau kompartmen intraseluler pada host
tertentu (Alberts, B., et. Al., 2002). Patogen-patogen yang berpotensial dapat
memasuki tubuh melalui rute ang beragam, seperti saluran respirasi, saluran
gastrointestinal, atau saluran reproduksi. Selain itu ada alternatif lain masuk ke dalam
jaringan melalui gigitan serangga, kecelakaan, ataupun trauma operasi pada kulit.
Banyak dari patogen-patogen opportunistik dibawa sebagai bagian dari normal flora
pada manusia, dan dapat berperan sebagai sumber infeksi pada tubuh. Contohnya
pada kasus AIDS atau ketika pelindung kulit tertembus. Untuk patogen-patogen
primer, transmisi pada host yang baru dan pembentukkan infeksi merupakan proses
yang kompleks (Al-mohanna, 2016).
Kulit dan permukaan pelindung epitel lainnya umumnya memiliki populasi
normal flora yang padat. Adanya luka atau laserasi pada pelindung epitel tersebut
akan memberikan akses langsung pada patogen untuk masuk ke dalam interior host.
Banyak dari normal flora tersebut yang dapat mengakibatkan penyakit yang
berbahaya bila memasuki luka tersebut. Sebagai contoh bakteri anaerobik pada genus
Bacteroides, merupakan normal flora yang tidak berbahaya walau pada populasi yang
padat dalam colon, akan tetapi dapat mengakibatkan penyakit mengancam jiwa
peritonitis bila memasuki rongga peritoneal.
Setiap patogen memiliki caranya sendiri untuk memasuki sel-sel host. Virus
memasuki sel host dengan cara fusi membran, formasi pore, atau dengan melakukan
gangguan membran melalui endositosis melalui reseptor tertentu. Sedangkan bakteria
karena ukurannya lebih besar dibandingkan virus, tidak bisa diangkat oleh endositosis
seperti halsnya virus. Oleh karena itu bakteri dapat memasuki sel host melalui
fagositosis. Sebagian patogen memiliki kemampuan untuk dapat bertahan hidup dan
melakukan replikasi dalam makrofag ketika mereka dimakan melalui proses
fagositosis contohnya seperti Tuberculosis (Mycobacterium tuberculosis) (Alberts, B.,
et. Al., 2002).
2. Kolonisasi
Kolonisasi merupakan pembentukkan populasi bakteri atau patogen tertentu
yang stabil pada kulit atau mukus membran host. Pada kebanyakan patogen bakteri,
interaksi awal dengan jaringan host terjadi pada permukaan mukosa dan umumnya
kolonisasi membutuhkan adesi pada permukaan sel mukosa. Hal inimembantu dalam
pembentukan infeksi yang lebih fokus dan dapattetap terlokalisasi atau
memungkinkan untuk penyebaran ke jaringan-jaringan lain (Al-mohanna, 2016).
3. Adesi
Adesi sangat penting untuk menghindari mekanisme pertahanan bawaan tubuh
seperti gerakan peristaltis pada intestin dan pembilasan oleh mukus, saliva, dan urin,
yang dapat membuang bakteri yang tidak melekat. Untuk bakteri, adesi merupakan
hal yang esensial dilakukan pada awal ketika akan dilakukan kolonisasi dan kemudian
diberlakukannya penetrasi melalui jaringan. Kolonisasi yang berhasil juga
membutuhkan bahwa bakteri dapat memenuhi kebutuhan nutrisi yang esensial, seperti
zat besi untuk pertumbuhan. Pada level molekul, adesi melibatkan interaksi
permukaan antara reseptor spesifik pada sel membran mamalia (biasanya karbohidrat)
dan ligand ( biasanya protein) pada permukaan bakteri. Ada atau tidaknya reseptor
spesifik pada sel mamalia tersebut berkontribusi secara signifikan untuk spesifitas
jaringan pada infeksi. Sifat permukaan nonspesifik pada bakteri, termasuk muatan
permukaan dan sifat hidropobik, berkontribusi pada tahap pertama proses adesi.
Banyak bakteri mengekspresikan pili atau fimbriae yang terlibat sebagai mediasi yang
melekatkan bakteri dengan permukaan sel mamalia tersebut (Al-mohanna, 2016).
Mengganggu integritas epitelium dapat meningkatkan kualitas adesi pada
berbagai macam patogen bakteri seperti P. aeruginosa. Reseptor untuk pelekatan
bakteri dapat dibantu dengan aksi langsung dari enzim-enzim bakteri pada permukaan
sel tanpa mengganggu epitelium, seperti S. pneumoniae yang dapat melakukan
desialylate kabohidrat-karbohidrat pada permukaan sel host untuk mengekspose
reseptor spesifik yang diperlukan untuk pelekatan patogen tersebut (Williams, et. Al.,
1998).
4. Invasi
Invasi disini adalah penetrasi sel-sel host dan jaringan dan di mediasi oleh
susunan molekul kompleks yang biasa dideskripsikan sebagai invasins. Setelah
melekat pada permukaan mukosa, beberapa bakteri seperti Corynebacterium
diphtheriae atau Clostridium tetani, mengeluarkan efek-efek patogen tanpa perlu
melakukan penetrasi pada jaringan host. Hal ini menghasilkan molekul biologis aktif
seperti toksin yang mengakibatkan kerusakan jaringan pada area lokal ataupun area
lainnya. Akan tetapi sebagian bakteria patogen, pelekatan pada permukaan mukosa
merupakan tahapan pertama untuk proses invasi jaringan. Mycobacteria, merupakan
salah satu contoh bakteri yang dapat menginvasi kemudian selamat dalam sel host.
Fase diawali oleh invasi seluler yang melibatkan penetrasi pada sel membran mamalia
dan banyak patogen intraseluler menggunakan mekanisme masuk melalui fagositik
normal agar memiliki akses. Didalam sel, bakteri akan dikelilingi oleh vesikel.
Banyak dari patogen intraseluler tersebut melarikan diri melalui vesikel-vesikel
tersebut menuju sitoplasma, dimana bakteri akan memulai untuk proses multiplikasi
secara cepat sebelum melakukan penyebaran patogen ke sel-sel sekitarnya dan
memulai kembali proses invasi pada sel-sel tersebut (Al-mohanna, 2016).
5. Bertahan Hidup dalam Tubuh
Banyak patogen-patogen bakteri dapat menghindari aksi sitotoksik di plasma
dan cairan tubuh lainnya yang melibatkan antibodi dan komplemen ataupun lizozim.
Membunuh patogen extraselulerumumnya terjadi pada fase fagosit setelah opsonisasi
(oleh antibodi atau komplemen) dan fagositosis. Penghapusan fagositosis oleh
patogen ekstraseluler merupakan mekanisme bertahan hidup yang paling utama.
Patogen-patogen intraseluler harus dapat menghindar dari terbunuhnya
didalam phagolysozome. Hal ini dapat dilakukan dengan melakukan by-pass atau
lusis vesikel-vesikel dan kemudian tinggal secara bebas didalam sitoplasma.
Alternatif lain, patogen juga dapat bertahan hidup dalam phagosome (Al-mohanna,
2016).
Patogen-patogen tersebut juga harus menghindari berbagai pertahanan lokal
sel seperti pelindung fisik (lapisan mukus, silia, dan epitelium yang kuat), substansi
antibakterial (sekresi IgA dan lysozyme), dan fagosit. Umumnya banyak tipe patogen
yang dapat merubah atau mengalterasikanpertahanan lokal tersebut sebelum
melakukan penyebaran infeksi. Sebagai contoh infeksi virus dapat mengalterasi
permukaan mukosa respirasi dengan menghasilkan sekresi yang lebih cair, merusak
silia, dan memisahkan sel-sel epitel satu dengan yang lainnya dan mengekspose
reseptor baru sebagai tempat pelekatan patogen tersebut (Williams, et. Al., 1998).
DAFTAR PUSTAKA

Alberts, B., Johnson, A., Lewis, J., Raff, M., Roberts, K., dan walter, P., 2002. Molecular
Biology of the Cell, edn. 4, Garland Science: New York.
Al-mohanna, M. T., 2016, Microbiology, University of Al-Qadisiyah: Iraq.
Koutoukidis, G., Funnell, R., Lawrence, K., Stanton, K., dan Hughson, J., 2008, Tabbner’s
Nursing Care: Theory and Practice, edn. 5E, Elsevier Australia: NSW.
Williams, P., Ketley, J., dan Salmond, G., 1998, Methods in Microbiology Volume 27 –
Bacterial Pathogenesis, Academic Press: London.