Anda di halaman 1dari 6

Pengamatan Populasi Kepik pada Tanaman Cabe Rawit (Capsicum frutescens L.

) dengan
Metode Capture-Recapture

Febi junia putri

1810253008

ABSTRAK

Pengamatan ini bertujuan untuk mengetahui kepadatan populasi kepik yang ada pada tanaman
cabe. Pengamatan ini dilakukan di kebun cabe desa segati,kec.langgam
kab.pelalawan.Riau.Adapun metode yang digunakan pada pengamatan populasi kepik ini ialah
capture recapture.
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Cabai rawit (Capsicum frutescens L.) memiliki potensi sebagai jenis sayuran untuk
dikembangkan karena penting peranannya baik untuk memenuhi kebutuhan konsumsi nasional
maupun komoditas ekspor. Kebutuhan manusia yang semakin beragam menyebabkan semakin
berkembangnya pemanfaatan cabai. Cabai rawit merupakan salah satu tanaman hortikultura dari
jenis sayuran yang memiliki buah kecil dengan rasa yang pedas. Cabai jenis ini dibudidayakan
oleh para petani karena banyak dibutuhkan masyarakat, tidak hanya dalam skala rumah tangga,
tetapi juga digunakan dalam skala industri, dan dieksport ke luar negeri. Tanaman ini
mempunyai banyak manfaat terutama pada buahnya, yaitu sebagai bumbu masak, bahan
campuran industri makanan, dan sebagai bahan kosmetik.

Secara umum buah cabai rawit mengandung zat gizi antara lain lemak, protein,
karbohidrat, kalsium, fosfor, besi, vitamin A, B1, B2, C dan senyawa alkaloid seperti capsicin
oleoresin, flavanoid dan minyak esensial. Kandungan tersebut banyak dimanfaatkan sebagai
bahan bumbu masak, ramuan obat tradisional, industri pangan dan pakan unggas. Cabai rawit
(Capsicum sp) tergolong Kingdom Plantae dengan, Divisi: Magnoliophyta (Tumbuhan
berbunga), Kelas: Magnoliopsida (berkeping dua / dikotil), Ordo: Solanales, Famili : Solanaceae
(suku terung-terungan), Genus: Capsicum.

Cabai merupakan komuditas sayuran yang dapat dipasarkan dalam bentuk olahan dan
memiliki nilai ekonomis yang cukup tinggi serta prospek pasar yang menarik. Oleh Karena itu
pada umumnya usaha tani tanaman cabai dikelola petani secara intensif dengan harapan
memperoleh hasil dengan jumlah yang sangat banyak serta harga yang memadai. cabai rawit
harganya di pasaran seringkali lebih tinggi dari pada cabai jenis lainnya. Hal ini dikarenakan
tidak sedikit petani yang mengalami gagal panen. Terjadinya gagal panen diakibatkan karena
adanya beberapa kendala untuk menghasilkan cabai berkualitas bagus tidak terlepas dari
perawatan rutin yang harus dilakukan. Hal tersebut dilakukan agar tanaman cabai terhindar dari
organisme pengganggu tanaman ( OPT ), salah satunya hama.
Hama adalah binatang-binatang pengganggu tanaman, merusak tanaman, dan mampu
menimbulkan kergian ekonomi. Hama mampu membuat produksi suatu tanaman berkurang
bahkan mampu membunuh tanaman budidaya.

Adapun salah satu hama yang menyerang tanaman cabe ialah kepik yang dapat merusak
tanaman padi yang dapat menurunkan kualitas dan kuantitas dari tanaman cabe.kepik termasuk
ordo hemiptera yang mempunyai badan lonjong, tipe perkembangan paurometabola dengan tipe
mulut menusuk-menghisap.

Mengetahui populasi hama dilapangan merupakan hal yang sangat penting dalam
pengelolaan hama. Populasi ditafsirkan sebagai kumpulan kelompok makhluk hidup yang sama
jenis ( atau kelompok lain yang individunya mampu bertukar informasi genetik ) yang mampu
mendiami suatu ruangan khusus, yang memiliki berbagai karakteristik yang walaupun paling
baik digambarkan secara statistik, unik sebagai milik kelompok dan bukan karakteristik individu
dalam kelompok itu. Kita tidak dapat mengetahui secara pasti populasi di lapangan sehingga
perlu dilakukan pendugaan populasi. Berbagai metode pendugaan populasi diantaranya metode
capture-recapture.

Jumlah individu dalam suatu populasi tidak pernah tetap sepanjang waktu. Perubahan -
perubahan yang terjadi dalam ukuran populasi dapat dihubungkan dengan kelahiran, imigrasi,
kematian dan emigrasi. Dalam hal ini, dua kejadian pertama yang menambah ukuran populasi
sedangkan dua faktor terakhir menyebabkan pengurangan rapatan populasi. Cara penangkapan,
penandaan, pelepasan dan penangkapan kembali dapat digunakan untuk menyusun suatu
diagram trellis yang akan mencirikan kecenderungan rapatan populasi

Metode capture-recapture yaitu dengan menangkap sampel lalu ditandai dan dilepaskan,
selanjutnya dilakukan hal yang sama pada hari berikutnya.semua individu dalam populasi harus
mempunyai kesempatan yang sama untuk tertangkap,jadi distribusinya harus acak.Tidak ada
perubahan ratio antara individu yang bertanda dengan yang tidak bertanda,maksudnya dalam
selang waktu antara penangkapan pertama dan kedua tidak ada penambahan individu yang tidak
bertanda melalui kelahiran dan migrasi. Pemberian tanda tidak menyebabkan terjadinya
perubahan tingkah laku dan daya tahan individu hama yang diberi tanda serta teknik
penangkapan yang pertama dan kedua harus sama.
B. Tujuan

Adapun tujuan dari pengamatan pada pratikum sistem peramalan hama ini ialah untuk
menambah wawasan tentang pemahaman dan pengetahuan. Mengetahui populasi hama
dilapangan merupakan hal yang sangat penting dalam pengelolaan hama. Kita tidak dapat
mengetahui secara pasti populasi di lapangan sehingga perlu dilakukan pendugaan populasi serta
mengetahui dan memahami berbagai metode pendugaan populasi yang ada.

C. Manfaat Praktikum

Manfaat dari pengamatan ini ialah :

1.) Dapat mengetahui cara menafsirkan populasi suatu hewan pada suatu habitat tertentu
2.) Dapat mengetahui metode paling sederhana untung menghitung kepadatan populasi
hewan bergerak di alam.
3.) Dapat memberikan informasi penyebaran dari populasi hewan bergerak di habitat-habitat
tertentu
METODOLOGI

A. Waktu dan Tempat

Pengamatan ini dilakukan pada tanggal 27 dan 28 April 2020 pukul 14.00-15.00 WIB di
kebun tanaman cabe daerah segati kec.Langgam kab.Pelalawan, Riau.

B. Alat dan Bahan

Adapun alat dan bahan yang digunakan ialah spidol,label,botol dan tali.

C. Metode

Adapun metode yang digunakan pada pengamatan ini ialah metode capture recapture
yaitu dengan cara memastikan lokasi tempat pengamatan akan dilakukan lau menangkap
sejumlah individu populasi serangga yang akan diduga kepadatannya,kemudian individu
yang tertangkap diberi tanda dengan menggunakan label atau spidol sebagai penanda pada
serangga yang akan diduga kepadatannya. Setelah diberi tanda dilepas kembali dalam
periode waktu tertentu ( 1 hari ) selanjutnya dilakukan penangkapan kembali dengan teknik
penangkpan yang pertama dan selanjutnya sama terhadap sejumlah individu dan dihitung
individu yang bertanda dan tidak bertanda yang akan diduga kepadatannya.
DAFTAR PUSTAKA

Brown, C. Dr. 2011 . Exercise 3B : Estimating Population Size: Mark-Recapture

Louisville : Bellarmine University.

Campbell, N. 2004. Biologi. Jakarta : Penerbit Erlangga.

Hariyanto, S. 2008. Teori dan Praktik Ekologi. Surabaya : Airlangga University

Hasyim, A. S. (2014). Teknologi Pengendalian Hama Buah Pada Tanaman Cabai. Bandung:
Balai Penelitian Tanaman Sayuran.

Michael, P. 1995. Metode Ekologi untuk Penyelidikan Ladang dan Laboratorium

Jakarta: Erlangga.

Suin, N. 2002. Metoda Ekologi. Padang : Andalas University Press.