Anda di halaman 1dari 9

BAB I.

PENDAHULUAN

A.Latar belakang

Biasanya kita beranggapan bahwa suatu kelas fenotip itu selalu mudah dibedakan dari
kelas fenotip yang lain. Akan tetapi bila diperhatikan dengan baik, dalam kenyataannya
kelas fenotip tadi tidak dapat dibedakan semudah itu. Sebabnya karena seringkali masih
dapat diketahui adanya beberapa variasi di dalam suatu kelas fenotip. Misalnya saja kulit
hitam pada orang ada yang hitam sekali, hitam biasa, sawo matang (Suryo, 2005).

Pada tahun 1909, seorang ahli genetika Swedia Nilson Ehle menganalisis hasil
pewarisan warna biji gandum terigu dan berhasil menyumbangkan suatu konsep yang
sangat penting dalam genetika. Arti penting dari hasil Nilson Ehle terletak pada faktor
bahwa sifat-sifat itu tidak selalu ditentukan oleh pasangan gen yang berbeda yang
berinteraksi menghasilkan suatu fenotip tertentu (Agus, Rosana dan Sjafaraenan, 2013).

Pada kasus warna biji gandum, interaksi itu bersifat kumulatif. Makin banyak suatu
tanaman mewarisi gen dominan, makin tua warnanya. Situasi semacam ini disebut
pewarisan poligen dan melibatkan pewarisan ciri-ciri kuantitatif. Sifat kuantitatif diatur
pengaruh gen-gen ganda (multiple gen atau poligen) dari masing-masing pengaruhnya kecil.
Pada aksi gen kumulatif ini setiap alel pada lokus tersebut akan menambah atau mengurangi
nilai fenotip. Mekanisme pewarisan ini sering juga disebut pewarisan faktor majemuk
(Agus, Rosana dan Sjafaraenan, 2013).

Sifat-sifat dengan sebaran kontinyu mempunyai nilai tertentu yang diperoleh melalui
pengukuran kuantitatif. Sebaliknya, sifat-sifat seperti warna biji, bentuk biji, warna bunga,
dan sebagainya, yang tidak memerlukan pengukuran untuk mendapatkan suatu nilai disebut
sifat kualitatif (Susanto, Agus Hery, 2011).

Pewarisan karakter kualitatif mudah dibedakan karena masing-masing mempunyai


populasi yang jauh berbeda. Di lain pihak tertentu ada kelompok antara yang sukar
dikategorikan. Kelompok ini mewakili zona transisi diantara kedua sistem pewarisan
karakter dan termasuk bentuk antara yang diwariskan karena pengaruh interaksi lingkungan
yang memungkinkan adanya sejumlah genotip yang diekspresikan pada bentuk fenotipnya
(Agus, Rosana dan Sjafaraenan, 2013).

Mendel mempelajari karakter-karakter yang bisa digolongkan sebagai ini-atau-itu,


misalnya warna bunga ungu versus putih. Akan tetapi, untuk banyak karakter, misalnya
warna kulit dan tinggi manusia, klasifikasi ini-atau-itu mustahil karena karakter tersebut
bervariasi dalam populasi sepanjang suatu kontinum atau kesinambungan (bergradasi).
Karakter semacam ini disebut karakter kuantitatif (quantitatif character). Variasi kuantitatif
biasanya mengindikasikan pewarisan sifat poligenik (polygenic inheritance), efek aditif dari
dua gen atau lebih pada satu fenotip (Campbell, dkk., 2008)

Pada tahun 1909, seorang ahli genetika Swedia Nilson Ehle menganalisis hasil
pewarisan warna biji gandum terigu dan berhasil menyumbangkan suatu konsep yang
sangat penting dalam genetika. Arti penting dari hasil Nilson Ehle terletak pada faktor
bahwa sifat-sifat itu tidak selalu ditentukan oleh pasangan gen yang berbeda yang
berinteraksi menghasilkan suatu fenotip tertentu (Agus, Rosana dan Sjafaraenan, 2013).

Sebelumnya pada tahun 1760 Kolreuter telah memperhatikan peristiwa tersebut dari
percobaannya dengan menggunakan tanaman tembakau (Nicotiana tabacum). Akan tetapi
karena pada waktu itu hukum-hukum keturunan keturunan dari Mendel belum ditemukan,
maka Kolreuter tidak dapat berbuat banyak (Suryo, 2005).

Situasi yang diamati Nilson Ehle dan Kolreuter disebut pewarisan poligen dan
melibatkan pewarisan ciri-ciri kuantitatif. Sifat kuantitatif diatur oleh gen-gen ganda
(multiple gen atau poligen) dari masing-masing pengaruhnya kecil. Pada aksi gen kumulatif
ini setiap alel pada lokus tersebut akan menambah atau mengurangi nilai fenotip.
Mekanisme pewarisan ini sering juga disebut pewarisan faktor majemuk (Agus, Rosana dan
Sjafaraenan, 2013).

Genetika kuantitatif menerapkan hukum pewarisan Mendel untuk gen dengan


pengaruh yang kecil/lemah (minor gene). Selain itu, diasumsikan pula bahwa tidak hanya
sedikit gen yang mengendalikan suatu sifat melainkan banyak gen. Karena itu, sifat
kuantitatif sering dasamakan dengan sifat poligenik. Pewarisan genetik (Inggris genetic
inheritance) adalah aspek pertama yang dipelajari orang dalam genetika karena berkaitan
langsung dengan fenotipe. Sebagai contoh, Gregor Johann Mendel mempelajari peawarisan
tujuh sifat pada tanaman kapri, atau Karl Pearson (salah satu pelopor genetika kuantitatif)
mempelajari pewarisan ukuran tubuh orang tua dan anaknya (Kusumah, Darmawan Asta,
2012).

Pada kasus warna biji gandum, interaksi itu bersifat kumulatif. Makin banyak suatu
tanaman mewarisi gen dominan, makin tua warnanya. Situasi semacam ini disebut
pewarisan poligen dan melibatkan pewarisan ciri-ciri kuantitatif. Sifat kuantitatif diatur
pengaruh gen-gen ganda (multiple gen atau poligen) dari masing-masing pengaruhnya kecil.
Pada aksi gen kumulatif ini setiap alel pada lokus tersebut akan menambah atau mengurangi
nilai fenotip. Mekanisme pewarisan ini sering juga disebut pewarisan faktor majemuk
(Agus dan Sjafaraenan, 2013).

Sifat-sifat dengan sebaran kontinyu mempunyai nilai tertentu yang diperoleh melalui
pengukuran kuantitatif. Sebaliknya, sifat-sifat seperti warna biji, bentuk biji, warna bunga,
dan sebagainya, yang tidak memerlukan pengukuran untuk mendapatkan suatu nilai disebut
sifat kualitatif (Susanto, 2011).

Tanpa variasi genetik, setiap perubahan lingkungan yang mendadak akan


memusnahkan suatu jenis pada habitat alaminya. Keanekaragaman genetik alami,
peranannya dalam evolusi, dan berbagai sistem untuk koleksi, pengawetan, penyebarluasan
dan pemanfaatannya. Berdasarkan penyebab timbulnya variasigenetik yaitu variasi yang
dihasilkan oleh faktor keturunan (gen) yang bersifat kekal dan diwariskan secar turun-
temurun dari satu sel ke sel lainnya. Variasi non genetik atau variasi lingkungan yaitu yang
ditentukan oleh faktor lingkungan seperti; intensitas cahaya, kelembaban, pH, kesuburan
tanah dan kelembaban (Mentari, 2012).

Karakter tanaman dapat berupa karakter kualitatif ataukuantitatif. Karakter kualitatif


merupakan wujud fenotipe yang saling berbeda tajam antara satu dengan yang lain secara
kualitatif dan masing-masing dapat dikelompokkan dalam bentuk masing-masing dalam
bentuk kategori. Karakter ini dikendalikan oleh sedikit gen. Sementara itu karakter
kuantitatif dikendalikan oleh banyak gen. Karakter ini biasanya dipengaruhi
lingkungan.Pola pewarisan masing-masing karakterdiperlukan dalam menentukan
strategipemuliaan tanaman (Dzikri, 2008).

Dengan membandingkan hasil percobaan Kölreuter dan Mendel dapatlah ditarik


kesimpulan adanya perbedaan sebagai berikut (Suryo, 2010):

B. Tujuan

Adapun tujuan dari pratikum penentuan karakter kualitatif dan kuantitatif adalah
untuk mengetahui perbedaan antara karakter kualitatif dan kuantitatif dan
memahami pewarisan karakter kualitatif dan kuantitatif
B A B I I . T I N J A U A N PU S T A K A

V a r i a s i a d a l a h k e a n e k a r a g a m a n d a l a m s a t u s p e s i e s . manusia tergolong
dalam satu spesies yaitu homo sapiens. Tidak ada dua manusia yang tepat sama.individu
satu dengan lainnya mempunyai persamaan dan perbedaan sifat yang menurun baik sifat
kualitatif maupun sifat kuantitatif. Perbedaan yang ada diantara individu satu dengan
lainnya ditentukan oleh faktor genetik dan faktor lingkungan. Akibat adanya pengaruh
lingkungan maka individu yang bergenenotip sama,kemungkinan akan mempunyai fenotip
yang berbeda.adanya pewarisan sifat monogenik dan poligenik dan juga karena adanya
berbagai pola pewarisan sifat dalam populasi dapat kita lihat adanya berbagai pola
pewarisan sifat dalam populasi adanya sifat yang sangat bervariasi. Berbagai sifat yang
diwariskan secara poligenik variasinya sangat besar misalnya warna kulit, tinggi badan,
kecerdasan, sidik jari,dll. Sifat sifat itu tersebar dengan penyebaran yang khas untuk
populasi tertentu.(Widianti,2014).
Suatu hal yang tidak asing lagi bila kita manusia memiliki ciri yang berbeda-
beda,penampilan wajah maupun sifat-sifat yang berbeda-beda. begitu juga pada hewan jika
kita perhatikan dengan baik pada anak-anak marmut,anjing,domba pada proses perkawinan
dan kelahiran hewan itu pun berbeda-beda misalnya pada tinggi tubuh,warna bulu,dan
panjang tubuh.( Syamsuri,2004).
Begitu juga pada tumbuhan dialam sekitar anda,terdapat didalam satu jenis
tumbuhan yang sama,misalnya pada tanaman durian,kita tentunya akan menjumpai bentuk
buah yang berbeda-beda,begitu juga rasa dan warna kulitnya.hal yang sama juga dijumpai
pada tanaman kantung semar adalah tanaman yang banyak digemari dan disukai karena
keindahan bunganya dan sekaligus dapat menikmati berbagai bentuk dan warna yang
menawan,unik dan indah.(Welsh,2000).Keragaman variasi ditemukan hampir disemua
karakter dari yang paling gampang sampai sulit:tinggi,lebar,besar,berat atau
masa,volume,ukuran,bentuk dan tanggap terhadap faktor luar atau lingkungan .menurut
tolak ukurnya variasi dibagi atas:
1. Variasi yang bersifat kuantitatif seperti:tinggi, berat, jumlah, kuantitatif bersifat
“kontinum” ( urut bersambung menurut deret matematis)
2. Variasi yang bersifat kualitatif seperti: golongan darah, warna kulit, warna bunga,bentuk
permukaan biji.
Kualitatif bersifat” diskontinum” ( tidak bersambung menurut deret matematis)variasi juga
dapat dibedakan berdasarkan penyebab timbulnya variasi yaitu:
1. Variasi genetik yaitu variasi yang dihasilkan oleh faktor keturunan(gen) yang bersifat
kekal dan diwariskan secara turun menurun dari satu sel kesel lainnya.
2. Variasi non genetik atau variasi lingkungan yaitu yang ditentukan oleh faktor
lingkungan seperti intentitas cahaya,kelembaban,ph, temperatur, kesuburan tanah,
variasi lingkungan tidak diwariskan ke keturunannya.(Suryati,2008).
Keanekaragaman genetika dapat terjadi karena adanya perubahan nuklotida
penyusun DNA. Perubahan ini mungkin dapat mempengaruhi fenotip suatu organisme
yang dapat dipantau dengan mata telanjang atau mempengaruhi reaksi individu terhadap
lingkungan tertentu. Secara umum keanekaragaman genetik dari suatu populasi dapat
terjadi adanya mutasi ,rekombinasi, atau migrasi gen.(Campbell,2002).
Tanpa variais genetik, setiap perubahan lingkungan yang mendadak akan
memusnakan suatu jenis pada habitat alaminya.keanekaragaman genetik alami,peranananya
dalam evolusi,dan berbagai sistem untuk koleksi,pengawetan ,penyebarluasan dan
pemanfaatannya.(Suryati,2008).
Keragaman atau variais suatu individu dapat dihitung menggunakan rumus
variens.karena adalah ukuraan keberagaman data, maka semakin besar angka varians maka
semakin beragamlah data yang kita miliki dan semakin kecil nilai varians maka semakin
homogenlah data yang kita miliki(Yatim,2000).
keragaman tanaman adalah perbedaan sifat atau ukuran sifat tanaman.pada setiap
populasi pada setiap tanaman terdapat keragaman, karena antar satu tanaman dengan
tanaman lain mempunyai perbedan sifat atau ukuran sifat. yang dimaksud perbedaan sifat m
isalya adalah satu tanaman mempunyai warna buah hidau sedangkan tanaman yang lain
berwarna ungu sedangkan perbedaan ukuran sifat misalnya gradasi dari warna hijau dari
warna pada itu menunjukkan warna ungu yang ditunjukkan dengan adanya
oleh skor tertentu. pada program pemuliaan tanaman, keragaman tersebut dan akan dapat
identifikasinya yang merupakan modal utama dalam kegiatan-kegiatan seleksi
seleksi.terdapat pada masing-masing yang terdapatnya lain- lain pihak, keragaman
juga akan menjadi masalah apabila dikehendaki keserempakan pertmbuhan yang akan dapat
dalam memanipulasi pada saat- saat produksi dan panen. keragaman akan menguntungkan
apabila dilihat dari sisi perbaikan tanaman.keragaman tanaman dapat dibedakan menjadi
kategori yaitu keragamanyang disebabkan oleh lingkungan (keragaman lingkungan) dan
keragaman yangdisebabkan oleh pewarisan genetik (keragaman genetik). keragaman
lingkungan dapat diketahui apabila adanya tanaman-tanaman mempunyai sifat genetik sama
(misalnya pada galur murni) ditanam pada lingkungan yang berbeda.tanaman tersebut akan
yanga menghasilkan penampakan dari suatu yang disebut dengan (fenotip) berbeda
sedangkan keragaman genetik tanaman tanaman tersebut dapat diketahui apabila beberapa
varietas tanaman yang mempunyai sifat genetik berbeda ditanam pada lingkungan yang
terlihat homogen. Perbedaan-perbedaan yang akan muncul dengan demikian merupakan
representasi dari perbedaan genetik. perlu diketahui bahwa sebenarnya lingkungan tidak
mungkin homogen, namum dapat diupayakan semaksimal mungkin menjadi lebih kecil
dengan manipulasi budidaya maupun pengurangan strata tempat tumbuh. tanaman akan
menghasilkan fenotip berbeda untuk masing-masing varietas.( campbell,2002).
Pendeskripsian suatu varietas akan lebih mudah jika sebelumnya telah dilakukan
kegiatan karakteristik. Kegiatan karakteristik penting untuk melakukan atau menetukan
nilai guna dari materi plasma nutfah yang akan ada. Kegiatan tersebut dilakukan secara
bertahap dan sistematis untuk mempermudah upaya pemanfaatan plasma
nutfah.karakteristik dilkuakan baik pada karakter kualitatif maupun karakter kuantitatif.
(Widianti,2014).
Karakterisasi dilakukan baik pada karakter kualitatif maupun kuantitatif.karakter
kualitatif adalah karakter yang secara kualitatif berbeda sehingga mudah dikelompokkan
dan biasanya dinyatakan dalam kategori( contohnya: warna bunga, warna bentuk, bentuk
biji, ada atau tidaknya bulu pada batang dsb).pengelompokkan kategori karakteristik
kualitatif dari hasil pengamatan berpedoman pada suatu deskriptor karakter tanaman yang
dikeluarkan oleh departemen pertanian republik indonesia ,yaitu PPI ( panduan pengujian
individual) yang mengacu pada deskriptor tanaman secara internasional yang dikeluarkan
oleh UPOV.(The international union for the protection of new varietas of
plants).Karakteristik kuantitatif ialah karakter yang variasinya dinyatakan dalam besaran
kuantitatif sehingga untuk membedakannya diperlukan pendekatan analisis
data.(contohnya: tingii tanaman,tingkat produksi,panjang malai dsb). (suryati,2008).
Keanekaragaman genetika suatu populasi dapat diperkiraan dengan menggunakan
beberapa pengukuran sederhana. Yaitu dianataranya:keanekaragaman gen 9proposi lokus
polimorfik diseluruh genom). Heterozigositas (jumlah rata-rata individu dengan lokus
polimorfik). Kita mulai dari suatu struktur yang paling kecil,tetapi sangat penting. Struktur
tersebut adalah asam deoksibonukleat yang terdiri dari 4 macam asam nukleat ,yakni adenin
mitisin(c), guanin(g), dan timin(t).bila asam amino terakhir diganti dengan urasil maka
asam nukleat akan membentuk 20 macam asaam amino esensial.kini diketahui bahwa
kombinasi tiga dari keempat macam asam nukleat akan membentuk asam amino.kombinasi
ini dikenal dengan kode genetik.Apabila ada 4 macam asam nukleat yang membentuk asam
amino maka hanya diperoleh kombinasi untuk 16 asam amino,sehingga tidak ditemukan 4
macam aam amino esensial yang lain. (suryati,2008).
keragaman genetik tanaman tanaman tersebut dapat diketahui apabila beberapa
varietas tanaman yang mempunyai sifat genetik berbeda ditanam pada lingkungan yang
terlihat homogen. Perbedaan-perbedaan yang akan muncul dengan demikian merupakan
representasi pada perbedaan genetik. perlu diketahui bahwa sebenarnya lingkungan tidak
mungkin homogen, namum dapat diupayakan semaksimal mungkin menjadi lebih kecil
dengan manipulasi budidaya maupun pengurangan strata tempat tumbuh. tanaman akan
menghasilkan fenotip berbeda untuk masing-masing varietas.( campbell,2002).
Umumnya karakter- karakter agronomis penting seperti potensi hasil,dikendalikan
oleh banyak gen (poligenik). Gen-gen ini merupakan sejumlah gen yang terletak pada lokus
yang berbeda. Pengaruh masing-masing gen terhadap fenotip kecil namun serupa dan
bersifat komulatif,walaupun adanya satu atau dua gen yang berperan lebih besar.oleh karena
itu karakter tanaman tersebut sangat dipengaruhi oleh lingkungan. Dengan demikian sulit
membuat kelas-kelas fenotip yang jelas karena variasi yang ditemui bersifat kontiyu dari
ekstrim kecil hingga ekstrim besar,dalam statistik variasi ini ditampilkan dalam bentuk nilai
tengah dan ragam untuk pengamatan karakter kuantitatif diperlukan pengukuran-
pengukuran tertentu(yatim,2000)
BAB III.BAHAN DAN ALAT

A.WAKTU DAN TEMPAT


Praktikum Genetika Dasar ini dilakukan setiap hari Selasa jam 07.30-09.20 WIB dan
dilaksanakan di Laboratorium BDP lantai 3 fakultas Pertanian Universitas Andalas Padang.

B. Alat dan bahan


Adapun bahan dan alat yang digunakan pada praktikum kali ini yakni benih nangka
atau durian,biji jagung berbagai varietas,kertas grafik,sedangkan bahannya adalah
mistar,timbangan analitik.

C.Cara kerja
Adapun langkah yang dilakukan pada karakter kuantitatif adalah yang pertama diambil
individu secara acak dari masing-masing populasi nangka atau durian kemudian lakukan
penimbangan hingga 2 desimal yang kedua diPisahkan biji dengan yang sudah di timbang
dari populasi yang ketiga adalah Lakukan penimbangan tersebut sebanyak 50 kali dan
inputkan data yang diperoleh ke dalam table yang keempat di buatlah grafik yang
menggambarkan bobot biji nangka atau durian dari yang terendah hingga yang terbesar atau
terberat pada absis dan frekuensi sebagai ordinat dan yang kelima diamati ada berapa kelas
bobot biji yang diamati.dan yang keenam dihubungkan puncak dari setiap bobot dan
frekuensi yang diperoleh.
Sedangkan pada karakter kualitatif adalah pertama di ambil 50 butir biji jagung yang
disediakan. Yang kedua adalah diamati sebagian warna dan bentuk biji jagung. Yang ketiga
adalah Plotkan karakter warna atau bentuk biji sebagai absis dan frekuensi sebagai ordinat
yang keempat diamati ada berapa kelas yang warna atau bentuk biji yang diamati dan
terakhir dibandingkan dengan banyaknya kelas yang diperoleh dengan banyaknya kelas
bobot biji nangka atau durian.
LAPORAN AWAL PRATIKUM
GENETIKA DASAR
“PENENTUAN KUALITATIF DAN KUANTITATIF”

OLEH:
KELOMPOK 1(SATU)

NAMA REKAN :1. FEBI JUNIA PUTRI (1810253008)


2.YESSI RETFA YANTI (1810252049)
3. SELSILA MUTIA AMARDA (1810251024)
4. FITRI WAHYUNI (1810252034)
5. ADISA NANDA TIAWARMAN (1810251004)
KELAS : PROTEKSI A
NAMA ASISTEN : 1.SANDRA ANNISA (1510211077)
2.FITRIAWATI (1610212027)
DOSEN PENJAB: DR.P.K DEWI HAYATI

PROGRAM STUDI PROTEKSI TANAMAN


FAKULTAS PERTANIAN
PADANG
2019