0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
874 tayangan8 halaman

Jawaban Pertanyaan Bab 4

Dokumen tersebut berisi soal dan jawaban mengenai beberapa pertanyaan tentang opini audit. Pertama, menjelaskan bahwa tanggal laporan audit tidak harus sama dengan asersi manajemen, karena auditor harus memperoleh bukti bahwa laporan keuangan telah disusun dan disahkan oleh manajemen. Kedua, membedakan opini unmodified dari modified berdasarkan kesimpulan auditor atas kesesuaian laporan keuangan dengan standar akuntansi. Ketiga, menjel

Diunggah oleh

vanny rachmattul
Hak Cipta
© © All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
874 tayangan8 halaman

Jawaban Pertanyaan Bab 4

Dokumen tersebut berisi soal dan jawaban mengenai beberapa pertanyaan tentang opini audit. Pertama, menjelaskan bahwa tanggal laporan audit tidak harus sama dengan asersi manajemen, karena auditor harus memperoleh bukti bahwa laporan keuangan telah disusun dan disahkan oleh manajemen. Kedua, membedakan opini unmodified dari modified berdasarkan kesimpulan auditor atas kesesuaian laporan keuangan dengan standar akuntansi. Ketiga, menjel

Diunggah oleh

vanny rachmattul
Hak Cipta
© © All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

SOAL DAN

JAWABAN BAB 4

NAMA KELOMPOK :

1. WAHYU RAHMAN .T. (01118005)


2. IKHMAWATI LAYLI (01118038)
3. SINTA KURNIAWATI (01118012)

FAKULTAS EKONOMI BISNIS


PRODI AKUNTASI
TAHUN PELAJARAN 2020
1. Apakah tanggal laporan harus sesuai dengan asersi manajemen ?

Tidak, karena sesuai yang dijelaskan pada SA 700, ketentuan no.41


yang berbunyi :
“ Laporan auditor harus diberi tanggal tidak lebih awal daripada tanggal ketika
auditor telah memperoleh bukti audit yang cukup dari target yang mendasari
opini atas laporan keuangan (termasu, bila relevan, atas informasi tambahan
sebagaimana diuraikan dalam paragraf, termasuk bukti bahwa : (Ref.Para. A38
– A41 )
a. Seluruh laporan yang membentuk laporan keuangan, termasuk catatan
atas laporan keuangan terkait, telah disusun ; dan
b. Pihak – pihak dengan wewenang yang diakui telah menyatakan bahwa
mereka telah mengambil tanggung jawab atas laporan keuangan
tersebut.
Dan untuk bunyi dari Ref. Para A38-A41 :
A.38. Tanggal laporan auditor menginformasikan kepada pengguna laporan
auditor bahwa auditor telah mempertimbangkan pengaruh peristiwa dan
transaksi yang disadari oleh auditor dan yang terjadi sampai dengan tanggal
tersebut. Tanggung jawab auditor atas peristiwa dan transaksi setelah tanggal
laporan auditor diatur dalam SA 560. Tanggal laporan auditor adalah tanggal
ketika prosedur audit telah secara substansisal selesai dilaksanakan dan
kesimpulan berdasarkan bukti audit yang cukup dan tepat telah ditarik.
A.39 Oleh karena opini auditor disediakan atas laporan keuangan dan
laporan keuangan adalah tanggung jawab manajemen, maka auditor tidak
berada dalam suatu posisi untuk menyimpulkan bahwa bukti audit yang cukup
dan tepat telah diperoleh hingga didapatnya bukti bahwa seluruh laporan yang
membentuk laporan keuangan, termasuk catatan atas laporan keuangan, telah
disusun dan manajemen telah menerima tanggung jawab atas penyusunan
laporan keuangan.
A40. Sebagai bukti bawha manajemen telah menerima tanggung jawab atas
penyusunan laporan keuangan, sebelum auditor menerbitkan laporannya, auditor
harus menerima surat pernyataan direksi dari entitas yang diauditnya tentang
tanggungjawab manajemen (atau pihak setara lainnya yang bertanggung jawab
atas penyusunan lapora keuanagn) tersebut diatas, yang menyatakan bahwa
seluruh laporan yang membentuk laporan keuangan, termasuk catatan atas
laporan keuangan, telah disusun sesuai dengan kerangka pelaporan keuangan
yang berlaku ( contoh : Standar Akuntansi Keuangan di Indonesia ). Surat
pernyataan direksi tersebut juga memuat persetujuan atas diterbitkannya laporan
keuangan.
A.41 Tanggal surat pernyataan direksi tersebut di atas tidak boleh melewati
tanggal laporan auditor.
Dan sedangkan pada SA 560 Ketentuan 5 ( c ) adalah “ Tanggal laporan
auditor : Tanggal yang dicantumkan oleh auditor dalam laporannya atas laporan
keuangan berdasarkan SA 700. ( Ref Para A3 )
2. Apa yang membedakan Opini Unmodified dengan Opini Modified ?

Menurut SA 700,
Ketentuan 16 : Auditor harus menyatakan opini tanpa modifikasian bila auditor
menyimpulkan bahwa laporan keuangan disusun, dalam semua hal yang
material, sesuai dengan kerangka pelaporan keuangan yang berlaku.
Ketentuan 17 : Jika auditor:
a. Menyimpulkan bahwa, berdasarkan bukti audit yang diperoleh, laporan
keuangan secara keseluruhan tidak bebas dari kesalahan penyajian material; atau
b. Tidak dapat memperoleh bukti audit yang cukup dan tepat untuk
menyimpulkan bahwa laporan keuangan secara keseluruhan bebas dari
kesalahan penyajian material; auditor harus memodifikasi opininya dalam laporan
auditor berdasarkan SA 705.

SA 705 :
Ketentuan 2 : SA ini menetapkan tiga tipe opini modifikasian, yaitu opini wajar
dengan pengecualian, opini tidak wajar, dan opini tidak menyatakan pendapat.
Keputusan tentang ketepatan penggunaan tipe opini modifikasian bergantung
pada: ( Ref. Para A1 )
(a) Sifat dari hal-hal yangmenyebabkan dilakukannya modifikasi,yaitu
apakah laporan keuangan mengandung kesalahan penyajian material atau,
dalam hal ketidakmampuan untuk memperoleh bukti audit yang cukup dan tepat,
kemungkinan mengandung kesalahan penyajian material; dan
(b) Pertimbangan auditor tentang seberapa pervasifnya dampak atau
kemungkinan dampak hal-hal tersebut terhadap laporan keuangan. ( Ref. Para
A1 )
Ref. Para A1 berbunyi :
“ Tabel dibawah ini mengilustrasikan bagiamana pertimbangan auditor tentang
sifat hal-hal yang menimbulkan modifikasi, dan seberapa pervasif dampaknya
atau kemungkinan dampaknya terhadap laporan keuangan , mempengaruhi tipe
opini yang akan dinyatakan :

Pertimbangan auditor tentang seberapa pervasif dampak atau


Sifat hal -hal yang kemungkinan dampak
menyebabkan
atau kemungkinan dampak terhadap laporan keuangan
modifikasi opini
Material tetapi tidak pervasif Material dan pervasif
Laporan keuangan
Opini wajar dengan
mengandung kesalahan Opini tidak wajar
pengecualian
penyajian material
Ketidakmampuan untuk
Opini wajar dengan Opini tidak menyatakan
memperoleh bukti audit
pengecualian pendapat
yang cukup dan tepat

Ketentuan 6 : Auditor harus memodifikasi opini dalam laporan auditor ketika :


a. Auditor menyimpulkan bahwa, berdasarkan bukti audit yang diperoleh,
laporan keuangan secara keseluruhan tidak bebas dari kesalahan
penyajian material ; atau (Ref. Para A2-A7)
b. Auditor tidak dapat memperoleh bukti audit yang cukup dan tepat untuk
menyimpulkan bahwa laporan keuangan secara keseluruhan bebas dari
kesalahan penyajian material. (Ref. Para A8-A12 )

3. Dimanakah letak perbedaan antara wajar, tidak wajar dan tidak


memberikan pendapat ?
Menurut SA 705
Penentuan Tipe Modifikasi Terhadap Opini Auditor
Opini Wajar dengan Pengecualian
Ketentuan 7 : Auditor harus menyatakan opini wajar dengan pengecualian
ketika:
(a) Auditor, setelah memperoleh bukti audit yang cukup dan tepat,
menyimpulkan bahwa kesalahan penyajian, baik secara individual maupun
secara agregasi, adalah material, tetapi tidak pervasif, terhadap laporan
keuangan; atau

(b) Auditor tidak dapat memperoleh bukti audit yang cukup dan tepat yang
mendasari opini, tetapi auditor menyimpulkan bahwa kemungkinan dampak
kesalahan penyajian yang tidak terdeteksi terhadap laporan keuangan, jika ada,
dapat bersifatmaterial, tetapi tidak pervasif.

Opini Tidak Wajar


Ketentuan 8 : Auditor harus menyatakan suatu opini tidak wajar ketika auditor,
setelah memperoleh bukti audit yang cukup dan tepat, menyimpulkan bahwa
kesalahan penyajian, baik secara individual maupun secara agregasi, adalah
material dan pervasif terhadap laporan keuangan

Opini Tidak Menyatakan Pendapat


Ketentuan 9 : Auditor tidak boleh menyatakan pendapat ketika auditor tidak
dapat memperoleh bukti audit yang cukup dan tepat yang mendasari opini, dan
auditor menyimpulkan bahwa kemungkinan dampak kesalahan penyajian yang
tidak terdeteksi terhadap laporan keuangan, jika ada, dapat bersifat material dan
pervasif.
Ketentuan 10 : Auditor tidak boleh menyatakan pendapat ketika, dalam kondisi
yang sangat jarang yang melibatkan banyak ketidakpastian, auditor
menyimpulkan bahwa, meskipun telah memperoleh bukti audit yang cukup dan
tepat tentang setiap ketidakpastian tersebut, auditor tidak dapat merumuskan
suatu opini atas laporan keuangan karena interaksi yang potensial dari
ketidakpastian tersebut dan kemungkinan dampak kumulatif dari ketidakpastian
tersebut terhadap laporan keuangan

4. Apakah perbedaan asersi manajemen dan auditor ?

Menurut SA 315
Ketentuan 3 : Tujuan auditor adalah untuk mengidentifikasi dan menilai resiko
kesalahan dan penyajian material, apakah karena kecurangan atau kesalahan,
pada tingkat laporan keuangan dan asersi, melalui pemahaman atas entitas dan
lingkungannya termasuk pengendalian internal entitas, oleh karena itu
menyediakan suatu dasar untuk merancang dan mengimplementasikan respons
terhadap resiko yang ditetapkan atas kesalahan penyajian material tersebut.

Ketentuan 4 (a) : Asersi : Representasi oleh manajemen, secara eksplisit atau


dengan cara lain, yang terkandung dalam laporan keuangan, yang dipakai oleh
auditor untuk mempertimbangkan berbagai jenis kesalahan penyajian potensial
yang mungkin terjadi

5. Apa yang dimaksud kesalahan material ? Mengapa berpengaruh


terhadap opini audit ?

Menurut SA 200
Definisi 13 ( i ) : Kesalahaan penyajian :Suatu selisih atas angka, klasifikasi,
penyajian, atau pengungkapan suatu pos laporan, antara yang dilaporkan dalam
laporan keuangan dengan yang seharusnya menurut kerangka pelaporan
keuangan yang berlaku. Kesalahan penyajian dapat diakibatkan oleh kesalahan
maupun kecurangan. .

Menurut SA 315

A105. : Resiko kesalahan penyajian material pada tingkat laporan keuangan


merujuk pada resiko yang berhubungan secara pervasif dengan laporan
keuangan secara keseluruhan dan secara potensial berdampak pada banyak
asersi. Resiko tersebut tidak perlu berupa resiko yang dapat diidentifikasi dengan
asersi spesifik pada tingkat golongan transaksi , saldo akun atau pengungkapan.
Melainkan, resiko tersebut mewakili kondisi yang dapat meningkatkan resiko
kesalahan penyajian material pada tingkat asersi, sebagai contoh melalui
pengabaian pengendalian internal oleh manajemen. Resiko pada tingkat laporan
keuangan mungkin secara khusus relevan bagi pertimbangan auditor atas resiko
kesalahan penyajian material karena kecurangan.

Kesalahan penyajian material berpengaruh pada opini karena dengan


adanya kesalahan tersebut bisa berhubugan secara pervasif dengan laporan
keuangan secara keseluruhan dan secara potensial berdampak pada banyak
asersi. Sehingga mengacu pada SA 705.

6. Boleh atau tidak auditor tidak mampu dalam memperoleh sebuah bukti ?
Adakah kaitannya dengan opini ?
Tidak boleh, seorang auditor harus bisa memperoleh bukti yang cukup dan tepat.
Kecuali yang tidak bisa memberikan bukti itu dari pihak manajemen yang akan
diaudit. Dalam artian disebabkan oleh pembatasan yang dillakukan oleh
Manajemen setelah auditor menerima perikatan.
Menurut SA 200
A28. Bukti audit diperlukan untuk mendukung opini dan laporan auditor Bukti
audit bersifat kumulatif dan terutama diperoleh dari prosedur audit yang
dilaksanakan selama audit. Namun, bukti audit juga mencakup informasi yang
diperoleh dari sumber-sumber lain, seperti audit periode lalu (sepanjang auditor
telah menentukan apakah telah terjadi perubahan sejak audit periode lalu yang
dapat memengaruhi relevansi audit periode lalu dengan audit periode kini atau
prosedur pengendalian mutu suatu KAP untuk penerimaan dan keberlanjutan
klien. Selain sumber-sumber lain yang diperoleh dari dalam dan luar entitas,
catatan akuntasi entitas merupakan sumber bukti audit yang penting. Selain itu,
informasi yang dapat digunakan sebagai bukti audit mungkin telah disusun oleh
seorang pakar yang dipekerjakan atau ditugaskan oleh entitas. Bukti audit terdiri
dari informasi yang mendukung dan menguatkan asersi manajemen dan setiap
informasi yang bertentangan dengan asersi tersebut. Sebagai tambahan, dalam
beberapa kasus, ketiadaan informasi (sebagai contoh, penolakan manajemen
untuk menyediakan representasi yang diminta) digunakan oleh auditor dan, oleh
karena itu, juga merupakan bukti audit. Sebagian besar pekerjaan auditor dalam
merumuskan opini auditor terdiri dari pemerolehan dan pengevaluasian bukti
audit.
A29. Kecukupan dan ketepatan bukti audit saling berhubungan. Kecukupan
merupakan ukuran kuantitas bukti audit, Kuantitas bukti audit yang diperlukan
dipengaruhi oleh pertimbangan auditor atas resiko kesalahan penyajian (semakin
tinggi risiko yang dinilai, semakin banyak bukti audit yang dibutuhkan) dan juga
dipengaruhi oleh kualitas bukti audit tersebut (semakin tinggi kualitasnya,
semakin kurang bukti audit yang dibutuhkan). Namun, pemerolehan bukti audit
yang lebih banyak belum tentu dapat mengkompensasi kualitas bukti audit yang
buruk.
A.30 Ketepatan merupakan ukuran kualitas bukti audit ; yaitu relevansi dan
keandalannya dalam mendukung kesimpulan yang mendasari opini auditor.
Keandalan bukti audit dipengaruhi oleh sumber dan sifatnya, serta bergantung
pada kondisi-kondisi dari bukti tersebut.
Menurut SA 705
Ketentuan 13 : Jika auditor tidak dapat memperoleh bukti audit yang cukup dan
tepat, maka auditor harus menentukan implikasinya sebagai berikut :
(a). Jika auditor menyimpulkan bahwa kemungkinan dampak kesalahan
penyajian yang tidak terdeteksi terhadap laporan keuangan jika ada, dapat
bersifat material, tetapi tidak pervasif, maka auditor harus menyatakan opini
wajar dengan pengecualian; atau
(b). Jika auditor menyimpulkan bahwa kemungkinan dampak kesalahan
penyajian yang tidak terdeteksi terhadap laporan keuangan, jika ada, dapat
bersifat material dan pervasif sehingga suatu opini wajar dengan pengecualian
tidak akan memadai untukmengomunikasikan signifikansi kondisi tersebut maka
auditor harus: ( ref.Para A13-A14 )
(i). Menarik diri dari audit, jika diperkenankan dan memungkinkan menurut
peratuarn perundang-undangan yang berlaku ; atau
(ii). Jika peraturan perundang-undangan yang berlaku; atau tidak diperkenankan
atau tidak memungkinkan, maka auditor tidak boleh menyatakan pendapat atas
laporan keuangan.

7. Dalam sebuah opini dimana penekanan terhadap kelangsungan hidup ?

Menurut SA 570 Tentang Kelangsungan Usaha


Ketentuan 4 : Dalam kerangka pelaporan keuangan lain, kemungkinan tidak
terdapat keterikatan eksplisit bagi manajemen untuk membuat suatu penilaian
spesifik tentang kemampuan entitas dalam mempertahankan kelangsungan
usahanya. Namun, karena asumsi kelangsungan usaha merupakan suatu prinsip
yang fundamental dalam penyusunan laporan keuangan seperti yang dibahas
dalam paragraf 2, penyusunan laporan keuangan mengharuskan manajemen
untuk menilai kemampuan entitas dalam mempertahankan kelangsungan
usahanya, bahkan ketika kerangka pelaporan keuangan tidak mencakup suatu
ketentuan eksplisit untuk melakukan hal tersebut.

Menurut SA 706 Tentang Paragraf Penekanan Suatu Hal Dan Paragraf Hal
Lain Dalam Laporan Auditor Independen
Ketentuan 5 ( a ) : Paragraf Penekanan Suatu Hal : Suatu Paragraf yang
tercantum dalam laporan auditor yang mengacu pada suatu hal yang telah
disajikan atau diungkapkan dengan tepat dalam laporan keuangan yang,
menurut pertimbangan auditor, sedemikian penting bahwa hal tersebut adalah
fundamental bagi pemahaman pengguna laporan keuangan atas laporan
keuangan.

Ketentuan 7 : Ketika auditor mencantumkan paragraf Penekanan Suatu Hal


dalam laporannya , auditor harus :
a. Meletakkan paragraf tersebut segera setelah paragraf opini dalam
laporan auditor ;
b. Menggunakan judul “ Penekanan Suatu Hal “ atau judul llain yang tepat
c. Mencantumkan dalam paragraf tersebut suatu pengacuan yang jelas
tentang hal yang ditekankan dan acuan pada catatan atas laporan
keuangan yang relevan tempat hal tersebut diungkapkan dalam laporan
keuangan ; dan
d. Mengindikasikan bahwa opini auditor tidak dimodifikasi sehubungan
dengan hal yang ditekankan tersebut ( Ref. Para A3-A4 )
8. Apa bedanya Unmodified dengan paragraf penjelas dan Unmodified
tanpa paragraf penjelas ?

 Laporan audit wajar tanpa syarat dengan paragraf penjelas atau


modifikasi kalimat ( Unqualified audit report with explanatory paragraph
or modified wording )sesuai dengan kriteria suatu audit yang lengkap
dengan hasil audit yang memuaskan serta laporan keuangan telah disajikan
dengan wajar, tetapi auditor merasa wajib untuk memberikan informasi
tambahan. Penyebab – penyebab utama ditambahkannya suatu paragraf
penjelas atau modifikasi kalimat pada laporan audit bentuk baku :
1. Tidak adanya konsistensi dalam penerapan prinsip akuntansi yang
berlaku umum
2. Ketidakpastian atas kelangsungan hidup perusahaan (going concern)
3. Auditor menyetujui terjadinya penyimpangan dari prinsip akuntansi yang
berlaku umum
4. Penekanan pada suatu masalah
5. Laporan yang mengakibatkan auditor lainnya.
Untuk keempat penyebab pertama dibutuhkan suatu paragraf penjelasan.
Pada masing-masing kasus, tiga paragraf standar tetap disertakan tanpa
dibubuhi modifikasi apapun kemudian ditambahkan sebuah paragraf penjelas
dan baru dengan diikuti paragraf pendapat.
Hanya pembuatan laporan yang ,melibatkan auditor lainlah, yang
memerlukan suatu modifikasi kalimat. Laporan ini berisi tiga buah paragraf dan
keseluruhan paragraf tersebut mengalami modifikasi.
 Laporan audit Unmodified tanpa paragraf penjelas diterbitkan bila
kondisi – kondisi berikut ini terpenuhi :
1. Seluruh laporan keuangan – neraca, laporan laba rugi, laporan laba
ditahan, dan laporan arus kas – telah lengkap
2. Semua aspek dari ketiga standar umum SPAP telah dipatuhi dalam
penugasan audit tersebut.
3. Bukti audit yang cukup memadai telah terkumpul, dan sang auditor telah
melaksanakan penugasan audit ini dengan sedemikian rupa sehingga
membuatnya mampu menyimpulkan bahwa ketiga standar pekerjaan
lapangan telah dipatuhi.
4. Laporan keuangan telah disajikan sesuai dengan prinsip akuntansi yang
berlaku umum. Hal tersebut berarti pula bahwa pengungkapan informasi
yang cukup telah tercantum dalam catatan atas laporan keuangan serta
bagian – bagian lainnya dari laporan keuangan tersebut.
5. Tidak terdapat situasi yang membuat auditor merasa perlu untuk
menambahkan sebuah paragraf penjelasan atau memodifikasi kalimat
dalam laporan audit.

Anda mungkin juga menyukai