Anda di halaman 1dari 15

LATAR BELAKANG Tahap ini dilaksanakan setelah pelaksanaan audit atas berbagai siklus yang telah dibahas dimuka.

Ditahap ini sangat penting. Tahap penyelesaian audit sangat mempengaruhi keberhasilan hasil audit. Keputusan yang diambil auditor selama tahap penyelesaian ini sangat penting untuk mencapai hasil audit yang optimal. Berbagai prosedur yang diterapkan dalam tahap ini dapat menghasilkan bukti tambahan yang dapat mempengaruhi kesimpulan audit. Pengaruh tersebut meliputi kesimpulan akhir atas saldo setiap rekening yang akan dicantumkan dalam laporan keuangan, dan pendapat auditor atas laporan keuangan secara keseluruhan. Prosedur-prosedur yang diterapkan pada tahap penyelesaian audit mempunyai beberapa karakteristik khusus, yaitu: 1. Prosedur-prosedur tersebut tidak mengacu kesiklus transaksi maupun saldo rekening tertentu. 2. Prosedur-prosedur tersebut dilaksanakan setelah tanggal neraca. 3. Prosedur-prosedur tersebut sangat memerlukan pertimbangan subyektif auditor. 4. Prosedur-prosedur tersebut biasanya dilaksanakan oleh manajer audit atau akuntan senior yang berpengalaman. Pada tahap penyelesaian audit, auditor bekerja dengan keterbatasan waktu. Hal ini diakibatkan oleh keinginan klien untuk memperoleh laporan audit secepat mungkin. Meskipun waktu tidak mendukung auditor, auditor harus menggunakan waktu yang tersedia untuk membuat pertimbangan profesional dan menyatakan pendapat sesuai keadaan yang sebenarnya. Elizabeth Jhonson, telah selesai mengaudit hutang dan hutang lain dari Valley River Electrical Services dan sekarang berencana untuk mengaudit kewajiban kontijensi dan komitmen. RUMUSAN MASALAH 1. Bedakan antara kewajiban kontijensi dan komitmen dan jelaskan mengapa keduanya perlu di audit. 2. Jelaskan bagaimana pengujian yang dilakukan Jhonson di tahap I-III dari audit kewajiban yang mungkin membantu dia memperoleh keyakinan dalam empat presentasi dan pengungkapan.

3. Identifikasi tiga prosedur audit berguna untuk mengungkap kewajiban kontinjensi yangkemungkinan akan digunakan dalam pelaksanaan audit, bahkan jika Jhonson tidak punyatanggung jawab untuk mengungkap kontinjensi. 4. Identifikasi tiga prosedur lainnya yang kemungkinan dilakukan Jhonson untuk melakukan tujuan mengidentifikasi kontinjensi yang dirahasiakan.

PEMBAHASAN A. PENYELESAIAN PEKERJAAN LAPANGAN Dalam menyelesaikan atau melengkapi pekerjaan lapangan, auditor

melaksanakan beberapa prosedur audit untuk menghimpun tambahan bahan bukti audit. Ada lima prosedur yang dapat dilakukan oleh auditor, yaitu: 1. Melakukan penelaahan peristiwa kemudian (subsequent event review), 2. Membaca notulen rapat 3. Mengajukan pertanyaan atau melakukan konfirmasi dengan penasihat hukum klien 4. Menghimpun surat representasi klien 5. Melaksanakan prosedur analitis komprehensif B. MELAKUKAN PENELAAHAN PERISTIWA KEMUDIAN (SUBSEQUENT EVENT REVIEW) Tanggung jawab auditor dalam menentukan kewajaran laporan keuangan klien tidak terbatas pada pemeriksaan atas kejadian dari transaksi yang terjadi sampai dengan tanggal neraca. SA 560 tentang Peristiwa Kemudian menyatakan bahwa auditor mempunyai tanggung jawab tertentu atas kejadian dan transaksi-transaksi yang:Mempunyai pengaruh material atas laporan keuangan, dan Terjadi setelah tanggal neraca tetapi sebelum diterbitkannya laporan keuangan dan laporan auditor.Periode peristiwa kemudian adalah periode yang dihitung sejak tanggal neraca sampai dengan tanggal berakhirnya pekerjaan lapangan (tanggal laporan audit). Ada dua jenis peristiwa kemudian, yaitu: Tipe peristiwa kemudian I, meliputi peristiwa yang memberikan tambahan bukti yang berhubungan dengan kondisi yang ada pada tanggal neraca dan berdampak terhadap taksiran yang melekat dalam proses penyusunan laporan keuangan. Yang memerlukan penyesuaian dan pengungkapan dalam laporan keuangan, adalah:

a. Kerugian akibat piutang tak tertagih yang disebabkan adanya pelanggan yang mengalami kesulitan keuangan dan menuju kepailitan sesudah tanggal neraca, merupakan indikasi keadaan yang ada pada tanggal neraca. b. Penyelesaian tuntutan hukum baik yang dilakukan klien maupun yang ditujukan pada klien, yang jumlahnya berbeda dengan jumlah utang atau piutang yang dicatat, membutuhkan penyesuaian laporan keuangan jika peristiwa yang menimbulkan tuntutan tersebut telah terjadi atau ada sebelum tanggal neraca. c. Penghentian operasi perusahaan cabang dengan rugi terestimasi yang diakibatkan oleh kondisi yang ada sebelum tanggal neraca. Tipe peristiwa kemudian II, meliputi peristiwa-peristiwa yang memberikan tambahan bukti yang berhubungan dengan kondisi yang tidak ada pada tanggal neraca yang dilaporkan, tetapi kondisi tersebut ada sesudah tanggal neraca. Peristiwa ini memerlukan pengungkapan dalam laporan keuangan, adalah: a. Penjualan obligasi maupun penerbitan saham baru b. Akuisisi pada perusahaan lain c. Kerugian aktiva tetap yang disebabkan kebakaran yang terjadi setelah tanggal neraca. d. Business combination misalnya perusahaan klien akan merger dengan sebuah perusahaan lain. e. Perusahaan struktur modal f. Pengumuman dividen saham ataupun dividen kas yang lain dari biasanya. Prosedur audit yang dapat dilakukan auditor berkaitan dengan peristiwa kemudian, antara lain: a. Membaca dan menganalisis laporan keuangan interim terbaru setelah tanggal neraca serta membandingkannya dengan laporan keuangan tahunan. b. Mengajukan pertanyaan kepada manajer atau eksekutif perusahaan mengenai apakah laporan keuangan interim telah disajikan dengan dasar yang sama dengan penyusunan laporan keuangan tahunan. c. Mengajukan pertanyaan kepada pejabat atau eksekutif yang bertanggung jawab atas masalah keuangan dan akuntansi. d. Membaca notulen rapat para pemegang saham, direktur, komite resmi lainnya. 3

e. Mengajukan pertanyaan kepada konsultan hukum klien mengenai adanya tuntutan hukum, klaim, dan keputusan pengadilan. f. Mendapatkan surat representasi dari manajer yang berwenang mengenai peristiwa kemudian yang perlu penyesuaian dan pengungkapan, yang bertanggal sama dengan tanggal laporan audit. g. Mengajukan pertanyaan tambahan h. Melaksanakan beberapa prosedur yang dipertimbangkan perlu dan semestinya dilakukan. Auditor dapat mengeluarkan laporan audit sebagai berikut (tergantung materialitas peristiwa kemudian): a. Pendapat tidak wajar apabila peristiwa kemudian sangat material. b. Pendapat menolak memberikan pendapat. C. MENELAAH NOTULEN RAPAT Notulen rapat pemegang saham, dewan komisaris, komite komitenya, sepertinya komite keuangan dan komite audit, mungkin berisi hal hal penting bagi suatu audit.Auditor harus memastikan bahwa semua notulen hasil rapat yang

diselenggarakan selama periode diperiksa dan selama periode sejak tanggal neraca sampai dengan akhir pekerjaan lapangan telah disediakan klien untuk direview. Pembacaan notulen-notulen rapat biasanya dilakukan segera setelah auditor menerimanya, agar auditor mempunyai waktu yang cukup untuk mempelajari dan menilai signifikansinya terhadap audit, misalnya: a. Otorisasi pengeluaran obligasi b. Otorisasi pengeluaran saham baru c. Otorisasi pembelian kembali saham sendiri d. Otorisasi pembayaran dividen e. Otorisasi penghentian jenis produk tertentu. Kelima hal tersebut diatas berpengaruh pada asersi-asersi manajemen dalam laporan keuangan. Informasi yang diperoleh dari penelaahan tersebut dapat menyebabkan auditor: a. Melakukan pengujian substantif tambahan b. Meminta klien mengungkapkan peristiwa kemudian dalam laporan keuangan.

D. MENGAJUKAN PERTANYAAN ATAU KONFIRMASI KEPADA PENASIHAT HUKUM KLIEN Pengajuan pertanyaan atau konfirmasi dilakukan untuk memperoleh bukti mengenai keberadaan tuntutan hukum, klaim, dan keputusan pengadilan yang mempengaruhi usaha dan keuangan klien dimasa datang.Kadang kejadian ekonomi lebih mempengaruhi posisi keuangan daripada suatu transaksi kas atau transaksi lainnya.Sebagai contoh adalah kewajiban kontinjensi.FASB mendefinisikan

kontingensi (contingency) sebagai adanya kondisi, situasi, atau sejumlah keadaan yang tidak pasti, baik yang bersifat menguntungkan maupun yang merugikan yang kepastiannya akan tergantung pada terjadi atau tidak terjadinya satu atau lebih kejadian di masa datang. Tergantung pada tingkat kemungkinan pembayaran di masa datang, prinsip akuntansi berlaku umum mengharuskan kontingensi merugikan untuk diperlakukan sebagai salah satu dari kemungkinan berikut: (1) dicatat sebagai utang bersyarat, (2) diungkapkan dalam catatan atas laporan keuangan, dan (3) diabaikan. Kontinjensi adalah keadaan, situasi, atau kondisi yang meliputi ketidakpastian yang mungkin melibatkan keuntungan atau kerugian dimasa datang. Perlakuan akuntansi terhadap kontinjensi kerugian dapat berupa: a. Dicatat sebagai contingent liability (kewajiban bersyarat) b. Diungkapkan dalam catatan atas laporan keuangan c. Tidak dicatat Kontinjensi dapat timbul karena a. Ketidakpastian jumlah pajak terhutang b. Pemberian garansi produk c. Adanya tuntutan hukum, klaim, dan keputusan pengadilan E. MENGHIMPUN SURAT REPRESENTASI KLIEN Auditor disyaratkan untuk memperoleh representasi tertulis dari manajemen sebagai bagian dari audit yang dilaksanakan sesuai dengan standar pengauditan. Auditor mengandalkan representasi klien untuk: a. Mengkonfirmasikan pernyataan lisan yang disampaikan pada auditor b. Mendokumentasikan ketepatan representasi yang kontinu. c. Menurunkan kesalahpahaman mengenai representasi manajemen. Reprensentasi klien melengkapi dan mendukung prosedur audit lainnya. Isi representasi klien meliputi:

a. Pengakuan manajemen mengenai tanggung jawabnya untuk menyajikan laporan keuangan secara wajar sesuai dengan prinsip akuntansi yang berterima umum. b. Tersedianya catatan keuangan dan data yang berkaitan. c. Kelengkapan dan tersedianya semua notulen rapat. d. Tidak terdapat kesalahan dalam laporan keuangan dan transaksi yang tidak tercatat. e. Informasi mengenai transaksi antar pihak yang memiliki hubungan istimewa. f. Ketidakpatuhan dengan berbagai isi perjanjian kontrak yang mungkin berdampak pada laporan keuangan. g. Rencana atau maksud yang mungkin akan mempengaruhi, dan lain sebagainya. F. MELAKSANAKAN PROSEDUR ANALITIS KOMPREHENSIF Prosedur analitis mencakup penggunaan rasio dan teknik pembandingan lainnya. Prosedur analitis juga digunakan dalam tahap penyelesaian audit sebagai alat penelaahan menyeluruh atau penelaahan akhir atas laporan keuangan. Prosedur analitis ini bertujuan untuk membantu auditor dalam mengambil kesimpulan mengenai audit, dan dalam mengevaluasi penyajian laporan keuangan secara keseluruhan. Prosedur analitis kemudian diterapkan pada laporan keuangan untuk menentukan apakah ada hubungan yang tidak wajar yang masih ada.Apabila ternyata masih ada, maka auditor perlu melaksanakan prosedur audit tambahan. Data perusahaan dapat dibandingkan dengan: a. Hasil perusahaan yang diharapkan misalnya seperti yang tercantum dalam anggaran. b. Data industri c. Data non keuangan yang relevan seperti jumlah produksi, atau jumlah tenaga kerja. G. PENGEVALUASIAN TEMUAN Auditor melaksanakan pengevaluasian atas temuan dengan tujuan: a. Untuk menentukan jenis pendapat yang akan diberikan b. Untuk menentukan apakah standar pengauditan telah dilaksanakan dengan baik dalam audit. Untuk mencapai tujuan tersebu, auditor melaksanakan beberapa langkah berikut: 6

1. 2. Membuat penetapan akhir mengenai materialitas dan risiko audit 3. Melakukan penelaahan teknis mengenai laporan keuangan 4. Merumuskan pendapat dan membuat draft laporan audit 5. Melakukan penelaahan akhir atas kertas kerja

H. MEMBUAT PENETAPAN AKHIR MENGENAI MATERIALITAS DAN RISIKO AUDIT Tahap ini perlu dilakukan sebelum memutuskan pendapat yang akan diberikan atas laporan keuangan klien. Titik awal proses ini adalah menjumlahkan seluruh salah saji dalam pemeriksaan atas seluruh akun yang tidak dikoreksi oleh klien. Berkaitan dengan hal ini, ada dua kasus yang mungkin ditemui auditor, yaitu: a. Salah saji yang tidak atau belum dikoreksi mungkin secara individual tidak material sehingga auditor tidak meminta pembetulan atau koreksi. b. Klien tidak mau melakukan koreksi sesuai dengan yang diminta oleh auditor. Langkah selanjutnya dalam proses ini adalah menentukan pengaruh jumlah seluruh salah saji pada laba bersih dan elemen laporan keuangan lain yang terkait dengan salah saji, seperti aktiva lancar dan utang lancar. Penentuan salah saji oleh auditor dalam suatu akun meliputi beberapa komponen berikut: a. Salah saji yang tidak dikoreksi yang terdeteksi melalui pengujian substantive (known misstatement). b. Proyeksi salah saji yang tidak dikoreksi, yang diperkirakan melalui teknik sampling audit. c. Estimasi salah saji yang dideteksi melalui prosedur analitis, dan yang dikuantifikasikan dengan prosedur audit lainnya. I. MELAKUKAN PENELAAHAN TEKNIS MENGENAI LAPORAN KEUANGAN Banyak Kantor Akuntan Publik (KAP) yang mempunyai checklist (daftar pengecek) rincian laporan keuangan.Daftar ini diisi oleh auditor yang melakukan penelaahan.Daftar yang sudah lengkap, ditelaah lagi oleh manajer atau partner.Checklist meliputi hal-hal yang berhubungan dengan bentuk dan isi setiap laporan keuangan, dan hal-hal lain yang harus

diungkapkan.Checklist yang telah lengkap, dan temuan yang diperoleh melalui penelaahan, harus dimasukkan dalam kertas kerja. J. MERUMUSKAN PENDAPAT DAN MEMBUAT DRAFT LAPORAN AUDIT 7

Pada setiap selesai dilaksanakannya prosedur pengujian audit, staf yang melaksanakan prosedur tersebut diharapkan meringkas temuannya.Berbagai ringkasan temuan tersebut, kemudian digabungkan, dan dievaluasi untuk menentukan pendapat yang diberikan atas laporan keuangan secara keseluruhan. Proses ini biasanya dilaksanakan oleh partner. Aktivitas ini bisa juga dilakukan oleh manajer (manajer KAP) dan ditelaah kembali oleh partner.Sebelum mencapai keputusan pendapat yang final, auditor perlu berdiskusi dengan klien.Apabila diskusi tersebut menghasilkan kesepakatan bersama, auditor dapat memberikan pendapat wajar tanpa

pengecualian.Tetapi apabila diskusi tersebut tidak dapat menghasilkan kesepakatan bersama, auditor dapat memberikan pendapat selain pendapat wajar tanpa pengecualian. K. MELAKUKAN PENELAAHAN AKHIR ATAS KERTAS KERJA Setiap kertas kerja telah ditelaah oleh supervisor.Hal ini dimaksudkan untuk menilai kualitas pekerjaan yang dilakukan, bukti yang dihimpun, dan kesimpulan yang ditarik oleh pembuat kertas kerja. Meskipun demikian, penelaahan tambahan terhadap kertas kerja perlu dilakukan pada tahap akhir pekerjaan lapangan oleh anggota tim audit. Hal ini dapat dilaksanakan oleh partner maupun manajer. Manajer dapat melakukan penelaahan atas kertas kerja yang dibuat oleh seorang auditor, maupun yang dibuat oleh asisten atau junior auditor yang telah ditelaah oleh senior auditor. Partner dapat melakukan penelaahan atas kertas kerja yang dibuat oleh manajer, penelaahan atas kertas kerja lain yang dipilih. L. BERKOMUNIKASI DENGAN KLIEN Komunikasi oleh auditor dapat dilaksanakan dengan: a. Komite audit b. Manajemen Komunikasi yang dapat dilakukan auditor dengan komite audit adalah komunikasi mengenai hal-hal yang berkaitan dengan struktur pengendalian intern klien, atau mengenal pelaksanaan audit. Komunikasi manajemen dapat dilaksanakan melalui management letter (surat pernyataan manajemen). M. KOMUNIKASI HAL-HAL YANG BERKAITAN DENGAN STRUKTUR

PENGENDALIAN INTERN Suatu persoalan SPI perlu dilaporkan apabila menunjukkan kekurangan yang material dalam rancangan atau pelaksanaan SPI, yang berakibat buruk pada efektifitas proses dan sistem akuntansi. 8

Auditor tidak berkewajiban untuk mencari kondisi yang dapat dilaporkan. Tetapi, auditor mungkin menemukan kondisi yang dapat dilaporkan melalui: a. Pertimbangannya atau pemahamannya atas unsur-unsur SPI b. Penerapan prosedur audit terhadap saldo maupun transaksi Komunikasi sebaiknya dilaksanakan dalam bentuk suatu laporan tertulis. Distribusi tersebut harus dibatasi pada komite audit, manajemen, dan anggota organisasi klien lain yang berwenang. Laporan tersebut harus: a. Mengindikasikan kegunaan audit laporan keuangan adalah memberikan pendapat atas laporan b. keuangan, bukan menyediakan mengenai struktur pengendalian intern klien.

c. Mencakup definisi reportable condition d. Mencakup pembatasan distribusi laporan N. KOMUNIKASI MENGENAI PELAKSANAAN AUDIT (DENGAN KOMITE AUDIT) Komunikasi dapat berbentuk lisan atau tertulis. Komunikasi dengan komite audit meliputi masalah-masalah berikut: a. Tanggung jawab auditor berdasarkan standar pengauditan yang ditetapkan Ikatan Akuntansi Indonesia b. Kebijakan akuntansi yang signifikan termasuk pilihan dan perubahan kebijakan akuntansi serta metode akuntansi yang digunakan untuk transaksi yang tidak biasa. c. Pertimbangan manajemen dan estimasi akuntansi termasuk dasar

pertimbangan yang dilakukan, dan proses pembuatan estimasi. d. Penyesuaian audit yang signifikan yang berdampak signifikan atas proses pelaporan satuan usaha. e. Ketidaksepakatan dengan manajemen f. Konsultasi dengan akuntan lain mengenai masalah akuntansi dan pengauditan. g. Kesulitan yang dijumpai selama pelaksanaan audit

O. MENYUSUN MANAJEMEN)

MANAGEMENT

LETTER

(SURAT

PERNYATAAN

Management letter berisi rekomendasi-rekomendasi yang tidak disyaratkan untuk dikomunikasikan dengan komite audit.Rekomendasi tersebut biasanya berkaitan erat dengan usaha peningkatan efisiensi dan efektivitas operasi perusahaan klien oleh karena itu, management letter menunjukkan pelayanan yang diberikan auditor agar klien puas. Pelayanan ini menunjukkan adanya perhatian auditor terhadap kesejahteraan dan masa depan klien. Management letter dapat mencakup komentar atas: a. Struktur pengendalian intern, yang bukan termasuk reportable condition. b. Sumber daya manajemen seperti kas, persediaan, dan investasi c. Masalah perpajakan. P. TANGGUNG JAWAB SETELAH AUDIT Tanggung jawab setelah audit meliputi pertimbangan: a. Peristiwa kemudian yang terjadi antara tanggal laporan audit dan tanggal dipublikasikannya laporan audit. b. Penemuan fakta-fakta baru. Fakta-fakta baru yang ditemukan mungkin mempengaruhi penyajian laporan keuangan yang akan berakibat menyesatkan para pengguna laporan keuangan. c. Penemuan adanya prosedur yang tidak dilaksanakan. Prosedur yang belum dilaksanakan akan mempengaruhi tingkat efektivitas audit. Bila efektivitas audit lemah ada kemungkinan auditor tidak dapat mencapai tingkat risiko deteksi yang direncanakan. Q. PERISTIWA KEMUDIAN YANG TERJADI ANTARA TANGGAL LAPORAN AUDIT DAN TANGGAL DIPUBLIKASIKANNYA LAPORAN AUDIT. Sebenarnya auditor tidak bertanggung jawab (setelah audit selesai) untuk menemukan hal-hal yang mempengaruhi laporan keuangan auditan setelah tanggal laporan audit.Meskipun demikian, apabila kejadian tersebut timbul, auditor perlu mempertimbangkan apakah perlu ada pengungkapan atau penyesuaian laporan keuangan.Bila auditor menetapkan perlunya penyesuaian laporan keuangan. Bila auditor menetapkan perlunya penyesuaian atau pengungkapan, dan manajemen setuju, maka auditor dapat mengeluarkan laporan audit bentuk baku. Sebagai alternatif, auditor dapat menggunakan penanggalan ganda (dual dating). R. PENEMUAN FAKTA-FAKTA BARU 10

Apabila penyelidikan auditor menunjukkan adanya fakta tersebut, dan auditor yakin bahwa informasi tersebut penting bagi keandalan laporan keuangan, auditor harus mengambil langkah-langkah untuk mencegah pengandalan (pemanfaatan) dimasa datang atas laporan audit. Langkah-langkah tersebut meliputi: a. Memberitahu (tertulis) klien bahwa laporan audit tidak dapat lagi dikaitkan dengan laporan keuangan. b. Memberitahu (tertulis) badan yang berwenang seperti BAPEPAM bahwa laporan audit tidak dapat diandalkan lagi. c. Memberitahu (tertulis) melalui badan berwenang (BAPEPAM) kepada setiap individu yang diketahui mengandalkan laporan keuangan, bahwa laporan audit tidak dapat diandalkan lagi. S. PENEMUAN ADANYA PROSEDUR YANG TIDAK DILAKSANAKAN Setelah tanggal laporan audit, ada kemungkinan auditor menyimpulkan bahwa satu atau lebih prosedur audit, yang dianggap perlu sesuai keadaan, tidak dilaksanakan selama pelaksanaan audit. Standar pengauditan tidak mensyaratkan auditor untuk melaksanakan penelaahan pos audit (setelah audit berakhir) atas pekerjaan lapangan. Meskipun demikian, penemuan adanya prosedur audit yang tidak dilaksanakan dapat diketahui melalui: a. Pelaksanaan program pengendalian kualitas Kantor Akuntan Publik b. Pelaksanaan peer review Sebagai contoh, auditor tidak melaksanakan penelaahan notulen rapat dan verifikasi kesesuaian saldo.

PENYELESAIAN Kewajiban Kontinjensi adalah potensi utang di masa depan kepada pihak luar atas jumlah yang belum dapat ditentukan yang dihasilkan dari aktivitas yang telah dilakukan. Terdapat tiga kondisi yang diperlukan atas munculnya kewajiban kontijensi, yaitu : 1. Terdapat potensi pembayaran di masa mendatang kepada pihak luar atau penurunan nilai asset yang dihasilkan dari kondisi sekarang. 2. Terdapat ketidakpastian jumlah pembayaran atau penurunan nilai di masa mendatang. 3. Hasilnya akan diperoleh dari kejadian di masa mendatang. Ketidakpastian atas pembayaran di masa mendatang dapat bervariasi dari sangat mungkin terjadi sampai kemungkinan besar tidak terjadi.Adapun menurut PSAK 57 dijelaskan tiga tingkatan kemungkinan keterjadian dan perlakuan atas laporan keuangan yang dapat 11

digunakan sebagai standard evaluasi dalam mempertimbangkan dan melakukan penilaian secara profesional bagi auditor terhadap kondisi pelaporan klien. Standar audit mensyaratkan bahwa manajemen, bukan auditor, bertanggung jawab atas identifikasi dan penetuan perlakuan akuntansi yang tepat untuk kewajiban kontinjensi dan pada dasarnya dalam pengungkapan atas kontijensi dapat dilakukan atas kerjasama pihak manajemen dengan auditor. Tujuan utama auditor dalam melakukan verifikasi kewajiban kontijensi adalah : a. Mengevaluasi perlakuan akuntansi atas kewajiban kontinjensi yang diketahui untuk menentukan apakah manajemen telah mengklasifikasikan kontijensi dengan benar (tujuan penyajian dan pengungkapan untuk klasifikasi). b. Mengidentifikasi praktek kontinjensi yang belum diidentifikasi manajemen (tujuan penyajian dan pengungkapan untuk kelengkapan). Komitmen sangat berkaitan erat dengan kewajiban kontinjensi. Komitmen meliputi halhal seperti perjanjian untuk membeli bahan baku atau melakukan sewa guna usaha suatu fasilitas pada harga tertentu dan penjualan barang dagangan pada harga yang sudah ditentukan. Karakteristik dalam komitmen yaitu perusahaan setuju berada dalam kondisi tertentu di masa mendatang, tanpa memperhatikan apa yang terjadi dengan laba perusahaan atau perekonomian keseluruhan. Perusahaan biasanya menjelaskan seluruh komitmen, baik dalam penjelasan tambahan terpisah maupun digabungkan, dengan sebuah catatan mengenai kontinjensi. Kewajiban kontijensi dan Komitmen perlu di audit karena tujuan auditor yang utama dalam memverifikasi kewajiban kontijen adalah : Mengevaluasi perlakuan akuntansi dari kewajiban kontijen yang diketahui untuk menentukan apakah manajemen telah mengklasifikasikan dengan benar kontijensi tersebut (tujuan klasifikasi penyajian dan pengungkapan) Mengidentifikasi sampai batasan praktis, setiap kontijensi yang belum diidentifikasi penungkapan). Empat presentasi disini seperti yang dijelaskan oleh Arens adalah : 1. Kejadian dan hak dan kewajiban: Mengungkap peristiwa dan transaksi memilikiterjadi dan berkaitan dengan entitas. 2. Kelengkapan:Semua pengungkapan telah dimasukkan ke dalam Laporan keuangan. oleh manajemen (tujuan pengungkapan penyajian dan

12

3. Klasifikasi dan dapat dipahami:Informasi keuangan yang tepat disajikan, dijelaskan serta diungkapandengan jelas. 4. Akurasi dan penilaian:Informasi keuangan dan lainnyadiungkapkan secara menyeluruh dan pada jumlah yang tepat.

Tahap I :

Tahap II :

13

Tahap III :

Prosedur yang digunakan Jhonson saat mengaudit walaupun dia tidak punya tanggung jawab untuk mengungkap kewajiban kontijensi. 1. Mengajukan pertanyaan pada manajemen (secara lisan maupun tertulis ) mengenai kemungkinan adanya kontijensi yang tidak dicatat 2. Mereview agen pendapatan internal tahun ini dan tahun sebelumnya untuk menyelesaikan pajak pendapatan. 14

3. Mereview risalah pertemuan direksi dan pemegang saham untuk indikasi tuntutan hukum atau kontijensi lainnya Tiga prosedur lainnya yang kemungkinan dilakukan Jhonson untuk melakukan tujuan mengidentifikasi kontinjensi yang dirahasiakan : 1. Mengajukan pertanyaan kepada pengacara klien. Merupakanprosedur utama yang menjadi tempat auditor bergantung untuk mengevaluasi tuntutan hukum yang diketahui atau klain lain terhadap klien dan mengidentifikasi tuntutan tambahan. Auditor bergantung pada keahlian an pengetahuan pengacara klien mengenai persoalan hukum klien untuk memberikan opini professional mengenai hasil yang diharapkan dari tuntutan hukum yang ada dan jumlah yang mungkin dari kewajiban., termasuk biaya paggadilan. Pengacara juga lebih mungkin mengetahui penundaan tuntutan hukum dan klaim yang mungkin diabaikan oleh manajemen. 2. Memperoleh surat dari setiap pengacara utama yang memberikan jasa hukum untuk kliennya dlam status penundaan penilaian pajak. 3. Memperoleh surat dari setiap pengacara yang diberikan jasa hukum untuk kliennya dalam status penundaan tuntutan atau kewajiban kontijen lain.

KESIMPULAN Tahap penyelesaian audit merupakan tahap yang penting untuk memastikan audit yang berkualitas. Dalam tahap ini, auditor melaksanakan pengujian tambahan atas penyajian dan pengungkapan, termasuk mereview kontijensi dan peristiwa kemudian. Auditor juga mereview kecukupan bukti audit dan keputusan yang diambil untuk menentukan apakah hal itu mendukung pendapat audit. Kemudian auditor berkomunikasi dengan komite audit dan manajemen mengenai temuan yang penting dan persoalan lainnya.

DAFTAR PUSTAKA

Alvin A. Arens, Randal J. Elder dan Mark S. Beasley, (2006), Auditing and Assurance Services, 13th Edition, John Wiley & Sons inc., New York. http://andinurhasanah.wordpress.com/2013/05/29/menyelesaikan-audit/ http://memebali.blogspot.com/2013/05/auditing-dan-atestasi-penyelesaian-audit.html http://ikarosalia.wordpress.com/2012/06/04/menyelesaikan-audit/

15