Anda di halaman 1dari 12

KEWAJIBAN HUKUM

A. LINGKUNGAN HUKUM YANG BERUBAH


Menurut common law, para profesional audit bertanggung jawab untuk memenuhi apa
yang telah dinyatakan dalam kontrak dengan klien. Apabila auditor gagal memberikan jasa
atau tidak cermat dalam pelaksanaannya, mereka secara hukum bertanggung jawab kepada
klien atas kelalaian dan/atau pelanggaran kontrak, dan dalam situasi tertentu, kepada pihak
selain klien mereka. Menurut common law maupun UU sekuritas federal, tidak ada alasan
sederhana yang menjelaskan tren ini, tetapi faktor-faktor berikut merupakan penyebab
utamanya:

Kesadaran para pemakai laporan keuangan yang semakin meningkat akan tanggung
jawab akuntan publik.

Kesadaran yang meningkat di pihak Securities & Exchange Commission (SEC)


mengenai tanggung jawabnya melindungi kepentingan para investor.

Kerumitan fungsi-fungsi auditing dan akuntansi yang disebabkan oleh meningkatnya


ukuran bisnis, globalisasi bisnis, dan kerumitan operasi bisnis.

Kecenderungan masyarakat untuk menerima tuntutan dari pihak yang dirugikan terhadap
siapa saja yang dapat memberikan kompensasi, tanpa melihat siapa yang salah, bersama
dengan beberapa doktrin tentang kewajiban (sering disebut konsep kewajiban deep
pocket)

Keputusan pengadilan menyangkut ganti rugi yang besar pada beberapa kasus melawan
akuntan publik telah mendorong para pengacara untuk memberikan pelayanan hukum
atas dasar fee kontijen. Kesepakatan ini menawarkan keutungan kepada pihak yang
dirugikan bila tuntutannya berhasil, dan kerugian yang minimum bila tuntutannya tidak
berhasil.

Banyak kantor akuntan publik lebih memilih menyelesaikan masalah hukum di luar
pengadilan untuk menghindari biaya pengadilan yang mahal dan publisitas yang
merugikan, ketimbang menyelesaikannya melalui proses pengadilan.

Kesulitan yang dihadapi hakim dan juri dalam memahami serta menginterpretasikan
masalah teknis akuntansi dan auditing.

B. MEMBEDAKAN ANTARA KEGAGALAN BISNIS, KEGAGALAN AUDIT, DAN


RISIKO AUDIT
Banyak profesional akuntansi dan hukum yakin bahwa penyebab utama tuntutan
hukum kepada kantor akuntansi publik adalah kurangnya pemahaman para pemakai laporan
keuangan atas dua konsep yaitu:
1. Perbedaan antara kegagalan bisnis dan kegagalan audit

2. Perbedaan antara kegagalan audit dan risiko audit


Kegagalan bisnis (business failure) terjadi apabila bisnis tersebut tidak mampu
mengembalikan pinjamannya atau memenuhi harapan para investor karena keadaan ekonomi
atau bisnis, seperti resesi, keputusan manajemen yang buruk, atau persaingan yang terduga
dalam industri.
Kegagalan audit (audit failure) terjadi apabila auditor mengeluarkan pendapat audit
yang tidak benar karena gagal memenuhi persyaratan standar audit.
Risiko audit merupakan kemungkinan bahwa auditor akan menyimpulkan, setelah
melaksanakan audit yang memadai, bahwa laporan keuangan telah dinyatakan secara wajar,
sedangkan dalam kenyataannya mengandung salah saji yang material. Risiko audit tidak
dapat dielakkan, karena auditor mengumpulkan bukti hanya atas dasar pengujian dan karena
kecurangan yang disembunyikan dengan baik sangat sulit dideteksi.

C. KONSEP-KONSEP HUKUM YANG MEMPENGARUHI KEWAJIBAN


Konsep hukum yang berkenaan dengan tuntutan hukum terhadap akuntan publik.

Konsep orang yang bijak


Ada kesepakatan antara profesi akuntan dan pengadilan bahwa auditor bukan penjamin
atau penerbit laporan keuangan. Auditor hanya diharapkan untuk melaksakan audit
dengan kemahiran, dan tidak diharapkan untuk benar 100 persen. Standar kemahiran
(due care) ini sering disebut sebagai konsep orang yang bijak (prudent person concept)

Kewajiban atas tindakan pihak lain


Menurut struktur perusahaan, kewajiban yang timbul dari tindakan salah satu pemilik
tidak mempengaruhi aktiva pribadi pemilik lain, kecuali pemilik lain terlibat langsung
dalam tindakan yang dilakukan pemilik yang menyebabkan kewajiban.

Tindakan adanya komunikasi istimewa


Menurut common law, akuntan publik tidak berhak menyembunyikan informasi dari
pengadilan dengan menyatakan bahwa informasi tersebut rahasia. Diskusi rahasia antara
klien dan auditor tidak dapat disembunyikan dari pengadilan.

Syarat-syarat hukum yang mempengaruhi kewajiban akuntansi publik


Syarat-syarat hukum tersebut dapat dilihat pada tabel dibawah ini.

Syarat-syarat Hukum yang Mempengaruhi Kewajiban Akuntan Publik


Syarat Hukum
Uraian
Syarat yang berkaitan dengan Kelalaian
dan Penipuan
- Kelalaian biasa
Tidak adanya perhatian yang layak yang dapat diharapkan dari
seseorang dalam suatu situasi. Bagi auditor, ini berarti apa yang
seharusnya dilakukan oleh auditor kompeten lainnya dalam situasi yang
sama.
- Kelalaian besar

Tidak ada perhatian sama sekali, setara dengan perilaku ceroboh, yang
dapat diperkirakan dari seseorang. Beberapa Negara bagian tidak
membedakan antara penipuan biasa dan penipuan besar.

- Penipuan konstruktif

Adanya kelalaian yang ekstrem atau luar biasa sekalipun tidak ada
maksud untuk menipu atau merugikan. Penipuan konstruktif juga
disebut kecerobohan. Kecerobohan dalam kasus audit terjadi jika
auditor mengetahui bahwa audit yang memadai tidak dilakukan tetapi
tetap menerbitkan pendapat, sekalipun tidak ada maksud untuk menipu
pemakai laporan.

- Penipuan

Terjadi bila suatu salah saji telah dilakukan dan auditor sama-sama
mengetahui adanya kesalahan itu dan juga adanya maksud untuk
menipu.

Syarat yang berkaitan dengan Hukum


Kontrak
- Pelanggaran kontrak

- Manfaat pihak ketiga

Kegagalan dari satu atau dua pihak yang terlibat dalam kontrak untuk
memenuhi persyaratan kontrak. Salah satu contohnya adalah kegagalan
kantor akuntan untuk mengembalikan SPT pajak pada tanggal yang
telah ditentukan. Pihak-pihak yang mempunyai hubungan yang
ditetapkan dalam kontrak dikatakan mempunyai privity of contract.
Pihak ketiga tidak mempunyai privity of contract tetapi dikenal oleh
pihak-pihak yang mengontrak dan bermaksud untuk mempunyai hak
serta manfaat tertentu menurut kontrak. Contoh yang umum adalah
bank, yang mempunyai piutang pinjaman yang besar pada tanggal
neraca dan meminta audit sebagai bagian dari perjanjian pinjaman.

Syarat-syarat lain
- Common law

UU yang telah dikembangkan melalui keputusan pengadilan, bukan


melalui undang-undang pemerintah.

- UU Statuter

Undang-undang yang telah disahkan oleh Kongres AS dan lembaga


pemerintahan lainnya. Securities Exchange Act tahun 1933 dan 1934
serta Sarbanes-Oxley Act tahun 2002 adalah UU Statuter penting yang
mempengaruhi auditor.

- Kewajiban bersama dan tertentu

Penetapan terhadap pihak tergugat atas kerugian penuh yang diderita


pihak penggugat, tanpa memperhatikan sampai dimana bagian pihakpihak lain dalam kesalahan tersebut. Sebagai contoh, jika manajamen
sengaja melakukan salah saji dalam laporan keuangan, auditor dapat
ditetapkan sebagai pihak yang memikul semua kerugian pemegang
saham jika perusahaan bangkrut dan manajemen tidak dapat membayar.

- Kewajian terpisah dan proposional

Penetapan terhadap pihak tergugat bagian kerugian yang disebabkan


oleh kelalaian tergugat. Sebagai contoh, jika pengadilan menentukan
bahwa kelalaian seorang auditor dalam melaksanakan audit telah
menyebabkan kerugian sebesar 30% pada tergugat, hanya 30% dari
kerugian agregat yang akan dipikul oleh Kantor Akuntan Publik.

Sumber-sumber kewajiban hukum


1. Kewajiban kepada klien
2. Kewajiban kepada pihak ketiga menurut common law
3. Kewajiban sipil menurut UU sekuritas federal
4. Kewajiban kriminal
Klasifikasi kewajiban secara lebih terinci dapat dilihat pada tabel dibawah ini.
Empat Sumber Utama Kewajiban Hukum Auditor

Sumber Kewajiban
- Kewajiban kepada klien

Contoh Klaim yang Potensial


Klien menuntut auditor karena tidak dapat menemukan
kecurangan yang material selama audit.

- Kewajiban kepada pihak ketiga meurut common law

Bank menuntut auditor karena tidak dapat menemukan


bahwa laporan keuangan peminjam mengandung salah saji
secara material.

- Kewajiban sipil menurut UU sekuritas federal

Gabungan kelompok pemegang saham menuntut auditor


karena tidak menemukan salah saji yang material dalam
laporan keuangan.

- Kewajiban kriminal

Pemerintah federal menghukum auditor karena diketahui


menerbitkan laporan audit yang tidak benar.

D. KEWAJIBAN KEPADA KLIEN


Sumber tuntutan hukum yang paling umum terhadap akuntan publik adalah dari klien.
Tuntutannya sangat bervariasi, meliputi klaim seperti kegagalan untuk menyelesaikan
penugasan nonaudit pada tanggal yang telah disepakati, menarik diri dari audit secara tidak
semestinya, kegagalan untuk menemukan penggelapan (pencurian aktiva), dan melanggar

persyaratan kerahasiaan bagi para akuntan publik. Kewajiban yang umum akibat tuntutan
hukum klien melibatkan klaim bahwa auditor tidak dapat menemukan pencurian oleh
karyawan akibat kelalaian dalam melaksanakan audit. Tuntutan hukum ini dapat menjadi
pelanggaran kontrak, tindakan yang merugikan akibat kelalaian, atau keduanya. Dalam audit,
kegagalan untuk memenuhi standar auditing sering dianggap sebagai bukti yang jelas tentang
kelalaian.
Kantor akuntan publik biasanya menggunakan satu atau kombinasi dari empat
pembelaan bila ada tuntutan hukum oleh klien, yaitu: tidak ada tugas yang harus
dilaksanakan, pelaksanaan kerja tanpa kelalaian, kelalaian kontribusi, dan ketiadaan
hubungan timbal balik (sebab-akibat).

Tidak ada tugas yang harus dilaksanakan jasa berarti bahwa kantor akuntan publik
mengklaim bahwa tidak ada kontrak yang tersirat ataupun yang dinyatakan secara jelas.
Sebagai contoh, kantor akuntan publik dapat mengklaim bahwa salah saji tidak dapat
diungkap karena kantornya hanya melakukan jasa review, bukan audit.

Pelaksanaan Kerja Tanpa Kelalaian, untuk pelaksanaan kerja tanpa kelalaian


(nonnegligent performance) dalam suatu audit, kantor akuntan publik mengklaim bahwa
audit dilaksanakan sesuai dengan standar auditing. Meskipun ada salah saji yang tidak
terungkap, auditor tidak bertanggung jawab jika audit telah dilakukan dengan tepat.

Kelalaian Kontribusi (Contributory Negligence), pembelaan terhadap kelalaian


kontribusi terjadi apabila auditor mengklaim bahwa tindakan klien telah mengakibatkan
baik kerugian yang menjadi dasar denda ataupun campur tangan dalam pelaksanaan audit
dengan cara sedemikian rupa sehingga auditor tidak dapat menemukan penyebab
kerugian tersebut.

Ketiadaan Hubungan Sebab-Akibat, agar berhasil dalam menggugat auditor, klien


harus dapat menunjukkan adanya hubungan sebab-akibat yang jelas antara kelalaian
auditor dalam menaati standar auditing dengan kerugian yang diderita klien.

E. KEWAJIBAN TERHADAP PIHAK KETIGA MENURUT COMMON LAW


Selain dituntut oleh klien, akuntan publik juga dapat memiliki kewajiban kepada pihak
ketiga menurut common law. Pihak ketiga meliputi pemegang saham aktual dan calon
pemegang saham, pemasok, bankir dan kreditor lain, karyawan, serta pelanggan.

Doktrin Ultramares
Kasus audit utama yang mengawali kewajiban terhadap pihak ketiga adalah Ultramares
Corporation vs. Touche (1931). Kasus ini membentuk suatu doktrin yang dikenal sebagai
doktrin Ultramares, bahwa kelalaian biasa tidak cukup untuk menimbulkan kewajiban
terhadap pihak ketiga karena tidak adanya privity of contract antara pihak ketiga dengan
auditor, kecuali pihak ketiga adalah penerima manfaat utama.

Foreseen Users

Pengadilan telah memperluas doktrin Ultramares untuk mengizinkan pemulihan oleh


pihak ketiga dalam banyak situasi dengan memperkenalkan konsep foreseen users, yang
merupakan anggota dari golongan pemakai terbatas yang mengandalkan laporan
keuangan. Meskipun konsep ini dapat langsung diterapkan, pengadilan telah membuat
beberapa interpretasi yang berbeda. Tiga pendekatan utama yang diberlakukan adalah
sebagai berikut;
- Credit Alliance, pemberi pinjaman menuntut auditor atas nama salah satu
peminjamnya karena pemberi pinjaman itu telah mengandalkan laporan keuangan
peminjam dalam memberikan pinjaman, yang ternyata menyesatkan.
- Restatement of Torts, pendekatan yang digunakan oleh sebagian besar negara bagian
adalah menerapkan peraturan yang mengacu pada Restatement of Torts yaitu
seperangkat prinsip hukum otoritatif. Restatement Rule menyatakan bahwa foreseen
users harus menjadi anggota dari kelompok pemakai yang terbatas dan dapat
diidentifikasikan yang mengandalkan pekerjaan akuntan publik.
- Foreseeable Users, interprestasi yang paling luas dari hak pihak ketiga untuk
memperoleh manfaat adalah penggunaan konsep foreseeable users. Menurut konsep
ini, para pemakai yang sudah harus dapat ditentukan sebelumnya oleh auditor sebagai
pemakai laporan keuangan klien, memiliki hak yang sama seperti halnya pada privity
of contract. Para pemakai ini sering disebut sebagai kelompok tak terbatas. Meskipun
banyak negara bagian yang mengikuti pendekatan ini di masa lalu, sekarang hanya
dua yang menggunakannya, yaitu Mississippi dan Wisconsin.

Pembelaan Auditor Terhadap Tuntutan Pihak Ketiga


Pembelaan yang tersedia bagi auditor dalam menghadapi tuntutan oleh klien juga
tersedia untuk tuntutan hukum oleh pihak ketiga, yaitu; tidak ada kewajiban untuk
melaksanakan jasa, pelaksanaan kerja tanpa kelalaian, dan ketiadaan hubungan sebabakibat .

F. KEWAJIBAN SIPIL MENURUT UNDANG-UNDANG SEKURITAS FEDERAL


Meskipun ada beberapa pertumbuhan dalam tindakan terhadap akuntan oleh kliennya
atau pihak ketiga menurut common law, pertumbuhan paling pesat dalam proses litigasi
kewajiban akuntan publik adalah yang diatur menurut UU sekuritas federal.

Securities Act tahun 1933


Securities Act tahun 1933 hanya berkaitan dengan persyaratan pelaporan bagi perusahaan
yang menerbitkan sekuritas baru, termasuk informasi dalam laporan registrasi atau
pendaftaran dan prospektus. Satu-satunya pihak yang mendapat ganti rugi dari auditor
menurut UU tahun 1933 adalah pembeli pertama sekuritass tersebut. Securites Act tahun
1933 mengenakan beban yang tidak biasa terhadap auditor. UU tahun 1933 tersebut
mendefinisikan hak pihak ketiga dan auditor yang didefinisikan sebagai berikut:
- Setiap pihak ketiga yang membeli sekuritas, yang dijelaskan dalam laporan
pendaftaran bisa menggugat auditor atas adanya salah saji yang material atau

penghilangan angka dalam laporan keuangan yang telah diaudit yang disertakan dlam
laporan pendaftaran.
Pemakai pihak ketiga tidak mempunyai beban untuk membuktikan bahwa mereka
mengandalkan laporan keuangan atau bahwa auditor telah lalai atau menipu dalam
melakukan audit. Pemakai hanya harus membuktikan bahwa laporan keuangan yang
telah diaudit mengandung salah saji yang material.
Auditor berkewajiban menunjukan pembelaanya bahwa (1) audit yang memadai telah
dilakukan atau (2) seluruh atau sebagian dari kerugian penggugat disebabkan oleh
faktor-faktor selain laporan keuangan yang menyesatkan.

Securities Exchange Act tahun 1934


Securities Exchange Act tahun 1934 sering kali berpusat pada laporan keuangan yang
telah diaudit yang diterbitkan kepada publik dalam laporan tahunan, yang diserahkan
kepada SEC sebagai bagian dari laporan tahunan Form 10-K. Setiap perusahaan yang
sekuritasnya diperdagangkan di bursa nasional dan OTC (Over The Counter) diminta
untuk menyerahkan laporan keuangan yang sudah diaudit setiap tahunnya.

Peraturan 10b-5 dari Securities Exchange Act Tahun 1934


Fokus utama tentang litigasi kewajiban akuntan publik menurut UU tahun 1934 adalah
peraturan 10b-5. Section 10 dan peraturan 10b-5 sering kali disebut sebagai ketentuan
anti kecurangan dari undang-undang tahun 1934, karena menghalangi setiap aktivitas
penipuan yang melibatkan pembelian atau penjualan setiap sekuritas. Berbagai keputusan
pengendalian federal menjelaskan bahwa peraturan 10b-5 berlaku tidak hanya bagi
penjualan langsung, tetepi juga akuntan , penjamin emisi, dan pihak lainnya. Banyak
auditor berpendapat bahwa persyaratan pengetahuan dan maksud untuk menipu akan
banyak meringankan exposure auditor terhadap kewajiban. Akan tetapi dalam kasuskasus berikutnya ada keberatan bahwa pedoman peraturan 10b-5 sudah dipenuhi jika
auditor telah mengetahui seluruh fakta yang relevan, tetapi dia melakukan pertimbangan
yang buruk.

Pembelaan Auditor UU Tahun 1934


Tiga pembelaan serupa yang tersedia bagi auditor dalam kasus tuntutan menurut
common law oleh pihak ketiga juga berlaku bagi tuntutan menurut UU tahun 1934:
pelaksanaan kerja tanpa kelalaian, tidak ada kewajiban, dan ketiadaan hubungan timbal
balik atau sebab-akibat.

Sanksi SEC (Securities & Exchange Commission)


Hal yang berkaitan erat dengan kewajiban auditor adalah wewenang SEC untuk
menjatuhkan sanksi. SEC mempunyai wewenang dalam situasi tertentu untuk
menjatuhkan saksi atau melarang para praktisi untuk mengaudit perusahaan-perusahaan
yang menjadi anggota SEC. Rules of practice SEC akan memungkinkan SEC untuk
menolak, baik untuk sementara maupun seterusnya, praktik kantor akuntan publik dalam
kaitannya dengan laporan keuangan perusahaan publik, baik karena kurangnya
kualifikasi yang tepat atau terlibat dalam perilaku profesional yang tidak etis atau tidak

pantas. Dalam tahun-tahun terakhir, SEC telah menonaktifkan untuk sementara sejumlah
anggota akuntan publik individual dari kegiatan audit terhadap klien SEC. Demikian
juga, SEC telah melarang beberapa kantor akuntan publik untuk menerima klien SEC
yang baru selama periode tertentu, misalnya 6 bulan.

Foreign Corrupt Practice Act Tahun 1977


Tindakan penting lain oleh kongres yang mempengaruhi kantor akuntan publik maupun
kliennya adalah disahkannya Foreign Corrupt Practices Act tahun 1977. Undang-undang
ini melarang pemberian uang suap kepada pejabat di luar negeri untuk mendapatkan
pengaruh dan memperoleh atau mempertahankan hubungan bisnis. Larangan ini berlaku
bagi semua perusahaan domestik A.S. tanpa memandang apakah perusahaan itu terbuka
atau tertutup, dan bagi seluruh perusahaan asing yang terdaftar pada SEC. UU yang baru
ini juga mewajibkan anggota yang terdaftar pada SEC menurut Securities Exchange Act
tahun 1934 untuk memenuhi persyaratan tambahan menyangkut catatan yang lengkap
dan akurat, serta sistem pengendalian internal yang memadai.

G. KEWAJIBAN KRIMINAL
Cara para akuntan publik dapat dianggap bertanggung jawap adalah menurut kewajiban
kriminal bagi akuntan. Akuntan publik dapat disalahkan karena tindakan kriminal menurut
hukum federal ataupun negara bagian. Menurut hukum negara bagian, undang-undang yang
paling mungkin diberlakukan adalah Uniform Securities Act yang serupa dengan sebagian
peraturan SEC.
Sepanjang sejarah, salah satu kasus tindakan kriminal terkenal yang melibatkan akuntan
publik adalah United States vs Simon, yang terjadi pada tahun 1969. Dalam kasus ini, tiga
auditor dihukum karena menyerahkan laporan keuangan yang palsu milik klien kepada
pemerintah, dan ketiganya bersalah telah melakukan tindakan kriminal. Konsekuansinya pada
ketiga orang ini sangat besar. Mereka kehilangan sertifikat akuntan publiknya menurut
peraturan 501 dari kode perilaku profesional dan di paksa meninggalkan profesinya. Tiga
kasus kriminal lain setelah kasus Simon adalah:
1. Dalam kasus United States vs Natelli (1975), dua auditor dituduh melakukan tindakan
kriminal menurut UU tahun 1934 karena mengesahkan laporan keuangan National Student
Marketing Corporation yang memuat pengungkapan piutang usaha secara tidak memadai
2. Dalam kasus United States vs Weiner (1975) tiga auditor dituduh melakukan penipuan
saham sehubungan dengan audit mereka atas Equity Funding Corporation of America.
Penipuan ini sangat besar dan pekerjaan audit begitu tidak memadai, sehingga pengadilan
menyimpulkan bahwa seharusnya auditor menyadari adanya penipuan itu dan karenanya
mereka dinyatakan bersalah.
3. Dalam ESM Government Securities vs Alexander Grant (1986), manajemen
mengungkapkan kepada partner yang bertanggung jawab mengaudit ESM bahwa laporan
keuangan yang telah diaudit tahun sebelumnya mengandung salah saji yang material.

Beberapa pelajaran penting yang dapat dipetik dari kasus ini:


1. Penyelidikan mengenai integritas manajemen adalah bagian penting dalam memutuskan
apakah seseorang klien dapat diterima dan luas pekerjaan yang akan dilaksanakan.
2. Auditor dapat dinyatakan bersalah melakukan tindakan kriminal dalam melaksanakan
audit walaupun latar belakangnya menunjukkan integritas dalah kehidupan pribadi dan
profesionalnya.
3. Independensi dalam penampilan dan fakta oleh semua individu ketika melakukan
penguasaan sangat penting, terutama dalam pembelaan yangmenyangkut tindakan
kriminal.
4. Dokumentasi yang baik akan menjadi alat pembelaan yang baik bagi auditor dalam
menghadapi tuntutan kriminal.
5. Beratnya konsekuensi potensi jika auditor diketahui melakukan kesalahan tidak
memungkinkan manfaat potensil yang bisa membenarkan tindakan tersebut.

H. RESPONS PROFESI TERHADAP KEWAJIBAN HUKUM


AICPA dan profesi secara keseluruhan dapat melakukan sejumlah hal untuk
mengurangi resiko para praktisi terkena tuntutan hukum:
1. Mencari perlindungan dari proses pengadilan atau litigasi yang tidak terpuji.
2. Meningkatkan performa auditing agar dapat memenuhi kebutuhan para pemakai dengan
lebih baik.
3. Mendidik para pemakai mengenai batas-batas auditing.
Beberapa aktivitas khusus secara singkat:

Riset dalam auditing


Riset yang berkesinambungan diperlukan untuk menemukan cara yang lebih baik guna
mengungkapkan salah saji atau kecurangan yang tidak disengaja, mengkomunikasikan
hasil audit kepada pemakai laporan, dan memastikan bahwa auditor bersikap independen.
Riset yang penting telah dilakukan oleh AICPA, kantor akuntan publik, dan universitas.

Penetapan standar dan peraturan


AICPA dan PCAOB harus secara konstan menetapkan standar serta merevisinya untuk
memenuhi kebutuhan audit yang terus berubah. Sebagai contoh, perubahan standar
auditing menyangkut tanggung jawab auditor untuk mendeteksi kecurangan telah
diterbitkan guna memenuhi kebutuhan dan harapan pemakai atas kinerja auditor.

Menetapkan persyaratan untuk melindungi auditor


AICPA dapat membantu melindungi para anggotanya dengan menetapkan persyaratan
tertentu yang telah sukses diikuti oleh para praktisi, seperti persyaratan SAS 85 (AU 333)
tentang surat representasi tertulis dari manajemen dalam semua audit. Tentu saja,
persyaratan tersebut tidak boleh bertentangan dengan pemenuhan kebutuhan pemakai.

Menetapkan persyaratan peer review

Dengan memeriksa secara periodik praktik dan prosedur kantor akuntan, AICPA dapat
mendidik para praktisi serta mengidentifikasi kantor akuntan yang tidak memenuhi
standar profesi.

Melawan tuntutan hukum


Kantor akuntan publik harus terus melawan tuntutan yang tidak berdasar meskipun,
dalam jangka pendek, biaya untuk memenangkan perkara itu lebih besar daripada biaya
untuk berdamai.

Pendidikan bagi pemakai laporan keuangan


AICPA, pimpinan kantor akuntan publik, dan para pengajar harus mendidik investor
serta pihak lain yang membaca laporan keuangan mengenai arti yang tepat dari pendapat
auditor serta ruang lingkup dan sifat dari pekerjaan auditor. Selain itu, para pemakai
laporan juga harus memahami bahwa auditor tidak menguji 100% semua catatan dan
tidak menjamin keakuratan catatan keuangan atau keberhasilan perusahaan yang diaudit
di masa depan.

Memberi sanksi kepada anggota karena perilaku dan kinerja yang tidak pantas
Suatu profesi harus mengawasi anggotanya sendiri. AICPA telah mencatat kemajuan
dalam menangani masalah kinerja akuntan publik yang kurang memadai, tetapi masih
diperlukan review yang lebih keras terhadap kegagalan yang telah dituduhkan.

Melobi perubahan UU
Sejak tahun 1990-an, beberapa perubahan pada UU negara bagian dan federal telah
berdampak positif bagi lingkungan hukum profesi. Sebagian besar negara bagian telah
merevisi UU yang mengizinkan kantor akuntan untuk berpraktik dalam bentuk organisasi
yang lain, termasuk organisasi dengan kewajiban terbatas yang memberkan sejumlah
perlindungan dari proses pengadilan.

I. MELINDUNGI AKUNTAN PUBLIK INDIVIDUAL DARI KEWAJIBAN HUKUM


Seorang auditor yang berpraktik juga dapat pula mengambil tindakan tertentu untuk
meminimalkan kewajibannya. Beberapa dari tindakan yang umum itu adalah:

Hanya berurusan dengan klien yang memiliki integritas


Ada kemungkinan yang semakin besar bahwa auditor akan menghadapi masalah hukum
jika klien kurang memiliki integritas dalam berurusan dengan para pelanggan, karyawan,
instansi pemerintah, dan pihak lainnya. Sebuah kantor akuntan publik membutuhkan
prosedur untuk mengevaluasi integritas klien dan harus langsung menarik diri apabila
klien tersebut kurang memiliki integritas.

Mempekerjakan personil yang kompeten dan melatih serta mengawasi mereka


secara layak
Bagian yang penting dari sebagian besar audit biasanya dikerjakan oleh profesional
muda yang belum begitu berpengalaman. Mengingat tingginya resiko yang dihadapi

kantor akuntan publik dalam melakukan audit, profesional muda ini harus memenuhi
syarat dan sangat terlatih. Supervisi atas pekerjaannya oleh profesional yang
berpengalaman dan memenuhi kualifikasi juga sangat penting.

Mengikuti standar profesi


Sebuah kantor akuntan harus mengimplementasikan prosedur untuk memastikan bahwa
semua anggota kantor itu memahami dan mengikuti standar auditing, pendapat FASB,
peraturan perilaku, dan pedoman profesional lainnya.

Mempertahankan independensi
Independensi mempunyai arti yang lebih luas dari sekadar masalah keuangan. Dalam
kenyataannya, independensi membutuhkan sikap tanggung jawab yang terpisah dari
kepentingan klien. Banyak proses pengadilan terjadi akibat mengalahnya auditor
terhadap pernyataan atau tekanan klien. Auditor harus mempertahankan sikap skeptisme
yang sehat.

Memahami bisnis klien


Kurangnya pengetahuan terhadap praktik industri dan operasi klien telah menjadi faktor
utama kegagalan auditor untuk mengungkapkan salah saji dalam beberapa kasus. Tim
audit harus dididik dalam bidang ini, yang sekarang sudah diwajibkan menurut standar
pekerjaan lapangan yang kedua.

Melaksanakan audit yang bermutu


Audit yang bermutu mengharuskan auditor memperoleh bukti yang memadai dan
membuat pertimbangan yang tepat atas bukti tersebut. Sebagai contoh, penting sekali
bahwa auditor memahami pengendalian internal klien dan memodifikasi bukti agar
mencerminkan temuan-temuan tersebut. Audit yang baik akan mengurangi kemungkinan
salah saji dan tuntutan hukum.

Mendokumentasikan pekerjaan secara layak


Penyusunan dokumentasi audit yang baik akan membantu auditor mengorganisasi dan
melaksanakan audit yang bermutu. Dokumentasi audit yang bermutu sangat penting
ketika auditor menghadapi perkara audit di pengadilan.

Mendapatkan surat penugasan dan surat representasi


Kedua surat ini sangat diperlukan dalam mendefinisikan kewajiban klien dan auditor.
Kedua dokumen ini terutama bermanfaat dalam perkara hukum antara klien serta auditor,
dan juga dalam tuntutan hukum pihak ketiga.

Mempertahankan hubungan yang bersifat rahasia


Auditor menurut standar etis, dan kadang-kadang kewajiban hukum, tidak boleh
mengungkapkan masalah klien kepada orang luar.

Mengadakan asuransi yang memadai


Sangat penting bagi kantor akuntan publik (KAP) untuk memiliki perlindungan asuransi
yang memadai dalam peristiwa tuntutan hukum. Meskipun premi asuransi telah

meningkat dalam jumlah besar akibat meningkatnya litigasi atau proses pengadilan,
asuransi kewajiban profesional masih tersedia bagi semua akuntan publik.

Mencari bantuan hukum


Jika terjadi masalah yang serius selama proses audit, akuntan publik sebaiknya
menghubungi penasihat hukum yang berpengalaman. Jika timbul tuntutan hukum,
auditor harus segera mendapatkan seorang pengacara yang berpengalaman.

Memilih bentuk organisasi dengan kewajiban terbatas


Banyak kantor akuntan publik sekarang beroperasi sebagai korporasi profesional,
perusahaan dengan kewajiban terbatas, atau persekutuan dengan kewajiban terbatas
dalam rangka memberikan perlindungan kewajiban pribadi kepada para pemilik.

Mengungkapkan skeptisme professional


Auditor sering dianggap bersalah ketika dihadapkan dengan informasi yang
menunjukkan masalah yang tidak mereka sadari. Auditor perlu berusaha keras untuk
mempertahankan tingkat skeptisme yang sehat, yang membuatnya waspada terhadap
salah saji yang potensial, sehingga mereka dapat menemukan salah saji ketika hal itu
terjadi.

DAFTAR PUSTAKA

Alvin A. Arens, Randal J. Elder, Mark S. Beasley. Auditing dan Jasa Assurance. Edisi
keduabelas, Jilid 1. Jakarta: Penerbit Erlangga, 2008.