Anda di halaman 1dari 4

 Obat Antikolinergik

Obat antikolinergik atau antagonis reseptor kolinergik meliputi anti muskarinik dan anti
nikotinik. Obat obat yang lebih memberi efek anti nikotinik adalah ganglion bloker dan
neromuskular juntion bloker.
Obat anti muskarinik banyak digunakan untuk terapi dan yang menjadi prototipe golongan ini
adalah atropin. Beberapa alkaloid dari tanaman memiliki efek mirip atropin dan sudah
tersedia beberapa obat sintetik anti muskarinik.

Farmakokinetik
Atropin merupakan ester alkaloid yang absorpsinya lambat sekitar 13 jam. Metabolisme tidak
penuh dengan hidrolisis dan konyugasi. Ekskresi melalui urin 50% dalam bentuk utuh.

Efek antimuskarinik (parasimpatolitik) cepat menurun pada berbagai organ kecuali pada mata
yang bisa bertahan sampai 72 jam.

Farmakodinamik
Mekanisme kerja atropin adalah dengan menghambat reseptor muskarinik secara kompetitif
dimana pada dosis kecil sudah dapat memblok asetilkolin jumlah besar di reseptor
muskarinik.

Efektivitas obat ini tergantung sensitivitas organ, di antaranya yang lebih sensitif adalah
kelenjar 2 saliva, bronkus dan keringat. Sekresi asam dari lambung termasuk yang kurang
sensitif. Atropin mempunyai selektivitas terhadap reseptor muskarinik dan selektivitas ini
tidak berbeda antara resptor M1, M2, dan M3.

Efek Farmakologi
Efek farmakologi obat anti kolinergik merupakan kebalikan efek obat kolinergik. Hal ini
karena atopin sebagai antikolinergik muskarinik mampu berkompetisi dengan asetilkolin
endogen pada resptor muskarinik sehingga mengurangi efek asetilkoin dan yang tampak
adalah efek sebaliknya.

1. Sistem saraf pusat


Atropin dosis terapi sedikit memberi efek stimulan. Skopolamin lebih jelas efeknya pada SSP
berupa ngantuk, dan pada individu yang sensitif menyebabkan amnesia. Efek lain
Skopolamin adalah mengurangi gejala motion sickness.
Obat antimuskarinik juga dapat untuk mengurangi gejala tremor pada penyakit parkinson
dengan mengurangi efek asetilkolin yang relatif meningkat pada parkinson.

2. Mata
Atropin dan antimuskarinik lain yang diberikan secara topikal dapat menyebabkan pupil
midriasis dan kelemahan otot siliaris (cycloplegia) sehingga tidak mampu melakukan
akomodasi.
Kedua efek midriasis dan cycloplegia ini digunakan oleh dokter spesialis mata untuk
melakukan pemeriksaaan atau tindakan optalmologik. Efek lain antimuskarinik adalah
berkurangnya sekresi lakrimalis sehingga terjadi mata kering.

3. Sistem kardiovaskuler
Atropin melalui hambatan pada reseptor M2 di nodus SA pada dosisi besar menyebabkan
takikardi. Hambatannya di M1 di atrium ataupun ventrikel secara klinik tidak menunjukkan
efek.

Efek hambatan di muskarinik endotel menyebabkan hambatan vasodilatasi tetapi efek pada
tekanan darah hanya sedikit.

4. Sistem respirasi
Reseptor M3 di otot polos dan kelenjar saluran nafas dihambat oleh atropin sehingga
menghasilkan bronkodilatasi dan pengurangan sekresi kelenjar. Efek ini lebih dimanfaatkan
untuk mengatasi PPOK dari pada asma bronkiale.

Selain itu atropin juga digunakan untuk premedikasi anestesi khususnya mengurangi sekresi
kelenjar saluran nafas.

5. Saluran cerna
Efek atropin pada saluran cerna adalah menurunkan motilitas usus disertai dengan
pengurangan fungsi sekresi. Mulut kering akibat antimuskarinik pada pengobatan penyakit
Parkinson lebih sering terjadi. Pirenzepin dan telenzepin merupakan antimuskarinik yang
mempunyai efek menghambat sekresi asam lambung lebih baik dibanding atropin.
Motilitas otot polos gaster sampai dengan kolon berkurang akibat antimuskarinik, dan hal ini
akan menyebabkan perpanjangan pengosongan lambung.

6. Sistem genito urinari


Antimuskarinik menyebabkan relaksasi ureter dan vesika urin. Efek ini dimanfaatkan untuk
mengatasi keadaan spasme tapi menyebabkan efek samping retensi urin pada penderita
hiperplasi prostat.

7. Kelenjar keringat
Atropin sebagai antimuskarinik menekan sekresi kelenjar keringat.

Penggunaan Klinik Sistem Saraf Pusat


Antimuskarinik digunakan sebagai terapi tambahan pada penyakit parkinson. Pada mabuk
perjalanan (motion sickness) dapat digunakan antimuskarinik skopolamin yang berefek baik
terhadap kelainan vestibuler.
Mata
Antimuskarinik memberi efek midriasis sehingga dapat dimanfaatkan untuk pemeriksaan
optalmologik yang memerlukan akomodasi maksimal dan untuk mengevaluasi kondisi retina.
Dalam hal ini diberikan secara topikal baik drop maupun salep mata.

Selain itu antimuskarinik dapat digunakan untuk mencegah synechia (perlekatan) pada uveitis


dan iritis. Biasanya digunakan homatropin yang memiliki masa kerja yang panjang.
Respirasi
Atropin dan skopolamin digunakan sebagai premedikasi anestesi untuk mengatasi efek
samping anestesi berupa hipersekresi kelenjar. Sedangkan lpatropium dan tiotropium per
inhalasi sering digunakan untuk pasien dengan PPOK karena efek bronkodilatornya.

Pemberian secara inhalasi ini menguntungkan karena obat lebih banyak berada pada bronkus
dan mengurangi efek sistemik. Tiotropium mempunyai efek bronkodilatasi lebih lama
dibanding ipatropium karena ikatannya dengan reseptor M3 cukup lama sehingga hanya
diberikan 1 kali sehari.
Selain itu kedua obat ini juga digunakan untuk mengatasi asma bronkiale yang tidak bisa
diatasi dengan obat beta agonis.

Kardiovaskuler
Atropin dan antimuskarinik lainnya dapat digunakan untuk mengatasi keadaan reflek vagus,
juga pada hipertiroid.

Gastrointestinal
Antimuskarinik sering digunakan untuk mengatasi hipermotilitas seperti traveler’s diarrhea.
Campuran atropin dengan antidiare opioid difenoksilat (misal Lomotil) memberikan efek
terapi yang cukup efektif.
Urinari
Atropin dan antimuskarinik lainnya digunakan untuk mengatasi spasme kandung kemih dan
spasme otot polos ureter.

Efek Samping
Atropin tidak bekerja selektif pada sub tipe reseptor di satu organ tapi bekerja pada beberapa
organ, sehingga pemberian atropin untuk mengurangi sekresi atau spasme di gastrointestinal
akan menimbulkan efek samping berupa midriasis dan sikloplegia.

Kondisi efek samping ini menjadi efek terapi pada saat atropin digunakan untuk tindakan di
mata. Efek samping atropin yang terjadi pada dosis besar berupa intoksikasi dapat mengenai
berbagai organ dengan manifestasi berupa mulut kering, midriasis, takikardia, kulit panas dan
kemerahan (flushing), suhu tubuh meningkat, agitasi dan delirium.
Bayi dan anak anak sangat sensitif terhadap efek samping atropin dan turunannya. Terapi
intoksikasi atropin adalah dengan simptomatik dan pemberian fisostigmin intravena pelan
pelan.