Anda di halaman 1dari 4

Proses Kebijakan Publik 1

Berbicara mengenai kebijakan, secara normatif tentu tidak terlepas dari serangkaian
tahapan atau proses yang menyertainya sehingga nantinya sebuah kebijakan dapat
dihasilkan. Pada tataran ini walaupun proses kebijakan terdiri dari serangkaian tahapan namun
antara tahapan yang satu dengan tahapan yang lainnya merupakan satu kesatuan yang
utuh dan saling mempengaruhi. Berikut ini, peneliti mencoba menyajikan beberapa teori
proses kebijakan yang telah dikemukakan oleh beberapa tokoh, di antaranya model Easton
dikembangkan oleh David Easton (1984) yang dikutip dalam Nugroho (2008) 1 menjelaskan
bahwa kebijakan publik dianggap sebagai sebuah sistem politik sebagai mana Easton
menganalogikan dengan sistem biologi. Kebijakan publik digambarkan sebagai hasil atau
output dari sistem (politik) sebagai mana yang digambarkan pada Gambar 2.1 di bawah ini:

Gambar. 2.1. Kebijakan Publik Sebagai Sebuah Pendekatan Sistem dari Easton
Sumber : Nugroho, 2008

Berdasarkan gambar 2.1 di atas, dapat dipahami bahwa lahirnya sebuah kebijakan publik
diawali dengan adanya input berupa dukungan (support) dan tuntutan (demands). Tahapan
selanjutnya “input” kemudian diolah dan dibahas dalam sebuah sistem politik yang dianut
dalam suatu negara. Kemudian dari proses tersebut menghasilkan keputusan atau kebijakan
sebagai output-nya. Dalam hal ini dapat diketahui bahwa sistem politik mempunyai peran yang
cukup besar dalam menentukan keputusan atau kebijakan yang akan dihasilkan. Proses
1
Nugroho, Riant. 2008. Public Policy, PT.Elex Media Komputindo, Jakarta
selanjutnya, setelah kebijakan atau keputusan dihasilkan maka kebijakan itu sendiri dapat
menjadi feedback yang berfungsi sebagai input untuk proses kebijakan selanjutnya. Hal
yang perlu menjadi perhatian di dalam proses kebijakan Easton ini adalah bahwa baik input
maupun outputnya dipengaruhi pula oleh kondisi lingkungan kebijakan yang ada disekitarnya.
Proses kebijakan dengan karakteristik utama model Eastonian digambarkan dalam bentuk
aliran yang terdiri dari input dan output, sebagaimana yang dikemukakan oleh Parsons (2008) 2
sebagai berikut:

Gambar. 2.2. Proses Kebijakan sebagai Input dan Output


Sumber : Fronhock (1979); Jones (1970) dalam Parsons, 2008

Dari gambar 2.2 di atas menunjukkan secara jelas bahwa lahirnya kebijakan tidak terlepas
dari adanya berbagai inputs yang berada di belakangnya yaitu diantaranya adanya permintaan
dan dukungan. Dari adanya inputs ini dapat melahirkan sebuah kebijakan. Kebijakan itu
sendiri dapat berupa regulasi, distribusi, redistribusi, kapitalisasi maupun kekuasaan etis.
Selanjutnya dengan adanya implementasi kebijakan maka akan berdampak pada adanya output
atau sesuatu yang dihasilkan yaitu berupa aplikasi, penguatan, interpretasi, evaluasi,
legitimasi, modifikasi dan penarikan diri. Ketiga komponen tersebut merupakan serangkaian
komponen yang tidak dapat dipisahkan satu dengan lainnya (saling terkait). Adanya input yang
baik turut mendukung terciptanya kebijakan yang baik pula. Kebijakan yang baik akan
menghasilkan kondisi atau hasil yang baik pula.
Sedangkan pada bagian lainnya, Parson (2008) menggambarkan proses kebijakan
dalam sebuah siklus yang dinamakannya sebagai siklus hidup kebijakan. (lihat gambar 2.3)

2
Parsons, Wayne. 2008. Public Policy – Pengantar Teori dan Praktik Analisis Kebijakan. Kencana Prenada
Media Group. Jakarta.
Gambar 2.3. Siklus Hidup Kebijakan
Sumber : Parson, 2008

Berdasarkan gambar 2.3 terlihat bahwa proses kebijakan digambarkan sebagai proses yang
terus berulang bagaikan sebuah lingkaran yang tidak ada ujungnya. Dimulai dari adanya
masalah yang muncul di masyarakat. Kemudian masalah tersebut direspon dengan memahami
dan mempelajari permasalahan yang ada. Selanjutnya dilakukan identifikasi untuk mencari
solusi yang terbaik dari berbagai opsi alternatif yang tersedia. Setelah seleksi berhasil
menentukan opsi kebijakan yang akan di ambil maka selanjutnya kebijakan tersebut di
implementasikan. Setelah di implementasikan maka dalam jangka waktu tertentu kebijakan
tersebut akan dievaluasi. Jika ditemukan adanya masalah yang baru maka selanjutnya
proses pun berulang dan begitu seterusnya sehingga kebijakan diibaratkan sebagai sesuatu terus
hidup dalam sebuah siklus.
Senada dengan apa yang dikemukakan oleh Parson (2008), maka Suharto (2008)3
menggambarkan proses kebijakan yang dinamakannya sebagai lingkaran kebijakan. Suharto
(2008) menguraikannya yaitu meliputi pertama, mengidentifikasi isu kebijakan; kedua,
merumuskan agenda kebijakan; ketiga, melakukan konsultasi dengan berbagai lembaga dan
pihak terkait; keempat, menetapkan keputusan; kelima, implementasi kebijakan dan ke enam,
melakukan evaluasi. Setelah evaluasi dilakukan maka tahapan selanjutnya kembali lagi ke

3
Suharto, Edi. 2010. Analisis Kebijakan Publik - Panduan Praktis Mengkaji Masalah dan Kebijakan Sosial. Alfabeta.
Bandung
tahapan pertama yaitu mengidentifikasi isu kebijakan yang diperoleh setelah melakukan
evaluasi kebijakan.
James Anderson (1979)4 sebagai pakar kebijakan publik menetapkan proses kebijakan
publik sebagai berikut:
1. Formulasi masalah (problem formulation): Apa masalahnya? Apa yang membuat hal
tersebut menjadi masalah kebijakan? Bagaimana masalah tersebut dapat masuk dalam
agenda pemerintah?
2. Formulasi kebijakan (formulation): Bagaimana mengembangkan pilihan- pilihan atau
alternatif-alternatif untuk memecahkan masalah tersebut? Siapa saja yang berpartisipasi
dalam formulasi kebijakan?
3. Penetuan kebijakan (adoption): Bagaimana alternatif ditetapkan? Persyaratan atau criteria
seperti apa yang harus dipenuhi? Siapa yang akan melaksanakan kebijakan? Bagaimana
proses atau strategi untuk melaksanakan kebijakan? Apa isi dari kebijakan yang telah
ditetapkan?
4. Implementasi (implementation): Siapa yang terlibat dalam implementasi kebijakan? Apa
yang mereka kerjakan? Apa dampak dari isi kebijakan?
5. Evaluasi (Evaluation): Bagaimana tingkat keberhasilan atau dampak kebijakan diukur?
Siapa yang mengevaluasi kebijakan? Apa konsekuensi dari adanya evaluasi kebijakan?

4
Anderson, James E. 1979. Public Policy Making, Holt, Rinehart and Winston, New York