Anda di halaman 1dari 8

MODUL 5

TATAP MUKA 5

MATA KULIAH : AKUNTANSI BIAYA

DISUSUN OLEH :

LUSIA SRI ARINI , SPd. MM

PROGRAM STUDI KELAS KARYAWAN

FAKULTAS EKONOMI ( S1 MANAJEMEN)

UNIVERSITAS MERCU BUANA JAKARTA

2011

Akuntansi Biaya Pusat Pengembangan Bahan Ajar


‘11 1 Lusia Sri Arini, S.Pd. MM. Universitas Mercu Buana
MATERI :

PROCESS COSTING AND THE COST OF QUALITY (1)

1. Process cost accumulation

2. The Cost of production report

3. The cost of quality

Akuntansi Biaya Pusat Pengembangan Bahan Ajar


‘11 2 Lusia Sri Arini, S.Pd. MM. Universitas Mercu Buana
SISTEM PERHITUNGAN BIAYA BERDASARKAN PROSES (PROCESS COSTING)

1. AKUMULASI BIAYA PROSES

Tujuan penting dari sistem perhitungan biaya manapun adalah untuk menentukan biaya
dari barang atau jasa yang dihasilkan oleh perusahaan. Sistem perhitungan biaya sebaiknya
ekonomis untuk dioperasikan dan membebankan sejumlah biaya ke setiap produk sedemikian
rupa sehingga merefleksikan biaya dari sumber daya yang digunakan untuk memproduksi
produk tersebut.

Dalam sistem perhitungan biaya berdasarkan pesanan, produk dipertanggungjawabkan


dalam batch. Setiap batch diperlakukan sebagai pesanan yang terpisah, dan pesanan tersebut
merupakan objek biayanya.

Perhitungan Biaya per Departemen

Dalam perusahaan manufaktur, produksi dapat terjadi di beberapa departemen. Setiap


departemen melakukan suatu operasi tertentu untuk menyelesaikan produk. Sebagai contoh,
departemen pertama biasnaya melakukan proses pekerjaan tahap permulaan atas produk
seperti memotong, mencetak atau membentuk produk atau komponen- komponennya.

Dalam sistem perhitungan biaya berdasarkan proses, bahan baku, tenaga kerja dan
overhead pabrik umumnya dibebankan ke departemen produk : tetapi, jika suatu departemen
diorganisasi menjadi dua biaya atau lebih, perhitungan biaya berdasarkan proses tetap dapat
digunakan, selama unit-unit produk yang dihasilkan dalam lebih pusat biaya selama periode
tersebut bersifat homogen.

Aliran Produksi secara Fisik

Suatu produk dapat berpindah di pabrik dengan berbagai cara. Tiga bentuk aliran produksi fisik
yang berhubungan dengan perhitungan biaya berdasarkan proses adalah berurutan
(sequential), parallel dan selektif.

Aliran Produk Berurutan (Sequential Product Flow)

Dalam aliran produk berurutan, setiap produk diproses dalam urutan langkah-langkah yang
sama.

Akuntansi Biaya Pusat Pengembangan Bahan Ajar


‘11 3 Lusia Sri Arini, S.Pd. MM. Universitas Mercu Buana
Aliran Produk Selektif (Selective Product Flow)

Dalam aliran produk selektif, produk berpindah ke departemen- departemen berbeda dalam

Akuntansi untuk Biaya Bahan Baku, Tenaga Keija dan Overhead

Dalam perhitungan biaya berdasarkan pesanan, hanya satu akun barang dalam proses yang
digunakan, dan bukannya satu akun untuk setiap pesanan. Menggunakan akun buku besar
yang terpisah untuk setiap pesanan tidaklah praktis jika ada banyak pesanan. Selain itu, akun
tersebut harus dikeluarkan dari sistem pada saat pesanan selesai.

2. LAPORAN BIAYA PRODUKSI

Laporan biaya produksi untuk suatu departemen dapat memiliki banyak bentuk atau format,
tetapi sebaiknya laporan tersebut menunjukkan (1) biaya total dan biaya per unit dari pekerjaan
yang diterima dari satu atau bebeapa departemen lain, (2) biaya total dan biaya per unit dari
bahan baku, tenaga kerja dan overhead pabrik yang ditambahkan oleh departemen tersebut,
(3) biaya dari persediaan barang dalam proses awal dan akhir, dan (4) biaya yang ditransfer ke
departemen berikutnya atau ke persediaan barang jadi.

Langkah pertama dalam pembebanan biaya adalah menentukan jumlah unit ekuivalen
untuk setiap elemen biaya dan menghitung biaya dari setiap unit ekuivalen. Karena American
Chair Company menggunakan perhitungan biaya rata-rata tertimbang, biaya dari setiap unit
ekuivalen berisi sebagian dari biaya persediaan awal dan sebagian lagi dari biaya yang
ditambahkan selama periode berjalan. Rata-rata tertimbang biaya per unit ekuivalen untuk
setiap elemen biaya ditentukan dengan membagi total biaya untuk setiap elemen biaya (jumlah
di persediaan awal ditambah jumlah yang ditambahkan selama periode berjalan) dengan jumlah
unit ekuivalen yang diperlukan untuk membagi biaya tersebut ke unit yang ditransfer ke laur dari
departemen dan unit di persediaan akhir.

Unit ekuivalen untuk setiap elemen biaya di departemen pemotongan dihitung dengan
menambahkan jumlah unit ekuivalen yang ditransfer ke laur dari departemen tersebut ke
persediaan akhir sebagai berikut:

Akuntansi Biaya Pusat Pengembangan Bahan Ajar


‘11 4 Lusia Sri Arini, S.Pd. MM. Universitas Mercu Buana
Bahan Baku Tenaga Kerja Overhead

Unit ekuivalen di transfer ke luar 500 500 500

Unit ekuivalen di persediaan akhir 120 40 80

Total ekuivalen 620 540 580

Rata-rata tertimbang biaya per unit ekuivalen di departemen pemotongan ditentukan sebagai
berikut:

Bahan Tenaga Kerja Overhead


Baku

Biaya dipersediaan awal $ 1.892 $ 400 $ 796

Biaya ditambahkan selama periode berjalan 13.608 5.000 7.904

Total biaya yang harus dipertanggung

Jawaban $ 15.500 $ 5.400 $ 8.700

Dibagi dengan unit ekuivalen 620 540 580

Biaya per unit ekuivalen $ 25 $ 10 $ 15

3. BIAYA MUTU (THE COST OF QUALITY) DAN AKUNTANSI UNTUK KEHILANGAN


DALAM PROSES PRODUKSI (ACCOUNTING FOR PRODUCTION LOSSES)

Kebanyakan perusahaan saat ini sangat memperhatikan mutu produk mereka.


Meningkatnya perhatian ini sebagian besar disebabkan oleh meningkatnya persaingan,
terutama dengan Negara lain. Selama tahun 1970-an, produsen Jepang memperoleh reputasi
tingkat dunia sebagai produsen barang bermutu tinggi dengan biaya rendah. Selama tahun
1980-an, kebanyakan perusahaan Amerika mengalami penurunan pangsa pasar. Hal ini
terutama disebabkan karena mereka tidak bersaing secara efektif dengan produsen luar negeri.

Biaya Mutu

Sampai batas tertentu, biaya mutu seringkali disalahartikan. Biaya mutu tidak hanya
terdiri atas biaya untuk mencapai mutu, tetapi juga biaya yang terjadi karena kurangnya mutu.

Akuntansi Biaya Pusat Pengembangan Bahan Ajar


‘11 5 Lusia Sri Arini, S.Pd. MM. Universitas Mercu Buana
Jenis-jenis Biaya Mutu

Biaya mutu dapat dikelompokkan ke dalam tiga klasifikasi besar: biaya pencegahan
(prevention cost), biaya penilaian atau appraisal (appraisal cost), dan biaya kegagalan (failure
cost).

1. Biaya pencegahan atau preventif adalah biaya yang terjadinya kegagalan produk.
2. Biaya penilaian adalah biaya yang terjadi untuk mendeteksi kegagalan produk.
3. Biaya kegagalan adalah biaya yang terjadi saat produk gagal, kegagalan tersebut dapat
terjadi secara internal atau eksternal.

Akuntansi untuk Bahan Baku Sisa (Scrap)


Bahan baku sisa terdiri atas (1) serbuk atau sisa-sisa yang tertinggal setelah bahan
baku diproses, (2) bahan baku cacat yang tidak dapat digunakan maupun diretur ke pemasok,
dan (3) bagian-bagian yang rusak akibat kecerobohan karyawan atau kegagalan mesin. Jika
bahan baku sisa memiliki nilai, bahan baku sisa tersebut sebaiknya dikumpulkan dan disimpan
untuk dijual ke pedagang barang bekas.

Akuntansi untuk Biaya Barang Cacat (Spoiled Goods)

Barang cacat berbeda dengan bahan baku sisa karena barang cacat adalah unit yang
selesai atau separuh selesai namun cacat dalam hal tertentu. Barang cacat tidak dapat
dibetulkan, baik karena secara teknis tidak mungkin atau karena tidak ekonomis untuk
membetulkannya.

Akuntansi untuk Biaya Pengerjaan Kembaii (Rework)

Pengerjaan kembaii (rework) adalah proses untuk membetulkan barang cacat. Seperti
barang cacat, pengerjaan kembaii dapat disebabkan baik oleh tindakan pelanggan maupun
oleh kegagalan internal. Seperti halnya barang cacat, perlakuan akuntansi untuk biaya
pengerjaan kembali bergantung pada jenis penyebabnya.

Akuntansi untuk Kerugian dalam Proses Produksi (Production Losses) dalam Sistem
Perhitungan Biaya Berdasarkan Proses

Sebagaimana pada sistem perhitungan biaya berdasarkan pesanan, kerugian produksi


pada sistem biaya berdasarkan proses juga memasukkan biaya bahan baku sisa, biaya barang
cacat dan biaya pengerjaan kembali. Biasanya biaya pengerjaan kembali dibebankan ke

Akuntansi Biaya Pusat Pengembangan Bahan Ajar


‘11 6 Lusia Sri Arini, S.Pd. MM. Universitas Mercu Buana
Pengendali Overhead Pabrik dan bukannya ke Barang dalam Proses, karena pengerjaan
kembaii di sistem perhitungan biaya berdasarkan proses biasanya disebabkan karena
kegagalan internal dan bukan karena permintaan pelanggan.

DAFTAR PUSTAKA

Bastian Bustami, Nurlela, Akuntansi biaya, edisi 1, Penerbit Mitra Wacana Media,
2009

Carter, W,K., Cost Accounting, ed 14, South- Western Collage Publishing, 2006

Akuntansi Biaya Pusat Pengembangan Bahan Ajar


‘11 7 Lusia Sri Arini, S.Pd. MM. Universitas Mercu Buana
Akuntansi Biaya Pusat Pengembangan Bahan Ajar
‘11 8 Lusia Sri Arini, S.Pd. MM. Universitas Mercu Buana