Anda di halaman 1dari 22

SATUAN ACARA PENYULUHAN (SAP)

CA CERVIKS

Disusun untuk memenuhi tugas

Stase Keperawatan Maternitas

Disusun oleh :

Angga Nugraha S
Dede Puri P

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN NERS


STIKES BUDI LUHUR CIMAHI
2020
I. PENDAHULUAN

Penyakit kanker leher rahim (serviks) dewasa ini telah menjadi hal yang paling

menakutkan bagi para wanita karena kanker leher rahim (serviks) merupakan 1%

dari semua tumor ganas pada wanita dan merupakan 66 % dari semua tumor ganas

alat kelamin wanita. Faktor resiko epidemiologik penyumbang terjadinya dan

berkembangnya kanker leher rahim (serviks) adalah infeksi virus papiloma

manusia atau Human Virus Papilloma (HVP). Akibat yang ditimbulkan penyakit

ini diantaranya berupa penurunan harapan hidup, lamanya penderitaan, dan

tingginya biaya pengobatan (Dr. Bambang Dwipoyono SpOG dari divisi Kanker

Ginekologik RS Kanker Dharmais Jakarta,2008).

Di seluruh dunia, kasus kanker serviks ini sudah dialami oleh 1,4 juta wanita.

Data yang didapat dari Badan Kesehatan Dunia (WHO) diketahui terdapat 493.243

jiwa per-tahun penderita kanker serviks baru dengan angka kematian sebanyak

273.505 jiwa per-tahun. (Emilia, 2010). Sampai saat ini kanker serviks masih

merupakan masalah kesehatan perempuan di Indonesia sehubungan dengan angka

kejadian dan angka kematian akibat kanker serviks yang tinggi. Keterlambatan

diagnosis pada stadium lanjut, keadaan umum yang lemah, status sosial ekonomi

yang rendah, keterbatasan sumber daya, keterbatasan sarana dan prasarana, jenis

histopatologi dan derajat pendidikan ikut serta dalam menentukan prognosis dari

penderita. (Rasjidi, 2007).


Di Indonesia, diperkirakan 15.000 kasus baru kanker serviks terjadi setiap

tahunnya, sedang angka kematiannya di perkirakan 7500 kasus per tahun (Emilia,

2010). Menurut data Yayasan Kanker Indonesia (YKI), penyakit ini telah

merenggut lebih dari 250.000 perempuan di dunia dan terdapat lebih 15.000 kasus

kanker serviks baru, yang kurang lebih merenggut 8000 kematian di Indonesia

setiap tahunnya (Diananda, 2009).

Pada tahun 2004 jumlah pasien kanker yang berkunjung ke Rumah Sakit di

Indonesia mencapai 6.511 dengan proporsi pasien kanker serviks yang rawat jalan

adalah 16,47% dan rawat inap adalah 10,9%, selain itu lebih dari 70% kasus

kanker serviks datang ke rumah sakit dalam keadaan stadium lanjut (Depkes RI,

2005).

Kanker leher rahim (serviks) dalam bahasa latin disebut Carcinoma Cervicis

Uteri, adalah kanker yang terjadi pada uterus, suatu daerah pada organ reproduksi

wanita yang merupakan pintu masuk kearah rahim yang terletak antara Rahim

(uterus) dengan liang senggama (vagina). Kanker serviks adalah kanker yang

terdapat pada serviks atau leher rahim, yaitu area bagian bawah rahim yang

menghubungkan rahim dengan vagina. (Emilia, 2010).

Seringnya terjadi keterlambatan dalam pengobatan mengakibatkan banyaknya

penderita kanker serviks meninggal dunia, padahal kanker serviks dapat diobati

jika belum mencapai stadium lanjut, tentunya dengan mengetahui terlebih dahulu

apakah sudah terinfeksi atau tidak dengan menggunakan beberapa metode deteksi
dini, antara lain metode Pap Smear, IVA (Inspeksi Visual dengan Asam asetat),

Thin Prep, dan Kolposkopi, vikografi, papnet (komputerisasi) (Nugroho, 2010).

II. TINJAUAN TEORI

A. Definisi

Kanker leher rahim (serviks) dalam bahasa latin disebut Carcinoma

Cervicis Uteri, adalah kanker yang terjadi pada uterus, suatu daerah pada

organ reproduksi wanita yang merupakan pintu masuk kearah rahim yang

terletak antara Rahim (uterus) dengan liang senggama (vagina). Kanker

serviks adalah kanker yang terdapat pada serviks atau leher rahim, yaitu area

bagian bawah rahim yang menghubungkan rahim dengan vagina. (Emilia,

2010).

Kanker leher Rahim (Kanker Serviks) adalah tumor ganas yang tumbuh

didalam leher rahim / serviks (bagian terendah dari rahim) yang menempel

pada puncak vagina. Kanker serviks biasanya menyerang wanita berusia 35-

55 tahun. 90% dari kanker serviks berasal dari sel skuamosa yang melapisi

serviks dan 10% sisanya berasal dari sel kelenjar penghasil lender pada

saluran servikal yang menuju ke dalam rahim.

B. Penyebab

Menurut Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), kanker serviks disebabkan

oleh infeksi virus HPV (Human Pappiloma Virus) yang tidak sembuh dalam
waktu yang lama. Jika kekebalan tubuh berkurang, maka infeksi ini bisa

mengganas dan menyebabkan terjadinya kanker servik.

C. Faktor Resiko

Ada beberapa faktor yang dapat meningkatkan resiko terjadinya kanker

serviks, antara lain adalah:

1. Usia > 35 tahun

Menurut Diananda (2007) usia > 35 tahun mempunyai risiko tinggi

terhadap kanker leher rahim. Semakin tua usia seseorang, maka semakin

meningkat risiko terjadinya kanker laher rahim. Meningkatnya risiko kanker

leher rahim pada usia lanjut merupakan gabungan dari meningkatnya dan

bertambah lamanya waktu pemaparan terhadap karsinogen serta makin

melemahnya sistem kekebalan tubuh akibat usia.

2. Hubungan seksual pertama dilakukan pada usia dini

Hubungan seks idealnya dilakukan setelah seorang wanita benar-benar

matang. Ukuran kematangan bukan hanya dilihat dari sudah menstruasi atau

belum. Kematangan juga bergantung pada sel-sel mukosa yang terdapat di

selaput kulit bagian dalam rongga tubuh. Umumnya sel-sel mukosa baru

matang setelah wanita berusia 20 tahun ke atas. Jadi, seorang wanita yang

menjalin hubungan seks pada usia remaja, paling rawan bila dilakukan di

bawah usia 16 tahun. Hal ini berkaitan dengan kematangan sel-sel mukosa
pada serviks. Pada usia muda, sel-sel mukosa pada serviks belum matang.

Artinya, masih rentan terhadap rangsangan sehingga tidak siap menerima

rangsangan dari luar termasuk zat-zat kimia yang dibawa sperma. Karena

masih rentan, sel-sel mukosa bisa berubah sifat menjadi kanker. Sifat sel

kanker selalu berubah setiap saat yaitu mati dan tumbuh lagi. Dengan adanya

rangsangan, sel bisa tumbuh lebih banyak dari sel yang mati, sehingga

perubahannya tidak seimbang lagi. Kelebihan sel ini akhirnya bisa berubah

sifat menjadi sel kanker. Lain halnya bila hubungan seks dilakukan pada usia

di atas 20 tahun, dimana sel-sel mukosa tidak lagi terlalu rentan terhadap

perubahan.

3. Wanita sering berganti-ganti pasangan.

Perilaku seksual berupa berganti pasangan seks akan meningkatkan

penularan penyakit kelamin. Penyakit yang ditularkan seperti infeksi human

papilloma virus (HPV) telah terbukti dapat meningkatkan timbulnya kanker

serviks. Risiko terkena kanker serviks menjadi 10 kali lipat pada wanita yang

mempunyai partner seksual 6 orang atau lebih. Disamping itu, virus herpes

simplek tipe-2 dapat menjadi factor pendamping.

4. Wanita yang merokok

Wanita perokok memiliki risiko 2 kali lebih besar terkena kanker serviks

dibandingkan dengan wanita yang tidak merokok. Penelitian menunjukkan,

lendir serviks pada wanita perokok mengandung nikotin dan zat-zat lainnya

yang ada di dalam rokok. Zat-zat tersebut akan menurunkan daya tahan
serviks di samping meropakan ko-karsinogen infeksi virus. Nikotin,

mempermudah semua selaput lendir sel-sel tubuh bereaksi atau menjadi

terangsang, baik pada mukosa tenggorokan, paru-paru maupun serviks.

Namun tidak diketahui dengan pasti berapa banyak jumlah nikotin yang

dikonsumsi yang bisa menyebabkan kanker leher rahim.

5. Riwayat kanker serviks pada keluarga

Bila seorang wanita mempunyai saudara kandung atau ibu yang

mempunyai kanker serviks, maka ia mempunyai kemungkinan 2-3 kali lebih

besar untuk juga mempunyai kanker serviks dibandingkan dengan orang

normal. Beberapa peneliti menduga hal ini berhubungan dengan berkurangnya

kemampuan untuk melawan infeksi HPV.

6. Paritas (jumlah kelahiran)

Semakin tinggi risiko pada wanita dengan banyak anak, apalagi dengan

jarak persalinan yang terlalu pendek. Dari berbagai literatur yang ada, seorang

perempuan yang sering melahirkan (banyak anak) termasuk golongan risiko

tinggi untuk terkena penyakit kanker leher rahim. Dengan seringnya seorang

ibu melahirkan, maka akan berdampak pada seringnya terjadi perlukaan di

organ reproduksinya yang akhirnya dampak dari luka tersebut akan

memudahkan timbulnya Human Papilloma Virus (HPV) sebagai penyebab

terjadinya penyakit kanker leher rahim.

7. Penggunaan kontrasepsi oral dalam jangka waktu lama


Penggunaan kontrasepsi oral yang dipakai dalam jangka lama yaitu lebih

dari 4 tahun dapat meningkatkan risiko kanker leher rahim 1,5-2,5 kali.

Kontrasepsi oral mungkin dapat meningkatkan risiko kanker leher rahim

karena jaringan leher rahim merupakan salah satu sasaran yang disukai oleh

hormon steroid perempuan.

8. Defisiensi zat gizi

Ada beberapa penelitian yang menyimpulkan bahwa defisiensi asam folat

dapat meningkatkan resiko terjadinya dysplasia ringan dan sedang, serta

mungkin juga meningkatkan risiko terjadinya kanker serviks pada wanita

yang makanannya rendah beta karoten dan retinol (vitamin A).

D. Tanda dan Gejala

Menurut Dalimartha (2004), gejala kanker serviks pada kondisi pra-

kanker ditandai dengan Fluor albus (keputihan) merupakan gejala yang sering

ditemukan getah yang keluar dari vagina ini makin lama akan berbau busuk

akibat infeksi dan nekrosis jaringan.

Menurut Baird (1991) tidak ada tanda-tanda khusus yang terjadi pada

klien kanker serviks. Perdarahan setelah koitus atau pemeriksaan dalam

(vaginal toussea) merupakan gejala yang sering terjadi. Karakteristik darah

yang keluar berwarna merah terang dapat bervariasi dari yang cair sampai

menggumpal. Gejala lebih lanjut meliputi nyeri yang menjalar sampai kaki,

hematuria dan gagal ginjal dapat terjadi karena obstruksi ureter. Perdarahan
rektum dapat terjadi karena penyebaran sel kanker yang juga merupakan

gejala penyakit lanjut.

Adapun gejala lain yang mengarah pada terinfeksinya virus HPV adalah

sebagai berikut:

1. Keputihan patogonis

Keputihan (flour albus) yaitu keluarnya cairan selain darah dari

kewanitaan dalam jumlah banyak. Meskipun tidak semua keputihan

berbahaya akan tetapi jika mengalami keputihan dengan ciri-ciri berikut:

keluarnya cairan dalam jumlah banyak, cairan berubah menjadi kental, berbau

tidak sedap, berwarna tidak normal (kekuning-kuningan, kehijauan,

kecoklatan), timbul rasa panas dan gatal pada area kewanitaan.

2. Timbul rasa sakit dan perdarahan saat berhubungan seksual.

Bering berganti pasangan dalam melakukan hubungan seksual beresiko

tinggi mengakibatkan kanker serviks. Ketika berhubungan intim sering sakit

dan mengeluarkan darah disebabkan adanya infeksi pada leher rahim.

3. Nyeri buang air kecil

Kantung kemih yang terinfeksi virus akan mengakibatkan penderita

mengalami rasa sakit buang air kecil ini merupakan gejala kanker serviks

memasuki stadium lanjut.

4. Penurunan nafsu makan

Penurunan nafsu makan menyebabkan imunitas menurun sehingga rawan

terjadi stress, cemas berlebih, dan mengganggu energy.


5. Bengkak pada kaki

Tungkai kaki bagian bengkak karena bendungan pada pembuluh darah

balik kaki (paha, betis dan sebagainya).

E. Skrining

1. Tes IVA

a. Definisi

Tes visual dengan menggunakan larutan asam cuka (asam asetat

3-5%) dan larutan iodium lugol pada serviks dan melihat perubahan

warna yang terjadi setelah dilakukan olesan. Tujuannya untuk melihat

adanya sel yang mengalami dysplasia sebagai salah satu metode

skrining kanker serviks.

b. Indikasi

Skrining kanker serviks.

c. Kontaindikasi

Tidak direkomendasikan pada wanita pasca menopause, karena

daerah zona transisional seringkali terletaak kanalis servikalis dan

tidak tampak dengan pemeriksaan inspekulo.

d. Interpretasi

Klasifikasi IVA Temuan Klinis


Hasil Tes-Positif Plak putih yang tebal biasanya
dekat SSK
Hasil Tes-Negatif Permukaan polos dan halus,
berwarna merah jambu, ektropion,
polip, servisitis, inflamasi,
Nabothian cysts.
Kanker Massa mirip kembang kol
ataubisul

e. Pencegahan

Sebagian besar kanker dapat dicegah dengan kebiasaan hidup

sehat dan menghindari faktor- faktor penyebab kanker meliputi

(Dalimartha, 2004) :

a. Menghindari berbagai faktor risiko, yaitu hubungan seks pada

usia muda, pernikahan pada usia muda, dan berganti-ganti

pasangan seks. Wanita yang berhubungan seksual dibawah usia

20 tahun serta sering berganti pasangan beresiko tinggi terkena

infeksi. Namun hal ini tak menutup kemungkinan akan terjadi

pada wanita yang telah setia pada satu pasangan saja.

b. Wanita usia di atas 25 tahun, telah menikah, dan sudah

mempunyai anak perlu melakukan pemeriksaan pap smear

setahun sekali atau menurut petunjuk dokter. Pemeriksaan Pap

smear adalah cara untuk mendeteksi dini kanker serviks.

Pemeriksaan ini dilakukan dengan cepat, tidak sakit dengan

biaya yang relatif terjangkau dan hasilnya akurat. Disarankan

untuk melakukan tes Pap setelah usia 25 tahun atau setelah aktif

berhubungan seksual dengan frekuensi dua kali dalam setahun.


Bila dua kali tes Pap berturut-turut menghasilkan negatif, maka

tes Pap dapat dilakukan sekali setahun. Jika menginginkan hasil

yang lebih akurat, kini ada teknik pemeriksaan terbaru untuk

deteksi dini kanker leher rahim, yang dinamakan teknologi

Hybrid Capture II System (HCII).

c. Pilih kontrasepsi dengan metode barrier, seperti diafragma dan

kondom, karena dapat memberi perlindungan terhadap kanker

leher rahim.

d. Memperbanyak makan sayur dan buah segar. Faktor nutrisi juga

dapat mengatasi masalah kanker mulut rahim. Penelitian

mendapatkan hubungan yang terbalik antara konsumsi sayuran

berwarna hijau tua dan kuning (banyak mengandung beta

karoten atau vitamin A, vitamin C dan vitamin E) dengan

kejadian neoplasia intra epithelial juga kanker serviks. Artinya

semakin banyak makan sayuran berwarna hijau tua dan kuning,

maka akan semakin kecil risiko untuk kena penyakit kanker

mulut rahim.

e. Pada pertengahan tahun 2006 telah beredar vaksin pencegah

infeksi HPV tipe 16 dan 18 yang menjadi penyebab kanker

serviks. Vaksin ini bekerja dengan cara meningkatkan kekebalan

tubuh dan menangkap virus sebelum memasuki sel-sel serviks.

Selain membentengi dari penyakit kanker serviks, vaksin ini juga


bekerja ganda melindungi perempuan dari ancaman HPV tipe 6

dan 11 yang menyebabkan kutil kelamin.Yang perlu ditekankan

adalah, vaksinasi ini baru efektif apabila diberikan pada

perempuan yang berusia 9 sampai 26 tahun yang belum aktif

secara seksual. Vaksin diberikan sebanyak 3 kali dalam jangka

waktu tertentu. Dengan vaksinasi, risiko terkena kanker serviks

bisa menurun hingga 75%.

F. Tatalaksana

Terapi karsinoma serviks dilakukan bila mana diagnosis telah dipastikan

secara histologik dan sesudah dikerjakan perencanaan yang matang oleh tim

yang sanggup melakukan rehabilitasi dan pengamatan la njutan (tim kanker /

tim onkologi). Pemilihan pengobatan kanker leher rahim tergantung pada

lokasi dan ukuran tumor, stadium penyakit, usia, keadaan umum penderita,

dan rencana penderita untuk hamil lagi. Lesi tingkat rendah biasanya tidak

memerlukan pengobatan lebih lanjut, terutama jika daerah yang abnormal

seluruhnya telah diangkat pada waktu pemeriksaan biopsi. Pengobatan pada

lesi prekanker bisa berupa kriosurgeri (pembekuan), kauterisasi (pembakaran,

juga disebut diatermi), pembedahan laser untuk menghancurkan sel-sel yang

abnormal tanpa melukai jaringan yang sehat di sekitarnya dan LEEP (loop

electrosurgical excision procedure) atau konisasi (Wiknjosastro, 1997).


1. Pembedahan Pada karsinoma in situ (kanker yang terbatas pada lapisan

serviks paling luar), seluruh kanker sering kali dapat diangkat dengan

bantuan pisau bedah ataupun melalui LEEP (loop electrosurgical excision

procedure) atau konisasi. Dengan pengobatan tersebut, penderita masih

bisa memiliki anak. Karena kanker bisa kembali kambuh, dianjurkan

untuk menjalani pemeriksaan ulang dan Pap smear setiap 3 bulan selama

1 tahun pertama dan selanjutnya setiap 6 bulan. Jika penderita tidak

memiliki rencana untuk hamil lagi, dianjurkan untuk menjalani

histerektomi. Pembedahan merupakan salah satu terapi yang bersifat

kuratif maupun paliatif. Kuratif adalah tindakan yang langsung

menghilangkan penyebabnya sehingga manifestasi klinik yang

ditimbulkan dapat dihilangkan. Sedangkan tindakan paliatif adalah

tindakan yang berarti memperbaiki keadaan penderita. Histerektomi

adalah suatu tindakan pembedahan yang bertujuan untuk mengangkat

uterus dan serviks (total) ataupun salah satunya (subtotal). Biasanya

dilakukan pada stadium klinik IA sampai IIA (klasifikasi FIGO). Umur

pasien sebaiknya sebelum menopause, atau bila keadaan umum baik,

dapat juga pada pasien yang berumur kurang dari 65 tahun. Pasien juga

harus bebas dari penyakit umum (resiko tinggi) seperti penyakit jantung,

ginjal dan hepar.

2. Terapi penyinaran (radioterapi)


Terapi radiasi bertujuan untuk merusak sel tumor pada serviks serta

mematikan parametrial dan nodus limpa pada pelvik. Kanker serviks

stadium II B, III, IV sebaiknya diobati dengan radiasi. Metoda radioterapi

disesuaikan dengan tujuannya yaitu tujuan pengobatan kuratif atau

paliatif. Pengobatan kuratif ialah mematikan sel kanker serta sel yang

telah menjalar ke sekitarnya atau bermetastasis ke kelenjar getah bening

panggul, dengan tetap mempertahankan sebanyak mungkin kebutuhan

jaringan sehat di sekitar seperti rektum, vesika urinaria, usus halus, ureter.

Radioterapi dengan dosis kuratif hanya akan diberikan pada stadium I

sampai III B. Apabila sel kanker sudah keluar ke rongga panggul, maka

radioterapi hanya bersifat paliatif yang diberikan secara selektif pada

stadium IV A. Terapi penyinaran efektif untuk mengobati kanker invasif

yang masih terbatas pada daerah panggul. Pada radioterapi digunakan

sinar berenergi tinggi untuk merusak sel-sel kanker dan menghentikan

pertumbuhannya. Ada dua jenis radioterapi yaitu radiasi eksternal yaitu

sinar berasal dari sebuah mesin besar dan penderita tidak perlu dirawat di

rumah sakit, penyinaran biasanya dilakukan sebanyak 5 hari/minggu

selama 5-6 minggu. Keduannya adalah melalui radiasi internal yaitu zat

radioaktif terdapat di dalam sebuah kapsul dimasukkan langsung ke

dalam serviks. Kapsul ini dibiarkan selama 1-3 hari dan selama itu

penderita dirawat di rumah sakit. Pengobatan ini bisa diulang beberapa

kali selama 1-2 minggu. Efek samping dari terapi penyinaran adalah
iritasi rektum dan vagina, kerusakan kandung kemih dan rektum dan

ovarium berhenti berfungsi (Gale & Charette, 2000).

3. Kemoterapi

Kemoterapi adalah penatalaksanaan kanker dengan pemberian obat

melalui infus, tablet, atau intramuskuler. Obat kemoterapi digunakan

utamanya untuk membunuh sel kanker dan menghambat

perkembangannya. Tujuan pengobatan kemoterapi tegantung pada jenis

kanker dan fasenya saat didiag nosis. Beberapa kanker mempunyai

penyembuhan yang dapat diperkirakan atau dapat sembuh dengan

pengobatan kemoterapi. Dalam hal lain, pengobatan mungkin hanya

diberikan untuk mencegah kanker yang kambuh, ini disebut pengobatan

adjuvant. Dalam beberapa kasus, kemoterapi diberikan untuk mengontrol

penyakit dalam periode waktu yang lama walaupun tidak mungkin

sembuh. Jika kanker menyebar luas dan dalam fase akhir, kemoterapi

digunakan sebagai paliatif untuk memberikan kualitas hidup yang lebih

baik. Kemoterapi secara kombinasi telah digunakan untuk penyakit

metastase karena terapi dengan agen-agen dosis tunggal belum

memberikan keuntungan yang memuaskan. Contoh obat yang digunakan

pada kasus kanker serviks antara lain CAP (Cyclophopamide Adrem ycin

Platamin), PVB (Platamin Veble Bleomycin) dan lain –lain (Prayetni,

1997).

III. TUJUAN KEGIATAN


A. Tujuan Umum

Melaksanakan Program Kegiatan Program Studi Pendidikan

Ners Tahap Profesi STIKES Budi Luhur Cimahi 2020/2021.

B. Tujuan Khusus

1. Mendukung program peningkatan kesehatan dengan memberikan

pendidikan kesehatan tentang kanker serviks.

2. Mendorong dosen dan mahasiswa untuk peduli dengan

lingkungan sekitar dan mendorong dosen dan mahasiswa untuk

memberikan manfaat bagi pasien dan keluarga dengan

menerapkan ilmu yang telah diperoleh dikampus.

IV. MANFAAT KEGIATAN

A. Bertambahnya pengetahuan kesehatan pasien dan keluarga tentang

bahaya kanker serviks.

B. Memberikan wadah kepada dosen dan mahasiswa untuk

mengaplikasikan ilmunya kepada pasien dan keluarga.

V. WAKTU DAN LOKASI KEGIATAN

Tema : Kanker Serviks

Waktu :

Lokasi : RSUD Cimacan

Sasaran : Pasien dan Keluarga


Metode : Ceramah (materi terlampir)

VI. SUSUNAN KEPANITIAAN

Dewan Pelindung : Ns Wulan Novika Ambarsari.,MAN

Dewan Penasehat :

Ketua Pelaksana : Angga Nugraha Sadeli

Sekretaris : Dede Puri Purwandi

Bendahara : Nugraha

Anggota Pelaksana :

Sadeli

Nugraha

Purwandi

Puri

VII. KESIMPULAN

Kegiatan penyuluhan yang telah dilakukan mendapat respon

positif dari Pasien dan Keluarga yang hadir. Peserta cukup antusias saat

penyukuhan dan banyak yang bertanya mengenai topik yang dibicarakan.

Pada akhir pemberi materi menanyakan kembali materi yang telah

diberikan di akhir sesi penyuluhan dan pertanyaan dapat dijawab dengan

benar. Sebelum pemberian materi, peserta diberikan leaflet.

VIII. PENUTUP

Demikian laporan kegiatan penyuluhan ini, besar harapan

kami kegiatan yang telah dilakukan dapat bermanfaat khususnya bagi


Pasien dan Keluarga umumnya bagi peningkatan kualitas sumber daya

manusia di Indonesia. Semoga kerjasama yang telah terbina dapat

berlanjut di masa yang akan datag. Amin.

SATUAN ACARA PENYULUHAN

Pemberi Materi : Kelompok

Materi Pokok : Kanker Serviks

Sub Pokok Bahasan : 1. Pengertian Kanker Serviks

2. penyebab kanker serviks

3. faktor resiko kanker serviks

4. skrining kanker serviks

5. pencegahan kanker serviks

6.tatalaksana kanker serviks

Hari/Tanggal : 16/11/2020

Waktu : 13.00 WIB

Peserta/Sasaran : Pasien dan Keluarga

A. Tujuan Instruksional Umum (TIU)

Setelah mengikuti proses penyuluhan ini peserta mampu menjelaskan

kanker serviks

B. Tujuan Instruksional Khusus (TIK)


Setelah mengikuti penyuluhan ini peserta mampu :

1. Menyebutkan pengertian kanker serviks

2. Menyebutkan penyebab kanker serviks

3. Menyebutkan faktor resiko kanker serviks

4. Menyebutkan skrining kanker serviks

5. Menyebutkan pencegahan kanker serviks

6. Menyebutkan tatalaksana kanker serviks

C. Langkah Kegiatan

No. URAIAN METODE MEDIA WAKTU


KEHIATAN
1. Pendahuluan Cermah Leaflet 10 Menit
1. Pemberi Tanya Jawab Poster
materi Blooket
memberikan
salam
2. Pemberi
materi
memberikan
apersepsi
tentang materi
yang akan
disampaikan
3. Pemberi
materi
menjelaskan
tujuan
penyuluhan
2. Penyajian Cermah Leaflet 40 Menit
materi Tanya Jawab Poster
1. Menjelaskan Blooket
pengertian
kanker serviks
2.  Menjelaskan
penyebab
kanker serviks
3. Menjelaskan
faktor resiko
kanker serviks
4. Menjelaskan
skrining kanker
serviks
5. Menjelaskan
pencegahan
kanker serviks
6. Menjelaskan
tatalaksana
kanker serviks
3. Penutup Cermah Leaflet 10 Menit
1. Melakukan Tanya Jawab Poster
evaluai secara Blooket
lisan melalui
pertanyaan
2.
Menyimpulkan
materi bersama-
sama dengan
peserta
3. Menutup
penyuluhan
dengan salam

D. Evaluasi

Butir Soal

1. apa pengertian kanker serviks ?


2. Apa penyebab kanker serviks ?

3. Apa pencegahan kanker serviks ?

Daftar Pustaka

Setiati, Eni. 2012. Kenali Penanganan Tumor dan Kanker pada Wanita.
Yogyakarta. Pustaka Rama.
Diananda, Rama. 2008. Mengenal Seluk Beluk Kanker. Jogjakarta. Katahati.
Amalia, Lena. 2009. Kanker Serviks & 32 Jenis Kanker Lainnya. Jogjakarta.
Landscape.
httprepository.usu.ac.idbitstream123456789215574Chapter%20II.pdf