Meningkatkan Hasil Belajar Fisika dengan Smartphone
Meningkatkan Hasil Belajar Fisika dengan Smartphone
SKRIPSI
Diajukan kepada Fakultas Tarbiyah dan Keguruan
Universitas Islam Negeri Sunan Gunung Djati Bandung
untuk Memenuhi Sebagian Persyaratan guna Memperoleh
Gelar Sarjana Pendidikan
Oleh :
MELINDA KRISTIANA DEWI
NIM. 1162070043
2020 M/1441 H
BAB 1
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Duniai pendidikani terus mengupayakani kualitasi peserta didik di
sekolah. Kualitasi belajari peserta didik dapat terlihat dengan nyata, baik
dalam kemampuan penguasaani materii ataupun dalam mengaplikasikani
materi yang telah dipelajari. Dalami upaya untuk meningkatkan kualitas
belajar peserta didik, banyak langkah dan cara yang akan ditempuh supaya
peserta didik dapat mengikutii kegiatan pembelajarani dengan efektifi dan
menyenangkan. Kegiatani pembelajaran dengan efektifi dan
menyenangkani tentu akan menariki minati peserta didik sehingga
meningkatkan hasil belajarnya.
Prosesi kegiatani pembelajarani di kelas sangat dipengaruhii oleh
minati peserta didik dalam mengikutii kegiatan pembelajaran. Ketika
peserta didik telah mempunyai minati untuk belajar, maka akan terciptai
suatu kondisii belajar yang kondusifi di dalam kelas. Jika peserta didik tidak
mempunyai minat dan rasa senang untuk belajar, maka akan terasa sulit
bagii guru untuk mendapatkan suasanai pembelajaran dikelas yang
kondusif. Oleh karena itu, guru harus memikirkani suatu teknik, metodei
atau pendekatani belajar yang dapat menariki minati peserta didik untuk
mengikutii kegiatan belajar (Ditya, 2013:4).
Belajar adalah suatu usaha terjadinya perubahan tingkah laku pada
diri peserta didik. Perubahan-perubahan itu terbentuk kemampuan-
kemampuan baru yang dimiliki dalam waktu relatif lama
(Budiharti,2000:1). Tujuan pembelajaran tentu saja akan dapat tercapai jika
peserta didik berusaha secara aktif untuk mencapainya (Wahyuni,2016:23).
Sofiani (2011:21) menyatakan bahwa tujuan proses belajar mengajar pada
hakikatnya adalah perubahan tingkah laku yang diharapkan dapat dikuasai
oleh peserta didik setelah menerima atau menempuh pengalaman belajar.
Perubahan tingkah laku yang diharapkan dapat dikuasi pleh peserta didik
biasa disebut dengan hasil belajar.
Hakikat belajar ilmu sains khususnya fisika tidak cukup sekedar
mengingat dan memahami konsep yang ditemukan ilmuwan, tetapi sangat
penting bagi peserta didik untuk pembiasaan perilaku ilmuwan dalam
menemukan konsep yang dilakukan melalui percobaan atau praktikum dan
penelitian ilmiah. Subagyo ddk. (2008:72), menyatakan bahwa proses
penemuan konsep yang melibatkan keterampilan-keterampilan yang
mendasar melalui percobaan ilmiah dapat dilaksanakan dan ditingkatkan
melalui kegiatan praktikum di laboratorium. Tujuan praktikum di
laboratorium adalah untuk melatih peserta didik bekerja sesuai prosedur
ilmiah guna memperoleh keterampilan, pengetahuan, serta nilai ilmiah
(Depdiknas, 2004).
Belajari fisikai berartii berlatihi untuk memahamii konsepi fisikai,
memecahkani serta menemukan dan mencari solusi dalam suatu peristiwai
yang terjadi. Fisika merupakan salah satu bidangi sainsi yang mempelajarii
perubahan dalam alam (Winarno.F.G, 1989:2). Pembelajaran fisika
mengharapkan peserta didik dapat memiliki pemahaman dan aktif
membangun pengetahuan baru dari pengalaman-pengalaman yang dimiliki
sebelumnya agar pembelajaran lebih bermakna. Ilmu Fisika merupakan
ilmu yang diperoleh dan dikembangkan melalui fenomena nyata melalui
eksperimen untuk mencari jawaban apa, mengapa dan bagaimana terkait
dengan gejala-gejala berdasarkan fenomena fisika yang ada di alam ini.
Faktor utama penyebab peserta didik menganggap bahwa fisika itu sulit
dikarenakan banyak rumus-rumus matematika yang harus mereka hafal.
Fenomena fisika umumnya bersifat abstrak sehingga ilmu fisika
merupakan subjek yang tidak mudah dipelajari. Akibatnya peserta didik
cenderung untuk membawa pandangan tersendiri tentang fenomena ilmiah
dan pengalaman yang telah mereka miliki. Konsepsi unik tentang fenomena
alam yang dimiliki peserta didik sering resisten terhadap pengajaran karena
konsepsi ini telah tertanam kuat dalam pikiran peserta didik, terutama
konsepsi yang diperoleh peserta didik dari pengalaman sehari-hari (Yusuf,
2008). Hal ini yang mengakibatkan minat belajar fisika peserta didik sangat
rendah.
Rendahnya hasil belajar fisika disebabkan oleh banyak faktor, salah
satunya adalah kurangnya kemampuan guru dalam menyajikan materi
pembelajaran. Proses pengajaran yang menarik akan membuat peserta didik
termotivasi untuk belajar fisika. Kemudian timbul dalam diri peserta didik
untuk menyenangi suatu materi tersebut. Tetapi apabila materi disampaikan
dengan tidak menarik dan monoton, maka peserta didik akan merasa malas
dan bosan (B.S, 2003:4).
Salahi satu strategii pembelajarani yang menarik dan sejalani
dengan prosedur saat akan mengajar adalah dengan menggunakan modeli
pembelajaran berbasisi praktikum (B.S, 2003:4). Dalam melaksanakan
pembelajarani berbasisi praktikumi peserta didik lebih diarahkani pada
experimenti learningi ( belajar berdasarkan pengalamani konkriti), diskusi
dengan teman, yang selanjutnya akan diperoleh idei dan konsep baru. Oleh
karena itu, belajar dipandangi sebagai prosesi pemahamani pengetahuani
dari pengalamani konkriti, aktivitasi kolaboratifi, dan refleksii serta
interpretasii. Dalam kegiatan praktikumi, peserta didik akan selalu terlibat
dalam proses berpikiri karena pada saat kegiatani praktikum seseorang
ataupun kelompok akan diberikan berupa percobaan untuk melatih seberapa
paham materi pengetahuannya yang didapatkan serta mengembangkannya
berdasarkan pengalaman yang diperolehnya (B.S, 2003:5). Melalui
praktikumi peserta didik juga dapat mempelajarii fisikai dan pengamatani
langsung terhadap gejala-gejala maupun proses-proses fisika, dapat melatihi
keterampilani berfikir,, dan mengembangkani sikapi ilmiah. Selain itu
mereka dapat menemukani dan memecahkani suatu masalah yang baru
melalui metodei ilmiah. Kemampuani ini bisa dikembangkani melalui
metodei praktikumi.
Perkembangan teknologi pada zaman ini semakin pesat, contohnya
adalah perkembangan pada smartphone yangmana sebagai alat teknologi
yang paling banyak digunakan, terutama pada bidang pendidikan. Namun,
tidak banyak sekolah yang menggunakan smarphone sebagai media
pembelajaran khususnya digunakan untuk metode praktikum. Penggunakan
aplikasi smartphone untuk kebutuhan praktikum tidak banyak diketahui
oleh setiap guru mata pelejaran, ketidaktahuan akan penggunaan aplikasi
smartphone sebagai media pembelajaran untuk praktikum disebabkan
karena kurang pahamnya guru mata pelajaran terhadap kegunaan aplikasi
smartphone apa saja yang dapat digunakan sebagai penunjang
pembelajaran.
Perkembangani teknologii tersebut jika dimanfaatkani dengan baik
dapat memiliki dampaki positif,, khususnya terhadap bidang pendidikan.
Smartphone yang sebelumnya hanya digunakan untuk sarana komunikasi,
atau mencari informasi akan lebih bermanfaati jika digunakan sebagai
sarana media pembelajaran bagi peserta didik. Saat ini smartphonei belum
banyak dimanfaatkan sebagai media pembelajaran khususnya pelajaran
fisika yang digunakan sebagai penunjang kegiatan praktikum.
Pemanfaatan aplikasi smatphone sebagai media pembelajaran
ditandai dengan minimnyai aplikasi pembelajaran fisika berbasis
smartphone yang diketahui oleh setiap guru. Media yang merupakan alat
perantara atau pengantar pesan dari pengirim ke penerima (Arsyad, 2014:6).
Salah satu media pembelajaran yang dapat dimanfaatkan adalah sensor
suara yang ada pada smartphone. Aplikasi smartphone yang digunakan
adalah aplikasi phypox yang berfungsi sebagai alat untuk mengukur suara
atau frekuensi (Hz) dan bisa juga digunakan sebagai sumber suara. Dengan
menggunakan aplikasi smartphone tersebut dapat kita jadikan sebagai
media pembelajaran untuk menunjang pembelajaran fisika mengenai materi
gelombang bunyi. Oleh karena itu, peserta didik dapat mempraktikumkan
gejala gelombang bunyi dengan menggunakan sensor suara berbasis
smartphone android. Penelitian mengenai penggunaan sensor suara berbasis
android ini telah diuji cobakan oleh seorang ilmuwan yang bernama
Michael Hirth dan Jochen Kuhn dari Universitas of Kaiserslautern, Jerman
dan ilmuwan dari Universitas de Geneve, Switzerland yang bernama
Andreas Muller. Dalam penelitiannya mereka mengemukakan bahwa
pengukuran kecepatan suara pada suatu medium udara dapat dilakukan
dengan menggunakan sensor suara berbasis android (Hirth, Kuhn, &
Müller, 2015)
Berdasarkan hasil observasi di SMAN 1 Bojongsoang, peneliti
menemukan bahwa hasil belajar fisika peserta didik masih di bawah Kriteria
Ketuntasan Minimum (KKM) yang ditetapkan sekolah, yaitu 75. Hal ini
ditunjukkan dari hasil nilai rata-rata ujian akhir semester ganjil peserta didik
kelas X1 IPA 1 sampai XI IPA 4 pada mata pelajaran fisika tahun ajaran
2019/2020 yang berkisar antara 63 sampai dengan 68. Berdasarkan hasil
observasi tersebut, diketahui bahwa rendahnya hasil belajar fisika peserta
didik ini dipengaruhi oleh minat dan motivasi belajar peserta didik yang
rendah. Rendahnya minat dan motivasi belajar peserta didik disebabkan
oleh pembelajaran fisika masih kurang menarik (Huda, 2013). Pembelajaran
fisika dapat menjadi lebih menarik jika dalam pelaksanaannya guru
menerapkan metode yang membuat peserta didik terlibat secara aktif. Salah
satu contohnya adalah dengan menerapkan metode eksperimen (Ardhuha,
Wahyudi, & Kosim, 2013). Melalui metode eksperimen peserta didik dapat
belajar secara langsung dari interaksi dengan benda-benda yang digunakan
dalam kegiatan tersebut (Widiyanto, 2011). Fungsi dari eksperimen itu
sendiri adalah sebagai penunjang pembelajaran guna meningkatkan
pemahaman peserta didik terhadap materi yang telah dipelajari (Salam,
Setiawan, & Hamidah, 2010).
Berdasarkan latar belakang yang telah dipaparkan, maka peneliti
maka peneliti tertarik untuk melakukan penelitian dengan judul “Upaya
Meningkatkan Minat dan Hasil Belajar Peserta Didik Melalui
Kegiatan Praktikum Berbasis Aplikasi Smartphone pada Materi
Gelombang Bunyi” Penelitian yang dilakukan pada tahap awal akan
berfokus pada pengembangan LKPD praktikum menggunakan aplikasi
smartphone berupa aplikasi sensor suara untuk meningkatkan minat dan
hasil belajar peserta didik pada materi gelombang bunyi. LKPD diharapan
akan memberikan salah satu alternatif pendidik untuk melangsungkan
pembelajaran dengan inovasi yang terbarukan dan dapat meningkatkkan
hasl belajar peserta didik.
B. Rumusan Masalah
Berdasarkan pemaparan dari latar belakang di atas, maka di
dapatkan rumusan masalah sebagai berikut :
1. Bagaimana perkembangan pemanfaatan aplikasi smartphone berupa
sensor suara sebagai media pembelajaran fisika ?
2. Bagaimana desain LKPD praktikum berbasis aplikasi smartphone
dengan menggunakan sensor suara pada pembelajaran gelombang bunyi
untuk meningkatkan minat dan hasil belajar peserta didik ?
3. Bagaimana aplikasi smartphone berupa sensor suara dapat
menggambarkan minat dan hasil belajar?
4. Bagaimana kelayakan LKPD praktikum dari hasil validasi ahli ?
5. Bagaimana hasil uji terbatas terhadap LKPD yang dikembangkan ?
C. Batasan Masalah
Berdasarkan identifikasi masalah pembatasan masalah berfokus
pada :
1. Penelitian yang dilakukan pada tahap awal akan fokus pada
pengembangan LKPD praktikum menggunakan aplikasi smartphone
berupa sensor suara untuk meningkatkan minat dan hasil belajar peserta
didik pada materi gelombang bunyi.
2. Metode praktikum pada penelitian ini adalah pemanfaatan sensor suara
berbasis smartphone android pada praktikum gelombang bunyi pada
mata pelajaran Fisika Kelas XI semester genap.
3. Pengembangan LKPD praktikum mengacu pada hasil belajar yang
diukur berdasarkan Taksonomi Bloom revisi meliputi aspek kognitif :
mengingat (C1), memahami (C2), mengaplikasikan (C3), menganalisis
(C4).
4. Pengembangan LKPD ditujukan untuk mengetahui minat belajar
peserta didik pada aspek perasaan senang, ketertarikan, perhatian dan
rasa ingin tahu.
5. Materi pembelajaran fisika yang digunakan dalam penelitian ini hanya
terbatas pada materi gelombang bunyi. Namun pada sub bab materi
yang akan di praktikumkan menggunakan aplikasi tersebut.
D. Tujuan Penelitian
Sesuai dengan rumusan masalah di atas, maka tujuan dari penelitian
ini adalah sebagia berikut :
1. Mengetahui perkembangan pemanfaatan aplikasi smartphone berupa
sensor suara sebagai media pembelajaran fisika
2. Mengetahui desain LKPD praktikum berbasis aplikasi smartphone
dengan menggunakan sensor suara pada pembelajaran gelombang bunyi
untuk meningkatkan minat dan hasil belajar peserta didik.
3. Mengetahui aplikasi smartphone berupa sensor suara dapat
meningkatkan minat dan hasil belajar.
4. Mengetahui kelayakan LKPD praktikum dari hasil validasi ahli.
5. Mengetahui hasil uji terbatas terhadap LKPD yang dikembangkan.
E. Manfaat Penelitian
Penelitian ini diharapkan dapat memberi manfaat khususnya dalam
proses pembelajaran fisika, diantaranya:
1. Manfaat teoritis
Diharapkan agar penelitian ini dapat dijadikan sebagai inovasi media
pembelajaran untuk menunjang pembelajaran dengan menggunakan
LKPD praktikum berbasis aplikasi smartphone.
2. Manfaat praktis
a. Bagi peserta didik, yaitu agar dapat meningkatkan minat dan hasil
belajar pada pembelajaran fisika.
b. Bagi guru, yaitu dapat memberikan terobosan baru mengenai
metode praktikum dengan memanfaatkan aplikasi sensor-sensor
berbasis smartphone.
c. Bagi sekolah, yaitu dapat menjadikan pertimbangan untuk
peningkatan kualitas peserta didik.
d. Bagi peneliti, yaitu dapat menjadi pengalaman guna dimanfaatkan
ketika sudah menjadi guru.
F. Definisi Operasional
Agar tidak terjadi suatu perbedaan persepsi dan salah penafsiran,
maka didalam penelitian ini terdapat beberapa definisi yang digunakan,
diantaranya adalah sebagai berikut :
A. Minat
Minat di ukur dengan menggunakan angket. Angket minat di batasi
pada aspek perasaan senang, ketertarikan, perhatian dan rasa ingin
tahu. Angket minat diberikan setelah peserta didik mengisi LKPD
praktikum menggunakan aplikasi smartphone berupa sensor suara
pada materi gelombang bunyi dengan menggunakan aplikasi
smartphone. Dalam praktikum gelombang bunyi aplikasi yang
digunakan untuk membantu praktikum peserta didik yaitu, phypox.
Aplikasi tersebut adalah aplikasi berupa sensor suara/ bunyi. Minat
diukur menggunakan angket dengan skala Likert sebanyak 20 buah
untuk pernyataan peserta didik terkait pembelajaran fisika.
B. Hasil Belajar
Hasil belajar merupakan skor yang di peroleh peserta didik terkait
penguasaan konsep dan perkembangan mental yang disajikan pada
LKPD. Ada 6 jenjang pada dimensi kognitif menurut Taksonomi
Bloom, yaitu mengingat (remember), memahami (understand),
mengaplikasikan (applying), menganalisis (analyzing), mengevaluasi
(evaluating), dan mencipta (create).
C. Aplikasi Smartphone
Aplikasi smartphone yang digunakan untuk praktikum gelombang
bunyi adalah smartphone berbasis android. Di dalam smartphone
berbasis android terdapat aplikasi-aplikasi yang bisa digunakan untuk
melakukan sebuah praktikum. Namun pada praktikum gelombang
bunyi aplikasi yang digunakan adalah aplikasi, phypox. Aplikasi
tersebut adalah aplikasi berupa sensor suara/ bunyi. penelitian ini
adalah hanya fokus pada kegiatan penyusunan LKPD praktikum
menggunakan aplikasi smartphone untuk membantu peserta didik
dalam meningkatkan minat dan hasil belajar. Aplikasi tersebut harus
diinstal terlebih dahulu sebelum digunakan untuk kegiatan praktikum.
Sensor suara ini berfungsi untuk menerima suara atau mendeteksi
suara yang saling berhubungan apabila digunakan utuk berkomunikasi,
dan digunakan juga untuk mengukur frekuensi (Hz) suara atau
kebisingan (db) dan bisa digunakan juga sebagai sumber bunyi.
D. Gelombang bunyi adalah materi pembelajaran dikelas XI MIPA
dengan kompetensi dasar pada aspek kognitifnya yaitu pada 3.10
Menerapkan konsep dan prinsip gelombang bunyi dan cahaya dalam
teknologi, serta kompetensi dasar pada aspek psikomotorik yaitu pada
4.10 Melakukan percobaan tentang gelombang bunyi dan/atau cahaya,
berikut hasil presentasi hasil percobaan dan makna fisisnya.
G. Kerangka Berpikir
Pembelajaran fisika merupakan pembelajaran yang bertujuan untuk
memahami konsep fisika dan keterkaitannya sehingga dapat memecahkan
masalah di kehidupan sehari-hari yang berkaitan dengan gejala alam yang
terjadi. Dalam prosesnya, dibutuhkan interaksi yang aktif antara guru
dengan peserta didik agar peserta didik mudah memahami materi yang
sedang dipelajari.
Hasil belajar peserta didik dalam mata pelajaran fisika belum
meunjukkan hasil yang memuaskan. Hal ini dikarenakan peserta didik
sudah menanamkan dalam pikirannya bahwa fisika merupakan pelajaran
yang sulit dan identik dengan rumus-rumus. Berdasarkan hasil studi
pendahuluan di SMAN 1 Bojongsoang yang dilakukan dengan metode
wawancara pada salah satu guru fisika dan beberapa peserta didik diketahui
bahwa hasil belajar peserta didik masih jauh dari harapan karena minat
belajar peserta didik pada mata pelajaran fisika kurang ,dan fokus peserta
didik hanya sekedar menghafal rumus. selain itu, dalam proses
pembelajarannya peserta didik hanya sekedar menerima informasi dari guru
dan belum terlatih untuk menemukan konsepnya sendiri. Peserta didik
menceritakan bahwa kegiatan pembelajaran fisika lebih sering dilakukan
dengan metode ceramah. Pembelajaran dengan metode praktikum belum
pernah dilakukan selama pembelajaran berlangsung. Hal ini terkendala oleh
tidak adanya sarana prasana penunjang praktikum.
Pembelajaran fisika di kelas masih bersifat teacher centered yang
berisi penjelasan materi dan latihan soal. Media pembelajaran yang
digunakan dalam pembelajaran masih berupa papan tulis dan media
presentasi berisi kumpulan materi dan rumus-rumus yang terdapat pada
buku paket. Hal tersebut dimungkinkan menjadi salah satu faktor penyebab
peserta didik kurang aktif dan merasa jenuh sehingga tujuan pembelajaran
yang ingin dicapai kurang maksimal. Selain itu, fisika merupakan salah satu
mata pelajaran yang mempelajari fenomena-fenomena alam dalam
kehidupan yang memiliki banyak konsep dan keterkaitannya. Konsep
tersebut terkadang abstrak dan memerlukan daya pikir yang tinggi untuk
membayangkannya, sehingga dibutuhkan visualisasi fenomena-fenomena
alam yang terjadi, baik secara langsung (melalui praktikum atau percobaan).
Oleh karena pembelajaran yang masih berpusat pada guru dan media yang
digunakan kurang menarik,minat belajar peserta didik menjadi rendah
sehingga hasil belajarnya punmenjadi rendah.
Menerapkan metode praktikum pada saat pembelajaran erat
kaitannya dengan menguji seberapa paham peserta didik akan pemahaman
materi yang telah disampaikan. Metode praktikum merupakan suatu cara
bagi peserta didik untuk menyajikan suatu percobaan dengan mengalami
dan mencoba secara langsung untuk membuktikan sendiri suatu peristiawa
yang sedang dipelajari. Pada proses pembelajaran menggunakan metode
praktikum peserta didik diberi kesempatan untuk mencoba, mengamati,
menganalisis dan membuktikan suatu percobaan tersebut, dan peserta didik
dilatih untuk memberikan kesimpulan sendiri terkait suatu percobaan yang
telah dilakukan (Djamarah, 1996).
Namun pada kenyataannya guru fisika di SMAN 1 Bojongsoang
tidak menerapkan adanya praktikum, dikarenakan terkendala oleh alat-alat
praktikum yang tidak ada. Meski demikian, sudah banyak penelitian-
penelitian yang menggunakan metode praktikum untuk menarik minat
belajar peserta didik terkait pengajaran yang telah disampaikan. Terdapat
banyak inovasi yang dilakukan oleh guru di era modern saat ini. Salah
satunya perkembangan media pembelajaran yang bertujuan untuk menjadi
media dan sarana peserta didik dan guru dalam melakukan proses
pembelajaran yang aktif di kelas.
Perkembangan teknologi pada zaman ini sudah berkembang pesat,
terutama pada bidang Pendidikan, yangmana dalam proses pembelajaran
sekarang ini banyak menggunakan smartphone android sebagai media
pembelajaran. Dalam smartphone android terdapat aplikasi-aplikasi berupa
sensor yang dapat menunjang berlangsungnya proses pembelajaran
diantaranya proses praktikum, hanya saja kebanyakan guru tidak
mengetahui kegunaan aplikasi tersebut untuk praktikum apa. Aplikasi
smartphone yang akan di gunakan pada penelitian ini bernama aplikasi
phypox dimana aplikasi ini adalah aplikasi sensosr suara yang berfungsi
untuk mengukur frekuensi bunyi dan sebagai sumber bunyi juga.
Kegiatan praktikum dengan menggunakan aplikasi smartphone dan
melibatkan peserta didik secara aktif dapat mengundang ketertarikan
peserta didik akan pelajaran fisika. Ketertarikan itu akan meningkatkan
minat peserta didik dalam pembelajaran fisika yang lainnya. Namun, pada
penelitian ini minat belajar peserta didik meliputi aspek afektif yang disertai
dengan ciri perasaan senang, perhatian, kesadaran, dan rasa ingin tahu.
Indikator atau aspek-aspek tersebut yang menunjukan bahwa peserta didik
memiliki minat yang tinggi terhadap suatu mata pelajaran terutama pada
pelajaran fisika. Minat juga dapat mengubah nilai belajar peserta didik
dalam pelajaran menjadi mengingkat.
Penggunaan media pembelajaran seperti aplikasi smartphone
sebagai penunjang dalam pembelajaran terutama digunakan sebagai alat
untuk praktikum akan dapat juga meningkatkan hasil belajar peserta didik.
Yangmana peserta didik terlibat secara aktif pada proses praktikum dengan
menggunakan aplikasi yang terdapat dal smartphone andorid. Dalam
Taksonomi Bloom revisi dikenal ada 6 jenjang ranah kognitif, yaitu
pengalaman (knowledge), pemahaman, aplikasi ,analisis, evaluasi, dan
mencipta. Keenam jenjang ini merupakan hierarki, dimana jenjang lebih
tinggi dicapai apabila jenjang lebih rendah dikuasai. Berikut ini
dideskripsikan masing-masing jenjang pada ranah kognitif menurut
Taksonomi Bloom revisi (dalam Nuryantini & Farida,2014:27-44) yaitu
1)Mengingat (remember), 2) Memahami (understand), 3) Mengaplikasikan
(applying), 4) Menganalisis (analyzing), 5) Mengevaluasi (evaluating), dan
6) Mencipta (create). Kemudian ranah afektif adalah ranah yang
berhubungan dengan sikap, nilai, perasaan, emosi serta derajat penerimaan
atau penolakan suatu objek dalam kegiatan belajar mengajar. Dan ranah
psikomotor meliputi kompetensi melakukan pekerjaan dengan melibatkan
anggota badan serta kompetensi yang berkaitan dengan gerak fisik (motori)
yang terdiri dari gerakan refleks, keterampilan gerakan dasar, kemampuan
perseptual, ketepatan, keterampilan kompleks, serta ekspresif dan
interperatif.
Salah satu cara untuk mengetahui hasil belajar peserta didik adalah
dengan cara peserta didik mengisi lembar kerja peserta didik pada saat
praktikum menggunakan aplikasi smartphone berupa aplikasi sensor suara.
Dimana pada lembar LKPD tersebut peserta didik dituntut untuk menguasi
konsep-konsep yang telah dipelajarinya dan mengisi setiap pertanyaan
terkait praktikum yang sedang dilakukan. Pemberian LKPD praktikum
mernggunakan aplikasi smartphone yang telah dirancang dengan setiap
jenjang kognitif, melalui proses analisis akan diperoleh data yang sesuai
dengan kemampuan peserta didik terhadap suatu konsep fisika. Untuk
melihat keberhasilan dan keterlaksanaan penggunaan LKPD praktikum
dengan menggunakan aplikasi smartphone dalam meningkatakan minat
dan hasil belajar peserta didik dilihat dari lembar observasi kegiatan guru
dan peserta didik pada proses pembelajaran yang diperiksa oleh observer.
Secara skematis, kerangka pemikiran penelitian ini dituangkan ke
dalam bentuk bagan gambar 1.
Permasalahan dalam pembelajaran fisika di SMA
Negeri 1 Bojongsoang antara lain :
1. Pembelajaran bersifat teacher centered
sehingga peserta didik merasa jenuh
2. Minat belajar fisika peserta didik rendah
3. Hasil belajar fisika peserta didik rendah
Solusi :
Dibutuhkan media pembelajaran yang dapat membuat peserta didik aktif
dalam proses pembelajaran serta dapat memvisualisasikan konsep fisika
sehingga mempermudah pemahaman peserta didik terkait suatu materi
gelombang bunyi
TINJAUAN PUSTAKA
A. Minat
1. Pengertian Minat
Menurut Suhartini (2001:12) salah satu faktori dalam
mencapai kesuksesani pada segala bidang, baik bidang studi, bidang
pekerjaan, dan aktivitas lainnya tentu memerlukan minat untuk
melakukan segala sesuatunya. Dengan adanya minati dalam diri
seseorang maka akan menumbuhkani suatu perhatiani (concern),
perhatian inilah yang akan menjadikan suatu hal yang dilakukannya
secara tekun sehingga menumbuhkan rasa senang, lebih
berkonsentrasii, mudah untuk mengingat apapun dan tidak mudah
bosan dengan apa yang dilakukannya.
Menurut Hurlock, dalam bukunya Junaidi (2009:1)
menyatakan bahwa minati itu sendiri adalah sebuah motivasii yang
membuat orang dapat melakukan apa yang mereka inginkani.
Menurut Sudarsono (2003 : 8) juga dalam bukunya menyatakan
bahwa minati adalah sikapi ketertarikani atau rasa senang yang
terlibat dalam suatu kegiatani sehingga telah menyadari akan
pentingnyai atau bernilainyai suatu kegiatan tersebut. Definisi lain
diperjalas oleh suryai (2007:68) dalam bukunya mendefiniskan
minati merupakan suatu hal yang ada pada diri sendirii dan erat
hubungannya dengan sikap dan rasa ketertarikan. Minati dapat
menyebabkani seseorang giati melakukan usahai menuju sesuatui
yang telah menariki minatnyai. Dari pemaparan di atas, dapat ditarik
kesimpulan bahwa mintai itu adalah ketertarikani terhadapi sesuatu
yang dianggapi bernilaii kemudian disertaii tindakani untuk
melakukan sesuatu sehingga membuatnya tertarik (Ditya, 2013).
Belajari merupakan kegiatani yang berporesesi dan merupakan
unsuri yang fundamentali dalam penyelenggaraani setiap jenisi dan
jenjangi pendidikani (Syah, 2003).Menurut Oemari (2007) dalam
bukunya menyatakan bahwa belajari meliputi tidak hanyai mata
pelajarani, tetapi juga penguasaani, kebiasaani, persepsii,
kesenangani, minati, sosiali, dan berbagai macam keterampilani dan
juga sebuah cita-cita. Selain itu, Oemari menjelaskan kembali
mengenai belajari merupakan sebagai perubahani dalam perbuatani
aktivitasi, prakteki dan pengelamani.
Jika pengertian minat itu di kaitkan dengan pengertiani belajar
sebagai aktivitasi, maka dapat dikatakan bahwa minat belajar
merupakan suatu bentuk ketertarikan dan kecenderungan yang tetap
untuk memperhatikan dan terlibat dalam aktivitas belajar karena
menyadari pentingnya hal yang dipelajari. Ketika pengertian minat
dan pengertian belajar di kaitkan satu sama lain maka keduanya bisa
menjadi sebuah motivasi, dan dapat di simpulkan pula bahwa minat
belajar adalah suatu motivasi atau alasan peserta didik secara sadar
untuk selalu mengikutii aktivitas di kelas. Tanpa adanya minat dalam
diri peserta didik, maka akan sulit bagi mereka untuk mengikuti
prosesi pembelajaran dan akan berdampak buruk pada hasil belajar
yang optimal seperti yang diharapkan dalam suatu pencapaian kelas
(Ditya, 2013).
Berdasarkan penjelasan-penjelasan di atas, dapat disimpulkan
bahwa minat merupakan rasa ingin, ketertarikan, perhatian dan
keinginan seseorang untuk melakukan sesuatu yang disenanginya.
Menurut Syah (2010:152) minat dapat mempengaruhi kualitas
pencapaian hasil peserta didik dalam bidang-bidang studi tertentu.
Misalkan seorang peserta didik yang manaruh minat besar tehadap
fisika akan memusatkan perhatiannya lebih banyak pada fisika.
2. Klasifikasi Minat Belajar
Menurut beberapa ahlii yang telah mencobai
mengklasifikasikani minati berdasarkan pendekatani yang berbeda
antara satu sama lain dengan yang lainnya. Maka menurut Superi dan
Kritesi dalam bukunya Suharsinii (2001) minat dapat di klasifikasikani
menjadi 4 jenis yang berdasarkan pada hasil pengekspresiani dari
minat itu sendiri yaitu :
a) ExpressediInteresti,merupakan minati yang diekspresikanimelalui
verbali yang artinya ketika menunjukkan apakah seseorang itu
menyukai atau tidak pada suatu objeki atau aktivitasi.
b) Manifesti Interesti, merupakan minati yang disimpulkan dari
keikutsertaani individui dari tes pengetahuani atau keterampilani
dalam suatu kegiatani tertentu.
c) Testedi Interesti, merupakan minati yang disimpulkan dari tesi
pengetahuani atau keterampilani dalam suatu kegiatan.
d) Testedi Interesti, merupakan minat yang disimpulkani dari tesi
pengetahuani atau keterampilani dalam suatu kegiatan.
e) Inventoriedi Interesti, merupakan minati yang diungkapkani melalui
inventoryi minati atau daftari aktivitasi dan kegiatan yang sama
dengan pernyataan(Suhartini, 2001).
Minati digolongkani menjadi 3 jenis yang berdasarkan pada sebab
atau suatu alasan yang menimbulkan munculnya minat yaitu :
1) Minati Volunteri, merupakan minati yang timbuli dari dalam
diri peserta didik tanpa adanya pengaruhi dari luar.
2) Minati Involunteri,merupakan minati yang timbul dari dalam
diri peserta didik dengan adanya pengaruhi situasii yang di
ciptakani oleh guru.
3) Minati Nonvolunteri, merupakan minati yang timbul dalam diri
peserta didik secara terpaksa dan atau diharuskan.(Surya, 2007)
Dari kedua pendapat para ahli diatas yang mengkajii mengenai
kaitannya terhadap penelitiani tentang minat belajari,maka dapat
disimpulkani bahwa minat peserta didik dapat munculi atau dimilikii,
secara sadari atau pun tidak sadar melalui atau tanpai perantarai. Jika
seorang peserta didik memiliki pengetahuani yang cukupi tentang matai
pelajaran, dan memiliki kesempatan untuk mendalaminyai dalam
aktivitasi yang terstrukturi di kelas, serta mempunyai penilaiani tinggii
di kelas maka peserta didik itu dikatakan mempunyai minat (Ditya,
2013).
3. Indikator Minat Peserta Didik
Umumnya minati seseorang terhadap sesuatu yang akan
diekspresikannya melalui suatu kegiatan atau aktivitasi yang
berkiatani dengan minat dan rasa ketertarikannya. (Ditya, 2013) untuk
mengetahuii indikatori minati, dapat kita dilihat dengan cara
menganalisisi berbagai kegiatan yang dilakukani individui atau objeki
yang disenanginya.
Seseorang dikatakan memiliki minat terhadap sesuatu, apabila
ia mempunyai perasaan senang, perasaan tertarik, dan penuh perhtaian
terhadap sesuatu hal tersebut. Dapat disebutkan indikator minat, yaitu
perasaan senang, perasaan tertarik/rasa ingin tahu, penuh perhatian,
dan bersikap positif/kesadaran.
Jadi dapat disimpulkan bahwa aspek yang berkaitan erat dengan
minat belajar yaitu aspek afektif yang disertai dengan ciri perasaan
senang, perhatian, kesadaran, dan rasa ingin tahu. Indikator atau aspek-
aspek tersebut yang menunjukan bahwa peserta didik memiliki minat
yang tinggi terhadap suatu mata pelajaran. Hal ini dapat dilihat melalui
proses pembelajaran di kelas maupun di luar kelas. Dalam penelitian
ini minat belajar peserta didik diukur dengan dengan menggunakan
angket. Secara umum indikator dan ruang lingkup angket minat belajar
peserta didik dapat dilihat pada tabel 1.1 berikut.
Tabel 2. Indikator dan Kisi-kisi Angket Minat
Indikator Ruang Lingkup
Perasaan Senang Peserta didik menunjukan perasaan senang
terhadap pelajaran fisika
Perhatian Menunjukan perhatian peserta didik terhadap
pelajaran fisika
Ketertarikan Menunjukan respon dan antusias /semangat peserta
didik dalam belajar fisik
Rasa Ingin Tahu Menunjukan rasa keingintahuan peserta didik
terhadap pelajaran fisika
E. Gelombang Bunyi
Kompetensi Dasar
3.10 Menerapkan konsep dan prinsip gelombang bunyi dan cahaya
dalam teknologi
4.10elakukan percobaan tentang gelombang bunyi dan/atau
cahaya, berikut hasil presentasi hasil percobaan dan makna
fisisnya.
1. Karakteristik gelombang bunyi
1) Sifat-sifat dasar bunyi
Bunyi disebabkan oleh adanya benda yang bergetar. Senar
gitar ketika dipetik maka akan bergetar dan terdengar
bunyi. Bunyi merupakan gelombang longitudinal, dimana
terjadi rapatan dan renggangan. Bunyi dapat merambat
melalui zat cair, zat padat, dan gas, namun bunyi
memerlukan medium (Kanginan, 2013, p. 6).
2) Kecepatan bunyi
a. Mengukur cepat rambat bunyi di udara
Ketika garputala digetarkan diatas tabung dan tabung
diturunkan secara perlahan, maka akan terdengar bunyi
dengungan. Bunyi tersebut merupakan resonansi
pertama dan bentuk gelombang stasioner ditunjukin
pada gambar 2 (Kanginan, 2013, p. 7)
Gambar 2. Tiga keadaan pada tabung Resonansi
(Kanginan, 2013)
𝜆
ℓ2 − ℓ1 =
2
Dengan:
V = kecepatan bunyi (m/s)
B = modulus Bulk (N/m2)
𝜌 = massa jenis zat cair (kg/m2)
𝐸
𝑣=√
𝜌
Dengan:
E = Modulus Young zat padat (N/m2)
𝛾𝑃
𝑣=√
𝜌
Dengan:
𝛾 = Konstanta Laplace
P = tekanan gas
Kecepatan bunyi pada gas juga dapat dinyatkan dalam
hubungannya dengan suhu mutlak gas, sehingga persamaannya
menjadi
𝛾𝑅𝑇
𝑣=√
𝑀
Dengan:
𝛾 = Konstanta Laplace
R = Tetapan Umum Gas (8,314J/mol K)
M = massa molar gas (massa 1 mol gas)
T = Suhu Mutlak gas (K)
b. Klasifikasi Gelombang Bunyi
Berdasarkan frekuensi bunyi yang dapat didengar, bunyi di
klasifikasikan ke dalam 3 jenis yaitu infrasonik, audiosonik, dan
ultrasonic. Klasifikasi gelombang bunyi tersaji pada
Table 2. Klasifikasi Gelombang
Klasifikasi Frekuensi yang didengar
Infrasonik Kurang dari 20 Hz
Audiosonik Antara 20-20000 Hz
Ultrasonik Lebih dari 20.000Hz
1
𝐿= 𝜆 𝑎𝑡𝑎𝑢 𝜆1 = 2𝐿
2 1
𝑣 𝑣
𝑓1 = =
𝜆1 2𝐿
Pola resonansi selanjutnya ditunjukan pada gambar b disebut
nada atas pertama, dimana terjadi 3 perut dan 2 simpul. Panjang
kolom udara (L) yaitu
𝐿 = 𝜆2 𝑎𝑡𝑎𝑢 𝜆2 = 𝐿
𝑣 𝑣 𝑣
𝑓2 = = = 2 ( ) = 2𝑓1
𝜆2 𝐿 2𝐿
𝑛𝑣 𝑛𝑣
𝑓𝑛 = 𝑛𝑓1 = 𝑓𝑛 = 𝑛𝑓1 =
2𝐿 2𝐿
Dengan
n= 1, 2, 3, …..
𝜆1
𝐿= 𝑎𝑡𝑎𝑢 𝜆1 = 4𝐿
4
𝑣 𝑣
𝑓1 = =
𝜆1 4𝐿
3 4𝐿
𝐿= 𝜆3 𝑎𝑡𝑎𝑢 𝜆3 =
4 3
𝑣 𝑣 3𝑣
𝑓2 = = = = 3𝑓1
𝜆3 4𝐿⁄3 4𝐿
Frekuensi nada atas pertama sama dengan tiga kali frekuensi
nada dasar. Sedangkan untuk frekuensi nada atas kedua seperti
ditunjukkan pada gambar c yaitu sebagai berikut.
𝑣 5𝑣
𝑓3 = = = 5𝑓1
𝜆5 4𝐿
𝑛𝑣
𝑓𝑛 = 𝑛𝑓1 =
4𝐿
Dengan
v= cepat rambat bunyi dalam kolom udara (m/s)
n= 1, 2, 3, ….
(Kanginan, 2013, pp. 29-30)
BAB III
METODOLOGI PENELITAN
A. Pendekatan dan Metode Penelitian
Penelitian ini merupakan jenis penelitian pengembangan. Metode
penelitian dan pengembangan atau dalam bahasa Inggrisnya Research
and Development adalah metode penelitian yang digunakan untuk
menghasilkan produk tertentu, dan menguji keefektifan produk
tersebut (Sugiyono, 2012, p. 297).
Penelitian dan pengembangan atau Research and Development adalah
sebuah strategi atau metode penelitian yang cukup ampuh untuk
memperbaiki praktik (Nana Syaodih, 2007, p. 2). Peneliti
mengembangkan perangkat pembelajaran fisika dengan
pengembangan Borg & Gall model prosedural yang bersifat deskriptif.
Perangkat pembelajaran yang akan dikembangkan adalah LKPD
praktikum menggunakan aplikasi smartphone.
Pengembangan pembelajaran ini menggunakan tahap-tahap penelitian
dan pengembangan Borg & Gall dengan model prosedural yang
bersifat deskriptif. Pengembangan ini memiliki 10 tahap yang terdiri
dari penelitian dan pengumpulan informasi awal, perencanaan,
pengembangan format produk awal, uji coba awal, revisi produk, uji
coba lapangan, revisi produk, uji lapangan, revisi produk akhir,
terakhir desiminasi dan implementasi (Setyosari, 2010, pp. 205-206).
Akan tetapi, dalam penelitian ini hanya melakukan 7 tahap yaitu
penelitian dan pengumpulan informasi awal, perencanaan, desain
produk, validasi, revisi produk, uji coba produk, dan revisi produk. Hal
ini karena keterbatasan waktu dan sekolah yang diteliti.
Penelitian dan Perencanaan
pengumpulan informasi
awal
Revisi produk
Gambar 3.1
Modifikasi Model Pengembangan Borg & Gall
Borg & Gall menyatakan bahwa prosedur penelitian pengembangan
pada dasarnya terdiri dari dua tujuan utama, yaitu: (1) mengembangkan
produk, dan (2) menguji keefektifan produk dalam mencapai tujuan.
Pengembangan Borg & Gall yang digunakan dalam penelitian ini
menggunakan 7 tahap yang dapat dirinci sebagai berikut :
1. Penelitian dan pengumpulan informasi awal
Penelitian dan pengumpulan informasi, yang meliputi kajian
pustaka, pengamatan atau observasi kelas, dan persiapan laporan
awal. Penelitian awal atau analisis kebutuhan sangat penting
dilakukan guna memperoleh informasi awal untuk melakukan
pengembangan. Ini bisa dilakukan misalnya melalui pengamatan
kelas untuk melihat kondisi riil lapangan. Kajian pustaka dan
termasuk literatur pedukung terkait sangat diperlukan sebagai
landasan melakukan pengembangan.
2. Perencanaan
Perencanaan yang mencakup merumuskan kemampuan,
merupakan tujuan khusus untuk menentukan urutan bahan, dan uji
coba skala kecil. Hal yang sangat urgen dalam tahap ini adalah
merumuskan tujuan khusus yang ingin dicapai oleh produk yang
dikembangkan. Tujuan ini dimaksudkan untuk memberikan
informasi yang tepat untuk mengembangkan program atau produk
sehingga program atau produk yang diujicobakan sesuai dengan
tujuan khusus yang ingin dicapai.
3. Desain Penelitian
Desain penelitian mencakup penyiapan bahan-bahan
pembelajaran, dan alat evaluasi. Format pengembangan program
yang dimaksud adalah pengembangan LKPD praktikum
menggunakan aplikasi smartphone. Adapun langkah-langkah yang
dilakukan dalam pembuatan LKPD ini antara lain:
a. Menentukan sumber buku sebagai acuan materi.
b. Merumuskan kompetensi dasar yang harus dikuasai
c. Memilih sub bab materi yang akan digunakan untuk
praktikum menggunakan aplikasi smartphone.
d. Membuat rancangan LKPD.
e. Mengumpulkan bahan-bahan yang dibutuhkan:
4. Validasi Desain
Sebelum melakukan uji coba LKPD praktikum berbasis
aplikasi smartphone, LKPD terlebih dahulu di validasi oleh dosen
yaitu ahli materi, ahli media dan guru mata pelajaran fisika yang ada
di sekolah tempat penelitian. Validasi desain dilakukan berkaitan
dengan LKPD untuk meningkatkan hasil belajar kognitif peserta
didik pada materi gelombang bunyi.
5. Revisi Produk
Revisi produk di lakukan setelah validasi oleh beberapa
validator. LKPD yang telah di validasi selanjutnya di perbaiki oleh
peneliti sesuai dengan arahan dari para validator, baik dari ahli
materi, ahli media dan guru fisika. Setelah revisi produk selesai,
LKPD praktikum berbasis aplikasi smartphone siap untuk di uji
cobakan.
6. Uji Coba Produk
Setelah merevisi produk, langkah selanjutnya adalah menguji
cobakan LKPD praktikum berbasis aplikasi smartphone kepada
mahasisa Pendidikan fisika kelas information communication and
technology (ICT) yang berjumlah 22 orang. Namun pada uji coba
produk ini dilakukan secara terbatas yang hanya menguji cobakan
kepada 10 orang mahasiswa kelas ICT yang nantinya akan menjadi
data penelitian untuk peneliti.
7. Revisi Produk
Langkah terkahir dalam penelitian ini adalah merevisi produk LKPD
yang telah di uji cobakan. Merevisi produk kembali dilakukan untuk
menyempurnakan kelemahan-kelemahan yang terdapat pada LKPD
dan disesuaikan dengan kondisi lapangan pada saat uji coba
dilakukan.
B. Desain Penelitian
Desain penelitian dalam uji coba produk LKPD praktikum
berbasis aplikasi smartphone adalah before-after. dimana pengujian
dilakukan untuk mendapatkan informasi apakah metode mengajar
menggunakan LKPD praktikum berbasis aplikasi smartphone lebih
efektif di bandingkan dengan menggunakan LKPD lama. Untuk itu
pengujian dilakukan dengan menyebarkan LKPD lama dan LKPD
baru. Penelitian ini dapat dilakukan dengan cara membandingkan
dengan keadaan sebelum dan sesudah memakai metode mengajar baru
yaitu dengan menggunakan LKPD praktikum berbasis aplikasi
smartphone (before-after). Dengan demikian desain penelitian
pertama dan kedua dapat di gambarkan seperti gambar berikut ini.
O1 X O2
Keterangan :
O1 : Tes yang dilakukan sebelum perlakuan diberikan (menggunakan
LKPD lama)
O2 : Tes yang dilakukan setelah perlakuan diberikan (menggunkan
LKPD baru)
X : Perlakuan yang diberikan pada kelas LKPD praktikum
menggunakan sensor suara pada smartphone.
(Sugiyono, 2017, p. 303)
Berdasarkan tabel 3.1 diatas dapat diberikan penjelasan bahwa
dalam penelitian ini dilakukan dengan membandingkan hasil tes
pemahaman konsep dan hasil belajar dengan menggunakan LKPD
lama (O1) dan hasil tes pemahan konsep dan hasil belajar
menggunakan LKPD baru (O2). Untuk mendapatkan hasil data
penelitian maka dilakukan dengan membandingkan metode mengajar
menggunakan LKPD lama dengan LKPD baru. Apabila metode
mengajar menggunakan LKPD praktikum berbasis aplikasi
smartphone(O2) lebih besar menggunakan LKPD lama, maka metode
mengajar tersebut efektif untuk digunakan sebagai penunjang
pembelajaran.
C. Instrumen Penelitian
1. Lembar Validasi LKPD
Sebelum LKPD di ujicobakan terlebih dahulu LKPD di validasi
oleh validator. Lembar validasi LKPD diserahkan kepada ahli
materi dan ahli media. Adapun isis dari lembar LKPD tersebut
adalah berupa pernyataan skala likert dengan empat pilihan
jawaban yaitu Sangat Baik (SB), Baik (B), Kurang (K), Sangat
Kurang (K), serta dilengkapi dengan komentar dan saran dari para
ahli. Kriteria yang menjadi penilaian dari ahli materi adalah (1)
aspek kelayakan isi, meliputi kesesuaian materi dengan KI dan KD,
keakuratan materi, keberadaan LKPD dalam mendorong keinginan
peserta didik, (2) aspek kelayakan penyajian, meliputi teknik
penyajian, kelengkapan penyajian, penyajian pembelajaran,
koherensi dan keruntutan proses berpikir, dan (3) aspek penilaian
model penemuan terbimbing. Tujuan pemberian skala ini adalah
menilai kesesuaian isi LKPD dengan menggunakan model
penemuan terbimbing dan kemampuan pemecahan masalah
matematis.
2. Lembar Kerja Peserta Didik (LKPD)
Lembar Kerja Peserta Didik (LKPD) ini digunakan untuk
mengukur hasil belajar kognitif berupa pemahaman konsep-konsep
pada materi pelajaran. LKPD yang digunakan dalam penelitian ini
adalah LKPD praktikum berbasis aplikasi smartphone. Pertanyaan
pertanyaan yang terdapat dalam LKPD ini diperoleh berdasarkan
permasalahan yang dimunculkan dalam percobaan menggunakan
sensor suara. Pertanyaan yang disajikan dalam LKPD haruslah
memenuhi pada tujuan pembelajaran yang ingin di capai. LKPD
ini tersusun atas judul, tujuan pembelajaran, petunjuk, dan isi
(berupa pertanyaan-pertanyaan).
3. Angket Respon Peserta Didik
Angket ini digunakan untuk untuk mendapatkan data mengenai
pendapat/respon peserta didik terhadap penggunaan metode
pengajaran dengan menggunakan LKPD lama dan LKPD baru.
4. Angket Minat Belajar
Angket ini disusun untuk mengetahui minat belajar peserta didik
sebelum dan sesudah uji coba LKPD menggunakan aplikasi
smartphone. Angket ini terdiri dari 20 pertanyaan yang terdiri dari
beberapa indikator yaitu perasaan senang, ketertarikan peserta
didik, perhatian peserta didik dan keterlibatan peserta didik.
Angket ini diberikan sebelum dan sesudah pembelajaran
menggunakan LKPD aplikasi smartphone.
D. Jenis Data Penelitian
Jenis data yang diambil dalam penelitian ini terdiri dari dua jenis yaitu
data kualitatif dan data kuantitatif. Data yang diperoleh dalam
penelitian ini antara lain sebagai berikut:
a. Data kualitatif terdiri dari deskripsi mengenai kelayakan LKPD
praktikum berbasis aplikasi smartphone oleh validator, ahli materi
dan lembar angket respon peserta didik terhadap LKPD praktikum,
dianalisis secara deskriptif kualitatif. Analisis data ini sebagai bahan
revisi bagi LKPD yang sedang dikembangkan.
b. Data kuantitatif terdiri dari data hasil penilaian lembar validator
yaitu berupa lembar penilaian ahli materi, ahli media, dan guru fisika
dan dibuat dalam skala interval 1 sampai 5. Dan penilaian hasil
pengisian LKPD praktikum berbasis aplikasi smartphone oleh
mahasiswa kelas ICT untuk mengetahi pengingkatan hasil belajar,
dan penilaian peningkatan minat peserta didik yang disebar
menggunakan angket.
E. Teknis Pengumpulan Data
a. Lembar Validasi
Sebelum memberikan LKPD praktikum berbasis aplikasi
android kepada peserta didik, terlebih dahulu LKPD yang
dikembangkan di validasi untuk dinilai tingkat validitas dan
kepraktisannya. Validitas ini dilakukan oleh validator dengan
mengisi lembar observasi terhadap item-item kriteria kevalidan dan
kepraktisan LKPD yang dikembangkan.
Kemudian lembar validasi yang berisi data ini dianalisis secara
deskriptif. Hasil telaah digunakan sebagai masukan untuk merevisi
atau memperbaiki dan menyempurnakan LKPD yang sedang
dikembangkan.
b. Angket Respon
Angket yang diberikan kepada peserta didik adalah sejumlah
pertanyaan tertulis yang digunakan untuk memperoleh informasi
dari responden dal aarti laporan tentang pribadinya, atau hal-hal
yang diketahuinya. Dalam penelitian ini angket respon digunakan
untuk merespon peserta didik tentang perangkat pembelajaran yang
sedang dikembangkan.
c. Angket Minat
Angket minat belajar digunakan sebelum dan sesudah
menggunakan LKPD praktikum berbasis aplikasi smartphone.
Dari pengisian angket minat tersebut akan di dapatkan data hasil
peningkatan minat sebelum dan setelah mengerjakan LKPD.
F. Teknis Analisis Data
Data yang diperoleh dalam penelitian ini dianalisis kemudian
digunakan untuk merevisi perangkat pembelajaran yang
dikembangkan agar menghasilkan perangkat yang layak sesuai
kriteria yang ditentukan. Analisis tiap datanya sebagai berikuT :
1. Analisis Data Hasil Validasi
Analisis data hasil validasi LKPD di lakukan dengan mencari
rata-rata tiap kategori dan rata-rata tiap aspek dalam lembar
validasi, hingga akhirnya di dapatkan rata-rata total penilaian
validator terhadap masing masing perangkat pembelajaran.
Langkahlangkahnya adalah sebagai berikut :
a. Mencari rata-rata tiap komponen dari validator dengan :
∑𝑛𝑛=1 𝑣𝑗𝑖
𝐾𝑖 =
𝑛
Dengan
Ki : Rata-rata kriteria ke- i
Vji : Skor hasil penilaian validator ke- j untuk kriteria ke- i
n : Banyak validator
b. Mencari rata-rata tiap aspek dari semua validator, dengan
rumus :
∑𝑛𝑖=1 𝐾𝑗𝑖
𝐴𝑖 =
𝑛
Dengan
Ai : Rata-rata aspek ke- i
Kij : Rata-rata untuk aspek ke- j
n : Banyaknya kriteria dalam aspek ke- i
c. Mencari rata-rata total validasi (RTV) dengan rumus :
∑𝑛𝑖=1 𝐴𝑖
𝑅𝑇𝑉 =
𝑛
Dengan
RTV : Rata-rata total validitas
Ai : rata-rata aspek ke- i
n : Banyak aspek
(Kiswati,2006:64)
2.Analisis Data Respon Peserta Didik
Angket respon peserta didik digunakan untuk mengukur pendapat
peserta didik terhadap perangkat baru, dan kemudahan
memahami setiap komponen yang ada pada LKPD. Data respon
peserta didik yang akan di olah dengan menggunakan persamaan
:
∑ 𝑛𝑖
𝐾= 𝑥 100%
𝑁
Keterangan :
𝐾 : Presentasi skor yang diperoleh
∑ 𝑛𝑖 : Jumlah skor yang diperoleh
𝑁 : Jumlah skor maksimal
Skor Kategori
70 − 84 Baik
55 − 69 Cukup
40 − 54 Kurang
0 − 39 Sangat Kurang
3. Analisis Minat Belajar
Data angket dan observasi/pengamatan minat belajar sebelum dan
sesudah diuji cobakan LKPD praktikum berbasis aplikasi
smartphone dikonversikan dan dianalisis dengan langkah-langkah
sebagai berikut:
a. Menghitung rata-rata skor dari setiap komponen aspek
pernyataan dengan menggunakan persamaan persamaan
Σx
𝑥̅ =
𝑛
Keterangan :
𝑥̅ : skor rata-rata
Σx : jumlah skor
n : jumlah penilai
b. Menghitung Standard Gain
Setelah nilai rata-rata dari masing-masing skor diperoleh,
selanjutnya adalah menghitung peningkatan minat belajar
peserta didik. Peningkatan belajar peserta didik dianalisis
dengan menggunakan rumus berikut.
𝑥̅ 𝑠𝑒𝑠𝑢𝑑𝑎ℎ − 𝑥̅𝑠𝑒𝑏𝑒𝑙𝑢𝑚
<𝑔 >=
𝑥̅ − 𝑥̅𝑠𝑒𝑏𝑒𝑙𝑢𝑚
Keterangan :
𝑥̅ 𝑠𝑒𝑠𝑢𝑑𝑎ℎ : nilai rata-rata angket minat sesudah pembelajaran
𝑥̅𝑠𝑒𝑏𝑒𝑙𝑢𝑚 : nilai rata-rata angket minat sebelum
pembelajaran
𝑥̅ : nilai maksimal
Nilai standard gain yang diperoleh kemudian
diinterpretasikan sesuai dengan tabel berikut ini:
Tabel 3.4 Interpretasi Nilai standart gain
Nilai < 𝒈 > Interpretasi
0,7 ≤ < 𝑔 > Tinggi
0,3 ≤ < 𝑔 > < 0,7 Sedang
< 𝑔 > < 0,3 Rendah
(Knight : 2004:9)
G. Tempat dan Waktu Penelitian
Penelitian ini dilakukan di UIN Sunan Gunung Djati Bandung yang
beralamat di Jln. Cimenrang Kecamatan Panyileukan, Kota Bandung
Provinsi Jawa Barat.
DAFTAR ISI
Kasper, L., Vogt, P. & Strohmeyer, C., 2015. Stationary waves in tubes and the
speed of sound. iPhysicsLabs, Volume 53.
Hellesund, S., 2019. Measuring the speed of sound in air using a smartphone and
a cardboard tube. Phyc. Edu, p. 54.
Hirth, M., Kuhn, J. & Müller, A., 2015. Measurement of sound velocity made easy
using harmonic resonant frequencies with everyday mobile technology.
iPhysicsLabs, Volume 53.
Kuhn , J. & Vogt, P., 2013. Analyzing acoustic phenomena with a smartphone
microphone. iPhysicLabs, pp. 218-219.
Sugiyono, P. D., 2012. Metode Penelitian Kuantitatif Kualitatif dan R & D,.
Bandung: Alfabheta.
Supiyanto, 2007. FISIKA UNTUK SMA KELAS XII. Jakarta: PT. Gelora Aksara
Pratama.
B.S, A. A. D. R., 2003. Metode Praktikum Dalam Fisika. Jakarta: UPI hal.35.
Budiningsih, A., 2007. Belajar dan Pembelajaran. Jakarta: PT. Rineka Cipta.
Chairani, S., 2016. Peningkatan Minat Belajar Peserta didik Melalui Metode
Praktikum Pada Materi Metabolisme di SMAN 3 Tangerang Selatan. Prosiding
Temu Ilmiah Nasional Guru, Volume vii.
Ditya, A. K., 2013. Peingkatan Minat dan Hasil Beljar Siswa Dalam Pembelajaran
Apresiasi Musik Tradisonal Jawa dengan Pendekatan Contextual Teaching
Learning di SDK Kalam Kudus Yogyakarta. Yogyakarta: Universitas Negeri
Yogyakarta .
Ditya, A. K., 2013. Peningkatan Minat dan Hasil Belajar Siswa dalam
Pembelajaran Apresiasi Musik Tradisonal Jawa dengan Pendekatan Contextual
Teaching Learning di SDK Kalam Kudus Yogyakarta. Yogyakarta: UNJ.
Djamarah, S. B. &. Z., 1996. Strategi Belajar Mengajar. Jakarta: Rineka Cipta.
Hirth, M., Kuhn, J., & Müller, A. (2015). Measurement of sound velocity made
easy using harmonic resonant frequencies with everyday mobile technology
. iPhysicsLabs, 53.
Suyono, H., 2012. Belajar dan Pembelajaran (Teori dan Konsep Dasar). Bandung:
PT. Remaja Rosdakarya.