Anda di halaman 1dari 49

BLOK KEPERAWATAN MATERNITAS

ASUHAN KEPERAWATAN PADA PASIEN DENGAN


KANKER OVARIUM

DISUSUN OLEH :

Wesi (04021381821018)
Deah Karina Saputri (04021381821019)
Kike Pratiwi (04021381821020)
Niko Putra Dwi Payoka (04021381821021)
Fevi Apriani (04021381821022)

Dosen Pembimbing :

Karolin Adhisty, S.Kep., Ns., M.Kep

ALIH PROGRAM STUDI ILMU KEPERAWATAN

FAKULTAS KEDOKTERAN

UNIVERSITAS SRIWIJAYA

2018
KATA PENGANTAR

Puji syukur kami panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa, karena atas
segala limpahan rahmat dan karunia-Nya kami dapat menyelesaikan tugas
makalah “Asuhan Keperawatan Pada Pasien Dengan Kanker Ovarium”
berserta salam kami haturkan untuk Nabi besar Muhammad SAW, Nabi yang
telah membawa kita dari zaman kebodohan ke zaman yang penuh ilmu
pengetahuan seperti sekarang ini. Ucapan terima kasih juga kami haturkan kepada
:

1. Ibu Karolin Adhisty, S.Kep., Ns., M.Kep yang telah menjadi dosen
pembimbing kami dalam membuat makalah ini.
2. Semua anggota kelompok yang telah bekerja sama dalam pembuatan tugas
ini.
Kami menyadari bahwa dalam proses penulisan makalah ini masih jauh
dari kesempurnaan baik materi maupun cara penulisannya. Namun demikian,
kami telah berupaya dengan segala kemampuan dan pengetahuan yang dimiliki
sehingga dapat diselesaikan dengan baik. Oleh karena itu, masukan, saran, kritik,
dan usul yang sifatnya untuk perbaikan dari berbagai pihak khususnya Bapak/Ibu
dosen serta rekan – rekan sangat diharapkan untuk penyempurnaan makalah ini.
Semoga tuisan ini bermanfaat bagi para pembaca.

Indralaya, Oktober 2018

Tim Penulis

ii
DAFTAR ISI

HALAMAN SAMPUL DEPAN..................................................................... i


KATA PENGANTAR.................................................................................... ii
DAFTAR ISI .................................................................................................. iii
BAB I PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang ..........................................................................................1
1.2 Rumusan Masalah .....................................................................................2
1.3 Tujuan Penelitian
1.3.1 Tujuan Umum ..............................................................................2
1.3.2 Tujuan Khusus ..............................................................................3
BAB II TINJAUAN PUSTAKA
Konsep Penyakit Kanker Ovarium
2.1 Pengertian ...............................................................................................4
2.2 Anatomi Fisiologis ..................................................................................4
2.3 Etiologi....................................................................................................11
2.4 Klasifikasi Histologi................................................................................15
2.5 Klasifikasi Stadium..................................................................................17
2.6 Manifestasi Klinis....................................................................................21
2.7 Patofisiologi ............................................................................................22
2.8 Pathway....................................................................................................24
2.9 Respon Fisiologis.....................................................................................28
2.10 Pemeriksaan Penunjang ..........................................................................29
2.11 Penatalaksanaan ......................................................................................29
BAB III ASUHAN KEPERAWATAN PADA PASIEN KANKER OVARIUM
3.1 Pengkajian .................................................................................................31
3.2 Diagnosa Keperawatan..............................................................................35
3.3 Rencana Asuhan Keperawatan..................................................................37

DAFTAR PUSTAKA

iii
BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Kanker ovarium adalah penyebab utama kematian akibat kanker


ginekologi di Amerika Serikat, dengan puncak insidensi terjadi di awal 1980-an.
Meskipun pemeriksaan fisik dilakukan dengan cermat, kanker ovarium sering kali
sulit dideteksi karena biasanya terdapat jauh di dalam pelvis (Brunner & Suddarth,
2015). Tumor ovarium terbagi atas tiga kelompok yaitu tumor jinak, bordeline
(kanker diferensiasi sedang), dan tumor ganas. Kanker ovarium diperkirakan 30 %
terjadi dari seluruh kanker pada sistem genitalia wanita.
Menurut American Cancer Society tahun 2016, kanker ovarium
menduduki peringkat kelima dari seluruh kanker yang ditemukan pada wanita.
Sekitar 22.280 kasus baru kanker ovarium terdiagnosis dan 14.240 wanita
meninggal karena kanker ovarium di Amerika Serikat. Data Globocan tahun 2012,
insiden dan mortalitas kanker ovarium di Asia menempati urutan kesembilan dari
penyakit-penyakit kanker yang menyerang pada saluran genitalia wanita. Insiden
kanker ovarium di Asia Tenggara sebanyak 47.689 kasus atau 5,2 % dari seluruh
usia pada wanita ( IARC tahun 2012 ). Penduduk Indonesia yang menderita
kanker ovarium menduduki urutan ke enam terbanyak setelah karsinoma servik,
payudara, kolorektal, kulit, dan limfoma. Insidens kanker ovarium di Indonesia
sebanyak 9.664 kasus atau 6,2 % dengan angka mortalitas 7.031 kasus.
(Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, 2015).
Hasil penelitian Arania & Windarti (2015) tentang karakteristik pasien
kanker ovarium di rumah sakit Dr. H. Abdul Moeloek Bandar Lampung periode
2009-2013 adalah 31-40 tahun yaitu sebanyak 10 orang (41,7 %). Menurut
literatur bahwa kanker ovarium meningkat dengan cepat sesudah usia 40 tahun,
usia puncak adalah 50-60 tahun. Setelah dilakukan penelitian, banyak ditemukan
adenokarsinoma jenis serosa pada wanita usia 31-40 tahun yang berukuran 10-15
cm.
Dampak dari kanker ovarium pada stadium awal tidak mengalami
perubahan pada tubuh yang tidak begitu terasa pada diri wanita karena awal

1
perubahannya di dalam tubuh mengalami keputihan yang dianggap wanita itu hal
biasa. Tetapi, pada stadium lanjut yaitu stadium II-IV akan mengalami perubahan
pada tubuh karena sudah bermetastase ke jaringan luar pelvis misalnya jaringan
hati, gastrointestinal dan paru-paru sehingga akan menyebabkan anemia, asites,
efusi pleura, nyeri ulu hati dan anoreksia (Reeder, Martin, & Koniak-Griffin,
2013).
Asuhan keperawatan terdiri atas pendidikan kesehatan, dukungan fisik dan
emosi untuk mengatasi kecemasan dan ketakutan. Selama hospitalisasi, perawat
melakukan pemantauan fisiologis dan prosedur teknis, serta memberikan tindakan
kenyamanan. Perawat memberikan dukungan untuk membantu keluarga
berkoping dan menyesuaikan diri, memberikan kesempatan pada mereka untuk
menceritakan dan mengatasi rasa takut, serta membantu mengkoordinasikan
sumber dukungan bagi keluarga dan proses pemulihan (Reeder, dkk, 2013).
Penanganan dan pengobatan kanker ovarium yang telah dilakukan dengan
prosedur yang benar namun hasil pengobatannya sampai saat ini belum begitu ada
manfaatnya. Sebagai perawat dalam menangani masalah klien dengan kista
ovarium atau kanker ovarium maka perlu memperhatikan aspek biopsikososial-
spiritual dalam pemberian asuhan keperawatannya, sehingga hal ini yang menarik
penulis untuk membahas asuhan keperawatan pada klien dengan kanker ovarium.

1.2 Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang diatas maka rumusan masalahnya


adalah bagaimana asuhan keperawatan pada pasien dengan penyakit
kanker ovarium ?

1.3 Tujuan
1. Tujuan umum
Mahasiswa mampu menerapkan asuhan keperawatan pada pasien
dengan kanker ovarium.
2. Tujuan khusus

2
Mahasiswa mampu :
a. Menyusun pengkajian asuhan keperawatan pada pasien kanker
ovarium
b. Merumuskan diagnosa asuhan keperawatan pada pasien kanker
ovarium
c. Menyusun perencanaan asuhan keperawatan pada pasien kanker
ovarium

1.4 Manfaat
1. Mampu memahami konsep dasar penyakit kanker ovarium
2. Mampu memahami konsep asuhan keperawatan pada kanker ovarium

3
BAB II

PEMBAHASAN

Konsep Dasar Penyakit Kanker Ovarium

2.1 Pengertian Kanker Ovairum

Kanker indung telur atau kanker ovarium adalah tumor ganas yang pada
ovarium (indung telur) yang paling sering ditemukan pada wanita berusia 50-70
tahun. Kanker ovarium bisa menyebar ke bagian lain,panggul dan perut melalui
system getah bening dan melalui sistem pembuluh darah menyebar ke hati da
paru-paru. Kanker ovarium sangat sulit didiagnosa dan kemungkian kanker
ovarium ini merupakan awal dari banyak kanker primer (Nur Arif & Kusuma,
2015)
Kanker ovarium adalah tumor ganas yang berasal dari ovarium dengan
berbagai histologi yang menyerang pada semua umur. Tumor sel germinal lebih
banyak dijumpai pada penderita berusia < 20 tahun, sedangkan tumor sel epitel lebih
banyak pada wanita usia > 50 tahhun (Manuaba, 2013).
Kanker ovarium merupakan tumor dengan histiogenesis yang beraneka
ragam, dapat berasal dari ketiga (3) dermoblast (ektodermal, endodermal,
mesodermal) dengan sifat-sifat histiologis maupun biologis yang beraneka ragam
(Smeltzer & Bare, 2002).

2.2 Anatomi Fisiologis Ovari

Organ reproduksi wanita terdiri atas organ eksterna dan organ interna.
Organ interna berfungsi dalam kopulasi, sedangkan organ interna berfungsi dalam
ovulasi, sebagai tempat fertilisasi sel telur dan perpindahan blastosis, ovarium
merupakan salah satu organ reproduksi wanita, serta sebagai tempat implantasi;
dapat dikatakan organ interna berfungsi untuk pertumbuhan dan kelahiran janin.

1. Organ eksterna

4
2. Organ Internal

a. Vagina
Vagina merupakan saluran fibromuskuler elastis yang membentang
ke atas dan ke belakang dari vulva hingga uterus. Dinding anterior
vagina mempunyai panjang kurang lebih 7,5 cm dan dinding
posteriornya 9 cm. Vagina mempunyai banyak fungsi yaitu sebagai
saluran keluar dari uterus, dilalui sekresi uterus, dan kotoran
menstruasi, sebagai organ kopulasi dan sebagai bagian jalan lahir saat
persalinan.
Dinding vagina terdiri atas empat lapisan : Lapisan epitel gepeng
berlapis : pada lapisan ini tidak terdapat kelenjar tetapi cairan akan
merembes melalui epitel untuk memberikan kelembaban, Jaringan
kolektif areoler yang dipasok pembuluh dengan baik, Jaringan otot
polos berserabut longitudinal dan sirkuler, Lapisan luar jaringan ikat
fibrosa berwarna putih.
Fornik berasal dari kata latin yang artinya selokan. Pada tempat
servik menuju kedalam kubah vagina terbentuk sebuah selokan
melingkar yang mengelilingi servik. Fernik ini terbagi menjadi empat
bagian: fornik posterior, anterior dan dua buah fernik latera

b. Uterus
Uterus merupakan organ muskuler yang sebagian tertutup oleh
peritoneum atau serosa. Bentuk uterus menyerupai buah pir yang
gepeng. Uterus wanita yang tidak hamil terletak pada rongga panggul
antara kandung kemih di anterior dan rectum posterior.
Uterus wanita nullipara panjang 6-8 cm, dibandingkan dengan
9-10 cmpada wanita multipara. Berat uterus wanita yang pernah
melahirkan antara 50-70 gram sedangkan pada yang belum pernah
melahirkan beratnya 80 gram atau lebih.
Uterus terdiri atas:

1) Fundus uteri

5
Merupakan bagian uterus proksimal, disitu kedua tuba
falopi berinsersi ke uterus. Di dalam klinik penting diketahui
sampai dimana fundus uteri berada, oleh karena tuanya
kehamilan dapat di perkirakan dengan perabaan fundus uteri.

2) Korpus uteri
Merupakan bagian uterus yang terbesar. Rongga yang
terdapat pada korpus uteri disebut kavum uteri. Dinding korpus
uteri terdiri dari 3 lapisan: serosa, muskula dan mukosa.
Mempunyai fungsi utama sebagai perkembangan janin.

3) Servik uteri
Servik merupakan bagian uterus dengan fungsi khusus,
terletak di bawah isthmus. Servik memiliki serabut otot polos
namun terutama terdiri atas jaringan kolagen, ditambah
jaringan elastin serta pembuluh darah. Kelenjar ini berfungsi
mengeluarkan secret yang kental dan lengket dari kanalis
servikalis. Jika saluran kelenjar servik tersumbat dapat
berbentuk kista, retensi berdiameter beberapa millimeter yang
disebut sebagai folikel nabothian.
Secara histologik uterus terdiri atas:
a) Endometrium di korpus uteri dan endoservik di servik uteri
Merupakan bagian terdalam dari uterus yaitu lapisan
mukosa yang melapisi rongga uterus pada wanita yang tidak
hamil. Endometrium terdiri atas epitel kubik,kelenjar-
kelenjar dan jaringan dengan banyak pembuluh darah yang
berkeluk-keluk. Ukuran endometrium bervariasi yaitu 0,5
mm hingga 5 mm. Endometrium terdiri dari epitel
permukaan, kelenjar dan jaringan mesenkim antar kelenjar
yang di dalamnya banyak terdapat pembuluh darah.
Epitel permukaan endometrium terdiri dari satu
lapisan sel kolumner tinggi, bersilia dan tersusun rapat.
Kelenjar uterus berbentuk tubuler merupakan invaginasi

6
dari epitel, kelenjar ini menghasilkan cairan alkalis encer
yang berfungsi menjaga rongga uterus tetap lembab.

b) Miometrium
Miometrium merupakan jaringan pembentuk
sebagian besar uterus dan terdiri dari kumpulan otot polos
yang disatukan jaringan ikat dengan banyak serabut elastin
didalamnya. Menurut Schwalm dan Dubrauszky, 1966
banyaknya serabut otot pada uterus sedikit demi sedikit
berkurang kearah kaudal, sehingga pada servik otot hanya
merupakan 10% dari massa jaringan. Selama masa
kehamilan terutama melalui proses hipertrofi, miometrium
sangat membesar, namun tidak terjadi perubahan yang
berarti pada otot servik.

c) Lapisan serosa, yakni peritoneum visceral


Uterus sebenarnya terapung-apung dalam rongga
pelvis dengan jaringan ikat dan ligamentum yang
menyokongnya. Ligamentum yang memfiksasi uterus
adalah:
i) Ligamentum kardial sinistra at dextra (mackenrodt)
Yaitu ligamentum yang terpenting mencegah
suplay uterus tidak turun, terdiri atas jaringan ikat tebal
dan berjalan dari servik dan puncak vagina ke arah
lateral dinding pelvis. Di dalamnya ditemukan banyak
pembuluh darah antara lain vena dan arteri uteria.
ii) Ligamentum Sakro Uterinum Sinitra at Dextra
Yaitu ligamentum yang menahan uterus agar
tidak banyak bergerak, berjalan dari servik bagian
belakang, kiri dan kanan, kearah os sacrum kiri dan
kanan.
iii) Ligamentum Rotundum Sinistra at Dextra

7
Yaitu ligamentum yang menahan uterus dalam
antefleksi dan berjalan dari fundus uteri kiri dan kanan
ke daerah inguinal kiri dan kanan.

iv) Ligamentum Latum Sinistra at Dextra


Yaitu ligamentum yang meliputi tuba, berjalan
dari uterus ke arah sisi, tidak banyak mengandung
jaringan ikat. Di bagian dorsal ligamentum ini di
temukan indung telur (ovarium sinistra at dextra).
v) Ligamentum Infudibula Pelvicum
Yaitu ligamentum yang menahan tuba falopi
berjalan dari arah infidibulum ke dinding pelvis. Di
dalamnya terdapat urat-urat saraf, saluran-saluran limfe,
arteri dan vena ovarica.
Istmus adalah bagian uterus antara servik dan
korpus uteri diliputi oleh peritoneum visceral yang
mudah sekali digeser dari dasarnya atau digerakkan di
daerah plika vesiaka uteria.
Uterus diberi darah oleh arteri uterine sinistra at
dextra yang terdiri dari istmus asenden dan desenden.
Pembuluh darah yang lain yang memperdarahi uterus
adalah arteri ovarica sinistra at dextra. Inversasi uterus
terdiri atas system saraf simpatis, parasimpatis dan
serebrospinal. Yang dari system parasimpatis ini berada
dalam panggul di sebelah kiri dan kanan os sacrum,
berasal dari saraf sacral 2, 3, dan 4. Dan selanjutnya
memasuki pleksus frankenhauser. Yang dari system
simpatis masuk ke dalam rongga panggul sebagai
pleksus hipogastrikus melalui biforkasio aorta dan
promontorium terus ke bawah dan menuju pleksus
frankenhauser. Serabut saraf tersebut memberi inervasi
pada miometrium dan endometrium. Kedua system

8
simpatik dan prasimpatik mengandung unsure sensorik
dan motorik. Simpatik menimbulkan kontraksi dan
vasokonstriksi sedangkan parasimpatik mencegah
kontraksi dan menimbulkan vasodilatasi.
c. Tuba Falopi
Tuba falopi marupakan saluran ovum yang terentang antara
kornu uterine hingga suatu tempat di dekat ovarium dan merupakan
jalan ovum mencapai rongga uterus. Panjang tuba falopi antara 8-
14 cm, tuba tertutup oleh peritoneum dan lumennya dilapisi oleh
membrane mukosa.
Tuba falopi terdiri atas Pars interstisialis (bagian yang
terdapat di dinding uterus), Pars Ismika (merupakan bagian medial
tuba yang sempit seluruhnya), Pars Ampularis (bagian yang
terbentuk agak lebar, tempat konsepsi terjadi), Pars Infudibulum
(bagian ujung tuba yang terbuka kearah abdomen dan mempunyai
fimbria. Fimbria penting artinya bagi tuba untuk menangkap telur
dan kemudian menyalurkan ke dalam tuba).

Gambar 2.1 : Organ reproduksi interna wanita


d. Ovarium
Ovarium merupakan kelenjar berbentuk buah kenari
terletak di kiri dan kanan uterus, di bawah tuba uterine dan terikat

9
di sebelah belakang oleh ligamentum latum uterus. Setiap bulan
folikel berkembang dan sebuah ovum dilepaskan pada saat kira-
kira pertengahan (hari ke-14) siklus menstruasi. Ovulasi yaitu
pematangan folikel graaf dan mengeluarkan ovum. Bila folikel
graaf sobek, maka terjadi penggumpalan darah pada ruang folikel.
Ovarium mempunyai 3 fumgsi, yaitu : Memproduksi ovum,
Memproduksi hormone estrogen, Memproduksi hormone
progesterone.

Gambar 2.2 : Ovarium

Ovarium disebut juga indung telur, di dalam ovarium ini


terdapat jaringan bulbus dan tubulus yang menghasilkan telur
(ovum) dan ovarium ini hanya terdapat pada wanita, letaknya di
dalam pelvis di kiri kanan uterus, membentuk, mengembang serta
melepaskan ovum dan menimbulkan sifat-sifat kewanitaan,
misalnya : pelvis yang membesar, timbulnya siklus menstruasi.
Bentuk ovarium bulat telur beratnya 5-6 kg, bagian dalam
ovarium disebut medulla ovary di buat di jaringan ikat, jaringan
yang banyak mengandung kapiler darah dan serabut kapiler saraf,
bagian luar bernama korteks ovary, terdiri dari folikel-folikel yaitu
kantong-kantong kecil yang berdinding epithelium dan berisi
ovum.
Kelenjar ovarika terdapat pada ovarium di samping kiri dan
kanan uterus, menghasilkan hormon estrogen dan progesterone.
Hormon ini dapat mempengaruhi kerja dan mempengaruhi sifat-

10
sifat kewanitaan, misalnya panggul yang besar, panggul sempit dan
lain-lain.
Apabila folikel de graaf sobek, maka terjadi penggumpalan
darah di dalam rongga folikel dan sel yang berwarna kuning yang
berasal dari dinding folikel masuk dalam gumpalan itu dan
membentuk korpus luteum tumbuh terus sampai beberapa bulan
menjadi besar. Bila ovum tidak di buahi maka korpus luteum
bertahan hanya sampai 12-14 hari tepat sebelum masa menstruasi
berikutnya, korpus luteum menjadi atropi.
Siklus menstruasi, perubahan yang terjadi di dalam ovarium
dan uterus dimana masa menstruasi berlangsung kira-kira 5 hari,
selama masa ini epithelium permukaan dinding uterus terlepas dan
terjadi sedikit perdarahan.
Masa setelah menstruasi adalah masa perbaikan dan
pertumbuhan yang berlangsung 9 hari ketika selaput terlepas untuk
diperbaharui, tahap ini dikendalikan olen estrogen, sedangkan
pengendalian estrogen dikendallikan oleh FSH (Folikel Stimulating
Hormon) terjadi pada hari ke-14, kemudian disusul 14 hari tahap
sekretorik yang di kendalikan oleh progesterone.

2.3 Etiologi Kanker Ovarium

Penyebab kanker ovarium belum diketahui secara pasti. Faktor resiko


terjadinya kanker ovarium menurut Manuaba (2013) sebagai berikut.
1) Faktor lingkungan
Insiden terjadinya kanker ovarium umumnya terjadi di negara industri
2) Faktor reproduksi
a) Meningkatnya siklus ovulatori berhubungan dengan tingginya resiko
menderita kanker ovarium karena tidak sempurnanya perbaikan epitel
ovarium.
b) Induksi ovulasi dengan menggunakan clomiphene sitrat meningkatkan
resiko dua sampai tiga kali.

11
c) Kondisi yang dapat menurunkan frekuensi ovulasi dapat mengurangi
resiko terjadinya kanker.
d) Pemakaian pil KB menurunkan resiko hingga 50 % jika dikonsumsi
selama lima tahun atau lebih
e) Multiparitas, kelahiran multiple, riwayat pemberian ASI

3) Faktor genetik
a) 5-10 % adalah herediter
b) Angka resiko terbesar 5 % pada penderita satu saudara dan meningkat
menjadi 7 % bila memiliki dua saudara yang menderita kanker ovarium.

Etiologi menurut Nurarif & Kusuma (2015), faktor resiko terjadinya


kanker ovarium disebabkan oleh:

1. Diet tinggi lemak

Banyak penelitian yang telah menyatakan bahwa mengonsumsi makanan


yang tinggi lemak, gula, dan garam serta rendah serat bisa menyebabkan kanker
ovarium. Hal ini dibuktikan dalam sebuah penelitian yang dilakukan selama 4
tahun yang menyatakan bahwa konsumsi makanan yang rendah lemak ternyata
dapat menurunkan risiko kanker. Kelebihan lemak di dalam tubuh akan
memberikan dampak yang buruk yaitu dengan memproduksi hormon dan faktor
pertumbuhan yang mempengaruhi sel dalam bekerja. Beberapa mekanisme dari
hormon sehingga dapat meningkatkan risiko kanker yaitu :
1. Jaringan lemak memproduksi estrogen dalam jumlah yang banyak,
tingginya estrogen ini berhubungan dengan risiko kanker payudara, kanker
endometrium, dan beberapa kanker lainnya.
2. Pada orang obesitas sering memiliki insulin dan Insulin-like growth factor-
1 (IGF-1) di dalam darah dalam jumlah yang tinggi, dimana hal ini akan
memicu tumor.
3. Sel lemak akan memproduksi hormon, yang disebut adipokine, yang akan
menstimulasi atau menghambat pertumbuhan sel. Contohnya leptin, yang
jumlahnya meningkat pada orang obesitas, dan memiliki fungsi untuk

12
memicu pertumbuhan sel. Sedangkan adiponektin yang memiliki efek anti
pertumbuhan sel, jumlahnya menurun pada obesitas
4. Orang obesitas sering memiliki inflamasi yang kronis, yang berhubungan
dengan peningkatan risiko kanker

2. Merokok

Tidak perlu melakukan pembuktian lagi, mungkin semua orang setuju


bahwa merokok adalah salah satu penyebab utama dari kanker. Walaupun
merokok adalah penyebab utama dari kanker paru di dunia, tetapi kebiasaan ini
tetap saja bisa mengakibatkan berbagai jenis kanker, termasuk kanker ovarium
pada perempuan. Pernyataan ini dibuktikan oleh hasil penelitian yang dilakukan
pada 910 perempuan yang mengalami kanker ovarium.Di akhir penelitian
diketahui bahwa sebagian besar perempuan memiliki kebiasaan merokok, oleh
karena itu bisa disimpulkan bahwa merokok adalah salah satu faktor risiko yang
cukup mempengaruhi kejadian kanker ovarium.

3. Alkohol

Di dalam tubuh kita, alkohol (etanol) diubah menjadi bahan kimia beracun
bernama asetaldehida. Bahan kimia ini dapat menjadi penyebab kanker dengan
cara merusak DNA serta mencegah sel-sel kita untuk kerusakan tersebut. Badan
Internasional untuk Riset Kanker telah mengkategorikan asetaldehida yang
terbentuk tersebut sebagai dampak buruk dari minuman beralkohol yang
merupakan penyebab kanker. Etanol terutama diubah di dalam hati, tetapi banyak
dari jenis-jenis sel lain juga bisa melakukannya. Beberapa bakteri yang hidup di
dalam mulut kita dan di lapisan usus kita juga bisa mengubah etanol menjadi
asetaldehida.

4. Penggunaan bedak talk perineal

Bedak tabur talc terbuat dari talc, yaitu mineral yang mengandung
beberapa zat seperti magnesium, silikon, dan oksigen. Bubuk tabur tersebut dapat
berfungsi untuk melembabkan dan membantu mengurangi efek nyeri akibat

13
gesekan. Bedak ini sangat berguna untuk kulit kering dan membantu mencegah
terjadinya ruam. Talek sendiri dapat dijumpai pada beberapa produk kosmetik
seperti bedak tabur bayi, bedak untuk orang dewasa, lipstik, dan produk kosmetik
lainnya. Beberapa talc ternyata mengandung asbes (asbestos), senyawa yang
diketahui dapat menyebabkan kanker paru-paru jika terhirup oleh manusia.
Beberapa perempuan sering menaburkan bedak talek di sekitar area genital, hal
inilah yang akhirnya meningkatkan risiko kanker. Namun, kita tidak boleh
menyerap informasi begitu saja, sebab perlu kita ketahui bahwa tidak semua talc
mengandung asbes.

5. Riwayat kanker

Sebagian kecil kanker ovarium disebabkan oleh mutasi gen yang


diwariskan. Gen yang diketahui meningkatkan risiko kanker ovarium disebut gen
kanker payudara 1 (BRCA1) dan gen kanker payudara 2 (BRCA2). Gen ini
awalnya diidentifikasi dalam keluarga dengan beberapa kasus kanker payudara.
Mutasi ini juga meningkatkan risiko kanker ovarium secara signifikan.

6. Riwayat keluarga dengan kanker

Kanker ovarium bisa diturunkan dari keluarga. Maka risiko Mama untuk
mengidap kanker ovarium meningkat jika ibu, saudara perempuan, atau anak
perempuan sedang atau pernah mengalami kanker ovarium. Risikonya juga
meningkat jika ada lebih banyak keluarga yang mengalami penyakit yang sama.
Bahkan, risiko kanker ovarium juga bisa datang dari sisi keluarga ayah. Sekitar 5
sampai 10 persen kanker ovarium merupakan bagian dari sindrom kanker
keluarga yang dihasilkan oleh mutasi gen.

7. Nulipara dan steril

Kanker ovarium lebih banyak terjadi pada nulipara atau wanita steril.
Kehamilan tampaknya memiliki efek melawan kanker ovarium. Menurut
kedokteran, ovulasi yang setiap hari menyebabkan epitel ovarium rusak berulang
kali, ada hubungannya dengan kanker ovarium.

8. Menstruasi dini

14
Sebuah meta-analisis dari studi epidemiologi yang dilakukan oleh Gong
etal pada tahun 2013 menunjukan bahwa usia menarche (perdarahan pertama kali
yang berasal dari uterus yang terjadi pada sooeang wanita) berbnding terbalik
dengan kejadian kanker ovarium. Dalam penelitian tersebut juga disebutkan
bahwa pada “incessant ovulation theory” seorang wanita yang terlambat
mendapatkan mentruasi dapat menurunkan resiko kanker ovarium dengan
menurukan jumlah ovulasi yang terjadi di hidupnya. Meningkatnya siklus ovulasi
berhubungan dengan peningkatan resiko terjadinya kanker ovarium.

2.4 Klasifikasi Histologi Kanker Ovarium

Menurut Price & Wilson (2012), kanker ovarium belum ada


keseragamannya, namun belum ada perbedaan sifat yang begitu berarti. Kanker
ovarium dibagi dalam 3 kelompok besar sesuai dengan jaringan asal tumor yaitu
sebagai berikut.
1. Tumor-tumor epiteliel menyebabkan 60 % dari semua neoplasma ovarium
yang diklarifikasikan sebagai neoplasma jinak, perbatasan ganas, dan
ganas. Keganasan epitel yang paling sering adalah adenomakarsinoma
serosa
2. Tumor Stroma Gonad
Tumor ovarium stroma berasal dari jaringan penyokong ovarium yang
memproduksi hormon estrogen dan progesteron, jenis tumor ini jarang
ditemukan.
3. Tumor-tumor Sel Germinal
Tumor sel germinal berasal dari sel yang menghasilkan ovum, umumnya
tumor germinal adalah jinak meskipun beberapa menjadi ganas, bentuk
keganasan sel germinal adalah teratoma, disgermioma dan tumor sinus
endodermal.

15
16
2.5 Klasifikasi Stadium Kanker Ovarium

Menurut Prawirohardjo (2014), Klasifikasi stadium menurut FIGO


(Federation International de Gynecologis Obstetrics) 1988 sebagai berikut.
1. STADIUM I=> Pertumbuhan tumor terbatas pada ovarium
a. Stadium 1a : pertumbuhan tumor terbatas pada satu ovarium,
tidak terdapat sel kanker pada cairan asites atau pada bilasan
peritoneum, tidak ada pertumbuhan tumor pada permukaan
luar, kapsul utuh.
b. Stadium 1b : perumbuhan tumor terbatas pada kedua ovarium,
tidak terdapat sel kanker pada cairan asites atau pada bilasan
peritoneum , tidak ada tumor dipermukaan luar, kapsul utuh.
c. Stadium 1c : tumor terbatas pada satu atau dua ovarium dengan
satu dari tanda-tanda sebagai berikut : kapsul pecah, tumor
pada permukaan luar kapsul, sel kanker positif pada cairan
asites atau bilasan peritonium.
2. STADIUM II => pertumbuhan pada sel atau kedua ovarium dengan
perluasan kepanggul.
a. Stadium 2a : perluasan atau metastasis ke uterus dan atau tuba
fallopi. Tidak ada sel kanker di cairan asites atau bilasan
peritonium.
b. Stadium 2b : perluasan jaringan ke organ pelvis lainnya. Tidak
ada sel kanker di cairan asites atau bilasan peritonium.
c. Stadium 2c : tumor pada staduium 2a dan 2b tetapi pada tumor
dengan permukaan satu atau dua ovarium, kapsul pecah atau
dengan asitas yang mengandung sel ganas dengan bilasan
peritoneum positif.
3. STADIUM III => Tumor mengenai salah satu atau kedua ovarium
dengan metastasis ke peritoneum diluar pelvis atau retroperotoneal

17
positif. Tumor dalam pelvis kecil tetapi sel histology terbukti meluas
keusus besar atau omentum.
a. Stadium 3a : tumor terbatas pelvis kecil dengan kelenjar getah
bening negative tetapi secara histology dan dikomfirmasi
secara mikroskopis terdapat adanya pertumbuhan (seeding) di
permukaan peroineumabdominal,
b. Stadium 3b : tumor mrngenai salah satu atau salah dua ovarium
dengan implant dipermukaan pertoneum dan terbukti secara
milroskopis diameter melebih 2 cm,dan kelenjar getah bening
negative.
c. Stadium 3c : implant di abdomen dengan diameter > 2cm dan
kelenjar getah bening retroperitoneum.
4. STADIUM IV => Pertumbuhan mengenai dalah satu atau dua ovarium
dengan metastasis jauh di luar rongga peritoneum, bila terdapat efusi
pleura, maka cairan pleura mengandung sel kanker positif, termasuk
juga metastasis pada parenkim hati.

18
19
2.6 Manifestasi Klinis Kanker Ovarium

Kanker ovarium tidak menimbulkan gejala pada waktu yang lama. Gejala
umumnya sangat bervariasi dan tidak spesifik. Menurut Prawirohardjo (2014),
tanda dan gejala pada kanker ovarium ialah perut membesar/merasa adanya
tekanan, terjadinya dispareunia dan adanya peningkatan berat badan dikarenakan
adanya massa/asites.

Menurut Brunner & Suddarth (2015), di jelaskan beberapa dari gejala


yang timbul dari kanker ovarium adalah peningkatan yang terjadi di pada nyeri
punggung disebabkan adanya penumpukan cairan dan penyebaran tumor di perut
dan panggul, secara tidak langsung, jaringan-jaringan pada punggung bagian
bawah ikut terganggu dan menimbulkan rasa nyeri. konstipasi, nyeri abdomen,
perut kembung dampak dari menstruasi atau diet yang sedang dijalani. Padahal,
perut kembung akibat kanker ovarium cenderung tidak hilang dalam waktu yang

20
cukup lama. Peningkatan ukuran pinggang disebabkan oleh berlebihnya ukuran
atau over dari berat badan karna tidak terkontol. Urgensi kemih disebabkan terjadi
penekanan pada pelvis sehingga terjadi gangguan pada perkemihan.

2.7 Patofisiologis

Kanker ovarium disebabkan oleh zat-zat karsiogenik sehingga terjadi


tumor primer, dimana akan terjadi infiltrasi disekitar jaringan dan akan menjadi
implantasi. Implantasi merupakan ciri khas dari tumor ganas ovarium. Tumor
ganas ovarium diperkirakan sekitar 15-25% dari semua tumor ovarium. Dapat
ditemukan pada semua golongan umur, tetapi lebih sering pada usia 50 tahun ke
atas, pada masa reproduksi kira-kira separuh dari itu dan pada usia lebih muda
jarang ditemukan. Faktor predisposisi ialah tumor ovarium jinak. Pertumbuhan
tumor diikuti oleh infiltrasi, jaringan sekitar yang menyebabkan berbagai keluhan
samar-samar. Kecenderungan untuk melakukan implantasi dirongga perut
merupakan ciri khas suatu tumor ganas ovarium yang menghasilkan asites
(Brunner dan Suddarth, 2015).
Resiko berkembangnya kanker ovarium berkaitan dengan faktor
lingkungan, reproduksi dan genetik. Faktor-faktor lingkungan yang berkaitan
dengan kanker ovarium epiteliel terus menjadi subjek perdebatan dan
penelitian. Insiden tertinggi terjadi di industri barat. Kebiasaan makan, kopi dan
merokok, adanya asbestos dalam lingkungan, tidak hamil dan penggunaan bedak
talek pada daerah vagina, semua itu di anggap mungkin menyebabkan kanker.
Kanker ovarium bermetastasis dengan invasi langsung struktur yang berdekatan
dengan abdomen dan pelvis. Sel-sel ini mengikuti sirkulasi alami cairan peritoneal
sehingga implantasi dan pertumbuhan. Keganasan selanjutnya dapat timbul pada
semua permukaan intraperitoneal. Limfasik yang disalurkan ke ovarium juga
merupakan jalur untuk penyebaran sel-sel ganas. Semua kelenjer pada pelvis dan
kavum abdominal pada akhirnya akan terkena. Penyebaran awal kanker ovarium
dengan jalur intraperitoneal dan limfatik muncul tanpa gejala atau tanda
spesifik(Williams & Wilkins 2014)
Gejala tidak pasti akan muncul seiring dengan waktu adalah perasaan
berat pada pelvis, sering berkemih, dan disuria, dan perubahan gastrointestinal,

21
seperti rasa penuh, mual, tidak enak pada perut, cepat kenyang, dan konstipasi.
Pada beberapa perempuan dapat terjadi perdarahan abnormal vagina sekunder
akibat hiperplasia endometrium bila tumor menghasilkan estrogen, beberapa
tumor menghasilkan testosteron dan menyebabkan virilisasi. Gejala-gejala
keadaan akut pada abdomen dapat timbul mendadak bila terdapat perdarahan
dalam tumor, ruptur, atau torsi ovarium. Namun, tumor ovarium paling sering
terdeteksi selama pemeriksaan pelvis rutin (Price & Wilson. 2012).
Lima persen dari seluruh neoplasma ovarium adalah tumor stroma gonad;
2 % dari jumlah ini menjadi keganasan ovarium. WHO (World Health Organ-
ization), mengklarifikasikan neoplasma ovarium ke dalam lima jenis dengan
subbagian yang multipel. Dari semua neoplasma ovarium, 25 %hingga 33 %
tardiri dari kista dermoid ; 1 % kanker ovarium berkembang dari bagian kista
dermoid. Eksisi bedah adalah pengobatan primer untuk semua tumor ovarium,
dengan tindak lanjut yang sesuai, tumor apa pun dapat ditentukan bila ganas.

22
2.8 Pathway Kanker Ovarium

23
Penatalaksanaan

Pembedahan Biopsi Second look Kemoterapi Penanganan lanjut


Laparotomi

Sumber : Prawirohardjo (2014), Williams & Wilkins (2014), Nur Arif & Kusuma (2015), Price & Wilson (2012)

24
25
2.9 Respon Tubuh terhadap Fisiologis

1) Sistem gastrointestinal
Pada pasien kanker ovarium untuk stadium lanjut, kanker tersebut
menginvasi ke organ lambung atau pembesaran massa yang disertai
asites akan menekan lambung sehingga menimbulkan gejala
gastrointestinal seperti nyeri ulu hati, kembung, anoreksia, dan
intoleransi terhadap makanan. Dari abdomen, cairan yang mengandung
sel-sel ganas melalui saluran limfe menuju pleura, sehingga
menyebabkan efulsi pleura.

2) Sistem perkemihan
Pada stadium lanjut, kanker ovarium telah bermetastase ke organ lain
salah satunya ke saluran perkemihan. Pembesaran massa terjadi
penekanan pada pelvis sehingga terjadi gangguan pada perkemihan
seperti susah buang air kecil atau urgensi kemih.

3) Sistem endokrin
Pada sistem endokrin salah satu hati akan terjadi penekanan oleh massa
yang semakin membesar. Awalnya terjadi gangguan metabolisme di hati,
netralisir racun di hati terjadi penurunan, terjadi penumpukan toksik atau
racun di tubuh sehingga sistem imun tubuh menurun sehingga
menimbulkan gejala kelelahan.
(Reeder, dkk. 2013)

Komplikasi lain yang dapat disebabkan pengobatan adalah :

a. Infertilitas adalah akibat dari pembedahan pada pasien menopause

b. Mual, muntah dan supresi sumsum tulang akibat kemoterapi. Dapat


juga muncul maaslah potensial ototoksik, nefroktoksik, neurotoksis

c. Penyakit berulang yang tidak terkontrol dikaitkan dengan obstruksi


usus, asites fistula dan edema ekstremitas bawah.

26
2.10 Pemeriksaan Diagnostik Kanker Ovarium

Sebagian besar kanker ovarium bermula dari suatu kista. Oleh karena itu,
apabila pada seorang wanita ditemukan suatu kista ovarium harus dilakukan
pemeriksaan lebih lanjut untuk menentukan apakah kista tersebut bersifat jinak
atau ganas (kanker ovarium). Pemeriksaan diagnostik menurut Brunner (2015),
sebagai berikut.

1) Ultrasonografi transvagina dan pemeriksaan antigen CA-125 sangat


bermanfaat untuk wanita yang beresiko tinggi
2) Pemeriksaan praoperasi dapat mencakup enema barium atau
kolonoskopi, serangkaian pemeriksaan GI atas, MRI, foto ronsen dada,
urografi IV, dan pemindaian CT.Scan.

2.11 Penatalaksanaan Kanker Ovarium

1) Pembedahan

Merupakan pilihan utama, luasnya prosedur pembedahan ditentukan

oleh insiden dan seringnya penyebaran ke sebelah yang lain (bilateral)

dan kecenderungan untuk menginvasi korpus uteri.

2) Biopsi

Dilakukan di beberapa tempat yaitu omentum, kelenjar getah lambung,

untuk mendukung pembedahan.

3) Second look Laparotomi

Untuk memastikan pemasantan secara radioterapi atau kemoterapi

lazim dilakukan laparotomi kedua bahkan sampai ketiga.

4) Kemoterapi

Merupakan salah satu terapi yang sudah diakui untuk penanganan

tumor ganas ovarium. Sejumlah obat sitestatika telah digunakan

27
termasuk agens alkylating seperti itu (cyclophasphamide, chlorambucil)

anti metabolic seperti : Mtx / metrotrex xate dan 5 fluorouracit /

antibiotikal (admisin).

5) Penanganan lanjut

a. Sampai satu tahun setelah penanganan, setiap 2 bulan sekali

b. Sampai 3 bulan setelah penanganan, setiap 4 bulan

c. Sampai 5 tahun penanganan, setiap 6 bulan

d. Seterusnya tiap 1 tahun sekali

Menurut Reeder, dkk (2013), asuhan keperawatan terdiri atas pendidikan


kesehatan, dukungan fisik dan emosi selama prosedur tindakan, dan dukungan
emosi untuk mengatasi kecemasan dan ketakutan. Selama hospitalisasi, perawat
melakukan pemantauan fisiologis dan prosedur teknis, serta memberikan tindakan
kenyamanan. Perawat memberikan dukungan untuk membantu keluarga
berkoping dan menyesuaikan diri, memberi kesempatan untuk menceritakan dan
mengatasi rasa takut, serta membantu mengoordinasikan sumber dukungan bagi
keluarga dan proses pemulihan. Selama memberi perawatan, perawat membantu
klien dan keluarga untuk mengklarifikasi nilai dan dukungan spritual serta
menemukan kekuatan pribadi untuk digunakan sebagai koping. Wanita dan
keluarga diharapkan mampu melalui fase berduka dan kehilangan saat
menghadapi penyakit yang mengancam jiwa.

Apabila pasien menderita penyakit terminal, alternatif asuhan, seperti


hospice care, perawatan di rumah, dan fasilitas asuhan multilevel yang dapat
mendukung kualitas kehidupan dan kematian yang damai mulai digali. Alternatif
ini meningkatkan fungsi selama mungkin, meredakan nyeri, mendorong interaksi
dengan orang yang dcintai, dan memberikan dukungan emosional dan spritual.

28
BAB III

ASUHAN KEPERAWATAN PADA PASIEN DENGAN KANKER


OVARIUM

1. Pengkajian Keperawatan Pada Pasien dengan Kanker Ovarium


a. Anamnesis

1) Identitas pasien
meliputi nama lengkap, tempat tinggal, jenis kelamin, tanggal lahir, umur
tempat lahir, asal suku bangsa, nama orang tua, dan pekerjaan orang tua.
Keganasan kanker ovarium sering dijumpai pada usia sebelum menarche
atau di atas 45 tahun (Manuaba, 2010).

2) Riwayat Kesehatan
a) Keluhan Utama
Biasanya mengalami perdarahan abnormal atau menorrhagia pada
wanita usia subur atau wanita diatas usia 50 tahun / menopause untuk
stadium awal. Pada stadium lanjut akan mengalami pembesaran massa
yang disertai asites (Reeder, dkk. 2013).
b) Riwayat kesehatan sekarang menurut Williams (2011) yaitu :
(1) Gejala kembung, nyeri pada abdomen atau pelvis, kesulitan makan
atau merasa cepat kenyang dan gejala perkemihan kemungkinan
menetap.
(2) Pada stadium lanjut sering berkemih, konstipasi, ketidaknyamanan
pelvis, distensi abdomen, penurunan berat badan dan nyeri pada
abdomen.

c) Riwayat kesehatan dahulu


Riwayat kesehatan dahulu pernah memiliki kanker kolon, kanker
payudara dan kanker endometrium (Reeder, dkk. 2013).

d) Riwayat kesehatan keluarga


Riwayat kesehatan keluarga yang pernah mengalami kanker payudara
dan kanker ovarium yang beresiko 50 % (Reeder, dkk. 2013).

29
e) Riwayat haid/status ginekologi
Biasanya akan mengalami nyeri hebat pada saat menstruasi dan terjadi
gangguan siklus menstruasi.
f) Riwayat obstetri
Biasanya wanita yang tidak memiliki anak karena ketidakseimbangan
sistem hormonal dan wanita yang melahirkan anak pertama di usia
>35 tahun.
g) Data keluarga berencana
Biasanya wanita tersebut tidak menggunakan kontrasepsi oral
sementara karena kontrasepsi oral bisa menurunkan risiko ke kanker
ovarium yang ganas (Reeder, dkk. 2013).
h) Data psikologis
Biasanya wanita setelah mengetahui penyakitnya akan merasa cemas,
putus asa, menarik diri dan gangguan seksualitas (Reeder, dkk. 2013).
i) Data aktivitas/istirahat
Pasien biasanya mengalami gejala kelelahan dan terganggu aktivitas
dan istirahat karena mengalami nyeri dan ansietas.
j) Data sirkulasi
Pasien biasanya akan mengalami tekanan darah tinggi karena cemas.
k) Data eliminasi
Pasien biasanya akan terganggu BAK akibat perbesaran massa yang
menekan pelvis.
l) Data makanan/cairan
Biasanya pasien tidak mengalami gangguan dalam nutrisi tetapi kalau
dibiarkan maka akan mengalami pembesaran lingkar abdomen
sehingga akan mengalami gangguan gastrointestinal.
m) Data nyeri/kenyamanan
Pasien biasanya mengalami nyeri karena penekanan pada pelvis.
n) Pemeriksaan fisik
(1) Kesadaran
Kesadaran pasien tergantung kepada keadaan pasien, biasanya

30
pasien sadar, tekanan darah meningkat dan nadi meningkat dan
pernafasan dyspnea.
(2) Kepala dan rambut
Tidak ada gangguan yaitu simetris, tidak ada benjolan, tidak ada
hematom dan rambut tidak rontok.
(3) Telinga
Simetris kiri dan kanan, tidak ada gangguan pendengaran dan
tidak ada lesi.
(4) Wajah
Pada mata konjungtiva tidak anemis, sklera tidak ikterik, reflek
pupil +/+, pada hidung tidak ada pernapasan cuping hidung,
pada mulut dan gigi mukosa tidak pucat dan tidak ada sariawan.
(5) Leher
Tidak ada pembendungan vena jugularis dan pembesaran
kelenjer tiroid.
(6) Thoraks
Tidak ada pergerakan otot diafragma, gerakan dada simetris.
(7) Paru-paru
(a) Inspeksi
Pernapasan dyspnea, tidak ada tarikan dinding dada.
(b) Palpasi
Fremitus kiri dan kanan sama.
(c) Perkusi
Suara ketok sonor, suara tambahan tidak ada.
(d) Auskultasi Vesikuler.
8) Jantung
Pada pasien kanker ovarium biasanya tidak ada mengalami
masalah pada saat pemeriksaan di jantung.
(a) Inspeksi
Umumnya pada saat inspeksi, Ictus cordis tidak terlihat.
(b) Palpasi
Pada pemeriksaan palpasi Ictus cordis teraba.

31
(c) Perkusi Pekak.
(d) Auskultasi
Bunyi jantung S1 dan S2 normal. Bunyi jantung S1 adalah
penutupan bersamaan katup mitral dan trikuspidalis. Bunyi
jantung S2 adalah penutupan katup aorta dan pulmanalis
secara bersamaan.
9) Payudara/mamae
Simetris kiri dan kanan, aerola mamae hiperpigmentasi, papila
mamae menonjol, dan tidak ada pembengkakan.
10) Abdomen
(a) Inspeksi
Pada stadium awal kanker ovarium, belum adanya
perbesaran massa, sedangkan pada stadium lanjut kanker
ovarium, akan terlihat adanya asites dan perbesaran massa
di abdomen.
(b) Palpasi
Pada stadium awal kanker ovarium, belum adanya
perbesaran massa, sedangkan pada stadium lanjut kanker
ovarium, di raba akan terasa seperti karet atau batu massa di
abdomen.
(c) Perkusi
Hasilnya suara hipertympani karena adanya massa atau
asites yang telah bermetastase ke organ lain
(d) Auskultasi
Bising usus normal yaitu 5- 30 kali/menit
11) Genitalia
Pada beberapa kasus akan mengalami perdarahan abnormal
akibat hiperplasia dan hormon siklus menstruasi yang
terganggu. Pada stadium lanjut akan dijumpai tidak ada haid
lagi.
12) Ekstremitas

32
Tidak ada udema, tidak ada luka dan CRT kembali < 2 detik.
Pada stadium lanjut akan ditandai dengan kaki udema.
(Reeder, dkk. 2013).

Pemeriksaan penunjang
1) Pemeriksaan laboratorium
Menurut Ritu Salani (2011) yang harus dilakukan pada pasien
kanker ovarium yaitu :
(a) Uji asam deoksiribonukleat mengindikasikan mutasi gen yang
abnormal
(b) Penanda atau memastikan tumor menunjukkan antigen karsinoma
ovarium, antigen karsinoembrionik, dan HCG menunjukkan
abnormal atau menurun yang mengarah ke komplikasi.
2) Pencitraan
USG abdomen, CT scan, atau ronsen menunjukkan ukuran tumor.
Pada stadium awal tumor berada di ovarium, stadium II sudah
menyebar ke rongga panggul, stadium III sudah menyebar ke
abdomen, dan stadium IV sudah menyebar ke organ lain seperti hati,
paru-paru, dan gastrointestinal.
3) Prosedur diagnostik
Aspirasi cairan asites dapat menunjukkan sel yang tidak khas. Pada
stadium III kanker ovarium cairan asites positif sel kanker.
4) Pemeriksaan lain
Laparastomi ekspolasi termasuk evaluasi nodus limfe dan reseksi
tumor, dibutuhkan untuk diagnosis yang akurat dan penetapan
stadium berapa kanker ovarium tersebut.

2. Diagnosis Keperawatan yang Mungkin Muncul


Adapun diagnosis keperawatan yang mungkin muncul pada klien kanker
ovarium menurut adalah sebagai berikut :
1) Pre operasi
a. Nyeri akut berhubungan dengan kompresi serabut saraf.

33
b. Risiko hipovolemia berhubungan dengan perdarahan
c. Konstipasi berhubungan dengan tumor.
d. Gangguan eliminasi urine berhubungan dengan penekanan pelvis.
e. Pola nafas tidak efektif berhubungan dengan penekanan
diafragma.
f. Defisit nutrisi berhubungan dengan faktor biologis.
g. Gangguan mobilitas fisik berhubungan dengan penurunan ketahanan
tubuh.
h. Intoleransi aktivitas berhubungan dengan kelemahan umum, tirah
baring.
i. Ansietas berhubungan dengan kurang informasi mengenai prosedur
pengobatan.
j. Defisit Pengetahuan
2) Post operasi :
a. Resiko infeksi berhubungan dengan tindakan pembedahan.
b. Kerusakan integritas kulit berhubungan dengan cedera kulit.
c. Disfungsi seksual berhubungan dengan gangguan struktur tubuh.
d. Gangguan citra tubuh berhubungan dengan program pengobatan

(Nurarif & Kusuma (2015))

34
3. Rencana Keperawatan

a. Pre-operasi

Diagnosa keperawatan NOC NIC

Nyeri akut Setelah dilakukan Manajemen Nyeri


berhubungan dengan tindakan keperawatan,
1) Lakukan pengkajian nyeri
pasien mampu
kompresi serabut saraf komprehensif yang meliputi
mengontrol nyeri dengan
Defenisi : pengalaman kriteria hasil : lokasi, karakteristik,
1) Mengenali kapan onset/durasi, frekuensi,
sensori dan emosional
nyeri terjadi kualitas, intensitas atau
tidak menyenangkan yang beratnya nyeri dan faktor
2) Menggambarkan
muncul akibat kerusakan faktor penyebab pencetus
3) Melaporkan 2) Observasi adanya petunjuk
jaringan aktual atau
perubahan terhdap nonverbal mengenai
potensial atau yang ketidaknyamanan terutama
gejala nyeri pda
digambarkan sebagai profesional pada mereka yang tidak dapat
kesehatan berkomunikasi secara efektif
kerusakan.
4) Mengenali apa yang 3) Pastikan perawatan analgesik
Batasan Karaktreristik : terkait dengan bagi pasien dilakukan dengan
gejala nyeri pemantauan yang ketat
1) Bukti nyeri dengan 5) Melaporkan nyeri 4) Gunakan strategi komunikasi
yang terkontrol terapeutik
menggunakan standar
5) Gali pengetahuan dan
periksa nyeri untuk kepercayaan pasien mengenai
pasien yang tidak nyeri
6) Gali bersama pasien faktor-
mengungkapkannya
faktor yang dapat
2) Fokus menyempit menurunkan atau
3) Fokus pada diri sendiri memperberat nyeri
7) Berikan informasi mengenai
4) Keluhan tentang
nyeri seperti penyebab nyeri,
intensitas mengguna- berapa lama nyeri akan
kan standar skala nyeri dirasakan, dan antisipasi dari
5) Laporan tentang
ketidaknyamanan akibat
prosedur
perilaku nyeri/ 8) Ajarkan prinsip-prinsip
perubahan aktifitas manajemen nyeri
6) Mengekspresikan 9) Ajarkan penggunaan teknik
non farmakologi (terapi
perilaku
relaksasi)

35
7) Perubahan selera 10) Dorong pasien untuk
makan memonitor nyeri dan
menangani nyerinya dengan
8) Putus asa
tepat
9) Sikap melindungi area 11) Evaluasi keefektifan dari
nyeri tindakan pengontrol nyeri
yang dipakai selama
10) Sikap tubuh
pengkajian nyeri dilakukan
melindungi 12) Dukung istirahat/tidur yang
adekuat untuk membantu
penurunan nyeri.

Konstipasi Setelah dilakukan Manajemen Saluran Cerna


berhubungan dengan tindakan keperawatan,
tumor pasien tidak mengalami 1) Catat tanggal buang air besar
gangguan eliminasi terakhir
Defenisi : penurunan dengan kriteria hasil : 2) Monitor BAB termasuk
frekuensi normal defekasi 1) Pola eliminasi teratur frekuensi, konsistensi,
yang disertai kesulitan 2) Warna feses normal bentuk, volume dan warna
atau pengeluaran feses 3) Kemudahan dalam 3) Monitor bising usus
tidak tuntas atau feses BAB 4) Catat masalah BAB yang
yang keras, kering, dan 4) Pengeluaran feses sudah ada sebelumnya
banyak. tanpa bantuan 5) Ajarkan pasien mengenai
5) Suara bising usus makanan makanan tertentu
Batasan Karakteristik : normal 6) Masukkan suppositoria rektal
1) Anoreksia 7) Intruksikan pasien mengenai
2) Adanya feses lunak, makanan tinggi serat.
seperti pesta di dalam
rektum
3) Bising usus hiperaktif
4) Bising usus hipoaktif
5) Darah merah pada
feses
6) Distensi abdomen
7) Feses cair
8) Feses keras dan
berbentuk
9) Keletihan umum
10) Massa abdomen yang
dapatdiraba
11) Mual
12) Muntah

36
13) Nyeri abdomen
14) Nyeri pada
saatdefekasi
15) Nyeri tekan abdomen
dengan teraba resistensi
otot

Gangguan eliminasi Setelah dilakukan Perawatan Retensi Urin


urine berhubungan tindakan keperawatan, 1) Lakukan pengkajian
dengan penekanan pasien tidak mengalami komprehensif sistem
pelvis gangguan perkemihan
eliminasi urin dengan 2) Monitor efek dari obat-obat
Defenisi : disfungsi kriteria hasil : yang diresepkan
eliminasi urin 1) Pola eliminasi baik 3) Pasang kateter urin sesuai
Batasasan Karakteristik : 2) Bau urine, jumlah kebutuhan
1) Anyang-anyangan urine, warna urine, 4) Anjurkan pasien/keluarga
2) Disuria kejernihan urine untuk mencatat urin output,
3) Dorongan berkemih normal sesuai kebutuhan
4) Inkontinensia 3) Mengosongkan 5) Monitor intake dan output
5) Inkontinensia urin kantong kemih
6) Nokturia sepenuhnya Monitor Cairan
7) Retensi urin 4) Mengenali keinginan 6) Tentukan jumlah dan jenis
8) Sering berkemih untuk berkemih intake/asupan cairan serta
kebiasaan eliminasi
7) Tentuakn faktor-faktor resiko
yang mungkin menyebabkan
ketidakseimbangan cairan
8) Tentukan apakah pasien
mengalami kehausan atau
gejala perubahan cairan
9) Periksa turgor kulit
10) Monitor berat badan
11) Monitor asupan dan
pengeluaran
12) Monitor membran mukosa,
turgor kulit, dan respon
haus
13) Monitor warna, kuantitas,
dan berat jenis urin
14) Monitor tanda dan gejala
asites

Ketidakefektifan pola Setelah dilakukan Manajemen Jalan Nafas

37
nafas berhubungan tindakan keperawatan, 1) Posisikan pasien untuk
dengan penekanan status pernafasan pasien memaksimalkan ventilasi
diafragma normal dengan 2) Motivasi pasien untuk
kriteria hasil : bernafas pelan
Defenisi : inspirasi dan 1)Frekuensi pernafasan 3) Monitor status pernafasan
atau ekspirasi yang tidak normal dan oksigenasi
memberi ventilasi adekuat 2)Irama pernafasan
normal Manajemen Ventilasi
Batasan Karakteristik : 3)Kedalaman inspirasi Mekanik : Invasif
1) Bradipnea normal 4) Monitor kondisi yang
2) Dispnea 4)Suara auskultasi mengindikasikan perlunya
3) Fase ekspirasi normal dukungan ventilasi
memanjang 5)Kepatenan jalan nafas 5) Monitor apakah terdapat
4) Ortopnea baik gagal nafas
5) Penggunaan otot bantu 6) Mulai teknik relaksasi
pernapasan Bantuan Ventilasi
6) Peningkatan diameter
anterior 7) Pertahankan kepatenan jalan
posterior nafas
7) Penurunan kapasitas 8) Posisikan pasien untuk
vital mengurangi dyspnea
8) Penurunan tekanan 9) Ajarkan teknik pernapasan
ekspirasi dengan tepat
9) Penurunan tekanan 10) Monitor pernapasan
inspirasi
10) Penurunan ventilasi
semenit
11) Pernapasan bibir
12) Pernapasan cuping
hidung
13) Perubahan ekskursi
dada
14) Pola nafas abnormal
15) Takipnea

Ketidakseimbangan Setelah dilakukan 1) Kolaborasi dengan tim


nutrisi kurang dari tindakan keperawatan, kesehatan lain untuk
nafsu makan pasien mengembangkan rencana
kebutuhan tubuh
baik dengan kriteria perawatan dengan melibatkan
berhubungan dengan hasil : klien dan orang-orang
faktor biologis 1) Hasrat atau terdekatnya dengan tepat
keinginan untuk 2) Rundingkan dengan tim dan

38
Defenisi : asupan nutrisi makan ada klien untuk mengatur target
tidak cukup untuk 2) Pasien menyenangi pencapaian berat badan jika
makanan berat badan klien tidak
memenuhi kebutuhan
3) Pasien merasakan berada dalam rentang normal
metabolik makanan 3) Rundingkan dengan ahli gizi
4) Energi untuk makan dalam menentukan asupan
ada kalori harian yang diperlukan
Batasan Karakteristik :
5) Intake makanan 4) Dorong klien untuk
1) Berat badan 20 % atau teratur mendiskusikan makanan
lebih dari bawah rentang 6) Intake nutrisi teratur yang disukai bersama ahli
7) Intake cairan teratur gizi
berat badan ideal
8) Rangsangan untuk 5) Timbang berat badan klien
2) Bising usus hiperaktif makan ada 6) Monitor intake/asupan dan
3) Cepat kenyang setelah asupan cairan secara tepat
makan 7) Monitor asupan kalori
makanan harian
4) Diare 8) Batasi makanan sesuai
5) Gangguan sensasi rasa dengan jadwal
6) Kehilangan rambut 9) Observasi klien selama dan
setelah pemberian makan/
berlebihan
makanan ringan untuk
7) Kelemahan otot meyakinkan bahwa asupan
pengunyah makanan yang cukup tercapai
dan dipertahankan
8) Kelemahan otot untuk
10) Beri dukungan misalnya
menelan terapi relaksasi
9) Kerapuhan kapiler 11) Batasi aktivitas fisik sesuai
kebutuhan untuk
10) Kesalahan informasi
meningkatkan berat badan
11) Kesalahan persepsi 12) Monitor berat badan klien
12) Ketidakmampuan sesuai secara rutin
memakan makanan
13) Kram abdomen
14) Kurang minat pada
makanan

Intoleransi Aktivitas Setelah dilakukan Bantuan Perawatan Diri


berhubungan dengan tindakan keperawatan, 1) Pertimbangkan usia pasien
imobilitas, daya tahan pasien ketika meningkatkan aktivitas
ketidakseimbangan meningkat dengan 2) Monitor kemampuan diri
antara suplai dan kriteria hasil : secara mandiri

39
kebutuhan oksigen, dan 1. Pasien rutin 3) Monitor kebutuhan pasien
tirah baring melakukan aktivitas terkait dengan alat-alat
2. Aktivitas fisik tidak kebersihan
Batasan karakteristik : terganggu 4) Berikan lingkungan yang
1) Dispnea setelah 3. Konsentrasi pasien terapeutik
beraktivitas tidak terganggu 5) Berikan peralatan kebersihan
2) Keletihan 4. Tidak terganggu pribadi
3) Ketidaknyamanan pemulihan energi setelah 6) Berikan bantuan pasien
setelah aktivitas sampai pasien mampu
beraktivitas 5. Hemoglobin normal melakukan perawatan diri
4) Perubahan 6. Hematokrit normal mandiri
elekrokardiogram 7) Dorong pasien untuk
(EKG) melakukan aktivitas normal
5) Respons frekuensi sehari-hari
jantung 8) Ciptakan rutinitas aktivitas
abnormal terhadap perawatan
aktivitas diri
6) Respons tekanan darah
abnormal
terhadap aktivitas

2. Post-operasi

Diagnosa keperawatan NOC NIC

Risiko infeksi Setelah dilakukan tindakan Kontrol Infeksi


berhubungan dengan keperawatan, pasien
tindakan pembedahan mampu mengontrol resiko 1) Bersihkan lingkungan
proses infeksi dengan dengan baik setelah
kriteria hasil : dilakukan untuk setiap
Defenisi : rentan pasien
mengalami invasi dan 1) Mengidentifikasi faktor 2) Batasi jumlah
multiplikasi organisme resiko infeksi pengunjung
patogenik yang dapat 3) Ajarkan cara cuci
mengganggu kesehatan 2) Mengenali faktor resiko tangan bagi tenaga
individu terkait infeksi kesehatan
Batasan Karakteristik : 3) Mengetahui perilaku 4) Anjurkan pasien
1) kurang pengetahuan yang berhubungan mengenai teknik

40
untuk menghindari dengan resiko infeksi mencuci tangan dengan
pemajanan tepat
2) malnutrisi 4) Mengidentifikasi tanda 5) Anjurkan pengunjung
3) gangguan integritas kulit dan gejala infeksi untuk mencuci tangan
4) prosedur invasif 5) Memonitor perilaku diri pada saat memasuki
5) perubahan pH sekresi yang berhubungan dan meninggalkan
dengan resiko infeksi ruangan pasien
6) Gunakan sabun
6) Memonitor faktor di antimikroba
lingkungan yang 7) Cuci tangan sebelum
berhubungan dengan dan sesudah kegiatan
resiko infeksi perawatan pasien
8) Lakukan tindakan-
7) Mencuci tangan
tindakan pencegahan
8) Mempertahankan yang bersifat universal
lingkungan yang bersih 9) Pakai sarung tangan
steril dengan tepat
10) Pastikan teknik
perawatan luka yang
tepat
11) Berikan terapi
antibiotik yang sesuai
12) Ajarkan pasien dan
keluarga mengenai
tanda dan gejala infeksi
13) Ajarkan pasien dan
keluarga mengenai
bagaimana
menghindari infeksi

Kerusakan integritas Setelah dilakukan tindakan Perawatan Luka


kulit berhubungan keperawatan, 1) Angkat balutan dan
dengan cedera kulit pasien mampu plester perekat
mempertahankan kondisi 2) Ukur luas luka
Defenisi : kerusakan pada kulit dengan kriteria hasil : 3) Berikan rawatan insisi
epidermis dan atau dermis 1) Suhu kulit normal pada luka
2) Elastisitas dan 4) Berikan balutan yang
Batasan Karakteristik : kelembaban kulit dapat sesuai jenis luka
1) Benda asing menusuk di pertahankan 5) Ganti balutan sesuai
permukaan kulit 3) Perfusi jaringan baik dengan jumlah eksudat
2) Kerusakan integritas 4) Mampu melindungi kulit dan drainase
kulit dan perawatan alami 6) Periksa luka setiap kali

41
perubahan balutan
7) Bandingkan dan catat
setiap perubahan luka
8) Anjurkan pasien dan
anggota keluarga untuk
mengenal tanda dan gejala
infeksi
9) Dokumentasikan lokasi
luka, ukuran, dan tampilan

Disfungsi seksual Setelah dilakukan tindakan Manajemen Obat


berhubungan dengan keperawatan, 1) Tentukan obat apa yang
gangguan struktur tubuh status kesehatan baik diperlukan, dan kelola
dengan kriteria menurut resep
hasil : 2) Tentukan kemampuan
Defenisi : suatu kondisi
1) Mengenali realita situasi pasien untuk mengobati
ketika individu mengalami
kesehatan diri sendiri dengan cara
suatu perubahan fungsi
2) Melaporkan harga diri yang tepat
seksual selama fase respons
yang positif 3) Monitor efektifitas cara
seksual berupa hasrat,
3) Mempertahankan pemberian obat yang
terangsang, dan atau
hubungan sesuai
orgasme, yang dipandang
4) Menyesuaikan 4) Monitor efek samping
tidak memuaskan, tidak
perubahan dalam status obat
bermakna atau tidak
kesehatan
adekuat Peningkatan harga diri
5) Mencari informasi 5) Monitor pernyataan
Batasan Karakteristik : tentang kesehatan pasien mengenai harga
1) Gangguan aktivitas 6) Melaporkan perasaan diri
seksual berharga dalam hidup 6) Bantu pasien untuk
2) Gangguan eksitasi penerimaan diri
seksual 7) Jangan mengkritisi
3) Gangguan kepuasan pasien secara negatif
seksual 8) Sampaikan/ungkapkan
4) Merasakan keterbatasan kepercayaan diri pasien
seksual dalam mengatasi situasi
5) Penurunan hasrat seksual 9) Berikan hadiah atau
6) Perubahan minat pujian
terhadap diri sendiri 10) Fasilitas lingkungan dan
7) Perubahan minat aktivitas-aktivitas yang
terhadap orang lain akan meningkatkan
8) Perubahan peran seksual harga diri
11) Monitor tingkat harga
diri dari waktu ke

42
waktu dengan tepat

Gangguan citra tubuh Setelah dilakukan tindakan 1) pasien mampu


berhubungan dengan keperawatan, pasien beradaptasi terhadap diri
mampu beradaptasi 2) Tentukan kepercayaan
program pengobatan
terhadap disabilitas fisik diri pasien dalam hal
dengan kriteria hasil : penilaian diri
Defenisi : konfunsi dalam 1) Menyampaikan secara 3) Bantu pasien
lisan kemampuan untuk mengidentifikasi respon
gambaran mental lantang
menyesuaikan terhadap positif dari orang lain
diri fisik individu disabilitas 4) Eksplorasi alasan-alasan
2) Menyampaikan secara untuk mengkritik
Batasan Karakteristik : lisan penyesuaian terhadap diri atau rasa bersalah
disabilitas 5) Fasilitasi lingkungan dan
1) Berfokus pada fungsi 3) Beradaptasi terhadap aktivitas-aktivitas
masa lalu keterbatasan secara yang akan meningkatkan
2) Berfokus pada fungsional harga diri
4) Mengidentifikasi cara- 6) Sampaikan atau
penampilan masa lalu
cara untuk beradaptasi ungkapkan kepercayaan
3) Menekankan pencapaian dengan perubahan hidup diri pasien dalam
4) Personalisasi bagian mengatasi situasi
tubuh dengan nama
5) Personalisasi bagian
tubuh yang menghilang
6) Menolak menerima
perubahan
7) Menghindari menyentuh
tubuh

4. Implementasi keperawatan

Implementasi keperawatan yang dilakukan pada pasien kanker ovarium


yaitu tindakan keperawatan yang dilakukan sesuai dengan rencana keperawatan
pada pasien kanker ovarium. Tindakan keperawatan tersebut melipu tindakan
mandiri dan tindakan kolaborasi. Tindakan mandiri adalah tindakan berdasarkan
kesimpulan perawat sendiri. Tindakan kolaborasi adalah tindakan yang

43
bekerjasama dengan dokter, ahli gizi, dan lain-lain. Bekerjasama dengan dokter
misalnya tindakan medis apa yang akan dilakukan pada pasien kanker ovarium,
seperti pemberian obat dan tindakan pembedahan. Bekerja sama
dengan ahli gizi misalnya menentukan diet pasien kanker ovarium.

5. Evaluasi keperawatan

Evaluasi keperawatan yaitu melihat respon pasien setelah dilakukan


tindakan keperawatan pada pasien kanker ovarium dengan cara melakukan
identifikasi sejauh mana tujuan dari rencana keperawatan tercapai atau tidak.
Dalam melakukan evaluasi keperawatan memiliki pengetahuan dan
kemampuan memahami respon pasien serta menggambarkan kesimpulan
tujuan yang dicapai dalam menghubungkan tindakan keperawatan pada
kriteria hasil. Ada 2 jenis evaluasi yaitu :
a. Evaluasi formatif
Menyatakan evaluasi yang dilakukan pada saat melakukan tindakan
keperawatan dengan respon segera.

b. Evaluasi sumatif
Merupakan hasil observasi dan analisis status pasien kanker ovarium
berdasarkan tujuan yang direncanakan. Evaluasi juga sebagai alat ukur
apakah tujuan sudah tercapai, tercapai sebagian atau tidak tercapai.

1) Tujuan tercapai
Tujuan ini dikatakan tercapai apabila pasien kanker ovarium
menunjukkan kemajuan yang sesuai dengan kriteria yang telah
ditetapkan.
2) Tujuan tercapai sebagian
Tujuan ini dikatakan tercapai sebagian apabila tujuan tidak tercapai
secara keseluruhan sesuai dengan kriteria yang ditetapkan sehingga
masih perlu dicapai.
3) Tujuan tidak tercapai

44
Tujuan tidak tercapai apabila tidak menunjukkan kemajuan kearah
kriteria yang telah ditetapkan.

DAFTAR PUSTAKA

Brunner & Suddarth. 2015. Keperawatan Medikal Bedah Brunner & Suddart
Edisi 12. Jakarta : EGC.

45
Manuaba. (2013). Ilmu Kebidanan, Penyakit Kandungan dan Keluarga
Berencana. Jakarta:EGC.

Nurarif, A. H., & Kusuma, H (Ed). (2013). Aplikasi Asuhan Keperawatan


Berdasarkan Diagnosa Medis & NANDA (North American Nursing
Diagnosis Association) NIC-NOC. Yogyakarta: Mediaction Publishing.

Prawirohardjo, Sarwono. 2014. Ilmu Kebidanan Sarwono Prawirohardjo. Jakarta:


PT. Bina Pustaka.

Price & Wilson. 2012. Patofisiologi : Konsep Klinis Proses-proses Penyakit.


Jakarta : EGC.

Reeder, S. J., Martin, Griffin, K. (2013). Keperawatan Maternitas: Kesehatan


Wanita, Bayi, dan Keluarga. Jakarta: EGC.

Smeltzer, Suzanne C & Brenda G. Bare. (2002). Buku Ajar Keperawatan Medikal
Bedah Edisi 8. Jakarta: EGC.

Williams & Wilkins. 2014. Keperawatan Medikal Bedah Edisi 12. Jakarta : EGC.

46