Anda di halaman 1dari 30

MAKALAH TUTORIAL KEPERAWATAN KELUARGA

KELOMPOK 2

DISUSUN OLEH :

DESI PURNAMA SUSANTO


DEAH KARINA SAPUTRI
DIAN PUTRI PERMATASARI
FEVI APRIANA
FITRI HASANAH OLIVIA
KIKE PRATIWI
NIKO PUTRA DWI PAYOKA
RIZKY DWI PUTRI
RIZKI SAPUTRA
WIWIN WIKAYANI
WESY

MAHASISWA ALIH PROGRAM STUDI ILMU KEPERAWATAN


UNIVERSITAS SRIWIJAYA
2018
TUTORIAL KEPERAWATAN KELUARGA

Hari / Tanggal : Jumat / 14 September 2018

Waktu : 09.00 – 10.40

Tempat : Ruang Tutorial III

Kasus :

Bapak S (29 Tahun) dan Ibu Y (27 tahun) memiliki anak perempuan yaitu
anak T (4 tahun). Saat ibu Y membawa anaknya ke posyandu, diketahui berat
badan anaknya 11,2 kg dan tinggi badannya 93,8 cm. Ibu mengeluh sejak kecil
anaknya sulit makan. Anak T hanya suka makan nasi dan telur sehingga
makanannya tidak bervariasi. Kader posyandu lalu memberikan biskuit sebagai
PMT untuk anak T. Seminggu kemudian perawat datang untuk home visit. Hasil
pengkajian perawat diketahui bahwa anak T mengalami stunting dan keluarga
tidak mengetahui tugas perkembangan keluarganya. Ibu Y juga mengatakan tidak
mengerti kebutuhan gizi anaknya.

A. IDENTIFIKASI ISTILAH

1. Stunting adalah sebuah kondisi dimana tinggi badan seseorang ternyata


lebih pendek dibanding tinggi badan orang lain pada umumny (yang
seusia) (Depkes, 2017).
Stunting adalah masalah kurang gizi kronis yang disebabkan oleh asupan
gizi yang kurang dalam waktu cukup lama akibat pemberian makanan
yang tidak sesuai dengan kebutuhan gizi.

2. PMT adalah pemberian makanan tambahan program intervensi bagi balita


yang menderita kurang gizi yang bertujuan untuk mencukupi status gizi
anak yang sesuai dengan umur anak tersebut (Kemenkes RI, 2017).

3. Home visit adalah salah satu tehnik pengumpul data dengan jalan mengunjungi
rumah siswa untuk membantu menyelesaikan masalah yang dihadapi siswa dan untuk
melengkapi data siswa yang sudah ada yang diperoleh dengan tehnik lain
(WS.Winkel, 1995).
B. IDENTIFIKASI MASALAH

No Observed Expected Concern


Bapak S (29 Th) dan ibu Y (27 th)
memiliki anak perempuan yaitu
Anak T (4 th), Saat ibu membawa
anaknya ke posyandu, didapatkan
1 BB 11,2 kg TB 93,8 cm Ibu Tidak Sesuai VVVV
mengatakan anaknya suilit makan,
perawat melakukan home visit dan
hasil pengkajian ditemukan bahwa
anak T mengalami stunting.
Ibu Y mengeluh sejak kecil anaknya
sulit makan dan anak T hanya suka
2 Tidak Sesuai VVV
makan nasi dan telur sehingga
makanannya tidak bervariasi.
Perawat melakukan home visit dan
hasil pengkajian didapatkan bahwa
3 Tidak Sesuai VV
keluarga tidak mengetahui tugas
perkembangan keluarganya
Perawat melakukan pengkajian dan
mendapatkan hasil bahwa Ibu Y
4. Tidak Sesuai V
mengatakan tidak mengerti
kebutuhan gizi anaknya.

C. ANALISIS PENELITIAN

No Prioritas Masalah Analisis Permasalahan


1 Bapak S (29 Th) dan ibu Y (27 th) 1. Apa pengertian dari
memiliki anak perempuan yaitu Anak T stunting?
(4 th), Saat ibu membawa anaknya ke 2. Apa tanda dan gejala dari
posyandu, didapatkan BB 11,2 kg TB stunting?
93,8 cm Ibu mengatakan anaknya suilit 3. Mengapa anak mengalami
makan, perawat melakukan home visit stunting?
dan hasil pengkajian ditemukan bahwa 4. Bagaimana cara mengatasi
anak T mengalami stunting. penyakit stunting pada anak?
5. Bagaimana Asupan gizi
seimbang yang baik untuk
anak?
6. Bagaimana cara perawat
dalam memberikan edukasi
kepada keluarga dalam
mengatasi masalah stunting?

2 Ibu Y mengeluh sejak kecil anaknya sulit 1. Apa yang dimaksud tugas
makan dan anak T hanya suka makan perkembangan keluarga?
nasi dan telur sehingga makanannya tidak 2. Dimana keluarga dapat
bervariasi. mendapatkan informasi
tentang tugas perkembangan
keluarga?
3. Apa yang menjadi faktor
sebuah keluarga tidak
mengetahui tugas
perkembangan keluarga?
4. Bagaimana cara perawat
memberikan edukasi tentang
tugas perkembangan
keluarga?
5. Siapa saja yang harus
menjalankan tugas
perkembangan keluarga?
6. Mengapa ibu harus lebih
dominan dalam tugas
perkembangan keluarga
7. Apa masalah yang akan
terjadi pada sebuah keluarga
jika tugas perkembangan
keluarga tidak terpenuhi
dengan baik?

3 Perawat melakukan home visit dan hasil 1. Pengertian gizi seimbang dan
pengkajian didapatkan bahwa keluarga nutrisi?
tidak mengetahui tugas perkembangan 2. Bagaimana cara menghitung
keluarganya. gizi seimbang?
3. Bagaimana pemberian pola
makanan yang baik pada
anak usia balita?
4. Apa pengertian AKG dan
bagaimana AKG untuk anak
usia balita?
5. Apa saja faktor pemicu ibu
tidak mengetahui kebutuhan
gizi anak?
6. Apa dampak yang akan
terjadi jika gizi tidak
terpenuhi baik kekurangan
gizi maupun kelebihan gizi?
7. Apa faktor-faktor yang
menyebabkan sebuah
keluarga mengalami gizi
kurang?
8. Apakah ada metode khusus
yang dilakukan ibu dalam
pemberian gizi pada anak?
9. Bagaimana cara perawat
memberikan edukasi tentang
kebutuhan gizi seimbang
pada anak?
4. Perawat melakukan pengkajian dan 1. Apa faktor penyebab anak
mendapatkan hasil bahwa Ibu Y sulit makan?
mengatakan tidak mengerti kebutuhan 2. Bagaimana peran perawat
gizi anaknya. dalam mengatasi masalah
sulit makan pada anak?
3. Apakah ada metode khusus
yang digunakan untuk
mengatasi anak sulit makan?

BELAJAR MANDIRI I

1. Bapak S (29 Th) dan ibu Y (27 th) memiliki anak perempuan yaitu Anak T (4
th), Saat ibu membawa anaknya ke posyandu, didapatkan BB 11,2 kg TB
93,8 cm Ibu mengatakan anaknya suilit makan, perawat melakukan home
visit dan hasil pengkajian ditemukan bahwa anak T mengalami stunting.

a. Apa pengertian dari stunting?


Jawab : Stunting adalah masalah kurang gizi kronis yang disebabkan oleh
asupan gizi yang kurang dalam waktu cukup lama akibat pemberian
makanan yang tidak sesuai dengan kebutuhan gizi. Stunting terjadi mulai
janin masih dalam kandungan dan baru Nampak saat anak berusia 2 tahun.
Normalnya untuk usia 5 tahun tinggi badannya mencapai 110 cm (WHO,
2010).

b. Apa tanda dan gejala dari stunting?


Jawab : Tanda & Gejala dari Stunting :
− Anak berbadan lebih pendek untuk anak seusianya
− Proporsi tubuh cenderung normal tetapi anak tampak lebih muda
atau lebih kecil untuk usianya
− Pertumbuhan tulang tertunda
− Berat badan tidak naik
− Untuk anak perempuan, menstruasi terlambat dan mudah terkena
infeksi penyakit
(Jurnal Kesehatan Komunitas, 2013)

c. Mengapa anak mengalami stunting?


Jawab : Karena rendahnya akses terhadap makanan bergizi, rendahnya
asupan vitamin dan mineral, serta buruknya keragaman pangan dan
sumber protein hewani. Faktor ibu dan pola asuh yang kurang baik
terutama pada perilaku dan praktik pemberian makan kepada anak yang
juga menjadi penyebab anak stunting, apabilla ibu tidak memberikan
asupan gizi yang cukup dan baik (Robert, 2008).

d. Bagaimana cara mengatasi penyakit stunting pada anak?


Jawab :
Dalam upaya untuk menurunkan angka stunting di Indonesia, Kemenkes
melalui Infodatin (2016) mencanangkan bahwa pembangunan kesehatan
Indonesia dalam periode tahun 2015-2019 difokuskan pada empat program
prioritas yaitu penurunan angka kematian ibu dan bayi, penurunan
prevalensi balita pendek (stunting), pengendalian penyakit menular dan
pengendalian penyakit tidak menular. Upaya peningkatan status gizi
masyarakat termasuk penurunan prevalensi balita pendek menjadi salah
satu prioritas pembangunan nasional yang tercantum di dalam sasaran
pokok Rencana Pembangunan jangka Menengah Tahun 2015-2019.

Upaya perbaikan harus meliputi upaya untuk mencegah dan mengurangi


gangguan secara langsung (intervensi gizi spesifik) dan upaya untuk
mencegah dan mengurangi gangguan secara tidak langsung (intervensi gizi
sensitif). Intervensi gizi spesifik umumnya dilakukan di sektor kesehatan,
namun hanya berkontribusi 30%, sedangkan 70% nya merupakan
kontribusi intervensi gizi sensitif. Berikut paparan dari masing-masing
upaya, diantaranya:
a. Upaya untuk mencegah dan mengurangi gangguan secara langsung
(intervensi gizi spesifik)
Upaya intervensi gizi spesifik untuk balita pendek difokuskan pada
kelompok 1.000 Hari Pertama Kehidupan (HPK), yaitu Ibu Hamil, Ibu
Menyusui, dan Anak 0-24 bulan, karena penanggulangan balita pendek
yang paling efektif dilakukan pada 1.000 HPK. Periode 1.000 HPK
meliputi yang 270 hari selama kehamilan dan 730 hari pertama setelah
bayi yang dilahirkan telah dibuktikan secara ilmiah merupakan periode
yang menentukan kualitas kehidupan. Oleh karena itu periode ini ada yang
menyebutnya sebagai "periode emas", "periode kritis", dan Bank Dunia
(2006) menyebutnya sebagai "window of opportunity".
b. Upaya untuk mencegah dan mengurangi gangguan secara tidak
langsung (intervensi gizi sensitif).
Upaya intervensi gizi sepesifik melibatkan berbagai sektor seperti
ketahanan pangan, ketersediaan air bersih dan sanitasi, penanggulangan
kemiskinan, pendidikan, sosial, dan sebagainya.

Berdasarkan dua jenis upaya perbaikan stunting tersebut, Adriani (2012)


menjelaskan bahwa upaya penanggulangan stunting paling efektif
dilakukan pada 1000 hari pertama kehidupan yang meliputi:

1. Memperbaiki gizi dan kesehatan Ibu hamil merupakan cara terbaik


dalam mengatasi stunting. Ibu hamil perlu mendapat makanan yang baik,
sehingga apabila ibu hamil dalam keadaan sangat kurus atau telah
mengalami Kurang Energi Kronis (KEK), maka perlu diberikan makanan
tambahan kepada ibu hamil tersebut. Setiap ibu hamil perlu mendapat
tablet tambah darah.
2. Pada saat bayi lahir Persalinan ditolong oleh bidan atau dokter
terlatih dan begitu bayi lahir melakukan Inisiasi Menyusu Dini (IMD).
Bayi sampai dengan usia 6 bulan diberi Air Susu Ibu (ASI) saja (ASI
Eksklusif)
3. Bayi berusia 6 bulan sampai dengan 2 tahun Mulai usia 6 bulan,
selain ASI bayi diberi Makanan Pendamping ASI (MP-ASI). Pemberian
ASI terus dilakukan sampai bayi berumur 2 tahun atau lebih. Bayi dan
anak memperoleh kapsul vitamin A, imunisasi dasar lengkap.
4. Memantau pertumbuhan Balita di posyandu merupakan upaya
yang sangat strategis untuk mendeteksi dini terjadinya gangguan
pertumbuhan.
5. Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) harus diupayakan oleh
setiap rumah tangga termasuk meningkatkan akses terhadap air bersih dan
fasilitas sanitasi, serta menjaga kebersihan lingkungan. PHBS menurunkan
kejadian sakit terutama penyakit infeksi yang dapat membuat energi untuk
pertumbuhan teralihkan kepada perlawanan tubuh menghadapi infeksi,
sehingga gizi sulit diserap oleh tubuh dan terhambatnya pertumbuhan.

e. Bagaimana Asupan gizi seimbang yang baik untuk anak?

Jawab : Asupan gizi yang baik untuk anak usia 4-6 tahun adalah

No. Zat Gizi Usia 4-6 Tahun

1 Energi (kkal) 1550

2 Protein (gram) 39

3 Vitamin A (RE) 450

4 Vitamin D (µg) 5

5 Vitamin E (mg) 7

6 Vitamin K (µg) 20

7 Tiamin (mg) 0,6

8 Riboflavin (mg) 0,6

9 Niacin (mg) 8

10 Asalm folat (µg) 200

11 Piridoksin (mg) 0,6

12 Vitamin B12 (µg) 1,2

13 Vitamin C (mg) 45
14 Kalsiun (mg) 500

15 Fosfor (mg) 400

16 Magnesium (mg) 90

17 Besi (mg) 9

18 Yodium (µg) 120

19 Seng (mg) 10,3

20 Mangan (mg) 1,5

21 Selenium(µg) 20

22 Fluor (mg) 0,9

f. Bagaimana cara perawat dalam memberikan edukasi kepada keluarga


dalam mengatasi masalah stunting?
Jawab : Minarto dalam Temu Ilmiah Internasional tentang gizi di
Yogyakarta pada tahun 2014, membeberkan Program Kesehatan dan Gizi
Berbasis Masyarakat (PKGBM). Program ini terdiri dari 3 kegiatan,
diantaranya:
1. Demand side
Kegiatan ini yaitu penguatan pemberdayaan masyarakat melalui PNPM
(Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat) generasi.
2. Supply side
Kegiatan ini adalah penguatan penyedia pelayanan seperti, memberikan
pelatihan baik di pusat, daerah, kecamatan hingga desa.
3. Kampanye, monitoring, dan evaluasi
Kegiatan ini bertujuan untuk meningkatkan kesadaran dan komitmen
pemangku kepentingan dan masyarakat tentang stunting dan upaya yang
diperlukan untuk mengatasinya.
Sedangkan UNICEF Indonesia mencanangkan program paket Intervensi
Gizi Efektif (IGE). Program ini merupakan penyelamatan 1000 Hari
Pertama Kehidupan (HPK) pada ibu hamil dan anak. Program ini terdiri
dari beberapa kegiatan, diantaranya:

1. Konseling gizi pada ibu hamil


2. Praktek pemberian makan bayi dan anak yang tepat (termasuk ASI
eksklusif dan MP-ASI)
3. Gizi mikro untuk ibu hamil dan anak
4. Perilaku hidup bersih selama masa kehamilan, masa bayi, dan usia
dini
5. Pemberian makanan dan suplemen tambahan selama masa
kehamilan.

2. Ibu Y mengeluh sejak kecil anaknya sulit makan dan anak T hanya suka
makan nasi dan telur sehingga makanannya tidak bervariasi.
a. Apa yang dimaksud tugas perkembangan keluarga?
Jawab :
Perkembangan keluarga adalah proses perubahan yang terjadi pada system
keluarga. Perkembangan keluarga meliputi perubahan pola interaksi dan
hubungan antara anggotanya disepanjang waktu. Siklus perkembangan
keluarga merupakan komponen kunci dalam setiap kerangka kerja yang
memandang keluarga sebagai suatu sistem. Perkembangan ini terbagi
menjadi beberapa tahap dan kurun waktu tertentu. Pada setiap tahap
keluarganya memiliki tugas perkembangan yang harus dipenuhi agar
tahapan tersebut dapat dilalui dengan sukses.

Kerangka perkembangan keluarga menurut Duval memberikan


pedoman untuk memeriksa serta menganalisis perubahan dan
perkembangan tugas tugas dasar yang ada dalam keluaraga selama siklus
kehidupan mereka. Tingkat perkembang keluarga ditandai oleh usia anak
yang tertua,keluarga dengan anak pertama berbeda dengan keluarga
dengan remaja.meskipun setiap keluarga melalui tahap perkembangan
secara unik,namun secara umum seluruh keluarga mengikuti pola yang
sama.
Menurut havig (1996) mengartikan tugas perkembangan
sebagai”tugas yang muncul pada periode tertentu dalam rentang kehidupan
individu, yang apa bila tugas itu dapat berhasil dituntaskan akan membawa
kebahagian dan kesuksesan dalam menuntaskan tugas
berikutnya,sementara apabila gagal, maka akan menyebabkan
ketidakbahagian pada diri individu yang bersangkutan, menimbulakan
penolakan masyarakat dan kesulitan-kesulitan dalam menuntaskan tugas-
tugas berikutnya”.
Tugas perkembangan pada usia kanak-kanak dimulai dari usia 2
tahun samapai 13. Usia kanak-kanak mrnjadi 2 periode yaitu usia
prasekolah dan sekolah. Usia prasekolah disebut dengan kanak-kanak
awal, dan usia sekolah disebut dengan kanak-kanak akhir.

b. Dimana keluarga dapat mendapatkan informasi tentang tugas


perkembangan keluarga?
Jawab :
Keluarga mendapatkan informasi tentang tugas perkembangan keluarga
yaitu dari perawat keluarga, yang mana pada kasus tersebut tugas
perkebangan keluarganya adalah keluarga dengan ank prasekolah. Tugas
perawat keluarga adalah melakukan perawatan dan penyuluhan kepada
orang tua tentang pentakit serta kecelakaan yang biasanya terjadi pada
anak-anak.sibling rivali tumbuh kembang anak,keluarga
berencana,peningkatan kesehatan dan mensosialisasikan anak.

c. Apa yang menjadi faktor sebuah keluarga tidak mengetahui tugas


perkembangan keluarga?
Jawab : Adapun faktor yang menjadi kelurga tidak mengetahi tugas
perkembang keluarga
1. Kurangnya tingkat perkembangan keluarga
2. Kurangnya kesempatan untuk mempelajari tugas perkembangan
keluarga
3. Keluarga belum mengerti tahap dan funsi tugas keluarga.

d. Bagaimana cara perawat memberikan edukasi tentang tugas perkembangan


keluarga?
Jawab : Dengan cara menjelaskan secara langsung peranan masing-
masing anggota keluarga.

e. Siapa saja yang harus menjalankan tugas perkembangan keluarga?


Jawab : Seluruh anggota keluarga terdiri dari ayah, ibu dan anak.

f. Mengapa ibu harus lebih dominan dalam tugas perkembangan keluarga?


Jawab :
Karena peranan ibu yaitu sebagai istri dan ibu dari anak-anaknya, ibu
mempunyai peranan untuk mengurus rumah tangga, sebagai pengasuh dan
pendidik anak-anaknya, pelindung dan sebagai salah satu kelompok dari
peranan sosialnya serta sebagai anggota masyarakat dari lingkungannya,
disamping itu juga dapat berperan sebagai pencari nafkah tambahan dalam
keluarganya.

g. Apa masalah yang akan terjadi pada sebuah keluarga jika tugas
perkembangan keluarga tidak terpenuhi dengan baik?
Jawab :
Tugas perkembangan keluarga didefinisikan sebagai serangkaian
kewajiban yang harus dipenuhi oleh keluarga selama kehidupannya,
apabila tidak berhasil memenuhi tugas prkembangan keluarga maka akan
berdampak pada ketidakbahagiaan dan kesulitan dalam menjalankan tugas
perkembangan pada tahap selanjutnya (Rahmanita, 2016).

3. Perawat melakukan home visit dan hasil pengkajian didapatkan bahwa


keluarga tidak mengetahui tugas perkembangan keluarganya.
a. Pengertian gizi seimbang dan nutrisi?
Jawab :
nutrisi adalah substansi organik dan nonorganik yang di temukan dalam
makanan dan dibutuhkan oleh tubuh agar dapat berfungsi dengan baik.
Kebutuhan nutrisi seseorang ditentukan oleh faktor usia, jenis kelamin,
jenis kegiatan, dan sebagainya. Nutrisi juga mempunyai fungsi yaitu untuk
membentuk dan memelihara jaringan tubuh, mengatur proses - proses
dalam tubuh, sebagai sumber tenaga, serta untuk melindungi tubuh dari
berbagai serangan penyakit.
Sedangkan gizi seimbang merupakan susunan makanan sehari - hari yang
mengandung zat - zat gizi dalam jenis dan jumlah yang sesuai dengan
kebutuhan tubuh dengan memerhatikan prinsip variasi makanan, aktivitas
fisik, kebersihan dan berat badan ideal.

b. Bagaimana cara menghitung gizi seimbang?


Jawab :
Penentuan BBI (Berat badan Ideal)
Usia lebih dari 12 bulan : (usia dalam tahun X 2) + 8 kg
Estimasi Kebutuhan Energi dan Zat Gizi total per hari
Energi:
-      1000 + (100 X usia dalam tahun)
-      Usia 1-3 tahun : 100 kalori/ kg BBI
-      Usia 4-6 tahun : 90 kalori/ kg BBI
Protein       = 10 % X Energi atau = 1,5 -2,0 gr/kg BBI
Lemak     = 10- 20 % X Energi
KH          = 60- 70 % X Energi
Sumber : RSCM dan PERSAGI, 2003. PENUNTUN DIIT ANAK,
Jakarta : PT Gramedia Pustaka Utama.

c. Bagaimana pemberian pola makanan yang baik pada anak usia balita?
Jawab :
Dalam jurnal dengan judul Gizi Seimbang dan Makanan Sehat Untuk
Anak Usia Dini (Rizqie auliana, M.kes), makanan anak usia 1-5 tahun
pada usia ini anak sudah harus makan seperti pola makan keluarga, yaitu:
sarapan, makan siang, makan malam dan 2 kali selingan. Porsi makan pada
usia ini setengah dari porsi orang dewasa. Memasuki usia 1 tahun
pertumbuhan mulai lambat dan permasalahan sulit makan mulai muncul.
Sementara itu aktivitas mulai bertambah dengan bermain sehingga makan
dapat dilakukan sambil bermain. Namun selanjutnya akan lebih baik kalau
makan dilakukan bersama seluruh anggota keluarga dengan
mengajarkannya duduk bersama di meja makan.
Beberapa hal yang harus diperhatikan dalam pemberian makan anak usia
1-5 tahun:
− Selalu variasikan makanan yang diberikan meliputi makanan
pokok, lauk pauk, sayuran dan buah. Usahakan protein yang
diberikan juga berganti sehingga semua zat gizi terpenuhi.
− Variasikan cara mengolah sehingga semua bahan makanan dapat
masuk, misalnya anak tidak mau makan bayam maka bayam dapat
dibuat dalam telur dadar.
− Berikan air putih setiap kali habis makan.
− Hindari memberikan makanan selingan mendekati jam makan
utama.
− Ketika masuk usia 2 tahun jelaskan manfaat makanan yang harus
dimakan sehingga dapat mengurangi rasa tidak sukanya.

d. Apa pengertian AKG dan bagaimana AKG untuk anak usia balita?
Jawab :

Dalam Jurnal berjudul Ringkasan Angka kecukupan gizi (akg) yang


dianjurkan bagi orang indonesia 2012 dalam (Djoko Kartono, dkk 2012)
Secara tradisional AKG didefinisikan sebagai tingkat asupan gizi yang
dapat memenuhi kebutuhan gizi diketahui hampir semua orang sehat.
Definisi ini memiliki arti tingkat gizi yang cukup untuk diperlukan untuk
mencegah penyakit akibat kekurangan gizi, seperti gangguan akibat
kekurangan iodium untuk iodium, xeroftalmia dan buta senja untuk
vitamin A dan beri-beri untuk untuk thiamin. AKG adalah angka
kecukupan zat gizi setiap hari menurut golongan umur, jenis kelamin,
ukuran tubuh dan aktivitas untuk mencegah terjadinya kekurangan ataupun
kelebihan gizi.
Angka Kecukupan Energi, Protein, Lemak, Karbohidrat, Serat dan Air yang
dianjurkan untuk orang Indonesia (perorang perhari).
Angka Kecukupan Vitamin yang dianjurkan untuk orang Indonesia
(perorang perhari)

Angka Kecukupan Mineral yang dianjurkan untuk orang Indonesia


(perorang perhari)
e. Apa saja faktor pemicu ibu tidak mengetahui kebutuhan gizi anak?
Jawab :
Secara langsung dipengaruhi oleh beberapa hal, yaitu anak tidak cukup
mendapat makanan bergizi seimbang pada usia balita, anak tidak
mendapatkan asuhan gizi yang memadai dan anak menderita penyakit
infeksi. Kemiskinan juga merupakan salah satu penyebab munculnya
kasus gizi buruk terkait ketersediaan dan konsumsi pangan keluarga
(Depkes, 2010).
Dalam hal ini bahwa ibu yang tidak melaksanakan pola asuh terutama
dalam pola asuh dalam mengatasi permasalahn pada status gizi kurang
pada balita tersebut. Status gizi kurang dimiliki anak ibu akan brdampak
terhadap kesehatan balita ibu yang bisa menghalangi terhadap tumbuh
kembangnya balita secara sehat diantaranya faktor yang menggangu
terhadap status gizi kurang baik dikarenakan tidak baiknya pola asuh yang
diberikan ibu sendiri. Menurut asumsi peneliti bahwa dlm hal ini tidak
terlaksananya pola asuh ibu diantaranya dalam pemenuhan kebutuhan
dasar anak seperti pemberian makanan yg hygenis bebas dari bakteri,
selain itu jarang dalam melakukan monitoring kesehatan anak,
menyediakan obat dan merawat serta membawanya ke tempat pelayanan
kesehatan.

f. Apa dampak yang akan terjadi jika gizi tidak terpenuhi baik kekurangan
gizi maupun kelebihan gizi?
Jawab :
Kekurangan gizi membawa dampak negatif terhadap pertumbuhan fisik
maupun mental yang selanjutnya akan menghambat prestasi belajar.
Akibat lainnya adalah penurunan daya tahan, menyebabkan hilangnya
masa hidup sehat, serta dampak yang lebih serius adalah timbulnya
kecacatan, tingginya angka kesakitan dan percepatan kematian. Untuk
kelebihan akibat dari kelebihan gizi pada anak adalah obesitas sejak dini,
yang memiliki berat badan yg seharusnya akan mengidap penyakit
obesitas. Bukan hanya itu, ternyata anak anak yang memiliki kelebihan
gizi juga bisa terkena penyakit selain obesitas, yaitu persendian, gangguan
tidur.

g. Apa faktor-faktor yang menyebabkan sebuah keluarga mengalami gizi


kurang?
Jawab :
Status gizi pada masyarakat/keluarga dipengaruhi oleh banyak faktor.
Kondisi sosial ekonomi merupakan salah satu faktor penting yang
mempengaruhi status gizi. Bila kondisi sosial ekonomi baik maka status
gizi diharapkan semakin baik. Status gizi anak balita akan berkaitan erat
dengan kondisi sosial ekonomi keluarga (orang tua), antara lain pendidikan
orang tua, pekerjaan orang tua, jumlah anak orang tua, pengetahuan dan
pola asuh ibu serta kondisi ekonomi orang tua secara keseluruhan.
Berdasarkan hasil penelitian Rona Firmana Putri, Delmi Sulastri, Yuniar
Lestari dengan Judul Faktor-Faktor yang Berhubungan dengan Status Gizi
Anak Balita di Wilayah Kerja Puskesmas Nanggalo Padang Tahun 2015,
bahwasanya balita dengan status gizi kurang lebih banyak berasal dari
kelompok ibu yang berpendidikan rendah dibandingkan dengan kelompok
ibu yang berpendidikan tinggi.

h. Apakah ada metode khusus yang dilakukan ibu dalam pemberian gizi pada
anak?
Jawab : Ada
Berdasarkan penelitian Nuris Zuraida Rakhmawati (2013), menyatakan
bahwa sikap/metode ibu mengenai pemberian makanan pada anak
merupakan faktor yang menentukan seseorang untuk berperilaku
memberikan makanan yang tepat untuk anak. Makanan yang tepat buat
anak diberikan agar anak dapat memenuhi kebutuhan gizinya. Sikap ibu
yang di dapat dari interaksi sosial seperti lingkungan, dapat dengan mudah
mempengaruhi perilaku ibu dalam memberikan makanan di rumah.
Kebiasaan makan yang diajarkan ibu kepada anak akan mempengaruhi
pola makan anak sehingga anak dapat memutuskan makanan yang
dikonsumsinya.
i. Bagaimana cara perawat memberikan edukasi tentang kebutuhan gizi
seimbang pada anak?
Jawab :
Menurut jurnal panduan pemberian informasi dan edukasi pasien dan
keluarga tahun 2018, tatalaksana memberikan edukasi ialah
petugas/perawat yang melakukan kegiatan (pemberian edukasi) harus
memiliki pengetahuan tentang informasi yang harus di sampaikan,
pemberian informasi atau edukasi harus dilaksanakan secara tatap muka
dan berlangsung secara interaktif, kondisi lingkungan harus di perhatikan
agar klien merasa aman dan nyaman, membina hubungan yang baik agar
tercipta rasa saling percaya antar klien dan petugas, petugas harus
mendapatkan data yang akurat terkait edukasi yang di sampaikan dengan
masalah yang klien hadapi

4. Perawat melakukan pengkajian dan mendapatkan hasil bahwa Ibu Y


mengatakan tidak mengerti kebutuhan gizi anaknya.
a. Apa faktor penyebab anak sulit makan?
Jawab :
Penyebab kesulitan makan pada anak sangatlah banyak. Secara umum
penyebab kesulitan makan diantaranya adalah hidangan nafsu makan,
gangguan proses dimulut, dan pengaruh psikologis. Gangguan fungsi
organ tubuh dan penyakit bisa beruoa kelainan fisik, maupun psikis dapat
dianggap juga sebagai penyebab kesulitan makan pada anak (menurut
wido, 2008 dalam jurnal siti aizah).

b. Apakah ada metode khusus yang digunakan Ibu untuk mengatasi anak sulit
makan?
Jawab :
Beberapa langkah yang bisa dilakukan oleh ibu untuk mengatasi anak yang
sulit makan adalah sebagai berikut.
1. Terapi bermain dan jadikan saat makan menyenangkan
Biasanya cara ini dilakukan pada anak yang masih kecil hingga usia balita.
Saat bermain, orangtua bisa mengamati dan menganalisis bagaimana pola
bermain, konflik permasalahan anak dapat ditelusuri, kemudian diatasi
sesuai penyebabnya. Hindari mengancam, menghukum, atau menakut-
nakuti anak agar ia makan lebih banyak ini akan memebuatnya merasa
bahwa saat makan merupakan saat yang tidak menyenangkan. Dan bukan
tak mungkin menimbulkan trauma psikologis baginya.

2.     Mengajarkan perilaku makan yang baik dan makan teratur


Sediakan menu yang bervariasi agar anak mengenal banyak rasa dan jenis
makanan. Jadilah model yang baik dengan membiaskan makan bersama
dimeja makan. Makan bersama merupakan ajang interaksi penting antara
orangtua dan anak. Orangtua juga bisa menjadi teman menyenangkan di
meja makan. Dengan begitu, hubungan orangtua dan anak semakin erat.
Makan teratur atau sesuai dengan jadwal anak bisa makan adalah slah satu
dari 6 solusi mengatasi anak susah makan yang efektif. Jadwalkan waktu
makan dengan teratur, agar si kecil terbiasa dengan waktu makannya.
Sama halnya dengan waktu tidur, mandi dan sebagainya.

3.     Beri camilan sehat dan menarik


Setelah bisa berjalan, si anak gemar bereksplorasi dengan lingkungannya.
Apalagi ketika memasuki usia 2 tahun, akitivitasnya semakin banyak saja.
Ini mungkin membuatnya sulit untuk duduk manis dan makan dengan
tenang. Untuk menyiasatinya. Berikan ia camilan sehat dalam porsi kecil
namun beragam. Misalnya saja bola-bola kentang isi wortel dan daging
cincang, sus mini isi fla coklat, donat tabur keju, dan sebagainya.

4.    Berikan reward


Jika anak susah makan, kenapa tidak coba memeberikan reward atau
hadiah kepada mereka. Anak kecil biasanya sangat menyukainya
pemberian dari orang tua. Hal ini akan sangat membantu anak yang malas
makan menjadi lahap.

c. Bagaimana peran perawat dalam mengatasi masalah gizi kurang pada


anak?
Jawab :
Menurut Setyowati (2005, dalam Sulistiyawati, 2011) dalam menghadapi
masalah gizi buruk pada balita perawat mempunyai delapan peran yaitu
membina hubungan terapeutik, sebagai advokat keluarga, peran dalam
promosi kesehatan, memberikan pendidikan kesehatan, memberikan
konseling dan dukungan, pemberi asuhan keperawatan, peran sebagai
kolaborator, dan peran sebagai pengambil keputusan etik.

1. Membina hubungan terapeutik


Seorang perawat harus mempertahankan hubungan yang profesional,
mempertahankan komunikasi yang terbuka, dan menjalin kerjasama
baik dengan keluarga maupun anak.

2. Sebagai advokat dari keluarga


Perawat membantu keluarga untuk memilih gizi yang terbaik bagi gizi
anaknya. Peran perawat yang dinilai sangat penting sebagai bentuk
advokasi yaitu membuat keluarga menjadi sadar gizi serta
menginformasikan tempat-tempat pelayanan kesehatan yang dapat
mereka peroleh.

3. Peran dalam pencegahan penyakit/promosi kesehatan


Perawat harus terlibat dalam pencegahan terjadinya masalah gizi buruk.
Perawat perlu melakukan pengkajian sesuai dengan petunjuk pada kartu
menuju sehat (KMS) yaitu mengkaji masalah gizi buruk dengan
menimbang BB anak pada saat melakukan kunjungan pelayanan
kesehatan seperti di Puskesmas dan Posyandu.

4. Memberikan pendidikan kesehatan atau sebagai health educator


Peran perawat dalam memberikan pendidikan kesehatan dapat
dilakukan melalui kegiatan penyebarluasan informasi mengenai
penanganan masalah gizi buruk.

5. Memberikan konseling dan dukungan


Perawat memberikan konseling dan dukungan kepada keluarga tentang
bagaimana hidup sehat dan memenuhi kebutuhan gizi balitanya sesuai
dengan program pemerintah dalam keluarga sadar gizi.
6. Peran pemberi asuhan keperawatan
Perawat melakukan proses keperawatan pada masalah gizi buruk
berdasarkan hasil pengkajian secara komprehensif. Fokus intervensi
keperawatan ditujukan untuk membantu anak maupun keluarga dalam
meningkatkan status gizi secara optimal.

7. Peran sebagai kolaborator


Bila menemukan kasus kurang gizi di lapangan atau di masyarakat
terpencil, maka perawat berkoordinasi dengan Dinas Kesehatan
setempat serta berkolaborasi untuk melakukan implementasi/tindakan
yang cepat dan tepat.

8. Peran sebagai pengambil keputusan etik


Masalah konflik etik ini akan dihadapi oleh perawat pada saat
melaksanakan tugasnya. Setiap perawat bernaung kepada kode etik
yang ditetapkan organisasi profesi keperawatan untuk melakukan
tindakan keperawatan.
KERANGKA KONSEP

Kesehatan Perkembangan Mental Ekonomi


Kesehatan Perkembangan Ekonomi
1. ↑obesitas dan yang 1. ↓prestasi sekolah 1. ↓kapasitas kerja
 ↑kematian dan Mental  ↑Pengeluaran
berhubungan dengan 2. ↓kemampuan belajar 2. ↓produktivitas
 ↑ kesakitan  ↓Perkembanga biaya kesehatan
kesakitan 3. Potensi tidak tercapai kerja
n kognitif, mot  ↑Biaya peluang
A 2. ↓tinggi dewasa
orik,dan Bahas untuk merawat anak sakit 3. ↓kesehatan reproduksi
a
Jangka pendek Dampak Jangka panjang

Pertumbuhan dan Perkembangan Pendek (Stunting)

Faktor rumah tangga dan keluarga Pemberian makanan tambahan/komplementer yang tak cukup Infeksi

Faktor maternal Lingkungan rumah Makanan kualitas rendah Cara Pemberian Yang Keamanan Makanan Infeksi Klinis Dan
 Nutrisi yang kurang pada Tidak Adekuat Dan Minuman Subklinis
 Stimulasi dan aktivitas
saat prekonsepsi,kehamilan, dan laktasi.  Keragaman jenis makanan
Anak yang tidak adekuat  Frekuensi pemberian  Makanan dan minum  Terjadinya radang,
 Tinggi badan ibu yang rendah yang dikonsumsi dan sumbe
 Perawatan yang kurang makanan yang rendah an yang terkontamin sariawan
 Infeksi r  makanan hewani yang
 Sanitasi dan pasukan air yang  Pemberian makanan asi
 Kehamilah pada usia remaja, rendah  Infeksi cacing,
 tidak adekuat yang  tidak aadekuat  Kebersihan yang ren
 Kesehatan mental  Makanan yang tidak menga infeksi pernafasan,
 Akses dan ketersediaan ketika sakit dan setela dah
 ntrauterine Growth Restriction ndung nutrisi malaria
pangan yang kurang h sakit  Penyimpanan dan pe
 (IUGR) dan kelahiran preterm  Makanan komplementer  Nafsu makan
 Alokasi makanan dalam  rumah t rsiapan
 Jarak kehamilan yang pendek yang
angga yang tidak sesuai makanan yang tidak yang kurang akibat
 Hipertensi  mengandung energi rendah
 Edukasi pengasuh yang rendah aman infeksi
 Inflamasi
Penyebab

Air,Sanitasi,dan Kesehatan dan pendidikan Kultur budaya Sistem pertanian dan


Sumber: WHO
lingkungan pelayanan makanan
Conceptual Framework,
2013
Faktor sosial dan komunikasi
D. HIPOTESIS

Setelah dilakukan diskusi kelompok tutorial didapat hasil bahwa hepotesis awal
pada kasus keperawatan keluarga ini yaitu PROSES TUMBUH KEMBANG
ANAK

E. LEARNING ISSUES

What I What I Have to What I Don’t How I Will


Topik
Know Prove Know Learn
Jurnal, karya
Proses keluarga V ilmiah, e-books,
internet
Jurnal, karya
nutrisi V ilmiah, e-books,
internet
Pertumbuhan Jurnal, karya
proporsional pada V ilmiah, e-books,
anak internet

BELAJAR MANDIRI II

A. Konsep Keluarga
Marilyn M. Friedman (1998) mendefinisikan bahwa keluarga
adalah dua orang atau lebih yang disatukan oleh ikatan-ikatan
kebersamaan dan ikatan emosional dan yang mengidentifikasikan diri
mereka sebagai bagian dari keluarga.

B. Tipe Keluarga
Secara tradisional keluarga dikelompokan menjadi dua, yaitu: (Suprajitno,
2004)
1. Keluarga inti (nuclear family) adalah keluarga yang hanya terdiri dari
ayah, ibu, dan anak yang diperoleh dari keturunannya atau adopsi atau
keduanya.
2. Keluarga besar (extended family) adalah keluarga inti ditambah
anggota keluarga lain yang masih mempunyai hubungan darah
(kakek-nenek, paman-bibi).
Namun, dengan berkembangnya peran individu dan meningkatnya rasa
individualisme, pengelompokan tipe keluarga selain kedua keluarga di atas
berkembang menjadi: (Suprajitno, 2004)
1. Keluarga bentukan kembali (dyadic family) adalah keluarga baru yang
terbentuk dari pasangan yang telah cerai atau kehilangan
pasangannya.
2. Orang tua tunggal (single parent family) adalah keluarga yang terdiri
dari salah satu orang tua dengan anak-anak akibat perceraian atau
ditinggal pasangannya.
3. Ibu dengan anak tanpa perkawinan (the unmarried teenage mother).
4. Orang dewasa (laki-laki atau perempuan) yang tinggal sendiri tanpa
pernah menikah (the single adult living alone). Kecendrungan di
Indonesia juga meningkat dengan dalih tidak mau direpotkan dengan
pasangan atau anaknya kelak jika menikah.
5. Keluarga dengan anak tanpa pernikahan sebelumnya (the nonmarital
heterosexual cohabiting family).
6. Keluarga yang dibentuk oleh pasangan yang berjenis kelamin sama
(guy and lesbian family).

C. Peran Keluarga
Berbagai peranan yang terdapat didalam keluarga menurut Nasrul
Effendy (1998), adalah sebagai berikut :
1. Peran ayah: Ayah sebagai suami dari istri dan anak – anak, berperan
sebagai pencari nafkah,pendidik, pelindung, dan pemberi rasa aman,
sebagai kepala keluarga, sebagai anggota dari kelompok sosialnya
serta sebagai anggota masyarakat dari lingkungannya.
2. Peran ibu: Sebagai istri dan ibu dari anak – anaknya. Ibu mempunyai
peranan untuk mengurus rumah tangga sebagai pengasuh dan pendidik
anak – anaknya, pelindung dan sebagai salah satu kelompok dari
peranan sosialnya serta sebagai anggota masyarakat dari
lingkungannya, disamping itu juga ibu dapat berperan sebagai pencari
nafkah tambahan dalam keluarganya.
3. Peran anak: Anak – anak melaksanakan peranan psikososial sesuai
dengan tingkat perkembangannya baik fisik, mental, sosial dan
spiritual.

D. Fungsi Keluarga
Friedman (1998) mengidentifikasi lima fungsi dasar keluarga,
sebagai berikut:
1.  Fungsi afektif (the affective function) adalah fungsi keluarga yang
utama untuk mengajarkan segala sesuatu untuk mempersiapkan anggota
keluarga berhubungan dengan orang lain. Fungsi ini dibutuhkan untuk
perkembangan individu dan psikososial anggota keluarga.
2.  Fungsi sosialisasi dan tempat bersosialisasi (socialization and social
placement function) adalah fungsi mengembangkan dan tempat melatih
anak untuk berkehidupan sosial sebelum meninggalkan rumah untuk
berhubungan dengan orang lain di luar rumah.
3. Fungsi reproduksi (the reproductive function) adalah fungsi untuk
mempertahankan generasi dan menjaga kelangsungan keluarga.
4. Fungsi ekonomi (the economic function), yaitu keluarga berfungsi untuk
memenuhi kebutuhan keluarga secara ekonomi dan tempat untuk
mengembangkan kemampuan individu meningkatkan penghasilan untuk
memenuhi kebutuhan keluarga.
5.  Fungsi perawatan/ pemeliharaan kesehatan (the health care function).
Keluarga juga berperan atau berfungsi untuk melaksanakan praktek asuhan
kesehatan, yaitu untuk mencegah terjadinya gangguan kesehatan dan atau
merawat anggota keluarga yang sakit. Kemampuan keluarga dalam
memberikan asuhan kesehatan mempengaruhi status kesehatan keluarga.
E. 5 Tugas Keluarga Dalam Bidang Kesehatan
Lima tugas keluarga dalam bidang Kesehatan menurut Friedman, (1981)
adalah :
a. Mengenal gangguan perkembangan Kesehatan setiap anggotanya
b. Mengambil keputusan untuk melakukan tindakan yang tepat.
c. Memberikan keperawatan pada anggota keluarga yang sakit, dan yang
tidak dapat membantu dirinya sendiri karena cacat atau usianya terlalu
muda.
d.  Mempertahankan suasana di rumah yang menguntungkan kesehatan
dan perkembangan kepribadian anggota keluarga.
e.  Mempertahankan hubungan timbal balik antara keluarga dan
lembaga-lembaga Kesehatan yang menunjukkan pemanfaatan dengan
baik fasilitas-fasilitas Kesehatan yang ada.

F. Diagnosa Keperawatan

1. Nutrisi Kurang Dari Kebutuhan Tubuh

2. Defisit Pengetahuan

3. Resiko Keterlambatan Perkembangan Anak


DAFTAR PUSTAKA

World Health Organization, 2010. Malnutrion : The Global Picture. WHO


Geneva.
Jurnal Kesehatan Komunitas 2013, Volume 2, Nomor 2, April 2013, Online di
http:// ejournals l.Undip.ac.id / index. Php/jkm, diakses 24 Oktober 2013.
Robert dkk (2008). Maternal and Child Undernutrion I ; Maternal and Child
Under Nutrition : Global and Regional Exposures and Health
Consequences). The Lancet,
371 : 243-260

Friedman,Marilyn M.,(1998),Kerawatan keluarga :teori dan


praktik,edisi 3,EGC,Jakarta
Havighurst Hurlock,psikologi perkembangan sepanjang masa
rentang kehidupan Imam al Ghazali,ihya’ulum ad-Din,juz VII,(Beirut;al-
Fikr,1980),hlm 130.

Sumber : Rahmaita. (2016) ’pengaruh tugas perkembangan keluargta terhadap


kepuasan perkawinan ibu yang baru memiliki anak pertama’ fakultas tehnik
universitas negeri jakarta, pp.1-10

https://www.academia.edu/5728850/
PENYEMPURNAAN_KECUKUPAN_GIZI_UNTUK_ORANG_INDONESIA_
2012
Journal Endurance 2(2) June 2017

Jurnal Ilmiah Kedokteran, Vol 4 No 3

Dapus: 1. Ambarwati, fitri respati. (2014). Konsep kebutuhan dasar manusia.


Yogyakarta : dua satria offset.

2. Astuti, harwina widya. (2010). Ilmu gizi dalam keperawatan. Jakarta : trans
info media.

Habel, R. M. & Dianita, A. H. (2017). Paper Kesehatan Dan Gizi Layanan


Pengasuhan Untuk Cegah Stunting Sejak Dini. Dipetik September 19, 2018, dari

https://www.academia.edu/32424109/
Paper_Kesehatan_dan_Gizi_Layanan_Pengasuhan_Untuk_Cegah_Stunting_

Almatsier, dkk. (2011). Gizi Seimbang Dalam Daur Kehidupan.

Jakarta : PT Gramedia Pustaka Utama