Anda di halaman 1dari 26

LAPORAN PENDAHULUAN

PADA PASIEN G3P1A1H1 DENGAN PLASENTA PREVIA DI POLI KANDUNGAN


RSUP PROVINSI NTB

OLEH :

NAMA : KIKI HARIATI


NIM : 051 STYJ 21

YAYASAN RUMAH SAKIT ISLAM NUSA TENGGARA BARAT


SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN YARSI MATARAM
PROGRAM STUDI NERS JENJANG PROFESI
MATARAM
2021
1. KONSEP DASAR
a. Pengertian

Plasenta Previa adalah plasenta yang berimplantasi rendah sehingga menutupi


sebagian /seluruh ostium uteri internum (implantasi plasenta yang normal adalah
pada dinding depan, dinding belakang rahim atau di daerah fundus uteri).(Yuni
Kusmiyati dkk, 2009, Perawatan Ibu Hamil, hal. 158-159.

Menurut Cunningham (2006), plasenta previa merupakan implantasi plasenta di


bagian bawah sehingga menutupi ostium uteri internum, serta menimbulkan
perdarahan saat pembentukan segmen bawah rahim

b. Etiologi
Plasenta previa meningkat kejadiannya pada keadaan-keadaan yang
endometriumnya kurang baik, misalnya karena atrofi endometrium atau kurang
baiknya vaskularisasi desidua.
Keadaan ini bisa ditemukan pada :
1. Multipara, terutama jika jarak antara kehamilannya pendek.
2. Mioma uteri.
3. Koretasi yang berulang.
4. Umur lanjut.
5. Bekas seksio sesarea.
6. Umur dan parietas

 Umur diatas 35 tahun


 Parietas tinggi dan parietas rendah
7. Endometrium cacat
8. Tumor
9. Malnutrisi
10. Bekas aborsi
11. Bekas sectio sesarea
12. Kelainan janin
13. Leiomioma uteri
14. Korpus luteum bereaksi lambat
15. Hipoplasia endometrium
16. Perubahan inflamasi atau atrofi, misalnya pada wanita perokok atau
pemakai kokain. Hipoksemi yang terjadi akibat karbon monoksida akan
dikompensasi dengan hipertrofi plasenta. Hal ini terjadi terutama pada
perokok berat (lebih dari 20 batang perhari).
Keadaan endometrium yang kurang baik menyebabkan plasenta harus
tumbuh menjadi luas untuk mencukupi kebutuhan janin. Plasenta yang
tumbuh meluas akan mendekati atau menutupi ostium uteri internum.
Endometrium yang kurang baik juga dapat menyebabkan zigot mencari
tempat implantasi yang lebih baik, yaitu di tempat yang rendah dekat
ostium uteri internum.
Plasenta previa juga dapat terjadi pada plasenta yang besar dan yang
luas, seperti pada eritroblastosis, diabetes mellitus, atau kehamilan
multipel.
c. Klasifikasi

Menurut de snoo, berdasarkan pembukaan 4-5 cm:

1. Plasenta previa sentralis (totalis)


Bila pembukaan 4-5 cm teraba plasenta menutupi seluruh ostium.
2. Plasenta previa lateralis
Bila pembukaan 4-5 cm sebagian pembukaan di tutupi oleh plasenta ,di bagi
menjadi 3:

a. Palenta previa lateralis posterior.


Bila sebagian menutupi ostium bagian belakang.
b.Plasenta previa lateralis anterior
Bila menutupi ostium bagian depan
c. Pasenta previa marginalis
Bila sebagian kecil atau pinggir ostium yang di tutupi plasenta.
Menurut browne

1. Tingkat 1 : lateral plasenta previa.


Pinggir bawah plasenta berinsisi sampai ke segmen bawah rahim,namun
tidak sampai ke pingir pembukaan.

2 Tingkat 2 : marginal plasenta previa.


Plasenta mencapai pinggir pembukaan (ostium)

3 Tingkat 3 : complete plasenta previa.


Plasenta menutupi ostium waktu tertutup dan tidak menutupi bila
pembukaan hampir lengkap.

4 Tingkat 4 :central plasenta previa.


Plasenta menutupi seluruhnya pada pembukaan hampir lengkap.
Menurut penulis buku-buku amerika serikat:
1 Plasenta previa totalis : seluruh ostium di tutupi plasenta.
2 Plasenta previa partialis :sebagian di tutupi plasenta
3 Plasenta letak rendah (low lying plasenta)
Tepi plasenta berada di 3-4 cm diatas pingir pembukaan pada pemeriksaan
dalam tidak di teraba.

d. Tanda dan gejala


Kejadian yang paling khas pada plasenta previa adalah perdarahan tanpa nyeri
yang biasanya baru terlihat setelah kehamilan mendekati akhir trimester kedua
atau sesudahnya. Namun demikian, banyak peristiwa abortus mungkin terjadi
akibat lokasi abnormal plasenta yang sedang tumbuh. Sering perdarahan akibat
plasenta previa terjadi tanpa tanda-tanda peringatan pada wanita hamil yang
sebelumnya tampak sehat-sehat saja. Tidak nyeri dan perdarahan pervaginam
berwarna merah terang pada umur kehaliman trimester kedua atau awal trimester
ketiga merupakan tanda utama plasenta previa.
(http://Irwan Ashari. Blogspot. Com/2008/01/Plasenta.html)
e. Penatalaksanaan
Harus dilakukan di rumah sakit dengan fasilitas operasi.
Sebelum dirujuk, anjurkan pasien untuk tirah baring total dengan menghadap
kekiri, tidak melakukan senggama, menghindari peningkatan tekanan rongga
perut (misal batuk, mengedan karena sulit buang air besar).
Penanganan Plasenta Previa

Syok Tidak syok

1. Infus cairan Infus cairan


2. Oksigen (kalau ada)

Rujuk kerumah sakit

Aterm Belum Aterm

Periksa Dalam di
1. Konservatif
Atas Meja Operasi
2. rawat
3. Kortikosteroid untuk
pemotongan paru-paru
janin
Plasenta previa Plasenta letak rendah
4. Bila perdarahan ulang

Seksio sesarea Partus pervaginam

Pasang infus cairan NaCl fisiologis. Bila tidak memungkinkan, beri cairan peroral.
Pantau tekanan darah dan frekuensi nadi pasien secara teratur tiap 15 menit untuk
mendeteksi adanya hipotensi atau syok akibat perdarahan. Pantau pula DJJ dan
pergerakkan janin. Bila terjadi renjatan, segera lakukan resusitasi cairan dan tranfusi
darah. Bila tidak teratasi, upayakan penyelamatan optimal. Bila teratasi, perhatikan
usia kehamilan. Bila tidak ada renjatan, usia gestasi 37 minggu atau lebih, taksiran
berat janin 2500 gram atau lebih, lakukan PDMO. Bila ternyata plasenta previa,
lakukan persalinan perabdominan. Bila bukan, usahakan partus pervaginam.

a. Terapi Ekspektatif (pasif)


Tujuan ekspektatif ialah supaya janin tidak terlahir premature, penderita dirawat
tanpa melakukan pemeriksaan dalam melalui kenalis servisis. Upaya diagnosis
dilakukan secara non invasive. Pemantauan klinis dilakukan secara ketat dan baik.

Syarat-syarat terapi ekspektatif :

1) Kehamilan preterm dengan perdarahan sedikit yang kemudian berhenti


2) Belum ada tanda-tanda in partu
3) Keadaan umum ibu cukup baik (kadar hemoglobin dalam batas normal)
4) Janin masih hidup.
1. Rawat inap, tirah baring dan berikan antibiotik profilaksis.
2. Lakukan pemeriksaan USG untuk mengetahui implantasi plasenta, usia
kahamilan profil biofisik, letak dan pesentasi janin.
3. Berikan tokolitik bila ada kontrksi :
MgSO4 4 g IV dosis awal dilanjutkan 4 g setiap 6 jam-

Nifedipin 3x20 mg/hari-

Betamethason 24 mg IV dosis tunggal pematangan paru janin-

4. Uji pematngan paru janin dengan test kocok dari hasil amniosentesis.
5. Bila setelah usia kehamilan di atas 34 minggu, plasenta masih berada di
sekitar ostium uteri internum, maka dugaan plasenta previa menjadi jelas,
sehingga perlu dilakukan observasi dan konseling untuk menghadapi
kemungkinan keadaan gawat darurat.
6. Bila perdarahan berhenti dan waktu untuk mencapai 37 minggu masih lama,
pasien dapat dipulangkan untuk rawat jalan (kecuali apabila pasien di luar kota
dan jarak untuk mencapai rumah sakit lebih dari 2 jam).
b. Terapi Aktif (tindakan segera)
Wanita hamil di atas 22 minggu dengan perdarahan pervaginam yang aktif dan
banyak, harus segera ditatalaksana secara aktif tanpa memandang maturitas janin.
Cara menyelesaikan persalinan dengan plasenta previa :
 sxSeksio sesarea-
Prinsip utama dalam melakukan seksio sesarea adalah untuk menyelamatkan
ibu, sehingga walaupun janin meninggal atau tak punya harapan untuk hidup,
tindakan ini tetap dilakukan.

 Melahirkan pervaginam-
Perdarahan akan berhenti jika ada penekanan pada plasenta. Penekanan
tersebut dapat dilakukan dengan cara-cara sebagai berikut :

- Amniotomi dan akselerasi


Umumnya dilakukan pada plasenta previa lateralis/marginalis dengan
pembukaan >3 cm srta presentasi kepala. Dengan memecah ketuban, plasena
akan mengikuti segmen bawah rahim dan ditekan oleh kepala janin. Jika
kontraksi uterus belum ada atau masih lemah, akselerasi dengan infus
oksitosin.

- Versi Braxton Hicks


Tujuan melakukan versi Baxton Hicks ialah mengadakan tamponade
plasenta denan bokong (dan kaki) janin. Versi Braxton Hicks tidak
dilakukan pada janin yang masih hidup.

- Traksi dengan Cunam Willet


Kulit kepala janin dengan Cunam Willet, kemudian beri beban secukupnya
sampai perdarahan berhenti. Tindakna ini kurang efektif untuk menekan
plasenta dan seringkali menyebabkan perdarahan pada kulit kepala.
Tindakan ini biasanya dikerjakan pada janin yang telah meninggal dan
perdarahan tidak aktif.

(http://Irwan Ashari. Blogspot. Com/2008/01/Plasenta.html

f. Pemeriksaan penunjang
 Pemeriksaan radio-isotop
Plasento grafi jaringan lunak (soft tissue plasenthografy). Untuk mencoba
melokalisir plasenta
 Sitografi
Kepala ditekan kebawah kearah pintu atas panggul. Bila jarak kepala dan
kandung kemih berselisih lebih dari 1 cm, maka terdapat kemungkinan
plasenta previa (memasukan 40cc larutan NaCL 12,5% dengan kandung
kemih kosong).
 Plasentografi indirek
Menghitung jarak antara kepala-simfisis dan kepala promotorium (ibu dalam
posisi berdiri atau duduk setengah berdiri).
 Arteriografi
Dengan memasukan zat kontras kedalam rongga amnion.dan akan jelas
terlihat di daerah kosong (diluar janin) dalam rongga rahim.
 Radio isotop plasentografi.
 Ultra sonografi.
Tidak membahayakan radiasi pada janin
f. Patofisiologi

POHON MASALAH

Inflamasi

Vaskularisasi Inplantasi embrio (embrionik plate) Perubahan


jelek atropik
Pada baguan bawah (kauda)uterus

dx. kebidanan
PLASENTA PREVIA

Klasifikasi Tanda dan gejala : Faktor resiko : Cirri-ciri :

- Plasenta previa - Perdarahan tanpa - Wanita > 35 tahun - Perdarahan tanpa nyeri
Totalis nyeri - Multipara - Perdarahan berulang
- Plasenta previa - Perdarahan - Kehamilan kembar - Perdarahan merah segar
parsial berwarna merah - Gangguan antomi/ - Anemia dan renjatan
- Plasenta previa terang tumor pada rahim - Timbul perlahan
marginal - Terjadi pada TM II - Jaringan parut - Terjadi waktu hamil
- Plasenta previa atau awal TM III - Endometriosis - Tidak ada His
rendah - Bagian terendah - Riwayat Plasenta - Tidak tegang saat palpasi
anak tidak previa - DJJ ada
mendekati PAP - Trauma kehamilan - Teraba Plasenta saat VT
- Serine disertai - Merokok dan - Penurunan kepala tudak
kelainan letak alkohol masuk PAP
- Presentasi mungkin
abnormal

Diagnosa
Diagnosa banding :

- Solutio plasenta
- Vasa Previa
- Laserasi servix/ vagina
Anamnesa : Pemeriksaan Fisik

- Perdarahan jalan lahir


tanpa nyeri
- Perdarahan tanpa sebab
dan berulang Pemeriksaan luar Pemeriksaan dgn. alat

Khusus Umum Inspekulo USG

Pemeriksaan dalam di
Insfeksi Palpasi
meja operasi
- Perdarahan - TFU rendah
pervaginam - Kesalahan letak janin
- TD
- Bagian bawah janin
- Suhu
belum masuk PAP
- Nadi
bentuk warna Volume - Bantalan pada SBR
- DJJ

Anemia masalah

Penatalaksanaan
SC

Amniotomi dan
Pasif Aktif akselerasi

pervaginam Versi Braxton


Hicks

Komplikasi berhasil Traksi dengan

- Perdarahan massif Cunan Willet


- Premature KIE ttg gizi
- Plasenta Akreta
g. Komplikasi

1. Perdarahan massif, dapat menyebabkan shock bahkan kematian.


2. Lahir premature. Plasenta previa dapat menyebabkan lahir premature.
3. Plasenta akreta. Pada kondisi ini, plasenta implantasi terlalu dalam dan kuat
pada dinding uterin, yang menyebabkan sulitnya plasenta terlepas secara
spontan plasenta saat melahirkan. Hal ini dapat menyebabkan perdarahan
hebat dan perlu operasi histerektomi. Keadaan ini jarang, tetapi sangat khas
mempengaruhi wanita dengan plasenta previa atau wanita dengan sesar
sebelumnya atau operasi uterus lainnya.
(http://Irwan Ashari. Blogspot. Com/2008/01/Plasenta.html).

4. Anemia karena perdarahan


5. Asfiksia berat

2. KONSEP ASUHAN KEPERAWATAN

I. PENGKAJIAN
A. Data Subjektif
 Biodata
Umur : Wanita lebih dari 35 tahun, 3 kali lebih berisiko.

(http://tonangardyanto.blogspot.com/2006/04/plasenta-previa-plasenta-bisa-
pindah.html)

 Keluhan Utama :
Perdarahan tanpa sebab (causeless), tanpa nyeri (painless), dan berulang
(recurrent). Perdarahan timbul sekonyong – konyong tanpa sebab apapun.

(http://irwanashari.blogspot.com/2008/01/plasenta-previa.html)

B. Data Objektif
1) Pemeriksaan fisik
 Keadaan umum : kesadaran, bentuk badan dan bicara
 Tanda-tanda vital : TD, respirasi, nadi, suhu
 Kepala : bentuk kepala, mata, telinga, hidung, mulut apakah normal atau
tidak
 Leher : bentuk, warna kulit, apakah terjadi bengkak dan adanya
pembesaran tyroid
 Thorak : dengan cara inspeksi, palpasi, perkusi, auskultasi
 Payudara : keadaan, mamae, dengan cara inspeksi dan palpasi apakah ada
kelainan.
 Punggung : bentuk punggung
 Abdomen : - inspeksi : kesimetrisan, stiae
- auskultasi : DJJ
-palpasi : pemeriksaan Leopold
 Ekstremitas : atas dan bawah apakah ada edema, tonus otot
 Genetalia : kebersihan, masih keluar darah apa tidak
 Anus : kebersihan, ada hemoroid apa tidak

2) Data Riwayat Kesehatan


Riwayat kesehatan sekarang meliputi :
 Keluhan utama atau yang berhubungan dengan gangguan atau penyakit
dirasakan saat ini atau perasaan pasien saat ini.
 Riwayat kehamilan : kehamilan keberapa, anak yang hidup, pernah
mengalami abortus atau tidak, imunisasi.
Riwayat kesehatan dahulu :
 Meliputi penyakit lain yang dapat mempengaruhi penyakit sekarang
atau pernah mengalami penyakit seperti sekarang.
Riwayat kesehatan kelarga
 Meliputi apakah keluarga pasien ada yang mempunyai riwayat
persalinan plasenta previa.
3) Pemeriksaan kebidanan meliputi :
 Pemeriksaan kehamilan : TFU, posisi janin, gerak janin, DJJ, HIS
 Keadaan haid : menarche, status haid, lama haid, keadaan darah,
amenorhoe, HPHT, tapsiran partus
 Perkawinan : perkawinan keberapa, umur kehamilan.
 Penggunaan kontrasepsi
4) Data Biologis-Psikososial-Sosial-Spiritual
 Biologis : bernapas, makan-minun, eliminasi, istirahat, tidur, gerak
aktivitas, pengaturan suhu tubuh.
 Psikososial : rasa nyaman, rasa aman
 Sosial : hubungan antara pasien dengan masyarakat, keluarga, dan
tenaga medis
 Spiritual : agama dan kepercayaan
II. DIAGNOSA KEPERAWATAN

NO. DIAGNOSA KEPERAWATAN

1. plasenta previa.

2. takut menghadapi persalinan (operasi)


III. RENCANA ASUHAN KEPERAWATAN

NO DIAGNOSA TUJUAN INTERVENSI RASIONAL PARAF


KEPERAWATAN

1 Plasenta previa 1. Tidak terjadi 1. Lakukan 1. Pasien dan


perdarahan pendekatan dengan keluarga dapat
aktif sampai pasien dan keluarga kooperatif dalam
dilakukan dengan komunikasi proses asuhan
tindakan SC. therapeutic. keperawatan
2. Operasi seksio 2. Lakukan 2. Dengan
caesaria pemeriksaan fisik pemeriksaan fisik
berjalan bisa diketahui
lancar, tanpa status dan kondisi
ada penyulit. ibu.
3. Bayi dan ibu 3. Jelaskan hasil 3. Pasien dan
sehat. dari pemeriksaan. keluarga dapat
mengerti keadaan
yang sedang
terjadi.
4. Siapkan fisik 4. Pasien mendapat
dan mental pasien support fisik dan
untuk melakukan mental sehingga
operasi. siap menjalani
operasi.
5. Anjurkan pada 5. Pasien dan
pasien dan keluarga keluarga kooperatif
tentang rencana dan dalam proses
persiapan persalinan persalinan
di rumah sakit
dengan cara operasi
.
Konsul pemeriksaan
laboratorium untuk
persiapan SC.
6. Kolaborasi 6. Untuk deteksi dini
dengan tim medis masalah-masalah
untuk rencana MRS. yang timbul.
7. Anjurkan 7. Pasien telah siap
pasien untuk segera untuk MRS.
ke rumah sakit bila
terjadi pendarahan
ulang.
8. Kontrol 1 8. Segera dapat
minggu lagi ke poli diberikan tindakan
hamil I untuk emergency dan
persiapan MRS. mencegah
terjadinya
komplikasi.3
9. Persiapan untuk
operasi.
1. pasien dan
1. Lakukan
2 Takut menghadapi Pasien tenang keluarga dapat
pendekatan dengan
persalinan dan pasrah kooperatif dalam
pasien dan keluarga
menghadapi proses asuhan
dengan komunikasi
persalinan keperawatan
therapeutic.
dengan cara 2. pasien merasa
2. beri
operasi. lebih tenang dapat
kesempatan pada
membagi beben
pasien untuk
pikirannya.
mengungkapkan
perasaannya.
3. mengetahui
3. periksa tanda-
perkembangan
tanda vital : Tensi,
pasien atau kondisi
Nadi, Suhu, dan
pasien sebelum
pernafasan
melaksanakan
operasi.
4. libatkan suami 4. dukungan moril
dan keluarga untuk dari suami dan
memberi dukungan keluarga dapat
mental. membuat pasien
percaya diri dan
lebih tenang.
5. anjurkan 5. berdoa dan
pasien untuk berdoa mendekatkan diri
dan mendekatkan pada Tuhan
diri pada Tuhan. membantu klien
merasa lebih
tenang dan pasrah
dalam
menghadapui
persalinan.

IV. IMPLEMENTASI

DIAGNOSA
NO. TGL JAM IMPLEMENTASI
KEPERAWATAN

1. Plasenta previa 8 08.00-09.00 1. melakukan pendekatan


Septem dengan pasien dan
ber keluarga dengan
2008 komunikasi therapeutic.
2. melakukan pemeriksaan
fisik
3. menjelaskan hasil dari
pemeriksaan. konsul
pemeriksaan
laboratorium untuk
persiapan SC.
4. mengkolaborasikan
dengan tim medis untuk
rencana MRS.

9 09.00-selesai
Septem 5. menyiapkan fisik dan
ber mental pasien untuk
2008 melakukan operasi.
6. menganjurkan pada
pasien dan keluarga
tentang rencana dan
persiapan persalinan di
rumah sakit dengan cara
operasi .
7. mengontrol untuk
persiapan MRS dan
koloborasi medis untuk
operasi seksio caesaria.

16 08.00-selesai
8. menganjurkan pasien/
septem
keluarga untuk segera ke
ber
rumah sakit bila terjadi
2008
pendarahan ulang.

2 Takut menghadapi 16 08.00-selesai 1. pasien dan keluarga


persalinan septem dapat kooperatif dalam
ber proses asuhan
2008 kebidanan.
2. pasien merasa lebih
tenang dapat membagi
beben pikirannya.
3. mengetahui
perkembangan pasien
atau kondisi pasien
sebelum melaksanakan
operasi.
4. dukungan moril dari
suami dan keluarga
dapat membuat pasien
percaya diri dan lebih
tenang.
5. berdoa dan
mendekatkan diri pada
Tuhan membantu klien
merasa lebih tenang dan
pasrah dalam
menghadapui
persalinan.

Anda mungkin juga menyukai