Anda di halaman 1dari 65

LAPORAN KASUS

G3P20002 kehamilan 36 minggu dengan KPD, PPI,


Inpartu, Janin Tunggal Hidup, Presentasi Kepala,
Punggung Kanan, TBJ 2635 gram, dengan APB et
cause Plasenta Letak Rendah
Oleh :
Astri Melinda P.
Pembimbing :
dr. Aminuddin, Sp.OG

SMF Ilmu Obstetri dan Ginekologi


RSUD dr. Mohammad Saleh Kota Probolinggo
Fakultas Kedokteran Universitas Wijaya Kusuma Surabaya
2015

PENDAHULUAN

Akhir akhir ini diperkirakan terjadi peningkatan kasus


dengan gambaran histopatologik antara neoplasma ovarium
jinak dan ganas, diklasifikasikan sebagai neoplasma
ovarium borderline, yang penanganannya masih belum
disepakati oleh para ahli.

Tumor Ovarium

Jaringan

Epitel

PENDAHULUAN

Fibroma

Tumor Endometroid

Tumor Padat Ovarium

Tumor Sel Stroma

Tumor Brenner

TINJAUAN PUSTAKA

PENDARAHAN ANTEPARTUM

Definisi
Perdarahan antepartum didefinisikan sebagai perdarahan
yang berasal dari jalan lahir pada usia kehamilan lebih dari
24 minggu dan sebelum adanya persalinan.
Etiologi
Perdarahan antepartum dapat disebabkan oleh robeknya
sebagian plasenta yang melekat di dekat kanalis servisis
yang disebut dengan plasenta previa.

TINJAUAN PUSTAKA

PENDARAHAN ANTEPARTUM

TATALAKSANA UMUM
PENDARAHAN ANTEPARTUM
PRINSIP
1. Harus dievaluasi di rumah sakit yang mampu
menangani perdarahan maternal dan perawatan perinatal
yang memadai.
2. Pemeriksaan vagina atau rektal tidak boleh dilakukan
sampai diagnosis plasenta previa dapat disingkirkan.

LANGKAH
1. Infus larutan garam fisiologik, memeriksa kadar Hb dan
golongan darah.
2. Penyediaan darah berapapun kadar Hb pasien untuk
transfusi darah.
3. Pemantauan TTV ibu dan kesejahteraan janin.
4. Pemeriksaan USG (Transvaginal)

TINJAUAN PUSTAKA

PLASENTA PREVIA
DEFINISI
Plasenta previa adalah plasenta yang berimplantasi pada segmen bawah
rahim sedemikian rupa sehingga menutupi seluruh atau sebagian dari ostium
uteri internum.
KLASIFIKASI BERDASARKAN LETAK
1. Plasenta previa totalis atau komplit, yaitu bila plasenta menutupi seluruh
ostium uteri internum.
2. Plasenta previa parsialis, bila plasenta menutupi sebagian ostium uteri
internum.
3. Plasenta previa marginalis, bila tepi plasenta berada pada pinggir ostium
uteri internum.
4. Plasenta letak rendah, bila tepi bawah plasenta berada pada jarak lebih
kurang 2 cm dari ostium uteri internum.

TINJAUAN PUSTAKA
PLASENTA PREVIA
KLASIFIKASI PP BERDASARKAN
1. Plasenta letak rendah
2. Marginal
3. Parsial
4. Totalis

TINJAUAN PUSTAKA
PLASENTA PREVIA

Klasifikasi plasenta previa berdasarkan derajatnya:


Derajat 1, Lateral plasenta previa: Pinggir bawah
plasenta berinsersi sampai ke segmen bawah rahim,
namun tidak sampai ke pinggir pembukaan.
Derajat 2, Marginal plasenta previa: Plasenta mencapai
pinggir pembukaan (ostium uteri internum).
Derajat 3, Complete placenta previa: plasenta menutupi
ostium waktu tertutup dan tidak menutupi bila
pembukaan hampir lengkap.
Derajat 4, Central placenta previa: plasenta menutupi
seluruh ostium pada pembukaan hampir lengkap.

TINJAUAN PUSTAKA
PLASENTA PREVIA

ETIOLOGI:
1. Usia lanjut
2. Multiparitas
3. Cacat uterus
4. Merokok
5. Ukuran plasenta yang besar

PATOFISIOLOGI:
1. karena mulai terbentuknya segmen
bawah rahim, tapak plasenta akan
mulai mengalami pelepasan.
2. serviks mendatar (effacement) dan
membuka (dilatasi), ada bagian tapak
plasenta terlepas.

TINJAUAN PUSTAKA
PLASENTA PREVIA

MANIFESTASI KLINIS

PEMERIKSAAN PENUNJANG

1. Pendarahan berulang
2. Tidak nyeri
3. Menjelang akhir TII, awal TIII

1. USG
2. MRI

TINJAUAN PUSTAKA

PLASENTA PREVIA

DIAGNOSIS
ANAMNESIS
1. pendarahan pada uk >24 minggu
2. nyeri (-)
3. tanpa alasan
4. berulang dengan volume darah
pada yang lebih banyak.

PEMERIKSAAN FISIK:
1. Inspeksi: pendarahan
pervaginam
2. Palpasi: bagian terbawah belum
masuk PAP, kelainan letak.

INSPEKULO:
pendarahan berasal dari OUE

PEMERIKSAAN LETAK
PLASENTA
Langsung: VT dengan Double
Set up
Penunjang: USG

TINJAUAN PUSTAKA

PLASENTA PREVIA

TATALAKSANA UMUM
Tidak melakukan pemeriksaan dalam sebelum tersedia
kesiapan untuk seksio sesarea. Pemeriksaan inspekulo
dilakukan secara hati-hati, untuk menentukan sumber
perdarahan.
Perbaiki kekurangan cairan/darah dengan
intravena (NaCl 0,9% atau Ringer Laktat)

infus

cairan

Lakukan penilaian jumlah perdarahan.


Jika perdarahan banyak dan berlangsung, persiapkan seksio
sesarea tanpa memperhitungkan usia kehamilan.
Jika perdarahan sedikit dan berhenti, dan janin hidup tetapi
prematur, pertimbangkan terapi ekspektatif.

TINJAUAN PUSTAKA

PLASENTA PREVIA

TATALAKSANA KHUSUS
KONSERVATIF Mempertahankan janin tidak lahir
premature
AKTIF Terminasi

TINJAUAN PUSTAKA

PLASENTA PREVIA

TATALAKSANA KHUSUS KONSERVATIF


1. Terapi ekspektatif: mempertahankan janin & mencegah IUGR
Pada awal kehamilan, diperlukan transfusi untuk menggantikan kehilangan darah
serta terapi tokolitik untuk mencegah terjadinya persalinan prematur, hingga
kehamilan mencapai usia 32-34 minggu.
2. Rawat inap, tirah baring dan berikan antibiotika profilaksis.
3. Lakukan pemeriksaan USG untuk memastikan letak plasenta;
4. Berikan tokolitik bila ada kontraksi:
. MgSO4 4 gr IV dosis awal dilanjutkan 4 g setiap 6 jam; atau
. Nifedipin 3 x 20 mg/hari
Pemberian tokolitik dikombinasikan dengan betamethason 2x12 mg IM dalam 24 jam
atau deksametason 6 mg/12 jam IV atau IM diberkan sebanyak 4 kali dalam 48 jam
untuk pematangan paru janin bila usia kehamilan antara 24-34 minggu.
5. Perbaiki anemia dengan sulfas ferosus atau ferous fumarat per oral 60 mg selama
1 bulan
6. Pastikan tersedianya sarana transfusi; dan
7. Jika perdarahan berhenti dan waktu untuk mencapai 37 minggu masih lama, dapat
rawat jalan.

TINJAUAN PUSTAKA

PLASENTA PREVIA

TATALAKSANA KHUSUS AKTIF


1. Rencanakan terminasi kehamilan jika:
Usia kehamilan cukup bulan;
Janin mati atau menderita anomali atau keadaan yang mengurangi
kelangsungan hidupnya (misalnya anensefali); dan
Pada perdarahan aktif dan banyak, segera dilakukan terapi aktif tanpa
memandang usia kehamilan.
2. Jika terdapat plasenta letak rendah, perdarahan sangat sedikit, dan presentasi
kepala, maka dapat dilakukan pemecahan selaput ketuban dan persalinan
pervaginam masih dimungkinkan. Jika tidak, lahirkan dengan seksio sesarea;
3. Jika persalinan dilakukan dengan seksio sesarea dan terjadi perdarahan dari
tempat plasenta:
Jahit lokasi perdarahan dengan benang;
Pasang infus oksitosin 10 unitin 500 ml cairan IV (NaCl 0,9% atau Ringer
Laktat) dengan kecepatan 60 tetes/menit; dan
Jika perdarahan terjadi pascasalin, segera lakukan penanganan yang sesuai,
seperti ligasi arteri dan histerektomi.

TINJAUAN PUSTAKA

TATALAKSANA KHUSUS

PLASENTA PREVIA

TINJAUAN PUSTAKA

KETUBAN PECAH DINI


DEFINISI
Pecahnya selaput ketuban sebelum persalinan mulai atau sebelum
inpartu; yaitu bila pembukaan pada primigravida < 3 cm dan pada
multigravida < 5 cm pada kehamilan di atas 20 minggu.
KLASIFIKASI BERDASARKAN USIA KEHAMILAN
1.

2.

PPROM (Preterm Premature Rupture of The Membrane)


ketuban pecah dini yang terjadi pada usia kehamilan < 37
minggu.
TPROM (Term Premature Rupture of The Membrane)
ketuban pecah dini yang terjadi pada usia kehamilan > 37
minggu.

TINJAUAN PUSTAKA

KETUBAN PECAH DINI


ETIOLOGI
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.

Belum diketahui secara pasti


Infeksi (amnionitis atau korioamnionitis)
Selaput ketuban terlalu tipis (kelainan ketuban)
Multigravida, polihidramnion, gmelli (overdistensi uterus)
Hormon
Penyakit ISK pielonefritis, sistitis, dan vaginitis peregangan
berulang
Faktor-faktor predisposisi lainnya seperti : malposisi, serviks
inkompeten, diproporsi sefalo pelvik, dan sebagainya

TINJAUAN PUSTAKA

KETUBAN PECAH DINI


PATOFISIOLOGI:
1.
2.
3.
4.

5.

Pembesaran uterus
Kontraksi uterus
Gerakan janin
Secara molekuler, ketuban pecah
dini terjadi karena berkurangnya
sintesis kolagen, perubahan struktur
kolagen, dan degradasi kolagen
yang lebih cepat.
Peningkatan stres yang
melemahkan selaput.

KOMPLIKASI
1. Pembesaran uterus
2. Kontraksi uterus
3. Gerakan janin
4. Secara molekuler, ketuban
pecah dini terjadi karena
berkurangnya sintesis
kolagen, perubahan
struktur kolagen, dan
degradasi kolagen yang
lebih cepat.
5. Peningkatan stres yang
melemahkan selaput.

TINJAUAN PUSTAKA

DIAGNOSIS

KETUBAN PECAH DINI

ANAMNESIS
1. merasa basah pada vagina atau
mengeluarkan cairan
2. berwarna putih jernih, keruh,
kuning kehijauan atau kecoklataN
3. sedikit-sedikit atau sekaligus
banyak, secara tiba-tiba dari jalan
lahir
4. dapat disertai demam jika sudah
ada infeksi
5. tidak sedang dalam masa
persalinan, tidak ada nyeri
maupun kontraksi uterus.

PEMERIKSAAN dengan
SPEKULUM:
1. Pastikan air ketuban keluar dari
ostium uteri eksternum (fluksus)
2. Kertas lakmus menjadi biru (basa).

PEMERIKSAAN PENUNJANG
1. pH
2. USG
3. Leukosit
4. Kardiotokografi, dll

TATALAKSANA

KETUBAN PECAH DINI

TINJAUAN PUSTAKA

TATALAKSANA

KETUBAN PECAH DINI

KONSERVATIF
Antibiotik (ampisilin 4 x 500 mg)
Jika UK< 32 34 minggu, dirawat
selama air ketuban masih keluar
atau sampai air ketuban tidak
keluar lagi.
JIKA UK 32-34 minggu: steroid
untuk pematangan paru
Jika UK 32-37 minggu, belum
inpartu, tidak ada infeksi, : beri
dexametason, observasi tandatanda infeksi dan kesejahteraan
janin.Terminasi pada kehamilan 37
minggu.

Jika UK 32-37 minggu, sudah in


partu, tidak ada infeksi, berikan
tokolitik, dexametason dan induksi
sesudah 24 jam.
Jika usia kehamilan 32-37 minggu,
ada infeksi, beri antibiotik dan
lakukan induksi.
Nilai tanda-tanda infeksi

TINJAUAN PUSTAKA

TATALAKSANA

KETUBAN PECAH DINI

AKTIF
UK > 37 minggu, induksi
dengan oksitosin, bila gagal
pikirkan seksio sesarea. Dapat
pula diberikan misoprostol
50g intravaginal tiap 6 jam
maksimal 4 kali.

Bila ada tanda-tanda infeksi,


berikan antibiotika dosis tinggi dan
persalinan diakhiri jika :
skor pelvik < 5 pematangan
serviks induksi. Jika tidak
berhasil, akhiri persalinan dengan
seksio sesarea.
skor pelvik > 5 induksi persalinan
partus pervaginam.

TINJAUAN PUSTAKA

PARTUS PREMATURUS IMINEN

DEFINISI

suatu ancaman pada kehamilan dimana akan timbul persalinan


pada umur kehamilan yang belum aterm (20 sampai 37 minggu).

TINJAUAN PUSTAKA

PARTUS PREMATURUS IMINEN


o Faktor janin dan
placenta
Perdarahan trimester
awal
Perdarahan antepartum
(placenta previa, solusio
placenta, vasa previa)
Ketuban pecah dini
Pertumbuhan janin
terhambat
Cacat bawaan janin
Kehamilan ganda
polihidramnion

F
A
K
T
O
R
R
E
S
I
K
O

o Faktor ibu

Penyakit berat pada ibu


Diabetes militus
Preeklamsi
Infeksi saluran kemih/ genitalia/
intrauterin
Penyakit infeksi dengan
demam
Stres psikologis
Kelainan bentuk uterus/ serviks
Riwayat persalinan preterm/
abortus berulang
Inkompetensi serviks
Pemakaian obat narkotik
Trauma
Perokok berat
Kalainan imunologi

TINJAUAN PUSTAKA

PARTUS PREMATURUS IMINEN


ETIOLOGI
1. Perdarahan placenta, dengna pembentukan prostaglandin dan mungkin
induksi stres
2. Janin mati, kelainan konsepsi, atau kelainan kongenital
3. KPD, infeksi lain, bakteriuri, kolonisasi genital (infeksi akan membentuk
sitokin dan pelepasan lemak bioaktif yang natinya membentuk
prostaglandin)
4. Plasentasi yang kurang baik
5. Distensi uterus (gmeli, hidramnion), oligohidramnion
6. Riwayat pernah melahirkan prematur atau kegugiuran
7. Kelainan cerviks yang inkompeten atau yang pendek
8. Penyakit berat pada ibu
9. Kurang gizi mengakibatkan anemia, kekurangan zn, asam folat
10. Penambahan berat yang kurang saat kehamilan
11. Anomali uterus atau fetal

TINJAUAN PUSTAKA

PARTUS PREMATURUS IMINEN


MANIFESTASI KLINIS:
Kontraksi uterus dengan atau tanpa rasa
sakit
Rasa berat dipanggul
Kejang uterus yang mirip dengan
dismenorea
Keluarnya cairan pervaginam
Nyeri punggung

TINJAUAN PUSTAKA

DIAGNOSIS

PARTUS PREMATURUS IMINEN

Kontraksi yang berulang sedikitnya setiap 7-8


menit sekali, atau 2-3 kali dalam wakti 10
menit
Adanya nyeri punggung bawah
Perdarahan
Perasaan menekan daerah serviks
Pemeriksaan serviks menunjukkan telah
terjadi pembukaan sedikitnya 2 cm dan
penipisan 50 80%
Persentasi janin rendah sampai mencapai
spina isciadika
Selaput ketuban pecah dapat merupakan
tanda awal terjadinya persalina preterm
Terjadi pada usia kehamilan 22 37 minggu

TINJAUAN PUSTAKA

TATALAKSANA PARTUS PREMATURUS IMINEN


PRINSIP
evakuasi keadaan umum ibu, upayakan melakukan konfirmasi umur
kehamilan bayi. Adapun hal yang perlu diketahui dalam penanganan umum
persalinan preterm adalah:
1. Umur kehamilan, karena lebih bisa dipercaya untuk penentuan
prognosis daripada berat janin.
2. Demam atau tidak
3. Kondisi janin (jumlahnya, letak / presentasi, taksiran berat janin,
hidup/gawat janin/mati, kelainan kongenital dan sebagainya
dengan USG)
4. Letak plasenta perlu diketahui untuk mengantisipasi irisan sectio
cesarea
5. Fasilitas dari petugas yang mampu menangani calon bayi
terutama adanya seorang neonatologis, bila perlu dirujuk

TINJAUAN PUSTAKA

TATALAKSANA

PARTUS PREMATURUS IMINEN

A. PENILAIAN:
Usia gestasi (untuk
prognosis)
Demam ada/tidak
Kondisi janin (jumlah,
letak) Hidup/gawat
janin/mati atau kelainan
kongenital, dll
Letak plasenta:
perlukah SC
Kesiapan untuk
menangani bayi
prematur

B. KEMUNGKINAN
PENANGANAN SELANJUTNYA
Pertahankan janin
hingga kelahiran aterm
Tunda persalinan 2-3
hari untuk memberikan
obat pematangan baru
janin
Biarkan terjadi
persalinan

LAPORAN KASUS

IDENTITAS
Nama
: Ny. LI
Usia
: 32 tahun
Pendidikan : SMA
Pekerjaan : Ibu Rumah Tangga
Agama : Islam
Alamat :Nguling
Tanggal masuk RS : 21/9/2015
Tanggal keluar RS : 23/9/2015
Dokter penanggung jawab : dr. Aminuddin, Sp.OG

LAPORAN KASUS

ANAMNESA
Keluhan Utama : Keluar darah dan air dari kemaluan
Riwayat Penyakit Sekarang (RPS) :
Pasien dengan G3P20002 hamil 9 bulan dengan HPHT 11 Januari 2015, usia
kehamilan 36 minggu, taksiran partus 18 Oktober 2015. Pasien datang sendiri
ke IGD RSUD Moh. Saleh, karena saat bangun tidur jam 01.00 untuk ke kamar
kecil, pasien merasakan basah pada bagian kemaluan dan didapatkan keluarnya
darah serta rembesan air (pasien tidur sejak jam 22.30). Darah menggumpal
berwarna merah kehitaman, sedangkan cairan berwarna jernih dan tidak
berbau. Pasien tidak merasakan nyeri ataupun merasa adanya cairan keluar dari
kemaluan saat tidur. Pasien tidak merasakan keinginan untuk mengejan, perut
kencang-kencang ataupun perut mulas sejak keluar darah dan cairan tersebut.
Selama kehamilan pasien memeriksakan kehamilan di dr. Sp. OG. Namun
tidak rutiin. Hasil USG terakhir tanggal 31 Agustus 2015 dikatakan plasenta
letak rendah (dekat kepala).

LAPORAN KASUS

ANAMNESA
RPS
Pasien memiliki riwayat MRS tanggal 13 Agustus 2015, saat umur
kehamilan 30-31 minggu karena mengalami pendarahan tiga kali, darah
yang keluar banyak dan berwarna merah segar, bergumpal dan tidak
terasa nyeri. Oleh dr. Hakim K., Sp. OG dirujuk untuk MRS di RSUD Moh.
Saleh. Pasien MRS di ruang bersalin selama 3 malam dan KRS 16
Agustus 2015. Diagnosa post MRS G3 P20002 UK 30-31 minggu,
tunggal, hidup + PPI + APB et causa placenta letak rendah. Pasien
diberikan saran untuk segera ke IGD RSUD Moh. Saleh bila terjadi
pendarahan lagi.
Pasien menyangkal adanya nyeri perut, pusing, pandangan kabur, nyeri ulu
hati, mual, muntah dan demam. Namun bila berdiri atau duduk lama perut
pasien terasa kencang. Pasien mengatakan sejak 2 hari yang lalu gerakan
janin sempat terasa berkurang, lalu gerakan janin kembali aktif.

LAPORAN KASUS

ANAMNESA
RPK
Riwayat darah tinggi, diabetes melitus, penyakit menular seksual,
asma, alergi, serta penyakit jantung disangkal pasien.
Riwayat pendarahan pada kehamilan ini saat UK 31 minggu, dirujuk
untuk MRS di RSUD Moh. Saleh oleh dr. Sp.OG di RS Darma Husada
karena pendarahan antepartum et causa plasenta letak rendah.
Diagnosa KRS: GIIIP20002 UK 30-31 minggu, tunggal, hidup + PPI +
APB et causa placenta letak rendah.
RPD
Riwayat darah tinggi, diabetes melitus, penyakit menular seksual, asma,
alergi, serta penyakit jantung dalam keluarga disangkal pasien.

LAPORAN KASUS

ANAMNESA
Riwayat Menstruasi
Haid : teratur/tidak : teratur
Sebulan : 1 kali
Siklus : 28 hari
Selama : 5 hari
Nyeri
/+,
sebelum/selama/sesudah
haid,
darah
yang
keluar
banyak/sedikit/encer/menggumpal:
Nyeri selama haid, darah yang keluar biasa ( 2-3 kali ganti pembalut dalam 1 hari).
Menarche : 12 tahun
Hari Pertama Haid Terakhir (HPHT) :11/01/2015
Tanggal Perkiraan: 18/10/2015
Usia kehamilan : 36 minggu
Fluor albus : tidak ada

LAPORAN KASUS

ANAMNESA
Riwayat Pernikahan
Pasien menikah 1 kali saat usia 20 tahun. Usia pernikahan 12 tahun.

Riwayat KB
Pasien menggunakan kontrasepsi dengan suntik setiap tiga bulan sekali,
lalu berhenti karena berencana ganti KB. Setelah berhenti, sempat
menstruasi 2 hari/bulan selama 2 bulan, oleh karena itu pasien menunda
ganti KB sampai menstruasi kembali normal, namun ternyata hamil ini.

LAPORAN KASUS

ANAMNESA
Riwayat Obstetri
G3P20002 (a-p-i-a-h)
Goyang anak terasa pada bulan ke-5
Jumlah anak : 2

LAPORAN KASUS

ANAMNESA
Kelainan lain

Anamnesa Keluarga

Nafsu makan: Baik


Berat Badan:
sebelum kehamilan 48 kg, setelah
kehamilan 58 kg
BAB: Lancar
BAK: Lancar
Sesak: (-)
Berdebar-debar: (-)
Pusing: (-)
Mata Kabur : (-)
Epigastric pain: (-)

Tumor: (-)
Gmelli: (-)
Operasi: (-)

LAPORAN KASUS

PEMERIKSAAN FISIK
Status Generalis
Keadaan Umum: Cukup
Kesadaran : Compos mentis
a/i/c/d : -/-/-/ GCS
: 4-5-6
Gizi
: baik
Tensi
: 110/70 mmHg
Nadi
: 68/menit
Suhu : 36,5 C
Pernapasan: 20 x/menit

Mata
Konjungtiva: ODS, anemis -/ Sclera : ODS ikterik -/ Pupil
: bulat, isokor +/+, reflek
pupil (+)

Kepala
Bentuk : Normocephal
Tumor : tidak ada
Rambut : Hitam, lurus, bersih

Leher: Struma (-),Bendungan vena (-)

Telinga dan hidung : Tidak ada


kelainan
Mulut: Karies pada gigi 17, 27.

Thorax: DBN

LAPORAN KASUS

PEMERIKSAAN FISIK
Payudara: Puting susu kanan dan kiri
menonjol, hiperpigmentasi areola
mamae kanan dan kiri, tidak teraba
massa.
Abdomen:
Hepar: DBN
Lien: DBN
Genitalia Externa:
Oedema : tidak ada
Inspeksi : labia mayora menutup
Perdarahan : sedikit

Ekstremitas

LAPORAN KASUS

STATUS OBSTETRI
Muka
Cholasma gravidarum : tidak ada
Exopthalmus
: tidak ada
Leher
Struma
: tidak ada
Thorax
Mamae: Sedikit membesar, Lembek,
Hiperpigmentasi, Colostrum (-)
Abdomen
Inspeksi: Perut membesar, striae
gravidarum alba (-), striae gravidarum
lividae (-), hiperpigmentasi linea Alba
(+),Tampak gerakan anak
Palpasi

a.

b.

c.
d.

Leopold I
: TFU 3 jari dibawah
processus xypoideus (29 cm).
Tidak teraba bagian keras pada
fundus uteri. Tafsiran berat janin:
2635 gram.
Leopold II : teraba punggung
janin pada sisi kanan perut ibu,
DJJ 133x/m.
Leopold III : teraba kepala pada
bagian terendah abdomen.
Leopold IV : Presentasi kepala,
5/5, belum masuk PAP.

GENTALIA
. Inspeksi: tampak sisa
pendarahan
. Inspekulo & VT : TDE

LAPORAN KASUS

PEMERIKSAAN PENUNJANG
Laboratorium pada tanggal 21/09/2015 02.04 WIB

Pemeriksaan Urine Lengkap


: Tidak dilakukan
USG
: Tidak dilakukan
Kardiotokografi
: Tidak dilakukan.

LAPORAN KASUS
DIAGNOSA AWAL
G3P20002 kehamilan 36 minggu dengan KPD, PPI, inpartu, janin tunggal
hidup, presentasi kepala, punggung kanan, TBJ 2635 gram, dengan APB et
cause plasenta letak rendah.
PROGNOSIS
Dubia ad bonam.
PLANNING
1. MRS
2. Observasi keadaan umum, tanda vital, his, DJJ, perdarahan
3. Infus RL 500 cc, 20 tpm
4. Injeksi cefotaxime 2 x 1 g
5. Pro USG
6. Cek DL, GDA, Rapid test, HBsAg

LAPORAN KASUS

ANALISA KASUS
Pasien wanita 32 tahun datang atas keinginan sendiri ke RSUD Dr. Moh. Saleh
Kota Probolinggo dengan GIII P2-2 Ab0x hamil 36 minggu, in partu dengan KPD
dan APB et cause plasenta letak rendah. Pasien mengeluh saat bangun tidur jam
01.00 untuk ke kamar kecil, pasien merasakan basah pada bagian kemaluan dan
didapatkan keluarnya darah serta rembesan air (pasien tidur sejak jam 22.30).
Darah menggumpal berwarna merah kehitaman, sedangkan cairan berwarna
jernih dan tidak berbau. Pasien tidak merasakan nyeri ataupun merasa adanya
cairan keluar dari kemaluan saat tidur. Pasien tidak merasakan keinginan untuk
mengejan, perut kencang-kencang ataupun perut mulas sejak keluar darah dan
cairan tersebut, namun merasa nyeri pada punggung.
Pasien memiliki riwayat MRS tanggal 13 Agustus 2015, saat umur kehamilan 31
minggu karena mengalami pendarahan tiga kali, darah yang keluar banyak dan
berwarna merah segar, bergumpal dan tidak terasa nyeri. Oleh dr. Hakim K., Sp.
OG dirujuk untuk MRS di RSUD Moh. Saleh. Pasien MRS di ruang bersalin
selama 3 malam dan KRS 16 Agustus 2015. Diagnosa post MRS G3 P20002 UK
30-31 minggu, tunggal, hidup + PPI + APB et causa placenta letak rendah. Pasien
diberikan saran untuk segera ke IGD RSUD Moh. Saleh bila terjadi pendarahan
lagi.

LAPORAN KASUS

ANALISA KASUS
Pasien menyangkal adanya nyeri perut, pusing, pandangan kabur, nyeri ulu hati,
mual, muntah dan demam. Namun bila berdiri atau duduk lama perut pasien
terasa kencang. Pasien mengatakan sejak 2 hari yang lalu gerakan janin terasa
berkurang, namun gerakan janin mulai terasa kembali aktif lagi.
Selama kehamilan pasien memeriksakan kehamilan di dr. Sp. OG namun tidak
terlalu rutin karena rumah pasien yang letaknya sangat jauh selain itu keadaan
sosial ekonomi keluarga pasien yang kurang mendukung. Tingkat sosial ekonomi
keluarga yang rendah juga menjadi faktor terjadinya kelainan pada masa
kehamilan terkait dengan kebutuhan nutrisi pada masa kehamilan serta terkait
dengan pelaksanaan ANC yang tidak teratur. Sehingga pengawasan berbagai
komplikasi-komplikasi pada masa kehamilan sering kali tidak terdeteksi. Hal ini
seharusnya menjadi perhatian khusus untuk pemerintah terkait sehingga jika
dapat tertangani diharapkan secara langsung akan menekan tingkat kematian ibu
dan bayi serta secara tidak langsung akan meningkatkan kualitas SDM dimasa
yang akan datang.

LAPORAN KASUS

ANALISA KASUS
Pada pemeriksaan abdomen didapatkan abdomen BU (+) normal, soefl, hepar
lien tidak teraba. Pada pemeriksaan leopold I ditemukan tinggi fundus uteri 3 jari
di bawah prosessus xyphoideus (29 cm) dengan taksiran berat janin 2635 gram
dan kesan bagian bokong janin. Pada leopold II didapatkan kesan punggung
kanan dan ditemukan denyut jantung janin 133x/menit. Pada leopold III
didapatkan kesan kepala pada bagian terendah abdomen dan pada leopold IV
teraba bulat keras, belum masuk pintu atas panggul. Pemeriksaan dalam tidak
dilakukan karena pasien memiliki riwayat PPI + APB et causa placenta letak
rendah pada usia kehamilan 30-31 minggu.
Usia kehamilan pada pasien ini berdasarkan perhitungan manual dari HPHT
tanggal 11 januari 2015 sampai saat pasien masuk rumah sakit yaitu tanggal 21
september 2015 didapatkan usia kehamilan 36 minggu dan tafsiran persalinan
tanggal 18 Oktober 2015. Ini masih termasuk dalam usia kehamilan preterm.

LAPORAN KASUS

ANALISA KASUS
Diagnosis awal pada pasien ini adalah KPD dan APB et causa plasenta letak
rendah, hal ini ditegakkan berdasarkan anamnesis dan pemeriksaan fisik serta
pemeriksaan penunjang. Dari anamnesis didapati gejala subjektif yaitu merasa
basah pada bagian kemaluan dan didapatkan adanya rembesan air dari kemaluan
berwarna jernih dan tidak berbau saat bangun tidur, sedangkan pemeriksaan
penunjang seperti pemeriksaan lakmus tidak dapat dilakukan untuk mencegakkan
diagnosis KPD dikarenakan pasien datang ke kamar bersalin dalam keadaan sudah
mengganti pakaian dengan yang baru dan juga tidak dapat dilakukan pemeriksaan
inspekulo dikarenakan merupakan kontraindikasi dari plasenta letak rendah.

LAPORAN KASUS

ANALISA KASUS
Diagnosis APB et causa plasenta letak rendah pada pasien ini ditegakkan dari
anamnesa yaitu keluarnya darah dari vagina tanpa rasa nyeri, berwarna merah
dan menggumpal saat bangun tidur. Dari pemeriksaan fisik ibu didapatkan hasil
inspeksi berupa bekas pendarahan pada kemaluan pasien dan saat observasi
ditemukan keluarnya darah segar dari kemaluan tanpa rasa nyeri, selain itu dari
hasil pemeriksaan leopold IV didapatkan bagian terendah janin belum memasukin
PAP.
Diagnosis didukung dengan riwayat post MRS akibat pendarahan saat usia
kehamilan 30-31 minggu di RSUD Moh. Saleh tanggal 13 Agustus 2015 dengan
diagnosa post MRS G3 P20002 UK 30-31 minggu, tunggal, hidup + PPI + APB et
causa placenta letak rendah. Serta hasil USG terakhir tanggal 31 Agustus 2015
yang mengatakan plasenta letak rendah.

LAPORAN KASUS

ANALISA KASUS
Diagnosa PPI seharusnya sudah dapat ditegakkan dari awal masuknya pasien
melalui pemeriksaan dalam, namun karena pemeriksaan dalam tidak dilakukan,
sehingga diagnosis PPI pada pasien ini baru ditegakkan 6 jam setelah MRS saat
didapatkan his pada jam 09.00. Awalnya his berlangsung 2 kali dalam 10 menit
dengan durasi 20 detik yang kemudian semakin sering dan lama, dan disertai
nyeri punggung. Penyebab dari terjadinya PPI ini dapat disebabkan oleh karena
adanya faktor predisposisi partus prematurus seperti pendarahan antepartum
serta ketuban pecah dini yang dialami oleh pasien ini.
Pada pemeriksaan kehamilan dengan riwayat pendarahan berulang hendaknya
ditentukan tekanan darah, nadi, suhu dan RR, kadar hemoglobin, jumlah
pendarahan, umur kehamilan, TBJ, tanda plasenta previa, adanya tanda-tanda
persalinan, serta harus dilakukan pemantauan janin yang terus menerus.

LAPORAN KASUS

ANALISA KASUS
Perhatian juga harus ditujukan pada ibu hamil yang memiliki faktor
yang berhubungan dengan partus prematurus, diantaranya;
1. Pendarahan antepartum
2. Riwayat persalinan prematur
3. Riwayat abortus
4. Usia ibu
5. Riwayat trauma
6. Ketuban pecah dini
7. Paritas dan Jarak kehamilan
8. Persalinan kembar
9. Antenatal care
10. Faktor fetoplasenta
11. Pre eklampsia
12. Anemia

LAPORAN KASUS

ANALISA KASUS
Ibu hamil juga harus mengetahui adanya anda-tanda bahaya, keluarnya
darah segar selama kehamilan, yang tanpa disertai rasa nyeri, disertai
kontraksi pada perut yang semakin sering dan berlangsung semakin lama.
Jika tanda-tanda ini muncul hendaknya segera datang untuk memeriksakan
diri tanpa harus menunggu jadwal rutin yang mana pada kasus ini pasien
sudah melakukan hal yang tepat.
Pada kasus ini, pasien telah mendapatkan penanganan yang tepat sampai
tahap rujukan. Pasien datang sendiri ke rumah sakit, sesuai saran post KRS
tanggal 16 Agustus 2015 untuk menangani HAP (hemoragik antepartum)
yang dialami oleh pasien. Diharapkan dengan penanganan di rumah sakit,
pasien bisa mendapatkan tatalaksana yang lebih baik, sehingga memberikan
hasil yang lebih memuaskan.

LAPORAN KASUS

ANALISA KASUS
Pada tahap selanjutnya, setelah sampai di rumah sakit, telah dilakukan
penilaian secara cepat dan cermat apakah terjadi tanda-tanda ancaman syok
atau tidak, misalnya kesadaran yang menurun, tekanan darah yang menurun
(hipotensi), takikardi, nadi sulit diraba, takipnea, oliguria sampai anuria, akral
dingin dan lembab, dan tanda-tanda lain. Segera dipasang jalur intravena
untuk ringer laktat di IGD.
Transfusi darah diperlukan bila Hb <10 g/dL, sedangkan pada pasien Hb
masih 10,0 g/dL, sehingga tidak diperlukan transfusi darah. Namun tetap
masih harus disiapkan darah untuk kemungkinan terjadinya perdarahan yang
lebih hebat, selain itu keadaan janin harus diobservasi dengan cermat.
Namun di lapangan, tidak dilakukan pemeriksaan golongan darah maupun
persiapan darah untuk transfusi.

LAPORAN KASUS

ANALISA KASUS
Pada kasus ini, keluar air ketuban dari jalan lahir atau dalam hal ini pecahnya
ketuban dicurigai terjadi 4 jam sebelum masuk rumah sakit, sementara belum
ada tanda-tanda inpartu yang jelas, walaupun tidak dilakukan pemeriksaan
dalam, namun perasaan perut kencang-kencang ataupun perut mulas sejak
keluar air-air tersebut baru terasa 6 jam setelah MRS.
Dua faktor yang harus dipertimbangkan dalam mengambil sikap atau
tindakan terhadap pasien KPD, yaitu umur kehamilan dan ada tidaknya
tanda-tanda infeksi pada ibu. Pemberian antibiotik profilaksis dapat
menurunkan infeksi pada ibu. Waktu pemberian antibiotik hendaknya
diberikan segera setelah diagnosis KPD ditegakkan. Bila umur kehamilan
cukup, disarankan untuk segera diterminasi guna menghindari infeksi yang
dapat mengenai serta membahayakan janin.

LAPORAN KASUS

ANALISA KASUS
Dua prinsip tatalaksana pada pasien dengan perdarahan pada trimester ketiga,
yaitu:
1. harus dievaluasi di rumah sakit
2.

Pemeriksaan vagina atau rektal tidak boleh dilakukan sampai diagnosis


plasenta previa dapat disingkirkan.

Langkah pertama menghadapi setiap pasien dengan perdarahan yang banyak


adalah segera memberikan infus larutan garam fisiologik dan kecepatannya
disesuaikan dengan kebutuhan setiap kasus, serta memeriksa kadar hemoglobin
dan golongan darah.2
Langkah berikutnya adalah penyediaan darah segar yang senantiasa harus
disediakan berapapun kadar hemoglobin pasien mengingat perdarahan ulang atau
yang tersembunyi sewaktu-waktu bisa mengancam. Transfusi darah diberikan bila
kadar Hb <10 gram% karena pada pada perdarahan yang banyak, kadar Hb baru
nyata berkurang setelah beberapa jam kemudian. Namun pada pasien tidak
dipersiapkan darah untuk transfusi.

LAPORAN KASUS

ANALISA KASUS
Untuk penanganan selanjutnya, ada tiga pilihan utama, yaitu: 10
Terminasi segera
Teruskan persalinan sebagaimana mestinya
Terapi ekspektatif
Terminasi kehamilan dilakukan pada:
Usia kehamilan cukup bulan;
Janin mati atau menderita anomali atau keadaan yang mengurangi kelangsungan
hidupnya (misalnya anensefali); dan
Pada perdarahan aktif dan banyak, segera dilakukan terapi aktif tanpa
memandang usia kehamilan.

LAPORAN KASUS

ANALISA KASUS
Karena pada pasien ini didapatkan usia kehamilan 36-37 minggu, maka
diputuskan untuk dilakukan terminasi kehamilan tanpa dilakukan terapi ekspektatif
terlebih dahulu. Terapi ekspektatif dilakukan pada janin prematur yang belum
mencapai usia 32-34 minggu. Pada pasien ini dipilih terminasi perabdominam
(seksio sesarea) karena sampai saat ini, seksio sesarea masih merupakan
metode terminasi pilihan utama pada kasus plasenta previa.
Dengan dilakukannya seksio sesarea, kematian maternal maupun perinatal dapat
diminimalisir. Persalinan pervaginam hanya dilakukan pada plasenta previa tipe
marginalis dan janin presentasi kepala, namun resiko pendarahan tetap tinggi,
sehingga walaupun kesimpulan dari USG adalah plasenta letak rendah, tetap
dipilih terminasi perabdominam sebagai pilihan terbaik.

LAPORAN KASUS

ANALISA KASUS
Tanggal 21 september 2015 jam 13.30 lahir bayi laki-laki dengan berat 2500
gram, panjang 47 cm, A/S 8/9. Saat ini ibu dan bayi dalam keadaan sehat dan
sudah dipulangkan. Tidak ada masalah yang berarti pada ibu maupun bayi
setelah dilakukannya seksio sesarea. Tidak ada komplikasi yang terjadi akibat
plasenta letak rendah baik pada ibu maupun pada bayi.
Ibu dirawat selama 3 hari post partum, luka operasi baik, tidak ada tanda-tanda
infeksi luka operasi. Setelah ganti perban di hari ketiga pasien diperbolehkan
pulang dan kontrol di poli ginekologi untuk ganti perban dengan edukasi diet tinggi
protein dan jaga hygiene luka operasi serta luka operasi tidak boleh basah.

LAPORAN KASUS

RANGKUMAN
Tanggal 21 september 2015 jam 13.30 lahir bayi laki-laki dengan berat 2500
gram, panjang 47 cm, A/S 8/9. Saat ini ibu dan bayi dalam keadaan sehat dan
sudah dipulangkan. Tidak ada masalah yang berarti pada ibu maupun bayi
setelah dilakukannya seksio sesarea. Tidak ada komplikasi yang terjadi akibat
plasenta letak rendah baik pada ibu maupun pada bayi.
Ibu dirawat selama 3 hari post partum, luka operasi baik, tidak ada tanda-tanda
infeksi luka operasi. Setelah ganti perban di hari ketiga pasien diperbolehkan
pulang dan kontrol di poli ginekologi untuk ganti perban dengan edukasi diet tinggi
protein dan jaga hygiene luka operasi serta luka operasi tidak boleh basah.
Pasien memiliki riwayat MRS tanggal 13 Agustus 2015, saat umur kehamilan 31
minggu karena mengalami pendarahan tiga kali, darah yang keluar banyak dan
berwarna merah segar, bergumpal dan tidak terasa nyeri. Oleh dr. Hakim K., Sp.
OG dirujuk untuk MRS di RSUD Moh. Saleh. Pasien MRS di ruang bersalin
selama 3 malam dan KRS 16 Agustus 2015. Diagnosa post MRS G3 P20002 UK
30-31 minggu, tunggal, hidup + PPI + APB et causa placenta letak rendah. Pasien
diberikan saran untuk segera ke IGD RSUD Moh. Saleh bila terjadi pendarahan
lagi.

LAPORAN KASUS

RANGKUMAN
Pemeriksaan fisik didapatkan KU: cukup, kesadaran: CMtidak ditemukan anemis,
ikterus, cyanosis dan dyspneu. Tekanan darah pasien 110/70 mmHg, nadi
68/menit, suhu 36,50 C dengan RR: 20x/menit. Tidak ditemukan kelainan pada
pemeriksaan jantung dan paru.
Pada pemeriksaan abdomen didapatkan abdomen BU (+) normal, soefl, hepar
lien tidak teraba. Pada pemeriksaan leopold I ditemukan tinggi fundus uteri 3 jari
di bawah prosessus xyphoideus (29 cm) dengan taksiran berat janin 2635 gram
dan kesan bagian bokong janin. Pada leopold II didapatkan kesan punggung
kanan dan ditemukan denyut jantung janin 133x/menit. Pada leopold III
didapatkan kesan kepala pada bagian terendah abdomen dan pada leopold IV
teraba bulat keras, belum masuk pintu atas panggul. Pemeriksaan dalam tidak
dilakukan karena pasien memiliki riwayat PPI + APB et causa placenta letak
rendah pada usia kehamilan 30-31 minggu.

LAPORAN KASUS

RANGKUMAN
Diagnosis awal pada pasien ini adalah KPD dan APB et causa plasenta letak
rendah, hal ini ditegakkan berdasarkan anamnesis dan pemeriksaan fisik serta
pemeriksaan penunjang. Dari anamnesis didapati gejala subjektif yaitu merasa
basah pada bagian kemaluan dan didapatkan adanya rembesan air dari
kemaluan berwarna jernih dan tidak berbau saat bangun tidur, sedangkan
pemeriksaan penunjang seperti pemeriksaan lakmus tidak dapat dilakukan untuk
mencegakkan diagnosis KPD dikarenakan pasien datang ke kamar bersalin
dalam keadaan sudah mengganti pakaian dengan yang baru dan juga tidak dapat
dilakukan pemeriksaan inspekulo dikarenakan merupakan kontraindikasi dari
plasenta letak rendah.

LAPORAN KASUS

RANGKUMAN
Diagnosis APB et causa plasenta letak rendah pada pasien ini ditegakkan dari
anamnesa yaitu keluarnya darah dari vagina tanpa rasa nyeri, berwarna merah
dan menggumpal saat bangun tidur. Dari pemeriksaan fisik ibu didapatkan hasil
inspeksi berupa bekas pendarahan pada kemaluan pasien dan saat observasi
ditemukan keluarnya darah segar dari kemaluan tanpa rasa nyeri, selain itu dari
hasil pemeriksaan leopold IV didapatkan bagian terendah janin belum memasukin
PAP.
Diagnosa PPI seharusnya sudah dapat ditegakkan dari awal masuknya pasien
melalui pemeriksaan dalam, namun karena tidak dilakukan, sehingga diagnosis
PPI pada pasien ini baru ditegakkan 6 jam setelah MRS saat didapatkan his yang
adekuat pada jam 09.00. awalnya his berlangsung 2 kali dalam 10 menit dengan
durasi 20 detik yang kemudian semakin sering dan lama, disertai nyeri punggung.
Penyebab dari terjadinya PPI ini dapat disebabkan oleh karena adanya faktor
predisposisi partus prematurus seperti pendarahan antepartum serta ketuban
pecah dini yang dialami oleh pasien ini.

LAPORAN KASUS

RANGKUMAN
Hal yang perlu diwaspadai pada pasien-pasien APB adalah tanda-tanda
pendarahan masif yang dapat membahayakan ibu dan janin, seperti anemia yang
dapat dilihat dari konjungtiva maupun dari hasil pemeriksaan laboratorium. Juga
perlu diwaspadai kemungkinan terjadinya syok akibat pendarahan seperti
takikardi, hipotensi, pengisian darah kapiler melambat, kulit dingin, pucat, gelisah,
oliguria, dan lain-lain.
Karena pada pasien ini didapatkan usia kehamilan 36-37 minggu, maka
diputuskan untuk dilakukan terminasi kehamilan tanpa dilakukan terapi ekspektatif
terlebih dahulu. Terapi ekspektatif dilakukan pada janin prematur yang belum
mencapai usia 32-34 minggu. Pada pasien ini dipilih terminasi perabdominam
(seksio sesarea) karena sampai saat ini, seksio sesarea masih merupakan
metode terminasi pilihan utama pada kasus plasenta previa. Dengan
dilakukannya seksio sesarea, kematian maternal maupun perinatal dapat
diminimalisir.

LAPORAN KASUS

RANGKUMAN
Persalinan pervaginam hanya dilakukan pada plasenta previa tipe marginalis,
plasenta letak rendah dengan janin presentasi kepala, namun resiko pendarahan
tetap tinggi, sehingga walaupun kesimpulan dari USG adalah plasenta letak
rendah, tetap dipilih terminasi perabdominam sebagai pilihan terbaik.

TERIMA KASIH