0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
41 tayangan6 halaman

026 - Jabal Al Tharik - Chapter 1

Dokumen tersebut membahas tentang metode case work dalam pekerjaan sosial. Secara ringkas, dokumen menjelaskan delapan kompetensi yang harus dimiliki pekerja sosial, prinsip-prinsip utama dalam praktik pekerjaan sosial seperti pemberdayaan klien dan pentingnya keragaman, serta standar-standar etika yang harus dipenuhi pekerja sosial dalam praktiknya.

Diunggah oleh

Altharik
Hak Cipta
© © All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
41 tayangan6 halaman

026 - Jabal Al Tharik - Chapter 1

Dokumen tersebut membahas tentang metode case work dalam pekerjaan sosial. Secara ringkas, dokumen menjelaskan delapan kompetensi yang harus dimiliki pekerja sosial, prinsip-prinsip utama dalam praktik pekerjaan sosial seperti pemberdayaan klien dan pentingnya keragaman, serta standar-standar etika yang harus dipenuhi pekerja sosial dalam praktiknya.

Diunggah oleh

Altharik
Hak Cipta
© © All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

Nama : Jabal Al Tharik Kamis, 31 Maret 2022

NIM : 11200541000026
Kelas : Kesejahteraan Sosial 4A

METODE CASE WORK

Highlight 1.1 Pekerjaan Sosial, Pendidikan Kesejahteraan Sosial dan Kebijakan


Pendidikannya. Pendidikan Pekerjaan Sosial adalah mendidik calon – calon Peksos dan
didalamnya ada kompetensi :Kompetensi adalah kemampuan dan keterampilan yang harus
dimiliki orang untuk melakukan suatu tugas yang spesifik.

a) Kompetensi 1 : Dalam konteks Pekerjaan Sosial ini, maka yang dimaksud adalah peksos
harus memiliki skill untuk melakukan interview, engagement, assessment, planning,
intervention and evaluation terhadap klien. Kompetensi ini meliputi Knowledge
(Pengetahuan), Skill (Keterampilan) dan Values (Nilai – Nilai) terlihat dalam perilaku,
tindakan/tingkah laku, komponen – komponen perilaku yang terukur yang dilakukan
oleh Peksos. Ini semua diukur menjadi penilaian oleh Lembaga Sertifikasi Peksos.
Kompetensinya apa saja? Bisa memperlihatkan perilaku etika dan profesi. Menguasai
Etika standard, hukum – hukum yang relevan di level mikro maupun meso maupun juga
makro.
b) Kompetensi 2 : Melebur dalam perbedaan dan keragaman dalam prakteknya. Perbedaan
kelas, culture, status perkawinan, gender, ras, agama dan status kesukuan.
c) Kompetensi 3 : Harus mengerti bahwa setiap orang punya hak seperti kebebasan, rasa
aman, standar kehidupan, pendidikan dan pelayanan kesehatan
d) Kompetensi 4 : Peksos harus melek penelitian. Karena Social worker harus mengerti
riset kualitatif dan kuantitatif dengan tujuan supaya dapat mengembangkan Pekerjaan
Sosial sebagai sebuah sains untuk praktek evaluasi. Social Worker harus mengetahui
Prinsip – Prinsip Logicnya, Penelitian Saintifikasi, Pendekatan etik dan kultural untuk
membangun pengetahuan Peksos.
e) Kompetensi 5 : Terlibat dalam Praktik Kebijakan Pekerja sosial memahami bahwa
manusia hak dan keadilan sosial, serta sosial kesejahteraan dan pelayanan, dimediasi
oleh kebijakan dan implementasinya di federal, negara bagian, dan tingkat lokal. Sosial
pekerja memahami sejarah dan struktur kebijakan dan layanan sosial saat ini, peran
kebijakan dalam pemberian layanan, dan peran praktik dalam pengembangan kebijakan.
f) Kompetensi 6 : Social Worker Harus paham bahwa engagement komponen yang terus
menerus, dan bersifat dinamis.
g) Kompetensi 7 : Menilai individu, keluarga, Organisasi dan Komunitas yang bersifat On
Going Process atau terus - menerus dan dinamis. Artinya bukan sekali Proses langsung
Fix hasilnya jadi, bukan seperti itu melainkan harus ditanya lagi dalam situasi yang lain,
karena jawabannya dapat berubah - ubah.
h) Kompetensi 8 : Mengintervensi dengan Individu, Keluarga, Kelompok, Organisasi, dan
Komunitas Pekerja sosial memahami bahwa intervensi adalah komponen berkelanjutan
dari proses yang dinamis dan interaktif praktik pekerjaan sosial dengan, dan pada atas
nama, beragam individu, keluarga, kelompok, organisasi, dan komunitas.
i) Kompetensi 9 : Kemampuan untuk mengevaluasi individu keluarga dan organisasi.
Pekerja sosial memahami bahwa evaluasi adalah komponen berkelanjutan dari proses
yang dinamis dan interaktif praktik pekerjaan sosial dengan, dan pada atas nama,
beragam individu, keluarga, kelompok, organisasi dan masyarakat.

Highlight 1.2 : Konsep dalam definisi dalam praktik generalist

Penjelasan Struktur Organisasi :

a. Peksos adalah seorang generalist praktisionernya yang mempunyai kompetensi yaitu :


Knowledge, Values, and Skill. Peksos mengaplikasikan dua hal : Principal/values dan
Process. Dua hal tersebut dilihat ada atau tidak dalam praktik Pekerjaan Sosial sehingga
layak disertifikasi atau tidak
b. Values : Empowerment, Melebur pada keragaman, Advokasi, Melek Social justice
untuk membela hak hak klien
c. Process : Professional Role, Critical Thinking (Berpikir kritis), Membaca Jurnal hasil
penelitian
d. Evaluasikan kepada Target sistem : Mikro System (Individu), Mezo System (Keluarga),
Makro system (Komunitas).

Dirincikan Akuisisi basis pengetahuan eklektik :

1. Bidang Praktek
2. Teori sistem
3. Perspektif ekologis
4. Perilaku manusia dan lingkungan sosial
5. Kebijakan dan praktik kebijakan kesejahteraan sosial
6. Praktek pekerjaan sosial
7. Praktik berbasis penelitian dan penelitian berbasis praktik
8. Nilai dan prinsip yang memandu praktik

Perolehan nilai-nilai profesional dan penerapan etika profesi

1. Kode Asosiasi Pekerja Sosial Nasional dari Etika


2. Federasi Pekerja Sosial Internasional/ Asosiasi Internasional Sekolah Sosial Etika Kerja
dalam Pekerjaan Sosial, Pernyataan Prinsip
3. Kesadaran akan nilai-nilai pribadi
4. Manajemen dilema etika

Penggunaan berbagai keterampilan praktik :

1. Keterampilan untuk bekerja dengan individu dan keluarga (keterampilan mikro)


2. Keterampilan bekerja dengan keluarga dan kelompok (keterampilan mezzo)
3. Keterampilan untuk bekerja dengan organisasi dan komunitas (keterampilan makro)

 Orientasi ke sistem target dari berbagai ukuran : Micro, Mezzo, Macro

 Prinsip nilai utama: Penekanan pada pemberdayaan klien, kekuatan, dan kegembiraan

 Prinsip nilai utama : Pentingnya keragaman manusia

 Prinsip nilai utama: Advokasi untuk kemanusiaan hak, dan kemajuan sosial, ekonomi,
dan keadilan lingkungan

 Konteks: Bekerja dalam organisasi struktur

 Proses: Asumsi berbagai peran profesional

 Proses: Penerapan keterampilan berpikir kritis

 Proses: Penggabungan informasi penelitian praktek

 Proses: Penggunaan perubahan yang direncanakan

Highlight 1.3 : Ringkasan Beberapa Istilah Utama dalam Sistem Teori dan Perspektif
Ekologis. Bahwa Teori sistem lebih besar daripada perspektif ekologi (Berada di dalam sistem
teori)

Highlight 1.4 : Evidence - Practice Based Adalah proses dimana praktisi membuat keputusan
praktik berdasarkan hasil atau bukti - bukti riset yang ada. Juga meliputi mengevaluasi hasil
dari keputusan praktik. jadi, ketika ingin mengintervensi praktik, kita harus membaca jurnal.
setelah itu kita evaluasi dan itu semua termasuk kedalam Evidence - Practice Based. Yang
didiskusikan adalah yang pertama, keputusan - keputusan seperti apa yang akan
diintervensikan untuk klien, Yang kedua Menilai masalah - masalah praktik dan keputusan
praktisi yang dibuat di level - level praktek

Highlight 1.5 : Mencapai Kompetensi Dalam Praktik Etik dengan menerapkan Standar -
standar etik

Kode Etik dari NASW. Bukan kode etik negara kita, namun memiliki prinsip - prinsip yang
sama dengan IPSPI.

1. Service : Harus menyediakan pertolongan, sumber dan manfaat. sehingga orang - orang
dapat mencapai potensi maksimum
2. social justice : Harus mencapai suatu keadilan sosial. semua penduduk dapat memiliki
hak, kesempatan dan kewajiban yang sama terlepas dari background mereka.
3. Martabat dan harga diri : Harus mendukung masyarakat dalam penghargaan diri dan
apresiasi setiap individu. Harkat dan martabat harus dihargai
4. Pentingnya hubungan manusia : memberikan nilai yang suportif, Harus menghargai
interaksi antar orang yang bersifat Suportif, dan komunikasi yang efektif dan kolaborasi
dalam menciptakan perubahan yang positif bersama klien, dan mendorong
kesejahteraan individu, keluarga, organisasi dan Komunitas.
5. Integritas : Harus bertanggung jawab, jujur dan dapat dipercaya.
6. Kompeten : Harus punya skill dan kemampuan untuk tampil dan melakukan pekerjaan
dengan efektif

Kode Etik dari IFSW/IASSW. Meka membangun suatu etika Peksos, yang hanya berfokus
kepada issue global yang berkaitan dengan Human Right. Bekerja sama dalam tatanan Global.
Peksos harus mengerti dulu nilai - nilai dari peksos sendiri, jadi peksos bisa menghargai
hubungan dengan klien dalam membedakan nilai sebagai individu dengan nilai Profesional.
karena dalam praktik yang harus dikedepankan adalah Profesional Valuesnya bukan Individu
Values.
Mentolerir ambiguitas, dilema etik dan pengambilan keputusan. Dilema etik adalah situasi
problematik dimana standar-standar etik itu berkonflik saling bertentangan. Misalnya, ketika
klien kita bilang “saya mau berencana membunuh pacar teman saya” sedangkan kita sebagai
seorang peksos tidak boleh memberitahu siapa-siapa ini akan menimbulkan konflik standar
etik. Pertama, Etika kita harus menjaga harga diri manusia, nyawa itu harga tidak dapat dibayar.
Jika ada yang mau membunuh kita harus protect orang yang mau membunuh itu lapor pihak
yang berwajib. Selanjutnya masuk pada prinsip etik yang lain yaitu kerahasiaan dan itu bentrok
antara kerahasiaan dengan harga diri. Kemudian, bagaimana kita keluar dari masa dilema etik
ini? itu akan dikaji pada mata kuliah nilai dan etika peksos.

Highlight 1.8 :

Dimensi Keragaman

1. Umur: Beberapa periode waktu selama umur seseorang. Usia sering dianggap sebagai
aspek penting dari keragaman manusia untuk orang dewasa yang lebih tua karena
mereka mengalami ageisme, diskriminasi berdasarkan praduga tentang orang tua,
terlepas dari kualitas dan kemampuan individu mereka.
2. Kelas (atau kelas sosial): Status atau peringkat orang dalam masyarakat sehubungan
dengan standar seperti "kekayaan relatif, kekuasaan, prestise, tingkat pendidikan, atau
latar belakang keluarga" (Barker, 2014, hlm. 396).
3. Budaya: “Sebuah cara hidup termasuk nilai-nilai yang tersebar luas (tentang apa yang
baik dan buruk), kepercayaan (tentang apa yang benar), dan perilaku (apa yang
dilakukan orang setiap hari)” (cetak miring dihapus) (Macionis, 2013, hlm. 5) .
4. Disabilitas: “Setiap gangguan fisik atau mental [atau kesehatan berkelanjutan atau
kondisi kesehatan mental] yang secara substansial membatasi satu atau lebih aktivitas
kehidupan utama”; kegiatan ini termasuk "melihat, mendengar, berbicara, berjalan,
bernapas, melakukan tugas manual, belajar, merawat diri sendiri, dan bekerja" (US
Equal Employment Opportunity Commission, 2008, hal. 1).
5. Etnisitas: Afiliasi dengan sekelompok besar orang yang memiliki "asal atau latar
belakang ras, nasional, suku, agama, bahasa, atau budaya yang sama" (Mish, 2008, hlm.
429).
6. Gender: Sifat dan karakteristik perilaku, sosial, dan psikologis yang umumnya dikaitkan
dengan menjadi perempuan atau laki-laki.
7. Ekspresi gender: Tata krama di mana kita mengekspresikan diri kepada orang lain
dengan cara yang berhubungan dengan gender yang mencakup perilaku dan
kepribadian.
8. Identitas gender: Konsep diri psikologis internal seseorang sebagai laki-laki atau
perempuan, atau, mungkin, kombinasi keduanya (Gilbert, 2008).
9. Status keimigrasian: Kedudukan seseorang dalam hal hak hukum dan kependudukan
ketika memasuki dan bertempat tinggal di negara yang bukan negara asal hukum orang
tersebut.
10. Status Perkawinan: Keadaan menikah secara sah atau belum menikah secara sah.
11. (Orang dari) warna kulit: “Istilah kolektif yang mengacu pada kelompok utama orang
Afrika, Latin, dan Asia Amerika, dan Orang Pertama Bangsa [Pribumi Amerika] yang
telah dibedakan dari masyarakat dominan berdasarkan warna kulit” (Lum, 2011, hal.
129).
12. Ideologi politik: “Sistem gagasan yang relatif koheren (kepercayaan, tradisi, prinsip,
dan mitos) tentang sifat manusia, pengaturan kelembagaan, dan proses sosial” yang
menunjukkan bagaimana pemerintah harus dijalankan dan prinsip apa yang harus
didukung oleh pemerintah (Abramovitz, 2010). , hal.131).
13. Ras: Kategori orang yang memiliki keturunan dan asal genetik yang sama yang dapat
dibedakan dengan "ciri fisik tertentu," atau "minat, kebiasaan, atau karakteristik" (Mish,
2008, hlm. 1024).
14. Agama/Spiritualitas: Agama melibatkan keyakinan spiritual orang mengenai asal usul,
karakter, dan alasan keberadaan, biasanya didasarkan pada keberadaan beberapa
kekuatan atau kekuatan yang lebih tinggi, yang sering kali melibatkan ritual yang
ditentukan dan memberikan arahan untuk apa yang dianggap moral atau benar.
15. Jenis Kelamin: Penunjukan biologis menjadi perempuan atau laki-laki yang biasanya
didasarkan pada anatomi seksual, termasuk organ reproduksi dan susunan kromosom.
16. Orientasi seksual: Ketertarikan seksual dan romantis kepada orang-orang dari satu atau
kedua jenis kelamin.
17. Status kedaulatan suku: Hak suku Indian Amerika yang diakui federal untuk mengatur
diri mereka sendiri, mengidentifikasi anggota mereka, mengawasi tanah mereka, dan
melakukan operasi suku.

Pembahasan 7 tahap dalam praktik generalis

1. Engagement

2. Assessment

3. Planning

4. Implementation

5. Evaluation

6. Termination

7. Follow up : Reassess dan Discontinue contact

Rencana Langkah perubahan GIM

● Step 1, perkenalan sistem klien. Masa tertentu dimana anda sebagai peksos
mengorientasikan diri anda terhadap masalah dan mulai membangun komunikasi dan
hubungan dengan klien. Maupun pada level mikro dan makro seorang peksos harus
tetap membangun kedekatan dengan klien dengan target sistem dalam rangka
mengkomunikasikan dan membangun hubungan. Skill yang diperlukan adalah bicara,
ekspresi non verbal (eye contact, dll), memberi kehangatan, empati dan ketulusan.
● Step 2, mengakses dan menilai klien dan situasi klien. Menurut Siporin, assessment
adalah identifikasi dan evaluasi masalah yang akurat juga terhadap orang dan situasi
dari hubungan antara si klien untuk memberikan basis pertolongan yang unik untuk
seseorang. Step dari assessment ini ada 4 :
1. Mengidentifikasi klien anda

2. Mengakses klien pada situasi dari level mikro, mezzo, makro, dan perspektif
diversity nya

3. Mengutip informasi tentang permasalahan klien dan kebutuhan klien

4. Identifikasi kebutuhan klien

Pondasi dari praktik generalis:

o Knowledge
o Skill
o Values

● Step 3, Memformulasikan rencana untuk proses intervensi. Planning adalah proses


untuk memapankan strategi aksi yang spesifik, mengikuti assessment dalam proses
pemecahan masalah. Ada 8 tahap dalam planning :

1. Bekerja dengan klien

2. Memprioritaskan masalah

3. Menerjemahkan persoalan jadi bahasa kebutuhan

4. Mengevaluasi level intervensi di tiap-tiap kebutuhan

5. Memapankan tujuan

6. Menspesifikasi sasaran

7. Menspesifikasi langkah-langkah aksi

8. Memformalisasi kontak

● Step 4, Implementasi: Meletakkan rencana menjadi aksi. Perbuatan pelaksanaan dari


rencana sepanjang proses intervensi.
● Step 5, Evaluasi: Mengevaluasi hasil dan keefektifannya. Evaluasi pada implementasi
adalah proses dalam menentukan rentang yang mana intervensi itu efektif.
● Step 6, terminasi: menyimpulkan proses intervensi perubahan terencana. Terminasi
adalah akhir dari hubungan klien dan peksos tapi tidak hubungan pertemanan hanya
hubungan tugas saja yang selesai. Yang paling mengkunci yaitu Solving Problem yang
dimana problem klien sudah terselesaikan
● Step 7, Follow Up: menguji ulang situasi dan kemajuan yang telah dibuat.

Anda mungkin juga menyukai