SLIDE REFORMASI BIROKRASI
A. SEJARAH REFORMASI BIROKRASI
a. Reformasi Birokrasi Di Era Presiden Abdurahman Wahid - Megawati
Soekarno Putri (1999-2004)
Sejarah reformasi birokrasi Indonesia diawali oleh terjadinya krisis
multidimensi yang melanda Indonesia pada tahun 1997 yang diawali oleh
runtuhnya nilai tukar rupiah menjadi pemicu sekaligus pendorong Indonesia
untuk melakukan pembenahan di segala bidang ATR/BPN
Dua Departemen yang kuat sejak bertahun-tahun dilikuidasi Gus Dur, yaitu
Departemen Penerangan dan Departemen Sosial Menerapkan kebijakan
negative growth untuk PNS sehingga tidak ada rekrutmen PNS baru dan
himbauan untuk pensiun dini bagi PNS yang tidak berkualitas
Tidak membolehkan posisi tertentu di birokrasi seperti dirjen, sekretaris
direktur dan deputi dipegang oleh politisi.
Mengurangi kekuasaan Sekretariat Negara dengan membentuknya menjadi 3
bagian sekretaris negara, sekretaris kabinet, sekretaris presiden
Mengimplementasi otonomi daerah 1 Januari 2001 telah memberikan
dampak besar terhadap proses demokratisasi di tingkat local
Megawati Soekarnoputri dilantik sebagai presiden pada tanggal 31 Juli 2001.
Tantangan yang dihadapi Megawati dalam menjalankan pemerintah cukup
berat karena harus menyelesaikan masalah ekonomi dan menegakan hukum
Penundaan Pembayaran Utang Luar Negeri Menaikkan Pendapatan Per
Kapita Indeks Harga Saham Gabungan Meningkat Privatisasi BUMN
Meningkatkan Ekspor Merealisasikan Berdirikan KPK Meletakkan Dasar ke
Arah Kehidupan Demokrasi
b. Reformasi Birokrasi Di Era Presiden Susilo Bambang Yudhoyono
(2004-2014)
Pada masa pemerintahan Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) Periode I tahun
2004-2009 cukup banyak yang telah dilakukan dalam pembenahan birokrasi
baik secara ekonomi, politik dan kelembagaan. SBY juga telah berhasil
mengubah citra Indonesia dan menarik investasi asing dengan menjalin
berbagai kerjasama dengan pihak asing, antara lain Jepang.
Terbentuknya lembaga-lembaga baru Anggaran Pendidikan 20% dari
APBN/APBD Anggaran Pendidikan Reformasi di bidang politik adalah
dengan dikeluarkannya UU tentang Pemilu yang memperbolehkan calon non
partai/Perseorangan untuk maju dalam pemilihan kepala daerah Program -
program kerakyatan Bidang Kepegawaian/Aparatur Pemerintah
c. Pada masa pemerintahan SBY Periode II (2010-2014),
Pemerintah telah menetapkan Peraturan Presiden Nomor 81 Tahun 2010
tentang Grand Design Reformasi Birokrasi 2010-2025 dan beberapa
pedoman teknis penerapan reformasi birokrasi.
Grand Design Reformasi Birokrasi 2010-2025 tertuang dalam Peraturan
Presiden Nomor 81 Tahun 2010 tentang Grand Design Reformasi Birokrasi
2010-2025. Peraturan ini menjadi acuan bagi
Kementerian/Lembaga/Pemerintah Daerah dalam melakukan reformasi
birokrasi dalam rangka mewujudkan tata kelola pemerintahan yang baik.
d. Reformasi Birokrasi Di Era Presiden Joko Widodo (2014-2024)
Berdasarkan Grand Design Reformasi Birokrasi 2010-2025, pemerintahan
Jokowi Periode I (2014-2019) termasuk dalam Road Map Reformasi
Birokrasi 2015-2019 fase ke-2. Pada fase ini mengacu pada Peraturan
Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi Nomor 11
Tahun 2015 tentang Road Map Reformasi Birokrasi 2015-2019.
Reformasi Birokrasi tahap ketiga di pemerintahan Jokowi periode kedua ini
mengacu pada Peraturan Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara Dan
Reformasi Birokrasi Nomor 25 Tahun 2020 tentang Roadmap Reformasi
Birokrasi 2020- 2024.
Dalam Road Map Reformasi Birokrasi 2020- 2024 ini, asas yang akan
dikedepankan adalah Fokus dan Prioritas. Fokus berarti bahwa upaya
Reformasi Birokrasi akan dilakukan secara focus pada akar masalah tata
kelola pemerintahan
B. REFORMASI BIROKRASI DI ATR/BPN
Digitalisasi Birokrasi Untuk Pelayanan Yang Optimal Berkelas Dunia
Gagasan strategi yang dapat diterapkan organisasi pemerintah untuk
menghadapi revolusi industri 4.0, dan merupakan kelanjutan dari gagasan
reformasi birokrasi yang sudah berjalan saat ini, dengan tambahan dimensi
kolaborasi, inovasi dan pemanfaatan TIK, yang merupakan aspek yang
diadopsi dari revolusi industri 4.0.
Maka pemerintah diharapkan dapat menerima manfaat maksimal dari
revolusi industri 4.0 serta mampu meminimalisir dampak negatif yang
ditimbulkan dari revolusi industri 4.0. Serta dapat menciptakan birokrasi
yang lebih baik, lebih efisien, efektif dan ekonomis.
- REFORMASI BIROKRASI 4.0
Mencakup tiga aspek utama
1. Kolaborasi
2. Inovasi
3. Pemanfaatan Teknologi Informasi dan Komunikasi
- Indikator Reformasi Birokrasi 4.0
Alat ukur yang diperlukan untuk menilai keberhasilan pencapaian target
reformasi 4.0. Dengan mengetahui ukuran maka organisasi bisa mengelola
pencapaian tujuan yang diharapkan di masa depan.
- Percepatan Pelayanan
- Efisiensi Layanan
- Akurasi Layanan
- Fleksibilitas Kerja
- Smart ASN ATR/BPN Menghadapi Era Disrupsi dan Tantangann Dunia
Perubahan zaman dan pengaruh revolusi industri 4.0 menuntut
pengembangan dan kemampuan ASN untuk ditingkatkan agar mempunyai
daya saing dan mampu mengikuti trend perkembangan lingkungan strategis
yang berkembang pesat. ASN dituntut punya kemampuan teknis agar
mendapatkan keterampilan dan dapat menggunakan TI sesuai dengan
perkembangan zaman. (BKN, Juni 2019)
Menjadi ASN yang ideal dan kompetitif di era globalisasi merupakan
tuntutan publik dan target yang harus dicapai. Tiga sasaran utama untuk
mewujudkan SMART ASN di tahun 2019.
- 3 Sasaran Utama Mewujudkan SMART ASN Tahun 2019
- Perencanaan ASN, dengan membuka formasi/kualifikasi ASN yang
sesuai dengan arah pembangunan Nasional serta potensi daerah.
- Pengadaan ASN yang transparan, objektif dan fairness untuk
mengembalikan kepercayaan masyarakat sekaligus menjaring putra-
putri terbaik bangsa
- Meningkatkan profesionalisme, yakni meningkatkan kompetensi,
kualifikasi dan kinerja sebagaimana yang diamanatkan UU ASN.
Berdasarkan Tahapan RPJMN ke-3, yang berakhir pada tahun 2019
menyangkut
pembangunan ASN yaitu SMART ASN. Pola ini untuk mewujudkan ASN
berwawasan global, pengusaan teknologi informasi, bahasa asing, dan
jejaring kerja (networking), serta berintegritas.
- Pengalaman Australia Dalam Meningkatkan Produktivitas Kerja
Pemerintah Australia mengembangkan serangkaian alat yang dapat
membantu badan-badan untuk mencapai tujuan ini Alat-alat ini mencakup
instrumen diagnostik, standar tingkat kerja APS, dan rangkaian pilihan
pembelajaran pengembangan, dan pelatihan keterampilan inti
Karyawan yang telework pada tahun 2013 sedikit lebih memungkinkan
dibandingkan dengan yang tidak telework untuk melaporkan bahwa mereka
telah menerima umpan balik informal dan regular dari supervisor mereka.
Meskipun kurang setengah dari semua karyawan setuju bahwa umpan balik
kinerja terbaru mereka akan membantu meningkatkan kinerja mereka,
karyawan yang bekerja di jarak jauh lebih cenderung setuju dibandingkan
mereka yang bukan pekerja jarak jauh, memperoleh beberapa manfaat dari
proses manajemen kerja.
- Manajemen Talenta Nasional Kementerian ATR/BPN
Menurut Deputi Bidang SDMA dan sesuai dengan arahan Presiden Joko
Widodo berkaitan dengan pembangunan SDM, pembangunan infrastruktur,
simplifikasi regulasi, penyederhanaan birokrasi, dan transformasi ekonomi,
SDM Aparatur Sipil Negara yang ingin dibangun adalah SDM yang pekerja
keras, dinamis, terampil, dan menguasai IPTEK/Teknologi.
ASPEK MANAJEMEN TALENTA ASN
- Kelembagaan Manajemen Talenta ASN
- Penyelenggaraan Manajemen Talenta ASN Instansi dan Nasional
- Pengembangan Talenta
Strategi pengembangan karir dan kompetensi talenta melalui ASN corporate
university, sekolah kader tugas belajar, dan bentuk pengembangan
kompetensi lainnya.
- Retensi Talenta
Strategi mempertahankan talenta melalui pemantauan, penghargaan, dan
manajemen suksesi untuk menjaga dan mengembangkan kompentensi dan
kinerja talenta agar siap dalam penempatan jabatan
- Penerapan Budaya Kerja Di Era Digital Kementerian ATR/BPN
memiliki nilai- nilai dasar organisasi yang diyakini dapat menjadi motor
penggerak motivasi sikap dan tindakan oleh semua SDM pelaksananya.
Keputusan Menteri ATR/Kepala BPN Nomor 115/SK-OT.02/V/2020
- Melayani
Berupaya memberikan layanan
berstandar dunia dengan
orientasi peningkatan
kepercayaan dan kepuasan
masyarakat serta pemangku
kepentingan
- Profesional
Mengutamakan kolaborasi,
bersikap terbuka, selalu
semangat dalam menghadapi
perubahan termasuk terhadap
perubahan teknologi
- Terpercaya
Dalam bekerja, berfikir,
berkata, berperilaku dan
bertindak dengan cara terbaik
dan benar, memegang teguh
kode etik, amanat jabatan, dan
prinsip-prinsip moral
- Dalam rangka mewujudkan tujuan strategis Kementerian ATR/BPN 2025
maka disusun dan ditetapkanlah Roadmap Transformasi Digital Menuju
Institusi Berstandar Dunia
Roadmap ini dibuat agar terjadi sinergi antara Reformasi Birokrasi dan
Digitalisasi dapat tercapai, yang terdiri dari rangkaian program dan
kegiatan yang dilakukan kementerian ATR/BPN.
- STRATEGIC GOAL KEMENTERIAN ATR/BPN TAHUN 2025
Roadmap Transformasi Digital Menuju Institusi Berstandar Dunia
2020
Starting Point
- Penerapan Digital Signature di seluruh Pegawai
- Sertipikat MT Elektronik berlaku Nasional
- Implementasi Buku Tanah Elektronik melalui digitalisasi dan validasi
data pertanahan digital
- Layanan data pertanahan untuk public
- Peningkatan kapasitas kelembagaan informasi dan inovasi
- Percepatan pendanaan melalui Implementasi KPBU
2021
Fully Digital Data
- Informasi pertanahan multiguna dan ruang valid dan aman
- Implementasi Sertipikat Hak Atas Tanah Elektronik
- Layanan masyarakat seluruhnya elektronik
- Penerapan teknologi
2022
Era informasi dan inovasi
- RRR Various Rights Fractional Rights/ Co Owning 3D Cadastre and
Rights Peer to peer transactions Layanan informasi derivatif pertanahan
Implementasi smart contract, smart escrow
2023
Monetisasi Informasi
- Sentuh Tanahku menjadi leader apps dan marketplace
- Informasi pertanahan sebagai basis penerimaan Negara
- Penerapan Big Data Kolaborasi informasi dengan masyarakat dan
dunia usaha
-Spatially enabled government berbasis bidang tanah
2024
Institusi Standar Dunia
- Peringkat 40 EoDB
- Sumber PNBP didominasi dari layanan informasi Interopability dengan
Badan Informasi Pertanahan Dunia
- Menjadi leader di South East Asia
C. Teori reformasi birokrasi
- Evolusi Model Birokrasi
Sejarah menunjukkan bahwa peristiwa ekonomi, teori-teori ekonomi dan
administrasi publik memiliki andil yang amat besar dalam mendorong
evolusi model birokrasi. Paling tidak terdapat tiga model dalam sejarah
tata pemerintahan dunia (Sigit Setiawan. 2014).
Model Sejarah Tata Pemerintahan Dunia
- Model Paronase
- Model Webberian
- Model New Public Management
New Public Management
Revitalisasi ekonomi neoklasik, new institutional economics, public
choice, dan penggambaran model yang menyerupai sektor swasta.
Reformasi terhadap model Webberian ini memperoleh daya dorong dari
meningkatnya kesadaran terhadap potensi teknologi informasi dalam
menunjang peningkatan efisiensi dan efektivitas kegiatan pelayanan
publik.
Model Patronase masa
Banyak digunakan pada pemerintahan kerajaan. Kekuasaan pengelolaan
dan pengendalian pemerintahan berada dalam genggaman satu orang
yakni raja/ratu. Demi kepentingan melanggengkan kekuasaannya, maka
raja akan memilih dan merekrut orang-orang terdekatnya untuk menjadi
pejabat dan pegawai pemerintah dan membantunya mengelola roda
pemerintahan sehari-hari.
Model Webberian
Administrasi pemerintahan didasarkan atas dokumen-dokumen tertulis,
dan pengambilan keputusan merujuk pada aturan aturan yang
didokumentasikan dan didasari kebiasaan pelaksanaan suatu kegiatan
sebelumnya. Menekankan pentingnya kendali terhadap input dan proses
pengambilan kebijakan. Keberadaan aturan yang terdokumentasi dengan
baik memungkinkan mutasi pegawai tidak akan mengganggu roda
administrasi pemerintahan.
- Munculnya Reformasi Birokrasi
Perilaku birokrasi tercermin dari perilaku manusia (birokrat), dimana
seperangkat perbuatan individu kemudian menjelma menjadi perilaku
kelompok, dan akhirnya menjadi representasi perilaku organisasi yang
kemudian dimaknai sebagai perilaku birokrasi.
Perilaku birokrasi lebih ditekankan pada pemberian pelayanan yang
ditampilkan oleh orang-orang dalam organisasi untuk mencapai tujuan
pemerintah. Perilaku birokrasi pada hakikatnya merupakan hasil interaksi
antara individu-individu dengan organisasinya
Oleh karena itu, untuk memahami perilaku birokrasi sebaiknya diketahui
terlebih dahulu individu-individu yang mendukung organisasi itu. Individu
membawa ke dalam tatanan birokrasi, kemampuan, kepercayaan pribadi,
pengharapan, kebutuhan, dan pengalaman, dan sebagainya
- PAtologi Birokrasi
Patologi birokrasi atau penyakit birokrasi adalah "hasil interaksi antara
struktur birokrasi yang salah dan variabel-variabel lingkungan yang salah."
(Agus Dwiyanto, 2011)
Taliziduhu Ndraha, Miftah Thoha, Peter M Blau, David Osborne, JW Schoorl
sependapat bahwa patologi birokrasi adalah perilaku birokrasi seperti
penyakit, perilaku negatif, atau penyimpangan yang dilakukan pejabat atau
lembaga birokrasi dalam rangka melayani publik, melaksanakan tugas, dan
menjalankan program pembangunan.
Citra buruk tersebut semakin diperparah dengan isu yang sering muncul ke
permukaan, yang berhubungan kedudukan dan dengan kewenangan pejabat
publik, yakni korupsi dengan beranekaragam beranekaragam bentuknya, serta
lambatnya pelayanan, dan diikuti dengan prosedur yang berbelit-belit.
- REFORMASI BIROKRASI
Reformasi birokrasi pemerintah menjadi bagian dari upaya untuk
memperkuat negara karena melalui reformasi birokrasi, peran dan lingkup
intervensi negara. Dalam hal ini yaitu pemerintah didenisikan ulang untuk
menjawab tantangan zaman. Tidak sekedar menyederhanakan struktur
birokrasi, tapi mengubah pola pikir, dan pola budaya birokrasi untuk berbagai
peran dalam tata kelola pemerintahan.
Secara garis besar tuntutan reformasi birokrasi dipacu karena
ketidakmampuan birokrasi menyelenggarakan pelayanan public yang efisien,
serta adanya keinginan masyarakat agar birokrasi lebih responsif terhadap
kebutuhan masyarakat.