0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
3K tayangan113 halaman

Contoh Tesis

Diunggah oleh

iqy chan
Hak Cipta
© © All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
3K tayangan113 halaman

Contoh Tesis

Diunggah oleh

iqy chan
Hak Cipta
© © All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd

UNIVERSITAS PERTAHANAN INDONESIA

PENGARUH MEDIA MASSA TERHADAP KESADARAN


BENCANA PADA REMAJA DI KOTA PAYAKUMBUH

TESIS

AL IKHLASNIATI
NIM. 120140203004

FAKULTAS MANAJEMEN PERTAHANAN

PROGRAM STUDI MANAJEMEN BENCANA UNTUK


KEAMANAN NASIONAL

BOGOR
MARET 2016
HALAMAN PENGESAHAN

Proposal tesis ini diajukan oleh:


Nama : Al Ikhlasniati
NPM : 120140203004
Program Studi : Manajemen Bencana Untuk Keamanan
Nasional
Judul Tesis : Pengaruh Media Massa Terhadap Kesadaran
Bencana Pada Remaja di Kota Payakumbuh

Telah berhasil dipertahankan di hadapan Dewan Penguji dan diterima


sebagai bagian persyaratan yang diperlukan untuk memperoleh gelar
Magister Sains dalam bidang Ilmu Pertahanan pada Program Studi
Manajemen Bencana untuk Keamanan Nasional, Fakultas Manajemen
Pertahanan, Universitas Pertahanan Indonesia.

DEWAN PENGUJI

Pembimbing : Dr. Sugimin Pranoto, [Link] (......................................)

Pembimbing : Mayor Sus


Coky R. Bonavena, [Link](Han) (......................................)

Penguji : Dr. Rudy Laksmono W, M.T (......................................)

Penguji : Dr. H. Fauzi Bahar, [Link] (......................................)

Penguji : Marsma TNI


Tatan Kustana, [Link]., M.A (......................................)

Ditetapkan di : Bogor
Tanggal : 17 Maret 2016

ii
PERNYATAAN ORISINALITAS

Dengan ini saya menyatakan bahwa dalam tesis ini tidak terdapat karya

atau bagian karya yang pernah diajukan untuk memperoleh gelar

kesarjanaan jenjang apapun di suatu Perguruan Tinggi; dan sepanjang

pengetahuan saya juga tidak terdapat istilah, frasa, kalimat, paragraf,

subbab, atau bab dari karya yang pernah ditulis atau diterbitkan, kecuali

yang secara tertulis dirujuk dalam naskah ini dan disebutkan dalam Daftar

Referensi.

Bogor, 17 Maret 2016

Al Ikhlasniati

iii
PERNYATAAN PERSETUJUAN PUBLIKASI
TESIS UNTUK KEPENTINGAN AKADEMIS

Sebagai sivitas akademik Universitas Pertahanan Indonesia, Saya yang


bertanda tangan di bawah ini:

Nama : Al Ikhlasniati
NPM : 120140203004
Program Studi : Manajemen Bencana untuk Keamanan Nasional
Fakultas : Manajemen Pertahanan
Jenis Karya : Tesis

Demi pengembangan ilmu pengetahuan, menyetujui untuk memberikan


kepada Universitas Pertahanan Indonesia Hak Bebas Royalti
Noneksklusif (Non-exclusive Royalty-Free Right) atas karya ilmiah
saya yang berjudul:

PENGARUH MEDIA MASSA TERHADAP KESADARAN


BENCANA PADA REMAJA DI KOTA PAYAKUMBUH
beserta perangkat yang ada (jika diperlukan). Dengan Hak Bebas Royalti
Noneksklusif ini Universitas Pertahanan Indonesia berhak menyimpan,
mengalih media/formatkan, mengelola dalam bentuk pangkalan data
(database), merawat, dan memublikasikan tesis saya selama tetap
mencantumkan nama saya sebagai penulis/pencipta dan sebagai pemilik
Hak Cipta/Karya Intelektual dari tesis ini.

Demikian pernyataan ini saya buat dengan kesadaran penuh dan tanpa
paksaan dari pihak manapun.
Dibuat di : Bogor
Pada tanggal : 17 Maret 2016
Yang menyatakan

Al Ikhlasniati

iv
KATA PENGANTAR

Puji syukur kehadirat Allah S.W.T yang tidak pernah berhenti


mencurahkan ampunan dan karunia-Nya kepada seluruh Makhluk-Nya di
dunia. Berkat limpahan nikmat-Nya serta doa dari orang tua dan seluruh
keluarga, maka Saya mampu menyelesaikan Tesis ini yang merupakan
salah satu syarat memperoleh gelar Magister Sains Bidang Pertahanan di
Fakultas Manajemen Pertahanan, Universitas Pertahanan. Adapun judul
Tesis ini adalah:

PENGARUH MEDIA MASSA TERHADAP KESADARAN BENCANA


PADA REMAJA DI KOTA PAYAKUMBUH

Tesis ini dapat diselesaikan tentu juga karena bantuan dari


berbagai pihak yang terlibat. Oleh karena itu Saya mengucapkan terima
kasih kepada:
1. Letjen TNI I Wayan Midhio, [Link] selaku Rektor Universitas
Pertahanan Indonesia.
2. Laksma TNI Dr. Dadang S. Wirasuta,S.E.,[Link].,S.H.,M.M.,M.B.A
selaku Dekan Fakultas Manajemen Pertahanan, Universitas
Pertahanan Indonesia, yang selalu mengarahkan dan memberikan
semangat selama perkuliahan hingga penyelesaian tesis.
3. Kolonel Laut (KH/W) Dra. Christine Sri Marnani, M.A.P selaku Ketua
Program Studi Manajemen Bencana untuk Keamanan Nasional,
Fakultas Manajemen Pertahanan, Universitas Pertahanan Indonesia.
4. Brigjen TNI Lasmono, M. Si(Han) selaku mantan Ketua Program Studi
Manajemen Bencana untuk Keamanan Nasional, Fakultas Manajemen
Pertahanan, Universitas Pertahanan Indonesia.
5. Dr. Sugimin Pranoto, [Link] selaku Dosen Pembimbing I dalam
penulisan tesis ini yang senantiasa sabar untuk selalu memberikan
masukan dan arahan serta semangat kepada penulis.

v
6. Mayor Sus Coky R. Bonavena, M. Si(Han) selaku Dosen Pembimbing
II penulis yang senantiasa memberi arahan, pengajaran dengan sabar
dan motivasi kepada penulis.
7. Dewan Penguji Dr. Rudy Laksmono W, M.T, Dr. Fauzi Bahar, [Link],
dan Marsma TNI Tatan Kustana, [Link]., M.A yang senantiasa
memberikan kritik dan saran dalam penyempurnaan tesis.
8. Dosen [Link] Triutomo,DESS, Kol. Kes, IDK Kertawidana, SKM,
MKKK dan Kolonel Laut [Link] Dwi Kuntjoro yang bersedia
berdiskusi dan memberikan arahan dalam penyelesaian tesis.
9. Kedua Orang Tuaku, adik-adikku, nenek dan keluarga besarku yang
sangat ku cintai yang selalu mendoakanku dan memberikan semangat
dalam hidupku.
10. Seluruh pihak yang membantu dalam pelaksanaan penelitian terutama
para siswa SMA Negeri 1, SMA Negeri 2, SMA I Raudhatul Jannah,
SMA IT Insan Cendikia, Dinas Pendidikan, dan BPBD Payakumbuh.
11. Mayor Devi yang sangat membantu penulis selama perkuliahan hingga
penyelesaian tesis.
12. Teman-teman Manajemen Bencana Cohort 5 dan rekan angkatan TA
2014/2015 Universitas Pertahanan atas semangat dan kerjasamanya
selama perkuliahan.
13. Teman-teman seperjuangan yang telah memberikan dukungan baik
moril maupun materil sehingga penulis dapat menyelesaikan tesis ini
dengan baik. Serta berbagai pihak yang tidak bisa disebutkan satu-
persatu namanya yang telah membantu penulis dalam menyelesaikan
tesis ini.
Akhir kata, saya berharap Tuhan Yang Maha Esa berkenan
membalas segala kebaikan semua pihak yang telah membantu. Semoga
tesis ini bermanfaat bagi pengembangan ilmu pengetahuan dan
masyarakat.
Bogor, 17 Maret 2016

Al Ikhlasniati

vi
ABSTRAK

Nama : Al Ikhlasniati
Program Studi : Manajemen Bencana untuk Keamanan Nasional
Judul Tesis : Pengaruh Media Massa Terhadap Kesadaran
Bencana Pada Remaja di Kota Payakumbuh

Media massa dalam manajemen bencana terutama di fase kesiapsiagaan


berfungsi sebagai public educator yang memberikan informasi terkait
bencana sehingga dapat meningkatkan kesadaran bencana pada
masyarakat termasuk remaja. Beragam jenis media massa seperti:
televisi, radio, koran/majalah, internet, dan media sosial juga berpengaruh
terhadap perkembangan remaja. Akan tetapi pada remaja di Kota
Payakumbuh terdapat kecenderungan tingkat kesadaran bencana yang
belum berada dikategori tinggi. Oleh karena itu penelitian ini bertujuan
untuk mengukur tingkat kesadaran bencana dan menganalisis pengaruh
frekuensi akses jenis media massa dan durasi mengakses isi informasi
bencana di media massa terhadap tingkat kesadaran bencana pada
remaja di Kota Payakumbuh. Penelitian ini menggunakan metode
kuantitatif dengan teknik pengambilan sampel two stage cluster sampling.
Jumlah sampel yang diambil sebanyak 20% dari total populasi per cluster.
Subjek penelitian adalah remaja pertengahan yang berusia 15-18 tahun
yang berada di tingkat pendidikan sekolah menengah atas. Berdasarkan
teknik pengambilan sampel tersebut didapat 4 sekolah SMA sebagai
cluster pertama dengan total sampel 484 orang sebagai cluster kedua.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa rata-rata tingkat kesadaran bencana
pada remaja di Kota Payakumbuh berada dikategori sedang, yaitu 74,83.
Teknik analisis regresi linear berganda menunjukkan bahwa akses jenis
media massa dan isi informasi bencana di media massa berpengaruh
terhadap kesadaran bencana pada remaja secara simultan dan parsial.
Akses jenis media massa berpengaruh positif sebesar 23,3% dan isi
informasi bencana di media massa sebesar 23,9% terhadap tingkat
kesadaran bencana pada remaja di Kota Payakumbuh.

Kata Kunci: Kesadaran Bencana, Pengaruh Media Massa, Informasi


Bencana

vii
ABSTRACT

Name : Al Ikhlasniati
Study Program : Disaster Management of National Security
Research Title : The Mass Media Influence towards Disaster
Awareness on Adolescent in Payakumbuh City

The role of mass media in disaster management, both print and


electronics, in informing the people and the authorities during disaster,
becomes critical especially the ways in which media can play a vital role in
public awareness and preparedness through educating the public about
disasters (public educators). During any emergency, people seek up-to-
date, reliable and detailed information. Mass media communication about
impending disasters can lead to appropriate individual and community
action, including the youth as part of the community. In this research,
solely focus on type of mass media i.e television, radio, newspapers/
magazines, internet, and social media. However, this research objectives
is to discover the level of disaster awareness, and also to predict the
effects of frequency in mass media access and duration to the disaster
information content in mass media towards the level of disaster awareness
in adolescents in Payakumbuh. The research uses a quantitative method
with two stage cluster sampling. Samples are taken as much as 20% of
the total population per cluster. The subject is the mid-teens aged 15-18
years who are currently in senior high school level. This sampling
technique resulted 4 high school as the first cluster with total sample of
484 people as a second cluster. The results showed that the average level
of disaster awareness in adolescents in Payakumbuh is at medium
category, namely 74.83. Data analysis techniques with multiple linear
regression obtained the results of studies showing that access to the mass
media types and the contents of the disaster information in the mass
media affect disaster awareness in adolescents simultaneously and
partially. Access of any kinds of mass media has a positive effect of 23.3%
and the contents of the disaster information in the mass media for 23.9%
of the level of disaster awareness on adolescents in Payakumbuh.

Keyword: Disaster Awareness, Mass Media Influence, Disaster


Information Contents

viii
DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL .......................................................................................i


HALAMAN PENGESAHAN ......................................................................... ii
PERNYATAAN ORISINALITAS ................................................................. iii
PERNYATAAN PERSETUJUAN PUBLIKASI ............................................ iv
KATA PENGANTAR .................................................................................. v
ABSTRAK ................................................................................................. vii
ABSTRACT .............................................................................................. viii
DAFTAR ISI ............................................................................................... ix
DAFTAR GAMBAR ................................................................................... xii
DAFTAR RUMUS .................................................................................... xiv
DAFTAR LAMPIRAN ................................................................................ xv
BAB 1 PENDAHULUAN ............................................................................. 1
1.1 Latar Belakang ................................................................. 1
1.2 Rumusan Masalah ............................................................ 6
1.3 Tujuan Penelitian dan Signifikansi Penelitian ................... 7
1.4 Manfaat Penelitian ............................................................ 7
1.4.1 Aspek Teoritis ................................................................... 7
1.4.2 Aspek Praktis.................................................................... 8
1.5 Ruang Lingkup dan Gambaran Desain Penelitian ............ 8
1.5.1 Ruang Lingkup Penelitian ................................................. 8
1.5.2 Gambaran Desain Penelitian ............................................ 8
BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA, KERANGKA PEMIKIRAN, DAN
HIPOTESIS ................................................................................... 9
2.1 Tinjauan Pustaka .............................................................. 9
2.1.1 Definisi Media Massa........................................................ 9
2.1.2 Teori Efek Media Massa ................................................. 10
2.1.3 Jenis Media Massa ......................................................... 14
2.1.4 Media sebagai Public Educator dalam Manajemen
Bencana ......................................................................... 15
2.1.5 Kesadaran Bencana ....................................................... 16

ix
2.1.6 Karakteristik Remaja ...................................................... 16
2.1.7 Remaja dan Media Massa .............................................. 18
2.1.8 Tinjauan Penelitian Sejenis ............................................ 21
2.2 Kerangka Pemikiran ....................................................... 23
2.3 Hipotesis Penelitian ........................................................ 24
BAB 3 METODE PENELITIAN................................................................. 25
3.1 Desain Penelitian ............................................................ 25
3.2 Sumber Data/Subyek/Objek Penelitian........................... 25
3.2.1 Sumber Data .................................................................. 25
3.2.2 Subjek Penelitian ............................................................ 26
3.3 Teknik Pengumpulan Data ............................................. 28
3.4 Teknik Analisis Data ....................................................... 29
3.5 Prosedur Penelitian ........................................................ 32
3.5.1 Instrumen Penelitian ....................................................... 32
3.5.2 Data Primer .................................................................... 32
3.5.3 Data Sekunder................................................................ 32
3.5.4 Pengujian Keabsahan dan Keterandalan Data ............... 33
3.6 Definisi Operasional ....................................................... 33
3.7 Jadwal Pelaksanaan Penelitian ...................................... 38
BAB 4 HASIL ANALISIS DAN PEMBAHASAN ........................................ 39
4.1 Data Penelitian ............................................................... 39
4.1.1 Gambaran Umum Lokasi Penelitian ............................... 39
4.1.2 Gambaran Umum Karakteristik Responden ................... 39
4.1.3 Deskriptif Variabel Media Massa .................................... 40
[Link] Akses Jenis Media Massa (X1) ....................................... 40
[Link] Informasi terkait Bencana pada Media Massa (X2) ......... 44
[Link] Kesadaran Bencana (Y) .................................................. 45
4.2 Analisa Data ................................................................... 47
4.2.1 Tingkat Kesadaran Bencana pada Remaja .................... 47

x
4.2.2 Pengaruh Media Massa (Akses Jenis Media Massa dan Isi
Informasi Bencana) terhadap Kesadaran Bencana pada
Remaja ........................................................................... 49
[Link] Analisis Hubungan Media Massa (Akses Jenis Media
Massa dan Isi Informasi Bencana) terhadap Kesadaran
Bencana pada Remaja ................................................... 49
[Link] Analisis Multivariat Media Massa (Akses Jenis Media
Massa dan Isi Informasi Bencana) terhadap Kesadaran
Bencana pada Remaja ................................................... 50
4.3 Pembahasan .................................................................. 58
4.3.1 Tingkat Kesadaran Bencana pada Remaja di Kota
Payakumbuh................................................................... 58
4.3.2 Pengaruh Media Massa (Akses Jenis Media Massa dan Isi
Informasi Bencana) terhadap Kesadaran Bencana pada
Remaja di Kota Payakumbuh ......................................... 60
BAB 5 SIMPULAN DAN SARAN.............................................................. 66
5.1 Simpulan......................................................................... 66
5.2 Saran .............................................................................. 66
5.2.1 Saran Praktis .................................................................. 66
5.2.2 Saran Teoritis ................................................................. 67
DAFTAR PUSTAKA ................................................................................. 68

xi
DAFTAR GAMBAR

Gambar 1.1 Pengguna Media Baru Internet di Indonesia Maret 2015 1


Gambar 1.2 Pengguna Media Sosial Maret 2015 .............................. 2
Gambar 1.3 Waktu yang Digunakan Mengakses Media Massa Maret
2015 ............................................................................. 3
Gambar 1.4 Headline News pada 14 Maret 2011 .............................. 4
Gambar 2.1 Rentang Usia Remaja ................................................. 18
Gambar 2.2 Kerangka Pemikiran .................................................... 24
Gambar 3.1 Rancangan Uji Regresi Linier Berganda ...................... 32
Gambar 4.1 Grafik Jumlah Responden Penelitian ........................... 40
Gambar 4.2 Grafik Akses Jenis Media Massa ................................. 42
Gambar 4.3 Grafik Isi Informasi Bencana di Media Massa .............. 45
Gambar 4.4 Diagram Tingkat Kesadaran Bencana pada Remaja .... 48
Gambar 4.5 Sebaran Data Uji Homoscedasticity ............................. 52

xii
DAFTAR TABEL

Tabel 1.1 Data Kejadian Bencana di Kota Payakumbuh .......................... 5


Tabel 3.1 Jumlah Peserta Didik SMA/SMK Negeri dan Swasta Kota
Payakumbuh 2015 .................................................................. 26
Tabel 3.2 Kualifikasi Data Rentang 0-100 ............................................... 31
Tabel 3.3 Besaran Korelasi dan Definisi ................................................. 31
Tabel 3.4 Definisi Operasional ................................................................ 34
Tabel 3.5 Kisi-kisi Instrumen Penelitian .................................................. 37
Tabel 3.6 Jadwal Pelaksanaan Penelitian .............................................. 38
Tabel 4.1 Karakteristik Responden ......................................................... 40
Tabel 4.2 Rekapitulasi Akses Jenis Media Massa .................................. 41
Tabel 4.3 Rekapitulasi Nama Saluran Media Massa yang Sering
Diakses ................................................................................... 43
Tabel 4.4 Rekapitulasi Isi Informasi Bencana di Media Massa ............... 44
Tabel 4.5 Rekapitulasi Kesadaran Bencana pada Remaja ..................... 46
Tabel 4.6 Tingkat Kesadaran Bencana pada Remaja............................. 47
Tabel 4.7 Pengujian Sampel Menggunakan One Sample T-test ........... 49
Tabel 4.8 Analisis Hubungan Akses Jenis Media Massa dan Isi Informasi
Bencana terhadap Kesadaran Bencana pada Remaja ........... 50
Tabel 4.9 Uji Normalitas One Sample Kolmogorov-Smirnov.................. 51
Tabel 4.10 Hasil Uji Korelasi Serial Durbin-Watson ................................. 52
Tabel 4.11 Hasil Uji Multikolinieritas ........................................................ 53
Tabel 4.12 Uji Koefisien Regresi secara Simultan (Uji F) ........................ 54
Tabel 4.13 Koefisien Determinasi (R2) .................................................... 54
Tabel 4.14 Hasil Uji Koefisien Regresi secara Parsial (Uji t) .................... 56

xiii
DAFTAR RUMUS

Rumus 3.1 PSU Tingkat Pertama Two Stage Cluster Sampling ..... 27
Rumus 3.2 Jumlah Sampel Cluster Pertama ................................. 27
Rumus 3.3 PSU Tingkat Kedua Two Stage Cluster Sampling ........ 28
Rumus 3.4 Rumus Mendapatkan Nilai Variabel ............................. 30
Rumus 3.5 Model Analisis Rancangan Persamaan Matematika ..... 32
Rumus 4.1 Persamaan Regresi Linier Berganda Hasil Penelitian .. 56

xiv
DAFTAR LAMPIRAN

Lampiran 1.1 Surat Izin Penelitian Kesbangpol Kota Payakumbuh ......... 72


Lampiran 1.2 Surat Izin Penelitian Dinas Pendidikan Kota Payakumbuh 73
Lampiran 1.3 Surat Izin Penelitian BPBD Kota Payakumbuh .................. 74
Lampiran 2 Data Sekunder Penelitian .................................................. 75
Lampiran 3 Kuesioner Penelitian ......................................................... 76
Lampiran 4.1 Output SPSS Uji Validitas dan Reliabilitas ......................... 78
Lampiran 4.2 Output SPSS Uji Korelasi dan Analisis Regresi ................. 79
Lampiran 5 Rekapitulasi Hasil Penelitian .............................................. 81

xv
BAB 1

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Media massa adalah alat komunikasi yang efektif dan efisien untuk
menyebarkan informasi pada masyarakat luas. Perkembangan media
massa terjadi semakin pesat setiap tahunnya. Tren media massa yang
berkembang saat ini adalah penggunaan new media atau media baru
yang sering disebut juga media digital. Media ini melibatkan jaringan
internet dalam pengunaannya. Berikut data tren perkembangan media
baru di Indonesia pada Gambar 1.1.

Gambar 1.1 Pengguna Media Baru Internet di Indonesia Maret 2015


Sumber: [Link], 2015

Berdasarkan Gambar 1.1 diketahui bahwa di Indonesia terdapat


72,7 juta jiwa pengguna internet yang aktif, atau sebanyak 28%
dibandingkan dengan total populasi. Selain media internet, media sosial
juga termasuk dalam media baru yang semakin diminati masyarakat.
Penggunaan media sosial di Indonesia juga mengalami peningkatan. Hal
ini dapat dilihat pada Gambar 1.2 yang memperlihatkan jumlah pengguna
social media aktif sebesar 29% dari total populasi Indonesia.

1
2

Gambar 1.2 Pengguna Media Sosial Maret 2015


Sumber: [Link], 2015

Tren penggunaan media baru atau digital di Indonesia tidak berarti


membuat media massa tradisional seperti televisi, radio, dan koran
langsung mengalami penurunan minat. Lembaga survey Nielsen
melakukan survei mengenai tingkat konsumsi media massa di lima
wilayah kota besar di luar Jawa yaitu Medan, Palembang, Denpasar,
Makassar dan Banjarmasin dibandingkan dengan lima wilayah kota besar
di Jawa yang meliputi Jabodetabek, Surabaya dan Gerbangkertasila,
Bandung, Semarang, serta Yogyakarta dan Sleman-Bantul ([Link],
2014). Berdasarkan survei tersebut secara keseluruhan, konsumsi media
massa di kota-kota baik di Jawa maupun Luar Jawa menunjukkan bahwa
televisi masih menjadi medium utama yang dikonsumsi masyarakat
Indonesia (95%). Kemudian internet (33%), radio (20%), suratkabar
(12%), tabloid (6%) dan majalah (5%).
Data tersebut menunjukkan angka yang cukup besar dalam
penggunaan media tradisional terutama televisi. Penggunaan radio,
suratkabar, tabloid, dan majalah juga masih diminati oleh masyarakat
Indonesia. Hal ini sesuai dengan pendapat Sinisalu (dikutip dalam
Putrisekar, 2013) yang menyatakan fenomena meningkatnya pengguna
internet akan berdampak pada perkembangan media tradisional seperti

Universitas Pertahanan
3

media cetak, televisi, dan radio yang mengalami penurunan. Akan tetapi,
tidak berarti media tradisional akan punah dalam waktu dekat di
Indonesia.

Gambar 1.3 Waktu yang Digunakan Mengakses Media Massa Maret 2015
Sumber: [Link], 2015

Gambar 1.3 memperlihatkan rata-rata penggunaan media massa


khususnya internet, media sosial dan televisi. Total mengakses internet
melalui komputer adalah 5 jam sementara melalui mobile phone selama 3
jam. Rata-rata mengakses media sosial kurang lebih 3 jam. Menonton
televisi rata-rata menghabiskan waktu sekitar 2,5 jam.
Berdasarkan data tersebut maka dapat dilihat bagaimana
penggunaan media massa baik media baru maupun media tradisional.
Terdapat durasi penggunaan yang berbeda, akan tetapi keduanya
memiliki fungsi yang sama yaitu sebagai alat komunikasi massa. Akses
yang tinggi terhadap media massa tersebut akan berpengaruh terhadap
penyebaran dan penerimaan informasi di masyarakat. Penyebaran dan
penerimaan informasi oleh media tradisional dan media baru cukup
beragam mulai dari informasi politik, ekonomi, pendidikan, hukum, dunia
internasional dan sebagainya termasuk bencana. Berikut adalah
gambaran informasi yang pernah menjadi trending topic pada media cetak
yang dirangkum dalam Gambar 1.4.

Universitas Pertahanan
4

Gambar 1.4 Headline News pada 14 Maret 2011


Sumber: Starbrain Indonesia, 2011

Gambar 1.4 memperlihatkan bahwa informasi mengenai ekonomi


dan kondisi pascatsunami Jepang menjadi informasi yang paling banyak
menjadi ditampilkan dalam media massa cetak yaitu koran. Hal ini
menunjukkan bahwa informasi terkait kebencanaan menjadi informasi
yang sering disampaikan terutama pada saat terjadi bencana dan
pascabencana. Banyaknya informasi bencana yang menjadi headline
news tentunya akan berpengaruh pada masyarakat yang terpapar berita
tersebut.
Informasi yang didapat baik informasi bencana ataupun informasi
lainnya akan diproses oleh masyarakat dan berdampak pada aspek
kognitif, afektif, dan konasi atau perilaku (Tommy, 2009, p.12). Aspek
kognitif adalah aspek mendasar yang memengaruhi aspek lainnya.
Semakin banyak pemberitaan media dan penggunaan beragam media
dimasyarakat tentu akan berdampak pada kognitif masyarakat tersebut.
Salah satu bagian dari aspek kognitif adalah kesadaran
(awareness). Kesadaran masyarakat terkait bencana diharapkan juga
meningkat seiring dengan akses dan pemberitaan bencana di media.
Akan tetapi berdasarkan pengalaman peneliti kesadaran masyarakat
terutama remaja terhadap bencana tidak berada pada tingkat tinggi di
Kota Payakumbuh. Kota Payakumbuh yang terletak di Provinsi Sumatera

Universitas Pertahanan
5

Barat termasuk dalam kategori kota dengan kelas risiko sedang dilihat dari
multiancaman bencana. Hal ini dijelaskan dalam Indeks Risiko Bencana
Indonesia 2013. Jika dibandingkan dengan seluruh kota dan kabupaten
yang ada di Sumatera Barat, Payakumbuh berada diurutan ke-19 dari 19
kabupaten/kota (BNPB, 2014).
Tabel 1.1 Data Kejadian Bencana di Kota Payakumbuh
KABUPATEN WAKTU KEJADIAN
NO BENCANA
KODE NAMA (TGL/BLN/THN)
1 1376 KOTA PAYAKUMBUH BANJIR 25/11/2014
2 1376 KOTA PAYAKUMBUH PUTING BELIUNG 02/05/2014
3 1376 KOTA PAYAKUMBUH PUTING BELIUNG 10/09/2011
4 1376 KOTA PAYAKUMBUH PUTING BELIUNG 09/09/2011
5 1376 KOTA PAYAKUMBUH BANJIR 01/04/2010
6 1376 KOTA PAYAKUMBUH GEMPA BUMI 12/09/2007
7 1376 KOTA PAYAKUMBUH GEMPA BUMI 06/03/2007
8 1376 KOTA PAYAKUMBUH PUTING BELIUNG 19/04/2005
9 1376 KOTA PAYAKUMBUH PUTING BELIUNG 12/04/2005
Sumber: [Link], 2015

Berdasarkan Tabel 1.1 diketahui bahwa keseluruhan data DIBI


BNPB terdapat 9 kejadian bencana di Kota Payakumbuh. Bencana puting
beliung menjadi bencana yang paling sering terjadi yaitu 5 kejadian, diikuti
banjir dan gempa bumi masing-masing 2 kejadian. Selain itu, berdasarkan
data dari BPBD Provinsi Sumatera Barat (2015) juga diketahui matriks
risiko bencana di Kota Payakumbuh. Matriks tersebut dapat dilihat pada
Lampiran 2 yang menunjukkan bencana alam yang menjadi ancaman di
Kota Payakumbuh pada Tahun 2015. Bencana tersebut adalah gempa
bumi, tanah longsor, kebakaran hutan dan lahan, kekeringan, dan angin
puting beliung yang menurut matriks risiko bencana BPBD Provinsi
Sumatera Barat berada pada kategori ancaman sedang.
Ancaman bencana tersebut menjadi landasan agar masyarakat dan
pemerintah daerah Payakumbuh memperhatikan dengan serius potensi
risiko bencana yang ada. Akan tetapi masih sedikit penelitian
kebencanaan yang dilakukan di Kota Payakumbuh. Khususnya penelitian
terkait kesadaran remaja terhadap bencana. Padahal remaja termasuk
salah satu kategori kelompok yang rawan terpapar bencana. Hal ini

Universitas Pertahanan
6

karena beberapa kejadian bencana justru terjadi ketika para remaja


sedang mengikuti kegiatan belajar mengajar di sekolah. Pengalaman
peneliti yang beberapa kali merasakan getaran gempa bumi pada jam
sekolah yang berakibat pada dipulangkannya seluruh siswa sekolah.
Berbeda dengan kota lainnya di Provinsi Sumatera Barat seperti
Padang dan Padang Pariaman. Penelitian di kota tersebut banyak
dilakukan terutama setelah kejadian gempa pada tahun 2009. Oleh
karena itu peneliti tertarik untuk meneliti remaja Kota Payakumbuh tentang
pengaruh media massa terhadap kesadaran bencana. Pengaruh media
massa dapat dilihat melalui dua variabel yaitu akses jenis media massa
atau frekuensi penggunaan jenis media massa dan isi atau contents
informasi terkait bencana. Media massa tersebut adalah media televisi,
radio, koran, majalah, internet dan media sosial.

1.2 Rumusan Masalah


Kesadaran bencana adalah salah satu faktor utama dalam
menciptakan pengurangan risiko bencana yang efektif. Seluruh lapisan
masyarakat diharapkan memiliki kesadaran bencana yang tinggi,
termasuk remaja yang ada di Kota Payakumbuh. Hal ini karena remaja
tersebut adalah kelompok yang rawan terpapar bencana. Tingkat
kesadaran bencana yang tinggi tentu dapat mengurangi keterpaparan
terhadap ancaman bencana yang ada di daerahnya. Hal tersebut perlu
dilakukan pengkajian dan pengukuran tingkat kesadaran bencana pada
remaja di Kota Payakumbuh sebagai bahan dasar evaluasi.
Kesadaran bencana berdasarkan teori menjadi tujuan dari
penggunaan media massa. Media massa dalam manajemen bencana
terutama pada fase kesiapsiagaan memiliki peran sebagai public
educator, yang berarti media massa memiliki pengaruh terhadap
kesadaran bencana dan penyebaran informasi bencana. Berdasarkan hal
tersebut kita dapat melihat besarnya pengaruh akses jenis media massa
dan isi informasi bencana yang ada di media massa terhadap kesadaran
bencana. Oleh karena itu, berdasarkan rumusan masalah tersebut maka
pertanyaan penelitian yang diajukan adalah sebagai berikut:

Universitas Pertahanan
7

1. Seberapa besar tingkat kesadaran bencana pada remaja di Kota


Payakumbuh?
2. Seberapa besar pengaruh media massa (akses jenis media
massa dan isi informasi bencana di media massa) terhadap
tingkat kesadaran bencana pada remaja di Kota Payakumbuh?

1.3 Tujuan Penelitian dan Signifikansi Penelitian


1.3.1 Tujuan Penelitian
Dengan permasalahan dan pertanyaan penelitian yang telah
ditetapkan, maka terdapat tujuan yang akan dicapai yaitu:
1. Mengukur tingkat kesadaran bencana pada remaja di Kota
Payakumbuh.
2. Menganalisis pengaruh media massa (akses jenis media massa
dan isi informasi bencana di media massa) terhadap tingkat
kesadaran bencana pada remaja di Kota Payakumbuh.

1.3.2 Signifikansi Penelitian


Penelitian ini termasuk dalam ruang lingkup ilmu manajemen
bencana terutama yang berhubungan dengan pengurangan risiko
bencana. Pembahasan dalam penelitian ini akan melihat bagaimana
pengaruh media massa terhadap kesadaran bencana. Hal tersebut
termasuk bagian dari ilmu komunikasi dan psikologi. Pentingnya penelitian
ini dilakukan sebagai salah satu upaya pengurangan risiko bencana
dengan meningkatkan kesadaran bencana khususnya pada remaja.
Selain itu juga dapat membantu dalam pengembangan ilmu komunikasi
terutama komunikasi massa dengan menggunakan media massa sebagai
alat untuk menyebarkan informasi terkait bencana.

1.4 Manfaat Penelitian


1.4.1 Aspek Teoritis
Manfaat teoritis terutama dalam pengembangan ilmu pengetahuan
dibidang manajemen bencana khususnya terkait penggunaan media
massa dalam upaya pengurangan risiko bencana. Hal tersebut berguna

Universitas Pertahanan
8

untuk mengembangkan kajian kesadaran masyarakat terhadap bencana


pada remaja.
1.4.2 Aspek Praktis
Manfaat praktis dari hasil penelitian ini diharapkan dapat menjadi
bahan evaluasi bagi seluruh pihak dalam meningkatkan kesadaran
terhadap bencana pada remaja terutama di Kota Payakumbuh. Selain itu
juga dapat mengetahui bagaimana kecenderungan remaja di Kota
Payakumbuh dalam menggunakan media massa.

1.5 Ruang Lingkup dan Gambaran Desain Penelitian


1.5.1 Ruang Lingkup Penelitian
Mengingat keterbatasan waktu, biaya, dan tenaga maka dalam
penelitian ini ruang lingkup penelitian dibatasi sebagai berikut:
1. Sampel penelitian yang diambil adalah remaja di Kota
Payakumbuh, akan tetapi karena rentang usia yang cukup besar
maka peneliti hanya mengambil remaja yang berada diusia 15-18
tahun yang termasuk kategori remaja pertengahan.
2. Banyaknya pengaruh media massa yang dapat dilihat terhadap
kesadaran bencana maka peneliti hanya membatasi dalam hal
frekuensi akses jenis media massa dan durasi informasi bencana.
3. Jenis media massa yang menjadi indikator dalam penelitian adalah
media tradisional yaitu televisi, koran/majalah, dan radio,
sementara media baru adalah internet dan media sosial.
4. Kesadaran bencana yang dilihat adalah bencana alam secara
umum yang berpotensi terjadi di Kota Payakumbuh, khususnya
gempa bumi, angin puting beliung, tanah longsor, dan kebakaran .

1.5.2 Gambaran Desain Penelitian


Gambaran desain penelitian yang akan digunakan adalah
pendekatan kuantitatif. Pengambilan data penelitian dilakukan dengan
menyebarkan kuesioner kepada para responden penelitian. Hasil
pengambilan data kemudian lalu diproses dengan menggunakan program
analisis statistik.

Universitas Pertahanan
BAB 2

TINJAUAN PUSTAKA, KERANGKA PEMIKIRAN, DAN HIPOTESIS

2.1 Tinjauan Pustaka


2.1.1 Definisi Media Massa
Pemahaman mengenai media massa dapat dimulai dengan
memahami komunikasi. Kehidupan manusia tidak dapat dipisahkan dari
aktivitas komunikasi karena komunikasi adalah bagian integral dari sistem
dan tatanan kehidupan sosial manusia atau masyarakat. Komunikasi telah
menjadi “jantung” dalam kehidupan kita yang menjadi bagian dari kegiatan
sehari-hari (Tommy, 2009, p.2). Menurut Dani (2005, p.36) manusia telah
memiliki naluri komunikasi yang dibawa sejak lahir. Naluri komunikasi
yaitu dorongan untuk terus berupaya menyampaikan pesan kepada
manusia lain. Komunikasi adalah koneksi menuju masa lalu, masa
sekarang, dan masa depan kita sebagai manusia. Jadi, komunikasi
sangatlah penting karena menjadi jembatan menuju masa depan,
penghubung dengan manusia lainnya, dan alat yang kita gunakan untuk
menciptakan jalan kita di dunia (Gamble & Gamble, 2004, p.5).
Definisi sederhana komunikasi adalah usaha penyampaian pesan
antarmanusia (Dani, 2005, p.29). Komunikasi terdiri atas dua jenis yaitu
komunikasi antarpersonal dan komunikasi massa. Komunikasi
antarpersonal adalah proses penyampaian informasi, ide, dan sikap dari
seseorang kepada orang lain. Komunikasi massa adalah proses
penyampaian informasi, ide, dan sikap kepada banyak orang dan
biasanya menggunakan media atau mesin yang diklasifikasikan dalam
media massa seperti radio siaran, televisi, surat kabar/majalah, dan film
(Tommy, 2009, p.17).
Komunikasi massa adalah proses organisasi media menciptakan
dan menyebarkan pesan-pesan kepada masyarakat luas dan proses
pesan tersebut dicari, digunakan, dipahami, dan dipengaruhi oleh
audience (Littlejohn & Karen, 2014, p. 405).

9
10

Menurut Harold D. Lasswell (dikutip dalam Wiryanto, 2000, p.3)


dalam komunikasi massa terdapat unsur-unsur yang diformulasikan dalam
bentuk pertanyaan, yaitu:
1. Unsur who (sumber atau komunikator)
2. Unsur says what (pesan)
3. Unsur in which channel (saluran atau media)
4. Unsur to whom (penerima atau mass audience)
5. Unsur with what effects (unsur efek atau akibat)
Model Lasswell menyusun bagian-bagian sistem komunikasi
massa. Model ini mampu mengidentifikasi fungsi-fungsi utama media
komunikasi, termasuk pengamatan, memberikan informasi tentang
lingkungan, memberikan pilihan untuk memecahkan masalah, atau
hubungan, dan sosialisasi serta pendidikan yang dikenal dengan
transmisi. Oleh karena itu yang terpenting dari komunikasi massa adalah
media itu sendiri. Organisasi media menyebarkan pesan yang
memengaruhi dan menggambarkan budaya masyarakat. Media
memberikan informasi kepada audience yang heterogen yang menjadikan
media sebagai bagian dari kekuatan institusi masyarakat (Littlejohn &
Karen, 2014, p. 405).
Kelima unsur ini saling terkait satu sama lain, akan tetapi pada
penelitian ini unsur in which channel atau media yang digunakan yang
akan dianalisis lebih lanjut sebagai indikator pada variabel bebas (X1).
Unsur with what effects atau unsur efek (akibat) menjadi landasan untuk
menentukan dampak mengakses media terhadap variabel kesadaran
masyarakat terhadap bencana (Y). Unsur says what (pesan) dijelaskan
dengan informasi terkait bencana yang disampaikan menjadi variabel
bebas (X2). Unsur to whom (penerima pesan) pada penelitian ini melihat
remaja sebagai kelompok penerima pesan, sementara unsur who (sumber
pesan atau komunikator) tidak menjadi fokus utama dalam penelitian.

2.1.2 Teori Efek Media Massa


Terdapat tiga metafora yang mewakili sudut pandang mengenai
media menurut Joshua Meyrowitz, yaitu media sebagai vessel, media

Universitas Pertahanan
11

sebagai bahasa, dan media sebagai lingkungan. Media sebagai vessel


adalah gagasan bahwa media menjadi pembawa pesan yang netral.
Sementara media sebagai bahasa melihat dari unsur-unsur struktural atau
tata kalimat seperti sebuah bahasa. Media sebagai lingkungan dilandasi
oleh gagasan bahwa kita hidup dalam lingkungan yang penuh dengan
berbagai informasi yang disebarkan oleh keberadaan media dengan
beragam kecepatan, ketepatan, kemampuan melakukan interaksi,
persyaratan fisik, dan kemudahan belajar. Lingkungan media tersebut
dengan cara-cara yang signifikan dan tanpa disadari membentuk
pengalaman pada manusia (Littlejohn & Karen, 2014, p. 407).
Berangkat dari metafora ketiga, yaitu media sebagai lingkungan,
terdapat teori yang diajukan oleh Marshall McLuhan. Teori McLuhan
disebut dengan teori media yang menyatakan bahwa media terlepas dari
apapun isi yang disampaikannya, memberikan pengaruh kepada individu
ataupun masyarakat (Littlejohn & Karen, 2014, p. 410). Sebagai contoh
televisi memengaruhi penontonnya terlepas dari apa yang ditonton. Dunia
maya memberikan pengaruh terlepas dari situs apa yang dikunjunginya.
McLuhan memandang setiap media sebagai sebuah perpanjangan pikiran
manusia (Littlejohn & Karen, 2014, p. 411).
McLuhan menyatakan bahwa “media adalah pesan”, yang memiliki
makna bahwa pesan yang disampaikan media tidaklah lebih penting dari
media atau saluran komunikasi yang digunakan pesan untuk sampai
kepada penerimanya. McLuhan menjelaskan bahwa media atau saluran
komunikasi memiliki kekuatan dan memberikan pengaruhnya kepada
masyarakat, dan bukan isi pesannya. Akan tetapi ketika menggunakan
media orang cenderung mementingkan isi pesannya dan tidak menyadari
bahwa media yang menyampaikan pesan itu juga memengaruhi pesannya
(Morrisan, 2014, p. 39).
Teori media tersebut mengalami perkembangan yang dikenal
dengan teori media baru. Perbedaannya adalah pada era media pertama
(klasik) digambarkan oleh: sentralisasi produksi (satu menjadi banyak),
komunikasi satu arah, kendali situasi untuk sebagian besar, reproduksi

Universitas Pertahanan
12

stratifikasi sosial dan perbedaan melalui media, audience media massa


yang terpecah, dan pembentukan kesadaran sosial. Sementara pada teori
era media kedua digambarkan sebagai: desentralisasi, dua arah, di luar
kendali situasi, demokratisasi, mengangkat kesadaran individu, dan
orientasi individu (Littlejohn & Karen, 2014, p. 411).
Pembahasan sebelumnya melihat pengaruh sosiokultural terhadap
media terlepas dari konteks atau dengan kata lain melihat secara singkat
bahwa jenis media tertentu yang ada dalam masyarakat pada waktu yang
berbeda dalam sejarah telah memiliki pengaruh besar pada individu dan
susunan sosial (Littlejohn & Karen, 2014, p. 415). Sementara untuk teori
berikutnya melihat pengaruh media pada agenda sosial yang membahas
tentang isi media dan metamorfosa media sebagai vessel.
Teori yang membahas mengenai isi media salah satunya adalah
fungsi penyusunan agenda. Teori ini salah satunya dikemukakan oleh
Walter Lippmann, yang menyatakan bahwa masyarakat tidak merespon
pada kejadian sebenarnya dalam lingkungan, akan tetapi pada “gambaran
dalam kepala kita” yang disebut dengan lingkungan palsu
(pseudoenvironment). Hal ini karena lingkungan yang sebenarnya terlalu
kompleks dan terlalu menuntut adanya kontak langsung sementara
manusia tidak dilengkapi dengan hal itu sehingga perlu menyusun kembali
dalam sebuah model yang lebih sederhana. Media memberikan model
yang lebih sederhana dengan menyusun agenda (Littlejohn & Karen,
2014, p. 415).
Fungsi penyusunan agenda telah dijelaskan oleh Donal Shaw,
Maxwell McCombs, dan rekan-rekan mereka (sebagaimana dikutip dalam
Littlejohn & Karen, 2014, p. 416) yang menulis:
“....ada bukti yang telah dikumpulkan bahwa penyunting dan
penyiar memainkan bagian yang penting dalam membentuk
realitas sosial kita ketika mereka menjalankan tugas keseharian
mereka dalam memilih dan menampilkan berita....Pengaruh media
massa ini-kemampuan untuk memengaruhi perubahan kognitif
antarindividu untuk menyusun pemikiran mereka-telah diberi nama

Universitas Pertahanan
13

fungsi penyusunan agenda dari komunikasi massa. Disini terletak


pengaruh paling penting dari komunikasi massa. Kemampuannya
untuk menata mental, dan mengatur dunia kita bagi kita sendiri....”
Penyusunan agenda, dengan kata lain membentuk gambaran atau
isu yang penting dalam pikiran masyarakat (John,1989, p. 382). Hal ini
terjadi karena media harus selektif dalam melaporkan berita. Saluran
berita sebagai penjaga gerbang informasi membuat pilihan tentang apa
yang harus dilaporkan dan bagaimana melaporkannya. Apa yang
masyarakat ketahui tentang situasi pada waktu tertentu adalah hasil dari
penjagaan gerbang oleh media (Littlejohn & Karen, 2014, p. 416). Fungsi
penentuan agenda mengacu kepada kemampuan media dengan liputan
berita yang diulang-ulang untuk mengangkat pentingnya sebuah isu dalam
benak publik (Severin & Tankard, 2005, p. 261).
Ada dua tingkatan penyusunan agenda. Pertama menentukan isu-
isu umum yang dianggap penting dan yang kedua menentukan bagian
atau aspek dari isu-isu tesebut yang dianggap penting. Sebagai contoh,
media mungkin memberitahu kita bahwa kejadian tsunami di suatu daerah
sebuah isu yang penting (tingkat pertama), tetapi media juga memberitahu
kita bagaimana memahami bahwa bantuan untuk korban tsunami tersebut
terlambat diberikan oleh pemerintah (tingkat kedua). Penggambaran
media memberikan kerangka kejadian dalam cara-cara tertentu dapat
membatasi bagaimana audience menafsirkan kejadian tersebut. Hal ini
dapat terjadi dengan berbagai tekstual dari “cerita”, seperti berita utama,
komponen audio-visual, metafora yang digunakan, dan cara penceritaan
(Littlejohn & Karen, 2014, p. 416).
Fungsi penyusunan agenda terdiri atas tiga proses bagian, yaitu
pertama adalah mengatur prioritas isu-isu yang akan dibahas dalam
media atau agenda media, kedua, agenda media memengaruhi atau
berinteraksi dengan apa yang masyarakat pikirkan yang menciptakan
agenda masyarakat. Ketiga, agenda masyarakat memengaruhi atau
berinteraksi dengan para pembuat kebijakan yang dianggap penting atau
agenda kebijakan. Secara sederhana, agenda media memengaruhi

Universitas Pertahanan
14

agenda masyarakat, dan agenda masyarakat memengaruhi agenda


kebijakan (Littlejohn & Karen, 2014, p. 416).
Opini yang muncul di antara peneliti media menurut Littlejohn &
Karen ( 2014, p. 417) adalah bahwa media tidak selalu memiliki pengaruh
yang kuat dalam agenda masyarakat. Kekuasaan media bergantung pada
faktor-faktor seperti kredibillitas media terhadap isu-isu tertentu pada saat-
saat tertentu, tingkat pertentangan bukti yang dirasakan oleh individu
anggota masyarakat, tingkat di mana individu berbagi nilai media pada
waktu-waktu tertentu, dan kebutuhan masyarakat akan panduan.
Efek media massa dapat dilihat dari tiga aspek yaitu kognitif,
afektif, dan behavioral. Efek kognitif terjadi apabila ada perubahan pada
apa yang diketahui, dipahami, atau dipersepsi khalayak. Efek ini berkaitan
dengan transmisi pengetahuan, keterampilan, kepercayaan, dan
informasi. Sementara efek afektif berhubungan dengan emosi, sikap atau
nilai. Efek behavioral berkaitan dengan perilaku nyata yang dapat diamati
(Rakhmat, 2005, p. 219).

2.1.3 Jenis Media Massa


Karakteristik media massa menurut Cangara (2011, p. 153) adalah
informasi diterima oleh mata dan telinga. Kemudian umpan balik yang
terjadi tidak secara langsung. Kode yang diberikan dapat dalam bentuk
tertulis dan lisan. Arus pesan bersifat satu arah dengan liputan banyak
dan tanpa batas. Efek dari media massa adalah rendah pada sikap akan
tetapi tinggi terhadap aspek kognitif. Informasi dapat tersebar dengan
cepat dan luas serta khalayak massa yang tak terbatas. Muatan pesan
yang ditampilkan banyak serta media yang digunakan beragam yaitu
televisi, radio, film, surat kabar.
Jenis media massa termasuk salah satu unsur komunikasi massa.
Secara garis besar media massa terdiri atas traditional media (media
tradisional) dan new media (media baru). Media tradisional adalah media
televisi, radio, dan koran (Petrus, 2012, p.2). Selain itu juga secara khusus
media tradisional termasuk media cetak seperti: leaflet, poster, banner,
spanduk (Oktaviani, Sulastri, & Rina, 2014, p.4)

Universitas Pertahanan
15

Sementara media baru menurut Dewdney & Ride (dalam Ido, 2009,
p.69) secara eksklusif merujuk pada teknologi komputer yang
menekankan bentuk dan konteks budaya yang mana teknologi digunakan,
seperti dalam seni, film, perdagangan, sains dan diatas itu semua internet.
Sementara digital media merupakan kecenderungan kepada kebebasan
teknologi itu sendiri sebagai karakteristik sebuah medium, atau
merefleksikan teknologi digital. Sehingga dengan kata lain menggunakan
internet dalam proses penyebaran informasi. Media baru termasuk di
dalamnya penggunaan internet dan media sosial.

2.1.4 Media sebagai Public Educator dalam Manajemen Bencana


Media dalam manajemen bencana memiliki peran yang signifikan
baik sebelum maupun setelah terjadi bencana. Menurut Burkhart (dalam
Coppola, 2011, p.282) pada tahap sebelum terjadi bencana yaitu fase
kesiapsiagaan (preparedness) media berperan sebagai pendidik
masyarakat (public educator). Peran media tersebut termasuk di
dalamnya meningkatkan kesadaran masyarakat terkait adanya bahaya
yang sedang terjadi atau yang akan terjadi serta informasi mengenai
usaha pencegahan dan perlindungan yang perlu dilakukan kepada
masyarakat tersebut.
Peran media sebagai penyalur informasi edukasi yang efektif telah
diteliti terutama di bidang kesehatan publik. Banyak penelitian yang
menunjukkan adanya hubungan positif antara penggunaan media dan
peningkatan pengetahuan dan perilaku yang dipromosikan. Perubahan
perilaku dan pelaksanaan persiapan diperlihatkan oleh penerima informasi
media edukasi terkait ancaman alamiah dan teknologi (Coppola, 2011,
p.282). Hal ini juga sesuai dengan pendapat Romo-Murphy (2014, p.38)
yang menyatakan bahwa komunikasi risiko bencana memiliki peranan
yang penting dalam menciptakan kesadaran bencana. Tanpa adanya
komunikasi tersebut tentu masyarakat tidak akan mengetahui adanya
risiko bencana. Sehingga komunikasi risiko adalah hal yang harus
diperhatikan terutama dalam kesiapsiagaan menghadapi bencana.

Universitas Pertahanan
16

2.1.5 Kesadaran Bencana


Kesadaran bencana pada masyarakat (public awareness) menurut
terminologi pengurangan bencana merupakan tingkat pengetahuan
masyarakat umum tentang risiko-risiko bencana, faktor-faktor yang
mengakibatkan bencana dan tindakan-tindakan yang dapat dilakukan
secara perorangan dan kolektif untuk mengurangi keterpaparan dan
kerentanan pada ancaman bahaya (UNISDR, 2009).
Kesadaran masyarakat akan bencana adalah salah satu faktor
utama dalam menciptakan pengurangan risiko bencana yang efektif. Hal
ini dapat dilihat dari hazard knowledge (pengetahuan mengenai ancaman
bencana), risk perception (persepsi terhadap risiko) dan risk avoidance
behaviour (perilaku menghindari risiko) (Joyce, 2011). Sementara
menurut Bird, Gisladottir dan Dominey-Howes (2010) terdapat lima faktor
yang memengaruhi kemampuan seseorang untuk merespon suatu
“insiden” seperti bencana, yaitu hazard knowledge, risk perception,
implementation of preparedness measures, response behaviour, dan
hazard and risk education. Faktor-faktor tersebut sangat berkaitan dan
tergantung pada kondisi sosial, politik, dan ekonomi pada masyarakat.
Jadi, kesadaran bencana adalah suatu kondisi di masyarakat
mengenai tingkat pengetahuan masyarakat terhadap ancaman dan risiko
bencana yang terdapat di daerahnya yang dipengaruhi oleh kondisi sosial,
politik, dan ekonomi masyarakat tersebut. Indikator pengukuran
kesadaran bencana yang telah dijelaskan sebelumnya secara garis besar
dapat terbagi tiga. Indikator pertama adalah pengetahuan masyarakat
terhadap ancaman bencana. Indikator berikutnya pendidikan dan
pelatihan mengenai ancaman dan risiko bencana. Terakhir adalah
tindakan atau respon yang dapat dilakukan masyarakat untuk mengurangi
kerentanan bencana yang ada.

2.1.6 Karakteristik Remaja


Masa remaja lazimnya dianggap diawali pada saat anak secara
seksual menjadi matang dan berakhir saat mencapai usia matang secara
hukum (Yudrik, 2011, p.221). Sarlito menyatakan masa remaja adalah

Universitas Pertahanan
17

masa peralihan dari anak-anak ke dewasa, bukan hanya dalam artian


psikologis tetapi juga fisik (dalam Suryani, 2013, p.136). Sarlito juga
menjelaskan definisi remaja menurut masyarakat Indonesia berpedoman
pada mereka yang berusia 11-24 tahun dan belum menikah
(sebagaimana dikutip dalam Purwoko, 2014, p.4).
Banyak teori terkait remaja baik pengertian remaja, rentang usia,
dan faktor-faktor yang memengaruhi perkembangannya. Santrock (2007,
p.20) mendefinisikan masa remaja sebagai periode transisi
perkembangan antara masa kanak-kanak dengan masa dewasa, yang
melibatkan perubahan-perubahan biologis, kognitif, dan sosio-emosional.
Menurut Santrock (2012, p. 402) Masa ini dideskripsikan sebagai masa
evaluasi, pengambilan keputusan komitmen, dan mengukir tempat di
dunia.
Penentuan masa remaja tidak dibatasi dengan umur seseorang.
Akan tetapi beberapa peneliti menjelaskan kisaran rentang usia yang
disebut dengan masa remaja. Remaja menurut Newman (2012, p.360)
secara garis besar dibagi atas dua fase yaitu remaja awal dan remaja
akhir. Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Newman dan Newman
(2012, p. 360) terdapat dua periode yang berbeda dalam perkembangan
psikososial yang terjadi pada masa-masa tersebut, yaitu masa remaja
awal (12-18 tahun) dan remaja akhir yaitu (18-24 tahun).
Masa remaja awal ditandai dengan adanya pubertas dan diakhiri
ketika lulus dari jenjang sekolah menengah atas atau kurang lebih diumur
18 tahun. Karakteristik dari tahapan ini adalah perubahan fisik yang cepat,
kematangan kognitif dan emosional yang signifikan, mulai mengenal
lawan jenis dan sensitivitas yang tinggi terhadap kelompok pertemanan
(peer group). Sementara itu remaja akhir berlangsung pada usia 18-24
tahun dengan karakteristik kemajuan dalam kemandirian dari keluarga
dan identitas diri (Newman, 2012, p.360).
Santrock (2007, p. 20) menyatakan bahwa rentang masa remaja
dimulai sekitar usia 10 hingga 13 tahun dan berakhir pada usia 18 hingga
22 tahun. Para ahli perkembangan membedakan masa remaja menjadi

Universitas Pertahanan
18

periode awal dan periode akhir. Masa remaja awal kurang lebih
berlangsung di masa sekolah menengah pertama atau sekolah menengah
akhir dan perubahan pubertal terjadi di masa ini. Kehidupan mereka
sebagian besar dihabiskan di lingkungan sekolah dengan belajar. Masa
remaja akhir kurang lebih terjadi pada pertengahan dasawarsa yang
kedua dari kehidupan. Mereka cenderung memiliki kehidupan sendiri dan
tidak semuanya yang melanjutkan ketingkat pendidikan yang lebih tinggi.
(Santrock, 2007, p. 21).
Pendapat lain terkait fase-fase remaja dinyatakan secara global
berlangsung antara umur 12 dan 21 tahun, dengan pembagian 12-15
tahun: masa remaja awal, 15-18 tahun masa remaja pertengahan, 18-21
tahun: masa remaja akhir (Mönks, Knoers & Siti, 2004, p. 262). Berikut
adalah gambaran rentang usia remaja pada Gambar 2.1.

Gambar 2.1 Rentang Usia Remaja


Sumber: Mönks, Knoers & Siti, 2004, p. 262

2.1.7 Remaja dan Media Massa


Berdasarkan pandangan ekologi terkait remaja yang dikemukakan
oleh Urie Bronfenbenner dijelaskan bahwa remaja tidak berkembang
dalam ruang hampa. Mereka berkembang tergantung berbagai hal dalam
keluarga, komunitas dan negaranya. Mereka sangat dipengaruhi oleh
dengan kontak terhadap teman, saudara, dan orang dewasa lainnya, serta
organisasi, kelompok sosial, dan sekolah tempat mereka berada. Mereka
juga dipengaruhi oleh media, budaya tempat mereka tumbuh, pemimpin
komunitas, dan juga kejadian-kejadian tertentu. Remaja adalah produk
dari pengaruh lingkungan dan sosial (Rice, 1996, p.41).

Universitas Pertahanan
19

Pengaruh lingkungan sosial pada remaja (Rice, 1996, p.13)


dipengaruhi oleh tujuh hal, yaitu: perubahan teknologi dan sosial,
urbanisasi dan suburbanisasi, materialisme dan kemiskinan, komunikasi
(media) massa, tekanan sosial dan emosional, keluarga yang kacau, dan
kejadian hidup dan stres. Khusus untuk perubahan teknologi dan sosial
seperti yang dapat dilihat remaja saat ini hidup diera dengan perubahan
teknologi yang intensif dan cepat. Hal ini dibuktikan dengan adanya listrik,
radio, televisi, kendaraan mobil, pesawat, nuklir, komputer, dan
sebagainya. Perubahan ini pada setiap budaya menjadi stimulus untuk
perubahan sosial.
Selain perubahan teknologi dan sosial, yang perlu diperhatikan
juga adalah pengaruh komunikasi massa. Media massa memiliki tanggung
jawab dalam menciptakan remaja yang konsumtif (Rice, 1996, p.17).
Remaja saat ini dikelilingi oleh berbagai pesan dikoran, majalah, radio,
dan televisi. Media massa juga menciptakan ”age of instant news”, dimana
remaja dihadapkan pada informasi sensori yang berdampak terhadap
emosi dan perasaan, serta persepsi kognitif. Komunikasi global tidak
hanya mengubah pikiran akan tetapi juga memotivasi keinginan dan
emosi untuk bertindak.
Hal ini juga sesuai dengan pendapat Santrock yang menyatakan
bahwa perkembangan remaja tidak hanya dipengaruhi oleh nilai-nilai
budaya, status sosial-ekonomi, dan etnisitas, akan tetapi juga dipengaruh
media (2012, p. 455). Lebih khusus Arnett (1994 dalam Santrock, 1998,
p.299) menjelaskan fungsi media untuk remaja adalah hiburan,
mendapatkan informasi, mencari sensasi, coping, gender-role modeling
yang memengaruhi sikap dan perilaku, identifikasi budaya remaja.
Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan oleh Rideout, dkk
(dalam Santrock, 2012, p. 455) diketahui bahwa remaja zaman sekarang
dikelilingi oleh media. Rata-rata remaja menghabiskan waktu bersama
media sebanyak 6,5 jam sehari (44,5 jam seminggu). Sebagian besar
waktu tersebut dihabiskan untuk menonton televisi (lebih dari 3 jam per
hari). Bahkan terjadi peningkatan dalam penggunaan teknologi. Perkiraan

Universitas Pertahanan
20

tersebut menegaskan ketika media multitugas diperhitungkan anak usia 8-


18 tahun menggunakan media rata-rata 8 jam per hari. Contoh sering
terjadi seorang remaja menonton TV sambil mengirimkan SMS kepada
temannya.
Menurut Sheck, dkk (dalam Santrock, 2012, p. 456) menjelaskan
bahwa remaja di seluruh dunia semakin bergantung kepada internet,
meskipun terdapat perbedaan substansial dalam penggunaannya
diberbagai negara di seluruh dunia dan oleh berbagai kelompok sosial-
ekonomi. Lingkungan sosial remaja diinternet meliputi chat rooms, e-mail,
pesan instan, blog, situs web populer, jejaring sosial seperti facebook, dan
sebagainya. Selain itu bermain video games juga sering kali memuncak
pada masa ini sebagai respon terhadap persaingan media dan permintaan
aktivitas sosial dan sekolah.
Jumlah waktu yang dihabiskan dalam mengakses media massa
memiliki peranan yang penting dalam hidup remaja (Fine, dkk 1990 dalam
Santrock, 1998, p.299). Remaja menghabiskan sepertiga atau lebih waktu
bangun mereka dikelilingi oleh media massa, sebagai fokus utama
ataupun selingan.
Media massa televisi menurut Santrock (1998, p.299) menjadi
media yang paling banyak diakses oleh remaja. Selain juga ada media
lain seperti radio, rekaman, musik rock, dan video musik yang
berpengaruh terhadap remaja. Rata-rata estimasi remaja mengakses
televisi selama 2-4 jam per hari dengan variasi lebih sedikit atau lebih
banyak. Televisi berfungsi menyediakan informasi dan hiburan lebih
banyak dibandingkan dari keluarga, teman sebaya, dan sekolah. Televisi
juga dapat membuat remaja menjadi pembelajar yang pasif dan
mengadaptasi gaya hidup pasif. Remaja juga lebih sering mengakses
media cetak seperti koran atau majalah dibanding masa kanak-kanak.
Akan tetapi perbedaan karakteristik individual juga memengaruhi
penggunaan media massa pada remaja. (Santrock, 1998, p.300).

Universitas Pertahanan
21

2.1.8 Tinjauan Penelitian Sejenis


Penelitian Anggraeny Kusuma D.A.P, et. Al (2014) membahas
mengenai kapasitas masyarakat sekitar kampus ITB dalam menghadapi
gempa bumi. Penelitian ini menggunakan indikator awareness dan
preparedness untuk melihat kapasitas masyarakat. Pendekatan yang
digunakan adalah pendekatan kuantitatif dengan melakukan penyebaran
kuesioner dan wawancara. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa
kapasitas masyarakat sekitar kampus ITB dalam menghadapi bencana
gempa bumi berada pada kategori indeks sedang (0,51) ambang atas
dengan rendah. Semakin kecil nilai indeks kapasitas masyarakat, berarti
semakin rentan dan sangat mudah menerima risiko (resilience rendah).
Efeknya jika terjadi bencana maka masyarakat akan sulit untuk bangkit
kembali dari keterpurukan. Peningkatan risiko akan semakin memudahkan
masyarakat kehilangan harta benda bahkan nyawa dan sulit membangun
kembali keadaan ekonomi yang normal.
Penelitian berikutnya adalah penelitian yang dilakukan oleh Romo-
Murphy (2014). Judul penelitiannya adalah “Developing Disaster
Preparedness Education via Broadcast Media and Community
Involvement”. Penelitian ini berusaha menemukan pemahaman yang lebih
baik terkait dengan penggunaan media penyiaran yaitu radio dalam
kesiapsiagaan menghadapi bencana di Indonesia. Metodologi yang
digunakan dalam penelitian adalah mix method. Hasil penelitian tersebut
menyatakan bahwa media penyiaran termasuk radio lokal dapat
digunakan untuk edukasi kesiapsiagaan bencana. Hal ini dapat terjadi
ketika adanya kolaborasi antara komunitas dan pihak yang
berkepentingan dalam skala lokal. Radio dapat menjadi salah satu media
edukasi akan tetapi keterlibatan media lain juga diperlukan. Selain itu
kontinuitas penyiaran juga berpengaruh sehingga program kesiapsiagaan
bencana harus menjadi sebuah agenda.
Penelitian yang dilakukan oleh Joyce (2011) berjudul Public
awareness campaigns as effective means to reduce disaster risk: a case
study of the fire and flood campaign in the Western Cape. Penelitian ini

Universitas Pertahanan
22

mengangkat tema kesadaran masyarakat yang diketahui menjadi salah


satu alat untuk mengurangi risiko bencana. Permasalahannya adalah
untuk mengukur efektifitas kampanye terkait hal tersebut bukan suatu hal
yang mudah. Kampanye pengurangan risiko bencana kebakaran dan
banjir yang digunakan adalah Logic Model Framework. Penelitian ini
menggunakan metode eksperimen dengan mengumpulkan data lapangan
baik kualitatif maupun kuantitatif dan pra dan pascaintervensi. Hasil
penelitian tersebut menunjukkan bahwa terjadi peningkatan pengetahuan
terhadap bahaya, persepsi risiko dari audience, meningkatnya komunikasi
pengetahuan tersebut kepada penduduk lain dan mengembangkan
budaya yang aman.
Badan Pengembangan dan Penelitian SDM Departemen
Komunikasi dan Informatika juga melakukan penelitian terkait yang
berjudul “Efektifitas diseminasi informasi pengurangan risiko bencana di
daerah rawan bencana”. Penelitian ini dilaksanakan oleh Puslitbang Aptel
SKDI (2009) yang melihat adanya permasalahan bahwa sebagian besar
masyarakat di Indonesia belum menyadari sepenuhnya jika banyak
daerah di Indonesia yang rawan bencana. Pertanyaan penelitian yang
diajukan adalah apakah diseminasi informasi pengurangan resiko
bencana berjalan efektif dan masih menjadi kebutuhan masyarakat di
daerah rawan bencana? Apakah diseminasi informasi pengurangan resiko
bencana masih mempunyai daya tarik bagi masyarakat yang tinggal di
daerah rawan bencana? Apakah simbol-simbol komunikasi dalam
diseminasi informasi pengurangan resiko bencana dapat dipahami oleh
masyarakat yang tinggal di daerah rawan bencana? Kemudian bagaimana
masyarakat di daerah rawan bencana memperoleh informasi tentang
permasalahan bencana alam di daerahnya?
Penelitian ini menggunakan metode triangulasi (penggabungan
metode kuantitatif dan kualitatif). Hasil penelitian menunjukkan bahwa
diseminasi pengurangan resiko bencana masih dibutuhkan oleh
komunitas masyarakat di daerah rawan bencana. Diseminasi
pengurangan resiko bencana masih memiliki daya tarik, tetapi dalam

Universitas Pertahanan
23

implementasinya masih terjadi inkonsistensi. Simbol-simbol diseminasi


pengurangan resiko bencana (formal) dapat dipahami dengan baik oleh
masyarakat di daerah rawan bencana. Demikian juga tanda-tanda alam di
komunitas lokal. Media televisi paling banyak digunakan untuk mencari
dan menyalurkan informasi tentang bencana alam. Setelah itu media
interpersonal dan media tradisional.
Penelitian terkait pengaruh media massa juga dapat dilihat dalam
penelitian yang dilakukan oleh Dewantary (2014) yang berjudul “Pengaruh
Terpaan Media Online [Link] terhadap Pengetahuan tentang Dunia
Gaya dan Kecantikan pada Member Facebook Alumni SMA Stella Duce I
Angkatan 2009”. Permasalahan penelitian adalah kehadiran media online
yang menawarkan berbagai kemudahan dalam mengakses cepat, serta
tampilannya yang menarik membuat khalayak lebih memilih untuk mencari
informasi apapun dari segi berita hingga kebutuhan akan fashion melalui
media online khususnya pada perempuan. Menyikapi hal tersebut maka
muncul situs berita online yang membahas tentang dunia perempuan
sebagai objek penelitian. Responden penelitian adalah member facebook
alumni SMA Stella Duce I Yogyakarta angkatan 2009. Hasil penelitian
terdapat pengaruh terpaan media online [Link] terhadap
pengetahuan tentang dunia gaya dan kecantikan pada sampel penelitian.
Hal tersebut mampu menjelaskan pengetahuan responden tentang dunia
gaya dan kecantikan sebesar 16,4% sedangkan sisanya dipengaruhi oleh
variabel lain di luar model yang diteliti. Selain itu, faktor individu dan sosial
pun juga memengaruhi terpaan media online terhadap pengetahuan.

2.2 Kerangka Pemikiran


Media massa yang ada saat ini secara garis besar terdiri atas
media baru (new media) dan media tradisional (traditional media). Kedua
media massa menjadi memiliki pengaruh yang besar pada remaja. Hal ini
disebabkan karena remaja tumbuh dan berkembang dikelilingi oleh media
massa tersebut. Media massa yang ada dapat menyampaikan berita atau
informasi terkait kebencanaan. Penyampaian informasi kebencanaan
tersebut menjadi salah satu bentuk kegunaan media sebagai public

Universitas Pertahanan
24

educator. Hal ini diharapkan memiliki pengaruh terhadap kesadaran


bencana pada remaja khususnya remaja di Kota Payakumbuh. Melalui hal
tersebut akan dilihat bagaimana tingkat kesadaran bencana pada remaja
di Kota Payakumbuh. Berikut kerangka pemikiran pada Gambar 2.2.

Gambar 2.2 Kerangka Pemikiran


Sumber: Olahan sendiri, 2015

2.3 Hipotesis Penelitian


Jika jenis media massa dan isi informasi bencana mudah diakses
maka akan meningkatkan kesadaran bencana pada remaja. Sejalan
dengan hipotesis secara umum berikut ini karakteristik pengaruh media
massa terhadap kesadaran bencana pada remaja, yaitu:
1. Rata-rata tingkat kesadaran bencana pada remaja di Kota
Payakumbuh tidak berada ditingkat tinggi.
2. Terdapat pengaruh media massa (akses jenis media massa dan
isi informasi bencana di media massa) terhadap kesadaran
bencana pada remaja di Kota Payakumbuh.

Universitas Pertahanan
BAB 3

METODE PENELITIAN

3.1 Desain Penelitian


Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif. Pengumpulan
data dilaksanakan dengan teknik survei atau penyebaran kuesioner.
Kuesioner yang diberikan adalah hasil penyusunan kuesioner yang sesuai
dengan turunan dari teori dan definisi operasional untuk melihat pengaruh
variabel akses jenis media massa dan isi informasi bencana di media
massa terhadap kesadaran bencana pada remaja. Sebelum penyebaran
kuesioner terlebih dahulu dilakukan uji coba kuesioner untuk menguji
validitas dan reliabilitas kuesioner yang digunakan. Pengumpulan data
dilakukan di Kota Payakumbuh Provinsi Sumatera Barat pada remaja
yang sesuai dengan kriteria responden penelitian.
Data penelitian yang telah diperoleh kemudian dianalisis dengan
menggunakan uji statistik deskriptif dan analisis regresi. Program
pengolahan data yang dipakai adalah SPSS versi 16. Berdasarkan hasil
pengolahan SPSS tersebut kemudian dilihat bagaimana pengaruh
variabel akses jenis media massa dan isi informasi bencana di media
massa terhadap kesadaran bencana pada remaja di Kota Payakumbuh.

3.2 Sumber Data/Subyek/Objek Penelitian


3.2.1 Sumber Data
Sumber data yang digunakan adalah data primer dari hasil
penyebaran kuesioner kepada remaja di Kota Payakumbuh. Hasil
penyebaran kuesioner tersebut kemudian diolah dan dianalisis dengan
menggunakan penghitungan statistik. Obyek penelitian berasal dari data
sekunder berupa data dan informasi mengenai jumlah remaja
berdasarkan jumlah sekolah dan kelas yang didapat dari Dinas
Pendidikan Kota Payakumbuh.

25
26

3.2.2 Subjek Penelitian


Subjek penelitian adalah remaja di Kota Payakumbuh. Populasi
penelitian adalah seluruh remaja di Kota Payakumbuh yang termasuk
dalam kategori usia remaja pertengahan yaitu usia 15-18 tahun Mönks,
Knoers & Siti (2004, p. 262). Oleh karena itu pengambilan data akan
dilakukan di Kota Payakumbuh Provinsi Sumatera Barat. Akan tetapi
karena keterbatasan peneliti maka dalam penelitian ini populasi sasaran
penelitian adalah remaja pertengahan yang menjadi pelajar di tingkat
sekolah menengah atas (SMA) di Kota Payakumbuh. Tabel 3.1
memperlihatkan data jumlah pelajar atau murid yang ada di SMA/SMK/MA
Negeri di Kota Payakumbuh berdasarkan data Dinas Pendidikan Kota
Payakumbuh.
Tabel 3.1 Jumlah Peserta Didik SMA/SMK Negeri dan Swasta Kota
Payakumbuh 2015
Jumlah Peserta Didik
Nama Sekolah SMA/SMK
No Jumlah
Negeri dan Swasta Pria Wanita Total
Sampel (20%)
1 SMAN 1 Payakumbuh 425 680 1105 221
2 SMAN 2 Payakumbuh 411 685 1096 219
3 SMAN 3 Payakumbuh 395 603 998 -
4 SMAN 4 Payakumbuh 379 483 862 -
5 SMAN 5 Payakumbuh 167 125 292 -
6 SMA PGRI Payakumbuh 33 17 50 -
7 SMA Nusantara 98 13 111 -
8 SMA I Raudhatul Jannah - - 183 36
9 SMA Muhtar 10 8 18 -
10 SMA IT Insan Cendikia 69 49 118 24
11 SMKN 1 Payakumbuh 155 1129 1284 -
12 SMKN 2 Payakumbuh 1635 64 1699 -
13 SMKN 3 Payakumbuh 346 837 1183 -
14 SMK S2 Kosgoro 134 372 506 -
15 SMK S1 Wirabakti 10 72 82 -
Total 4267 5137 9587 500
Sumber: Dinas Pendidikan Kota Payakumbuh, 2015 (telah diolah kembali)

Universitas Pertahanan
27

Berdasarkan Tabel 3.1 diketahui terdapat 15 sekolah setingkat


SMA baik negeri maupun swasta di Kota Payakumbuh. Sesuai dengan
jumlah populasi tersebut yaitu jumlah sekolah, maka dapat ditentukan
jumlah sampel dengan menggunakan teknik two stage cluster sampling.
Tahapan pengambilan sampel tersebut menurut Moh. Nazir (2014, p. 277)
adalah:
1. Sampling tahap pertama, yaitu memilih primary sampling unit
(PSU) dari total PSU.
2. Sampling tahap kedua, yaitu memilih unit elementer dari unit
elementer yang ada dalam PSU yang terpilih pada sampling
tahap pertama.
Berikut pada Rumus 3.1 memperlihatkan rumus penentuan PSU
tingkat pertama dalam two stage cluster sampling:

(3.1)

Keterangan:
m = jumlah sampel
M = jumlah PSU

= fraction tingkat pertama.

Jumlah sampel yang akan diambil sesuai dengan jumlah PSU (M =


15 sekolah dan fraction tingkat pertama 20%) adalah:

(3.2)

Penentuan ukuran 20% sesuai dengan teori limit distribusi normal


menurut Scheaffer, Mendenhall & Gerow (2011, p.13). Berdasarkan hasil
perhitungan sampel pada Rumus 3.2 diketahui bahwa jumlah sampel
tingkat pertama adalah 3 sekolah yang ada di Kota Payakumbuh. Akan
tetapi pada penelitian ini ditambah satu sekolah sebagai penyeimbang
antara sekolah negeri dan swasta. Sekolah yang diambil adalah dua
perwakilan sekolah negeri dan dua perwakilan sekolah swasta. Dalam
penentuan sekolah karena keterbatasan penelitian maka sekolah yang
diambil adalah SMA Negeri 1, SMA Negeri 2, SMA Islam Raudhatul
Jannah, dan SMA IT Insan Cendikia. Jumlah sampel tahap kedua dapat

Universitas Pertahanan
28

berbeda tergantung dari total jumlah peserta didik di masing-masing


sekolah yang terpilih. Penentuan jumlah unit elementer pada tahap kedua
dapat dilihat dalam Rumus 3.3.

(3.3)

Keterangan:
ni = jumlah unit elementer yang dipilih dari PSU ke-i
Mi = jumlah unit elementer dari PSU ke-i

= fraction tingkat kedua.

Hasil perhitungan jumlah unit elementer yang kedua yang diambil


dari jumlah peserta didik yang ada dari tiap-tiap sekolah dapat dilihat dari
Tabel 3.1. Berdasarkan Tabel 3.1 diketahui bahwa untuk SMA Negeri 1
Payakumbuh total sampel yang harus diambil adalah 221 orang. SMA
Negeri 2 sebanyak 219 orang. SMA Islan Raudhatul Jannah 36 orang dan
SMA IT Insan Cendikia 24 orang. Total keseluruhan sampel dalam
penelitian adalah 500 orang. Akan tetapi seiring dengan proses analisis
data terdapat hasil jawaban kuesioner dari para responden yang gugur.
Hal ini mengakibatkan total responden yang memenuhi syarat untuk
dianalisis lebih lanjut kuesionernya dengan menggunakan uji statistik
sebanyak 484 orang.

3.3 Teknik Pengumpulan Data


Teknik pengumpulan data yang digunakan adalah dengan
menyebar kuesioner kepada sampel yang telah ditentukan sebelumnya.
Bentuk umum dari kuesioner yang akan dibagikan terdiri atas bagian
pendahuluan yang berisikan petunjuk pengisian angket dan kesediaan
responden. Terdapat bagian identitas yang berisikan inisial nama, umur,
jenis kelamin, dan nama sekolah serta kelas. Bagian isi kuesioner terdiri
atas dua kelompok soal, kelompok soal pertama terkait kesadaran
bencana dan kelompok soal dua terkait penggunaan media massa.
Skala Likert digunakan untuk pertanyaan terkait kesadaran
bencana. Skala tersebut tersusun dari pilihan Sangat Tidak Setuju (1),
Tdak Setuju (2), Kurang Setuju (3), Setuju (4), Sangat Setuju (5).

Universitas Pertahanan
29

Sementara pertanyaan mengenai media massa menggunakan pertanyaan


pilihan tertutup berdasarkan kecenderungan yang sesuai dengan
responden. Jawaban terdiri atas Sangat Jarang (1), Jarang (2), Cukup
Sering (3), Sering (4), Sangat Sering (5). Pertanyaan terkait kesadaran
bencana sebagai variabel tak bebas (Y). Pertanyaan berikutnya mengenai
media massa terdiri atas dua variabel bebas yaitu akses jenis media
massa (X1) dan isi informasi bencana (X2). Pertanyaan dirancang dengan
sederhana dan responden dapat menjawab dalam bentuk silang (X).
Pertanyaan yang telah disusun akan diuji coba terlebih dahulu pada
kuasi responden. Setelah uji coba dilakukan maka kuesioner direvisi
berdasarkan pengalaman pada uji coba tersebut. Hal ini dilakukan untuk
meningkatkan validitas dan reliabilitas dari kuesioner tersebut. Kuesioner
yang telah direvisi akan menjadi instrumen penelitian untuk
mengumpulkan data sebenarnya di lapangan.

3.4 Teknik Analisis Data


Pengolahan dan analisis data yang telah diperoleh dari lapangan
melalui penyebaran kuesioner akan melewati beberapa prosedur sebelum
diolah dengan SPSS (Burhan, 2005, p.175), yaitu:
1. Pemeriksaan (editing)
Proses editing dilakukan setelah data berhasil terhimpun di
lapangan. Proses ini dimulai dengan memberikan identitas pada
instrumen penelitian yang telah terjawab. Kemudian melakukan
pemeriksaan satu per satu lembar kuesioner. Berdasarkan hasil
pemeriksaan pada tiap lembar kuesioner tersebut maka
diketahui bahwa total responden yang dapat dianalisis lebih
lanjut adalah 484 orang.
2. Pengkodean (coding)
Setelah pemeriksaan data selesai maka tahap berikutnya adalah
melakukan klasifikasi data. Data yang telah diedit diberi identitas
sehingga memiliki arti tertentu pada saat dianalisis. Pengkodean
dilakukan dengan dua cara yaitu dengan pengkodean frekuensi
dan pengkodean lambang. Pengkodean frekuensi digunakan

Universitas Pertahanan
30

pada jawaban yang memiliki bobot atau frekuensi tertentu,


seperti penggunaan media. Sementara pengkodean lambang
digunakan pada poin yang tidak memiliki bobot tertentu, seperti
umur, alamat, jenis kelamin, dan pekerjaan. Pengkodean
dilakukan dengan menggunakan program microsoft excel dan
SPSS versi 16.
3. Tabulasi (tabulating)
Proses tabulasi merupakan proses terakhir dalam pengolahan
data. Data yang telah ada dimasukkan pada tabel-tabel tertentu
dan diatur angka-angka kemudian dilakukan penghitungan.
Tabel yang digunakan adalah tabel data yang mendeskripsikan
data sehingga memudahkan peneliti dalam memahami struktur
data yang sudah diperoleh.

Analisis data secara statistik deskriptif akan digunakan untuk


mengolah data mengenai gambaran tingkat kesadaran masyarakat
terhadap bencana. Sebelum dilaksanakan uji statistik data yang didapat
diubah dari data ordinal menjadi interval sehingga didapat angka dengan
Rumus 3.4 berikut:

Nilai = (3.4)

Keterangan:
Nilai = Nilai dari skor yang diperoleh
Skor = Total skor jawaban responden
Skor Maksimal = Total skor maksimal jawaban

Hasil perhitungan dengan Rumus 3.4 kemudian dilakukan uji


statistik. Uji yang digunakan adalah uji t dari hasil perolehan skor variabel
kesadaran bencana. Skor tersebut kemudian dimasukkan dalam lima
kategori. Kategori tersebut dapat dilihat pada Tabel 3.2 sebagai berikut:

Universitas Pertahanan
31

Tabel 3.2 Kualifikasi Data Rentang 0-100


No Kualifikasi Nilai
1 Tinggi 80,01 - 100
2 Sedang 60,01 - 80
3 Cukup 40,01 - 60
4 Kurang 20,01 - 40
5 Rendah 0,00 - 20
Sumber: Sukmadinata, Ayi & Ahman, 2006 (telah diolah kembali)

Pengolahan data terkait pengaruh penggunaan media massa


terhadap kesadaran bencana sebelum dilakukan analisis regresi dilihat
terlebih dahulu korelasi dari variabel X1 dan X2 terhadap Y. Hasil analisis
korelasi tersebut menentukan apakah dapat dianalisis lebih lanjut
menggunakan analisis regresi atau tidak. Berikut besaran nilai korelasi
dan definisinya pada Tabel 3.3 berikut:

Tabel 3.3 Besaran Korelasi dan Definisi


Besaran
No Definisi
Korelasi
1 0,80-1,00 Korelasi tinggi, adanya saling ketergantungan
2 0,60-0,79 korelasi sedang/moderat
3 0,40-0,59 Cukup
4 0,20-0,39 sedikit, korelasi yang lemah
5 0,00-0,19 sangat sedikit, tidak berarti
Sumber: Morrisan et al., 2012

Apabila hasil korelasi menunjukkan sangat sedikit atau tidak ada


korelasi makan analisis regresi tidak dapat dilakukan. Akan tetapi jika
terdapat korelasi maka uji analisis regresi dapat dilakukan dengan
memenuhi beberapa syarat yaitu uji asumsi klasik dan uji hipotesis
statistik. Uji asumsi klasik terdiri atas uji normalitas, uji kesamaan varians,
uji korelasi serial, uji [Link] hipotesis statistik dilihat dari uji
signifikansi pengaruh parsial (uji t), uji signifikansi simultan (uji F), dan
analisis koefisien determinasi (R2).

Universitas Pertahanan
32

Apabila telah dilaksanakan uji asumsi klasik dan uji hipotesis


statistik maka dapat dibentuk model persamaan regresi yang menjelaskan
pengaruh variabel X1 dan X2 terhadap Y. Berikut model analisis
rancangan atau persamaan matematika yang digunakan pada Rumus
3.5:
(3.5)

Berdasarkan persamaan uji regresi tersebut maka model


rancangan uji regresinya dapat dilihat dalam Gambar 3.1:

Akses Jenis Media


Massa (X1)
Kesadaran
Bencana pada
Isi Informasi Bencana di Remaja (Y)
Media Massa (X2)

Gambar 3.1 Rancangan Uji Regresi Linier Berganda


Sumber: Olahan Sendiri, 2015

3.5 Prosedur Penelitian


3.5.1 Instrumen Penelitian
Instrumen penelitian yang digunakan adalah dengan menyebarkan
kuesioner. Data yang diperoleh dari hasil penyebaran kuesioner tersebut
akan dianalisis dengan menggunakan program analisis statistik SPSS ver.
16.0.

3.5.2 Data Primer


Data primer diperoleh dengan melakukan penyebaran kuesioner
kepada sampel penelitian. Sampel penelitian adalah remaja di Kota
Payakumbuh yang ditentukan dengan teknik two stage cluster sampling.

3.5.3 Data Sekunder


Data untuk mendukung penelitian ini adalah data statistik jumlah
sekolah dan siswa SMA se-Kota Payakumbuh yang diperoleh dari sumber
dari dinas terkait yaitu Dinas Pendidikan Kota Payakumbuh.

Universitas Pertahanan
33

3.5.4 Pengujian Keabsahan dan Keterandalan Data


Pengujian keabsahan data menurut Moleong (dikutip dalam
Peraturan Rektor Universitas Pertahanan No.22 Tahun 2014, p.24) adalah
bagaimana peneliti dapat meyakinkan pembaca mengenai kegiatan
penelitian dilakukan dengan cara yang benar dan baik sehingga
meningkatkan derajat kepercayaan terhadap kegiatan tersebut. Hal ini
dapat dilihat dari uji validitas dan reliabilitas penelitian. Validitas atau
kesahihan adalah menunjukkan sejauh mana suatu alat ukur dapat
mengukur apa yang ingin diukur (Siregar, 2012, p. 162). Reliabilitas
adalah untuk mengetahui sejauh mana hasil pengukuran tetap konsisten,
apabila dilakukan pengukuran kembali dengan alat pengukur yang sama
(Siregar, 2012, p. 173). Hasil pengukuran validitas dan reliabilitas dapat
dilihat dalam Lampiran 4.

3.6 Definisi Operasional


Berikut definisi operasional yang digunakan dalam penelitian ini,
pada Tabel 3.4.

Universitas Pertahanan
34

Tabel 3.4 Definisi Operasional


Definisi Skala
No Variabel Dimensi Indikator Alat Ukur Hasil Ukur
Operasional Ukur
1 Kesadar Kesadaran Pengetahuan a. Pemahaman Kuesioner 1. Sangat Interval
an bencana adalah masyarakat terhadap terkait bencana Skala Likert Tidak Setuju
Bencana tingkat ancaman bencana (Pertanyaan 2. Tidak
(Y) pengetahuan (UNISDR,2009) 1-16) Setuju
masyarakat b. Jenis ancaman 3. Kurang
umum tentang bencana di Kota Setuju
risiko-risiko Payakumbuh 4. Setuju
bencana, faktor- 5. Sangat
faktor yang Setuju
mengakibatkan Pendidikan dan a. Pendidikan terkait
bencana dan pelatihan terkait kebencanaan
tindakan- bencana (Bird,
tindakan yang Gisladottir dan
dapat dilakukan Dominey-Howes,
secara 2010) b. Pelatihan terkait
perorangan dan kebencanaan
kolektif untuk
mengurangi
keterpaparan dan
kerentanan pada Tindakan atau respon a. Tindakan ketika
ancaman bahaya yang akan dilakukan bencana terjadi
(UNISDR, 2009) ketika terjadi bencana

Universitas Pertahanan
35

(Joyce,2011) b. Usaha yang


dilakukan untuk
mengurangi risiko
bencana

2 Akses Akses media Jenis media massa Kuesioner 1. Sangat Interval


TV
Jenis massa adalah yang diakses adalah (Pertanyaan Jarang
Media frekuensi frekuensi mengakses Internet 17-21) 2. Jarang
Massa penggunaan media massa oleh 3. Cukup
(X1) media massa responden per jenis Media Sosial
Sering
yang berarti media atau Koran/Majalah 4. Sering
keajegan tingkat keterjangkauan 5. Sangat
responden dalam dan ketergantungan Radio Sering
menonton untuk mendapatkan
televisi, media massa (
membaca Donggori & Margawati,
koran/majalah, 2012, p. 62)
mendengarkan
radio, Nama saluran/channel TV Pertanyaan Nama Nomin
menggunakan media massa adalah isian saluran/chan al
internet dan nama saluran media Internet terbuka nel
media sosial yang sering diakses (Pertanyaan
oleh responden per Media Sosial 27a, b, c, d,
secara harian
(Dewantari, jenis media massa e)
Koran/Majalah
2014, p. 15).

Universitas Pertahanan
36

Radio

3 Isi Informasi terkait Durasi responden TV Kuesioner 1. Sangat Interval


informas bencana di mengakses isi (Pertanyaan Jarang (1-15
i terkait media massa informasi terkait 22-26) menit)
bencana adalah durasi bencana dimasing- Internet 2. Jarang
di media lamanya waktu masing media massa (16-30menit)
massa rata-rata per hari Media Sosial 3. Cukup
(X2) responden Sering (31-
mengakses isi 45menit)
atau contents Koran/Majalah 4. Sering (46-
informasi 60menit)
bencana dalam
hitungan menit. Radio 5. Sangat
Pembagian
Sering
durasi
mengakses (>60menit)
informasi sesuai
dengan
modifikasi dari
penelitian
Dewantari (2014,
p. 21)
Sumber: Olahan Sendiri, 2015

Universitas Pertahanan
37

Berdasarkan penjelasan definisi operasional tersebut maka


dibentuk kisi-kisi instrumen penelitian. Definisi operasional diturunkan
menjadi beberapa indikator. Berikut kisi-kisi untuk instrumen penelitian
pada Tabel 3.5.
Tabel 3.5 Kisi-kisi Instrumen Penelitian
No Variabel Dimensi Indikator No Item
1 Kesadaran Pengetahuan a. Pemahaman terkait
1,2
masyaraka masyarakat bencana
t terhadap terhadap b. Jenis ancaman
bencana ancaman bencana di Kota 3,4,5
(Y) bencana Payakumbuh
Pendidikan a. Pendidikan terkait
dan pelatihan kebencanaan 6,7,8

terkait
b. Pelatihan terkait
bencana 9,10,11
kebencanaan

Tindakan atau a. Tindakan ketika


respon yang bencana terjadi 12,13

akan
b. Usaha yang dilakukan
dilakukan 14,15,
untuk mengurangi risiko
ketika terjadi 16
bencana
bencana
2 Akses Frekuensi a. Televisi 17,27a
jenis mengakses b. Internet 18,27b
media jenis media c. Media sosial 19,27c
massa(X1) massa dan d. Koran atau majalah 20,27d
nama media
e. Radio 21,27e
massa
3 Informasi Durasi TV 22
terkait mendapatkan
Internet 23

Universitas Pertahanan
38

bencana di isi informasi Media Sosial 24


media terkait
Koran/Majalah 25
massa bencana
(X2) dimasing- Radio
masing media 26
massa
Sumber: Olahan Sendiri, 2015

3.7 Jadwal Pelaksanaan Penelitian


Jadwal pelaksanaan penelitian dapat dilihat pada Tabel 3.6
sebagai berikut:
Tabel 3.6 Jadwal Pelaksanaan Penelitian
2015 2016
No Kegiatan Utama
Jun Jul Ags Sep Okt Nov Des Jan Feb Mar

1. Pembuatan
Draft Proposal
2. Perbaikan Draft
Proposal
3. Sidang Ujian
Proposal
4. Perbaikan Draft
Proposal
5. Pengumpulan
dan Pengolahan
Data
6. Penyusunan
Tesis
7. Ujian Tesis
8. Perbaikan Tesis
Sumber: Olahan Sendiri, 2016

Universitas Pertahanan
BAB 4

ANALISIS DATA DAN PEMBAHASAN

4.1 Data Penelitian


Data penelitian yang digunakan adalah data primer. Data tersebut
diperoleh melalui penyebaran kuesioner kepada 484 responden. Total
jumlah pertanyaan pada kuesioner adalah 27 pertanyaan. Berikut
gambaran umum mengenai lokasi penelitian dan karakteristik responden:

4.1.1 Gambaran Umum Lokasi Penelitian


Pengambilan data penelitian dilakukan di Kota Payakumbuh,
Provinsi Sumatera Barat. Responden penelitian adalah para remaja yang
yang berusia 15-18tahun yang termasuk dalam kategori remaja
pertengahan (Mönks, Knoers & Siti, 2004, p. 262) . Rata-rata remaja yang
berusia tersebut berada pada tingkat pendidikan sekolah menengah atas
(SMA). Terdapat empat SMA yang menjadi lokasi penelitian, yaitu: SMA IT
Insan Cendikia, SMA Islam Raudhatul Jannah, SMA Negeri 1 dan SMA
Negeri 2 Payakumbuh.
SMA Islam Terpadu Insan Cendikia dan SMA Islam Raudhatul
Jannah adalah sekolah swasta yang berada di Payakumbuh. Sementara
SMA Negeri 1 dan 2 Payakumbuh adalah dua sekolah negeri favorit di
Payakumbuh. Hal ini terbukti dengan banyaknya jumlah murid yang
bersekolah di SMA tersebut.

4.1.2 Gambaran Umum Karakteristik Responden


Responden penelitian adalah remaja yang sedang menempuh
pendidikan di SMA yang ada di Payakumbuh. Berikut gambaran umum
karakteristik dan jumlah responden berdasarkan jenis kelamin dan usia
pada Tabel 4.1.

39
40

Tabel 4.1 Karakteristik Responden


Jenis Total
Total
Kelamin 15 16 17 18
Laki-laki 23 64 64 33 184
Perempuan 33 123 116 28 300
Total 56 187 180 61 484
Sumber: Hasil analisis, 2016

Berdasarkan Tabel 4.1 diketahui bahwa total responden penelitian


adalah 484 orang. Responden remaja perempuan lebih banyak
dibandingkan laki-laki yaitu 300 orang sementara laki-laki berjumlah 184
orang. Responden perempuan paling banyak berada pada usia 16 tahun
(123 orang). Responden laki-laki terbanyak pada usia 16 dan 17 tahun
masing-masing 64 orang. Perbandingan gambaran responden secara
keseluruhan dapat dilihat pada Gambar 4.1.

Gambar 4.1 Grafik Jumlah Responden Penelitian


Sumber: Hasil analisis, 2016

4.1.3 Deskriptif Variabel Media Massa


[Link] Akses Jenis Media Massa (X1)
Data yang diperoleh dari hasil penelitian yang telah diolah
memperlihatkan frekuensi remaja dalam mengakses media massa sesuai
dengan jenis media massa di Kota Payakumbuh. Media massa tersebut
terdiri dari media televisi, media sosial, internet, koran/majalah, dan radio.
Data dapat dilihat dari Tabel 4.2 berikut.

Universitas Pertahanan
41

Tabel 4.2 Rekapitulasi Akses Jenis Media Massa

Skor Jawaban
No Sangat
Indika Pert Jarang Cukup Sangat
Jarang Sering (4)
tor anya (2) Sering (3) Sering (5)
(1)
an
N % N % N % N % N %
12 31
TV 17 3 0,6 10 2,1 36 7,4 25,8 64,0
5 0
Intern 17 13
18 7 1,4 45 9,3 122 25,2 36,4 27,7
et 6 4
Media 16 24
19 6 1,2 7 1,4 56 11,6 34,9 50,8
Sosial 9 6
Koran
2 14 29, 12
Majal 20 5,2 154 31,8 24,8 42 8,7
5 3 5 0
ah
7 16 33,
Radio 21 14,9 130 26,9 82 16,9 39 8,1
2 1 3
Sumber: Hasil analisis, 2016

Berdasarkan Tabel 4.2 diketahui bahwa media massa televisi (TV)


dan media sosial adalah media yang sangat sering diakses oleh
responden penelitian. Hal ini dapat dilihat dari jumlah responden yang
memilih televisi sebanyak 310 orang atau 64% dari total responden.
Sementara yang memilih media sosial jumlahnya lebih sedikit
dibandingkan televisi yaitu 246 orang (50,8%). Selanjutnya media yang
termasuk kategori sering diakses adalah media internet dengan jumlah
176 responden atau 36,4%. Media massa koran atau majalah adalah
media yang cukup sering diakses responden yaitu sebanyak 154 orang
(31,8%) memilih media tersebut. Terakhir adalah media massa radio yang
menjadi media paling jarang diakses oleh responden dengan jumlah
pemilih 161 orang (33,3%). Gambaran data pada Tabel 4.2 dapat dilihat
dalam grafik Gambar 4.2 sebagai berikut.

Universitas Pertahanan
42

70,00%
64,00%

60,00%

50,80%
50,00%

40,00% 36,40%
34,90%
33,30%
31,80%
29,50%
30,00% 27,70% 26,90%
25,80% 25,20% 24,80%

20,00% 16,90%
14,90%
11,60%
9,30% 8,70% 8,10%
10,00% 7,40%
5,10%
2,10% 1,40% 1,40%
0,60% 1,20%
0,00%
TV Media Sosial Internet Koran/Majalah Radio

Sangat jarang Jarang Cukup sering Sering Sangat sering

Gambar 4.2 Grafik Akses Jenis Media Massa


Sumber: Hasil analisis, 2016

b. Nama Saluran Media Massa yang Diakses


Berdasarkan data yang diperoleh dari responden diketahui nama
saluran masing-masing media massa baik tradisional maupun baru yang
sering diakses. Nama saluran media massa tersebut ditulis langsung oleh
reponden tanpa ada pilihan jawaban. Pertanyaan tersebut berada di
nomor 27. Berikut adalah lima nama saluran media massa yang paling
banyak diakses oleh remaja di Payakumbuh pada Tabel 4.3.

Universitas Pertahanan
43

Tabel 4.3 Rekapitulasi Nama Saluran Media Massa yang sering Diakses

TV Internet Media Sosial Koran/Majalah Radio


No
Nama % Nama % Nama % Nama % Nama %
Padang Harau
1 TV One 28,2% Google 28,6% Facebook 30,6% 58,4% 52%
Ekspres FM
2 RCTI 20% [Link] 25,8% Instagram 25,9% Kompas 13,3% Safasindo 19,5%

3 Metro TV 16,7% [Link] 10,8% BBM 24,6% Singgalang 9,3% Tiara FM 9,9%

4 Trans TV 15,3% Youtube 6,5% Twitter 9,7% Republika 8% RRI 4,8%


Seputar
5 Net TV 11,8% [Link] 4% Line 7,4% 2,7% Pass FM 3,6%
Indonesia
6 Lainnya 8% Lainnya 24,3% Lainnya 1,8% Lainnya 8,3% Lainnya 10,2%
Sumber: Hasil analisis, 2016

Universitas Pertahanan
44

Berdasarkan Tabel 4.3 diketahui bahwa saluran media massa


yang paling sering diakses di masing-masing media dengan persentase
yang berbeda-berbeda. Saluran media televisi yang paling sering diakses
adalah TV One sebesar 28,2%. Media internet yang paling sering diakses
adalah Google 28,6% dan 30,6% di media sosial memilih Facebook.
Sementara untuk media massa koran sebanyak 58,4% memilih koran
Padang Ekspres. Media massa radio sebesar 52% memilih Harau FM.

[Link] Informasi terkait Bencana pada Media Massa (X2)


Hasil rekapitulasi penyebaran kuesioner pada responden remaja di
Payakumbuh mengenai durasi isi informasi terkait bencana yang diterima
responden di media massa dapat dilihat pada Tabel 4.4.

Tabel 4.4 Rekapitulasi Isi Informasi Bencana di Media Massa

Nom Skor Jawaban


or Sangat
Jarang Cukup Sangat
Pert Jarang Sering (4)
Indikator (2) Sering (3) Sering (5)
anya (1)
an N % N % N % N % N %

TV 22 7 1,4 26 5,4 73 15,1 146 30,2 232 47,9

Internet 23 5 1,0 10 2,1 80 16,5 177 36,6 212 43,8

Media
24 2 0,4 14 2,9 112 23,1 180 37,2 176 36,4
Sosial
Koran/
25 3 0,6 35 7,2 205 42,4 161 33,3 78 16,1
Majalah
3 15 32,
Radio 26 6,8 159 32,9 100 20,7 34 7,0
3 7 4
Sumber: Hasil analisis (2016)

Berdasarkan Tabel 4.4 diketahui bahwa untuk variabel isi informasi


bencana dimasing-masing media yang paling tinggi dipilih oleh responden
adalah media televisi dengan jumlah pemilih Sangat Sering sebanyak 232
responden (47,9%). Kemudian dilanjutkan oleh media internet 212
responden atau sebesar 43,8% (Sangat Sering). Media sosial menjadi
media yang Sering dipilih responden yaitu 180 responden (37,2%).
Sementara media koran atau majalah dan persentase responden terbesar

Universitas Pertahanan
45

berada dikategori Cukup Sering yaitu 42,4% (N=205) dan 32,9% (N=159).
Berikut gambaran lebih jelas dapat dilihat pada Gambar 4.3.

Gambar 4.3 Grafik Isi Informasi Bencana di Media Massa


Sumber: Hasil analisis, 2016

[Link] Kesadaran Bencana (Y)


Kesadaran bencana pada remaja dapat dilihat dari hasil
penyebaran kuesioner kepada 484 responden penelitian. Terdapat 16
pertanyaan mengenai variabel kesadaran bencana. Hasil rekapitulasi
pertanyaan terkait variabel kesadaran bencana dapat dilihat pada Tabel
4.5.
Berdasarkan Tabel 4.5 diketahui bahwa terdapat 6 indikator dari 3
dimensi variabel kesadaran bencana yang diberikan dalam kuesioner.
Indikator pertama terkait pemahaman bencana terdiri atas dua pertanyaan
pertanyaan pertama jawaban dominan responden adalah Cukup Setuju
(32,9%) dan pertanyaan kedua 37,2% memilih Setuju. Indikator kedua
mengenai jenis ancaman yang terjadi di Payakumbuh terdapat tiga
pertanyaan dengan jawaban dominan masing-masingnya Cukup Setuju
(42,4%), Sangat Setuju (41,5%), dan Sangat Setuju (64%).

Universitas Pertahanan
46

Tabel 4.5 Rekapitulasi Kesadaran Bencana pada Remaja


Skor Jawaban
Nom Sangat
or Tidak
Tidak Cukup Sangat
Dimensi Indikator Pert Setuju Setuju (4)
Setuju Setuju (3) Setuju (5)
anya (2)
(1)
an
N % N % N % N % N %
Pengeta a. 32, 12
huan Pemaha 1 13 2,7 97 20 159 25 91 18,8
9 1
masyara man
kat terkait 23, 18 17
2 2 0,4 14 2,9 112 37,2 36,4
terhadap bencana 1 0 6
ancaman b. Jenis 42, 16
bencana ancaman 3 3 0,6 35 7,2 205 33,3 78 16,1
4 1
bencana
di Kota 17, 18 20
4 3 0,6 12 2,5 83 37,8 41,5
Payakum 1 3 1
buh
12 31
5 2 0,4 10 2,1 36 7,4 25,8 64
5 0
Pendidik a. 25, 17 13
an dan Pendidik 6 7 1,4 45 9,3 122 36,4 26,9
2 6 0
pelatihan an terkait 11, 16 24
terkait kebenca 7 4 0,8 7 1,4 56 34,9 50,8
6 9 6
bencana naan
14 29, 31, 12
8 22 4,5 154 24,8 42 8,7
3 5 8 0
b. 14, 16 33, 26,
Pelatihan 9 72 130 82 16,9 38 7,9
9 1 3 9
terkait 16, 17 21
kebenca 10 5 1,0 10 2,1 80 36,6 43,8
5 7 2
naan
15 32, 32, 10
11 33 6,8 159 20,7 34 7
7 4 9 0
Tindakan a. 15, 14 23
atau Tindakan 12 7 1,4 26 5,4 73 30,2 47,9
1 6 2
respon ketika
yang bencana 29, 16 11
akan terjadi 13 4 0,8 53 11 144 33,7 24,2
8 3 7
dilakuka
n ketika b. Usaha 11, 33, 12 13
yang 14 7 1,4 56 160 25,8 27,3
terjadi 6 1 5 2
bencana dilakuka
n untuk 34, 12 11
15 16 3,3 58 12 168 26 24
mengura 7 6 6
ngi risiko 11 28
bencana 16 26 5,4 29 6 33 6,8 23,1 58,7
2 4
Sumber: Hasil analisis, 2016

Universitas Pertahanan
47

Indikator berikutnya adalah pendidikan terkait kebencanaan


diwakili oleh tiga pertanyaan dengan jawaban dominan masing-masingnya
pada Tabel 4.5 adalah Setuju (36,4%), Sangat Setuju (50,8%), Cukup
Setuju (31,8%). Kemudian indikator pelatihan terkait bencana jawaban
dominan masing-masingnya Kurang Setuju (33,3%), Sangat Setuju
(43,8%), dan Cukup Setuju (32,9%). Selanjutnya adalah indikator terkait
tindakan ketika bencana terjadi yang terdiri atas dua pertanyaan dengan
jawaban dominan Sangat Setuju (47,9%), dan Setuju (33,7%). Indikator
terakhir adalah usaha yang dilakukan untuk mengurangi risiko bencana
terdapat tiga pertanyaan. Jawaban dominan masing-masing adalah Cukup
Setuju (33,1%), Cukup Setuju (34,7%), dan Sangat Setuju (58,7%).

4.2 Analisa Data


4.2.1 Tingkat Kesadaran Bencana pada Remaja
Tingkat kesadaran bencana sesuai hasil pengukuran tingkat
kesadaran bencana pada remaja. Hal ini dapat dilihat dalam Tabel 4.6.
Pengukuran tersebut dilakukan dengan menggunakan Rumus 3.4.
Kemudian skor responden disesuaikan dengan kategori tingkatan
kesadaran bencana.

Tabel 4.6 Tingkat Kesadaran Bencana pada Remaja


No Nilai Kualifikasi Jumlah Persentase Rata-rata
1 81 - 100 Tinggi 99 20%
2 61 - 80 Sedang 368 76%
3 41 - 60 Cukup 17 4%
74,83
4 21 - 40 Kurang 0 0%
5 <20 Rendah 0 0%
Total 484 100%
Sumber: Hasil analisis, 2016

Tabel 4.6 memperlihatkan bahwa sebanyak 368 responden berada


pada kategori tingkat kesadaran bencana sedang (76%). Nilai rata-rata
tingkat kesadaran bencana sebesar 74,83 atau berada pada kategori
sedang. Berikut diagram hasil pengukuran kesadaran bencana disajikan
pada Gambar 4.4.

Universitas Pertahanan
48

Gambar 4.4 Diagram Tingkat Kesadaran Bencana pada Remaja


Sumber: Hasil analisis, 2016

Tabel 4.6 dan Gambar 4.4 memberikan gambaran pembagian


tingkatan kesadaran bencana sesuai data yang diperoleh dari responden.
Sementara untuk hasil pengujian hipotesis dapat dilihat pada Tabel 4.6.
Pengujian hipotesis terhadap tingkat kesadaran bencana perlu dilakukan
untuk membuktikan kebenaran hipotesis yang dikemukakan, yaitu:

Ho = Rata-rata tingkat kesadaran bencana pada remaja berada di


tingkatan tinggi (μ = 81)
H1 = Rata-rata tingkat kesadaran bencana pada remaja tidak
berada di tingkatan tinggi (μ ≠ 81)

Pengujian hipotesis yang dilakukan menggunakan teknik statistik


one sample t-test . Hal ini dilakukan untuk menguji hipotesis deskriptif satu
sampel. Berikut hasil uji statistik menggunakan aplikasi SPSS ver. 16
pada Tabel 4.7.

Universitas Pertahanan
49

Tabel 4.7 Pengujian Sampel Menggunakan One Sample T-test


Std. Error
N Mean Std. Deviation Mean
Kesadaran Bencana 484 74.8388 7.49622814 .34073764
One-Sample Test
Test Value = 81
95% Confidence Interval of
Sig. (2- Mean the Difference
T df tailed) Difference Lower Upper
Kesadaran -
483 .000 -6.16116 -6.8307 -5.4916
Bencana 18.082
Sumber: Hasil analisis, 2016

Berdasarkan Tabel 4.7 diketahui bahwa nilai signifikansi adalah


0,000. Nilai signifikasi tersebut lebih kecil dari tingkat kesalahan 5% (0,05)
sehingga H0 ditolak. Jadi dapat diambil kesimpulan bahwa dengan taraf uji
5% rata-rata tingkat kesadaran bencana pada remaja di Kota
Payakumbuh tidak berada di kategori tinggi, akan tetapi berada di
tingkatan sedang (μ=74,83).

4.2.2 Pengaruh Media Massa (Akses Jenis Media Massa dan Isi
Informasi Bencana) terhadap Kesadaran Bencana pada
Remaja
[Link] Analisis Hubungan Media Massa (Akses Jenis Media Massa
dan Isi Informasi Bencana) terhadap Kesadaran Bencana pada
Remaja

Analisis hubungan dilakukan dengan menggunakan uji korelasi


Pearson pada SPSS versi 16. Uji korelasi tersebut melihat seberapa besar
hubungan variabel media massa dengan variabel kesadaran bencana.
Berikut hasil analisis korelasi pada Tabel 4.8.

Universitas Pertahanan
50

Tabel 4.8 Analisis Hubungan Akses Jenis Media Massa dan Isi Informasi
Bencana terhadap Kesadaran Bencana pada Remaja
Korelasi Kesadaran Bencana (Y)
Akses Jenis Pearson Correlation .357**
Media Massa Sig. (2-tailed) .000
(X1)
N 484
Isi Informasi Pearson Correlation .382**
Bencana (X2) Sig. (2-tailed) .000
N 484
Sumber: Hasil analisis, 2016

Analisis hubungan media massa dengan kesadaran bencana


menggunakan uji korelasi dengan melihat koefisien korelasi Pearson.
Hubungan akses jenis media massa (X1) terhadap kesadaran bencana
(Y) sebesar 0,357. Sementara hubungan isi informasi bencana di media
massa (X2) terhadap kesadaran bencana (Y) adalah 0,382. Berdasarkan
Tabel 3.3 hasil analisis menunjukkan adanya korelasi yang berada pada
kategori sedikit antara akses jenis media massa dan isi informasi bencana
di media massa terhadap kesadaran bencana.
Hubungan ini signifikan karena p=0,00 < 0,05 dan arah hubungan
yang searah (+). Hal ini menunjukkan bahwa semakin tinggi akses jenis
media massa dan isi informasi bencana di media massa maka akan
semakin tinggi pula kesadaran bencana yang dimiliki remaja. Berdasarkan
hasil analisis tersebut maka dapat dilanjutkan dengan analisis berikutnya
yaitu uji regresi linier berganda.

[Link] Analisis Multivariat Media Massa (Akses Jenis Media Massa


dan Isi Informasi Bencana) terhadap Kesadaran Bencana pada
Remaja
a. Uji Asumsi Klasik
Uji asumsi klasik dilakukan sebagai syarat untuk melaksanakan
analisis regresi linier berganda. Uji tersebut terdiri atas uji kenormalan
data, uji kesamaan varians, uji korelasi serial, dan uji multikolinieritas.
Berikut hasil uji asumsi klasik dan uji hipotesis sesuai dengan hasil olahan
data menggunakan SPSS versi 16.

Universitas Pertahanan
51

1. Normality (uji kenormalan data)


Pengujian normalitas distribusi data populasi dilakukan dengan
menggunakan statistik Kolmogorov-Smirnov. Hasil pengujian data pada
Tabel 4.9 menunjukkan bahwa nilai sig. adalah 0,664 atau lebih besar dari
0,05. Hal ini menunjukkan bahwa data tersebut telah memenuhi syarat
normalitas dan dapat dilanjutkan untuk analisis regresi linier berganda.

Tabel 4.9 Uji Normalitas One Sample Kolmogorov-Smirnov

Unstandardized Residual
N 484
Normal Parametersa Mean .0000000
Std.
6.66664216
Deviation
Most Extreme Absolute .033
Differences Positive .032
Negative -.033
Kolmogorov-Smirnov Z .728
Asymp. Sig. (2-tailed) .664
Sumber: Hasil analisis, 2016

2. Homoscedasticity (uji kesamaan varians)


Uji Homoscedasticity atau uji kesamaan varians dapat dilihat
melalui hasil pada Gambar 4.5. Hasil analisis data dapat diketahui dari
hasil scatter plot dalam pengujian tersebut tidak membentuk pola tertentu.
Hal ini menandakan varians residual tersebar sehingga dapat dikatakan
memenuhi persyaratan uji homoscedasticity.

Universitas Pertahanan
52

Gambar 4.5 Sebaran Data Uji Homoscedasticity


Sumber: Hasil analisis, 2016

3. Serial Correlation (uji korelasi serial)


Persyaratan uji asumsi berikutnya adalah uji korelasi serial. Hasil
uji korelasi serial ini digunakan untuk menyatakan ada tidaknya
autokorelasi dalam variabel yang digunakan. Tabel 4.10 memperlihatkan
hasil perhitungan statistik menggunakan uji Durbin-Watson.
Tabel 4.10 Hasil Uji Korelasi Serial Durbin-Watson
Model R Std. Error of the Estimate Durbin-Watson

1 .457a 6,680 1.710


Sumber: Hasil analisis, 2016

Berdasarkan hasil analisis data pada Tabel 4.10 diketahui bahwa


nilai statistik Durbin-Watson adalah 1,710. Angka ini mendekati angka 2,
yang berarti data tersebut tidak memiliki autokorelasi. Sehingga dapat
disimpulkan bahwa tidak terdapat masalah dalam uji korelasi serial antara
akses jenis media massa dan isi informasi terkait bencana di media massa
terhadap kesadaran bencana.
4. Multicollinearity (uji multikolinieritas)
Uji asumsi terakhir adalah uji multikolinieritas atau uji saling
keterkaitan antar variabel bebas. Penelitian ini memiliki dua variabel
bebas yaitu akses media massa (X1) dan informasi terkait bencana di

Universitas Pertahanan
53

media massa (X2). Melalui uji ini dapat dilihat apakah di antara dua
variabel tersebut tidak saling berkolerasi. Hal tersebut dapat dideteksi
dengan nilai Variance Inflation Faktor (VIF).
Tabel 4.11 Hasil Uji Multikolinieritas
Collinearity Statistics
Model t Sig.
Tolerance VIF

(Constant) 16.394 .000

1 X1 6.196 .000 .906 1.104

X2 7.061 .000 .906 1.104


Sumber: Hasil analisis, 2016

Berdasarkan Tabel 4.11 diketahui bahwa nilai VIF pada variabel


X1 dan X2 adalah 1,104 dengan nilai toleransi 0,906. Nilai VIF tersebut
kecil dari 10 dan nilai toleransi lebih besar dari 0,1. Oleh karena itu dapat
disimpulkan bahwa kedua variabel bebas tidak saling berkolerasi,
sehingga memenuhi syarat untuk dilaksanakan uji regresi linier berganda.

b. Uji Analisis Regresi Linier Berganda


Setelah persyaratan uji asumsi klasik terpenuhi maka dilanjutkan
dengan melihat hasil uji kelayakan model regresi dan uji koefisien regresi.
Uji kelayakan model regresi selain menggunakan uji asumsi klasik juga
menggunakan uji F (Overall F-test) dan memperhatikan nilai koefisien
determinasi (R2). Uji koefisien regresi didapatkan melalui uji t (t-test).
Berikut penjelasan mengenai masing-masing hasil uji tersebut.
1. Uji Koefisien Regresi secara Simultan (Uji F)
Uji F dilakukan dengan tujuan untuk mengetahui pengaruh secara
bersama-sama (simultan) antara variabel akses media massa dan
informasi terkait bencana di media massa terhadap kesadaran bencana
pada remaja. Hasil uji F dapat dilihat pada Tabel 4.12 untuk membuktikan
hipotesis yang diajukan. Hipotesis tersebut adalah:

Ho = tidak terdapat pengaruh antara akses media massa dan


informasi terkait bencana di media massa terhadap kesadaran
bencana pada remaja (p>0,05)

Universitas Pertahanan
54

H1 = terdapat pengaruh antara akses media massa dan informasi


terkait bencana di media massa terhadap kesadaran bencana
pada remaja (p<0,05)

Tabel 4.12 Uji Koefisien Regresi secara Simultan (Uji F)


Sum of Mean
Model df F Sig.
Squares Square

Regression 5674.921 2 2837.460 63.579 .000a

1 Residual 21466.509 481 44.629

Total 27141.430 483


Sumber: Hasil analisis, 2016

Berdasarkan hasil uji F pada Tabel 4.12 diketahui bahwa F hitung


adalah 63,579 dengan nilai signifikansi 0,000 (<0,05). Hal ini menunjukkan
bahwa model regresi sudah cukup baik. Secara keseluruhan variabel
prediktor dalam persamaan regresi dapat digunakan untuk memprediksi
variabel dependen. Oleh karena itu dapat disimpulkan bahwa terdapat
pengaruh yang antara akses jenis media massa dan isi informasi terkait
bencana di media massa terhadap kesadaran bencana pada remaja
secara bersama-sama, sehingga Ho ditolak dan H1 diterima (p<0,05).

2. Koefisien Determinasi (R2)


Koefisien determinasi diketahui dengan melihat nilai R2 pada hasil
analisis menggunakan SPSS versi 16. Hasil uji tersebut dapat pada Tabel
4.13 sebagai berikut.
Tabel 4.13 Koefisien Determinasi (R2)
Model R R Square Adjusted R Square Std. Error of the Estimate

1 .457a .209 .206 6.680


Sumber: Hasil analisis, 2016

Berdasarkan Tabel 4.13 diketahui bahwa nilai R square (R2)


adalah sebesar 0,209. Hal ini menunjukkan bahwa besarnya variasi yang
memberikan pengaruh media massa yaitu akses jenis media massa dan

Universitas Pertahanan
55

isi informasi bencana terhadap kesadaran bencana remaja sebesar 20%.


Sisanya sebesar 80% dipengaruhi oleh variabel lain yang tidak diteliti.

3. Uji Koefisien Regresi secara Parsial (Uji t)


Hipotesis yang diajukan terkait uji koefisien regresi secara parsial
meggunakan uji t adalah:
- Nilai B constant
Ho : a = 0 , p>0,05
H1 : a ≠ 0 , p<0,05
- Variabel akses jenis media massa (X1) terhadap kesadaran
bencana (Y)
Ho = tidak terdapat pengaruh yang antara akses jenis media
massa terhadap kesadaran bencana pada remaja (a=0,
p>0,05)
H1 = terdapat pengaruh yang antara akses jenis media massa
terhadap kesadaran bencana pada remaja (a≠0, p<0,05)
- Variabel isi informasi terkait bencana di media massa (X2) terhadap
kesadaran bencana (Y)
Ho = tidak terdapat pengaruh yang antara isi informasi terkait
bencana di media massa terhadap kesadaran bencana
pada remaja (a=0, p>0,05)
H1 = terdapat pengaruh yang antara isi informasi terkait bencana
di media massa terhadap kesadaran bencana pada remaja
(a≠0, p<0,05)
Hipotesis di atas dibuktikan melalui hasil uji t. Selain itu, tabel hasil
uji koefisen regresi secara parsial juga digunakan untuk membentuk
fungsi regresi secara matematik. Nilai koefisien tersebut dapat
memprediksi nilai variabel kesadaran bencana (Y) dalam kondisi tertentu.
Berikut adalah hasil uji koefisien regresi secara parsial menggunakan uji t
pada Tabel 4.14.

Universitas Pertahanan
56

Tabel 4.14 Hasil Uji Koefisien Regresi secara Parsial (Uji t)

Unstandardized Standardized
Model Coefficients Coefficients t Sig.
B Std. Error Beta
(Constant) 44.611 2.721 16.394 .000
1 X1 .233 .038 .264 6.196 .000
X2 .239 .034 .301 7.061 .000
Sumber: Hasil analisis, 2016

Berdasarkan Tabel 4.14 diketahui bahwa hasil signifikansi untuk


nilai B constant, variabel media massa (X), variabel akses jenis media
massa (X1) dan variabel isi informasi bencana (X2) adalah 0,000 (<0,05).
Sehingga dapat diambil kesimpulan bahwa keseluruhan hipotesis yang
diajukan diketahui Ho ditolak dan H1 diterima. Nilai B constant sebesar
44,611 dalam taraf kepercayaan 95% dinyatakan signifikan. Hal ini berarti
Ho ditolak sehingga nilai B constant tidak sama dengan nol (H1:a≠ 0).
Hipotesis pada variabel akses jenis media massa (X1) dengan nilai
B 0,233 juga dinyatakan signifikan karena nilai signifikansi 0,000 < 0,05
dan Ho ditolak. Jadi terdapat pengaruh yang antara frekuensi mengakses
jenis media massa terhadap kesadaran bencana pada remaja (a≠0,
p<0,05). Hipotesis parsial variabel isi informasi terkait bencana di media
massa (X2) tehadap kesadaran bencana juga memiliki nilai signifikansi
0,000 < 0,05 dan nilai B 0,239. Sehingga dapat disimpulkan Ho ditolak,
yang berarti terdapat pengaruh yang antara durasi mengakses isi
informasi terkait bencana di media massa terhadap kesadaran bencana
pada remaja (a≠0, p<0,05).
Persamaan regresi secara parsial untuk pengaruh variabel akses
jenis media massa (X1) dan isi informasi terkait bencana di media massa
(X2) dapat dilihat Rumus 4.1 sesuai dengan hasil analisis pada Tabel
4.14 sebagai berikut:

Y = α + β1X1 + β2X2 + ɛ (4.1)


Y = 44,611 + 0,233X1 + 0,239X2

Universitas Pertahanan
57

Keterangan:
Y = Nilai yang diprediksikan yaitu kesadaran bencana
α = Konstanta atau Y,bila nilai X=0
β1 = Koefisien regresi yaitu akses jenis media massa (%)
β2 = Koefisien regresi yaitu isi informasi bencana (%)
X1 = Akses jenis media massa
X2 = Isi informasi terkait bencana di media massa
ɛ = Error term
Persamaan regresi linear frekuensi akses jenis media massa (X1)
dan durasi isi informasi terkait bencana di media massa (X2) terhadap
kesadaran bencana pada remaja dapat dijelaskan sebagai berikut:
- Konstanta sebesar 44,611 artinya jika frekuensi akses jenis
media massa (X1) dan durasi isi informasi terkait bencana di
media massa (X2) nilainya adalah 0, maka kesadaran bencana
pada remaja (Y) nilainya adalah 44,611.
- Koefisien regresi variabel akses jenis media massa (X1)
sebesar 0,233 artinya jika variabel independen lain yaitu isi
informasi terkait bencana di media massa (X2) memiliki nilai
yang tetap dan akses media massa (X1) mengalami kenaikan
1%, maka kesadaran bencana pada remaja (Y) akan
mengalami peningkatan sebesar 44,611. Koefisien akses
media massa bernilai positif artinya terdapat pengaruh positif
atau searah antara variabel frekuensi mengakses jenis media
massa terhadap kesadaran bencana pada remaja.
- Koefisien regresi variabel durasi isi informasi terkait bencana di
media massa (X2) sebesar 0,239 artinya jika variabel akses
media massa (X1) memiliki nilai koefisien yang tetap dan
variabel informasi terkait bencana di media massa (X2)
mengalami kenaikan 1%, maka kesadaran bencana pada
remaja (Y) akan mengalami peningkatan sebesar 44,611.
Koefisien ini bernilai positif artinya terjadi pengaruh positif atau

Universitas Pertahanan
58

searah antara durasi isi informasi terkait bencana di media


massa terhadap kesadaran bencana pada remaja.
- Standardized residual adalah nilai residual yang telah
terstandarisasi. Penelitian ini memiliki nilai standardized
residual untuk akses media massa yaitu sebesar 0,264 dan
nilai informasi terkait bencana di media massa sebesar 0,301.
Dengan demikian, sesuai dengan teori bahwa apabila nilai
standardized residual semakin mendekati 0 maka model regresi
semakin baik dalam melakukan prediksi, dan sebaliknya
semakin menjauhi 0 atau lebih dari 1 atau -1 maka semakin
tidak baik model regresi dalam melakukan prediksi. Jadi dapat
disimpulkan bahwa model regresi pengaruh frekuensi
penggunaan jenis media massa dan durasi mengakses isi
informasi terkait bencana di media massa terhadap kesadaran
bencana pada remaja cukup baik.

4.3 Pembahasan
4.3.1 Tingkat Kesadaran Bencana pada Remaja di Kota
Payakumbuh
Daerah Payakumbuh termasuk daerah dengan kategori kota kelas
risiko sedang dilihat dari multiancaman. Hal ini dijelaskan dalam Indeks
Risiko Bencana Indonesia (IRBI 2013) yang memperlihatkan bahwa jika
dibandingkan dengan seluruh kota atau kabupaten yang ada di Sumatera
Barat, Payakumbuh berada diurutan ke-19 dari 19 kabupaten/kota. Dapat
dikatakan Payakumbuh adalah daerah yang memiliki risiko paling rendah
(BNPB, 2014). Akan tetapi warga Payakumbuh terutama remaja
diharapkan dapat memiliki tingkat kesadaran bencana yang tinggi agar
dapat mengurangi keterpaparan ancaman bencana. Kesadaran bencana
adalah salah satu faktor utama dalam menciptakan pengurangan risiko
bencana yang efektif. Hal ini sesuai dengan penelitian yang dilakukan oleh
Joyce (2011) yang juga mengangkat tema kesadaran masyarakat menjadi
salah satu alat untuk mengurangi risiko bencana.

Universitas Pertahanan
59

Dimensi yang diturunkan menjadi indikator dalam penelitian ini


adalah pengetahuan terhadap ancaman bencana, pendidikan dan
pelatihan kebencanaan, dan tindakan atau respon yang dapat dilakukan
untuk mengurangi risiko. Berdasarkan Tabel 4.5 diketahui bahwa terdapat
6 indikator dari 3 dimensi variabel kesadaran bencana yang diberikan
dalam kuesioner. Indikator tersebut dijabarkan dalam 16 pertanyaan
tentang kesadaran bencana.
Hasil penyebaran kuesioner penelitian diketahui bahwa rata-rata
tingkat kesadaran bencana pada remaja berada dikategori sedang dengan
nilai 74,83. Persentase remaja yang berada di kategori sedang adalah
76%. Selebihnya 20% sudah berada dikategori tinggi dan 4% berada
dikategori cukup. Tidak ada responden yang tingkat kesadarannya berada
dikategori kurang atau rendah.
Hasil penelitian tersebut berbeda dari hasil penelitian Anggraeny
Kusuma D.A.P, et. Al (2014) yang membahas mengenai kapasitas
masyarakat sekitar kampus ITB dalam menghadapi gempa bumi.
Penelitian ini juga menggunakan indikator awareness (kesadaran) yang
digabungkan dengan indikator preparedness untuk melihat kapasitas
masyarakat. Penelitian Anggraeny menunjukkan bahwa kapasitas
masyarakat sekitar kampus ITB dalam menghadapi bencana gempa bumi
berada pada kategori indeks sedang (0,51) ambang atas dengan rendah.
Efeknya jika terjadi bencana maka masyarakat akan sulit untuk bangkit
kembali dari keterpurukan. Perbedaan ini terutama terkait perbedaan
indikator yang digunakan tidak hanya kesadaran bencana tetapi juga
ditambah dengan preparedness. Selain itu fokus bencana penelitian lebih
spesifik yaitu bencana gempa bumi.
Oleh karena itu dapat diambil kesimpulan bahwa remaja di
Payakumbuh pada penelitan ini sudah memiliki pemahaman yang lebih
dari cukup (kategori sedang) terkait pengetahuan dan sikap tentang
kebencanaan. Hal tersebut penting karena remaja adalah bagian dari
masyarakat yang juga diharapkan memiliki kesadaran bencana yang
tinggi. Kesadaran bencana yang tinggi akan berpengaruh terhadap upaya

Universitas Pertahanan
60

pengurangan risiko bencana di Payakumbuh khususnya, dan di daerah


lain secara umum.

4.3.2 Pengaruh Media Massa (Akses Jenis Media Massa dan Isi
Informasi Bencana) terhadap Kesadaran Bencana pada
Remaja di Kota Payakumbuh
Media massa adalah salah satu bentuk penyampaian informasi
yang menjadi bagian dari komunikasi massa. Secara garis besar media
massa dapat dibagi berdasarkan jenis media massa yaitu media
tradisional dan media baru. Media tradisional dalam penelitian ini adalah
media televisi, koran/majalah, dan radio. Sementara media baru terdiri
atas internet dan media sosial.
Media massa baik tradisional maupun baru telah memberikan
pengaruh kepada masyarakat, terutama dalam penelitian ini adalah
remaja. Hal ini sesuai dengan pandangan ekologi terkait remaja yang
dikemukakan oleh Urie Bronfenbenner yang menyatakan remaja juga
dipengaruhi oleh media, budaya tempat mereka tumbuh, pemimpin
komunitas, dan juga kejadian-kejadian tertentu. Remaja adalah produk
dari pengaruh lingkungan dan sosial (Rice, 1996, p.41).
Selaras dengan hal tersebut Rice (1996, p.13) menjelaskan bahwa
pengaruh lingkungan sosial pada remaja di antaranya adalah perubahan
teknologi dan sosial dan pengaruh komunikasi massa. Hal ini dibuktikan
dengan adanya listrik, radio, televisi, kendaraan mobil, pesawat, nuklir,
komputer, dan sebagainya. Perubahan ini pada setiap budaya menjadi
stimulus untuk perubahan sosial. Remaja saat ini dikelilingi oleh berbagai
pesan dikoran, majalah, radio, dan televisi.
Hal ini juga sesuai dengan pendapat Santrock yang menyatakan
bahwa perkembangan remaja tidak hanya dipengaruhi oleh nilai-nilai
budaya, status sosial-ekonomi, dan etnisitas, akan tetapi juga dipengaruh
media (2012, p. 455). Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan oleh
Rideout, dkk (dalam Santrock, 2012, p. 455) diketahui bahwa remaja
zaman sekarang dikelilingi oleh media. Media massa juga menciptakan
”age of instant news”, di mana remaja dihadapkan pada informasi sensori

Universitas Pertahanan
61

yang berdampak terhadap emosi dan perasaan, serta persepsi kognitif.


Komunikasi global tidak hanya mengubah pikiran akan tetapi juga
memotivasi keinginan dan emosi untuk bertindak (Rice, 1996, p.17).
Besarnya pengaruh media massa terhadap remaja menjadi
landasan mengapa remaja menjadi objek pada penelitian ini. Remaja
yang menjadi sampel penelitian adalah remaja yang berada pada rentang
usia 15-18 tahun. Remaja yang berada diusia tersebut dikategorikan
dalam remaja pertengahan (Mönks, Knoers & Siti, 2004, p. 262).
Berdasarkan hasil penelitian didapat 484 responden yang berada pada
rentang usia tersebut yang terdiri dari remaja laki-laki (N=184) dan
perempuan (N=300).
Pengaruh media massa terhadap remaja dilihat melalui dua
variabel bebas. Variabel bebas pertama adalah frekuensi menggunakan
atau akses jenis media massa yang dilakukan oleh remaja (X1).
Sementara variabel bebas kedua adalah durasi mendapatkan isi informasi
terkait bencana di media massa yang diakses oleh remaja tersebut (X2).
Pengaruh dari kedua variabel bebas tersebut dikaitkan dengan kesadaran
bencana pada remaja.
Variabel akses jenis media massa (X1) memperlihatkan
bagaimana responden mengakses media massa dan berapa lama mereka
melakukan kegiatan tersebut per harinya. Pengambilan informasi terkait
hal tersebut didasarkan pada teori media yang dikemukakan oleh
McLuhan. McLuhan menyatakan bahwa media berpengaruh terhadap
masyarakat terlepas dari konten atau isinya (Morrisan, 2014, p. 39).
Berdasarkan hasil pengolahan data pada Tabel 4.2 diketahui
bahwa dominan remaja mengakses televisi (64%) dan media sosial
(50,8%) sebagai media yang Sangat Sering diakses. Kemudian internet
(36,4%) dominan dikategori Sering. Media koran atau majalah dominan
remaja menyatakan Cukup Sering (31,8%), dan terakhir radio (33,3%)
adalah media yang dominan Jarang diakses responden.
Hal ini sesuai dengan pendapat Santrock (1998, p.299) yang
menyatakan bahwa media massa televisi menjadi media yang paling

Universitas Pertahanan
62

banyak diakses oleh remaja. Melalui penelitian ini terbukti 64% responden
menyatakan Sangat Sering mengakses televisi. Selain televisi, media baru
seperti media sosial juga menjadi media yang Sangat Sering diakses
diiringi dengan internet. Hasil ini selaras dengan pendapat Sheck, dkk
(dalam Santrock, 2012, p. 456) yang menjelaskan bahwa remaja di
seluruh dunia semakin bergantung kepada internet. Lingkungan sosial
remaja diinternet meliputi chat rooms, e-mail, pesan instan, blog, situs
web populer, jejaring sosial seperti facebook, dan sebagainya.
Pengaruh akses media massa terhadap remaja juga dapat
diketahui melalui nama saluran atau channel yang sering diakses.
Berdasarkan data yang diperoleh dari hasil penelitian pada Tabel 4.3
diketahui bahwa saluran media televisi yang paling sering diakses adalah
TV One sebesar 28,2%. Media internet yang paling sering diakses adalah
Google 28,6% dan 30,6% di media sosial memilih Facebook. Sementara
untuk media massa koran sebanyak 58,4% memilih koran Padang
Ekspres. Media massa radio sebesar 52% memilih Harau FM. Berbeda
dengan media massa lain, media massa koran dan radio yang paling
banyak diakses termasuk dalam kategori media massa lokal.
Pemilihan saluran yang diakses tersebut menurut opini yang
muncul dari peneliti media adalah bergantung pada faktor-faktor seperti
kredibillitas media terhadap isu-isu tertentu pada saat-saat tertentu,
tingkat pertentangan bukti yang dirasakan oleh individu anggota
masyarakat, tingkat di mana individu berbagi nilai media pada waktu-
waktu tertentu, dan kebutuhan masyarakat akan panduan (Littlejohn &
Karen, 2014, p. 417). Menurut responden saluran tersebut tentunya sudah
memiliki tingkat kredibilitas tinggi, sedikitnya pertentangan bukti yang
dirasakan, serta kebutuhan responden terhadap panduan yang cukup
tinggi, dalam hal ini adalah panduan atau informasi terkait bencana.
Variabel akses jenis media massa secara keseluruhan sesuai hasil
analisis regresi secara parsial (uji t) diketahui memiliki pengaruh terhadap
kesadaran bencana pada remaja. Nilai konstanta X1 (B=0,233) dinyatakan
signifikan karena nilai signifikansi 0,000 < 0,05. Jadi dapat dikatakan

Universitas Pertahanan
63

bahwa terdapat pengaruh antara frekuensi mengakses jenis media massa


terhadap kesadaran bencana pada remaja (a≠0, p<0,05). Hal ini sesuai
dengan teori media yang dikemukakan oleh McLuhan. Teori tersebut
menyatakan bahwa media terlepas dari apapun isi yang disampaikannya,
memberikan pengaruh kepada individu ataupun masyarakat (Littlejohn &
Karen, 2014, p. 410). Pengaruh akses media massa (X1) tersebut adalah
sebesar 23,3% dan bersifat positif.
Pengaruh akses media massa terhadap kesadaran bencana juga
sesuai dengan penggambaran bagaimana media massa dalam teori
media massa baik teori media klasik maupun teori media baru. Salah satu
penggambaran tersebut adalah pembentukan kesadaran sosial dalam
teori media klasik dan mengangkat kesadaran individu dalam teori media
baru (Littlejohn & Karen, 2014, p. 411). Walaupun tidak secara spesifik
menjelaskan tentang kesadaran bencana akan tetapi adanya pengaruh
media massa terhadap kesadaran sosial dan individu telah mencakup
juga kesadaran terkait bencana yang termasuk dalam aspek kognitif
responden.
Berikutnya adalah variabel durasi mendapatkan isi informasi terkait
bencana di media massa yang diakses (X2). Berdasarkan Tabel 4.4
diketahui bahwa untuk informasi bencana sebanyak 47,9% responden
menyatakan Sangat Sering mendapatkannya melalui media televisi.
Selain televisi media internet juga menjadi media yang memberikan
informasi bencana Sangat Sering yang dipilih responden yaitu 43,8%.
Hasil penelitian ini sesuai dengan penelitian yang dilakukan oleh Badan
Pengembangan dan Penelitian SDM Departemen Komunikasi dan
Informatika (2009). Salah satu hasil penelitian tersebut menunjukkan
media televisi paling banyak digunakan untuk mencari dan menyalurkan
informasi tentang bencana alam kemudian diikuti dengan media
interpersonal dan media tradisional.
Berdasarkan Tabel 4.14 diketahui hipotesis parsial variabel isi
informasi terkait bencana di media massa (X2) tehadap kesadaran
bencana juga memiliki nilai signifikansi 0,000 < 0,05 dan nilai B 0,239.

Universitas Pertahanan
64

Jadi terdapat pengaruh antara durasi mendapatkan isi informasi terkait


bencana di media massa terhadap kesadaran bencana pada remaja (a≠0,
p<0,05). Besarnya pengaruh informasi terkait bencana terhadap
kesadaran bencana adalah 23,9% dan berarah positif. Pengaruh ini lebih
besar dari pengaruh akses media massa (X1) yaitu 23,3%. Pengaruh dari
informasi terkait bencana yang diterima oleh responden dari media massa
tersebut dapat dikaitkan dengan salah satu teori efek media massa yaitu
teori fungsi penyusunan agenda.
Fungsi penyusunan agenda membentuk gambaran atau isu yang
penting dalam pikiran masyarakat. Hal ini terjadi karena media harus
selektif dalam melaporkan berita. Saluran berita sebagai penjaga gerbang
informasi membuat pilihan tentang apa yang harus dilaporkan dan
bagaimana melaporkannya. Apa yang masyarakat ketahui tentang situasi
pada waktu tertentu adalah hasil dari penjagaan gerbang oleh media
(Littlejohn & Karen, 2014, p. 416). Lebih khususnya dalam penelitian ini
agenda yang disusun adalah agenda terkait informasi bencana. Media
massa yang sering diakses oleh responden menyajikan informasi bencana
yang menjadi hasil dari penjagaan gerbang. Sehingga informasi tentang
bencana yang diketahui oleh responden pada waktu tertentu sesuai
dengan apa yang ditampilkan oleh media tersebut.
Pengaruh media massa terhadap kesadaran bencana dapat dilihat
pada persamaan regresi sebagai berikut:
Y = 44,611 + 0,233X1 + 0,239X2
Berdasarkan persamaan tersebut dapat diprediksikan nilai
kesadaran bencana diketahui dari jumlah konstanta sebesar 44,611
ditambah dengan nilai dari variabel akses jenis media massa (0,233) dan
variabel durasi mendapatkan isi informasi bencana sebesar 0,239. Model
persamaan regresi tersebut dapat menjelaskan pengaruh akses jenis
media massa dan durasi mendapatkan isi informasi bencana di media
massa sebesar 20%. Sementara selebihnya tidak dapat dijelaskan melalui
hasil penelitian ini.

Universitas Pertahanan
65

Hasil penelitian ini selaras dengan penelitian yang dilakukan oleh


Romo-Murphy (2014). Penelitian tersebut berusaha menemukan
pemahaman yang lebih baik terkait dengan penggunaan media penyiaran
khususnya radio dalam kesiapsiagaan menghadapi bencana di Indonesia.
Hasil penelitian tersebut menyatakan bahwa media penyiaran termasuk
radio lokal dapat digunakan untuk edukasi kesiapsiagaan bencana. Radio
dapat menjadi salah satu media edukasi akan tetapi keterlibatan media
lain juga diperlukan.
Penelitian terkait pengaruh media massa ini juga sejalan dengan
penelitian diseminasi informasi bencana terhadap pengurangan risiko
bencana yang diteliti oleh Badan Pengembangan dan Penelitian SDM
Departemen Komunikasi dan Informatika. Penelitian ini dilaksanakan oleh
Puslitbang Aptel SKDI (2009). Hasil penelitian menunjukkan bahwa
diseminasi pengurangan risiko bencana masih dibutuhkan oleh komunitas
masyarakat di daerah rawan bencana. Media televisi adalah media yang
paling banyak digunakan untuk mencari dan menyalurkan informasi
tentang bencana alam yang diikuti dengan media interpersonal dan media
tradisional.
Pengaruh tersebut tidak terlepas dari peran media dalam
manajemen bencana baik sebelum maupun setelah terjadi bencana.
Menurut Burkhart (dalam Coppola, 2011, p.282) pada tahap sebelum
terjadi bencana yaitu fase kesiapsiagaan (preparedness) media berperan
sebagai pendidik masyarakat (public educator). Peran media tersebut
termasuk di dalamnya meningkatkan kesadaran masyarakat terkait
adanya bahaya yang sedang terjadi atau yang akan terjadi serta informasi
mengenai usaha pencegahan dan perlindungan yang perlu dilakukan
kepada masyarakat tersebut. Selain itu, komunikasi risiko bencana
menurut Romo-Murphy (2014, p.38) memiliki peranan yang penting dalam
menciptakan kesadaran bencana. Tanpa adanya komunikasi tersebut
tentu masyarakat tidak akan mengetahui adanya risiko bencana. Oleh
karena itu dapat dikatakan media massa terbukti berpengaruh terhadap
kesadaran bencana pada remaja baik secara simultan maupun parsial.

Universitas Pertahanan
BAB 5

SIMPULAN DAN SARAN

5.1 Simpulan
Berdasarkan hasil analisis dan pembahasan data penelitian yang
diperoleh, maka dapat diambil kesimpulan sebagai berikut:
5.1.1 Tingkat kesadaran bencana pada remaja di Kota Payakumbuh
Provinsi Sumatera Barat berada dikategori sedang. Hal ini dapat
dilihat dari rata-rata tingkat kesadaran bencana sebesar 74,83. Nilai
tersebut berada pada rentang (61- 80) dengan taraf uji 5%.
5.1.2 Media massa berpengaruh terhadap kesadaran bencana pada
remaja di Kota Payakumbuh. Besarnya pengaruh media massa
dapat dilihat dari variabel frekuensi akses jenis media massa dan
durasi mendapatkan isi informasi terkait bencana di media massa
dengan arah hubungan positif atau searah dan p 0,00. Hal ini
berarti semakin tinggi frekuensi mengakses berbagai jenis media
massa dan semakin lama durasi mendapatkan isi informasi terkait
bencana di media massa maka akan semakin tinggi kesadaran
bencana pada remaja.

5.2 Saran

5.2.1 Saran Praktis


a. Bagi BPBD Kota Payakumbuh agar dapat melaksanakan kegiatan
untuk meningkatkan kesadaran bencana pada remaja dengan
melakukan pelatihan dan pendidikan secara menyeluruh ke
sekolah yang ada di Kota Payakumbuh. Pelatihan atau seminar
tentang upaya pengurangan risiko bencana atau upaya yang
dilakukan pada saat terjadi bencana akan membantu remaja untuk
meningkatkan kesadaran bencana.
b. BPBD dan dinas pemerintahan yang terkait dengan penyediaan
jaringan dan penyiaran media massa agar menambah jaringan

66
67

baik media tradisional seperti televisi, koran/majalah, dan radio


maupun media baru yaitu internet dan media sosial sehingga
semakin memudahkan remaja maupun masyarakat secara
keseluruhan dalam mengakses media tersebut. Selain itu BPBD
diharapkan dapat menggunakan media massa secara intens untuk
menyampaikan informasi lengkap terkait bencana.

5.2.2 Saran Teoritis


a. Penelitian selanjutnya diharapkan agar melihat lebih dalam lagi
pengaruh media massa per jenis media yang digunakan. Hal ini
dapat meningkatkan pemahaman terkait seberapa besar pengaruh
masing-masing media massa khususnya televisi, internet, dan
media sosial sebagai media yang sering diakses oleh remaja
terhadap kesadaran bencana. Selain itu juga dapat dilihat
bagaimana isi atau substansi informasi bencana di media tersebut
terhadap kesadaran bencana pada remaja.
b. Berdasarkan hasil analisis diketahui bahwa 20% variabel
kesadaran bencana dapat dijelaskan oleh variabel media massa
pada persamaan regresi hasil penelitian. Sementara masih ada
80% variabel lain yang memengaruhi kesadaran bencana yang
tidak diteliti dalam penelitian ini. Hal ini dapat menjadi acuan bagi
peneliti selanjutnya untuk melihat variabel apa saja yang memiliki
pengaruh terhadap kesadaran bencana selain dari media massa.
Variabel lain yang dapat diteliti adalah pengalaman bencana dan
pendidikan khusus kebencanaan pada remaja yang berpengaruh
terhadap kesadaran bencana.

Universitas Pertahanan
68

DAFTAR PUSTAKA

Anggraeny Kusuma D.A.P., et al.(2014). Kapasitas masyarkat sekitar


kampus ITB dalam menghadapi gempa bumi. Jurnal
Penanggulangan Bencana Vol. 5, No. 1 Tahun 2014, 11-24.

Bird, D.K., Gisladottir, G. & Dominey-Howes, D. (2010). Volcanic risk and


tourism in southern Iceland: Implications for hazard, risk and
emergency response education and training. Journal of
Volcanology and Geothermal Research 189 (1-2), 33-48. 31
desember 2014. Http://[Link]/[Link]/Files/
Volcanic_hazards_sice land/$file/Volcanic_hazards_siceland.pdf

BNPB. (2014). Indeks risiko bencana Indonesia (IRBI) tahun 2013. Sentul:
Direktorat Pengurangan Risiko Bencana Deputi Bidang
Pencegahan dan Kesiapsiagaan.

BPBD Provinsi Sumatera Barat. (2015). Matriks kajian risiko sumatera


barat. Padang.

Burhan Bungin. (2005). Metodologi penelitian kuantitatif (edisi ke-2).


Jakarta: Kencana.

Cangara, H. (2011). Pengantar ilmu komunikasi. Jakarta: Rajawali Press.

Coppola, Damon P. (2011). Introduction to international disaster


management second edition. Burlington: Elsevier.

Dani, Vardiansyah. (2005). Filsafat ilmu komunikasi: suatu pengantar.


Jakarta: Indeks.

Dewantary, A. P. (2014). Pengaruh Terpaan Media Online Wolipop. com


Terhadap Pengetahuan Tentang Dunia Gaya Dan Kecantikan Pada
Member Facebook Alumni SMA Stella Duce I Angkatan
2009 (Doctoral dissertation, UAJY). 4 Maret 2016 [Link]
[Link]/6479/1/[Link]

Dinas Pendidikan Kota Payakumbuh. (2015). Data jumlah SMA/SMK


negeri dan swasta peserta didik serta sarana pendukung uks tahun
2015. Payakumbuh.

Donggori, R. I., & Margawati, A. (2012). Hubungan Akses Media Massa


dengan Pengetahuan Kesehatan Reproduksi pada Remaja (Studi
Kasus di SMK Kristen Gergaji) (Doctoral dissertation, Fakultas
Kedokteran). 29 Februari 2016. [Link]
/37751/1/Ratna_Indriana_Donggori_G2A008147_Lap.[Link]

Universitas Pertahanan
69

Gamble, Teri Kwal & Michael Gamble. (2004), Communication work,


eighth edition. New York:The McGraw-Hill.

Ido Prijana Hadi.(2009). Perkembangan teknologi komunikasi dalam era


jurnalistik modern. Jurnal Ilmiah SCRIPTURA, Vol. 3, No. 1,
Januari 2009: 69 – 84. 07 Agustus 2015. Http://[Link].
id/16937/1/publikasi1_96022_38.pdf

John, R. B. (1989). Mass Communication:“An Introduction”. United States


of America: Prentice-Hall. Inc.

Joyce, Carin Inge. (2011). Thesis: Public awareness campaigns as


effective means to reduce disaster risk: a case study of the fire and
flood campaign in the Western Cape. 27 Desember 2014.
University of The Free State. Disaster Management Training and
Education Centre for Africa. Http://[Link]/dl/userfiles
/Documents/00002/2286_eng .pdf

Kementerian Pertahanan RI. (2014). Peraturan rektor universitas


pertahanan nomor 22 tahun 2014 tentang penulisan karya akhir
studi universitas pertahanan. Universitas Pertahanan: Bogor.

Littlejohn, Stephen W. & Karen A. Foss. (2014). Theories of human


communication, 9th edition. Terj. Mohammad Yusuf Hamdan.
Jakarta: Penerbit Salemba Humanika.

Moh. Nazir. (2014). Metode penelitian. Bogor: Penerbit Ghalia Indonesia.

Mönks, F.J., A.M.P. Knoers & Siti Rahayu Haditono. (2004). Psikologi
perkembangan: pengantar dalam berbagai bagiannya. Yogyakarta:
Gadjah Mada University Press.

Morrisan, Andy Corry W., Farid Hamid U. (2012). Metode penelitian


survey. Jakarta: Kencana.

Morissan. M.A (2014). Teori komunikasi massa: media, budaya, dan


masyarakat. Ed. Andy Corry Wardahni & Farid Hamid. Bogor:
Penerbit Ghalia Indonesia.

Newman, Barbara M. & Philip R. Newman. (2012). Life-span development:


a psychosocial approach. Canada: Wadsworth Cengage Learning.

Nielsen. (21 Mei 2014). Konsumsi media lebih tinggi di luar jawa. 10
Agustus 2015. Http://[Link]/id/en/press-room/2014/
[Link]

Oktaviani, P, Sulastri, & Rina Ambarwati. (2014). Pengaruh Pemberian


Informasi Tentang Kesehatan Reproduksi Dengan Menggunakan
Media Cetak Di Lingkungan Sekolah Terhadap Tingkat
Pengetahuan Siswa Smk Muhammadiyah Kartasura(Doctoral

Universitas Pertahanan
70

dissertation, Universitas Muhammadiyah Surakarta). 4 Maret 2016.


[Link]

Petrus Ana Andung. (23 September 2012). Media sosial dalam


pengurangan risiko bencana. Haluan. 6 Agustus 2015
[Link]
dalam-pengurangan-risiko-bencana?Format=pdf

Puslitbang Aptel SKDI. (2009). Studi efektivitas diseminasi informasi


pengurangan risiko bencana di daerah rawan bencana. Jakarta:
Depkominfo. 2 Agustus 2015. Http://[Link]/
fsfarisya/studi-diseminasi-bencana-2009

Purwoko, Saktiyono B. (2014). Psikologi remaja. 20 Maret 2016.


[Link]

Rakhmat, J. (2005). Psikologi komunikasi. Bandung: PT Remaja


Rosdakarya.

Romo-Murphy, Eila. (2014). Dissertation: Developing disaster


preparedness education via broadcast media and community
involvement. Jyväskylä: University of Jyväskylä.

Rice, Philip F. (1996). The adolescent: development, relationship, and


culture. Massachusetts: A Division of Simon & Schuster.

Santrock, John W. (1998). Adolescence, seventh edition. International


edition. United States of America: mcgraw-Hill.

Santrock, John W. (2007). Remaja edisi kesebelas, jilid I. Terj. Benedictine


Widyasinta. Jakarta: Erlangga.

Santrock, John W. (2012). Perkembangan masa hidup edisi ketigabelas,


jilid I. Terj. Benedictine Widyasinta. Jakarta: Erlangga.

Scheaffer, R., Mendenhall III, W., Ott, R., & Gerow, K. (2011). Elementary
survey sampling. Cengage Learning. 4 Maret 2016.
[Link]
oi=fnd&pg=PR3&dq=scheaffer+elementary+survey+sampling+third
+edition&ots=Kpxewc7Axu&sig=_0swt77WFroYsMBpLf38vlq2Rw&
redir_esc=y#v=onepage&q=scheaffer%20elementary%20survey%2
0sampling%20third%20edition&f=false

Severin, W. J., & Tankard Jr, J. W. (2005). Teori komunikasi: sejarah,


metode, dan terapan di dalam media massa. Jakarta: Kencana.

Sinisalu, Hando. (12 Juni 2013). Dalam Putrisekar. Media tradisional vs


media digital, siapakah pemenangnya?. 10 Agustus 2015.
Http://[Link]/media-tradisional-vs-media-digital-
siapakah-pemenangnya/

Universitas Pertahanan
71

Siregar, S. (2012). Statistika deskriptif untuk penelitian: dilengkapi


perhitungan manual dan aplikasi spss versi 17. Jakarta: PT
RajaGrafindo Persada.

Starbrain Indonesia. (14 Maret 2011). Media headline news pada 14 Maret
2011. 06 Agustus 2015. [Link]
trendissue/read/9/media-headline-news-14-mare-2011

Sukmadinata, N. S, Ayi N. J., & Ahman. (2006). Pengendalian mutu


pendidikan sekolah menengah. Bandung, Refika Aditama.

Suryani,L.S.L. (2013). Penyesuaian diri pada masa pubertas. Konselor,


2(1), 136-140. 20 Maret 2016. [Link]
/konselor/article/viewFile/876/735

Tommy Suprapto. (2009). Pengantar teori dan manajemen komunikasi.


Yogyakarta: Media Pressindo. 06 Agustus 2015.
Http://[Link]/2013/07/buku-pengantar-teorimanaje
[Link]

UNISDR. (2009). Terminologi pengurangan risiko bencana 2009 (Versi


Indonesia). 27 Desember 2014. Humanitarian Forum Indonesia.
Http://[Link]/files/ 7817_isdrindonesia.pdf

Wearesocial. (Januari 2015). Digital social mobile worldwide. 06 Agustus


2015. Http://[Link]/blog/2015/01/digital-social-mobile-
worldwide-2015/

Wiryanto. (2000). Teori komunikasi massa. Jakarta: Grasindo. 06 Agustus


[Link]://[Link]/2013/07/buku-teori-komunikasi
-[Link]

Yudrik Jahja. (2011). Psikologi perkembangan. Jakarta: Kencana Prenada


Media Grup.

Universitas Pertahanan
72

Lampiran 1.1
Surat Izin Penelitian Kantor Kesbangpol Kota Payakumbuh

Universitas Pertahanan
73

Lampiran 1.2
Surat Izin Penelitian Dinas Pendidikan Kota Payakumbuh

Universitas Pertahanan
74

Lampiran 1.3
Surat Izin Penelitian BPBD Kota Payakumbuh

Universitas Pertahanan
75

Lampiran 2
Data Sekunder Penelitian

Tabel Matriks Kejadian Bencana Kota Payakumbuh 2015


Kerentanan
Tingkat Risiko Ancaman
Terpapar (Jiwa) Harta Benda Lingkungan (Ha)
Kabupate Kecamat Jenis Kepadata Pendudu
No Fasilitas Rumah Kapasitas
n an Ancaman Persenta Kelas n k Fasilitas Hutan Hutan Hutan Semak
Kelas Luas (Ha) Kelas Indeks Kritis Terpapar Rawa
se (%) pendudu Terpapar umum (Rp) Lindung Alam Bakau Belukar
(Rp) (Unit)
k (Jiwa)
Rendah 0 0 Rendah 0 - 0 - - - - - Belum
Payakum Ancaman
Sedang 3.350 100 200 Sedang 1.467 49.145 [Link] - 13.885 - - - - - ada
buh Barat Sedang
Tinggi 15 0 Tinggi 224 - 86 - - - - - aturan
KOTA Payakum Rendah 0 0 Rendah 0 - 0 - - - - - tertulis,
Gempa Ancaman
1 PAYAKU buh Sedang 2.409 100 200 Sedang 1.007 24.257 [Link] - 4.947 - - - - - Ada
Bumi Sedang
MBUH Timur Tinggi 1 0 Tinggi 9 - 1 - - - - - lembaga
Payakum Rendah 0 0 Rendah 0 - 0 - - - - - yang
Ancaman
buh Sedang 3.153 100 200 Sedang 1.126 35.503 [Link] - 9.673 - - - - - khusus,
Sedang
Utara Tinggi 4 0 Tinggi 40 - 5 - - - - - Belum
Rendah 2.290 75 Rendah 2.420 - 4.559 - - - - - Belum
Payakum Ancaman
Sedang 648 21 100 Sedang 1.467 3.757 [Link] - 9.413 - - - - - ada
buh Barat Rendah
Tinggi 126 4 Tinggi 0 - 0 160 - - - aturan
KOTA Payakum Rendah 2.357 99 Rendah 594 - 4.046 - - - - - tertulis,
Tanah Ancaman
2 PAYAKU buh Sedang 13 1 100 Sedang 1.007 6 [Link] - 903 - - - - - Ada
Longsor Rendah
MBUH Timur Tinggi 0 0 Tinggi 0 - 0 - - - - - lembaga
Payakum Rendah 2.598 97 Rendah - 6.445 - - - - - yang
buh Sedang 89 3 Sedang 1.126 [Link] - 3.237 - - - - - khusus,
Utara Tinggi 0 0 Tinggi - 0 - - - - - Belum
Rendah 3.135 93 Rendah 46.490 - 12.493 - - - - Belum
Payakum Ancaman
Sedang 243 7 200 Sedang 1.467 2.879 [Link] - 1.478 - - - - ada
buh Barat Sedang
Tinggi 5 0 Tinggi 0 - 3 160 - - aturan
KOTA Payakum Rendah 2.397 99 Rendah 24.013 - 4.883 - - - - tertulis,
Kekering Ancaman
3 PAYAKU buh Sedang 12 0 200 Sedang 1.007 233 [Link] - 52 - - - - Ada
an Sedang
MBUH Timur Tinggi 14 1 Tinggi 14 - 11 - - - - lembaga
Payakum Rendah 3.003 95 Rendah 34.445 - 7.645 - - - - yang
Ancaman
buh Sedang 153 5 200 Sedang 1.126 1.057 [Link] - 2.031 - - - - khusus,
Sedang
Utara Tinggi 17 1 Tinggi 41 - 0 - - - - Belum
Rendah 2.622 78 Rendah 33.421 - 8.115 - - - - - Belum
Payakum Ancaman
Sedang 618 18 189 Sedang 1.467 9.465 [Link] - 4.490 - - - - - ada
buh Barat Sedang
Tinggi 126 4 Tinggi 1.832 - 399 160 - - - aturan
Kebakara
KOTA Payakum Rendah 2.393 99 Rendah 23.616 - 4.782 - - - - - tertulis,
n Hutan Ancaman
4 PAYAKU buh Sedang 17 1 199 Sedang 1.007 134 [Link] - 25 - - - - - Ada
dan Sedang
MBUH Timur Tinggi 0 0 Tinggi 0 - 0 - - - - - lembaga
Lahan
Payakum Rendah 3.046 96 Rendah 29.109 - 4.909 - - - - - yang
Ancaman
buh Sedang 111 4 200 Sedang 1.126 1.001 [Link] - 2.038 - - - - - khusus,
Sedang
Utara Tinggi 0 0 Tinggi 0 - 0 - - - - - Belum
Rendah 2.892 86 Rendah 42.437 - 11.117 - - - - - Belum
Payakum Ancaman
Sedang 472 14 100 Sedang 1.467 6.939 [Link] - 2.852 - - - - - ada
buh Barat Rendah
Kebakara Tinggi 0 0 Tinggi 0 - 0 160 - - - aturan
KOTA Payakum n Gedung Rendah 2.398 100 Rendah 24.146 - 4.927 - - - - - tertulis,
Ancaman
5 PAYAKU buh dan Sedang 12 0 100 Sedang 1.007 116 [Link] - 20 - - - - - Ada
Rendah
MBUH Timur Pemukim Tinggi 0 0 Tinggi 0 - 0 - - - - - lembaga
Payakum an Rendah 3.080 98 Rendah 34.678 - 7.182 - - - - - yang
Ancaman
buh Sedang 77 2 100 Sedang 1.126 864 [Link] - 2.498 - - - - - khusus,
Rendah
Utara Tinggi 0 0 Tinggi 0 - 0 - - - - - Belum
Rendah 0 0 Rendah 0 - 0 - - - - - Belum
Payakum Ancaman
Sedang 3.354 100 200 Sedang 1.467 49.212 [Link] - 13.923 - - - - - ada
buh Barat Sedang
Tinggi 11 0 Tinggi 163 - 48 - - - - - aturan
KOTA Payakum Angin Rendah 0 0 Rendah 5 - 0 - - - - - tertulis,
Ancaman
6 PAYAKU buh Putting Sedang 2.397 99 200 Sedang 1.007 24.136 [Link] - 4.928 - - - - - Ada
Sedang
MBUH Timur Beliung Tinggi 12 0 Tinggi 121 - 17 - - - - - lembaga
Payakum Rendah 0 0 Rendah 0 - 0 - - - - - yang
Ancaman
buh Sedang 3.150 100 200 Sedang 1.126 35.468 [Link] - 9.670 - - - - - khusus,
Sedang
Utara Tinggi 7 0 Tinggi 75 - 9 - - - - - Belum
Rendah 1.003 30 Rendah 14.716 - 1.629 - - - - - Belum
Payakum Sedang 2.352 70 Ancaman Sedang 34.516 - 12.294 - - - - - ada
200 1.467 [Link]
buh Barat Sedang aturan
Tinggi 10 0 Tinggi 144 - 46 - - - - -
Epidemi tertulis,
KOTA
Payakum dan Rendah 1.488 62 Rendah 14.985 - 2.280 - - - - - Ada
7 PAYAKU Ancaman
buh Wabah Sedang 915 38 200 Sedang 1.007 9.216 [Link] - 2.655 - - - - - lembaga
MBUH Sedang
Timur Penyakit Tinggi 6 0 Tinggi 62 - 10 - - - - - yang
Payakum Rendah 1.280 41 Rendah 14.413 - 2.361 - - - - - khusus,
Ancaman
buh Sedang 1.872 59 200 Sedang 1.126 21.080 [Link] - 7.313 - - - - - Belum
Sedang
Utara Tinggi 4 0 Tinggi 49 - 5 - - - - - memiliki
Rendah 0 0 Rendah 0 - 0 - - - - - Belum
Payakum Ancaman
Sedang 3.369 100 300 Sedang 1.467 49.178 [Link] - 13.917 - - - - - ada
buh Barat Tinggi
Tinggi 13 0 Tinggi 197 - 54 160 - - - aturan
Kegagala
KOTA Payakum Rendah 0 0 Rendah 0 - 0 - - - - - tertulis,
n Ancaman
8 PAYAKU buh Sedang 2.410 100 300 Sedang 1.007 24.143 [Link] - 4.928 - - - - - Ada
Teknolog Tinggi
MBUH Timur Tinggi 12 0 Tinggi 119 - 17 - - - - - lembaga
i
Payakum Rendah 0 0 Rendah 0 - 0 - - - - - yang
Ancaman
buh Sedang 3.166 100 300 Sedang 1.126 35.468 [Link] - 9.670 - - - - - khusus,
Tinggi
Utara Tinggi 7 0 Tinggi 75 - 9 - - - - - Belum
Rendah 0 0 Rendah 0 - 0 - - - - - Belum
Payakum Ancaman
Sedang 3.509 100 300 Sedang 1.467 49.178 [Link] - 13.917 - - - 25 - ada
buh Barat Tinggi
Tinggi 0 0 Tinggi 197 - 54 160 - - - aturan
KOTA Payakum Rendah 0 0 Rendah 0 - 0 - - - - - tertulis,
Konflik Ancaman
9 PAYAKU buh Sedang 2.630 100 300 Sedang 1.007 24.143 [Link] - 4.928 - - - - - Ada
Sosial Tinggi
MBUH Timur Tinggi 0 0 Tinggi 119 - 17 - - - - - lembaga
Payakum Rendah 0 0 Rendah 0 - 0 - - - - - yang
Ancaman
buh Sedang 1.936 100 300 Sedang 1.126 35.468 [Link] - 9.670 - - - 25 - khusus,
Tinggi
Utara Tinggi 0 0 Tinggi 75 - 9 - - - - - Belum

Sumber: BPBD Provinsi Sumatera Barat, 2015

Universitas Pertahanan
76

Lampiran 3
Kuesioner Penelitian

LEMBAR PERSETUJUAN RESPONDEN

Selamat Pagi/Siang/Sore,

Perkenalkan nama saya Al Ikhlasniati, mahasiswi S2 Program Studi


Manajemen Bencana Untuk Keamanan Nasional, Universitas Pertahanan
Indonesia. Saya bermaksud melakukan penelitian tentang “Pengaruh
Media Massa terhadap Kesadaran Bencana pada Remaja di Kota
Payakumbuh.”
Penelitian ini dilakukan sebagai tahap akhir untuk menyelesaikan
studi saya di Universitas Pertahanan Indonesia. Saya berharap Saudara/i
bersedia menjadi responden dalam penelitian ini dengan mengisi
kuesioner. Kuesioner ini hanya akan digunakan untuk tujuan ilmiah.
Sehingga semua informasi serta jawaban yang Saudara/i berikan akan
dijamin kerahasiannya sesuai dengan kode etik penelitian.
Apabila Saudara/i telah membaca maksud dan kegiatan penelitian
ini, maka saya mohon untuk mengisi kesediaan menjadi responden, diikuti
nama tanggal pengisian dan tanda tangan.

Saya setuju/tidak setuju* untuk menjadi responden penelitian ini.

Nama :_____________________________________

Tanggal Pengisian :_____________________________________

Tanda tangan :_____________________________________

*coret yang tidak perlu

Universitas Pertahanan
77

Daftar Pertanyaan
Kuesioner Pengaruh Media Massa terhadap Kesadaran Bencana pada Remaja
Kota Payakumbuh 2015

a. No Urut Kuesioner : (diisi petugas)


b. Inisal Nama :
c. Jenis Kelamin : L/P (lingkari yang sesuai)
d. Umur : Tahun
e. Nama Sekolah :
f. Kelas :

I. Kesadaran Bencana
Petunjuk pengisian: Bacalah dengan seksama setiap pernyataan yang ada kemudian pilihlah salah satu alternatif jawaban yang paling
sesuai dengan saudara. Jawaban yang saudara pilih diberi tanda silang (X). Keterangan alternatif jawaban dari pernyataan 1-16 adalah
sebagai berikut:
1 Sangat Tidak Setuju
2 Tidak Setuju
3 Kurang Setuju
4 Setuju
5 Sangat Setuju

Alternatif Jawaban
No Pernyataan
1 2 3 4 5
1 Menurut saya bencana selalu menganggu kehidupan manusia
2 Menurut saya bencana tidak hanya disebabkan oleh faktor alam
3 Menurut saya daerah Payakumbuh memiliki risiko kebakaran
4 Menurut saya di Kota Payakumbuh terdapat beberapa kejadian bencana
5 Kejadian gempabumi sepengetahuan saya pernah dirasakan di Kota Payakumbuh
6 Saya pernah mendapatkan pelajaran tentang bencana di sekolah

7 Menurut saya pelajaran tentang bencana penting diajarkan di sekolah


Sepengetahuan saya terdapat kegiatan luar sekolah yang berkaitan dengan kebencanaan di Kota
8
Payakumbuh
9 Saya pernah mengikuti simulasi bencana selama di sekolah
10 Cara menghadapi berbagai kejadian bencana menurut saya perlu diberikan pelatihan
Pemerintah telah memberikan pelatihan bagaimana cara menghadapi bencana yang ada di Kota
11
Payakumbuh
12 Ketika terjadi hujan disertai angin kencang saya tidak akan berlindung di bawah pohon
13 Pada saat terjadi kebakaran saya tahu apa yang harus saya lakukan
14 Menurut saya membangun rumah di tepi bukit bukanlah hal yang tepat
15 Ketika terjadi gempabumi saya akan mencabut peralatan listrik terlebih dahulu
16 Menurut saya membuang puntung rokok di semak-semak akan menyebabkan kebakaran
Total

II. Media Massa


Petunjuk pengisian: Bacalah dengan seksama setiap pernyataan yang ada kemudian pilihlah salah satu alternatif jawaban yang paling
sesuai dengan saudara. Jawaban yang saudara pilih diberi tanda silang (X). Keterangan alternatif jawaban dari pertanyaan 17-26 adalah
sebagai berikut:
1 Sangat Jarang
2 Jarang
3 Cukup Sering
4 Sering
5 Sangat Sering

Alternatif Jawaban
No Pertanyaan
1 2 3 4 5
17 Menonton media televisi
18 Mengakses atau melakukan pencarian di internet
19 Mengakses atau menggunakan media sosial
20 Membaca koran atau majalah
21 Melakukan kegiatan mendengarkan radio
22 Memperoleh informasi tentang bencana alam dari media televisi
23 Mendapatkan informasi mengenai bencana alam melalui media internet
24 Mendapatkan informasi terkait bencana alam melalui media sosial
25 Membaca informasi terkait bencana alam dikoran atau majalah
26 Mendengarkan informasi terkait bencana alam diradio

Total

27 Tuliskan nama saluran/channel yang sering Saudara akses!

a. Menonton televisi ...............................................................................................................


b. Menggunakan internet ...............................................................................................................
c. Mengakses media sosial ...............................................................................................................
d. Membaca koran/majalah ...............................................................................................................
e. Mendengarkan radio ...............................................................................................................

Universitas Pertahanan
78

Lampiran 4.1
Output SPSS Uji Validitas dan Reliabililitas

Case Processing Summary


N %
Cases Valid 456 94.2
Excludeda 28 5.8
Total 484 100.0

Reliability Statistics
Cronbach's Alpha N of Items
.709 26
Item-Total Statistics
Scale Mean if Item Scale Variance if Corrected Item- Cronbach's Alpha
Deleted Item Deleted Total Correlation if Item Deleted
P1 93.90 71.500 .166 .707
P2 93.23 72.229 .187 .705
P3 93.73 72.440 .168 .706
P4 93.12 72.790 .150 .707
P5 92.79 71.567 .278 .699
P6 93.51 69.600 .308 .696
P7 92.96 70.954 .301 .697
P8 94.25 67.918 .394 .688
P9 94.59 67.443 .361 .690
P10 93.09 70.167 .335 .695
P11 94.41 69.420 .296 .696
P12 93.13 71.523 .196 .704
P13 93.60 71.497 .195 .704
P14 93.65 70.271 .246 .700
P15 93.74 72.202 .125 .711
P16 93.05 71.844 .131 .711
P17 92.80 72.132 .230 .702
P18 93.52 69.789 .294 .697
P19 92.96 71.352 .271 .699
P20 94.26 68.267 .374 .690
P21 94.59 67.626 .354 .691
P22 93.13 71.985 .167 .706
P23 94.41 69.323 .305 .696
P24 93.09 71.352 .253 .700
P25 93.22 72.517 .168 .706
P26 93.73 72.777 .145 .707

Universitas Pertahanan
79

Lampiran 4.2
Output SPSS Uji Korelasi dan Analisis Regresi

Correlations
X1 X2 Y
**
X1 Pearson Correlation 1 .307 .357**
Sig. (2-tailed) .000 .000
N 484 484 484
X2 Pearson Correlation .307** 1 .382**
Sig. (2-tailed) .000 .000
N 484 484 484
Y Pearson Correlation .357** .382** 1
Sig. (2-tailed) .000 .000
N 484 484 484
**. Correlation is significant at the 0.01 level (2-tailed).
One-Sample Kolmogorov-Smirnov Test
Unstandardized
Residual
N 484
Normal Parametersa Mean .0000000
Std. Deviation 6.66664216
Most Extreme Differences Absolute .033
Positive .032
Negative -.033
Kolmogorov-Smirnov Z .728
Asymp. Sig. (2-tailed) .664
a. Test distribution is Normal.
Model Summaryb
Std. Change Statistics Durbin
Adjusted Error of -
R R the R Square F Sig. F Watso
Model R Square Square Estimate Change Change df1 df2 Change n

1 .457a .209 .206 6.680 .209 63.579 2 481 .000 1.710


b
ANOVA
Model Sum of Squares df Mean Square F Sig.
1 Regression 5674.921 2 2837.460 63.579 .000a
Residual 21466.509 481 44.629
Total 27141.430 483
a. Predictors: (Constant), X2, X1
b. Dependent Variable: Y
Standardized Collinearity
Unstandardized Coefficients Coefficients Statistics
Model B Std. Error Beta t Sig. Tolerance VIF
1 (Constant) 44.611 2.721 16.394 .000
X1 .233 .038 .264 6.196 .000 .906 1.104
X2 .239 .034 .301 7.061 .000 .906 1.104
a. Dependent Variable: Y

Universitas Pertahanan
80

Universitas Pertahanan
Lampiran 5
Rekapitulasi Hasil Penelitian 81

Universitas Pertahanan
82

Universitas Pertahanan
83

Universitas Pertahanan
84

Universitas Pertahanan
85

Universitas Pertahanan
86

Universitas Pertahanan
87

Universitas Pertahanan
88

Universitas Pertahanan
89

Universitas Pertahanan
90

Universitas Pertahanan
91

Universitas Pertahanan
92

Universitas Pertahanan
93

Universitas Pertahanan
94

Universitas Pertahanan
95

Universitas Pertahanan
96

Universitas Pertahanan
97

Universitas Pertahanan
98

Universitas Pertahanan

Anda mungkin juga menyukai