Infokes : Info Kesehatan P-ISSN : 2087-877X, E-ISSN : 2655-2213
Vol. 10, No. 2, Juli 2020
PENGARUH SWALLOWING EXCERSICE TERHADAP STATUS
FUNGSI MENELAN PADA PASIEN CVA DI WILAYAH KERJA
PUSKESMAS GESANG KABUPATEN LUMAJANG
Denis Farida1, Erlina Wijayanti2
1,2
Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Surabaya
E-mail: denis.farida@stikessurabaya.ac.id
ABSTRAK
Cerebovaskuler accident atau biasa disebut dengan stroke merupakan kumpulan gejala klinis akibat hilangnya
fungsi otak sebagian atau keseluruhan. Salah satu penyebab kematian pasien CVA adalah aspirasi yang
berhubungan dengan disfagia. Disfagia merupakan suatu keadaan pasien yang tidak dapat menelan. Penelitian ini
bertujuan untuk mengidentifikasi pengaruh swallowing excesice Terhadap Status Fungsi Menelan Pada Pasien
CVA di Wilayah Kerja Puskesmas Gesang Kabupaten Lumajang. Desain penelitian ini adalah quasy eksperiment
dengan rancangan non-equivalent control grup design.dengan menggunakan pengambilan sampel purposive
sampling selama 1 minggu. populasidalam penelitian ini adalah semua pasien CVA yang mengalami disfagia,
sampel penelitian sebanyak 36 orang dengan 18 kelompok perlakuan dan 18 kelompok kontrol. Pengumpulan
data menggunakan lembar observasi dan analisis data menggunakan uji wilcoxcon. Hasil dari latihan menela
dalam waktu 1 minggu. Kemaknaan nilai p=0,000 lebih kecil dari 0,05 sesuai dengan dasar pengambilan
keputusan dalam uji wilcoxcondapat disimpulkan bahwa ada pengaruh swallowing excesice Terhadap Status
Fungsi Menelan Pada Pasien CVA di Wilayah Kerja Puskesmas Gesang Kabupaten Lumajang.
Kata Kunci: Stroke, disfagia, swallowing excesice, kemampuan menelan
THE EFFECT OF SWALLOWING EXCERSICE ON THE STATUS OF THE
SWALLOWING FUNCTION IN CVA PATIENTS IN THE WORK AREAOF GESANG
HEALTH CENTER LUMAJANG DISTRICT
ABSTRACT
Cerebovascular accident or commonly referred to as stroke is a collection of clinical symptoms due to partial or
complete loss of brain function. This study aims to identify the effect of swallowing excersice on the status of
swallowing function in CVA patient in the working area of the Gesang Health Center, Lumajang Regency. The
design of this study was quasy experiment with a non-equivalent control group design. Using purposive sampling
for I weel. The population in this study were all CVA patients who experienced dysphagia, the study sample was
36 people with 18 treatment group and 18 control group. Data collection using observasion sheets and data
analysis using observation sheets and data analysis menela within I week. The significance of p value 0.000 is less
than 0,05 according to the basis of decision making in the Wilcoxcon test it can be concluded that there is
swallowing effect on the of swallowing fuction in CVA patients in the working area of the Gesang Puskesmas,
puskesmas Lumajang Regency
Keywords: Stroke, dysphagiat, swallowing excersice, swallowing ability
PENDAHULUAN otak. Stroke memiliki beberapa kompliksi
Stroke merupakan salah satu penyakit diantaranya seperti gangguan komunikasi,
yang fenomenal di kalangan masyarakat inkontinensia, luka tekan yakni mobilitas
dengan keadaan dimana terjadinya terganggu bahkan terjadi gangguan persepsi
penyumbatan pada pembuluh darah pada sensori namun yang paling utama gejala
293
klinis yang biasanya terjadi adalah kesulitan Masalah kesehatan yang timbul akibat
proses menelan. Penyakit dengan gejala stroke sangat bervariasi, tergantung pada
stroke tidak dapat disembuhkan secara total. luasnya daerah otak yang mengalami
Dampak akibat stoke memiliki kesulitan nekrosis atau kematian jaringan. Faktor
dalam keluarga yakni memberikan dampak resiko yang mempengaruhi stroke
beban ekonomi bagi keluarga, beban mental diantaranya seperti arterosklerosis,
emosional yang mengganggu produktivitas hipertensi,penyakit jantung dan diabetes
anggota keluarga yang lain, namun apabila mellitus namun juga ada faktor perilaku
ditangani dengan baik maka dapat seperti kebiasaan merokok, minum-
meringankan beban penderita, menimalkan minuman beralkohol, stress bahkan
kecacatan, dan mengurangi ketergantungan obesitas. Faktor tersebut merupakan pemicu
pada orang lain dalam beraktivitas. Masalah terjadinya stroke hingga akhirnya terjadi
yang ada di desa bukan hanya beban suatu kelainan atau komplikasi (Pudiastuti,
ekonomi, namun yang paling utama adalah 2011). Komplikasi yang terjadi pada
pengetahuan penanganan stroke. Stroke penderita stroke diantaranya gangguan
dikalangan masyarakat dianggap sebagai komunikasi, inkontinensia, luka tekan yakni
penyakit yang wajar dan dalam mobilitas terganggu bahkan terjadi
penanganannya hanya dilakukan pengobatan gangguan persepsi sensori dan salah satu
dirumah bahkan dibiarkan. Stroke dengan gangguan klinis yang sering ditemukan
gangguan disfagia tidak diberikan makanan akibatstroke adalah gangguan menelan atau
maupun arahan penanganan yangsesuai disfagia (Rasyid & Soertidewi, 2011).
dengan kebutuhannya, keluarga hanya Disfagia adalah suatu kondisi pasien
memberikan makanan setara dengan anggota yang mengalami kesulitan menelan baik
yang sehat. dengan mengkonsumsi cairan ataupun
Menurut American Health Association makanan, hal tersebut disebabkan karena
(AHA) menyebutkan bahwa setiap 40 detik adanya gangguan pada nervus V, nervus
terdapat 1 kasus baru stroke dengan VII, nervus IX, nervus X dan nervus XII
prevalensi 16,8% pasien stroke baru atau (Rasyid & Soertidewi, 2011). Ditemukan
berulang terjadi setiap tahunnya dan kira- sekitar 28-65% pasien yang mengalami
dkira setiap 3 menit 45 detikter dapat 1 disfagia setelah serangan stroke. Setelah
pasien stroke meninggal. Sehingga angka dilakukan rehabilitasi selama 14 hari pasca
kematian akibat stroke ini mencapai 133.000 stroke, sekitar 90% pasien dapat melakukan
pertahunnya di Amerika Serikat (AHA latihan menelan dengan menggunakan
2018). metode langsung dan tidak langsung yang
Menurut WHO stroke menempati urutan bertujuan meningkatkan kekuatan otot dan
kedua penyebab kematian terbanyak di dunia merubah secara langsung fisiologi menelan
dengan setiap tahunnya terdapat 41 juta atau dengan membutuhkan partisipasi langsung
setara 70% yang mengalami kematian secara dari pasien. Metode tidak langsung
global. Selain menyumbangkan angka menggunakan teknik dengan merubah posisi
kematian tinggi akibat stroke, Indonesia juga kepala, mengatur lingkungan, merubah
memiliki angka beban stroke kedua setelah metode pemberian makan, atau
Mangoli yaitu sebanyak 3.382,2/100.000 memodifikasi konsistensi makanan atau
orang berdasarkan DALYs (disabillity- cairan yang dikonsumsi oleh pasien CVA.
adjusted life- year) (WHO 2018). Prevalensi Metode langsung dengan menggunakan
stroke di Indonesia pada tahun 2018 sebesar teknik seperti The Effortful swallow,
10,9% dan mengalami kenaikan sebanyak mandelshon maneuver dan pemberian
3,9% dalam lima tahun terakhir. Prevalensi permen lollipop (Smithard, 2014).
stroke di Jawa Timur mencapai 12% dan Penanganan pada Direct Swallowing
mengalami peningkatan pada laki-laki Exercise dengan teknik The Effortful
yakni dengan 11% dan perempuan 10,9% swallow, mandelshon maneuver dan permen
dengan 50,2 %. (Riskesdas, 2018). lollipop yang memiliki tangkai bertujuan
294
untuk meningkatan kekuatan otot lidah, Perempuan 19 52,8
membuka spingter esophagus atas yang
pada awalnya mengalami kelainan statis Total 36 100
namun dengan teknik Direct swallowing (Sumber : Data Primer 2020)
exerciseakan menjadi elastis pada pasien Berdasarkan tabel 1 dapat dijelaskan
CVA saat menelan dan jugadapat mencegah bahwa sebagian besar umur pasien CVA yang
terjadinya aspirasi sehingga status fungsi mengalami kesulitan menelan di Wilayah
menelan pada pasien CVA membaik (Enny Kerja Puskesmas Gesang Kabupaten
Mulyatsih, 2009). Berdasarkan hal diatas Lumajang adalah dewasa Madya atau
peneliti tertarik untuk melakukan penelitian pertengahan dengan jumlah 16 orang (47,
bagaimana pengaruh swallowing exercise 2%).
terhadap stastus fungsi menelan pada pasien Menunjukkan bahwa sebagian besar
CVA diwilayah kerja puskesmas Gesang jenis kelamin pasien CVA yang mengalami
Lumajang. kesulitan menelan di Wilayah Kerja
Puskesmas Gesang Kabupaten Lumajang
METODE PENELITIAN adalah perempuan dengan jumlah 19 orang
Penelitian ini merupakan penelitian (52,8%).
quasy eksperimen dengan desain penelitian
nonequivalent control group design. Tabel 2 Distribusi frekuensi responden
populasi semua pasien CVA yang berdasarkan kelompok perlakuan dan
mengalami disfagia di Wilayah Kerja kelompok kontrol di Wilayah Kerja
Puskesmas Gesang Kabupaten Lumajang Puskesmas Gesang Kabupaten Lumajang
sebanyak 36 orang dengan jumlah sampel
sebanyak 18 orang kelompok kontrol dan 18 Perlakuan Kontrol
orang dengan kelompok perlakuan dan juga Skor N % N %
terdapat drop aout 4 orang.Teknik Latihan
pengambil sampel yaitu purposive Menelan
sampling. Pengumpulan data menggunakan Menurun 2 11,1 11 61,1
lembar observasi dan analisa data
menggunakan uji wilcoxon. Tetap 1 5,6 1 5,6
Meningkat 15 83,3 6 33,3
Total 18 100 18 100
HASIL PENELITIAN
(Sumber : Data Primer 2020)
Karakteristik Responden
Berdasarkan tabel 5.4 Menunjukkan
Karakteristik responden berdasarkan bahwa sebagian besar skor latihan menelan
umur dan jenis kelamin dapat dilihat pada pada kelompok perlakuan mengalami
tabel di bawah ini peningkatan dengan jumlah sebanyak 15
Tabel 1 : Karakteristik Responden orang (83,3 %), 1 orang (5,6%) dengan skor
Karakteristik N (%) latihan menelan tetap, dan 2 orang (11,1%)
1. Umur pasien dengan skor latihan menelan menurun. Pada
Dewasa Awal 6 16,7 kelompok kontrol sebagaian besar skor
(18 – 40 tahun) latihan menelan mengalami penurunan
Dewasa Madya 16 47,2 dengan jumlah 11 orang (61.1%), 1 orang
(41 – 60 tahun) (5,6%) dengan skor latihan menelan tetap,
Dewasa Akhir 15 36,1 dan sebanyak 6 orang (33,3 %) dengan skor
(61 – meninggal) latihan menelan meningkat.
2. Jenis kelamin Hasil analisis data uji wilcoxson perhitungan
Laki – laki 17 47,2 dengan menggunakan SPSS versi 16,0
295
dengan tingkat kesalahan α (0,05). Menurut kim dkk (2017) menyatakan
Didapatkan hasil uji statistik menggunakan bahwa direct swallowing exercise dapat
uji wilcoxson diperoleh hasil yang signifikan memperbaiki nervus yang megalami
p< α = 0,002<0,005, dengan demikian maka gangguan dan juga ketika laring terangkat
H1 diterima dan H0 ditolak yaitu terdapat aktivitas otot - otot suprahyoid terinduksi.
pengaruh swallowing excersice terhadap Aktivitas yang kuat dari otot - otot
status fungsi menelan pada pasien CVA di suprahyoid akan menyiratkan perekrutan
Wilayah Kerja Puskesmas Gesang Kabupaten besar serat otot. Karena itu dapat berdampak
Lumajang. potensial positif pada kekuatan otot.
Pelatihan suprahyoid secara langsung dapat
mengurangi terjadinya aspirasi. Latihan ini
PEMBAHASAN terkait dengan mekanisme menelan yang
Berdasarkan hasil penelitian yang normal. Kontraksi otot suprahyoid
dilakukan pada tanggal 23 Maret 2020 disebabkan oleh menarik tulang hyoid ke
sampai 29 Maret 2020 terhadap 36 responden arah anterior superior, yang akan
yakni 18 kelompok perlakuan dan 18 mempengaruhi mekanisme perlindungan
kelompok kontrol, di Wilayah Kerja jalan nafas.
Puskesmas Gesang Kabupaten Lumajang Menurut peneliti dalam melakukan
menunjukkan bahwa hasil dari direct direct swallowing exsercise harus dilakukan
swallowing excersice terhadap status fungsi dengan partisipasi dan antusias dari pasien
menelan pada pasien CVA di Wilayah Kerja untuk terdorong melakukan latihan menelan
Puskesmas Gesang Kabupaten Lumajang dalam proses perbaikan nutrisi dan
pada kelompok perlakuan dan kontrol mengurangi terjadinya aspirasi sehingga
mengalami peningkatan skor menelan dapat mengembalikan fungsi otot otot secara
dengan jumlah 21 orang (58,3%) dengan optimal. Apabila disfagia tidak ditangani
hasil uji statistik menggunakan uji wilcoxson maka akan mengakibatkan penurunan
diperoleh hasil yang signifikan p< α = kesadaran, dehidrasi dan malnutrsi sehingga
0,002<0,005. Menurut Nurul Fitri Insana pelaksanaan latihan menelan dilakukan
terdapat peningkatan PAS (Skala Aspirasi secara rutin agar otot – otot menelan dapat
Penetrarion) dan FOIS (Skala Intake Oral bekerja secara maksimal yang dilakukan
Fungsional) setelah intevensi sehingga dalam satu minggu . Menurut Doeltgen
korteks motorik primer, korteks motorik (2017) menyatakan bahwa dengan adanya
somatosensori primer, gerakan lidah,dan latihan menelan dapat membuka spingter
proses menelan menunjukkan peningkatan esofagus bagian atas lebih cepat dan juga
yang signifikan dengan kelompok perlakuan dapat memfasilitasi bolus selama menelan
p< <0,005 dan kelompok kontrol dengan p< dan juga mengurangi terjadinya
<0,007. kontraktilitas esofagus proksimal.
Direct Swallowing exsercise suatu Hasil penelitian yang telah dilakukan
tindakan atau latihan langsung yang di ini menunjukkan bahwa dari sebagaian
berikan pada pasien untuk meningkatkan besar mengalami peningkatan dengan
kemampuan dalam menelan dengan menunjukkan skor latihan menelan dengan
mengkonsumsi cairan maupun makanan jumlah sebanyak 21 orang (58,3%)
(Rasyid & Soertidewi, 2011) Menurut meningkat. 13 orang (36,%) dengan skor
Bakhtiary (2015) Pemberian direct latihan menelan menurun, dan terdapat
swallowing exsercise pada proses kesamaan nilai pre test dan post test dengan
menelan mengajarkan pasien untuk nilai ties adalah 2 sehingga dapat dikatakan
menjalani latihan memperkuat otot yang ada nilai yang sama antara pre test dan post
lemah untuk mengatasi kesulitan menelan test .
dan juga mampu mengembalikan fungsi
menelan pasien secara
optimal dan mencegah terjadinya aspirasi.
296
KESIMPULAN design considerations for trials.
Internasional journal of stroke Vol.
1. Tidak ada pengaruh status fungsi 11(4)399-411. DOI:
menelan pada pasien CVA sebelum 10.117/1747493106639057.
diberikan swallowing excersice
terhadap status fungsi menelan pada Corwin EJ, (2009), Patofisiologi: buku
pasien CVA di Wilayah Kerja saku. Edisi 3. Jakarta: EGC.
Puskesmas Gesang Kabupaten
Lumajang. Cruz, B.M. (2017). Workshop: Dysphagia:
2. Adanya pengaruh pemberian A review and design considerations for
swallowing excersiceterhadap status future trials. Internasional Journal of
fungsi menelan pada pasien CVA di stroke. Vol. 11(4) 399-411. DOI:
Wilayah Kerja Puskesmas Gesang 10.1177/1747493016639057.
Kabupaten Lumajang.
3. Berdasarkan hasil analisis dari uji Hagg, M.,& Anniko, M (2009). Lip muscle
Wilcoxon didapatkan nilai diperoleh training in stroke patients with
hasil yang signifikan yakni direct dysphagia. Journal Acta oto
swallowing excersice memberikan laryngological. Volume128. 2008-
pengaruh terhadap status fungsi Ussue 9.
menelan pada pasien CVA di Wilayah
Kerja Puskesmas Gesang Kabupaten Hinds NP et al. Assesment of Swallowing
Lumajang. and Reverral to Speeech and Language
Therapists of Acute Stroke. QJM 1998;
DAFTAR PUSTAKA 91:829-835.
Afrida. (2018) Effect of ingesting training
towards dysphagia in stroke patients in Jelm JM. Treatment of feeding and
Haji hospital and Makassar city swallowing disorders in children: An
hospital. Internasional contemporary overview. In: Cherney LR, editor.
Nursing Journal, 2(1)13-20 Clinical
Arsyad, Efiaty Soepardi dkk..Disfagia. In: Langmore,S.E and Pisegna, J.M. (2015).
Buku Ajar Ilmu Kesehatan Telinga Efficay of esercise to rehabilitate
Hidung Tenggorok Kepala & Leher. dysphagia: A sritique of the literature.
Sixth ed. Jakarta: Balai Pnerbit FK UI. Internasional of Journal of speech-
2008, p: 271-274. langgunge pathology.ISSN.1754-9507.
Arikunto, S. 2006. Prosedur Penelitian Martino R, et al. Management of
Suatu Pendekatan Praktek. Jakarta : Dysphagia in Acute Stroke: An
Bina aksara. Educational Manual for The Dysphagia
Screening Professional. ©2006. Heart
Balitbang Kemenkes RI. Riset Kesehatan and Stroke Foundation of Ontario
Dasar; RISKESDAS. (2018). Jakarta: Canada.
Balitbang Kemenkes RI
Mulyatsih, Enny & Ahmad, Airiza.
Caplan LR. What Remain After Stroke. In: (2015). Petunjuk Perawatan Pasien
Stroke. St. Paul: AAN Press, 2005; p. Pasca Stroke di Rumah. Jakarta: FKUI.
139-54.
NANDA. Nursing Diagnoses : Definition
Cohen, D.L, Roffe, C.,& Beaven,.J (2016). and Classification.2012-
Post stroke dysphagia: Review and 2014. Philadelphia: NANDA
297
International. 2008. Buku Ajaran Keperawatan
Medikal Bedah Brunner Dan Suddarth
Rasyid, Al & Soertidewi, Lyna. (2011). ( Ed.8, Vol. 1,2 ). Ahli bahasa oleh
Manajemen Stroke secara Agung Waluyo ( dkk ). EGC,. Jakarta.
Komprehensif. Jakarta: FKUI. Tarwoto.(2013). Keperawatan medical
bedah. Jakarta : CV Sangung Seto
Rasyid, Misbach, & Harris. (2015).
Komplikasi Medis & Tata Laksana. Teasell R, et al. Dysphagia and Aspiration Post
Jakarta: FKUI. Stroke. In Evidadence Based Review of
Stroke Rehabilitation, 12th Ed. 2010.
Soertidewi, jannis, 2011. Aspek London, Ontario Canad
diagnostik, patologi, manajemen.
World Health Organizations.
Jakarta; FKUI. Noncommunicable Disease. 2018. [serial
online]http://www.who.int/news-
Smeltzer, Suzanne C. dan Bare, Brenda G. room/fact
298