API DAN TEKNIK PEMADAM
1. Definisi Api : suatu proses kimi yang diikuit oleh evolusi panas dan cahaya
2. CH4 + 202 CO2 + 2H20 + E (complete)
3. CH4 + 02 C0 + H20 + H2 + E (incomplete)
4. Api : terkendali
5. Segitiga API 1920 : Bahan bakar, 02 + panas harus perbandingan yg optimum
6. Bidang empat kaki : chain reaction (rantai reaksi)
7. Siklus hidup API Dawson Powell 1955 : perbandingan, pencampuran, kelangsungan penyalaan
8. Bahan bakar
- Secara fisik : padat, cair dan gas
- Supaya terbakar harus dalam bentuk uap
- Padat uap : pyrolisa
- Cair gas : menguap
9. Oksigen
- Sebagai unsur pokok pembakaran
- Udara bebas O2 21 %
- O2 yang diperlukan pembakaran paling sedikit 16 %
10. Sumber penyalaan : api terbuka (open flame), gesekan (friction), reaksi kimia (chemical reaction,
bunga api listrik (electric spark), listrik statis, petir (lightning), sinar matahari.
11. Titik nyala (flash point) : T << sekejap :
- Semakin rendah FP, Uap <<, mudah terbakar
12. Titik bakar (fire point) : terbakar terus menerus
13. Penyalaan sendiri (Auto ignition temperature) : bisa terbakar sendiri
14. Daerah bisa terbakar (flammable range)
15. Prisnip didalam pemadaman kebakaran adalah merusak kesetimbangan pada segitiga api :
- Starvation : mengurangi konsentrasi dari bahan baakr yang terbakar sampai LFL
- Smothering/Exclusion of O2 : membatasi kontak bahan bakr dengan O2 di udara
a. Blanketing
b. Penyelimutan sesaat : dry chemical
- Dillution : pengeceran O2 (CO2 atau innert gas)
- Cooling : T << sampai di Flash point
- Break chain reaction : memutus rantai reaksi
ALAT PEMADAM API RINGAN
1. Pengertian : NFPA (Ringan, tepung, cairan dan gas, disemprotkan bertekanan, pemadam
kebakaran), Permenkertrans 04/80 (ringan, mudah dilayani satu org, pemadam kebakaran pd
awal mula kebakaran)
2. Perbedaanya :
a. Klasifikasi kebakaran (A,B,CD)
b. Media pemadam yang dimiliki
c. Kontruksi APAR
a. Pressurized system
b. Catridge system
c. APAR terpisah dg pemadam
d. Swa cipta : tenaga dorong diperoleh dari hasil reaksi
e. Self Expelling (Swa pancar) : hasil penguapan
d. Rating APAR
3. Ketentuan penamaan : segitiga sama sisi, merah, ukuran 35 cm, tinggi huruf 3 cm warna merah,
tinggi panah 7.5 cm warna putih.
4. Keterbatasan : kapasitas, jarak semprot, lama semprot
5. Media pemadam : padat, cair dan gas
6. Padat :
A. Dry Chemical (Stored biasa, catridge)
- Regular (BC) : SB, PB (PK), KK (SK), UPB (MX)
- Multi purpose (ABC) : MAP, KS.
B. Dry powder (D) : FF, MLX, PP
7. Air : A, Prinsip (cooling), 5 keuntungan
8. Foam : A,B 2 jenis (kimia, mekanik)
- Kimia : Reaksi kimia (AL2 (SO4)3 + 6NAHCO3 2AL(OH)3+3NA2SO4+6CO2)
- Kimia : Expantion ration +_ 7 kali
- Mekanik : air+cairan busa+udara
9. Hallon : B C, (A kapasitas besar) merusak ozon Energen, AF11, FM200
10. CO2 : BC, keuntungan clean agent, swa pancar
11. PASS : Pull, Aim, Squeeze, Sweep
12. Rating : kemampuan APAR (AB)
- 1A (1 ¼ gal air ; 5 L)
- 60B (60ft2 bagi yg belum ahli)
13. Pemeriksaan APAR kementrans 4/80 : 6 bln (mechanical part, extinguishing agent, expelling
means) , 5 th
14. Jarak : Dry chemical 4 meter, CO2 2 meter, busa kimia dibalik
15. Teknana uji : CO2 tidak lebih dari 10 th dan selanjutnya setiap 5 th,
16. Cara pemakaian : Dry chemical dari atas mata arah angin, CO2 horn pada isolator, busa kimia
dibalik
JENIS GAS
1. CO2 : selimut, bersih, tidak menghantarakan arus
2. Hallon : pemutus rantai reaksi pembakaran, efektid untuk C, tidak cocok untuk terbuka
KLASIFIKASI KEBAKARAN
1. Pengertian : Penggolongan, jenis yang terbakar
2. Tujuan : memilih, cepat dan tepat media pemadam
3. Klasifikasi : A (padat bukan logam), B (Cair dan gas), C (Listrik hidup), D (Logam)
4. Simbol : seg Hijau, ling Merah, kotak Biru, bintang kuning
Perundang-undangan
1. UU 1/70
Bab I Istilah
- 1 (1) tempat kerja : ruangan/lapangan, tertuutp/terbuka, bergerak/tetap dimana
tenaga kerja bekerja, sering dimasuki tenaga kerja untuk keperluan usaha dan dimana
terdapat sumber atau sumber2 bahaya dirinci pada pasal 2 tempat kerja semua
ruangan, lapangan yang merupakan bagian2 atau yang berhubungan dengan tempat
kerja.
- 1 (2) pengurus : memimpin tempat kerja
- 1 (3) pengusaha : milik sendiri, orang lain, menjalankan punya org luar indonesia
- 1 (4) direktur : pejabat yg ditunjuk mentenker
- 1 (5) Pegawai pengawas : pegawai teknis berkeahlian khusus dari deptenker ditunjuk
mentenker
- 1 (6) ahli keselamatan kerja : tenaga teknis yang berkeahlian khusus dari luar deptenker
yang ditunjuk mentenker
Bab II Ruang Lingkup
- 2 (1) keselamatan kerja dalam segala tempat kekuasaan ri
- 2 (2) berlaku dalam semua tempat kerja (a-q)
- 2 (3) penegasan ulang (1) dan (2)
Bab III Syarat-syarat keselamatan kerja
- 3 (1) Syarat keselamatan kerja untuk (a-j) mencegah mengurangi kecelakaan, memadam
kebakaran, bahaya peledakan, menyelamatkan diri
- 4 (1) (2) (3)
Bab IV pengawasan
- 5 (1) : direktur pelaksanaan umum, pegawai pengawas dan ahli keselamatan kerja
pengawasan langsung
- 5 (2) wewenang dan kewajiban direktur, pegawai, ahli dalam melaksanakan UU diatur
dengan peraturan perundangan
- 6 (1) tidak menyetujui keputusan direktur dalpat mengajukan banding ke panitia
banding
- 6 (2) tata cara, panitia, tugas ditentukan mentenker
- 6 (3) keputusan panitia banding tdk dpt dibandingkan lg
- 7 pengusaha harus bayar restribusi
- 8 (1) pengurus diwajibkan memeriksa kesehatan badan, kondisi mental, kemampuan
fisik dari tenaga kerja yang akan diterima maupun dipindahkan sesuai dg sifat pekerjaan
- 8 (2) pengurus diwajibkan memeriksa semua tenaga kerja yang berada dibawah
pimpinanya secara berkala pada dokter yang ditunjuk pengusaha dan dibenarkan
direktur
- 8 (3) norma2 ttg pengujian kesehatan ditetapkan oleh peraturan perundangan
Bab V Pembinaan
- 9 (1) pengurus diwajibkan menunjukkan dan menjelaskan pada tiap tenaga kerja baru :
kondisi dan bahaya yg dapat timbul, pengaman dan alat perlindungan, alat perlindungan
untuk ybs, cara dan sikap aman
- 9 (2) pengurus baru bisa memperkerjakan ketika pekerja paham syarat
- 9 (3) pengurus diwajibkan melaksanakan pembinaan, pencegahan kecelakaan dan
kebakaran, peningkatan k3, pemberian pertolongan k3
- 9 (4) pengurus diwajibkan memenuhi dan mentaati semua syarat dan ketentuan
Bab 6 Panitia pembinaan keselamatan dan kesehatan kerja
- 10 (1) yang berwenang membentuk mentenker
- 10 (2) susunan panitia ditetapkan oleh mentenker
Bab 7 Kecelakaan
- 11 (1) pengurus wajib lapor kecelakaan kepada pejabat
- 11 (2) tata cara pelaporan dan pemeriksaan kecelakaan oleh pegawai diatur dalam UU
Bab 8 Kewajiban dan hak tenaga kerja
- 12 (a) memberikan keterangan yang benar bila diminta pegawai pengawas dan atau ahli
- 12 (b) memakai APD
- 12 (C) Memenuhi dan mentaati syarat2
- 12 (d) meminta kepada pengurus agar syarat K3 dijalankan
- 12 (e) menyatakan keberatan kerja dimana syarat, APD diragukan kecuali sudah
ditentukan oleh pegawai pengawas dalam batas2 yang masih dipertanggungjwabkan
Bab 9 Kewajiban bila memasuki tempat kerja
- 13 wajib mentaati semua petunjuk dan memakali APD
Bab 10 Kewajiban pengurus
- 14 (a) poster syarat k3, peraturan pelaksanaan
- 14 (b) gambar keselamatan kerja yang diwajibkan dan semua bahan pembinaan
- 14 (c) gratis APD tenaga kerja, tamu disertai petunjuk
Bab 11 Ketentuan-ketentuan penutup
- 15 (1) pelaksanaan pasal diatas sesuai peraturan perundangan
- 15 (2) pidana selama 3 bulan / 100.000
- 15 (3) tindak pidana adalah pelanggaran
- 16 pengusaha yang mempergunakan tempat kerja yang sudah ada pada waktu UU ini
berlaku maka diwajibkan mengusahakan didalam satu tahun sesudah UU ini berlaku
- 17 selama peraturan perundangan untuk melaksanakan ketentuan dalam UU ini belum
keluar, maka perauran dalam bidang K3 yg ada pada waktu UU ini mulai berlaku tetap
berlaku tetap berlaku selaam tidak bertentangan
- 18 UU K3 12 Jan 70
2. PP 19/73
PP 11/79 (PERTAMBANGAN)
Pertimbnagan :
a. Pasal 16 UU No 4 Prp th 1960, UU no 11 / 67
b. UU No. 1 th 70 : umum
c. Pertambangan juga pakai peralatan2
d. Personel dan peralatan khusus untuk penyelenggaraan pengawasan k3
e. Pengaturan dan pengawasan keselamatan kerja di bidang [ertambangan antara mentenker dan
koperasi dan menteri pertambangan
Pasal 1 : UU No 4 Prp th 1960, UU no 11 / 67, PP No. 32 / 69 dengan ditetapkannya UU No 1 th 70
dilakukan oleh men pertambangan setelah mendengar pertimbangan mentenker
Pasal 2 : Berpedoman pada UU No 1 thn 1970 serta peraturan pelaksanaan
Pasal 3 (1) Untuk pelaksaanaan keselamatan kerja mengangkat pejabat setelah mendengar
pertimbangan mentenker
Pasal 3 (2) pejabat melaksanakan kerjasama dengan pejabat keselamaatan kerja departemen
tenkerja naik dipusat maupun daerah
Pasal 4 : menteri pertambangan menyampaikan tertulis kepada mentenker mengenai pelaksanaan
pasa 1 -3
Pasal 5 : tidak berlaku bagi pengaturan dan pengawasan ketel uap sebagaimana termaksud dalam
stoom ordonanntie 1930 (stbl 1930 no 225)
Pasal 6 : PP mulai berlaku pd tanggal diundangkan
3. PP 11/79 (Keselamatan kerja pada pemurnian dan pengolahan
Pemurnian dan pengolahan adalah usuhah memproses migas didaratan dan dilepas pantai dengan
cara mempergunakan proses fisika maupun kimia guna memperoleh dan mempertinggi mutu hasil-
hasil mgas yang dapat digunakan
Tempat : termasuk didalamnya alat, bangunan, instalasi yang secara langsung/tdk langsung
berhubungan dengan proses pemurnian dan pengolahan
Kepaal teknik pemurnian dan pengolahan : penanggung jawab dari suatau pemurnian dan
pengoahan migas kepla teknik
Menteri : bertanggung jawab dalam bidang pertambangan migas
Direktur jenderal : direktur jenderal yang tugasnya meliputi urusan
Direktur adalah direktorat yang tugasnya meliputi urusan keselamatan kerja
Kepala inspeksi adalah kepala inspeksi tambang
Pelaksana inspeksi adalah pelaksana inspeksi
ALAT PELINDUNG DIRI
1. Pengertian : salah satu usaha mencegah kecelakaan, tidak mencegah insiden hanya mengurangi
akibat dari kecelakaan
2. Tujuannya : mengurangi kontak energi dari sumber
3. Sebagai upaya terakhir dalam usaha melindungi tenaga kerja apabila usaha rekayasa
(engineering) dan administratif
4. Langkah terakhir apabila langkah menghilangkan sumber bahaya, membatasi sumber bahaya
dan mengendalikan sumber bahaya sudah tidak bisa dilakukan
5. Faktor pemilihan : melindungi dari bahaya, memenuhi standard, ukuran nya sesuai, bentuk dan
warnanya menarik, ringan, tidak menimbulkan bahaya tambahan, tidak membatasi gerak, suku
cadangnya mudah didapat.
6. Keterbatasan : terbatas daerah yang dilindungi, terbatas kemampuan, jenis yang dilindungi,
waktu pemakaian
7. Jenis APD
- Kepala (safety helm), pengujiannya : uji kekuatan 4-8 kg lekukan tidak boleh melebihi
anatara helm dengan lekukan penyangga, uji kekakuan ditekan dengan gaya 90 N
selama 8-10 lekukan tidak boleh melebihi 5 mm
- Pernapasan
1. Purifying respirator : diambil dari proses pemurnian udaya yang terkontaminasi,
cara kerja : kimia, mekanik, dan kombinasi
2. Supplying respirator : udara luar jadi relatif tidak terpengaruh oleh kondisi udara
lingkungan yang dihadapi, tipe : Air line, SCBA
- Telinga (ear plug, ear muff)
- Mata dan muka
1. Googles : infra merah, benda keras, debu
2. Face shield : cairan kimia
- Badan (Appron)
1. Kulit : panas pengelasan atau pengecoran logam
2. PVC : bahan kimia di lab atau pencampuran TEL
3. Pb : radiasi
- Anggota badan
1. Sarung tangan (gloves) :
a. Panas : kulit
b. Radiasi : Pb
c. Kimia : PVC
d. Benda tajam : kulit
e. Listrik : karet
f. Ringan : katun
2. Lengan
3. Safety shoes
a. Pengecoran logam : kulit dilapisi asbes
b. Bahan peledak : tidak boleh paku
c. Listrik : karet yang mempu menahan arus 10.000 volt selama 3 menit
d. Segala pekerjaan : kulit + baja diujung
- Pencegah jatuh
1. Sabuk keselamatan (safety belt) : 2 m atau lebih
2. Sabuk untuk penolong
- Alat pencegah tenggelam (life jacket)
Pernapasan
1. Keracunan zat kimia paling sering terjadi
2. Kegunaan : kondisi darurat, tujuan inspeksi, pemiliharaan atau perbaikan peralatan/mesing2
dimana udara telah terkontaminasi bahan kimia
3. Bahaya pernapasan
1. Absorbsi bahan kimia ke dalam tubuh : bisa melalui pernapasan (inhalation), pencernaan
(perolal), kulit (percutan)
Sistem pernapasan manusia
a. Conductive ariway
Hidung-terminal bronkiolus, berlendir, banyak sel gobet yang menghasilkan mucus (lendir)
normal +_ 100 cc/hari, dilengkapi dg bulu getar (cilia) selalu bergerak keatas
b. Respiratory airway
Terminal bronkiole-paru2, disini ada sel alveoli, dinding amat tipis, tidak dilengkapi dengan
mucus
2. Efek pemaparan
a. Bentuk gas, dikelompokkan menjadi terlarut dalam air (iritasi atau radang), tidak mudah
larut (iritasi) beberapa jam setelah pemaparan dan lemak masuk kedalam darah ke
seluruh tubuh tertibnun di binding site jaringan lemak
b. Bentuk padat, penimbunan di paru2 ( > 20 terhambat dihidung, 10-20 sal pernapasan
atas, 3-10 bagian bawah, kurang dari 3 masuk paru)
Debu karsiogenik : asbes, silica, besi, kapas (rata2 timbul setelah 10 thn)
Luas paru2 : 700 – 1100 ft2 (setengah kali lap tenis), saluran pernapasan 100-110
(garasi) kulit 20-22 (tempat tidur)
Alat pelindung pernapasan
1. Dibagi 2 :
a. Purifying
- Menyaring udara kontaminan, dibagi 3 : kimia, mekanik, kombinasi
- Syarat penggunaan : O2 > 19.5 %, dianjurkan untuk toksisitas rendah-sedang
- Rendah > 500 ppm, sedang 101-500 ppm, tinggi < 100 ppm
b. Supplying
- Tidak dilengkapi filter
- Dari compressed air
- Dibagi 2 :
a. Air line
1. Full atau half mask, pipa udara (air line) dan silinder atau kompressor dilengkapi
dg alat pengatur tekanan tinggi ke rendah (regulator) atau rendah (demand
valve)
2. Cara kerja :
Demand type : face piece, 115 l/menit dan panjang maks air line 300 ft
Continuous flow type 170 lt.menit, dilengakpi dengan egress silinder : 5 menit
b. SCBA
1. Cara kerja :
Open circuit : terdiri dari silinder udata atau O2 yang bertekanan, air line, alat
pengatur tekanan dan full face mask, paling sring digunakan bisa sampai 45
menit yang terbagi WD 35 menit dan SM 10 menit
Close circuit : hasil respirasi digunakan kembali, service life bisa selama 4 jam,
adapun bagian2 silinder O2, klep pengatur tekanan, suatu kantong untuk udara
pernapasan, face piece, adsorbent
2. Prosedur pemakaian
1. Pemeriksaan tekanan tinggi
a. Buka kerangan utama pelan2
b. Periksa tekanan manometer
c. Bila kurang dari 5/6 working pressure maka tidak bolej digunakan
d. Periksa jarum manometer
e. Jika menunjukkan maks tutup kembali
f. Perhatikan tekanan manometer bila turun 10 bar atau lebih selama 1 menit (ada
kebocoran) maka sambungan diperiksa kembali
g. Buka by pass dengan pelan2 yang terletak pada demand regulator dan perhatikan suling
(warning whistle) akan berbunyi pada tekanan 40-50 bar
2. Pemeriksaan tekanan rendah
a. Buka kerangan utama
b. Pakai face mask
c. Kuatkan ikatan head strap mulai bawah tengah dan terakhir
d. Bernapas
e. Kiri memgang manometer
f. Tutuk kerngan utama taoi tangan kanan tetap
g. Bernapas :
- Perhatikan manometer dan tekanan seruling bunyi
- Bernapas sampai manometer 0
- Goyangkan kepala
- Pakai
3. Merakit
a. Atur hardness pembawa SCBA sebaik mungkin
b. Longgarkan sabuk penggendong dan sabuk ikat pinggang
c. Ambil botol
d. Buang sedikit udara
e. Hubungkan selang dengan botol
f. Ikat pada hardness
g. Sambung facemask dengan demand valve
h. Longgarkan head strap
4. Pemasangan :
a. Beridirikan
b. Masukkan lengan kiri dan kanan
c. Betulkan kedudukan botol di punggung
d. Ikatkan
5. Cara berjalan
6. Perhitungan
- Full Duration : waktu penggunaan dari tekanan penuh sampai habis
- Safety Margin : waktu mulai peluit bunyi sampai udara habis
- Working duration : waktu untuk bekerja dari tekanan penuh hingga peluit bunyi
- Inhalation standart : kebutuhan bernapas : 40 lb bar/menit
- Full pressure : tekanan tabung penuh sesuai tekanan kerja
- Standard pressure : tekanan peluit bunyi
Pertolongan pertama pada kecelakaan
1. Tujuan : mempertahankan korban tetap hidup, membuat korban stabil, mengurangi rasa nyeri
2. RJP : usaha untuk menghidupkan kembali fungsi jantung dan paru yang gagal melakukan
fungsinya akibat henti napas/jantung
3. Tahapan :
a. BHP
Airway (jalan napas)
Breath (napas)
Circulate (bantuan sirkulasi)
Drugs (obat2an)
Electrocardiography (pemantauan dengan ECG)
Fibrillation Traetment (Defebrilator)
b. BHJP
Gaiging (menilai kroban)
Human mentation Iresusitasi dengan orientasi otak)
Intensive care (mengoalh kroban)
Hentu napas : tenggelam, stroke, serangan jantung, tercekik, sumbatan jalan napas
Henti jantung :
- Fibrillasi ventrikel Aliran darh ke jantung terhenti pemompaan
- Asistole Tekanan darah melemah sehingga pemompaan oleh jantung terhentu
- Disosiasi elektromekanik salah satu organ terhenti
H2S
10 ppm : tak berbau dan terasa
50 ppm : bau, tapi terasa hilang setalah lama
50 ppm pusing
500 ppm tidak sadar
NAB :
H2S 2 ppm
CO2 5000 ppm
SAFETY INSTRUMENT
PENYALUR AIR
A. Selang pemadam (fire hose) : mulai dari sumber air
- Berdasarkan fungsi:
1. Selang isap (suction hose) : sumber air sampai isapan pompa (pada bagian isapan
pompa maka perlu yang kokoh, kuat dan lentur serta ringan) 3-6 inch panjang 6 ft-
15 ft
2. Selang tekan (discharge hose) : discharge pompa sampai nozzle dengan diamater
3/4 -3 inch panjang 50 ft-100 ft
Jenis : karet (rubber)< rembes (percolated), tak rembes (non percolated)
B. Penyambung selang (hose fitting) : peralatan yang digunakan untuk menyambung antara dua
buah selang atau dengan peralatan lain.
1. Coupling : menyambung dua selang yang sama, terbuat dari lofam campuran antara
kuningan, alumunium dan magnesium
a. Jenis ditinjau dari bentuk dan standard maka screw (ulir) dan interlock terdiri dari
instantaneous, machine, storz, hermaphrodite, dan symmetric
2. Turunan (adaptor) menyambung dua selang beda diameteratau beda coupling, namanya
didasarkan pada tata letak coupling
3. Cabang (brenching) untuk membuat percabangan baik pada isapan pompa maupun
discharge
Ditinjau dari kegunaan :
a. Cabang pembagi 9dividing breeching)
b. Cabang pengumpul (collecting breeching)
C. Nozzle
a. Hand line nozzle (maks 250 GPM, bentuknya hand grio serta pistol grip)
b. Monitor Nozzle > 250 GPM terdiri dari portwable monitor, trailer monitor dan fixed
monitor
D. Fire hydrant
Jaraknya 50-75 m (150-200 ft) masing2 discharge 500 l/menit, jarak hyfrant dengan
bangunan 40 ft tinggi hbuangan 0.5 m-0.8 m
a. Dry barrel katup dibawah
b. Wet barrel katup diatas/outlet hydrant
E. Jaringan pipa pemadam : untuk menahan tekanan dan mampu menyalurkan air
a. Primary min diametr 12 inch pipa2 skunder
b. Secondary menengah pipa2 distributor
c. Distributor 8 inch ke air hydrant