0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
272 tayangan3 halaman

Wewaler (Pamali)

Dokumen tersebut membahas tentang gugon tuhon dalam pandangan Jawa, yang merupakan kepercayaan tradisional yang mengandung nasihat dan larangan. Gugon tuhon dibedakan menjadi tiga jenis yakni yang lugu, berisi nasihat terselubung, dan merupakan larangan. Walaupun kadang terlihat kurang ilmiah, gugon tuhon ternyata mengandung ajaran-ajaran luhur seperti etika, kesehatan dan kebers
Hak Cipta
© © All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOC, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
272 tayangan3 halaman

Wewaler (Pamali)

Dokumen tersebut membahas tentang gugon tuhon dalam pandangan Jawa, yang merupakan kepercayaan tradisional yang mengandung nasihat dan larangan. Gugon tuhon dibedakan menjadi tiga jenis yakni yang lugu, berisi nasihat terselubung, dan merupakan larangan. Walaupun kadang terlihat kurang ilmiah, gugon tuhon ternyata mengandung ajaran-ajaran luhur seperti etika, kesehatan dan kebers
Hak Cipta
© © All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOC, PDF, TXT atau baca online di Scribd

WEWALER (PAMALI) TERMASUK JENIS GUGON TUHON

Wewaler adalah segala sesuatu yang tidak boleh dilakukan, berkaitan dengan keadaan
sekitar, seperti etika pergaulan dengan lingkungan dan Sang Pencipta. Di sini yang akan dibahas
adalah wewaler yang berkaitan dengan manusia dan alam sekitar. Sebenarnya, wewaler atau
pamali itu termasuk jenis gugon tuhon.

GUGON TUHON DALAM PANDANGAN JAWA

Kata gugon tuhon berasal dari bahasa Jawa. Kata tersebut terdiri atas dua kata, yakni
gugon dan tuhon. Kata gugon itu sendiri berasal dari kata dasar gugu dengan akhiran-an,
sedang kata tuhon berasal dari kata dasar tuhu dengan akhiran an juga. Dalam bahasa Jawa, bila
akhira an bertemu dengan kata dasar yang berakhir dengan huruf u maka akan timbul suara baru,
yaitu o. Jadi, kata dasar gugu+akhiran an menjadi gugon, sedang kata dasar tuhu+akhiran an
menjadi tuhon.

Dalam Bausastra Jawa-Indonesia susunan S. Prawiroatmojo, kata gugu diartikan


“percaya barang katanya”(S. Prawiroatmojo,1985 ;156), sedangkan kata tuhu diartikan “nyata,
benar, sungguh-sungguh,setia benar”dan “nama burung malam”(S. Prawiroatmojo,1981 272).
Setelah mendapat akhiran an,kata tersebut oleh S.Padmosoekotjo diartikan demikian, gugon
adalah sifat yang mudah sekali percaya pada perkataan orang lain atau pada dongeng-dongeng,
sedang tuhon adalah sifat yang mudah menurut atau mengikuti perkataan orang lain atau
dongeng-dongeng(S. Padmosoekotjo,1960 : 109). Masih menurut S. Padmosoekotjo, kata gugon
dan tuhon jika bergabung menjadi satu, yakni gugon tuhon, maka kata tersebut menjadi termasuk
kata sifat dan kata benda.

Apabila kata gugon tuhon dianggap sebagai kata sifat, maka gugon tuhon berarti sifat
yang mudah percaya dan menurut pada perkataan orang lain atau dongeng-dongeng yang
semestinya tidak perlu dipercaya dan dituruti, sedangkan jika dianggap kata benda, gugon tuhon
berarti perkataan atau dongeng yang oleh orang-orang yang mempunyai sifat percaya dan
penurut, dianggap memiliki kekuatan yang jika tidak percaya dan dilaksanakan, akan celaka
hidupnya(S. Padmosoekotjo,1960 : 109-110).

Dari kasus di atas, teranglah bahwa tindakan mengelilingi tiang dipan sebanyak tiga kali
pada waktu itu merupakan penolak bala terhadap keyakinan bahwa menaruh atau memakai
kukusan di atas kepala akan menjadi buaya. Akan tetapi betulkah bahwa menaruh atau memakai
kukusan di atas kepala akan menjadi buaya? Sebelum menjawab pertanyaan tersebut, barangkali
di sini perlu disebutkan terlebih dahulu jenis-jenis gugon tuhon.
Jenis-jenis Gugon tuhon

Dalam bukunya yang berjudul Ngengrengan Kasusastran Djawa jilid I, S.


Padmosoekotjo(1960 : 110-118) mengatakan bahwa gugon tuhon jenisnya ada tiga macam, yakni
:
a. Gugon tuhon yang lugu
b. Gugon tuhon yang berisi nasehat terselubung
c. Gugon tuhon yang termasuk pemali atau larangan atau pantangan.

Yang termasuk dalam gugon tuhon yang lugu adalah anak atau orang yang menurut
kepercayaan orang-orang akan menjadi mangsa Batara Kala. Golongan ini masih bisa dibedakan
menjadi dua, ialah bocah sukerta dan orang yang termasuk panganyam-anyam(Jw.:pangaran-
aran). Bocah sukerta ialah anak yang menurut kepercayaan orang-orang supaya selamat dan
panjang umur, harus diruwat melalui pertunjukan wayang dengan lakon Murwakala. Sementara
orang yang termasuk panganyam-anyam adalah orang yang terkena perbuatan atau tindakannya
menyebabkan dirinya termasuk golongan orang-orang yang akan menjadi mangsa Batara Kala.

Yang termasuk gugon tuhon yang berisi nasehat terselubung adalah semua nasehat yang
terselubung, tidak diutarakan secara terang-terangan. Biasanya, nasihat ini disertai dengan kata-
kata “ora ilok” yang berarti tidak baik untuk dilakukan, atau bahkan disertai kata-kata yang
bersifat menakut-nakuti

Contoh-contohnya di antaranya adalah :


1. Jangan suka telanjang dada, ora ilok.
2. Jangan membuang kutu di kepala orang yang dicari kutunya, ora ilok.
3. Jangan membuang kutu yang masih hidup, ora ilok.
4. Jangan memelihara burung gagak, ora ilok.
Gugon tuhon yang termasuk pemali biasanya berupa pantangan atau larangan yang
berasal dari orang yang dianggap sebagai cikal bakal di tempat tersebut dikarenakan ia
pernah mengalami peristiwa yang tidak menyenangkan. Oleh karena itu maka ia
mengajakatau menyuruh kepada orang keturunannya untuk tidak melakukan perbuatan
yang pernah dilakukan dan tidak menyenangkan itu.
Contoh
1. Orang-orang Banyumas tidak boleh bepergian pada hari Sabtu Paing.
2. Anak keturunan Panembahan Senapati bila sedang berperang tidak diperbolehkan naik
kuda batilan, yaitu kuda yang bulu ekornya dipotong.
Gugon tuhon yang berisi nasihat terselubung tampaknya kurang ilmiah, tetapi ternyata
mengandung ajaran-ajaran luhur sehingga sangat sayang jika dibuang begitu saja.

Kandungan ajaran
Contoh-contoh di atas hanya sekelumit yang hidup atau pernah hidup di masyarakat
Jawa. Dalam memahami gugon tuhon, kita dituntut kepandaian menangkap maksud dari
pernyataan tadi. Dengan demikian, maka apa yang dimaksud gugon tuhon bisa diterima
kebenarannya. Bahkan barangkali kita tidak akan menolak jika dikatakan bahwa sesungguhnya
dalam gugon tuhon tersebut terkandung ajaran yang luhur.

Dalam ungkapan “aja seneng kudhung kukusan, mundhak mengko dicaplok baya. Jika
gugon tuhon tersebut kita kupas, sesungguhnya bukan dadi baya ”menjadi baya” tetapi maksud
yang sesungguhnya adalah menjadi bahaya. Betapa tidak, jika kukusan yang dipakai untuk
menutup kepala adalah kukusan bersih dan kepalanya yang kotor, bukankah ini bisa mengotori
kukusan tadi? Kalau sudah demikian, tentu bisa membahayakan jika kotoran tadi mengandung
bakteri. Sebaliknya, jika kukusan tadi yang kotor dan kepalanya yang bersih, bukankah iniakan
mengotori kepala?

Dalam paparan di atas dapatlah kita ketahuibahwa gugon tuhon yang sedang dibicarakan
ini mengandung ajaran-ajaran luhur seperti etika, kesehatan, kebersihan, kewaspadaan,
keikhlasan dan motivasi kerja.

Perlukah Dilestarikan?

Gugon tuhon yang mengandung ajaran - ajaran luhur, yang terpenting untuk dilestarikan
adalah isi kandungannya, dan bukan bentuk penyampaiannya. Jadi yang terpenting di sini agar
gugon tuhon tetap lestari adalah mengubah cara penyampaiannya.

Anda mungkin juga menyukai