0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
875 tayangan2 halaman

Gugon Tuhon

Gugon tuhon adalah ungkapan tradisional Jawa yang berisi nasihat atau larangan dan diturunkan secara lisan. Terdiri dari tiga jenis: gugon tuhon salugune yang dipercaya apa adanya, gugon tuhon berisi teka-teki, dan gugon tuhon berisi larangan. Contohnya adalah larangan makan koredan karena takut jadi jodoh tua, atau larangan masyarakat Ponorogo mengunjungi daerah tertent

Diunggah oleh

aerodanke
Hak Cipta
© © All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
875 tayangan2 halaman

Gugon Tuhon

Gugon tuhon adalah ungkapan tradisional Jawa yang berisi nasihat atau larangan dan diturunkan secara lisan. Terdiri dari tiga jenis: gugon tuhon salugune yang dipercaya apa adanya, gugon tuhon berisi teka-teki, dan gugon tuhon berisi larangan. Contohnya adalah larangan makan koredan karena takut jadi jodoh tua, atau larangan masyarakat Ponorogo mengunjungi daerah tertent

Diunggah oleh

aerodanke
Hak Cipta
© © All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

GUGON TUHON

Pada kesempatan ini mari kita belajar mengenai gugon tuhon, yaitu salah satu kazanah
bahasa dan sastra Jawa yang berupa ungkapan. Gugon tuhon mirip dengan beberapa
bentuk ungkapan lain dalam kazanah bahasa dan sastra Jawa, karena perkembangannya
juga disampaikan secara lisan. Sifat lisan yang dimiliki oleh perkembangan ungkapan
adalah disampaikan melalui tuturan dari mulut ke mulut, bahkan bisa melintasi batasan
generasi dan membentuk suatu tradisi dan budaya.

PENGERTIAN GUGON TUHON


Gugon tuhon terdiri atas dua kata yaitu gugon dan tuhon. Secara bahasa kata gugon tuhon
berarti sebagai berikut:
 Gugon berasal dari kata gugu yang artinya dipercaya dengan apa adanya tanpa
ditelaah atau diteliti terlebih dahulu.
 Tuhon berasal dari kata tuhu yang berarti sesungguhnya.
Maka gugon tuhon bisa diartikan sebagai berikut.
 Gugon tuhon bisa diartikan sebagai bentuk kata kerja yaitu sikap yang gampang
percaya kepada suatu perkataan atau cerita yang disampaikan oleh orang lain karena
dianggap memiliki petuah.
 Gugon tuhon bisa diartikan sebagai bentuk kata benda yaitu perkataan atau cerita
yang dianggap memiliki petuah.

JENIS DAN CONTOH GUGON TUHON


Gugon tuhon dalam arti kata benda atau tembung aran bisa dibedakan menjadi tiga jenis
sebagai berikut.

Gugon Tuhon Salugune atau Apa Adanya


Gugon tuhon salugune adalah gugon tuhon yang dipercaya apa adanya setelah diucapkan
oleh orang lain. Berikut ini contohnya:
 Aja mangan koredan mundhak ing tembe entuk jodho randha (bisa suwalike :
dhudha).
 Aja mangan brutu mundhak gunemane mencla-mencle.
 Aja mangan tlampik, mundhak ditampik dening wanita (bisa suwalike : priya).
 Aja mangan gedhang dhempet, mundhak tembene nduwe anak kembar utawa
dhampit.

Gugon Tuhon Berisi Wasita Sinandi atau Teka-Teki


Gugon tuhon salugune adalah gugon tuhon yang berisikan teka-teki bagi orang yeng
mendengarkannya. Berikut ini contohnya:
 Aja lungguh ing ngarep lawang, mundhak wong sing nglamar mbalik.
Seseorang yang duduk di depan pintu akan menghalang-halangi atau membuat orang
lain yang mau lewat menjadi bingung. Sehingga orang yang mau lewat tidak jadi atau
orang yang duduk di depan pintu menjadi masuk angin.
 Aja lungguh ana ing bantal, mundhak wudunen.
Orang yang duduk di atas bantal itu tidak sopan dan membuat bantal menjadi kotor.
 Aja ngidoni sumur, mundhak lambene guwing.
Air liur seseorang yang dibuang ke sumur bisa mengotori air sumur yang fungsinya
untuk bersih-bersih.
 Aja kudhungan kukusan, mundhak dicaplok baya.
Kukusan itu tempat untuk menanak nasi yang mudah rusak yang sebaiknya tidak untuk
mainan.
 Aja nglungguhi sapu, mundhak dicokot lintah.
Sapu adalah alat untuk bersih-bersih, sehingga tidak baik ketika diduduki karena bisa
saja masih ada kotorannya.
 Barang sing diwenehake aja dijaluk maneh, mundhak timbilen.
Meminta kembali barang yang sudah diberikan itu tidak baik, karena agama
mengajarkan seseorang untuk menjadi dermawan.
 Bocah wadon wing wis prawan, yen wayahe rep aja dolan, ora ilok.
Seorang perempuan yang sudah remaja tidak baik keluar malam karena banyak
godaan.
 Menawa mangan aja disangga, ora ilok.
Makan sebaiknya ditaruh di meja, kalau dipegangi pakai tangan takutnya jatuh.
 Aja mangan karo ngadeg, mundhak wetenge dadi dawa.
Sebaiknya seseorang makan dengan mengutamakan tata krama, karena makan dengan
berdiri itu tidak sopan dan bagi kesehatan kurang baik untuk pencernaan.
 Bocah wadon aja lungguh jigang, ora ilok.
Secara norma kesopanan duduk dengan menekuk kaki itu kurang baik.

Gugon Tuhon Berisi Wewaler atau Larangan


Gugon tuhon salugune adalah gugon tuhon yang dipercaya apa adanya setelah diucapkan
oleh orang lain. Berikut ini contohnya:
 Putra wayahe Panembahan Senapati yen mangsah yuda ora kena nitih titihan batilan.
 Wong ing Banyumas ora kena lelungan ing dina Setu Pahing.
 Wong ing Kendal ora kena nggawe omah gedhong.
 Wong ing Kudus kang mapan ing wetan kali ora kena bebesanan karo wong kang
manggon ing kulon kali.
 Wong ing Bagelan ora kena nganggo iket utawa jarit.
Gugon tuhon yang berupa wewaler biasanya merupakan larangan yang berkembang di
masyarakat tertentu. Semua itu dipercaya karena dahulu kala para leluhur pernah
melakukan wewaler itu dan mendapatkan hal yang tidak mengenakkan atau
membahayakan. Sehingga untuk menghindari bahaya seluruh keturunannya dilarang untuk
melakukan perbuatan itu kembali.
Kota Ponorogo adalah salah satu kota budaya yang terletak di Provinsi Jawa Timur.
Masyarakat kota Ponorogo mempercayai beberapa gugon tuhon berisi wewaler atau
larangan. Berikut ini contohnya:
 Di Desa Jabung jika membeli dawet jangan diambil dengan lepeknya, karena jika
lepek itu dilepaskan oleh pnjualnya, maka pembeli harus memperistri penjual dawet
tersebut.
 Masyarakat Desa Golan tidak boleh menikah dengan masyarakat di Desa Mirah,
karena adanya perseteruan antara Ki Ageng Mirah dan Ki Honggolono di zaman dahulu.
 Para pemimpin di kota Ponorogo tidak boleh berkunjung ke daerah Dloka karena di
situ dipercaya sebagai tempat meninggalnya Ki Ageng Kutu Surya Alam.

Demikian pembahasan mengenai gugon tuhon, semoga bermanfaat bagi kita semua. Mari
melestarikan bahasa dan sastra Jawa sebagai warisan budaya bangsa. (*)

Anda mungkin juga menyukai