Ketika siluman penyu datang, nenek menyuruh petani melepaskan Watu Maladong ke laut agar
mereka berjalan sendiri mengikuti tuannya dan tidak menambah beban siluman penyu. Naiklah
mereka ke punggung penyu kemudian menyeberang bersama.
Sampai di Pulau Sumba, ternyata Watu Maladong sudah menunggu tuannya di tepi pantai.
Segera petani memberikan tugas Watu Maladong untuk mencari sumber air. Ketiga batu pun
berkeliling sambil membentuk empat mata air yakni mata air Nyura Lele di Tambolaka, mata air
Weetebula di desa Weetebula, mata air Wee Muu di perbatasan Wewewa Barat dan Wewewa
Timur, serta mata air Weekello Sawah di dalam gua alam daerah Wewewa Timur.
Ketiga batu pun berkeliling sambil membentuk empat mata air yakni mata air Nyura Lele di
Tambolaka, mata air Weetebula di desa Weetebula, mata air Wee Muu di perbatasan Wewewa
Barat dan Wewewa Timur, serta mata air Weekello Sawah di dalam gua alam daerah Wewewa
Timur.
Selanjutnya, petani menugaskan Watu Maladong menumbuhkan sumber daya alam.
Berpencarlah ketiganya menumbuhkan ladang padi, jagung, dan jewawut di beberapa kawasan
Pulau Sumba. Setelah selesai, mereka kembali pada tuannya.
Dirasa telah cukup memberi keajaiban pada alam setempat dan sekitarnya, nenek menyarankan
agar batu-batu itu berpencar sehingga tidak bisa dicuri orang. Akhirnya petani menyuruh
ketiganya mencari tempat aman dan bersembunyi selamanya. Konon, satu batu laki-laki
penumbuh jagung memilih bersembunyi di Bondo Kodi, sedangkan dua lainnya di dasar laut
Samudera Hindia.
Pesan Moral Kisah Watu Maladong
Ada beberapa pelajaran yang bisa didapatkan dari cerita Watu Maladong. Dari kepala desa kita
belajar untuk tidak menyalahgunakan kekuatan. Ada juga pelajaran untuk selalu gigih dan
bekerja keras seperti yang petani lakukan hingga berhasil mendapatkan harta berharga Watu
Maladong. Terakhir, sikap baik dan peduli nenek untuk menolong petani dan menghentikan
kelakuan kepala desa akhirnya membuat nenek mendapatkan imbalan baik berupa anggota
keluarga yang akan menemaninya di hari tua.