0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
34 tayangan2 halaman

Urgensi Literasi Kesehatan Mental

Teks tersebut membahas pentingnya literasi kesehatan mental di masyarakat. Literasi kesehatan mental adalah pengetahuan tentang gangguan mental yang membantu mengenali, mengelola, dan mencegah gangguan mental. Rendahnya literasi kesehatan mental di masyarakat Indonesia menyebabkan tingginya stigma terhadap orang dengan gangguan jiwa dan menghambat mereka mengakses perawatan. Peningkatan literasi kesehatan mental diharapkan dapat menurunk

Diunggah oleh

21. Melinda Mutiara
Hak Cipta
© © All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
34 tayangan2 halaman

Urgensi Literasi Kesehatan Mental

Teks tersebut membahas pentingnya literasi kesehatan mental di masyarakat. Literasi kesehatan mental adalah pengetahuan tentang gangguan mental yang membantu mengenali, mengelola, dan mencegah gangguan mental. Rendahnya literasi kesehatan mental di masyarakat Indonesia menyebabkan tingginya stigma terhadap orang dengan gangguan jiwa dan menghambat mereka mengakses perawatan. Peningkatan literasi kesehatan mental diharapkan dapat menurunk

Diunggah oleh

21. Melinda Mutiara
Hak Cipta
© © All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

Nama : Melinda Mutiara Safira

Kelas : XII IPA 1

Literasi Kesehatan Mental di Masyarakat, Apa Urgensinya?

Kesehatan merupakan kebutuhan dasar bagi individu. Kesehatan tidak hanya terkait dengan
kesehatan fisik semata, namun juga kesehatan jiwa. Kesehatan jiwa menurut Organisasi
Kesehatan Dunia atau World Health Organization (WHO) merupakan keadaan sejahtera secara
fisik, mental, dan sosial, bukan hanya ketidakhadiran suatu penyakit, yang meliputi penilaian
subjektif terhadap kesejahteraan psikologis, efikasi diri, otonomi, dan aktualisasi diri seorang
individu (World Health Organization, 2014). WHO juga memperjelas hal tersebut dengan
menyebutkan empat kriteria utama seseorang dapat dinyatakan sehat jiwa, yaitu mengenali
potensi diri, mampu mengatasi stres sehari-hari, produktif, dan bermanfaat untuk orang lain.

Kesehatan mental merupakan komponen esensial untuk membentuk relasi sosial, menjaga
produktivitas, keseimbangan hidup sehari-hari, dan hubungan seimbang dengan lingkungan.
Jika individu sehat secara mental, individu akan dapat terus berkembang dan berkontribusi
sebagai masyarakat. Sayangnya, banyak masyarakat yang masih awam dengan isu kesehatan
mental seperti pengelolaan stres maupun berbagai jenis gangguan jiwa dan cara
penanganannya.

Berdasarkan data dari Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) tahun 2018, penderita gangguan jiwa
di Indonesia tercatat mengalami peningkatan. Peningkatan ini terungkap dari kenaikan
prevalensi rumah tangga yang memiliki orang dengan gangguan jiwa (ODGJ) di Indonesia
dengan indikator keluarga sehat secara nasional untuk penderita gangguan jiwa berat diobati
dan tidak ditelantarkan sebesar 17,08%. Hal ini diperparah dengan adanya stigma terhadap
ODGJ di kalangan masyarakat yang cukup tinggi. Stigma ini muncul karena kurangnya
pengetahuan masyarakat tentang kondisi ODGJ. Kuatnya pengaruh stigma ini kerap
menyebabkan masyarakat enggan mengakses layanan kesehatan mental. Dari berbagai faktor
yang mempengaruhi kondisi kesehatan mental di masyarakat tersebut, salah satu faktor yang
signifikan adalah rendahnya literasi kesehatan mental.
Literasi kesehatan mental merupakan pengetahuan dan keyakinan mengenai gangguan-
gangguan mental yang membantu rekognisi, manajemen, dan prevensi. Pengetahuan akan
pentingnya kesehatan mental akan berdampak pada peningkatan pengetahuan umum
diantaranya: Pengetahuan tentang bagaimana mencegah gangguan mental; pengetahuan
tentang kondisi gangguan mental dasar; pengetahuan tentang opsi pencarian pertolongan dan
perawatan yang tersedia; pengetahuan tentang strategi pertolongan mandiri yang efektif untuk
masalah yang lebih ringan; dan keterampilan pertolongan pertama untuk mendukung orang
lain yang mengalami gangguan mental atau berada dalam krisis kesehatan mental (Kutcher,
Wei, & Coniglio, 2016).

Jika masyarakat terus dilatih kepekaan dan ditingkatkan ilmu pengetahuannya berkaitan
dengan hal-hal tersebut, maka isu kesehatan mental akan semakin terbiasa didengar oleh
masyarakat dan dapat menjadi bagian pembicaraan sehari-hari. Hal ini akan membantu
masyarakat dalam mengakses bantuan yang dibutuhkan sehingga keterampilannya dalam
mencari bantuan (help-seeking behavior) akan meningkat. Tidak hanya itu, individu akan lebih
mudah dan tanggap dalam mengenali tanda-tanda stres yang berdampak buruk pada dirinya
dan mempercepat akses pertolongan sesuai gejala yang dialami. Dengan meningkatnya literasi
kesehatan mental, stigma dan diskriminasi terhadap orang dengan gangguan/masalah mental
akan berkurang sehingga kesejahteraan masyarakat secara psikologis dapat tercapai.

Anda mungkin juga menyukai