0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
20 tayangan4 halaman

Siska SZP - UTS KEPMAT

Jurnal ini membahas kesehatan mental di Indonesia, menyoroti populasi yang mengalami gangguan mental dan intervensi yang diperlukan untuk meningkatkan kesadaran serta mengurangi stigma. Ditekankan pentingnya edukasi publik, layanan berbasis komunitas, dan integrasi kesehatan mental dalam sistem kesehatan primer untuk mencapai hasil yang diinginkan. Kesimpulan menekankan perlunya dukungan berkelanjutan dari pemerintah dan peningkatan akses terhadap layanan kesehatan mental.

Diunggah oleh

nqqztfn9y5
Hak Cipta
© © All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
20 tayangan4 halaman

Siska SZP - UTS KEPMAT

Jurnal ini membahas kesehatan mental di Indonesia, menyoroti populasi yang mengalami gangguan mental dan intervensi yang diperlukan untuk meningkatkan kesadaran serta mengurangi stigma. Ditekankan pentingnya edukasi publik, layanan berbasis komunitas, dan integrasi kesehatan mental dalam sistem kesehatan primer untuk mencapai hasil yang diinginkan. Kesimpulan menekankan perlunya dukungan berkelanjutan dari pemerintah dan peningkatan akses terhadap layanan kesehatan mental.

Diunggah oleh

nqqztfn9y5
Hak Cipta
© © All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

Nama :

Nim :
Kelas : 2B
Mata Kuliah : Keperawatan Maternitas
Dosen Pengampu : Ida Herdiani, M.Kes
Tugas : UTS Menganalisis Jurnal/Artikel Menggunakan Merode PICOT

Jurnal Kesehatan Mental Pada Masyarakat Di


Indonesia

1. Population (P): Populasi yang dibahas dalam jurnal ini adalah


masyarakat Indonesia yang mengalami gangguan kesehatan
mental, termasuk individu dengan masalah mental ringan hingga
berat, serta keluarga dan komunitas yang terlibat dalam perawatan
mereka.
2. Intervention (I): Intervensi yang diuraikan dalam jurnal mencakup
strategi promotif, preventif, kuratif, dan rehabilitatif dalam mengatasi
masalah kesehatan mental di Indonesia. Intervensi ini bertujuan untuk
meningkatkan kesadaran, mengurangi stigma, memberikan perawatan
yang tepat, dan mempromosikan pendekatan berbasis komunitas
untuk penanganan kesehatan mental.
3. Comparison (C): Tidak ada perbandingan langsung dalam jurnal ini.
Namun, beberapa referensi membandingkan kondisi kesehatan mental
di Indonesia dengan negara lain yang memiliki tingkat stigma tinggi
atau pendekatan layanan yang berbeda, seperti di India dan Cina.
4. Outcome (O): Hasil yang diharapkan dari intervensi yang diusulkan
adalah peningkatan akses terhadap layanan kesehatan mental,
penurunan stigma sosial, pengurangan prevalensi pemasungan, dan
peningkatan kesehatan mental secara keseluruhan di Indonesia.
5. Time (T): Jurnal ini menggunakan data dari beberapa periode,
termasuk Riskesdas 2013, untuk menggambarkan perkembangan dan
permasalahan kesehatan mental di Indonesia. Tidak ada kerangka
waktu khusus untuk hasil yang diharapkan, tetapi jurnal ini
merekomendasikan upaya jangka panjang yang berkelanjutan.
KESIMPULAN DAN SARAN

Kesehatan mental di Indonesia masih menjadi tantangan besar dengan


prevalensi gangguan mental yang signifikan dan beragam, mulai dari
gangguan emosional hingga gangguan berat seperti skizofrenia. Masalah
ini diperparah oleh stigma sosial dan diskriminasi, yang menyebabkan
banyak orang dengan gangguan mental tidak mendapatkan penanganan
yang tepat dan mengalami perlakuan salah, seperti pemasungan. Upaya
yang sudah berjalan mencakup kebijakan kesehatan mental, pendekatan
berbasis komunitas, dan program-program yang mendorong aksesibilitas
terhadap layanan kesehatan mental. Meski demikian, masih banyak yang
perlu ditingkatkan agar kesehatan mental di Indonesia dapat lebih
terintegrasi dalam sistem kesehatan nasional dan mendapat dukungan
yang berkelanjutan.
1. Meningkatkan Edukasi dan Kampanye Publik: Penting untuk terus
mengedukasi masyarakat tentang pentingnya kesehatan mental
untuk mengurangi stigma. Kampanye publik yang terarah dan
efektif dapat membantu masyarakat lebih menerima dan
memahami pentingnya kesehatan mental.
2. Memperluas Layanan Berbasis Komunitas: Mengingat banyaknya
kendala akses ke fasilitas kesehatan di daerah terpencil, layanan
berbasis komunitas perlu diperkuat agar lebih banyak masyarakat
dapat mengakses perawatan kesehatan mental, bahkan di wilayah
dengan fasilitas kesehatan terbatas.
3. Meningkatkan Pelatihan Tenaga Kesehatan: Diperlukan peningkatan
jumlah dan kapasitas tenaga kesehatan mental. Pelatihan intensif
tentang deteksi dini dan penanganan gangguan mental bagi tenaga
kesehatan dan kader masyarakat akan sangat membantu dalam
penanganan kesehatan mental yang lebih efektif.
4. Mengintegrasikan Layanan Kesehatan Mental dalam Sistem
Kesehatan Primer: Agar masyarakat lebih mudah mengakses layanan
ini, kesehatan mental perlu diintegrasikan ke dalam layanan kesehatan
primer, seperti puskesmas, dengan dukungan sumber daya dan
fasilitas yang memadai.
5. Memperkuat Kebijakan dan Pendanaan: Pemerintah perlu
memberikan dukungan lebih dalam bentuk regulasi yang jelas dan
pendanaan yang memadai. Hal ini meliputi pembentukan sistem
pendukung yang memungkinkan layanan kesehatan mental dapat
diakses oleh semua orang tanpa diskriminasi.

DAFTAR PUSTAKA

1. WHO. Mental Health Action Plan 2013 –


2020. Geneva: World Health
Organization. 2013.
2. WHO. Basic Documents. 43rd Edition.
Geneva: World Health Organization.
2001.
3. WHO. Prevention of Mental Disorders,
Effective Intervention and Policy Options
(Summary Report). Geneva: World
Health Organization collaboration with
the Prevention Research Centre of the
Universities of Nijmegen and Maastricht.
2004.
4. WHO. Depression and Other Common
Mental Disorders. Global Health
Estimates. Geneva: World Health
Organization. 2017.
5. WHO. Global Mental Health Atlas
Country Profile 2014. Geneva: World
Health Organization. 2014.
6. Dewi, Kartika Sari. Buku Ajar Kesehatan
Mental. Semarang: Lembaga
Pengembangan dan Penjaminan Mutu
Pendidikan Universitas Diponegoro.
2012.
7. Human Rights Watch. Hidup di Neraka,
kekerasan terhadap penyandang
Disabiltas Psikososial di Indonesia.
Human Rights Watch Organization.
http://www.hrw.org. Jakarta. 2016.
8. Kementrian Kesehatan RI. Badan
Penelitian dan Pengembangan Kesehatan.
Laporan Riset Kesehatan Dasar 2013.
Jakarta; Kementerian Kesehatan RI.
2013.
9. Undang-undang Nomor 18 Tahun 2014
tentang Kesehatan Jiwa. Jakarta.
Republik Indonesia.
10. WHO. Strengthening Mental Health
Systems through Community-based
Approaches, Report of an Informal
Consultation. New Delhi India: World
Health Organization Regional Officer for
South-East Asia. 2011.
11. WHO. Promoting mental health:
concepts, emerging evidence, practice.
Geneva: World Health Organization.
2004.
12. WHO. Factsheet on Mental Disorders.
Geneva: World Health Organization.
2017.
http://www.who.int/mediacentre/factshee
ts/fs396/en/
13. WHO. Global Mental Health 2015.
Geneva: World Health Organization.
2015.
14. WHO. International Statistical
Classification of Diseases and Related
Health Problems, 10th Revision, edition
2010. Geneva: World Health
Organization. 2010.
15. WHO. The ICD-10 Classification of
Mental and Behavioural Disorders:
clinical descriptions and diagnostic
guidelines. Geneva: World Health
Organization. 1992.
16. Kementrian Kesehatan RI. Badan
Penelitian dan Pengembangan Kesehatan.
Laporan Riset Kesehatan Dasar 2007.
Jakarta; Kementerian Kesehatan RI.
2007.
17. Wardhani, Yurika Fauziah., Paramita,
Astridya. Pelayanan Kesehatan Mental
dalam Hubungannya dnegan Disabilitas
dan Gaya hidup Masyarakat Indonesia
(Analisis Lanjut Riskesas 2007 dan
2013). Buletin Penelitian Sistem
Kesehatan. 2016:19(1):99-107.
18. Widakdo, Giri., Besral. Efek Penyakit
Kronis terhadap Ganguan Mental
Emosional. Jurnal kesehatan Masyarakat
Nasional. 2013;7(7):309-316.
19. Liu B-P, Qin P, Liu Y-Y, Yuan L, Gu L-
X, Jia C-X. Mental disorders and suicide
attempt in rural China. Psychiatry
Research. 2018;261:190-6.
20. Tristiana RD, Yusuf A, Fitryasari R,
Wahyuni SD, Nihayati HE. Perceived
barriers on mental health services by the
family of patients with mental illness.
International Journal of Nursing
Sciences. 2018;5(1):63-7.
21. Liu L, Chen X-l, Ni C-p, Yang P, Huang
Y-q, Liu Z-r, et al. Survey on the use of
mental health services and help-seeking
behaviors in a community population in
Northwestern China. Psychiatry
Research. 2018;262:135-40

Anda mungkin juga menyukai