0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
41 tayangan77 halaman

Peningkatan IPS Kelas IV dengan Make A Match

Dokumen ini membahas tentang peningkatan hasil belajar ilmu pengetahuan sosial siswa kelas IV melalui model pembelajaran kooperatif tipe make a match. Peneliti menawarkan penggunaan model make a match untuk mengatasi rendahnya hasil belajar siswa akibat kurangnya variasi dan motivasi dalam pembelajaran konvensional.

Diunggah oleh

amel siska
Hak Cipta
© © All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
41 tayangan77 halaman

Peningkatan IPS Kelas IV dengan Make A Match

Dokumen ini membahas tentang peningkatan hasil belajar ilmu pengetahuan sosial siswa kelas IV melalui model pembelajaran kooperatif tipe make a match. Peneliti menawarkan penggunaan model make a match untuk mengatasi rendahnya hasil belajar siswa akibat kurangnya variasi dan motivasi dalam pembelajaran konvensional.

Diunggah oleh

amel siska
Hak Cipta
© © All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

Peningkatan Hasil Belajar Ilmu Pengetahuan Sosial dengan Menggunakan Model

Pembelajaran Kooperatif Tipe Make A Match Siswa Kelas IV


SD Negeri 167649 Tebing Tinggi

Disusun untuk Memenuhi Tugas


Mata Kuliah Pemantapan Kemampuan Profesional

Disusun Oleh:

NAMA : Siti Nur Ulfah Harahap


NIM 856093976
PRODI : S.1 PGSD

UPBJJ MEDAN
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU
PENDIDIKAN UNIVERSITAS TERBUKA
TAHUN 2023

1
DAFTAR ISI

Halaman Judul 1

Lembar Pengesahan i

Lembar Pernyataan Bebas Plagiat ii

Kata Pengantar iii

Daftar Isi iv

Daftar Tabel v

Daftar Gambar vi

Daftar Lampiran vii

Abstrak viii

Bab I Pendahuluan 1

A. Latar Belakang Masalah 1

B. Identifikasi Masalah 4

C. Rumusan Masalah 4

D. Tujuan Penelitian 4

E. Manfaat Penelitian 6

Bab II Kajian Pustaka 5

A. Belajar dan Hasil Belajar 7

B. Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS) 10

C. Model Make A Match 12

D. Hubungan Materi IPS dengan Make a Match 14

Bab III Metode Pelaksanaan Penelitian Perbaikan Pebelajaran 16


A. Seting Penelitian 16
B. Desain Prosedur Penelitian 16
C. Prosedur Penelitian 18
D. Sumber Data Penelitian 23
E. Analisis Data 28
F. Indikator Keberhasilan 29
1
Bab IV Hasil Penelitian Dan Pembahasan
A. Deskripsi Hasil Peneletian 30
B. Pelaksanaan Siklus I 33
C. Pelaksanaan Siklus II 38
D. Pembahasan Hasil Penelitian 40
Bab V Kesimpulan Dan Saran Tindak Lanjut
A. Kesimpulan 47
B. Saran Tindak lanjut 48
Daftar Pustaka
Lampiran

2
Daftar Tabel
Tabel 1 Data Nilai Pra Siklus
Tabel 2 Data Nilai Siklus I
Tabel 3 Data Nilai Siklus II
Tabel 4 Data Nilai Pra Siklus, Siklus I, dan Siklus II

3
Daftar Gambar

Gambar 1 Siklus PTK 18

Gambar 2 Grafik Hasil Belajar Siswa 45

4
Abstrak
Salah satu faktor yang dapat menunjang keberhasilan akademik adalah kegiatan pembelajaran yang
efektif dan menarik. Guru diharapkan memiliki model atau model pembelajaran yang menarik sesuai
dengan keadaan siswa. Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan di SD Negeri 167649 terdapat
rendahnya hasil belajar siswa kelas IV pada mata pelajaran IPS tema keragaman budaya indonesia
dikarenakan kurangnya kemampuan guru dalam memotivasi siswa seperti tidak ada pemberian ice
breaking, pembelajaran yang kurang menarik dan masih menggunakan model pembelajaran yang
konvensional. Hal ini mengakibatkan rendahnya hasil belajar IPS yang diraih oleh peserta didik dan
belum mencapai KKM yakni 70. Pada siswa kelas IV yang berjumlah 13 siswa terdiri dari 4 siswa laki-
laki dan 9 siswa perempuan, tercatat 4 siswa yang tuntas = 30,76% dan yang tidak tuntas 9 siswa
=69,23% dikarenakan siswa tidak tertarik dan merasa bosan pada proses pembelajaran. Untuk mengatasi
hal tersebut peneliti menawarkan penggunaan model Make a Match dalam proses pembelajaran. Karena
dalam model Make a Match siswa dituntut untuk belajar dengan aktif dan siswa harus mempersiapkan
diri terlebih dahulu sehingga tingkat pemahaman siswa akan menjadi lebih baik.

Kata Kunci : Hasil belajar, Make a Match

5
BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar belakang Masalah

Pendidikan adalah usaha sadar yang dilakukan oleh keluarga, masyarakat, dan

pemerintah melalui kegiatan bimbingan, pengajaran, dan atau latihan yang berlangsung di

sekolah dan di luar sekolah sepanjang hayat, untuk mempesiapkan peserta didik agar dapat

memainkan peranan dalam berbagai lingkungan hidup secara tepat di masa yang akan datang.

Pendidikan adalah pengalaman-pengalaman belajar terprogram dalam bentuk pendidikan

formal, non formal, dan informal di sekolah dan luar sekolah yang berlangsung seumur hidup

yang bertujuan optimalisasi pertimbangan kemampuan-kemampuan individu, agar

dikemudian hari dapat memainkan peranan hidup secara tepat (Mudyahardjo, 2010: 11).

Tujuan pendidikan merupakan perpaduan tujuan-tujuan pendidikan yang bersifat

pengembangan kemampuan-kemampuan pribadi secara optimal dengan tujuan-tujuan sosial

yang bersifat manusia seutuhnya yang dapat memainkan peranannya sebagai warga dalam

berbagai lingkungan persekutuan hidup dan kelompok sosial. Tujuan pendidikan mencakup

tujuan-tujuan setiap jenis kegiatan pendidikan ( bimbingan, pengajaran, dan latihan), tujuan-

tujuan satuan pendidikan sekolah dan luar sekolah dan tujuan-tujuan pendidikan nasional.

Tujuan pendidikan adalah sebagian dari tujuan hidup, yang bersifat menunjang terhadap

pencapaian tujuan-tujuan hidup (Mudyahardjo, 2010: 12).

1
Dalam pendidikan saat ini IPS menjadi salah satu mata pelajaran yang pokok.

Pembelajaran merupakan hal yang kompleks danmengandalkan kebutuhan siswa yang

beragam. Tak heran jika dalam proses pembelajaran seorang pembelajar hanya

menggunakan metode yang kurang variatif karena mereka menganggap metode yang

digunakan adalah metode terbaik. Dalam proses pembelajaran pada umumnya masih

bergantung dan didominasi oleh guru. Seperti halnya penggunaan metode ceramah dan

penugasan yang hampir semua pendidik menggunakannya. Namun ada beberapa yang

tidak memadukan dengan metode metode lain yang bisa menciptakan pembelajaran

yang efektif dari perpaduan metode tersebut. Akibatnya tingkat pemahaman siswa

sangat rendah yangberakibat rendahnya hasil belajar. Padahal karakteristik materi IPS

adalah ilmu yang di dalamnya lebih mengandalkan abstraksi dan daya ingat yang

tinggi. Sehingga siswa yang kurang mempunyai intelegensi yang tinggi akan sulit

ungtuk mengikuti pembelajaran yang diberikan.

Variasi pembelajaran perlu dilakukan untuk meningkatkan ketertarikan siswa

serta meminimalisir kejenuhan siswa. Dalam hal ini akan lebih efektif jika melibatkan

keaktifan siswa untuk memperoleh hasil belajar siswa yang baik. Diperlukan suatu

metode yang dapat mengoptimalkan proses pembelajaran dalam upaya meningkatkan

proses dan hasil pembelajaran. Langkah awal ialah membuat siswa tertarik dan

terpelihara minatnya untuk belajar sehingga meminimalisir tingkat kejenuhan serta

memaksimalkan ketertarikan siswa dalam proses pembelajaran tersebut.

Guru harus mampu menciptakan suasana belajar yang menyenangkan, sehingga

dapat menarik minat dan perhatian siswa. Dengan suasana belajar yang

menyenangkan, akan berdampak positif bagi kegiatan belajar dan meningkatkan

pemahaman siswa.

2
Rendahnya hasil belajar siswa kelas iv pada mata pelajaran IPS tema

keragaman suku bangsa yang tuntas 34% dan yang tidak tuntas 63% dikarenakan

kurangnya kemampuan guru dalam memotivasi siswa seperti tidak ada pemberian ice

breaking, pembelajarannya fakum, seringnya siswa absen dengan alasan sakit. kendala

lainnya adalah masih ada beberapa anak yang belum bisa membaca khususnya di kelas

iv. Hal ini mengakibatkan rendahnya hasil belajar IPS yang diraih oleh peserta didik

dan belum mencapai KKM yakni 70. Selain itu, masalah ini juga disebabkan oleh cara

mengajar tenaga pendidik di sekolah tersebut yang masih pada model konvensional.

Pada siswa kelas IV yang berjumlah 13 siswa terdiri dari 4 siswa laki-laki dan 9

siswa perempuan, tercatat 4 siswa yang tuntas = 30,76% dan yang tidak tuntas 9 siswa

=69,23% dikarenakan kurangnya kemampuan guru dalam memotivasi siswa seperti

tidak ada pemberian ice breaking, pembelajaran yang fakum dan cara mengajar guru

yang masih menggunakan model konvensional sehingga siswa tidak tertarik dan

merasa bosan pada proses pembelajaran. Hal ini mengakibatkan rendahnya hasil

belajar IPS yang diraih oleh peserta didik dan belum mencapai KKM yakni 70.

Untuk mengatasi hal tersebut peneliti menawarkan penggunaanmetode Make a

Match dalam proses pembelajaran. Karena dalam metode Make a Match siswa dituntut

untuk belajar dengan aktif dan siswa harus mempersiapkan diri terlebih dahulu

sehingga tingkat pemahaman siswa akan menjadi lebih baik. Make a Match merupakan

salah satu alternatif pembelajaran yang menyenangkan yang bisa meminimalisir

kejenuhansiswa akibat dari tidak adanya variasi pembelajaran oleh guru. Penggunaan

metode Make a Match akan menambah ketertarikan peserta didik untuk mempelajari

materi yang disampaikan sehingga diharapkan bisa meningkatkan hasil belajar siswa

3
itu sendiri.

Untuk meningkatkan hasil belajar siswa Pada Mata Pelajaran IPS di Kelas IV

SD N 167649 Kota Tebing Tinggi solusinya adalah dengan menggunakan Model

Make a Match untuk membuat pembelajaran IPS lebih menarik. Berdasarkan hal di

atas maka peneliti mengangkat judul “Peningkatan Hasil Belajar Ilmu Pengetahuan

Sosial dengan Menggunakan Model Pembelajaran Kooperatif Tipe Make A Match

Siswa Kelas IV SD Negeri 167649 Tebing Tinggi”

B. Identifikasi Masalah
1. Rendahnya minat belajar siswa pada mata pelajaran IPS di Kelas IV SD
Negeri 167649
2. Kurangnya motivasi belajar pada mata pelajaran IPS di Kelas IV SD
Negeri 167649
3. Model pengajaran konvensional pada mata pelajaran IPS di Kelas IV SD
Negeri 167649

C. Rumusan Masalah

1. Bagaimana meningkatkan hasil belajar siswa pada mata pelajaran IPS di


Kelas IV SD Negeri 167649
2. Bagaimana meningkatkan motivasi belajar pada mata pelajaran IPS di Kelas
IV SD Negeri 167649
3. Bagaimana mengganti model pengajaran konvensional ke model Kooperatif
Tipe Make A Match pada saat belajar IPS di Kelas IV SD Negeri 167649

D. Tujuan Penelitian

1. Mendeskripsikan upaya meningkatkan hasil belajar siswa pada mata pelajaran


IPS di Kelas IV SD Negeri 167649
2. Mendeskripsikan upaya meningkatkan motivasi belajar pada mata pelajaran
IPS di Kelas IV SD Negeri 167649
3. Menganalisis model Kooperatif Tipe Make A Match pada mata pelajaran IPS
di Kelas IV SD Negeri 167649

4
E. Manfaat
Penelitian
Manfaat Teoritis
Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan sumbangan pemikiran ilmiah
mengenai cara meningkatkan kemampuan membaca dengan penerapan model
Kooperatif Tipe Make A Match pada mata pelajaran IPS di Kelas IV SD Negeri
167649
Manfaat Praktis
a. Lembaga
Dengan model Kooperatif Tipe Make A Match ini akan menjadi salah satu
bahan pertimbangan lembaga atau sekolah dalam menentukan yang lebih
baik dalam proses belajar mengajar.
b. Guru
Penggunaan model Kooperatif Tipe Make A Match ini akan
mempermudah para guru dalam mengaktifkan pembelajaran di kelas.
c. Siswa.
Dengan model Kooperatif Tipe Make A Match, siswa diharapkan lebih
aktif dalam pembelajaran di kelas.
F. Manfaat Penelitian

Penelitian ini akan membantu meningkatkan hasil belajar siswa pada mata
pelajaran IPS melalui metode Make a Match dalam pembelajaran yang akan
disampaikan. Adapun pelaksanaan penelitian ini akan berguna sebagai berikut :
1. Manfaat Teoritis
Manfaat penelitian ini sebagai dasar pengembangan kajian ilmu IPS materi
Kenampakan Alam dan Keragaman Sosial Budaya melalui Metode Make a Match
pada Siswa SD Negeri 167649
2. Manfaat Praktis
a. Bagi sekolah
1) Sebagai upaya perbaikan dan peningkatkan kualitaspelaksanaan
pembelajaran IPS .
2) Meningkatkan mutu pendidikan dan memberikan sumbangan yang
berguna bagi sekolah dalam kegiatan pembelajaran.

5
b. Bagi guru
Sebagai masukan bagi guru dalam meningkatkan hasil belajar pada
pembelajaran IPS serta mengembangkan keterampilan mengajarguru.

6
BAB II
KAJIAN PUSTAKA

A. Belajar dan Hasil Belajar

1. Definisi Belajar

Belajar merupakan aktivitas yang sangat penting bagi individu. Belajar akan terjadi

pada siapapun setiap saat baik secara formal maupun non formal. Belajar ialah suatu proses

usaha yang dilakukan individu untuk memperoleh suatu perubahan tingkah laku yang baru

secara keseluruhan, sebagai hasil pengalaman individu itu sendiri dalam interaksi dengan

lingkungannya (Slameto, 1991:1). Dalam pengertian luas,belajar dapat diartikan sebagai

kegiatan psiko-fisik menuju keperkembangan pribadi seutuhnya (Sardiman, 1994:22).

Kemudian dalam arti sempit, belajar dimaksudkan sebagai usaha penguasaan materi ilmu

pengetahuan yang merupakan sebagian kegiatan menuju terbentuknya kepribadian

seutuhnya. Menurut pengertian secara psikologis, belajar merupakan suatu proses perubahan

yaitu proses perubahan dalam tingkah laku sebagai hasil dari interaksi dengan

lingkungannya dalam memenuhi kebutuhan hidupnya (Slameto, 1991:2).

Bagi Gagne dalam Susanto (2013:1) belajar dimaknai sebagai suatu proses untuk

memperoleh motivasi dalam pengetahuan, keterampilan, kebiasaan, dan tingkah laku.

Belajar merupakan upaya memperoleh pengetahuan atau keterampilan melalui intruksi.

Intuksi yang dimaksud adalah perintah atau arahan dan bimbingan dari pendidik atau guru.

Berdasarkan dari beberapa pengertian di atas dapat disimpulkan bahwa belajar

merupakan proses perubahan tingkah laku yang dilakukan secara terus menerus yeng terjadi

sebagai hasil dari pengalaman individu dengan lingkungannya sebagai kegiatan menuju

terbentuknya kepribadian seutuhnya. Namun tidak semua perubahanyang terjadi pada setiap

individu bisa diartikan perubahan dalam arti belajar.

7
2. Faktor Yang Mempengaruhi Belajar
Faktor yang mempengaruhi belajar ada banyak sekali macamnya, faktor belajar
dapat di klasifikasikan menjadi beberapa hal sesuai dengan yang dikemukakan oleh
Suryabrata (2007:233) yaitu:
a. Faktor-faktor yang berasal dari luar
1) Faktor-faktor nonsosial
Factor non sosial diantaranya seperti keadaan udara, suhuudara, cuaca,
waktu (pagi,siang, ataupun malam), tempat (letak, pergedungan), alat-alat
yang dipakai untuk belajar (buku,peraga, alat tulis dan sebagainya).
2) Faktor-faktor sosial
Factor sosial yang dimaksud adalah faktor yang berpotensimengganggu dari
proses belajar dan prestasi-prestasi belajar, mengganggu konsentrasi,
sehingga perhatian tidak ditujukanpada hal yang dipelajarai seperti keramaian
kelas, suara-suara, dan lain sebagainya.
b. Faktor yang berasal dari dalam diri
1) Faktor Fisiologis
a) Tonus jasmani
Tonus jasmani merupakan latar belakang aktivitas belajar, keadaan
jasmani yang segar akan berbeda dengan keadaan jasmani yang kurang
segar. Dalam hal ini ada beberapa yang harus diperhatikan yaitu seperti
nutrisi yang cukup, dan penyakit kronis.
b) Keadaan fungsi-fungsi fisiologi
Dalam belajar fungsi fisiologi terutama fungsi panca indera sangat
berperan penting. Dalam hal ini panca indera dapat dimisalkan sebagai
pintu gerbang masuknya pengaruh kedalam individu.
2) Faktor Psikologi
Setiap individu dalam hal ini pada dasarnya memiliki kondisi psikologis yang
berbeda-beda,tentunya hal ini turut mempengaruhi hasil belajarnya. Beberapa
factor psikologis meliputi intelegensi (IQ),perhatian,minat, bakat, motif,
motifasi, kognitif, dan daya nalar siswa.

3. Hasil Belajar
Menurut Susanto (2013: 5) hasil belajar yaitu perubahan- perubahan yang terjadi pada
diri siswa, baik yang menyangkut aspek kognitif, afektif, dan psikomotorik sebagai hasil dari
8
kegiatan belajar. Menurut bloom dalam (Suprijono, 2011:6) hasil belajar mencangkup
kemampuan kognitif, afektif, dan psikomotorik. Setiap mata pelajaran selalu mengandung
ketiga ranah tersebut, namun penekanannya selalu berbeda pada setiap mta pelajaran. Hasil
belajar adalah perubahan perilaku secara keseluruhan bukan hanya salah satu aspek potensi
kemanusiaan saja. Artinya, hasil pembelajaran yang dikategorisasi oleh pakar pendidikan
sebagaimana tersebut di atas tidak dilihat secara fragmentaris atau terpisah, melainkan
komprehensif (Suprijono, 2011:7).

Hasil belajar adalah suatu kemampuan yang berupa keterampilan dan perilaku baru sebagai
akibat dari latihan atau pengalaman yang diperoleh (Sams’s,2010:33). Menurut Anni dkk
dalam (Supardi, 2013:22) Hasil belajar merupakan perilaku yang diperoleh pembelajar
setelah mengalami aktivitas belajar. Mulyasa (2009: 212) menambahkan hasil belajar adalah
prestasi belajar pesert didik secara keseluruhan yang menjadi indikator kompetensi dasar dan
derajat perubahan perilaku yang bersangkutan. Hasil belajar lazimnya ditujukan dengan nilai
tes yang diberikan oleh guru pada perubahan sikap serta cara pandang dan cara berfikir siswa
setelah mengalami proses belajar.

Dari pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa hasil belajar merupakan perubahan yang
terjadi pada siswa yang menyangkut aspek kognitif,afektif, dan psikomotorik sebagai hasil
kegiatan belajar. Hasil belajar dapat diketahui melalui proses evaluasi dan tes. Skor atau nilai
dalam tes tersebut yang menjadi hasil dari proses belajar.

4. Faktor yang Mempengaruhi Hasil Belajar


Beberapa faktor perlu diperhatikan agar proses beljar dapat berhasil sesuai dengan
tujuan yang telah ditetapkan. Belajar tidak hanya ditentukan oleh potensi dalam individu
tetapijuga dipengaruhi faktor lain yang berasal dari luar individu. Dalam Sriyanti (2013:23)
secara umum keberhasilan belajar dipengaruhi oleh eksternal dan internal. Masing-masing
faktor dapat diuraikan sebagai berikut.

a. Faktor eksternal
Faktor eksternal merupakan faktor yng terdapat dari luar diri individu. Faktor
eksternal terdiri dari factor nonsosial dan factor sosial.
b. Faktor nonsosial

Faktor nonsosial merupakan kondisi fisik di lingkungan sekolah, keluarga, maupun

masyarakat. Hal tersebut bisa berupa peralatan sekolah, sarana belajar, gedung dan ruang

9
belajar, kondisi geografis dan sejenisnya.

1) Faktor sosial

c. Faktor sosial merupakan faktor di luar individu yang berupa manusia.

Misalnya kehadiran orang dalam belajar, kedekatan hubungan antar anak,

keharmonisan dalam keluarga dansebagainya.

d. Faktor internal

Faktor internal merupakan faktor yang berasal dari dalam individu yang

sedang belajar. Faktor internal terdiri dari faktor fisiologis dan psikologis.

2) Faktor fisiologis

a. Faktor fisiologis siswa berhubungan dengan kesehatan dan kebugaran fisik


individu. Keadaan individu yang sehat dan bugar akan mendukung hasil
belajar.
b. Keadaan fungsi jasmani
Keadaan fungsi jasmani berkaitan erat dengan fungsi panca indera yang ada
dalam diri individu.
3) Faktor psikologis
Faktor psikologismerupakan faktor psikis yang ada dalam diri individu. Faktor
psikologis diantaranya adalah tingkat kecerdasan, motivasi, minat, bakat, sikap,
kepribadian, kematangan dan lain sebagainya.

B. Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS)

1. Hakikat IPS

Ilmu sosial adalah bidang yang mempelajari, mengkaji, menganalisis gejala dan
permasalahan sosial masyarakat dengan mengkaji berbagai aspek kehidupan atau
kombinasinya (Sardjio dkk, 2018: 1.26). Ilmu pengetahuan sosial sudah tidak asing lagi bagi
semua orang. Proses kehidupan manusia selalu dikaitkan dengan manusia dan makhluk
lainnya. Secara alami, manusia adalah makhluk sosial.

Oleh karena itu, ilmu-ilmu sosial merupakan hasil pengalaman manusia sejak lahir. Secara
sederhana, pengalaman-pengalaman yang melekat pada diri manusia dan melekat pada

10
pengalaman kita hidup dalam masyarakat disebut ilmu-ilmu sosial. Pada prinsipnya manusia
sudah mengenal ilmu-ilmu sosial sejak lahir, namun yang terjadi dan tidak kita sadari, kita
baru memahami ilmu-ilmu sosial setelah mendapat pendidikan formal di sekolah atau
mandiri. Apa yang kita sebut ilmu sosial menyatukan semua peristiwa yang dialami
masyarakat dalam masyarakat yang membentuk pengetahuan (Rasimin, 2019: 37).

Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS) merupakan mata pelajaran yang diajarkan di sekolah-
sekolah, termasuk sekolah dasar. Pembelajaran IPS di sekolah dasar merupakan sarana untuk
mengembangkan kesadaran, cara berpikir, dan sikap sosial siswa dalam masyarakat serta
menciptakan landasan bagi kecenderungan belajar pada jenjang pendidikan berikutnya.

1. Ruang Lingkup IPS

Menurut Sardjiyo dalam Rasimin (2019: 38) ruang lingkup ilmu pengetahuan

sosial adalah berupa kehidupan manusia dlam masyarakat atau manusia sebagai anggota

masyarakat. Secara sederhana dpat dikatakan bahwa ruang lingkup Ilmu pengethuan

sosial adalah manusia dalam konteks sosial .

Pada ruang lingkup mata pelajaran IPS SD meliputi aspek-aspek sebagai berikut.

a. Manusia, tempat dan Lingkungan.

b. Waktu, keberlanjutan dan Perubahan.

c. Sistem sosial dan budaya

d. Perilaku ekonomi danKesejahteraan (Sardjiyo, dkk.2008: 1.29).

2. Tujuan Pendidikan IPS di SD

Secara keseluruhan tujuan pendidikan IPS di sekolah dasar adalah sebagai berikut

: (Sardjiyo,dkk.2008:1.28).

a. Membekali anak didik dengan pengetahuan sosial yang berguna dalam

kehidupan kelak di masyarakat

b. Membekali anak didik dengan kemampuan mengidentifikasi, menganalisis

dan menyusun alternatif pemecahan masalah sosial yang terjadi dalam

11
kehidupan di masyarakat.

c. Membekali anak didik dengan kemampuan berkomunikasi dengan sesama

warga masyarakat dan berbagai bidang keilmuan serta bidang keahlian.

d. Membekali anak didik dengan kesadaran, sikap mental yang positif dan

keterampilan terhadap pemanfaatan lingkungan hidup yang menjadi bagian

dari kehidupan tersebut.

e. Membekali anak didik dengan kemampuan mengambangkan pengetahuan


dan keilmuan IPS sesuai dengan perkembangan kehidupan, masyarakat, ilmu
pengetahuan dan teknologi.

a. Materi IPS Kenampakan Alam dan Keragaman Sosial Budaya


Keragaman budaya
Manusia harus menyesuaikan diri dengan lingkungan alam, oleh sebab itu
kenampakan alam mempengaruhi budayamasyarakat. Keragaman budaya dapat
berupa rumah, upacara adat, dan baju adat.
Keragaman Rumah Adat
1) Berikut berbagai rumah adat yang ada di setiap daerah di Indonesia, yaitu:
2) Aceh = Rumah Aceh dan rumah Krong Bade.
3) Sumatra Barat = Rumah Gadang
4) Sumatra Utara = Rumah Balai Batak Toba dan rumah Balon.
5) Kepulauan Riau = Rumah Melayu Atap Limas Potong.
6) Bengkulu = Rumah Bubungan Lima.

C. Metode Make a Match

Make a Match adalah pembelajaran yang menggunakan kartu-kartu. Kartu-kartu

tersebut terdiri dari kartu berisi pertanyaan- pertanyaan atau permasalahan dan kartu-

kartu lainnya berisi jawaban dari pertanyaan-pertanyaan tersebut (Suprijono,2011:94).

Dikembangkan pertama kali pada 1994 oleh Lorna Curran, metode Make a Match saat

ini menjadi salah satu metode penting dalam ruangkelas. Dalam pelaksanaannya metode

Make a Match bisa dilakukan dua kelompok atau tiga kelompok. Jika kelompok dibagi

12
menjadi tiga maka satu kelompok sebagai juri untuk memberi tanggapan kecocokan

kartu dari pasangan. Dalam metode ini siswa bisa mencari pasangan sambil belajar

mengenai konsep atau topik dalam suasana yang menyenangkan.

1. Tujuan dari metode Make a Match:


a. Pendalaman materi.
b. Penggalian materi.
c. Edutainment.
2. Dalam melaksanakannya cukup mudah namun guru harus mempersiapkan hal-
hal seperti berikut :
a. Membuat beberapa pertanyaan yang sesuai dengan materi yang dipelajari.
b. Membuat kunci jawaban dari pertanyaan-pertanyaan yang telah dibuat dan
menulisnya dalam kartu-kartu jawaban.
c. Membuat aturan yang berisi penghargaan bagi siswa yang berhasil dan sanksi
bagi siswa yang gagal (di sini, guru dapat membuat aturan ini bersama-sama
dengan siswa).
d. Menyediakan lembaran untuk mencatat pasangan-pasangan yang berhasil.

3. Langkah-langkah strategi make a match :


a. Guru menyampaikan materi pelajaran.
b. Siswa dibagi kedalam 3 kelompok , misalnya kelompok A, kelompok B, dan
kelompok C
c. Guru membagikan kartu pertanyaan kepada kelompok A dan kartu jawaban
kepada kelompok B, sdangkan kelompok C berperan sebagai juri.
d. Guru menyampaikan kepada siswa bahwa mereka harus mencari/mencocokkan
kartu yang dipegang dengan kartu kelompok lain. Guru juga perlu
menyampaikan batasan waktu maksimum yang ia berikan kepada mereka.
e. Guru meminta semua anggota kelompok A untuk mencari pasangannya di
kelompok B.
f. Jika waktu sudah habis, mereka harus diberi tahu bahwa waktu sudah habis.
Siswa yang belum menemukan pasangan diminta untuk berkumpul sendiri.
g. Guru memanggil satu persatu pasangan untuk presentasi dan kelompok C
memberi tanggapan dari kebenaran pasangan tersebut. Pasangan lain dan siswa
yang tidak mendapat pasangan memperhatikan.
h. Terakhir, guru memberikan konfirmasi tentang kebenaran dan kecocokan
pertanyaan dan jawaban dari pasangan yangmemberikan presentasi.

13
i. Guru memanggil pasangan berikutnya, begitu seterusnya sampai seluruh
pasangan melakukan presentasi.

4. Adapun kelebihan dan kekurangan dari metode Make a Match adalah sebagai
berikut (Fauhah, 2021) model pembelajaran make a match memiliki kelebihan dan
kelemahan. Adapun kelebihan model ini, yaitu:
a) membuat susasana aktif
b) menyenangkan
c) meningkatkan hasil belajar
d) munculnya gotong royong antar siswa.

Sedangkan kelemahannya, yaitu:

a) Sangat memerlukan bimbingan dari guru untuk melakukan kegiatan.


b) Waktu yang tersedia perlu dibatasi karena besar kemungkinan siswa
bisa banyak bermain-main dalam proses pembelajaran.
c) Guru perlu persiapan bahan dan alat yang memadai.Pada kelas dengan
murid yang banyak (>30 siswa/kelas) jika kurang
d) bijaksana maka yang muncul adalah suasana seperti pasar dengan
keramaian yang tidak terkendali.
e) Bisa mengganggu ketenangan belajar kelas di kiri dan kanannya.

D. Hubungan Materi IPS dengan Metode Make a Match

Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS) merupakan salah satu mata pelajaran yang diajarkan

di sekolah dasar/MI yang mempelajari fenomena alam dan permasalahan sosial agar

siswa dapat memperoleh pemahaman yang lebih mendalam tentang lingkungannya

(Selviani, I., dkk., 2018). Sehingga guru harus mampu menciptakan suasana belajar

yang menyenangkan untuk menarik minat dan perhatian siswa. Suasana belajar yang

menyenangkan akan membuat siswa tertarik dan terpelihara minatnya untuk belajar

sehingga meminimalisir tingkat kejenuhan serta memaksimalkan ketertarikan siswa

dalam proses pembelajaran.

Menurut penelitian oleh Mikran et al. (2012), model make a match adalah suatu

14
pendekatan pembelajaran yang menciptakan suasana menyenangkan bagi siswa

ketika mereka mencari dan menyandingkan kartu-kartu bersama teman-temannya.

Model pembelajaran make a match dianggap menarik bagi peserta didik. Hasil dari

beberapa penelitian sebelumnya yang dilakukan oleh Pratiwi,I. A., dkk. (2021, hlm.

493-494) dengan judul "Peningkatan Kemampuan Berpikir Kritis melalui Model

make a match di Sekolah Dasar" telah membuktikan bahwa model ini efektif dalam

meningkatkan kemampuan berpikir kritis siswa kelas V SD 3 Adiwarno pada

Semester Genap 2019/2020.

Dalam kaitannya dengan Pembelajaran IPS yang dilakukan,metode Make a Match

bisa membantu mengatasi pembelajaran IPS dengan karakteristik banyak mengandalkan

abstraksi dan daya ingat tinggi. Sepeti halnya lagu, siswa akan mudah menghafal lagu di

banding dengan pelajaran yang disampaikan oleh guru. Metode Make a Match

merupakan metode yang menyenangkan, hal ini bisa menjadi penarik minat siswa serta

mengatasi kejenuhan siswa dalam pembelajaran IPS. Dari materi yang disampaikan

siswa akan merasa pembelajaran terasa menyenangkan sehingga akan meningkatkan

ingatan siswa terhadap materi yang disampaikan dan akan berpengaruh terhadap

kognitif siswa.

15
BAB III
PELAKSANAAN PENELITIAN PERBAIKAN PEMBELAJARAN

A. Setting Penelitian
1. Tempat Penelitian
Tempat penelitian merupakan suatu tempat yang digunakan untuk
melakukan penelitian guna memperoleh data yang diinginkan. Penelitian
ini dilakukan di SD Negeri 167649 Kota Tebing Tinggi karena sekolah ini
mempunyai kendala dalam proses pembelajarannya dan dapat dipelajari
dengan menggunakan model pembelajaran kolaboratif Make a Match.

2. Waktu Penelitian
Waktu pencarian adalah waktu berlangsungnya pencarian. Penelitian ini
dilakukan pada semester ganjil tahun ajaran 2023/2024. Sebab pada semester
ganjil ini akan terjadi diskusi sampingan mengenai materi yang akan
dijadikan peneliti sebagai bahan penelitian.
3. Subjek dan Objek Penelitian
Subjek penelitian topik ini adalah 13 siswa kelas IV. Terdiri dari 9
perempuan dan 5 laki-laki. Sedangkan yang menjadi objek penelitian ini
adalah materi pada pembelajaran IPS kelas IV Semester I.

B. Desain Prosedur Perbaikan Pembelajaran

Penelitian ini merupakan penelitian tindakan kelas (PTK), yang


proses pelaksanaannya dilakukan dimulai dengan pengkajian masalah
secara sistematik. Penelitian ini kemudian menjadi landasan untuk
mengatasi permasalahan di kelas.

Istilah penelitian tindakan berasal dari kata penelitian tindakan


dalam bahasa Inggris. Beberapa istilah lain yang juga diterjemahkan dari
penelitian tindakan adalah penelitian tindakan, penelitian tindakan.
Penelitian tindakan ini dilakukan oleh Kurt Lewin, seorang sosiolog
Amerika yang mengerjakan proyek komunitas terkait integrasi dan
keadilan sosial di berbagai bidang seperti perumahan dan lapangan kerja.
Karena dilakukan di dalam kelas, maka penelitian tindakan ini disebut
penelitian tindakan kelas (PTK).

16
PTK terdiri dari tiga kata, yaitu “belajar”, “tindakan”, dan “kelas”.
Penelitian adalah kegiatan meneliti suatu subjek secara dekat, dengan
menggunakan aturan metodologi tertentu untuk memperoleh data atau
informasi yang berguna bagi peneliti atau mereka yang berkepentingan
untuk meningkatkan kualitas di berbagai bidang. Suatu tindakan adalah
suatu kegiatan yang dilakukan dengan sengaja untuk tujuan tertentu, yang
dalam pelaksanaannya berbentuk serangkaian tahapan/siklus kegiatan.
Kelas adalah sekelompok siswa yang menerima pelajaran yang sama dari
guru/instruktur yang sama pada waktu dan tempat yang sama.

PTK menitik beratkan pada ruang kelas atau pembelajaran yang


berlangsung di dalam kelas, bukan pada input kelas (kurikulum, RPP,
materi, dan sebagainya) maupun pada output (hasil 'belajar'). PTK
hendaknya fokus atau mempelajari apa yang terjadi di kelas.

PTK merupakan penelitian tindakan kelas yang dilakukan dengan


tujuan untuk meningkatkan kualitas praktik pembelajaran di kelas. PTK
fokus pada siswa atau PBM yang tampil di kelas. PTK merupakan
serangkaian penelitian kolaboratif yang bertujuan untuk memecahkan
permasalahan hingga terselesaikan. Tujuan utama PTK adalah
memecahkan permasalahan praktis yang timbul di kelas dan meningkatkan
aktivitas praktis guru dalam kegiatan pengembangan keprofesiannya.

Berdasarkan prinsip-prinsip di atas, penelitian tindakan kelas dapat


didefinisikan sebagai penelitian tindakan yang dilakukan oleh guru yang
juga peneliti di kelasnya sendiri atau bersama orang lain (secara
kolaboratif), dengan merancang, melaksanakan kerja dan merefleksikan
tindakan kolaboratif dan partisipatif yang bertujuan untuk mencapai tujuan.
memperbaiki atau meningkatkan kualitas proses pembelajaran di kelas
melalui tindakan (proses) tertentu dalam satu siklus.

Penulis menggunakan penelitian ini karena PTK sangat bermanfaat


dalam membantu guru peka dan tanggap terhadap dinamika pembelajaran
di kelas, guru menjadi lebih kreatif karena selalu dituntut melakukan upaya
inovatif seperti menerapkan dan mengadaptasi berbagai teori dan teknik
pembelajaran. serta bahan ajar yang digunakan untuk mendorong siswa
agar lebih aktif dalam pembelajaran di kelas.

17
C. Prosedur Penelitian

Di PTK tersedia template yang dapat dijadikan referensi dalam


membuat desain PTK. Kedua model tersebut termasuk yang pertama,
model Kurt Lewin sering dijadikan acuan atau landasan utama dalam
berbagai model penelitian tindakan termasuk PTK. Dialah orang pertama
yang memperkenalkan penelitian tindakan.

Menurut Kurt Lewin, penelitian tindakan kelas merupakan


serangkaian langkah yang terdiri dari empat tahap: perencanaan, tindakan,
observasi, dan refleksi. Sedangkan menurut Ebbut at Hopkins, penelitian
tindakan adalah suatu kajian sistematis mengenai upaya memperbaiki
pelaksanaan kegiatan pendidikan oleh sekelompok guru dengan
melaksanakan tindakan pembelajaran, berdasarkan refleksi mereka
terhadap hasil tindakan tersebut. Berikut gambaran empat tahapan PTK
yang dikemukakan oleh Suharsimi dan Arikunto:
Gambar II
Siklus Penelitian Tindakan Kelas (PTK)

A P

OBSE
REFL S
IKLU

REVISED
S
IKLUS
A

OBSE
REFL REVISE
D PLAN

(sumber: Model Action Research Kemmis & Taggart)

18
Dalam melaksanakan penelitian ini diharapkan menggunakan dua
siklus. Hasil observasi, tes atau evaluasi setiap siklus menjadi dasar untuk
menentukan tindakan yang tepat untuk meningkatkan hasil belajar IPS siswa
kelas IV SD Negeri 167649 Kota Tebing Tinggi dan dilaksanakan dengan
menggunakan program pembelajaran yang ada di kelas IV SD Negeri
167649 Kota Tebing Tinggi. Setiap tahap terdiri dari empat langkah sebagai
berikut:

SIKLUS I
1. Tahap Perencanaan
Perencanaan melibatkan pengembangan rencana tindakan yang
signifikan untuk memperbaiki apa yang telah terjadi. Pada tahap
perencanaan ini, peneliti menyusun rencana tindakan dan rencana
penelitian yang akan dilaksanakan selama proses pembelajaran IPS.
Kegiatan perencanaan tersebut antara lain:
a. Mengidentifikasi materi IPS yang akan disajikan di Kelas IV SD
Negeri 167649 Kota Tebing Tinggi.
b. Menyusun rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP) dengan
menggunakan model pembelajaran make a match yang digunakan
dalam penelitian.
c. Menyiapkan bahan belajar berupa kartu yang berisi beberapa
konsep atau topik yang layak untuk diulas, kartu soal dan sebagian
kartu jawaban untuk digunakan dalam mempelajari mata pelajaran
IPS.

d. Menyiapkan alat penelitian yaitu lembar observasi untuk


mengamati aktivitas belajar siswa dan alat untuk menguji hasil
belajar.
2. Tahap Pelaksanaan Tindakan
Tindakan yang disebutkan di sini adalah tindakan yang dilakukan
secara sadar dan terkendali, yang merupakan banyak praktik kehati-
hatian dan kebijaksanaan. Penelitian ini diawali dengan mempersiapkan
cara menyampaikan materi secara tepat kepada siswa di kelas yang
dipelajari, sehingga penyampaian materi dapat lebih efektif dan mudah

19
diterima oleh siswa. Semua itu tidak lepas dari tujuan yang diinginkan,
yaitu untuk meningkatkan hasil belajar siswa Kelas IV SD Negeri
167649 Kota Tebing Tinggi pada pembelajaran mata pelajaran IPS.
Kegiatan ini merupakan

20
pelaksanaan tahap perencanaan pembelajaran yang disusun sebagai
berikut:
a. Kegiatan awal
1) Salam pembuka
2) Guru mengajak siswa berdoa.
3) Guru menyediakan alat atau buku yang berkaitan dengan
mata pelajaran
b. Kegiatan inti
1) Guru menyampaikan materi IPS Keragaman Suku Bangsa
2) Guru menjelaskan teknik model pembelajaran kooperatif
Make a Match kepada siswa.
3) Guru membagi siswa menjadi beberapa kelompok
4) Setiap kelompok mendapat kartu berisi soal atau jawaban
5) Setiap kelompok mencari pasangan kartu yang tepat jawabannya
6) Setiap kelompok memikirkan jawaban/pertanyaan mengenai
kartu yang mereka pegang
7) Setiap kelompok yang mencocokkan kartu sebelum batas waktu
akan mendapat poin tambahan
8) Kelompok yang telah mendapatkan pasangan kartunya di
persilahkan maju kedepan untuk mempresentasikan kartunya
9) Kelompok yang menemukan pasangan kartu yang salah akan
dihukum
c. Penutup
a) Guru dan siswa bersama-sama mengkritisi dan mendiskusikan
hasil pembelajaran model pembelajaran kolaboratif Make a Match
Type untuk merefleksikan hasil pembelajaran.
b) Guru menugaskan siswa tugas mencatat hasil penyelesaian masalah.

3. Tahap Pengamatan
Observasi digunakan untuk mencatat dampak tindakan terkait.
Pada prinsipnya observasi yang dilakukan selama proses penelitian
meliputi kehadiran siswa, aktivitas siswa dalam kelompok, dan kesediaan
siswa dalam mengikuti kegiatan pembelajaran. Dalam penelitian ini hasil
observasi kemudian didiskusikan oleh kolaborator atau guru IPS untuk
mencari solusi permasalahan yang ada dalam proses pembelajaran.
Menganalisis kondisi siswa untuk mempertimbangkan kesulitan
yang dihadapi siswa selama proses pembelajaran.
21
a) Mengamati penerapan model pembelajaran kolaboratif Make a Match

22
dalam pembelajaran.
b) Catat pada lembar observasi setiap aktivitas dan perubahan yang
terjadi selama penerapan model pembelajaran kolaboratif Make a
Match.
4. Refleksi
Refleksi melibatkan mengingat dan merefleksikan suatu tindakan
persis seperti yang dicatat selama observasi. Refleksi berupaya memahami
proses, persoalan, persoalan, dan hambatan aktual dalam tindakan
strategis. Refleksi mempertimbangkan perspektif berbeda yang mungkin
ada dalam suatu situasi dan memahami masalahnya. Refleksi sering kali
difasilitasi oleh diskusi antara peneliti dan kolaborator. Dalam refleksinya
terdapat beberapa kegiatan penting, seperti:

1) Menganalisis kembali hasil belajar siswa pada mata pelajaran yang


diajarkan.
2) Analisis Ulang Penerapan Model Pembelajaran Kooperatif

3) Mencermati hambatan-hambatan yang dijumpai pada saat tindakan


penelitian dilakukan.
4) Memperkirakan solusi atas keluhan yang muncul.

Siklus II
Pelaksanaan siklus II didasarkan pada hasil refleksi siklus I,
sehingga hasil observasi menjadi dokumen refleksi dan hasil refleksi siklus
I menjadi dokumen acuan perbaikan pembelajaran periode II. Jika proses
pembelajaran pada Siklus I kurang memuaskan maka hasil belajar masih
belum maksimal. Dan pada dasarnya pelaksanaan siklus II adalah untuk
memperbaiki kelemahan-kelemahan yang terjadi pada siklus I.

D. Sumber Data Penelitian


Data yang digunakan dalam penelitian ini berupa tes,
observasi, dokumentasi dan wawancara.
1. Observasi
Observasi adalah pengamatan dan pencatatan secara sistematis
terhadap gejala-gejala yang terjadi pada suatu subjek penelitian.
Observasi sebagai alat penilaian banyak digunakan untuk
23
mengevaluasi perilaku individu atau proses suatu kegiatan yang dapat
diamati, baik dalam situasi

24
nyata maupun situasi pendukung. Observasi ini dapat dilakukan
dengan menggunakan panduan gambar, catatan, catatan lapangan,
catatan harian, observasi kegiatan kelas, deskripsi interaksi kelas, alat
perekam elektronik atau pemetaan kelas. Dalam penelitian ini
dilakukan observasi terhadap aktivitas siswa dan peneliti selama proses
pembelajaran. Beberapa informasi yang diperoleh dari hasil observasi
antara lain: ruang (lokasi), perilaku, aktivitas, objek, tindakan,
peristiwa atau kejadian, waktu dan emosi.

Selama observasi, peneliti bekerjasama dengan guru kelas IV


SD Negeri 167649 Kota Tebing Tinggi dengan mengamati kemajuan
proses pembelajaran dengan mencatat dan mendokumentasikan hasil
lapangan, misalnya seperti apa yang dilakukan siswa kelas IV SD
Negeri. 167649 Kota Tebing Tinggi kurang memperhatikan
pemantauan pembelajaran IPS di kelas, kesulitan dan hambatan belajar
bagi siswa kelas IV SD Negeri 167649 Kota Tebing Tinggi dalam
mencapai tujuan pembelajaran berlatih atau menguasai keterampilan
tertentu.
2. Wawancara
Wawancara merupakan suatu sarana pengumpulan bahan
informasi yang dilakukan dengan cara menanggapi pertanyaan dan
jawaban lisan secara sepihak, langsung, dan dengan arah dan tujuan
yang telah ditentukan.10 Wawancara dalam penelitian ini terdiri dari
wawancara terstruktur dimana peneliti sebagai pewawancara
mempersiapkan bahan wawancaranya sebelum wawancara dilakukan
Wawancara ini membantu untuk menjelaskan atau
mengungkap hal-hal yang tidak mungkin atau tidak jelas diamati
selama observasi, selain untuk mengetahui reaksi dan reaksi siswa
terhadap proses pembelajaran yang sedang berlangsung.

3. Dokumentasi
Dalam melakukan dokumentasi dalam penelitian ini, data yang
dikumpulkan adalah data yang berkaitan dengan penelitian serta
gambaran kegiatan selama proses penelitian. Penulis menggunakan
metode pencatatan ini sebagai pelengkap untuk melengkapi informasi
yang penulis perlukan, khususnya untuk mendapatkan data tentang

25
sejarah berdirinya SD Negeri 167649 kota Tebing Tinggi, sarana,
prasarana, lantai dll,

26
kehadiran siswa dan kondisi guru pada saat itu. SD Negeri. 167649, kota
Tebing Tinggi.

4. Tes
Tes adalah alat atau prosedur yang digunakan dalam konteks
pengukuran dan evaluasi. Tes adalah sejumlah soal atau latihan serta
alat lain yang digunakan untuk mengukur keterampilan, pengetahuan,
kecerdasan, kemampuan atau bakat seseorang atau kelompok. Tes
digunakan untuk mengumpulkan data tentang kinerja siswa. Uji alat
pengumpul data menggunakan elemen pertanyaan atau pertanyaan alat
untuk mengukur hasil belajar siswa. Dalam penelitian ini peneliti
menggunakan tes lisan dan tes tertulis.
Dalam penelitian ini tes yang dilakukan adalah tes awal dan tes akhir.
Tes awal dilaksanakan untuk mengetahui penguasaan awal siswa
terhadap materi dan untuk menentukan skor awal. Tes akhir dilakukan
untuk mengetahui hasil belajar siswa setelah diterapkan model
pembelajaran kolaboratif Make a Match dalam pembelajaran IPS di
kelas IV SD Negeri 167649 Kota Tebing Tinggi.

E. Analisis Data

Metode analisis yang digunakan adalah metode analisis yang mampu


menunjang tercapainya tujuan kegiatan penelitian, berdasarkan tujuan yang
ingin dicapai, khususnya meningkatkan hasil belajar siswa pada mata
pelajaran IPS. Untuk menganalisis data yang terkumpul dilakukan analisis
terhadap hasil yang dicapai siswa dalam tes penilaian. Data observasi
penelitian dinilai nilainya berupa angka-angka yang tergolong kurang baik,
cukup, baik, dan sangat baik. Terdapat dua pertemuan per siklus dan
kemudian kegiatan yang disarankan meliputi perencanaan, tindakan,
observasi dan refleksi.

Seorang siswa dianggap selesai belajar apabila tercapai skor 70 atau


85% dan siklusnya selesai.
Rumus kriteria yang digunakan adalah sebagai berikut:
a. Ketuntasan Individual
Ketuntasan belajar individual dihitung dengan menggunakan
analisis deskriptif, yaitu: Skor=

27
Keterangan:

28
B = Banyaknya butir soal yang dijawab benar

N = Banyaknya soal.
b. Ketuntasan Klasikal
Ketuntasan belajar siswa secara klasikal dihitung dengan rumus
sebagai berikut :
Ketuntasan klasikal = ∑siswa yang tuntas belajar x 100 %

∑ seluruh siswa

F. Indikator Keberhasilan
Indeks keberhasilan penelitian ini adalah tingkat ketuntasan seluruh
siswa mencapai konsep ketuntasan belajar atau ketuntasan belajar yaitu
sebesar 85%. Khusus pada saat pelaksanaan penelitian tindakan kelas
siklus II, siswa kelas IV SD Negeri 167649 Kota Tebing Tinggi dapat
mengikuti pembelajaran IPS topik Keragaman suku bangsa, terutama
berkat penggunaan kolaboratif Tipe Make a Match. model pembelajaran
dengan hasil KKM 70. Proses pembelajaran dapat dikatakan selesai atau
berhasil. Indeks keberhasilan akademiknya sebesar 85% dari kriteria
ketuntasan minimal (KKM) 70.

29
BAB IV
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

A. Deskripsi Hasil Penelitian


Penelitian tindakan kelas (PTK) ini dilaksanakan di Kelas IV SDN
167649 Kota Tebing Tinggi pada tanggal 30 Oktober 2023 untuk siklus I dan
06 November 2022 untuk siklus II dengan menggunakan model Make a Match
melalui untuk meningkatkan prestasi belajar siswa materi keragaman suku
bangsa. Berdasarkan penelitian yang dilakukan, dari ujian tahap pertama
hingga putaran kedua, diperoleh data sebagai berikut:

1. Deskripsi Kondisi Awal


Dari perolehan hasil observasi dengan guru kelas IV SDN
167649 Kota Tebing Tinggi diperoleh penjelasan bahwa masih banyak
siswa yang belum tuntas pada mata pelajaran IPS dengan KKM yang
ditetapkan yaitu 70. Hal ini diketahui dari data hasil tes awal sebelum
dilaksanakan penelitian tindakan kelas yang diperoleh dari nilai harian
siswa. Adapun hasil tes awal sebelum masuk ke siklus dapat dilihat dari
tabel data berikut:
Tabel 1
Data Nilai Ulangan Harian Mata Pelajaran IPS Peserta Didik Kelas IV
Tahun Pelajaran 2023/2024

No. Nama Nilai Ketuntasan

1 Adelia Ridwan 60 Belum tuntas


2 Amira Damisya 58 Belum tuntas
3 Dara Khoiriyah 62 Belum tuntas
4 Egi Kurniawan 66 Belum tuntas
5 Lutfi Darmawan Bimbuna 68 Belum tuntas
6 Mikaila 60 Belum tuntas
7 Muhammad Nizam 59 Belum tuntas
8 Muhammad Juna Alfikri 50 Belum tuntas
9 Muhammad Nizam 56 Belum tuntas
10 Putri Azzahra 68 Belum tuntas
11 Tasya Putri 79 Tuntas

30
12 Tri Atni Kiranna 72 Tuntas
13 Syakira Wulandari 80 Tuntas
Jumlah 833
Nilai Rata-rata 64,07
Tuntas (%) 23,07%
Belum Tuntas (%) 65,21%

Sumber: Dokumen Nilai Ulangan Harian IPS Kelas IV SDN


167649
Berdasarkan data di atas menunjukkan bahwa hasil belajar mata
pelajaran di kota Tebing Tinggi masih tergolong rendah sehingga siswa belum
mencapai hasil belajar secara menyeluruh. Kriteria nilai minimal (KKM) IPS
di SDN 167649 adalah 70. Dari total 13 siswa, 3 siswa atau 23,07% siswa
tuntas atau lulus KKM dan 10 atau 65,21% siswa tidak tuntas. Data hasil
belajar menunjukkan nilai terendah siswa adalah 50 dan nilai tertinggi siswa
adalah 80. Berdasarkan hal tersebut, peneliti mencoba melakukan tindakan
menggunakan model pembelajaran Make a Match untuk meningkatkan
prestasi akademik siswa SD Negeri Kelas IV. 167649 Kota Tebing Tinggi
pada mata pelajaran IPS dengan materi keberagaman suku bangsa.

2. Hasil Penelitian
A. Siklus I Pertemuan ke-1
1. Perencanaan
Pada kegiatan perencaan guru menyiapkan materi IPS tentang
Keragaman Suku Bangsa dan menyusun Rencana Pelaksanaan Pembelajaran
(RPP) dengan menggunakan model pembelajaran Kooperatif tipe Make a
Match yang digunakan dalam penelitian. RPP disusun sebagai acuan dalam
pelaksanaan selama pembelajaran di kelas. Kemudia guru mempersiapkan
media pembelajaran berupa kartu-kartu yang masing-masing set berisi
pertanyaan dan jawaban yang berjumlah 13 kartu pertanyaan, dan 13 kartu
jawaban. Pada pertemuan pertama ini peneliti akan melakukan perkenalan
dan menyampaikan jawaban dari pembelajaran. Peneliti melakukan tes tanya
jawab materi sebelumnya dengan siswa
2. Tahap Pelaksanaan Tindakan
a. Kegiatan Awal

31
Pada kegiatan awal mengucapkan salam pembuka. Kemudian
guru mengajak siswa membaca doa bersama sebelum memulai
pelajaran, mengecek kehadiran siswa, mengajukan pertanyaan kepada
siswa tentang materi pelajaran yang lalu, dan memberikan pertanyaan
seputar pelajaran yang akan dipelajari sekaligus menjelaskan indikator
yang akan dicapai.
b. Kegiatan Inti
Pada kegaiatan inti guru menjelaskan materi IPS tentang
Keragaman suku bangsa. Setelah itu guru menjelaskan teknik model
pembelajaran kooperatif tipe Make a Match kepada peserta didik.
Guru menyajikan media berupa kartu-kartu yang berisikan soal dan
jawaban dan membagi siswa menjadi 2 kelompok. A kelompok
pertanyaan dan B kelompok jawaban. Dari 2 kelompok ini di
dalamnya di bagi lagi menjadi kelompok-kelompok kecil yang
memegang soal dan jawaban yang berbeda-beda. Kelompok-
kelompok kecil tersebut beranggotakan 2-3 siswa. Kelompok A yang
memegang soal berada disisi sebelah kiri guru dan kelompok B yang
memegang jawaban berapa disisi sebelah kanan guru. Guru memberi
waktu kepada siswa untuk mencari jawaban yang sesuai dari kartu
yang mereka pegang. Kemudian guru memerintahkan siswa untuk
segera mencocokkan kartu yang mereka pegang. Kelompok yang
sudah merasa cocok dengan kartunya dipersilahkan maju kedepan.
Kelompok yang telah mencocokkan kartu diberi waktu untuk
mempresentasikan hasil kartunya. Guru mengoreksi setiap jawaban
kelompok yang presentasi bersama siswa lain. Siswa yang dapat
mencocokkan kartu dengan benar sebelum batas diberi point
c. Kegiatan penutup
Pada kegiatan pentutup guru dan peserta didik bersama-sama
mengkritisi dan mendiskusikan hasil pembelajaran dari model
pembelajaran kooperatif tipe Make a Match. Kemudian Guru
mengakhiri pembelajaran dengan mengucapkan salam penutup.
3. Observasi
Berdasarkan observasi yang dilakukan peneliti pada saat
pembelajaran putaran pertama pertemuan pertama tanggal 30 Oktober
2023, materi pembelajaran IPS Keragaman suku bangsa dengan
menggunakan pembelajaran kooperatif tipe Make a Match masih
32
sedikit membingungkan siswa. Siswa harus selalu diawasi secara
berkala oleh guru. Selalu ada kelompok buruk saat mencocokkan
kartu. Siswa masih kebingungan ketika memberikan presentasi atau
mengemukakan pendapatnya. Begitu pula ketika guru bertanya, siswa
masih ragu untuk menjawab. Beberapa siswa terlihat masih bermain-
main di kelas.

4. Refleksi
Berdasarkan hasil yang dicapai pada putaran 1 pertemuan
pertama, masih terdapat beberapa kendala namun hal tersebut tidak
menghambat proses pembelajaran. Hambatan implementasi meliputi:

a. Ketika pembagian kelompok awal siswa masih sulit untuk


dikondisikan
b. Siswa masih malu-malu ketika mempresentasikan hasil kartu
dengan teman kelompok
c. Masih ada juga kelompok yang salah saat mencocokkan kartunya
d. Masih terdapat siswa yang bermain-main di kela
mengganggu temannya dan tidak mendengarkan penjelasan
guru

B. Siklus I pertemuan ke-2


1. Perencanaan
Sebelum memulai pembelajaran guru menyiapkan Rencana
Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) agar mengetahui uruttan materi
pembelajaran IPS tentang Keragaman suku bangsa. Guru juga embuat
lembar observasi untuk melihat hasil pembelajaran IPS materi
Keragaman suku bangsa dengan menggunakan metode pembelajaran
Kooperatif Tipe Make a Match dan mempersiapkan evaluasi akhir
untuk mengetahui hasil belajar siklus I
2. Pelaksanaan
Pada pelaksanaan kegiatan Awal guru mengucapkan salam
terlebih dahulu sebagai kegiataan pembukaan. Kemudian guru
mengajak siswa berdoa lalu mengecek kehadiran siswa dan mengulang
mengulang materi yang lalu. Pada kegiatan Inti guru mengulas kembali
materi yang telah dipresentasikan oleh siswa serta memberikan evaluasi
33
uji kompetensi. Kemudian pada kegiatan penutup guru mengakhiri
pelajaran serta mengucap salam penutup
3. Observasi

Pada siklus I pertemuan kedua tanggal 30 Oktober 2023, guru


mengawali dengan mereview pembelajaran sebelumnya, materi
pembelajaran IPS tentang bangun-bangun baju adat dan rumah adat,
sekaligus melakukan tanya jawab kepada siswa. Selama proses
pembelajaran, masih terdapat beberapa siswa yang terlihat kurang
serius dalam mengikuti kegiatan belajar mengajar. Beberapa siswa
terlihat mengobrol dan bermain, namun ada pula yang tampak serius.
Ketika guru bertanya dan menjawab pertanyaan, banyak siswa yang
menjawab dengan benar pertanyaan yang diajukan guru.

Setelah selesai pertemuan kedua siklus I, guru melakukan


penilaian untuk mengetahui nilai hasil belajar siswa pada siklus I.
Penilaian pembelajaran dilaksanakan pada pertemuan kedua siklus I.
Pada penelitian ini guru memberikan tes yang terdiri dari 15 soal
pilihan ganda dan 5 soal esai. Penilaian tersebut untuk mengetahui
hasil belajar siswa Siklus I. Berdasarkan hasil belajar dengan
menggunakan model pembelajaran kolaboratif Tipe Make a Match,
dapat dihitung rata-rata nilai dan tingkat ketuntasan belajar, dengan
memperhatikan hal-hal sebagai berikut:
Tabel 2
Nilai Hasil Belajar Siswa Siklus I
No. Nama Nilai Ketuntasan

1 Adelia Ridwan 70 Tuntas

2 Amira Damisya 68 Belum tuntas

3 Dara Khoiriyah 72 Tuntas

4 Egi Kurniawan 76 Tuntas

5 Lutfi Darmawan Bimbuna 78 Tuntas

6 Mikaila 70 Tuntas

7 Muhammad Nizam 69 Belum tuntas

34
8 Muhammad Juna Alfikri 50 Belum tuntas

9 Muhammad Nizam 66 Belum tuntas

10 Putri Azzahra 78 Tuntas

11 Tasya Putri 89 Tuntas

12 Tri Atni Kiranna 78 Tuntas

13 Syakira Wulandari 90 Tuntas

Jumlah 954

Nilai Rata-rata 73,38


Tuntas (%) 69,23%
Belum Tuntas (%) 30,76%
Sumber: Data Evaluasi Hasil Belajar Siklus I Pertemuan Ke-2
Kelas IV SDN 167649
Hasil tes evaluasi pada siklus I mengalami peningkatan yang
cukup signifikan dibandingkan dengan nilai pra siklus. Siswa yang
telah mencapai nilai KKM sebanyak 9 siswa atau 69,23% dan yang
belum tuntas sebanyak 4 siswa atau 30,76% dengan rata-rata 73,38.

a. Refleksi
Hasil akademik siswa pada siklus I menunjukkan peningkatan
dibandingkan hasil akademik siswa pada pra siklus. Namun hasil tersebut
masih jauh dari konsep ketuntasan belajar atau ketuntasan belajar yaitu
sebesar 85%. Kurangnya keberhasilan pada siklus I memaksa peneliti
untuk melaksanakan siklus II. Evaluasi hasil pelaksanaan siklus I
pertemuan kedua sebagai berikut:

1) Guru masih kurang menguasi kelas, sehingga masih banyak murid


yang bermain-main di kelas
2) Terdapat beberapa siswa yang kurang serius dalam mengikuti Kegiatan
Belajar Mengajar. Dari kekurangan-kekurangan tersebut maka perlu
dilakukan untuk tindakan berikutnya, yaitu:
1) Guru harus lebih bisa menguasai kelas, dengan cara mengadakan
game kecil ketika anak terlihat mulai ribut agar perhatian siswa
kembali ke pembelajaran
2) Memberi dukungan dan semangat siswa agar siswa tidak malu-
35
malu lagi saat guru melakukan tanya jawab atau saat siswa
mempresentasikan hasil kartu dengan teman kelompoknya

C. Siklus II Pertemuan Ke-1


1. Perencanaan
Sebelum memulai pembelajaran guru harus menyiapkan terlebih
dahulu Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) dengan
menggunakan model pembelajaran Kooperatif tipe Make a
Match yang digunakan dalam penelitian agar kegiatan
pembelajaran dapat berjalan secacara efektif dan efiseien karena
RPP merupakan acuan dalam pelaksanaan selama pembelajaran
di kelas. Setelah itu guru mempersiapkan materi pelajaran pada
siklus II yaitu pembelajaran IPS materi Keragaman suku bangsa.
Guru mempersiapkan kembali media pembelajaran berupa kartu-
kartu yang masing-masing set berisi pertanyaan dan jawaban
yang berjumlah 13 kartu pertanyaan, dan 13 kartu jawaban.
2. Pelaksanan
Pada kegiatan pelaksaaan awal sepaerti pada umumnya guru
mengucapkan salam pembuka, mengajak siswa untuk membaca
doa bersama sebelum memulai pelajaran, melakukan
pengecekkan kehadiran siswa. Setelah itu guru mengajukan
pertanyaan tentang materi pelajaran yang lalu sebagai kegiatan
dari apersepsi. Guru memberikan pertanyaan seputar pelajaran
yang akan dipelajari sekaligus menjelaskan indikator yang akan
dicapai.
a. Kegiatan Inti
Pada kegiatan inti guru menjelaskan kembali pembelajaran
IPS materi Keragaman suku bangsa. Guru meminta
siswa untuk menyebutkan contoh dari Keragaman suku
bangsa yang ada disekitar. Kemudian guru memberikan
contoh dengan media gambar apa saja yang termaksud dari
Keragaman suku bangsa, yang ditempel di papan tulis. Lalu
guru kembali membagi siswa menjadi beberapa kelompok
lagi dan menberikan penjelasan kembali tentang teknik
model pembelajaran kooperatif tipe Make a Match kepada
peserta didik. Setelah itu guru menyajikan media berupa
36
kartu-kartu yang berisikan soal dan jawaban. Guru memberi
waktu kepada siswa untuk mencari jawaban yang sesuai dari
kartu yang mereka pegang. Kemudian guru memerintahkan
siswa untuk segera mencocokkan kartu yang mereka pegang.
Kelompok yang sudah merasa cocok dengan kartunya
dipersilahkan maju kedepan. Kelompok yang telah
mencocokkan kartu diberi waktu untuk mempresentasikan
hasil kartunya. Guru mengoreksi setiap jawaban kelompok
yang presentasi bersama siswa lain. Siswa yang dapat
mencocokkan kartu dengan benar sebelum batas diberi point
b. Kegiatan Penutup
Pada kegaiatan penutup guru dan peserta didik bersama-sama
mengkritisi dan mendiskusikan kembali hasil pembelajaran
dari model pembelajaran kooperatif tipe Make a Match.
Kemdian Guru mengakhiri pembelajaran dengan
mengucapkan salam penutup

3. Observasi
Dari tahap observasi yang dilakukan pada siklus II pertemuan
pertama tanggal 6 November 2023, materi pembelajaran IPS
keragaman suku bangsa. Saat melaksanakan proses belajar mengajar,
siswa lebih memperhatikan dan menjawab dengan benar pertanyaan
yang diajukan guru. Saat presentasi pun siswa mulai berani
mengemukakan pendapatnya, misalnya saat menyampaikan makna
kenampakan alam, siswa dapat memberikan contoh. Meskipun masih
ada 1 atau 2 orang siswa yang tidak serius dan mengganggu siswa lain
ketika pembelajaran sesuai model pembelajaran kolaboratif Make a
Match.
Pada siklus II sesi 1 guru menggunakan dukungan visual untuk
menjelaskan konten yang dipasang di papan tulis, tujuannya agar siswa
lebih memahami dan mengetahui lebih banyak contoh gambar baju
adat dan rumah adat melalui dukungan gambar tersebut. Pada semester
kedua pertemuan pertama, kami melihat siswa lebih antusias dan
positif.
4. Refleksi
Refleksi putaran kedua pertemuan kedua dilakukan oleh peneliti
37
dan guru Kelas IV SD Negeri 167649 Kota Tebing Tinggi.
Berdasarkan hasil observasi guru kelas, pada saat peneliti menerapkan
model pembelajaran kolaboratif Make a Match Type, secara umum
penyelesaian kegiatan belajar mengajar berjalan dengan baik.

D. Siklus II Pertemuan Ke-2


1. Perencanaan
Pada kegiatan perencaan siklus 2 guru menyiapkan kembali
Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) dan sekaligus
memberikan perbaikan pembelajaran agar pada siklus II
pembelajaran mencapai target ketuntasan yang diharapkan.
Setelah merancang RPP guru membuat lembar observasi untuk
melihat hasil pembelajaran IPS materi Keragaman suku bangsa.
Kemudia mempersiapkan evaluasi akhir untuk mengetahui hasil
belajar siklus II pertemuan ke-2
2. Pelaksanaan
a. Kegiatan Awal
Pada kegiatan awal melakukan hal yang umum dilaksanakan
yaitu mengucapkan salam pembuka, mengajak siswa berdoa
dan mengecek kehadiran siswa untuk mengetahui berapa
siswa yang hadir dan berapa siswa yang tidak hadir.
b. Kegiatan Inti
Pada kegiatan inti guru mengulas kembali materi Keragaman
suku bangsa dan memberi evaluasi uji kompetensi.
c. Kegiatan Penutup
Pada kegiatan penutup guru mengakhiri pelajaran dengan
mengucapkan salam penutup.
3. Observasi
Hasil belajar siswa IPS pada materi Keragaman suku bangsa
mengalami peningkatan. Siswa tampak lebih termotivasi dan lebih
mampu terlibat dalam pembelajaran. Selama proses penilaian,
siswa tampak lebih serius dalam mengerjakan latihan dan
menyelesaikan lebih cepat. Evaluasi hasil belajar siswa pada Siklus
II pertemuan ke-2 ini merupakan perbaikan dibandingkan siklus
sebelumnya khususnya Siklus I. Seperti yang telah dijelaskan
sebelumnya, Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM) dijadikan
38
standar kelulusan di SDN 167649. KKM pembelajaran mata
pelajaran IPS sebesar 70.
Pada siklus II nilai penilaian hasil belajar siswa meningkat
dibandingkan hasil belajar siswa pada siklus sebelumnya. Hasil
belajar mahasiswa mata kuliah II adalah sebagai berikut:

Tabel 3

Nilai Hasil Belajar Siklus II

No. Nama Nilai Ketuntasan

1 Adelia Ridwan 80 Tuntas

2 Amira Damisya 78 Tuntas

3 Dara Khoiriyah 82 Tuntas

4 Egi Kurniawan 86 Tuntas

Lutfi Darmawan
5 88 Tuntas
Bimbuna

6 Mikaila 80 Tuntas

7 Muhammad Nizam 79 Tuntas

8 Muhammad Juna Alfikri 60 Belum tuntas

9 Muhammad Nizam 76 Tuntas

10 Putri Azzahra 88 Tuntas

11 Tasya Putri 100 Tuntas

12 Tri Atni Kiranna 89 Tuntas

13 Syakira Wulandari 100 Tuntas

Jumlah 1086

Nilai Rata-rata 83,53


Tuntas (%) 92,30%
Belum Tuntas (%) 7,69%
Sumber: Data Evaluasi Hasil Belajar Siklus II Pertemuan Ke-2
Kelas IV SDN 167649

39
Berdasarkan tabel diatas, menunjukkan bahwa tingkat
keberhasilan siswa pada siklus II ini sangat meningkat. Siswa yang
telah mencapai nilai KKM sebanyak 12 siswa atau 92,30% dan yang
belum tuntas sebanyak 1 orang atau 7,69% dengan nilai rata-rata
83,53.

a. Refleksi

Berdasarkan pelaksanaan penelitian tindakan kolektif pada


siklus II pertemuan kedua diperoleh hasil bahwa pelaksanaan
kegiatan pembelajaran IPS pada wajah alami dan wajah buatan di
SDN 167649 dengan menggunakan model pembelajaran Make a
Match berjalan lebih baik dan efektif dibandingkan hasil Siklus I
Hal ini terlihat melalui hasil evaluasi, 12 siswa atau 92,30% tuntas
dan 1 siswa atau 7,69% belum tuntas.

Dari penjelasan di atas dapat disimpulkan bahwa penerapan


model pembelajaran Make a Match memberikan perbedaan
dibandingkan dengan pembelajaran saat ini. Dengan model
pembelajaran Make a Match siswa dapat lebih mudah menyerap
materi pembelajaran, siswa lebih aktif dalam kegiatan
pembelajaran, siswa dapat langsung berpartisipasi dalam
pembelajaran, dan setiap siswa mempunyai kerjasama yang baik.
mengungkapkan pendapat mereka. Kami. pendapat melalui
kegiatan presentasi, terjadi komunikasi dua arah antara guru dan
siswa, membantu interaksi antara guru dan siswa menjadi lebih
baik, siswa lebih bersemangat dalam kegiatan pembelajaran.
Berlatihlah dalam suasana pembelajaran yang menarik.

B. Pembahasan Hasil Penelitian

Dalam pembahasan ini diuraikan hasil penelitian mengenai


Penerapan Model Pembelajaran Kooperatif Tipe Make a Match untuk
Meningkatkan Hasil Belajar IPS Siswa Kelas IV SDN 167649, mengacu
pada keberhasilan pengamatan yang telah peneliti lakukan dan mendapat
hasil bahwa terdapat peningkatan terhadap hasil belajar siswa mata
pelajaran IPS kelas IV SDN 167649 setelah proses pembelajaran melalui
penerapan model pembelajaran Kooperatif Tipe Make a Match. Pembahasan

40
ini berisi uraian dan penjelasan mengenai hasil Penelitian Tindakan Kelas
(PTK) yang dilakukan oleh peneliti dan berkolaborasi dengan guru kelas IV
SDN 167649 yaitu Ibu Wulandari Sipayung, S.Pd. Segala hal yang dibahas
dalam pembahasan adalah suatu yang berkaitan dengan penelitian yang
telah di lakukan pada siswa kelas IV SDN 167649.

Tindakan yang dilakukan peneliti dengan menggunakan model


pembelajaran Kooperatif Tipe Make a Match, dimana pembelajaran ini
dapat memupuk kerjasama siswa dalam menjawab pertanyaan mencocokan
kartu yang ada di tangan mereka, proses pembelajaran lebih menarik dan
nampak sebagian besar siswa antusias mengikuti proses pembelajaran, dan
keaktifan siswa tampak sekali pada saat siswa mencari pasangan kartunya
masing-masing. Hal ini merupakan ciri dari pembelajaran kooperatif dimana
pembelajaran kooperatif ialah pembelajaran yang menitiberatkan pada
gotong royong dan kerja sama kelompok. Dengan model pembelajaran
kelompok diharapkan siswa mampu berperan aktif dalam kegiatan
pembelajaran, memusatkan perhatian, dan siswa dapat merasa senang.

Model pembelajaran ini menjadikan siswa tampak lebih aktif di


kelas, siswa tampak lebih antusias, dan semangat siswa tampak tinggi ketika
mulai dibagi dalam beberapa kelompok. Model pembelajaran kolaboratif
Make a Match ini sangat berbeda dengan model pembelajaran yang pernah
dilakukan siswa kelas IV SDN 167649 sebelumnya.

Dari hasil observasi yang dilakukan selama siklus I di kelas IV SDN


167649, serta observasi kondisi yang dilakukan peneliti, dapat disimpulkan
bahwa:

1. Model pembelajaran Kooperatif Tipe Make a Match masih sedikit


membingungkan bagi siswa
2. Pada saat pembelajaran berlangsung masih ada beberapa siswa yang
bermain sendiri bahkan mengganggu teman lainnya
3. Masih terdapat kelompok yang salah saat mencocokkan kartu
4. Siswapun masih malu saat presentasi atau saat mengutarakan
pendapatnya
5. Saat guru bertanya, siswa masih ragu-ragu saat menjawabnya
Dari kekurangan-kekurangan tersebut maka peneliti perlu melakukan
perbaikan atau solusi pembenahan, diantaranya:

41
1. Memberikan penjelasan ulang tentang model pembelajaran Kooperatif
Tipe
Make a Match
2. Peneliti lebih sering bertanya dan memotivasi agar siswa mengungkapkan
pendapat atau gagasan ide yang mereka bisa
3. Mengulas kembali materi sebelumnya, untuk mengingatkan kembali
kepada siswa tentang apa yang sudah sama-sama dipelajari
4. Mempersiapkan segala sesuatu yang terkait dengan siklus II sehingga
kekurangan yang ada pada siklus I tidak terulang pada siklus berikutnya
Selama kegiatan yang berlangsung pada siklus pertama pertemuan
pertama, peneliti mengumpulkan data hasil proses pembelajaran. Pada saat
penerapan pertama model pembelajaran kolaboratif Make a Match, ada
beberapa siswa yang mengalami kebingungan. Dalam hal ini peneliti merasa
wajar karena siswa kelas IV SDN 167649 baru pertama kali belajar
menggunakan metode pembelajaran kolaboratif Tipe Make a Match. Seperti
yang telah dijelaskan, beberapa siswa bahkan kurang aktif dan suka bermain
di kelas, namun banyak siswa yang lebih antusias ketika peneliti
menerapkan mode pembelajaran kooperatif Make a Match.
Pada siklus I pertemuan ke-2, nilai siswa pada materi pembelajaran
IPS tentang keragaman suku bangsa tampak mengalami peningkatan namun
masih terdapat 4 siswa yang belum memperoleh nilai KKM. Jika pada tahap
sebelumnya siswa yang belum mencapai nilai KKM masih kewalahan
menghadapi siswa, maka pada siklus I laju peningkatan skornya terlihat
cukup cepat.
Pelaksanaan siklus II meliputi prediksi kekurangan-kekurangan yang
terjadi pada siklus I. Persiapan dalam bentuk rencana tindakan adalah
sebagai berikut:

1. Menyusun Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) dengan


menggunakan model pembelajaran Kooperatif tipe Make a Match yang
digunakan dalam penelitian. RPP disusun sebagai acuan dalam
pelaksanaan selama pembelajaran di kelas
2. Menyiapkan media gambar berupa contoh-contoh Kenampakan Alam
dan yang Buatan
3. Menerapkan model pembelajaran Kooperatif dan pendekatan
kontruktivisme

42
4. Mempersiapkan materi pelajaran pada siklus II yaitu pembelajaran IPS
materi Keragaman suku bangsa
5. Mempersiapkan kembali media pembelajaran berupa kartu-kartu yang
masing-masing set berisi pertanyaan dan jawaban yang berjumlah 13
kartu pertanyaan, dan 13 kartu jawaban
6. Mempersiapkan evaluasi yang digunakan untuk mengukur hasil belajar
siswa

Pada kegiatan siklus II ini berlangsung peneliti mengambil data


berupa hasil pengamatan proses belajar. Dengan menggunakan kartu-kartu
yang berisikan soal dan jawaban membuat siswa semakin antusias.
Terlebih lagi pada siklus II ini hampir seluruh siswa terlihat mulai paham
dengan metode pembelajaran Kooperatif Tipe Make a Match, tidak
adalagi siswa yang terlihat kebingungan saat memainkannya. Saat siswa
telah menemukan kartu pasangannya, mereka terlihat sangat senang dan
berani untuk langsung maju ke depan mempresentasikan kartu mereka.
Setelah seluruh siswa selesai presentasi dan guru melontarkan tanya jawab
kepada siswa keputar materi yang baru dibahas dengan menggunakan
penerapan model pembelajaran Kooperatif Tipe Make a Match, siswa
dengan aktif dapat menjawab pertanyaan-pertanyaan guru dengan baik dan
benar. Hal ini menunjukkan peningkatan dari siklus I, dimana pada siklus
I siswa masih terlihat segan dan malu-malu untuk menjawab bersama
ketika guru bertanya tentang materi yang barui dibahas.

Hasil observasi yang telah dilaksanakan pada siklus II dapat


disimpulkan bahwa:

1. Siswa mulai terlihat aktif dari pada siklus sebelumnya


2. Siswa terlihat semakin antusias dan senang ketika guru
menerapkan pembelajaran Kooperatif Tipe Make a Match
3. Hasil belajar IPS materi Keragaman suku bangsa siswa
meningkat dari pra penelitian, siklus I dan siklus II ini
4. Model pembelajaran Kooperatif Tipe Make a Match cocok
digunakan pada pembelajaran IPS materi Keragaman suku
bangsa

Oleh karena itu, hasil observasi peneliti menunjukkan bahwa dalam


proses belajar mengajar diperlukan perangkat dan model pembelajaran

43
untuk meningkatkan hasil belajar siswa. Selain itu, pendekatan yang sesuai
juga dapat membantu siswa berperan lebih aktif tanpa rasa takut dan
mampu mengemukakan pendapatnya. Model pembelajaran kolaboratif
Make a Match ini dapat membuat siswa menjadi lebih aktif. Baik
berkolaborasi dengan kelompok maupun menjawab pertanyaan guru
tentang materi. Model pembelajaran ini juga dianggap konsisten dengan
literatur IPS tentang bentuk baju adat dan rumah adat. Dalam model
pembelajaran ini, siswa didorong untuk mencari persahabatan sambil
mempelajari suatu konsep atau topik dalam suasana yang menyenangkan.
Selain itu, adanya aturan menunggu giliran dan menemukan pasangan
kartu yang cocok juga akan membantu siswa mempelajari keterampilan
sosial.

Berdasarkan data yang diperoleh setiap siklus dari hasil skor


prasiklus yang diambil dari hasil tes siswa, siklus I dan siklus II, terlihat
bahwa pelaksanaan tindakan kelas dengan model pemagangan Make a
Match berhasil. . dalam meningkatkan hasil belajar siswa kelas IV SDN
167649 pada mata pelajaran IPS Fenomena baju adat dan rumah adat.
Tabel di bawah ini menyajikan hasil belajar yang dicapai siswa pada tahap
prasiklus, siklus I, dan siklus II:
Tabel 4
Nilai Hasil Belajar Pra Siklus, Siklus I dan Siklus II
Instrumen Pra Siklus Siklus I Siklus II

Nilai Rata-Rata 64,07 73,38 83,53

Ketuntasan 23,07% 69,23% 92,30%

Tuntas 3 9 12

Tidak Tuntas 10 4 1

Sumber: Dokumen Pra Siklus, Siklus I dan Siklus II

Untuk lebih jelasnya presentase hasil belajar dari pra siklus, siklus I
dan siklus II bisa dilihat pada tabel rekapitulasi ketuntasan seba sebagai
berikut:

44
Gambar 6
Grafik Laporan Hasil Belajar Pra Siklus, Siklus I, dan Siklus II

Dengan demikian, berdasarkan tabel dan diagram di atas dapat


disimpulkan bahwa terdapat peningkatan pada setiap siklusnya, mulai dari
tahap awal sebelum pelaksanaan siklus hingga pelaksanaan siklus I dan II.
Pada periode sebelumnya, diketahui dari 13 siswa, 3 siswa atau 23,07%
siswa tuntas atau lulus KKM, dan 10 siswa atau 76,92% siswa tidak
tuntas. Sedangkan pada Siklus I, siswa tuntas sebanyak 9 orang atau
69,23% dan siswa yang tidak tuntas atau tidak mendapat nilai KKM
sebanyak 4 orang atau 30,76%. Pada siklus II siswa tuntas sebanyak 12
orang atau 92,30% dan tidak tuntas sebanyak 1 orang atau 7,69%.

Dari analisis hasil belajar terlihat bahwa sebagian besar siswa


memahami materi secara alamiah dan artifisial, hal ini tercermin dari
tingkat ketuntasan belajar siswa sebesar 69,23% pada siklus I dan pada
saat siklus. II mencapai angka 92,30%, meskipun masih terdapat 1 siswa
yang belum mencapai nilai KKM.

Mengenai rencana awal untuk melihat perbaikan yang dicapai


selama proses pembelajaran ini, peneliti melakukan penelitian ke siklus II,
karena hasil yang diperoleh pada siklus I dibandingkan dengan hasil yang
diperoleh pada Siklus II ada peningkatan sebesar 23,07%.

Dengan hasil yang telah dijelaskan diatas, maka hasil belajar siswa
kelas IV SDN 167649 mempelajari materi tentang keragaman suku bangsa
melalui penerapan model pembelajaran kolaborasi gaya Make a Match

45
dikatakan mempunyai potensi untuk meningkatkan hasil belajar siswa.
Berdasarkan hipotesis yang diajukan peneliti tentang “Penerapan model pembelajaran
kolaboratif Make a Match dapat meningkatkan hasil belajar IPS siswa kelas IV SDN
167649”, sangat cocok untuk pembelajaran dan terbukti dengan menggunakan model
pembelajaran Make a Match. Model Pembelajaran Tipe Match membantu siswa pasif
sehingga menimbulkan minat belajar.

46
BAB V

KESIMPULAN DAN SARAN TINDAK LANJUT

A. Kesimpulan
Berdasarkan hasil penelitian tindakan kelas yang
dilaksanakan di Kelas IV SDN 167649 pada mata pelajaran IPS
Keragaman suku bangsa, melalui beberapa kegiatan Siklus I dan
Siklus II dan Berdasarkan seluruh pembahasan dan analisis yang
telah dilakukan, maka dapat disimpulkan bahwa penerapan model
pembelajaran Make a Match dapat meningkatkan hasil belajar
siswa. Lebih tepatnya dapat disimpulkan sebagai berikut:

1. Model pembelajaran Make a Match efektif digunakan dalam


pembelajaran IPS pada topik Keragaman suku bangsa
2. Terdapat peningkatan pemahaman peserta didik pada mata
pembelajaran IPS materi Keragaman suku bangsa dengan
menerapkan model pembelajaran Kooperatif Tipe Make a
Match. Hal ini dapat dibuktikan dengan adanya peningkatan
hasil belajar peserta didik pada tiap siklusnya.
3. Hasil belajar siklus II menunjukkan ketuntasan yaitu 92,30%
atau 12 peserta didik.

47
B. Saran Tindak Lanjut
Berdasarkan hasil penelitian tindakan kelas yang diperoleh,
maka penulis memiliki beberapa saran dalam rangka meningkatkan
minat belajar peserta didik pada mata pelajaran IPS. Adapun saran-
saran tersebut, antara lain:
1. Kepada guru, berdasarkan hasil penelitian terbukti penggunaan
model pembelajaran Make a Match dapat menarik perhatian dan
minat peserta didik dan dapat meningkatkan hasil belajar siswa.
Guru dapat mencoba menggunakan metode ini dalam proses
pembelajaran.
2. Kepada peserta didik, diharapkan siswa tidak ragu dan malu
pada saat berpendapat dan bertanya.
3. Kepada sekolah, hendaknya sekolah memberikan dukungan
agar guru lebih termotifasi dan semangat mengajar guru lebih
tinggi.

Demikian saran yang dapat diberikan oleh penulis kepada


guru, peserta didik dan sekolah. Semoga dapat diterima dengan
baik. Semoga skripsi ini bermanfaat bagi semua orang, terutama
bagi penulis sendiri. Apabila terdapat sesuatu yang tidak berkenan
dalam penulisan skripsi ini penulis mohon maaf yang sebesar-
besarnya.

48
DAFTAR PUSTAKA

Arikunto. Suharsimi, dkk. 2014. Penelitian Tindakan Kelas. Jakarta: PT BumiAksara


Aqib,zainal, dkk. 2010. Penelitian Tindak Kelas untuk Guru SD, SLB, TK. Bandung:
CV. Yrama widya.

Basrowi dan suwandi, 2008. Prosedur Penelitian Tindakan Kelas. Bogor: Ghalia
Indonesia

Mudyahardjo, Redja. 2010. Pengantar Pendidikan. Jakarta: PT. RajagrafindoPersada


Mulyasa, 2011. Menjadi Guru Professional. Bandung: PT. Remaja Rosdakarya
Mulyasa,E.2009. Implementasi Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan: Kemandirian
Guru dan Kepala Sekolah. Jakarta: Bumi Aksara
Mulyasa. 2011. Praktik Penelitian Tindakan Kelas. Bandung: PT. Remaja Rosdakarya

Purnomo, Arif Hadi. 2017. Peningkatan Hasil Belajar IPA Materi Sumber Energi

Melalui Metode Make a Match Pada Siswa Kelas II Madrasah Ibtidaiyah Al


Maarif Rowoboni Kecamatan Banyubiru Kabupaten semarang Tahun 2017.

Rasimin, 2012. Pembelajaran IPS. Salatiga: STAIN Salatiga press

Sam’s, rosma hartiny.2010. Model Penelitian Tindak Kelas (PTK). Yogyakarta: Teras

Sardjiyo, dkk. 2008 .Pendidikan IPS di sd.edisi II Jakarta: Universitas Terbuka

Slameto. 1991. Belajar dan Faktor-faktor Yang Mempengaruhinya. Jakarta: Rineka


Cipta

Sriyanti, Lilik. 2013. Psikologi Belajar. Yogyakarta: Ombak Dua

Supardi. 2013. Model Pembelajaran Portofolio. Salatiga: STAIN Salatiga Press


Suprijono, agus. 2011. Cooperative Learning. Yogyakarta: Pustaka Pelajar

49
Lampiran

RENCANA PELAKSANAAN
PERBAIKANPEMBELAJARAN (RPP SIKLUS I)

Satuan Pendidikan : SDN


167649 Kelas / Semester : IV /
2
Tema 7 : Indahnya Keragaman di Negeriku
Sub Tema 2 : Indahnya Keragaman Budaya
Negeriku Pembelajaran :3
Alokasi Waktu : 1 x Pertemuan (2 x 35 menit)

A. KOMPETENSI INTI (KI)


KI 1 : Menerima, menjalankan dan menghargai ajaran agama yang dianutnya.
KI 2 : Memiliki perilaku jujur, disiplin, tanggung jawab, santun, peduli, dan percaya
diri dalam berinteraksi dengan keluarga, teman, guru, dan tetangganya.
KI 3 : Memahami pengetahuan faktual dengan cara mengamati (mendengar, melihat,
membaca dan menanya) dan menanya berdasarkan rasa ingin tahu tentang
dirinya, makhluk ciptaan Tuhan dan kegiatannya, dan benda- benda yang
dijumpainya di rumah, sekolah, dan tempat bermain.
KI 4 : Menyajikan pengetahuan faktual dalam bahasa yang jelas, sistematis, dan logis,
dalam karya yang estetis, dalam gerakan yang mencerminkan anak sehat, dan
dalam tindakan yang mencerminkan peri-laku anak beriman dan berakhlak
mulia.

B. KOMPETENSI DASAR
(KD) IPS
3.2 Mengidentifikasi keragaman sosial, ekonomi, budaya, etnis, dan agama di provinsi
setempat sebagai identitas bangsa Indonesia serta hubungannya dengan
karakteristik ruang.
4.2 Menyajikan hasil identifikasi mengenai keragaman sosial, ekonomi, budaya, etnis,
dan agama di provinsi setempat sebagai identitas bangsa Indonesia; serta
hubungannya dengan karakteristik ruang.
Indikator :

▪ Mengamati gambar beberapa rumah adat di Indonesia

▪ Menceritakan daerah asal dan keunikan dari setiap rumah adat dengan tepat.

C. TUJUAN PEMBELAJARAN
1. Setelah membaca teks tentang rumah adat suku Manggarai, siswa mampu
menuliskan pengetahuan baru dari teks yang telah dibaca dengan benar.

50
2. Setelah berdiskusi kelompok, siswa mampu menjelaskan tentang bentuk, bahan
pembuat, dan keunikan dari rumah adat daerah mereka dengan tepat.
3. Setelah mengamati gambar beberapa rumah adat di Indonesia, siswa mampu
menceritakan daerah asal dan keunikan dari setiap rumah adat dengan tepat.
D. TUJUAN PERBAIKAN PEMBELAJARAN
1. Bagi Guru
a. Memperbaiki pembelajaran dengan sasaran peningkatan mutu dan hasil
kreatifitas belajar siswa
b. Meningkatkan profesional dan kreatifitas guru dalam mengelola
pembelajaran

51
2. Bagi Siswa
a. Meningkatkan minat belajar siswa dan daya kompetensi serta kerjasama
kelompok pada mata pelajaran IPA
b. Siswa dapat mengenal metode pembelajaran yang baru dibanding
sebelumnya.

E. MATERI PEMBELAJARAN
◾ Keragaman Rumah Adat Di Indonesia

F. METODE PEMBELAJARAN
◾ Pendekatan : Saintifik (mengamati, menanya, mengumpulkan informasi /
mencoba, mengasosiasi / mengolah informasi, dan
mengkomunikasikan)
◾ Model : Model Pembelajaran Kooperatif Learning tipe Make A Match
dan Demonstration

G. KEGIATAN PEMBELAJARAN
Aloka
Kegiatan Deskripsi Kegiatan
si
Wakt
u

52
Pendahulu 10 menit
an ▪ Guru memberikan salam dan mengajak semua
siswa berdo’a menurut agama dan keyakinan
masing-masing.

▪ Guru mengecek kesiapan diri dengan mengisi


lembar kehadiran dan memeriksa kerapihan
pakaian, posisi dan tempat duduk disesuaikan
dengan kegiatan pembelajaran.

▪ Menginformasikan tema yang akan dibelajarkan


yaitu tentang ”Indahnya Keragaman di
Negeriku”.

▪ Guru menyampaikan tujuan pembelajaran


yaitu :
- Guru menyampaikan tahapan kegiatan
yangmeliputi kegiatan mengamati,
menanya, mengeksplorasi,
mengomunikasikan dan menyimpulkan.
- Guru menyampaikan kepada siswa bahwa
mereka akan belajar keragaman rumah adat di
Indonesia. Mereka harus bisa menjelaskan
beberapa keragaman rumah adat di
Indonesiaserta keunikannya.
(Mengkomunikasikan)

▪ Guru melakukan apersepsi :


- Apa saja keragaman yang ada di Indonesia ?
- Sebutkan salah satu contoh rumah adat dan
dari mana asalnya !
- Bagaimana cara memelihara keragaman yang
ada di Indonesia ?

53
Aloka
Kegiatan Deskripsi Kegiatan
si
Wakt
u
Hasil yang diharapkan:
◾ Sikap cermat dan teliti siswa saat membaca
teks bacaan serta sikap aktif saat diskusi.
◾ Pengetahuan keragaman rumah adat yang ada di
Indonesia.
◾ Keterampilan siswa dalam berbicara dalam
diskusi dan menyampaikan hasil diskusi di
depan teman-temannya.

Penutup ◾ Bersama-sama siswa membuat kesimpulan / 15 menit


rangkuman hasil belajar selama sehari
◾ Bertanya jawab tentang materi yang telah
dipelajari (untuk mengetahui hasil ketercapaian
materi)
◾ Guru memberi kesempatan kepada siswa untuk
menyampaikan pendapatnya tentang
pembelajaran yang telah diikuti.
◾ Melakukan penilaian hasil belajar
◾ Mengajak semua siswa berdo’a menurut agama dan
keyakinan masing-masing (untuk mengakhiri
kegiatan pembelajaran)

H. SUMBER DAN MEDIA PEMBELAJARAN


◾ Buku Pedoman Guru Tema : Indahnya Keragaman di Negeriku Kelas 4 (Buku
Tematik Terpadu Kurikulum 2013, Jakarta: Kementerian Pendidikan dan
Kebudayaan, 2013).
◾ Buku Siswa Tema : Indahnya Keragaman di Negeriku Kelas 4 (Buku Tematik
Terpadu Kurikulum 2013, Jakarta: Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan,
2013).
◾ Teks bacaan rumah adat dan gambar rumah adat.
◾ Infocus

Mengetahui Tebing Tinggi,


Kepala
Sekolah, 2023 Guru Kelas IV

54
Hj. Sabariati, S.Pd Siti Nur Ulfah Harahap ,
NIP. 19660525 199209 2 001 S.Pd NIP. -

55
LAMPIRAN 1
I. MATERI PEMBELAJARAN

▪ Membaca teks tentang rumah adat suku Manggarai

▪ Berdiskusi kelompok tentang bentuk, bahan pembuat, dan keunikan dari


rumah adat daerah mereka.

▪ Mengamati gambar beberapa rumah adat di Indonesia.

▪ Menceritakan daerah asal dan keunikan dari setiap rumah adat.

LAMPIRAN 2
J. PENILAIAN PROSES DAN HASIL
BELAJAR
Lembar Observasi Penilaian Sikap Sosial

Tanggu Perca
Jujur Disipli n Santun Peduli ya
N Nama Siswa n
o. g Diri
Jawab
B P B P B P B P B P B P
S B S B S B S B S B S B
1 ✔ ✔ ✔ ✔ ✔ ✔
Adelia Ridwan
.
2 ✔ ✔ ✔ ✔ ✔ ✔
Amira Damisya
.
3 ✔ ✔ ✔ ✔ ✔ ✔
Dara Khoiriyah
.
4 ✔ ✔ ✔ ✔ ✔ ✔
Egi Kurniawan
.
5 Lutfi ✔ ✔ ✔ ✔ ✔ ✔
. Darmawan
Bimbuna
6 ✔ ✔ ✔ ✔ ✔ ✔
Mikaila
.
7 ✔ ✔ ✔ ✔ ✔ ✔
Muhammad Nizam
.
8 ✔ ✔ ✔ ✔ ✔ ✔
Muhammad Juna
. Alfikri
9 ✔ ✔ ✔ ✔ ✔ ✔
Muhammad Nizam
.
1 ✔ ✔ ✔ ✔ ✔ ✔
Putri Azzahra
0
.
1 ✔ ✔ ✔ ✔ ✔ ✔
Tasya Putri
1
56
.
1 ✔ ✔ ✔ ✔ ✔ ✔
Tri Atni Kiranna
2
.
1 ✔ ✔ ✔ ✔ ✔ ✔
Syakira Wulandari
3
.

Keterangan :
BS = Baik Sekali
PB = Perlu Bimbingan

57
RENCANA PELAKSANAAN
PERBAIKANPEMBELAJARAN
(RPP SIKLUS II)

Satuan Pendidikan : SDN


167649 Kelas / Semester : IV /
2
Tema 7 : Indahnya Keragaman di Negeriku
Sub Tema 2 : Indahnya Keragaman Budaya
Negeriku Pembelajaran :3
Alokasi Waktu : 1 x Pertemuan (2 x 35 menit)

K. KOMPETENSI INTI (KI)


KI 1 : Menerima, menjalankan dan menghargai ajaran agama yang dianutnya.
KI 2 : Memiliki perilaku jujur, disiplin, tanggung jawab, santun, peduli, dan percaya
diri dalam berinteraksi dengan keluarga, teman, guru, dan tetangganya.
KI 3 : Memahami pengetahuan faktual dengan cara mengamati (mendengar, melihat,
membaca dan menanya) dan menanya berdasarkan rasa ingin tahu tentang
dirinya, makhluk ciptaan Tuhan dan kegiatannya, dan benda- benda yang
dijumpainya di rumah, sekolah, dan tempat bermain.
KI 4 : Menyajikan pengetahuan faktual dalam bahasa yang jelas, sistematis, dan logis,
dalam karya yang estetis, dalam gerakan yang mencerminkan anak sehat, dan
dalam tindakan yang mencerminkan peri-laku anak beriman dan berakhlak
mulia.

L. KOMPETENSI DASAR
(KD) IPS
3.2 Mengidentifikasi keragaman sosial, ekonomi, budaya, etnis, dan agama di provinsi
setempat sebagai identitas bangsa Indonesia serta hubungannya dengan
karakteristik ruang.
4.3 Menyajikan hasil identifikasi mengenai keragaman sosial, ekonomi, budaya, etnis,
dan agama di provinsi setempat sebagai identitas bangsa Indonesia; serta
hubungannya dengan karakteristik ruang.
Indikator :

▪ Mengamati gambar beberapa baju adat di Indonesia

▪ Menceritakan daerah asal dan keunikan dari setiap baju adat dengan tepat.

M. TUJUAN PEMBELAJARAN
1. Setelah membaca teks tentang baju adat, siswa mampu
menuliskan pengetahuan baru dari teks yang telah dibaca dengan benar.
2. Setelah berdiskusi kelompok, siswa mampu menjelaskan tentang bentuk, bahan
pembuat, dan keunikan dari baju adat daerah mereka dengan tepat.
58
3. Setelah mengamati gambar beberapa baju adat di Indonesia, siswa mampu
menceritakan daerah asal dan keunikan dari setiap baju adat dengan tepat.
N. TUJUAN PERBAIKAN PEMBELAJARAN
1. Bagi Guru
c. Memperbaiki pembelajaran dengan sasaran peningkatan mutu dan hasil
kreatifitas belajar siswa
d. Meningkatkan profesional dan kreatifitas guru dalam mengelola
pembelajaran
2. Bagi Siswa
c. Meningkatkan minat belajar siswa dan daya kompetensi serta kerjasama
kelompok pada mata pelajaran IPS
Siswa dapat mengenal metode pembelajaran yang baru dibanding sebelumnya.

O. MATERI PEMBELAJARAN
◾ Keragaman Baju Adat Di Indonesia

P. METODE PEMBELAJARAN
◾ Pendekatan : Saintifik (mengamati, menanya, mengumpulkan informasi /
mencoba, mengasosiasi / mengolah informasi, dan
mengkomunikasikan)
◾ Model : Model Pembelajaran Kooperatif Learning tipe Make A Match
dan Demonstration

Q. KEGIATAN PEMBELAJARAN

Aloka
Kegiatan Deskripsi Kegiatan
si
Wakt
u

59
Pendahulu 10 menit
▪ Guru memberikan salam dan mengajak semua
an
siswa berdo’a menurut agama dan keyakinan
masing-masing.

▪ Guru mengecek kesiapan diri dengan mengisi


lembar kehadiran dan memeriksa kerapihan
pakaian, posisi dan tempat duduk disesuaikan
dengan kegiatan pembelajaran.

▪ Menginformasikan tema yang akan dibelajarkan


yaitu tentang ”Indahnya Keragaman di
Negeriku”.

▪ Guru menyampaikan tujuan pembelajaran


yaitu :
- Guru menyampaikan tahapan kegiatan
yangmeliputi kegiatan mengamati,
menanya, mengeksplorasi,
mengomunikasikan dan menyimpulkan.
- Guru menyampaikan kepada siswa bahwa
mereka akan belajar keragaman baju adat di
Indonesia. Mereka harus bisa menjelaskan
beberapa keragaman baju adat di Indonesia
serta keunikannya. (Mengkomunikasikan)

▪ Guru melakukan apersepsi :


- Apa saja keragaman yang ada di Indonesia ?
- Sebutkan salah satu contoh baju adat dan
dari mana asalnya !
- Bagaimana cara memelihara keragaman yang
ada di Indonesia ?

60
Aloka
Kegiatan Deskripsi Kegiatan
si
Wakt
u
Hasil yang diharapkan:
◾ Sikap cermat dan teliti siswa saat membaca
teks bacaan serta sikap aktif saat diskusi.
◾ Pengetahuan keragaman baju adat yang adadi
Indonesia.
◾ Keterampilan siswa dalam berbicara dalam
diskusi dan menyampaikan hasil diskusi di
depan teman-temannya.

Penutup ◾ Bersama-sama siswa membuat kesimpulan / 15 menit


rangkuman hasil belajar selama sehari
◾ Bertanya jawab tentang materi yang telah
dipelajari (untuk mengetahui hasil ketercapaian
materi)
◾ Guru memberi kesempatan kepada siswa untuk
menyampaikan pendapatnya tentang
pembelajaran yang telah diikuti.
◾ Melakukan penilaian hasil belajar
◾ Guru mengakhiri pembelajaran dengan salam

R. SUMBER DAN MEDIA PEMBELAJARAN


◾ Buku Pedoman Guru Tema : Indahnya Keragaman di Negeriku Kelas 4 (Buku
Tematik Terpadu Kurikulum 2013, Jakarta: Kementerian Pendidikan dan
Kebudayaan, 2013).
◾ Buku Siswa Tema : Indahnya Keragaman di Negeriku Kelas 4 (Buku Tematik
Terpadu Kurikulum 2013, Jakarta: Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan,
2013).
◾ Teks bacaan rumah adat dan gambar rumah adat.
◾ Infocus

Mengetahui Tebing Tinggi,


Kepala
Sekolah, 2023 Guru Kelas IV

61
Siti Nur Ulfah Harahap ,
Hj. Sabariati, S.Pd S.Pd NIP. -
NIP. 19660525 199209 2 001

62
LAMPIRAN 1
S. MATERI PEMBELAJARAN

▪ Membaca teks tentang baju adat

▪ Berdiskusi kelompok tentang bentuk, bahan pembuat, dan keunikan daribaju adat
daerah mereka.

▪ Mengamati gambar beberapa baju adat di Indonesia.

▪ Menceritakan daerah asal dan keunikan dari setiap baju adat.

LAMPIRAN 2
T. PENILAIAN PROSES DAN HASIL
BELAJAR Penilaian Sikap
Perubanan Tingkah Laku
Teliti Cermat Percaya
N Na
Diri
o ma
K C B S K C B S K C B S
B B B
1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4
✔ ✔ ✔
1 Adelia Ridwan
✔ ✔ ✔
2 Amira Damisya
✔ ✔ ✔
3 Dara Khoiriyah
✔ ✔ ✔
4 Egi Kurniawan
✔ ✔ ✔
5 Lutfi Darmawan Bimbuna
✔ ✔ ✔
6 Mikaila
✔ ✔ ✔
7 Muhammad Nizam
✔ ✔ ✔
8 Muhammad Juna Alfikri
✔ ✔ ✔
9 Muhammad Nizam
✔ ✔ ✔
1 Putri Azzahra
0
✔ ✔ ✔
1 Tasya Putri
1
✔ ✔ ✔
1 Tri Atni Kiranna
2
✔ ✔ ✔
1 Syakira Wulandari
3

63
Keterangan:
K (Kurang) : 1, C (Cukup) : 2, B (Baik) : 3, SB (Sangat Baik) : 4

64
Instrumen Wawancara Wali Kelas IV SDN 167649
1. Metode apa yang sering Ibu gunakan dalam pembelajaran IPS di
Kelas IV SDN 167649 ?
Jawab : Metode yang sering saya pakai dalam pembelajaran IPS di
Kelas IV SDN 167649 adalah metode ceramah, tanya- jawab dan
penugasan
2. Bagaimana sikap siswa terhadap metode yang selama ini Ibu
gunakan ? Jawab : Siswa menunjukkan bervariatif sikap, karena
setiap siswa dalam satu kelas memiliki kemampuan yang berbeda-
beda. Ada yang menerima dengan antusias, ada yang bersikap
biasa saja bahkan cenderung malas, dan ada yang malah bersikap
selalu membuat kegaduhan dikelas.
3. Media pembelajaran apa saja yang biasa Ibu gunakan dalam
menerapkan pembelajaran IPS di kelas IV SDN 167649 ?
Jawab : Saya sering menggunakan media gambar dan papan tulis.
4. Bagaimana ketuntasan hasil belajar siswa kelas IV SDN 167649 ?
Jawab : Kriteria Ketuntasan Minimum (KKM) peranak di kelas IV
SDN 167649 adalah 70. Adapuin indikatornya adalah 85%.
5. Apakah pembelajaran Kooperatif Tipe Make a Match sudah
pernah diterapkan sebelumnya dalam proses belajar-mengajar di
kelas IV SDN 167649 pada mata pembelajaran IPS ?
Jawab : Sejauh ini belum pernah saya terapkan. Beberapa metode
pembelajaran yang pernah saya terapkan adalah jigsaw

65
Lembar
Observasi

Siklus I

Komponen Siswa

N Hal yang Diamati (



o
)
Y Tida
a
k
1 Keaktifan Siswa: ✔

a. Siswa aktif mencatat materi


b. Siswa aktif bertanya ✔

c. Siswa aktif mengajukan ide ✔

2 Perhatian Siswa: ✔

a. Diam Tenang
b. Terfokus pada materi ✔

c. Antusia
3 Kedisiplinan: ✔

a. Kehadiran/absensi
b. Datang tepat waktu ✔

c. Pulang tepat waktu ✔

4 Penugasan/Resitasi: ✔

a. Mengerjakan semua tugas


b. Ketepatan mengumpulkan tugas ✔
sesuai

waktu
c. Mengerjakan sesuai perintah ✔

66
Lembar
Observasi

Siklus II

Komponen Siswa

N Hal yang Diamati (



o
)
Y Tida
a
k
1 Keaktifan Siswa: ✔

a. Siswa aktif mencatat materi


b. Siswa aktif bertanya ✔

c. Siswa aktif mengajukan ide ✔

2 Perhatian Siswa: ✔

a. Diam Tenang
b. Terfokus pada materi ✔

c. Antusia
3 Kedisiplinan: ✔

a. Kehadiran/absensi
b. Datang tepat waktu ✔

c. Pulang tepat waktu ✔

4 Penugasan/Resitasi: ✔

a. Mengerjakan semua tugas


b. Ketepatan mengumpulkan tugas ✔
sesuai

waktu
c. Mengerjakan sesuai perintah ✔

67
Komponen Guru
No Hal yang Diamati (

)
Y Tida
a
k
1 Penguasaan Materi: ✔

a. Kelancaran menjawab materi


b. Kemampuan menjawab ✔
pertanyaan
c. Keragaman memberi contoh ✔

2 Sistematika penyajian:
a. Ketuntasan uraian materi ✔

b. Uraian materi mengarah pada ✔


tujuan
c. Urutan materi sesuai dengan ✔
SKKD
3 Penerapan Model Pembelajaran ✔
Kooperatif Tipe

Make a Match:
a. Menerapkan model kooperatif
sesuai materi

b. Mudah diikuti siswa


4 Penggunaan Media ✔
a. Keterampilan menggunakan
media

b. Media menjelaskan terhadap ✔


materi
5 Performance: ✔

a. Kejelasan suara yang di ucapkan


b. Kekomunikatifan guru dengan ✔
siswa

68
c. Keluwesan sikap guru dengan ✔
siswa
6 Pemberian Motifasi: ✔
a. Keantusiasan guru dalam
mengajar

b. Kepedulian guru terhadap siswa ✔

69
DOKUMENTASI SIKLUS I

70
DOKUMENTAS
I SIKLUS II

71

Anda mungkin juga menyukai