Peningkatan IPS Kelas IV dengan Make A Match
Peningkatan IPS Kelas IV dengan Make A Match
Disusun Oleh:
UPBJJ MEDAN
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU
PENDIDIKAN UNIVERSITAS TERBUKA
TAHUN 2023
1
DAFTAR ISI
Halaman Judul 1
Lembar Pengesahan i
Daftar Isi iv
Daftar Tabel v
Daftar Gambar vi
Abstrak viii
Bab I Pendahuluan 1
B. Identifikasi Masalah 4
C. Rumusan Masalah 4
D. Tujuan Penelitian 4
E. Manfaat Penelitian 6
2
Daftar Tabel
Tabel 1 Data Nilai Pra Siklus
Tabel 2 Data Nilai Siklus I
Tabel 3 Data Nilai Siklus II
Tabel 4 Data Nilai Pra Siklus, Siklus I, dan Siklus II
3
Daftar Gambar
4
Abstrak
Salah satu faktor yang dapat menunjang keberhasilan akademik adalah kegiatan pembelajaran yang
efektif dan menarik. Guru diharapkan memiliki model atau model pembelajaran yang menarik sesuai
dengan keadaan siswa. Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan di SD Negeri 167649 terdapat
rendahnya hasil belajar siswa kelas IV pada mata pelajaran IPS tema keragaman budaya indonesia
dikarenakan kurangnya kemampuan guru dalam memotivasi siswa seperti tidak ada pemberian ice
breaking, pembelajaran yang kurang menarik dan masih menggunakan model pembelajaran yang
konvensional. Hal ini mengakibatkan rendahnya hasil belajar IPS yang diraih oleh peserta didik dan
belum mencapai KKM yakni 70. Pada siswa kelas IV yang berjumlah 13 siswa terdiri dari 4 siswa laki-
laki dan 9 siswa perempuan, tercatat 4 siswa yang tuntas = 30,76% dan yang tidak tuntas 9 siswa
=69,23% dikarenakan siswa tidak tertarik dan merasa bosan pada proses pembelajaran. Untuk mengatasi
hal tersebut peneliti menawarkan penggunaan model Make a Match dalam proses pembelajaran. Karena
dalam model Make a Match siswa dituntut untuk belajar dengan aktif dan siswa harus mempersiapkan
diri terlebih dahulu sehingga tingkat pemahaman siswa akan menjadi lebih baik.
5
BAB I
PENDAHULUAN
Pendidikan adalah usaha sadar yang dilakukan oleh keluarga, masyarakat, dan
pemerintah melalui kegiatan bimbingan, pengajaran, dan atau latihan yang berlangsung di
sekolah dan di luar sekolah sepanjang hayat, untuk mempesiapkan peserta didik agar dapat
memainkan peranan dalam berbagai lingkungan hidup secara tepat di masa yang akan datang.
formal, non formal, dan informal di sekolah dan luar sekolah yang berlangsung seumur hidup
dikemudian hari dapat memainkan peranan hidup secara tepat (Mudyahardjo, 2010: 11).
yang bersifat manusia seutuhnya yang dapat memainkan peranannya sebagai warga dalam
berbagai lingkungan persekutuan hidup dan kelompok sosial. Tujuan pendidikan mencakup
tujuan-tujuan setiap jenis kegiatan pendidikan ( bimbingan, pengajaran, dan latihan), tujuan-
tujuan satuan pendidikan sekolah dan luar sekolah dan tujuan-tujuan pendidikan nasional.
Tujuan pendidikan adalah sebagian dari tujuan hidup, yang bersifat menunjang terhadap
1
Dalam pendidikan saat ini IPS menjadi salah satu mata pelajaran yang pokok.
beragam. Tak heran jika dalam proses pembelajaran seorang pembelajar hanya
menggunakan metode yang kurang variatif karena mereka menganggap metode yang
digunakan adalah metode terbaik. Dalam proses pembelajaran pada umumnya masih
bergantung dan didominasi oleh guru. Seperti halnya penggunaan metode ceramah dan
penugasan yang hampir semua pendidik menggunakannya. Namun ada beberapa yang
tidak memadukan dengan metode metode lain yang bisa menciptakan pembelajaran
yang efektif dari perpaduan metode tersebut. Akibatnya tingkat pemahaman siswa
sangat rendah yangberakibat rendahnya hasil belajar. Padahal karakteristik materi IPS
adalah ilmu yang di dalamnya lebih mengandalkan abstraksi dan daya ingat yang
tinggi. Sehingga siswa yang kurang mempunyai intelegensi yang tinggi akan sulit
serta meminimalisir kejenuhan siswa. Dalam hal ini akan lebih efektif jika melibatkan
keaktifan siswa untuk memperoleh hasil belajar siswa yang baik. Diperlukan suatu
proses dan hasil pembelajaran. Langkah awal ialah membuat siswa tertarik dan
dapat menarik minat dan perhatian siswa. Dengan suasana belajar yang
pemahaman siswa.
2
Rendahnya hasil belajar siswa kelas iv pada mata pelajaran IPS tema
keragaman suku bangsa yang tuntas 34% dan yang tidak tuntas 63% dikarenakan
kurangnya kemampuan guru dalam memotivasi siswa seperti tidak ada pemberian ice
breaking, pembelajarannya fakum, seringnya siswa absen dengan alasan sakit. kendala
lainnya adalah masih ada beberapa anak yang belum bisa membaca khususnya di kelas
iv. Hal ini mengakibatkan rendahnya hasil belajar IPS yang diraih oleh peserta didik
dan belum mencapai KKM yakni 70. Selain itu, masalah ini juga disebabkan oleh cara
mengajar tenaga pendidik di sekolah tersebut yang masih pada model konvensional.
Pada siswa kelas IV yang berjumlah 13 siswa terdiri dari 4 siswa laki-laki dan 9
siswa perempuan, tercatat 4 siswa yang tuntas = 30,76% dan yang tidak tuntas 9 siswa
tidak ada pemberian ice breaking, pembelajaran yang fakum dan cara mengajar guru
yang masih menggunakan model konvensional sehingga siswa tidak tertarik dan
merasa bosan pada proses pembelajaran. Hal ini mengakibatkan rendahnya hasil
belajar IPS yang diraih oleh peserta didik dan belum mencapai KKM yakni 70.
Match dalam proses pembelajaran. Karena dalam metode Make a Match siswa dituntut
untuk belajar dengan aktif dan siswa harus mempersiapkan diri terlebih dahulu
sehingga tingkat pemahaman siswa akan menjadi lebih baik. Make a Match merupakan
kejenuhansiswa akibat dari tidak adanya variasi pembelajaran oleh guru. Penggunaan
metode Make a Match akan menambah ketertarikan peserta didik untuk mempelajari
materi yang disampaikan sehingga diharapkan bisa meningkatkan hasil belajar siswa
3
itu sendiri.
Untuk meningkatkan hasil belajar siswa Pada Mata Pelajaran IPS di Kelas IV
Make a Match untuk membuat pembelajaran IPS lebih menarik. Berdasarkan hal di
atas maka peneliti mengangkat judul “Peningkatan Hasil Belajar Ilmu Pengetahuan
B. Identifikasi Masalah
1. Rendahnya minat belajar siswa pada mata pelajaran IPS di Kelas IV SD
Negeri 167649
2. Kurangnya motivasi belajar pada mata pelajaran IPS di Kelas IV SD
Negeri 167649
3. Model pengajaran konvensional pada mata pelajaran IPS di Kelas IV SD
Negeri 167649
C. Rumusan Masalah
D. Tujuan Penelitian
4
E. Manfaat
Penelitian
Manfaat Teoritis
Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan sumbangan pemikiran ilmiah
mengenai cara meningkatkan kemampuan membaca dengan penerapan model
Kooperatif Tipe Make A Match pada mata pelajaran IPS di Kelas IV SD Negeri
167649
Manfaat Praktis
a. Lembaga
Dengan model Kooperatif Tipe Make A Match ini akan menjadi salah satu
bahan pertimbangan lembaga atau sekolah dalam menentukan yang lebih
baik dalam proses belajar mengajar.
b. Guru
Penggunaan model Kooperatif Tipe Make A Match ini akan
mempermudah para guru dalam mengaktifkan pembelajaran di kelas.
c. Siswa.
Dengan model Kooperatif Tipe Make A Match, siswa diharapkan lebih
aktif dalam pembelajaran di kelas.
F. Manfaat Penelitian
Penelitian ini akan membantu meningkatkan hasil belajar siswa pada mata
pelajaran IPS melalui metode Make a Match dalam pembelajaran yang akan
disampaikan. Adapun pelaksanaan penelitian ini akan berguna sebagai berikut :
1. Manfaat Teoritis
Manfaat penelitian ini sebagai dasar pengembangan kajian ilmu IPS materi
Kenampakan Alam dan Keragaman Sosial Budaya melalui Metode Make a Match
pada Siswa SD Negeri 167649
2. Manfaat Praktis
a. Bagi sekolah
1) Sebagai upaya perbaikan dan peningkatkan kualitaspelaksanaan
pembelajaran IPS .
2) Meningkatkan mutu pendidikan dan memberikan sumbangan yang
berguna bagi sekolah dalam kegiatan pembelajaran.
5
b. Bagi guru
Sebagai masukan bagi guru dalam meningkatkan hasil belajar pada
pembelajaran IPS serta mengembangkan keterampilan mengajarguru.
6
BAB II
KAJIAN PUSTAKA
1. Definisi Belajar
Belajar merupakan aktivitas yang sangat penting bagi individu. Belajar akan terjadi
pada siapapun setiap saat baik secara formal maupun non formal. Belajar ialah suatu proses
usaha yang dilakukan individu untuk memperoleh suatu perubahan tingkah laku yang baru
secara keseluruhan, sebagai hasil pengalaman individu itu sendiri dalam interaksi dengan
Kemudian dalam arti sempit, belajar dimaksudkan sebagai usaha penguasaan materi ilmu
seutuhnya. Menurut pengertian secara psikologis, belajar merupakan suatu proses perubahan
yaitu proses perubahan dalam tingkah laku sebagai hasil dari interaksi dengan
Bagi Gagne dalam Susanto (2013:1) belajar dimaknai sebagai suatu proses untuk
Intuksi yang dimaksud adalah perintah atau arahan dan bimbingan dari pendidik atau guru.
merupakan proses perubahan tingkah laku yang dilakukan secara terus menerus yeng terjadi
sebagai hasil dari pengalaman individu dengan lingkungannya sebagai kegiatan menuju
terbentuknya kepribadian seutuhnya. Namun tidak semua perubahanyang terjadi pada setiap
7
2. Faktor Yang Mempengaruhi Belajar
Faktor yang mempengaruhi belajar ada banyak sekali macamnya, faktor belajar
dapat di klasifikasikan menjadi beberapa hal sesuai dengan yang dikemukakan oleh
Suryabrata (2007:233) yaitu:
a. Faktor-faktor yang berasal dari luar
1) Faktor-faktor nonsosial
Factor non sosial diantaranya seperti keadaan udara, suhuudara, cuaca,
waktu (pagi,siang, ataupun malam), tempat (letak, pergedungan), alat-alat
yang dipakai untuk belajar (buku,peraga, alat tulis dan sebagainya).
2) Faktor-faktor sosial
Factor sosial yang dimaksud adalah faktor yang berpotensimengganggu dari
proses belajar dan prestasi-prestasi belajar, mengganggu konsentrasi,
sehingga perhatian tidak ditujukanpada hal yang dipelajarai seperti keramaian
kelas, suara-suara, dan lain sebagainya.
b. Faktor yang berasal dari dalam diri
1) Faktor Fisiologis
a) Tonus jasmani
Tonus jasmani merupakan latar belakang aktivitas belajar, keadaan
jasmani yang segar akan berbeda dengan keadaan jasmani yang kurang
segar. Dalam hal ini ada beberapa yang harus diperhatikan yaitu seperti
nutrisi yang cukup, dan penyakit kronis.
b) Keadaan fungsi-fungsi fisiologi
Dalam belajar fungsi fisiologi terutama fungsi panca indera sangat
berperan penting. Dalam hal ini panca indera dapat dimisalkan sebagai
pintu gerbang masuknya pengaruh kedalam individu.
2) Faktor Psikologi
Setiap individu dalam hal ini pada dasarnya memiliki kondisi psikologis yang
berbeda-beda,tentunya hal ini turut mempengaruhi hasil belajarnya. Beberapa
factor psikologis meliputi intelegensi (IQ),perhatian,minat, bakat, motif,
motifasi, kognitif, dan daya nalar siswa.
3. Hasil Belajar
Menurut Susanto (2013: 5) hasil belajar yaitu perubahan- perubahan yang terjadi pada
diri siswa, baik yang menyangkut aspek kognitif, afektif, dan psikomotorik sebagai hasil dari
8
kegiatan belajar. Menurut bloom dalam (Suprijono, 2011:6) hasil belajar mencangkup
kemampuan kognitif, afektif, dan psikomotorik. Setiap mata pelajaran selalu mengandung
ketiga ranah tersebut, namun penekanannya selalu berbeda pada setiap mta pelajaran. Hasil
belajar adalah perubahan perilaku secara keseluruhan bukan hanya salah satu aspek potensi
kemanusiaan saja. Artinya, hasil pembelajaran yang dikategorisasi oleh pakar pendidikan
sebagaimana tersebut di atas tidak dilihat secara fragmentaris atau terpisah, melainkan
komprehensif (Suprijono, 2011:7).
Hasil belajar adalah suatu kemampuan yang berupa keterampilan dan perilaku baru sebagai
akibat dari latihan atau pengalaman yang diperoleh (Sams’s,2010:33). Menurut Anni dkk
dalam (Supardi, 2013:22) Hasil belajar merupakan perilaku yang diperoleh pembelajar
setelah mengalami aktivitas belajar. Mulyasa (2009: 212) menambahkan hasil belajar adalah
prestasi belajar pesert didik secara keseluruhan yang menjadi indikator kompetensi dasar dan
derajat perubahan perilaku yang bersangkutan. Hasil belajar lazimnya ditujukan dengan nilai
tes yang diberikan oleh guru pada perubahan sikap serta cara pandang dan cara berfikir siswa
setelah mengalami proses belajar.
Dari pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa hasil belajar merupakan perubahan yang
terjadi pada siswa yang menyangkut aspek kognitif,afektif, dan psikomotorik sebagai hasil
kegiatan belajar. Hasil belajar dapat diketahui melalui proses evaluasi dan tes. Skor atau nilai
dalam tes tersebut yang menjadi hasil dari proses belajar.
a. Faktor eksternal
Faktor eksternal merupakan faktor yng terdapat dari luar diri individu. Faktor
eksternal terdiri dari factor nonsosial dan factor sosial.
b. Faktor nonsosial
masyarakat. Hal tersebut bisa berupa peralatan sekolah, sarana belajar, gedung dan ruang
9
belajar, kondisi geografis dan sejenisnya.
1) Faktor sosial
d. Faktor internal
Faktor internal merupakan faktor yang berasal dari dalam individu yang
sedang belajar. Faktor internal terdiri dari faktor fisiologis dan psikologis.
2) Faktor fisiologis
1. Hakikat IPS
Ilmu sosial adalah bidang yang mempelajari, mengkaji, menganalisis gejala dan
permasalahan sosial masyarakat dengan mengkaji berbagai aspek kehidupan atau
kombinasinya (Sardjio dkk, 2018: 1.26). Ilmu pengetahuan sosial sudah tidak asing lagi bagi
semua orang. Proses kehidupan manusia selalu dikaitkan dengan manusia dan makhluk
lainnya. Secara alami, manusia adalah makhluk sosial.
Oleh karena itu, ilmu-ilmu sosial merupakan hasil pengalaman manusia sejak lahir. Secara
sederhana, pengalaman-pengalaman yang melekat pada diri manusia dan melekat pada
10
pengalaman kita hidup dalam masyarakat disebut ilmu-ilmu sosial. Pada prinsipnya manusia
sudah mengenal ilmu-ilmu sosial sejak lahir, namun yang terjadi dan tidak kita sadari, kita
baru memahami ilmu-ilmu sosial setelah mendapat pendidikan formal di sekolah atau
mandiri. Apa yang kita sebut ilmu sosial menyatukan semua peristiwa yang dialami
masyarakat dalam masyarakat yang membentuk pengetahuan (Rasimin, 2019: 37).
Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS) merupakan mata pelajaran yang diajarkan di sekolah-
sekolah, termasuk sekolah dasar. Pembelajaran IPS di sekolah dasar merupakan sarana untuk
mengembangkan kesadaran, cara berpikir, dan sikap sosial siswa dalam masyarakat serta
menciptakan landasan bagi kecenderungan belajar pada jenjang pendidikan berikutnya.
Menurut Sardjiyo dalam Rasimin (2019: 38) ruang lingkup ilmu pengetahuan
sosial adalah berupa kehidupan manusia dlam masyarakat atau manusia sebagai anggota
masyarakat. Secara sederhana dpat dikatakan bahwa ruang lingkup Ilmu pengethuan
Pada ruang lingkup mata pelajaran IPS SD meliputi aspek-aspek sebagai berikut.
Secara keseluruhan tujuan pendidikan IPS di sekolah dasar adalah sebagai berikut
: (Sardjiyo,dkk.2008:1.28).
11
kehidupan di masyarakat.
d. Membekali anak didik dengan kesadaran, sikap mental yang positif dan
tersebut terdiri dari kartu berisi pertanyaan- pertanyaan atau permasalahan dan kartu-
Dikembangkan pertama kali pada 1994 oleh Lorna Curran, metode Make a Match saat
ini menjadi salah satu metode penting dalam ruangkelas. Dalam pelaksanaannya metode
Make a Match bisa dilakukan dua kelompok atau tiga kelompok. Jika kelompok dibagi
12
menjadi tiga maka satu kelompok sebagai juri untuk memberi tanggapan kecocokan
kartu dari pasangan. Dalam metode ini siswa bisa mencari pasangan sambil belajar
13
i. Guru memanggil pasangan berikutnya, begitu seterusnya sampai seluruh
pasangan melakukan presentasi.
4. Adapun kelebihan dan kekurangan dari metode Make a Match adalah sebagai
berikut (Fauhah, 2021) model pembelajaran make a match memiliki kelebihan dan
kelemahan. Adapun kelebihan model ini, yaitu:
a) membuat susasana aktif
b) menyenangkan
c) meningkatkan hasil belajar
d) munculnya gotong royong antar siswa.
Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS) merupakan salah satu mata pelajaran yang diajarkan
di sekolah dasar/MI yang mempelajari fenomena alam dan permasalahan sosial agar
(Selviani, I., dkk., 2018). Sehingga guru harus mampu menciptakan suasana belajar
yang menyenangkan untuk menarik minat dan perhatian siswa. Suasana belajar yang
menyenangkan akan membuat siswa tertarik dan terpelihara minatnya untuk belajar
Menurut penelitian oleh Mikran et al. (2012), model make a match adalah suatu
14
pendekatan pembelajaran yang menciptakan suasana menyenangkan bagi siswa
Model pembelajaran make a match dianggap menarik bagi peserta didik. Hasil dari
beberapa penelitian sebelumnya yang dilakukan oleh Pratiwi,I. A., dkk. (2021, hlm.
make a match di Sekolah Dasar" telah membuktikan bahwa model ini efektif dalam
abstraksi dan daya ingat tinggi. Sepeti halnya lagu, siswa akan mudah menghafal lagu di
banding dengan pelajaran yang disampaikan oleh guru. Metode Make a Match
merupakan metode yang menyenangkan, hal ini bisa menjadi penarik minat siswa serta
mengatasi kejenuhan siswa dalam pembelajaran IPS. Dari materi yang disampaikan
ingatan siswa terhadap materi yang disampaikan dan akan berpengaruh terhadap
kognitif siswa.
15
BAB III
PELAKSANAAN PENELITIAN PERBAIKAN PEMBELAJARAN
A. Setting Penelitian
1. Tempat Penelitian
Tempat penelitian merupakan suatu tempat yang digunakan untuk
melakukan penelitian guna memperoleh data yang diinginkan. Penelitian
ini dilakukan di SD Negeri 167649 Kota Tebing Tinggi karena sekolah ini
mempunyai kendala dalam proses pembelajarannya dan dapat dipelajari
dengan menggunakan model pembelajaran kolaboratif Make a Match.
2. Waktu Penelitian
Waktu pencarian adalah waktu berlangsungnya pencarian. Penelitian ini
dilakukan pada semester ganjil tahun ajaran 2023/2024. Sebab pada semester
ganjil ini akan terjadi diskusi sampingan mengenai materi yang akan
dijadikan peneliti sebagai bahan penelitian.
3. Subjek dan Objek Penelitian
Subjek penelitian topik ini adalah 13 siswa kelas IV. Terdiri dari 9
perempuan dan 5 laki-laki. Sedangkan yang menjadi objek penelitian ini
adalah materi pada pembelajaran IPS kelas IV Semester I.
16
PTK terdiri dari tiga kata, yaitu “belajar”, “tindakan”, dan “kelas”.
Penelitian adalah kegiatan meneliti suatu subjek secara dekat, dengan
menggunakan aturan metodologi tertentu untuk memperoleh data atau
informasi yang berguna bagi peneliti atau mereka yang berkepentingan
untuk meningkatkan kualitas di berbagai bidang. Suatu tindakan adalah
suatu kegiatan yang dilakukan dengan sengaja untuk tujuan tertentu, yang
dalam pelaksanaannya berbentuk serangkaian tahapan/siklus kegiatan.
Kelas adalah sekelompok siswa yang menerima pelajaran yang sama dari
guru/instruktur yang sama pada waktu dan tempat yang sama.
17
C. Prosedur Penelitian
A P
OBSE
REFL S
IKLU
REVISED
S
IKLUS
A
OBSE
REFL REVISE
D PLAN
18
Dalam melaksanakan penelitian ini diharapkan menggunakan dua
siklus. Hasil observasi, tes atau evaluasi setiap siklus menjadi dasar untuk
menentukan tindakan yang tepat untuk meningkatkan hasil belajar IPS siswa
kelas IV SD Negeri 167649 Kota Tebing Tinggi dan dilaksanakan dengan
menggunakan program pembelajaran yang ada di kelas IV SD Negeri
167649 Kota Tebing Tinggi. Setiap tahap terdiri dari empat langkah sebagai
berikut:
SIKLUS I
1. Tahap Perencanaan
Perencanaan melibatkan pengembangan rencana tindakan yang
signifikan untuk memperbaiki apa yang telah terjadi. Pada tahap
perencanaan ini, peneliti menyusun rencana tindakan dan rencana
penelitian yang akan dilaksanakan selama proses pembelajaran IPS.
Kegiatan perencanaan tersebut antara lain:
a. Mengidentifikasi materi IPS yang akan disajikan di Kelas IV SD
Negeri 167649 Kota Tebing Tinggi.
b. Menyusun rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP) dengan
menggunakan model pembelajaran make a match yang digunakan
dalam penelitian.
c. Menyiapkan bahan belajar berupa kartu yang berisi beberapa
konsep atau topik yang layak untuk diulas, kartu soal dan sebagian
kartu jawaban untuk digunakan dalam mempelajari mata pelajaran
IPS.
19
diterima oleh siswa. Semua itu tidak lepas dari tujuan yang diinginkan,
yaitu untuk meningkatkan hasil belajar siswa Kelas IV SD Negeri
167649 Kota Tebing Tinggi pada pembelajaran mata pelajaran IPS.
Kegiatan ini merupakan
20
pelaksanaan tahap perencanaan pembelajaran yang disusun sebagai
berikut:
a. Kegiatan awal
1) Salam pembuka
2) Guru mengajak siswa berdoa.
3) Guru menyediakan alat atau buku yang berkaitan dengan
mata pelajaran
b. Kegiatan inti
1) Guru menyampaikan materi IPS Keragaman Suku Bangsa
2) Guru menjelaskan teknik model pembelajaran kooperatif
Make a Match kepada siswa.
3) Guru membagi siswa menjadi beberapa kelompok
4) Setiap kelompok mendapat kartu berisi soal atau jawaban
5) Setiap kelompok mencari pasangan kartu yang tepat jawabannya
6) Setiap kelompok memikirkan jawaban/pertanyaan mengenai
kartu yang mereka pegang
7) Setiap kelompok yang mencocokkan kartu sebelum batas waktu
akan mendapat poin tambahan
8) Kelompok yang telah mendapatkan pasangan kartunya di
persilahkan maju kedepan untuk mempresentasikan kartunya
9) Kelompok yang menemukan pasangan kartu yang salah akan
dihukum
c. Penutup
a) Guru dan siswa bersama-sama mengkritisi dan mendiskusikan
hasil pembelajaran model pembelajaran kolaboratif Make a Match
Type untuk merefleksikan hasil pembelajaran.
b) Guru menugaskan siswa tugas mencatat hasil penyelesaian masalah.
3. Tahap Pengamatan
Observasi digunakan untuk mencatat dampak tindakan terkait.
Pada prinsipnya observasi yang dilakukan selama proses penelitian
meliputi kehadiran siswa, aktivitas siswa dalam kelompok, dan kesediaan
siswa dalam mengikuti kegiatan pembelajaran. Dalam penelitian ini hasil
observasi kemudian didiskusikan oleh kolaborator atau guru IPS untuk
mencari solusi permasalahan yang ada dalam proses pembelajaran.
Menganalisis kondisi siswa untuk mempertimbangkan kesulitan
yang dihadapi siswa selama proses pembelajaran.
21
a) Mengamati penerapan model pembelajaran kolaboratif Make a Match
22
dalam pembelajaran.
b) Catat pada lembar observasi setiap aktivitas dan perubahan yang
terjadi selama penerapan model pembelajaran kolaboratif Make a
Match.
4. Refleksi
Refleksi melibatkan mengingat dan merefleksikan suatu tindakan
persis seperti yang dicatat selama observasi. Refleksi berupaya memahami
proses, persoalan, persoalan, dan hambatan aktual dalam tindakan
strategis. Refleksi mempertimbangkan perspektif berbeda yang mungkin
ada dalam suatu situasi dan memahami masalahnya. Refleksi sering kali
difasilitasi oleh diskusi antara peneliti dan kolaborator. Dalam refleksinya
terdapat beberapa kegiatan penting, seperti:
Siklus II
Pelaksanaan siklus II didasarkan pada hasil refleksi siklus I,
sehingga hasil observasi menjadi dokumen refleksi dan hasil refleksi siklus
I menjadi dokumen acuan perbaikan pembelajaran periode II. Jika proses
pembelajaran pada Siklus I kurang memuaskan maka hasil belajar masih
belum maksimal. Dan pada dasarnya pelaksanaan siklus II adalah untuk
memperbaiki kelemahan-kelemahan yang terjadi pada siklus I.
24
nyata maupun situasi pendukung. Observasi ini dapat dilakukan
dengan menggunakan panduan gambar, catatan, catatan lapangan,
catatan harian, observasi kegiatan kelas, deskripsi interaksi kelas, alat
perekam elektronik atau pemetaan kelas. Dalam penelitian ini
dilakukan observasi terhadap aktivitas siswa dan peneliti selama proses
pembelajaran. Beberapa informasi yang diperoleh dari hasil observasi
antara lain: ruang (lokasi), perilaku, aktivitas, objek, tindakan,
peristiwa atau kejadian, waktu dan emosi.
3. Dokumentasi
Dalam melakukan dokumentasi dalam penelitian ini, data yang
dikumpulkan adalah data yang berkaitan dengan penelitian serta
gambaran kegiatan selama proses penelitian. Penulis menggunakan
metode pencatatan ini sebagai pelengkap untuk melengkapi informasi
yang penulis perlukan, khususnya untuk mendapatkan data tentang
25
sejarah berdirinya SD Negeri 167649 kota Tebing Tinggi, sarana,
prasarana, lantai dll,
26
kehadiran siswa dan kondisi guru pada saat itu. SD Negeri. 167649, kota
Tebing Tinggi.
4. Tes
Tes adalah alat atau prosedur yang digunakan dalam konteks
pengukuran dan evaluasi. Tes adalah sejumlah soal atau latihan serta
alat lain yang digunakan untuk mengukur keterampilan, pengetahuan,
kecerdasan, kemampuan atau bakat seseorang atau kelompok. Tes
digunakan untuk mengumpulkan data tentang kinerja siswa. Uji alat
pengumpul data menggunakan elemen pertanyaan atau pertanyaan alat
untuk mengukur hasil belajar siswa. Dalam penelitian ini peneliti
menggunakan tes lisan dan tes tertulis.
Dalam penelitian ini tes yang dilakukan adalah tes awal dan tes akhir.
Tes awal dilaksanakan untuk mengetahui penguasaan awal siswa
terhadap materi dan untuk menentukan skor awal. Tes akhir dilakukan
untuk mengetahui hasil belajar siswa setelah diterapkan model
pembelajaran kolaboratif Make a Match dalam pembelajaran IPS di
kelas IV SD Negeri 167649 Kota Tebing Tinggi.
E. Analisis Data
27
Keterangan:
28
B = Banyaknya butir soal yang dijawab benar
N = Banyaknya soal.
b. Ketuntasan Klasikal
Ketuntasan belajar siswa secara klasikal dihitung dengan rumus
sebagai berikut :
Ketuntasan klasikal = ∑siswa yang tuntas belajar x 100 %
∑ seluruh siswa
F. Indikator Keberhasilan
Indeks keberhasilan penelitian ini adalah tingkat ketuntasan seluruh
siswa mencapai konsep ketuntasan belajar atau ketuntasan belajar yaitu
sebesar 85%. Khusus pada saat pelaksanaan penelitian tindakan kelas
siklus II, siswa kelas IV SD Negeri 167649 Kota Tebing Tinggi dapat
mengikuti pembelajaran IPS topik Keragaman suku bangsa, terutama
berkat penggunaan kolaboratif Tipe Make a Match. model pembelajaran
dengan hasil KKM 70. Proses pembelajaran dapat dikatakan selesai atau
berhasil. Indeks keberhasilan akademiknya sebesar 85% dari kriteria
ketuntasan minimal (KKM) 70.
29
BAB IV
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
30
12 Tri Atni Kiranna 72 Tuntas
13 Syakira Wulandari 80 Tuntas
Jumlah 833
Nilai Rata-rata 64,07
Tuntas (%) 23,07%
Belum Tuntas (%) 65,21%
2. Hasil Penelitian
A. Siklus I Pertemuan ke-1
1. Perencanaan
Pada kegiatan perencaan guru menyiapkan materi IPS tentang
Keragaman Suku Bangsa dan menyusun Rencana Pelaksanaan Pembelajaran
(RPP) dengan menggunakan model pembelajaran Kooperatif tipe Make a
Match yang digunakan dalam penelitian. RPP disusun sebagai acuan dalam
pelaksanaan selama pembelajaran di kelas. Kemudia guru mempersiapkan
media pembelajaran berupa kartu-kartu yang masing-masing set berisi
pertanyaan dan jawaban yang berjumlah 13 kartu pertanyaan, dan 13 kartu
jawaban. Pada pertemuan pertama ini peneliti akan melakukan perkenalan
dan menyampaikan jawaban dari pembelajaran. Peneliti melakukan tes tanya
jawab materi sebelumnya dengan siswa
2. Tahap Pelaksanaan Tindakan
a. Kegiatan Awal
31
Pada kegiatan awal mengucapkan salam pembuka. Kemudian
guru mengajak siswa membaca doa bersama sebelum memulai
pelajaran, mengecek kehadiran siswa, mengajukan pertanyaan kepada
siswa tentang materi pelajaran yang lalu, dan memberikan pertanyaan
seputar pelajaran yang akan dipelajari sekaligus menjelaskan indikator
yang akan dicapai.
b. Kegiatan Inti
Pada kegaiatan inti guru menjelaskan materi IPS tentang
Keragaman suku bangsa. Setelah itu guru menjelaskan teknik model
pembelajaran kooperatif tipe Make a Match kepada peserta didik.
Guru menyajikan media berupa kartu-kartu yang berisikan soal dan
jawaban dan membagi siswa menjadi 2 kelompok. A kelompok
pertanyaan dan B kelompok jawaban. Dari 2 kelompok ini di
dalamnya di bagi lagi menjadi kelompok-kelompok kecil yang
memegang soal dan jawaban yang berbeda-beda. Kelompok-
kelompok kecil tersebut beranggotakan 2-3 siswa. Kelompok A yang
memegang soal berada disisi sebelah kiri guru dan kelompok B yang
memegang jawaban berapa disisi sebelah kanan guru. Guru memberi
waktu kepada siswa untuk mencari jawaban yang sesuai dari kartu
yang mereka pegang. Kemudian guru memerintahkan siswa untuk
segera mencocokkan kartu yang mereka pegang. Kelompok yang
sudah merasa cocok dengan kartunya dipersilahkan maju kedepan.
Kelompok yang telah mencocokkan kartu diberi waktu untuk
mempresentasikan hasil kartunya. Guru mengoreksi setiap jawaban
kelompok yang presentasi bersama siswa lain. Siswa yang dapat
mencocokkan kartu dengan benar sebelum batas diberi point
c. Kegiatan penutup
Pada kegiatan pentutup guru dan peserta didik bersama-sama
mengkritisi dan mendiskusikan hasil pembelajaran dari model
pembelajaran kooperatif tipe Make a Match. Kemudian Guru
mengakhiri pembelajaran dengan mengucapkan salam penutup.
3. Observasi
Berdasarkan observasi yang dilakukan peneliti pada saat
pembelajaran putaran pertama pertemuan pertama tanggal 30 Oktober
2023, materi pembelajaran IPS Keragaman suku bangsa dengan
menggunakan pembelajaran kooperatif tipe Make a Match masih
32
sedikit membingungkan siswa. Siswa harus selalu diawasi secara
berkala oleh guru. Selalu ada kelompok buruk saat mencocokkan
kartu. Siswa masih kebingungan ketika memberikan presentasi atau
mengemukakan pendapatnya. Begitu pula ketika guru bertanya, siswa
masih ragu untuk menjawab. Beberapa siswa terlihat masih bermain-
main di kelas.
4. Refleksi
Berdasarkan hasil yang dicapai pada putaran 1 pertemuan
pertama, masih terdapat beberapa kendala namun hal tersebut tidak
menghambat proses pembelajaran. Hambatan implementasi meliputi:
6 Mikaila 70 Tuntas
34
8 Muhammad Juna Alfikri 50 Belum tuntas
Jumlah 954
a. Refleksi
Hasil akademik siswa pada siklus I menunjukkan peningkatan
dibandingkan hasil akademik siswa pada pra siklus. Namun hasil tersebut
masih jauh dari konsep ketuntasan belajar atau ketuntasan belajar yaitu
sebesar 85%. Kurangnya keberhasilan pada siklus I memaksa peneliti
untuk melaksanakan siklus II. Evaluasi hasil pelaksanaan siklus I
pertemuan kedua sebagai berikut:
3. Observasi
Dari tahap observasi yang dilakukan pada siklus II pertemuan
pertama tanggal 6 November 2023, materi pembelajaran IPS
keragaman suku bangsa. Saat melaksanakan proses belajar mengajar,
siswa lebih memperhatikan dan menjawab dengan benar pertanyaan
yang diajukan guru. Saat presentasi pun siswa mulai berani
mengemukakan pendapatnya, misalnya saat menyampaikan makna
kenampakan alam, siswa dapat memberikan contoh. Meskipun masih
ada 1 atau 2 orang siswa yang tidak serius dan mengganggu siswa lain
ketika pembelajaran sesuai model pembelajaran kolaboratif Make a
Match.
Pada siklus II sesi 1 guru menggunakan dukungan visual untuk
menjelaskan konten yang dipasang di papan tulis, tujuannya agar siswa
lebih memahami dan mengetahui lebih banyak contoh gambar baju
adat dan rumah adat melalui dukungan gambar tersebut. Pada semester
kedua pertemuan pertama, kami melihat siswa lebih antusias dan
positif.
4. Refleksi
Refleksi putaran kedua pertemuan kedua dilakukan oleh peneliti
37
dan guru Kelas IV SD Negeri 167649 Kota Tebing Tinggi.
Berdasarkan hasil observasi guru kelas, pada saat peneliti menerapkan
model pembelajaran kolaboratif Make a Match Type, secara umum
penyelesaian kegiatan belajar mengajar berjalan dengan baik.
Tabel 3
Lutfi Darmawan
5 88 Tuntas
Bimbuna
6 Mikaila 80 Tuntas
Jumlah 1086
39
Berdasarkan tabel diatas, menunjukkan bahwa tingkat
keberhasilan siswa pada siklus II ini sangat meningkat. Siswa yang
telah mencapai nilai KKM sebanyak 12 siswa atau 92,30% dan yang
belum tuntas sebanyak 1 orang atau 7,69% dengan nilai rata-rata
83,53.
a. Refleksi
40
ini berisi uraian dan penjelasan mengenai hasil Penelitian Tindakan Kelas
(PTK) yang dilakukan oleh peneliti dan berkolaborasi dengan guru kelas IV
SDN 167649 yaitu Ibu Wulandari Sipayung, S.Pd. Segala hal yang dibahas
dalam pembahasan adalah suatu yang berkaitan dengan penelitian yang
telah di lakukan pada siswa kelas IV SDN 167649.
41
1. Memberikan penjelasan ulang tentang model pembelajaran Kooperatif
Tipe
Make a Match
2. Peneliti lebih sering bertanya dan memotivasi agar siswa mengungkapkan
pendapat atau gagasan ide yang mereka bisa
3. Mengulas kembali materi sebelumnya, untuk mengingatkan kembali
kepada siswa tentang apa yang sudah sama-sama dipelajari
4. Mempersiapkan segala sesuatu yang terkait dengan siklus II sehingga
kekurangan yang ada pada siklus I tidak terulang pada siklus berikutnya
Selama kegiatan yang berlangsung pada siklus pertama pertemuan
pertama, peneliti mengumpulkan data hasil proses pembelajaran. Pada saat
penerapan pertama model pembelajaran kolaboratif Make a Match, ada
beberapa siswa yang mengalami kebingungan. Dalam hal ini peneliti merasa
wajar karena siswa kelas IV SDN 167649 baru pertama kali belajar
menggunakan metode pembelajaran kolaboratif Tipe Make a Match. Seperti
yang telah dijelaskan, beberapa siswa bahkan kurang aktif dan suka bermain
di kelas, namun banyak siswa yang lebih antusias ketika peneliti
menerapkan mode pembelajaran kooperatif Make a Match.
Pada siklus I pertemuan ke-2, nilai siswa pada materi pembelajaran
IPS tentang keragaman suku bangsa tampak mengalami peningkatan namun
masih terdapat 4 siswa yang belum memperoleh nilai KKM. Jika pada tahap
sebelumnya siswa yang belum mencapai nilai KKM masih kewalahan
menghadapi siswa, maka pada siklus I laju peningkatan skornya terlihat
cukup cepat.
Pelaksanaan siklus II meliputi prediksi kekurangan-kekurangan yang
terjadi pada siklus I. Persiapan dalam bentuk rencana tindakan adalah
sebagai berikut:
42
4. Mempersiapkan materi pelajaran pada siklus II yaitu pembelajaran IPS
materi Keragaman suku bangsa
5. Mempersiapkan kembali media pembelajaran berupa kartu-kartu yang
masing-masing set berisi pertanyaan dan jawaban yang berjumlah 13
kartu pertanyaan, dan 13 kartu jawaban
6. Mempersiapkan evaluasi yang digunakan untuk mengukur hasil belajar
siswa
43
untuk meningkatkan hasil belajar siswa. Selain itu, pendekatan yang sesuai
juga dapat membantu siswa berperan lebih aktif tanpa rasa takut dan
mampu mengemukakan pendapatnya. Model pembelajaran kolaboratif
Make a Match ini dapat membuat siswa menjadi lebih aktif. Baik
berkolaborasi dengan kelompok maupun menjawab pertanyaan guru
tentang materi. Model pembelajaran ini juga dianggap konsisten dengan
literatur IPS tentang bentuk baju adat dan rumah adat. Dalam model
pembelajaran ini, siswa didorong untuk mencari persahabatan sambil
mempelajari suatu konsep atau topik dalam suasana yang menyenangkan.
Selain itu, adanya aturan menunggu giliran dan menemukan pasangan
kartu yang cocok juga akan membantu siswa mempelajari keterampilan
sosial.
Tuntas 3 9 12
Tidak Tuntas 10 4 1
Untuk lebih jelasnya presentase hasil belajar dari pra siklus, siklus I
dan siklus II bisa dilihat pada tabel rekapitulasi ketuntasan seba sebagai
berikut:
44
Gambar 6
Grafik Laporan Hasil Belajar Pra Siklus, Siklus I, dan Siklus II
Dengan hasil yang telah dijelaskan diatas, maka hasil belajar siswa
kelas IV SDN 167649 mempelajari materi tentang keragaman suku bangsa
melalui penerapan model pembelajaran kolaborasi gaya Make a Match
45
dikatakan mempunyai potensi untuk meningkatkan hasil belajar siswa.
Berdasarkan hipotesis yang diajukan peneliti tentang “Penerapan model pembelajaran
kolaboratif Make a Match dapat meningkatkan hasil belajar IPS siswa kelas IV SDN
167649”, sangat cocok untuk pembelajaran dan terbukti dengan menggunakan model
pembelajaran Make a Match. Model Pembelajaran Tipe Match membantu siswa pasif
sehingga menimbulkan minat belajar.
46
BAB V
A. Kesimpulan
Berdasarkan hasil penelitian tindakan kelas yang
dilaksanakan di Kelas IV SDN 167649 pada mata pelajaran IPS
Keragaman suku bangsa, melalui beberapa kegiatan Siklus I dan
Siklus II dan Berdasarkan seluruh pembahasan dan analisis yang
telah dilakukan, maka dapat disimpulkan bahwa penerapan model
pembelajaran Make a Match dapat meningkatkan hasil belajar
siswa. Lebih tepatnya dapat disimpulkan sebagai berikut:
47
B. Saran Tindak Lanjut
Berdasarkan hasil penelitian tindakan kelas yang diperoleh,
maka penulis memiliki beberapa saran dalam rangka meningkatkan
minat belajar peserta didik pada mata pelajaran IPS. Adapun saran-
saran tersebut, antara lain:
1. Kepada guru, berdasarkan hasil penelitian terbukti penggunaan
model pembelajaran Make a Match dapat menarik perhatian dan
minat peserta didik dan dapat meningkatkan hasil belajar siswa.
Guru dapat mencoba menggunakan metode ini dalam proses
pembelajaran.
2. Kepada peserta didik, diharapkan siswa tidak ragu dan malu
pada saat berpendapat dan bertanya.
3. Kepada sekolah, hendaknya sekolah memberikan dukungan
agar guru lebih termotifasi dan semangat mengajar guru lebih
tinggi.
48
DAFTAR PUSTAKA
Basrowi dan suwandi, 2008. Prosedur Penelitian Tindakan Kelas. Bogor: Ghalia
Indonesia
Purnomo, Arif Hadi. 2017. Peningkatan Hasil Belajar IPA Materi Sumber Energi
Sam’s, rosma hartiny.2010. Model Penelitian Tindak Kelas (PTK). Yogyakarta: Teras
49
Lampiran
RENCANA PELAKSANAAN
PERBAIKANPEMBELAJARAN (RPP SIKLUS I)
B. KOMPETENSI DASAR
(KD) IPS
3.2 Mengidentifikasi keragaman sosial, ekonomi, budaya, etnis, dan agama di provinsi
setempat sebagai identitas bangsa Indonesia serta hubungannya dengan
karakteristik ruang.
4.2 Menyajikan hasil identifikasi mengenai keragaman sosial, ekonomi, budaya, etnis,
dan agama di provinsi setempat sebagai identitas bangsa Indonesia; serta
hubungannya dengan karakteristik ruang.
Indikator :
▪ Menceritakan daerah asal dan keunikan dari setiap rumah adat dengan tepat.
C. TUJUAN PEMBELAJARAN
1. Setelah membaca teks tentang rumah adat suku Manggarai, siswa mampu
menuliskan pengetahuan baru dari teks yang telah dibaca dengan benar.
50
2. Setelah berdiskusi kelompok, siswa mampu menjelaskan tentang bentuk, bahan
pembuat, dan keunikan dari rumah adat daerah mereka dengan tepat.
3. Setelah mengamati gambar beberapa rumah adat di Indonesia, siswa mampu
menceritakan daerah asal dan keunikan dari setiap rumah adat dengan tepat.
D. TUJUAN PERBAIKAN PEMBELAJARAN
1. Bagi Guru
a. Memperbaiki pembelajaran dengan sasaran peningkatan mutu dan hasil
kreatifitas belajar siswa
b. Meningkatkan profesional dan kreatifitas guru dalam mengelola
pembelajaran
51
2. Bagi Siswa
a. Meningkatkan minat belajar siswa dan daya kompetensi serta kerjasama
kelompok pada mata pelajaran IPA
b. Siswa dapat mengenal metode pembelajaran yang baru dibanding
sebelumnya.
E. MATERI PEMBELAJARAN
◾ Keragaman Rumah Adat Di Indonesia
F. METODE PEMBELAJARAN
◾ Pendekatan : Saintifik (mengamati, menanya, mengumpulkan informasi /
mencoba, mengasosiasi / mengolah informasi, dan
mengkomunikasikan)
◾ Model : Model Pembelajaran Kooperatif Learning tipe Make A Match
dan Demonstration
G. KEGIATAN PEMBELAJARAN
Aloka
Kegiatan Deskripsi Kegiatan
si
Wakt
u
52
Pendahulu 10 menit
an ▪ Guru memberikan salam dan mengajak semua
siswa berdo’a menurut agama dan keyakinan
masing-masing.
53
Aloka
Kegiatan Deskripsi Kegiatan
si
Wakt
u
Hasil yang diharapkan:
◾ Sikap cermat dan teliti siswa saat membaca
teks bacaan serta sikap aktif saat diskusi.
◾ Pengetahuan keragaman rumah adat yang ada di
Indonesia.
◾ Keterampilan siswa dalam berbicara dalam
diskusi dan menyampaikan hasil diskusi di
depan teman-temannya.
54
Hj. Sabariati, S.Pd Siti Nur Ulfah Harahap ,
NIP. 19660525 199209 2 001 S.Pd NIP. -
55
LAMPIRAN 1
I. MATERI PEMBELAJARAN
LAMPIRAN 2
J. PENILAIAN PROSES DAN HASIL
BELAJAR
Lembar Observasi Penilaian Sikap Sosial
Tanggu Perca
Jujur Disipli n Santun Peduli ya
N Nama Siswa n
o. g Diri
Jawab
B P B P B P B P B P B P
S B S B S B S B S B S B
1 ✔ ✔ ✔ ✔ ✔ ✔
Adelia Ridwan
.
2 ✔ ✔ ✔ ✔ ✔ ✔
Amira Damisya
.
3 ✔ ✔ ✔ ✔ ✔ ✔
Dara Khoiriyah
.
4 ✔ ✔ ✔ ✔ ✔ ✔
Egi Kurniawan
.
5 Lutfi ✔ ✔ ✔ ✔ ✔ ✔
. Darmawan
Bimbuna
6 ✔ ✔ ✔ ✔ ✔ ✔
Mikaila
.
7 ✔ ✔ ✔ ✔ ✔ ✔
Muhammad Nizam
.
8 ✔ ✔ ✔ ✔ ✔ ✔
Muhammad Juna
. Alfikri
9 ✔ ✔ ✔ ✔ ✔ ✔
Muhammad Nizam
.
1 ✔ ✔ ✔ ✔ ✔ ✔
Putri Azzahra
0
.
1 ✔ ✔ ✔ ✔ ✔ ✔
Tasya Putri
1
56
.
1 ✔ ✔ ✔ ✔ ✔ ✔
Tri Atni Kiranna
2
.
1 ✔ ✔ ✔ ✔ ✔ ✔
Syakira Wulandari
3
.
Keterangan :
BS = Baik Sekali
PB = Perlu Bimbingan
57
RENCANA PELAKSANAAN
PERBAIKANPEMBELAJARAN
(RPP SIKLUS II)
L. KOMPETENSI DASAR
(KD) IPS
3.2 Mengidentifikasi keragaman sosial, ekonomi, budaya, etnis, dan agama di provinsi
setempat sebagai identitas bangsa Indonesia serta hubungannya dengan
karakteristik ruang.
4.3 Menyajikan hasil identifikasi mengenai keragaman sosial, ekonomi, budaya, etnis,
dan agama di provinsi setempat sebagai identitas bangsa Indonesia; serta
hubungannya dengan karakteristik ruang.
Indikator :
▪ Menceritakan daerah asal dan keunikan dari setiap baju adat dengan tepat.
M. TUJUAN PEMBELAJARAN
1. Setelah membaca teks tentang baju adat, siswa mampu
menuliskan pengetahuan baru dari teks yang telah dibaca dengan benar.
2. Setelah berdiskusi kelompok, siswa mampu menjelaskan tentang bentuk, bahan
pembuat, dan keunikan dari baju adat daerah mereka dengan tepat.
58
3. Setelah mengamati gambar beberapa baju adat di Indonesia, siswa mampu
menceritakan daerah asal dan keunikan dari setiap baju adat dengan tepat.
N. TUJUAN PERBAIKAN PEMBELAJARAN
1. Bagi Guru
c. Memperbaiki pembelajaran dengan sasaran peningkatan mutu dan hasil
kreatifitas belajar siswa
d. Meningkatkan profesional dan kreatifitas guru dalam mengelola
pembelajaran
2. Bagi Siswa
c. Meningkatkan minat belajar siswa dan daya kompetensi serta kerjasama
kelompok pada mata pelajaran IPS
Siswa dapat mengenal metode pembelajaran yang baru dibanding sebelumnya.
O. MATERI PEMBELAJARAN
◾ Keragaman Baju Adat Di Indonesia
P. METODE PEMBELAJARAN
◾ Pendekatan : Saintifik (mengamati, menanya, mengumpulkan informasi /
mencoba, mengasosiasi / mengolah informasi, dan
mengkomunikasikan)
◾ Model : Model Pembelajaran Kooperatif Learning tipe Make A Match
dan Demonstration
Q. KEGIATAN PEMBELAJARAN
Aloka
Kegiatan Deskripsi Kegiatan
si
Wakt
u
59
Pendahulu 10 menit
▪ Guru memberikan salam dan mengajak semua
an
siswa berdo’a menurut agama dan keyakinan
masing-masing.
60
Aloka
Kegiatan Deskripsi Kegiatan
si
Wakt
u
Hasil yang diharapkan:
◾ Sikap cermat dan teliti siswa saat membaca
teks bacaan serta sikap aktif saat diskusi.
◾ Pengetahuan keragaman baju adat yang adadi
Indonesia.
◾ Keterampilan siswa dalam berbicara dalam
diskusi dan menyampaikan hasil diskusi di
depan teman-temannya.
61
Siti Nur Ulfah Harahap ,
Hj. Sabariati, S.Pd S.Pd NIP. -
NIP. 19660525 199209 2 001
62
LAMPIRAN 1
S. MATERI PEMBELAJARAN
▪ Berdiskusi kelompok tentang bentuk, bahan pembuat, dan keunikan daribaju adat
daerah mereka.
LAMPIRAN 2
T. PENILAIAN PROSES DAN HASIL
BELAJAR Penilaian Sikap
Perubanan Tingkah Laku
Teliti Cermat Percaya
N Na
Diri
o ma
K C B S K C B S K C B S
B B B
1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4
✔ ✔ ✔
1 Adelia Ridwan
✔ ✔ ✔
2 Amira Damisya
✔ ✔ ✔
3 Dara Khoiriyah
✔ ✔ ✔
4 Egi Kurniawan
✔ ✔ ✔
5 Lutfi Darmawan Bimbuna
✔ ✔ ✔
6 Mikaila
✔ ✔ ✔
7 Muhammad Nizam
✔ ✔ ✔
8 Muhammad Juna Alfikri
✔ ✔ ✔
9 Muhammad Nizam
✔ ✔ ✔
1 Putri Azzahra
0
✔ ✔ ✔
1 Tasya Putri
1
✔ ✔ ✔
1 Tri Atni Kiranna
2
✔ ✔ ✔
1 Syakira Wulandari
3
63
Keterangan:
K (Kurang) : 1, C (Cukup) : 2, B (Baik) : 3, SB (Sangat Baik) : 4
64
Instrumen Wawancara Wali Kelas IV SDN 167649
1. Metode apa yang sering Ibu gunakan dalam pembelajaran IPS di
Kelas IV SDN 167649 ?
Jawab : Metode yang sering saya pakai dalam pembelajaran IPS di
Kelas IV SDN 167649 adalah metode ceramah, tanya- jawab dan
penugasan
2. Bagaimana sikap siswa terhadap metode yang selama ini Ibu
gunakan ? Jawab : Siswa menunjukkan bervariatif sikap, karena
setiap siswa dalam satu kelas memiliki kemampuan yang berbeda-
beda. Ada yang menerima dengan antusias, ada yang bersikap
biasa saja bahkan cenderung malas, dan ada yang malah bersikap
selalu membuat kegaduhan dikelas.
3. Media pembelajaran apa saja yang biasa Ibu gunakan dalam
menerapkan pembelajaran IPS di kelas IV SDN 167649 ?
Jawab : Saya sering menggunakan media gambar dan papan tulis.
4. Bagaimana ketuntasan hasil belajar siswa kelas IV SDN 167649 ?
Jawab : Kriteria Ketuntasan Minimum (KKM) peranak di kelas IV
SDN 167649 adalah 70. Adapuin indikatornya adalah 85%.
5. Apakah pembelajaran Kooperatif Tipe Make a Match sudah
pernah diterapkan sebelumnya dalam proses belajar-mengajar di
kelas IV SDN 167649 pada mata pembelajaran IPS ?
Jawab : Sejauh ini belum pernah saya terapkan. Beberapa metode
pembelajaran yang pernah saya terapkan adalah jigsaw
65
Lembar
Observasi
Siklus I
Komponen Siswa
2 Perhatian Siswa: ✔
a. Diam Tenang
b. Terfokus pada materi ✔
c. Antusia
3 Kedisiplinan: ✔
a. Kehadiran/absensi
b. Datang tepat waktu ✔
4 Penugasan/Resitasi: ✔
waktu
c. Mengerjakan sesuai perintah ✔
66
Lembar
Observasi
Siklus II
Komponen Siswa
2 Perhatian Siswa: ✔
a. Diam Tenang
b. Terfokus pada materi ✔
c. Antusia
3 Kedisiplinan: ✔
a. Kehadiran/absensi
b. Datang tepat waktu ✔
4 Penugasan/Resitasi: ✔
waktu
c. Mengerjakan sesuai perintah ✔
67
Komponen Guru
No Hal yang Diamati (
✔
)
Y Tida
a
k
1 Penguasaan Materi: ✔
2 Sistematika penyajian:
a. Ketuntasan uraian materi ✔
Make a Match:
a. Menerapkan model kooperatif
sesuai materi
68
c. Keluwesan sikap guru dengan ✔
siswa
6 Pemberian Motifasi: ✔
a. Keantusiasan guru dalam
mengajar
69
DOKUMENTASI SIKLUS I
70
DOKUMENTAS
I SIKLUS II
71